KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS
(CRITICAL THINKING SKILL) DALAM
PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN
SOSIAL
Submitted by admin on Mon, 10/07/2013 - 08:45
KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS (CRITICAL THINKING SKILL)
DALAM PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Oleh : Dra. Nursyamsinar Nursiti, M.Pd Widyaiswara LPMP Jawa Barat
Abstrak
IPS dengan kompleksitasnya, menurut keterampilan berpikir tingkat tinggi (high order thinking) salah satunya indikatornya adalah keterampilan berpikir kritis. Masyarakat dengan segala dinamikanya sebagai sumber belajar utama dalam pembelajaran IPS, berperan dalam membentuk pola pikir, sikap dan perilaku peserta didik. Salah satu keterampilan yang dipandang sangat esensial dalam menghadapi era globalisasi saat ini, adalah keterampilan berpikir kritis (critical thinking skills). Artikel ini mencoba menjabarkan definisi keterampilan berpikir kritis, menjelaskan bagaimana seharusnya keterampilan berpikir kritis tersebut diajarkan, dan
diterapkan pada pembelajaran di sekolah khususnya pembelajaran IPS. Mengajarkan
keterampilan berpikir kritis secara eksplisit, dan terintegrasi dengan materi pembelajaran (sesuai kurikulum 2013), dapat membantu peserta didik untuk menjadi pemikir yang kritis, dan kreatif secara efektif. Melalui keterampilan berpikir kritis peserta didik akan mampu menganalisa, mengevaluasi, mensintesis dan berkreasi dalam membangun kemajuan kehidupan baik bagi diri sendiri, keluarga, bangsa maupun sebagai warga dunia.
Kata Kunci : Keterampilan berpikir (critical thinking skill), dan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).
A. PENDAHULUAN
dalam dunia kehidupan mampu diintegrasikan dengan ilmu yang mereka pelajari di
sekolah/perguruan tinggi. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan gabungan dari unsur-unsur disiplin ilmu sosial, seperti geografi, sejarah, ekonomi, hukum dan politik, kewarganegaraan, sosiologi, bahkan juga bidang humaniora, pendidikan dan agama.
Berpikir kritis (critical thinking) diperlukan dalam kehidupan, sehingga hal ini perlu ditanamkan dalam pembelajaran. Apa yang selama ini terjadi di sekolah, guru hanya menekankan pada materi semata. Sementara itu aspek lain seringkali diabaikan, termasuk critical thinking. Menghadapi kehidupan saat ini yang dinamis oleh perkembangan IPTEK, sangatlah tidak mungkin membekali siswa hanya dengan aspek materi saja, tetapi siswa harus mampu survive, dan sukses dalam menjalani hidupnya di masyrakat yang penuh dengan
tantangan. Untuk mengatasi hal ini diperlukan salah satunya kemampuan critical thinking yang harus dimilik siswa, agar mampu menghadapi segala tantangan, dan permasalahan yang terjadi di masyarakat. Oleh karena itu, melalui critical thinking yang dimiliki siswa, mampu menganalisis sesuatu yang berguna atau tidak berguba bagi dirinya, keluarga, masyrakat dan bangsanya di masa depan.
B. PEMBAHASAN
Berkembangnya keterampilan berpikir kritis, beranjak dari asumsi dasar Piaget. Piaget memperkenalkan sejumlah ide, dan konsep untuk mendeskripsikan serta menjelaskan perubahan-perubahan dalam pemikiran logis, yang diamatinya pada anak-anak dan orang dewasa seperti :
1. Anak-anak adalah pembelajar yang aktif dan termotivasi
2. Anak-anak mengkonstruksi pengetahuan mereka berdasarkan pengalaman.
3. Anak-anak belajar melalui dua proses yang saling melengkapi, yakni asimilasi dan akomodasi.
4. Interaksi anak dengan lingkungan fisik dan sosial, adalah faktor yang sangat penting bagi perkembangan kognitif.
5. Proses ekuilibrasi mendorong kemajuan ke arah kemampuan berpikir yang semakin kompleks.
6. Salah satu akibat dari perubahan kematangan di otak, anak-anak berpikir dengan cara yang berbeda pada usia yang berbeda (Achmad, Arief, 2007).
Erat kaitannya dengan hal tersebut, Piaget pun membagi tahap-tahap perkembangan kognitif sebagai berikut:
1. Tahap sensorimotor (kelahiran hingga usia sekitar 2 tahun). Pada tahap ini skema-skema pada perilaku, dan presepsi anak berfokus pada apa yang terjadi disini, dan saat ini. 2. Tahap pra-operasional (2 tahun hingga sekitar 6 atau 7 tahun). Skema-skema mulai
mempresentasikan objek-objek yang berada di luar jangkauan pandangan langsung anak, namun anak belum mampu melakukan penalaran yang logis seperti orang dewasa.
4. Tahap operasional formal (11 atau 12 tahun hingga dewasa). Pada tahap ini proses-proses penalaran yang logis diterapkan pada ide-ide abstrak ataupun ke objek-objek konkret (Ormrod,1008:43).
Salah satu kecakapan hidup (life skills) yag perlu dikembangkan melalui proses pendidikan, adalah keterampilan berpikir (Depdiknas, 2003). Kemampuan seseorang untuk dapat berhasil dalam kehidupannya, antara lain ditentukan oleh keterampilan berpikirnya, terutama dalam upaya memecahkan masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya. Ennis (1985) menjelaskan bahwa selain pembentukan fitrah moral, dan budi pekerti, inkuiri dan berpikir kritis disarankan sebagai tujuan utama pendidikan, dan merupakan dua hal yang bersifat sangat berkaitan satu dengan yang lain.
Dimensi berpikir adalah suatu proses yang bersifat pribadi atau internal yang dapat berawal, dan berakhir pada dunia luar atau lingkungan seseorang. Dimensi berpikir adalah persepsi dan konsepsi, sebagai perantara dari pengalaman langsung, dan konsep yang abstrak dalam pikiran. Merefleksikan siklus inkuiri bermula dari suatu kegiatan, mendefinisikan masalah, melakukan eksplorasi, dan mengintegrasikan gagasan yang berakhir pada pengambilan keputusan, serta mengaplikasikan gagasan.
Jhonson (2000) mengemukakan keterampilan berpikir dapat dibedakan menjadi berpikir kritis, dan berpikir kreatif. Kedua jenis berpikir ini disebut juga sebagai keteampilan berpikir tingkat tinggi (Liliasari,2002). Berpikir kritis merupakan suatu proses mental yang terorganisasi dengan baik, dan berperan dalam proses mengambil keputusan untuk memecahkan masalah dengan menganalisis, dan menginterprestasi data dalam kegiatan inkuiri ilmiah. Sedangkan berpikir kreatif, adalah proses berpikir yang menghasilkan gagasan asli atau orisinal, konstruktif dan menekankan pada aspek intuitif dan rasional (Jhonson, 2000). Pemahaman umum mengenai berpikir kritis, sebenarnya adalah pencerminan dari apa yang digagas oleh Jhon Dewey sejak tahun 1916 sebagai inkuiri ilmiah yang merupakan suatu cara untuk membangun pengetahuan.
Ennis (1985) memberikan definisi berpikir kritis, adalah berpikir reflektif yang berfokus pada pola pengambilan keputusan tentang apa yang harus diyakini, dan harus dilakukan. Berdasarkan definisi tersebut, maka kemampuan berpikir kritis menurut Ennis terdiri atas 12 komponen yaitu: (1) merumuskan masalah, (2) menganalisis argumen, (3) menanyakan dan menjawab pertanyaan, (4) menilai kredibilitas sumber informasi, (5) melakukan observasi dan menilai laporan hasil observasi, (6) membuat deduksi dan menilai deduksi, (7) membuat induksi dan menilai induksi, (8) mengevaluasi, (9) mengidentifikasi dan menilai indentifikasi, (10) mengidentifikasi asumsi, (11) memutuskan dan melaksanakan, (12) berinteraksi dengan orang lain. Lebih lanjut Dressel & Methew (1954) dalam Morgan (1999), mengutip kemampuan berpikir kritis yang dikembangkan oleh Komite Berpikir Kritis Antar Universitas (Intercollege Committe on Critical Thinking) terdiri atas: (1) kemampuan untuk mendefinisikan masalah, (2) kemampuan menyeleksi
informasi untuk pemecahan masalah, (3) kemampuan mengenai asumsi-asumsi, (4) kemampuan untuk merumuskan hipotesis, dan (5) kemampuan untuk menarik kesimpulan.
membandingkan dan membedakan; (5) menginterprestasikan; (6) meringkas; (7) menganalisis, mensintesis dan menggeneralisasi; mengemukakan hipotesis; (8) membedakan data yang relevan dengan yang tidak relevan, data yang dapat diverifikasi dan yang tidak, membedakan masalah dengan pernyataan yang tidak relevan.
Sehubungan dengan itu, Arnyana (2004) menyatakan ciri-ciri orang yang mampu berpikir kritis adalah: (a) memilii perangkat pikiran tertentu yang digunakan untuk mendekati
gagasannya, dan memiliki motivasi kuat untuk mencari dan memecahkan masalah, (b) bersikap skeptis yaitu tidak mudah menerima ide, atau gagasan kecuali dia sudah dapat membuktikan kebenarannya.
Berdasarkan uraian tersebut seperti diatas, maka kemampuan berpikir kritis yang
dimaksudkan dalam artikel ini, adalah proses mental yang mencakup kemampuan merumuskan masalah, memberikan dan menganalisis argumen, melakukan observasi, menyusun hipotesis, melakukan deduksi dan induksi, mengevaluasi, dan mengambil keputusan serta melaksanakan tindakan.
Keterampilan berpikir kritis menggunakan dasar berpikir menganalisis argumen, dan memunculkan wawasan terhadap tiap-tiap interprestasi untuk mengembangkan pola penalaran yang kohesif dan logis, kemampuan memahami asumsi, memformulasi masalah, melakukan deduksi dan induksi serta mengambil keputusan yang tepat. Keterampilan berpikir kritis adalah potensi intelektual yang dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran. Setiap manusia memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang menjadi pemikiran yang kritis, karena sesungguhnya kegiatan berpikir memiliki gabungan dengan pola pengelolaan diri (self
organization) yang ada pada setiap makhluk di alam termasuk manusia sendiri (Liliasari, 2001; Jhonson, 2000).
Muhfahroyin (2009) mengemukakan beberapa alasan tentang perlunya keterampilan berpikir kritis, yaitu: 1) Pengetahuan yang didasarkan pada hafalan telah didiskreditkan; individu tidak akan menyimpan ilmu pengetahuan dalam ingatan mereka untuk penggunaan yang akan datang; 2) Informasi menyebar luas begitu pesat, sehingga tiap individu membutuhkan kemampuan yang dapat disalurkan, agar mereka dapat mengenali berbagai permasalahan yang terjadi; 3)
kompleksitas pekerjaan modern menuntut adanya pemikiran yang mampu menunjukan
pemahaman, dan membuat keputusan dalam dunia kerja; 4) Masyarakat modern membutuhkan individu yang mampu menggabungkan informasi dari berbagai sumber, serta mampu membuat keputusan.
Philip (2001) mengemukakan alasan lain perlunya budaya berpikir kritis, adalah bahwa dunia mengekspresikan ketertarikan, dan kepedulian mereka pada kemampuan pembelajaran berpikir, karena mereka menemukan ketidakmampuan lulusan universitas dalam membuat keputusan sendiri dengan mandiri. Karena kesejahteraan suatu negara bergantung pada masyarakatnya, maka dipandang perlu dan masuk akal, jika akal pikiran menjadi fokus dan perkembangan pendidikan (Shukor,2001).
keterampilan berpikir pada siswa. Sehingga pembelajaran untuk berpikir kritis, diartikan sebagai problem solving, meskipun kemampuan untuk memecahkan masalah merupakan bagian dari kemampuan berpikir kritis (Phiters RT, Seden R., 2000)
Berdasarkan versi NCSS (National Council for Social Studies), IPS (Social Studies), merupakan studi yang terintegrasi dari ilmu-ilmu sosial, dan humaniora untuk mendukung kompetisi seorang warga negara. Tujuan utama social studies adalah membantu generasi muda mengembangkan kemampuan pengetahuan, dan keputusan yang rasional, sebagai warga masyarakat yang beraneka budaya, masyarakat demokratis dalam dunia yang saling
ketergantungan (NCSS, 2008:2). Wesley (1952) menyatakan bahwa IPS berasal dari ilmu-ilmu sosial yang telah dipilih, dan diadaptasi sesuai kebutuhan persekolahan atau pengajaran lainnya. Sedangkan menurut Numan Soemantri (2001) menjelaskan bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan gabungan dari beberapa unsur-unsur geografi, sejarah, ekonomi, hukum dan politik, kewarganegaraan, sosiologi, bahkan juga bidang humaniora, pendidikan dan agama.
Kurikulum dan proses pendidikan pada umumnya, serta IPS secara khusus “dituduh” tidak memberi ruang yang cukup, dan kesempatan yang memadai bagi siswa untuk berpikir. Yang dilakukan dalam pembelajaran (IPS), pada umumnya adalah menghafal berbagai fakta yang dianggap penting tanpa memahami dengan baik apa yang dijelaskan oleh fakta-fakta itu, dan siswa tidak mempunyai kesempatan untuk mencoba menghubungkan atau mengkonstruksikan fakta-fakta tersebut menjadi sebuah konsep, dan menghubungkan antar konsep yang ada
menjadi generalisasi (Wahab, 2007:46-47).
Mata pelajaran IPS masih dipandang siswa sebagai pelajaran yang membosankan, dan dirasa kurang relevan dengan kehidupan mereka seperti yang ditulis dari hasil penelitian Stahl (2008:3) bahwa: “.... studies classes are dul, boring, and irrelevant to their lives. If curriculum in social studies is to continue to have support from school administratiors, politicians, and the general public, it is desirable to have positive student attitudes towards the subject matter. For it is quite possible that negative attitudes towards social studies could ultimately result in a decline in the allocation of resources for this subject area...”
Stahl (2008:8) mengungkapkan bahwa (1) guru dan lingkungan pembelajaran memegang peranan yang kuat dalam membentuk sikap siswa terhadap IPS, (2) guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang positif dalam kelas, (3) iklim kelas dan sikap siswa dapat diubah melalui intervensi guru dalam membangun image terhadap IPS. Oleh karena itu, pembelajaran IPS perlu diupayakan dengan memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran IPS, yang ditulis Stahl
(2008:2) dalam sebuah penelitiannya yang berjudul A Vision of Powerful Teaching and learning in the Social Studies, bahwa ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan, agar pembelajaran IPS dapat memberikan hasil yang maksimal, yaitu:
1. Pembelajaran IPS yang baik jika bermakna (Social studies teaching and learning are powerful when they are meaningful).
bagaimana menyajikannya pada siswa, dan bagaimana mengembangkannya melalui serangkaian kegiatan. Sedangkan aktivitas pembelajaran yang bermakna, dan strategi penilaian difokuskan pada perhatian siswa terhadap ide-ide penting dari yang mereka pelajari.
2. Pembelajaran IPS yang baik, adalah pembelajaran yang terintegrasi (Social studies teaching and learning are powerful when they are integrative) Pembelajaran IPS dalam penyampaian topik dilakukan secara terintegrasi dalam hal: a) lintas ruang dan waktu, b) pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap untuk dilaksanakan, c) teknologi secara efektif, dan d) lintas kurikulum;
3. Pembelajaran IPS yang baik, adalah pembelajaran yang berbasis nilai (Social Studies teaching and learning are powerful when they are value-based). Kekuatan pembelajaran IPS tercakup dalam berbagai dimensi, atau topik-topik maupun isu-isu yang kontroversi, pengembangan dan penerapan nilai-nilai sosial. Pembelajaran IPS dapat membentuk siswa menjadi: a) peka terhadap implementasi kebijakan sosial yang potensial, dan keputusan berdasarkan nilai, b) sadar akan nilai-nilai sosial yang demokratis dan dilema isu-isu, c) mempertimbangkan biaya dan keuntungan dari berbagai tindakan, d) mengembangkan rasional terhadap nilai-nilai sosial demokratis dan politik.
4. Pembelajaran IPS yang baik, adalah pembelajaran yang menantang (Social studies teaching and learning are powerful when they are challenging).
Siswa diharapkan mencapai tujuan pembelajaran secara individu dan kelompok melalui aktivitas berfikir siswa yang menantang.
5. Pembelajaran IPS yang baik, adalah pembelajaran yang aktif (Social studies teaching and learning are powerful when they are active).
Pembelajaran yang aktif mengharapkan adanya kemampuan berpikir reflektif, dan membuat keputusan (decision making) selama pembelajaran. Siswa mengembangkan pemahaman baru melalui sebuah proses pembelajaran aktif dengan memberikan
bimbingan melalui modeling, penjelasan, untuk membangun pengetahuan siswa menjadi independent dan menjadi pembelajar yang memiliki kebijakan sendiri.
Costa (1985) menjelaskan bahwa belajar kritis tidak dapat dilakukan secara langsung, seperti halnya belajar tentang materi, tetapi dilakukan dengan cara mengkaitkan berpikir kritis secara efektif dalam diri siswa. Keterampilan berpikir kritis dapat dilatih pada siswa melalui pendidikan berpikir, yaitu melalui belajar menalar, dimana proses berpikir diperlukan keterlibatan aktivitas si pemikir itu sendiri. Salah satu pendekatan dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis, adalah memberi sejumlah pertanyaan, membimbing dan mengkaitkan dengan konsep yang telah dimiliki siswa sebelumnya.
Morgan(1999) memberikan kerangka tentang pentingnya pembelajaran berpikir, yaitu: (1) berpikir diperlukan untuk mengembangkan sikap dan presepsi yang mendukung terciptanya kondisi kelas yang positif, (2) berpikir perlu untuk memperoleh dan mengintegrasi pengetahuan, (3) perlu untuk memperluas wawasan pengetahuan, (4) perlu untuk mengaktualisasikan
kebermaknaan pengetahuan, dan (5) perlu untuk mengembangkan perlilaku berpikir yang menguntungkan.
membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis melalui strategi, dan metode pembelajaran yang mendukung siswa untuk belajar secara aktif. Inkuiri yang dipadukan dengan strategi kooperatif, merupakan salah satu cara untuk itu, dengan demikian kegiatan inkuiri, siswa dapat belajar secara aktif untuk merumuskan masalah, melakukan penyelidikan, menganalisis dan menginterprestasikan data, serta mengambil keputusan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Perpaduan kegiatan inkuiri dengan strategi kooperatif dapat melatih siswa untuk bekerja sama dengan teman sebayanya (Schafersman, 1999).
Jhonson (2002) mengemukakam bahwa keterampilan berpikir adalah suatu representasi dari proses kognitif tertentu yang dipecahkan kedalam langkah-langkah spesifik, dan digunakan untuk mendukung proses berpikir. Kerangka berpikir tersebut digunakan sebagai petunjuk berpikir bagi siswa, ketika mereka mempelajari sesuatu keterampilan berpikir. Dalam
praktiknya, kerangka berpikir tersebut dapat dibuat dalam bentuk poster yang ditempatkan di dalam ruang kelas untuk membantu proses belajar mengajar.
Pada dasarnya pembelajaran keterampian berpikir, dapat dengan mudah dilakukan. Sayangnya, kondisi pembelajaran di sekolah pada umunmnya belum mendukung
terlaksanakannya pembelajaran keterampilan berpikir yang efektif. Beberapa kendala yang dihadapi, antara lain pembelajaran di sekolah masih terfokus pada guru, belum student centered; dan fokus pendidikan di sekolah lebih bersifat menghafal/pengetahuan faktual. Oleh karena itu, keterampilan berpikir sebenarnya merupakan suatu keterampilan yang dapat dipelajari, dan diajarkan baik di sekolah maupun belajar mandiri.
Pembelajaran keterampilan berpikir kritis, dapat dilakukan melalui latihan, yang sesuai dengan tahap perkembangan kognitif anak. Tahapan tersebut di antaranya adalah: 1) identifikasi komponen-komponen prosedural; 2) instruksi dan pemodelan langsung; 3) latihan terbimbing; dan 4) latihan bebas. Sedangkan prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam pembelajaran keterampilan berpikir kritis di sekolah, adalah: 1) keterampilan berpikir tidak otomatis dimiliki siswa, 2) keterampilan berpikir bukan merupakan hasil langsung dari pembelajaran bidang studi, 3) siswa jarang melakukan transfer sendiri keterampilan berpikir ini, sehingga perlu adanya latihan terbimbing, pengajaran keterampilan berpikir memerlukan model pembelajaran yang berpusat kepada siswa (Student Centered).
Selain beberapa prinsip di atas, satu hal yang tidak kalah penting dalam pembelajaran keterampilan berpikir, adalah perlunya latihan-latihan yang intensif. Seperti keterampilan berpikir siswa perlu dilatih secara berulang-ulang, walaupun sebenarnya keterampilan ini sudah menjadi bagian dari cara berpikirnya. Latihan rutin yang dilakukan siswa akan berdampak pada efisiensi, dan otomatisasi keterampilan berpikr yang telah dimiliki siswa. Dalam proses
pembelajaran IPS di kelas, guru harus menambahkan keterampilan berpikir yang baru, dan mengaplikasikannya dalam pelajaran lain, sehingga jumlah atau macam keterampilan berpikir siswa semakin hari semakin bertambah banyak.
C. KESIMPULAN
Pembelajaran IPS dengan segala kompleksitasnya, harus dipandang sebagai sebuah kesatuan yang komprehensif. Kompleksitas pembelajaran IPS tidak hanya dipandang sebagai sebuah problem, melainkan justru sebaliknya dapat dijadikan sebagai bahan dalam pencarian solusi, dan inovasi ke arah pembelajaran IPS yang berkualitas, menarik, dan menyenangkan bagi peserta didik.
Upaya menumbuhkan pembelajaran menarik, efektif, dan menyenangkan dalam IPS, masih terbuka melalui penanaman keterampilan berpikir kritis. Di sinilah peran sentral pendidik selaku fasilitator pembelajaran. Kesan terlalu membosankan dalam pembelajaran IPS harus dikikis, hingga bergeser menjadi pembelajaran yang menarik, dan menyenangkan serta memperluas wawasan dan jati diri peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA
Ennis, Robert. H. (1996). Critical Thinking. USA :Prentice Hall, Inc
Facione, N.C, & Facione,P.A (1996)). Externalizing, The Critical Thinking in Knowledge Development and Clinical Judgment. Nursing Outlook
Hasan, Hamid, S (1996) Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Jakarta : Depdikbud Ditjen Dikti Proyek Pendidikan Tenaga Akademik.
Jhonson, E.B. (2000). Contextual Teaching and Learning. California : Corwin Press,Inc.
Morgan,B.M. (1999). Research-Based Instructional Strategies : Preservice Teacher Observation of Inservice Teacher Use. National Forum Journal. July 2/2004.
Achmad, Arief. (2007). Memahami Berpikir Kritis. (Online) Tersedia: http://researchengines.com /1007arief3.html), diakses 24 Mei 2011
Fisher, Alec. (2001). Critical Thinking An Introduction. Cambridge University Press.
Liliasari. (2002). Model Pembelajaran untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Konseptual Tingkat Tinggi Calon Guru IPA. Malang: JICA-IMSTEP FMIPA UM.