MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VI
TENTANG OPERASI HITUNG PENJUMLAHAN DAN
PENGURANGAN BERBAGAI BENTUK PECAHAN MELALUI
METODE DISKUSI
DI SDN TANJUNG PASIR I TELUKNAGA TANGERANG
Juhaeroh 825129047
Abstrak
Tingkat penguasaan siswa terhadap matematika sangat bervariasi, sebagian besar siswa mencapai nilai baik adakalanya sebaliknya. Berdasarkan evaluasi yang dilakukan pada pelaksanaan pembelajaran masih terdapat banyak siswa yang sulit memahami matematika terbukti nilai rata-rata siswa hanya mencapai 4,74 (11% dari jumlah siswa). Penyebabnya kurang motivasi belajar siswa, penjelasan guru abstrak, monoton dan membosankan, guru tidak menggunakan alat peraga, kurang memberi contoh/latihan, metode tidak sesuai sehingga nilai masih dibawah KKM. Tujuan penelitian perbaikan pembelajaran ini adalah meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan metode diskusi. Dalam penelitian ini peneliti dibantu oleh teman sejawat (observer), kepala sekolah (supervisor 2), dosen pembimbing (supervisor 1). Proses penelitian ini terdiri dari tiga tahap pra siklus, siklus I, siklus II. Setiap siklus terdiri dari kegiatan awal, inti dan akhir yang mengacu pada RPP dari Diknas. Hasil penelitian perbaikan dengan menggunakan alat peraga benda konkrit dan metode diskusi menunjukkan peningkatan hasil belajar yang signifikan, secara kuantitatif 23 siswa (77,78%) dari jumlah 27 siswa telah mencapai KKM. Dan secara kualitatif siswa sudah termotivasi dan aktif dalam pembelajaran matematika. Kesimpulannya bahwa dengan menggunakan metode diskusi dan alat peraga benda konkrit akan meningkatkan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran matematika.
Kata kunci : hasil belajar, matematika, metode diskusi
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Target dari sebuah proses belajar mengajar yang dilakukan oleh seorang guru, semua peserta dapat menguasai sebuah materi yang diajarkan, untuk melihat tingkat penguasaan materi biasanya dinyatakan dengan nilai. Namun kenyataannya hasil belajar dicapai oleh siswa sangat bervariasi, adakalanya sebagian besar siswa mencapai nilai baik adakalanya terjadi sebaliknya.Tentu variable penyebabnya terdapat pada peserta didik kurang motivasi belajar, tidak menyenangi mata pelajaran tertentu dan mengikuti juga suasana belajar yang tidak memadai. Namun tidak menutup kemungkinan penyebabnya terdapat pada pihak pengajar misalnya guru tidak menggunakan media, kurang memberi contoh, metode yang tidak sesuai. Dengan masih adanya nilai yang rendah pada tes harian dalam pelajaran matematika penulis mencoba melaksanakan usaha perbaikan dengan diawali refleksi, merencanakan perbaikan pembelajaran, melaksanakan tindakan, mengamati dan melakukan refleksi kembali. Berdasarkan hasil refleksi yang dilakukan penulis pada pelajaran matematika,akan dapat dianalisis penyebab / sumber masalah hasil tes yang masih rendah. Agar hasil belajar matematika ini berhasil ditingkatkan maka penulis mencoba memperbaiki dengan metode diskusi.
1. Identifikasi Masalah
mencapai KKM, sedangkan 24 siswa (88,89%) masih dibawah KKM, itulah yang menjadi alasan dilakukannya penelitian ini. Berdasarkan hasil observasi dan hasil diskusi dengan teman sejawat terhadap beberapa masalah yang terjadi, maka penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut :
a. Siswa kurang menguasai konsep operasi hitung penjumlahan dan pengurangan yang melibatkan berbagai bentuk pecahan. b. Penjelasan guru terlalu monoton dan membosankan siswa. c. Hasil belajar siswa masih di bawah KKM.
d. Siswa tersebut fasif dalam pembelajaran.
Berdasarkan faktor diatas penulis mencoba menerapkan metode diskusi pada pembelajaran matematika.
2. Analisis Masalah
untuk ikut andil dalam proses pembelajaran, guru juga harus memupuk kemandirian dan kerjasama sehingga siswa dapat mengembangkan kreatifitas dan rasa ingin tahu mereka.
3. Alternatif dan Prioritas Pemecahan masalah
Berdasarkan analisis masalah di atas maka penulis mengajukan alternatif pemecahan sebagai berikut :
1. Guru perlu melakukan pembelajaran dengan metode diskusi. 2. Guru harus memperbanyak pemberian contoh yang lebih
bervariasi.
3. Guru perlu memberikan banyak latihan. B. Rumusan Masalah
Berdasarkan keadaan dan kenyataan yang tercantum pada uraian yang dihadapi kelas 6 diatas, maka penulis merumuskan masalah pembelajaran ini sebagai berikut :
Bagaimana penggunaan metode diskusi agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas 6 tentang pembelajaran operasi hitung penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan ?
C. Tujuan penelitian Perbaikan Pembelajaran
Berdasarkan dengan permasalahan yang telah dirumuskan, maka tujuan penelitian ini adalah untuk :
1. Meningkatkan hasil belajar siswa tentang konsep operasi hitung penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan melalui metode diskusi.
2. Meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran materi operasi hitung penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan denagn menggunakan alat peraga benda konkrit.
3. Memperdalam pemahaman siswa dengan pemberian contoh dan latihan yang bervariasi.
Penelitian ini merupakan salah satu cara untuk memberikan solusi dalam pembelajaran matematika yang manfaatnya yaitu :
1. Bagi guru-guru di SD khususnya diharapkan dapat memberikan alternatif pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika.
2. Bagi siswa akan meningkatkan motivasi siswa dalam belajar matematika yang selanjutnya akan meningkatkan pemahaman siswa akan konsep pelajaran matematika.
3. Bagi sekolah akan dapat memberikan masukan dalam peningkatan mutu pembelajaran matematika.
II. KAJIAN PUSTAKA
A. Pembelajaran Matematika di SD
Pembelajaran matematika di SD merupakan salah satu kajian yang selalu menarik untuk dibahas karena adanya perbedaan karakteristik khususnya antara hakikat anak dan hakikat matematika. Untuk itu diperlukan adanya jembatan yang dapat menetralisir perbedaan atau pertentangan tersebut. Anak usia SD sedang mengalami perkembangan pada tingkat berfikirnya.Ini karena tahap berfikir mereka masih belum formal bahkan masih berada pada tahapan pra konkret (karso dkk,2014). Fungsi matematika pada pembelajaran matematika di sekolah dasar berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi ( Depdibud, 2004 : 79-80) adalah mengembangkan kemampuan menghitung, mengukur, menurunkan dan menggunakan rumus matematika sederhana yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari mulai materi bilangan, pengukuran dan geometri. Matematika juga berfungsi mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan gagasan dengan bahasa melalui model matematika yang dapat berupa kalimat, persamaan, diagram, grafik atau tabel. Tujuan Pembelajaran Matematika antara lain :
b. Mengembangkan aktifitas kreatif melibatkan imajinasi, intuisi dan penemuan pemkiran divergen, orsinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan serta mencoba-coba.
c. Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.
d. Mengembangkan kemapuan menyampaikan informasi atau mengkonsumsikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, catatan, grafik, peta, diagram dalam menjelaskan gagasan.
B. Hasil Belajar
Hasil belajar adalah perubahan tingkah laju pada seseorang dari yang tidak tahu menjadi tahu, perubahan tingkah laku itu meliputi pengetahuan emosional, pengertian, hubungan sosial, kebiasaan, jasmani, keterampilan, etis/budi pekerti, apresiasi dan sikap. (Oemar Hamalik, 2003). Menurut Sudiarto Dalam Waluyo (1987), hasil belajar adalah tingkat peguasaan yang di capai oleh mahasiswa dalam mengikuti program belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, sedangkan menurut Nana Sujana (2001), hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki mahasiswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Perwujudan hasil belajar akan selalu berkaitan dengan kegiatan evaluasi belajar yang dapat menilai secara efektif proses dan hasil belajar (Sri Anitah, 2013). Untuk melihat hasil belajar yang berkaitan dengan kemampuan berpikir kritis dan ilmiah pada siswa Sekolah Dasar, dapat dikaji proses maupun hasil berdasarkan:
1. Kemampuan membaca, mengamati dan atau menyimak apa yang dijelaskan atau di diinformasikan.
2. Kemampuan mengidentifikasi atau membuat sejumlah (sub-sub) pertanyaan berdasarkan subtansi yang dibaca, diamati dan atau didengar.
3. Kemampuan mengorganisasi hasil-hasil identifikasi dan mengkaji dari sudut persamaan dan perbedaaan; dan
4. Kemampuan melakukan kajian secara menyeluruh.
C. Metode diskusi
Metode yang sering digunakan dalam pembelajaran kelompok atau kerja kelompok yang di dalamnya melibatkan beberapa orang siswa untuk menyelesaikan pekerjaan atau tugas atau permasalahan. Sering pula metode ini disebut sebagai salah satu metode yang menggunakan pendekatan CBSA atau keterampilan proses. Metode mengajar diskusi merupakan cara mengajar yang dalam pembahasan dan penyajian materinya melalui suatu problema atau pertanyaan yang harus diselesaikan berdasarkan pendapat atau keputusan secara bersama. Kegiatan diskusi dapat dilaksanakan dalam kelompok kecil ( 3-7 peserta ), kelompok sedang ( 8-12 peserta), dan kelompok besar (13-40 peserta) ataupun diskusi kelas. Diskusi pada kelompok kecil lebih efektif dibanding dengan kelompok besar dan kelas. Kegiatan diskusi dipimpin oleh seorang ketua atau moderator untuk mengatur pembicaraan cara mencapai target (Sri Anitah, 2013).
1. Karakteristik
Dalam penggunaan metode diskusi, bahan pelajaran harus dikemukakan dengan topik permasalahan atau persoalan yang akan menstimulus siswa menyelesaikan permasalahan/persoalan tersebut. Untuk menjawab atau menyelesaikan permaslahan/persoalan tersebut, perlu dibentuk kelompok yang terdiri dari beberapa siswa sebagai anggota dalam kelompok tersebut. Kelancaran kegiatan diskusi sangat ditentukan oleh moderator yaitu orang yang mengatur jalannya pembicaraan supaya semua siswa sebagai anggota aktif berpendapat secara maksimal dan seluruh pembicaraan mengarah pada pendapat / kesimpulan bersama. Tugas guru dalam kegiatan ini adalah lebih banyak berperan sebagai pembimbing, fasilitator atau motivator supaya interaksi dan aktivitas siswa dalam diskusi menjadi efektif.
Pada kegiatan pendahuluan guru dapat menyampaikan tujuan yang diharapkan dicapai dan topik pembelajaran yang akan dibahas dalam kegiatan kelompok. Langkah berikutnya guru mengelompokkan siswa sesuai kriteria yang yang telah ditentukan dan memberikan penjelasan pada siswa tentang tahapan belajar. Setelah semua siswa memahami tugas dan kegiatan yang harus dilakukan dalam kelompok, selanjutnya siswa melakukan diskusi sebagai kegiatan inti pembelajaran dengan langkah-langkah sebagai berikut.
a. Merumuskan masalah berdasarkan topik pembahasan dan tujuan pembelajaran .Perumusan masalah harus dilakukan oleh siswa dibawah bimbingan guru.
b. Mengidentifikasi masalah atau sub-submasalah berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan.
c. Analisis masalah berdasarkan sub-sub masalah. Dalam tahap ini dikondisikan secara individu dalam kelompok untuk menjawab pertanyaan atau persoalan sampai mencapai satu kesepakatan untuk menjawab persoalan kelompok.
d. Menyusun laporan oleh masing-masing kelompok.
e. Presentasi atau melaporkan hasil diskusi kelompok kecil pada seluruh kelompok dilanjutkan dengan diskusi kelas yang langsung dibimbing oleh guru.
Pada kegiatan akhir siswa dibawah bimbingan guru menyimpulkan hasil diskusi berdasarkan rumusan masalah dan sub-sub masalah. 3. Prasyarat untuk Mengoptimalkan Pembelajaran Diskusi
Untuk menunjang efektivitas penggunaan metode diskusi perlu dipersiapkan kemampuan guru maupun kondisi siswa yang optimal. Kemampuan guru yang perlu dipersiapkan dalam melaksanakan pembelajaran diskusi yaitu :
b. Mampu membimbing siwa untuk merumuskan dan mengidentifikasi permasalahan serta menarik kesimpulan.
c. Mampu mengelompokkan siswa sesuai dengan kebutuhan permasalahan dan pengembangan kemampuan siswa.
d. Mampu mengelola pembelajaran melalui diskusi. e. Menguasai permasalahan yang didiskusikan.
Kondisi dan kemampuan siswa yang harus diperhatikan untuk menunjang pelaksanaan diskusi diantaranya adalah ;
a. Memilik motivasi ,perhatian ,dan minat dalam berdiskusi. b. Mampu melaksanakan diskusi.
c. Mampu menerapkan belajar secara bersama. d. Mampu mengeluarkan isi pikiran atau pendapat.
e. Mampu memahami dan menghargai pendapat orang lain. 1. Keunggulan
Beberapa keunggulan menggunakan metode diskusi diantaranya metode ini dapat memfasilitasi siswa agar dapat, yaitu :
a. Bertukar pikiran.
b. Menghayati permasalahan.
c. Merangsang siswa untuk berpendapat. d. Membangun rasa tanggung jawab. e. Membina kemampuan berbicara.
f. Belajar memahami pendapat atau pikiran orang lain. g. Memberikan kesempatan belajar.
2. Kelemahan
Berikut kelemahan yang perlu diantisipasi oleh para guru jika akan menerapkan metode ini, diantaranya yaitu :
a. Relatif memerlukan waktu yang cukup banyak.
b. Apabila siswa tidak memahami konsep dasar permasalahan maka diskusi tidak akan efektif.
c. Materi pelajaran dapat menjadi luas. d. Yang aktif hanya siswa tertentu saja. D. Penelitian Tindakan Kelas ( PTK )
Penelitian Tindakan Kelas dilakukan oleh guru untuk mengintropeksi dirinya,merefleksi atau mengevaluasi dirinya sendiri sehingga kemampuannya sebagai guru diharapkan cukup profesional. PTK bermanfaat bagi guru, pembelajaran siswa, serta bagi sekolah (IGAK wardhani 2012) .Manfaat PTK bagi guru adalah sebagai berikut :
3. Meningkatkan rasa percaya diri guru.
4. Memungkinkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilan.
Bagi pembelajaran/siswa, PTK bermanfaat untuk meningkatkan proses / hasil belajar siswa, di samping guru yang melaksanakan PTK dapat menjadi model bagi para siswa dalam bersikap kritis terhadap hasil belajarnya. Bagi sekolah, PTK membantu sekolah untuk berkembang karena adanya peningkatan / kemajuan pada diri guru dan pendidikan di sekolah tersebut. PTK memerlukan berbagai kondisi agar dapat berlangsung dengan baik dan melembaga. Kondisi tersebut antara lain dukungan dari semua personil di sekolah, iklim yang terbuka yang memberikan kebebasan kepada guru untuk berinovasi, berdiskusi, berkolaborasi, dan saling mempercayai di antara personil sekolah, dan juga saling percaya antara guru dan siswa.
III. PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
A. Subjek, Tempat, Waktu Penelitian, dan Pihak yang Membantu
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran ini dilaksanakan di kelas VI SDN Tanjung Pasir I tahun ajaran 2014-2015 semester genap kecamatan Teluknaga Kabupaten Tangerang dengan jumlah siswa 27 orang. Jumlah siswa laki-laki 11 orang dan siswa perempuan 16 orang, mata pelajaran yang menjadi objek penelitian adalah matematika, dalam kegiatan penelitian ini peneliti berkolaborasi dengan supervisor 2 dan juga diberi masukan oleh kepala sekolah, serta teman sejawat, mereka yang membantu melakukan pengamatan pembelajaran dan refleksi. Instrumen yang yang digunakan adalah lembar observasi, APKG 1 dan APKG 2 penelitian perbaikan dilaksanakan dalam dua siklus pembelajaran. Adapun jadwal pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada mata pelajaran matematika adalah sebagai berikut :
Jadwal Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran
No Mata
pelajaran Siklus Hari/Tanggal Waktu Ket
1 Matematika 1 Rabu, 4 Maret 2015 07.30 s.d 08.40 2 Matematika II Rabu,18 Maret 2015 8.50 s.d 10.00
B. Desain prosedur Perbaikan Pembelajaran
Pelaksanaan Perbaikan pembelajaran dilaksanakan dalam dua siklus yang dilakukan berdasarkan Penelitian Tindakan Kelas. Dalam kegiatan ini pembelajaran tindakan dilakukan setiap satu kali pertemuan, lamanya pertemuan 2 x 35 menit. Setiap siklus penelitian meliputi perencanaan, tindakan / pelaksanaan, pengamatan/observasi, dan melakukan refleksi, seperti tertera pada bagan berikut ini (dimodifikasi dari model yang dikembangkan oleh kemmis &Mc. Taggart, 1991).
Bagan 1. Siklus Perbaikan Pembelajaran
Adapun deskkripsi dari setiap prosedur kegiatan pelaksanaan perbaikan Pembelajaran adalah sebagai berikut :
Siklus I
Menetapkan Fokus Melalui Studi Pendahuluan
Identifikasi Masalah
Analisis Masalah
a. Perencanaan
Pada tahap perencanaan, peneliti membuat skenario pembelajaran yang berhubungan dengan penggunaan metode diskusi dengan langkah-langkah pembelajaran yang jelas dan rinci, dengan cara penjelasan konseptual atau konsep dasar dari materi.Selain itu peneliti jaga mempersiapkan fasilitas dan sarana yang mendukung yang berkaitan dengan metode diskusi seperti membuat lembar diskusi siswa, mengembangkan format evaluasi, menyiapkan alat peraga ( buah apel ), mengembangkan format observasi pembelajaran, lebih jauh lagi mempersiapkan mereka data seperti instrument test untuk mengetahui hasil belajar dan untuk mengamati dampak penggunaan metode diskusi di dalam pembelajaran.
b. Tindakan/Pelaksanaan
Pada tahap ini peneliti mengimplementasikan skenario tindakan yang direncanakan dengan melaksanakan pembelajaran sesuai dengan silabus dan perangakat pembelajaran yang telah dibuat berdasarkan bimbingan dari supervisor 2. Dalam penelitian ini ada teman sejawat yang berfungsi sebagai pengamat penelitian pembelajaran matematika dengan menggunakan lembar observasi, APKG 1 untuk menilai RPP dan APKG 2 untuk menilai pelaksanaan perbaikan pembelajaran, serta memberikan masukan terhadap tindakan kegiatan peneliti. Langkah-langakah pembelajaran pada pelaksanaan perbaikan siklus ini terdiri atas tiga tahap yaitu kegiatan awal, inti,dan akhir.tahap kegiatan awal meliputi orientasi, apersepsi, motivasi, dan pemberian tujuan. Berikut proses pelaksanaan perbaikan pembelajaran :
1. Kegiatan Awal
a. Orientasi : Guru memusatkan perhatian dengan memberikan pertanyaan yang berkaitan dengan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan.
c. Motivasi : Guru menjelaskan manfaat dari materi yang akan diberikan.
d. Pemberian Tujuan : Guru menyanpaikan tujuan pembelajaran. 2. Kegiatan Inti
a. Guru menjelaskan operasi hitung penjumlaha dan pengurangan berbagai bentuk pecahan dengan memberikan contoh dan penyelesaiannya.
b. Guru mengorganisasikan siswa berdasarkan kelompok. c. Guru menyediakan beberapa gulungan kertas yang berisi soal
Penjumlahan dan pengurangan pecahan, masing-masing kelompok mengambil satu gulungan kertas, kemudian mendiskusikan soal tersebut.
d. Guru memberi kesempatan pada perwakilan kelompok
mempresentasikan hasil diskusi mereka di depan kelas secara bergantian.
e. Guru memberikan penguatan materi. 3. Kegiatan Akhir
a. Guru bersama siswa menyimpulkan materi b. Guru memberikan evaluasi
c. Pengamatan/Observasi/Pengumpulan Data
Selama proses pembelajaran berlangsung, supervisor 2 dan teman sejawat berfungsi sebagai pengamat yang mengamati dan mencatat serta menilai semua aktifitas peneliti sebagai guru dan aktifitas dan respon siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Alat atau instrument pengamatan :
1. Lembar observasi ( lampiran 5).
2. Lembar format perencanaan perbaikan pembelajaran ( lampiran 3b).
3. Lembar jurnal ( lampiran 7 ).
4. APKG 1 dan APKG 2 ( lampiran 9). d. Refleksi
berdasarkan hasil observasi, menetapkan langkah-langkah untuk menentukan perbaikan pembelajaran selanjutnya.
Siklus II
a. Perencanaan
Perencanaan pada siklus II dibuat berdasarkan hasil refleksi siklus I,dalam hal ini peneliti menyusun kembali perangkat pembelajaran yang lebih sempurna dari siklus pertama. Penyempurnaan desain pembelajaran terdapat pada perubahan alat peraga. Pada siklus pertama meggunakan buah apel, di siklus II ini peneliti menggunakan kertas origami.Selain itu untuk lebih mengaktifkan diskusi kelompok,peneliti menggunakan lembar diskusi siswa dalam pembelajaran.
b. Tindakan / Pelaksanaan
Pada pelaksanaan siklus II ini tindakan yang dilakukan adalah melaksanakan skenario pembelajaran yang merupakan penyempurnaan dari skenario pembelajaran pada siklus I. Pada pelaksanaan siklus II ini peneliti di dampingi dengan penilai 1 (supervisor 2), penilai 2 (teman sejawat A), dan observer (teman sejawat B) Pelaksanaan perbaikan pembelajaran ini tertuju pada perubahan alat peraga, penggunaan lembar diskusi siswa,memberikan kesempatan pada siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka secara bergantian didepan kelas disertai tanya jawab dan komentar dari kelompok lain, berikut ini penjelasan pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus II.
1. Kegiatan Awal
a. Tanya jawab yang berhubungan dengan materi (pecahan).
b. Mengingatkan kembali oeprasi hitung pecahan pada pertemuan sebelumnya.
a. Guru mendemonstrasikan materi tentang pecahan dengan menggunakan kertas origami.
b. Pengorganisasian siswa berdasarkan kelompok.
c. Penggunaan lembar diskusi siswa tentang penjumalahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan.
d. Guru memfasilitasi proses diskusi kelompok.
e. Presentasi hasil diskusi di depan kelas secara bergantian disertai tanya jawab dan komentar dari kelompok lain.
f. Pemberian penguatan materi pembelajaran. 3. Kegiatan Akhir
a. Bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dibahas bersama. b. Guru member pekerjaan rumah.
c. Pengamatan / Observasi
Seperti halnya pada siklus I, selama proses pembelajaran berlangsung, supervisor 2 / observer mengamati dan menilai aktifitas guru dan siswa dengan menggunakan instrument penilaian APKG 1 (untuk menilai RPP), APKG 2 (untuk menilai pelaksanaan perbaikan pembelajaran), dan lembar pengamatan. Adapun yang diamati adalah kegiatan pembelajaran dari awal hingga akhir, apakah kekurangan-kekurangan pada siklus I terulang kembali ataukah kekurangan itu dapat diatasi sesuai dengan alternatif pemecahan masalah yang digunakan.
d. Refleksi
masih adanya siswa yang belum mencapai KKM, belum aktif (22,22%). Perbaikan untuk kekurangan tersebut tidak dituliskan pada laporan ini, karena peneliti dan supervisor 2 memutuskan untuk membatasi pembelajaran hanya pada siklus II.
C. Teknik Analisis Data
Data penelitian berupa hasil observasi supervisor 2 yang disusun berdasarkan indikator keberhasilan dari pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang menggunakan metode diskusi kelompok dan alat peraga kertas origami. Data hasil pengamatan yang berupa komentar observer diolah secara kualitatif, sementara data yang diperoleh dari nilai hasil belajar siswa diolah secara kuantitatif dengan menggunakan statistik sederhana.
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran
1. Data rencana, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi hasil penelitian
Penjelasan pada bagian ini sebenarnya adalah hasil dari penelitin siklus I dan II.Rencana perbaikan pembelajaran dapat dilihat pada Rencana Perbaikan Pembelajaran siklus I dan II. Rencana tahapan pembelajaran pada umumnya sesuai dengan RPP. Data pelaksanaan penelitian perbaikan pembelajaran ini berdasarkan hasil refleksi terhadap diri sendiri dan hasil pengamatan supervisor II,berikut data yang menyangkut kinerja guru dan siswa dalam pembelajaran.
Tabel 2
DATA KINERJA GURU SELAMA PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN MENURUT SIKLUS
N o
Aspek yang Diobservasikan
Pra Siklus Siklus 1 Siklus 2
A
Komentar Supervisor
II
A Supervisor IIKomentar A
Komentar Supervisor
II 1 Kegiatan Awal
menjelaskan konsep mengalami perubahan yang cukup baik, pemberian contoh yang dinginkan sudah banyak dan bervariasi sehingga siswa dapat menerima materi dengan cepat, pemberian latihan yang cukup memadai, dalam menggunakan alat peraga guru sudah tepat sehingga siswa termotivasi untuk melakukan pembelajaran. Dalam penerapan metodepun sudah bervariasi dan tepat, sehingga siswa dapat dengan aktif mengikuti pembelajaran, hal ini dapat dibuktikan dengan hasil belajar siswa yang diperoleh setiap siklusnya. Refleksi yang diperoleh dari setiap pengamatan pelaksanaan perbaikan tiap siklus beserta deskripsi perencanaan, pelaksanaan, dan pengamatan, berikut ini hasil refleksi persiklus.Tabel 5
2. Data Hasil Belajar Siswa
Setelah diadakan penilaian pada mata pelajaran matematika mulai dari pra siklus sampai dengan siklus 2 di kelas 6 SDN Tanjung Pasir 1 ternyata hasil yang di peroleh siswa menunjukan peningkatan yang berarti KKM ( 7,0 ) dapat tercapai. Hasil belajar siswa persiklus dapat dilihat pada table berikut :
Tabel 6
Data Nilai Matematika Siswa Kelas VI
No Nama Siswa Nilai yang di Peroleh
Pra Siklus Siklus 1 Siklus 2
1 ALDI 4 6 8
2 ADIYATMA 6 8 8
4 ANDRI SETIAWAN 6 6 8
5 BAHRUL HADI 4 6 8
6 DEA YUNITA 4 6 6
7 ISMAWATI 2 4 4
8 ITAS 4 6 8
9 LISKHOIRIYAH 4 6 8
10 FITRI ALIA 6 8 10
11 ASMANI 2 4 4
12 MOH.RIFALDI 6 8 10
13 MOH.AWALUDIN 8 8 10
14 MEVILIANTI 4 6 8
15 MONITA 6 8 8
16 SITI HANDAYU 6 8 10
17 SITI AISYAH 6 8 8
18 PUTRI AMELIA 4 6 8
19 RISMA AMELIA 4 6 8
20 KHOIRUNISA 2 4 4
21 TITIN FATIMAH 6 6 8
22 PERDANA BAYU 8 10 10
23 SILA MUTIARA 2 6 6
24 WAHYU KANDI 2 4 4
25 YEYEN 4 6 8
26 M. SEXTIN. S 8 8 10
27 M. RIZKI 4 6 8
Jumlah Nilai 128 176 210
Rata - Rata 4,74 6,52 7,78
Berdasarkan data nilai rata – rata di atas berikut ini di tampilkan dengan grafik
Grafik nilai rata-rata perbaikan matematika siswa kelas 6 SDN Tanjung Pasir I
Tabel 7
FREKUENSI PEROLEHAN NILAI
SEBELUM PROSES PERBAIKAN (PRA SIKLUS)
No Nilai F NF KET
1 10 - - KKM :7,0
2 9 -
-3 8 3 24
4 7 - - Dibawah KKM
5 6 9 54 24 siswa = 88,89%
6 5 -
-7 4 10 40 Diatas KKM
8 3 - - 3 siswa = 11,11%
9 2 5 10
10 1 -
-Jumlah 27 128
Rata-rata 4,74
Pada pembelajaran sebelum perbaikan,nilai rata-rata siswa hanya mencapai 4,74. Kalau dilihat masih sangat jauh dari KKM, dan anak yang mencapai nilai KKM hanya 3 orang (11,11%), ini berarti guru dianggap tidak berhasil.
Tabel 8
FREKUENSI PEROLEHAN NILAI SIKLUS I
No Nilai F NF KET
1 10 1 10 KKM = 7,0
2 9 -
-3 8 9 72
4 7 - - Dibawah KKM
5 6 13 78 17 siswa = 62,96%
6 5 -
-7 4 4 16 Diatas KKM
8 3 - - 10 siswa = 37,04%
9 2 -
-Jumlah 27 176 Rata-rata 6,52
Berdasarkan data frekuensi pada siklus I, pelaksanaan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga benda konkrit, metode diskusi, pemberian latihan ternyata dapat meningkatkan hasil belajar siswa, hal ini terbukti pada siklus I siswa yang mencapai nilai KKM bertambah dari 3 0rang pada pembelajaran sebelum perbaikan (pra siklus) menjadi 10 orang (37,04%), nilai rata-rata siswa mencapai 6,52. Oleh karena nilai siswa masih banyak yang dibawah KKM, maka peneliti melanjutkan ke pembelajaran siklus berikutnya yaitu siklus II.
Tabel 9
FREKUENSI PEROLEHAN NILAI SIKLUS II
No Nilai F NF KET
1 10 7 70 KKM = 7,0
2 9 -
-3 8 14 112
4 7 - - Dibawah KKM
5 6 2 12 6 siswa = 22,22%
6 5 -
-7 4 4 16 Diatas KKM
8 3 - - 21 siswa = 77,78%
9 2 -
-10 1 -
-Jumlah 27 210
Rata-rata 7,78
Diagram 1
Diagram prosentase perbandingan nilai siswa berdasarkan KKM
3. Keberhasilan dan kegagalan per siklus
Berikut ini tabel data keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan perbaikan pembelajaran per siklus
Tabel 10
Data Keberhasilan dan Kegagalan Siklus I
Siklus 1
Keberhasilan Siswa mulai aktif, namun masih perlu bimbingan guru Kegagalan Penggunaan metode pembelajaran masih belum optimal,
pemberian contoh kurang bervariasi Tabel 11
Data Keberhasilan dan Kegagalan Siklus II
Siklus II
Keberhasilan Siswa sudah aktif,suasana diskusi lebih hidup dan terarah, 77,78% nilai siswa sudah melampaui KKM
Kegagalan Masih terdapat siswa yang mendapat nilai di bawah KKM
B. Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Berdasarkan hasil diskusi dengan supervisor II selama proses penelitian tindakan kelas pada mata pelajaran matematika tentang penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan, peneliti menemukan beberapa hal pada siklus I dan II.Berikut ini penjabarannya
Pemahaman materi siswa mulai ada peningkatan ,hal ini dapat dilihat pada perubahan nilai diatas KKM ( 7,0 ) pada beberapa siswa. Berdasarkan hasil observasi teman sejawat terdapat beberapa kekurangan pada siklus ini diantaranya :
a. Penggunaan alat peraga masih belum optimal karena konsentrasi siswa justru tertuju pada buah apel bukan pada materi pembelajaran
b. Pemberian contoh masih kurang bervariasi, begitupun halnya dengan soal-soal latihan
c. Penerapan metode diskusi belum maksimal masih perlu bimbingan guru.
d. Hasil evaluasi siswa sudah mengalami peningkatan yaitu 6,52 dibandingkan pada kegiatan sebelum perbaikan (4,47), namun masih dibawah KKM.
Oleh karena itu sangat perlu diadakan siklus II untuk melakukan perbaikan-perbaikan sekaligus menggali kompetensi guru. Refleksi dari temuan tersebut, peneliti menyempurnakan RPP yang yang langkah pembelajarannya dibuat untuk mengatasi kekurangan yang ada pada pembelajaran siklus I, misalnya guru lebih rinci dalam menjelaskan, mengganti alat peraga apel menjadi kertas origami, mengoptimalkan metode diskusi, yang kesemuanya untuk menciptakan pembelajaran yang lebih baik.
2. Siklus II
siswa mendapatkan nilai diatas KKM. Dengan demikian penggunaan alat peraga benda konkrit,penggunaan metode diskusi yang optimal, pemberian contoh soal dan latihan yang maksimal dapat meningkatkan hasil belajar serta meningkatkan motivasi belajar siswa pada pelajaran matematika. Refleksi pada siklus ini peneliti sadar masih terdapat kekurangan pada siklus ini misalnya masih ada nilai anak yang berada dibawah KKM (22,22%), namun perbaikan untuk kekurangan ini tidak ditulis pada laporan ini karena pembelajaran dibatasi hanya pada siklus II. Mengingat guru harus melanjutkan pembelajaran ke materi selanjutnya.
V. SIMPULAN, SARAN DAN TINDAK LANJUT
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian perbaikan pembelajaran matematika tentang operasi hitung penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan yang dilaksanakan dalam dua siklus peneliti membuat simpulan sebagai berikut :
1. Penggunaan metode diskusi yang optimal akan meningkatkan hasil belajar matematika siswa,,hal ini dapat dilihat dari perubahan nilai setiap siklus yang menunjukan kemajuan yang berarti (77,78% siswa mencapai nilai KKM)
2. Dengan penggunaan alat peraga benda konkrit akan dapat memotivasi siswa untuk lebih aktif dan kreatif dalam kegiatan pembelajaran,serta memudahkan siswa dalam belajar matematika.
3. Pemberian contoh dan latihan yang bervariasi akan dapat menambah pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
B. Saran Tindak lanjut
Dari hasil penelitian tentang kondisi pembelajaran matematika dengan metode diskusi ada beberapa hal yang harus diperhatikan guru dalam mengajar yaitu :
2. Guru hendaknya menggunakan alat peraga benda konkrit akan lebih dapat merangsang motivasi belajar siswa dalam pembelajaran.
3. Guru sebaiknya memperbanyak Pemberian contoh dan latihan dalam pembelajaran matematika sehingga pemahaman siswa tentang materi pembelajaran semakin bertambah.
Berdasarkan pengalaman peneliti dalam melaksankan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas perlu adanya tindak lanjut sebagai berikut :
1. Perlu adanya kerjasama antara guru dan pengawas untuk memecahkan permasalahan dalam kegiatan pembelajaran dikelas melalui wadah KKG untuk bertukar pikiran dan pengalaman berkenaan dengan masalah dan tugas mengajar sehari-hari.
2. Dalam pembelajaran juga diperlukan adanya penelitian tindakan kelas untuk merefleksi diri untuk dapat melaksanakan perbaikan pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Nana Sujana, (1989 ) .Teori-Teori Belajar Untuk Pengajaran . Bandung : Jurusan Ekonomi, Unipersitas Indonesia
Sri Anitah W, DKK ( 2013 ) . Strategi Pembelajaran di SD “.Jakarta : Universitas Terbuka
Sutawijaya, A . DKK ( 1992 ) . Pendidikan Matematika III . Jakarta : Dirjen Dikti Depdikbud
Tim FKIP UT ( 2014 ) . Pemantapan Kemampuan Profesional .
Tangerang Selatan : Universitas Terbuka
Wardhani IGAK, Wihardit, Kuswaya ( 2012 ) .Penelitian Tindakan Kelas.
Jakarta : Universitas Terbuka
Ruseffendi, ( 1996 ) . Pendidikan Matematika 3 . Jakarta : Depdikbud Hamalik, Oemar ( 2008 ) . Proses Belajar Mengajar . Bandung :
Bumi Aksara
Retnowati Heri dkk, ( 2008 ) Matematika Untuk SD / MI Kelas 6. Depok : CV. Arya Dua