• Tidak ada hasil yang ditemukan

Filsafat Analitika Bahasa filsafat. docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Filsafat Analitika Bahasa filsafat. docx"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

THE PHILOSOPHY OF LANGUAGE “FILSAFAT ANALITIKA BAHASA”

OLEH KELOMPOK III

ASWIRA HUMAERAH IRMA ERFIANI

SITI AISYAH AMINI HERMAN

BAHASA DAN SASTRA INGGRIS FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

(2)

Kata Pengantar

Assalamu’alaikum wr.wb

Alhamdulillah, segenap rasa syukur kami utarakan kepada Allah SWT karena atas karunia dan izinnyalah kami selaku penyusun makalah ini dengan judul “Filsafat Analitika Bahasa” dapat menyelesaikannya dengan baik dan bertepatan oleh waktu yang diberikan, sebelum akhirnya makalah ini akan kami presentasikan sebagai bahan acuan kami untuk membagi ilmu yang kami peroleh dari sebuah buku dan sekaligus untuk memenuhi kewajiban kami sebagai mahasiswa.

Tak lupa pula kami haturkan shalawat dan salam pada motivator dan guru terbesar manusia yang merupakan seorang penggerak peradaban Nabi Muhammad SAW. Sebagai mahasiswa, sudah seharusnyalah beliau menjadi motivator dan guru terbesar bagi seluruh pelajar didunia, karena dialah yang mendorong seluruh umat manusia untuk terus belajar yang dibuktikan dalam sabdanya “Belajarlah sampai ke negeri Cina” yang perilakunya yang budiman dapat kita contoh.

Makalah dengan judul “Filsafat Analitika Bahasa” mempunyai banyak informasi dan pelajaran yang dapat kita jadikan kiblat sebagai arah pemikiran kita akan sesuatu. Namun tentunya, makalah ini tentu mempunyai kekurangan, untuk itu kami mengharapkan kepada para pembaca untuk memberikan tanggapannya yang bersifat membangun untuk makalah ini.

Makassar, 25 Oktober 2016

(3)

BAB I PENDAHULUAN

A. Pendahuluan

(4)

dibahas dalam makalah ini mengenai model-model dari filsafat itu sendiri berdasarkan para filsufnya.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah;

a. Bagaimanakah filsafat sebagai analisis bahasa?

b. Bagaimanakah perkembangan filsafat analitika bahasa? c. Bagaimanakah atomisme logis?

d. Bagaimanakah pengaruh pemikiran F.H. Bradley terhadap filsafat analitika bahasa?

e. Bagaimanakah pemikiran George Edward Moore dalam filsafat analitika bahasa?

f. Bagaimanakah pemikiran filsafat atomisme logis Bertrand Russell? g. Bagaimanakah pemikiran filsafat atomisme logis Ludwig Wittgenstein? C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, adapun tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah;

a. Untuk mengetahui filsafat sebagai analisis bahasa b. Untuk mengetahui perkembangan analitika bahasa c. Untuk mengetahui tentang atomisme logis

(5)

e. Untuk mengetahui pemikiran George Edward Moore dalam filsafat analitika bahasa

(6)

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengantar

Secara terminology, istilah filsafat analitika bahasa di kenal dan popular pada abad 20. Namun, jika dapat di terima bahwa filsafat analitik adalah pemecahan dan penjelasan problema-problema serta konsep-konsep filsafat melalui analisis bahasa, maka sebenarnya berdasarkan isi materi dan metodenya maka filsafat analitika bahasa itu telah berkembang sejak zaman Yunani.

(7)

analisi ungkapan-ungkapan filsafat, atau melalui suatu analisis bahasa. Para filsuf analitika bahasa meliputi banyak ungkapan-uangkapan filsafat misalnya ungkapan-ungkapan metafisi dari kaum idealism, rasionalisme maupun empirisme sebenarnya tidak bermakna ataudengan lain perkataan tidak mengungkapkan apa-apa. Demikianlah sehingga kalangan filsuf analitika bahasa menolak dengan tegas ungkapan –ungkapan metafisis bahkan yang paling radikal kaum positivesme logis ingin menghilangkan metafisika.

Memang banyak diakui oleh kalangan ahli filsafat dan kalangan historian bahwa filsafat bahasa itu sulitdi tentukan batasan pengertiannya terutama filsafat analitika bahasa, karena dasar-dasar filosofinya cukup yang rumit, padat dan sangat beragam. Demikianlah kiranya filsafat analitika bahasa memiliki dimensi yang sangat luas dan meliputi berbagai. Pemilihan filsafat analitika bahasa ini memang sulit untuk ditentukan berdasarkan periodisasi maupun wilayah karena an=liraan-aliran filsafat analitik tersebut memiliki keterkaitan pengaruh antara tokoh satu dengan lainnya, antara aliran satu dengan lainnya. Maka untuk mempermudah pemahaman kita tentang perkembangan filsafat analitika bahasa, penentuan berdasarkan aliran merupakan suatu pilihan yang dianggap paling tepat.

B. Filsafat Sebagai Analisis Bahasa

(8)

terutama dengan timbulnya aliran filsafat analitika bahasa yang memandang bahwa problem-problem filosofis akan menjadi terjelaskan manakala menggunakan analisis terminology gramatika, kalangan filsuf analitika bahasa menyadari banyak ungkapan-ungkapan filsafat yang sama sekali tidak menjelaskan apa-apa. Sehingga filsafat analitika bahasa menyatakan bahwa tugas utama filsafat adalah analisis konsep-konsep. Problem yang muncul berkaian dengan filsafat sebagai analisis konsep-konsep yaitu kekurangan dan keterbatasan bahasa sebagaimana di hadapi oleh disiplin ilmu-ilmu lainnya. Maka menurut Alstonbahwa bahasa merupakan laboratorium filsafat untuk menguji dan menjelaskan konsep-konsep dan problem-problem filosofis bahkan untuk menentukan kebenaran pemikirannya.

Kedudukan filsafat sebagai analisis konsep-konsep dan mengingat peranan bahasa yang bersifat sentral dalam mengungkapkan secara verbal pandangan-pandangan dan pemikiran filosofis maka timbullah suatu masalah yaitu keterbatasan bahasa sehari-hari yang dalam masalah tertentu tidak mampu mengungkapkan masalah filosofis. Menanggapi peranan bahasa sehari-hari dalam kegiatan filsafat maka terdapat dua kelompok filsuf yang memiliki pandangan yang berbeda.

(9)

adalah memberikan semacam terapi untuk penyembuhan dalam keemahan penggunaaan bahasa filsafat tersebut.

Kelompok filsuf yang menganggap bahwa bahasa sehari-hari itu tidak cukup untuk mengungkapkan masalah-masalah dan konsep-konsep filsafat karena memiliki kelemahan antara lain: kekaburan makna, tergantung pada konteks, mengandung emosi dan menyesatkan. Menurut kelompok ini, tugas filsafat yaitu membangun dan mengembangkan bahasa yang dapat mengatasi kelemahan-kelemahan yang yang terdapat dalam bahasa sehari-hari itu.

C. Perkembangan Filsafat Analitika Bahasa

(10)

Atomisme logis, mulai berkembang pada abad ke-20 di Inggris dan aliran ini sangat dipengaruhi oleh aliran-aliran sebelumnya yaitu rasionalisme dan empirisme. Aliran ini berkembang sebagai reaksi ketidakpuasan atas aliran idealism yang pada saat itu sangat menguasai tradisi pemikiran di Inggris. pengaruh atomisme logis kemudian diteruskan oleh aliran positivism yang dalam beberap hal banyak menyetujui konsep-konsep atomisme logis. Paham positivism logis ini lazimnya dikembangkan oleh kalangan ilmuwan bidang fisika, matematika, kimia, ilmu-ilmu alam dan sebagainya yang berpusat di Wina. Setelah perang dunia kedua muncullah aliran filsafat bahasa biasa yang dipelopori oleh Wittgenstein. Aliran ini memiliki pengaruh yang sangat luas di Inggris, Jerman, prancis, maupun di Amerika.

D. Amotomisme Logis

Dalam perkembangan pemikiran filsafat di Inggris, permulaan abad XX, muncullah suatu perkembangan pemikiran yang baru yang oleh para ahli sejarah filsafat disebut sebagai suatu perubahan yang radikal! Atau sebagai suatu “Revolusi”. Perkembangan baru ini membawa perubahan dalam gaya, arah dan corak pemikirannya.

(11)

dalam suatu artikelnya yang telah dimuat dalam contenporary british Philosophy yang terbit tahun 1924.

Pemikiran atomisme logis sebagaimana dikemukakan oleh Bertrand Russell dan sebenarnya telah dikembangkan oleh Ludwing Wittgenstein dalam bukunya “Tractatus Logico Philosophicus’,meskipun dianggap sebagai suatu karya filsafat yang sama sekali baru, namun dalam kenyataannya tidak dapat dipisahkan dengan aliran-aliran filsafat yang mendahuluinya.

Walaupun pemikiran atomisme logis yang dikembangkan oleh empirsme terutama John Locke dan David Hume, namun dalam kenyataannya tradisi idealispun juga memberikan garis dan warna dalam pemikirannya.

E. Pengaruh Idealisme F.H. Bradley

Pada awal abad ke XX aliran yang dominan di Inggris adalah idealisme. Tumbuh suburnya aliran tersebut merupakan suatu reaksi atas materialisme dan positifisme yang merajalela di Eropa pada waktu itu yang menguasai filsuf-filsuf generasi sebelum timbulnya idealisme.

Menurut aliran idealisme bahwa realitas terdiri atas ide-ide, fikiran-fikiran, akal, jiwa, dan bukannya benda-benda material dan kekuatan. Jika materialisme mengemukakan bahwa materi adalah ril dan mind adalah fenomena yang menyertainya maka idealisme menyatakan bahwa mind itulah yang real dan materi adalah produk sampingnya.

(12)

kritik yang sangat keras terhadap teori pengenalan dari paham empirisme. Menurut Bradley metode pengenalan empirisme sebenarnya bersifat psikologis dan bahwa mereka itu bekerja dengan ide-ide dan sama sekali tidak dengan putusan atau judgemen atau keterangan-keterangan (proposisi). Ide sebagaimana yang dimaksudkan kalangan empirisme adalah isi dan pikiran. Kaum empiris tertarik dengan asal-usul pikiran kita, bagaimana kita mendapatkan kemampuan kita untuk berpikir tentang kualitas, hubungan pada pihak lain, proposisi itu bukanlah isi dari pikiran kita, akan tetapi merupakan pernyataan-pernyataan tentang dunia ini, yaitu bahwa sesuatu itu adalah sedemikian rupa di tangkap oleh pikiran. Menurut pandangan Bradley, metode kaum empirisis itu, adalah suatu kesahan. Kaum empirisis kurang memperhatikan putusan (judgements) atau proposisi, dan hal inilah yang menjadi sasaran kritik kaum idealis, dan dalam kenyataannya hal inilah yang merupakan perbedaan yang paling dalam antara Immanuel Kant dan David Hume.

Pemikiran Bradley inilah yang mempengaruhi formulasi logika atomisme logis Bertrand Russel, yaitu realitas itu terwujudkan dalam suatu ungkapan bahasa yang merupakan suatu proposisi-proposisi.

F. George Edward Moore

(13)

(Poerwowidagdo:30). Moore adalah seorang tokoh filsafat analitik (penguraian) dan sebagai seorang analis ia berpendapat bahwa tugas filsafat adalah memberikan analisis yang tepat tentang konsep atau proposisi, yaitu menanyakan dengan jelas dan tepat apa yang dimaksudkan dengan konsep-konsep atau proposisi-proposisi dalam ilmu filsafat. Dalam pengertian inilah Moore secara tidak langsung telah membangun tumbuhnya sikap skiptis dan kritis terhadap metafisika. Kritik Moore terhadap aliran idealisme tersebut tertuang dalam karangannya yang berjudul “The refutation of idealism”, yang dimuat dalam majalah ‘Mind’ (1903). Kaum idealisme terutama kaum Hegelian berpendapat bahwa ‘Segala sesuatu itu bersifat spiritual, tidak ada dunia material di luar kita, ‘waktu adalah tidak real’ dan lain sebagainya.

Berdasarkan atas reputasinya itu maka Moore berpendapat bahwa tugas utama filsafat adalah memberikan analisis yang tepat atau yang memadai tentang konsep suatu proposisi, yaitu menguraikan dengan jelas dan memadai apa yang dimaksud proposisi itu, (Moore 1959:vii) Memberikan analisis secara pantas terhadap suatu konsep atau suatu proposisi itu sama dengan menggantikan perkataan atau kalimat yang di gunakan untuk mengungkapkan hal itu dengan ungkapan-ungkapan lain yang sama benar nilainya (exactly equivalent) dengan kalimat atau ungkapan tadi akan tetapi menjadi semakin jelas maknanya. Selanjutnya pendapat Moore tentang analisis adalah sebagai berikut:

(14)

(analysandum) disebelah kiri dan ungkapan baru disebelah kanan yangb sering dibuat analisis (penguraian) (analysans) sebagai pengurai,

Berkaitan dengan analisis tersebut, maka pangkal urai (analysandum) dan pengurai (analysans) tidak harus selalu identik (sama persis), melainkan keduanya harus sama dalam arti mempunyai kondisi-kondisi kebenaran yang sama (Longford, 1952:335).

G. Filsafat Atomisme Logis Bertrand Rusell

Pemikiran filsafat di Inggris sebelum Bertrand Rusell dikuasai oleh tradisi idealisme, sehingga sekaligus pemikiran Rusell merupakan suatu reaksi yang sangat akurat terhadap aliran tersebut.

Suatu kelebihan dari pemikiran atomisme logis Bertrand Rusell adalah ia mampu mesintesiskan berbagai macam pemikiran para filsuf sebelumnya maupun filsafat sezamannya. Dalam pemikiran Rusell Nampak garis lurus tradisi empirisme John Locke dan David Hume terutama dalam structure logis dari proposisi-proposisi, dari proposisi sederhana (atomis) sampai pada proposisi kompleks yang memiliki corak logis yang sama dengan konsep ide-ide sederhana (ide-ide atomis) sampai pada ide-ide-ide-ide yang bersifat kompleks.

Rusell menyatakan bahwa konsep atomismenya tidak didasarkan pada metafisikanya melainkan lebih didasarkan pada logikanya karena menurutnya logika adalah yang paling dasariah dalam filsafat, sehingga pemikirannya dinamakan ‘atomisme logis’.

(15)

atau keterangan filsafat dapat dijelaskan dengan menggunakan system logika baru.

Sebagaimana diungkapkan oleh Rusell bahwa tugas filsafat adalah analisis logis dan disertai dengan sintesa logis, mendukung suatu pengertian bahwa untuk mendapatkan suatu kebenaran dilakukan dengan mengajukan suatu alasan-alasan yang bersifat apriori yang tepat bagi suatu pernyataan. Adapun sintesa logis dilakukan dengan menentukan makna suatu pernyataan atas dasar empiris (pengalaman indera). Menurut Rusell kebenarannya yang bersifat logis dan matematis yang diungkapkan melalui analisis logis meyakinkan kita untuk mengakui keberadaan sifat-sifat yang universal yang bersifat tetap, dan dalam kenyataannya terdapat teori bersifat empiris murni yang tidak mampu mengungkapkan hal tersebut. Atas dasar itulah maka Rusell lebih mendahulukan analisis logis daripada sintesa logis.

Russell menyatakan bahwa sesuatu yang menyebabkan ia menamakan pemikiran filsafatnya ‘atomisme logis’ yaitu karena atom-atom yang ingin dicapai Russell sebagai hasil analisis terakhir bukan merupakan suatu atom fisik melainkan atom logis (Herty, 1984 : 85-86).

1. Formulasi Logika Bahasa

(16)

yang sama bilamana dua hal itu mengandung kesesuaian. Misalnya Sokrates dan Aristoteles memiliki formulasi logis yang sama, karena “Sokrates adalah seorang filsuf dan Aristoteles adalah filsuf, sehingga keduanya memiliki formulasi logis yang sama. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Russell bahwa formulasi logis itu bukan hanya berdasarkan logika formal saja, melainkan didukung oleh suatu fakta yaitu sintesa logis dari fakta. ‘Sokrates’ dan ‘Aristoteles’ memiliki formulasi logis yang sama karena berdasarkan pada suatu fakta bahwa baik Sokrates maupun Aristoteles keduanya sebagai filsuf. Dengan memahami formulasi logis dari ungkapan maka kita dapat membedakan antara bentuk logis gramatikal dari suatu ungkapan dengan bentuk logis dari semantiknya. 2. Prinsip Kesesuaian (Isomorfi)

Russell menampakkan konsep pemikirannya yang cemerlang, yaitu ia ingin menganalisis hakikat realitas dunia melalui analisis logis. Russel mendasarkan pada analisis logis karena hal ini berdasarkan pada kebenraran apriori yang sifatnya universal yang bersumber pada rasio manusia. Adapun sintesa logis merupakan metode untuk mendapatkan kebenaran pengetahuan melalui pengetahuan empirirs (pengalaman inderawi) yang bersifat aposteriori.

(17)

adapun fakta terungkapkan melaluii bahasa sehingga terdapat suatu kesesuaian antara struktur logis bahasa dengan struktur realiltas dunia.

Pernyataan empiric yang langsung menyebutkan suatu konfrontasi dengan realitas yang meliputi dua macam yaitu particular dan universalia.

Particular adalah hasil persepsi kongkrit individual, sedangkan universalia menunjukkan suatu sifat atau hubungan.

Egocentric particular merupakan entitas-entitas atau satuan-satuan kongkrit yang dikenal karena suatu pengalaman pribadi yang pada dasarnya tidak dapat dibagi dengan orang lain. Satuan-satuan yang merupakan egocentric particular menurut Russell juga merupakan kata-kata deiktik kesemuanya dapat dikembalikan pada suatu bentuk. Misalnya ini, itu yang berstatus sebagai nama diri yang logis (logical proper name).

Pengertian logical proper name atau nama diri yang logis memiliki dua macam ciri yaitu:

1. Suatu logical proper name adlaah sejauh hal itu berfungsi sebagai nama yang tidak dapat menunjuk pada objek yang sama untuk dua orang yang berbeda

2. Suatu logical proper name dapat menunjuk hanya pada entitas-entitas yang kita kenal pada suatu saat.

(18)

Deskripsi tentang dokrin isomorfi merupakan upaya Russell untuk mewujudkan obsesinya tentang hakikat struktur bahasa yang memiliki struktur logis realitas dunia. Maka menurut Russell analisis bahasa yang benar akan menghasilkan suatu pengetahuan yang benar pula tentang hakikat realitas dunia.

3. Struktur Proposisi

Dunia pada hakikatnya merupakan suatu keseluruhan fakta-fakta dan fakta-fakta tersebut terungkap melalui bahasa yang disebut proposisi. Fakta-fakta itu sendiri sebenarnya tidak dapat bersifat benar atau salah, yang dapat diberikan kualifikasi benar atau salah adalah proposisi-proposisi yang mengungkapkan fakta-fakta. Dengan perkataan lain proposisi merupakan symbol dan bukan merupakan bagian dunia. Proposisi memiliki struktur yang terdiri atas sejumlah kata dan kata-kata itu menunjuk pada suatu data inderawi (sense data) dan universalia (universals) yaitu ciri-ciri atau relasi-relasi. Proposisi pada hakikatnya merupakan symbol bahasa yang mengungkapkan fakta.

Masing-masing proposisi atomis itu memiliki arti atau makna sendiri-sendiri yang terpisah satu dengan lainnya. Untuk membentuk suatu proposisi majemuk maka proposisi-proposisi atomis tersebut dirangkaikan dengan kata-kata penghubung seperti ‘dan’ ‘atau’ serta kata penghubung lainnya.

(19)

fakta-fakta atomis. Kebenaran atau ketidakbenaran proposisi-proposisi molekur tergantung pada kebenaran atau ketidakbenaran proposisi atomis yang terdapat di dalamnya, jadi fakta-fakta atomis menentukan benar atau tidaknya proposisi apapun juga (baik atomis maupun molekuler).

Selain fakta atomis yang diungkapkan melalui proposisi atomis, juga terdapat pengertian “fakta umum” yang kebenarannya berdasarkan fakta-fakta yang secara umum diketahui dan benar.

Russell juga menerima pengertian fakta negative, sebab hal itulah satu-satunya cara untuk menerangkan benar atau tidaknya suatu proposisi negative.

(20)

H. Filsafat Atomisme Logis Ludwig Wittgenstein 1. Peranan Logika Bahasa Wittgenstein

sependapat dengan gurunya bahwa tugas utama filsafat adalah memberikan analisis logis dan disertai dengan sintesis logis. Dalam Tractatus filsafat bertujuan untuk penjelasan logis dari pikiran. Uraian Wittgenstein persoalan filsafat itu timbul karena para filulsuf terdahulu dalam memecahkan dan merumuskan problem-problem filsafat kurang memahami logika bahasa, yang digunakan dalam filsafat (Wittgenstein, 1963: 27).

Munurut uraian Wittgenstein para filusuf terdahulu tentang proposisi dan problem filsafat bukannya salah, melainkan tidak dapat dipahami. Karena mereka tidak mengerti dengan logika bahasa. Oleh karena itu kita tidak bisa memikirkan sesuatu yang tidak logis karena hal itu akan membuat kita menjadi tidak logis juga (Wittgenstein, 1963: 31.32).

(21)

2. Pemikiran Filosofis Tractatus

Konsep pemikiran Wittgenstein dalam buku tractatus terdiri atas pernyataan-pernyatan yang secara logis memiliki hubungan. Pernyataan tersebut diungkapkan sebagai berikut:

Pertama :dunia itu tidak terbagi atas benda-benda melainkan terdiri atas fakta-fakta, dan akhirnya terbagi menjadi suatu kumpulan fakta-fakta atomis yang tertentu secara unik(khas).

Kedua :setiap proposisiitu pada akhirnya melarut diri, melalui analisis, menjadi suatu fungsi kebenaran yang tertentu secara unik(khas) dari sebuah proposisi elementer, yaitu setiap proposisi hanya mempunyai satu analisis akhir. Menurut Wittgenstein yang dimaksud dengan fakta adalah suatu peristiwa atau suatu keadaan, yaitu bagaimana objek-objek itu memiliki interrrelasi, hubungan kausalitas, kulitas, aksi, kuantitas, ruang, waktu dan keadaan (Poerwowidagdo: 37).

(22)

Dengan demikian dunia itu harus dijelaskan atau diterangkan bukan dalam arti objek itu sendiri, melainkan bagaimana objek-objek itu berhubungan, dan berada di antara satu dengan lainnya.

Dunia itu terdiri atas fakta-fakta dan dapat dijelaskan dalam arti hubungan antara satu dengan yang lainnya, Wittgenstein totalitas fakta itu sangat kompleks(rumit) dan terdiri atas fakta-fakta yang kurang kompleks. Fakta-fakta itu berikutnya terdiri atas fakta-fakta yang makin kurang kompleks lagi, demikian seterusnya dan akhirnya kita sampai pada fakta-fakta yang sudah tidak dapat diredusir atau dikurangi lagi. Fakta-fakta itu adalah Fakta-fakta yang terkecil, yang paling lemener yang merupakan bagian terkecil sehingga disebut sebagai fakta atomis.

3. Struktur Logika Bahasa

(23)

penegrtian teknis karena Socrates dapat didefinisikan sebagai misalnya, seorang laki-laki, seorang filsuf Yunani yang hidup di Athena dan lain sebagainya.

Sebuah nama itu adalah sebuah objek dan, objek itu adalah maknannya (3.203). jadi jikalau tidak ada objek maka fungsi dari proposisi-proposisi dasar hanya akan terdiri atas istilah-isilah yang tidak mempunyai arti,

4. Teori Gambar (Picture Theory)

Proposisi-proposisi itu terungkapkan melalui bahasa, maka bahasa pada hakikatnya merupakan suatu gambaran dunia. Menurut Wittgenstein pengertian sebuah proposisi terletak pada situasi yang digambarkan atau yang dihadirkan didalamnya (Pitcher, 1964: 45).

Menurut Wright, fungsi teori gambar terletak pada kesesuaian antara unsur-unsur gambar dengan unsur-unsur sesuatu dengan realitas. Wittgenstein menekankan bahwa proposisi itu berfungsi seperti sebuah gambar karena ada hubungan kesesuaian anatar unsur-unsur gambar itu dengan dunia fakta.

(24)

5. Tipe-tipe Kata (Words Types)

Dalam upaya penerapan metode analisis bahasa Wittgenstein menerapkan beberapa teknik menganalisis makna bahasa, antara lain dengan menganalisis tipe-tipe kata. Dalam penentuan tipe-tipe kata inilah perlu dibeddakan pengertian konsep nyata, yaitu tipe kata yang termasuk memiliki acuan konkrit seperti : meja, kursi, mobil, tongkat dan lain sebagainya. Konsep formal misalnya arti, objek, kompleks, fakta, fungsi angka dan ada.

Konsep formal tidaklah sama dengan konsep nyata yang hadir melalui suatu fungsi yang dimilikinya, melainkan keduanya memiliki ciri yang berbeda, sebab sifat-sifat formal tidak dapat menghadirkan fungsinya secara jelas, ia hanya dapat diungkapkan dalam bentuk symbol yang bersifat pasif (Wittgenstein, 1969: 126).

6. Pandangan Wittgenstein Tentang Metafisika

(25)

Menurut Wittgenstein filsafat bukanlah merupakan suatu ajaran melainkan merupakan aktivitas. Tugas filsafat menurut Wittgenstein adalah menjelaskan kepada seseorang apa yang dapat dikatakan dan apa yang tidak dapat dikatakan.

(26)

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Dalam berfikir kritis seperti para filsuf atau berpikir filsafat pemikiran kita tidak bisa hanya di dasari hanya dengan logika, karena bisa saja logika tidak bisa diterima oleh sebagian orang, karena tidak semua orang setuju dengan pemikiran yang diutarakan oleh seseorang dan tidak semua orang pula yang dapat mengerti logika seseorang. Banyak pula permasalahan yang terus dibicarakan oleh para filsuf yang tidak dapat dipecahkan masalahnya atau ditemukan jawabannya dikarenakan terdapat beberapa hal yang tidak dapat diucapkan atau dibahasakan oleh logika. Dalam analitika bahasa terdapat beberapa filsuf yang mengeluarkan pendapatnya mengenai fenomena tersebut, kebanyakan dari mereka menyatakan bahwa untuk mengungkapkan sesuatu haruslah bergandengan dengan fakta, karena fakta dapat mengungkapkan apa yang tidak dapat diungkapkan oleh bahasa. Jika hanya dengan mengandalkan logika tidaklah efisien namun juga membutuhkan fakta untuk mendukung suatu logika.

B. Saran

(27)
(28)

Daftar Pustaka

Referensi

Dokumen terkait

Manusia adalah makhluk bahasa, mereka menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi dan segala tindakannya selalu bertumpu pada bahasa. Dengan bahasa seseorang dapat mengungkapkan

kepada pembelajar untuk berdialog mengenai diri mereka, dan mengungkapkan perasaan mereka secara bergantian dalam rangka mengaktualisasikan dirinya. Langkah

Ber-dasarkan pendapat tersebut, dapat penulis simpulkan bahwa bahasa figuratif adalah bahasa yang digunakan penyair untuk mengungkapkan sesuatu dengan tujuan tertentu

Merupakan sebuah teori yang tepat sebagai pisau analisa untuk mengupas berbagai pitutur yang disampaikan oleh Emha Ainun Nadjib.. Bahasa adalah sesuatu yang tidak pernah

Anda bisa mulai belajar bahasa pemrograman apa pun (meskipun beberapa bahasa "lebih mudah" dari bahasa lainnya"), jadi Anda mungkin ingin belajar dengan bertanya pada

Dari tabel diatas dapat dilihat 65,71 % peserta didik kebanyakan menyatakan bahwa metode yang dipakai dalam penerjemahan bahasa Arab ke dalam bahasa

bahasa arab sendiri di kota Banjarmasin jika ditelusuri dengan kacamata sejarah, hasil penelitian mengungkapkan bahwa kebanyakan masyarakat Banjarmasin masih belum mengenal sejarah kota

Corder yang dikutip oleh Nababan, mereka mengatakan bahwa “Analisis kesalahan bahasa itu beguna untuk mengetahui beberapa hal mengenai kesalahan yang dibuat oleh pembelajar bahasa