• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENENTUAN DAN KADAR OKSIGEN TERLARUT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENENTUAN DAN KADAR OKSIGEN TERLARUT"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PERCOBAAN 4 LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA LINGKUNGAN

PENENTUAN KADAR OKSIGEN TERLARUT Yang diampu oleh Bapak Yudhi Utomo dan Ibu Irma Kartika

OLEH : KELOMPOK 6:

Desy Irianti (150331604550)

Ilma Ade Restantri (150331600138) Linda Listya Nirmala (150331600457) Miftakhul Lindha Yusnaini (150331607201)

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MALANG

(2)

A. Judul Percobaan

Penetapan Kadar Oksigen Terlarut (DO) B. Tujuan

Menetapkan kadar oksigen terlarut dalam sampel air. C. Dasar Teori

Pencemaran sungai dewasa ini sudah merupakan problematika di kota-kota besar. Khususnya di kota-kota dimana beberapa sungai masih merupakan sumber baku air bagi perusahaan air minum. Pembuangan sampah maupun kotoran terus menerus membuat pencemaran sungai di kota-kota besar kian meningkat tanpa sejenakpun memperoleh kesempatan untuk menyelesaikan proses dekomposisi maupun pembaruan kadar oksigen secara berganti. Hadirnya sampah maupun kotoran di dalam sungai menyebabkan hilangnya persediaan oksigen dalam air yang merupakan komponen penting bagi kehidupan biotik air.

Oksigen merupakan salah satu gas yang terlarut dalam perairan. Kadar oksigen yang terlarut di perairan alami bervariasi, tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air, dan tekanan atmosfer. Oksigen memegang peranan penting sebagai indikator kualitas perairan, karena oksigen terlarut berperan dalam proses oksidasi dan reduksi bahan organik serta anorganik. Selain itu, oksigen juga menentukan kegiatan biologis yang dilakukan oleh organisme aerobik atau anaerobik. Dalam kondisi aerobik, peranan oksigen adalah untuk mengoksidasi bahan organik dan anorganik dengan hasil akhirnya adalah nutrien yang pada akhirnya dapat memberikan kesuburan perairan. Sedangkan dalam kondisi anaerobik, oksigen yang dihasilkan akan mereduksi senyawa – senyawa kimia menjadi lebih sederhana dalam bentuk nutrien dan gas.

Sumber oksigen dilautan antara lain dapat diperoleh secara langsung dari atmosfer melalui proses difusi dan melalui biota berklorofil yang mampu berfotosintesis. Disamping itu juga terdapat faktor yang menyebabkan berkurangnya oksigen dalam air laut yaitu karena respirasi biota, dekomposisi bahan organik dan pelepasan oksigen ke udara. Untuk mengetahui kualitas air dalam suatu perairan, dapat dilakukan dengan mengamati beberapa parameter kimia yang sering digunakan yaitu DO (Dissolved Oxygen), BOD (Biochemical Oxygen Demand), dan COD (Chemical Oxygen Demad) (Nontji, 2009 : 24)

(3)

proses difusi dari udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut (Hanifah, 2013).

Penetapan kadar oksigen terlarut dapat dilakukan dengan metode titimetri Winkler. Prinsip dasarnya oksigen yang terdapat di dalam air diikat dengan Mn(OH)2. Senyawa Mn(OH)2 yang terjadi direaksikan dengan larutan KI dalam suasana asam. Senyawa I2 yang dibebaskan dapat dititrasi dengan larutan baku Na2SO3 dan larutan amilum sebagai indikator (Tim Dosen Kimia Ligkungan, 2018). Adapun cara menghitung kadar oksigen terlarut dengan metode titimetri Winkler adalah sebagai berikut.

D. Alat dan Bahan

Adapun peralatan dan bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan penentuan kadar oksigen terlarut adalah sebagai berikut.

Peralatan Bahan-bahan

1. Disiapkan 2 botol Winkler yang sudah dicuci dan dibersihkan

2. Diisi botol Winkler dengan 125 mL sampel air kemudian ditutup hingga tidak ada gelembung udara di dalam botol.

3. Dibuka tutup botol dan ditambahkan 1 mL larutan MnSO4 50% dengan pipet. Ujung pipet harus tercelup ke dalam air sampel dalam botol Winkler.

4. Ditambahkan 1 mL larutan NaOH + KI dengan cara yang sama dan ditutup botol dengan pelan-pelan.

5. Dikocok dengan cara membolak-balikkan botol kemudian dibiarkan selama 10 menit

6. Dipindahkan semua larutan ke dalam Erlenmeyer 250 mL

Kadar oksigen terlarut (mg/L) = 1000 x V1 x Nthio x 8 (V2 – 2)

Dimana,

V1= Volume Na2S2O3 yang digunakan titrasi Nthio= normalitas larutan Na2S2O3

(4)

7. Ditambahkan H2SO4 4N sebanyak 1 mL dan dibiarkan selama 5 menit.

8. Dititrasi larutan tersebut dengan larutan baku Na2SO3 0,01N hingga timbul warna kuning muda.

9. Ditambahkan 5 tetes indikator amilum dan dilanjutkan titrasi hingga terjadi perubahan dari warna biru kehitaman menjadi tidak berwarna atau jernih

10.Dicatat volume larutan Na2SO3 0,01N yang digunakan

F. Data Pengamatan

Sumberpucung 1 125 mL 17,20 mL

2 125 mL 16,90 mL

Rata-rata 125 mL 17,05 mL

G. Analisa Prosedur

No Prosedur Kerja yang Disorot Analisis

1 Disiapkan 2 botol Winkler yang sudah dicuci dan dibersihkan

Botol Winkler yang digunakan harus bersih untuk mencegah adanya zat pengotor yang dapat mempengaruhi kadar oksigen terlarut yang akan ditentukan.

2 Diisi botol Winkler dengan 125 mL sampel air kemudian ditutup hingga tidak ada gelembung udara di dalam botol

Untuk mencegah adanya gelembung udara dalam botol Winkler, dimana gelembung udara dapat mempengaruhi kadar oksigen terlarut yang akan ditentukan.

3 Ditambahkan 1 mL larutan MnSO4 50% dengan pipet.

Penambahan larutan MnSO4 akan membentuk Mn(OH)2 jika direaksikan dengan NaOH. Dimana Mn(OH)2 berfungsi untuk mengikat oksigen yang terdapat dalam air..

4 Ujung pipet harus tercelup ke dalam air sampel dalam botol Winkler.

Untuk mencegah terbentuknya gelembung udara dalam botol Winkler 5 Ditambahkan 1 mL larutan NaOH +

KI

Penambahan NaOH bertujuan untuk membentu Mn(OH)2. Sedangkan KI bertujuan untuk membentuk I2

6 Dikocok dengan cara membolak-balikkan botol kemudian dibiarkan selama 10 menit

(5)

Kadar oksigen terlarut ( mg/L ) = 1000 x V1 x Nthio x 8 7 Ditambahkan H2SO4 4N sebanyak 1

mL dan dibiarkan selama 5 menit

Penambahan H2SO4 4N bertujuan untuk menciptakan suasana asam pada larutan. 8 Ditambahkan 5 tetes indikator

amilum dan dilanjutkan titrasi dengan Na2SO3 0,01N

Penambahan amilum bertujuan untuk menguji adanya I2. Dilanjutkan titrasi untuk mengetahui volume Na2SO3 0,01N yang dibutuhkan, dimana volume tersebut akan digunakan untuk menghitung kadar oksigen terlarut.

H. Analisa Data dan Pembahasan

Penentuan kadar oksigen terlarut pada percobaan ini menggunakan sampel air sungai dari Sumberpucung yang diambil pada hari Minggu sore (04 Maret 2018). Dalam menentukan kadar oksigen terlarut dalam percobaain ini menggunakan metode titrasi Winkler dimana prinsipnya dengan menggunakan metode titrasi iodometri.

Langkah pertama yang dilakukan adalah mengambil 125 mL sampel air dan menempatkannya pada botol Winkler. Kemudian ditambahkan 1mL larutan MnSO4 50% dan 1 mL campuran NaOH + KI, sehingga terbentuk endapan Mn(OH)2 yang dapat mengikat oksigen terlarut di dalam sampel air dan menghasilkan endapan MnO2. Penambahan MnSO4 dan NaOH + KI dilakukan dengan pipet volume dimana ujung pipet harus tercelup ke dalam sampel untuk menghindari terbentuknya gelembung udara dalam botol Winkler. Selanjutnya ditambahkan H2SO4 4N sehingga endapan yang terbentuk akan larut kembali dan juga akan membebaskan molekul iodium (I2) yang ekivalen dengan oksigen terlarut. Iodium yang dibebaskan ini selanjutnya dititrasi dengan larutan standar natrium tiosulfat (Na2S203) dan menggunakan indikator larutan amilum (kanji). Titrasi dilakukan secara duplo guna mendapatkan hasil titrasi yang akurat. Adapun reaksi kimia yang terjadi adalah sebagai berikut:

MnSO4 + 2 NaOH  Mn(OH)2 + Na2SO4

2 Mn(OH)2 + O2  2 MnO2 + 2 H2O

MnO2 + 2 KI + 2 H2SO4  I2 + MnSO4 + K2SO4 + 2 H2O

I2 + Na2S2O3  2 NaI + Na2S4O6

(6)

Berdasarkan perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa kadar oksigen terlarut pada sampel air sungai Sumberpucung yang diambil pada Minggu sore sebesar 11.09 mg / L. Untuk mengetahui kondisi dan keberlangsungan hidup ikan pada air sungai tersebut maka perlu dibandingkan kadar oksigen terlarut sampel dengan standar baku kadar oksigen terlarut pada perairan.

Kadar OT (mg/

L) Keberlangsungan hidup ikan dalam perairan

<0,3 Hanya sedikit jenis ikan yang dapat bertahan pada masa pemaparan singkat (short exposure)

0,3-1,0 Pemaparan lama (prolonged expusure) dapat mengakibatkan kematian ikan

1,0-5,0 Ikan dapat bertahan hidup, tetapi pertumbuhannya terganggu >5,0 Hampir semua organisme akuatik menyukai kondisi ini

(Swingle, 1969 dalam Hidayat, 2015:68)

Berdasarkan tabel keberlangsungan hidup ikan pada kadar oksigen terlarut di atas, dapat disimpulkan bahwa kondisi air sungai Sumberpucung sangat baik dimana hampir semua organisme akuatik menyukai kondisi air sungai karena kadar oksigen terlarutnya > 5,0 mg/L yakni sebesar 11.09 mg/L.

I. Kesimpulan

(7)

Daftar Pustaka

1. Anggriawan, Denny. 2013. Oksigen Terlarut. (Online) (http://www.academia.edu /5249810/Oksigen_Terlarut). Diakses pada tanggal 9 Maret 2018

2. Hidayat, Saleh. 2015. Limnologi. Palembang : Universitas Muhammadiyah

Palembang Press

3. Tim Dosen Kimia Lingkungan. 2018. Petunjuk Praktikum Kimia Lingkungan. FMIPA Universitas Negeri Malang

(8)

LAMPIRAN

Warna endapan ketika dipindah ke erlenmeyer

Endapan larut setelah ditambah H2SO4

Proses titrasi dengan Na2S2O3 0.01N

Warna larutan setelah akhir titrasi Warna larutan setelah

ditambah indikator amilum

Terbentuk endapan setelah ditambah NaOH +

KI Penambahan 1 mL NaOH

+ KI Penambahan 1 mL

Referensi

Dokumen terkait

Dengan menggunakan mini vessel bertipe hull catamaran yang telah disematkan board Arduino Mega 2560 yang dilengkapi sensor pembacaan kadar oksigen terlarut, pH, suhu

Perguruan Tinggi : Institut Teknologi Sepuluh Nopember Dengan ini menyatakan bahwa Tugas Akhir dengan judul “ Rancang Bangun Sistem Pengendali Kadar Oksigen Terlarut dengan

Pada penelitian ini dirancang sebuah sistem kendali yang digunakan untuk mengatur kadar oksigen terlarut dalam air menggunakan pengendali logika fuzzy dan

Perguruan Tinggi : Institut Teknologi Sepuluh Nopember Dengan ini menyatakan bahwa Tugas Akhir dengan judul “Rancang Bangun Sistem Pengendali Kadar Oksigen Terlarut dengan

Terlihat dari hasil yang diperoleh dari seluruh sampel, kadar DO dari ekosistem rumput laut lebih tinggi dari pada ekosistem lamun hal ini

Avertebrata akuatik memiliki toleransi yang lebih tinggi terhadap toksisitas amonia bila dibandingkan dengan ikan, karena pada ikan kadar amonia yang terlalu tinggi akan

Tujuan analisis ini adalah mengevaluasi kadar oksigen terlarut di dalam tiga model wadah domestikasi ikan rasbora Harlequin Trigonostigma heteromorpha, yaitu A bak beton, B akuarium

2.2 Bahan Bahan yang digunakan dalam praktikum yang berjudul “Analisis Oksigen Terlarut Dissolved Oxygen” adalah sampel air yang diambil menggunakan botol winkler sebagai objek yang