1 | P a g e
Menuju Pentakostalisme 5.0
Catatan permenungan seorang Protestan akan makna “menyembah dalam roh dan kebenaran” (Yoh. 4:23), serta implikasi eskatologisnya
Victor Christianto, Email: [email protected]
Abstrak
Dalam artikel ini, penulis memaparkan permenungan dan pergumulan dalam memaknai teks “menyembah dalam roh dan kebenaran”, khususnya sebagai seorang Protestan yang belajar Pentakostalisme. Artikel ini ditulis antara lain karena penulis terinspirasi oleh penuturan jujur pergumulan seorang teolog
Yahudi, Eli Lizorkin-Eyzenberg, dalam bukunya: The Jewish Gospel of John.[1]
“Jesus declared, ‘Believe me, woman, a time is coming when you will worship the Father neither on this mountain nor in Jerusalem. You Samaritans worship what you do not know; we worship what we do know, for salvation is from the Ioudaioi. Yet a time is coming and has now come when the true worshipers will worship the Father in spirit and truth, for they are the kind of worshipers the Father seeks. God is spirit, and his worshipers must worship in spirit and in truth.’” (John 4:22-23)
Catatan permenungan
Sebagai seorang Kristen dari latarbelakang Protestan, penulis sungguh
bersyukur ke hadirat Bapa di Surga, yang memperkenankan saya menempuh studi pascasarjana teologi di STT Satyabhakti, yang telah
berkiprah dalam pendidikan teologi sejak 1955.
Selama menempuh studi di STT Satyabhakti yang bercorak
2 | P a g e
oleh pimpinan STT, yang tidak mensyaratkan peserta studi untuk mesti mengalami dahulu “baptisan roh,” “bahasa lidah,” dan lain-lain.
Dalam kelas Teologi Biblika, penulis memberanikan diri mengangkat tema “anugerah umum,” yang jelas-jelas merupakan salah satu tema yang khas Calvinian. Seorang mahasiswa sekelas sempat menyebut saya
sebagai Calvinis konservatif. Terus apakah saya menjadi kapok? Jika boleh meminjam ungkapan urang Sunda: “sabodo teuing.” (biar saja)1 Bahkan dalam penulisan tesis, penulis sengaja mengambil tema DSS
(Naskah Laut Mati) dan sejarah gereja perdana, karena penulis waktu
itu belum tuntas merenungkan perihal Pentekostalisme dari perspektif seorang Protestan.
Baru sore ini (06/09/18), terbersit sebuah gagasan (atau mungkin bisikan dari Roh Kudus) akan makna sesungguhnya dari “menyembah dalam roh dan kebenaran” (Yoh. 4:23), dengan pemahaman yang
sepenuhnya baru.
Kita semua tahu bahwa pembaruan gereja terjadi secara terus-menerus,
tidak hanya dalam Reformasi tentunya, meski Reformasi Martin Luther
membawa perubahan yang amat khas. Sebuah studi menyatakan bahwa Gereja sebagai Tubuh Kristus dibarui secara mendasar setiap 500
tahun.
Tahun lalu gereja kami turut merayakan Peringatan 500 tahun Gerakan
Reformasi 1517, tapi juga tidak banyak perubahan yang terjadi. Lalu di
mana jejak gerakan tersebut?
Dalam pandangan penulis, sebelum reformasi yang dipelopori Luther,
gereja praktis dalam suasana gelap, lalu muncullah terang kebenaran. Namun bersama berlalunya waktu, semangat kritis yang dibawa oleh
Luther, ternyata bermuara pada kritisisme (alias hiperkritis), dan inilah
3 | P a g e
yang menyebabkan kebanyakan para skolar dalam bidang PB menjadi
cenderung sangat kritis terhadap otoritas Alkitab.2
Koreksi mendasar diperkenalkan oleh Charles Parham dkk, terutama
para pelopor gerakan Pentekostalisme klasik, dengan kebangunan di
jalan Azusa, Los Angeles, yang dipimpin oleh Seymour dalam kurun
waktu sekitar 1906-1909. Secara ringkas dapat kita katakan bahwa inovasi Pentekostalisme di sini adalah mengembalikan peran sentral Roh
Kudus ke dalam hidup bergereja.
Namun dalam perjalanannya, ternyata Pentekostalisme juga
menunjukkan ekses negatif, seperti health and wealth (cikal bakal teologi kemakmuran), ada juga hipergrace dll. Yang lebih buruk, dari
waktu ke waktu, muncul berbagai gelombang kritik terhadap para tokoh
Pentekostalisme dan juga para televangelis, sebut saja kawin-cerainya Sister Aimee.3 Lalu ada juga pengakuan dosa Jim Bakker4 dan Benny
Hinn,5 dan ada juga pastor senior di Singapore yang beberapa waktu
lalu digugat karena mempromosikan istrinya sebagai artis. Dengan kata
lain, nampaknya ada sesuatu yang kurang sehat dalam praktek Pentakostalisme modern.6
2Lihat kesaksian Prof. Eta Linnemann, seorang murid Bultmann. Note: Prof. Eta Linnemann was a NT scholar under Bultmann, who taught many years in Marburg, but then she repented and went to Indonesia to teach in an evangelical seminary at East Java until she died. Prof. Eta Linnemann’s testimony, 2001, url:
https://gracevalley.org/teaching/eta-linnemann-testimony/. Her testimony includes, among other things: “When Professor Bultmann came to the next verse, he said, “Here Paul is not at the usual height of his theology because he is speaking of the resurrection of Christ as if it were a historical fact.’ Thus I learned as a young student in my very first term that we were not allowed to think of the resurrection of Christ as a historical fact. This great professor had said it, so it had to be. After all, how could I, as a young student, know more than my professors! ...”
4 | P a g e
Gambar 1. Jim Bakker
Bahkan di Indonesia, ada gugat-menggugat antara pendeta senior dan
menantunya, senilai ratusan milyar. Belum lagi fenomena jual beli
gereja, selain banyak kisah tentang para pendeta pensiunan dan
keluarganya yang tidak terurus oleh gereja. Terkesan bahwa dalil darwinisme sosial juga berlaku di gereja: yang kaya diperhatikan dan
yang tidak dapat menyumbang banyak ke kas gereja akan dipinggirkan
atau tidak digubris.
Lalu di mana letak masalahnya? Sore ini, penulis baru terpikir bahwa
penekanan berlebihan akan pencarian kebenaran oleh para skolar
teologi membawa pada teori kritik historis dll yang justru mengarah
5 | P a g e
Pentekostalisme dan kharismatik juga kadang membawa implikasi yang
tidak begitu sehat, membawa pada eksperiensialisme (menekankan pengalaman spiritual).
Lalu adakah jalan tengahnya? Saya kira dengan memperhatikan bahwa
Yesus menyatakan “menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran” mesti
dimaknai sekaligus mencari kebenaran namun juga dengan
mengandalkan Roh Kudus. Bukankah Yesus tidak mengatakan “roh atau kebenaran”?
Saya kira di sinilah letak permasalahannya: banyak pimpinan gereja
yang saling menegasikan satu dari lainnya. Yang roh-isme kerap mengejek gereja Reformed sebagai “gereja lama.” Sementara yang
kebenaran-isme kerap menuduh aliran Pentekostalisme sebagai ajaran
sesat. Padahal mestinya, sebagai Tubuh Kristus kita mesti belajar rendah hati dan mau saling belajar justru dalam keragaman.
Saya bersyukur memiliki banyak rekan dan kolega yang baik dari kedua
tradisi tersebut, dan juga terutama seorang kolega dan sahabat
matematikawan yakni Prof. Florentin Smarandache yang
mengembangkan Logika Neutrosophic, yang mempelajari dinamika
neutralitas di luar logika biner Aristoteles. (Lihat Lampiran 1) Dalam terang Logika Neutrosophic, di antara <A> dan <anti-A>,
senantiasa ada ruang untuk netralitas <neut-A>. Demikian juga antara roh-isme dan kebenaran-isme mesti ada ruang tengah yang seimbang. Demikianlah kiranya menjadi jelas, bahwa arah Pentekostalisme ke
depan bukan saja bertumbuh sebesar-besarnya, namun dengan lebih jujur akan berbagai problem yang dihadapi saat ini, dan mulai
introspeksi.
Menyitir pernyataan Paulus, bahwa yahudi yang sejati adalah mereka
yang disunat dalam hati, jadi bukan yang sekadar yahudi secara lahiriah. Demikian juga Reformed sejati bukanlah yang lahiriah
6 | P a g e
senantiasa mau belajar dan diperbarui oleh Firman Allah yang Hidup. Dan demikian juga jemaat Pentakostal, bukan yang paling “ngeroh” namun yang setia mendengar suara Tuhan dan melakukan kehendak
Bapa.
Lalu bagaimana hidup spiritualitas Kristiani yang seimbang dan sehat
tersebut? Pagi ini (7/9/2018) penulis berdiskusi dengan seorang hamba Tuhan dari GPDI, dan beliau mengajukan usulan skema 3K: karakter,
karisma dan kebenaran. Jika setiap pemimpin dan umat dari tradisi
manapun belajar untuk menyeimbangkan hidup rohani yang sehat, maka pasti akan hidup dalam pengalaman perjumpaan dengan Tuhan
yang hidup namun juga berbuah bagi sesama. Dengan kata lain,
karisma dan kebenaran adalah dua sisi dari koin yang sama. Prinsip 3K
ini kiranya juga berguna dalam menilai para pemimpin gereja dari tradisi apapun.
Gambar 2. Spiritualitas Kristen yang sehat dan seimbang.
karisma
7 | P a g e
Jika kita mendamaikan kedua kutub ini, dan seluruh Gereja di seluruh
dunia belajar untuk hidup dalam keseiombangan, penulis yakin maka
dalam waktu singkat akan terjadi penggenapan nubuat nabi Yoel 2: “Akan terjadi pada hari-hari terakhir – demikianlah firman Allah – bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka
anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu
akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua
akan mendapat mimpi. Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan
perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat.“ (dikutip oleh Rasul Petrus di Kis. 2:17-18) [6]
Selain itu, menyitir Amos Yong dkk, diperlukan inovasi Pentekostalisme
yang baru yakni bagaimana mengembalikan peran sentral Roh Kudus ke dalam disiplin-disiplin seperti antropologi, psikologi, sosio-ekonomi,
politik, bahkan juga sains keras seperti biologi dan pengobatan dan
kosmologi. Dalam perspektif penulis, inilah Pentakostalisme 5.0, ketika
pemahaman yang benar akan Roh dan kebenaran kembali menerangi seluruh aspek kehidupan umat manusia, sehingga kebenaran
bergulung-gulung...
“Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu
tidak mau Aku dengar. Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir.”[7]
Penulis juga sedang merintis upaya ke arah ini, dan tema ini akan dikembangkan dalam Jurnal Teologi Amreta edisi 4 mendatang.
Mungkin sampai di sini, ada pembaca yang bertanya: bagaimana kalau
saya tidak memiliki roh atau kebenaran? Dalam hal ini, saya tidak
8 | P a g e Penutup
Sebagai simpulan atas artikel singkat ini, izinkan saya mengutip sebuah artikel tentang Jonathan Edwards:
“Perpaduan roh dan kebenaran dalam penyembahan telah
dirangkumkan dengan baik oleh Jonathan Edwards, seorang pendeta di Amerika pada abad ke-18. Ia berkata: "Tugas saya akan peningkatan emosi dan gairah jemaat sebaik mungkin, hanya dapat saya lakukan apabila mereka tergerak secara murni oleh kebenaran".
Edwards telah menyadari bahwa hanyalah kebenaran yang dapat benar-benar mempengaruhi emosi dalam cara yang mempermuliakan Allah. Kebenaran tentang Allah, yang tak ternilai, hanya layak dihargai dengan gairah yang tak terbatas.”[5]
Ucapan Terimakasih
Puji syukur ke hadirat Bapa di surga atas pencerahan yang diberikan
dalam memahami Yoh. 4:23 tersebut. Thanks Jesus, Thanks Holy Spirit. Terimakasih juga atas diskusi dan wawasan yang berharga dari Bpk.
Pdt. Budisatyo T.
Riwayat dokumen:
Versi 1.0: 7 sept. 2018, pk. 1:44
Versi 1.1: 7 sept. 2018, pk. 10:32
Versi 1.2: 21 sept. 2018, pk. 17:13
VC
9 | P a g e
[1] Eli Lizorkin-Eyzenberg, The Jewish Gospel of John: Discovering Jesus,
King of All Israel. Israel Bible Center, 2015. Khususnya ulasan tentang
Yohanes 4.
[2] Eli Lizorkin-Eyzenberg, Jewish insights into scripture. Israel Bible
Center, 2015
[3] Amos Yong. The Spirit in Creation. Cambridge: Wm. B. Eerdmans Publ. co, 2011
[4] V-M. Karkkainen, K. Kim., Amos Yong. Interdisciplinary and
religio-cultural discourses on a spirit-filled world: Loosing the Spirits. New York:
Palgrave Macmillan, 2013.
[5]
https://www.gotquestions.org/Indonesia/menyembah-dalam-roh-kebenaran.html
[6]
https://www.desiringgod.org/messages/the-authority-and-nature-of-the-gift-of-prophecy?lang=id
[7] http://lubukhati.org/?p=2565
Komentar dari Mitra Bestari:
Permenungannya menyoroti masalah yang sepertinya memang akan
tetap terus ada.
Sekarang ini komunikasi lintas denominasi semakin marak, seperti
Global Dialog Lutheran Pentacostal yang akan diadakan di Santiago
Chile. Sebelumnya sudah ada pertemuan yang serupa di negara lain.
Hasil dari pertemuan ini dapat dikutip untuk menunjukkan bahwa pentakosta ada dalam satu dinamika aktif ke arah yang positif.
Berikut ini adalah sebuah blog yang mungkin dapat digunakan sebagai
petunjuk untuk mendapatkan sumber lain yang lebih otoritatif
10 | P a g e
Solusi yang diberikan sebaiknya ditambah. Wayne Grudem buku teologi
sistematikanya memberikan penjelasan yang menarik antara dogma,
doktrin dan opini. Alangkah lebih baik jika itu disinggung.
Lampiran 1: Neutrosophic Logic perspective and implications
In this section we will review Neutrosophic Logic, a new theory developed in
recent decades by one of these authors (FS).
Vern Poythress argues that sometimes we need a modification of basic
philosophy of mathematics, in order to re-define the redeemed mathematics.7 In this context, allow us to argue in favor of Neutrosophic logic as one basic
postutale, in lieu of the Aristotle logic which creates many problems in real world.
In Neutrosophy, we can connect an idea with its opposite idea and with its
neutral idea and get common parts, i.e. <A> /\ <nonA> = nonempty set. The
common part of the uncommon things! It is true/real... paradox. From
neutrosophy, all started: neutrosophic logic, neutrosophic set, neutrosophic probability, neutrosophic statistics, neutrosophic measure, neutrosophic
physics, neutrosophic algebraic structures etc.
It is true in restricted case, i.e. the Hegelian dialectics considers only the
dynamics of opposites (<A> and <antiA>), but in our everyday life, not only the
opposites interact, but the neutrals <neutA> between them too. For example:
you fight with a man (so you both are the opposites). But neutral people
around both of you (especially the police) interfere to reconcile both of you. Neutrosophy considers the dynamics of opposites and their neutrals.
So, neutrosophy means that: <A>, <antiA> (the opposite of <A>), and <neutA>
(the neutrals between <A> and <antiA>) interact among themselves. A
11 | P a g e
neutrosophic set is characterized by a truth-membership function (T), an
indeterminacy-membership function (I), and a falsity-membership function (F),
where T, I, F are subsets of the unit interval [0, 1].
As particular cases we have: single-valued neutrosophic set {when T, I, F are
crisp numbers in [0, 1]}, and interval-valued neutrosophic set {when T, I, F are
intervals included in [0, 1]}.
Neutrosophic Set is a powerful structure in expressing indeterminate, vague,
incomplete and inconsistent information.
Summary
To summarize, Neutrosophic Logic study the dynamics of neutralities. This
surely helps us to keep a more balanced perspective between developing our