• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rancangan Aktualisasi Tri Wita Sari

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Rancangan Aktualisasi Tri Wita Sari"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Aparatur Sipil Negara (ASN) mempunyai peran penting dalam menunjang keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan. Aparatur Sipil Negara dituntut untuk menjalankan 3 fungsi sekaligus, yaitu sebagai pelayan publik, pelaksana kebijakan serta perekat dan pemersatu bangsa. Seiring dengan berjalan waktu, kinerja ASN dinilai belum mampu memenuhi ekspektasi masyarakat. Kondisi demikian, apabila dibiarkan dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap ASN. Fenomena ini mendorong perlu adanya upaya perbaikan untuk meningkatkan kompetensi ASN dalam menjalankan tugasnya. Upaya untuk mewujudkan tujuan tersebut harus dimulai sedini mungkin. Hal ini penting sebagai langkah antisipasi agar ASN memiliki perisai dalam menangkal pengaruh lingkungan kerja yang buruk dan telah membudaya.

Langkah awal untuk membekali ASN sebelum terjun penuh menjalankan tugas dalam jabatannya adalah melalui pembelajaran pada Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Dasar. UU ASN No 5 Tahun 2014 serta Peraturan Pemerintah No 11 Tahun 2017 tentang “Manajemen Pegawai Negeri Sipil” dijelaskan bahwa Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah profesi bagi Pegawai Negeri Sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang bekerja pada instansi pemerintahan. Pegawai Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disebut Pegawai ASN adalah pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian dan diserahi tugas dalam suatu jabatan pemerintahan atau diserahi tugas Negara lainnya dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan.

(2)

membentuk nilai-nilai dasar profesi PNS. Kompetensi inilah yang kemudian berperan dalam membentuk karakter PNS yang kuat, yaitu PNS yang mampu bersikap dan bertindak professional dalam melayani masyarakat. Untuk membentuk PNS profesional, dibutuhkan pembaharuan atas pola penyelenggaraan diklat yang ada saat ini dan yang didukung oleh semua pihak.

Pada diklat Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Gol.II di Lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia ini diharapkan para Calon Pegawai Negeri Sipil dapat menerapkan atau mengaktualisasikan nilai-nilai dasar ANEKA yaitu :

1. Akuntabilitas : mencakup kepentingan, transparansi, integritas, tanggung jawab, keadilan, kepercayaan, keseimbangan, kejelasan dan konsistensi 2. Nasionalisme : sesuai dengan butir – butir pancasila dan undang – undang

dasar 1945, ASN sebagai pelaksana kebijakan public, pelayan public serta sebagai perekat dan pemersatu bangsa, mencakup tenggang rasa, mencakup tenggang rasa membangun rasa persaudaraan, solidaritas, menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

3. Etika publik : sopan santun, tata krama, melayani dengan sepenuh hati, senyum dan menjaga kerahasiaan data

4. Komitmen mutu : mencakup efektifitas, efisiensi, inovatif dan kreatif 5. Anti korupsi : mencakup jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab,

kerja keras, sederhana, berani dan adil.

Melalui pembaharuan Pelatihan tersebut, diharapkan dapat menghasilkan PNS profesional yang berkarakter dalam melaksanakan tugas dan jabatannya sebagai pelaksana kebijakan publik, pelayan publik, dan perekat dan pemersatu bangsa, bebas dari intervensi politik dan bersih dari praktek korupsi, kolusi dan nepotisme.

(3)

pelaksanaan kegiatan yang telah dirancang untuk proses Habituasi di unit pelaksana teknis masing - masing. Maka dari itu rancangan aktualisasi ini perlu di buat.

1.2 VISI, MISI DAN TUPOKSI

1.2.1 Profil Lapas Perempuan Klas II A Medan

Gambar 1.1 Lapas Perempuan Klas IIA Medan

Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Klas IIA Medan merupakan tempat untuk menampung tahanan perempuan untuk dididik dan dibina berdasarkan nilai – nilai yang terkandung di dalam Pancasila, Kebijakan Pemasyarakatan dan berbagai kebijakan Dirjen Pemasyarakatan Kementrian Hukum dan HAM serta Undang – Undang No 12 tahun 1995. Dengan berpegang teguh pada hukum, nilai dan norma dalam masyarakat maka Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Klas IIa Medan berpindah dari Lembaga Pemasyarakatn Klas I Medan ke gedung yang baru pada tahun 1985. Hal ini juga dilakukan agar pembinanaan terhadap Warga Binaan Pemasyarakatan perempuan yang lebih khusus dan terarah.

(4)

M.03-HAM, yang beralamat di Jalan Lembaga pemasyarakatan tanjung Gusta, Kodya Medan, mempunyai batasan wilayah sebagai berikut :

Sebelah Timur : Berbatasan dengan tanah kosong Sebelah Barat : Berbatasan dengan rumah dinas

Sebelah Selatan :Berbatasan dengan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Klas I Medan

Sebelah Utara : Berbatasan dengan rumah penduduk

Sejak 2 Juli 1986 semua narapidana dan tahanan perempuan yang ada di Lembaga pemasyarakatan Klas I Medan dipindahkan ke gedung baru, dengan luas keseluruhan bangunan + 6.435 m2, luas bangunan + 5.250 m2, luas lantai I kurang lebih 500 m2 dan luas lantai II kurang lebih 250 m2. Bangunan utama untuk perkantoran yang terdiri atas ruangan depan yang bertingkat dimana bagian atas digunakan sebagai ruangan Kepala Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Klas IIA Medan, Subbagian Tata Usaha, Urusan Umum, Urusan Kepegawaian dan Keuangan. Sedangkan bagian bawah dimanfaatkan sebagai ruang penggeledahan, ruang Pos Pengamanan Pintu Utama (P2U) dan ruang Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan dan Toilet.

Bangunan Kedua digunakan untuk ruang bertamu/ kunjungan, ruangan Kepala Pengamanan Regu (Karupam), ruangan Kasi. Keamanan dan Ketertiban (Kamtib) dan ruang pembinaan (Binadik). Bangunan ketiga yang merupakan bagian utama mengelilingi lahan terdiri dari ruang serbaguna, gereja, vihara, mushola, dapur, ruangan untuk Bimbingan Kerja ( Menjahit dan salon), galeri pemasyarakatan, kantin, poliklinik dan ruang rawat pasien WBP serta kamar- kamar hunian narapidana.

Ruang tempat tinggal warga binaan pemasyarakatan terdiri dari 5 blok yang masing – masing terdiri dari kamar :

(5)

Pada tanggal 24 Agustus 2017, Kanwil Sumut Kemenkumham menambah Unit Pelayanan Terpadu (UPT) dengan meresmikan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Perempuan Klas IIa Medan sehingga warga binaan yang masih berstatus tahanan di pindahkan ke Rutan Perempuan Klas IIa Medan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi over kapasitas dan meningkatkan perawatan dan pelayanan tahanan.

Jumlah narapidana yang dibina di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Klas IIa Medan per 15 Agustus 2018 yaitu 448 orang ditambah 2 orang bayi yang tinggal karena mengikut orangtua nya yang merupakan narapidana, sedangkan daya tampung sebanyak 150 orang.

1.2.2 Visi Organisasi

1.2.2.1 Visi Kementerian Hukum dan HAM Masyarakat Memperoleh Kepastian Hukum

1.2.2.2 Visi Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Klas IIA Medan

Visi dari Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Klas IIA medan adalah Tercapainya Pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Yang Berkeadilan Hukum

1.2.3 Misi Organisasi

1.2.3.1 Misi Kementerian Hukum dan HAM

1. Mewujudkan Peraturan Perundang-Undangan yang Berkualitas 2. Mewujudkan Pelayanan Hukum yang Berkualitas

3. Mewujudkan Penegakan Hukum yang Berkualitas

4. Mewujudkan Penghormatan, Pemenuhan, dan Perlindungan HAM

5. Mewujudkan Layanan Manajemen Administrasi Kementerian Hukum dan HAM

(6)

1.2.3.2 Misi Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Klas IIA Medan

Misi dari Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Klas IIA Medan adalah : a. Mewujudkan Lapas Perempuan Klas IIA Medan Yang Bernilai Kami

PASTI

b. Meningkatkan Kerjasama Dengan Pihak Ketiga Dalam Rangka Pembinaan Kepribadian Dan Kemandirian

c. Optimalisasi Program Pembinaan Luar Lapas

d. Mewujudkan Pelayanan Prima Terhadap WBP Dan Keluarga WBP

1.2.4 Tugas Pokok dan Fungsi

1. Melaksanakan Apel dan Mengawasi Warga Binaan di Setiap Blok/Kamar Hunian

2. Menjaga dan Mengawasi Keamanan, Ketertiban dan Kebersihan Blok, Lingkungan dan Kamar Hunian.

3. Mengawasi Pembagian Makan dan Minum Warga Binaan. 4. Menjaga Agar Tidak ada Orang Yang Mendekati Tembok

Keliling/Brangang

5. Bertugas di Pos Jaga Sesuai Perintah Kepala Regu Pengamanan. 6. Melaporkan situasi keamanan pada atasan.

7. Memeriksa setiap petugas atau tamu yang keluar atau masuk lapas. 8. Membantu melaksanakan apel timbang terima petugas pengamanan. 9. Wajib Membunyikan Lonceng Pos Atau Blok Sebagai Jawaban Lonceng

Komando dari Post Utama

(7)
(8)

KA. LAPAS

SURTA DUMA SIHOMBING, Bc.IP, S.H, M.Si KA. LAPAS

SURTA DUMA SIHOMBING, Bc.IP, S.H, M.Si

KASI. BINADIK

MARLIA REZEKI SANTOSO,A.Md.IP, S.H

KASI. BINADIK

MARLIA REZEKI SANTOSO,A.Md.IP, S.H

KASUBSI. REGISTRASI ROMAULINA PASARIBU, S.H,

M.Hum KASUBSI. REGISTRASI ROMAULINA PASARIBU, S.H,

M.Hum PERISTIWA Br SEMBIRING, S.H,

M.H

KASI. KEGIATAN KERJA PERISTIWA Br SEMBIRING, S.H,

M.H

KASUBSI. BIMKER & LOHAKER TETTI DERWATI

SIREGAR,S.H KASUBSI. BIMKER &

LOHAKER ROSELINA Br PURBA, S.H,

M.SI KASI. ADM KAMTIB ROSELINA Br PURBA, S.H,

M.SI

EMA PANSI TARIGAN, A.Md.IP, S.H

KA.KPLP EMA PANSI TARIGAN,

A.Md.IP, S.H

KAUR. KEPEGAWAIAN & KEUANGAN ROSMADIA, S.H, M.Si KAUR. KEPEGAWAIAN &

(9)

1.3 Permasalahan Organisasi

(10)

BAB II

IDENTIFIKASI DAN ANALISIS MASALAH 2.1 Identifikasi Isu

Sebagai petugas Penjaga Tahanan di Lapas Perempuan Klas II A Medan,Saya menjalankan tugas dan fungsi sebagaimana yang tertulis di Sasaran Kerja Pegawai (SKP) dan menjalankan apa yang diperintah oleh atasan, dari pengalaman saat saya bertugas saya menemukan beberapa masalah yang terjadi di Lapas Perempuan Klas IIA Medan.

Dalam laporan ini, ada beberapa isu yang diangkat dalam rancangan aktualisasi untuk habituasi di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Klas II A Medan, yaitu sebagai berikut:

1. Kurang optimal Tata Tertib di lingkungan Blok Warga Binaan

Peraturan yang telah dibuat tentang Pemasyarakatan yaitu UU No. 12 Tahun 1995 telah diterapkan di seluruh Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia. Walaupun begitu, didalam blok merupakan manusia yang harus dimanusiakan dan belum tentu semua mau mengikuti aturan yang telah ditetapkan. Maka dari pada itu perlu upaya peningkatan pengawasan dalam menjalankan tata tertib di dalam blok hunian warga binaan

2. Kurangnya kebersihan di lingkungan Blok Warga Binaan

Kebersihan merupakan sebagian dari iman merupakan slogan yang sering diucapkan dan disosialisasikan di semua tempat. Begitu juga dengan di Lapas terkhusus di dalam blok hunian. Lingkungan blok hunian yang bersih dan rapi dapat membuat warga binaan menjadi lebih nyaman dan mengurangi stres dalam menjalani hukuman mereka.

3. Keadaan Pos Atas yang kurang bersih

(11)

2.2 Analisis Isu dan Dampaknya

Dalam hal penyusunan gagasan pemecahan isu perlu adanya penetapan isu yang akan diangkat dan dianggap paling penting untuk diselesaikan. Alat bantu penetapan kriteria isu yang digunakan untuk menganalisis isu yaitu dengan metode APKL aktual, problematik, kekhalayakan dan kelayakan.

1. Aktual, maksudnya isu itu benar-benar terjadi dan sedang hangat dibicarakan 2. Problematik, maksudnya isu itu memiliki dimensi masalah yang kompleks,

sehingga perlu dicarikan segera solusinya

3. Kekhalayakan, maksudnya isu itu yang menyangkut hidup orang banyak 4. Kelayakan, maksudnya isu itu masuk diakal dan realistis serta relevan untuk

dimunculkan inisiatif pemecahan masalahnya

Berikut adalah tabel APKL:

No Isu A P K L

1 Kurang Optimal Tata Tertib di lingkungan Blok Warga Binaan

2 Kurangnya kebersihan di lingkungan Blok Warga Binaan

3 Keadaan pos atas yang kurang bersih

Tabel 2.1 APKL

2.3 Penetapan Isu

(12)

1. Urgency = seberapa mendesak isu tersebu harus dibahas dikaitkan dengan waktu. Semakin mendesak suatu masalah untuk diselesaikan maka semakin tinggi urgensi masalah tersebut.

2. Seriousness = seberapa serius isu tersebut perlu dibahas dikaitkan dengan akibat/dampak jika isu tersebut tidak segera diselesaikan. Semakin besar dampak isu tersebut maka tingkat keseriusan akan semakin tinggi.

3. Growth = seberapa besar isu tersebut berkembang dikaitkan dengan kemungkinan isu akan semakin memburuk jika dibiarkan. Suatu masalah yang dapat menimbulkan masalah lain adalah lebih serius dibandingkan dengan masalah yang berdiri sendiri.

Dengan menggunakan skala nilai pada tabel diatas maka penetapan isu yang aktual menjadi prioritas.

U= Urgency(Kegawatan)

S=Seriousness(Mendesaknya) G=Growth(Pertumbuhan)

Analisa terhadap isu yang sudah ada berdasarkan analisa kriteria isu dapat dilihat pada table berikut ini:

Tabel 2.2 Tabel USG

No ISU Kriteria Total Prioritas

U S G

1 Kurang Optimal Tata Tertib di

lingkungan Blok Warga Binaan 5 5 4 14 I

2 Kurangnya kebersihan di

(13)

No ISU Kriteria Total Prioritas

U S G

3 Keadaan pos atas yang kurang

bersih 2 3 3 8 III

Nilai dari ketiga variabel tersebut akan dijumlahkan , isu yang mempunyai jumlah nilai terbesar merupakan prioritas utama yang hasus diselesaikan. Berikut tabel skala nilai matriks USG .

Tabel 2.3 Tabel Skala Nilai

Nilai Keterangan

5 Sangat Urgent/Serius/Mendesak 4 Urgent/Serius/Mendesak

3 Sedang Urgent/Serius/Mendesak 2 Rendah Urgent/Serius/Mendesak

1 Sangat Rendah Urgent/Serius/Mendesak Sumber :Likert Scale:www.sumbarprov.go.id.

Tabel 2.4 Dampak dari Isu

No Permasalahan Dampak

1 Kurang Optimal Tata Tertib di lingkungan Blok Warga Binaan

Tata Tertib yang kurang di dalam Blok Hunian berdampak tidak berjalan aturan dan akan cukup membuat kegaduhan di dalam blok

2

Kurangnya kebersihan di lingkungan Blok Warga Binaan

(14)

Berdasarkan penetapan isu tersebut, maka didapatkan beberapa gagasan kegiatan untuk memecahkan isu-isu yang telah diangkat. Kegiatannya adalah sebagai berikut:

Tabel 2.5 Tabel Gagasan Kegiatan NO. ISU GAGASAN KEGIATAN

1. Kurang Optimal Tata Tertib di lingkungan Blok Warga Binaan

1. Memberikan pengarahan kepada warga binaan tentang peraturan tata tertib di dalam Lingkungan Blok Hunian

2. Membuat informasi tentang peraturan tata tertib di setiap kamar berupa pengumuman kertas di setiap kamar blok hunian

3. Melakukan pengawasan kepada warga binaan di setiap lingkungan blok hunian

4. Membuat dan melaporkan warga binaan berupa laporan terhadap pelanggaran peraturan tata tertib di dalam lingkungan blok hunian

2 .

Kurangnya kebersihan di lingkungan Blok Warga Binaan

1. Membantu KPLP melakukan pengarahan kepada para hunian warga binaan tentang kebersihan di lingkungan blok warga binaan

2. Melakukan pengusulan kepada KPLP untuk penambahan peralatan kebersihan seperti pembagian Tong Sampah Organik dan Non Organik di lingkungan blok hunian

3. Membantu KPLP untuk membuat jadwal kebersihan di lingkungan blok hunian warga binaan

4. Membuat dan melaporkan terhadap warga binaan yang masih membuang sampah dan/atau membiarkan lingkungan blok kurang bersih.

(15)

RANCANGAN AKTUALISASI

3.1 Nilai Dasar ASN

Dalam membuat rancangan aktualisasi ini, saya menerapkan nilai dasar ASN yang terdiri dari ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, Anti Korupsi). Berikut ini uraian tentang nilai dasar ASN yaitu :

3.1.1 Akuntabilitas

Akuntabilitas adalah kewajiban setiap individu, kelompok atau institusi untuk memenuhi tanggung jawab yang menjadi amanahnya. Amanah seorang PNS adalah menjamin terwujudnya nilai – nilai publik.Nilai – nilai publik tersebut antara lain:

1. Mampu mengambil pilihan yang tepat dan benar ketika terjadi konflik kepentingan sektor, kelompok dan pribadi

2. Memiliki pemahaman dan kesadaran untuk menghindari dan mencegah keterlibatan PNS dalam politik praktis

3. Memperlakukan warga negara secara sama dan adil dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik

4. Menunjukkan sikap dan perilaku yang konsisten dan dapat diandalkan sebagai penyelenggara pemerintahan

Akuntabilitas dapat diartikan sebagai kewajiban atau pertanggung jawaban yangharus dicapai dan harus ada bentuk laporannya, yang di dalamnya terkandung nilai: Tanggung jawab, Kepercayaan, Profesional, Integritas, Kepemimpinan, Transparansi, Keadilan, Keseimbangan, Kejelasan, Konsisten, Mendahulukan Kepentingan publik Kepercayaan 3.1.2 Nasionalisme

(16)

memikirkan kepentingan pribadi dan golongan atau sering juga diartikan sebagai paham kebangsaan, sebagai pelayan publik serta perekat dan pemersatu bangsa yang didalamnya terkandung nilai :Gotong royong, persamaan etnis, cinta tanah air, patriotisme, musyawarah/mufakat, keadilan, rela berkorban, tidak diskriminatif, kerjasama, tenggang rasa, kerja keras

Prinsip nasionalisme bangsa Indonesia dilandasi nilai – nilai Pancasila yang diarahkan agar bangsa Indonesia senantiasa:

1. Mendapatkan persatuan dan kesatuan, kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan kelompok

2. Menunjukkan sikap rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara 3. Bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia serta tidak

merasa rendah diri

4. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban antara sesama manusia dan sesama bangsa

5. Menumbuhkan sikap saling mencintai sesama manusia 6. Mengembangkan sikap tenggang rasa

3.1.3 Etika Publik

Etika Publik merupakan refleksi atas standar/norma yang menentukan baik buruk, benar salah, tindakan, keputusan, perilaku untuk mengarahkan kebijakan publik dalam rangka menjalankan tanggung jawab pelayanan publik, taat peraturan, menjalankan semua kode etik sebagai ASN.Ada tiga fokus utama dalam pelayanan publik, yakni:

1. Pelayanan yang berkualitas dan relevan

2. Sisi dimensi reflektif, etika publik berfungsi sebagai bantuan dalam menimbang pilihan sarana kebijakan publik dan alat evaluasi

3. Modalitas etika, menjembatani antara norma moral dan tindakan faktual.

Adapun nilai dasar etika publik adalah :

(17)

b. Setia dan mempertahankan UUD 1945

c. Menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak d. Membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian

e. Menciptakan lingkungan kerja yang non diskriminatif f. Memelihara dan menjunjung tinggi standard etika luhur

g. Mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada publik h. Memiliki kemampuan dalam melaksanakan program pemerintah i. Memberikan layanan publik secara jujur, tanggap, cepat, tepat,

cermat, akurat, berdayaguna, berhasil guna dan santun. j. Mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi k. Menghargai komunikasi, konsultasi dan kerjasama

l. Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai m. Mendorong kesetaraan dalam pekerjaan

n. Meningkatkan efektifitas sistem pemerintahan yang demokratis sebagai perangkat sistem karir.

3.1.4 Komitmen Mutu

Komitmen mutu merupakan pelaksanaan pelayanan publik dengan berorientasi pada kualitas hasil. Komitmen mutu mengedepankan komitmen terhadap kepuasan dan memberikan layanan yang menyentuh hati untuk menjaga dan memelihara serta melakukan inovasi secara efektif dan efisien.Nilai – nilai yang terkandung dalam komitmen mutu adalah: efektif, efisien, kreatif, inovatif dan mutu.

a. Komitmen bagi kepuasan masyarakat (berorientasi mutu) b. Pemberian layanan yang cepat, tepat dan senyum

c. Pemberian layanan menyentuh hati

(18)

g. Efektifitas dan efisiensi

3.1.5 Anti Korupsi

Anti korupsi adalah sikap dan tindakan yang dilakukan untuk memberantas segala tingkah laku atau tindakan yang melawan norma – norma dengan tujuan memperoleh keuntungan pribadi, merugikan negara dan masyarakat. Terdapat 7 kelompok tindak pidana korupsi yaitu: kerugian keuangan negara, suap menyuap, pemerasan, perbuatan curang, penggelapan dalam jabatan, benturan kepentingan dalam pengadaan dan gratifikasi.Selanjutnya, korupsi dibagi menjadi tujuh jenis, yaitu:

a. Korupsi Transaktif. Merupakan korupsi yang menunjukkan adanya kesepakatan timbal balik antara pemberi dan penerima, demi keuntungan bersama. Kedua pihak sama – sama aktif menjalankan perbuatan tersebut

b. Korupsi Ekstroaktif. Merupakan korupsi yang menyertakan bentuk – bentuk koeral (tekanan) tertentu dimana pihak pemberi dipaksa untuk menyuap guna mencegah kerugian yang mengancam diri, kepentingan, orang-orangnya, atau hal yang dihargai

c. Korupsi Investif. Merupakan korupsi yang melibatkan suatu penawaran barang atau jasa tanpa adanya pertalian langsung dengan keuntungan bagi pemberi. Keuntungan diharapkan akan diperoleh di masa yang akan datang

d. Korupsi Nepotistik. Merupakan korupsi berupa pemberian perlakuan khusus kepada teman atau yang mempunyai kedekatan hubungan dalam rangka menduduki jabatan

(19)

f. Korupsi Suportif. Merupakan korupsi yang mengacu kepada penciptaan suasana yang kondusif untuk melindungi atau mempertahankan keberadaan tindak pidana korupsi yang lain g. Korupsi Defensif. Merupakan korupsi yang terpaksa dilakukan

dalam rangka mempertahankan diri dari pemerasan.

Kemudian, adapun nilai – nilai dasar anti korupsi adalah: Jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani, adil.

3.2 Kedudukan dan Peran PNS dalam NKRI 3.2.1 Manajemen ASN

a. Kedudukan ASN

Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan Pegawai ASN yang profesional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Manajemen ASN lebih menekankan kepada pengaturan profesi pegawai sehingga diharapkan agar selalu tersedia sumber daya aparatur sipil negara yang unggul selaras dengan perkembangan jaman. Berdasarkan jenisnya, Pegawai ASN terdiri dari atas:

1) Pegawai Negeri Sipil (PNS); dan

2) Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). b. Peran ASN

(20)

ASN berfungsi, bertugas dan berperan untuk memberikan pelayanan publik yang profesional dan berkualitas dengan tujuan kepuasan pelanggan.

ASN berfungsi, bertugas dan berperan untuk mempererat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. ASN senantiasa dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, UUD 1945, Negara dan Pemerintah. ASN senantiasai menjunjung tinggi martabat ASN serta senantiasa mengutamakan kepentingan Negara daripada kepentingan diri sendiri. c. Hak dan Kewajiban ASN

Hak adalah suatu kewenangan atau kekuasaan yang diberikan oleh hukum, suatu kepentingan yang dilindungi oleh hukum, baik pribadi maupun umum. Dapat diartikan bahwa hak adalah sesuatu yang patut atau layak diterima. Agar dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik dapat meningkatkan produktivitas, menjamin kesejahteraan ASN dan akuntabel, maka setiap ASN diberikan hak. Berdasarkan pasal 70 UU ASN disebutkan bahwa Setiap Pegawai ASN memiliki hak dan kesempatan untuk mengembangkan kompetensi. Berdasarkan Pasal 92 UU ASN Pemerintah juga wajib memberikan perlindungan berupa:

1) Jaminan kesehatan; 2) Jaminan kecelakaan kerja; 3) Jaminan kematian; dan 4) Bantuan hukum.

Sedangkan kewajiban adalah suatu beban atau tanggungan yang bersifat kontraktual. Dengan kata lain, kewajiban adalah sesuatu yang sepatutnya diberikan. Kewajiban pegawai ASN yang disebutkan dalam UU ASN adalah:

1) Setia dan taat pada Pancasila, Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan pemerintah yang sah;

(21)

3) Melaksanakan kebijakan yang dirumuskan pejabat pemerintah yang berwenang;

4) Menaati ketentuan peraturan perundang-undangan;

5) Melaksanakan tugas kedinasan dengan penuh pengabdian, kejujuran, kesadaran, dan tanggung jawab;

6) Menunjukkan integritas dan keteladanan dalam sikap, perilaku, ucapan dan tindakan kepada setiap orang, baik di dalam maupun di luar kedinasan;

7) Menyimpan rahasia jabatan dan hanya dapat mengemukakan rahasia jabatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan

8) Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

d. Kode Etik dan Kode Perilaku ASN

Kode etik dan kode perilaku yang di atur dalam UU No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara menjadi acuan bagi para ASN dalam penyelenggaraan birokrasi pemerintah. Fungsi kode etik dan kode perilaku ini sangat penting dalam birokrasi dalam menyelenggarakan pemerintah. Fungsi tersebut, antara lain:

1) Sebagai pedoman, panduan birokrasi publik/ aparatur sipil negara dalam menjalankan tugas dan kewenangan agar tindakannya dinilai baik.

(22)

keseluruhan sektor dalam ruang lingkup koordinasi yang lebih luas guna mencapai tujuan-tujuan pembangunan kebijakan, manajemen program dan pelayanan publik. WoG juga dikenal sebagai pendekatan interagency, yaitu pendekatan yang melibatkan sejumlah kelembagaan yang terkait dengan urusan-urusan yang relevan.

Pada dasarnya pendekatan WoG mencoba menjawab pertanyaan klasik mengenai koordinasi yang sulit terjadi di antara sektor atau kelembagaan sebagai akibat dari adanya fragmentasi sektor maupun eskalasi regulasi di tingkat sektor, sehingga WoG sering kali dipandang sebagai perspektif baru dalam menerapkan dan memahami koordinasi antar sektor.Pendekatan WoG dapat beroperasi dalam tataran kelembagaan nasional maupun daerah. Penataan kelembagaan menjadi sebuah keharusan ketika pendekatan ini diperkenalkan. Faktor-faktor yang mempengaruhi Whole of Government (WoG) adalah:

1) Faktor Eksternal

Seperti dorongan publik dalam mewujudkan integrasi kebijakan, program pembangunan dan pelayanan agar tercipta penyelenggaraan pemerintahan yang lebih baik Selain itu, perkembangan teknologi informasi, situasi dan dinamika kebijakan yang lebih kompleks juga mendorong pentingnya WoG dalam menyatukan institusi pemerintah sebagai penyelenggara kebijakan dan layanan publik.

2) Faktor Internal

Adanya fenomena ketimpangan kapastitas sektoral sebagai akibat dari adanya nuansa kompetensi antar sektor dalam pembangunan. Satu sektor bisa menjadi sangat superior terhadap sektor lain, atau masing-masing sektor tumbuh namun tidak berjalan beriringan, melainkan justru kontraproduktif atau ‘saling membunuh’. Masing-masing sektor menganggap bahwa sektornya lebih penting dari yang lainnya.

3) Keberagaman

(23)

bangsa. Pemerintah sebagai institusi formal berkewajiban untuk mendorong tumbuhnya nilai-nilai perekat kebangsaan yang akan menjamin bersatunya elemen-elemen kebangsaan ini dalam satu frame NKRI

Dalam hal ini WoG menjadi penting, karena diperlukan sebuah upaya untuk memahami pentingnya kebersamaan dari seluruh sektor guna mencapai tujuan bersama. Sikap, perilaku, dan nilai yang berorientasi sektor harus dicairkan dan dibangun dalam fondasi kebangsaan yang lebih mendasar, yang mendorong adanya semangat persatuan dan kesatuan.

3.2.3 Pelayanan Publik

Pelayanan publik adalah “Sebagai segala bentuk kegiatan pelayanan umum yang dilaksanakan oleh Instansi Pemerintahan di Pusat dan Daerah, dan lingkungan BUMN/BUMD dalam bentuk barang dan jasa, baik dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat. (Lembaga Administrasi Negara: 1998).Prinsip pelayanan publik yang baik untuk mewujudkan pelayanan prima adalah:

1) Partisipatif 2) Transparan 3) Responsif

4) Tidak Diskriminatif 5) Mudah dan Murah 6) Efektif dan efisien 7) Aksesibel

(24)

3) Menetapkan standar pelayanan dan ukuran kinerja pelayanan, sebagai dasar pemberian pelayanan.

4) Pemberian pelatihan dan pengembangan pegawai terkait bagaimana memberikan pelayanan yang baik, serta pemahaman tugas dan fungsi organisasi.

5) Memberikan apresiasi kepada pegawai yang telah melaksanakan tugas pelayanannya dengan baik.

Sikap pelayanan dapat digambarkan melalui 7 P sebagai berikut: 1) Pasionate (Sangat bergairah = Bersemangat, Antusias) 2) Progressive (Memakai cara yang terbaik = termaju) 3) Proaktive (Antisipatif, proaktif dan tidak menunggu) 4) Prompt (Positif = tanpa curiga dan kekhawatiran) 5) Patience (Penuh rasa kesabaran)

(25)

3.3 Rancangan Aktualisasi Pemecahan Isu

3.3.1 Rancangan Aktualisasi Pemecahan Isu Pertama

Unit Kerja : Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Klas II A Medan

Isu yang diangkat : Kurang Optimal Tata Tertib di lingkungan Blok Warga Binaan

Gagasasan Pemecahan Isu : 1. Memberikan pengarahan kepada warga binaan tentang peraturan tata tertib di dalam lingkungan blok hunian

2. Membuat informasi tentang peraturan tata tertib di setiap blok kamar hunian berupa kertas pengumuman 3. Melakukan pengawasan kepada warga binaan di setiap lingkungan blok hunian

4. Membuat dan melaporkan warga binaan berupa laporan terhadap pelanggaran peraturan tata tertib di dalam lingkungan blok hunian

Tabel. 3.1 Rancangan Aktualisasi Pemecahan Isu Pertama

No Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil

Keterkaitan Subtansi tentang peraturan tata tertib di dalam lingkungan blok hunian

1. Meminta izin kepada Ka.KPLP untuk memberikan arahan 2. Menyiapkan materi

untuk pengarahan 3. Mengumpulkan wakil

warga binaan tiap-tiap kamar blok

Warga Binaan mengetahui tata tertib di dalam Lapas

Saya akan meminta izin kepada atasan dengan sopan dan ramah untuk memberikan arahan tentang tata tertib di dalam lapas kepada

WBP, dalam

menyiapkan materi saya

Kegiatan ini terkait dengan misi

(26)

blok hunian secara jelas, akurat dan menggunakan bahasa yang mudah dicerna oleh WBP.

5.Membuat

dokumentasi kegiatan

mengumpulkan tiap-tiap wakil wbp kamar blok hunian dan memberikan arahan serta membuat dokumentasi sebagai tanda bukti saya telah melakukan pengarahan dan bukti dari

2 Membuat informasi tentang peraturan tata tertib di setiap blok kamar hunian berupa kertas pengumuman

1. Meminta izin kepada Ka.KPLP untuk membuat informasi tentang peraturan tata tertib di setiap blok kamar hunian mengetahui tata tertib secara efektif dan efisien serta membuat dokumentasi untuk

pertanggungjawaban saya terhadap kegiatan yang saya lakukan.

Kegiatan ini terkait dengan misi

(27)

kegiatan

5. Membuat evaluasi dan laporan kegiatan

mata pelatihan : - Pelayanan Publik - Manajemen ASN 3 Melakukan

pengawasan kepada warga binaan di setiap lingkungan blok hunian

1. Meminta izin kepada Ka.KPLP untuk melakukan pengawasan kepada warga binaan

2. Mengawasi warga binaan mengenai peraturan tata tertib dilingkungan blok hunian

3. Mengingatkan warga binaan yang melanggar peraturan tata tertib di lingkungan blok hunian

4. Membuat dokumentasi kegiatan

5. Membuat evaluasi laporan kegiatan

Warga binaan patuh terhadap peraturan tata tertib di lingkungan blok hunian

Dalam melakukan kegiatan ini saya akan meminta izin kepada atasan sebagai wujud saya untuk selalu berkomunikasi dengan atasan kemudian saya mengawasi warga binaan untuk patuh terhadap tata tertib di dalam lapas, saya juga memberi peringatan kepada para wbp yang melanggar tanpa membeda-bedakan warga binaan dan

membuat dokumentasi sebagai wujud

pertanggungjawaban terhadap tupoksi jabatan saya.

(28)

melaporkan warga binaan berupa laporan terhadap pelanggaran

peraturan tata tertib di dalam lingkungan blok hunian

kepada Ka.KPLP untuk melaporkan warga binaan yang melanggar peraturan 2. Membuat buku

laporan dengan format pelanggar tata tertib.

3. Setelah melakukan pengawasan dan jika saya menemukan pelanggaran maka saya akan mencatat nama wbp tersebut. 4. Membuat

dokumentasi kegiatan

5. Membuat evaluasi laporan kegiatan

pelanggaran tata tertib warga hunian di lingkungan blok hunian

kegiatan ini saya akan meminta izin kepada atasan sebagai wujud saya untuk selalu berkomunikasi dengan atasan kemudian saya membuat buku laporan secara efektif dan efisien, saya juga mencatat wbp yang melanggar tanpa membeda-bedakan dan adil warga binaan dan membuat dokumentasi sebagai wujud

pertanggungjawaban terhadap tupoksi jabatan saya.

3.3.1 Rancangan Aktualisasi Pemecahan Isu Kedua

Unit Kerja : Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Klas IIA Medan

(29)

blok warga binaan

2. Melakukan pengusulan kepada KPLP untuk penambahan peralatan kebersihan seperti pembagian Tong Sampah Organik dan Non Organik di lingkungan blok hunian

3. Membantu KPLP untuk membuat jadwal kebersihan di lingkungan blok hunian warga binaan

4. Membuat dan melaporkan terhadap warga binaan yang masih membuang sampah dan/atau membiarkan lingkungan blok kurang bersih

Tabel. 3.1 Rancangan Aktualisasi Pemecahan Isu Kedua

No Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Keterkaitan SubtansiMata Pelajaran

Kontribusi

1. Meminta izin kepada Ka.KPLP

WBP paham tentang pentingnya menjaga kebersihan di akan membuat nya secara transparan dan mudah dicerna oleh WBP,

kemudian saya

mengumpulkan tiap-tiap

(30)

melakukan pengarahan 2. Melakukan pengusulan

kepada KPLP untuk penambahan peralatan kebersihan seperti kepada Ka.KPLP untuk

penambahan peralatan

2. Menyiapkan cat untuk membuat tong sampah organik dan non organik

3. Menginstruksikan Tamping untuk membuat tong sopan untuk menambah tong sampah, kemudian saya akan menyiapkan perlengkapan lainnya berupa cat, lalu saya menginstruksikan

(31)

- Manajemen ASN kepada Ka.KPLP untuk jadwal kebersihan di lingkungan blok hunian

2. Membuat konsep jadwal

kebersihan di lapas

3. Menempelkan jadwal

kebersihan di samping blok kamar hunian 4. Membuat

dokumentasi 5. Membuat

evaluasi laporan kegiatan wujud saya sebagai ASN

yang selalu

(32)

4. Membuat dan melaporkan terhadap warga binaan yang masih membuang sampah dan/atau membiarkan lingkungan blok kurang bersih

1. Meminta izin kepada Ka.KPLP untuk

melaporkan warga binaan yang melanggar peraturan

2. Membuat buku laporan dengan format pelanggar kebersihan. 3. Setelah

melakukan

pengawasan dan

jika saya

menemukan pelanggaran maka saya akan mencatat nama wbp tersebut. 4. Membuat

dokumentasi kegiatan 5. Membuat

evaluasi laporan kegiatan

Laporan pelanggaran warga hunian mengenai kebersihan di lingkungan blok hunian

Dalam melakukan kegiatan ini saya akan meminta izin kepada atasan sebagai wujud saya untuk selalu berkomunikasi dengan atasan kemudian saya membuat buku laporan secara efektif dan efisien, saya juga mencatat wbp yang melanggar tanpa

membeda-bedakan warga binaan dan membuat dokumentasi sebagai wujud

(33)

DAFTAR PUSTAKA

Lembaga Administrasi Negara.2015.modul pelatihan prajabatan gelombang I dan II

Lembaga Administrasi Negara, Jakarta.

 Modul Akuntabilitas

 Modul Nasionalisme

 Modul Etika Publik

 Modul Komitmen Mutu

 Modul Anti Korupsi

Presiden Republik Indonesia.2010.Peraturan Pemerintah Nomor : 53 Tahun 2010 Tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil

Undang-undang No 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan

Peraturan Pemerintah No.101 Tahun 2000 Tentang Diklat Prajabatan PNS Undang-undang No.05 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara

Presiden Republik Indonesia.2004.Peraturan Pemerintah Nomor : 42tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil.

Presiden Republik Indonesia.1975.Peraturan Pemerintah Nomor : 21 Tahun 1975 Tentang Sumpah dan Janji Pegawai Negeri Sipil

Gambar

Gambar 1.1 Lapas Perempuan Klas IIA Medan
Tabel 2.1 APKL
Tabel 2.2 Tabel USG
Tabel 2.4 Dampak dari Isu
+3

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1 strategi pelaksanaan pendidikan karakter religius yaitu melalui pembiasaan, keteladanan dan pembelajaran 2 pelaksanaan pendidikan karakter

Melakukan pengerjaan hitung bilangan bulat dalam pemecahan

Dengan taraf signifikan 5%, diperoleh hasil t hitung = 6.3941 dan t tabel = 1.994, sehingga t hitung >t tabel , maka dapat disimpulkan bahwa pendekatan

Whether by instinct or by simply knowing the person well enough, close friends and family can often be the first ones to note that something is not quite right with a

teaching English implemented by the teacher in SMP Unggulan Nawakartika. A micro ethnography is a research between the teacher’s actions and students’. actions in the class

1) Mempertajam hasil pembicaraan antara kedua kelompok. 2) Siswa dapat terngsang untuk menganalisa masalah di dalam kelompok. 3) Membangkitkan daya tarik untuk turut

2016 Juara Harapan 1 Lomba kuat tekan beton di Universitas Negeri Lampung Prestasi tingkat Nasional. 2015 Juara 14 English Asian Dabate di Universitas Brawijaya Malang Prestasi

wawancara peneliti terhadap mahasiswa jurusan PGSD FIP Unimed terungkap bahwa model pembelajaran yang sudah diterapkan oleh dosen pada materi IPS sangat tidak