PAPER REVIEW
PENGANTAR ILMU POLITIK
KONFLIK DAN PROSES POLITIK
Oleh: Ayu Islamiati Djudje (1444010039)
Marchelita Kusvara P. (1444010008)
Sandy Nur Pratama (1444010018)
Ulli Amrina (1444010028)
UPN “VETERAN” JAWA TIMUR
A. PENGERTIAN KONFLIK
Dalam ilmu sosial, terdapat dua pendekatan yang saling bertentangan untuk memandang masyarakat, yaitu pendekatan struktural-fungsional (konsensus) dan pendekatan struktural-konflik.
Pendekatan konsensus berasusmi, masyarakat mencakup bagian-bagian yang berbeda fungsi tetapi saling berhubungan satu sama lain secara fungsional, kecuali masyarakat terintegrasi atas dasar suatu nilai yang disepakati bersama, sehingga masyarakat selalu dalam keadaan harmonis dan seimbang.
Pendekatan konflik berasumsi, masyarakat terdiri dari berbagai bagian yang memiliki kepentingan yang saling bertentangan, kecuali masyarakat terintegrasi dengan suatu paksaan kelompok yang dominan, sehingga masyarakat selalu dalam keadaan konflik.
Konflik dalam ilmu politik sering kali dikaitkan dengan kekerasaan, seperti kerusuhan, kudeta, terorisme, dan revolusi. Akan tetapi, konflik dibedakan menjadi dua, yaitu konflik berwujud kekerasan dan konflik yang tak berwujud kekerasan.
1. Konflik berwujud kekerasan
Pada umumnya terjadi pada masyarakat-negara yang belum memiliki konsensus dasar mengenai dasar dan tujuan negara, dan mengenai mekanisme pengaturan dan penyelesaian konflik yang melembaga.
Contoh: huru-hara (riot), kudeta, pembunuhan, terorisme, pemberontakan, dan separatisme.
2. Konflik tidak berwujud kekerasan
Biasanya ditemu di masyarakat-negara yang telah memiliki konsensus mengenai dasar dan tujuan negara, dan mekanisme pengaturan dan penyelesaian konflik yang melembaga.
Contoh: unjuk rasa, pemogokan, pembangkangan sipil, pengajuan petisi dan protes, dialog atau musyawarah, dan polemik melalui surat kabar.
konflik sebagai penyelesaian ketegangan yang mempunyai fungsi “penstabilisasi” dan menjadi komponen mempererat hubungan.
Tidak semua konflik beraspek atau berimplikasi politik, sehingga mekanisme pengaturannya tidak melalui proses politik. Namun, ada juga konflik yang beraspek politik karena melibatkan lembaga politik dan pemerintahan secara langsung.
Konflik yang terjadi dapat melibatkan suatu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lain, yang berusaha mendapatkan atau mempertahankan sumber-sumber yang dikuasai pemerintah. Misalnya: para petani padi, melalui organisasi yang dibentuk, menuntut pemerintah agar menaikkan harga gabah dan harga sarana produksi dikendalikan, sehingga pendapatan petani meningkat.
Dan dapat juga berupa kegiatan kelompok masyarakat yang didukung sejumlah golongan untuk melakukan kudeta terhadap pemerintah yang berkuasa. Mislanya: PNS dan masyarakat kota menuntut agar pemerintah mengendalikan harga beras karena penghasilan mereka terbatas.
Jadi, konflik politik pada intinya adalah perbedaan pendapat, persaingan, dan pertentangan diantara individu, kelompok ataupun organisasi dalam upaya mempertahankan atau mendapatkan sumber-sumbet dari keputusan yang dibuat dan dilaksanakan pemerintah.
B. PENYEBAB KONFLIK POLITIK
Konflik politik disebabkan oleh dua hal, yaitu konflik politik kemajemukan horizontal dan konflik politik kemajemukan vertikal.
1. Kemajemukan Horizontal
Adalah struktur masyarakat yang (1) majemuk secara kultural, seperti suku bangsa, daerah, agama, dan ras; (2) majemuk secara sosial, seperti perbedaan pekerjaan dan profesi, serta karakteristik tempat tinggal.
Kemajemukan horizontal sosial dapat menyebabkan konflik, karena masing-masing kelompok pekerjaan, profesi, dan tempat tinggal memiliki kepentingan yang berbeda-beda dan saling bertentangan.
2. Kemajemukan Vertikal
Adalah struktur masyarakat yang terbagi berdasarkan kekayaan, pengetahuan, dan kekuasaan. Jadi, distribusi kekayaan, pengetahuan, dan kekuasaan yang pincang merupakan penyebab utama timbulnya konflik politik.
C. TIPE-TIPE KONFLIK
Terdapat dua tipe konflik, yaitu konflik positif dan konflik negatif. Untuk menentukan sifat suatu konflik, kita harus melihat tingkat legitimasi masyarakat terhadap sistem politik yang ada.
1. Konflik Positif
Adalah konflik yang tak mengancam eksistensi sistem politik, biasanya disalurkan melalui mekanisme penyelesaian konflik yang disepakati bersama dalam konstitusi. Mekanisme tersebut ialah lembaga demokrasi, seperti partai politik, badan perwakilan rakyat, pers, pengadilan, pemerintah, dsb.
2. Konflik Negatif
Adalah konflik yang dapat mengancam eksistensi sistem politik yang biasanya disalurkan melalui cara nonkonstitusional, seperti kudeta, separatisme, terorisme, dan revolusi.
D. STRUKTUR KONFLIK
Menurut Paul Conn, struktur konflik dibedakan menjadi konflik menang-kalah (zero-sum conflict) dan konflik menang-menang (non zero-sum conflict). 1. Konflik Menang-Kalah
2. Konflik Menang-Menang
Adalah konflik dimana pihak-pihak yang terlibat masuh mungkin untuk berkompromi dan bekerja sama. Cara yang dilakukan yaitu dengan melakukan dialog, kompromi, dan kerja sama yang menguntungkan dua pihak. Cirinya: (1) kompromi dan kerja sama; (2) hasil kompetisi dinikmati oleh kedua pihak, namun tidak secara maksimal.
E. TUJUAN KONFLIK
Secara umum ada dua tujuan dasar setiap konflik, yakni mendapatkan dan/atau mempertahankan sumber-sumber. Tujuan manusia untuk mendapatkan sumber-sumber merupakan ciri manusia yang hidup bermasyarakat karena manusia memerlukan sumber-sumber materil dan jasmaniah untuk dapat hidup secara layak di masyarakat.
Perbedaan tujuan konflik merupakan perbedaan yang bersifat analistis, sebab konflik yang terjadi merupakan perpaduan dari mendapatkan dan mempertahankan. Dalam setiap konflik pihak-pihak yang terlibat biasanya memperhitungkan untung dan rugi dengan tujuan memaksimalkan hasil dan meminimalisasi resiko.
Berdasarkan deskripsi diatas dibuat ketegorisasi tujuan konflik sebagai berikut: 1. Pihak-pihak yang terlibat dalam konflik memiliki tujuan yang sama, yakni
sama-sama berupaya mendapatkan.
2. Di satu pihak, hendak mendapatkan, sedangkan di pihak lain, berupaya keras mempertahankan apa yang dimiliki.
Kemungkinan yang pertama, contohnya konflik antara pengusaha produk hutan yang hendak mengusahakan suatu wilayah hutan tertentu melawan kelompok pemelihara lingkungan hidup yang berusaha mencegah pengrusakan hutan.
Kemungkinan yang kedua contohnya konflik pada pemilu 1997,1982,1987 dan 1992 antara Partai Persatua Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia yang berusaha mendapatkan kursi sebanyak-banyaknya di DPR dan DPRD, dan Golongan Karya berupaya mempertahankan mayoritas yang dipegang di DPR dan DPRD.
kelebihan sumber-sumber yang dimiliki pihak lawan dianggap sebagai ancaman oleh pihak lain
F. KONFLIK DAN PROSES POLITIK
Salah satu dimensi penting proses politik adalah peneyelesaian konflik yang melibatkan pemerintah. Proses penyelesaian konflik politik yang tidak bersifat kekerasan dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap politisasi atau koalisi, tahap pembuatan keputusan, dan tahap pelaksanaan dan integrasi.
Jika di dalam masyarakat terdapat konflik politik, maka setiap pihak akan merumuskan dan mengajukan tuntutan kepada pemerintah. Kemudian mereka akan mengadakan politisasi agar tuntutan tersebut mendapat perhatian pemerintah. Politisasi bertujuan untuk menjadikan tuntutannya menjadi isu politik. Lalu, pihak penuntut menentukan cara yakni dengan berkoalisi atau memperjuangkan sendirian. Setelah memilih cara, mereka akan berusaha untuk memengaruhi pemerintah sebagai pembuat keputusan politik.
Terdapat dua kemungkinan yang terjadi, yaitu pemerintah akan mengabulkan tuntutan atau akan menolak tuntutan tersebut. Terdapat dua kemingkinan, yakni:
Kemungkinan pertama, menolak tuntutan dengan tiga alasan, antara lain: 1. Alasan subyektif , maksudnya tuntutan masyarakat tidak menyenangkan bagi
pemerintah.
2. Alasan pragmatik , maksudnya tuntutan masyarakat menempati urursan prioritas yang rendah.
3. Alasan konstitusi , maksudnya tuntutan masyarakat bertentangan dengan ideologi bangsa.
Kesimpulan
Konflik dalam ilmu politik dibedakan menjadi dua, yaitu konflik berwujud kekerasan dan konflik yang tak berwujud kekerasan. Konflik berwujud kekerasaan yaitu dengan cara kudeta, terorisme, revolusi. Sedangkan konflik tak berwujud kekerasan yaitu dengan cara demonstrasi, dialog, pemogokan, dll. Konflik tidak selamanya berdampak negatif, tetapi juga dapat berdampak positif, yaitu dapat mengintegrasikan masyarakat dan memberikan perubahan. Pada intinya, konflik dapat terjadi karena adanya perbedaan kepentingan.
Tujuan konflik ialah mempertahankan dan/atau mendapatkan sumber-sumber, seperti harga diri, kekayaan, kekuasaan, hingga wilayah atau tempat tinggal. Dalam menyelesaikan konflik politik terdapat tiga tahap, yaitu tahap politisasi atau koalisi, tahap pembuatan keputusan, dan tahap pelaksanaan dan integrasi. Dalam menyelesaikan konflik, tidak selalu melibatkan pemerintah. Jika melibatkan pemerintah, pemerintah pun tidak serta merta mengabulkan tuntutan dari masyarakat.
Opini
Dalam dunia politik, tentunya terdapat konflik. Karena dalam politik terdapat beragam kepentingan, tujuan, dan maksud. Pada dasarnya, konflik dapat muncul akibat adanya perbedaan. Entah perbedaan pandangan, pemikiran, bahkan kepentingan. Namun, konflik tersebut dapat dihindari jika terdapat pihak yang mengalah. Mengalah bukan hanya dari satu pihak, namun semua pihak yang berkonflik bersedia untuk mengalah. Mengalah disini berarti mencari jalan terbaik secara bersama-sama dengan mengesampingkan ego dan kepentingan pribadi. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan konflik, misalnya dengan bermusyawarah, berkoalisi, membuat perjanjian damai, dll. Jika konflik yang terjadi harus melibatkan pemerintah, maka pemerintah harus dapat bersikap adil dan bijaksana dalam menyelesaikan konflik yang ada. Tidak boleh berat sebelah dan sebisa mungkin mengambil keputusan yang baik dan menguntungkan bagi semua pihak.
Referensi