DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN ...
I. A. LATAR BELAKANG ...
BAB II. PEMBAHASAN ...
II. A. SEJARAH BIDAN UMUM ...
II. B. SEJARAH DI NEGARA BELANDA
II. C. POLA KEBIDANAN
III. D. PERBANDINGAN KEBIDANAN DI INDONESIA
DAN BELANDA ...
BAB III. PENUTUP
III. A. KESIMPULAN
SEJARAH KEBIDANAN DI BELANDA : KOMPARASI DENGAN KEBIDANAN INDONESIA
BAB I. PENDAHULUAN I.A. LATAR BELAKANG
Pola pelayanan kesehatan khususnya proses persalinan memegang kunci terhadap keberlangsungan suatu bangsa. Maka demikian, sebab setiap bangsa, khususnya negara membutuhkan dan mempersiapkan generasi penerusnya sebagai tongkat estafet negaranya. Jika negara tidak memperhatikan kondisi kesehatan ibu hamil dan juga (calon) bayinya, maka dapat dikatakan bahwa kemungkinan negara akan menuai tingkat mortalita (kematian) yang tinggi. Dari catatan WHO dan juga UNICEF didapatkan bahwa masih terdapat banyak negara yang belum memberikan perhatian yang besar terhadap masalah ibu dan anak. Hal ini mengundang keprihatinan bagi masyarakat internasional dan kecemasan bagi negara di tingkat lokalnya. Hal ini sebenarnya tidak terlepas dari pentingnya pengaturan terhadap kesehatan tersebut sekaligus juga penyiapan secara struktur, fasilitas dan tenaga kesehatan yang ada.
Salah satu important role player dari kesehatan ibu dan anak adalah bidan. Bidan merupakan teman baik para wanita dalam mempersiapkan perawatan kesehatan, terlibat dalam suatu evaluasi ulang yang dinamis terhadap kebutuhan kesehatan unik wanita. Bidan merupakan sebuah profesi yang lahir dari visi untuk menolong para ibu, agar memelihara dan menjaga fase-fase perkembangan ibu hamil, dan berkomitmen memastikan ibu hamil beserta bayinya terpenuhi haknya untuk mendapatkan penanganan dan perawatan yang maksimal. Oleh sebab itu dirakan penting untuk membandingkan praktek kebidanan di antara dua negara yaitu Indonesia dan Belanda.
I.B. RUMUSAN MASALAH
1. Mengetahui sejarah kebidanan di Belanda.
2. Mengetahui Perkembangan pelayanan dan pendidikan kebidanan nasional maupun internasional.
BAB II. PEMBAHASAN II.A. SEJARAH BIDAN : IN GENERAL (UMUM)
Perkembangan pelayanan dan pendidikan kebidanan nasional maupun internasional terjadi begitu cepat. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan pelayanan dan pendidikan kebidanan merupakan hal yang penting untuk dipelajari dan dipahami oleh petugas kesehatan khususnya bidan yang bertugas sebagai bidan pendidik maupun bidan di pelayanan.
Disebabkan masih kurangnya perhatian terhadap penanganan ibu dan anak, di berbagai negara, maka diperlukan upaya-upaya khusus untuk mengurangi tingkat mortalitas (kematian) mereka. Salah satu faktor yang menyebabkan terus berkembangnya pelayanan dan pendidikan kebidanan adalah masih tingginya mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan bersalin, khususnya di negara berkembang dan di negara miskin yaitu sekitar 25-50%.
Mengingat hal diatas, maka penting bagi bidan untuk mengetahui sejarah perkembangan pelayanan dan pendidikan kebidanan. Arti kebidanan secara umum ilmu yang mempelajari kelahiran manusia mulai dari kandungan sampai melahirkan. Sedangkan menurut Melwifery ialah ilmu yang terbentuk dari sintesa berbagai disiplin ilmu (multi displin) yang terkait dengan pelayanan kebidanan. Pelayanan kebidanan menjadi tanggung jawab praktek profesi bidan yang bertujuan meningkatkan kesehatan ibu dan anak.
Oleh karena itu bidan adalah tenaga terdepan dan utama dalam pelayanan kesehatan ibu dan bayi diberbagai catatan pelayanan wajib mengikuti perkembangan IPTEK dan menambah ilmu pengetahuannya melalui pendidikan formal atau non formal dan bidan berhak atas kesempatan untuk meningkatkan diri baik melalui pendidikan maupun pelatihan serta meningkatkan jenjang karir dan jabatan yang sesuai.
Berikut catatan sejarah secara umum yang dilaksanakan baik ditingkat lokal (per negara) dan secara serentak di tingkat masyarakat internasional (secara universal).
Aksi Utama Dunia di bawah Bendera Penyelamatan Ibu
1. Tahun 1987 – Prakarsa penyelamatan ibu diluncurkan di Nairobi
2. Pada tahun 1989 – Studi dunia pertama mengenai kematian ibu diterbitkan (Royston dan Armstrong 1989), dan kumpulan bukti kematian ibu di dunia dikeluarkan WHO 1991. Kumpulan bukti tersebut merupakan ringkasan data yang dikumpulkan dari seluruh dunia disediakan oleh Jenewa.
3. Tahun 1987 – Partograf, sebuah alat untuk memantau persalinan dengan efektif, diluncurkan pada tahun 1990 uji coba banyak dilakukan untuk meninjau keefektifan alat tersebut dengan hasil positif. Laporan tersebut menunjukkan bahwa peralatan mempunyai potensi yang baik dalam penata pelaksanaan persalinan.
pembinaan ketrampilan kebidanan petugas kesehatan, khususnya petugas yang memberikan asuhan berbasis komunitas. Rekomendasi termasuk juga pemantapan keterampilan kebidanan di semua aspek pemberian asuhan maternitas. Utamanya keterampilan tersebut harus menyertakan penatalaksanaan segera kegawatdaruratan obstetric tertentu. Seperrti perdarahan, persalinan lama dan macet, sepsis puerperalis, dan hipertensi pada kehamilan. Selain itu, juga merinci paket minimal untuk perawatan maternitas dasar mengenai layanan yang harus tersedia dan peralatan prasyarat.
5. 1996 World Health Organization menyelenggaraan sebuah kelompok kerja teknis untuk pelatihan normal (World Health Organization 1996). Kelompok kerja yang terdiri atas ahli obstetri andal internasional dan bidan, bersama-sama meninau bukti seluruh praktik dan intervensi yang digunakan saat ini di seluruh dunia dalam merawat wanita yang melahirkan normal. Kesimpulan mereka menyokong temuan yang ditemukan oleh Kelompok Epidemiologi Perinatal Oxford. Dengan mengikuti format yang sama dengan perawatan efektif selama kehamilan dan persalinan (Chalmers et al 1987), kelompok ini membuat daftar praktik sesuai dengan bukti ilmiah (World Health Organization 1996). Dokumen ini dan dokumen penyelamatan ibu lainnya juga disediakan oleh World Health Organization, Jenewa.
Kejadian lain di Dunia yang penting untuk Penyelamatan Ibu:
1. 1990 – dilakuka aksi dunia guna memperbaiki kesehatan dan kesejahteraan anak-anak dan kongres internasional, KTT Dunia mengenai Kesehatan Anak. KTT ini menempatkan anak dlam agenda dunia (UNICEF 1990). Pada majelis umum PBB 1990, Konvensi hak-hak anak (PBB 1990) di masukkan kedalam hokum internasional. Pasalnya adalah membahas kelangsungan hidup dan prenatal yang efektif dan hak untuk bersalin yang baik. Pasal lainnya adalah membahas penrapan praktik tidak membeda-bedakan (secara efektif melarang praktik, misalnya pemisahan jenis kelamin, pembunuhan janin perempuan atau laki-laki, pemberian makanan berdasarkan jenis kelamin). Konvensi hak anak secara resmi di sahkan oleh semua anggota PBB.
dunia pada penyeamatan ibu sesuai dengan kebutuhan dan sumber daya setiap negara. Informasi lebih lanjut mengenai praarsa baru World Health Organization dapat ditemukan di situs World Health Organization, dapat diakses melalui halaman Kesehatan Reproduksi dan Penelitian.
Memasuki akhir abad 20, tepatnya pada tanggal 4-15 September 1995, sebuah Konferensi tingkat Dunia tentang Perempuan ke IV telah terselenggara di Beijing, China. Konferensi yang bertema: Persamaan, Pembangunan, Perdamaian ini telah menghasilkan sejumlah rekomendasi yang harus dilaksanakan oleh negara-negara anggota PBB dalam upaya meningkatkan akses dan kontrol kaum perempuan atas sumber daya ekonomi, politik, sosial dan budaya. Seluruh rekomendasi dan hasil konperensi tertuang dalam Deklarasi Beijing dan Landasan Aksi (Beijing Declaration and Platform for Action).
Indonesia, sebagai negara anggota PBB pun ikut berpartisipasi dalam Konferensi tersebut dan tentu saja mempunyai kewajiban moral melaksanakan Deklarasi Beijing dan Landasan Aksi tersebut. Kewajiban itu dibebankan kepada berbagai pihak baik pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat/Organisasi non-pemerintah, Kelompok Perempuan, Pelaku Pendidikan, Media Massa, Pihak Swasta dan kelompok-kelompok masyarakat lainnya.
II. B. SEJARAH DI NEGARA BELANDA
II. B. 1. STRUKTUR DAN SEJARAH PELAYANAN KEBIDANAN DI BELANDA
Sebagai salah satu negara yang terletak di benua Eropa, pelayanan kebidanan di Belanda mematok standar yang lumayan bagus. Hal ini bisa dilihat dari dari ciri khas pelayanan kesehatan di Belanda, khususnya aspek kebidanan, yang menggabungkan antara budaya dan sistem. Keunikan ini membuat bidan mampu melakukan pendekatan kepada ibu dengan tidak meninggalkan profesionalismenya. Selain itu, sistem ini mempertahankan bidan yang memiliki otonomi penuh dari penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi. Sistem ini juga mendukung terhadap peningkatan kualitas tenaga bidan di Belanda.
Sejarah Singkat
Awal tahun 1970-an, angka persalinan di rumah berkisar 70%, dan pada masa ini pekerjaan tenaga bidan sangat berat dan pendapatannya rendah. Pada masa ini terdapat peraturan bahwa medis dan bidan harus mampu mengobservasi 15 persalinan selama pelatihan. Peraturan ini menimbulkan masalah, karena tidak mencukupinya jumlah persalinan yang ada di rumah sakit. Untuk mengatasinya, dibuatlah keputusan bagi bidan untuk mendapatkan akses ke rumah sakit dengan membawa ibu yang akan ditolong persalinannya. Situasi ini memberikan dampak yang menguntungkan bagi bidan, yaitu dapat meningkatkan statusnya serta pendapatannya. Akhir tahun 70-an, angka persalinan di rumah menurun drastis sampai dengan 35%.
Saat upacara kelulusan pada calon bidan, Prof. Kloosterman1 berpidato mengenai ”5 menit menuju tengah malam” yang artinya bahwa bidan di Belanda harus mampu mempertahankan statusnya dengan cara :
a. Mengikuti komunitas Internasional tentang kesehatan kelahiran dengan metode hospitalisasi untuk kelahiran
b. Memilih mempertahankan sistem kebidanan
c. Memperkuat sistem skrening dari prenatal yang menjamin kekuatan otonomi dari bidan mandiri
Dari penyampaian pidato Prof. Kloosterman tersebut memberikan dampak yang besar bagi seluruh bidan dan menjadi inspirasi bagi bidan untuk menurunkan kelahiran di rumah. Bidan-bidan menjadi sadar, bahwa persentase kelahiran di rumah akan mempengaruhi seluruh sistem. Skrening yang berkesinambungan dan seleksi ibu hamil, serta bekerja dalam kelompok wanita sehat untuk mempertahankan status kesehatannya. Hal ini menyebabkan angka kelahiran tetap baik, bukan hanya karena penurunan persentase kelahiran di rumah saja tetapi didukung oleh skrening masalah pada wanita dan angka kejadian persalinan induksi dan operatif rendah. Inilah yang menjadi kekuatan dari sistem kebidanan Belanda dan membawa kebidanan menjadi populer.
Ditilik dari periodisasinya, tahun1980-an merupakan masa kebangkitan bidan di Belanda. Bidan menjadi sangat militan, karena harus mempertahankan persalinan di rumah. Bidan-bidan banyak menghasilkan buku-buku dan video pengajaran yang dipublikasikan. Bidan-bidan ingin mengubah image ”pekerja keras, yang tidak mampu meningkatkan mutu ketrampilan dan pendapatan, serta tidak melakukan penelitian yang perlu”. Bidan mulai merambah area politik untuk meningkatkan pendapatannya dan memperoleh pengakuan terhadap pelayanan yang diberikan. Masa ini, The Active Birth berpindah di United Kingdom (UK) dan Michel Odent membantu memberikan ide dan bekerjasama dengan bidan, sehingga bidan dapat menunjukkan aspirasinya. Salah satu aspirasi bidan adalah posisi menolong persalinan dari posisi tidur menjadi posisi duduk. Selain itu, diperlukan sebuah penelitian besar untuk mendukung praktek kebidanan. Selama ini, penelitian banyak dilakukan oleh dokter obstetri saja, karena 100% persalinan di rumah sakit. Umumnya penelitian yang dilakukan merujuk terhadap berbahayanya persalinan di rumah.
ditetapkan sejak tahun ini menjamin masyarakat miskin untuk mendapatkan pelayanan yang terjamin baik.
Bidan di Belanda 75% bekerja secara mandiri, karena kebidanan adalah profesi yang mendiri dan aktif. Sehubungan dengan hal tersebut bidan harus menjadirole model dimasyarakat dan harus menganggap kehamilan adalah sesuatu yang normal sehingga apabila seorang wanita merasa dirinya hamil dia dapat langsung memeriksakan diri ke bidan.
II. B. 2. BENTUK PELAYANAN KEBIDANAN DI BELANDA Berikut adalah beberapa bentuk pelayanan kebidanan di Belanda:
Pelayanan Antenatal, Bidan menurut peraturan Belanda lebih berhak praktek mandiri daripada perawat. Bidan mempunyai izin resmi untuk praktek dan menyediakan layanan kepada wanita dengan resiko rendah, meliputi antenatal, intrapratum dan post natal. Tanpa ahli kandungan yang menyertai mereka bekerja di bawah Lembaga Audit Kesehatan. Bidan harus merujuk wanita dengan resiko tinggi atau kasus patologi ke Ahli Kebidanan untuk dirawat dengan baik. Untuk memperbaiki pelayanan kebidanan dan ahli kebidanan dan untuk meningkatkan kerjasama antar bidan dan ahli kebidanan dibentuklah daftar indikasi oleh kelompok kecil yang berhubungan dengan pelayanan maternal di Belanda. Daftar ini berisi riwayat sebelum dan sesudah pengobatan. Riwayat kebidanan akan berguna dalam pelayanan kebidanan. Penelitian Woremever menghasilkan data tentang mortalitas dan mobilitas yang menjamin kesimpulan : dengan sistem pelayanan yang diterapkan Belanda memungkinkan mendapatkan hasil yang memuaskan melalui seleksi wanita. Suksesnya penggunaan daftar indikasi merupakan dasar yang penting mengapa persalinan di rumah disediakan dan menjadi alternatif karena wanita dengan resiko tinggi dapat diidentifikasi dan kemudian dirujuk ke Ahli Kebidanan.
Selama kehamilan bidan menjumpai wanita hamil 10-14 kali di klinik bidan. Sasaran utama praktek bidan adalah pelayanan komunitas. Jika tidak ada masalah, wanita diberi pilihan untuk melahirkan di rumah atau di rumah sakit. Karena pelayanan antenatal yang hati-hati sehingga kelahiran di rumah sama amannya dengan kelahiran di rumah sakit. Tahun 1969 pemerintah Belanda menetapkan bahwa melahirkan di rumah harus dipromosikan sebagai alternatif persalinan. Di Amsterdam 43% kelahiran (catatan bidan dan Ahli Kebidanan) terjadi di rumah. Di Holland, diakui bahwa rumah adalah tempat yang aman untuk melahirkan selama semuanya normal.
Pelayanan Intrapartum dimulai dari waktu bidan dipanggil sampai satu jam setelah lahirnya plasenta dan membrannya. Bidan mempunyai kemampuan untuk melakukan episiotomi tapi tidak diizinkan menggunakan alat kedokteran. Baisanya bidan menjahit luka perineum atau episiotomi, untuk luka yang parah dirujuk ke Ahli Kebidanan. Syntomentrin dan Ergometrin diberikan jika ada indikasi. Kebanyakan kala III dibiarkan sesuai fisiologinya. Analgesik tidak digunakan dalam persalinan.
menyeleksi kapan wanitya perlu intervensi, yang menghindari teknologi dan pertolongan dokter yang tidak penting.
II. B. 3. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PELAYANAN KEBIDANAN DI BELANDA
Hal-hal yang berkaitan dengan kelahiran dan kebidanan di Belanda:
a. Tingkat Kelahiran di Belanda
Jika dilihat dari sudut populasi maka di Belanda totalnya 15 juta, dan tiap tahun angka kelahiran sekitar 74.500. Total dari angka kelahiran, 46% ditolong oleh bidan, 8% oleh dokter umum dan 46% dibantu oleh dokter obstetri. Ada 1422 bidan yang telah terdaftar, 70% merupakan praktek mandiri, 15% bekerja sebagai bidan yang berpindah-pindah (for those on holiday or leave etc) dan 15% bekerja di kinik rumah sakit. Sebagian besar terlibat sebagai supervisi mahasiswa dalam pelatihan sebagai bidan atau dokter. Beberapa bidan memutuskan tidak mengambil spesialis dalam risiko tinggi pelayanan dan mereka bekerja secara tertutup dengan ahli obstetri.
Rata-rata kelahiran di rumah mangalami turun naik. Pada tahun 1997 adalah 31% dari semua kelahiran di rumah dan tahun 1998 keadaan ini meningkat menjadi 32,4%. Di Amsterdam, rata-rata mengalami kenaikan dari 18% pada 1995; menjadi 26% pada 1998. di Rotterdam, rata-rata mengalami kenaikan dari 19% pada 1995; menjadi 25% pada 1998.
Secara nasional rata-rata persalinan operatif mengalami kenaikan dari 8,5% pada 1993; menjadi 9,5% pada 1997. Forceps atau vacum rata-rata tetap sekitar 7,7% pada 1993; dan 78% pada 1997. Rata-rata kejadian epidural adalah 6% dengan keadaan nyeri hanya dengan pertolongan persalinan operatif. Kematian perinatal rata-rata pada 1997 adalah 8,1 per 1000 kelahiran hidup.
b. Perbedaan Budaya di Belanda
Di Belanda bidan termasuk juga profesi kesehatan sejak 1972, bersama dengan dr.umum, dokter gigi, farmakolog dan dokter obtetri . Bidan melakukan pelatihan selalu memiliki standar yang tinggi, dengan kriteria sangat ketat untuk masuk universitas, termasuk akademi tinggi dan mencapai karakter dan perilaku yang baik. Kriteria ini ditimbulkan dari seorang ibu yang memiliki kekuatan dan intelegensi dan ini digambarkan pada bahasa Belanda untuk "midwife" yang artinya "wise woman".2 Tidak ada tradisi dari perjalanan kebidanan di Belanda dan ini berpengaruh besar pada ketetapan dan perkembangan dari pelayanan kebidanan. Adanya peraturan jika seorang klien tidak senang dengan pelayanan yang diberikan dari dokter dan bidan, dia dapat menyelesaikan pada komite khusus. Komite
khusus ini terdiri dari bidan, ahli obstetri dan dokter umum yang melihat kembali kasus dan penelitian kesehatan. Kompensasi finansial tidak menjadi perhatian dan biasanya jika kesalahan dibuat yang diakui sebagai sesuatu yang biasanya terjadi maka bidan dan dokter akan menerima peringatan. Setelah tiga kali peringatan proses peradilan mungkin dimulai.
Pendekatan ini mungkin dilakukan karena dukungan sistem sosial di Belanda, yang mendukung penuh orang tua yang memiliki anak cacat terus memperoleh sistem asuransi nasional dan fasilitas masyarakat. Tidak ada kebutuhan yang menuntut dokter atau bidan untuk memperoleh gaji dari pelayanan ini. Ini merupakan pendekatan etis untuk ketetapan dari pelayanan kebidanan dan membawa yang terbaik pada pelayanan profesional yang diberikan pada masyarakat secara keseluruhan.
c. Pusat Kelahiran Amsterdam
Pusat kelahiran didirikan tahun 1992. Ini terdiri dari dua grup dari empat bidan, mengerjakan bisnisnya dan membawa sekitar 800 ibu tiap tahun (pada 1998 bidan merawat 795 ibu : 495 primi dan 300 multi). Berdasarkan kehamilan sekitar 20% adalah menghubungi dokter dan lebih lanjut 15% menghubungi dokter selama kelahiran. Alasan utama untuk menghubungi dokter selama kehamilan adalah tekanan darah tinggi, postmatur (lebih dari 42 minggu), sungsang, kelahiran multi, kelahiran prematur, IUGR dan perdarahan. Selama persalinan alasan utama untuk menghubungi adalah tidak ada kemajuan pada kala dua, kemajuan yang lambat pada kala satu, cairan mekonium dan ruptur pada membran tanpa kontraksi. Di negara ini, penggantian bidan selama mengobservasi suatu persalinan merupakan hal yang ditentang. Kecuali bila harus ada penggantian selama masa observasi ini karena adanya alasan sosial atau alasan pribadi. Penggantian ini dapat dengan sesama bidan, dokter umum atau dokter obstetri. Oleh sebab itu, banyak dokter obstetri bekerjasama dengan bidan dan terkesan tunduk dengan nasehatnya bidan. Suasana di Perguruan Tinggi mendukung dialog seperti ini dan mempertajam praktek dari keduanya. Dokter dan bidan sangat kontras dan sering terlihat interaksi yang berlawanan di negara-negara lain.
d. Woman Centre Care
“Persalinan yang aman adalah persalinan dengan intervensi yang seminimal mungkin baik bagi ibu dan bayinya”, ini merupakan pesan yang senatiasa ditekankan oleh para bidan. Oleh karena itu tempat kelahiran baik di rumah ataupun di rumah sakit bukanlah menjadi fokus utama. Hal ini dimengerti oleh para ibu dan memberikan kebebasan bagi ibu untuk menentukan pilihannya dalam pelayanan yang diberikan kepadanya. Selama kehamilan, pemberian informasi secara mendetail mengenai kehamilan tidak dilakukan bidan, kecuali bila ibu ingin mengetahui jika bayi bertumbuh dengan baik, apakah ibu dalam keadaan sehat atau hal-hal lain yang perlu diperhatikan selama kehamilan .
Pada usia kehamila 36 minggu, terdapat komunikasi mengenai isu pratikal tentang kelahiran, bagaimana persalinan akan didiskusikan. Bidan yang dihubungi akan segera melakukan penilaian situasi dan memonitor keadaan bayi, memberikan kenyamanan, dan jika bidan akan pergi, mengarahkan ibu dan kembali pada pembukaan 8 cm. Bidan melalui grup yang diseleksi oleh ibu berdasarkan pengetahuannya bahwa bidan ini memiliki kompetensi perawatan yang baik selama kehamilan. Tugas utama bidan selama persalinan adalah menjamin wanita menjalani persalinan sealami mungkin.3 Perlakuan individu4 adalah vital dan ibu membutuhkan bidan berada disampingnya selama persalinan berlangsung.
Bidan di Belanda juga bekerja dengan seorang asisten yang profesional, perawat pembantu kebidanan, yang bekerja sebagai seorang asisten untuk bidan selama persalinan dan tetap tinggal dengan keluarga dan kemudian merawat keluarga. Dia merencanakan observasi setiap hari pada ibu dan bayi, membantu ibu dengan cara menyusui dan membantu pekerjaa rumah tangga. Mereka dilatih selama 18 bulan, dan digaji oleh pemerintah. Bidan mengunjungi setiap dua hari sekali, sampai 5 atau 6 kali sesuai yang diperlukan, mengetahui jika ibu dan keluarga akan dirawat secara profesional selama minggu pertama oleh perawat pembantu bidan. Ini memberikan kombinasi yang baik dari pelayanan dan pelayanan kebidanan di Belanda.
II. B. 4. STRATEGI PENDIDIKAN TERHADAP PELAYANAN KEHAMILAN II. B. 4. A PENDIDIKAN KEBIDANAN DI BELANDA
Kebidanan merupakan aplikasi dari ilmu medis. Bidan adalah tenaga profesional yang mengatur dan monitoring proses fisiologis, berbeda dengan profesi kesehatan lain yang
3 Cara lain dalam mempromosikan kelahiran di rumah ini adalah mengatakan jika persalinan di rumah ibu akan merasa lebih baik dan dan keputusan bila tinggal disana atau pergi ke rumah sakit persalinan akan menjadi berkembang. Dengan cara ini ibu menjadi lebih baik keduanya ibu dan bayi dan jika dikirim ke rumah sakit bila perlu kemudian ahli obstetri datang secara khusus (dia tidak selalu ada di rumah sakit) jadi ibu menerima perhatian khusus dari dokter. Dia memberikan perlakuan bila perlu karena keahliannya adalah sangat diperlukan.
berfokus pada patologi. Bidan memberi kontribusi dalam proses medis kedokteran (Crebas 1991: 25)
Perkembangan pendidikan kebidanan di Belanda adalah sebagai berikut :
1. Tahun 1779 : Didirikan sekolah kebidanan pertama di Maasticht 2. Tahun 1818 : Pemerintah mengeluarkan panduan untuk legislasi bidan
3. Tahun 1861 : Didirikan pendidikan kebidanan kedua di Amsterdam , Pada abad 18 ini masyarakat mengenal bidan sebagai praktisi mandiri Tugas dan tanggung jawab bidan sudah teridentifikasi dengan jelas dan didukung oleh undang-undang oleh pemerintah. 4. Tahun 1865 : Pemerintah memberikan kewenangan kepada bidan sebagai praktisi medis untuk memberikan pendidikan kesehatan dan mendampingi ibu selama proses kelahiran normal .
5. Tahun 1878 : Pemerintah belanda mengeluarkan keputusan untuk pemberian gelar kepada yang telah lulus misalnya dr, drg, farmasi, bidan dan asisten parmasi diberikan Dengan gelar ini seorang bidan diberi kewenangan izin praktek bila sudah melakukan ujian dan dianggap lulus.
6. Tahun 1941 : Sistem pembayaran pelayanan kebidanan dengan asuransi medis yang masih tetap ada sampai dengan sekarang:
a. Wanita dengan kehamilan dan persalinan yang fisiologis berada dibawah pengawasan bidan, sedang yang patologis dengan komplikasi berada dibawah pengawasan ahli obstetri .
b. Bidan atau dokter yang memberikan pelayanan diluar wilayah kerjanya tidak akan mendapat klaim penggantian biaya asuransi
c. Siswa bidan diberikan kesempatan yang banyak dalam menolong persalinan dirumah dibawah bimbingan bidan seniornya.
d. Pemerintah lebih menganjurkan persalinan dilakukan dirumah dan ada dukungan yang kuat dalam pendanaan bila melaukan persalinan dirumah. Hampir 1/3 bidan menolong persalinan dirumah , hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Hingstman Mayoritas (80%) bidan di netherlands praktik mandiri dan memberikan pelayanan persalinan di rumah atau di unit kebidanan dengan masa rawat yang singkat (1994), presentasi persalinan di rumah dilakukan lebih banyak ditolong oleh bidan (Baker et al 1996).
7. Tahun 1991 : Peninjauan kembali kurikulum oleh suatu komite yang bekerjasama dengan departemen kesejahteraan, kesehatan dan kebudayaan di Netherland.
8. Tahun 1993 kurikulum di kembangkan menjadi 4 tahun dengan maksud untuk memenuhi kebutuhan bidan dalam mendapatkan pengalaman, dan pemahaman mengenai riset dan untuk menyeimbangkan kualitas program yang dirasakan bahwa standart akademik dapat dicapai dengan memungkinkan setiap lulusan untuk melanjutkan studi doktor.
b. Adapun target yang harus dicapai oleh seorang calon bidan adalah lebih dari 40 persalinan seperti yang dibutuhkan oleh peraturan dari organisasi EEC. Dan setiap tahun mahasiswa ini harus mencapai objek pembelajaran yang spesifik. Program pembelajaran terselenggara melalui modul dengan tema utama menggabungkan teori dan keterampilan, serta pada tahun ketiga mereka diharuskan meningkatkan kemampuan keterampilannya.
c.Pemerintah menanggung semua biaya pendidikan dan mahasiswa akan menerima dana pada saat mereka berada pada tahun ke 4.
A. Revisi kurikulum kebidanan juga dilakukan, dengan mengidentifikasi kebutuhan kebidanan yang harus berdasarkan :
1) Perubahan area obstetrik
2) Peningkatan penggunaan teknologi dalam persalinan dan kelahiran 3) Identifikasi kebutuhan untuk menyediakan pelatihan dalam USG
4) Pemikiran yang berarah pada pendidikan terutama yang berkenaan dengan penilaian mahasiswa
5) Kebutuhan bidan dalam mengembangkan kebutuhan riset (Commitee for the revision of the curiculum of midwifery school in Netherlands 1991).
B. Profil bidan yang di buat oleh Netherlands terfokus pada 3 komponen yaitu ; ANC, INC dan PNC, pada tahun 1991 ada penambahan lain yang termasuk pada kategorinya antara lain :
1. Prosedur obstetric 2. Pencegahan
3. Management pada kehamilan / keterampilan berkomunikasi 4. Melaksanakan praktek
5. Meningkatkan dan memelihara keterampilan professional
C. Mengacu pada Commitee for the revision of the curiculum of midwifery school in Netherlands 1991 menyatakan bahwa keahlian seorang bidan memiliki 5 komponen : 1. Keahlian formal yang didapat selama pelatihan dari salah satu institusi pendidikan
bidan
2. Memiliki sikap yang tepat untuk seorang bidan yang professional
3. Keahlian yang profesional yang diperoleh harus selalu dipelihara secara teratur dengan mengikuti pelatihan.
4. Mampu dalam memberikan pendidikan kesehatan 5. Ahli dalam ultrasonic scanning.
Pada tahun 1992 bidan komunitas mensupervisi dari 45 % semua persalinan di netherland, lebih dari setengahnya persalinan terjadi di rumah (Netherland biro pusat statistik di tahun 1994). Selain itu mereka mendesign sekolah kebidanan adalah universitas mandiri meskipun pelatihan atau training di pertimbangkan dapat menyeimbangkan pendidikan pada tingkat pendidikan vokasi yang lebih tinggi.
II. B. 4. B. PENDIDIKAN MASTER KEBIDANAN DI BELANDA
Vlaanderen Barat. Master ini menawarkan suatu tingkatan atas untuk Sarjana Muda professional dalam ilmu perawatan dan ilmu kebidanan.
Jenjang Pendidikan ini membentuk sumber daya manusia yang dapat disalurkan dalam berbagai pekerjaan dan penelitian di dalam ilmu pengetahuan keperawatan dan ilmu pengetahuan kebidanan yang menjadi :
1. Spesialis klinik 2. Manajer kasus
3. Kepala ahli perawatan/bidan 4. Fungsionaris staf
5. Koordinator perawatan 6. Anggota kader menengah
7. Direksi departemen ilmu perawatan dan kebidanan di dalam sektor kesehatan.
Kurikulum Susunan Global, mengemukakan esensi pendidikan terdapat :
1. Pengembangan ke arah evident based dan bekerja secara akademis 2. Mengarah pada belajar tetap dan belajar di dalam praktek.
3. Pendidikan diarahkan pada pemikiran terarah dan berwawasan luas , menggunakan metode dan mampu memecahkan masalah dengan baik.
4. Fleksibilitas
5. Keterbukaan bagi para mahasiswa yang bekerja.
Tekanan disini terletak pada pola fikir yang kritis terhadap pengenalan ilmu pengetahuan, kemampuan dankreativitas menganalisis yang mendalam, didorong pengenalan teoritis dan ilmu pengetahuan.Pengenalan ilmu pengetahuan yang lebih luas dan lebih mendalam dari Master adalah menelaah situasi perawatan yang lebih kompleks, menganalisis strategi perawatan yang sesuai dengan kebutuhan untuk dikembangkan menjadi ilmu pengetahuan yang aktual.
Setelah mengikuti pendidikan Master, diharapkan tingkat kemandirian lebih tinggi di dalam pengembangan, pemerolehan dan penerapan ilmu/pengenalan. Juga tingkat pengertian kritis dan kreativitas di dalam memutuskan, menginterpretasi dan menerapkan penelitian ilmiah yang berbeda sekali terhadap kemampuan akhir pendidikan sarjana muda professional.
II. B. 4. C. TUJUAN PENDIDIKAN MASTER DI BELANDA
Master di dalam ilmu keperawatan dan kebidanan adalah orang yang berpendidikan universitas dengan pola fikir berkembang dan melakukan penelitian ilmiah dibidang ilmu keperawatan dan kebidanan.
Dengan adanya pendidikan ini antara lain mencoba untuk mewujudkan tujuan :
1. Menyumbangkan ilmu untuk mengembangkan ilmu pengetahuan keperawatan dan ilmu pengetahuan kebidanan.
3. Mengembangkan keahlian untuk bukti yang didasarkan praktek untuk mewujudkan pemeliharaan kesehatan.
4. Membentuk mereka yang berijazah universitas untuk mendidik para mahasiswa – sarjana muda yang professional dalam ilmu keperawatan dan ilmu kebidanan di dalam pendidikan sekunder (menengah).
5. Menyumbangkan fikiran terhadap pengembangan penelitian ilmiah.
Adanya pengembangan yang terus dilakukan untuk kejuruan akhir dari pendidikan sarjana muda ilmu keperawatan dan kebidanan. Kejujuran/pendidikan akhir ini juga membentuk kejuruan awal dari pendidikan untuk mencapai Master di dalam keperawatan dan kebidanan.
Seorang Master di dalam ilmu keperawatan dan kebidanan harus :
1) Mampu membaca literatur ilmu pengetahuan keperawatan dan kebidanan secara kritis, dapat memutuskan permasalahan dan harapannya, mensintesis dan menyimpulkan implikasinya untuk praktek.
2) Dapat mengkonsultasikan literatur medis yang relevan, melekasanakannya dan menyimpulkan implikasi ilmu keperawatan dan kebidanan.
3) Mampu melihat kemungkinan dan memanfaatkannya untuk memperluas mutu perawatan.
4) Mampu secara adekuat/memadai dan bertanggung jawab secara ilmiah menerima perubahan-perubahan di masyarakat dan evolusi yang kontinyu di dalam perawatan/pemeliharaan kesehatan.
5) Cara-cara ilmiah untuk digunakan dengan cara yang benar di dalam fungsi-fungsi yang mereka pegang untuk menopang keputusan dan pertimbangan-pertimbangan secara empiris
6) Dapat memenuhi fungsi spesialis klinis setelah pendalaman yang disesuaikan dibidangnya, dimana belajar sendiri mengambil tempat yang penting, tetapi bukan satu-satunya tempat;
7) Mampu melakukan konsultasi dengan para pakar perawatan lainnya, para pakar kebidanan dan para pekerja kesehatan lainnya mengenai masalah perawatan.
8) Mampu menganalisis pemeliharaan keperawatan/kebidanan sebagaimana dilaksanakan, menemukan kekurangan dan mengembangkan dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan pengenalan pengalaman dengan cara kreatif.
9) Mampu berperan serta di dalam pengembangan program perawatan, jalan-jalan klinis dan proyek-proyek mutu.
10) Mampu menafsirkan implikasi pembaharuan medis untuk kebijakan ilmu keperawatan dan ilmu kebidanan mereka yang membutuhkan perawatan dan merumuskan jawaban yang tepat;
11) Mampu membuat keputusan yang bertanggung jawab mengenai perkembangan-perkembangan yang ditawarkan dari luar negeri atau dalam negeri yang sangat berharga bagi ilmu keperawatan dan ilmu kebidanan;
14) Mampu memimpin para pakar perawatan dan kebidanan dalam pemeliharaan langsung.
15) Mampu memenuhi fungsi kepala keperawatan/kebidanan;
16) Mampu memenuhi fungsi di dalam kader menengah dan direksi keperawatan rumah sakit-rumah sakit dan organisasi-organisasi lainnya di dalam pemeliharaan kesehatan; 17) Mampu membuat dan melaksanakan rencana kebijakan untuk pemeliharaan
keperawatan/kebidanan, sesuai tingkat pengenalan dibidang ilmu pengetahuan keperawatan;
18) Ahli dalam Ilmu pengetahuan kebidanan/pakar kebidanan dan manajemen perawatan; 19) Menyusun anggaran dan menguasainya, dengan dukungan orang yang bertanggung
jawab secara ekonomis
20) Dapat melaksanakan kebijakan personalia dengan bermusyawarah dan dengan dukungan orang yang bertanggung jawab secara personalia.
21) Mampu mengajar para siswa keperawatan dan kebidanan baik di dalam praktek maupun dalam hubungan pelajaran;
22) Dapat merencanakan dan melaksanakan penelitian ilmiah di bawah pengawasan untuk menjelaskan/menguraikan lebih lanjut masalah keperawatan, atau untuk meneliti efektivitas intervensi pakar perawatan dan kebinanan;
23) Dapat mengevaluasi pemeliharaan kesehatan dan tindakan yang diambil dengan dibeda-bedakan dari perspektif ilmu pengetahuan/ilmiah dan secara etis.
II. C. POLA KEBIDANAN INDONESIA
Transformasi pendidikan kebidanan Indonesia dapat dikaji sebagai berikut. Perkembangan pelayanan dan pendidikan kebidanan di Indonesia tidak terlepas dari masa penjajahan Belanda, era kemerdekaan, politik atau kebijakan pemerintah dalam pelayanan dan pendidikan tenaga kesehatan, kebutuhan masyarakat serta kemajuan ilmu dan teknologi.
1. Tahun 1907 (Zaman Gubernur Jendaral Hendrik William Deandels)
Pada zaman pemerintah Hindia Belanda. AKI dan AKB sangat tinggi, Tenaga penolong persalinan adalah dukun . Para dukun dilatih dalam pertolongan persalinan tapi keadaan ini tidak berlangsung lama karena tidak adanya pelatih kebidanan. Pelayanan kesehatan termasuk pelayanan kebidanan hanya diperuntukan bagi orang Belanda yang ada di Indonesia.
2. Tahun 1849
Dibuka pendidikan dokter Jawa di Batavia (di RS Militer Belanda sekarang RSPAD Gatot Subroto), seiring dengan dibukanya pendidikan dokter tersebut pada tahun 1851 dibuka pendidikan bidan bagi wanita pribumi di Batavia oleh seorang dokter militer Belanda (Dr. W. Bosch) lulusan ini kemudian bekerja di RS dan di masyarakat. Mulai saat itu pelayanan kesehatan ibu dan anak dilakukan oleh dukun dan bidan.
3. Tahun 1952
pelayanan kesehatan ibu dan anak secara menyeluruh di msyarakat dilakukan dengan kursus tambahan yang dikenal dengan istilah kursus tambahan bidan (KTB) pada tahun 1953 di Yogyakarta yang akhirnya dilakukan pula di kota-kota besar lain. Seiring dengan pelatihan tersebut didirikanlah Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) dimana bidan sebagai penanggung jawab pelayanan kepada masyarakat. Pelayanan yang diberikan mencakup palayanan antenatal. Postnatal dan pemeriksaan bayi dan anak termasuk imunisasi dan penyuluhan gizi. Sedangkan diluar BKIA, bidan memberikan portolongan persalinan di rumah keluarga dan pergi melakukan kunjungan rumah sebagai upaya tindak lanjut dari pasca persalinan.
Dari BKIA inilah yang akhirnya menjadi suatu pelayanan yang terintegrasi kepada masyarakat yang dinamakan Puskesmas pada tahun 1957. Puskesmas memberikan pelayanan berorientasi pada wilayah kerja. Bidan yang bertugas di puskesmas barfungsi memberikan pelayan KIA termasuk pelayanan KB baik diluar gedung maupun didalam gedung.Pelayanan kebidanan yang diberikan di luar gedung adalah pelayanan kesehatan keluarga dan pelayanan di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Pelayanan di Posyandu mencakup empat kegiatan yaitu : pemeriksaan kehamilan, pelayanan KB, imunisasi, gizi dan kesehatan lingkungan.
4. Mulai tahun 1990
Mulai tahun 1990 Pelayanan kebidanan diberikan secara merata dan dekat masyarakat. Kebijakan ini melalui Inpres secara lisan pada sidang Kabinet tahun 1992 tentang perlunya mendidik bidan untuk penempatan bidan di desa. Adapun tugas pokok bidan di desa adalah sebagai pelaksana KIA kususnya dalam palayanan kesehatan ibu hamil, bersalin, nifas serta pelayanan kesehatan BBL, termasuk pembinaan dukun bayi. Dalam melaksanakan tugas pokoknya bidan didesa melaksanakan kunjungan rumah pada ibu dan anak yang memerlukannya, mengadakan pembinaan pada Posyandu di wilayah kerjanya serta mengembangkan pondok bersalin sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Hal tersebut di atas adalah pelayanan yang diberikan oleh bidan di desa. Pelayanan yang diberikan berorientasi pada kesehatan masyarakat berbeda dengan halnya bidan yang bekerja di RS dimana pelayanan yang diberikan berorientasi pada individu. Bidan di RS memberikan pelayanan poliklinik antenatal, gangguan kesehatan reproduksi di klinik KB, senam hamil, pendidikan perinatal, kamar bersalin, kamar operasi kebidanan, ruang nifas dan ruang perinatal.
Dalam melakukan tugasnya, bidan melakukan kolaborasi, konsultasi dan merujuk sesuai dengan kondisi pasien, kewenangan dan kemampuannya. Dalam keadaan keadaan darurat bidan juga diberi wewenang pelayanan kebidanan yang ditujukan untuk penyelamatan jiwa. Dalam aturan tersebut juga ditegaskan bahwa bidan dalam menjalankan praktek harus sesuai dengan kewenangan, kemampuan, pendidikan, pengalamam berdasarkan standar profesi. Pencapaian kemampuan bidan sesuai dengan Kepmenkes No. 900/2002 tidaklah mudah karena kewenangan yang diberikan oleh Depkes ini mengandung tuntutan akan kemampuan bidan sebagai tenaga profesional dan mandiri.5
Di era globalisasi ini, Indonesia juga meningkatkan pelayannan kebidanannya. Salah satunya adalah Pola asuhan kebidanan yang aman, berdasarkan fakta, memberikan kontribusi
pada keselamatan jiwa ibu dan bayi, dalam membantu ibu merasa Aman, Nyaman, yang melalui pendekatan secara emosional.
II.D. PERBANDINGAN KEBIDANAN DI INDONESIA DAN BELANDA
Jika dilihat dari sudut sejarah, maka kita mengerti bahwa Indonesia merupakan negara yang pernah berada dibawah jajahan Belanda. Maka secara tidak langsung kita bisa melihat bagaimana proses dari sistem kebidanan di Indonesia dipengaruhi oleh pemerintah Belanda di masa tersebut. Akan tetapi, kondisi pelayanan kesehatan di Indonesia belum dapat dibandingkan sejajar posisinya dengan kondisi di Belanda.
Negara Belanda merupakan salah satu negara di Eropa yang teguh berpendapat bahwa pendidikan bidan harus dilakukan secara terpisah dari pendidikan perawat. Menurut Belanda disiplin kedua bidang ini memerlukan sikap dan keterampilan yang berbeda. Perawatan umumnya bekerja secara hirarki di Rumah Sakit dibawah pengawasan sedangkan bidan diharapkan dapat bekerja secara mandiri di tengah masyarakat. Akademi pendidikan bidan yang pertama pada tahun 1861 di RS Universitas Amsterdam. Akademi ke dua dibuka pada tahun 1882 di Rotterdam dan yang ketiga pada tahun 1913 di Heerlen. Pada awalnya pendidikan bidan adalah 2 tahun, kemudian menjadi 3 tahun dan sejak 1994 menjadi 4 tahun. Pendidikannya dengan dasar SMA.6
Tugas pokok bidan di Belanda adalah keadaan normal dan merujuk keadaan yang abnormal ke dokter ahli kebidanan. Jika dilihat penegasan dari tugas pokok kebidanan maka secara falsafah sama dengan penerapan praktek kebidanan di Indonesia. Dimana, bidan akan memerlukan penanganan serta bantuan dari dokter terhadap pasien yang dianggap berat untuk ditangani langsung oleh bidan.
Walaupun demikian secara umum masih banyak kelemahan dari pengaplikasian pelayanannya.
Secara garis besar beberapa hambatan dari pelaksanaan kebidanan di Indonesia adalah sebagai berikut:
1) Ketua umum Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Emi Nurchasmi mengatakan Indonesia kekurangan bidan berkualitas, meskipun fasilitas cukup memadai. Akibatnya, angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi. Hal ini disampaikan oleh Ketua IBI saat saat
memberi sambutan dalam workshop kebidanan di Hotel J.S Luwansa,Jakarta Pusat, Senin (8/9/2014).7
2) Umur bidan relatif muda dan bukan dari desa sendiri.8 3) Kesulitan menyesuaikan diri di tengah masyarakat.9
4) Bidan bukan pegawai negeri sehingga tidak mempunyai penghasilan tetap.10
5) Kemampuan desa untuk membangun Polindes masih terbatas sehingga banyak di antara bidan desa tidak mendapat dukungan sarana dari masyarakat.11
6) Perkawinan bidan desa yang segera meningkatkan desa dan pindah mengikuti suami.12 7) Pendidikan belum mencukupi untuk mampu mandiri sehingga bidan kurang
berfungsi.13
8) Karena berusia muda, bidan belum mendapat kepercayaan masyarakat sehingga orientasi kepada dukun masih dominan.14
Indonesia juga terus berupaya memperbaiki sistem pelayanan kebidanan dengan selalu memperbaiki kekurangan yang ada.
BAB III. PENUTUP
Berdasarkan uraian diatas maka jelaslah dilihat beberapa perbedaan praktek antara Indonesia dan Belanda. Perbedaan signifikan terbagi atas:
a. Adanya penanaman kultur yang berimplikasi positif menjadi standar operasional bagi tenaga medik (bidan) dalam memberikan pelayanan kepada ibu dan anak.
1. Hal ini bisa dilihat pada penerapan konsep wise woman bahwa ibu hamil dapat memilih dimana dan bagaimana mereka akan melakukan proses persalinannya. Dimana para tenaga kesehatan lain (seperti dokter atau rumah sakit) wajib menerima keputusan mereka (yang tentunya dibarengi dengan rekaman medik sebagai acuan mereka). Sehingga tidak ada komersialisasi dalam proses persalinan.
2. Perlakuan Woman Friendly dan perilaku tenaga medis
Pada ibu hamil petugas medis wajib memberikan pelayanan prima termasuk dalam perlakuan pemeriksaan yang dibarengi dengan norma-norma susila dan etis. Hal ini khususnya, jika terdapat perlakuan yang tidak woman friendly, maka dokter atau tenaga medik akan dimasukkan ke dalam daftar hitam.
b. Pengelolaan manajemen dan fasilitas yang optimal
1. Dibentuk daftar indikasi pelayanan maternal secara komplit sehingga memberikan akses yang mudah bagi para tenaga medik dalam memberikan bantuan kesehatan.
7 http://www.kabar24.com/health/read/20140908/6/229179/angka-kematian-ibu-indonesia-kekurangan-bidan-berkualitas
8 http://dewisandre.blogspot.com/2012/11/peran-bidan-dalam-dunia-kesehatan.html
9 Ibid
10 Ibid
11 Ibid
12 Ibid
13 Ibid
2. Tersedianya Pusat kelahiran Amsterdam dan Woman Center Care yang terkoneksi dan diperuntukkan untuk semuanya.
III. A. KESIMPULAN
Melihat hal tersebut diatas, maka ditarik kesimpulan bahwa pembenahan perlu dilakukan oleh pemerintah Indonesia yang tidak saja pada tingkat fasilitas, manajemen, tenaga medik (sumber daya manusia) termasuk perlunya pemerintah memperhatikan standar kesehatan dan edukasi dari para calon tenaga medik (khususnya) bidan yang merupakan ujung tombak dari penanganan ibu hamil di level yang terkecil (di daerah-daerah).
III. B. SARAN