• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARTIKEL. Judul MONUMEN BELANDA DI DESA TEMUKUS, BANJAR, BULELENG, BALI DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR IPS DI SMP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ARTIKEL. Judul MONUMEN BELANDA DI DESA TEMUKUS, BANJAR, BULELENG, BALI DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR IPS DI SMP"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

ARTIKEL

Judul

“MONUMEN BELANDA DI DESA TEMUKUS, BANJAR, BULELENG, BALI DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR IPS

DI SMP

Oleh

KADEK VIRGOTAMA KRISSANTA 1014021016

JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA SINGARAJA

(2)

Monumen Belanda di Desa Temukus, Banjar, Buleleng, Bali dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar IPS

di SMP Oleh

Kadek Virgotama Krissanta, Dra. Desak Made Oka Purnawati, M.Hum, Ketut Sedana Arta, S.Pd, M.Pd

Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja e-mail: ([email protected], [email protected],

[email protected])@undiksha.ac.id

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui latar belakang pendirian Monumen Belanda di Desa Temukus, Banjar, Buleleng, (2) mengetahui wujud aksi perjuangan rakyat Buleleng melawan penjajahan Belanda , (3) mengetahui bagaimana potensi yang dimiliki Monumen Belanda yang dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran IPS Terpadu di SMP N 3 Banjar. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan dengan menggunakan metode kualitatif dengan tahap-tahap ; (1) metode penentuan lokasi penelitian, (2) metode penentuan informan, (3) metode pengumpulan data (observasi, wawancara, kajian dokumen), (4) metode penjamin keaslian data (triangulasi data, triangulasi metode), (5) metode analisis data, dan (6) metode penulisan. Hasil penelitian menunjukan bahwa, (1) adanya peristiwa sejarah yang melatarbelakangi pembangunan Monumen Belanda oleh Belanda yaitu untuk mengenang gugurnya pimpinan pasukan Belanda yang bernama Letnan Steigman dan De Nijs bersama 20 serdadu Belanda yang gugur dalam pertempuran melawan laskar Banjar pada tahun 1868. (2) Fungsi yang terkandung pada Monumen antara lain: keberanian, kepahlawanan dan rela berkorban. (3) Potensi Monumen Belanda Sebagai Media Pembelajaran IPS di SMP Negeri 3 Banjar dapat dijabarkan ke dalam silabus yang berbasis kurikulum 2013 pada kelas VIII semester ganjil.

(3)

ABSTRAK

This study aims to (1)knowing the background of dutch monument in temukus village, banjar, buleleng(2) knowing the form of army buleleng againts the dutch colonial (3)knowing how the potential of dutch monument which can be used as a source of learning IPS Terpadu in Smp N 3 Banjar. In this study, the data collected by using kualitatif method, which steps (1) method of determining the location of the study (2) method of determining the information (3) methods of data collection ( observation, interview, review of documents), (4) Guarantor method of data authenticity (triangulasi of data, triangulasi of method). (5) methods of data analysis and (6) method of writing. The results showed that (1) existence of historical events underlying the development of the dutch by the dutch monument is to commemorate the death of the leader of the dutch troops name Steigman Lieutenant and De Nijs with 20 dutch soldiers who died in battle againts of the Banjar army in 1868. (2) function of the monument are : educative function, inspirative function, recreative function, and socio-cultural function. (3) the potential of Dutch monument as a learning medium in Smp N 3 Banjar can be adjusted to reflect the 2013 syllabus curriculum based on class VIII of odd semester.

(4)

Monumen adalah bangunan atau tempat yang mempunyai nilai sejarah yang penting dan karena itu dipelihara dan dilindungi oleh Negara. Monumen juga diartikan dengan bangunan (berupa tugu) sebagai peringatan suatu peristiwa dalam sejarah (Marhijanto, 1995:414). Atau sesuatu benda yang sengaja dibuat untuk suatu peringatan kepada suatu peristiwa penting atau bersejarah (Poerwadarminta, 2003:774). Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar selalu menghargai jasa

pendahulunya yang berjasa terhadap

perkembangan bangsanya. Untuk

mengenang peristiwa besar tersebut

dibuatkanlah monumen. Umumnya

monumen yang dibangun berkaitan dengan perjuangan menentang penjajahan Belanda atau perjuangan untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Namun pembangunan monumen tidak hanya

dilakukan oleh pemerintah Republik

Indonesia tetapi juga telah dilakukan oleh Pemerintah Hindia-Belanda jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Temukus, Banjar, Buleleng, Bali terdapat sebuah monumen yang di bangun oleh

pemerintah kolonial Belanda untuk

memperingati gugurnya dua perwira

tentara Belanda (Letnan Steigman dan De Nijs) dan 20 prajurit Belanda dalam perang Banjar yang terjadi pada tahun 1868. Pembangunan monumen ini tidak terlepas

dari peristiwa perang Banjar yang terjadi pada tahun 1868.

Dengan gugurnya perwira

menengah Belanda yang cukup disegani yakni Letnan Steigman dan De Nijs bersama 20 serdadu Belanda lainnya maka untuk mengenang peristiwa tersebut pihak Belanda kemudian membangun Monumen yang saat ini berada di Desa Temukus dan berbatasan dengan Desa Cempaga dan oleh masyarakat sering disebut Monumen

Belanda. Setelah Indonesia merdeka

sekitar tahun 1962 menjelang peristiwa Trikora monumen Belanda ini sampai dihancurkan oleh penduduk setempat karena dianggap sebagai penghormatan kepada penjajah Belanda. Akan tetapi, pada tahun 1992 monumen Belanda ini

akhirnya dibangun kembali oleh

Pemerintah Daerah Tingkat II Buleleng dengan maksud agar catatan sejarah tidak dapat dihapus atau dihilangkan begitu saja. (Merayu Bagus T.Y dkk. 2000 :15).

Monumen Belanda ini memiliki keunikan dibandingkan dengan

monumen-monumen yang dibangun untuk

memperingati peristiwa saat Revolusi

Fisik. Keunikan monumen Belanda

tersebut, seperti didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai penghormatan atas gugurnya dua orang perwira tinggi Belanda dalam perang Banjar yang terjadi pada tahun 1868 dan 20 serdadu Belanda

(5)

lainnya. Keunikan lain dari Monumen Belanda yaitu monumen ini pernah

dihancurkan oleh masyarakat Desa

Temukus pada sekitar tahun 1962-1963 sebagai dampak dari peristiwa perebutan Irian Barat. Akan tetapi, pada tahun 1992 Monumen Belanda ini akhirnya dibangun kembali oleh Pemerintah Daerah Tingkat II Buleleng sebagai koreksi bahwa catatan

sejarah tidak dapat dihapus atau

dihilangkan begitu saja. Monumen

Belanda di Desa Temukus, Banjar, Buleleng juga sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai sumber belajar IPS di SMP kelas VIII semester ganjil yakni pada Standar Kompetensi “kolonialisme dan imperalisme Barat di Indonesia” dan Kompetensi Dasar “Menjelaskan proses

perkembangan kolonialisme dan

imperalisme Barat, serta pengaruh yang ditimbulkannya di berbagai daerah”

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang, fungsi serta potensinya sebagai sumber belajar IPS di kelas SMP. Kajian teori yang digunakan dalam penelitian ini menyangkut konsep

umum pendirian monumen yang

didalamnya dibahas tentang latar belakang pendirian sebuah monumen tersebut. Monumen juga memiliki beberapa fungsi di antaranya (1) fungsi edukatif yakni peran monumen tidak hanya sebagai sebuah bangunan masa lalu tetapi juga

dapat dijadikan sebagai media

pembelajaran, (2) fungsi inspiratif yakni bagaimana monumen dapat dijadikan inspirasi (menyangkut prilaku tokoh yang

diabadikan pada monumen) untuk

menciptakan kehidupan yang lebih baik, (3) fungsi rekreatif yang lebih merujuk kepada pemanfaatan monumen sebagai hiburan bagi masyarakat, dan (4) fungsi instruktif. Kemudian teori lain yang digunakan yaitu teori tentang sumber belajar.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

penelitian kualitatif yang berarti

menekankan pada pemecahan masalah yang bersifat kekinian menyangkut bidang pendidikan, mengenai latar belakang pendirian dan fungsi pada Monumen Belanda. Metode kualitatif di antaranya terdapat (1) Penentuan lokasi penelitian

yang bertempat di Desa Temukus,

Kec.Banjar, Buleleng Bali. Lokasi ini dipilih karena letak Monumen Belanda terdapat di Desa Temukus, Kec.Banjar, Buleleng Bali ; (2) Penentuan informasi . Informan yang dituju yaitu Kepala Desa Temukus yang mengetahui sejarah dan

latar belakang dari pembangunan

Monumen Belanda, Putu Sudirta selaku

tokoh desa/ penglingsir dan I Nyoman

(6)

N 3 Banjar; (3) Teknik pengumpulan data

(wawancara, observasi dan studi

dokumen); (4) Teknik penjamin keabsahan data (triangulasi data dan triangulasi metode); (5) Teknik analisis data dan teknik penulisan.

HASIL

Hasil dari penelitian ini menujukan

bahwa: (1) Pembangunan Monumen

Belanda oleh pemerintah kolonila Belanda

dilatarbelakangi oleh gugurnya dua

perwira tentara Belanda (Letnan Steigman dan De Nijs) dan 20 prajurit Belanda dalam perang Banjar yang terjadi pada tahun 1868. Pembangunan monumen ini tidak terlepas dari peristiwa perang Banjar yang terjadi pada tahun 1868, namun sekitar tahun 1962 menjelang peristiwa Trikora monumen Belanda ini sampai dihancurkan oleh penduduk setempat karena dianggap sebagai penghormatan kepada penjajah Belanda. Akan tetapi, pada tahun 1992 monumen Belanda ini

akhirnya dibangun kembali oleh

Pemerintah Daerah Tingkat II Buleleng;

(2) Fungsi yang terkandung pada

monumen belanda sebagai wujud aksi aksi perjuangan rakyat buleleng melawan penjajahan belanda antara lain ; (a) fungsi edukatif, (b) fungsi inspiratif, (c) fungsi rekreatif, (d) fungsi sosio-kultur ; (3) Potensi monumen Belanda sebagai sumber belajars di IPS SMP Negeri 3 Banjar diantaranya potensi Sejarah (artefak) dan potensi Geografi ( letak monumen).

PEMBAHASAN

Latar Belakang Pendirian Monumen Belanda di Desa Temukus.

Penaklukan Buleleng oleh Belanda pada tahun 1846, belum meruntuhkan

sama sekali sikap dan semangat

kepahlawanan raja dan rakyat Buleleng. Paska Perang Jagaraga , Kerajaan Buleleng merupakan ujung tombak pertama untuk menguasai Bali. Pax Nerlandica harus benar-benar terwujud sesuai dengan cita-cita Menteri jajahan Belanda JC Baud. Itu berarti Bali, Lombok dan pulau-pulau di timur harus benar-benar dibawah kontrol Batavia. Pondasi kekuasaan telah di tanamkan di Bali Utara dan birokrasi

(7)

pemerintahan kolonial bekerja sama dengan para bangsawan Bali keturunan penguasa tradisional zaman kerajaan untuk selanjutnya diberi wewenang memungut pajak dan upeti dari penduduk dan petani.

Di Banjar telah berkuasa seorang

Punggawa yang diangkat secara turun temurun. Ia bernama Ida Made Rai , diangkat sejak 1854 waktu masih berusia 17 tahun. Jadi, pengangkatan Raja

Buleleng setelah ditumpasnya

pemberontakan Gempol adalah 3 tahun setelah Ida Made Rai menjabat punggawa Banjar. Namun Ida Made Rai dianggap tidak loyal kepada Belanda sehingga membuat Belanda mencari jalan keluar dan memanfaatkan keterangan Ketut Liarta patih kerajaan Buleleng yang pro kepada Belanda sebagai informan yang memata-matai setiap gerak gerik punggawa muda ini.

Ketut Liarta mengatakan bahwa Ida Made Rai merupakan seorang penjudi yang terlalu asyik dengan permainan tajen. Tuduhan-tuduhan itu membuatnya Ida

Made Rai diasingkan ke Banyuwangi selama 1 tahun. Setelah kembali dari masa pengasingan, April 1868 Ida Made Rai dan 800 pasukannya memasuki kota Singaraja dan menghadap Raja Buleleng untuk

mencopot Ida Ketut Anom dan

mengangkat dirinya kembali sebagai punggawa Banjar. Untuk meredakan situasi, pemerintah Belanda memberikan janji dan harapan besar agar pasukan Ida Made Rai pulang kembali ke Banjar.Ida Made Rai diminta untuk menyerahkan diri, jika tidak Banjar akan diserbu. Ida Made Rai tidak pernah lagi ke Singaraja , akan tetapi di Banjar ia menyiapkan 2000 pasukan tempur yang siap menyerang Buleleng. ( Sastrodiwiryo Soegianto. 2007 :45).

Pada 18 Septemer 1868, pasukan Belanda mendarat di Temukus dan Heemskerk mengirim utusan ke Banjar untuk menemuai Ida Made Rai agar ia menyerahkan diri esok harinya. Tawaran itu bukan saja ditolak, akan tetapi I Kamasan juga ditangkap dengan alasan ia

(8)

adalah terpidana yang sudah dijatuhi hukuman penjara 12 tahun oleh Pengadilan di Buleleng Sebuah utusan dikirim lagi oleh Residen. Bahwa Ida Made Rai agar besok sudah menyerah. Jika hal tersebut tidak dilaksanakan maka Banjar benar-benar akan diserang. Pada 20 September 1868, Ida Made Rai tidak muncul dan pada pukul 10.30 pasukan Belanda bergerak

dari markasnya di Temukus untuk

selanjutnya menyerang ke Banjar. Pasukan

ini dipimpin langsung oleh Mayor

Heemskerk dan bermaksud untuk

menikam pertahanan Banjar melalui

sebuah jurang dekat Dencarik. (

Sastrodiwiryo Soegianto. 2007 :90).

Pasukan Belanda mendapat

perlawanan sengit dari rakyat Banjar yang bersenjatakan tombak menyerang pasukan Belanda. Pertempuran hebat pun terjadi sehingga menyebabkan Letnan Steigman dan Niys bersama 20 serdadu Belanda

gugur menjadi korban pertempuran

melawan laskar Banjar. Pada 3 Oktober 1868, Heemskerk mengelar serangan

kedua unutk menutup aib dan malu pada serangan pertama. Heemskerk bermaksud memukul Banjar melalui Kalianget. Di sini Heemskerk, Komandan Belanda itu tidak pernah memperhitungkan setrategi Ida Nyoman Ngurah yang pernah berhasil membobol Temukus dalam serangan mendadak pada malam hari.

Setelah perang Banjar selesai,

dengan gugurnya perwira menengah

Belanda yang cukup disegani yakni Letnan Steigman dan De Nijs bersama 20 serdadu Belanda yang gugur dalam pertempuran melawan laskar Banjar pada tahun 1868. Belanda membangun Monumen untuk mengenang pemimpin perang Banjar dari ppihak Belanda Steigman dan De Nijs sebagai bentuk penghormatan mereka dalam perang Banjar. Untuk mengenang peristiwa tersebut pihak Belanda kemudian membangun Monumen yang saat itu berada di Desa Temukus dan berbatasan dengan Desa Cempaga dan sering disebut Monumen Belanda. Monumen Belanda ini berdiri diatas lahan berukuran 1 are dan

(9)

tinggi bangunan memiliki tinggi kurang lebih delapan meter dengan bentuk segiempat mengerucut keatas. Monumen Belanda ini dibangun dengan dilapisi keramik putih. Akan tetapi sekitar tahun

1962 menjelang peristiwa Trikora

monumen Belanda ini dihancurkan oleh

penduduk setempat karena dianggap

sebagai penghormatan kepada penjajah Belanda. Akan tetapi, pada tahun 1992 monumen Belanda ini akhirnya dibangun kembali oleh Pemerintah Daerah Tingkat II Buleleng dengan maksud bahwa catatan sejarah tidak dapat dihapus. Drs. I Made Pageh M.Hum selaku dosen pendidikan sejarah di Universitas Pendidikan Ganesha

mengatakan bahwa “Tahun 1989 kita di

Jurusan Sejarah mengadakan kelompok pecinta sejarah di bawah kordinasi senior kita atas nama Prof Gde Widja. Lalu kita temukan dasar Monumen Belanda terus kita identifikasi dan bapak tulis di Bali

Post, dari gagasan itulah maka

pemerintah Buleleng membangun kembali monumen Belanda tersebut tahun 1992

walaupun dengan konsep yang salah sampai sekarang” (wawancara tanggal 13 September 2014).

Fungsi Yang Terkandung Pada Monumen Belanda Sebagai Wujud Aksi Aksi Perjuangan Rakyat Buleleng Melawan Penjajahan Belanda.

Fungsi dari Monumen Belanda di Desa Temukus bagi masyarakat Temukus, Kec. Banjar serta siswa-siswi SMP Negeri 3 Banjar, adalah sebagai berikut (1) fungsi edukatif dimana monument Belanda di Desa Temukus dapat dijadikan sebagai wahana pendidikan, sarana membagi pengetahuan (baik baru maupun lama), dan juga tempat untuk melakukan studi (Widja,1988: 49; Latief, 2006: 7). Unsur

pendidikan yang dimaksud adalah

bagaimana kita meneladani nilai-nilai sejarah yang terkandung pada monumen

tersebut; (2) fungsi inspiratif yang

dimaksud yaitu monumen Belanda di Desa

Temukus dibangun serta diharapkan

(10)

Temukus, Kec. Banjar khususnya

siswa-siswi SMP Negeri 3 Banjar. Hendaknya

tokoh-tokoh yang berperan dalam perang Banjar seperti Ida Made Rai yang mampu mengalahkan Letnan Steigman dan De Nijs bersama 20 pasukannya dapat menjadi inspirasi dalam artian positif menyangkut sikap-sikap dan keberanian

beliau ; (3) fungsi rekreatif yang dimaksud

yaitu Monumen Belanda di Desa

Temukus dapat memberikan suatu hiburan

dan daya tarik Pariwisata karena

Monumen Belanda ini memiliki letak yang setrategis untuk dijadikan sebuah objek wisata sejarah bagi masyarakat Temukus,

Kec. Banjar; (4) fungsi sosio-kultu yang

terdapat pada monumen Belanda yaitu keberadaan monumen tersebut menjadi saksi bisu bagaimana perjuangan yang dilakukan oleh rakyat Temukus, Kec. Banjar yang dipimpin oleh Ida Made Rai pada saat peristiwa Perang Banjar.

Potensi Monumen Belanda Sebagai Sumber belajar IPS di SMP Negeri 3 Banjar.

Dalam proses pembelajaran guru jarang menggunakan sumber belajar, sehingga proses pembelajaran menjadi pasif dan kurang bermanfaat, oleh karena itu paradigma lama diama orientasi belajar lebih berpusat pada guru harus mulai ditinggalkan dan diganti dengan orientasi belajar lebih berpusat pada siswa dengan cara guru menjadi fasilitator dengan menyediakan media pembelajaran dalam bentuk sumber visual maupun audio visual. Potensi Monumen Belanda, Desa

Temukus, Banjar, Buleleng sebagai

sumber belajar IPS di SMP dapat menambah pengetahuan siswa terhadap sejarah dalam usaha mempertahankan wilayah yang berkaitan dengan Monumen Belanda, Desa Temukus, Banjar, Buleleng. Monumen Belanda didirikan atas fakta sejarah yang mengatakan bahwa ditempat

tersebut pernah terjadi peristiwa

pertempuran antara pasukan pejuang pribumi dengan kolonial Belanda pada tahun 1868. Potensi monumen Belanda sebagai sumber belajar IPS di SMP dapat

(11)

dibagi menjadi dua yaitu potensi sejarah (latar belakang berdirinya monumen) dan potensi geografi (letak monumen). Potensi sejarah nyang dimaksud yaitu monumen Belanda ini memiliki peran penting dalam peristiwa revolusi fisik pada tahun1868 khususnya di daerah Buleleng, Bali. Monumen Belanda ini memiliki nilai dan fakta sejarah serta dapat dijadikan bukti sejarah bahwa di daerah Buleleng juga merupakan kota berjuang pada masa pemerintahah kolonial Belanda sedangkan potensi Geografi yang dimaksud yaitu monumen Belanda ini terletak di Banjar Labuhan Haji Desa Temukus Kecamatan Banjar, 3 km dari Lovina dan 13 km dari Singaraja. Lewat letak geografis tersebut monumen belanda dapat dijadikan sumber belajar IPS khususnya di SMP N 3 Banjar.

SIMPULAN

Pembangunan monumen Belanda di Desa Temukus dilatarbelakangi oleh Perang Banjar karena ketidakpuasan rakyat Banjar terhadap pemberhentian seorang Punggawa berusia muda dari golongan

Brahmana yang bernama Ida Made Rai. Pemberhentian itu dilanjutkan dengan

pengasingan Ida Made Rai ke

Banyuwangi. Inilah yang menjadi dari

pemberontakan rakyat Banjar yang

kemudian memaksa Pemerintah

Hindia-Belanda mengirim ekspedisi militer

keempat ke Bali pada bulan September 1868. Kedatangan Belanda ini mendapat perlawanan yang sangat sengit dan gigih dari rakyat Banjar. Dari pertempuran tersebut maka gugurlah dua perwira tentara Belanda (Letnan Steigman dan De Nijs) dan 20 prajurit Belanda dalam perang Banjar yang terjadi pada tahun 1868. Sehingga pemerintah kolonial Belanda membangun sebuah monumen untuk memperingatu gugurnya pahlawan mereka.

Monumen Belanda memiliki

beberapa fungsi yang amat penting bagi

generasi muda Desa Temukus serta siswa-siswi SMP Negeri 3 Banjar. Fungsi yang terkandung pada monumen tersebut antara lain: sebagai (1) sarana edukatif, (2) inspiratif, (3) rekreatif, dan (4)

(12)

sosio-kultur. Pemanfaatan Monumen Belanda sebagai sumber belajar IPS berbasis

kurikulum 2013 yaitu dengan

menggunakan pendekatan scientific

(Suprijono, 2009: 78; Rusman, 2010: 187; Tanredja, 2012: 49). Potensi monumen Belanda sebagai sumber belajar IPS di

SMP dapat dibagi menjadi dua yaitu potensi sejarah (latar belakang berdirinya monumen) dan potensi geografi (letak monumen).

DAFTAR RUJUKAN

Rusman. 2012. Model-Model

Pembelajaran Mengembangkan

Profesionalisme Guru. Jakarta:

Rajawali Pers.

Latief, Juraid Abdul. 2012. Manusia,

Filsafat dan Sejarah. Jakarta: PT. Bumi Aksara

Widja, I Gde.1988. Pengantar Ilmu

Sejarah” Sejarah dalam Perspektif

Pendidikan”. Semarang: Satya

Wacana.

Sastrodiwiryo Soegianto. 2007. Perang Banjar (1868). Denpasar :Pustaka Bali post

Merayu Bagus T.Y dkk. 2000. Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Rakyat Buleleng 1945 -1950. Bandung: Ganeca Exact.

Wawancara dengan Drs. I Made Pageh M.Hum tanggal 13 September 2014.

Marhijanto,Drs. Bambang.1995. Kamus

Lengkap Bahasa Indonesia

Popular.Surabaya: BintangTimur

Referensi

Dokumen terkait

Bapak Ginanjar Ibnu Solikhin, Bapak, Raymundus Galih Prasetya, dan Bapak Wisudanto selaku informan penelitian yang telah meluangkan waktu untuk berbagi pemikiran

Dengan tujuan penelitian ini adalah terciptanya pemerataan dan pemahaman materi pendidikan lingkungan hidup pada siswa pendidikan dasar, yang akan membentuk sikap

Oleh karena itu, peneliti ingin mencoba melakukan penelitian dengan judul “ PENGARUH PROFESIONALISME FISKUS, KEPUASAN KERJA, KOMITMEN ORGANISASI TERHADAP KINERJA FISKUS ( STUDI

Hasil analisa yang didapat dari data yang telah dilakukan implementasi server intrusion detection system maka didapatkan grafik yang menunjukkan bahwa IP address

[r]

Penurunan kualitas lingkungan ini dapat diidentifikasi dari perubahan komponen fisik, kimia dan biologi perairan di sekitar pantai (Wijayanti, 2007).Tujuan dari

Şekil 2.11: Kartal Ta ş ocaklar ı civar ı nda, Dolayoba Formasyonu’na ait kireçta ş lar ı ndan genel bir görüntü.. 28 Şekil 2.12: So ğ anl ı k E-5 kenar ı nda,