ARTIKEL
Judul
“MONUMEN BELANDA DI DESA TEMUKUS, BANJAR, BULELENG, BALI DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR IPS
DI SMP
Oleh
KADEK VIRGOTAMA KRISSANTA 1014021016
JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA SINGARAJA
Monumen Belanda di Desa Temukus, Banjar, Buleleng, Bali dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar IPS
di SMP Oleh
Kadek Virgotama Krissanta, Dra. Desak Made Oka Purnawati, M.Hum, Ketut Sedana Arta, S.Pd, M.Pd
Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja e-mail: ([email protected], [email protected],
[email protected])@undiksha.ac.id
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui latar belakang pendirian Monumen Belanda di Desa Temukus, Banjar, Buleleng, (2) mengetahui wujud aksi perjuangan rakyat Buleleng melawan penjajahan Belanda , (3) mengetahui bagaimana potensi yang dimiliki Monumen Belanda yang dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran IPS Terpadu di SMP N 3 Banjar. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan dengan menggunakan metode kualitatif dengan tahap-tahap ; (1) metode penentuan lokasi penelitian, (2) metode penentuan informan, (3) metode pengumpulan data (observasi, wawancara, kajian dokumen), (4) metode penjamin keaslian data (triangulasi data, triangulasi metode), (5) metode analisis data, dan (6) metode penulisan. Hasil penelitian menunjukan bahwa, (1) adanya peristiwa sejarah yang melatarbelakangi pembangunan Monumen Belanda oleh Belanda yaitu untuk mengenang gugurnya pimpinan pasukan Belanda yang bernama Letnan Steigman dan De Nijs bersama 20 serdadu Belanda yang gugur dalam pertempuran melawan laskar Banjar pada tahun 1868. (2) Fungsi yang terkandung pada Monumen antara lain: keberanian, kepahlawanan dan rela berkorban. (3) Potensi Monumen Belanda Sebagai Media Pembelajaran IPS di SMP Negeri 3 Banjar dapat dijabarkan ke dalam silabus yang berbasis kurikulum 2013 pada kelas VIII semester ganjil.
ABSTRAK
This study aims to (1)knowing the background of dutch monument in temukus village, banjar, buleleng(2) knowing the form of army buleleng againts the dutch colonial (3)knowing how the potential of dutch monument which can be used as a source of learning IPS Terpadu in Smp N 3 Banjar. In this study, the data collected by using kualitatif method, which steps (1) method of determining the location of the study (2) method of determining the information (3) methods of data collection ( observation, interview, review of documents), (4) Guarantor method of data authenticity (triangulasi of data, triangulasi of method). (5) methods of data analysis and (6) method of writing. The results showed that (1) existence of historical events underlying the development of the dutch by the dutch monument is to commemorate the death of the leader of the dutch troops name Steigman Lieutenant and De Nijs with 20 dutch soldiers who died in battle againts of the Banjar army in 1868. (2) function of the monument are : educative function, inspirative function, recreative function, and socio-cultural function. (3) the potential of Dutch monument as a learning medium in Smp N 3 Banjar can be adjusted to reflect the 2013 syllabus curriculum based on class VIII of odd semester.
Monumen adalah bangunan atau tempat yang mempunyai nilai sejarah yang penting dan karena itu dipelihara dan dilindungi oleh Negara. Monumen juga diartikan dengan bangunan (berupa tugu) sebagai peringatan suatu peristiwa dalam sejarah (Marhijanto, 1995:414). Atau sesuatu benda yang sengaja dibuat untuk suatu peringatan kepada suatu peristiwa penting atau bersejarah (Poerwadarminta, 2003:774). Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar selalu menghargai jasa
pendahulunya yang berjasa terhadap
perkembangan bangsanya. Untuk
mengenang peristiwa besar tersebut
dibuatkanlah monumen. Umumnya
monumen yang dibangun berkaitan dengan perjuangan menentang penjajahan Belanda atau perjuangan untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Namun pembangunan monumen tidak hanya
dilakukan oleh pemerintah Republik
Indonesia tetapi juga telah dilakukan oleh Pemerintah Hindia-Belanda jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Temukus, Banjar, Buleleng, Bali terdapat sebuah monumen yang di bangun oleh
pemerintah kolonial Belanda untuk
memperingati gugurnya dua perwira
tentara Belanda (Letnan Steigman dan De Nijs) dan 20 prajurit Belanda dalam perang Banjar yang terjadi pada tahun 1868. Pembangunan monumen ini tidak terlepas
dari peristiwa perang Banjar yang terjadi pada tahun 1868.
Dengan gugurnya perwira
menengah Belanda yang cukup disegani yakni Letnan Steigman dan De Nijs bersama 20 serdadu Belanda lainnya maka untuk mengenang peristiwa tersebut pihak Belanda kemudian membangun Monumen yang saat ini berada di Desa Temukus dan berbatasan dengan Desa Cempaga dan oleh masyarakat sering disebut Monumen
Belanda. Setelah Indonesia merdeka
sekitar tahun 1962 menjelang peristiwa Trikora monumen Belanda ini sampai dihancurkan oleh penduduk setempat karena dianggap sebagai penghormatan kepada penjajah Belanda. Akan tetapi, pada tahun 1992 monumen Belanda ini
akhirnya dibangun kembali oleh
Pemerintah Daerah Tingkat II Buleleng dengan maksud agar catatan sejarah tidak dapat dihapus atau dihilangkan begitu saja. (Merayu Bagus T.Y dkk. 2000 :15).
Monumen Belanda ini memiliki keunikan dibandingkan dengan
monumen-monumen yang dibangun untuk
memperingati peristiwa saat Revolusi
Fisik. Keunikan monumen Belanda
tersebut, seperti didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai penghormatan atas gugurnya dua orang perwira tinggi Belanda dalam perang Banjar yang terjadi pada tahun 1868 dan 20 serdadu Belanda
lainnya. Keunikan lain dari Monumen Belanda yaitu monumen ini pernah
dihancurkan oleh masyarakat Desa
Temukus pada sekitar tahun 1962-1963 sebagai dampak dari peristiwa perebutan Irian Barat. Akan tetapi, pada tahun 1992 Monumen Belanda ini akhirnya dibangun kembali oleh Pemerintah Daerah Tingkat II Buleleng sebagai koreksi bahwa catatan
sejarah tidak dapat dihapus atau
dihilangkan begitu saja. Monumen
Belanda di Desa Temukus, Banjar, Buleleng juga sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai sumber belajar IPS di SMP kelas VIII semester ganjil yakni pada Standar Kompetensi “kolonialisme dan imperalisme Barat di Indonesia” dan Kompetensi Dasar “Menjelaskan proses
perkembangan kolonialisme dan
imperalisme Barat, serta pengaruh yang ditimbulkannya di berbagai daerah”
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang, fungsi serta potensinya sebagai sumber belajar IPS di kelas SMP. Kajian teori yang digunakan dalam penelitian ini menyangkut konsep
umum pendirian monumen yang
didalamnya dibahas tentang latar belakang pendirian sebuah monumen tersebut. Monumen juga memiliki beberapa fungsi di antaranya (1) fungsi edukatif yakni peran monumen tidak hanya sebagai sebuah bangunan masa lalu tetapi juga
dapat dijadikan sebagai media
pembelajaran, (2) fungsi inspiratif yakni bagaimana monumen dapat dijadikan inspirasi (menyangkut prilaku tokoh yang
diabadikan pada monumen) untuk
menciptakan kehidupan yang lebih baik, (3) fungsi rekreatif yang lebih merujuk kepada pemanfaatan monumen sebagai hiburan bagi masyarakat, dan (4) fungsi instruktif. Kemudian teori lain yang digunakan yaitu teori tentang sumber belajar.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
penelitian kualitatif yang berarti
menekankan pada pemecahan masalah yang bersifat kekinian menyangkut bidang pendidikan, mengenai latar belakang pendirian dan fungsi pada Monumen Belanda. Metode kualitatif di antaranya terdapat (1) Penentuan lokasi penelitian
yang bertempat di Desa Temukus,
Kec.Banjar, Buleleng Bali. Lokasi ini dipilih karena letak Monumen Belanda terdapat di Desa Temukus, Kec.Banjar, Buleleng Bali ; (2) Penentuan informasi . Informan yang dituju yaitu Kepala Desa Temukus yang mengetahui sejarah dan
latar belakang dari pembangunan
Monumen Belanda, Putu Sudirta selaku
tokoh desa/ penglingsir dan I Nyoman
N 3 Banjar; (3) Teknik pengumpulan data
(wawancara, observasi dan studi
dokumen); (4) Teknik penjamin keabsahan data (triangulasi data dan triangulasi metode); (5) Teknik analisis data dan teknik penulisan.
HASIL
Hasil dari penelitian ini menujukan
bahwa: (1) Pembangunan Monumen
Belanda oleh pemerintah kolonila Belanda
dilatarbelakangi oleh gugurnya dua
perwira tentara Belanda (Letnan Steigman dan De Nijs) dan 20 prajurit Belanda dalam perang Banjar yang terjadi pada tahun 1868. Pembangunan monumen ini tidak terlepas dari peristiwa perang Banjar yang terjadi pada tahun 1868, namun sekitar tahun 1962 menjelang peristiwa Trikora monumen Belanda ini sampai dihancurkan oleh penduduk setempat karena dianggap sebagai penghormatan kepada penjajah Belanda. Akan tetapi, pada tahun 1992 monumen Belanda ini
akhirnya dibangun kembali oleh
Pemerintah Daerah Tingkat II Buleleng;
(2) Fungsi yang terkandung pada
monumen belanda sebagai wujud aksi aksi perjuangan rakyat buleleng melawan penjajahan belanda antara lain ; (a) fungsi edukatif, (b) fungsi inspiratif, (c) fungsi rekreatif, (d) fungsi sosio-kultur ; (3) Potensi monumen Belanda sebagai sumber belajars di IPS SMP Negeri 3 Banjar diantaranya potensi Sejarah (artefak) dan potensi Geografi ( letak monumen).
PEMBAHASAN
Latar Belakang Pendirian Monumen Belanda di Desa Temukus.
Penaklukan Buleleng oleh Belanda pada tahun 1846, belum meruntuhkan
sama sekali sikap dan semangat
kepahlawanan raja dan rakyat Buleleng. Paska Perang Jagaraga , Kerajaan Buleleng merupakan ujung tombak pertama untuk menguasai Bali. Pax Nerlandica harus benar-benar terwujud sesuai dengan cita-cita Menteri jajahan Belanda JC Baud. Itu berarti Bali, Lombok dan pulau-pulau di timur harus benar-benar dibawah kontrol Batavia. Pondasi kekuasaan telah di tanamkan di Bali Utara dan birokrasi
pemerintahan kolonial bekerja sama dengan para bangsawan Bali keturunan penguasa tradisional zaman kerajaan untuk selanjutnya diberi wewenang memungut pajak dan upeti dari penduduk dan petani.
Di Banjar telah berkuasa seorang
Punggawa yang diangkat secara turun temurun. Ia bernama Ida Made Rai , diangkat sejak 1854 waktu masih berusia 17 tahun. Jadi, pengangkatan Raja
Buleleng setelah ditumpasnya
pemberontakan Gempol adalah 3 tahun setelah Ida Made Rai menjabat punggawa Banjar. Namun Ida Made Rai dianggap tidak loyal kepada Belanda sehingga membuat Belanda mencari jalan keluar dan memanfaatkan keterangan Ketut Liarta patih kerajaan Buleleng yang pro kepada Belanda sebagai informan yang memata-matai setiap gerak gerik punggawa muda ini.
Ketut Liarta mengatakan bahwa Ida Made Rai merupakan seorang penjudi yang terlalu asyik dengan permainan tajen. Tuduhan-tuduhan itu membuatnya Ida
Made Rai diasingkan ke Banyuwangi selama 1 tahun. Setelah kembali dari masa pengasingan, April 1868 Ida Made Rai dan 800 pasukannya memasuki kota Singaraja dan menghadap Raja Buleleng untuk
mencopot Ida Ketut Anom dan
mengangkat dirinya kembali sebagai punggawa Banjar. Untuk meredakan situasi, pemerintah Belanda memberikan janji dan harapan besar agar pasukan Ida Made Rai pulang kembali ke Banjar.Ida Made Rai diminta untuk menyerahkan diri, jika tidak Banjar akan diserbu. Ida Made Rai tidak pernah lagi ke Singaraja , akan tetapi di Banjar ia menyiapkan 2000 pasukan tempur yang siap menyerang Buleleng. ( Sastrodiwiryo Soegianto. 2007 :45).
Pada 18 Septemer 1868, pasukan Belanda mendarat di Temukus dan Heemskerk mengirim utusan ke Banjar untuk menemuai Ida Made Rai agar ia menyerahkan diri esok harinya. Tawaran itu bukan saja ditolak, akan tetapi I Kamasan juga ditangkap dengan alasan ia
adalah terpidana yang sudah dijatuhi hukuman penjara 12 tahun oleh Pengadilan di Buleleng Sebuah utusan dikirim lagi oleh Residen. Bahwa Ida Made Rai agar besok sudah menyerah. Jika hal tersebut tidak dilaksanakan maka Banjar benar-benar akan diserang. Pada 20 September 1868, Ida Made Rai tidak muncul dan pada pukul 10.30 pasukan Belanda bergerak
dari markasnya di Temukus untuk
selanjutnya menyerang ke Banjar. Pasukan
ini dipimpin langsung oleh Mayor
Heemskerk dan bermaksud untuk
menikam pertahanan Banjar melalui
sebuah jurang dekat Dencarik. (
Sastrodiwiryo Soegianto. 2007 :90).
Pasukan Belanda mendapat
perlawanan sengit dari rakyat Banjar yang bersenjatakan tombak menyerang pasukan Belanda. Pertempuran hebat pun terjadi sehingga menyebabkan Letnan Steigman dan Niys bersama 20 serdadu Belanda
gugur menjadi korban pertempuran
melawan laskar Banjar. Pada 3 Oktober 1868, Heemskerk mengelar serangan
kedua unutk menutup aib dan malu pada serangan pertama. Heemskerk bermaksud memukul Banjar melalui Kalianget. Di sini Heemskerk, Komandan Belanda itu tidak pernah memperhitungkan setrategi Ida Nyoman Ngurah yang pernah berhasil membobol Temukus dalam serangan mendadak pada malam hari.
Setelah perang Banjar selesai,
dengan gugurnya perwira menengah
Belanda yang cukup disegani yakni Letnan Steigman dan De Nijs bersama 20 serdadu Belanda yang gugur dalam pertempuran melawan laskar Banjar pada tahun 1868. Belanda membangun Monumen untuk mengenang pemimpin perang Banjar dari ppihak Belanda Steigman dan De Nijs sebagai bentuk penghormatan mereka dalam perang Banjar. Untuk mengenang peristiwa tersebut pihak Belanda kemudian membangun Monumen yang saat itu berada di Desa Temukus dan berbatasan dengan Desa Cempaga dan sering disebut Monumen Belanda. Monumen Belanda ini berdiri diatas lahan berukuran 1 are dan
tinggi bangunan memiliki tinggi kurang lebih delapan meter dengan bentuk segiempat mengerucut keatas. Monumen Belanda ini dibangun dengan dilapisi keramik putih. Akan tetapi sekitar tahun
1962 menjelang peristiwa Trikora
monumen Belanda ini dihancurkan oleh
penduduk setempat karena dianggap
sebagai penghormatan kepada penjajah Belanda. Akan tetapi, pada tahun 1992 monumen Belanda ini akhirnya dibangun kembali oleh Pemerintah Daerah Tingkat II Buleleng dengan maksud bahwa catatan sejarah tidak dapat dihapus. Drs. I Made Pageh M.Hum selaku dosen pendidikan sejarah di Universitas Pendidikan Ganesha
mengatakan bahwa “Tahun 1989 kita di
Jurusan Sejarah mengadakan kelompok pecinta sejarah di bawah kordinasi senior kita atas nama Prof Gde Widja. Lalu kita temukan dasar Monumen Belanda terus kita identifikasi dan bapak tulis di Bali
Post, dari gagasan itulah maka
pemerintah Buleleng membangun kembali monumen Belanda tersebut tahun 1992
walaupun dengan konsep yang salah sampai sekarang” (wawancara tanggal 13 September 2014).
Fungsi Yang Terkandung Pada Monumen Belanda Sebagai Wujud Aksi Aksi Perjuangan Rakyat Buleleng Melawan Penjajahan Belanda.
Fungsi dari Monumen Belanda di Desa Temukus bagi masyarakat Temukus, Kec. Banjar serta siswa-siswi SMP Negeri 3 Banjar, adalah sebagai berikut (1) fungsi edukatif dimana monument Belanda di Desa Temukus dapat dijadikan sebagai wahana pendidikan, sarana membagi pengetahuan (baik baru maupun lama), dan juga tempat untuk melakukan studi (Widja,1988: 49; Latief, 2006: 7). Unsur
pendidikan yang dimaksud adalah
bagaimana kita meneladani nilai-nilai sejarah yang terkandung pada monumen
tersebut; (2) fungsi inspiratif yang
dimaksud yaitu monumen Belanda di Desa
Temukus dibangun serta diharapkan
Temukus, Kec. Banjar khususnya
siswa-siswi SMP Negeri 3 Banjar. Hendaknya
tokoh-tokoh yang berperan dalam perang Banjar seperti Ida Made Rai yang mampu mengalahkan Letnan Steigman dan De Nijs bersama 20 pasukannya dapat menjadi inspirasi dalam artian positif menyangkut sikap-sikap dan keberanian
beliau ; (3) fungsi rekreatif yang dimaksud
yaitu Monumen Belanda di Desa
Temukus dapat memberikan suatu hiburan
dan daya tarik Pariwisata karena
Monumen Belanda ini memiliki letak yang setrategis untuk dijadikan sebuah objek wisata sejarah bagi masyarakat Temukus,
Kec. Banjar; (4) fungsi sosio-kultu yang
terdapat pada monumen Belanda yaitu keberadaan monumen tersebut menjadi saksi bisu bagaimana perjuangan yang dilakukan oleh rakyat Temukus, Kec. Banjar yang dipimpin oleh Ida Made Rai pada saat peristiwa Perang Banjar.
Potensi Monumen Belanda Sebagai Sumber belajar IPS di SMP Negeri 3 Banjar.
Dalam proses pembelajaran guru jarang menggunakan sumber belajar, sehingga proses pembelajaran menjadi pasif dan kurang bermanfaat, oleh karena itu paradigma lama diama orientasi belajar lebih berpusat pada guru harus mulai ditinggalkan dan diganti dengan orientasi belajar lebih berpusat pada siswa dengan cara guru menjadi fasilitator dengan menyediakan media pembelajaran dalam bentuk sumber visual maupun audio visual. Potensi Monumen Belanda, Desa
Temukus, Banjar, Buleleng sebagai
sumber belajar IPS di SMP dapat menambah pengetahuan siswa terhadap sejarah dalam usaha mempertahankan wilayah yang berkaitan dengan Monumen Belanda, Desa Temukus, Banjar, Buleleng. Monumen Belanda didirikan atas fakta sejarah yang mengatakan bahwa ditempat
tersebut pernah terjadi peristiwa
pertempuran antara pasukan pejuang pribumi dengan kolonial Belanda pada tahun 1868. Potensi monumen Belanda sebagai sumber belajar IPS di SMP dapat
dibagi menjadi dua yaitu potensi sejarah (latar belakang berdirinya monumen) dan potensi geografi (letak monumen). Potensi sejarah nyang dimaksud yaitu monumen Belanda ini memiliki peran penting dalam peristiwa revolusi fisik pada tahun1868 khususnya di daerah Buleleng, Bali. Monumen Belanda ini memiliki nilai dan fakta sejarah serta dapat dijadikan bukti sejarah bahwa di daerah Buleleng juga merupakan kota berjuang pada masa pemerintahah kolonial Belanda sedangkan potensi Geografi yang dimaksud yaitu monumen Belanda ini terletak di Banjar Labuhan Haji Desa Temukus Kecamatan Banjar, 3 km dari Lovina dan 13 km dari Singaraja. Lewat letak geografis tersebut monumen belanda dapat dijadikan sumber belajar IPS khususnya di SMP N 3 Banjar.
SIMPULAN
Pembangunan monumen Belanda di Desa Temukus dilatarbelakangi oleh Perang Banjar karena ketidakpuasan rakyat Banjar terhadap pemberhentian seorang Punggawa berusia muda dari golongan
Brahmana yang bernama Ida Made Rai. Pemberhentian itu dilanjutkan dengan
pengasingan Ida Made Rai ke
Banyuwangi. Inilah yang menjadi dari
pemberontakan rakyat Banjar yang
kemudian memaksa Pemerintah
Hindia-Belanda mengirim ekspedisi militer
keempat ke Bali pada bulan September 1868. Kedatangan Belanda ini mendapat perlawanan yang sangat sengit dan gigih dari rakyat Banjar. Dari pertempuran tersebut maka gugurlah dua perwira tentara Belanda (Letnan Steigman dan De Nijs) dan 20 prajurit Belanda dalam perang Banjar yang terjadi pada tahun 1868. Sehingga pemerintah kolonial Belanda membangun sebuah monumen untuk memperingatu gugurnya pahlawan mereka.
Monumen Belanda memiliki
beberapa fungsi yang amat penting bagi
generasi muda Desa Temukus serta siswa-siswi SMP Negeri 3 Banjar. Fungsi yang terkandung pada monumen tersebut antara lain: sebagai (1) sarana edukatif, (2) inspiratif, (3) rekreatif, dan (4)
sosio-kultur. Pemanfaatan Monumen Belanda sebagai sumber belajar IPS berbasis
kurikulum 2013 yaitu dengan
menggunakan pendekatan scientific
(Suprijono, 2009: 78; Rusman, 2010: 187; Tanredja, 2012: 49). Potensi monumen Belanda sebagai sumber belajar IPS di
SMP dapat dibagi menjadi dua yaitu potensi sejarah (latar belakang berdirinya monumen) dan potensi geografi (letak monumen).
DAFTAR RUJUKAN
Rusman. 2012. Model-Model
Pembelajaran Mengembangkan
Profesionalisme Guru. Jakarta:
Rajawali Pers.
Latief, Juraid Abdul. 2012. Manusia,
Filsafat dan Sejarah. Jakarta: PT. Bumi Aksara
Widja, I Gde.1988. Pengantar Ilmu
Sejarah” Sejarah dalam Perspektif
Pendidikan”. Semarang: Satya
Wacana.
Sastrodiwiryo Soegianto. 2007. Perang Banjar (1868). Denpasar :Pustaka Bali post
Merayu Bagus T.Y dkk. 2000. Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Rakyat Buleleng 1945 -1950. Bandung: Ganeca Exact.
Wawancara dengan Drs. I Made Pageh M.Hum tanggal 13 September 2014.
Marhijanto,Drs. Bambang.1995. Kamus
Lengkap Bahasa Indonesia
Popular.Surabaya: BintangTimur