LOKASI SASTRA DALAM SEJARAH DAN ESTETIKA Manneke Budiman
Universitas Indonesia [email protected]
Pengantar
Kian hari, seiring dengan perjalanan waktu, pengertian sastra menjadi kian mengabur alih-alih menjadi lebih jelas. Kini, dari bentuk puisi yang sangat tradisional hingga ke fenomena jenis tulisan yang disebut fiksi mini bisa dengan luwes disebut sebagai ‘sastra’. Tidak banyak yang mau repot atau pusing untuk mempertanyakan ‘kesastraan’ karya-karya itu karena memang percuma. Sama halnya dengan setiap orang yang menulis dan menerbitkan karya tulisnya bisa dengan mudah menyebut diri, atau mendapat predikat, ‘sastrawan’, dan kalaupun ada yang menggugat, hal itu bukanlah sebagai akibat dari dipertanyakannya bobot tulisan mereka melainkan lebih sering karena tingkah polah mereka di mata publik. Heboh buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh (2014), yang memasukkan nama Denny J.A. sebagai salah satu tokoh berpengaruh tersebut, adalah ilustrasi bagi persoalan yang saya sebutkan itu. Apa itu sastra dan siapa itu sastrawan menjadi pertanyaan yang tek pernah terjawab.
Persoalan lain yang tak berhenti dikutak-kutik adalah periodisasi sastra. Kapan sesungguhnya sastra Indonesia (modern) dimulai dan apa sebab musabab munculnya suatu periode baru dalam riwayat sastra Indonesia, misalnya, hingga hari ini masih terngiang gaungnya di benak banyak orang. Bagaimana sastra semestinya ditempatkan dalam ruang dan waktu itulah inti permasalahannya. Pertanyaan ini tak bisa dilepaskan dari persoalan pertama, yakni bagaimana sebuah karya dinilai pada suatu konteks tempat dan zaman agar layak untuk disebut ‘sastra’, dan penulisnya pun pantas diberi gelar ‘sastrawan.’ Dua hal yang saya lontarkan ini baunya sudah usang tapi menolak untuk disingkirkan. Maka, ketika saat ini kita berbicara tentang “Sastra kita dulu, kini dan nanti”, tak bisa dicegah, persoalan-persoalan itu kembali mengemuka dan, suka atau tidak suka, kita perlu menengoknya kembali agar lintasan sastra ke depan menjadi lebih jelas di mata kita.
Apa yang kita inginkan sebagai bangsa berkenaan dengan kesusastraan kita? Peranan baru apa, jika ada, yang menurut pandangan kita perlu dimainkan oleh para penulis kita kini agar kita bisa menerima mereka tidak hanya sebagai penulis tetapi juga sebagai ‘sastrawan’? Dua hal ini, bagi saya, adalah penting untuk digali kemungkinan-kemungkinannya. Sesudah 70 tahun merdeka, kita tidak bisa terus-menerus gamang dan heboh karena inilah saatnya untuk secara serius merenungkan dan memikirkan arah sastra kita, yang boleh jadi bisa mengungkap pula ke mana arah perkembangan bangsa ini ke depan. Dengan demikian, estetika yang ingin saya bicarakan adalah estetika yang terhistorisasi, bukan estetika di dalam ruang vakum ataupun estetika yang skizofren—terperangkap dalam kekinian, tanpa masa lalu dan tanpa masa depan. Asumsi dasarnya adalah estetika berubah dari masa ke masa, dan perubahan itu khususnya terjadi karena zaman dan tempat di mana perubahan estetika itu terjadi melahirkan aspirasi-aspirasi atau tuntutan-tuntutan baru.
Romantisisme dan nasionalisme Pujangga Baru
Angkatan Poedjangga Baroe (Pujangga Baru), yang resminya lahir pada 1933 dengan terbitnya majalah Poedjangga Baroe, adalah contoh sebuah gerakan estetik yang oleh zamannya dilontarkan pada persimpangan antara estetika Romantisisme dan tuntutan nasionalisme melalui modernisasi kebudayaan. Dipelopori para sastrawan seperti Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, dan Armijn Pane, kelompok ini terbentuk sebagai reaksi atas sensor ketat penerbit negara Balai Pustaka. Ada keyakinan bahwa kemajuan hanya dapat dicapai dengan mengadopsi modernitas, tetapi pada saat sama, bentuk-bentuk serta perangkat sastra yang mereka gunakan kental dilandasi oleh gagasan-gagasan Romantik.
Kedua kutub pemikiran ini akan sulit dijelaskan persinggungannya apabila tidak dipahami di dalam konteks zamannya di Hindia Belanda, yang telah menjadi bagian dari zaman pergerakan (age in motion). Di mana-mana terjadi kegelisahan dan kejemuan dengan keadaan yang lamban berubah, sementara gairah pencarian baru dan penjelajahan imajinasi makin sulit dibendung luapan energinya. Pada situasi demikian, pengarang dituntut kembali untuk menjalankan peran sebagai ‘nabi’ yang menunjukkan jalan bagi masyarakatnya untuk keluar dari sumbat kebuntuan. Romantisisme yang ditandai oleh luapan energi yang melimpah ruah bertemu dengan semangat untuk membebaskan diri dan meraih kesetaraan dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Nasionalisme sendiri bahkan oleh banyak pemikir dianggap sebagai wujud dari gagasan romantik yang mengidealkan bangsa sebagai produk relatif baru dari modernitas. Kontradiksi yang bermakna ini hanya mungkin terjadi di dunia kolonial yang mencita-citakan suatu kebebasan.
jelas-jelas bukan tradisi bentukan kolonialisme tetapi praktik-praktik dan nilai-nilai yang bisa menunjang terbentuknya Indonesia merdeka di masa depan. Maka, alih-alih menjumpai adanya dua kutub pandangan yang berseberangan, kita sebetulnya menyaksikan romantisasi yang sama terhadap masa depan, walaupun sumber gagasan yang melahirkan visi romantik itu berbeda pada keduanya. Peran sasrawan, dalam konteks ini, adalah sebagai penunjuk jalan ke depan bagi masyarakatnya.
Periode Revolusi
Pada masa Revolusi, justru nuansa modernis yang diangkat STA kian kental dalam membentuk gagasan-gagasan nasionalis para sastrawan. Bukan modernitas kolonial yang penuh dengan inkonsistensi dan kontradiksi yang diserap oleh para sastrawan era Revolusi antara 1942 dan 1949, melainkan modernitas Barat yang dibayangkan ‘murni’ dan ‘universal’ untuk kemaslahatan siapa saja. Jadi, ada romantisasi juga dalam hal ini terhadap modernitas Barat itu. Para sastrawan, seperti Rivai Apin, Chairil Anwar, dan Idrus, dengan penuh kegairahan menyerap nilai-nilai modernis Barat yang diyakini akan dapat mendorong Indonesia yang bebas untuk menjadi warga dunia yang internasional. Sastrawan memahami peranannya di dalam kancah revolusi yang penuh ketidakpastian ini secara heroik, yakni bahwa mereka memimpin perjuangan di bidang kebudayaan dan peradaban, dengan pena sebagai senjatanya. Mereka anti-kolonial tetapi tidak anti-Barat. Tanpa sungkan ataupun prasangka, karya-karya sastrawan Barat diterjemahkan atau disadur secara masif dan turut menentukan bentuk sastra yang dominan pada masa itu, yang ditandai dengan efisiensi penggunaan bahasa, metafor-metafor individual, serta kebebasan bentuk (lihat Foulcher 2009:835-853).1
Mereka ini menggunakan gagasan-gagasan modernitas Barat untuk melancarkan kritik terhadap praktik modernis kolonial yang diterapkan di negeri jajahan oleh penguasa kolonial. Diperlihatkan bagaimana nilai-nilai yang semestinya universal dan mendukung kesetaraan di koloni justru digunakan untuk mengukuhkan superioritas penjajah atas kaum pribumi serta sebagai sarana untuk mempertahankan diskriminasi. Praktik kekuasaan kolonial dibenturkan sendiri ke nilai-nilai yang dijadikannya acuan. Hal ini khususnya tampak cukup jelas dalam cerpen-cerpen saduran Idrus dari karya-karya pengarang Eropa (Foulcher 2009:840-843). Namun, modernitas yang diangankan para sastrawan kita bukanlah tanpa biaya dan korban. Dalam konteks sejarah sastra di Indonesia, proses modernisasi pertama-tama terlihat jelas pada penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa baku sastra, menggantikan bahasa Melayu rendah yang marak dipakai hingga 1930an dan merongrong kewibawaan Balai Pustaka sebagai lembaga resmi negara. Pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa sastra tidak hanya meminggirkan sastra-sastra daerah yang berbasis kelisanan dan diungkapkan dalam bahasa daerah, tetapi juga menimbulkan keterasingan di kalangan khalayak sastra sendiri (Malna 2000:332-333). Sebagai akibatnya, lanjut Malna, banyak puisi Indonesia bersuasana gelap dan muram, serta menceritakan perasaan kesepian.
Estetika dan sensibilitas baru yang diperkenalkan oleh Chairil Anwar dan kawan-kawan, yang mereka peroleh dari sejawat sastrawan di Eropa, mungkin telah melontarkan Indonesia ke gerbang modernitas, tetapi ada banyak yang tertinggalkan dalam proses ini. Lokalitas yang mewujud dalam sastra-sastra daerah justru kini terancam oleh dominasi sastra berbahasa Indonesia. Walaupun argumentasi Malna bahwa pengungkapan diri dalam bahasa Indonesia yang dilakukan para sastrawan berakibat pada terjadinya keterasingan masih bisa diperdebatkan, sulit dipungkiri bahwa memang sastra dalam bahasa-bahasa daerah cukup terengah-engah untuk dapat bersaing dengan sastra yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Maka, kita seolah melihat dipentaskannya kembali polemik antara STA dan Sanusi Pane serta sejumlah sastrawan lainnya tentang di mana tempat untuk tradisi dalam Indonesia yang modern. Revolusi, sebagaimana makna yang terkandung di dalamnya, barangkali memang selalu harus dibayar dengan mahal. Namun, akan kita lihat bahwa tradisi bukan sesuatu yang mudah menyerah atau bisa ditinggalkan begitu saja.
Tahun 1950an dan 1960an
Periode 1950an dan 1960an, menurut banyak peneliti, adalah “periode keemasan” dalam sejarah sastra Indonesia modern, yang kemudian terputus secara tragis oleh peristiwa G30S menjelang akhir 1965. Pada periode ini, meskipun dalam kancah politik Perang Dingin sedang berkecamuk di seluruh dunia, dan dampaknya mengena dengan sangat kuat di Asia tenggara, termasuk di Indonesia yang juga menyaksikan pertarungan ideologis yang keras di kalangan para seniman dan sastrawan, pencarian estetika yang mendunia terus berjalan dengan semarak.2 Terjadi dialog
yang produktif bahkan di antara seniman dan sastrawan yang secara ideologis berseberangan kubu, termasuk antara seniman-seniman LEKRA dan LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional) serta LESBUMI. Jeniffer Lindsay secara kritis mempersoalkan penggambaran situasi sastra tahun 1950an dan 1960an yang melulu mengedepankan konflik antara LEKRA dan kelompok Manifes Kebudayaan, sehingga memberikan pemahaman yang keliru tentang dinamika kebudayaan yang berlangsung pada masa itu. Walaupun para penggiat seni dan sastra ini berkompetisi secara ideologis, semuanya memiliki satu visi, yakni menjadikan kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia (Lindsay 2011:1-28). Dalam penilaian Asep Sambodja, baaik sastrawan LEKRA maupun Manifes Kebudayaan telah sama-sama berjasa dalam memperkaya kebudayaan Indonesia (2010:196).
Tony Day mengemukakan bahwa pada era Perang Dingin ini pula bentuk-bentuk serta tema-tema modernism Eropa tetap memperlihatkan pengaruh kuat pada sastra Indonesia, bersanding dengan merasuknya pengaruh realisme yang diusung oleh pengarang-pengarang kiri (2010:131-169). Namun demikian, para sastrawan lokal yang terlibat dalam masuknya gagasan-gagasan modern dari luar ini tetap mampu melakukan kontekstualisasi atas konsep-konsep itu ke dalam perjuangan lokal untuk membangun kebangsaan. H.B. Jassin, sebagaimana dibahas oleh Day, menyoroti lemahnya kemampuan para sastrawan kita pada masa itu dalam “memanfaatkan secara optimal pengalaman dan pengetahuan manusia untuk dapat mengembangkan kemungkinan-kemungkinan baru pengungkapan dalam bahasa Indonesia” (2010:139). Jassin
berpandangan bahwa tidak perlu kita menengok ke Eropa untuk dapat melakukan hal ini, tetapi cukuplah dengan menulis dan menghasilkan karya saja. Dalam hal ini, kita mendengar gaung keprihatinan Afrizal akan tercerabutnya sastrawan modern Indonesia dari tradisi, dan mereka menjadi terasing dari khalayaknya sendiri.
Namun, barangkali pencarian estetik yang terjadi selama kurun waktu 1950an dan 1960an itu tidak mesti dipahami dari sudut pandang skeptik seperti itu. Memang bahasa Indonesia telah diterima secara konsensus sebagai bahasa sastra Indonesia pascakemerdekaan, tetapi itu tidak berarti prosesnya sudah selesai sampai di situ. Para seniman dan sastrawan pada periode tersebut justru giat mencari cara bagaimana berbagai pengalaman dan pengetahuan yang mendunia dari tempat-tempat lain dapat diramu dengan aspek-aspek lokal Indonesia sehingga memperkaya kebudayaan Indonesia sekaligus menjadikannya sebagai bagian dari budaya dunia. Para sastrawan pada masa itu terlibat secara ideologis dan bahkan politis dengan era mereka, tetapi mereka juga secara intens terus menggumuli persoalan-persoalan estetika dan alat bicara, yang dibayangkan akan dapat menjadi batu penjuru bagi internasionalisasi kebudayaan Indonesia ke depan. Cita-cita menjadikan kebudayaan Indonesia sebagai “ahli waris budaya dunia” adalah sebuah komitmen serius yang ditempuh secara bersama di tengah berbagai perbedaan tajam yang cenderung hendak memisahkan mereka. Di dalam proses itu, para sastrawan malah menumbuhkan kepekaan lebih tajam dalam mengupayakan lokalisasi berbagai hal baru yang mereka temukan dalam pengembaraan estetik mereka di banyak tempat di dunia.
Era Orde Baru
Sulit untuk dengan pasti menyatakan bahwa pada periode ini ada suatu estetika seni atau sastra yang lahir sebagai hasil pergulatan dengan zamannya dan kemudian mengkristal menjadi semacam ciri khas kesastraan zaman itu. Era Orde Baru ditandai oleh sejumlah pelarangan dan pembredelan buku, dan ada pula penulis yang harus membuang sebagian hidupnya dalam tahanan sebagai akibat dari sikap politik mereka. Namun, yang jelas, pada masa itu ideologi persatuan sebagai bagian dari idologi negara nyata-nyata dominan dan tampak jejak-jejaknya dalam berbagai kebijakan dan institusi negara maupun sosial. Dibayang-bayangi oleh hantu komunisme, yang dituding bertanggung jawab atas tragedi G30S, masa 32 tahun di bawah kekuasaan Orde Baru menghasilkan cukup banyak karya fiksi popular untuk konsumsi orang muda, yang biasanya bercerita tentang romantika kehidupan kampus, pergaulan dan percintaan anak muda, dan sebagian bahkan terkesan menjurus pada vulgaritas, seperti karya-karya Motinggo Busye. Terhadap karya-karya popular yang sebagiannya tidak sejalan dengan moralitas Orde Baru ini, negara tidak banyak melakukan penindakan, sementara karya-karya serius yang kritis dari segi sosial dan politik justru kerap menjadi sasaran sensor.
terkenal lewat novel triloginya, Cintaku di Kampus Biru (1974), Kugapai Cintamu (1974), dan
Terminal Cinta Terakhir (1975) atau Yudhistira ANM Massardi (Arjuna Mencari Cinta, 1977 dan bagian ke-2, 1980). Jika sebagian besar novel-novel ini berkisah tentang kehidupan anak muda serta permasalahan pribadi yang mereka alami dalam pergaulan sosial, karya-karya Nh. Dini memperlihatkan kecenderungan berbeda, yaitu persoalan domestik terkait dengan kehidupan perkawinan. Namun, secara umum, karya-karya popular selama periode Orde Baru bisa dibilang menjauhi tema-tema politik, yang pada saat itu boleh jadi dianggap peka atau bahkan tabu untuk ditampilkan.
Walaupun secara kuantitas jumlah karya sastra yang diproduksi pada era itu tidak kecil, kita nyaris tidak melihat adanya sekelompok pengarang yang secara serius memikirkan keindonesiaan serta masa depannya, sebagaimana dilakukan oleh para sastrawan dari periode-periode sebelumnya. Ini tidak berarti bahwa karya-karya pengarang Orde Baru dangkal isinya, tetapi tidak terdapat undangan yang cukup kuat kepada khalayaknya untuk masuk dalam pergumulan pemikiran yang mendalam atas berbagai isu yang mungkin secara bersama-sama akan bisa memberikan sumbangan kepada pembentukan visi Indonesia seperti apa yang diangankan untuk masa depan. Yang paling menonjol di antara pengarang era Orde Baru non-arus utama yang disebutkan di atas, menurut saya, adalah Y.B. Mangunwijaya, yang cukup kritis dan terbuka menyoroti berbagai persoalan sosial semasa kekuasaan Orde Baru. Mangunwijaya juga mengeksploitasi dimensi kesejarahan dengan cara menempatkan kejadian-kejadian dalam karya-karyanya di masa lampau tetapi yang relevansinya dengan situasi zamannya sangat tinggi.
Sebagai seorang rohaniwan, Mangunwijaya cukup beruntung memiliki keleluasaan menyuarakan kritiknya dan tidak harus mendekam dalam tahanan seperti halnya pengarang-pengarang kritis sezaman yang dicap kiri, seperti Pramoedya Anata Toer, misalnya. Namun, Mangunwijaya dan Pramoedya, lebih sering ditempatkan pada marjin dari kancah sastra pada zaman mereka. Karya-karya mereka, entah karena dilarang untuk dibaca atau tidak selaku novel-novel popular, tidak secara signifikan turut berperan dalam membentuk estetika sastra zamannya. Mereka ini ibarat nabi yang berseru-seru di padang gurun, namun suaranya tidak didengarkan oleh siapa-siapa dan berlalu ditiup angin. Dengan kata lain, mereka adalah pengarang yang tidak dikodratkan untuk berbicara kepada zamannya, melainkan lebih diperuntukkan bagi khalayak dari era berikutnya. Kekuasaan otoriter yang harus mereka hadapi terlalu digdaya. Tak heran jika kedua pengarang senior ini baru ‘ditemukan kembali’ dan dibaca dengan gairah lebih besar sesudah rezim Orde Baru tidak lagi berkuasa.
Estetika pasca-Orde Baru
langkah maju ke masa depan tetapi yang disertai oleh optimisme terbatas, dan bahkan keraguan (Budiman 2011:31-51).
Secara kebetulan, penyair Afrizal Malna juga tampil bersama saya untuk menyampaikan pemikirannya tentang estetika ini. Ia pun berbicara tentang estetika abad ke-21 di Indonesia. Ia berbicara tentang apa yang disebutnya “estetika pembelahan dan pengembaran dari epidemi sejarah.” Sejarah dipandangnya sebagai fakta masa lalu yang telah terfiksionalisasi sehingga sebagai ‘realitas, sejarah tidak lagi bersifat tunggal ataupun utuh, melainkan senantiasa terbelah. Itu sebabnya, ia menolak kontinuitas dalam sejarah, atau apa yang disebutnya dengan “epidemi”/”penularan”, yang berpotensi menghisap realitas masa kini ke dalam kefiksian itu (Malna 2011:3-30). Sejarah yang dimaksudkannya di sini tentu saja adalah masa Orde Baru, sebuah periode yang sudah berlalu tetapi masih mampu menularkan virus berbahayanya kepada generasi berikutnya dalam rupa perpecahan dan kekerasan. Dibutuhkan memori yang dapat terwadahi oleh tradisi puitik sebagai ruang untuk merawat memori tersebut untuk dapat menjaga akal sehat sejarah (2011:8). Estetika pembelahan ditawarkannya sebagai strategi untuk menyikapi sekaligus menjembatani masa lalu dan masa kini yang terputus hubungannya itu. Dalam karya sastra yang diproduksi sesudah era Orde Baru, Malna mencontohkan munculnya estetika pembelahan ini, salah satunya, pada permainan sosok kembar/terbelah Maia dan Maya dalam novel Cala Ibi (Nukila Amal).
Walaupun tidak persis sama, ada kesejajaran pemikiran antara saya dan Malna dalam memahami estetika sastra yang muncul dengan berakhirnya otoritaritarianisme selama lebih dari 30 tahun, yang efeknya juga melekat dengan sangat kuat pada karya-karya sastra yang lahir sesudahnya. Ini menyebabkan saya memahami suatu estetika baru tidak sebagai suatu penolakan terhadap yang lama, akan tetapi sebagai suatu kecenderungan yang tampak baru namun sesungguhnya ditopang pula eksistensinya oleh kaidah-kaidah lama. Jejak-jejak masa lalu, apakah itu berupa luka ataupun kenangan, selalu dapat ditelusuri kehadirannya dalam kemasan estetika yang diberi label ‘baru’ (Budiman 2011: 31-32). Dalam pemahaman saya, estetika adalah pemahaman akan masa depan “yang bertitik tolak dari yang kini”, namun dengan catatan bahwa “yang kini” itu juga memuat masa lalu di dalam dirinya. Di Indonesia, sesudah berakhirnya Orde Baru, seolah-olah telah muncul suatu kecenderungan baru, yang ditandai oleh gegap gempitanya dunia sastra dalam wujud ledakan produksi sastra serta kegairahan dalam menulis. Apakah telah lahir sebuah estetika baru?
Apa yang dapat kita simpulkan dari gejala-gejala ini? Visi ke depan tetap ada, tetapi ia hadir tanpa ilusi dan harapan berlebihan. Pada akhirnya, bukan perubahan revolusioner yang dibayangkan mesti terjadi, tetapi pencairan batas-batas yang selama ini dinilai terlalu kaku dan mengekang. Batas-batas itu bisa berbentuk macam-macam, dari adat, moral, norma sosial, hingga batas-batas identitas dan kebangsaan. Michael Bodden menemukan adanya semangat kosmopolitan untuk melampaui batas-batas dan kekang-kekang dalam karya-karya Ayu Utami (2007a) dan Djenar Maesa Ayu (2007b), tetapi pengamat lain, yaitu Katrin Bandel (2006) dan Intan Paramaditha (2004) menemukan hal yang berbeda. Bandel justru berpendapat bahwa novel-novel Ayu Utami masih memperlihatkan pengaruh patriarki yang kuat walaupun tampaknya berupaya mengkritisi falogosentrisme dan membebaskan tokoh-tokohnya dari kekangan tersebut. Demikian pula, Paramaditha mencapai kesimpulan berbeda atas karya-karya Djenar Maesa Ayu, yang menurutnya, masih didominasi urusan-urusan domestik dalam konteks hubungan orangtua dan anak, sehingga belum memperlihatkan komitmen yang cukup pada kosmopolitanisme.
Apa yang dapat ditarik dari silang pandangan ini? Bahwasannya, memang terdapat ambivalensi sikap di kalangan para pengarang pasca-Orde Baru dan, sekali lagi, terlihat dalam hal ini bagaimana pengaruh ideologi lama masih belum sepenuhnya dapat dilepaskan. Hanya saja, saya juga berpendapat bahwa ambivalensi ini bukannya tidak disadari oleh para pengarang. Mereka tak mampu menolaknya sebab mereka lahir dan dibesarkan oleh Orde Baru. Tak ada pilihan lain bagi mereka selain maju dengan memikul beban sejarah itu menuju ke masa depan. Inilah yang menyebabkan adanya kebimbangan dan optimisme penuh kehati-hatian dalam menyingsong masa depan. Kesadaran ironis semacam inilah yang membuat beberapa pengarang, seperti Nukila Amal dan Linda Christanty, memilih marjin sebagai ruang bebas untuk menuangkan pikiran walau dengan risiko terkucil.
Pengamat-pengamat sastra, seperti misalnya Medy Loekito (2003) menilai karya-karya pengarang perempuan generasi pasca-Orde Baru adalah karya-karya “sastra seksual” karena mengobral seksualitas dan representasi tubuh perempuan yang vulgar. Penilaian Loekito ini dikukuhkan lebih jauh oleh munculnya istilah miring ‘sastrawangi’ untuk menggambarkan generasi ini, yang merujuk pada pengamatan bahwa para pengarang itu lebih heboh dalam penampilan dirinya daripada bobot karya-karyanya. Tanpa menyangkali bahwa kecenderungan seperti itu dapat tercium dalam sejumlah karya dari beberapa pengarang, saya menemukan dalam pembacaan lebih mendalam bahwa mereka itu juga memiliki gagasan-gagasan serius yang penting untuk diperhitungkan tentang identitas dan kebangsaan, yang berorientasi ke masa depan. Gagasan-gagasan ini patut digali lebih lanjut dalam rangka produksi pemikiran dan pengetahuan tentang Indonesia yang tadinya mampat semasa Orde Baru berkuasa. Di dalam gagasan-gagasan orosnial yang barangkali masih belum sepenuhnya matang inilah benih estetika baru dapat ditemukan.
Sastrawan sebagai filsuf
Biasanya, yang menjadi sasaran adalah para kritikus yang juga akademisi sastra yang bekerja di fakultas-fakultas sastra. Mereka dinilai tidak cukup cepat dan tanggap dalam memberikan tanggapan pada karya-karya yang dihasilkan, sehingga jembatan penghubung pengarang dan khalayaknya. Dunia apresiasi sastra pun menjadi miskin dan sepi. Keluhan seperti ini dapat dimaklumi karena memang tugas kritikuslah untuk menawarkan kemungkinan-kemungkinan tafsir dan pemahaman atas karya-karya sastra kepada pembaca. Tetapi, apakah kerja kritik sastra hanya menjadi kewajiban para akademisi sastra di universitas?
Pada titik ini, ketika peta jalan ke depan telah dipersiapkan oleh generasi demi generasi pengarang, maka generasi pengarang masa kini tidak seyogyanya hanya menulis tetapi juga memikirkan serta mengevaluasi tiap alternatif yang ditawarkan. Bila lintasan keindonesiaan ke depan adalah menuju ke kebudayaan Indonesia yang mendunia, yang dibentuk oleh modernitas yang telah diterjemahkan ke dalam konteks lokal, maka langkah yang perlu diambil selanjutnya adalah bekerja untuk mewujudkan cita-cita itu, bila perlu mencoba menelusuri kembali riwayat perjalanan gagasan-gagasan yang telah ditelurkan sebelumnya untuk memahami mengapa cita-cita itu begitu kukuh bertahan melewati berbagai zaman, agar langkah ke depan itu menjadi lebih ajeg dan pasti. Ini adalah suatu ikhtiar besar yang tidak bisa dilaksanakan selama pencipataan sastra dan kritik sastra masih dipandang sebagai dua dunia yang terpisah.
Kita tidak lagi memiliki pemikir-pemikir besar seperti STA, Muhammad Yamin, Tirto Adhi Soerjo, Sutan Sjahrir, atau Tan Malaka. Mereka adalah orang-orang yang secara serius berpikir tentang apa artinya menjadi Indonesia, dan gagasan-gagasan yang lahir dari kepala mereka masih digali serta dipelajari orang hingga hari ini. Tiga dasawarsa lebih di bawah kekuasaan rezim otoriter membuat generasi yang lahir dan besar pada masa itu serta sesudahnya tidak mampu melahirkan pemikir-pemikir sekaliber tokoh-tokoh masa pergerakan itu. Mereka hidup pada era ketika radikalisme dan militanisme seperti menjadi bagian dari gaya hidup. Namun, kini kita mengalami paceklik pemikir besar. Maka, siapakah pada masa kini yang diharapkan bisa mengambil estafet pengembangan pemikiran tentang Indonesia? Jelas bukan para selebriti politik yang secara rutin muncul di layar televisi dan mengulang-ulang pernyataan yang sama, atau para akademisi yang telah mengalami kejenuhan akibat overdosis kewajiban yang ditimpakan atas mereka oleh negara. Mustahil dari mereka ini dapat diharapkan lahir gagasan-gagasan besar dan mendalam tentang masa depan kita.
Maka, sebagai akibatnya, tinggal para pengarang yang masih memiliki otonomi relatif besar dan ruang gerak yang cukup leluasa untuk mengambil peran sebagai ‘filsuf-filsuf’ Indonesia masa kini lewat berbagai pemikiran yang mereka hasilkan dalam karya-karya yang tidak pernah berhenti diproduksi meskipun aktivitas kritik sastra bergerak begitu lamban dan tersendat-sendat. Para pengarang masa kini adalah juga para kritikus serius yang bergulat dengan persoalan-persoalan bentuk dan isi, yang merupakan manifestasi peta jalan Indonesia ke depan, sekaligus penelur gagasan-gagasan. Merekalah semestinya filsuf-filsuf kontemporer kita kini. Menulis adalah berpikir, bukan suatu keisengan atau pelarian dari kejemuan, dan berpikir adalah memproduksi pemahaman serta pengetahuan, bukan kerja sambilan di sela-sela kesibukan lain. Hanya pengarang yang memiliki kedua kapasitas itu secara bersamaan, dan itu dimungkinkan oleh adanya otonomi kreatif tadi.
Dalam sebuah diskusi yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki pada 2014, dalam rangka ASEAN Literary Festival, saya mendorong para pengarang untuk berani menolak godaan menulis dan berpikir sebagai kerja antara belaka atau memandang diri mereka sebagai ‘salesman’ semata. Mereka tidak perlu membebani diri dengan kewajiban mengemas dan menghias karya-karya mereka agar laku dijual atau untuk memikat penerbit dan penerjemah. Tugas mereka tidak berhenti dengan selesainya sebuah tulisan, tetapi mereka masih harus bergulat untuk menguji pemikiran-pemikiran mereka sendiri serta pengarang sezaman yang lain, sehingga pada akhirnya lahir sebentuk pengetahuan baru tentang diri kita sendiri yang akan memperlihatkan siapa kita dan di mana kita berdiri di masa depan. Para pengarang masa kini, dengan demikian, adalah mereka yang di pundaknya memikul tugas untuk mengawal bangsa menuju ke takdirnya melalui jalan yang sudah dibukakan oleh para sastrawan-pemikir sebelumnya, dan yang etape berikutnya harus mereka emban.
Oleh sebab itu, kerja menulis tak bisa tidak harus dilakukan secara serius dan dengan komitmen penuh. Ia sama sekali bukan kerja main-main. Setiap tulisan membawa kandungan gagasan untuk ditawarkan, dipergumulkan, dan dimatangkan. Di dalam proses itulah pengarang, tak bisa ditolak, adalah juga kritikus, dan bahkan filsuf, sebab mereka merumuskan pengertian-pengertian baru tentang Indonesia yang adalah warga dunia. Pada era inilah tugas pengarang mencapai puncaknya. Inilah periode terberat dan paling menantang tetapi juga menjanjikan banyak petualangan estetik dan intelektual bagi sastrawan yang bekerja sepenuh hati. Mereka mungkin bukan ‘nabi-nabi baru’ zaman ini, tetapi beban sejarah yang mereka pikul tidak kalah beratnya daripada tugas para nabi pada masa lampau. Kerja berat yang barangkali tak dihargai orang ataupun mendatangkan keuntungan pribadi, namun bagaimanapun juga tetap harus ditunaikan karena itulah kodrat mereka.
Saya mengamati para penulis muda saat ini memiliki perhatian dan keprihatinan besar pada berbagai persoalan sosial dan kemanusiaan yang terjadi di negeri ini. Mereka menulis tentang penindasan dan ketidakadilan di Papua, Bali dan Lombok; tentang kekerasan dan intoleransi di Ambon dan Aceh; dan tentang sejarah yang dimanipulasi dan diselewengkan demi kepentingan kekuasaan. Kita cukup menyimak dengan saksama apa yang dituangkan oleh penulis-penulis kontemporer, seperti Okky Madasari, Erni Aladjai, Zubaidah Djohar, Anindita Thayf, Steve Elu, dan Astina Triutami tentang kebebasan dari kebencian, cinta di tengah kecamuk kekerasan, penolakan untuk melupakan kesewenang-wenangan, perlawanan terhadap ketidakadilan, dan perjuangan hidup orang-orang terbuang, untuk dapat menangkap adanya keterlibatan yang intens dan sejati dalam karya-karya mereka pada pencarian jalan keluar yang bermartabat bagi segudang persoalan bangsa.
*****
Daftar Acuan
Bandel, K. (2006). Sastra, Perempuan, Seks.Yogyakarta: Jalasutra.
Budiman, M. (2011). “Meramu Estetika Kebimbangan: Telaah atas Visi Beberapa Pengarang Perempuan Indonesia Pasca-1998.” D. Kemalawati dkk. (ed), Risalah dari Ternate: Bunga Rampai Telaah Sastra Indonesia Mutakhir. Ternate: Ummu Press, 31-51.
Bodden, M. (2007a). “Cosmopolitanism, Transgression and Public Debate about Culture in Contemporary Indonesia: Ayu Utami’s Saman and Its Successors”, kertas kerja dalam
International Convention of Asia Scholars V, Kuala Lumpur, 2-5 Agustus.
Bodden, M. (2007b). “’Shattered Families’: ‘Transgression’, Cosmopolitanism and Experimental Form in the Fiction of Djenar Maesa Ayu.” Review of Indonesian and Malaysian Affairs, Vol. 41, No. 2, 95-125.
Day, T. dan M.H.T. Liem (ed) (2010). Cultures at War: The Cold War and Cultural Expression in Southeast Asia. Ithaca: Southeast Asia Program Publications, Cornell University.
Foulcher, K. (2009). “Menjadi Penulis Modern: Penerjemahan dan Angkatan 45 di Jakarta Masa Revolusi.” H. Chambert-Loir (ed), Sadur: Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia. Jakarta: KPG, 835-853.
Hellwig, T. (1994). In the Shadow of Change: Women in Indonesian Literature. Berkeley: Centers for Southeast Asian Studies, Monograph no. 35, University of California.
Jedamski, D. (2002). K. Foulcher dan T. Day (ed) Clearing a Space: Potcolonial readings of modern Indonesian literature. Leiden: KITLV Press.
Loekito, M. (2003). “Perempuan dan Sastra Seksual.” A.Y. Herfanda et al (ed), Sastra Kota: Bunga Rampai Temu Sastra Jakarta 2003. Yogyakarta: Dewan Kesenian Jakarta dan Bentang Budaya, 130-156.
Malna, A. (2000). Sesuatu Indonesia: Personifikasi Pembaya-Yang-Tak-Bersih. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
Mihardja, A.K. (ed) (1998). Polemik Kebudayaan. Jakarta: Balai Pustaka.
Paramaditha, I. (2004). “Seksualitas Remaja dalam Biru and Mereka Bilang, Saya Monyet!”
Prosa 4. Jakarta: Metafor Publishing, 133-150.
Sambodja, A. (2010). Historiografi Sastra Indonesia 1960-an. Jakarta: bukupop.
Biodata Penulis
Manneke Budiman, pengajar sastra dan cultural studies pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Pernah belajar Sastra Inggris, Sastra Bandingan, British Cultural Studies, dan Kajian Asia. Menjadi Editor Seri untuk seri penerbitan Kota, Kata, dan Kuasa (Penerbit Ombak, Yogyakarta), serta anggota Dewan Editor untuk Jurnal Ilmu Pengetahuan Budaya WACANA, MAKARA Journal of Human Behavior Studies in Asia (Hubs-Asia), dan