SOSIOLOGI
PENYIMPANGAN SOSIAL DALAM MASYARAKAT PEROKOK WANITA
Disusun oleh : WIWIT TRI RAHAYU
(071311233082) No. Absen : 88
MAHASISWA DEPARTEMEN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS AIRLANGGA
Kata Pengantar
Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat dan karuniaNya, sehingga makalah mata kuliah Sosiologi ini dapat diselesaikan tepat waktu tanpa adanya kendala-kendala yang berarti. Makalah ini berisi kajian tentang penyimpangan sosial dalam masyarakat. Di dalamnya dibahas tentang pengertian, teori-teori, ciri-ciri, jenis-jenis, bentuk-bentuk, faktor-faktor, dampak, serta contoh kasus penyimpangan sosial yang terjadi di masyarakat.
Terima kasih saya ucapkan kepada seluruh pihak yang telah sedikit banyak membantu dalam proses pembuatan makalah ini, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Bantuan tersebut sangat membantu penyelesaian makalah ini. Semoga Tuhan yan Maha Esa membalas segala kebaikan pihak-pihak tersebut dan meridhoi atas selesainya makalah ini.
Surabaya, 22 Oktober 2013
Penulis
Daftar Isi
Kata Pengantar ... 2
Daftar Isi ... 3
BAB I : PENDAHULUAN 1. Latar Belakang ... . 4
2. Rumusan Masalah ... 5
3. Tujuan Penulisan ... 5
BAB II : PEMBAHASAN 1. Pengertian Penyimpangan Sosial ... 6
2. Contoh Penyimpangan Sosial a. Hasil Wawancara terhadap Pelaku... 6
b. Kebiasaan Merokok pada Wanita ... 7
c. Faktor Peyebab Wanita Merokok ... 7
d. Dampak dari Perokok Wanita ... 8
3. Upaya Pencegahan Perilaku Menyimpang ... 9
1. Kesimpulan ... 10 2. Saran ... 10
Daftar Pustaka ... 10
BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Masalah penyimpangan sosial bukanlah masalah yang baru muncul. Masalah ini telah lama lahir dan hadir dalam masyarakat. Namun demikian, masalah-masalah penyimpangan sosial ini tetap saja ada dan melekat dalam kehidupan masyarakat seolah tidak ada tindakan yang menanganinya. Ada banyak jenis dan perilaku-perilaku menyimpang yang dilakukan oleh masyarakat dan telah banyak pula aturan-aturan yang mengatur tentang penyimpangan tersebut. Pada kenyataannya, hingga saat ini penyimpangan sosial masih terus terjadi meskipun aturan atau bahkan hukuman diberlakukan bagi para pelaku. Hal ini mungkin disebabkan oleh kurangnya kesadaran masyarakat akan buruknya perilaku-perilaku menyimpang, atau mungkin kurangnya sosialisasi tentang penyimpangan sosial.
Dengan keadaan masyarakat seperti uraian di atas, penulis berharap makalah ini dapat sedikit membantu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengetahuan tentang perilaku menyimpang atau penyimpagan-penyimpangan sosial. Serta memberikan informasi-informasi tentang apa yang dapat menjadi pemicu terjadinya penyimpangan sosial. Sehingga, ke depannya dapat dibentuk masyarakat yang bermoral dan menghindari perilaku-perilaku menyimpang. Karena hal tersebut juga akan mempengaruhi kualitas bangsa di mata dunia internasional.
I.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka rumusan masalah yang akan di bahas adalah :
1. Apa pengertian dari penyimpangan sosial ? 2. Apa contoh penyimpangan sosial ?
3. Apa faktor-faktor yang memicu terjadinya penyimpangan sosial tersebut ? 4. Apa dampak yang akan ditimbulkan oleh penyimpangan sosial tersebut ? 5. Upaya apa yang dapat dilakukan untuk mencegah penyimpangan sosial ?
I.3 Tujuan Penulisan
Dengan rumusan masalah yang telah diutarakan di atas, tujuan penulis dalam pembuatan makalah tentang penyimpangan sosial ini adalah agar pembaca dapat : ü Mengetahui dan memahami apa arti penyimpangan sosial
ü Mengetahui contoh nyata penyimpangan sosial
BAB II PEMBAHASAN
II. 1. Pengertian Penyimpangan Sosial
Penyimpangan sosial dapat diartikan sebagai perilaku warga masyarakat yang dianggap tidak sesuai dengan kebiasaan, adat istiadat, tata aturan, atau norma sosial yang berlaku (Budirahayu, 2013, 98). Penyimpangan sosial tidak terbatas pada perilaku-perilaku yang terlampau melewati batas, hal-hal kecil pun bisa termasuk dalam penyimpangan sosial. Seseorang akan dianggap menyimpang apabila ia melakukan hal-hal di luar perilaku masyarakat pada umumnya. Namun fenomena yang terjadi pada saat ini menunjukkan bahwa banyak hal-hal menyimpang yang menjadi biasa di kalangan masyarakat. Masyarakat menganggap sebuah perilaku menyimpang yang resesif atau tidak terlalu melewati batas sebagai perilaku normal yang wajar untuk dilakukan. Tidak sedikit masyarakat yang justru bangga melakukan sebuah penyimpangan sosial. Penyimpangan sosial dianggap sebagai prestasi tersendiri bagi sebagian masyarakat, khususnya masyarakat yang belum terlalu memahami tentang hal-hal yang termasuk dalam penyimpangan sosial.
II. 2. Contoh Penyimpangan Sosial
Di sini akan dibahas penyimpangan sosial mengenai kebiasaan merokok yang dilakukan oleh wanita.
II. 2. a. Hasil Wawancara terhadap Wanita Perokok
Penulis menyertakan ringkasan hasil wawancara terhadap seorang peerokok wanita sebagai bukti nyata adanya penyimpangan sosial pada masyarakat.
Narasumber : Astri (AR) Umur : 19 tahun
Saya Astri, umur 19 tahun. Saya merokok karena saya merasa merokok bukanlah hal yang terlarang. Saya merokok juga karena lingkungan saya melakukan hal yang sama. Teman-teman saya juga merokok, entah itu laki-laki atau perempuan, sehingga saya merasa tidak mampu bergaul dengan mereka juka saya tidak ikut merokok. Saya juga merasa berani merokok karena kakak perempuan saya juga merokok. Saya melakukannya tanpa sepengetahuan orangtua saya. Mama saya tidak mengetahui hal ini, hanya kakak-kakak saya yang mengetahuinya.
Saya merokok pada saat saya merasa bosan dan suntuk. Saat mood saya jelek. Saya merasa dengan merokok pikiran saya menjadi lebih tenang dan enjoy. Namun, jujur kadang saya merasa malu jika ada yang membahas tentang seorang wanita perokok. Di sisi lain saya merasa ini adalah hal yang biasa, namun sisi lain saya mengajak saya untuk berhenti melakukannya.
II. 2. c. Faktor Penyebab Wanita Merokok
Banyak sekali faktor yang bisa menyebabkan seorang wanita merokok. Mulai dari faktor individu, lingkungan, bahkan keluarga. Dalam kasus yang saya amati, pelaku wanita mengaku melakukan penyimpangan sosial, yaitu merokok, sebagai akibat dari pergaulan dengan teman-temannya. Ia mengaku bahwa pengaruh lingkungannya sangat besar terhadapnya sehingga ia berani dan merasa sangat enjoy untuk melakukannya. Bahkan kadang mereka mempunyai pemikiran menjadi bangga jika melakukan hal tersebut.
Selain itu, keadaan pada individu juga sangat berpengaruh. Jika ia merasa keadaan sangat buruk, bosan, dan suntuk, maka ia akan langsung menyalakan rokoknya. Keluarga juga sangat memicu terjadinya sebuah penyimpangan sosial. Keluarga yang mempunyai kebiasaan merokok akan membuat anggotanya mengikuti kebiasaan tersebut. Apalagi jika anggota keluarga wanita memiliki kebiasaan merokok juga, dapat dipastikan anggota lain merasa harus melakukannya juga.
Faktor yang lain muncul dari rokok itu sendiri, yaitu dari kandungan zat yang ada di dalamnya. Rokok mengandung zat-zat yang menyebabkan para konsumennya kecaduan. Dengan adanya zat tersebut, seseorang yang telah mencoba untuk merokok akan selalu dan semakin ingin untuk mencobanya lagi dan lagi. Hal tersebut juga berpengaruh besar bagi wanita.
II. 2. d. Dampak dari Wanita Merokok
Wanita yang merokok, dan para perokok lain memberi banyak dampak bagi para pelaku juga terhadap lingkungan sekitar. Dampak tersebut bisa berupa dampak negatif juga dampak positif. Namun, sejauh pengamatan yang dilakukan oleh penulis, para perokok cenderung memberikan banyak dampak-dampak negatif daripada dampak positif. Dampak posistif yang diberikan oleh para perokok antara lain adalah membantu produsen rokok dan para pekerja pabrik rokok agar tetap bertahan. Dengan adanya para perokok, pabrik rokok bisa terus melanjutkan kegiatannya memproduksi rokok, sehingga para pekerja pabrik dapat terus melanjutkan pekerjaannya. Secara tidak langsung, para perokok telah membantu memberikan dan mempertahankan pekerjaan para pekerja pabrik rokok.
Dampak negatif yang ditimbulkan oleh para perokok lebih banyak daripada dampak positif yang telah disebutkan di atas. Dampak tersebut dapat dipisahkan sebagai dampak terhadap diri sendiri dan dampak bagi lingkungan sekitar perokok.
Dampak negatif rokok bagi pelaku (secara langsung) : w Air mata keluar
w Baju, badan, dan rambut menjadi bau w Denyut nadi dan tekanan darah meningkat
w Sirkulasi darah kurang baik
w Suhu pada ujung-ujung jari (tangan/kaki) menurun w Kepekaan indra pengecap dan pembau menurun w Gigi dan kuku menjadi kuning
Dampak negatif rokok bagi pelaku dalam jangka panjang : w Kerja otak menurun
w Adrenalin meningkat
w Rongga pembuluh darah menciut
w Tekanan darah dan denyut nadi meningkat w Menimbulkan efek ketagihan dan kecanduan
Dampak negatif rokok bagi lingkungan sekitar : w Menimbulkan pencemaran udara bagi lingkungan sekitar w Menjadi contoh buruk bagi anak-anak usia di bawah umur
w Menimbulkan banyak korban perokok pasif bagi orang-orang di sekitarnya
Sedangkan dampak negatif yang akan sama-sama dirasakan oleh pelaku (perokok aktif) dan korban (perokok pasif) adalah dampak yang berpengaruh terhadap kesehatan. Asap rokok yang ditimbulkan akan menyebabkan berbagai penyakit bagi para penghirupnya. Penyakit-penyakit tersebut antara lain adalah kanker paru-paru, jantung koroner, bronkitis, penyakit stroke, hipertensi, diabetes, dan impotensi. Asap rokok juga dapat menyebabkan orang yang mempunyai penyakit asma kambuh saat menghirupnya.
II. 3. Upaya Pencegahan Perilaku Menyimpang
Ada banyak upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah perilaku menyimpang. Upaya-upaya pencegahan bisa dilakukan oleh semua orang yang bersangkutan, baik oleh pemerintah, keluarga, teman, dan lingkungan sekitar. Upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah dengan memperluas sosialisasi tentang penyimpangan-penyimpangan sosial. Pihak keluarga dapat melakukan kontrol sosial. Dan teman-teman lingkungan sekitar dapat menghimbau untuk tidak melakukan penyimpangan sosial. Kontrol sosial dan sosialisasi yang cukup akan membantu mencegah penyimpangan-penyimpangan sosial yang terjadi di masyarakat. Keharmonisasian keluarga juga sangat mempengaruhi terjadinya penimpangan sosial, sehingga perlu diciptakan keluarga yang harmonis.
BAB III PENUTUP
III. 1. Kesimpulan
Merokok merupakan salah satu perilaku menyimbang. Merokok yang dilakukan oleh seorang wanita juga dianggap sebagai penyimpangan sosial. Wanita yang merokok memiliki banyak alasan yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut. Ada faktor keluarga, faktor lingkungan, teman, dan diri sendiri. Merokok juga memberikan banyak dampak. Dampak positif yaitu membantu para pekerja pabrik rokok. Dampak negatif yang ditimbulkan lebih banyak, bisa berupa dampak terhadap kesehatan, lingkungan, dan fisik. Upaya pencegahannya dapat dilakukan oleh siapa saja. Dapat dilakukan dengan memberikan kontrol sosial dan sosialisasi yang cukup.
III. 2. Saran
Daftar Pustaka
Narwoko, J. Dwi & Suyanto, Bagong. 2011. Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana.
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/114/jtptunimus-gdl-ervinakhoi-5700-2-babii.pdf
http://www.amazine.co/6222/bahaya-merokok-5-efek-negatif-merokok-pada-wanita/? ModPagespeed=noscript
PERMASALAHAN SOSIAL (MAKALAH KEMISKINAN)
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kemiskinan merupakan problematika kemanusiaan yang telah mendunia dan hingga kini masih menjadi isu sentral di belahan bumi manapun. Selain bersifat laten dan aktual, kemiskinan adalah penyakit sosial ekonomi yang tidak hanya dialami oleh Negara-negara berkembang melainkan negara maju sepeti inggris dan Amerika Serikat. Negara inggris mengalami kemiskinan di penghujung tahun 1700-an pada era kebangkitan revolusi industri di Eropa.
belinya juga rendah. Mereka umumnya tinggal di permukiman kumuh yang rawan terhadap penyakit sosial lainnya, seperti prostitusi, kriminalitas, pengangguran.Sedangkan Amerika Serikat bahkan mengalami depresi dan resesi ekonomi pada tahun 1930-an dan baru setelah tiga puluh tahun kemudian Amerika Serikat tercatat sebagai Negara Adidaya dan terkaya di dunia.
Pada kesempatan ini penyusun mencoba memaparkan secara global kemiskinan Negara-negara di dunia ketiga, yaitu Negara-negara berkembang yang nota-benenya ada di belahan benua Asia. Kemudian juga pemaparan secara spesifik mengenai kemiskinan di Negara Indonesia. Adapun yang dimaksudkan Negara berkembang adalah Negara yang memiliki standar pendapatan rendah dengan infrastruktur yang relatif terbelakang dan minimnya indeks perkembangan manusia dengan norma secara global. Dalam hal ini kemiskinan tersebut meliputi sebagian Negara-negara Timur-Tengah, Asia selatan, Asia tenggara dan Negara-negara pinggiran benua Asia.
Ada dua kondisi yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi, yaitu kemiskinan alami dan kemiskinan buatan. kemiskinan alami terjadi akibat sumber daya alam (SDA) yang terbatas, penggunaan teknologi yang rendah dan bencana alam. Kemiskinan Buatan diakibatkan oleh imbas dari para birokrat kurang berkompeten dalam penguasaan ekonomi dan berbagai fasilitas yang tersedia, sehingga mengakibatkan susahnya untuk keluar dari kemelut kemiskinan tersebut. Dampaknya, para ekonom selalu gencar mengkritik kebijakan pembangunan yang mengedepankan pertumbuhan ketimbang dari pemerataan.
B. Perumusan Masalah
Dalam tugas kelompok ini, penyusun yang membahas mengenai masalah kemiskinan, didapatkan rumusan masalah yang akan dibahas dalam analisis permasalahan. Rumusan masalah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Apa definisi dari kemiskinan?
2. Apa indikator terjadinya kemiskinan?
3. Faktor apa saja yang menjadi penyebab kemiskinan?
4. Bagaimanakah tingkat perkembangan kemiskinan di Indonesia?
5. Apa tantangan dalam menghadapi kemiskinan di Indonesia?
6. Kebijakan dan Program Penuntasan Kemiskinan di Indonesia?
C. Manfaat
Penulisan makalah ini disusun sebagai salah satu pemenuhan tugas terstruktur dari mata kuliah Permasalahan Sosial
2. Bagi pihak lain
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Menurut Friedman (1979), kemiskinan adalah ketidaksamaan kesempatan untuk memformulasikan basis kekuasaan sosial, yang meliputi aset (tanah, perumahan, peralatan, kesehatan), sumber keuangan (pendapatan dan kredit yang memadai), organisiasi sosial politik yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai kepentingan bersama, jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan, barang atau jasa, pengetahuan dan keterampilan yang memadai, serta informasi yang berguna.
Dalam kamus ilmiah populer, kata “Miskin” mengandung arti tidak berharta (harta yang ada tidak mencukupi kebutuhan) atau bokek. Adapun kata “fakir” diartikan sebagai orang yang sangat miskin. Secara Etimologi makna yang terkandung yaitu bahwa kemiskinan sarat dengan masalah konsumsi. Hal ini bermula sejak masa neo-klasik di mana kemiskinan hanya dilihat dari interaksi negatif (ketidakseimbangan) antara pekerja dan upah yang diperoleh.
Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka perkembangan arti definitif dari pada kemiskinan adalah sebuah keniscayaan. Berawal dari sekedar ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar dan memperbaiki keadaan hingga pengertian yang lebih luas yang memasukkan komponen-komponen sosial dan moral. Misal, pendapat yang diutarakan oleh Ali Khomsan bahwa kemiskinan timbul oleh karena minimnya penyediaan lapangan kerja di berbagai sektor, baik sektor industri maupun pembangunan. Senada dengan pendapat di atas adalah bahwasanya kemiskinan ditimbulkan oleh ketidakadilan faktor produksi, atau kemiskinan adalah ketidakberdayaan masyarakat terhadap sistem yang diterapkan oleh pemerintah sehingga mereka berada pada posisi yang sangat lemah dan tereksploitasi. Arti definitif ini lebih dikenal dengan kemiskinan struktural.
Kemiskinan sebagai suatu penyakit sosial ekonomi tidak hanya dialami oleh negara-negara yang sedang berkembang, tetapi juga negara-negara-negara-negara maju, seperti Inggris dan Amerika Serikat. Negara Inggris mengalami kemiskinan di penghujung tahun 1700-an pada era kebangkitan revolusi industri yang muncul di Eropa. Pada masa itu kaum miskin di Inggris berasal dari tenaga-tenaga kerja pabrik yang sebelumnya sebagai petani yang mendapatkan upah rendah, sehingga kemampuan daya belinya juga rendah. Mereka umumnya tinggal di permukiman kumuh yang rawan terhadap penyakit sosial lainnya, seperti prostitusi, kriminalitas, pengangguran.
Amerika Serikat sebagai negara maju juga dihadapi masalah kemiskinan, terutama pada masa depresi dan resesi ekonomi tahun 1930-an. Pada tahun 1960-an Amerika Serikat tercatat sebagai negara adi daya dan terkaya di dunia. Sebagian besar penduduknya hidup dalam kecukupan. Bahkan Amerika Serikat telah banyak memberi bantuan kepada negara-negara lain. Namun, di balik keadaan itu tercatat sebanyak 32 juta orang atau seperenam dari jumlah penduduknya tergolong miskin.
Kemiskinan dapat dibedakan menjadi tiga pengertian: kemiskinan absolut, kemiskinan relatif dan kemiskinan kultural. Seseorang termasuk golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum: pangan, sandang, kesehatan, papan, pendidikan. Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan namun masih berada di bawah kemampuan masyarakat sekitarnya. Sedang miskin kultural berkaitan erat dengan sikap seseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya.
Beberapa kelompok atau ahli telah mencoba merumuskan mengenai konsep kebutuhan dasar. Konsep kebutuhan dasar yang dicakup adalah komponen kebutuhan dasar dan karakteristik kebutuhan dasar serta hubungan keduanya dengan garis kemiskinan. Rumusan komponen kebutuhan dasar menurut beberapa ahli adalah :
1. Menurut United Nations (1961), sebagaimana dikutip oleh HendraEsmara (1986: 289),
komponen kebutuhan dasar terdiri atas:kesehatan, bahan makanan dan gizi, pendidikan, kesempatan kerja dankondisi pekerjaan, perumahan, sandang, rekreasi, jaminan sosial, dankebebasan manusia.
2. Menurut UNSRID (1966), sebagaimana dikutip oleh Hendra Esmara(1986: 289), komponen
perumahan, dankesehatan; (ii) kebutuhan kultural yang mencakup pendidikan, rekreasidan ketenangan hidup; dan (iii) kebutuhan atas kelebihan pendapatan.
3. Menurut Ganguli dan Gupta (1976), sebagaimana dikutip oleh HendraEsmara (1986: 289),
komponen kebutuhan dasar terdiri atas: gizi,perumahan, pelayanan kesehatan pengobatan, pendidikan, dansandang. Analisis dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan Tahun 2008
4. Menurut Green (1978), sebagaimana dikutip oleh Thee Kian Wie (1981:31), komponen
kebutuhan dasar terdiri atas: (i) personal consumption items yang mencakup pangan, sandang, dan pemukiman; (ii) basic public services yang mencakup fasilitas kesehatan, pendidikan, saluranair minum, pengangkutan, dan kebudayaan.
5. Menurut Hendra Esmara (1986: 320-321), komponen kebutuhan dasarprimer untuk bangsa
Indonesia mencakup pangan, sandang,perumahan, pendidikan, dan kesehatan.
6. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), komponen kebutuhan dasar terdiridari pangan dan
bukan pangan yang disusun menurut daerahperkotaan dan perdesaan berdasarkan hasil Survei Sosial EkonomiNasional (SUSENAS)
B. Indikator-indikator Kemiskinan
Untuk menuju solusi kemiskinan penting bagi kita untuk menelusuri secara detail indikator-indikator kemiskinan tersebut.Adapun indikator-indikator kemiskinan sebagaimana di kutip dari Badan Pusat Statistika, antara lain sebagi berikut:
1. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (sandang, pangan dan papan).
2. Tidak adanya akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan, pendidikan, sanitasi,
air bersih dan transportasi).
3. Tidak adanya jaminan masa depan (karena tiadanya investasi untuk pendidikan dan
keluarga).
4. Kerentanan terhadap goncangan yang bersifat individual maupun massa.
5. Rendahnya kualitas sumber daya manusia dan terbatasnya sumber daya alam.
6. Kurangnya apresiasi dalam kegiatan sosial masyarakat.
7. Tidak adanya akses dalam lapangan kerja dan mata pencaharian yang berkesinambungan.
8. Ketidakmampuan untuk berusaha karena cacat fisik maupun mental.
9. Ketidakmampuan dan ketidaktergantungan sosial (anak-anak terlantar, wanita korban
kekerasan rumah tangga, janda miskin, kelompok marginal dan terpencil). C. Penyebab Kemiskinan
Di bawah ini beberapa penyebab kemiskinan menurut pendapat Karimah Kuraiyyim. Yang antara lain adalah:
1. Merosotnya standar perkembangan pendapatan per-kapita secara global.
produktivitas menyusut maka pendapatan per-kapita akan turun beriringan. Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi kemerosotan standar perkembangan pendapatan per-kapita:
a. Naiknya standar perkembangan suatu daerah.
2. Menurunnya etos kerja dan produktivitas masyarakat.
Terlihat jelas faktor ini sangat urgen dalam pengaruhnya terhadap kemiskinan. Oleh karena itu, untuk menaikkan etos kerja dan produktivitas masyarakat harus didukung dengan SDA dan SDM yang bagus, serta jaminan kesehatan dan pendidikan yang bisa dipertanggungjawabkan dengan maksimal
3. Biaya kehidupan yang tinggi.
Melonjak tingginya biaya kehidupan di suatu daerah adalah sebagai akibat dari tidak adanya keseimbangan pendapatan atau gaji masyarakat. Tentunya kemiskinan adalah konsekuensi logis dari realita di atas. Hal ini bisa disebabkan oleh karena kurangnya tenaga kerja ahli, lemahnya peranan wanita di depan publik dan banyaknya pengangguran.
4. Pembagian subsidi in come pemerintah yang kurang merata.
Hal ini selain menyulitkan akan terpenuhinya kebutuhan pokok dan jaminan keamanan untuk para warga miskin, juga secara tidak langsung mematikan sumber pemasukan warga. Bahkan di sisi lain rakyat miskin masih terbebani oleh pajak negara.
D. Perkembangan Tingkat Kemiskinan di Indonesia
Laporan Bank Pembangunan Asia (ADB) menyebutkan bahwa dalam lima tahun terakhir keadaan kemiskinan di Indonesia semakin memburuk. Hal ini diduga karena pesatnya pertumbuhan penduduk yang tidak seimbang dengan meningkatnya Gross Domestic
Product (GDP) dan atau disebabkan semakin luasnya kesenjangan sosial
(http://bisniskeuangan.kompas.com: 2011).
Hingga kini kemiskinan merupakan problematika kemanusiaan yang menjadi isu sentral di Indonesia. Lebih dari 110 juta orang Indonesia hidup dengan penghasilan kurang dari US$ 2 per hari. Jumlah ini sama dengan jumlah penduduk Malaysia, Vietnam, dan Kamboja jika digabungkan. Sebagian besar penduduk miskin di Asia Tenggara tinggal di Indonesia.
United Nations Development Programme (UNDP) menempatkan HDI Indonesia di peringkat 124 dari 187 negara pada tahun 2011 (http://dikti.go.id: 2011). Di tahun yang sama, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 30 juta orang, sebesar 37% dari jumlah tersebut berada di daerah perkotaan dan 63% di daerah pedesaan.
Kemiskinan menyebabkan jutaan rakyat memenuhi kebutuhan pangan, sandang, dan papan secara terbatas, membuat anak-anak tidak bisa mengenyam pendidikan yang berkualitas, kesulitan membiayai kesehatan, kurangnya kemampuan untuk menabung dan berinvestasi, minimnya akses ke pelayanan publik, kurangnya lapangan pekerjaan dan jaminan sosial, serta menguatnya arus urbanisasi ke kota.
E. Tantangan Kemiskinan di Indonesia
Masalah kemiskinan di Indonesia sarat sekali hubungannya dengan rendahnya tingkat Sumber Daya Manusia (SDM). dibuktikan oleh rendahnya mutu kehidupan masyarakat Indonesia meskipun kaya akan Sumber Daya Alam (SDA). Sebagaimana yang ditunjukkan oleh rendahnya Indeks Pembangunan Masyarakat (IPM) Indonesia pada tahun 2002 sebesar 0,692. yang masih menempati peringkat lebih rendah dari Malaysia dan Thailand di antara negara-negara ASEAN. Sementara, Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) Indonesia pada tahun yang sama sebesar 0,178. masih lebih tinggi dari Filipina dan Thailand. Selain itu, kesenjangan gender di Indonesia masih relatif lebih besar dibanding negara ASEAN lainnya.
Tantangan lainnya adalah kesenjangan antara desa dan kota. Proporsi penduduk miskin di pedesaan relatif lebih tinggi dibanding perkotaan. Data Susenas (National Social Ekonomi Survey) 2004 menunjukkan bahwa sekitar 69,0 % penduduk Indonesia termasuk penduduk miskin yang sebagian besar bekerja di sektor pertanian. Selain itu juga tantangan yang sangat memilukan adalah kemiskinan di alami oleh kaum perempuan yang ditunjukkan oleh rendahnya kualitas hidup dan peranan wanita, terjadinya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta masih rendahnya angka pembangunan gender (Gender-related Development Indeks, GDI) dan angka Indeks pemberdayaan Gender(Gender Empowerment Measurement,GEM).
kemiskinan. maka tidak mustahil dalam jangka waktu yang relatif singkat kita akan bisa mengentaskan masyarakat dari kemiskinan pada skala nasional terutama dalam mendekatkan pelayanan dasar bagi masyarakat. Akan tetapi ketika pemerintah daerah kurang peka terhadap keadaan lingkungan sekitar, hal ini sangat berpotensi sekali untuk membawa masyarakat ke jurang kemiskinan, serta bisa menimbulkan bahaya laten dalam skala Nasional.
F. Kebijakan dan Program Penuntasan Kemiskinan
Upaya penanggulangan kemiskinan Indonesia telah dilakukan dan menempatkan penanggulangan kemiskinan sebagai prioritas utama kebijakan pembangunan nasional. Kebijakan kemiskinan merupakan prioritas Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009 dan dijabarkan lebih rinci dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) setiap tahun serta digunakan sebagai acuan bagi kementrian, lembaga dan pemerintah daerah dalam pelaksanaan pembangunan tahunan.
Sebagai wujud gerakan bersama dalam mengatasi kemiskinan dan mencapai Tujuan pembangunan Milenium, Strategi Nasional Pembangunan Kemiskinan (SPNK) telah disusun melalui proses partisipatif dengan melibatkan seluruh stakeholders pembangunan di Indonesia. Selain itu, sekitar 60 % pemerintah kabupaten/ kota telah membentuk Komite penanggulangan Kemiskinan Daerah (KPKD) dan menyusun Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD) sebagai dasar arus utama penanggulangan kemiskinan di daerah dan mendorong gerakan sosial dalam mengatasi kemiskinan. Adapun langkah jangka pendek yang diprioritaskan antara lain sebagai berikut:
1. Mengurangi kesenjangan antar daerah dengan;
a. penyediaan sarana-sarana irigasi, air bersih dan sanitasi dasar terutama daerah-daerah langka
sumber air bersih.
b. pembangunan jalan, jembatan, dan dermaga daerah-daerah tertinggal
c. redistribusi sumber dana kepada daerah-daerah yang memiliki pendapatan rendah dengan
instrumen Dana Alokasi Khusus (DAK) .
2. Perluasan kesempatan kerja dan berusaha dilakukan melalui bantuan dana stimulan untuk
modal usaha, pelatihan keterampilan kerja dan meningkatkan investasi dan revitalisasi industri.
3. Khusus untuk pemenuhan sarana hak dasar penduduk miskin diberikan pelayanan antara lain:
a. pendidikan gratis sebagai penuntasan program belajar 9 tahun termasuk tunjangan bagi
murid yang kurang mampu
b. jaminan pemeliharaan kesehatan gratis bagi penduduk miskin di puskesmas dan rumah sakit
Di bawah ini merupakan contoh dari upaya mengatasi kemiskinan di Indonesia. Contoh dari upaya kemiskinan adalah di propinsi Jawa Barat tepatnya di Bandung dengan diadakannya Bandung Peduli yang dibentuk pada tanggal 23 – 25 Februari 1998. Bandung Peduli adalah gerakan kemanusiaan yang memfokuskan kegiatannya pada upaya menolong orang kelaparan, dan mengentaskan orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan. Dalam melakukan kegiatan, Bandung Peduli berpegang teguh pada wawasan kemanusiaan, tanpa mengindahkan perbedaan suku, ras, agama, kepercayaan, ataupun haluan politik.
DAFTAR PUSTAKA
Nugroho, Gunarso Dwi.2006. Modul Globalisasi. Banyumas. CV. Cahaya Pustaka Santoso Slamet, dkk. 2005. Pendidikan Kewarganegaraan. Unsoed : Purwokerto. Santoso, Djoko. 2007. Wawasan Kebangsaan. Yogyakarta. The Indonesian Army Press