• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Metodologi Sejarah dan Peng

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Perkembangan Metodologi Sejarah dan Peng"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Perkembangan Metodologi Sejarah dan Pengaruhnya pada Historiografi Indonesia

Mu’ammar Ali Pradana 140731807748

A. Perkembangan Metodologi Sejarah

Sebagai salah satu ilmu, tentunya sejarah mempunyai sebuah metodologi yang dapat digunakan sebagai alat bantu untuk mendukung perkembangan ilmu sejarah itu sendiri. Metodologi dalam ilmu sejarah sangat berguna untuk penelitian sejarah (eksplanasi sejarah) dan penulisan sejarah (historiografi). Berbeda dengan bidang keilmuan yang lain, ilmu sejarah memang bertitik tumpu pada sumber-sumber sejarah baik yang berupa tulisan, prasasti, hasil-hasil kebudayaan, fosil, puing bangunan, hingga pada sumber-sumber lisan. Penggunaan sejarah. Karakteristik ilmu sejarah yang berbeda dengan bidang keilmuan yang lain menyebabkan ilmu sejarah memiliki sebuah metodologi khusus untuk melakukan eksplanasi dan historiografi. Pada dasarnya metodologi adalah prosedur eksplanasi (penjelasan) yang digunakan suatu cabang ilmu, termasuk ilmu sejarah, oleh karena itu metodologi atau science of methods meruapakan ilmu yang membicarakan jalan (Kuntowijoyo, 1994:xii).

(2)

Setelah tahap pencarian sumber, maka langkah selanjutnya adalah dengan melakukan kritik sumber yang sudah didapatkan. Kritik terhadap sumber ini dilakukan dengan dua cara yaitu kritik intern dan kritik ekstern. Kritik intern dilakukan dengan menguji sumber yang didapatkan dengan mempelajarai relevansi sumber yang didapatkan dengan melihat konteks peristiwa, konteks watu, dan konteks materi. Sehingga sebelum sumber itu diolah sebelumnya telah dilakukan pengujian yang bertujuan untuk menguji kebenaran dan validitas sumber tersbut. Tahapan kritik selanjutnya adalah dengan melakukan kritik ekstern. Kritik ekstern ini dilakukan dengan cara membandingkan sumber yang didapatkan dengan sumber yang lainnya. Pembandingan sumber ini dilakukan untuk melihat kesamaan konteks peristiwa, konteks watu, dan konteks materi. Selain itu, apabila terdapat kontradiksi antara sumber yang satu dengan lainnya maka peneliti dapat melihat sumber mana yang logis dan yang tidak logis sehingga dapat menentukan sumber tersebut valid atau tidak valid.

Langkah selanjutnya setelah melakukan kritik sumber atau verifikasi adalah tahap intepretasi. Tahap ini adalah proses peneliti untuk menafsirkan sumber-sumber yang telah melalui proses verifikasi baik secara ekstern maupun secara intern. Tahapan ini bergantung bagaimana sejauh mana intepretasi peneliti terhadap sumber tersebut. Subjektifitas dan subjektifisme peneliti sangat berpengaruh pada proses ini. Pada proses ini akan menentukan objektifitas peneliti karena proses ini akan diuji sejauh mana peneliti itu dapat kekuatan objektifnya, karena idealnya penulisan itu tidak memimhak namun terkadang penulisan sejarah dapat membelokan fakta-fakta yang ada. Setelah melalui proses intepretasi tahapan selanjutnya adalah historiografi. Proses historiografi ini adalah proses penulisan penelitian itu sendiri. Dasar dari penulisan itu adalah sumber-sumber yang telah melalui proses verifikasi dan intepretasi sumber-sumber yang dilakukan peneliti sebelumnya.

(3)

sebagainya. Metodologi sejarah yang sebelumnya masih sangat sederhana terus mengalami perkembangan hingga seperti sekarang. Perkembangan metodologi sejarah ini berdampak langsung pada perkembangan sejarah sebagai ilmu itu sendiri.

Banyak para tokoh-tokoh yang sebelumnya menganggap sejarah bukanlah sebuah ilmu yang beridiri sendiri. Sejarah dianggap sebagai ilmu bantu yang dapat digunakan sebagai alat untuk membuktikan sebuah fakta. Sifat sejarah yang universal itu sendiri yang menjadikan adanya anggapan seperti itu. Secara berganti-ganti sejarah telah dianggap suatu bentuk sastra, suatu cabang daripada studi humaniora, suatu pembantu bagi ilmu-ilmu sosial dan suatu metode untuk lebih mengerti semua seni dan ilmu. Apakah ada diantaranya, kesemuanya atau tak satupun klasifikasi tersebut di atas benar atau tidak, tidaklah mempengaruhicara kerja sejarawan untuk menganalisa kesaksian yang ada sebagai bukti yang dapat dipercaya mengenai masa lampau manusia. Kata Charles Seignobos: “Sejarah bukanlah suatu ilmu, melainkan suatu metode” yang dimaksudkannya adalah bahwa metode sejarah dapat diterapkan kepada pokok pembahasan disiplin manapun sebagai sarana untuk memastikan fakta (Gottschalk, 1986:19).

(4)

Kedekatan penulis dengan sumber-sumber tertulis itu juga menjadi penekanan oleh Ranke. Ranke menekankan pentingnya hubungan antara kepribadian penulis dengan apa yang dilaporkannya. Menurutnya setiap laporan mencerminkan perkembangan intelektual, situasi dan kepentingan penulisnya. Selain menetapkan cara-cara menguji isi dokumen (kritik intern), Ranke juga menetapkan bahwa penelitian sejarah ditujukan untuk menetapkan fakta yang benar. Karena menurutnya, apa yang dilaporkan dalam sumber sejarah bukan fakta karena hanya merupakan pandangan dari penulis dokumen yang bersangkutan. Fakta sejarah adalah hasil pekerjaan ahli sejarah yang harus merekonstruksikannya berdasarkan sumber-sumber yang tersedia (Sunarti, 2008). Penekanan Ranke kepada sumber yang berupa bahan tertulis sangat penting, karena Ranke sendiri dapat dikatakan merupakan tokoh sejarah yang memberikan porsi penting terhadap pemanfaatan sumber-sumber tertulis. Selain itu Ranke juga berpendapat bahwa setiap sumber yang didapatkan haruslah melalui proses pengujian. Proses pengujian yang dilakukan oleh penulis akan menentukan validitas sumber-sumber tertulis yang didapatkan tersebut.

Ranke bermaksud menjadikan posisi sejarah sebagaiilmu memiliki kesamaan drajat dengan ilmu-ilmu yang lainnya. Penekanan Ranke kepada sejarawan untuk mengungkapkan fakta-fakta berdasarkan bahan-bahan tertulis ini merupakan wujud dari usaha Ranke untuk mensejajarkan sejarah dengan ilmu pengetahuan yang lainnya. Sehingga sejarah tidak dianggap hanya sekedar metode untuk memabantu ilmu-ilmu pengetahuan yang lain namun sejarah merupakan sebuah ilmu yang berdiri dengan memiliki karakteristik khusus yang sejajar dengan bidang keilmuan yang lainnya.

(5)

banyak mengandung detail fakta-fakta. Kendati demikian, narativisme bukan hanya menafsirkan masa silam dan menyusun laporan secara kronologis. Narativisme juga ingin melukiskan sifat-sifat khas bagi suatu kurun tertentu (Ankersmith, 1987:47).

Pemikiran Ranke menyebakan perkembangan ilmu sejarah tumbuh dengan pesat. Sejak muncul pemikiran Ranke, ilmu sejarah menjadi bagian dari kurikulum Perguruan Tinggi dan berkembang dengan demikian pula muncul berbagai bentuk eksplanasi dikalangan ahli sejarah Perkembangan ilmu sejarah hingga tahun 1970-an telah melahirkan empat metodologi sejarah sosial berbeda-beda . Pertama adalah historiografi aliran empiris positifis, kedua adalah aliran yang melihat individu saja sebagai faktor utama perubahan sosial yang bersifat intensional dengan hermeneutika sebagai metodologinya. Ketiga, adalah aliran struktural dari Perancis yang dikenal sebagai “Aliran Annales” yang deterministis. Keempat tergolong struktural juga tapi lebih dikenal sebagai metodologi fungsional atau struktural sistematis yang bertumpu pada (grand theory) Talcott Parsons dan Neil Smelser (Sunarti, 2008).

Setelah munculnya pemikiran Ranke tentang ilmu sejarah, perkembangan metodologi sejarah mengalami perkembangan yang cepat. Dibuktikan pada tahun 1970an terdapat empat aliran metodologi sejarah yang muncul dan berkembang. Keempat metodologi yang berkembang pada tahun tersebut adalah empiris positifis, individualis, struturalis, dan struktural sistematis. Perkembangan metodologi sejarah yang pesat memuncul beberapa aliran yang yang mempunyai perbedaan pada tititk tekan metodologi tersebut. Misalkan adanya aliran metodologi individu yang secara garis besar menitik beratkan pada seorang individu sebagai penggerak sebuah peristiwa. Sehingga orientasi metodologi adalah seseorang yang mempunyai peranan besar dan berpengaruh pada sebuah peristiwa sejarah. Sehingga teori orang besar mempengaruhi metodologi individu ini.

(6)

Pendapat tersebut dilandaskan pada kepekaan terhadap berbagai permasalahan yang muncul. Konstruksi sejarah struktural menggunakan instrumen konsep-konsep dalam ilmu-ilmu sosial. Dengan jalan ini beragam permasalahan diharapkan akan muncul dan dipecahkan dengan pendekatan ilmu-ilmu sosial. Maka dari itu pendekatannya dapat dikatakan multidimensi (subektyw.wordpress.com/2013/11/23/metodologi-struktural-dalam-ilmu-sejarah/. Diakses pada Sabtu, 14 Desember 2014 Pukul 18.30 Wib).

Perkembangan selanjutnya, perkembangan metodologi memunculkan sebuah aliran baru. Pada era 1980-an muncul kritikan dari kalangan postmodernisme terhadap ilmu sejarah. Kritik itu pada awalnya ditujukan pada wacana-wacana moralistik yang menganggap pandangannya sendiri sebagai kebenaran mutlak yang tidak dapat dibantah. Doktrin postmodernisme bersumber pada teori linguistik dari Ferdinand Saussure yang berpendapat bahwa bahasa hanyalah “signifier” (petunjuk) pada “signified” (yang ditunjuk). Dalam ilmu sejarah itu berarti bahwa historiografi hanyalah permainan kata-kata. Postmodernisme tidak mempertimbangkan bahwa setiap cabang ilmu memiliki prosedur untuk menentukan kausalitas yang mengacu pada kebenaran atau realitas. Postmodernisme sengaja melupakan bahwa setiap cabang ilmu memiliki apa yang Chirstoper Lyod sebagai “structure of reasoning” (Sunarti, 2008).

Aliran postmodernisme ini secara garis besar menganggap bahwa historiografi hanyalah sebuah rangkaian kata-kata saja dengan menutup mata bahwa setiap peristiwa dalam kajian ilmu sejarah selalu mempunyai sebab-sebab yang melatar belakanginya. Aliran postmodernisme ini banyak mengalami pertentangan terlebih pada substansi kausalitas yang terdapat pada ilmu sejarah itu sendiri.

(7)

hambatan atau dorongan bagi tindakan perubahan itu. Teori sejarah memiliki kemampuan prediksi karena sebab musabab dalam metodologi strukturis ini memiliki ciri-ciri universal yang dapat dirumuskan dalam bentuk wacana. Namun hakekat ilmu sejarah sebagai “ilmu yang mempelajari manusia dalam dimensi waktu” menyebabkan para ahli sejarah menyadari bahwa unsur perubahan senantiasa menentukan penjelasannya tentang peristiwa-peristiwa. Pendekatan strukturis dalam ilmu sejarah merupakan kulminasi dari perkembangan metodologi sejarah dan terwujud sebagai perpaduan antara positivisme dan hermeneutika yang sebelumnya dianggap bertentangan, serta mengatasi dikotomi antara peristiwa dan struktur sosial sebagai obyek penelitian sejarah, dan upaya mengatasi kelemahan metodologis yang melahirkan postmodernisme dalam ilmu sejarah (Sunarti, 2008). Dalam metodologi strukturis ini memang merupakan sebuah perpaduan beberapa metodologi sejarah yang ada sebelumnya. Metodologi strukturis menitik tekankan bahwa peristiwa dan struktur merupakan satu kesatuan yang saling mempengaruhi, sehingga tidak dapat dipisahkan. Struktur dalam sebuah peristiwa dapat dijadikan sebagai sebuah dorongan atau hambatan.

B. Pengaruh Perkembangan Metodologi Sejarah terhadap Historiografi di Indonesia

Perkembangan metodologi sejarah tentunya mempunya pengaruh yang besar terhadap perkembangan historiografi khususnya di Indonesia. Penulisan sejarah Indonesia memang selalu mengalami perkembangan. Pada awal-awal penulisan sejarah Indonesia, memang penulis-penulis barat terutama dari Belanda mempunyai peranan penting. Mereka berupaya merekonstruksi sejarah Indonesia sejak masa pra aksara. Seperti kita lihat dalam masa yang lampau sejarah mempunyai fungsi untuk menafsirkan serta meneruskan tradisi bangsanya, serta bagaimana garis perkembangan kebudayaan masyarakatnya. Yang sangat penting dalam pemikiran tentang sejarah itu ialah bagaimana pandangannya terhadap perkembangan umat manusia pada umumnya serta peranan bangsanya didalamnya (Kartodirdjo, 1982:23).

(8)

acuan dan referensi sumber informasi yang masih digunakan pada pembelajaran sejarah hingga saat ini. Penulisan sejarah yang dilakukan oleh orang Indonesia sendiri mulai berkembangan sejak kemerdekaan Indonesia. Penulisan-penulisan yang mereka lakukan masih sangat sederhana dan hanya berkutat pada aspek-aspek besar pada masyarakat. Misalkan pada peperangan, pemimpin-pemimpin, dan peristiwa-peristiwa yang besar. Perkembangan penulisan sejarah Indonesia pada masa Orde Baru memang dibatasi oleh pemerintah pada saat itu. Pemerintah menggunakan kekuasaan dan kontrolnya untuk mengawasi penulisan sejarah yang sesuai dengan kehendak mereka. Pembelajaran sejarah di sekolah-sekolah juga menggunakan sebuah buku induk dari pemerintah. Sehingga pada saat itu perkembangan penulisan sejarah Indonesia mengalami pembatasan rezim perintah. Setelah runtuhnya Soeharto sebagai presiden, penulisan sejarah Indonesia mengalami perkembangan yang pesat. Penulis-penulis sejarah Indonesia mulai berani untuk mengungkap peristiwa-peristia sejarah yang dianggap tabu oleh pemerintah Orde Baru. Misalkan mereka mulai menulis tentang peristiwa G 30S yang pada masa Orde Baru hal itu sangat dilarang terlebih jika tidak sesuai dengan versi pemerintah.

(9)

Setelah meneruskan sekolah di Amsterdam dengan Desertasi Pemberontakan Petani Banten tahun 1888, merupakan karya pelopor, bukan saja dalam historiografi Indonesia, tetapi dalam historiografi akademik pada umumnya (Leirissa, 1994). Dalam desertasinya, Sartono mengunakan konsep-konsep kelompok sosial, struktur sosial, stratifikasi sosial, mesianisme, nativisme, kebudayaan dan lain-lain yang kemudian disebut pendekatan sejarah sosial. Pendekatan sejarah sosial yang kemudian lebih dikenal sebagai pendekatan multi-interpretability atau pendekatan multidimensional (Kartodirdjo, 1983:26).

Metodologi Strukturis yang merupakan metodologi dengan menggunakan pendekatan campuran antara hermeneutika dengan struktur. Metodologiini mencoba untuk mengungkapkan dan menampilan faktor kausalitas yang tidak bisa dilihat oleh panca indra. Misalkan dalam buku Geger Tengger (Perubahan Sosial dan Perkelahian Politik) karya Robert William Hefner. Dalam buku Geger Tengger karya Robert Hefner ini digambarkan sejarah tentang keadaan di Pegunungan Tengger, Kabupaten Pasuruan, sejak jaman kejayaan Hindu di Jawa sampai periode awal Orde Baru. Pada awal buku ini, Hefner menggambarkan eksistensi Hinduisme di Jawa sampai dengan saat keruntuhannya. Yang ternyata tidak berpengaruh pada eksistensi Hinduisme Tengger.

(10)

diketahuipendekatan strukturis digunakan Hefner dalam menulis buku tersebut. Selain menjelaskan struktur sosial dalam masyarakat di Tengger, Hefner juga menjelaskan faktor-faktor kausalitas dalam konflik yang terjadi di Tengger. Salah satunya adalah keadaan politik dan ekonomi yang selalu fluktuatif sesuai dengan pergantian penguasa.

Sisi lain dari penulisan sejarah Indonesia yang tidak bisa dihindari adalah subjektifitas dari penulis itu sendiri. Hal ini yang sangat berpengaruh pada isi dari tulisan. Terkadang subjektifitas penulis dapat menjadi bias tatkala opini yang mereka sampaikan bertentangan dengan fakta-fakta dari objek penelitian mereka sendiri. Memang subjektifitas penulis tak bisa lepas dari penulisan sejarah karena dengan subjektifitasnya itu sendiri fakta-fakta sejarah itu mereka tafsirkan. Sebagai ilmu, tentunya sejarah mempunyai sebuah etika dan disiplinnya yang secara langsung maunpun tidak langsung mengukat mereka saat melakukan penulisan sejarah. Etika dan disiplin itu sendiri yang akan menjaga kualitas sebuah tulisan apakah menjadi tulisan yang ilmiah atau tidak ilmiah. Sejarah memang dapat digunakan sebagai sarana doktrin, pembelaan, pembenaran, menuding kesalahan, dan menyudutkan lawan namun dengan disiplin itu sendiri sejarah harusnya menjadi sebuah pencerahan bagi pembacanya tentang sebuah kajian yang seobjektif mungkin.

Daftar Rujukan

Ankersmith, Refleksi Tentang Sejarah: Pendapat-pendapat Modern tentang Filsafat Sejarah. Jakarta: PT Gramedia, 1987.

Gottschalk, Louis. 1986. Mengerti Sejarah (terjemahan). Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Kartodirdjo, Sartono. 1982. Pemikiran dan Perkembangan Hisyoriografi Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Kartodirdjo, Sartono. 1983. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

(11)

Leirissa. 2001. Sejarah dan Demokrasi. Makalah Disampaikan Dalam Konfrensi Nasional Sejarah Indonesia VII. Jakarta. 28-31 Oktober 2001.

subektyw.wordpress.com/2013/11/23/metodologi-struktural-dalam-ilmu-sejarah/. Diakses pada Sabtu, 14 Desember 2014 Pukul 18.30 Wib

Sunarti, Linda. 2008. Perkembangan Metodologi Dalam Ilmu Sejarah. Artikel tidak diterbitkan. Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia

Referensi

Dokumen terkait

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK Jl.

BAB II ANALISIS SOAL LATIHAN PEMBELAJARAN KOSAKATA BAHASA PERANCIS DALAM MULTIMEDIA INTERAKTIF DUOLINGO 2.1 Analisis Butir Soal ……….. Rima

The difficulties that faced by the student when presenting the material consist of: the students bring note when they presenting the material, they often

6) Empowering Bukittinggi as the core area of West Sumatra tourism, as a main destination place of West Sumatra to cope with the other regional tourism development and

[r]

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah(Lembaran Negara

Seseorang tidak lagi hanya membahas sifat-sifat yang merupakan kualitas dari benda estetik, melainkan juga menelaah kualitas yang terjadi pada karya estetik tersebut, terutama

Makalah ini mencoba untuk melihat secara kritis fenomena partisipasi politik masyarakat melalui internet serta hubungannya dengan kualitas demokrasi.. Apakah