7 huruf dalam al Quran

12 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

7 huruf dalam al Quran

Di kalangan para pengkaji ilmu Al- Quran dan hadits, gagasan tentang pewahyuan Al-Quran dalam tujuh huruf merupakan masalah yang rumit dan masih menjadi teka-teki dalam sejarah Al-Quran. Karena meskipun riwayat-riwayat yang datang mengenai masalah ini sahih dan hampir mencapai derajat mutawatir--yakni prinsip tentang trnsmisi yang melalui mata rantai periwayatan yang independen dan otoritatif dalam suatu skala yang sangat luas, sehingga menafikan kemungkinan terjadinya kesalahan dan kekeliruan- namun riwayat-riwayat itu bersifat mujmal dan tak seorang pun pernah menanyakan langsung kepada nabi maksud Sa’bah Ahruf di sini.

Oleh karena itu, polemik tentang pewahyuan dalam Al-Quran dalam tujuh huruf tidak pernah usai, mulai dari para sarjana Al-Quran klasik sampai pengkaji Al-Quran kontemporer. Masing-masing ulama itu mempunyai argumen dan cara pandang berbeda mengenai masalah ini. Perbedaan-perbedaan itu memberikan ilustrasi bahwa alangkah sulit dan bahayanya pembahasan ini, dikatakan berbahaya karena kesalahpahaman dalam pembahasan ini bisa berakibat fatal terhadap Al-Quran itu sendiri, bahkan hal tersebut bisa dijadikan bumerang oleh musuh-musuh Islam untuk menghancurkan dasar utama umat Islam itu.

Latar Belakang Sosiologis Turunnya Sa’bah Ahruf dalam Al-Quran

Pada periode Makkah, Al-Quran memakai satu huruf yaitu bahasa Quraisy. Oleh karena itu Rasulullah dan para sahabat tidak menemukan kesulitan yang berarti dalam membaca dan memahami isi kandungan dalam Al-Quran. Namun, ketika Rasulullah dan para sahabat hijrah ke Madinah, situasi dan kondisi telah berbeda jauh dengan apa yang ada di Makkah, di mana banyak orang berbondong-bondong masuk islam dari berbagai kalangan yang berbeda. Di antara mereka ada yang lanjut usia dan tidak mengerti baca tulis, sehingga mendapat kesulitan dalam membaca Al-Quran yang sebelumnya tidak pernah terjadi pada periode makkah.[1]

Telaah Terhadap Hadits Pewahyuan Al Quran dalam Tujuh Huruf

Telah dikatakan di atas, bahwa hadits-hadits sab’ah ahruf mencapai derajat shahih dan tawatur. Seperti yang ditulis oleh Imam As-Suyuti di dalam Al-Itqan ada sebanyak 21 sahabat yang

meriwayatkan hadits sab’ah ahruf.[2] Namun, pada kenyataannya ada 24 sahabat.[3] Diantara para sahabat yang meriwayatkannya adalah Ubay bin Ka’b, Anas, Khudzaifah bin Yaman, Zeyd bin Arqam, Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Utsman bin Affan, Umar bin Khattab, Hisyam bin Hakam dan lain-lain. Hadits-hadits ini diriwayatkan oleh Bukhori, Muslim, Ibnu Hibban, al Hakim, dan telah ditakhrij oleh Abu Daud Nasai, Turmudzi, Ahmad, at-Thabari.

Adapun jumlah sanad hadits sab’ah ahruf, sebanyak 46 sanad. Diantara sanad-sanad tersebut tidak ada yang dhoif, kecuali delapan sanad. Begitu juga semua sanad muttasil, kecuali empat saja, hadits tersebut dikuatkan dengan hadits muttasil.[4]

Hadits-hadits inilah yang menjadi landasan kuat bagi ulama tentang adanya gagasan pewahyuan Al-Quran dalam tujuh huruf.

yang terkenal dari berbagai hadits ini adalah riwayat dari Umar bin Khattab dan Hisyam bin Hakam berikut ini: Dari Miswar bin Makhramah dan Abdur Rahman bin Al-Qari bahwa keduanya mendengar Umar bin Khattab berkata: “Aku berjalan melewati Hisyam bin Hakam bin Hizam yang tengah membaca Al-Furqan pada masa Rasulullah SAW. Lalu dengan cermat kudengarkan bacaannya. Dia membaca dalam dialek yang banyak, yang tidak pernah dibacakan Rasulullah kepadaku. Hampir saja kuserang dia dalam shalatnya, tetapi aku bersabar hingga ia menyudahi shalatnya, kemudian aku tarik bajunya dan menanyainya: “Siapa yang membacakan kepadamu surat yang kudengar tadi?” jawabnya: “Rasulullah yang membacakannya kepadaku.” Aku berkata: “Bohong kamu!

Sesungguhnya Rasulullah telah membacakannya kepadaku lain dari yang kamu bacakan.” Lalu aku bawa dia ke Rasulullah dan mengadukannya: “Sesungguhnya aku telah mendengar orang ini

membaca surat Al-Furqan dalam ahruf yang tidak pernah anda bacakan kepadaku.” Maka Rasulullah berkata: “Lepaskan dia, bacalah Hisyam!” Lalu Hisyam membaca dengan bacaannya yang kudengar tadi. Kemudian Rasulullah Bersabda: “Demikianlah surat itu diturunkan.” Kemudian beliau berkata: “Bacalah wahai Umar!” Maka aku pun membacakan bacaan yang pernah dibacakan Rasulullah kepadaku. Rasulullah lalu bersabda: “Demikianlah surat itu diturunkan. Sesungguhnya Al-Quran ini diwahyukan dalam tujuh huruf. Bacalah yang termudah darinya!”[5].

(2)

setelah itu juga melakukan hal yang sama. Mereka kemudian pergi menemui Rasulullah untuk mengklarifikasi bacaan-bacaan yang berbeda dan Nabi mendengarkan bacaan-bacaan itu. Hal ini membuat Ubay terpukul serta berkeringat dingin dan mencemaskan dirinya sebagai seorang pembohong. Melihat kondisi Ubay, Nabi lalu menenangkannya dan bersabda: “Hai Ubay, aku diutus untuk membacakan Al-Quran dalam satu huruf, tetapi aku menolaknya dan meminta agar umatku diberi keringanan. Kemudian diulangi lagi kepadaku yang kedua kali; Bacalah al Quran dengan dua huruf. Aku pun menolak lagi dan memohon agar umatku diberi keringanan. Lalu diulangi lagi yang ketiga kalinya: Bacalah Al-Quran dalam tujuh huruf.

Sementara, sejumlah hadits lainnya mengungkapkan pewahyuan Al-Quran dalam tujuh ahruf, tetapi tanpa merujuk kepada perselisihan tentang perbedaan bacaan di kalangan kaum muslimin generasi pertama. Jadi Bukhori dan Muslim, misalnya, meriwayatkan dari Ibnu Abbas, yang berkata bahwa Nabi pernah bersabda: “Jibril membacakan Al-Quran kepadaku dalam satu harf, tetapi aku

menolaknya. Dan aku terus memohon kepadanya agar ditambahkan, maka dia menambahkannya hingga akhirnya mencapai tujuh ahruf.”[6]

Demikian pula, dikabarkan Ubay bin Ka’b meriwayatkan bahwa ketika Nabi tengah berada di kolam Banu Ghaffar, Jibril datang kepadanya dan berkata: “Sesungguhnya Allah memerintahkanmu membaca Al Quran kepada umatmu dalam satu harf..” Nabi lalu menjawab: “Saya memohon perlindungan dan ampunan Allah, sesungguhnya umatku tidak mampu melakukannya.” Kemudian Jibril mendatanginya lagi dan berkata: “Sesungguhnya Allah memerintahkanmu membaca Al Quran kepada umatmu dalam dua huruf.” Nabi memberikan jawaban yang sama, kemudian datang lagi Jibril untuk ketiga kalinya dan berkata: “Sesungguhnya Allah memerintahkanmu membaca Al Quran kepada umatmu dalam tiga huruf.” Nabi masih juga memberikan jawaban yang sama, kemudian datang lagi Jibril untuk keempat kalinya dan berkata: “Sesungguhnya Allah memerintahkanmu membaca Al Quran kepada umatmu dalam tujuh ahruf. Huruf apa saja yang mereka gunakan dalam pembacaan Al Quran, maka mereka telah membacakannya secara tepat.”[7]

Dari Ubay ibn Ka’b berkata: “Rasulullah SAW, bertemu dengan Jibril pada suatu tempat bernama Ahjar al-Marwa beliau berkata: “Hai Jibril sesungguhnya saya ini diutus kepada umat ummiyyin (baca:buta huruf), di antara mereka adalah budak laki-laki, perempuan, nenek-nenek, kakek-kakek, dan orang-orang yang sama sekali tidak pernah membaca buku. Jibril menjawab, “Hai Muhammad, sesungguhnya Al Quran diturunkan dalam tujuh huruf.” (Hadits riwayat Tirmidzi dan beliau berkata, “Ini adalah hadits hasan sahih)[8]

Dari nash-nash di atas dapat kita ambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

a.Turunnya Al-Quran dengan tujuh huruf merupakan kemudahan bagi umat Islam. Dimana banyaknya orang yang masuk Islam dari berbagai golongan, usia, suku, dan bahasa mengakibatkan mereka mendapatkan kesulitan dalam membaca Al-Quran. Oleh karena itu, Rasulullah meminta keringanan dari Allah, sehingga turunlah Al-Ahruf as-Sab’ah.

b.Mulai terjadinya pembacaan dengan tujuh huruf setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, dengan alasan sebagai berikut:

Disebutkan dalam beberapa riwayat adanya dua tempat. Yaitu Ahjarul Mar’i dan kolam Banu Ghaffar dimana Rasulullah mendapatkan keringanan tujuh huruf, kedua tempat ini berada di Madinah. Dalam sebuah riwayat Ubay disebutkan, bahwa perselisihan terhadap bacaan surat An-Nahl itu terjadi di masjid. Seperti telah kita ketahui bersama bahwa masjid pertama kali dibangun adalah di Madinah.

c.Menurut DR. Abd. Shabur Syahin, izin memakai bacaan Al-Quran dengan tujuh huruf terjadi sekitar tahun 9 hijriyah.

d.Yang dimaksud Sab’ah adalah hakekat bilangan yang terletak antara bilangan enam dan delapan. e.Perintah membaca Al-Quran dengan tujuh huruf adalah lit Takhyir (tidak wajib). Oleh karena itu, tidak ada larangan bagi yang membaca Al Quran dengan salah satu huruf seperti dalam hadits dikatakan, “Dengan huruf apapun mereka baca, maka bacaan mereka adalah benar.”[9] Interpretasi Ulama Seputar Sab’ah Ahruf

Sejumlah besar sarjana muslim, selama berabad-abad telah berupaya menjelaskan apa yang

dimaksud dengan ungkapan sab’ah ahruf dalam riwayat-riwayat tersebut. Abu Hatim Muhammad ibnu Hibban al-Busti (wafat 354 H), misalnya, telah mengumpulkan 35 hingga 40 macam penjelasan tentang hal tersebut yang dapat ditemukan dalam berbagai buku. Abu Syamah (wafat 665 H), sekitar 650 H, bahkan menulis sebuah buku khusus tentang berbagai penjelasan tujuh ahruf tersebut. As-Suyuti dalam Itqan juga menyebutkan bahwa penafsiran yang berkembang di kalangan sarjana muslim tentang makna tujuh huruf ini tidak kurang dari empat puluh pendapat.

(3)

dengan kata-kata aktual yang ada dalam berbagai hadits. Beberapa ilustrasi berikut--yang dipilih dari penjelasan-penjelasan paling populer di kalangan sarjana muslim—akan menunjukkan hal ini.

1.Sebagian sarjana muslim menjelaskan pengertian sab’ah ahruf dengan Al-Abwab al-Sab’ah (tujuh segi), yang dengannya Al Quran turun. Ketujuh segi ini bertalian dengan perintah, larangan, janji, ancaman, perdebatan, kisah masyarakat terdahulu, dan perumpamaan.

Penjelasan ini, sekalipun didasarkan pada beberapa riwayat, jelas bertabrakan dengan hadits-hadits tentang tujuh ahruf yang menyiratkan perbedaan dalam pembacaan Al-Quran sebagai kemudahan bagi kaum muslimin, lantaran ketidak mampuan mereka membacanya dalam satu huruf.

Jika perbedaan di kalangan sahabat menyangkut hal-hal yang dijelaskan dalam kandungan Al-Abwab As Sab’ah, maka adalah mustahil bagi Nabi untuk menjastifikasi perbedaan-perbedaan tersebut, karena berkontradiksi antara satu dengan yang lainnya; yang halal bagi suatu bacaan bisa menjadi haram bagi bacaan lain, yang diperintahkan bisa menjadi terlarang, yang muhkam bisa menjadi mutasyabih atau sebaliknya, dan seterusnya.

2.Pemaknaan tujuh ahruf berikutnya adalah tujuh dialek (lahjah) yang berbeda. Yakni dialek Quraisy, Huzhail, Tsaqif, Hawazin, Kinanah, Tamim, dan Yaman. Menurut penjelasan ini, jika ketujuh dialek tersebut berbeda dalam mengungkapkan suatu makna, maka Al Quran diturunkan dengan sejumlah lafaz yang sesuai dengan dialek-dialek tersebut. Tetapi bila tidak terdapat perbedaan, maka Al Quran hanya diturunkan dengan satu lafaz.

Alan Ibnu Muhammad

tanpa jasa para penulis di masa lalu, kau tak mungkin seperti sekarang... maka balas budilah dengan menulis untuk generasi setelahmu

Wednesday, July 25, 2012

SAB'AH AL-AHRUF, Dan, Sumber Kemunculan Qira’ah Sab’ah

Prolog

Termasuk wacana kajian seputar ilmu Al-Qur'an yang sengit diperselisihkan adalah sebuah hadits فرحأ ةعبس ىلع نن آرقلا لزنأ”Al-Qur'an diturunkan dengan tujuh huruf” walaupun sebenarnya hadits ini jelas sahih dengan riwayat yang tergolong mutawatir, karna rawi yang meriwayatkannya mencapai 21 sahabat, bahkan sempat adanya sahadah (penyaksian banyak sahabat atas kebenarannya), namun secara global hadits ini banyak menimbulkan kontrofersi mengenai murad dan keberadaannya. Riwayat dari umar bin khottob, abdulloh bin mas'ud, ubay bin ka'ab dan rawi-rawi lain menyatakan. Bahwa. para shahabat berdebat mas'alah seputar bacaan (Qiraat) dalam al-qur'an, sebagian berbeda dengan yang lainnya dalam membaca suatu ayat. dan masing-masing sama meyakini atas

kebenaran bacaannya, akhirnya mereka meminta penjelasan kepada nabi. Nabi kemudian memerintahkan kepada masing-masing untuk membaca bacaannya, lantas beliau membenarkan semuanya tanpa terkecuali dan menyuruh mereka menetapi bacaannya walau masing-masing berbeda, sehingga ada sebagian dari mereka meragukan atas keputusan nabi. Rasulullah pun mengetahuinya Kemudian menepuk dada mereka yang ragu tadi dan berkata “aku diperintah untuk membaca al-qur'an dengan tujuh huruf “.

Dalam redaksi hadits lain yang di riwayatkan abi kuraib. Rasul bersabda.” ةعبس ىلع هأرقأ نأ ينرمأ فف اك فف اش اهلك ،ةنجلا نم بف اوبأ ةعبس نم ،فف رحأ “ “aku diperintah (Allah) untuk membaca Al-Qur'an dengan tujuh huruf dari tujuh pintu surga, semuanya mengobati dan mencukupi “.

Yang di maksud tujuh huruf adalah membaca Al-Qur'an dengan al-sinah as-sab'ah tujuh lisan (bahasa). Namun tetap dengan makna dan artian sama. seperti kata Ta'al dan Halumma dua lafadz sinonim yang memiliki satu arti “kemarilah”

Contoh dalam sebuah ayat “ اوننممآم نم يذذللا سذ ئميييم ميلمفمأم “ imam 'ali Kw dan ibnu abbas ra membacanya dengan bahasa lain “ اوننمآ نم يذذللا نذ يلبتميم مي لمفمأم “ begitu pula ayat “ةحيص لإ نورظنيام “ yang oleh abdullah dibaca “ ةةيقزم لإ نورظني ام “.

(4)

Mudlor”.yang lain mengatakan lima bahasa tertentu milik Hawazin, sedang dua lainnya menyeluruh bagi bangsa arab karna Hawazin berdekatan dengan temurunnya wahyu.

Maksud dari perkataan Utsman dan Ali “al-Qur'an diturunkan dengan bahasa mudlor atau qurais” adalah pertama kali Al-Qur'an diturunkan berupa dialek qurais, kemudian agar mudah bagi orang arab yang lain, allah memperbolehkan mereka membaca dengan bahasa masing-masing, sedangkan bagi selain orang arab lebih utama membaca dengan dialek qurais karna keutamaannya, juga bagi mereka yang ingin menghafal Al-Qur'an, maka dia harus dengan qurais sebagaiman pesan Ali pada ibnu mas'ud “ajarilah manusia dengan bahasa quraisy” karna bagi selain arab (ajam) semua dialek arab itu sama-sama sulit maka harus dipilih satu saja, namun yang lebih utama adalah bahasa nabi muhammad, dan untuk membaca yang lain juga diperbolehkan selagi tidak bertentangan dengan mushaf utsmani, sedang bagi orang arab yang kerepotan membaca dengan bahasa qurais maka ia tidak dipaksa untuk membaca dengan bahasa qurais ia diperbolehkan membaca dengan bahasanya bila tercakup dalam tujuh yang dimaksud.

Sedang yang dimaksud dengan tujuh pintu surga adalah ma'na yang ada dalam al-qur'an yang berupa amar, nahi, targhib, tathib, qosos, jadal dan mitsal yang pabila dikerjakan maka pelakunya dijanjikan masuk surga. Pendapat ini tidak bertentangan dengan pendapat ulama' mutaqaddimin. Yang dimaksud dengan potongan haditsفف اك فف اش اهلك” “ semuanya dari yang tujuh bisa mengobati dan mencukupi” adalah sama dengan sebuah penjelasan dalam surat yunus ayat 57 “ يفذ امملذ ءءافمشذ وم رودن صص لا” Al-Qur'an sebagai obat bagi orang mu`min dari setiap penyakit yang timbul dihati, berupa keraguan dari syetan. Dan sekaligus sudah mencukupi, dengan ayat yang masuk katagori mauidhoh dari salah satu huruf yang tujuh.

Kitab yang turun kepada ummat terdahulu hanya berupa satu bab dan di baca Cuma dengan satu huruf saja, Zabur milik nabi Daud Cuma berisikan tadzkir dan mauidzoh, Injilnya nabi Isa berisikan tamjid, mahamid, haddlu 'ala al-shafhi dan I'rodl, yang jika dibaca tidak dengan bahasa yang

diturunkan, maka dikatakan tarjamah atau tafsir, sedangkan Al-Qur'an turun dengan tujuh ma'ani dan bisa dibaca dengan tujuh bahasa, boleh dan mencukupi dengan membaca salah satunya, inilah diantarea keistimewaan dari ummat Muhammad.

Tujuh huruf itu mempunyai derajat dalam perbedaannya, ada yang berbeda dalam cara baca dan qiro'ahnya berupa qosr, mad dan lain sebagainya, namun tidak berbeda dalam bentuk tulisannya, sebagian yang lain berbeda dalam bentuk tulisannya, namun sedikit sekali yang seperti ini. Namun menurut Ibnu al-jazari ulama kemuka dalam bidang tajwid berkomentar bahwa perbedaan dalam masalah idzhar, idghom, raum, isymam, tafkhim, tarqiq, mad, qasr, imalah, tahqiq, tashil, ibdal dan naql bukanlah perbedaan dalam lafadz dan ma'na akan tetapi sifat yang berbeda dalam

penyampaiannya (ada') saja yang tidak sampai keluar dari satu huruf yang telah disepakati, seperti membaca imalah dalam lafadz “musa” dan beberapa lafadz lain atau bahkan semua lafadz yang berakhiran alif maqsuroh.

Perbedaan cara baca itu tidaklah sampai merusak arti Al-Qur'an, perbedaan itu hanya mengenai dialek yang masih menjadi kebiasaan yang sukar diubah oleh beberapa qabilah arab, hal ini terjadi tatkala setelah banyak qabilah arab yang berlainan lahjah memeluk islam, tujuannya jelas untuk memberikan keringanan pada ummat dan “Tashil” memberikan kemudahan kepada qabilah selain quraisy dalam membaca Al-Qur'an, kitab suci agama mereka, Sahabat Abdullah mengatakan. Saya mendengar suatu bacaan kemudian aku temukan Mutaqoribain (kesamaan satu sama lain). Maka bacalah sebagaimana yang kalian ketahui, jangan terlalu ketat dan keras. karna hal itu seperti perkataan kalian Halumma, aqbil dan ta'al yang berarti “kemarilah”.

Dalam jumlah bahasa bacaannya Para sahabat mempunyai fariasi yang berbeda. Imam mujahid membaca dengan lima bacaan, Sa'id bin Jubair dengan dua huruf dan yazid bin walid dengan tiga bahasa.

Suatu ketika sahabat anas membaca sebuah ayat dalam surat al-Muzammil “ دشا يه ليللا ةئشان نا ليق بوصأو أطو “ lalu sahabat yang lain (ada yang) menegor “ موقأو “ lantas anas berkata “ , موقأو

,

أيهأ بوصأ “ adalah sama. Hadits Mengenai Sab'ah Ahruf

Diriwayatkan dari ubay bin ka'ab bahwa ketika rasul diperintah untuk membaca dengan Cuma satu huruf, rasul masih mengajukan banding pada jibril “aku mohon ampunan dan perlindungan allah, sesungguhnya ummatku tak akan sanggup” kemudian jibril pun berlalu hal itu terulang sampai empat kali, akhirnya Jibril datang dengan membawa titah “sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk membacakan Al-Qur'an kepada ummatmu dengan tujuh huruf, dari huruf yang mana saja ia membaca maka ia telah benar”. Sebab mengapa Nabi berhenti untuk meminta, setelah jumlah bacaan mencapai tujuh, karna mungkin baliau tahu bahwa ummatnya berbeda dalam tujuh bahasa ini, maka rasul tidak meminta lebih dari itu (7) dalam membaca Al-Qur'an.

(5)

diutus kepada ummat yang ummy mereka ada yang budak, pelayan, orang tua yang harus bekerja demi keluarganya, yang tua bangka dan orang yang sama sekali tidak pernah membaca kitab” lantas jibril berkata “bacalah Al-Qur'an dengan tujuh huruf”. Rasululah juga bersabda “Bacalah apa yang paling mudah dari yang tujuh huruf “ sedemikian besar syafaqoh beliau terhadap ummatnya. Dengan memintakan rekomendasi kepada tuhan agar beban ummatnya diberikan keringanan dalam

melafadzkan kalam-kalam ilahi tidak dengan satu huruf melainkan dengan tujuh huruf.

Diceritakan oleh Muhammad bahwa malaikat jibril dan mikail mendatangi nabi Muhammad Saw. kemudian jibril berkata “bacalah qur'an dengan dua huruf” mikail berseru “tambahlah” “bacalah al-qur'an dengan tiga huruf” begitu seterusnya sampai tujuh huruf . Muhammad (rawi) mengomentari “jangan berbeda dalam masalah halal, haram dan amar, nahinya”.

Rasululah bersabda kepada Umar “wahai umar al-qur'an itu (yang tujuh) semuanya benar selagi tidak kau jadikan ayat rahmat menjadi ayat azhab dan sebaliknya ayat azhab kau baca sebagai ayat rahmat” Ibnu syihab mengatakan “telah sampai padaku bahwa tujuh huruf itu tetap dalam satu perintah (amar) tidak berbeda dalam segi halal dan haramnya”.

Riwayat dari ibnu mas'ud menyatakan bahwa rasul bersabda “al-qur'an di turunkan dengan tujuh huruf, setiap huruf mempunyai Dhahir (yang jelas / nampak) dan bathin (yang samar).dan setiap huruf ada had (batasan) nya dan setiap had ada tandanya”.

Rasululah bersabda “ragu-ragu dalam al-qur'an adalah kufur” -beliau mengulanginya tiga kali- apa yang kalian ketahui, lakukanlah! (bacalah) dan apa yang tidak kalian ketahui, maka bertanyalah pada orang yang mengetahuinya”. Dalam hadits lain “Barang siapa kufur terhadap satu huruf atau satu ayat dalam Al-Qur'an maka ia telah kufur pada semuanya”.

Dalam redaksinya Umar ra menyatakan bahwa pertemuan jibril dengan Muhammad terjadi di ahjar al-mira' sedang dari ubai bin ka'ab terjadi di 'adho`ah bani ghifar perbedaan ini bisa saja terjadi karna memang ayat dan kronologinya juga berbeda. ayat yang diseterukan oleh umar dengan sahabat lain adalah ayat dalam surat furqon sedang yang diperselisihkan oleh ubay ada pada surat an-nahl. Dari semua redaksi hadits seakan mengumpulkan bahwa asal mulanya tujuh huruf itu berfariasi, ada yang murni permintaan nabi dengan sedikit bernegoisasi terlebih dahulu kepada jibril, ada yang melalui perantara mika'il dan ada pula yang menyebutkan bahwa tujuh huruf itu perintah mutlak tanpa melalui suatu proses apapun dari jibril.

Tujuh huruf dengan beberapa ta'wilannya

Sebagian dari ummat salaf mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf di sana adalah sab'ah awjah, tujuh macam model penyampaian yang ada dalam al-qur'an yang berupa Amar, nahi, wa'ad, Wa'id, jadal, qosos, mitsal. Namun bila dita'wil sedemikian, maka akan terjadi kontrofersi hukum dalam al-qur'an, maka hukum akan tergantung bagaimana orang membacanya, orang yang membaca suatu ayat dengan teks fardlu, maka ia terkena khitob wajib untuk melaksanakannya, orang yang membaca dengan bentuk tahrim, maka ia pun diharam melakukan apa yang ia baca, begitu pula bagi orang yang membacanya dalam konteks takhyir, maka ia diperkenankan untuk memilih, boleh melaksanakan boleh tidak. Bagaimana hal ini bisa terjadi, padahal Allah swt telah menafikan kontrofersi dalam ayat al-qur'an dengan firmannya dalam surat annisa' 82, “ maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-qur’an ? kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak” lagi pula, kalau toh para sahabat kala itu berbeda dalam ma'ani al-qur'an bukannya lafadz, maka mustahil rasul membenarkannya, bahkan sampai menyuruh mereka menetapi bacaannya masing-masing, padahal nabi tidak mungkin memberikan sebuah keputusan atas suatu masalah dalam satu waktu dengan dua keputusan sekaligus dan beliau juga melarang hal itu pada ummatnya.

Sudah dimaklumi bahwa perdebatan antar sahabat bukanlah dalam segi tahlil (penghalalan), tahrim, wa'ad, wa'id, dan sesamanya karna hal itu mustahil akan dibenarkan oleh rasul. dan lagi, para sahabat antara satu sama lain tidak ada yang mengingkari bahwa Allah berhak memerintah, melarang, menjanjikan hambanya yang taat, mengancam yang berbuat maksiat menurut

kehendaknya, memberi mau'idhah pada nabinya dan memberikan perumpamaan-perumpamaan untuk hambanya. Mungkinkah mereka bersengketa dalam mas'alah tadi yang jelas-jelas mereka tidak berani menggugat hak otoritas tuhan yang maha berkehendak ? Masih mungkinkah mereka berbeda dalam membaca ma'ani al-qur'an ?..jelas imposible.

Ada yang menakwili bahwa tujuh huruf itu adalah, ada tujuh bahasa yang terdapat dalam Al-Qur'an yakni tujuh ibarat dari bahasa-bahasa yang berbeda dari qabilah arab, namun yang mendominan adalah berupa dialek Qurais. Menurut Ibnu Atiyyah “maksud dari hadits “'ala sab'ati ahruf” bahwa didalam Al-Qur'an terdapat tujuh ibarat dari bahasa tujuh qabilah arab, kadang Al-Qur'an

(6)

berebut air di sebuah sumur, salah satunya berkata “Ana Fathartuha” yakni “Ana Ibtada'tuha” dari sini sahabat itu mengetahui makna fathara yang ternyata bermakna ibtada'a (yang memulai pertama kali). Pendapat ini jelas membuahkan kerancuan idiologi, yakni tidak bisa menselaraskan ide tersebut dengan persengketaan sahabat yang kemudian masing-masing dibenarkan oleh nabi. Karna mereka tidak mungkin bersengketa kalau yang dibaca adalah ayat dan surat yang berbeda dan lebih mustahil lagi masalah pembenaran yang dilakukan oleh nabi.

Antara Qiro'ah Sab'ah Dan Sab'atu Ahruf

Sebagian ulama' mengatakan bahwa tujuh huruf itu masih ada dan tetap eksis sampai sekarang yang kini popular dengan sebutan Qiroah Sab'ah. Inipun juga tidak berdasar kalau tujuh huruf itu di artikan sedemikian, lalu bagaimana dengan qiro'ah asyroh yang tetap boleh dibaca, sekalipun bukan tawatur apakah itu bukan Al-Qur'an?

Timbulnya qira'ah sab'ah adalah setelah masa tersebarnya mushaf yang di sebarkan oleh sayyidina utsman ra di berbagai pusat Negara islam, jadi bukan bermula pada masa hidupnya nabi, melaikan pada abad pertama dan tersiar setelah abad kedua.

Tersebutlah tujuh orang imam yang masyhur ahli qira'ah yang dikemudian hari terkenal dengan qiro'ah assab'ah, karena masing-masing teliti dalam meriwayatkan qiro'ah yang bermuara dari nabi Muhammad dan sesungguhnya masih ada tiga lagi imam yang lebih dikenal dengan qiraah asyrah sekalipun riwayat mereka tidak mencapai derajah mutawatir namun bacaan mereka tetaplah di akui berbeda dengan qiroah asyara yang dikenal dengan qiroah syadznya, oleh sebab itu adanya qiro'ah sab'ah itu tidak ada sangkut pautnya dengan hadits nabi mengenai tujuh huruf dalam Al-Qur'an, melainkan memiliki dasar tersendiri.

Sayyidina utsman ra tidaklah melakukan penyatuan yang nyata dalam menulis mushafnya, namun beliau masih menyisakan bacaan yang berbeda dalam segi qira'ah dan ada` yang merupakan bagian dari salah satu tujuh huruf yang dimiliki Al-Qur'an, karna memang tulisannya tidak berbeda dan cocok dengan khot mushaf utsmani yang disepakati oleh sahabat. Jadi yang dihapus itu bukan secara mutlak. tapi secara global, dengan artian yang menyalahi huruf quraisy dan tidak bisa dita'wil saja. Tanpa memandang apakah penghapusan itu terjadi pada masa rasul atau setelahnya

Penulisan mushaf utsmani yang ketika itu dengan khot kufi, tanpa titik dan harakah adalah untuk mengakomodasi terhadap sab'atu ahruf, agar huruf yang berbeda dengan dialek quraisy (dalam segi titik dan harakah) namun bentuk tulisannya sama, bisa dicakup, seperti lafadz اهزشنن yang dibaca اهزسنن , sedangkan yang berbeda hurufnya seperti lafadz ىصوو dengan ىصو أو maka ditulis dalam mushaf lain, Seperti lafadz " باتكلابو ربزلاب " dengan tambahan ba' dalam mushaf yang dikirimkan ke kota Syam, dan lafadz " راهنلا اهتحت نم يرجت " dengan tambahan huruf نم dimusahaf al-makki. Oleh karena itu syarat untuk bacaan shahih diharuskan sesuai dengan salah satu dari tujuh mushaf yang ditulis oleh sayyidina utsman tersebut dan bagi yang menyalahi maka dikatakan syadz karma menyalahi tulisan yang sudah mujma' 'alaih (disepakati).

Imam makki bin abi thalib mengatakan bahwa qira'at yang kini masyhur dibaca dan disahkan riwayatnya dari para imam itu adalah sebagian dari tujuh macam huruf yang sesuai dengan huruf ketika Al-Qur'an diturunkan, namun bukan berarti yang dimaksud tujuh huruf adalah tujuh qiraah ini melainkan sebagian / diantaranya.

Penghapusan

Kadang ada yang masih terasa janggal dipikiran kita, seperti apa contoh dari tujuh bahasa itu, kenapa yang tersebar Cuma satu, kemudian yang enam kemana, apakah di hapus lantas tidak diberlakukan lagi ? atau malah terlupakan, terus apakah ummat ini telah menyia-nyiakan sesuatu yang seharusnya dijaga ? what happen ?

Sebenarnya perihal ini pun masih khilaf yang pertama menyatakan tidak dihapus, pun pula ummat ini tidak masuk dalam katagori menyianyiakan Al-Qur'an yang seharusnya dijaga. Memang benar ummat ini diperintah untuk menjaga Al-Qur'an, Hanya saja mereka diberikan pilihan salah satu hurufnya saja, seperti halnya seorang yang melanggar janji, maka ia diberikan pilihan satu dari tiga sangsi antara membebaskan budak, puasa atau memberikan makanan, begitu pula dalam masalah ini, dengan menjaga satu saja maka sudah cukup, lagi pula bahasa qurais adalah yang asli.

Menurut Abu bakar bin 'arabi “ semua bahasa dan qira'ah gugur kecuali apa yang tertulis dalam mushaf utsmani atas kesepakatan para sahabat sedang izin untuk membaca yang lain sebelum itu telah habis”.

(7)

maka mereka tidak lagi diperkenankan membaca dengan bahasa yang berbeda”.

Ketika sayyidina utsman ra mengerahkan prajurit syam dan irak untuk memerangi penduduk Armenia dan adzribaijan, datang sahabat hudzaifah bin tsabit menghadap beliau dan menghabarkan bahwa pasukan muslimin berselisih mengenai bacaan Al-Qur'an, untuk itu dia menganjurkan agar kholifah mengirimkan mushaf yang pernah ditulis pada masa abu bakar ke berbagai kota yang berselisih untuk disatukan (disamakan) bacaannya, supaya nantinya tidak sama dengan kaum yahudi yang yang berselisih dalam urusan kitab mereka.

“apabila kalian berselisih tentang suatu bacaan maka hendaklah kalian tulis dengan dialek quraisy, karna Al-Qur'an diturunkan dengan bahasa quraisy” begitulah pesan utsman kepada juru salin mushaf, kemudian mushaf-mushaf itu di sebarkan ke kota makkah, basrah, kufah, syam dan satu beliau simpan sendiri (di madinah) dan disebagian riwayat disebutkan tujuh salinan, dua lainnya ke yaman dan Bahrain. Pada waktu itu beliau memerintahkan agar naskah Al-Qur'an yang

sebelumnya dibakar agar menyatu pada satu mushaf yang asal, sebelum diberikan rekomendasi membaca dengan berbagai macam dialek yang berbeda, yaitu Al-Qur'an dengan dialek quraisy yang dulunya tersimpan rapi dirumah hafshah. sekaligus untuk meredam perselisihan antara ummat islam dalam membaca ayat Al-Qur'an.

Dari sini sebagian ulama mengatakan bahwa enam huruf selain dialek quraisy itu kini telah dinusakh dengan sendirinya setelah hilangnya masyaqqah yang ada, karna rukhsoh, ketika sababnya telah sirna, maka kembali pada hukum asal, yaitu bacalah Al-Qur'an dengan satu huruf, bahasa quraisy tempat nabi diutus dan Al-Qur'an diturunkan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits nabi “qurasy afshahu lisanan” bahasa quraisy adalah yang terfasih bahasanya.

Ulama' yang mengatakan terhapusnya huruf yang enam pun masih berselisih apakah penghapusan terjadi pada masa nabi atau setelahnya namun kebanyakan lebih condong bahwa penghapusan itu terjadi pada masa rasul.

Tujuh bahasa itu selesai dan habis masa berlakunya ketika pengumpulan mushaf pada satu huruf dilakukan demi menghilangkan persengketaan, karna pertama kali Al-Qur'an diturunkan dengan bahasa quraisy, kemudian diperbolehkan bagi orang arab yang mana Al-Qur'an diturunkan kepada mereka dan sekaligus mereka sebagai sasaran khitab ketika itu, untuk membaca dengan bahasa mereka masing masing yang telah menjadi perkataan sehari-hari walaupun berbeda dalam lafadz dan I'rabnya, dan tidak ada paksaan bagi mereka untuk membaca dengan bahasa lain, Karena hal itu menyulitkan bagi mereka, kemudian rasul wafat sedang setiap sahabat memegang bacaan yang telah diajarkan oleh beliau walaupun berbeda dengan sahabat yang lain hal inilah yang kemudian menyebabkan persengketaan antar sahabat yang tidak mengetahui akan adanya tujuh bahasa yang diinformasikan oleh nabi, karna disibukkan dengan peperangan.

“Unzilul qur'an 'ala sab'ati ahruf” al-Qur'an diturunkan dengan tujuh huruf, begitulah sabda nabi menyikapi berdebatan para sahabatnya yang berselisih dalam perbedaan bacaan ayat, namun ketika mereka kembali berselisih karna adanya tujuh huruf ini, maka para pemuka shahabat kala itu sepakat untuk mengembalikannya pada satu huruf dan mengumpulkannya dalam mushaf yang sampai kini terkenal dengan sebutan mushaf utsmani. Itulah Al-Qur'an yang sering dikoreksi oleh malaikat jibril sekali dalam setahunnya tiap bulan ramadlan dan dua kali untuk yang terakhir kali. Wallahu a'lam. Alan Ibnu Muhammad at 6:36 AM

Share

No comments: Post a Comment ›

Home

View web version

Powered by Blogger

MAKNA “AL-QUR’AN TURUN DALAM TUJUH HURUF” (Bagian-2) Selasa, 01 Nopember 11

(8)

Barr menyandarkan pendapat ini kepda kebanyakan ulama. Dan yang menunjukkan hal ini adalah hadits Abi Bakrah radhiyallahu 'anhu:

: . :

ةمعمبيسم وأ ةتس غملمبم ىتلحم نذ ييفمريحم ىلمعم لم اقمف هنديزذتمسي ا لن يئذاكم يمذ لماقمفم فف ريحم ىلمعم نم آريقنليا أرمقيا دمحم اي لم اقم لن يرذبيجذ نأ

:

بي همذياوم مللنهموم لي بذقيأموم لماعمتم كم لذويقم ومحينم بفاذمعمبذ ةفممحيرم ةميمآ ويأم ةفممحيرمبذ بفاذمعم ةميمآ ميتذخيتم ميلم امم فف اكم فف اشم اهملصكنن لماقمفم فف رنحيأم لي جج عي وم عيرذسي أموم

” Sesungguhnya Jibril 'alaihissalam berkata:”Wahai Muhammad, bacalah al-Qur’an dalam satu huruf.”

Maka Mikail 'alaihissalam berkata:”Mintalah tambahan huruf.” Maka Jibril 'alaihissalam berkata:”Dalam dua huruf.” Dan Jibril 'alaihissalam terus menerus menambahkannya sampai dalam enam atau tujuh huruf. Lalu ia mengatakan:”Semuanya adalah obat penawar yang memadai, selama ayat adzab (ayat yang menceritakan tentang siksa) tidak ditutup dengan ayat rahmat (ayat yang menceritakan tentang rahmat/kasih sayang) dan ayat rahmat tidak ditutup dengan ayat adzab. Seperti ucapanmu , ي رذسع ي أم ب , ي همذيا ل ,ي بذقيأم لماعمتم , :

dan ) ”لي جج عي HR Imam Ahmad no. 21055 (

Imam Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata:”Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyebutkan lafazh-lafazh tersebut hanyalah untuk memberikan contoh terhadap huruf-huruh (dialek) yang dengannya al-Qur’an diturunkan, dan bahwasanya ia adalah makna-makna yang sama

pemahamannya, dan beda pengucapannya. Dan tidak ada satupun di dalamnya makna yang saling bertentangan, dan tidak ada sisi makna yang kotradiksi dan menafikkan makna sisi yang lain, seperti kata rahmat yang berlawanan dengan adzab.”

Dan pendapat ini dikuatkan oleh hadits yang banyak, di antaranya:

:

ملسو هيلع هللا ىلص هللا لوسر ىلع تن أرق دقل لاقف ،هيلع ريلغف هنع هللا يضر باطخلا نب رمع دنع لجر أرق :لاق ؟اذكو اذك ةيآ ينئرقت ملأ ،هللا لوسر اي لاقف ،ملسو هيلع هللا ىلص يبنلا دنع امصتخاف لاق ي : : .ل لع ريجغي ملف :لاقو هردص بم رضف لاق ،ههجو يف كلذ ملسو هيلع هللا ىلص يبنلا فرعف ،ءيش رممع ردص يف عقوف لاق ىلب : : !

: - -

ةةمحر اباذع وأ ابةاذع ةةمحر لي عجت مل ام ،باوص هللك نآرقلا نإ ،رنمع اي لاق مث اثةلث اهلاق انةاطيش ديعمبا.

” Ada seorang laki-laki yang membaca al-Qur’an di sisi ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, lalu

hal itu membuat ‘Umar marah, lalu orang itu berkata:”Aku telah membacanya di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, namun beliau tidak memarahiku.” Perawi hadits berkata:”Lalu keduanya berselisih pendapat di hadapan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.” Maka orang itu berkata:”Wahai Rasulullah bukankah anda membacakan kepadaku ayat ini dan ini?” Beliau bersabda:”Ya benar” Perawi berkata:”Maka dalam diri ‘Umar radhiyallahu 'anhu ada sesuatu yang mengganjal (ketika mendengar jawaban Nabi), maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengetahui hal itu dari wajahnya. Lalu beliau menepuk dada ‘Umar dan bersabda:”Jauhilah setan” Beliau mengulanginya tiga kali. Kemudian beliau juga berkata:”Wahai ‘Umar, Al-Qur’an itu seluruhnya adalah benar, selama ayat rahmat tidak dijadikan ayat adzab, dan ayat adzab tidak dijadikan rahmat.” (Tafsir ath-Thabari)

Dari Busr bin Sa’id radhiyallahu 'anhu:

: :

هيلع هللا ىلص هللا لوسر نم اهتيقللت اذه لاقف ،نآرقلا نم ةيآ يف افلتخا نيلجر نأ هربخأ يراصنلا ميهجن ابأ نأ

: .

،اهنع ملسو هيلع هللا ىلص هللا لم وسر لأسف ،ملسو هيلع هللا ىلص هللا لوسر نم اهتيقللت رخلا لاقو ملسو

:

هيف ءارمذلا نم إف ،نآرقلا يف اويرماممت لف ،فرحأ ةعبس ىلع لزنأ نآرقلا نن إ ملسو هيلع هللا ىلص هللا لوسر لاقف ) رءفك

1 (

” Abu Juhaim al-Anshari telah mengabarkan kepadaku, bahwa ada dua orang laki-laki berselisih mengenai satu ayat di dalam Al Qur'an. Salah satu dari keduanya berkata:"Sesungguhya saya telah menerima langsung dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." Sedangkan yang lain berkata:"Saya juga menerimanya langsung dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." Lalu keduanya menanyakan hal itu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka beliau pun bersabda:"Sesungguhnya Al-Qur`an itu diturunkan dengan tujuh huruf, maka janganlah Al-Qur'an itu diperdebatkan dan diperselisihan. Karena perdebatan mengenai ayat Al-Qur'an itu merupakan kekufuran." (HR. Ahmad dalam al-Musnad, Ath-Thabari dalam Tafsirnya)

Dari al-A’masy rahimahullah, ia berkata:”Anas radhiyallahu 'anhu membaca ayat ص شدم أم يم هذ لذ ييلللا ةمئمشذ انم نل إذ

(9)

(Anas), kalimat itu ialah منومقيأم (bukan بن ومصي أم ). Maka beliau pun berkata:”بن ومصي أم مومقيأم , dan أيمهيأم maknanya sama.” (HR. Imam ath-Thabari)

Dan dari Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata:

هل لاقف نيفرح ىلع نآرقلا إرقا ليئاربج هل لاقف ملسو هيلع هللا ىلص يبنلا ايتأ ليئاكيمو ليئاربج نأ تئبنن . :

: . : . : . :

لاق ،فرحأ ةعبس غلب ىتح لاق هدزتسا ليئاكيم هل لاقف فرحأ ةثلث ىلع نآرقلا إرقا لاقف هدزتسا ليئاكيم لإذ تي نماكم ن } ي إذ انتءارق يفو لاق ،لبقأو ملهو لاعت كلوقك وه،يهن لو رفمأ لو ،مارح لو للح يف ف : : ن لتخت ل دمحم :

:سي ةروس ةةدمحذاوم ةةحمييص] { م 29

، 53 (ةدحاو ةيقز لإ تناك نإ دوعسم نبا ةءارق يف ، ) [

” Aku diberitahukan bahwa Malaikat Jibril dan Mikail 'alaihimassalam menemui Nabi shallallahu 'alaihi

wasallam, lalu Jibril 'alaihissalam berkata:”Bacalah al-Qur’an dengan dua huruf.” Maka Mikail 'alaihissalam berkata kepada beliau:”Mintalah tambah” Maka Jibril 'alaihissalam berkata:”Bacalah al-Qur’an dengan tiga huruf” Lalu Mikail 'alaihissalam brrkata lagi:”Mintalah tambah” Perawi berkata:”Hingga sampai tujuh huruf” Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata:”Huruf-huruf (bacaan-bacaan) tersebut tidak berbeda dalam masalah halal haram, dan tidak pula dalam masalah perintah dan larangan. Namun ia hanya seperti perkataanmu:’Ta’aal, Halumma, dan Aqbil. Dan seperti dalam qira’ah kita :

{ ةةدمحذاوم ةةحمييصم لإذ ت ي نماكم ني إذ } [53،29 :سي ةروس]

Dan dalam qira’ahIbnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu :

(ةدحاو ةيقز لإ تناك نإ )

) Diriwayatkan oleh Imam ath-Thabari dalam Tafsirnya (

Pendapat yang kedua yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh bahasa (dialek) dari bahasa-bahasa (dialek) Arab yang dengannya al-Qur’an diturunkan, yang artinya bahwa secara keseluruhan kalimat-kalimat al-Qur’an tidak keluar dari ketujuh huruf tersebut dan ketujuh huruf tersebut terkumpul dalam al-Qur’an. Pendapat ini dijawab bahwa bahasa Arab lebih dari tujuh. Dan bahwasanya ‘Umar radhiyallahu 'anhu dan Hisyam bin Hakim keduanya adalah orang Quraisy, satu kabilah, namun keduanya berbeda dalam bacaan mereka. Dan mustahil kalau ‘Umar radhiyallahu 'anhu mengingkari bahasanya sendiri, maka hal itu menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf bukanlah apa yang dimaksud oleh mereka (pendapat kedua). Dan tidak ada maksud yang lain (dari tujuh huruf) kecuali ia adalah perbedaan alfazh dalam mengungkapkan satu makna, dan itu adalah pendapat yang kami rajihkan.

Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah setelah membawakan dalil-dalil (yang menguatkan pendapatnya) beliau berkata dalam rangka membatalkan pendapat kedua:”Bahkan tujuh huruf yang dengannya al-Qur’an diturunkan adalah tujuh bahasa dalam satu huruf, dan satu kalimat dengan perbedaan lafazh-lafazh dan kesesuaian makna. Seperti perkataan anda:”يبذريقن يوذحينم يدذص , ي قم ي ,ل لمإذ لاعمتم ل , ,ي بذقيأم مللنهم , dan yang lain, dari lafazh-lafazh yang pengucapannya berbeda namun maknanya sama, sekalipun lisan-lisan mereka berbeda dalam menjelaskannya. Seperti yang kami riwayatkan dari Rasulullah

shallallahu 'alaihi wasallam dan yang kami riwayatkan dari Shahabat radhiyallahu 'anhum. Dan itu seperti perkataan anda:” لاعمتم ل ,ي بذقيأم مللنهم , . juga perkataan:”Maa Yanzhuruuna Illa Zaqiyyatn.’ dan dibaca pula:“Illaa Shaihatan.”

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah menjawab pertanyaan yang mungkin terlontar:”Di kitab Allah yang mana kita dapati satu huruf dibaca dengan tujuh bahasa (dialek) yang berbeda lafazh dan sama dalam makna?” Maka beliau rahimahullah menjawab:”Kamu tidak mengklaim kalau hal itu ada sekarang ini” Dan terhadap pertanyaan lain:”Lalu bagaimana dengan keenam huruf lainnya, kenapa ia tidak ada?” Beliau jawab:”Umat Islam diperintahkan untuk menjaga (menghafalkan) al-Qur’an, dan mereka diberi pilihan untuk membaca dan menghafalnya dengan huruf mana saja dari ketujuh huruf tersebut yang mereka suka. Kemudian setelah itu ada alasan yang mengharuskan mereka

(10)

mana mereka terjaga dari kesesatan (maksudnya kesepakatan mereka adalah benar karena ummat ini dijaga dari kesesatan).” (Tafsir ath-Thabari)

Pendapat ketiga yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh sisi bahasa; yaitu berupa amr (perintah), nahyu (larangan), halal, haram, muhkam, mutaysabih, dan matsal (perumpamaan). Maka bisa dijawab bahwa zhahir (makna yang nampak) dalam hadits-hadits tersebut menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah suatu kalimat yang dibaca dengan dua, tiga sampai tujuh model bacaan dalam rangka memberikan kelonggaran bagi ummat ini. Dan satu perbuatan atau benda tidak mungkin menjadi halal atau haram dalam satu ayat, dan makna kelonggaran bukan dalam hal mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram dan juga bukan dengan merubah sesuatu dari maknanya yang disebutkan.

Dan yang ada dalam hadits-hadts yang lalu menjelaskan bahwa para Shahabat radhiyallahu

'anhumyang berselisih dalam bacaan menghadap kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau meminta masing-masing dari mereka untuk membaca, kemudian beliau shallallahu 'alaihi wasallam membenarkan masing-masing dari bacaan mereka sekalipun bacaannya berbeda-beda. Sampai-sampai sebagian shahabat bingung terhadap pembenaran beliau terhadap bacaan-bacaan tersebut. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada para Shahabat yang bingung ketika beliau membenarkan semua bacaan:

فوحأ ةعبس ىلع أرقأ نأ ينرمممأ هللا نلإ

” Sesungguhnya Allah memerintahkan aku untuk membaca al-Qur’an dengan tujuh huruf ”.

Dan sudah dimaklumi bahwa perdebatan (perselisihan) mereka dalam hal-hal yang mereka perselisihkan di dalamnya adalah bagian dari itu (dalam masalah bacaan). Seandainya perdebatan mereka dan perselisihan mereka dalam makna yang ditunjukkan oleh bacaan mereka berupa, penghalalan, pengharaman, janji, ancaman dan yang semisalnya tentu mustahil bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk membenarkan semuanya (perbedaan mereka), dan (mustahil) memerintahkan masing-masing mereka untuk berpegang teguh dengan bacaannya masing-masing di atas apa yang ada pada mereka.

Dan juga seandainya hal itu boleh dibenarkan maka berarti Allah Yang Mahaterpuji telah

memerintahkan sesuatu dan mewajibkannya –dalam bacaan orang yang bacaannya menunjukkan wajib- dan sekaligus melarang hal yang sama dan memperingatkannya –dalam bacaan orang yang bacaannya menunjukkan larangan dan peringatan- dan juga membolehkan perbuatan itu. Dan berarti juga Dia membolehkan bagi siapa saja para hamba-Nya untuk melakukan apa yang mereka suka untuk mereka perbuat, dan bagi siapa dari para hambanya untuk meninggalkannya dalam bacaan orang yang bacaannya menunjukkan takhyiir (pilihan).

Dan hal menjadikan orang yang berkata dengan pendapat ini menetapkan –seandainya ia mengatakannya- apa yang telah dinafikkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam kitab-Nya:

} ارةيثذكم اةفلم تذخيا هذيفذ اودنجموملم هذللا رذييغم دذنعذ نيمذ نماكم ويلموم نماءمريقنليا نمورنبلدمتميم لمفمأم 82

{

” Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur'an? Kalau kiranya al-Qur'an itu bukan dari sisi

Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisaa’: 82)

Dan dalam penafian (peniadaan) Allah Yang Mahaterpuji terhadap adanya perbedaan (perselisihan) itu, adalah dalil yang sangat jelas bahwa Dia tidaklah menurunkan kitab-Nya melalui lisan Nabi-Nya, Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam melainkan dengan satu hukum yang disepakati oleh seluruh makhluknya, bukan dengan hukum-hukum yang berbeda-beda.

(11)

datang lewat Qira’ah Ahad (tidak mutawatir). Dan tidak ada perbedaan di kalangan ulama bahwa semua yang ada di dalam al-Qur’an ditetapkan lewat riwayat yang mutawatir. Dan kebanyakannya kembali kepada bentuk kalimat atau cara penyampaian, yang tidak menjadikan adanya perbedaan dalam lafazh. Seperti perbedaan dalam ‘Irab, Tashrif (Sharf), Tafkhim (penebalan bacaan huruf), Tarqiq (penipisan bacaan huruf), Fath, Imalah, Izhar, Idgham, dan Isymam. Dan ini bukan termasuk perbedaan yang di dalamnya ada bermacam-macam lafazh dan makna, karena sifat-sifat tersebut yang berbeda dalam pengucapannya tidak keluar dari statusnya sebagai satu lafazh.

Dan pembela pendapat ini memandang bahwa mushaf-mushaf ‘Utsmani telah mencakup ketujuh huruf ini semua, dalam artian bahwasanya ia mencakup huruf-huruf (bacaan) yang memungkinkan ditunjukkan oleh rasm (tulisan) tersebut. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.” (QS. Al-Mu’minun: 8) yang dibaca dengan bentuk jamak dan mufrad (tunggal) dalam rasm ‘Utsmani ditulis

, مي هذتذنملم bersambung dan di atasnya ada alif kecil (di atas huruf Miim dan Nuun).seperti dalam

firman-Nya dalam surat Saba’ ayat 19 : dengan menyambung huruf Ba’ dengan ‘Ain dan ada alif kecil (di

atas huruf Ba’) .

Dan ini tidak bisa diterima pada setiap sisi perbedaan yang mereka sebutkan. Seperti pebedaan dengan penambahan dan pengurangan, seperti dalam firman-Nya dalam surat at-Taubah ayat 100:

… 100}… رناهمنيلم اي اهمتمحيتم يرذجيتم تفانلجم ميهنلم دلعمأموم

Dan dibaca رناهمنيلم اي اهمتمحيتم نم يرذجيتم

dengan tambahan نم

dan firman-Nya dalam surat al-Lail ayat 3 :

Dan perbedaan dengan cara mendahulukan dan mengakhirkan, seperti dalam firman-Nya dalam surat Qaaf ayat 19:

(12)

Kalau seandainya hal-hal ini terkandung dalam mushaf ‘Utsmani maka tidak mungkin ia (mushaf ‘Utsmani) menjadi pemutus (solusi) perselisihan dalam masalah perbedaan bacaan. Hal ini

dikarenakan penyelesaian perbedaan itu hanyalah dengan mengumpulkan manusia di atas satu huruf di antara huruf yang tujuh yang dengannya al-Qur’an diturunkan. Kalau bukan karena itu (dengan cara itu) niscaya perbedaan tersebut akan berlangsung terus. Dan seandainya demikian niscaya tidak ada perbedaan antara pengumpulan al-Qur’an di zaman ‘Utsman radhiyallahu 'anhu dengan zaman Abu Bakar radhiyallahu 'anhu.

Namun yang ditunjukkan oleh atsar-atsar (riwayat) dalam masalah ini adalah bahwa pengumpulan (penyusunan) al-Qur’an yang dilakukan oleh ‘Utsman radhiyallahu 'anhu ada dengan cara menyalin salah satu huruf dari ketujuh huruf, sehingga menyatukan manusia di atas satu bacaan, yang mana beliau berpendapat bahwa pembolehan membaca al-Qur’an dengan tujuh huruf adalah dalam rangka mengangkat kesusahan dan kesulitan (dalam membaca dan menghafal) di masa-masa awal Islam, dan kebutuhan akan hal itu sudah berakhir. Maka kuatlah alasan untuk menghilangkan sumber Khilaf (perbedaan) dengan cara menyatukan manusia di atas satu huruf. Dan para Shahabatpun

menyepakati hal itu.

Dan para Shahabat radhiyallahu 'anhum di zaman ‘Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu 'anhuma belum butuh terhadap pengumpulan al-Qur’an seperti yang terjadi pada pengumpulan di zaman ‘Utsman radhiyallahu 'anhu. Karena di zaman keduanya belum terjadi perbedaan sebagaimana yang terjadi di zaman ‘Utsman radhiyallahu 'anhu. Dengan demikian ‘Utsman radhiyallahu 'anhu telah diberikan taufiq (ilham dan kemudahan) untuk melakukan hal yang besar, yaitu menghilangkan perbedaan, menyatukan ummat dan menenteramkan mereka.

Bersambung Insya Allah…..

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : 7 huruf dalam al Quran