Tugas Terstruktur Dosen Pengampu Sejarah Al-Qur’an Najib Irsyadi, S. Th.I, M.Hum SEJARAH AL-QUR’AN PADA MASA ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ
Disusun Oleh :
Atiatul Karimah 230103020055 Ahmad Raihan 230103020049 Calysta Shafa Salsabila 230103020058
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ANTASARI BANJARMASIN FAKULTAS USHULUDDIN DAN HUMANIORA
PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR 2024
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Al-Qur'an adalah kitab suci umat Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara bertahap. Pada masa Nabi Muhammad SAW, ayat-ayat Al- Qur'an dihafalkan dan sebagian ditulis oleh para sahabat, namun belum dikumpulkan dalam satu mushaf yang utuh. Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, muncul tantangan baru dalam menjaga otentisitas Al-Qur'an, terutama karena banyaknya para penghafal Al-Qur'an yang gugur dalam perang, seperti dalam pertempuran Yamamah.
Kekhawatiran akan hilangnya sebagian besar Al-Qur'an karena wafatnya para penghafal mendorong Khalifah pertama, Abu Bakar Ash-Shiddiq, untuk mengambil langkah penting dalam sejarah kodifikasi Al-Qur'an. Atas saran Umar bin Khattab, Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur'an dari berbagai sumber, termasuk hafalan para sahabat dan tulisan-tulisan yang tersebar di berbagai media seperti kulit, tulang, dan pelepah kurma. Proses ini menjadi tonggak penting dalam upaya pelestarian Al-Qur'an, karena untuk pertama kalinya Al-Qur'an dikumpulkan menjadi satu kesatuan dalam bentuk mushaf.
Makalah ini bertujuan untuk mengkaji latar belakang, proses, dan dampak pengumpulan Al-Qur'an pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq. Dengan memahami proses ini, kita dapat lebih menghargai usaha para sahabat dalam menjaga keaslian wahyu serta mengetahui tantangan yang dihadapi pada masa tersebut.
B. Rumusan Masalah
1. Apa latar belakang dilakukannya pengumpulan Al-Qur’an pada masa Abu Bakar?
2. Bagaimana proses pengumpulan Al-Qur’an yang dilakukan oleh para sahabat pada masa Abu Bakar ?
3. Apa saja tantangan yang dihadapi dalam proses pengumpulan Al-Qur’an pada masa Abu Bakar ?
PEMBAHASAN
A. Latar Belakang Pengumpulan Al-Qur’an Pada Masa Abu Bakar Ash-Siddiq Kurang dari setahun setelah wafatnya Rasulullah SAW, dan diangkatnya Abu Bakar sebagai khalifah, terjadi peristiwa penting dalam sejarah Islam, yaitu perang sengit di Yamamah. Pertempuran ini terjadi antara kaum Muslimin dan pasukan yang dipimpin oleh Musailamah al-Kazzab, yang dikenal sebagai nabi palsu atau pendusta.
Di satu sisi, kaum Muslimin, di bawah komando panglima perang Khalid ibn al- Walid, mengerahkan pasukan dengan jumlah yang diperdebatkan beberapa sumber menyebutkan sekitar 4.000 prajurit, sementara sumber lain mengatakan jumlahnya bisa mencapai 13.000 prajurit. Di antara pasukan ini terdapat sejumlah besar qurra (orang yang ahli dalam membaca Al-Qur’an) dan huffazh (penghafal Al-Qur’an), yang menunjukkan bahwa banyak di antara mereka adalah orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi dalam penguasaan agama.1
Di pihak Musailamah, pasukan yang dipimpinnya berjumlah sekitar 10.000 orang. Meskipun akhirnya kaum Muslimin berhasil memenangkan pertempuran ini, kemenangan tersebut diperoleh dengan harga yang sangat mahal. Banyak sahabat Rasulullah SAW yang gugur dalam pertempuran tersebut. Berdasarkan salah satu riwayat, sekitar 1.000 kaum Muslimin syahid, di antaranya 450 adalah sahabat, sementara yang lainnya terdiri dari kaum muallaf (orang yang baru masuk Islam).
Sumber lain menyebutkan bahwa jumlah korban syahid mencapai 1.200 orang, di mana sekitar 360 di antaranya berasal dari kalangan Muhajirin (para sahabat yang berhijrah dari Mekah ke Madinah) dan Anshar (penduduk asli Madinah yang mendukung hijrah). Lebih mengkhawatirkan lagi, di antara mereka yang gugur terdapat sekitar 70 qurra dan huffazh Al-Qur’an, yang memainkan peran penting dalam menjaga hafalan dan pemahaman Al-Qur’an. Bahkan, ada juga sumber lain
1A. Athaillah, Sejarah Al-Qur’an,( Cet.1,Februari 2006), hal.134.
yang menyatakan bahwa jumlah para qurra dan huffazh yang syahid bisa lebih dari itu.2
Peristiwa tragis ini memunculkan kekhawatiran yang mendalam di hati Umar ibn al-Khaththab. Dia sangat khawatir jika pertempuran semacam ini terus berlanjut, akan semakin banyak qurra dan huffazh yang gugur. Hal ini berpotensi menyebabkan hilangnya sebagian dari hafalan Al-Qu’ran, yang pada saat itu sebagian besar masih dihafalkan dan belum sepenuhnya terdokumentasi dalam bentuk tertulis. Umar merasa jika semakin banyak penghafal Al-Qur’an yang wafat, maka akan semakin besar kemungkinan bagian-bagian dari Al-Qur’an akan terlupakan atau hilang.
Oleh karena itu, dengan pertimbangan ini, Umar menyampaikan gagasan kepada Khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushaf, agar isi Al-Qur’an yang telah diturunkan kepada Rasulullah SAW tidak hilang atau terlupakan.
Pada awalnya, Abu Bakar ragu-ragu terhadap usulan Umar ini. Keraguannya disebabkan oleh fakta bahwa Rasulullah SAW sendiri selama hidupnya tidak pernah memerintahkan atau mengambil inisiatif untuk mengumpulkan Al-Qur’an dalam bentuk tertulis yang lengkap. Bagi Abu Bakar, mengikuti jejak Rasulullah SAW adalah hal yang paling penting. Namun, karena desakan dan keyakinan kuat dari Umar mengenai pentingnya tindakan ini demi menjaga kemurnian Al-Qur’an, akhirnya Abu Bakar mempertimbangkan kembali gagasan tersebut. Setelah berpikir panjang dan melihat manfaat yang akan didapatkan dari pengumpulan Al-Qur’an, Abu Bakar pun menyetujui usulan Umar dan memutuskan untuk memulai proses pengumpulan Al-Quran.3
B. Proses Pengumpulan Al-Qur’an Pada Masa Abu Bakar Ash-Siddiq
2 A.Athaillah, Sejarah Al-Qur’an, hal. 135
3 Muhammad Ichsan, Sejarah penulisan dan pemeliharaan Al-Qur’an pada masa Nabi Muhammad SAW dan sahabat, Jurnal Substantia,( vol.14, No.1, April 2012), hal.4
Menurut riwayat dari 'Ubaid ibn Sabbaq yang disampaikan oleh Imam Bukhari dalam kitabnya, Jāmi' al-Shahīh, disebutkan bahwa Zaid bin Tsabit menceritakan peristiwa penting pasca perang Yamamah. Setelah pertempuran tersebut, Zaid dipanggil oleh Khalifah Abu Bakar al-Siddiq, dan saat ia tiba, ia melihat Umar bin Khattab duduk di samping Abu Bakar. Abu Bakar kemudian berkata kepada Zaid, "Wahai Zaid, Umar telah mengemukakan kepadaku kekhawatirannya bahwa dalam pertempuran Yamamah, banyak para penghafal Al-Qur'an (qari) yang gugur.
Umar khawatir, jika pertempuran lainnya juga menewaskan lebih banyak qari, akan ada bagian-bagian dari Al-Qur'an yang bisa hilang karena tidak ada lagi yang menghafalnya. Oleh karena itu, Umar mengusulkan agar ayat-ayat Al-Qur'an dikumpulkan."
Zaid, yang merupakan penulis wahyu untuk Rasulullah SAW, awalnya merasa berat hati untuk melaksanakan tugas ini. Ia pun berkata kepada Umar, "Bagaimana kita bisa melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW?"
Umar menjawab dengan penuh keyakinan, "Demi Allah, ini adalah suatu kebaikan."
Umar terus-menerus meyakinkan Zaid, hingga akhirnya Allah membukakan hati Zaid untuk menerima usulan ini dan berpendapat sama dengan Umar. Abu Bakar kemudian menegaskan kembali tugas ini kepada Zaid dengan berkata, "Wahai Zaid, kamu adalah seorang pemuda cerdas yang selalu kami percayai. Selain itu, kamu adalah orang yang telah menuliskan wahyu untuk Rasulullah SAW. Karena itu, telitilah Al- Qur'an dengan seksama dan kumpulkan ayat-ayatnya."4
Zaid mengungkapkan betapa besar tugas yang diberikan kepadanya dengan berkata, "Demi Allah, jika aku diberi tugas untuk memindahkan gunung, itu tidaklah seberat tugas mengumpulkan Al-Qur'an yang kini diperintahkan kepadaku." Zaid pun kembali mempertanyakan, "Bagaimana mungkin kita melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW?" Namun, Abu Bakar terus menyampaikan
4A. Athaillah, Sejarah Al-Qur’an,( Cet.1,Februari 2006), hal.136.
keyakinannya bahwa ini adalah kebaikan, hingga akhirnya Allah membukakan hati Zaid, sebagaimana Dia telah membukakan hati Abu Bakar dan Umar.
Setelah itu aku meneliti Al-Qur’an dengan seksama, kemudian mengumpulkannya dari pelapah kurma, kepingan-kepingan batu, dan hafalan-hafalan para sahabat, sampai aku menemukan akhir surah At-Taubah pada Abu Khuszimah Al-Anshari, yang mana aku tidak pernah menemukannya pada orang lain, yaitu dua ayat terakhir surah At-Taubah, ayat 128-129 :
دْقَلَ
مْكُءَاۤجَ GG اۤ اۤاۤاۤاۤاۤاۤاۤاۤاۤاۤاۤاۤاۤ
لٌوْسُرَ
نْمِّ
مْكُسِفُنْاَ
زٌيْزٌعَ
هِيْلَعَ
اۤمِّ
مْ!تُّنِعَ
صٌيْرِحَ
مْكُيْلَعَ
نْيْنِمِّؤْمُلَاۤبِ
فٌوْءَرَ
مْيْحَ,رَ
نْاۤفَ
اَوْ,لَوْتَ
لْقَفَ
يَبِسِحَ
هِ34لَلَاَ
لَآ
هِ3لَاَ
,لَّااَ
ۗ وْهُ
هِيْلَعَ
تُلَ,كُوْتَ
وْهُوْ
!بُّرَ
شِرِعَلَاَ
مْيْظِعَلَاَ G
Terjemahnya:
"Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang- orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), Maka katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya Aku bertawakkal dan dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung". 5
Dalam riwayat lain yang disampaikan oleh Khārijah ibn Zaid, Zaid bin Tsabit juga menceritakan bahwa ketika mereka sedang menyalin mushaf Al-Qur'an, mereka
5 Muzakkir Muhammad Arif Ahmad Markuzi, Analisis Sejarah Jam'u Al-Qur'an, Al Mubarak Jurnal kajian Al-Qur'an dan Tafsir,( Vol. 5, No.1, 2020),hal. 6
tidak menemukan satu bagian dari surat Al-Ahzab. Padahal Zaid sendiri pernah mendengar Rasulullah SAW membacakan ayat tersebut, tetapi tidak menemukannya pada hafalan orang lain kecuali pada Khuzaimah al-Anshari, yaitu surat Al-Ahzab, ayat 23 :
نْمِّ
نْيْنِمِّؤْمُلَاَ
ى3ضٰقَ نْ,مِّ مْهُنِمُفَ هِيْلَعَهِ34لَلَاَ اَوْدْهُاۤعَ اۤمِّ لٌاۤجَرَ اَوْقَدْصَ ۚ
Bلًاۙيْدْبِتَ اَ لً وْلَ,دْبِ اۤمِّوْ رِظِتُّنِ,يْ نْ,مِّ مْهُنِمِّوْ Dهِبِحْنْ ۖ هٗۙ
Karena kesaksian Khuzaimah ini, ayat tersebut dimasukkan ke dalam mushaf dan kesaksiannya dinilai sama dengan kesaksian dua orang, sebagaimana pernah ditetapkan oleh Rasulullah SAW.
Dari riwayat ini, jelaslah bahwa Zaid bin Tsabit memainkan peran yang sangat penting dalam proses pengumpulan Al-Qur'an atas perintah Khalifah Abu Bakar, dengan dukungan penuh dari Umar bin Khattab. Tugas ini dilakukan dengan kehati- hatian dan kecermatan yang tinggi, demi menjaga agar ayat-ayat Al-Qur'an tidak hilang dan tetap terjaga keasliannya.6
Abu Bakar menunjuk Zaid bin Tsabit untuk melaksanakan tugas pengumpulan Al-Qur'an karena beberapa alasan:
Pertama, Zaid adalah seorang pemuda yang memiliki energi lebih baik dibandingkan dengan para sahabat senior. Sebagai seorang pemuda, ia lebih fleksibel dan terbuka terhadap pendapat orang lain, sehingga ia lebih siap mendengarkan masukan dari para sahabat yang hafal Al-Qur'an dan teliti dalam pengumpulan data.
Alasan kedua, Zaid dikenal sebagai sosok yang cerdas, hal ini diakui oleh para sahabat. Kecerdasannya terbukti ketika ia tidak langsung menerima tugas pengumpulan Al-Qur'an, melainkan setelah berdiskusi dan memahami tujuan serta
6 M Junaid, Sejarah Al-Qur'an: Fenomena Pewahyuan Dan Pembukaan Al-Qur'an Serta Asbabun Nuzul, Al-Muaddib : Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Keislaman,( Vol.7, No.1, 20220),hal.8
alasan yang mendasarinya. Dengan kecerdasannya, ia mampu menganalisis data-data terkait ayat-ayat Al-Qur'an dengan baik. Zaid juga memiliki keahlian dalam bidang peradilan, fatwa, faraid, dan qiraat. Ia merupakan seorang hafizh Al-Qur'an dan satu- satunya sahabat yang menerima bacaan langsung dari Rasulullah SAW pada saat-saat terakhir kehidupan beliau.
Alasan ketiga adalah kepercayaan dan amanah yang dimiliki Zaid. Abu Bakar secara tegas menyatakan kepercayaannya kepada Zaid, mengatakan bahwa mereka tidak pernah meragukannya. Zaid pun menyadari betapa beratnya tugas yang ia emban, bahkan ia menggambarkannya lebih sulit daripada memindahkan gunung.
Keempat, Zaid tidak hanya hafal seluruh isi Al-Qur'an, tetapi juga merupakan salah satu penulis wahyu yang paling aktif di antara para sahabat. Hal ini mempermudahnya dalam mengumpulkan catatan-catatan Al-Qur'an secara cermat.
Menurut Ibn Hajar, empat kualitas yang ada dalam diri Zaid ini tidak ditemukan secara lengkap pada sahabat-sahabat lain. Jika ada sahabat lain yang memilikinya, biasanya hanya sebagian dari kualitas tersebut.7
Untuk meringankan tugas Zaid, Abu Bakar memutuskan untuk menunjuk beberapa sahabat agar membantunya. Di antara mereka adalah Ubai ibn Ka'ab, Ali ibn Abi Thalib, Umar bin Khaththab, dan Utsman ibn Affan, yang semuanya dikenal sebagai penulis wahyu serta penghafal Al-Qur’an. Agar koleksi Al-Qur’an yang dihasilkan oleh tim yang dipimpin oleh Zaid terjamin keasliannya, panitia bekerja dengan teliti. Ada beberapa langkah penting yang diambil dalam proses ini:
Pertama, yang dikumpulkan adalah catatan-catatan Al-Qur’an yang asli, yakni yang ditulis di hadapan Rasulullah SAW, bukan hanya berdasarkan hafalan semata.
Kedua, keaslian catatan-catatan tersebut harus dibuktikan dengan kesaksian dari dua orang saksi. Riwayat dari Yahya bin Abd al-Rahman ibn Hathib, yang
7 A. Athaillah, Sejarah Al-Qur’an,( Cet.1,Februari 2006), hal.138-139
dikisahkan kembali oleh Abū Dawud dalam Sunannya, menyebutkan bahwa Umar berkata, "Siapa pun yang telah menerima sesuatu dari Al-Qur’an dari Rasulullah SAW, hendaknya membawanya." Catatan-catatan ini ditulis di berbagai media seperti kulit binatang, kepingan batu, dan pelepah kurma yang kering.
Zaid tidak serta-merta menerima catatan yang dibawa kepadanya, kecuali jika ada dua orang saksi yang menguatkan keasliannya. Riwayat ini juga didukung oleh riwayat lain yang diceritakan oleh Abū Dawud, di mana Abū Bakar memerintahkan kepada Umar dan Zaid, "Duduklah di pintu masjid. Jika ada yang datang dengan membawa catatan Alquran yang telah disahkan oleh dua orang saksi, maka tulislah ayat-ayat tersebut."8
C. Tantangan Dalam Proses Pembukuan Al-Qur’an
Pembukuan Al-Quran di zaman Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menghadapi beberapa tantangan sebagai berikut;
a. Banyaknya Hafiz Qur'an yang Gugur:
Salah satu alasan utama dan tantangan utama pengumpulan Al-Quran menjadi penting adalah gugurnya banyak hafiz (penghafal) Al-Quran pada Pertempuran Yamama. Ini menimbulkan kekhawatiran bahwa jika banyak hafiz yang gugur, sebagian Al-Quran bisa hilang. Kematian sahabat juga menjadi rintangan karna banyaknya sahabat penghafal Al-Qur’an yang tewas dan hal ini yang menimbulkan kekhawatiran jika Al-Qur’an bisa hilang jika tidak segera dibukukan.
b. Keterbatasan Media Tulis dan Kesulitan dalam pengumpulan:
Pada masa Nabi Muhammad SAW, Al-Quran terutama dihafalkan secara lisan, meskipun sebagian telah ditulis di berbagai media seperti kulit, tulang, dan pelepah kurma.Mengumpulkan semua catatan ini menjadi tantangan tersendiri.
8 Juli, Elin, Muammar, Ikhsan Akbar, Sejarah Penulisan dan Pembukuan Al- Qur'an, Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, (Februari 2023, 9 ) hal.249
c. Perbedaan Versi Bacaan :
Pada masa itu, berbagai cara membaca Al-Qur'an mulai muncul. Meskipun belum ada banyak versi yang berbeda pada masa Abu Bakar, kekhawatiran akan munculnya perbedaan dalam bacaan di masa depan menjadi salah satu alasan penting untuk membukukan Al-Qur'an secara resmi Abu Bakar ingin memastikan bahwa hanya satu versi yang dipakai untuk mencegah perpecahan di antara umat Islam.
d. Beragamnya Sumber :
ayat Al-Qur’an tersebar di berbagai tempat dengan para sahabat Nabi yang berbeda- beda. Menyatukan dan memverifikasinya memerlukan usaha dan kehati-hatian besar.
Kepentingan memelihara keaslian juga merupakan kebutuhan untuk memastikan bahwa Al-Qur'an yang dibukukan adalah versi yang benar dan tidak mengalami penambahan atau pengurangan. Ini memerlukan verifikasi dari para sahabat yang hafal dan mereka yang mengumpulkan harus berhati- hati dalam memastikan bahwa tiap ayat yang diambil dari sumber yang terpercaya.
e. Kesepakatan Di Antara Sahabat:
Meskipun penting, tidak semua sahabat langsung sepakat dengan ide pengumpulan Al-Quran secara tertulis. Ada debat dan diskusi tentang apakah harus dilakukan, termasuk kekhawatiran bahwa studi dan pengajaran lisan akan tergeser. Proses pembukuan ini akhirnya dipercayakan kepada Zaid bin Tsabit, seorang sahabat yang sangat dekat dengan Rasulullah SAW dan memiliki reputasi baik dalam urusan Al- Quran. Zaid bekerja dengan tim yang berkoordinasi untuk memastikan bahwa mereka mendapatkan injil dari dua saksi untuk setiap ayat, dan Al-Quran berhasil dikumpulkan dalam satu mushaf secara resmi.9
9Julaiha, J., Suryani, E., Muammar, M., & Handinata, I. / Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan 9(4), hal. 250
PENUTUP
Kesimpulan
Proses pembukuan Al-Qur'an di masa Khalifah Abu Bakar merupakan upaya yang sangat penting untuk menjaga kemurnian dan kelestarian Al-Qur'an. Meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan, para sahabat berhasil menyelesaikan tugas ini dengan sangat baik. Proses ini menjadi tonggak sejarah yang sangat penting dalam perkembangan Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Athaillah.A, Sejarah Al-Qur'an, Banjarmasin, Cet. Ke-1, 2006.
Ichsan Muhammad, Sejarah Penulisan dan Pemeliharaan Al-Qur'an Pada Masa Nabi Muhammad SAW dan Sahabat, Jurnal Substansi, Volume.14, No.1, April 2012.
Marzuki Ahmad Arif Muhammad Muzakir, Analisis Sejarah Jam'u Al-Qur'an, Al Mubarak Jurnal kajian Al-Qur'an dan Tafsir, volume.5, No.1,2020.
Junaid M, Sejarah Al-Qur'an: Fenomena Pewahyuan Dan Pembukaan Al-Qur'an Serta Asbabun Nuzul, Al-Muaddib: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Keislaman, Volume.7, No.1, 2020
Juli, Elin, Muammar, Akbar Ikhsan, Sejarah Penulisan dan Pembukuan Al-Qur'an, Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, Februari 2023,9 (4).