MAKALAH
SEJARAH, PERKEMBANGAN DAN KEONTENTIKAN AL-QUR’AN (Ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Al-Qur’an dan Hadits)
Dosen: Sidiq Hakiki , M . Ag
Disusun oleh:
Diyas (1148010091)
Jurusan Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmatnya makalah mengenai Sejarah turun dan Perkembangan penulisan Qur’an serta Bukti keautentikan Qur’an ini dapat terselesaikan.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata perkuliahan .Dan di dalam makalah ini terdapat berbagai macam pengetahuan mengenai ilmu Sejarah turun dan Perkembangan penulisan Qur’an serta Bukti keotentikan Qur’an yang dapat menambah wawasan. Selama penyusunan makalah ini , kami menyadari banyak kekurangan – kekurangan karena keterbatasan kemampuan yang kami miliki .
Alhamdulillah atas keberkahan Allah SWT makalah ini dapat terselesaikan . Kami berharap mudah – mudahan makalah ini dapat bermanfa’at khususnya bagi kami dan umumnya bagi para pembaca. Kritik dan saran sangat kami harapkan untuk kesempurnaan dan perbaikan makalah ini .
04, September 2014
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ……….. i
Daftar Isi ………... ii
Latar belakang ………1
Rumusan Masalah ………. 2
Sejarah Turunnya Qur’an ……….. ...3
Ayat yang Pertama dan Terakhir Turun ………..5
Pengumpulan Qur’an dalam Arti Penulisannya Masa Nabi ……… 7
Qur’an pada Masa Abu Bakar ……….9
Bukti Keauntetikan Qur’an ………17
Kesimpulan ……… 20
Daftar Referensi ………. 21
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Al-Qur’an menurut kalangan pakar ushul fiqih, fiqih, dan bahasa arab adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi-Nya Muhammad SAW yang lafazh-lafazhnya mengandung mukjizat, membacanya mempunyai nilai ibadah, yang diturunkan secara mutawatir, dan yang ditulis pada mushaf, mulai dari awal surat Al-Fatihah sampai surat An-Nas.
Al-Qur’an diturunkan dalam tempo 22 tahun 2 bulan 22 hari, yaitu mulai malam 17 Ramadhan tahun 41 dari kelahiran Nabi sampai 9 Dzulhijjah Haji Wada’ tahun 63 dari kelahiran Nabi atau tahun 10 H. Tujuan Al-Qur’an diturunkan yaitu untuk beribadah kepada Allah dengan membacanya, dipelajari isi kandungannya, dan diamalkan. Al- Qur’an pertama kali diturunkan sekaligus dari Allah ke lauh al-mahfuzh yaitu suatu tempat yang merupakan catatan tentang segala ketentuan dan kepastian Allah, lalu dari lauh al-mahfuzh ke bait al-izzah ( tempat yang berada dilangit dunia), kemudian dari bait al-izzah ke dalam hati nabi dengan jalan berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan. Ada kalanya satu ayat, dua ayat, dan bahkan kadang-kadang satu surat.
Kedatangan Wahyu merupakan sesuatu yang dirindukan nabi. Oleh karena itu begitu wahyu datang nabi langsung menghapal dan memahaminya. Dengan demikian, Nabi adalah orang yang paling pertama menghapal Al-Qur’an. Kerinduan Nabi terhadap kedatangan wahyu tidak saja diekspresikan dalam bentuk hapalan, tetapi juga dalam bentuk tulisan. Nabi Muhammad SAW memiliki sekertaris pribadi yang khusus bertugas mencatat wahyu. Mereka adalah Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Abban bin Sa’id, Kholid bin Sa’id, Khalid bin Walid, dan Mu’awiyyah bin Abi Sufyan. Mereka mencatat wahyu itu dengan alat tulis yang sederhana dan
1
B. RUMUSAN MASALAH
Bagaimana sejarah turunnya Al-Qur’an? Bagaimana perkembangan tentang Al-Qur’an? Apa bukti keotentikan Al-Qur’an?
C .TUJUAN
Untuk menambah wawasan mengenai sejarah turunnya Qur’an Mengetahui perkembangan penulisan Qur’an
Mengetahui bukti keautentikan Qur’an
2
BAB II
A. SEJARAH TURUNNYA AL – QUR’’AN
Allah SWT menurunkan Qur’an kepada Rasul kita Muhammad untuk memberi petunjuk kepada manusia . Turunnya Qur’an merupakan peristiwa besar yang sekaligus menyatakan kedudukannya bagi penghuni langit dan penghuni bumi .Turunnya Qur’an yang pertama kali pada malam lailatul Qadar merupakan pemberitahuan kepada alam tingkat tinggi yang terdiri atas malaikat – malaikat akan kemuliaan umat Muhammad . Umat ini telah di muliakan oleh Allah SWT dengan risalah baru agar menjadi umat paling baik yang dikeluarkan bagi manusia . Turunnya Qur;an yang kedua kali secara bertahap , berbeda dengan kitab yang turun sebelumnya . Sangat mengagetkan orang dan menimbulkan keraguan terhadapnya sebelum jelas bagi mereka rahasia hikmah ilahi yang ada di balik itu .Rasalullah tidak menerima risalah agung ini sekaligus , dan kaumnya pun tidak pernah puas dengan risalah tersebut karena kesombongan dan permusuhan mereka . Oleh karena itu wahyu pun turun berangsur – angsur untuk menguatkan hati Rasul dan menghiburnya serta mengikuti peristiwa dan kejadian – kejadian sampai Allah SWT menyempurnakan agama ini dan mencukupkan nik’mat -Nya .
1. TAHAPAN TURUNNYA AL – QUR’AN
Allah SWT menjelaskan secara umum tentang turunnya al – qur’an dalam tiga tempat dalam al- Qur’an , masing – masing :
a) Al – Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan
Dalam (Q.S : AL – Baqarah : 185) yang berbunyi : “ Bulan Ramadhan , bulan yang didalamnya diturunkan Al – Qur’an “ .
b) Al – Qur’an di turunkan pada malam lailatul qadar
Dalam (Q.S :Al – Qadr : 1) yang berbunyi : “ sesungguhnya kami telah 3
menurunkannya pada malam lailatul qadar “ . c) Al – Qur’an diturunkan pada malam yang di berkahi
Dalam ( Q.S : Ad – dukhan : 3 ) yang berbunyi : “ sesungguhnya kami telah
Ketiga ayat diatas tersebut tidak bertentangan , karena malam yang diberkahi adalah malam lailatul qadar dalam bulan ramadhan . Tetapi lahir ( zahir ) ayat – ayat itu bertentangan dengan kehidupan nyata Rasulullah Saw , dimana Qur’an turun kepadanya selama dua puluh tiga tahun .
Dalam hal ini para ulama mempunyai dua madzhab pokok , dan satu madzab lainnya :
A) Madzhab menurut pendapat Ibn Abbas dan sejumlah ulama serta yang dijadikan pegangan oleh umumnya para ulama .
Yang dimaksud dengan turunnya al Qur’an dalam ketiga ayat diatas adalah turunnya Qur’an sekaligus di baitul ‘ izzah dilangit dunia agar para malaikat menghormati kebesarannya . Kemudian sesudah itu Qur’an diturunkan kepada rasul kita Muhammad saw . Secara bertahap selama dua tiga tahun sejak dia diutus sampai wafatnya .Pendapat ini didasarkan pada berita – berita yang shahih dari ibn Abbas dalam riwayat . Antara lain :
Ibn Abbas berkata :“Qur’an sekaligus diturunkan ke langit dunia pada malam lailatul qadar , kemudian setelah itu ia diturunkan selama dua puluh tiga tahun “.
Dan Al – Qur’an itu telah kami turunkan dengan berangsur – angsur agar kamu membacakannya perlahan – lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian ( al – isra : 106 )
Ibn Abbas r.a berkata :“Qur’an itu dipisahkan dari az-zkir , lalu diletakkan dai baitul izzahdilangit dunia. Maka jibril mulai menurunkannya kepada nabi saw” .
4
Ibn Abbas r.a mengatakan : “Allah SWT menurunkan Al – Qur’an sekaligus kelangit dunia , temponya turunnya secara berangsur – angsur . Lalu Dia menurunkannya kepada Rasulnya bagian demi bagian “.
B ) Mazhab menurut riwayat As – sya ‘ bi
Bahwa yang dimaksud dengan turunnya Qur’an dalam ketiga diatas adalah permulaan turunnya Qur’an pada Rasulullah SAW .permulaan turunnya Qur’an itu di mulai pada malam lailatul qadar di bulan ramadhan , merupakan malam yang diberkahi . Kemudian turunnya berlanjut sesudah itu secara bertahap sesuai dengan kejadian dan peristwa – peristiwa selama kurang lebih dua puluh tiga tahun .
Dengan demikian Qut’an hanya satu macam cara turun , yaitu turun secara bertahap kepada kepada Rasulullah SAW sebab yang demikianlah inilah yang dinyatakan dalam Qur’an : “ Dan Al – Qur’an itu telah kami turunkan dengan berangsur - angsur agar kamu membacanya perlahan – lahan kepada manusia dan kami menurunkanya bagian dermi bagian . ( al – isra : 106 )
2 . AYAT YANG PERTAMA DAN TERAKHIR TURUN
Al – Qur’an pertama kalinya diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW pada 17 Ramadhan tahun pertama kenabian atau diwaktu Muhammad telah diangkat menjadi nabi . Sampai saat ini , tanggal tersebut diperingati oleh umat Islam Indonesia setiap tahun sebagai malam peringatan nuzulul Qur’an . Surah yang pertama turun adalah surat Al – Alaq ( 1 - 5) , surah yang terakhir di turunkan adalah surat Al – Maidah (3 )
5
Persoalan turunnya al qur’an
Persoalan ini menyangkut tiga hal :
Waktu dan tempat turunnya al qur’an Sebab-sebab turunnya al qur’an Sejarah turunnya al qur’an
Al-Qur’an mengajar mereka untuk menangani sejarah manusia sebagai ilmu pengetahuan serta menerangkan peristiwa sejarah sebagai suatu konsepsi filosopis tentang arus jalannya sejarah itu.
Riwayat / dalil diturunkannya al qur’an dengan tujuh huruf :
Nash-nash sunah cukup banyak mengemukakan hadist mengenai turunnya qur’an dengan tujuh huruf. Diantaranya :
a. Dari ibnu abbas, ia berkata :” rasullulah berkata:’ jibril membacakan (qur’an) kepadaku dengan satu huruf. Kemudian berulang kali aku mendesak dan meminta agar huruf itu ditambah , dan iapun menambahnya padaku sampai dengan tujuh huruf.”(H.R Bukhori Muslim)
b. Dari ubai bin ka’ab :”ketika nabi berada didekat parid ba’ni jafar , ia didatangi jibril seraya berkata:’ allah memerintahkanmu agar membaca qur’an kepada umatmu dengan satu huruf, ‘ia menjawab :’aku mohon kepada allah ampunan dan maghfirohnya, karena umatku tidak dapat melaksanakan perintah itu, “kemudian jibril datang lagi untuk yang kedua kalinya dan berkata:’allah memerintahkanmu agar mebaca qur’an kepada umatmu dengan dua huruf, ‘nabi menjawab:’aku memohonkan kepada allah ampunan dan maghfirohnya umatku tidak kuat melaksanakannya
6
“Jibril datang lagi untuk ketiga kalinya, lalu mengatakan:’allah memerintahkanmu agar membaca qur’an kepada umatmu dengan tiga huruf jawab nabi:’aku memohon kepada allah ampunan dan maghfirohnya sebab umatku tidak kuat melaksanakannya.’kemudian jibril datang lagi untuk yang keempat kalinya seraya berkata:’ allah memerintahkanmu agar membaca qur’an kepada umatmu dengan tujuh huruf,’dengan huruf mana saja mereka membaca,mereka tetap benar.’ “
Perbedaan Pendapat tentang Pengertian Tujuh Huruf
Para ulama berbeda pendapat dalam menfsirkan tujuh huruf ini dengan perbedaan yang bermcam-macam. Hingga Ibnu Hayyan mengatakan :’ ahli ilmu berbeda pendapat tentang arti kata tujuh huruf menjadi tiga puluh lima pendapat.” Namun kebanyakan pendapat itu bertumpang tindih.Ada salah satu pendapat yaitu:
mereka berbeda-beda dalam mengungkapkan dalam satu makna, makan qur’an pun diturunkan dengan sejumlah lafal sesuai dengan ragam bahasa tersebut tentang makna yang satu itu. Dan jika tidak terdapat perbedaan, maka qur’an hanya mendatangkan satu lafaz atau lebih saja. Ini adalah
pendapat sebagian besar ulam..
Pendapat kedua : Bahwa yang dimaksud tujuh huruf adalah tujuh wajah (bentuk/tema), yang meliputi; amr(perintah), nahyu(larangan), wa’d(janji), wa’id (ancaman), jadal(perdebatan), qasas(cerita), dan masal (perumpamaan). Atau amr, nahyu, halal, haram, muhkam, mutasyabih dan amsal.
I. Pengumpulan Qur’an dalam Arti Penulisannya Masa Nabi
Rasulullah telah mengajarkan para penulis wahyu Qur’an dari sahabat – sahabat terkemuka , seperti Ali , mu’awiyah , ‘ubai bin ka’bdan zaid bin tsabit . Bila ayatturun , ia memerintahkan mereka menuliskannya dan menunjukan tempat ayat tersebut dalam surah . Di samping itu
7
sebagian sahabat pun menuliskan Qur’an yang turun itu atas kemauan mereka sendiri , tanpa diperintahkan oleh Nabi . Mereka menuliskannya pada pelepah kurma , lempengan batu , daun lontar , kulit atau daun kayu , pelana , potongan tulang – belulang binatang . Zaid bin tsabit berkata : “ kami menyusun Qur’an dihadapan Rasulullah pada kulit binatang “ .
Tulisan – tulisan Qur’an pada masa Nabi tidak terkumpul dalam satu mushaf yang ada pada seseorang belum tentu dimiliki oleh yang lain . Para ulama telah menyampaikan bahwa segolongan dari mereka , diantaranya Ali bin Abi Talib , Mu’az bin Jabal , Ubai bin Ka’ab , Zaid bin Sabit dan Abdullah bin Ma’sud telah menghafal seluruh isi Qur’an di masa Rasulullah . Dan mereka menyebutkan pula bahwa Zaid bin Sabit adalah orang yang terakhir membaca Qur’an dihadapan Nabi diantara mereka yang disebutkan diatas .
ayatnya saja dan setiap surah berada dalam satu lembaran terpisah dan dalam tujuh huruf , tetapi Qur’an belum dikumpulkan dalam satu mushaf yang menyeluruh ( lengkap ) .
Dengan pengertian inilah ditafsirkan apa yang diriwayatkan dari Zaid bin Sabit yang mengatakan : “ Rasulullah telah wafat , sedangkan Qur’an belum dikumpulkan sama sekali “ . Maksudnya ayat – ayat dan surah – surahnya belum dikumpulkan secara tertib dalam satu mushaf . Al – Khattabi berkata : “ Rasulullah
tidak mengumpulkan Qur’an dalam satu mushaf itu karena ia senantiasa menunggu ayat nasikh terhadap sebaian hukum – hukum atau bacaanya . Sesudah berakhir masa .turunnya dengan wafatnya Rasulullah , maka Allah SWT mengilhamkan penulisan mushaf secara lengkap kepada Khulafa ‘ Rasyidin sesuai dengan janji – Nya yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaannya . Dan hal ini terjadi pertama kalinya
8
pada Masa Abu Bakar atas pertimbangan usulan Umar.
II. Pengumpulan Qur’an pada Masa Abu Bakar
Abu Bakar menjalankan urusan islam sesudah Rasulullah . Ia dihadapkan kepada peristiwa – peristiwa besar berkenaan drengan kemurtadan sebagian orang Arab . Karena itu ia segera menyiapkan pasukan dan mengirimkannya untuk memerangi orang – orang yang murtad itu . Peperangan yamamah yang terjadi pada tahun dua belas hijri melibatkan sejumlah besar sahabat yang penghafal Qur’an . Dalam peperangan ini tujuh puluh qari dari para sahabat gugur . Umar bin Khattab merasa sangat khawatir melihat kenyataan ini. Lalu ia menghadap Abu Bakar dan mengajukan usul kepadanya agar mengumpulkan dan membukukan Qur’an karena dilhawatirkan akan musnah , sebab peperangan yamamah telah banyak membunuh para qari .
menceritakan kepada Zaid bin Sabit mengenai kekhawatiran Umar . Pada mulanya Zaid menolak . Akan tetapi keduanya bertukar pendapat sampai akhir Zaid dapatmenerima dengan lapang dada perintah penulisan Qur’an itu . Zaid bin Sabit memulai tugasnya yang berat ini dengan bersandar pada hafalan yang ada dalam hati para qira itu dan catatan yang ada pada para penulis . Kemudian lembaran – lembaran itu disimpan di tangan Abu Bakar . Setelah ia wafat pada tahun tiga belas hijri , lembaran – lembaran itu berpindah ke tangan Umar dan tetap berada ditangannya hingga ia wafat . Kemudian mushaf itu berpindah ke tangan Hafsah , putrid Umar . Pada permulaan kekhalifahan Usman , Usman memintanya dari tangan Hafsah . Zaid bin Sabit bertindak sangat teliti dan hati – hati .Ia tidak mencukupkan pada hafalan
9
semata tanpa disertai dengan tulisan . Kata – kata Zaid dalam keterangan diatas : “ Dan aku dapatkan akhir surah Taubah pada Abu Khuzaimah al – Ansari , yang tidak aku dapatkan pada orang lain “ . Tetapi yang dimaksud ialah adalah bahwa ia tidak mendapatkanakhir surah Taubah tersebut dalam keadaan tertulis selain pada Abu Khuzainah . Zaid sendiri hafal dan demikian pula banyak diantara para sahabat yang menghafalnya .perkataan itu lahir karena Zaid berpegang pada hafalan dan tulisan . Jadi , ayat akhir surat taubah itu telah di hafal banyak sahabat ; dan mereka menyaksikan ayat tersebut . Tetapi catatannya hanya terdapat pada Abu Huzaimah Al – ansari .
berdua dipintu masjid . bila ada yang datang kepadamu membawa dua orang saksi atas sesuatu kitab , maka tulislah .” Para perawi hadist kini orang-orang terpecaya,sekalipun hadist tersebut munqati “(terputus)” ibnu hajar mengatakan : “yang dimaksudkan dengan dua orang saksi adalah hafalan dan catatan”.
Assyakhawi menyebutkan dalam jamalul qurra, yang dimaksudkan ialah kedua saksi itu menyaksikan bahwa catatan itu ditulis dihadapa rasulullah ; atau dua orang saksi itu menyaksikan bahwa catatan tadi sesuai dengan salah satu cara yang dengan itu qur’an diturunkan. Abu syamah berkata: “maksud mereka adalah agar zaid tidak menuliskan qur’an kecuali diambil dari sumber
10
asli yang dicatat dihadapan nabi, bukan semata-mata dari hafalan. Oleh sebab itu zaid berkata tentang akhir surat taubat, ‘aku tidak mendapatkannya orang lain’ maksudnya ‘aku tidak mendapatkannya dalam keadaan tertulis pada orang lain, ‘sebab itu tidak menganggap cukup hanya didasarkan pada hafalan tanpa adanya catatan”.
paling besar pahalanya dalam hal mushaf ialah Abu Bakar. Dialah orang pertama yang mengumpulkan Kitab Allah.”
Pengumpulan Qur’an pada Masa Usman
Penyebaran islam bertambah luas dan para Qurrapun tersebar diperbagai wilayah, dan penduduk disetiap wilayah mempelajari qira’at (bacaan) dari qari yang dikirim kepada mereka. Cara-cara pembacaan (qira’at) Qur’an yang mereka bawakan berbeda-beda sejalan dengan perbedaan “ Huruf” yang dengannya qur’an diturunkan. Apabila mereka berkumpul disuatu pertemuan atau disuatu medan peperangan, sebagian mereka merasa heran akan adanya
11
perbedaan qira’at ini. Terkadang sebagian dari mereka puas karena mengetahui bahwa perbedaan-perbedaan itu semuanya disandarkan kepada Rasulullah. Tetapi keadaan demikian bukan tetapi akan menyusupkan keraguan dalam generasi baru yang tidak melihat Rosulullah, sehingga terjadilah pembicaraan tentang bacaan mana yang baku dan mana yang lebih baku. Dan pada gilirannya akan menimbulkan saling pertentangan bila terus tersiar, bahkan akan menimbulkan permusuhan dan perbuatan dosa. Fitnah yang demikian ini harus segera diselesaikan.
Bakar dan menyatukan umat islam pada lembaran-lembaran itu dengan bacaan yang tetap pada satu huruf .
Usman kemudian mengirimkan utusan kepada hafsah (dalam meminjamkan mushaf Abu Bakar yang ada padanya) dan hafsah pun mengirimkan lembaran-lembaran itu kepadanya. Kemudian Usman memanggil Zaid Bin Sabit Al-ansari, Abullah bin Zubair, Said bin As, dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam, ketiga orang kafir ini memperbanyak mushaf, serta memerintahkan pula agar apa yang diperselisihkan Zaid dengan
12
ketiga orang Quraisy itu ditulis dalam bahasa Quraisy, karena qur’an turun dalam logat mereka.
Dari annas :” Bahwa huzaifah bin Al-Yamah datang kepada Usman. Ia pernah ikut berperang melawan penduduk syam bagian Armenia dan Azarbaizan bersama dengan penduduk Irak. Huzaifah amat terkejut oleh perbedaan mereka dalam bacaan. Lalu ia berkata kepada Usman selamatkanlah umat ini sebelum mereka terlibat dalam perselisihan ( dalam masalah kitab ) sebagai mana perselisihan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Usman kemudian mengirim surat kepada Hafsah yang isinya : “ sudilah kiranya anda kirimkan kepada kami lembaran – lembaran yang bertuliskan Qur’an itu , kami akan menyalinnya menjadi beberapa mushaf , setelah itu kami akan mengemballikannya . “ Hafsyah mengirimklannya kepada Usman , dan Usman memerintahkan Zain bin Sabit , Abdullah bin Zubair , Said bin ‘As dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam untuk menyalinnya . Mereka pun menyalinnya menjadi beberapa mushaf .Usman berkata kepada ketiga orang Quraos.
diantara orang – orang mukmin itu ada orang – orang yang menempati apa yang telah mereka janjikan kepada allah . “
Berbagai asar atau keterangan para sahabat menunjukan bahwa perbedaan cara membaca itu tidak saja mengejutkan Hujifah bin Al -yaman , tetapi juga mengejutkan para sahabat yang lain . dikatakan oleh ibn Jarir : “ ya’kub bin Ibrahim bercerita kepadaku : ibn Ulyah menceritakan kepadaku : Ayub
13
mengatakan kepadaku , bahwa Abu qolabah berkata : “ pada masa kekhalifahan Usman telah terjadi seorang guru qiraat mengajarkan qiraat seseorang , dan guru lain juga mengajarkan qiroat orang lain . Dua kelompok anak – anak yang belajar qiraat itu pada suatu ketika bertemu dengan mereka berselisih ,dan hal yang demikian ini menjalar juga kepada guru – guru . “ Kata ayub : “ aku tidak mengetahui kecuali ia berkata : “ sehingga mereka saling mengkafirkan satu sama lain karena perbedaan qiraat itu . “ dan hal itu akhirnya sampai juga kepada khalifah Usman , maka ia berpidato : “ kalian yang ada di hadapan mu telah berselisih paham dan salah dalam membaca Qur’an . Penduduk daerah yang jauh dari kami tentu lebih besar lagi perselisihan dan kesalahannya .bersatulah wahai sahabat – sahabat Muhammad , tulislah untuk semua orang satu imam [ mushaf Qur’an pedoman ] saja ! “ Abu kolaba berkata : Annas bin Malik bercerita kepadaku , katanya : “ aku adalah salah seorang diantara mereka yang disuruh menuliskan . “ kata Abu Kolabah : terkadang mereka berselisih tentang satu ayat , maka mereka menanyakan kepada seseorang yang telah menerimanya dari Rasulullah , akan tetapi orang tadi mungkin tengah berada di luar kota , sehingga mereka hanya menuliskan apa yang sebelum dan yang sesudah serta membiarkan tempat letaknya , sampai orang itu datang atau dipanggil . Ketika penulisan mushaf telah selesai , khalifah Usman menulis surat kepada semua penduduk daerah yang isisnya : “ aku telah melakukan yang demikian dan demikian . aku telah menghapuskan apa yang ada padaku , maka hapuskanlah apa yang ada padamu .”
Suwaid bin Gaflah berkata : “ Ali mengatakan : “ katakanlah segala yang baik tentang Usman . Demi Allah , apa yang telah dilakukan mengenai mushaf mushaf qur’an sudah atas persetujuan kami . Usman berkata : “ bagaiman apendapatmu tentang Qiraat ini ? “ saya mendapat berita bahwa sebagian mereka mengatakan bahwa Qiraatnya lebih baik dari qiraat orang lain . ini
14
telah mendekati kekafiran . Kami berkata : bagaimana pendapatmu ? ia menjawab aku berpendapat agar manusia bersatu pada satu mushaf , sehingga tidak terjadi lagi perselisihan . kami berkata “ baik sekali pendapatmu itu . “
Keterangan ini menunjukan bahwa apa yang di lakukan Usman itu telah disepakati oleh para sahabat . Mushaf itu di tulis dengan satu huruf ( dialek ) dari tujuh huruf quran seperti yang diturunkan agar orang bersatu dalam satu qiraat . dan Usman telah mengembalikanm lembaran yang asli kepada Hafsyah , lalu dikirimkannya pula kesetiap wilayah masing – masing satu mushaf , dan ditahannya satu mushaf untuk di madinah , yaitu mushafnya sendiri yang kemudian dikenal dengan nama “ mushaf imam “. Penamaan mushaf imam itu sesuai dengan apa yang terdapat dalam riwayat – riwayaat terdahulu dimana ia mengatakan : “ bersatulah wahai sahabat – sahabat Muhammad , dan tulislah untuk semua orang satu imam [ mushaf Quran pedoman ] .” Kemudian ia memerintahkan membakar seua bentuk lembaran atau mushaf yang selain itu . Umat pun menerima perintah itu dengan patuh , sedangkan qiraat dengan enan huruf lainnya di tinggalkan . Keputusan ini tidak salah , sebab qiraat dengan tujuh huruf itu tidak wajib . seandainya rasulullah mewajibkan qiraat dengan tujuh huruf itu semua , tentu setiap huruf harus di sampaikan secara mmutawatin sehingga menjadi hujjah . Tetapi mereka tidak melakukannya . Ini menunjukan bahwa qiraat dengan tujuh huruf itu termasuk dalam kategori keringanan . Dan bahwa yang wajib ialah menyampaikan sebagian dari ketujuh huruf tersebut .secara mutawatir . Dan inilah yang terjadi .
orang yang mempunyai mushaf yang berlainan dengan mushaf yang disepakati itu membakar mushaf tersebut. Umatpun mendukungnya dengan taat dan mereka melihat bahwa dengan begitu utsman telah bertindak sesuai dengan petunjuk dan sangat bijaksana. Maka umat meninggalkan qiraat
15
dengan enam huruf lainnya, sesuai dengan permintaan pemimpinnya yang adil itu sebagai bukti ketaatan umat kepadanya dan karena pertimbangan demi kebaikan mereka dan generasi sesudahnya. Dengan demikian segala qiraat yang lain sudah dimusnahkan dan bekas-bekasnya juga sudah tak ada. Sekarang sudah tidak ada jalan bagi orang yang ingin membaca dengan ke tujuh huruf itudan kaum muslimin juga telah menolak qiraat dengan huruf-huruf yang lain tanpa mengingkari kebenarannya atau sebagian daripadanya. Tetapi hal itu demi kebaikan kaum muslimin sendiri.Dan sekarang ini tidak ada lagi qiraat bagi kaum muslimin selain qiraat satu huruf yang telah dipilih oleh imam mereka yang bijaksana dan tulus hati itu.Tidak ada lagi qiraat enam huruf lainnya.
Apabila sebagian orang yang lemah pengetahuan berkata: bagaimana mereka boleh meninggalkan qiraat yang telah dibacakan rasulullah yang telah diperintahkan pula membaca dengan cara itu? Maka jawabnya ialah: sesungguhnya perintah rasulullah kepada mereka untuk membacanya itu bukanlah perintah yang menunjukan wajib dan fardhu, tetapi menunjukan kebolehan dan keringanan. Sebab andai kata qiraat dengan tujuh huruf itu diwajibkan kepada mereka, tentulah pengetahuan tentang setiap huruf dari ketujuh huruf itu wajib pula bagi orang yang mempunyai hujjah untuk menyampaikannya, beritanya harus pasti dan keraguan harus dihilangkan dari para qary. Dan karena mereka tidak menyampaikan hal tersebut, maka ini merupakan bukti bahwa dalam masalah qiraat mereka boleh memilih, sesudah adanya orang yang menyampaikan quran dikalangan umat yang penyampaiannya menjadi hujjah bagi sebagian ketujuh huruf itu.
apa yang sudah mereka kerjakan itu. Karena apa yang telah mereka lakukan tersebut ternyata sangat berguna bagi islam dan kaum muslimin. Oleh karena
16
itu menjalankan apa yang menjadi kewajiban mereka itu sendiri lebih utama daripada melakukan sesuatu yang malah akan lebih merupakan bencana terhadap islam dan pemeluknya daripada menyelamatkannya.”
BUKTI KEAUTENTIKAN QUR’AN
Al quran al karim memperkenalkan dirinya dengan berbagai cirri dan sifat salah satu diantaranya adalah bahwa ia merupakan kitab yang keontetikan nya dijamin oleh Allah dan ia adalah kitab yang selalu dipelihara. innna nahnu nazzalna al-dzikra wa inna lahu lahapizhum. ( sesungguhnya kami yang menurunkan al quran dan kamilah pemeliharanya) ( QS 15;9).
Demikianlah allah menjamin keontetikan alquran jaminan yang diberikan atas dasar kemaha kuasaan dan kemahetahuannya serta berkat upaya-upaya yang dilakukan oleh mahkluk-mahkluknya terutama oleh manusia. Dengan jaminan ayat diatas setiap muslim percaya bahwa apa yang dibaca dan dengernya sebagai alquran tidak berbeda sedikut pun dengan apa yanag pernah dibaca oleh rasllullah saw dan yang denger serta dibaca oleh para sahabat nabi saw
Tetapi dapatkan kepercayaan itu didukung oleh bukti-bukti lain? Dan dapatkan bukti-bukti itu meyakinkan manusia termasuk mereka yang tidak percaya akan jaminan allah diatas?
17
Bukti-bukti keontetikan alquran ialah sebagai berikut :
Sebelum menguraikan bukti-bukti kesejarahan ada baiknya saya kutipkan seorang ulama besar syi’ah kontemporer Muhammad Husain Al-thabathaba’iy.yang menyatakan bahwa sejarah alqur’an demikian jelas dan terbuka sejak turunnya sampai masa kini iya dibaca oleh kaum muslim sejak dahulu sampah sekarang sehingga pada hakikatnya alquran tidak membutuhkan sejarah untuk membuktikan keotentikannya. Kitab suci tersebut - lanjut thabathaba’iy memperkenalkan dirinya sebagai firman-firman allah dan membuktikan hal tersebut dengan menanttang siapa pun untuk menyusun seperti keadaannnya ini sudah cukup menjadi bukti walaupun tampa bukti-bukti kesejarahan. Salah satu bukti bahwa alquran yang berada ditangan kita sekarang adalah alquran yang turun kepada nabi saw tampa pergantian atau perubahan tulis thabathaba’iy lebih jauh adalah berkaitan dengan sifat dan cirri-ciri yang diperkenalkannya menyangkut dirinya yang tetap dapat ditemui sebagai mana keadaannya dahulu.
Dr.mustafa Mahmud mengutip pendapat rasyad khalifah juga mengemukakan bahwa dalam alquran sendiri terdapat bukti-bukti sekaligus jaminan keontetikannya.
Huruf-huruf hijaiyah yang terdapat pada awal beberapa surah dalam alqur’an adalah jaminan keutuhan alqur’an sebagaimana diterima oleh rasullah saw tidak berlebih atau berkurang satu hurufpun dari kata-kata yang digunakan oleh al-qur’an kesemuanya habis terbagi 19, sesuai dengan jumlah huruf-huruf b(i)sm all(a)h al-r(a)hm(a)n dam al-r(a)him. (huruf a dan I dalam kurung tidak tertulis dalam aksara bahasa arab) .
Huruf (qaf) yang merupakan awal dari surah ke 50 ditemukan terulang sebanyak 57kali atau 3x19 .
18
Huruf nun yang memulai surat al qalam di temukan sbnyak 133 / 7x19. Kedua huruf ya dan sin pada surah yasin masing “ di tmukan sbnyak 285 / 15 x 19 kedua huruf tha dan ha pada surah thaha masing “ berulang sbnyak 342 x + 19 x 18
Huruf huruf ha dan mim yang terdapat pada keseluruhan surah yang d mulai dri kdua hruf ini ha , mim , ke smuanya mrupakan perkalian dri 114 x 19 yakni masing “ brjumlah 2166 bilangan “ ini yang dapat di temukan langsung dari celah ayat al kuran oleh rasyad khalifah di jadikan sebagai bukti ke ontetikan al Qur’an . karena , seandainya ada ayat yang berkurang atau berlebih atau di tukar kata dan kalimatnya dengan kata atau kalimat yang lain maka tentu perkalian perkalian tersebut akan menjadi kacau .
19
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Turunnya Qur’an yang pertama kali pada malam lailatul Qadar merupakan pemberitahuan kepada alam tingkat tinggi yang terdiri atas malaikat – malaikat akan kemuliaan umat Muhammad .turunnya Qur’an sekaligus di baitul ‘ izzah dilangit dunia agar para malaikat menghormati kebesarannya . Kemudian sesudah itu Qur’an diturunkan kepada rasul kita Muhammad saw . Secara bertahap selama dua puluh tiga tahun sejak dia diutus sampai wafatnya .
Huruf-huruf hijaiyah yang terdapat pada awal beberapa surah dalam alqur’an adalah jaminan keutuhan alqur’an sebagaimana diterima oleh rasullah saw tidak berlebih atau berkurang satu hurufpun dari kata-kata yang digunakan oleh al-qur’an kesemuanya habis terbagi 19 .
20
B. DAFTAR REFERENSI
Studi Al – Qur’an , Dr. Kadar M. Yusuf , hal 42 , 2012 Ulumul Qur’an , Hatta Syamsuddin , lc , hal 78 – 80 ,2008 Ulumul Qur’an , Dr. Rosinin Anwar , M , Ag , hal 14 , 2008
Al – Qur’an Sumber dari Pengetauan , Afzalur Rahman , hal 124 , 1992 Membumikan Al – Qur’an , M . Quraish Shihab , hal 27 , 1994
Studi Ilmu – Ilmu Qur’an , Manna Khalil Al – Qattan , hal 186 , 1989