• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM STUDI PROFESI NERS STIKES BINA S

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PROGRAM STUDI PROFESI NERS STIKES BINA S"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENDAHULUAN dan ASUHAN KEPERAWATAN

“CVA BLEEDING”

Disusun Oleh : KELOMPOK 5

Ilham Arrum 201511009

Joko Cahyono 201511048

Khusnul Risa Umami 201511016

Lilis Andriyati 201511044

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

STIKES BINA SEHAT PPNI

(2)

LAPORAN PENDAHULUAN CEREBRO VASCULAR ACCIDENT (CVA)

A. Pengertian Cerebro Vascular Accident (CVA)

Menurut WHO Cerebro Vascular Accident adalah adanya tanda-tanda klinik yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (global) dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskular (Muttaqin, 2008).

Cerebro Vascular Accident (CVA) infark adalah stroke yang terjadi karena pembuluh darah di otak pecah sehingga timbul iskhemik dan hipoksia di hilir. Penyebab stroke hemoragi antara lain: hipertensi, pecahnya aneurisma, malformasi arteri venosa. Biasanya kejadiannya saat melakukan aktivitas atau saat aktif, namun bisa juga terjadi saat istirahat. Kesadaran pasien umumnya menurun (Ria Artiani, 2009) Cerebro Vascular Accident (CVA) adalah pembuluh darah otak yang pecah sehingga menghambat aliran darah yang normal dan darah merembes ke dalam suatu daerah di otak dan kemudian merusaknya (M. Adib, 2009).

B. Etiologi

Menurut Muttaqin (2008) penyebab Cerebro Vascular Accident (CVA) yaitu : 1. Aneurisma Berry, biasanya defek kongenital.

2. Aneurisma fusiformis dari atherosklerosis.

Atherosklerosis adalah mengerasnya pembuluh darah serta berkurangnya kelenturan atau elastisitas dinding pembuluh darah. Dinding arteri menjadi lemah dan terjadi aneurisma kemudian robek dan terjadi perdarahan

3. Aneurisma myocotik dari vaskulitis nekrose dan emboli septis.

4. Malformasi arteriovenous, adalah pembuluh darah yang mempunyai bentuk abnormal, terjadi hubungan persambungan pembuluh darah arteri, sehingga darah arteri langsung masuk vena, menyebabkan mudah pecah dan menimbulkan perdarahan otak.

(3)

Faktor resiko pada pasien Cerebro Vascular Accident (CVA) adalah 1. Hipertensi

2. Penyakit kardiovaskuler: arteria koronaria, gagal jantung kongestif, fibrilasi atrium, penyakit jantung kongestif)

3. Kolesterol tinggi, obesitas

4. Peningkatan hematokrit (resiko infark serebral)

5. Diabetes Melitus (berkaitan dengan aterogenesis terakselerasi)

6. Kontrasepasi oral (khususnya dengan disertai hipertensi, merokok, dan kadar estrogen tinggi)

(4)
(5)

D. Klasifikasi

Menurut Muttaqin (2008) Stroke dapat diklasifikasikan menurut patologi dan gejala kliniknya, yaitu :

1. Stroke Haemorhagi,

Merupakan perdarahan serebral dan mungkin perdarahan subarachnoid. Disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada daerah otak tertentu. Biasanya kejadiannya saat melakukan aktivitas atau saat aktif, namun bisa juga terjadi saat istirahat. Kesadaran pasien umumnya menurun.

2. Stroke Non Haemorhagic

Dapat berupa iskemia atau emboli dan thrombosis serebral, biasanya terjadi saat setelah lama beristirahat, baru bangun tidur atau di pagi hari. Tidak terjadi perdarahan namun terjadi iskemia yang menimbulkan hipoksia dan selanjutnya dapat timbul edema sekunder . Kesadaran umummnya baik.

Menurut perjalanan penyakit atau stadiumnya:

1. TIA ( Trans Iskemik Attack) gangguan neurologis setempat yang terjadi selama beberapa menit sampai beberapa jam saja. Gejala yang timbul akan hilang dengan spontan dan sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam.

2. Stroke involusi: stroke yang terjadi masih terus berkembang dimana gangguan neurologis terlihat semakin berat dan bertambah buruk. Proses dapat berjalan 24 jam atau beberapa hari.

3. Stroke komplit: dimana gangguan neurologi yang timbul sudah menetap atau permanen . Sesuai dengan istilahnya stroke komplit dapat diawali oleh serangan TIA berulang.

E. Manifestasi Klinis

Gambaran klinik utama dapat dihubungkan dengan tanda dan gejala dibawah ini 1. Defisit lapang pandang :

a. Hominimus hemianopsia (kehilangan setengah lapang pandang) b. Tidak menyadari objek di tampat kehilangan penglihatan

c. Mengabaikan salah satu sisi tubuh d. Kesulitan menilai jarak

(6)

3. Kehilangan penglihatan perifer

a. Kesulitan melihat pada malam hari b. Tidak menyadari batas objek 4. Defisit motorik

a. Hemipharesis : kelemahan wajah, lengan dan tungkai pada sisi yang sama. b. Hemiplegia : paralisis wajah, lengan dan kaki pada sisi yang sama

5. Ataksia

a. Berjalan tidak tegap atau mantap

b. Tidak mampu menyatukan kaki, perlu dasar berdiri yang luas 6. Disartria : kesukaran membentuk kata

7. Disfagia : kesukaran menelan 8. Defisit sensori

a. Parastasia : terjadi pada sisi berlawanan dari lesi b. Kebas dan kesemutan pada bagian tubuh

c. Kesulitan dalam propriosepsi 9. Defisit verbal

a. Afasia ekspresif : ketidakmampuan untuk membentuk kata yang dapat dimengerti, mungkin mampu berbicara dalam respon kata tunggal

b. Afasia reseptif : ketidakmampuan memahami kata yang dibicarakan, mampu bicara tapi tidak masuk akal

c. Afasia global : kombinasi afasia ekspresif dan reseptif 10. Defisit kognitif

a. Kehilangan memori jangka panjang dan jangka pendek b. Penurunan lapang pandang

c. Alasan abstrak buruk d. Perubahan penilaian 11. Defisit emosional

a. Kehilangan kontrol diri b. Labilitas emosional

c. Penurunan toleransi pada situasi yang menimbulkan stres d. Depresi

(7)

f. Rasa takut, bermusuhan, marah g. Perasaan isolasi

F. Pemeriksaan Penunjang

1. Angiografi serebral

Membantu menentukan penyebab dari stroke secara apesifik seperti perdarahan arteriovena atau adanya ruptur.

2. CT Scan

Memperlihatkan secara spesifik letak oedema, posisi henatoma, adanya jaringan otak yang infark atau iskemia serta posisinya secara pasti.

3. Pungsi lumbal.

Tekanan yang meningkat dan di sertai dengan bercak darah pada cairan lumbal menunjukkan adanya haemoragia pada sub arachnoid atau perdarahan pada intrakranial. Peningkatan jumlah protein menunjukan adanya proses inflamasi. 4. MRI (magnetic Imaging Resonance)

Dengan menggunakan gelombang magnetic untuk menentukan posisi serta besar/ luas terjadinya perdarahan otak.

5. USG Dopler.

Untuk mengidentifikasi adanya penyakit arteriovena (Masalah sistem karotis). 6. EEG

Melihat masalah yang timbul dampak dari jaringan yang infark sehingga menurunnya impuls listrik dalam jaringan otak.

G. Penatalaksanaan

1. Perdarahan

Intraserebral

(8)

yang meningkat. Operasi pola indikasi tegas untuk kransotomi guna mengevakuasi darah pada perdarahan intraserebral, namun diperkirakan hanya penderita dengan Gcs 7-10 mempunyai kemungkinan hidup bila dilakukan pembedahan tetapi pemulihan fungsionalnya tetap jelek.

2. Perdarahan

Subarochnoid

Perawatan umum meliputi menghindari tekanan darah yang mengikat sedosi atau fenoborbital menghindari kegelisahan dan tensi yang meningkat. Bila kejang dapat diberikan anti konvulson yang efektif dengan dosis 30 mg peroral 3 kali perhari, untuk menghindari mengejang diberikan pelunak feses misal dioksil suksinat sedium 100 mg peroral perhari. Ruangan perlu ketenangan. Pemberian anti fibrolitik dianggap bermanfaat untuk memecah perdarahan ulang akibat lisis atau bekuan darah ditempat yang mengalami perdarahan tadi. Operasi dilakukan dalam 2 hari pertama setelah perdarahan yang dianggap untuk mengurangi perdarahan ulang.

H. Asuhan Keperawatan Cerebro Vascular Accident

(CVA) 1. Pengkajian

Adalah kegiatan dalam menghimpun informasi dari penderita dan sumber-sumber lain yan meliputi unsur bio psikososio spiritual yang komprehensif dan dilakukan pada saat penderita masuk.

1) Identitas penderita

Identitas penderita meliputi nama, unsur jenis kelamin, pendidikan, pekrjaan, status perkawinan, agama, suku/bangsa, alamat, tanggal dan jam masuk rumah sakit, diagnosa medik.

2) Keluhan utama

Penderita dengan CVA infark datang dengan keluhan kesadaran menurun, kelemahan atau kelumpuhan pada anggota badan (hemiparese atau hemiplegi), nyeri kepala hebat.

(9)

Adanya nyeri kepala hebat atau akut pada saat aktivitas, kesadaran menurun sampai dengan koma, kelemahan/kelumpuhan anggota badan sebagian atau keseluruhan, terjadi gangguan penglihatan, panas badan, tinitus.

4) Riwayat penyakit dahulu

Penderita punya riwayat hipertensi atau penyakit lain yang pernah diderita oleh penderita seperti DM, tumor otak, infeksi paru, TB paru.

5) Riwayat penyakit keluarga

Penyakit keturunan yang pernah dialami keluarga seperti DM, penyakit lain seperti hipertensi dengan pembuatan genogram.

6) Riwayat psiko sosio spiritual

Peran penderita terhadap keluarga menurun akibat adanya perasaan rendah diri akibat sakitnya tidak dapat beraktifitas secara normal karena adanya kelemahan dan bagaimana hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa .

2. Pola-pola fungsi kesehatan

1) Pola persepsi dan tata laksana kesehatan

Penderita CVA infark mempunyai latar belakang hipertensi, DM, obesitas, merokok. Hal tersebut berkaitan dengan ketidaktahuan dan kurangnya pengetahuan tentang persepsi hidup sehat, biasanya penderita menolak dengan pengobatan yang dianjurkan.

2) Pola nutrisi dan metabolik

Dengan adanya perdarahan di otak dapat berpengaruh atau menyebabkan gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi karena mual muntah sehingga intake nutrisi kurang atau menurun.

3) Pola eliminasi

Karena adanya CVA infark terjadi perdarahan dibagian serebral atau subarochnoid, hal ini dapat berpengaruh terhadap reflex tubuh atau mengalami gangguan dimana salah satunya adalah hilangnya kontrol spingter sehingga terjadi inkonhnentia atau imobilisasi lama dapat menyebabkan terjadinya konstipasi.

(10)

Adanya perdarahan serebral dapat menyebabkan kekakuan motor neuron yang berakibat kelemahan otot (hemiparese/hemiplegi) sehingga timbul keterbatasan aktivitas.

5) Pola perawatan diri

Biasanya penderita dengan CVA infark terjadi perubahan kesadaran dari ringan sampai berat, paralise, hemiplegi, sehingga penderita mengalami gangguan perawatan diri berupa self toileting, self eating.

6) Pola persepsi dan konsep diri

Penderita mengalami penurunan konsep diri akibat kecacatannya.

7) Pola persepsi dan kognitif

Perdarahan intraserebral mempengaruhi saraf-saraf perifer dimana penderita kehilangan sensoris (nyeri, panas, dingin).

8) Pola istirahat dan tidur

Penderita mengalami nyeri kepala karena adanya tekanan intrakronial yang meningkat sehingga penderita mengalami gangguan pemenuhan tidur dan istirahat.

9) Pola peran dan hubungan

Akibat perdarahan intraserebral terjadi gangguan bicara, penderita mengalami gangguan dalam berkomunikasi dan melaksanakan perannya.

10) Pola seksualitas

Disfungsi sex

11) Pola tata nilai dan keyakinan diri

Penderita mengalami kesulitan dalam menjalankan ibadahnya karena adanya kelumpuhan.

3. Pemeriksaan fisik

(11)

2) Sistem Integumen

a. Kulit tergantung pada keadaan penderita apabila kekurangan O2 kulit akan

kebiruan kekurangan cairan turgor jelek berbaring terlalu lama atau ada penekanan pada kulit yang lama akan timbul dekubitus.

b. Kuku jika penderita kekurangan O2 akan tampak kebiruan

3) Pemeriksaan Kepala atau Leher a. Kepala

b. Muka

c. Leher

: :

:

Bentuk normal simetris

Bentuk kadang tidak simetris karena adanya kelumpuhan otot daerah muka tampak gangguan pada mata kadaan onga mulut kotor karena kuang perawatan diri . Bentuk normal pembesaran kelenjar thyroid tidak ada .

4) Pemeriksaan Nervus I – XII a) Nervus Olfaktorius

Pada umumnya penderita CVA infark mengalami gangguan pada rangsangan aroma (bau-bauan) dari hidung ke otak.

b) Nervus Optikus

Penderita CVA infark dapat terjadi gangguan pada rangsangan penglihatan ke otak.

c) Nervus Okulomotoris

Terjadi gangguan pada otot-otot orbital yang merupakan otot penggerak bola mata.

d) Nervus Troklearis

Penderita dengan CVA infark sering terjadi masalah pada saraf pemutar bola mata.

e) Nervus Trigeminus

Pada umumnya terjadi gangguan pada saraf ini yang mengontrol persarafan kulit kepala dan kelopak mata atas, rahang atas dan palafum.

f) Nervus Abdusen

Penderita dengan CVA yang mengalami parese maupun paraplegi terjadi gangguan pada persarafan penggoyang sisi mata.

(12)

Penderita CVA dapat terjadi gangguan pada persarafan ini sehingga terjadi afasia motorik.

h) Nervus Auditorius

Pada umumnya jarang didapatkan gangguan pada rangsangan pendengaran, biasanya terjadi gangguan pada pasien CVA dengan kesadaran  dari 15. i) Nervus Glosofageal

Penderita CVA dapat mengalami gangguan pada rangsangan cita rasa. j) Nervus Vagus

Di dapatkan pada pasien CVA infark terjadi gangguan pada faring, laring, paru-paru dan esofagus.

k) Nervus Asesorius

Pada penderita CVA infark sering terjadi gangguan pada otot leher dapat terjadi kaku kuduk.

l) Nervus hipoglosus

Penderita CVA didapatkan adanya kelainan pada saraf cita rasa dan otot lidah. 5) Sistem pernafasan

Adanya pernafasan dispnoe, apnoe atau normal serta obstrusi jalan nafas, kelumpuhan otot pernafasan penggunaan otot-otot bantu pernafasan, terdapat suara nafas ronchi dan whezing.

6) Sistem kardio vaskuler

Bila penderita tidak sadar dapat terjadi hipertensi atau hipotensi, tekanan intrakranial meningkat serta tromboflebitis, nadi bradikardi, takikardi atau normal .

7) Sistem pencernaan

Adanya distensi perut, pengerasan feses, penurunan peristaltik usus, gangguan BAB baik konstipasi atau diare .

8) Ekstrimitas

Adanya kelemahan otot, kontraktur sendi dengan nilai ROM : 2, serta kelumpuhan.

(13)

Pada penderita dapat terjadi retensi urine, incontinensia infeksi kandung kencing, serta didapatkannya nyeri tekan kandung kencing.

10) Pemeriksaan neurologis

a) Tanda-tanda rangsangan meningen

Kaku kuduk umumnya positif, tanda kernig umumnya positif, tanda brudzinsky I, II, III, IV umumnya positif, babinsky umumnya positif.

b) Pemeriksaan fungsi

sensorik

Terdapat gangguan penglihatan, pendengaran atau pembicaraan.

c) Pemeriksaan fungsi motorik

Adanya kelemahan sampai kelumpuhan sisi sebelah tubuh atau keseluruhan.

11) Pemeriksaan penunjang a) Laboratorium

Pemeriksaan darah ( tampak peningkatan pada kadar gula darah ), lumbal punksi ( pada css tampak adanya perdarahan ).

b) CT Scaning

Dapat dilihat dengan jelas adanya perdarahan yang terletak baik intraserebral maupun subarochnoid.

2. Diagnosa Keperawatan Diagnose

Keperawatan

(14)

Gangguan Perfusi Jaringan Cerebral Defenisi : Resti terhadap penurunan sirkulasi jaringan serebral

NOC 1 : Status Neurologi Defenisi : memperluas reseptor, proses , dan respon sistem saraf pusat dan peripheral untuk stimulus eksternal dan internal

Indikator :

v Fungsi neurologis : Kesadaran

v Fungsi Neurologis : Fungsi Sensorik dan Motorik

NOC 2 : Perfusi Jaringan Cerebral

Defenisi : Memperluas aliran darah ke otak dan memelihara fungsi otak

Indikator :

v Fungsi neurologis v Tekanan Intra Kranial

NIC Monitoring Neurologi Defenisi : Mengumpulkan dan menganalisa data pasien untuk mencegah atau meminimalkan komplikasi neurologi

Aktivitas :

Monitor ukuran pupil, ketajaman dan kesimetrisan Monitor tingkat kesadaran Monitor Skala Gaslow Monitor TTV

Monitor pengobatan

Gangguan

Mobilisasi Fisik b.d Hemipharesis

beraktivitas baik satu

atau lebih

NOC :Fungsi Sensorik : Proprioception

Defenisi : Memperluas posisi dan perpindahan kepala dan tubuh yang terangsang

Indikator :

Diskriminasi posisi kepala Keseimbangan Kesadaran Vertigo tidak ditemui

NIC : PENGATURAN POSISI

Defenisi : Memindahkan pasien / organ tubuh untuk kenyamanan, mengurangi risiko kerusakan kulit, promosi integritas kulit, dan atau promosi perawatan

Aktivitas :

(15)

ekstrimitas tubuh terapeutik

Menyediakan matras

terapeurik

Menempatkan posisi terapeutik ynag nyaman

Immobilsasi dan

mendukung efek organ tubuh Memberikan latihan ROM Tinggikan kepala dan tangan Ubah posisi klien

Lakukan gerak aktif dan pasif

Gangguan nutrisi

kurang dari

kebutuhan tubuh Defenisi :

Intake nutrisi tidak

cukup untuk

memenuhi kebutuhan

metabolisme tubuh

NOC I : Status Nutrisi Defenisi : memperlunak nutrisi yang cocok untuk

memenuhi kebutuhan

metabolisme

Indikator :

Intake Nutrisi

Intake makanan/cairan Energy

NOC II : Status Nutrisi Defenisi : memperbanyak intake makanan-cairan yang masuk ke dalam tubuh dalam periode 24 jam

Indicator :

Intake makanan oral

Intake makanan lewat slang Intake cairan oral

Intake cairan

NIC Manajemen Nutrisi Defenisi :

membantu/menyediakan intake diet makanan dan cairan yang seimbang

Aktivitas :

Memastikan apakah pasien mempunyai riwayat alergi makanan

Mendorong intake kalor Mendorong intake zat besi Mendorong intake protein

Memlihara kemampuan

pasien dalam memnuhi kebuthan metabolisme

(16)

Pelaksanaan asuhan keperawatan adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana perawatan yang direncanakan oleh perawat, melaksankan anjuran dokter dan menjalankan ketentuan dari Rumah Sakit (Hidayat, 2006).

4. Evaluasi

Evaluasi adalah pengukuran keberhasilan dari rencana perawatan dalam memenuhi kebutuhan penderita (Hidayat, 2006).

ASUHAN KEPERAWATAN CEREBRO VASKULAR ACCIDENT (CVA) A. Pengkajian

1. Biodata

Nama Umur

Jenis Kelamin Suku

Agama

Status Perkawinan Pendidikan

Pekerjaan Alamat Tgl MRS

Tgl Pengkajian

Ny “S” 51 tahun Perempuan Jawa Islam Janda SMA

-Tulangan Sidoarjo 19 Januari 2017, Jam 08.00 WIB 20 Januari 2017, Jam 09.00 WIB

2. Riwayat Penyakit Sekarang

Keluhan Utama Anggota gerak bagian kanan tidak dapat digerakkan Riwayat Kesehatan

Sekarang

Pasien menyatakan dia jatuh di kamar mandi dan pasien merasa anggota gerak bagian kanan tidak dapat digerakan. Riwayat penyakit sekarang Ny S mengatakan ia mulai merasakan anggota gerak bagian kanan tidak dapat digerakan sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit. Tiga hari sebelumnya ia mengeluh

kemeng-kemeng, bicara pelo. Riwayat Kesehatan

yang lalu

Pasien mengatakan pernah memiliki riwayat penyakit tekanan darah tinggi. Dulu klien pernah memeriksakan diri ke dokter dan dinyatakan mempunyai penyakit tekanan darah tinggi.

Riwayat Kesehatan Keluarga

Pasien menyatakan bahwa di dalam keluarga tidak ada yang pernah mengalami penyakit keturunan seperti diabetes, TB paru .

3. Pengkajian Fungsional menurut Gordon Persepsi dan pemerliharaan

kesehatan

(17)

Pola Nutrisi/Metabolik Sebelum Sakit

- Makan teratur 3x sehari

- Porsi makan : 1 piring nasi, sayur, lauk(daging, telur, tahu, tempe)

- Minum air putih 7 gelas/ hari, kurang lebih 1700 cc/hari.

Saat Sakit

Pasien mengatakan konsumsi makanan masih tetap sama hanya terkadang sulit untuk makan karena harus menunggu keluarga untuk menyuapi pasien.

Pola Eliminasi Sebelum sakit

- BAB 1 x sehari, konsistensi: lembek, warna : kuning. - BAK 5x sehari, warna kuning jernih.

Saat Sakit

- BAB 1 x sehari, konsistensi: lembek, warna : kuning. - BAK 5x sehari, warna kuning jernih

Pola istirahat tidur Sebelum Sakit

Tidak ada gangguan tidur, pasien tidur malam pukul 22.00 – 05.00 WIB dan kadang – kadang tidur siang

Saat sakit

Tidak ada perubahan pada jam tidur pasien Personal Hygiene Sebelum sakit

pasien mengatakan klien mandi 2 x sehari, gosok gigi 2 x sehari / setiap kali mandi dan mengganti pakaian serta celana dalam setiap kali mandi

Saat sakit

Pasien mengatakan biasanya di seka hanya 1x sehari oleh keluarga

Pola Personal Hygiene Sebelum sakit - Mandi 2 x sehari

- Ganti pakaian dalam setiap kali mandi Saat sakit

Semua aktivitas mandi dan berganti pakaian dibantu oleh keluarga karena anggota gerak atau tangan kanan tidak dapat digerakkan

Pola perseptual Pasien tidak mengalami gangguan penurunan penglihatan, gangguan pendengaran, gangguan pengecapan dan tidak ada gangguan sensasi.

Pola Seksualitas dan reproduksi

Tidak terkaji

Pola peran hubungan Pasien mengatakan hubungan dengan keluarga cukup baik dan perannya sebagai ibu rumah tangga terganggu karena sakitnya

Pola managemen koping stress

Keluarga Pasien megatakan sedih karena sakit dan harus di rawat di RS. Tetapi keluarga pasien dapat menerima keadaan ini dengan ikhlas

Sistem nilai dan keyakinan Pasien mengatakan selama sakit tidak sholat sama sekali

4. Pemeriksaan Fisik

Kesadaran Composmentis

(18)

N : 84 x/mnt RR : 24 x/mnt S : 37 oC

Bicara agak pelo

Kepala Bersih, tidak ada ketombe, tidak rontok Wajah Simetris, tidak ada odem,

Mata simetris, penglihatan tidak ada masalah, conjungtiva anemis Hidung simetris, tidak ada polip, tidak odem

Telinga simetris, tidak ada serumen, tidak odem, pendengaran baik Mulut tidak simetris, tidak sianosis, bibir kering, tidak ada lesi, bibir

tidak perot, tetapi bicara agak pelo untuk pasien 1 Leher tidak ada luka, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid

Thorax Inspeksi : Simetris

Palpasi : tidak ada nyeri tekan Perkusi : sonor

Auskultasi : vaskuler Jantung Inspeksi : Simetris

Palpasi : tidak ada nyeri tekan Perkusi :redup

Auskultasi : S1-S2 tunggal Abdomen Inspeksi : Simetris, tidak acites

Palpasi : tidak ada nyeri tekan

Perkusi : bising usus normal 16 x per menit Auskultasi : timpani

Ekstermitas a. Ekstremitas atas kanan tidak dapat digerakkan dengan baik karena terasa kebas dan mati rasa

b. Ekstermitas bawah tidak mengalami masalah c. Kekuatan otot

Pemeriksaan refleks Hasil pengkajian saraf kranial kedua pasien terdapat masalah pada Nervus Cranial VII (Fasialis) dengan hasil adanya ketidaksimetrisan bibir atau perot ke kanan, cara pemeriksaannya yaitu minta klien tersenyum, mengencangkan wajah, menggembungkan pipi, menaikan dan menurunkan alis mata, perhatikan kesimetrisannya, Nervus Cranial XI (Aksesorius) dengan hasil klien tidak mampu mengangkat bahu sebelah kanan, cara pemeriksaannya minta klien untuk mengangkat bahu dan kita tahan dan memalingkan kepala ke sisi yang ditahan pemeriksa secara pasif, hasil pemeriksaan fungsi saraf sensori terdapat nyeri superfisial, terjadi penurunan rangsangan pada anggota gerak kanan

B. Terapi Medis

1. Infus asering 2 x 1 hari 14 tpm 2. Citikolin 2 x 250 mg

3. Calmeco 1 x 1 amp 4. Topazol 1 x 1 amp 5. Inj Antrain 3 x 1 amp 6. Inj Ceftriaxon 1 x 1 gr

0 4

(19)

C. Analisa Data

Data Etiologi Masalah

Ds: Pasien mengatakan anggota gerak bagian kanan tidak dapat digerakkan

Do :

- anggota gerak

bagian kanan klien tidak bisa digerakan,

- Kekuatan otot

ekstremitas atas kanan 0, kekuatan otot ekstremitas atas kiri 5, kekuatan ekstremitas bawah kanan 3, kekuatan otot ekstremitas bawah kiri 5,

- Tingkat

kemandirian 2 dengan aktivitas klien yang sebagian besar dibantu oleh orang lain karena klien mengalami kelemahan atau

ketidakmampuan untuk bergerak

Vaso spasme arteri cerebral

Iskemik/Infark

Defisit neurologi

Hemi parese kanan

Gangguan mobilitas fisik

Gangguan Mobilitas fisik

DS : keluarga pasien mengatakan bicara pasien pelo

D0 :

- Bicara pasien

tampak pelo

- Bibir metot ke

sebelah kiri

- Bicara tidak jelas

- KU pasien lemah

Vasospasme arteri cerebral/saraf

cerebral

Defisit neurologi

Area Grocca

Kerusakan Fungsi N. VIII dan N. XII

Kerusakan Komunikasi verbal

Kerusakan komunikasi

verbal

D. Diagnosa Keperawatan

(20)

Do :

1. Anggota gerak bagian kanan klien

tidak bisa digerakan,

2. Kekuatan otot ekstremitas atas kanan

0, kekuatan otot ekstremitas atas kiri 5, kekuatan ekstremitas bawah kanan 3, kekuatan otot ekstremitas bawah kiri 5,

3. Tingkat kemandirian 2 dengan

aktivitas klien yang sebagian besar dibantu oleh orang lain karena klien mengalami kelemahan atau ketidakmampuan untuk bergerak

Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan deficit neurologi yang ditandai dengan bicara pelo dan bibir metoto ke kiri. Yang ditandai dengan :

Ds: keluarga pasien mengatakan bicara pasien pelo

Do :

1. Bicara pasien tampak pelo 2. Bibir metot ke sebelah kiri 3. Bicara tidak jelas

4. KU pasien lemah

E. Intervensi Keperawatan

Diagnosa kep Tujuan dan KH Intervensi (NOC) Rasional

Gangguan mobilitas fisik berhubungan

dengan deficit

neurologi yang

ditandai dengan

anggota gerak bagian kanan tidak dapat digerakkan. Yang ditandai dengan :

DS : Anggota gerak

Anggota gerak bagian kanan klien tidak bisa digerakan, 2.

Kekuatan otot ekstremitas atas kanan 0, kekuatan otot

Setelah dilakukan

tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam

diharapkan pasien

dapat bergerak dengan cukup baik

Kriteria Hasil (NIC):

1. Gangguan

mobilitas fisik

teratasi dengan latihan ROM

2. Pasien mampu

merespon setiap

berkomunikasi

secara verbal

maupun isyarat 3. TTV dalam batas

normal

4. Pasien mampu

memenuhi ADL secara mandiri se-perti makan, akti-vitas ringan, gerak ekstremitas tidak

an pasien latihan rentang gerak aktif dan pasif, libatkan

keluarga dalam

melakukan tindakan serta buat

jadwal latihan

aktif ROM

diantara waktu makan dan mandi.

4. Kola

borasi dengan ahli fisioterapi untuk

latihan fisik

pasien.

resiko terjadinya iskemia jaringan. 3.

Meminimalkan atrofi otot,

meningkatkan sirkulasi,

membantu serta meningkatkan mobilisasi pasien.

4.

(21)

ekstremitas atas kiri 5, kekuatan ekstremitas bawah kanan 3, kekuatan otot ekstremitas bawah kiri 5, 3.

Tingkat kemandirian 2 dengan aktivitas klien yang sebagian besar dibantu oleh orang lain karena klien mengalami kelemahan atau ketidakmampuan untuk bergerak

ditingkatkan dengan latihan fisik dari tim fisioterapi.

Gangguan

komunikasi verbal berhubungan dengan deficit neurologi yang ditandai dengan bicara pelo dan bibir metot ke kiri. Yang ditandai dengan :

Ds: keluarga pasien mengatakan bicara pasien pelo

Do : 1.

Bicara pasien tampak pelo

2.

Bibir metot ke sebelah kiri

3.

Bicara tidak jelas 4.

KU pasien lemah

Setelah dilakukan

tindakan keperawatan selama 2x24 jam

diharapkan pasien

berkomunikasi dengan baik

Kriteria hasil (NIC) :

1. Bicara jelas

2. Bibir simetris

3. Komunikasi

tepat sesuai dengan keadaan pasien

4. Ku baik

1. Kaji tipe / derajat disfungsi, seperti

pasien tidak

3. Mintalah pasien untuk mengikuti perintah

sederhana, ulangi dengan kata / kalimat sederhana

4. Bicaralah dengan

nada normal, dan hindari percakapan yang cepat

5. Bicaralah secara langsung dengan pasien, perlahan dan tenang

1. Membantu menentukan

daerah dan

derajat kerusakan serebral yang

terjadi dan

kesulitanpasien dalam beberapa atau seluruh tahap komunikasi 2. Intervensi yang

dipilih tergantung

pada tipe

kerusakannya 3. Melakukan

penilaian

terhadap adanya kerusakan sensorik

4. Pasien tidak perlu merusak

pendengaran, dan meninggikan ansietas selama proses

komunikasi dan berespons pada informasi yang lebih banyak pada

(22)

tertentu

F. Implementasi Diagnosa

Keperawatan

Hari 1 Hari 2 Hari 3 Hari 4

Jam 20 Januari2017 Jam 21 Januari2017 Jam 22 Januari2017 Jam 23 Januari 2017

1. Gangguan yang ditandai dengan yang ditandai dengan bicara pelo dan bibir metot ke kiri.

10.00

10.30

11.00

Mengkaji kekuatan otot pasien dan kemampuan bicara pasien: kekuatan otot tangan kanan tidak dapat digerakkan, bicara pasien masih belum jelas

1.Memberik

an latihan ROM aktif

kan pasien untuk bicara pelan dan tenang otot pasien dan

kemampuan bicara pasien: kekuatan otot tangan kanan tidak dapat kekuatan otot pasien dan kemampuan bicara pasien: kekuatan otot tangan kanan tidak dapat digerakkan, bicara pasien masih belum jelas

1. Memberik

an latihan ROM aktif

(23)

12.00

pasien seperti makan, bicara pelan dan tenang n aktivitas pasien sebagian besar aktivitas pasien dibantu oleh keluarga

TTV : TD : 150/100 mmHg pasien 1 S : 37,5 OC N : 84 x/mnt RR : 24 x/mnt

G. Evaluasi

Diagnosa Hari 1 Hari 2 Hari 3 Hari 4

1. Gangguan mobilitas fisik berhubungan

dengan deficit

neurologi yang

ditandai dengan

anggota gerak

bagian kanan tidak dapat digerakkan.

2. Gangguan

komunikasi verbal berhubungan dengan deficit neurologi

yang ditandai anggota gerak kanan tidak dapat digerakkan

O:

- Keluhan utama : anggota gerak tidak dapat digerakkan yang sebelah kanan

- Respon

S: pasien mengeluh anggota gerak kanan tidak dapat gerak tidak dapat digerakkan yang sebelah kanan

S: pasien mengeluh anggota gerak kanan tidak dapat digerakkan

O:

- Keluhan utama : anggota gerak tidak dapat digerakkan yang sebelah kanan

- Respon

(24)

komunikasi verbal pasien belum baik - Pemenuhan

kebutuhan

A: Masalah belum teratasi

P: Intervensi dilanjutkan Obs. TTV : TD, S, N, dan RR Ajarkan latihan ROM aktif Observasi kekuatan otot pasien

- Respon komunikasi verbal pasien belum baik - Pemenuhan

kebutuhan belum teratasi P: Intervensi dilanjutkan Obs. TTV : TD, S, N, dan RR Ajarkan latihan ROM aktif Observasi kekuatan otot pasien

komunikasi verbal pasien belum baik - Pemenuhan

kebutuhan

A: Masalah belum teratasi

P: Intervensi dilanjutkan Obs. TTV : TD, S, N, dan RR Ajarkan latihan ROM aktif Observasi kekuatan otot pasien

- Respon komunikasi verbal pasien belum baik - Pemenuhan

Referensi

Dokumen terkait

1) Sebelum dilaksanakan penilaian terlebih dahulu dilakukan sosialisasi Pedoman Penilaian Lomba Penanaman Satu Milyar Pohon di Tingkat Pusat dan Provinsi. 2) Penunjukan

Pr PONOROGO 24-12-1987 KARYAWAN SWASTA ISTRI MUSTOVA KAMALI JL... MT

1 tatlı kaşığı salep 1/3 su bardağı şeker 2 su bardağı su 2 su bardağı süt Üstü için Tarçın Toz Kırmızı Biber Zencefil.. Bir tencerede şeker ve

Sedangkan kegagalan struktural terjadi ditandai dengan adanya rusak pada satu atau lebih bagian struktural terjadi ditandai dengan adanya rusak pada satu atau lebih

Keempat, keyakinan terhadap profesi adalah suatu keyakinan bahwa yang paling berwenang menilai apakah suatu pekerjaan yang dilakukan profesional atau tidak adalah

Apabila cahaya dengan panjang gelombang tertentu dilewatkan pada suatu sel yang mengandung atom-atom bebas yang bersangkutan maka sebagian cahaya tersebut akan diserap dan

Rencana Penarikan Dana dan Perkiraan Penerimaan yang tercantum dalam Halaman III DIPA diisi sesuai dengan rencana pelaksanaan kegiatan.. Tanggung jawab terhadap penggunaan anggaran

Dengan menemukan prasyarat keberhasilan/keberlanjutan dari kelompok-kelompok ini, maka dapat diketahui substansi persoalan dari tantangan keberlanjutan pengelolaan sumber