• Tidak ada hasil yang ditemukan

OPTIMALISASI PEMANFAATAN DATA HASIL PENG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "OPTIMALISASI PEMANFAATAN DATA HASIL PENG"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

OPTIMALISASI PEMANFAATAN DATA

HASIL PENGAMATAN PETAK TETAP DALAM RANGKA

PENGAMANAN PRODUKSI PADI

Disusun oleh :

TANTAN SHOBARI

POPT KECAMATAN CISALAK KABUPATEN SUBANG

SUB UNIT PPOPT WILAYAH SUBANG

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, berkat rahmat dan kuasanya

dapat menyelesaikan karya tulis “Optimalisasi Pemanfaatan Data Hasil Pengamatan Dalam

Rangka Pengamanan Produksi Padi”. Salah satu tugas POPT adalah untuk mengamankan

produksi, maka perlu melakukan tindakan-tindakan dan metode yang menunjang

pengamanan produksi tersebut. Metode tersebut adalah pengamatan, untuk itu maka

optimalisasi data hasil pengamatan perlu dilakukan untuk berkontribusi dalam pengamanan

produksi padi terutama di jawa barat.

Penulis sadar bahwa dalam menyelesaikan karya tulis dibutuhkan bantuan dan arahan

dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini, penulis ingin menucapkan terima

kasih kepada :

1. Bapak Maulud Wahyudin, SP selaku Kordinator SUB UNIT PPOPT Wilayah Subang.

2. Bapak Sarip Aminudin selaku Kordinator POPT Kabupaten Subang

3. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa hasil tulisan ini jauh dari kesempurnaan, dan

masih banyak kekurangan, penulis berharap semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi semua

pihak yang memerlukan.

DAFTAR

ISI

Subang, November 2014

(3)

DAFTAR ISI ………...

DAFTAR TABEL ………...

DAFTAR GAMBAR ………...

DAFTAR LAMPIRAN ………..

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang ………... 1.2. Perumusan Masalah ………... 1.3. Tujuan ……… 1.4. Manfaat ………. II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Epidomologi Penyakit Blas (Pyricularia oryzae Cav) ………..

2.2. Gejala Serangan ………. III. METODOLOGI

3.1. Tempat dan Lokasi Pengamatan Petak Tetap ……… 3.2. Waktu dan Pelaksanaan Kegiatan ………. 3.3. Metode Pengamatan Petak Tetap ……….. 3.4. Pengambilan Tanaman Contoh ……….. 3.5. Penilaian Serangan/Kerusakan ……….. 3.6. Penetapan Intensitas Serangan ……….. IV. PEMBAHASAN

4.1. Rekapitulasi Keadaan OPT pada petak tetap ……… 4.2. Kumulatif Luas Tambah Serangan OPT ……….. 4.3. Optimalisasi Pemanfaatan Data Pengamatan Petan Tetap………..….. V. PENUTUP

5.1. Kesimpulan ………...…. 5.2. Saran ………...………... DAFTAR PUSTAKA ……….

Halaman

(4)

1.1. Latar Belakang ………... 1.2. Perumusan Masalah ………... 1.3. Tujuan ……… 1.4. Manfaat ……….

(5)

DAFTAR

GAMBAR

1.1. Latar Belakang ………... 1.2. Perumusan Masalah ………... 1.3. Tujuan ……… 1.4. Manfaat ……….

(6)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perlindungan tanaman merupakan bagian utama dari system budidaya tanaman.

Perlindungan tanaman berperan dalam menjaga kuantitas, kualitas, kontinuitas dan efisiensi

produksi. Oleh karena itu perlindungan tanaman harus dipertimbangkan dalam setiap usaha

budidaya tanaman dan pemasaran hasil pertanian.

Organisme pengganggu tumbuhan (OPT) merupakan resiko yang harus dihadapi dan

diperhitungkan dalam setiap usaha budidaya tanaman untuk meningkatkan kuantitas dan

kualitas produksi. Resiko ini adalah konsekuensi perubahan agroekosistem akibat kegiatan

budidaya tanaman, berbeda dengan ketidaktentuan iklim yang harus diterima sebagai

fenomena alam. Perubahan atau ketidaktentuan iklim berpengaruh langsung terhadap usaha

budidaya tanaman, dan akhirnya mempengaruhi perkembangan OPT.

Kegiatan perlindungan tanaman di dalam system produksi terus berkembang seiring

dengan perkembangan teknologi. Untuk mengatasi kesenjangan informasi teknologi

pengendalian OPT pada tanaman serealia khususnya padi maka di perlukan suatu

rekomendais pengendalian.

1.2. Perumusan Masalah

Jumlah penduduk yang terus meningkat, harus di ikuti pula dengan ketersediaan

kebutuhan pangan. Namun luas areal semakin sempit, maka perlu ada penerapan teknologi

dan perlindungan tanaman dari OPT. kegiatan perlindungan tanaman dapat dilakukan salah

satunya adalah dengan kegiatan pengamatan terhadap pertanaman, diantaranya adalah

pengamatan petak tetap, pengamatan keliling, pemberian laporan peringatan bahaya dan

(7)

1.3. Tujuan

Optimalisasi pemanfaatan data hasil pengamatan dari petak tetap kaitannya dengan

pengamatn petak keliling, laporan peringatan bahaya, dan rekomendasi pengendalian OPT.

sehingga dapat di peroleh informasi dan tindak lanjut dari data hasil pengamatan tersebut.

1.4. Manfaat

Manfaat dari optimalisasi pemanfaatan data pengamatan ini adalah dapat menentukan

tindak lanjut / kebijakan yang akan di ambil dalam kaitannya dengan pengamanan produksi

(8)

BAB II

TINJAUAN PUSTA

KA

Produksi padi Nasional ditargetkan surplus 10 juta ton beras pada tahun 2014, dan Provinsi Jawa Barat ditargetkan dapat menyumbang 30% nya yaitu 2,9 juta ton beras atau setara dengan 5,16 juta ton GKG. Produksi padi di Jawa Barat dapat dihitung dengan cara sbb: (1) perhitungan gabungan; dan (2) jumlah produksi padi di tiap kabupaten di Jabar. Jika dilihat secara matematis, maka rumus produksi padi adalah sbb:

Produksi padi (ton GKG) = Luas panen (ha) x Produktivitas (ton/ha),

Apabila rumus tersebut diterapkan untuk hamparan dengan kondisi yang beragam (kesuburan tanah, fisik tanah, ketersediaan air, draenase, OPT, berbagai kendala biotik dan abiotik lainnya, tehnik budidaya yang diterapkan), maka rumus tersebut diurai menjadi penjumlahan dari produksi dari setiap unit hamparan yang relatif seragam dan ditulis sbb:

∑Produksi padi (ton GKG) = ∑Luas panen (ha) x ∑Produktivitas (ton/ha)

(9)
(10)

BAB III

METODOLOGI

3.1. Tempat dan Lokasi Pengamatan Petak Tetap

Lokasi pengamatan petak tetap yang di jadikan sampel adalah semua petak pengamatan petak

tetap pada MT 2014.

3.2. Waktu dan Pelaksanaan Kegiatan

Waktu pelaksanaan kegiatan yang di ambil adalah pada waktu Musim Tanam 2014.

3.3. Metoda Pengamatan Petak Tetap

Pengamatan tetap dilaksanakan untuk mengetahui perubahan kepadatan populasi

OPT, musuh alami serta intensitas serangan. Petak contoh ditetapkan untuk 3 (tiga) jenis

(11)

(satu) petak contoh, penentuan jenis tanaman utama lainnya yang diamati berdasarkan luas

tanaman terluas saat itu. Dengan demikian pada setiap wilayah pengamatan terdapat 3 (tiga)

petak tetap.

Penentuan lokasi petak tetap berdasarkan daerah endemis serangan OPT, mewakili hamparan

(varietas dan umur tanaman).

3.4. Metode Pengamatan Keliling

Pengamatan keliling atau patrol dilaksanakan dengan menjelajahi wilayah

pengamatan bertujuan untuk mengetahui dan menghimpun informasi tentang luas pertanaman

terserang, luas pengendalian, luas areal waspada, luas bencana alam, penggunaan dan

peredaran serta penyimpanan pestisida. Wilayah pengamatan/ kecamatan harus diamati

seluruhnya oleh POPT-PHP dalam periode waktu pengamatan selama 2 (dua) minggu.

Wilayah Pengamtan dibagi kedalam 8 (delapan) subwilayah pengamatan (sub wilayah

pengamatan 1 – sub wilayah pengamatan 8).

Sub wilayah pengamatan adalah merupakan hamparan. Penempatan sub wilayah pengamtan

1 (satu) diupayakan berdekatan dengan sub wilayah pengamatan 2 (dua), sub wilayah

pengamatan 2 (dua) berdekatan dengan sub wilayah 3 (tiga) dan seterusnya.

Untuk menentukan lokasi pengamatan yang tepat dan akurat, POPT-PHP disarankan

menggali informasi dari petani/kelompok tani/petani pemandu, penyuluh atau aparat setempat

yang layak dipercaya diwilayah kerjanya. Informasi yang dihimpun antara lain : lokasi

serangan, luas pertanaman, jenis OPT, varietas yang ditanam, dan umur tanaman.

Serangan OPT di daerah yang dicurigai, diamati 3 (tiga) petak contoh di setiap sub

wilayah pengmatan, petak contoh yang dipilih harus mewakili hamparan tersebut. Petak

contoh terletak oada perpotongan garis diagonal (A) dan pertengahan potongan-potongan

(12)

unit-unit contoh yang tersebar. Jumlah rumpun yang diamati tiap unit petak contoh adalah 10

rumpun, sehingga terdapat 30 rumpun yang diamati. Kompnen-komponen yang di amati

adalah luas tanaman terserang, intensitas serangan, kepadatan populasi OPTm stadia/umur

tanaman, varietas dan tindakan pengendalian yang pernah dilakukan petani.

Pengamatan OPT dilakukan 4 (empat) hari setiap minggu (senin-kamis) kecuali untuk

tangkapan rampu perangkap dan penakar curah hujan dilkaukan setiap hari. Subwilayah

pengamatan I diamati hari senin, subwilayah pengamtan 2 diamati hari selasa, subwilayah

pengamatan 3 diamati hari rabu dan subwilayah pengamatan 4 diamati hari kamis. Hasil

pengamatan dari subwilayah 1-4 adalah merupakan hasil pengamatan minggu pertama.

Pengamatan untuk minggu kedua dilanjutkan pada sub wilayah 5-8 dengan metode yang

sama dengan pengamatan pada subwilayah 1-4. Hasil pengamatan pada minggu ke 2

(subwilayah pengamtan 5-8) adalah merupakan hasil pengamtan tengah bulan pertama

(tanggal 1-15). Untuk pengamtan tengah bulan kedua (tanggal 16-31) dilakukan dengan

metode yang sama dengan pengamatan tengah bulan pertama (tanggal 1-15).

Hasil pengamatan keliling dilaporkan secara rutin pada setiap akhir periode

pengamatan. Laporan pengamatan minggu ke 1 dan ke 2, sedang pada periode laporan tengah

bulan kedua berisi hasil pengamatan minggu ke 3 dan ke 4.

Penaksiran luas serangan pada pengamatan keliling dilakukan dengan

langkah-langkah sebagai berikut :

a. Menentukan wilayah penaksiran yaitu hamparan tanaman yang dibatasi oleh

batas-batas yang jelas; antara lain : perkampungan, tanaman lain, sungai, jalan, dan lahan

kosong. Apabila perlu wilayah penaksiran dibagi menjadi bagian-bagian(sub wilayah

penaksiran) yang antara lain ditandai oleh : saluran pengairan, tiang listrik, dan

(13)

b. Mengamati keadaan tanaman di tiap wilayah atau subwilayah penaksiran untuk

mengetahui intensitas serangan dan kepadatan populasi OPT.

c. Mneaksir luas serangan OPT [ada tiap wilauah penaksiran berdasarkan distribusi dan

sifat serangan OPT.

d. Penentuan luas serangan apabila dalam wilayah pengamatan terjadi serangan lebih

dari satu OPT, maka luas serangan yang dipilih adalah luas dan intensitas serangan

OPT yang tertinggi.

3.5. Pengambilan Tanaman Contoh

Pengambilan tanaman contoh dilakukan dengan metode diagonal. Pada pengamatan

tetap, tiap petak contoh ditentukan 3 (tiga) unit contoh yang terletak di titik perpotongan garis

diagonal. Petak contoh (A) dan di pertenganhan potongan garis diagonal dan diagonal yang

terpanjang (B dan C). tiap unit contoh diamati 10 rumpun contoh. Pengamatan rumpun

contoh dimulai pada rumpun ke-5 dengan interval 5 langkah. Sedangkan bila petak contoh

kecil, pengamatan rumpun contoh dilakukan dengan metode hurup ‘U”. interval waktu

pengamatan untuk pengamatan tetap ditentuakan satu minggu dan dilaporkan setiap dua

minggu.

3.6. Penilaian Serangan/Kerusakan

Penilian tingkat kerusakan tanaman dilakukan berdasarkan gejala serangan OPT yang

sifatnya sangat beragam. Kerusakan tanaman oleh serangan OPT dikelompokan menjadi

kerusakan mutlak (atau yang dianggap mutlak) dan tidak mutlak.

(14)

Untuk menilai serangan OPT yang menyebabkan kerusakan mutlak atau dianggap

mutlak digunakan rumus sebagai berikut :

I= a

a+b x100 Keterangan :

I = Intensitas serangan (%)

a = Banyaknya contoh (daun, pucuk, bunga, buah, malai, gabah, tunas, tanaman,

rumpun/bagian tanaman) yang rusak mutlak atau dianggap rusak mutlak.

b = banyaknya contoh yang tidak rusak (tidak menunjukan gejala serangan)

Rumus tersebut digunakan untuk menilai serangan OPT yang menyebabkan

kerusakan mutlak atau dianggap mutlak pada daun, pucul, bunga, buah, tunas, malai, gabah,

rumpun/bagaian tanaman sebagai berikut :

Padi : Penggerek batang (tunas dan malai), ganjur (tunas), tikus (tunas dan malai)m

walang sangit (gabah), ulat grayak (malai), babi hutan (rumpun), burung (malai),

orong-orong (tunas), uret (tunas), siput murbei (rumpun), penyakit blas dan busuk leher (leher malai

dan batang), tungro (rumpun), bercak coklat (gabah), noda palsu (gabah), kerdil rumput

(rumpun), kerdil kuning (rumpun), daun jingga (rumpun), kerdilhampa (malai), dan penyakit

kembang api (malai).

3.6.2. Kerusakan Tidak Mutlak

Untuk menilai serangan OPT yang tidak menimbulkan kerusakan mutlak digunakan

rumus seabgai berikut :

I=

i=0

z

(¿x vi)

(15)

Keterangan :

I = Intensitas serangan (%)

ni = Jumlah tanaman atau bagian tanaman contoh dengan skala kerusakan vi

vi = Nilai skala kerusakan contoh ke-i

N = Jumlah tanaman atau bagian tanaman contoh yang diamati

Z = Nilai skala kerusakan tertinggi

Rumus tersebut di atas digunakan untuk menilai serangan OPT pada tanaman

seabagai berikut :

Padi : Penyakit blas (daun), bakteri hawar daun (daun), hawar pelepah daun (pelepah

daun), bakteri daun bergaris (daun), bercak coklat (daun), bercak daun coklat bergaris (daun),

bacterial red stripe (daun), ulat grayak (daun), hama putih (daun), hama putih palsu (daun),

belalang (daun), ulat daun (daun), wereng batang coklat (rumpun), kepinding tanah (rumpun),

lalat daun (daun), dan penyakit bakanae (tunas).

3.6. Penetapan Intensitas Serangan

Penetapan intensitas serangan OPT dilakukan dengan menggunakan 2 (dua) macam

rumus yaitu dengan menggunakan rumus kerusakan mutlak dan kerusakan tidak mutlak.

Intensitas serangan OPT dikategorikan secara kuantitatif dan kualitatif. Intensitas serangan

kuantitatif dinyatakan dalam persen (%) yang menunjukan tanaman, bagian tanaman, atau

kelompok tanaman terserang. Sedangkan intensitas serangan secara kualitatif dinyatakan

dalam kategori serangan ringan, sedang, berat, dan puso. Kategori serangan tersebut secara

berjenjang dilaporakan oleh POPT-PHP, Kordinator POPT-PHP, LPHP/LAH, dan BPTPH.

Penetapan kategori serangan OPT dari intensitas serangan kuantitatif (%) ke intensitas

kualitatif yang terbagi ringan, sedang, berat, dan puso, secara umum dapat menggunakan

(16)

Adapun kategori intensitas serangan hama secara umum dapat digunakan pedoman

sebagai berikut :

- Serangan Ringan bila tingkat serangan ≤25%

- Serangan Sedang bila tingkat serangan >25% - ≤50%

- Serangan Berat bila tingkat serangan >50% - ≤85%

Sedangkan kategori serangan untuk jenis penyakit adalah sebagai berikut :

- Serangan Ringan bila tingkat serangan ≤11%

- Serangan Sedang bila tingkat serangan >11% - ≤25%

- Serangan Berat bila tingkat serangan >25% - ≤85%

Kategori serangan puso baik untuk hama maupun penyakit adalah > 85%. Apabila terjadi

perubahan intensitas serangan dicatat pada kolom luas keadaan serangan pada periode

(17)

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1. Rekapitulasi Keadaan Serangan OPT pada petak Tetap

REKAPITULASI KEADAAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN PADA PETAK TETAP

Kecamatan : Cisalak

Kabupaten : Subang Musim Tanam : 2014

Bulan PetakTetap PengamataPeriode n

(18)

I II Lokal/ 77 Hst Blas 0.17 0.5

3 - Lycosa 0.1 0.4

III Lokal/78 Hst Blas 0.3 0.1

Ciherang/83 Hst WS 0.13 0.17 Lycosa 0.07 0.03

II Lokal/ 88 Hst Blas 1.11 1.4 8 -

III Lokal/89 Hst WS 0.2 0.1 Lycosa 0.07 0.13

(19)
(20)

IV

Lokal/37 Hst WBC -

- 0.3 - PD 0.13 0.03 Blas 1.3

-

- -

-

-

Berikut adalah gambaran siklus hidup secara umum OPT dan Musuh Alami pada pengamatan petak tetap yang telah dilakukan pada MT 2014 :

0 0.5 1 1.5 2 2.5

OPT WBC

Petak I Petak II Petak III Petak IV

Periode Pengamatan

Ke

pa

da

ta

n

Po

pu

la

(21)

0 1 2 3 4 5 6

OPT HP (Hama Putih)

Petak I Petak II Petak III Petak IV

Periode Pengamatan

In

te

ns

ita

s S

er

an

ga

n

(%

)

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5

OPT PBP

Petak I Petak II Petak III Petak IV

Periode Laporan

In

te

ns

ita

s S

er

an

ga

n

(%

(22)

0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6

OPT HPP

Petak I Petak II Petak III Petak IV

Periode Pengamatan

In

te

ns

ita

s S

er

an

ga

n

(%

)

0 0.050.1 0.150.2 0.250.3 0.350.4 0.450.5

OPT WS

Petak I Petak II Petak III Petak IV

Periode Laporan

Po

pu

la

si

e/

rm

(23)

0 1 2 3 4 5 6

OPT Blas

Petak I Petak II Petak III Petak IV

Periode Laporan

In

te

ns

ita

s S

er

an

ga

n

(%

)

0 0.2 0.4 0.6 0.81 1.2 1.4 1.6 1.8

OPT Tungro

Petak I Petak II Petak III Petak IV

Periode Laporan

Ke

ru

sa

ka

n/

rm

(24)

0 0.5 1 1.52 2.53 3.54 4.5

Musuh Alami Lycosa

Petak I Petak II Petak III Petak IV

Periode laporan

ek

or

/

ru

m

pu

n

0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25

Musuh Alami PD

Petak I Petak II Petak III Petak IV

Periode Laporan

ek

or

/

ru

m

pu

(25)

0

Petak I Petak II Petak III Petak IV

Periode Laporan

4.2. Kumulatif Luas Tambah Serangan OPT

REKAPITULASI KUMULATIF LUAS TAMBAH SERANGAN OPT

Kecamatan : Cisalak Kabupaten : Subang

Musim

Tanam : 2014

OPT Desa

Luas Tambah Serangan (Ha)

Kumulatif Keadaan Serangan (Ha) April Mei Juni Juli Agustus September

(26)
(27)

Pakuhaji

4.3. Optimalisasi Pemanfaatan Data Pengamatan Petak Tetap

Dengan mengoptimalkan data hasil pengamatan pada petak tetap MT 2014 dapat di

ambil manfaat yakni :

a. Memperoleh informasi keadaan kepadatan OPT

b. Memperoleh informasi kepadatan Musuh Alami

c. Mengetahui Intensitas Serangan

d. Mengetahui fluktuatif dari keadaan OPT pada petak tetap sebagai acuan dasar untuk

mengetahui keadaan OPT pada wilayah kerja

e. Mendapat gambaran siklus hidup dari berbagai OPT

f. Memperoleh karakteristik serta perilaku OPT yang memudahkan dalam pengendalian

Dengan mendapatkan informasi rinci pada petak tetap maka untuk mengetahui luas tanaman

terserang, tanaman waspada, dll akan lebih mudah karena informasi dasar pertumbuhan OPT

pada wilayah kerja telah terhimpun. Selain itu dengan melakukan rekapitulasi maka akan

memudahkan dalam melakukan peramalan OPT di masa yang akan dating, kaitannya dengan

kebutuhan untuk membuat rencana kerja. Kemudian teknik pengendalian juga akan dapat

dilakukan dengan tepat karena detail informasi mengenai karakteristik sifat OPT dan

Perkiraan serangan OPT dapat terhimpun.

Dari data hasil rakapitulasi OPT yang dominan adalah PBP dan Blas, hal tersebut Nampak

(28)

pengamatan petak tetap sangat bermanfaat dan optimalisasi dalam hal evaluasi serta

pengambilan keputusan dari data evaluasi pengolahan data tersebut akan selaras dan sejalan

(29)

BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Optimalisasi pemanfaatan data Pengamatan petak tetap dapat dilakukan dengan

melakukan anlisa data terhadap hasil pengamatan, selain itu juga dapat dengan membuat

rekapitaluasi dan digambarkan dengan grafik sehingga informasi dari data hasil pengamatan

akan terlihat secara jelas. Karena aka nada penambahan informasi tidak hanya kapadatan

populasi OPT, musuh alami, serta intensitas serangan, namun dapat di peroleh fluktuatif

keadaan serangan OPT, siklus hidup OPT, serta memudahkan dalam pengambilan keputusan,

penyusunan peramalan OPT pada masa yang akan datang.

5.2. Saran

Pengamatan tetap adalah bagian dari tugas POPT sehingga pendalaman ilmu dan

pemahaman akan OPT perlu dilakukan untuk mendeskripsikan gejala atau adanya populasi

OPT di lapangan, maka analisis data dan pengolahan data dapat dilakukan untuk memperoleh

(30)

DAFTAR PUSTAKA

1. Pedoman Rekomendasi Pengendalian OPT Tanaman Serealia, Direktorat Perlindungan

Tanaman Pangan, Direktorat Jendral Tanaman Pangan, Kementrian Pertanian,

2011:Jakarta.

2. Pedoman Pengamatan dan Pelaporan Perlindungan Tanaman Pangan, Direktorat

Perlindungan Tanaman Pangan, Direktorat Jendral Tanaman Pangan, Kementrian

Pertanian, 2012:Jakarta.

3. www.deptan.go.id

Referensi

Dokumen terkait

(2) Pengaruh larangan pemerintah melakukan ibadah di masjid pada masyarakat Luwu Raya akibat mewabahnya Corona Virus Disease dapat di tarik kesimpulan bahwa adanya aturan

Student Teams Achievement Division (STAD). Melak u-kan aktivit a-s keseha ri-an a.. Tujuan sesuai dengan lembar kerja d. Menjelaskan keterkaitan materi dalam kehidupan

Ia mengakui Tuhan memiliki sifat-sifat sejak zaman azali, tanpa pemisahan antara sifat-sifat zat misalnya qudrat, dan sifat-sifat aktifitas (perbuatan, sifat

SD NEGERI MEDOKAN SEMAMPIR I 2D 9 2C 11 Perbaikan

Secara keseluruhan buku ini telah memberikan kita sebagai pembaca untuk lebih memiliki pemahaman komprehensif terhadap isu-isu gender dalam hubungan internasional

Hasil penelitian ini bagi perpustakaan IAIN Tulungagung berguna untuk menambah literatur di bidang pendidikan terutama yang bersangkutan dengan Pembelajaran Kitab