TEORI KEPEMIMPINAN DAN PERILAKU PEMIMPIN YANG EFEKTIF
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Dosen Pengampu : Dr.H. Nur Khoiri, M.Ag
Mata Kuliah : Dasar-Dasar Manajemen Pendidikan
Disusun Oleh :
Nur Hikmah Arisanti (1403056006)
Tutik Alafiyah (1503086004)
Umidha Nur Khasanah (1503086008)
PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
A. Rumusan Masalah
1. Apa saja teori kepemimpinan itu ? 2. Bagaimana pemimpin yang efektif itu ?
B. Tujuan Makalah
1. Untuk menjelaskan apa saja teori kepemimpinan
2. Untuk mengetahui bagaiamana pemimpin yang efektif itu
C. Manfaat Makalah
1. Mahasiswa dapat mengetahui apa saja teori kepemimpinan
2. Mahasiswa dapat mengetahui bagaiamana pemimpin yang efektif
D. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
Pada BAB I Pendahuluan pemakalah menyajikan beberapa sub bab yang berjudul latar belakang makalah, rumusan masalah, tujuan makalah, manfaat makalah, dan serta sistematika penulisan didalam makalah.
Pada BAB II Kajian Teori pemakalah menyajikan beberapa sub bab yang berjudul apa saja teori kepemimpinan dan bagaimana pemimpin yang efektif itu.
Pada BAB III Pembahasan pemakalah menyajikan sebuah skripsi yang berjudul kepemimpinan dalam organisasi: perspektif teoritik dan metodologi
BAB II KAJIAN TEORI
A. Teori Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah setiap tindakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk mengkoordinasi dan memberi arah kepada individu atau kelompok lain yang tergabung dalam wadah tertentu untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya1.
Banyak ahli mengemukakan pendapat dan teorinya tentang kepemimpinan. Teori yang mereka kemukakan berneka ragam. Keragaman itu disebabkan antara lain oleh tiga hal. Pertama, teori dirumuskan berdasarkan bukti empiris atau hasil penelitian. Kedua, perbedaan sudut pandang para ahli mengenai manusia organisasi. Ketiga, hakikat dan substansi tugas yang dilaukan dan kerangka praktek kepemimpinan itu. Berikut ini disajikan beberapa pendapat tentang teori kepemimpinan2.
1. Teori Sifat (Traits Theory)
Pendekatan ini menekankan pada sifat pemimpin seperti kepribadian, motivasi, nilai, dan keterampilan. Yang mendasari pendekatan ini adalah asumsi bahwa beberapa orang mempunyai bakat memimpin yang memiliki ciri tertentu yang tidak dimiliki oleh orang lain. Teori kepemimpinan yang paling awal menyatakan bahwa kenerhasilan manajerial disebabkan oleh kemampuan luar biasa seperti memiliki energi yang tidakk kenal lelah, intuisi kepengelolaan, pandangan masa depan, dan kekuatan untuk membujuk yang tidak dapat ditolak3.
Teori ini mempercayai bahwa pemimpin memiliki cara yang bervariasi karena mereka memiliki karakteristik atau disposisi yang sudah melekat dalam
1 Sudarwan Danim. 2012. Motivasi, Kepemimpinan dan Efektivitas Kelompok. Jakarta: Rineka Cipta. hlm 55-56
2 Sudarwan Danim. 2012,... hlm 68
dirinya. Teori tentang analisis kepemimpinan berdasarkan ciri yang dalam bahasa inggris dikenal dengan "traits theory" memberi petunjuk bahwa ciri-ciri ideal tersebut ialah:
a. Pengetahuan umum yang luas
b. Kemampuan untuk bertumbuh dan berkembang c. Sifat inkuisitif
m. Kemampuan membedakan yang urgen dan yang penting n. Rasa tepat waktu
o. Rasa kohesi yang tinggi p. Naluri relevansi
q. Keteladanan
r. Kesediaan menjadi pendengar yang baik s. Adaptabilitas
t. Fleksibilitas u. Ketegasan v. Keberanian
w. Orientasi masa depan x. Sikap yang antisipatif4.
Teori kepemimpinan berdasarkan ciri-ciri ternyata tidak bebas dari kelemahan tertentu, yang terpenting di antaranya ialah adanya asumsi bahwa jika seseorang pemimpin memiliki ciri-ciri tersebut, ia dengan sendirinya akan menjadi pemimpin yang efektif. Tidak demikian halnya dengan teori kepemimpinan berdasarkan ciri-ciri terlalu menekankan pandangan bahwa bakat yang dibawa sejak lahir merupakan jaminan keberhasilan seseorang menyelenggarakan fungsi-fungsi kepemimpinannya.
Kelemahan lain dari teori kepemimpinan berdasarkan ciri-ciri ialah adanya anggapan bahwa efektivitas kepemimpinan seseorang dapat dialihkan
in toto dari satu situasi organisasional ke situasi organisasional yang lain dengan tingkat keberhasilan yang sama. Dengan kata lain, terdapat pandangan
bahwa keberhasilan seseorang memimpin satu organisasi sudah merupakan jaminan mutlak untuk keberhasilannya memimpin organisasi yang lain, meski pun tujuan, misi, fungsi, sasaran, dan kegiatannya berbeda5.
2. Teori Perilaku (Behaviors Theory)
Teori perilaku berusaha untuk mengidentifikasi perilaku-perilaku pemimpin. Bila perilaku pemimpin ada perbedaan yang berarti jika dibandingkan dengan perilaku yang dipimpin, maka kepemimpinan akan dapat diajarkan. Bila kepemimpinan bisa diajarkan, maka pasokan pemimpin bisa diperbesar. Pendekatan ini menekankan bahwa pemimpin dan manager secara nyata bekerja untuk pekerjaan dan hubungan keefektifan managerial6.
Perbedaan yang paling mendasar antara teori karakter dan teori perilaku adalah terletak pada asumsi yang mendasarinya. Jika teori karakter yang benar, maka pada dasarnya kepemimpinan dibawa dari lahir. Sedangkan jika teori perilaku yang benar, maka kepemimpinan bisa diajarkan atau ditanamkan7.
3. Teori Situasional (Situasional/Contingency Theory)
Salah satu model kepemimpinan yang paling banyak digunakan dewasa ini adalah yang berdasarkan teori situasional yang dikembangkan oleh paul harsey dan ken blanchard. Teori ini terkadang disebut "teori kontijensi" kepemimpinan. Teori ini sangat menarik untuk didalami karena paling sedikit tiga alasan, yaitu: penggunaannya yang meluas, daya tariknya secara intuitif dan karena tampaknya didukung oleh pengalaman didunia nyata.
5 Sondang P. Siagian. 2003,... hlm 118-119
6 Gary Yukl. 1989. Managerial Leadership: A Review of Theory and Research. Journal of Management Vol 15 No 2
Pendekatan situasional menekankan pentingnya faktor kontekstual yang mempengaruhi proses kepemimpinan8. Berbagai faktor situasional yang ditemukan berpengaruh pada gaya kepemimpinan tertentu, antara lain ialah:
a. Kompleksitas tugas yang harus diselenggarakan,
b. Jenis pekerjaan, misalnya apakah bersifat rutin atau inovatif, c. Bentuk dan sifat teknologi yang digunakan,
d. Persepsi, sikap dan gaya yang digunakan oleh para pejabat pemimpin yang menduduki hirarki jabatan yang lebih tinggi,
e. Norma-norma yang dianut oleh kelompok kerja yang berada di bawah pimpinan yang bersangkutan,
f. Rentang kendali yang paling tepat untuk diterapkan,
g. Ancaman yang datang dari luar organisasi yang mesti dihadapi, misalnya dalam bentuk persaingan bagi suatu organisasi niaga,
h. Tingkat stress yang mungkin timbul sebagai akibat beban tugas, tingkat tanggung jawab, desakan waktu dan faktor-faktor lainnya yang dapat menimbulkan ketegangan,
i. Iklim yang terdapat dalam organisasi9.
Pada intinya teori ini menekankan bahwa efektifitas kepemimpinan seseorang tergantung pada dua hal, yaitu pemilihan gaya kepemimpinan yang tepat untuk menghadapi situasi tertentu dan tingkat kematangan jiwa (kedewasaan) para bawahan yang dipimpin. Dua dimensi kepemimpinan yang digunakan dalam teori ini ialah perilaku seorang pemimpin yang berkaitan dengan tugas kepemimpinannya dan hubungan atasan-bawahan. Tergantung pada orientasi tugas kepemimpinan dan sifat hubungan atasan dan bawahan yang digunakan, gaya kepemimpinan yang timbul apat mengambil empat bentuk, yaitu:
a. Memberitahukan
Jika seorang pemimpin berperilaku memberitahukan, hal ini berarti bahwa orientasi tugasnya dapat dikatakan tinggi dan digabung dengan hubungan atasan-bawahan yang tidak dapat digolongkan sebagai akrab, meskipun tidak pula digolongkan sebagai hubungan yang tidak bersahabat.
8 Gary Yukl. 2005. Kepemimpinan dalam Organisasi. Jakarta: Indeks, hlm 15
Dengan kata lain, perilaku pemimpin terwujud dalam gaya yang bersifat direktif.
b. "Menjual,"
Jika seorang pemimpin berperilaku "menjual" berarti bertitik tolak dari orientasi perumusan tugasnya secara tegas digabung dengan hubungan atasan-bawahan yang bersifat intensif.
c. Mengajak bawahan berperan serta
Perilaku pimpinan dalam hal demikian ialah orientasi tugas yang rendah digabung dengan hubungan atasan-bawahan yang intensif. Artinya, pimpinan hanya memainkan peranan selaku fasilitator untuk memperlancar tugas para bawahan yang antara lain dilakukannya dengan menggunakan saluran komunikasi yang ada secara efektif.
d. Melakukan pendelegasian.
Seorang pemimpin dalam menghadapi situasi tertentu dapat pula menggunakan perilaku berdasarkan orientasi tugas yang rendah digabung dengan intensitas hubungan atasan-bawahan yang rendah pula10.
4. Teori Otokratis dan Pemimpin Otokratis
Kepemimpinan dalam teori ini didasarkan atas perintah-perintah, paksaan, dan tindakan-tindakan yang abitter (sebagai wasit). Pemimpin selalu melakukan pengawasaa pengawasan yang ketat agar semua pekerjaan berlangsung secara efesien. Pemimpin pada teori ini disebut otoktar keras karena mempunya sifat tepat, seksama,sesuai dengan prinsip namun keras dan kaku. Pemimpin tersebut tidak akan mendelegasikan otoritas.
5. Teori Psikologis
Teori ini menyatakan bahwa fungsi seorang pemimpin adalah memunculkan dan mengembangkan sistem motivasi terbaik untuk merangsang kesediaan bekerja para anak buahnya guna mencapai sasaran-sasaran organisatoris maupun untuk memenuhi tujuan-tujuan pribadi. Pemimpin pada
teori ini mementingkan aspek-aspek psikis manusia seperti pengakuan, martabat, status sosial, kepastian emosional, dan lain-lain11.
Penganut teori ini merumuskan tesis leader are made, pemimpin itu dapat diciptakan atau dipersiapkan secara khusus, musalnya melalui pendidikan dan pelatihan12.
6. Teori Sosiologis
Kepemimpinan dianggap sebagai usaha untuk melancarkan antar relasi dalam organisasi dan sebagai usaha untuk menyelesaikan setiap konflik organisatoris antara para pengikutnya agar tercapai kerja sama yang baik. Pemimpin menetapkan tujuan-tujuan dengan menyertakan para pengikutnya dalam pengembilan keputusan terakhir. Selanjutnya, pemimpinjuga mengidentifikasi tujuan, dan kerap kali memberikan petunjuk yang diperlukan bagi para pengikut untuk melakukan setiap tindakan yang berkaitan dengan kepentingan kelompoknya.
7. Teori Suportif
Menurut teori ini, para pengikut harus berusaha sekuat mungkin dan bekerja dengan penuh gairah, sedangkan pemimpin akan membimbing dengan sebaik-baiknya melalui kebijakan tertentu. Teori suportif ini biasa dikenal dengan teori partisipatif atau teori kepemimpinan demokratis.
8. Teori Laissez Faire
Pemimpin pada teori ini sebenarnya tidak mampu mengurus, dan menyerahkan tanggung jawab serta pekerjaan kepada bawahannya. Pada teori ini, pemimpin adalah seorang ketua yang bertindak sebagai simbol, dan biasanya tidakmemiliki ketarampilan teknis.
9. Teori Kelakuan Pribadi
Kepemimpinan jenis ini akan muncul berdasarkan kualitas-kualitas pribadi atau pola kelakuan para pemimpinnya. Pemimpin dalam kategori ini harus mampu mengambil langkah-langkah yang paling tepat untuk suatu masalah. Masalah sosial itu tidak akan pernah identik sama didalamruntunan waktu yang berbeda.
11 Kartini Kartono. 2008. Pemimpin dan Kepemimpinan : Apakah kepemimpinan abnormal itu?.
Jakarta: Rajawali Press, hlm 71-79
10. Teori Sifat Orang-Orang Besar
Cikal bakal seorang pemimpin dapat diprediksi dan dilihat dengan melihat sifat, karakter, dan perilaku orang-orang besar yang tersebut sudah sukses dalam menjalankan kepemimpinannya. Dengan demikian, ada beberapaciri-ciri unggul sebagai predisposisi yang diharapkan akan dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu memiliki inteligensi, memiliki daya persuasif dan keterampilan komunikatif, memiliki kepercayaan diri, peka, kreatif, mau memberikan partisipasi sosial yang tinggi dan lain-lain.
11. Teori Humanistik / Populistik
Fungsi kepemimpinan manurut teori ini yaitu merealisasi kebebasan manusia dan memenuhi setiap kebutuhan insani yang dicapai melalui interaksi pemimpin dengan rakyat. Untuk melakukan hal ini, perlu adanya organisasi yang baik dan pemimpin mau memperhatikan kepentingan dan kebutuhan rakyat. Organisasi tersebut berperan sebagai sarana untuk melakukan kontrol sosial agar pemerintahan melakukan fungsinya dengan baik, serta memerhatikan lemampuan dan potensi rakyat13.
12. Kepemimpinan Transaksional
Moos dan Huber (2007) menyatakan bahwa istilah “kepemimpinan transaksional” telah dilaksanakan untuk konsep kepemimpinan alam semesta. Kepemimpinan transaksional adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan serta ditetapkan dengan jelas peran dan tugas-tugasnya. Kepemimpinan transaksional digambarkan sebagai mempertukarkan sesuatu yang berharga untuk yang lain antara pemimpin dan karyawan (Contingen Riward), intervensi yang dilakukan oleh pemimpin dalam proses organisasional dimaksudkan untuk mengendalikan dan memperbaiki kesalahan yang melibatkan interaksi antara pemimpin dan kakitanganya bersifat pro aktif.
Prinsip utama dari kepemimpinan transaksional adalah mengkaitkan kebutuhan individu dengan yang diinginkan kemimpin untuk semua penghargaan yang diinginkan dari bawahannya sehingga memungkinkan adanya peningkatan motivasi staf. Karena itu, dapat disimpulkan bahwa pemimpin transaksi hakikatnya adalah menekankan bahwa perlunya seseorang
pemimpin menentukan apa yang harus dilakukan karyawan untuk mencapai tujuan organisasi. Pemimpin transaksional juga cenderung memfokuskan diri pada solusi tugas-tugas organisasi. Untuk memotivasi agar staf melakukan tanggung jawab mereka, para pemimpin transaksional sangat tergantung pada sistem pemberian penghargaan dan hukuman pada bawahannya.
13. Kepemimpinan Transformasional
Proses begitu cepat dan luas menuntut perubahan bahwa “perubahan dan perbaikan” dilakukan sebagai sebuah proses yang berkelanjutan, sehingga konsep kepemimpinan yang berbeda diperlukan. Kepemimpinan transformasional dianggap menunjukkan jalan. Pemimpin transformasional tidak hanya mengelola struktur dan tugas, tetapi berfokus pada orang-orang yang membawa mereka kerjasama dan berkomitmen. Mereka mencoba untuk secara aktif mempengaruhi “budaya” dari sekolah sehingga memungkinkan untuk lebih merangsang kerjasama, koherensi dalam belajar dan bekerja lebih bebas.
Hater dan Bass (1988) menyatakan bahwa pemimpin transformasional merupakan pemimpin yang kharismatik dan memiliki peran sentral dan strategis dalam membawa organisasi mencapai tujuannya. Pemimpin transformasional ini harus memiliki kemampuan untuk menyamakan visi masa depan dengan kakitanganya, serta mempertinggi kebutuhan bawahan pada tingkat yang lebih tinggi dari pada apa yang mereka butuhkan.
Bass dan Avolio, mengemukakan bahwa kepemimpinan transformasional memiliki empat dimensi yang disebutnya sebagai “The Four Is”:
a. Perilaku pemimpin yang membuat para pengikutnya mengagumi, menghormati sekaligus mempercayai (pengaruh ideal).
b. Pemimpin transformasional digambarkan sebagai pemimpin yang mampu mengartikulasikan pengharapan yang jelas terhadap prestasi karyawan (motivasi-inspirasi)
c. Pemimpin transformasional harus mampu menumbuhkan ide-ide baru, memberikan solusi yang kreatif terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi staf (stimulasi intelektual).
Dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan transformasional adalah kemampuan seorang pemimpin untuk memberikan pertimbangan dan rangsangan intelektual yang individukan dan yang memiliki kharisma14.
B. Perilaku Pemimpin Yang Efektif dengan melakukan pekerjaan yang sama seperti bawahannya. Sebaliknya, para pemimpin yang efektif berkonsentrasi pada fungsi-fungsi yang berorientasi pada tugas seperti merencanakan dan mengatur pekerjaan, mengkoordinasikan kegiatan para bawahan, dan menyediakan keperluan, peralatan dan bantuan teknis yang dibutuhkan.
b. Perilaku yang berorientasi hubungan.
Bagi para pemimpin yang efektif, perilaku yang berorientasi tugas tidak terjadi dengan mengorbankan perhatian terhadap hubungan antar manusia. Para pemimpin yang efektif lebih penuh perhatian, mendukung, dan membantu para bawahan. Perilaku mendukung yang berkorelasi dengan kepemimpinan yang efektif meliputi memperlihatkan kepercayaan dan rasa percaya, bertindak ramah dan oerhatian, berusaha memahami permasalahan bawahan, membantu mengembangkan bawahan dan memajukan karier mereka, selalu memberikan informasi kepada bawahan, memberikan apresiasi terhadap ide-ide bawahan, dan memberikan pengakuan atas kontribusi dan keberhasilan bawahan.
c. Kepemimpinan partisipatif
Para pemimpin yang efektif lebih banyak menggunakan supervisi kelompok daripada mengendalikan tiap bawahan sendiri-sendiri. Pertemuan kelompok memudahkan partisipasi bawahan dalam mengambil keputusan, memperbaiki komunikasi, mendorong kerjasama, dan memudahkan pemecahan konflik. Peran pemimpin dalam pertemuan kelompok yang utama adalah harus memandu diskusi dan membuatnya mendukung, konstruktif, dan berorientasi pada pemecahan masalah15.
Sebuah sasaran utama dari program penelitian kepemimpinan adalah untuk mengidentifikasi perilaku kepemimpinan yang efektif. Terdapat empat belas kategori perilaku dari jangka menengah yang disebut praktik-praktik manajeral dan sejumlah
komponen perilaku spesifik yang lebih besar. Kategori perilaku tersebut cukup generik untuk dapat diaplikasikan secara luas pada jenis manajer yang berbeda-beda, namun cukup spesifik untuk dihubunhkan dengan permintaan-permintaan dan hambatan situasional yang dihadapi seorang pemimpin individual.
Adapun kategori perilaku dari praktik kepemimpinan menurut Yukl sebagai 11. Mengelola konflik dan membangun tim 12. Membangun jaringan kerja
13. Pengakuan
14. Memberi imbalan16
Tiap praktik manajeral, termasuk beberapa komponen perilaku yang berhungungan baik dengan tugas maupun dengan orang. Namun demikian, beberapa dari praktik manajeral tersebut lebih memerhatikan tugas dan beberapa diantaranya lebih memerhatikan pengembangan dan mempertahankan hubungan. Keempat belas perilaku dapat juga dihubungkan dengan empat jenis kegiatan umum yang dilakukan seorang pemimpin memperkirakan waktu/biaya perlangkah,
16 Gary Yukl. 2005. Kepemimpinan dalam Organisasi. Jakarta: Indeks, hlm 78
memonitor kemajuan, berkoordinasi
Pemecahan masalah Tugas Mengambil tanggung jawab untuk
menangani maslaah, membuat diagnosis sitematis, dan menguji pilihan-pilihan yang inovatif.
Memperjelas peran Tugas Mendefinisikan pekerjaan/prioritas:
menentukan tujuan spesifik yang menantang, menerangkan suatu tugas secara jelas, dan alasannya.
Menginformasi Tugas Memberi akses langsung ke informasi:
memberitahu orang-orang tentang keputusan dengan tidak berlebihan.
Memonitor Tugas Mengidentifikasi / mengukur / memonitor
indikator hasil, mengawasi operasi, mendorong laporan kesalahan.
Berkonsultasi Hubungan Menyatakan tujuan, meminta saran tentang
memperbaiki pekerjaan, dan memakai saran-saran tersebut.
Mendukung Hubungan Berlaku sopas, sabar, dan penolong.
Mengatakan hal-hal untuk meningkatkan kepercayaan diri dan harga diri.
Mengembangkan dan
mentoring
Hubungan Mengidentifikasi kekurangan, menyediakan pilihan pengembangan, bertindak sebagai suri tauladan.
Menangani konflik Hubungan Menjelajahi persepsi-persepsi, bertindak tidak secara parsial.
Mengenali Hubungan Mengenali perbaikan dan upaya-upaya yang
gagal.
Menghargai Hubungan Menggunakan penghargaan yang dianggap
BAB III PEMBAHASAN
Berdasarkan materi tentang teori kepemimpinan dan perilaku pemimpin yang efektif, maka pemakalah mengambil jurnal penelitian yang ditulis oleh Suci Wulandari dari Puslitbang Perkebunan Bogor yang berjudul:
"KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI: Perspektif Teoritik dan Metodologi"
A. Teori Kepemimpinan
Secara garis besar, pembahasan mengenai faktor kunci dari kepemimpinan yang efektif dilandasi oleh empat pendekatan utama, yaitu: (1) teori sifat, (2) teori perilaku, (3) teori situasional, dan (4) teori transformasional.
1. Teori Sifat, Perilaku, dan Situasional
Tabel 1.1 Konsep Kepemimpinan dari Berbagai Pandangan
Teori Periode Konsep Kritik
Teori sifat 1940-1950
Terdapat sejumlah sifat atau karakteristik tertentu yang berkaitan dengan keberhasilan dan kegagalan dari pemimpin
Teori sifat cenderung
deterministic, yaitu
mengatribusi seluruh aspek
kepemimpinan dan
cenderung mengabaikan
pengaruh lingkungan serta pentingnya perilaku yang dipelajari
Tidak menyinggung pengikut
atau hubungan antara pemimpin dan pengikut
Tidak semua sifat dapat
diidentifikasi dengan baik apakah merupakan factor bawaan atau perilaku yang atau karakteristik dari pemimpin tetapi apa yang dilakukan pemimpin dalam berbagai situasi. Keberhasilan dari pemimpin tergantung pada gaya kepemimpinan yang
Cenderung deterministic,
hanya mengatribusi semua aspek kepemimpinan pada sang pemimpin dan
mengabaikan aspek
lingkungan
Tidak menyinggung
diterapkan pemimpin dan pengikut kepemimpinan tetapi juga ditentukan oleh situasi yang ada dalam kepemimpinan tersebut. Faktor situasi meliputi: karakteristik dari bawahan dan pimpinan, sifat dan tugas,
Pada perkembangannya, situasi mengalami perubahan yang sangat cepat dan menimbulkan berbagai tuntutan logis yang kompleks serta membutuhkan respon yang cepat. Di sisi lain, menyesuaikan organisasi terhadap perubahan lingkungan bukanlah sebuah bentuk penyelesaian akhir yang dapat menyelesaikan seluruh permasalahan yang ditimbulkan akibat perubahan lingkungan tersebut. Oleh karena itu tuntutan terhadap pemimpin tidak lagi bagaimana organisasi yang berada dibawah kepemimpinannya dapat menyesuaikan terhadap perubahan lingkungan tetapi lebih kepada bagaimana pemimpin dapat memanfaatkan lingkungan dan menciptakan lingkungan yang sesuai dalam proses pencapaian tujuan. Atas dasar tuntutan inilah, maka sejak tahun 1980-an ketiga pendekatan tersebut tidak lagi digunakan dan berkembang konsep Teori Kepemimpinan Transformasional.
2. Teori Transformasional
lingkungan yang memotivasi para karyawan untuk berprestasi melampui harapan. Seorang pemimpin dapat mentransformasikan bawahannya melalui empat cara:
a. Idealized influence,
Pemimpin transformasional memiliki integritas perilaku atau persepsi terhadap kesesuaian antara nilai yang diharapkan dan nilai yang terjadi.
b. Inspirational motivation
Pemimpin transformasional memotivasi dan menginspirasi bawahannya dengan jalan mengkomunikasikan ekspetasi tinggi dan tantangan kerja. Selain itu juga membangkitkan semangat kerja antusiame, dan optimisme.
c. Intellectual stimulation,
Pemimpin tranformasional berupaya menciptakan iklim yang kondusif bagi berkembangnya inovasi dan kreativitas. Pemimpin mendorong para bawahan untuk memunculkan ide-ide baru dan solusi kreatif
Atas masalah yang dihadapi.
d. Individualized consideration,
Pemimpin transformasional memberikan perhatian khusus pada kebutuhan setiap individu untuk berprestasi dan berkembang.
B. Efektivitas Kepemimpinan
Berdasarkan pendekatan teori kepemimpinan transformasional, dirumuskan sejumlah kriteria yang dapat dijadikan sebagai dasar penilaian efektivitas seorang pemimpin. Kriteria ini dikembangkan dari penilaian terhadap pemimpin karismatik yang merupakan dasar pendekatan teori kepemimpinan transformasional.
Pengukuran tingkat kepentingan dan kinerja aktual aspek digunakan metode pembobotan berdasarkan data yang diperoleh dari sejumlah responden. Responden dipilih secara selektif dengan mempertimbangkan hubungan dan kedekatan dengan pemimpin yang menjadi objek kajian. Berdasarkan data tersebut diukur tingkat pencapaian faktor yang merupakan perbandingan skor kinerja aktual dengan skor kepentingan. Analisis dilakukan terhadap nilai pencapaian total, yang menggambarkan efektivitas pemimpin secara keseluruhan, dan terhadap nilai kesenjangan dari setiap aspek.
Analisis terhadap masing-masing faktor dilakukan dengan melihat kesenjangan antara nilai kepentingan dan kinerja suatu faktor yang telah digambarkan dalam suatu
Radar Chart. Aspek yang memiliki nilai kepentingan tinggi merupakan aspek penting dari suatu bentuk kepemimpinan dalam proses pencapaian tujuan organisasi. Kesenjangan yang lebar menunjukkan belum efektifnya pemimpin dalam aspek tersebut, dan sebaliknya.
Merujuk kepada contoh perhitungan, secara keseluruhan, pemimpin belum mampu menjalankan tugas dan peran kepemimpinannya secara optimal. Hal ini terlihat dari pencapaian skor sebesar 59,7%. Tuntutan terhadap pemimpin terhadap diberlakukannya pendekatan transformasional pada lingkungan yang cepat berubah, belum mampu dipenuhi oleh pemimpin dengan baik.
Berdasarkan contoh kajian, diketahui bahwa aspek penting yang menjadi kunci utama bagi efektivitas kepemimpinan tranformasional yaitu: (1) ketegasan sikap terhadap status quo dan upaya perubahannya, (2) adanya visi ideal. Pada kenyataannya, pemimpin yang menjadi objek penilaian belum memiliki kedua perihal tersebut. Kesenjangan dari 2 aspek ini terlihat sangat besar18.
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Adapun teori kepimpinan itu diantaranya meliputi Teori Sifat (Traits Theory), Teori Perilaku (Behaviors Theory), Teori Situasional (Situasional/Contingency Theory), Teori Otokratis Dan Pemimpin Otokratis, Teori Psikologis, teori sosiologis, Teori Suportif, Teori Laissez Faire, teori kelakuan pribadi, Teori Sifat Orang-Orang Besar, Teori Humanistik / Populistik, kepemimpinan transaksional, Kepemimpinan Transformasional
2. Terdapat tiga jenis perilaku kepemimpinan efektif, yaitu Perilaku yang berorientasi tugas, Perilaku yang berorientasi hubungan, Kepemimpinan partisipatif
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
Danim, Sudarwan. 2012. Motivasi, Kepemimpinan dan Efektivitas Kelompok. Jakarta: Rineka Cipta
Kartono, Kartini. 2008. Pemimpin dan Kepemimpinan : Apakah kepemimpinan abnormal itu?. Jakarta: Rajawali Press
Kurniadin, Didin; Machali, Imam. 2014. Manajemen Pendidikan. : Konsep & Prinsip Pengelolaan Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Siagian, Sondang P. 2003. Teori Dan Praktek Kepemimpinan. Jakarta: Rineka Cipta
Subarino, kk. 2011. Kepemimpinan Integratif: Sebuah Kajian Teori. Jurnal Manajemen Pendidikan No. 01/Th VII
Wulandari, Suci. 2003. Kepemimpinan Dalam Organisasi:Perspektif Teoritik Dan Metodologi. Bogor: Puslitbang Perkebunan, Bogor. Jurnal Ilmiah Kesatuan Vol. 5 No. 2
Yudiaatmaja, Fridayana. 2013. Kepemimpinan: Konsep, Teori Dan Karakternya. Universitas Pendidikan Ganesha. Jurnal Media Komunikasi Fis Vol 12, No 2
Yukl, Gary. 1989. Managerial Leadership: A Review of Theory and Research. Journal of Management Vol 15 No 2