DAKWAH DI SARANG KRIMINALITAS:
Kampung Beting yang berada di Kota Pontianak merupakan kawasan yang unik dan menyeramkan. Perkampungan yang lahir bersamaan dengan berdirinya Kesultanan Pontianak ini sekarang terkenal sebagai pusat kriminalitas. Namun sangat disayangkan hampir tidak ada upaya dakwah yang terstruktur dan sistematis untuk membantu masyarakat Kampung Beting agar bisa keluar dari kondisinya seperti sekarang. Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan teori struktural fungsional, diketahui bahwa banyak faktor yang saling memengaruhi satu dengan yang lainnya untuk melakukan perubahan sosial. Faktor-faktor tersebut adalah: (1) Tingkat ekonomi masyarakat yang rendah atau kemiskinan; (2) Tingkat pendidikan masyarakat rendah; (3) Kehilangan figur pemimpin atau tokoh yang kuat; (4) Pemanfaatan budaya masyarakat secara negatif; (5) Adanya kepentingan pihak luar; dan (6) Pengaruh lingkungan. Namun, di sisi lain terdapat juga beberapa institusi yang berupaya mempertahankan struktur masyarakat agar tidak berubah. Beberapa institusi tersebut adalah keluarga, lembaga pendidikan TPA (Taman Pendidikan Al-Quran), para guru mengaji dan kelompok pengajian serta majelis taklim. Untuk mengembalikan Kampung Beting sebagai wilayah yang bebas dari berbagai bentuk kriminalitas, ada tiga upaya sebagai bentuk dakwah kontekstual yang bisa dilakukan, yaitu penguatan institusi, intervensi pihak luar, dan revitalisasi budaya.
---Abstract:
Kampung Beting located in Pontianak City is an area of unique and creepy. Kampung Beting which was born with the establishment of the Sultanate of Pontianak is now known as a center of crime. Unfortunately almost no effort is structured and systematic propaganda (dakwah) to help people of Kampung Beting to get out of the condition as it is now. Based on the results of research using the structural-functional theory, it is known that many factors interplay with each other to make social change. These factors are: (1) a low level of public economics or poverty; (2) the low level of public education; (3) Loss of a figure or figures strong leader; (4) Utilization of a negative culture; (5) The interest of outside parties; and (6) environmental effects. However, on the other hand there are also some institutions that seek to maintain the structure of society that has not changed. Some of these institutions are the family, educational institutions TPA (Taman Pendidikan Al-Quran), the tutor (guru mengaji Al-Quran) and study groups (kelompok pengajian) and Majelis Taklim. To restore the village of Shelf as an area that is free from all forms of criminality, there are three attempts as a form of contextual propaganda that can be done, namely the empowering of institutions, external interventions, and cultural revitalization.
1 Artikel dipresentasikan dalam “The 14th Annual International Conference on Islamic
Studies”, Balikpapan, East Kalimantan, Indonesia, November 21-24, 2014.
Kata-kata Kunci: Kampung Beting, Kriminalitas, Struktural Fungsional, Dakwah Kontekstual.
A. Pendahuluan
Stigma Kampung Beting yang berada di wilayah Kelurahan Dalam Bugis Kota Pontianak dikenal sebagai daerah yang “menyeramkan” telah dimulai sejak dua dasawarsa yang lalu. Kampung Beting ini dulunya merupakan daerah yang sangat penting, mengingat di daerah inilah cikal bakal berdirinya kesultanan dan sekaligus kota Pontianak. Oleh karena itu, hingga saat ini di daerah tersebut masih berdiri kokoh Keraton Kesultanan Kadariah dan Masjid Jami’ Sultan Abdurrahman Pontianak. Wilayah yang tentunya menyimpan banyak sejarah. Di samping memiliki aspek historis, wilayah ini memiliki keunikan tersendiri. Sisi yang teramat unik dari kampung ini sebagaimana ditulis oleh Harian Kompas adalah tempat berpadunya kebaikan dan kejahatan. Meskipun demikian stereotype
negatif tentang kampung ini tetap melekat di hampir sebagian besar warga kota Pontianak. Ada yang menyebut kampung ini sebagai Texas-nya kota Pontianak, ada juga yang menyamakannya seperti kawasan Bronx di Kota New York. Bukan hanya warga Pontianak saja yang mengenalnya, bahkan terkenal hingga ke Mabes Polri. Setiap Kapolda baru yang menjabat selalu mendapatkan pesan dari pendahulunya untuk menangani tindak kriminalitas di wilayah ini dengan cermat.
Satu hal yang menjadikan Kampung Beting begitu terkenal “menyeramkan” adalah tindak kriminalitas di kawasan ini sangat tinggi, terutama yang berkaitan dengan narkoba, penularan HIV/AIDS, perjudian dan pencurian. Transaksi penjualan narkotika dan penampungan barang-barang hasil curian merupakan aktivitas yang lazim di kawasan ini. Berdasar data Direktorat Reserse Narkoba Polda Kalbar2 menunjukkan tingginya angka kasus penyalahgunaan
narkoba di Kalbar terjadi di kawasan Kampung Beting. Pada 2008, dari 233 kasus terdapat 16,3 % terjadi di kawasan Kampung Beting yakni 36 kasus. Selanjutnya pada 2009, dari 200 kasus terdapat 12% terjadi di kawasan Beting yakni 24 kasus. Pada 2010 dari 230 kasus terdapat 16,58 % yakni 38 kasus. Kemudian pada Januari-Juli 2011, dari 125 kasus terdapat 21 kasus. Sementara diamankan 103
tersangka dari 2008 hingga 2010. Di mana 60 % tersangka yang diamankan tidak memiliki pekerjaan tetap, masih berusia produktif dengan 55 % latar belakang pendidikan tamatan SMA.
Menariknya, disamping menjadi pusat kriminalitas, aktivitas spiritual dan religius berkembang dengan cukup baik di kawasan ini. Kebersamaan dan rasa sosial yang begitu kuat dan tinggi antar masyarakat setempat tercermin dalam aktivitas kehidupan sehari-hari mereka. Sejumlah tokoh agama dan kelompok pengajian tetap bertahan dan beraktivitas di samping terus berlangsungnya aktivitas kriminalitas. Fenomena ini sangat menarik untuk dikaji khususnya jika dikaitkan dengan teori struktural fungsional khususnya dalam perspektif ilmu antropologi sosial budaya.
Realitas tentang Kampung Beting sebagaimana tergambar dari data-data di atas menuntut adanya perhatian serius dari semua pihak untuk melakukan upaya-upaya mengembalikan masyarakat ke kehidupan yang lebih positif, khususnya melalui pendekatan keagamaan. Tentunya upaya-upaya tersebut harus bertolak dari kajian yang mendalam untuk memahami muara dan akar dari semua persoalan kemasyarakatan di Kampung Beting tersebut. Pemahaman yang tepat dan mendalam mengenai muara dan akar masalah sosial kemasyarakatan itu dimaksudkan agar solusi yang ditawarkan benar-benar efektif dan efisien. Dari titik inilah, tulisan ini disusun sebagai hasil penelitian lapangan.
Dengan menggunakan perspektif teori struktural fungsional, penelitian difokuskan pada faktor-faktor penyebab perubahan sosial yang terjadi di masyarakat Kampung Beting. Teori ini digunakan karena perubahan yang terjadi di Kampung Beting bersifat lambat, tidak revolusioner. Kemudian hal-hal yang memicu perubahan sosial tersebut terdiri dari beberapa faktor yang antara satu dengan yang lainnya saling memengaruhi. Perubahan sosial di Kampung Beting, sebagaimana dipaparkan di atas, dimulai sejak dua dasawarsa yang lalu, yaitu pada awal tahun 1990-an. Karena masalah sosial begitu luas, maka penelitian ini dibatasi hanya pada perubahan sosial yang berkaitan dengan perkembangan kriminalitas yang terjadi di Kampung Beting.
administratif Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur Kota Pontianak Provinsi Kalimantan Barat. Nama Kampung Beting adalah nama yang diberikan oleh masyarakat terhadap sebuah daerah berbentuk tanjung yang merupakan daerah pertemuan Sungai Landak dengan Sungai Kapuas. Wilayah ini secara administratif dikenal dengan nama Tanjung Pulau.
Dalam penelitian yang telah dilakukan, ada empat persoalan pokok yang dikaji, yaitu: (1) Keadaan Kampung Beting terkini; (2) Proses perubahan sosial yang terjadi di masyarakat Kampung Beting; (3) Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial di masyarakat Kampung Beting; dan (4) Upaya-upaya yang dilakukan oleh masyarakat agar Kampung Beting tetap bertahan seperti kondisinya semula yang tidak terkontaminasi oleh kriminalitas.
Setelah empat hal tersebut teruraikan secara jelas dalam penelitian maka penulis merekomendasikan beberapa solusi alternatif pemecahan masalah-masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat sebagai bagian dari upaya dakwah yang kontekstual dengan kondisi Kampung Beting. Selain bermanfaat untuk membawa masyarakat Kampung Beting keluar dari masalah-masalah sosial khususnya di bidang kriminalitas, penelitian ini juga diharapkan dapat bermanfaat bagi kelompok masyarakat lain yang memiliki masalah serupa dalam mengatasi masalahnya masing-masing. Artinya, solusi sosial bagi masyarakat Kampung Beting ini dapat menjadi model bagi kelompok masyarakat lain dalam mengatasi masalah sosialnya. Tentu saja nilai transferabilitasnya sangat terkait dengan adanya kedekatan atau kesamaan pola dan situasi yang ada antara Kampung Beting dengan daerah lainnya.
B. Metode Penelitian
diwawancarai berjumlah sebelas orang. Teknik pengumpulan data adalah wawancara mendalam, observasi partisipasi pasif dan studi dokumentasi. Analisis data menggunakan pola yang digunakan oleh Miles dan Huberman yaitu menggunakan model interaktif melalui proses pengumpulan data, reduksi data, pemaparan data, dan verifikasi. Uji kredibilitas data menggunakan metode meningkatkan ketekunan, triangulasi, dan diskusi dengan teman sejawat.
C. Seputar Teori Struktural Fungsional
Telah disebutkan di atas bahwa penelitian menggunakan teori struktural fungsional sebagai pisau analisis atas perubahan sosial yang terjadi di Kampung Beting. Oleh karena itu, di bagian ini secara khusus akan dijelaskan sekilas tentang teori ini. Dari perspektif sejarahnya, teori struktural-fungsional yang diterapkan dalam sosiologi ataupun antropologi sosial budaya dipinjam secara langsung dan dibangun dengan menganalogikan pada konsep ilmu biologi. Dalam ilmu biologi, suatu organisme dipadang sebagai struktur yang tersusun dari bagian-bagian yang memiliki fungsi sendiri namun memiliki keterkaitan yang tak terpisahkan. Jika suatu bagian dari sistem organisme itu terganggu fungsinya, maka akan memengaruhi bagian lain.3 Menurut Vago struktur adalah:
The various parts of the social system. In the case of society, the principal structures are usually considered to be the societies’ institutions—family, government, economic system, religion, and education—and the analysis focus on the interrelations among these institutions”.4
Ini bermakna bahwa struktur adalah berbagai macam bagian dari sistem sosial. Dalam konteks masyarakat, stuktur-struktur yang dasar selalu mengacu pada institusi-institusi masyarakat seperti keluarga, pemerintah, sistem ekonomi, agama dan pendidikan, dengan fokus analisisnya pada interrelasi antar berbagai institusi tersebut. Setiap struktur dan masing-masing bagian di dalam struktur yang lebih besar disusun untuk memiliki suatu fungsi membantu masyarakat dalam menjalankan dan menjaganya agar tetap utuh.
3 David Kaplan & Albert A. Manners, Teori Budaya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000, hal. 77-78; Pip Jones, Pengantar Teori-teori Sosial dari Fungsionalisme Hingga Post-modernisme. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia Jones, 2010, hal. 53.
Dalam pandangan teori fungsionalisme struktural, kebudayaan dimaknai sebagai keterkaitan antara subsistem kebudayaan yang menghasilkan sesuatu yang lain. Misalnya, keterkaitan struktur sosial dengan kebudayaan pada suatu masyarakat tertentu. Kebudayaan terdiri dari nilai-nilai, kepercayaan, dan persepsi abstrak tentang jagat raya yang berada di balik perilaku manusia yang tercermin dalam perilakunya. Semuanya dimiliki bersama oleh anggota masyarakat, dan apabila seseorang berbuat sesuai dengan nilai-nilai tersebut maka perilaku mereka dianggap dapat diterima oleh masyarakat itu. Kebudayaan dipelajari melalui sarana bahasa, bukan diwariskan secara biologis, dan unsur-unsur kebudayaan berfungsi sebagai suatu keseluruhan yang terpadu.5
Dari segi metodologi, menurut Nur Syam6 metode penelitian sosial pada
umumnya dapat digunakan untuk mengkaji antropologi fungsional ini. Aliran fungsionalisme sinonim dengan analisis sosiologis dan antropologis, demikian pendapat Kingsley Davis. Aliran ini tidak memiliki suatu metode khusus sebagai khasnya. Untuk mengkaji hubungan fungsional subsistem kebudayaan dengan lainnya dapat digunakan metode-metode penelitian sosial pada umumnya, seperti analisis hubungan budaya. Hanya saja, ada titik tekan dari antropologi struktural fungsional, yaitu pada kajian tentang budaya yang bercorak sistemik. Artinya keterkaitan antara subsistem satu dengan yang lainnya sangat kuat. Peneliti harus mengeksplorasi ciri sistemik kebudayaan. Jadi harus diketahui bagaimana pertalian antara institusi-institusi atau struktur-struktur suatu masyarakat sehingga membentuk suatu sistem yang bulat. Jika analisis struktural fungsional pada sosiologi cenderung makro, maka analisis struktural fungsional pada antropologi cenderung mikro. Jadi, unit analisisnya adalah kasus di dalam lokus terbatas (desa, komunitas, etnis, dan sebagainya).
Dalam tafsir para fungsionalis, fungsionalisme adalah metodologi untuk mengeksplorasi saling ketergantungan. Di samping itu, para fungsionalis menyatakan pula bahwa fungsionalisme merupakan teori tentang proses kultural. Selain berminat melacak cara saling pertautan yang sangat bermacam ragam—dan sering mengejutkan—antara unsur-unsur suatu budaya, banyak fungsionalis berpandangan bahwa mereka telah menciptakan sosok teori yang menjelaskan
mengapa unsur-unsur itu berhubungan secara tertentu, dan mengapa terjadi pola budaya tertentu atau setidak-tidaknya mengapa pola itu bertahan.7
Untuk lebih memahami makna teori struktural fungsional, harus dipahami beberapa konsep dasar seperti struktur, status dan peran, norma, nilai dan istitusi serta fungsi. Berikut penjelasan Saifuddin8 tentang konsep-konsep dasar tersebut.
Sebagaimana namanya, struktural-funsionalisme memandang masyarakat sebagai suatu sistem dari struktur-struktur sosial. “Struktur” dalam hal ini adalah pola-pola nyata hubungan atau interaksi antara berbagai komponen masyarakat—pola-pola yang secara relatif bertahan lama karena interaksi-interaksi tersebut terjadi dalam cara yang kurang lebih terorganisasi. Pada tingkat yang paling umum adalah masyarakat secara keseluruhan, yang dapat sebagai struktur tunggal yang menaungi. Pada tingkat di bawahnya adalah suatu rangkaian struktur-struktur yang lebih mengkhusus yang saling berkaitan untuk membentuk masyarakat, ibarat pilar-pilar sebuah bangunan atau mengikuti istilah Durkheim, seperti organ-organ dari organ-organisme yang hidup. Setiap struktur lapisan kedua ini dicirikan oleh spesialisasi tugas lebih lanjut.
Dalam perpsektif struktural-fungsional, setiap individu menempati suatu “status” dalam berbagai struktur masyarakat. Individu yang menempati suatu status juga dianggap memiliki hak-hak dan kewajiban-kewajiban tertentu, yang merupakan peranan dalam status tersebut. Jadi status dan peranan cenderung bersama-sama dalam apa yang disebut Parson sebagai “kumpulan status dan peranan”. Oleh karena itu, struktur sosial adalah saling keterkaitan status-status yang dihasilkan apabila pelaku melaksanakan peranan yang dikenakan dalam interaksi dengan yang lain. Jadi, apabila orang-orang menempati status pekerja, pemilik, manajer, dan status-status lainnya dalam masyarakat melaksnakan peranan-perannya, maka kita akan mengetahui struktur ekonomi atau pekerjaan dalam masyarakat tersebut. Perspektif yang sama dapat digunakan untuk menandai karakteristik struktur sosial berdasarkan pendidikan, agama, dan lainnya yang membentuk masyarakat. Salah satu aspek yang menyatukan dalam konsep mengenai masyarakat adalah bahwa setiap individu dapat memiliki status dan
7 David Kaplan & Albert A. Manners, op.cit. hal. 77.
peranan dalam semua struktur ini pada saat yang sama. Sebagai akibatnya, pelaku individu berada dalam sejumlah struktur. Konsep tersebut memandang individu terbagi-bagi menjadi beberapa peranan.
Di bawah label “struktur sosial” para struktural-fungsionalis tak hanya memasukkan interaksi status-peranan, tetapi juga aturan-aturan khusus dan keyakinan-keyakinan umum, “norma” dan “nilai”, yang mengatur interaksi-interaksi ini. Menurut para struktural-fungsionalis norma dan nilai tersebut bukanlah struktural, melaikan “kultural”, yang eksis dalam berbagai ruang konseptual yang menyelimuti struktur-struktur sosial. Dengan kata lain, norma dan nilai sebenarnya adalah ide-ide atau simbol-simbol yang berada dalam pikiran individu sebagai kode dan sanksi bagi interaksi mereka.
Konsep pokok terakhir adalah gagasan tentang “fungsi” itu sendiri. Bagi kebanyakan struktural-fungsionalis, fungsi adalah suatu kegiatan yang harus dilaksanakan dengan tingkat ketepatan tertentu apabila ada pengelompokan sosial dan mempertahankan keanggotaan kelompoknya. Untuk menjernihkan konsep “fungsi”, Merton9 memperkenalkan pembedaan antar fungsi manifest dan fungsi
laten (fungsi tampak dan fungsi terselubung). Fungsi manifest ialah “konsekuensi objektif yang memberikan sumbangan pada penyesuaian atau adaptasi sistem yang dikehendaki dan disadari oleh partisipan sistem tersebut”. Sebaliknya, fungsi laten adalah konsekuensi objektif dari suatu ihwal budaya yang “tidak dikehendaki maupun disadari” oleh warga masyarakat. Jones10 menyatakan bahwa
fungsi laten ini lebih penting diidentifikasi untuk memahami fungsi dan kebertahanan sistem sosial. Berikut adalah karakteristik analisis fungsionalis: Lebih memperhatikan efek suatu aktivitas atau keyakinan, ketimbang
unsur-un-sur dasar penyusunnya: lebih memperhatikan kerja dari aktivitas atau keyaki-nan tersebut daripada unsur-unsur aktivitas atau keyakinan.
Penekanan pada kebutuhan untuk keluar dari eksplanasi warga masyarakat yang dikaji mengenai aktivitas mereka untuk mengungkapkan signifikansi fungsional yang sesungguhnya dari keyakinan dan perilaku yang diinstitusion-alisasi.
9 David Kaplan & Albert A. Manners, op.cit. hal. 79; lihat juga Steven Vago,op.cit.,hal. 59.
Untuk menjelaskan bagaimana perbedaan fungsi manifest dan fungsi laten, berikut contoh analisis Merton11 terkait dengan fungsi ritual hujan pada suku
Hopi. Ia menyatakan, apabila ditinjau dari fungsi manifest bahwa upacara itu dimaknai sebagai upacara untuk menurunkan hujan, namun ketika hujan tidak turun, maka harus juga dianalisis dengan analisis fungsi laten sebagai berikut, “bahwa upacara itu hakikatnya adalah untuk memenuhi dan memperkokoh identitas kelompok melalui suatu peristiwa periodik di kala banyak warga etnis itu yang bekerja di tempat lain secara tersebar.
Untuk memahami perubahan sosial dalam konteks struktural fungsional Van den Berghe12 menyebutkan beberapa prinsip dasar pendekatan ini, yaitu:
1. Society must be analyzed “holistically as system of interrelated parts”; 2. Cause and effect relations are “multiple and reciprocal”;
3. Social system are in a state of “dynamic equilibrium” such that adjust-ment to forces affecting the system is made with minimal change within the system;
4. Perfect integration is never attained so that every social system has strains and deviations, but the latter tend to be neutralized through in-stitusionalization;
5. Change is fundamentally a slow, adaftive process, rather than a revolu-sionary shift;
6. Change is the consequence of the adjustment of change outside the sys-tem, growth by differentiation, and internal innovations; and
7. The system is integrated through shared values.
Dari pernyataan di atas dapat dipahami bahwa masyarakat harus dianalisis sebagai bagian-bagian yang saling berhubungan dari sebuah sistem yang menyeluruh. Sebab dan akibat dari hubungan tersebut beragam dan saling timbal balik. Sistem sosial berada dalam suatu keadaan “keseimbangan dinamis” yang disesuaikan terhadap kekuatan efektif sistem yang dibuat dalam perubahan minimal dalam sistem. Integrasi sempurna tidak akan pernah tercapai hingga setiap sistem sosial mengalami tekanan dan penyimpangan, dan selanjutnya cenderung menjadi netral dan terintitusionalisasi. Perubahan pada dasarnya besifat lamban, mengalami proses penyesuaian, bukan perubahan yang bersifat revolusioner. Perubahan adalah konsekuensi dari penyesuaian atas perubahan
yang terjadi di luar sistem, berkembang dengan diferensiasi, dan inovasi internal. Sistem adalah perpaduan nilai-nilai bersama.
D. Kampung Beting: Perubahan Sosial dan Faktor-faktor Penyebabnya Sebelum menjelaskan perubahan sosial yang terjadi, terlebih dahulu dijelaskan secara singkat kondisi Kampung Beting, yaitu dari aspek geografis, demografis, ekonomi, pendidikan, sosial budaya dan lingkungan fisik. Telah disebutkan di atas bahwa Kampung Beting adalah daerah pemukiman penduduk yang padat dan terkesan kumuh yang berada di dalam wilayah Kelurahan Dalam Bugis Kota Pontianak. Dari aspek geografis letak Kampung Beting cukup strategis dan sangat terbuka. Kampung Beting berada di antara dua aliran sungai yang membelah Kota Pontianak, yaitu Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Landak. Kampung ini dengan mudah dapat diakses melalui dua jalur, yaitu jalur darat dan air. Jalur darat dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Untuk sampai ke Kampung Beting dapat melalui jalan Tanjung Raya I dan Jalan Tritura Tanjung Hilir. Menuju Kampung Beting melewati jalan Tanjung Raya I, maka kita akan masuk ke kawasan berdirinya cikal bakal Kota Pontianak, yaitu Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman dan Keraton Kadriah Pontianak. Sementara itu melalui jalur air, Kampung Beting dapat dicapai dengan menggunakan sampan atau speedboat.
Secara khusus, Kampung Beting terletak di belakang Masjid Jami’ Sultan Abdurrahman. Masjid Jami’ merupakan simbol cikal-bakal berdirinya Kota Pontianak. Kampung Beting memiliki wilayah seluas 3,8 Ha. Dalam perkembangannya, Kampung Beting dikenal pula dengan sebutan Tanjung Pulau. Kampung Beting juga disebut Tanjung Pulau, menurut Sy. Ismail Alkadrie, sebab letak kampung Beting menyerupai tanjung. Perubahan nama Kampung Beting menjadi Tanjung Pulau terjadi pada sekitar tahun 1960-an, yang salah satu sebabnya adalah kemajuan yang dicapai Kampung Beting pada waktu itu. Perkembangan selanjutnya, nama Tanjung Pulau diubah kembali menjadi Kampung Beting karena masyarakat menginginkan nama asal, yakni Kampung Beting.13
Makna Kampung Beting sendiri, sebagaimana dituturkan oleh Syarif Yusuf Selamat Alkadrie (74 tahun), seorang tokoh masyarakat yang juga kerabat dan sesepuh Istana Kadriah Pontianak, bahwa Beting dalam bahasa Melayu berarti
aek nyorong, yakni tanah yang dipukul gelombang sehingga daratannya bertambah luas. Ketika air pasang, daratan tersebut akan hilang. Sementara, ketika air surut, daratan akan muncul ke permukaan. Nama kampung Beting yang menjadi sebutan masyarakat sekitar masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman.
Dari aspek demografis, berdasarkan data monografi Kelurahan Dalam Bugis (edisi Juni 2012), mayoritas penduduk yang mendiami Kelurahan Dalam Bugis beragama Islam (95,22 persen). Hal ini dapat dimengerti karena mayoritas penduduk di Kelurahan Dalam Bugis adalah dari Suku Bangsa Melayu yang hampir semuanya memeluk agama Islam. Selain suku Melayu, penduduk yang tinggal di kelurahan Dalam Bugis terdiri dari Bugis, Madura, Dayak, Tionghoa, Jawa dan lain-lain.
Secara umum kondisi ekonomi masyarakat Kelurahan Dalam Bugis tergolong ekonomi lemah dan sedang atau menengah. Sektor ekonomi masyarakat Kelurahan Dalam Bugis khususnya Kampung Beting bervariasi. Kondisi Kampung Beting yang berada di pesisir sungai Kapuas dan sungai Landak, membuat masyarakat Kampung Beting memperoleh keahlian berenang, sehingga saat ini banyak masyarakat Kampung Beting yang berprofesi sebagai penyelam, penambang sampan, serta buruh pelabuhan dan buruh bangunan. Di sisi lain, banyak kaum perempuan Kampung Beting bekerja membuat dan menjual makanan atau kue untuk membantu perekonomian keluarga. Kue yang dijual oleh para perempuan Kampung Beting masih tergolong kue tradisional seperti pisang goreng, apam yang terbuat dari tepung beras, demikian juga kue deram dan kue cucor, kue jorong-jorong, kue dokok-dokok, kue trisalad, dan berbagai jenis kue-kue tradisional lainnya. Harga kue-kue-kue-kue yang dijual pun terbilang murah, hanya Rp. 700,-. Selain berjualan kue, juga ada yang berjualan makanan seperti nasi merah, nasi kuning, bubur dan lauk pauk seharga Rp. 2.000 – Rp. 4.000. Sebagian masyarakat membuka warung kecil di rumah mereka masing-masing. Ada yang
menjual makanan dan minuman dan sebagian besar menjual berbagai kebutuhan sehari-hari masyarakat yaitu sembako.
Tingkat pendidikan di Kelurahan Dalam Bugis saat ini dapat di golongkan berpendidikan rendah dan menengah, tingkat pendidikan sebagian besar tamatan SLTP sederajat (38,08%) dan tamatan SMA sederajat (32,39%). Dari aspek budaya, budaya Melayu masih menjadi dasar nilai-nilai atau norma-norma yang dirujuk dalam kehidupan mereka. Keberadaan Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman juga menjadi salah satu pilar bagi masyarakat Kampung Beting untuk menjalankan syariat Islam. Potensi seni dan budaya Melayu di daerah ini cukup tinggi. Menurut tokoh masyarakat yang juga kerabat Keraton Kadriah Syarif Slamet Yusuf Alqadrie (om Simon) kebudayaan yang ada di Keraton Kadriah semua bernafaskan Islam. Salah satu kesenian yang sekarang masih di lestarikan oleh masyarakat sekitar keraton dan Kampung Beting yaitu hadrah. Dahulu orang menyebutnya dengan Zikir Hadrah.
Untuk masuk ke Kampung Beting, akses melalui darat hanya ada satu jalan masuk yaitu melalui jalan yang tepat berada di depan Keraton Kadriyah, yaitu melalui sebuah jembatan yang mengarah ke Masjid Jami’. Mulai dari depan Masjid Jami’ jalan yang dilalui adalah berupa jalan semen yang dibuat agak tinggi dari permukaan tanah. Sebelum tahun 2006 jalan semen ini terbuat dari kayu dan papan belian yang disebut “geretak”. Sejak memasuki kawasan Kampung Beting yang bermula dari Masjid Jami’, sudah terlihat rumah-rumah penduduk yang padat dan kurang teratur tata letaknya. Sebagian besar rumah penduduk tergolong sederhana yang terbuat dari lantai papan, berdinding semen dan beratap seng. Namun ada juga beberapa rumah yang masih berlantai dan berdinding papan. Hampir semua rumah berhimpitan dinding antara rumah satu dengan yang lainnya. Semua rumah dibuat dengan menggunakan tiang yang cukup tinggi, agar tidak terendam jika air sedang pasang.
yang berdagang di depan rumahnya, atau menyediakan satu ruangan di samping rumah sebagai toko tempat berjualan berbagai kebutuhan masyarakat.
Kawasan Kampung Beting juga memiliki beberapa parit kecil. Rumah-rumah penduduk sebagian besar menghadap ke parit tersebut. Parit yang ada memiliki banyak fungsi. Sebagian besar penduduk memanfaatkan parit tersebut sebagai tempat mandi dan mencuci. Bagi anak-anak laki-laki dan perempuan, parit menjadi tempat mereka bermain sambil berenang dan menyelam. Bagi sebagian kaum laki-laki, parit juga tempat mencari nafkah, yaitu sebagai tempat untuk mengayuh sampan sebagai salah satu alat transportasi, dan kegiatan ini disebut “menambang”.
Kampung Beting sebagaimana kondisinya saat ini, sebagai pusat peredaran narkoba serta sarang kejahatan, telah memiliki daya tarik tersendiri bagi banyak pihak. Bagi para penjahat yang berasal dari luar, Kampung Beting menjadi tempat paling tepat untuk dijadikan tempat tinggal sekaligus sebagai tempat berlindung dari kejaran aparat penegak hukum. Selain karena karakteristik wilayahnya, juga karena budaya masyarakat yang terkadang dimanfaatkan oleh para pelaku kejahatan demi melindungi kepentingan mereka. Hingga kini, Kampung Beting masih mendapatkan perlakuan yang tidak seharusnya oleh masyarakat luar, termasuk media massa, yang disebabkan stigmatisasi negatif yang dialaminya. Kondisi seperti ini tentu tidak boleh dibiarkan berlanjut dengan tanpa upaya mengatasinya.
Dari penelusuran penulis, ditemukan data bahwa kondisi Kampung Beting seperti sekarang telah melalui tahapan perkembangan atau perubahan yang cukup panjang. Dalam pandangan Van den Berghe14 perubahan sosial dalam perspektif
struktural fungsional memiki ciri antara lain perubahan besifat lamban, mengalami proses penyesuaian, bukan perubahan yang bersifat revolusioner. Selanjutnya perubahan adalah konsekuensi dari penyesuaian atas perubahan yang terjadi di luar sistem, berkembang dengan diferensiasi, dan inovasi internal. Ciri-ciri yang disebutkan oleh Berghe akan tergambar sebagai berikut. Tahap awal, yaitu tahap pembentukan Kampung Beting. Kesultanan Pontianak yang berdiri tahun 1771 M. mengambil peran yang cukup besar dalam tahap awal ini. Peran
tersebut yaitu menjadikan Kampung Beting sebagai area pemukiman bagi masyarakat pendatang yang memiliki keperluan ke Pontianak. Sejak awal Kampung Beting telah menjadi kawasan hunian yang didiami oleh masyarakat yang heterogen, khususnya dari aspek asal tempat tinggal, etnisitas, dan pekerjaan. Heterogenitas masyarakat yang didukung oleh letak geografisnya menjadikan kampung ini terus bertahan sebagai kawasan yang terbuka bagi siapa saja yang hendak bermukim di sana. Pada tahap berikutnya, khususnya pada masa Sultan Syarif Muhammad Alkadrie (1895-1944 M.), Kampung Beting memasuki tahap penataan. Pada tahap ini pihak kesultanan berupaya menata Kampung Beting serta memberikan perhatian yang serius kepada masyarakat di sana dengan memberikan jaminan hidup berupa subsidi oleh Sultan. Saat itu Kesultanan Pontianak masih efektif sebagai sebuah kekuatan politik, sosial-budaya dan keagamaan. Masyarakat Kampung Beting menjadi salah satu di antara pendukung setia kesultanan dan karenanya mereka mendapat julukan sebagai “titah paduka”.
Seiring berjalannya waktu, ketika Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1945 terbentuk maka semua kerajaan dan kesultanan di tanah air menyatakan melebur diri ke dalam negara yang baru berdiri ini. Kesultanan Pontianak, yang pada awal kemerdekaan dipimpin oleh Sultan Syarif Hamid II Alkadrie, juga menyatakan lebur dalam NKRI, meskipun secara faktual eksistensi kesultanan tetap dilestarikan. Di zaman kemerdekaan, kesultanan hanya memegang otoritas sosial budaya. Sejak tahun 1950, Kesultanan Pontianak vacum dari kekuasaan seorang sultan. Kampung Beting yang dulunya sebagai “titah paduka” lambat laun mulai berubah seiring masuknya para pendatang dari luar, yang notabene sebagiannya adalah para penjahat. Sejak saat itu, karena kehilangan figur panutan serta didukung oleh faktor heterogenitas dan keterbukaan yang dimilikinya, kampung ini pun mulai dikenal orang sebagai “sarang penjahat”; tempat bersembunyi dan bermukim para penjahat seperti pencuri, perampok, pencopet, pemabuk, penadah barang curian dan sebagainya. Tentu saja para pendatang ini sedikit-banyak telah pula memengaruhi masyarakat setempat sehingga sebagian ikut-ikutan perilaku kriminal para pendatang.
Beting mulai memperkenalkan narkoba kepada masyarakat setempat sebagai barang dagangan yang menggiurkan. Sejak saat itu, Kampung Beting mulai dikenal orang sebagai tempat atau sarang narkoba. Menarik untuk diperhatikan bahwa pengakuan dari semua informan mengatakan bahwa orang-orang Beting saat ini hanyalah sebagai penjual (baik sebagai bandar ataupun hanya sekedar sebagai kurir). Konsumen atau pembeli dan pengguna narkoba adalah orang-orang dari luar kampung. Berdasarkan tes urine yang dilakukan BNN (Badan Narkotika Nasional) Kota Pontianak tidak lama sebelum penelitian ini dilakukan, memang terbukti bahwa masyarakat Kampung Beting negatif sebagai pengguna narkoba.
Temuan menarik berikutnya di Kampung Beting adalah berpadunya antara “kejahatan dan kebaikan”. Maksudnya adalah meskipun manjadi sarang peredaran narkoba, kampung tersebut juga semarak dengan kegiatan keagamaan. Kelompok-kelompok pengajian, majelis taklim, belajar al-Quran [baik oleh guru mengaji atau TPA (Taman Pendidikan Al-Quran)], berbagai bentuk seni Islami serta kelompok shalawatan tetap semarak. Bahkan para bandar senantiasa melakukan berbagai kegiatan “amal” seperti membiayai sejumlah orang untuk melaksanakan ibadah umrah, berqurban dengan jumlah sapi yang banyak, dan membantu masyarakat dalam berbagai bentuk. Para bandar dan kurir juga memiliki kesadaran terhadap pentingnya pendidikan, termasuk pendidikan agama, bagi anak-anak mereka.
dikatakan tidak berubah. Berbagai tradisi keberagamaan masyarakat masih tetap berjalan sementara kehidupan sosial pada umumnya telah mengalami perubahan.
Ditemukan sejumlah faktor yang menjadikan Kampung Beting berubah menjadi sarang narkoba. Faktor-faktor tersebut jika dilihat lebih jauh sebenarnya memiliki keterkaitan antara satu dengan lainnya. Dari perspektif struktural fungsional, suatu sistem sosial dipadang sebagai struktur yang tersusun dari bagian-bagian yang memiliki fungsi sendiri namun memiliki keterkaitan yang tak terpisahkan. Jika suatu bagian dari sistem sosial itu terganggu fungsinya, maka akan memengaruhi bagian lain. Atau jika suatu bagian dari sistem sosial mengalami perubahan, maka bagian lainnya juga akan ikut mengalami perubahan. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut.
Pertama, tingkat ekonomi masyarakat yang rendah atau kemiskinan. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa masyarakat Kampung Beting berada pada level ekonomi menengah ke bawah. Sebagian besar mata pencaharian masyarakat adalah buruh, penambang sampan, pedagang kecil, serta berjualan kue-kue dan makanan (khususnya bagi kaum perempuan). Pekerjaan seperti ini jelas tidak memberikan penghasilan yang memadai. Untuk menutupi kebutuhan yang semakin banyak, terlebih lagi karena pengaruh konsumerisme, banyak orang yang akhirnya mencari jalan pintas dalam mencari penghasilan. Pilihan yang paling mudah adalah menjadi penjual narkoba (baik sebagai bandar maupun kurir atau pengedar). Dapat dikatakan bahwa sistem ekonomi telah menjadikan kemampuan ekonomi masyarakat Kampung Beting berada pada level bawah dan tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup yang semakin meningkat baik kuantitas maupun kualitasnya.
pendidikan yang rendah, selain berakibat pada sulitnya mencari pekerjaan yang lebih layak, juga berakibat pada pembentukan sikap dan mental yang kurang baik. Meskipun mereka tahu narkoba itu sangat berbahaya, tetapi mereka tetap menjalankan kegiatan mereka sebagai penjual narkoba, demi mendapatkan uang dengan mudah.
Ketiga, masyarakat kehilangan figur pemimpin atau tokoh yang kuat. Telah disebutkan juga di atas bahwa sejak vakumnya posisi Sultan di Kesultanan Pontianak, masyarakat tidak lagi memiliki sosok tokoh yang mampu memberikan pengarahan dan bimbingan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Baik tokoh agama maupun tokoh masyarakat. Bahkan terkesan bahwa keberadaan Keraton Kadriyah di sekitar mereka sama sekali tidak memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Faktor keempat, pemanfaatan budaya masyarakat secara negatif. Maksudnya adalah sikap dan budaya yang baik seperti solidaritas yang tinggi, kebersamaan, rasa kekeluargaan, serta sifat tolong menolong di lingkungan masyarakat Kampung Beting masih tetap terjaga. Selain itu, masyarakat juga memiliki sifat terbuka dan tahu balas budi. Ketika sebagian besar masyarakat Kampung Beting berada dalam kondisi miskin, kehadiran para bandar narkoba seolah-olah menjadi dewa penolong bagi mereka. Betapa tidak, setiap saat para bandar atau pengedar siap memberikan batuan finansial kepada masyarakat yang membutuhkan. Kalau pun masyarakat tidak meminta bantuan, dengan senang hati para bandar memberikan bantuan. Sifat masyarakat yang tahu balas budi, suka menolong dan solidaritas sosial yang tinggi seperti yang disebutkan di atas dipahami betul oleh para bandar narkoba. Mereka kemudian “merekayasa” dengan memberikan berbagai bantuan kepada masyarakat sehingga merasa berhutang budi kepada para bandar narkoba. Karena telah termakan jasa, sangat wajar jika mereka kemudian memberikan perlindungan kepada bandar narkoba. Tentu saja, selain karena termakan jasa, mereka juga tidak ingin keuntungan ekonomi yang telah mereka nikmati saat ini hilang begitu saja lantaran para bandar diciduk oleh aparat.
pihak luar. Salah satu pihak yang berkepentingan adalah oknum aparat yang juga mengambil keuntungan dari para bandar. Sebagian besar responden mengakui bahwa ada sejumlah oknum aparat, bahkan pejabat yang menjadi pelindung para bandar. Informan mengatakan bahwa ada aparat yang kebagian “sopoy”15 dari
para bandar. Ada juga pejabat atau politisi yang mendapatkan dukungan dana kampanye saat mereka hendak mencapai suatu kedudukan politik.
Faktor yang terakhir atau keeenam adalah pengaruh lingkungan. Masyarakat Kampung Beting Kota Pontianak merupakan masyarakat dengan mobilitas penduduk yang relatif tinggi. Kehidupan masyarakatnya juga mengikuti perkembangan zaman yang makin pesat. Sikap terbuka akan hal-hal baru dalam modernisasi menyebabkan masyarakat Kampung Beting mudah mengikuti dan dipengaruhi. Maraknya tayangan televisi yang mempertontonkan kehidupan serba mudah dan enak juga turut memengaruhi masyarakat untuk ikut menirunya. Namun karena pendidikan yang rendah dan pekerjaan tidak ada, maka dengan mudah para anak muda tergiur jika ditawari menjadi kurir. Mereka ingin hidup nyaman tetapi dengan cara yang instan.
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa secara umum ada dua faktor utama penyebab perubahan sosial di Kampung Beting, yaitu faktor internal dari masyarakat dan faktor eksternal atau dari luar masyarakat. Masuk dalam kategori faktor internal adalah kemiskinan, pendidikan, kehilangan tokoh, dan budaya. Sementara kepentingan luar dan pengaruh lingkungan masuk dalam kategori faktor eksternal. Hal ini sejalan dengan pandangan Soerjono Soekanto16 yang
menyebutkan pada umumya sebab-sebab perubahan sosial ada yang terletak di dalam masyarakat itu sendiri dan ada yang letaknya di luar. Dalam pandangan Featherstone (1991) dan Hannerz (1996)17 globalisasi telah menjadi kekuatan
besar yang membutuhkan respon tepat karena ia memaksa suatu strategi bertahan hidup (survival strategy) dan strategi pengumpulan kekayaan (accumulative strategy) bagi berbagai kelompok masyarakat. Proses ini telah membawa “pasar”
15 Bahasa Melayu Pontianak yang berarti sogokan.
16 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005, hal. 318, 332, 311-317.
menjadi kekuatan dominan dalam pembentukan nilai dan tatanan sosial yang bertumpu pada prinsip-prinsip komunikasi padat dan canggih.
E. Upaya Masyarakat Mempertahankan Diri dari Pengaruh Luar
Tak dapat dipungkiri terjadinya perubahan sosial di Kampung Beting karena adanya faktor eksternal yang masuk dan memengaruhi sistem sosial di dalamnya. Tentu saja sebagian masyarakat tetap berupaya tidak larut dalam pengaruh-pengaruh negatif yang datang dari luar dan menjadikan kampung mereka menjadi kampung yang berlabel negatif. Dalam konteks struktural fungsional, masyarakat akan melakukan berbagai bentuk inovasi terhadap berbagai bagian dalam sistem sosial sebagai upaya untuk tetap mempertahankan struktur masyarakat agar tidak berubah. Ada sejumlah upaya yang dilakukan oleh masyarakat Kampung Beting yang berupaya mempertahankan struktur yang ada dalam masyarakat. Berikut akan dijelaskan secara singkat upaya-upaya tersebut.
Hal yang lebih menarik lagi adalah para pengedar atau bandar narkoba sebagian memiliki kesadaran bahwa anak-anak mereka tidak boleh mengikuti jejak mereka sebagai pengedar atau bandar narkoba. Karena itu mereka mengirim anak-anaknya keluar daerah untuk sekolah. Para pengedar narkoba ini juga memperhatikan pendidikan agama anak-anak dengan memasukkan mereka ke TPA atau belajar mengaji pada guru-guru mengaji yang masih tetap bertahan di Kampung Beting.
Selain upaya-upaya yang dilakukan oleh segelintir orang yang memahami arti penting pendidikan di dalam keluarga, kesadaran kolektif masyarakat juga tumbuh. Bahkan terdapat sejumlah institusi di tengah masyarakat Kampung Beting yang berupaya melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan institusi-institusi lama yang diharapkan mampu mengimbangi pengaruh negatif dari luar. Berikut ini beberapa bentuk upaya yang dilakukan oleh masyarakat dalam mempertahankan istitusi-institusi penjaga nilai-nilai di dalam masyarakat Kampung Beting.
Kedua, guru-guru mengaji. Sebagai sebuah kampung tua—setua Kota Pontianak—tradisi pembelajaran baca al-Quran secara tradisional masih bertahan di Kampung Beting. Dalam proses pembelajarannya, sebagian besar guru mengaji masih menggunakan cara dan metode yang sudah ada secara turun temurun, yaitu metode mengeja huruf Arab dengan menggunakan buku al-Quran kecil. Namun ada juga beberapa guru mengaji yang sudah beralih menggunakan metode yang cukup baru, yaitu metode iqra’ atau qiraati. Dalam belajar membaca al-Quran biasanya para murid tidak dipungut biaya tertentu. Pembayaran menyesuaikan dengan kemampuan orang tua murid, atau bahkan tidak dengan biaya sama sekali. Hanya dalam waktu-waktu tertentu orang tua murid memberikan sesuatu sebagai imbal jasa kepada sang guru mengaji.
Ibrahim, Abu Bakar, Asmin, Maria, Yusnawati, Ahmad Jais (TPA), Ce’ No’, Mas Dadang, Bang In, Ma’ Na. Para guru mengaji tradisional ini merupakan salah satu institusi di masyarakat yang tetap berusaha mempertahankan tradisi dan nilai-nilai lama yang diharapkan mampu mengeliminasi pengaruh negatif dari luar.
Ketiga, Taman Pendidikan Al-Quran. Selain melalui para guru mengaji, anak-anak di Kampung Beting juga dapat belajar membaca al-Quran di Taman Pendidikan al-Quran. Saat ini hanya terdapat dua TPA di Kampung Beting, yaitu TPA Masjid Jami’ Syarif Abdurrahman dan TPA Surau Ikhwanul Muslimin. TPA Masjid Jami’ dikelola oleh Remaja Masjid Jami’’, sedangkan TPA Surau Ikhwanul Muslimin dikelola oleh Ahmad Jais. TPA yang terakhir ini telah eksis sejak tahun 1991, namun proses pembelajarannya dilakukan di rumah Ahmad Jais. Baru pada tahun 2002, di saat Surau Ikhwanul Muslimin berdiri proses belajar mengajar dilakukan di Surau. Memang kondisi Surau Ikhanul Muslimin sangat memprihatinkan. Meskipun demikian, selain sebagai tempat shalat dan TPA, surau tersebut juga difungsikan sebagai Posyandu bernama “Nusa Indah”.
Keempat, kelompok-kelompok pengajian dan majelis taklim. Upaya-upaya lain yang dilakukan oleh masyarakat Kampung Beting dalam membentengi diri mereka dari pengaruh negatif dari lingkungan sosial adalah dengan mengadakan berbagai kegiatan keagamaan melalui sejumlah kelompok pengajian dan majelis taklim. Namun sayangnya, tidak ditemukan data tertulis dan pasti tentang jumlah kelompok pengajian dan majelis taklim yang ada. Data-data berikut ini diperoleh peneliti dari hasil wawancara dengan para informan, dan bukan dari data tertulis dan resmi. Penelitian ini juga belum sampai pada melakukan investigasi ke setiap kelompok yang ada. Namun secara garis besarnya dapat digambarkan sebagai berikut.
Salah satu kelompok pengajian yang cukup dikenal dan aktif mengadakan berbagai kegiatan adalah yang bernama “El-Betingqi” yang dipimpin oleh Ustadz Haidar. Anggota El-Betingqi ini adalah para remaja, terutama yang juga tergabung dalam Remaja Masjid Sultan Syarif Abdurrahman. Kegiatannya cukup padat dan hampir setiap hari ada kegiatan. Berikut jadwal kegiatan kelompok El-Betingqi: 1) Senin malam setelah shalat Isya belajar Tafsir al-Quran, Ilmu Tauhid, dan Fikih
2) Selasa malam setelah shalat Maghrib belajar fikih dengan pembimbing ustadz Haidar. Kegiatan kemudian dilanjutkan setelah shalat Isya untuk latihan seni marawis.
3) Kamis malam mempelajari dan membaca maulid situddurar.
4) Sabtu malam setelah shalat Isya belajar Bahasa Arab dibimbing oleh ustadz Ade Maulana.
Selain kelompok El-Betingqi, terdapat juga Remaja Masjid Sultan Syarif Abdurrahman, Jami’atul Tauhidiyah dan Hubbun Nabi. Remaja Masjid Sultan Syarif Abdurrahman juga memiliki jadwal kegiatan yang cukup banyak dan dipusatkan di Masjid Jami’. Jami’atul Tauhidiyah, hampir mirip dengan kegiatan El-Betingqi, diasuh oleh Ibrahim Iskandar. Yang menarik dari Jami’atul Tauhidiyah ini adalah telah mampu menyadarkan dan merehabilitasi sebanyak tiga orang pecandu narkoba. Bahkan ketiga orang tersebut rajin mengikuti berbagai kegiatan pengajian. Sementara kelompok Hubbun Nabi kegiatannya meliputi kegiatan majelis taklim dan seni marawis. Kelompok pengajian atau majelis taklim khusus ibu-ibu ada tiga kelompok, sedangkan untuk kelompok Yasinan dan Barzanji khusus laki-laki ada lima kelompok.
Secara khusus di Surau Ikhwanul Muslimin, di bawah bimbingan Ahmad Jais, terdapat berbagai kegiatan. Untuk anak-anak ada TPA, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Selain itu ada juga kegiatan Barzanji, pemberantasan buta huruf Arab dan Latin bagi masyarakat Kampung Beting yang belum bisa membaca. Kegiatan berikutnya yang cukup penting adalah kelompok Shalawat Wahidiyah. Shalawat ini memiliki kegiatan rutin yang disebut dengan Yaumiyyah
(harian), Usbu’iyyah (mingguan), Syahriyyah (bulanan), Nishfu Tsanah (setengah tahunan). Menurut informasi dari pembinanya, Ahmad Jais, shalawat Wahidiyah ini sifatnya nasional se-Indonesia dan berpusat di Jawa Timur, dan bahkan terdapat di beberapa negara muslim lainnya.
mempertahankan struktur masyarakat Kampung Beting agar tidak berubah mengikuti pengaruh kriminalitas (seperti peredaran dan penyalahgunaan narkoba, pencurian, penadah hasil curian, judi) dari luar. Mengikuti konsep Merton tentang fungsi manifest dan fungsi laten, maka masing-masing komponen masyarakat tersebut memerankan fungsi manifesnya masing-masing sebagaimana disebutkan di atas. Namun di balik fungsi manifestnya, mereka juga memerankan fungsi laten, yaitu sama-sama berusaha mencegah masyarakat terpengaruh oleh pihak-pihak luar, terutama para pengedar narkoba yang berusaha menanamkan pengaruhnya di masyarakat. Meskipun saat ini masyarakat Kampung Beting menghadapi pengaruh yang kuat dari para bandar narkoba yang ingin memanfaatkan keluguan dan ketertinggalan masyarakat, tetapi di sisi lain masyarakat masih berupaya mempertahankan jati diri mereka seperti dahulu yang menjadi pusat pengembangan budaya dan tradisi di kota Pontianak. Oleh karena itu, adalah sesuatu yang dapat dipahami jika di Kampung Beting yang dipersepsi oleh orang luar sebagai sarang narkoba dalam kesehariannya tetap marak dengan kegiatan-kegiatan keagamaan dan pelestarian adat budaya dan tradisi lama. Hal tersebut adalah bagian dari usaha-usaha mempertahankan struktur masyarakat agar tidak berubah mengikuti selera para pengedar narkoba.
F. Alternatif Dakwah Kontekstual
Paparan di atas memberikan gambaran bahwa berdakwah di sarang kriminalitas seperti di Kampung Beting membutuhkan strategi yang tepat dan kontekstual. Perlu penulis jelaskan bahwa hingga saat ini belum ada institusi yang mampu secara terstruktur, sistematis dan berkesinambungan melakukan dakwah memberikan pencerahan kepada masyarakat Kampung Beting. Hal ini disebabkan masyarakat selalu curiga kepada siapapun orang luar yang masuk ke kampung mereka. Mereka khawatir jika yang masuk adalah polisi yang menyamar untuk melakukan penggerebekan terhadap para bandar narkoba atau penjahat lainnya.
tokoh masyarakat, sangat penting untuk melibatkan kaum perempuan, karena mereka memiliki peran strategis dan penting dalam keluarga. Setelah para tokoh masyarakat dan kaum perempuan bersedia, maka ada dua hal yang perlu dilakukan.
Pertama: Penguatan institusi. Penguatan institusi-istitusi yang telah diupayakan masyarakat sebagaimana telah disebutkan di atas, yaitu pendidikan dalam keluarga, guru-guru mengaji, Taman Pendidikan Al-Quran, dan kelompok-kelompok pengajian dan majelis taklim. Seluruh institusi tersebut harus diperkuat dan diberdayakan secara bersama-sama sehingga bisa bersinergi saling menguatkan. Hal berikutnya yang perlu diperhatikan adalah kemampuan ekonomi dan tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah merupakan akar masalah kriminalitas. Kedua hal mendasar ini dapat diatasi melalui pemberdayaan sumberdaya mereka sendiri. Selain memiliki semangat atau etos kerja yang tinggi, masyarakat Kampung Beting juga memiliki keterampilan pertukangan (kaum lelaki) dan membuat kue-kue tradisional (kaum perempuan). Modal dasar ini dapat dikembangkan agar mampu meningkatkan pendapatan keluarga. Untuk pengembangan kemampuan masyarakat dibutuhkan intervensi pihak luar.
perguruan tinggi seperti IAIN adalah agar dalam melakukan intervensi masyarakat Kampung Beting yang religius didekati dengan pendekatan agama dan budaya. Bahasa agama dan budaya akan lebih mampu menarik perhatian masyarakat dibandingkan pendekatan hukum seperti yang dilakukan selama ini oleh pihak pemerintah/aparat kepolisian.
Ketiga: Revitalisasi budaya. Sebagai daerah yang mengiringi kelahiran Kesultanan Pontianak, Kampung Beting harus tetap dipertahankan sebagai pusat pelestarian dan pengembangan budaya Pontianak. Karena itu dibutuhkan kesadaran dan keterlibatan semua pihak, khususnya pemerintah daerah serta masyarakat untuk mengembalikan Kampung Beting kepada kesejatiannya. Berbagai ekspresi budaya masyarakat harus diberikan ruang yang lebih luas untuk terus berkembang. Lembaga-lembaga seni budaya seperti kelompok hadrah, tari zapin, barzanji, marawis dan sebagainya harus tetap dijaga eksistensinya, bahkan perlu dipromosikan ke luar agar semakin dikenal masyarakat luas. Dalam realisasinya, generasi muda harus menjadi kelompok inti yang melestarikan dan mengembangkan seni dan budaya Kampung Beting. Demikian juga adat dan tradisi serta kearifan lokal Kampung Beting harus tetap dilestarikan dan dikembangkan. Dengan upaya revitalisasi budaya ini, diharapkan masyarakat kampung Beting memiliki daya tahan yang tangguh dalam menghadapi gempuran masuknya budaya luar, terlebih-lebih dalam konteks perkembangan budaya global.
Revitalisasi budaya juga harus dibarengi dengan upaya “kampanye putih” tentang Kampung Beting. Penggambaran Kampung Beting sebagai tempat yang menyeramkan harus diatasi dengan mempromosikannya ke tengah masyarakat sebagai tempat yang memiliki potensi-potensi kebaikan yang layak untuk diperhatikan. Kampung Beting tidak boleh dibiarkan sebagai wilayah yang “terisolasi” dan dijauhi oleh masyarakat luas. Sebaliknya, masyarakat luas harus diajak untuk bersama-sama merasa bertanggung jawab memperbaiki kondisi sosial masyarakat Kampung Beting.
Kampung Beting sebagaimana kondisinya saat ini, sebagai pusat peredaran narkoba serta sarang kejahatan, telah memiliki daya tarik tersendiri bagi banyak pihak. Bagi para penjahat yang berasal dari luar, Kampung Beting menjadi tempat yang paling tepat untuk dijadikan tempat tinggal sekaligus sebagai tempat berlindung dari kejaran aparat penegak hukum. Selain karena karakteristik wilayahnya, juga karena budaya masyarakatnya yang terkadang dimanfaatkan oleh para pelaku kejahatan demi melindungi kepentingan mereka. Hingga kini, Kampung Beting masih mendapatkan perlakuan yang tidak seharusnya oleh masyarakat luar, termasuk media massa, yang disebabkan stigmatisasi negatif yang dialaminya. Kondisi seperti ini tentu tidak boleh dibiarkan berlanjut dengan tanpa upaya mengatasinya.
Dari penelitian di lapangan, ditemukan data bahwa kondisi Kampung Beting seperti sekarang ini telah melalui tahapan perkembangan atau perubahan yang cukup panjang. Tahap awal, yaitu tahap pembentukan Kampung Beting. Pada tahap berikutnya, khususnya pada masa Sultan Syarif Muhammad Alkadrie, Kampung Beting memasuki fase penataan. Tahap ketiga kampung Beting kemudian berubah menjadi sarang penjahat. Pada tahap terkahir hingga saat ini, Kampung Beting kemudian berubah menjadi sarang narkoba.
Ditemukan sejumlah faktor yang menjadikan Kampung Beting berubah menjadi sarang narkoba. Faktor-faktor tersebut jika dilihat lebih jauh sebenarnya memiliki keterkaitan antara satu dengan lainnya. Faktor-faktor tersebut adalah: (1) Tingkat ekonomi masyarakat yang rendah atau kemiskinan; (2) Tingkat pendidikan masyarakat rendah; (3) Kehilangan figur pemimpin atau tokoh yang kuat; (4) Pemanfaatan budaya masyarakat secara negatif; (5) Adanya kepentingan pihak luar; dan (6) Pengaruh lingkungan. Keenam faktor tersebut saling memengaruhi satu dengan yang lainnya untuk melakukan perubahan sosial. Namun, di sisi lain terdapat juga komponen-komponen lain yang memerankan diri untuk tetap mempertahankan struktur masyarakat agar tidak berubah.
laten yaitu menjadi benteng bagi masyarakat agar tidak terpengaruh oleh para bandar narkoba yang ingin menanamkan pengaruhnya di masyarakat. Dengan adanya upaya-upaya ini maka dapat dikatakan bahwa masyarakat Kampung Beting saat ini berada dalam proses transisi antara berubah menjadi masyarakat yang bergumul dengan kriminalitas atau tetap bertahan sebagai masyarakat yang penuh dengan budaya dan tradisi yang bernuansa Islami.
Untuk mengembalikan Kampung Beting sebagai wilayah yang bebas dari berbagai bentuk kriminalitas, ada tiga upaya sebagai bentuk dakwah kontekstual yang bisa dilakukan. Ketiga upaya tersebut adalah penguatan institusi, intervensi, dan revitalisasi budaya. Semoga dengan ketiga upaya tersebut harapan agar Kampung Beting di Kota Pontianak dapat kembali menjadi wilayah yang bersih dari hal-hal yang negatif dapat terwujud.
DAFTAR PUSTAKA
Harian Equator edisi 14 Agustus 2011.
Irwan Abdullah, (2009), Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Jones, Pip. 2010. Pengantar Teori-teori Sosial dari Fungsionalisme Hingga Post-modernisme. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Kaplan, David & Manners, Albert A.. 2000. Teori Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kampung Beting: Harmonisasi Kejahatan dan Kebaikan? Online:
http://sosbud.kompasiana.com. Akses: 15/02/2012.
Nur Syam. 2007. Mazhab-mazhab Antropologi. Yogyakarta: LKiS.
Saifuddin, Achmad Fedyani. 2006. Antropologi Kontemporer Suatu Pengantar Kritis Mengenai Paradigma. Jakarta: Kencana.
Soerjono Soekanto, (2005), Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Lampiran:
BIODATA PENULIS
Nama : Zulkifli Abdillah, MA. Tempat, tgl lahir : Sungai Udang, 28 Juli 1971
Alamat : Jl. Tanjung Raya 2, Komplek Cendana Indah No. A.27, Pontianak-Kalimantan Barat.
Telpon : 085217267766 / 089694168808 E-mail : [email protected]
Pendidikan : S.2 SPS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Konsentrasi Sejarah Peradaban Islam. (sedang studi S.3 Ilmu Sejarah di FIB UNPAD).
Tempat Tugas : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Pontianak. Bidang Keahlian : Sejarah Peradaban Islam
Publikasi terakhir :
1.
Peta Dakwah di Kalimantan Barat Seri Kedua: Profil Majelis Taklim di Kota Pontianak (Buku, editor dan kontributor, 2011).2.
Sejarah Kesultanan Sambas Kalimantan Barat (Buku, Anggota Tim Penulis, 2011).3.
Islam and Plurality of Society in West Kalimantan[Artikel Jurnal: AL-ALBAB: Borneo Journal of Religious Studies (BJRS) Volume 1 Number 1, Desember 2012].
4.
Haji Moehammad Basioeni Imran: Ulama Pembaharu Pendidikan dari Kerajaan Sambas Kalimantan Barat (Artikel dalam Jurnal Jabal Hikmah: Jurnal Kependidikan dan Hukum, Vol. 2, No. 2 Juli 2013).5.
Dll.Pontianak, 12 September 2014, Ttd.