1
Part 3
Pokok bahasan
Pengertian Komunikasi dan Politik
Pengertian Komunikasi Politik
Konsep Politik
Pengertian komunikasi & Politik
o
Barelson dan Steiner
(1964) mendefinisikan komunikasi
sebagai penyampaian informasi, ide, emosi, ketrampilan
melalui penggunaan symbol kata, gambar, angka, grafik
dsb.
o
Shacter
(1961) menyatakan bahwa komunikasi merupakan
mekanisme untuk melaksanakan kekuasaan. Menurut
shacter, komunikasi ditempatkan sebagai unsur kontrol social
atau untuk mempengaruhi prilaku, keyakinan, sikap
terhadap orang lain.
Pengertian komunikasi & Politik
David Berlo dengan model S-M-C-R
(Source-Message-Channel-Reciever) menyatakan bahwa “Semua perilaku komunikasi pada
dasarnya adalah pemilihan tanggapan spesifik dari orang yang
spesifik”.
Laswell menyatakan bahwa proses komunikasi berjalan searah
atau bersifat linier. Laswell menekankan aspek persuasi dengan
tujuan untuk memperoleh efek tertentu (sehingga tidak pas
Dean Barnlund
Komunikasi melukiskan evolusi makna. Makna adalah sesuatu yang diciptakan, ditentukan, diberikan, dan bukan sesuatu yang diterima. Jadi komunikasi bukanlah sesuatu reaksi terhadap sesuatu, bukan pula interaksi dengan sesuatu, melainkan suatu transaksi yang didalamnya orang menciptakan dan memberi makna agar menyadari tujuan orang tersebut.
Menurut Barnlund, komunikasi mempunyai sifat :
1. Dynamic (dinamis)
2. Continuous (sinambung)
Komunikasi merupakan kondisi kehidupan berkesinambungan tanpa awal dan akhir. Misalnya : Komunikasi yang kita lakukan pada teman kita terjadi terus menerus tidak ada akhir.
3. Circulair (berputar)
Tidak ada urutan yang linier dalam arus makna dari seseorang kepada yang lain. Misalnya : Komunikasi yang kita lakukan akan mendapatkan respon dari teman kita dst.
4. Unrespeatable (tidak dapat diulang)
Pesan komunikasi tidak dapat diulang dengan makna yang sama.
5. Irreversible (tidak dapat dibalik)
Komunikasi pesan yang telah diucapkan dan diintrepretasikan kepada orang lain, tidak dapat diambil kembali dalam ingatan penerimanya).
6. Complex
Pengertian komunikasi & Politik
Nimmo
(2000:8) mengartikan politik sebagai kegiatan orang secara
kolektif yang mengatur perbuatan mereka di dalam kondisi konflik
sosial.
Nimmo menjelaskan, kadang-kadang perbedaan ini merangsang
argumen, perselisihan, dan percekcokan. Hal inilah yang disebut
dengan kegiatan politik.
Lasswell
(dalam Varma, 1995:258), ilmu politik adalah ilmu tentang
kekuasaan.
David Easton dalam Sumarno
(1989:8), “Political as a process those
developmental processes through which person acquire political
pENGERTIAN Komunikasi Politik
Komunikasi politik menurut Kantaprawira (1983:25), merupakan aktifitas yang memfokuskan pada kegunaanya, yaitu untuk menghubungkan pikiran politik yang hidup dalam masyarakat, baik pikiran intra golongan, institusi, asosiasi, ataupun sektor kehidupan politik masyarakat dengan sektor kehidupan politik pemerintah.
Lasswell (dalam Varma, 1995:258) memandang orientasi komunikasi politik telah menjadikan dua hal sangat jelas :
1. Komunikasi politik selalu berorientasi pada nilai atau berusaha mencapai tujuan; nilai-nilai dan tujuan itu sendiri dibentuk di dalam dan oleh proses perilaku yang sesungguhnya merupakan suatu bagian;
2. Komunikai politik bertujuan menjangkau masa depan dan bersifat
• Astrid S. Soesanto mengemukakan komunikasi
Menurut Roelofs dan Barn Lund,
Komunikasi Politik adalah politik yang berbicara atau untuk menempatkan masalah ini, lebih tepatnya aktivitas politik (politisasi) berbicara.
Dari pengertian komunikasi politik yang diungkapkan Roelofs dan Barn, walaupun sangat sederhana, namun cukup memberi isyarat bahwa komunikasi politik lebih
memusatkan kajiannya pada bobot materi muatan yang berisi pesan-pesan politik (isu politik, peristiwa dan perilaku politik individu-individu baik sebagai
Konsep politik
Aristoteles menyatkan bahwa manusia adalahmakhluk sosial (zoon politikon), yang dalam proses kehidupannya muncul politik.
Politik memunculkan kekuasaan dan wewenang
untuk mengatur orang lain sesuai dengan yang diharapkan sekelompok orang.
Secara etimologis, politik berasal dari bahasa Yunani yaitu “polis” yang berarti kota. Orang
yang mendiami polis disebut “polites” atau warga negara, sementara kata “politikos” berarti
kewarganegaraan.
Ini berarti bahwa dalam sebuah kota atau
wilayah terdapat masyarakat dan memiliki hak
Miriam Budiardjo (1993) mendefinisikan politik sebagai berbagai macam kegiatan yang terjadi di suatu negara, yang menyangkut proses menentukan tujuan dan bagimana cara mencapai tujuan itu.
Sementara itu, Hoogerwerf, mendefinisikan politik sebagai
pertarungan kekuasaan.
Hans Morgenthau juga mendefinisikan politik sebagai usaha mencari kekuasaan (struggle power).
David Easton mengartikan politik sebagai semua aktivitas yang
Beberapa konsep pokok politik tersebut adalah :
1. Politik berkaitan dengan negara (state), 2. Kekuasaan (power),
3. Pengambilan keputusan (decision making), 4. Kebijaksanaan umum (public policy),
5. Pembagian (distribution) dan 6. Alokasi (alocation).
Roger F. Soltou mengatakan ilmu politik adalah ilmu yang
mempelajari negara, tujuan negara dan lembaga-lembaga yang akan melaksanakan tujuan itu, hubungan antara negara dengan
kekuasaan
Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau sekelompok orang untuk
mempengaruhi tingkah laku orang lain atau kelompok lain sesuai dengan keinginan dari si pemilik pengaruh.
Harold D. Lasswel dan A. Kaplan mengatakan ilmu politik mempelajari pembentukan dan pembagian kekuasaan.
W. A Robson mengatakan politik sebagai ilmu yang mempelajari kekuasaan dalam masyarakat yaitu hakikat, dasar, proses, ruang lingkup dan
negara
Negara adalah alat (agency) dari masyarakat yang mempunyai kekuasaan untuk mengatur hubungan-hubungan manusia dalam masyarakat dan menertibkan gejala-gejala kekuasaan dalam
masyarakat.
Negara dapat memaksakan kekuasaanya secara sah terhadap semua golongan masyarakat untuk menetapkan dan melaksanakan
tujuan-tujuan bersama.
Negara mempunyai dua tugas pokok,
1. mengendalikan dan mengatur gejala kekuasaan yang a-sosial, yaitu bertentangan satu sama lain agar tidak menjadi antagonisme
membahayakan
2. mengorganisir dan mengintegrasikan kegiatan manusia dan
Unsur-unsur negara
1. Penduduk, yaitu semua orang yang berdomisili di suatu wilayah dan menyatakan diri ingin bersatu. Faktor penduduk yang perlu
diperhatikan antara lain jumlah, karakteristik homogenitas dan masalah nasionalisme.
3. Pemerintah, merupakan organisasi utama yang bertindak menyelenggarakan kekuasaan negara fungsi-fungsi, dan kebijakan mencapai tujuan
negara. Kekuasaan pemerintah pada mumnya dibagi menjadi kekuasaan legislatif, kekuasaan eksekutif, dan kekuasaan yudikatif.
4. Kedaulatan, merupakan kekuasaan tertinggi untak membuat undang-undang dan melaksanakan dengan semua cara yang tersedia, termasuk dengan paksaan (internal sovereignty). Di samping itu kedaulatan juga
fungsi negara
1. Fungsi pengaturan dan ketertiban (law and order), yaitu negara harus
bertindak sebagai stabilisator mencegah bentrokan- bentrokan kepentingan dalam masyarakat.
2. Fungsi kesejahteraan dan kemakmuran.
3. Fungsi pertahanan dan keamanan, terutama untuk menjaga kedaulatan dan memberikan ketenangan masyarakat.
faktor-faktor yang mendukung terlaksananya
fungsi-fungsi negara
1. Sumber daya manusia, yaitu jumlah penduduk tingkat pendidikan, nilai budaya, dan kondisi kesehatan masyarakat.
2. Teritorial negara, yang mencakup luas wilayah negara (darat, laut dan udara), letak geografis, dan situasi negara tetangga.
3. Sumber daya alam, yaitu kondisi alam material bumi, berupa kandungan mineral, kesuburan tanah, kekayaan laut dan hutan.
5. Kekuatan militer dan mobilitasnya, yaitu kapasitas kekuatan yang mampu diterapkan untuk mewujudkan kekuasaan dalam mencapai tujuan negara.
6. Elemen kekuatan yang tidak nyata, yaitu segala faktor yang
mendukung tegaknya kedaulatan negara, berupa kepribadian dan kepemimpinan, efisiensi birokrasi, persatuan bangsa, dukungan
System politik
• Sistem politik merupakan semua proses dan tindakan yang berkaitan dengan pembuatan keputusan yang mengikat masyarakat.
• Ciri Sistem Politik :
1. Identifikasi, yaitu dasar-dasar yang berwujud tindakan-tindakan politik yang membentuk peranan politik.
2. Input dan Output. Input merupakan bahan mentah atau informasi yang akan diproses dalam suatu sistem untuk menghasilkan output. Output dalam sistem politik adalah suatu keputusan politik yang sah.
4. Integrasi dalam suatu sistem. Adanya diferensiasi mengatur kekuatan sistem selalu berubah dan dapat merusak integrasi. Oleh karena itu suatu sistem haras memiliki mekanisme yang bisa mengintegrasikan atau memaksa anggotanya untuk bekerja sama.
Sistem politik merupakan suatu organisasi dimana masyarakat dapat merumuskan dan berusaha mencapai tujuan-tujuan bersama. Oleh
karena itu dalam menjalankan kegiatannya, sistem politik mempunyai lembaga-lembaga seperti parlemen, birokrasi, badan peradilan, dan
sistem politik di dunia
1. Sistem Demokrasi
• 2. Sistem totaliterisme,
• suatu sistem politik dimana negara melalui partai secara total
mendominasi kehidupan individual, yang mencakup aspek ekonomi, pendidikan, agama, bahkan dalam kehidupan keluarga.
• Ciri sistem Totaliterisme antara lain :
• a) adanya Ideologi yang terperinci sebagai ajaran resmi, bagaimana
• masyarakat menjalankan kehidupan.
• b) adanya satu partai tunggal yang berfungsi menjalankan • pemerintahan dan mengontrol kehidupan masyarakat,
• c) adanya Kontrol pemerintah yang ketat terhadap sarana infomasi • dan komunikasi, dan
• Berdasarkan pendapat dari Edward Shils Almond dan Coleman J.W.
Schoorl, tipe sistem politik di negara-negara berkembang pada dasarnya terbagai menjadi lima tipe :
1. Demokrasi politik, yaitu suatu sistem politik di mana kekuasaan
legislatif, eksekutif dan yudikatif berfungsi dan memiliki kedudukan yang otonom. Kekuasaan legislatif dipilih secara periodik dalam pemilu yang bebas. Badan tersebut berfungsi mengontrol eksekutif. Contoh : Amerika, Indonesia
2. Demokrasi Terpimpin, yaitu suatu sistem politik yang mempunyai struktur formal sama dengan demokrasi politik, namun dalam
3. Oligarki Pembangunan. Sistem ini digunakan karena perlunya melakukan modernisasi secara cepat tanpa menghilangkan
pelaksanaan demokrasi. Oleh karena itu konsentrasi kekuasaan di tangan pemerintah merupakan syarat pembangunan dan persatuan. Sedangkan pengawasan berada di tangan militer atau rezim sipil yang didukung sejumlah elite. Parlemen tidak punya kekuasaan dan hanya sebagai persetujuan serta pemberi nasehat rencana peraturan. Contoh : Myanmar
4. Oligarki totaliter. Sistem politik ini memusatkan kekuasaan pada sekelompok elite politik tertentu untuk mendominasi semua aspek
kehidupan masyarakat. Sistem pemerintahan dijalankan berdasarkan ideologi yang dianut secara konsisten, yang sekaligus sebagai perekat persatuan dan perisai untuk menangkis gangguan dari luar. Partai
5. Oligarki tradisional, yaitu sistem politik dimana kekuasaan terpusat
pada raja dan kelompok yang berkuasa berdasarkan tradisi. Parlemen mempunyai kekuasaan lemah. Jabatan-jabatan dalam birokrasi
5 konsep politik
1. Klasik.
Pada pandangan klasik (Aristoteles) mengemukakan bahwa politik digunakan masyarakat untuk mencapai suatu kebaikan bersama yang dianggap memiliki nilai moral yang lebih tinggi daripada
kepentingan swasta. Kepentingan umum sering diartikan sebagai
2. Kelembagaan.
Menurut Max Weber, politik adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penyelenggaraan negara. Max Weber melihat negara dari sudut pandang yuridis formal yang statis. Negara dianggap memiliki hak memonopoli
kekuasaan fisik yang utama. Namun konsep ini hanya berlaku bagi negara modern yaitu negara yang sudah ada differensiasi dan spesialisasi peranan, negara yang memiliki batas wilayah yang pasti dan penduduknya tidak
3. Kekuasaan.
Robson mengemukakan politik adalah kegiatan mencari dan mempertahankan kekuasaan ataupun menentang pelaksanaan
kekuasaan. Kekuasaan sendiri adalah kemampuan seseorang untuk
mempengaruhi oranglain, baik pikiran maupun perbuatan agar orang tersebut berfikir dan bertindak sesuai dengan orang yang mempengaruhi. Kelemahan dari konsep ini adalah tidak dapat dibedakannya
4. Fungsionalisme.
David Easton berpendapat bahwa politik adalah alokasi nilai-nilai secara otoritatif berdasarkan kewenangan dan mengikat suatu masyarakat.
Politik sebagai perumusan dan pelaksanaan kebijakan umum.Kelemahan dari konsep ini adalah ditempatkannya pemerintah sebagai sarana dan wasit terhadap persaingan diantara pelbagai kekuatan politik untuk mendapatkan nilai-nilai terbanyak dari kebijakan umum tanpa
5. Konflik.
Pandangan konflik mendeskripsikan bahwa politik merupakan kegiatan untuk memengaruhi perumusan dan kebijaksanaan umum dalam rangka usaha untuk mempengaruhi, mendapatkan dan mempertahankan nilai. Oleh karena itu sering terjadi perdebatan dan pertentangan antara pihak yang memperjuangkan dan pihak yang mempertahankan nilai.