• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGANCRITICAL SUCCESS FACTOR CSF. docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGEMBANGANCRITICAL SUCCESS FACTOR CSF. docx"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGANCRITICAL SUCCESS FACTOR (CSF) UNTUKMENUNJANG KINERJA PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN (PPK)DALAM PEMBANGUNAN

JEMBATAN KETAPANGDI BANYUWANGI ‘Tugiman, dan ‘Bambang Syairudin’

Jurusan Manajemen Proyek Program Studi Magister Manajemen Teknologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember,

Email : [email protected] Abstrak

Proyek Jembatan merupakan pekerjaan yang sangat komplek dengan teknologi tinggi. Dalam pelaksanaannya terdahulu sering terjadi kegagalan antara lain, keterlambatan pelaksanaan, kelebihan pembayaran dan kegagalan lainnya. Maka perlu dilakukan pengembangan Critical Success factor (CSF) untuk menunjang kinerja Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya dalam pelaksanaan proyek jembatan.Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang relevan untuk mendapatkan gambaran mengenai persepsi atas CSF. Metode yang digunakan untuk memecahkan masalah yang kompleks dalam penelitian ini menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP).Adapun hasil dari penelitian ini faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan pelaksanaan proyek jembatan adalah kemampuan PPK dalam membuat Harga Perkiraan Sendiri (HPS) dengan nilai Rasio Konsistency (0,038), kemampuan Konsultan untuk membantu dan memberikan petunjuk kepada Kontraktor dalam perijinan dengan nilai Ratio Konsistency (0,002) dan kemampuan Kontraktor dalam membuat Berita Acara Penyerahan Pertama (PHO) dengan nilai Ratio Konsistency (0,001). Dengan demikian ketiga faktor tersebut sangat dominan sekali untuk menunjang kinerja PPK dalam

Pembangunan Jembatan.

Kata kunci : Critical success Factor, Analitycal Hierarchy Process, PPK, Jembatan Ketapang

Abstract

Bridge Project is a very complex work with high technology.In the project’s execution there are to many problem, such as delays of implementation, overpayment and other failures.It is necessary to develop of Critical Success factor (CSF) to support the performance of Committing Officer (PPK) in the execution of it’s duties and responsibilities in the implementation of the bridge project.The purpose of this study to identify the factors that are relevant to get an idea of the perception of CSF.The method used to solve complex problems in this study using Analytical Hierarchy Process (AHP).The results of this study, the factors that affected the successful implementation of the bridge project, is the ability of the PPK in making Self-Estimated Price (HPS) with the value (0,038), the ability of consultants to assist and provide guidance to the contractor in the licensing value Ratio Consistency (0,002) and the ability Contractor in making the First Project Handover (PHO)value Consistency Ratio (0.001). The conclusion is that three factors are very affected to support the performance of Committing Officer (PPK) in the execution of bridge project.

(2)

2. PENDAHULUAN

2.1. Latar Belakang 2.2.

2.3. PejabatPembuatKo mitmenberdasarkanPerpres RI Nomor

4tahun2015tentangPerubahankeem patatasPerpres nomor 54 tahun 2010

tentangPengadaanBarangdanJasaPe merintahan, yang disebut PPK

adalahPejabat yang

bertanggungjawabataspelaksanaan BarangdanJasa.Sedangkanberdasar kanPeraturanPemerintah nomor 45 tahun 2013 tentang Tata Cara PelaksanaanAnggaranPendapatand anBelanja Negara, PPK

adalahPejabat yang

diberikewenanganolehPenggunaAn

ggaran atau

KuasaPenggunaAnggaranuntukme ngambildanataumelakukantindakan yang

dapatmengakibatkanpengeluaranA nggaranBelanja Negara.

2.4. Berdasarkanpengertianterse but, maka PPK adalahpejabat yang berwenanguntukmengambilkeputusandanti ndakan yang berakibatpadapengeluaran Anggarandanbertanggungjawabataspelaksa naanPengadaanBarangdanJasa.Jikakitamel ihatpencairanAnggaranBelanjaNegara,

makaperan PPK

adapadamekanismeuangpersediaandanmek anismelangsung.PadamekanismeUangPanj ar (UP), Peraturan Menteri Keuangan (PMK)berwenanguntukmengambiltindaka n yang berakibatpadapengeluaran, sedangkanpadamekanisme LS (Lumpsum), PPK

bertanggungjawabataspelaksanaanpengada an.

2.5. Oleh karena itu Dalam penelitian ini

diharapkan akan memenuhi hasil dari analisis faktor-faktor dan sub faktor dalam keberhasilan suatu proyek. Dari faktor-faktor dan sub-sub faktor sebagai bahan kuisioner untuk disebarkan kepada responden dalam hal ini adalah tim ahli dalam konstruksi jembatan yang terdiri dari PPK, Konsultan dan Kontraktoruntuk memberikan nilai pembobotan. Kemudian dilakukan proses perbandingan berpasangan antara faktor-faktor dan sub faktor. Kemudian memasukkan hasil perbandingan berpasangan tersebut kedalam

sofware expert choice, Hasil kuisioner kemudian dianalisis dengan metode AHP guna menentukan prioritas CSF. AHP dipilih karena kelebihan yang dimilikinya yaitu dapat menangani struktur yang berhirarki pada faktor yang dipilih sampai pada sub faktor yang paling dalam. Hasil dari penelitian ini adalah urutan prioritas CSF yang paling berpengaruh untuk menentukan faktor penunjang kinerja PPK dalam Pembangunan Jembatan Ketapang di Banyuwangi. 2.6.

1.2. Perumusan Masalah

2.7. Sesuai dengan latar belakang yang telah di uraikan diatas, maka dirumuskan persoalan penelitian yang akan dikaji adalah Bagaimana melakukan identifikasi faktor penjamin kesuksesan kinerja PPK dalam pelaksanaan pembangunan Jembatan Ketapang dengan metode CSF (Critical Succes Factor)dan AHP (Analytical Hierarchy Process).

2.8.

(3)

2.9. Sesuai latar belakang masalah,tujuan penelitian ini adalah : 1. Mengidentifikasi faktor penjamin

kesuksesan kinerja PPK dalam pelaksanaan pembangunan Jembatan Ketapang.

2. Menentukan pembobotan masing-masing faktor penjamin kesuksesan kinerja PPK.

3. Mengimplementasikan Critical

Success Factor (CSF) dalam

pelaksanaan proyek pembangunan Jembatan Ketapang.

2.10. 2.11.

1.1.4. Batasan Masalah

2.12. Adapun batasan masalah yang dibahas pada penelitian ini adalah:

1. Obyek amatan dalam penelitian ini adalah Proyek Pembangunan Jembatan Ketapang yang dikelola oleh PPK Wilayah Situbondo-Ketapang-Banyuwangi dibawah pengawasan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V Provinsi Jawa Timur. 2. Tugas dan tanggung jawab PPK yang

akan dikaji dalam penelitian ini sesuai Perpres 4 tahun 2015 pasal 11 ayat 1 huruf c,d,e,h dan pasal 11 ayat 2 huruf a point 1 dan huruf b dan mengacu pada PMK Pasal 13 Tahun 2012 tentang Pelaksanaan Anggaran. 3. Tidak ada perubahan kebijakan dari

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang terkait dengan proyek Jembatan Ketapang.

4. Tidak ada kejadian force majeure

selama pelaksanaan proyek jembatan ketapang.

5. Lokasi penelitian adalah Pembangunan Jembatan Ketapang yang terletak di Banyuwangi Km. Surabaya 280+651.

2.13. 2. Dasar Teori

2.14. 2.1. Penelitian

Sebelumnya

1. Penelitian oleh Derrich J – Z Tan and F.E Muhamad Ghazali ( 2011 ), diperoleh hasil penelitian Critical

Success Factor ( CSF ) diperoleh dengan cara interview dengan Kontraktor Profesional Malaysia bertaraf Internasional. Dari review tersebut diperoleh 40 CSF. Kemudian dikelompokan menjadi enam katagori antara lain :

2.15. Faktor Manajemen Proyek :  Faktor Pengadaan.

 Faktor Owner.  Faktor desainer.  Faktor Kontraktor.

 Faktor Manajemen Proyek.

 Faktor Lingkungan Bisnis (lingkungan pekerjaan).

2. Mohamad Soqib, Rizwan U,Farooqui, Sarosh H.LodiHasil penelitian ini, keberhasilan proyek terdiri tujuh faktor danSub faktor antara lain :

 Faktor Manajemen Proyek.

 Faktor yang berkaitan dengan pengadaan.

 Faktor yang berkaitan dengan Klien.

 Faktor yang berkaitan dengan tim desain.

 Faktor yang berkaitan dengan kontraktor.

 Faktor yang berkaitan dengan Pimpro.

 Faktor yang berkaitan dengan bisnis dan lingkungan kerja. 3. Arti J. Jari, Pankaj,

P.Bhangale.Dalam penelitian ini, kriteria keberhasilan proyek terdiri dari lima kriteria antara lain:

(4)

 Kontraktor.  Kriteria umum.  Kriteria unik.

2.16. Faktor-faktor tersebut sangat bersesuaian dengan faktor-faktor yang diturunkan dari Perpres no.4 tahun 2015 dan PMK pasal 13 tahun 2012dimana dalam peraturan tersebut,sangat spesifik dengan rencana penelitian yang akanpenulis lakukan Critical Success Factor (CSF)Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). 2.17.

.2. Critical Success Factor

2.18. Critical Success Factor adalah faktor atau variabel yang kritis bagi keberhasilan pelaksanaan proyek yang harus dikerjakan,dimana tanpa adanya faktor tersebut, maka proyek tidak akan sukses atau berhasil dalam target maupun goal tertentu. Pada suatu proyek atau pekerjaan Critical Success Factor (CSF)

ini penting sekali untuk

mengidentifikasikan sebelum proyek dimulai. Dalam wikipeda disebutkan definisi Critical Success Factors (CSF) is the form for an element that necessary for an organization or projeck to achivie its mission. It is a critical factor or actifity required for ensuring the success of a company or an organizations. The term was unitialy used in the word of data analysis and business analysis”.

2.19. “Critical success factors are those few things that must go will to ensure succes for a manager or an organizations,and. That must be give special and continual altention to buing about high performance. CSFs include inssues vital to an organizations curred operating activities and to its future success.

2.20. Konsep faktor

sukses (success factors) dibangun oleh

D.DANIEL dari Mc Kintey dan company pada tahun 1961.

2.21. Analytical Hierarchy Process(AHP)

2.22. Analytic Hierarchy Process

(AHP) telah diterima sebagai model pengambilan keputusan yang bersifat multikriteria, oleh orang-orang akademik maupun praktisi (Mauro, 2001). Kriteria-kriteria dibandingkan dalam bentuk perbandingan berpasangan, untuk membentuk suatu matriks preferensi, demikian pula halnya dengan alternatifalternatif. Salah satu kehandalan AHP adalah dapat melakukan analisis secara simultan dan terintegrasi antara parameter parameter yang kualitatif atau bahkan yang ’intangible’ dan yang kuantitatif (Roy, B., M. Paruccini, 1994). AHP Menggunakan struktur hierarki, matriks, dan algebra linier dalam memformulasikan prosedur pengambilan keputusan. Disamping itu, AHP juga menggunakan prinsip-prinsip eigenvector dan eigenvalue dalam proses pembobotan (saaty, 1990) . Menurut Saaty (1993), hirarki didefinisikan sebagai suatu representasi dari sebuah permasalahan yang kompleks dalam suatu struktur multi level dimana level pertama adalah tujuan, yang diikuti level faktor, kriteria, sub kriteria, dan seterusnya ke bawah hingga level terakhir dari alternatif. Dengan hirarki, suatu masalah yang kompleks dapat diuraikan ke dalam kelompok-kelompoknya yang kemudian diatur menjadi suatu bentuk hirarki sehingga permasalahan akan tampak lebih terstruktur dan sistematis. (saaty, 2010)

2.23. Tahap-tahap atau prosedur AHP (Rochmasari, 2010), meliputi hal-hal sebagai berikut :

1. Mendefenisikan struktur hierarki masalah.

2. Penilaian kriteria dan alternatif dengan melakukan perbandingan. berpasangan.

(5)

2.25.

2.35. Gambar 2.1 Dekomposisi

permasalahan dalam bentuk model hierarki AHP (Saaty,

1990).

2.36. Tabel 1. Skala Penilaian Perbandingan Pasangan

2.37.

Tin 2.38.Defin i a elemen sama pentingnya

2.42. Kedua elemen

seimbang sama besar pada sifat sedikit lebih penting lebih penting daripada didominasi satu elemen yang

2,4, 2.56.tengah Nilai 2.57.ini diberikanNilai

diantara dua penilaian yang berdampingan

jika diperlukan kompromi

2.58. Kebalikan

2.59. Bila elemen ke-ij pada faktor i mendapat nilai nilai x maka elemen ke-ji pada faktor ke-j mendapat nilai 1/x

2.60. Membuat matriks kriteria berpasangan, Tabel 1. skala penilaian perbandingan BerpasanganMembuat matriks berpasangan kriteria terhadap kriteria:

1. Menjumlahkan matrik kolom

2. Menghitung nilai elemen kolom kriteria dengan cara membagi setiap nilai elemen kolom dengan jumlah matrik kolom

3. Menentukan prioritas kriteria jumlah baris (n kriteria)

4. Menghitung prioritas alternatif dengan membuat matrik berpasangan alternatif terhadap alternatif sebanyak jumlah kriteria.

5. Hitung konsistensi.

2.61. ...(1.1)

2.62... 2.63.

2.64. Keterangan :

2.65. Y = perkalian antara matriks

2.66. perbandingan dengan bobot

2.67. X = hasil matriks perbandingan normalisasi 2.68. n = jumlah baris / attribut

6. Konsisensi Indeks (CI) 2.69.

2.70... ... (1.2)

2.71. 2.72.

Keterangan : CI = maks – n n – 1

Σ (Y / X)

(6)

2.73.

maks = nilai konsistensi. 2.74.

n = jumlah baris.

7. Consistency Ratio ( CR ), merupakan pernyataan yang menyatakan seberapa besar derajat Inconsistency dari penetapan nilai perbandingan antar kriteria yang telah dibuat, yaitu : 2.75.

2.76... ... (1.3)

2.77. Keterangan :

2.78. CR= Consistency Ratio

2.79. CI = Consistency

Index

2.80. RI = Index Random 2.81.

2.82. Tabel 2.2. Daftar Random

Index (RI)

2.83. U

kura n Mat riks

2.84. N

ilai RI

2.85. 1

,2

2.86. 0

,00

2.87. 3 2.88. 0

,58

2.89. 4 2.90. 0

,90

2.91. 5 2.92. 1

,12

2.93. 6 2.94. 1

,24

2.95. 7 2.96. 1

,32

2.97. 8 2.98. 1

,41

2.99. 9 2.100. 1

,45 2.101. 1

0

2.102. 1 ,49 2.103. 1

1

2.104. 1 ,51 2.105. 1

2

2.106. 1 ,58

2.107.

2.108. Apabila nilai CR ≤ 0,10 maka data konsisten / dapat ditoleransi tetapi bila CR ≥ 0,10 maka data tidak konsisten dan perlu dilakukan revisi. Apabila nilai CR = 0, dapat dikatakan “Perfectly Consistent“.

2.109.

. METODE PENELITIAN

2.110. Metodologi penelitian adalah gambaran langkah – langkah yang ditempuh dalam menjalankan penelitian dijelaskan sebagai berikut :

3.1 Rancangan Penelitian

a. Studi literatur dilakukan untuk mencari bahan-bahan referensi yang akan

3.2 digunakan dalam penelitian ini. Dengan mengacu pada laporan JustifikasiTeknik, laporan Rencana Mutu Kontrak, laporan Pra Contraction Meeting (PCM) mengenai pemilihan prioritas.

b. Wawancara dan pengisian kuisioner dengan para pakar/ahli jembatan dalam pengambilan keputusan terhadap pemilihan prioritas ketepatan proyek jembatan Ketapang untuk mendapatkan kriteria dan alternatif dari tender tersebut.

c. Pengolahan data yang diperoleh dari hasil wawancara dan pengisian kuisioner dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak pendukung Expert Choice.

3.3

3.4Adapun diagram alir penelitian dapat dilihat pada diagram berikut ini :

(7)

3.8 3.9 3.10 3.11 3.12 3.13 3.14 3.15

3.16 Gambar 3.1. Bagan Alir Penelitian

3.17 Perangkat lunak Tools yang Digunakan

3.18 Expert Choice v.11

3.19 Dipergunakan sebagai alat bantu untuk menampilkan hasil analisis dari : 3.20 Data perbandingan antara kriteria – kriteria yaitu Design, tinjauan keadaan lapangan, inventarisasi volume, mobilisasi alat, metode pembayaran, ruang lingkup pekerjaan, jadwal pekerjaan, nilai strategis proyek terhadap alternatif yang ada yaitu item-item pekerjaan dalam dokumen kontrak, survey Jembatan Ketapang dan kuantitas item pekerjaan.

III.3 Metode pengumpulan data 3.21 Sumber data primer

diperoleh dari dokumen-dokumen kontrak pekerjaan proyek yang terkait dan melakukan wawancara maupun pengisian kuisioner dengan pihak-pihak pengambil keputusan dalam hal ini para pakar jembatan terhadap kriteria-kriteria yang menjadi pertimbangan keberhasilan PPK dalam melaksanakan sebuah proyek untuk mendapatkan

prioritas yang utama dalam menghindari faktor kegagalan dalam memanage sebuah proyek.Sumber data sekunder diperoleh dari data justifikasi teknik (Justek).

III.4 Proses Penentuan Prioritas Sebuah Proyek

3.22 Di dalam

keberhasilan sebuah proyek perlu diperhatikan kriteria dan alternatif dari tiap-tiap proyek melalui dokumen kontrak yang dinyatakan secara tertulis maupun informasi-informasi lainnya yang tidak tertulis. Informasi-informasi yang diperoleh dari sumber tertulis disebut dengan kriteria dan laporan justifikasi teknik disebut dengan alternatif. Dari kriteria dan alternatif yang diperoleh ditentukan peringkat untuk mendapatkan kriteria dan alternatif yang terpenting

terhadap tujuan

pengoptimalisasian terhadap proyek-proyek dengan melibatkan PPK yang bersangkutan dengan pihak kontraktor beserta konsultan supervisi dalam pengambilan keputusan terhadap suatu keberhasilan proyek dan didukung dengan perangkat lunak expert choice sebagai alat bantu untuk mengambil keputusan multi-kriteria dengan menyederhanakan kompleksitas yang ada. Dari hasil pengolahan data menggunakan expert choice diperoleh prioritas sebuah proyek yang akan dipilih

dengan melihat dan

(8)

III.5 Metode analis

3.23 Berdasarkan hasil identifikasi faktor-faktor yang berpengaruh pada proses pengambilan keputusan keberhasilan proyek dapat dibuat hierarki keputusan dari tingkat paling atas adalah tujuan, yaitu pengoptimalisasian waktu proyek sesuai dokumen kontrak pada proyek jembatan ketapang.

III.6 Keterkaitan Data dan Analisis Terhadap Metode AHP & Expert Choice

3.24 Data dalam

penelitian ini terdiri dari tujuan, kriteria, dan alternatif. Adapun tujuan dari sebuah proses tender adalah pemilihan proyek dalam suatu tender. Kriteria yang diperoleh meliputi :

3.25 Harga, yaitu besarnya nilai sebuah proyek.

1. Metode pembayaran, yaitu termin pembayaran terhadap proyek yangakan dilaksanakan.

2. Ruang lingkup pekerjaan, yaitu lingkup pekerjaan yang menjaditanggungjawab dari PPK dan Penyedia Jasa.

3. Jadwal pekerjaan, yaitu waktu yang

harus dipenuhi dalam

menyelesaianpekerjaan. 3.26

3.27 Dalam hal ini, AHP merupakan proses perumusan kebijakan yang powerful

danfleksibel dalam menentukan prioritas, membandingkan kriteria, alternatif danmembuat keputusan yang terbaik ketika pengambil keputusan

harusmempertimbangkan aspek kuantitatif dan kualitatif. AHP mengurangi kerumitansuatu keputusan menjadi rangkaian perbandingan satu-satu, kemudianmensintesis hasil perbandingan tersebut. Dengan demikian, AHP tidak hanyabermanfaat dalam pembuatan keputusan yang terbaik tetapi juga memberikandasar yang kuat bahwa keputusan tersebut merupakan keputusan yang terbaik.Estimasi dengan menggunakan metode AHP dapat dilakukan dengan mudahdengan menggunakan perangkat lunakkhusus yang disebut Expert Choice.

3.28

4. Hasil dan Pembahasan 4.1. Analisa Input

3.29 Identifikasi faktor penjamin kesuksesan kinerja PPK dalam pelaksanaan pembangunan Jembatan Ketapangini menggunakan metode AHP dan dimaksudkan untuk membantu dalampengambilan keputusan untuk menentukan faktor keberhasilan PPK. Dalam penentuannya ada tiga kriteria yaitu PPK, Konsultan dan Kontraktor.

a) Kriteria : PPK, Konsultan dan Kontraktor

b) Alternatif : Faktor 1 (Tugas pokok dan wewenang PPK), Faktor 2 (Tugas pokok dan wewenang Konsultan), Faktor 3 (Tugas pokok dan wewenang Kontraktor)

c) Sub alternatif : Sub Faktor 1, Sub Faktor 2, Sub Faktor 3.

3.30 3.31 3.32 3.33

(9)

3.37 3.38 3.39 3.40 3.41 3.42 3.43 3.44 3.45 3.46 3.47 3.48 3.49 3.50 3.51 3.52 3.53

3.54

3.55 Gambar 4.1 Struktur Hirarki Critical Succes Factor

dengan metode AHP. 4.2 Bobot dan Anaslisa Output

3.56 Teknik pembobotan yang digunakan untuk mengetahui tingkat kepentingan dan peranan dari tiap KPI dan perspektif adalah AHP. Keluaran yang dihasilkan dalam aplikasi ini adalah perbandingan faktor

keberhasilan kinerja PPK dalam Pembangunan Jembatan Ketapang. Selain itu, dengan aplikasi ini dapat mengetahui indikator (KPI) setiap Sub faktor penting yang mempunyai nilai tertinggi dan terendah sehingga memudahkan PPK untuk memperbaiki KPI yang rendah sehingga mengantisipasi agar tidak terjadinya kegagalan-kegagalan pada proyek-proyek jembatan terdahulu.

4.3 Implementasi Sistem a. Halaman Utama.

3.57 Halaman ini berfungsi sebagai tampilan awal ketika menjalankan aplikasi Expert Chioce Versi 11.

3.58 3.59

3.60 3.61 3.62 3.63

3.64 Gambar 4.2 Tampilan

pertama kali saat user

menjalankan program. 3.65

3.66 3.67 3.68 3.69

3.70 Gambar 4.3 Tampilan saat

userakan memulai input data kuisioner.

b.

c. Proses pengisian kuisioner 3.71 Proses pengisian

(10)

penyebaran masing-masing

koresponden dari tim ahli BBPJN V. 3.72 3.73 3.74

3.75 3.76 3.77 3.78

3.79 Gambar 4.4Tampilan saat

usermemulai input data kuisioner

4.4 Analisa Hasil

a. Perhitungan Bobot Kriteria PPK 3.80 Dari perhitungan Penginputan kuisioner AHP dapat dilakukan analisa berdasarkan hasil akhir (Skor Terbobot) tiap KPI. Dibawah ini merupakan hasil analisa faktor dari tiap-tiap kriteria.

3.81 3.82 3.83 3.84 3.85

3.86 Gambar 4.4Analisa Proses kriteria dengan CR 0.05. b. Perhitungan Bobot Sub Faktor PPK

3.87 Dari perhitungan

Penginputan kuisioner AHP dapat dilakukan analisa berdasarkan hasil akhir (Skor Terbobot) tiap KPI. Dibawah ini merupakan hasil analisa Subfaktor PPK..

3.88 3.89

3.90 3.91 3.92 3.93 3.94 3.95 3.96

3.97 Gambar 4.5Analisa Proses Sub faktor PPK dengan CR

0.09.

c. Perhitungan Bobot Sub Faktor Konsultan

3.98 Dari perhitungan

Penginputan kuisioner AHP dapat dilakukan analisa berdasarkan hasil akhir (Skor Terbobot) tiap KPI. Dibawah ini merupakan analisa hasil Subfaktor dari konsultan.

3.99

3.100 3.101 3.102 3.103 3.104

3.105 Gambar 4.6Analisa Proses Sub faktor Konsultan dengan

CR 0,00.

d. Perhitungan Bobot Sub Faktor Kontraktor

3.106 Dari perhitungan Penginputan kuisioner AHP dapat dilakukan analisa berdasarkan hasil akhir (Skor Terbobot) tiap KPI. Dibawah ini merupakan analisa hasil Subfaktor dari kontraktor.

(11)

3.109 3.110 3.111 3.112 3.113 3.114 3.115

3.116 Gambar 4.7Analisa Proses Sub faktor Kontraktor dengan CR 0,00.

3.117 Dari hasil perhitungan Kuisioner dan AHP dapat dibuat strategi map. Berikut strategi map yang dibangun:

3.118 3.119 3.120 3.121 3.122

3.123 Gambar 4.8 strategi map 3.124 Strategi map merupakan sebuah diagram yang menunjukan visi, misi, strategi yang diimplementasikan dalam mengukur kinerja keberhasilan dengan menggunakan KPI. Dengan menggunakan strategi mapdapat di dilihat dengan jelas keterkaitan antar visi, misi organisasi dengan KPI. Berdasarkan strategi map diatas dapat dijelaskan bahwa (KPA, PPK, Konsultan, Kontraktor) yang mempunyai kedudukan paling tinggi dan paling berpengaruh.

3.125

5. Kesimpulan

3.126 Setelah menyelesaikan Rancangan Perangkat Lunak Pengukuran penjamin kesuksesan kinerja PPK dalam

pelaksanaan pembangunan Jembatan Ketapang di Banyuwangi dengan metode CSF (Critical Succes Factor)dan AHP (Analytical Hierarchy Process) dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

3.127

3.128 Perhitungan bobot lokal dan bobot grobal

3.129

1.1 1.2Faktor 1.3Bobot 1.4Bobot

1.5 1.6Faktor 1-Tugas Pokok dan

Wewenang PPK 1.70,709 1.80,709 1.9 1.10Pokok dan Wewenang Faktor 2- Tugas

Konsultan

1.11 0,179 1.120,179 1.13 1.14 Faktor 3- Tugas

Pokok dan Wewenang Kontraktor

1.15 0,113 1.160,113

1.17 1.18 Total 1.19

(12)

3.130

3.131

3.132 3.133 Sub-Faktor Kontraktor

3.134 3.135

3.136 3.137 Sub Faktor 3.1-Kemampuan memahami dokmen spesifikasi teknis

3.138 3.139

3.140 3.141 Sub Faktor 3.2-Kemampuan dalammemahami hukum kontrak

3.142 3.143

3.144 3.145 Sub Faktor 3.3-Kemampuan membuat laporan PCM

3.146 3.147

3.148 3.149 Sub Faktor 3.4-Kemampuan memanfaatkan uang muka sebesar 20% dari nilai kontrak

3.150 3.151

3.152 3.153 Sub Faktor 3.5-Ketelitian dalam mengoperasikan alat ukur

3.154 3.155

3.156 3.157 Sub Faktor 3.6-Ketelitian dalam

membuat laporan kajian teknis 3.158 3.159

(Field Engineer)

3.160 3.161 Sub Faktor 3.7-Kemampuan membuat dokumen justifikasi teknik

3.162 3.163

3.164 3.165 Sub Faktor 3.8-Kemampuan membuat dokumen peneliti kontrak

3.166 3.167

3.168 3.169 Sub Faktor 3.9-Kemampuan membuat Rencana Mutu Kontrak (RMK)

3.170 3.171

3.172 3.173 Sub Faktor 3.10-Kecepatan dalam melakukan test semua material ke laboratorium Balai V untuk pembuatan desain

3.174 3.175

3.176 3.177 Sub Faktor 3.11-Kemampuan

membuat Job Mix Formula (JMF) 3.178 3.179

3.180 3.181 Sub Faktor 3.12-Kemampuan

melakukan Trial di lapangan 3.182 3.183

3.184 3.185 Sub Faktor 3.13-Kemampuan membuat jadwal pelaksanaan pekerjaan

3.186 3.187

3.188 3.189 Sub Faktor 3.14-Kemampuan

membuat struktur organisasi 3.190 3.191

3.192 3.193 Sub Faktor 3.15-Kemampuan membuat laporan progress fisik harian, mingguan dan bulanan

3.194 3.195

3.196 3.197 Sub Faktor 3.16-Kemampuan untuk

melakukan uji mutu 3.198 3.199

3.200 3.201 Sub Faktor 3.17-Kemampuan membuat laporan back up data quality dan quantity sebagai pendukung pembayaran

3.202 3.203

3.204 3.205 Sub Faktor 3.18-Ketelitian dalam membuat Monthly certificate (MC) pembayaran atas pekerjaan yang telah dilakukan

3.206 3.207

3.208 3.209 Sub Faktor 3.19-Kemampuan membuat dokumen Foto Kondisi

0%, 50%, dan 100%

3.210 3.211

3.212 3.213 Sub Faktor 3.20-Kemampuan membuat surat permintaan PHO

kepada PPK

3.214 3.215

3.216 3.217 Sub Faktor 3.21-Kemampuan membuat Berita Acara Penyerahan

Pertama Proyek (PHO)

3.218 3.219

3.220 3.221 Sub Faktor 3.22-Kemampuan melakukan pengarsipan dokumen

pelaksanaan pekerjaan (Back Up)

3.222 3.223

3.224 3.225

3.226 3.227

3.228Gambar 5.1Hasil perhitungan bobot secara global

1.113 1.114 Sub-Faktor Konsultan 1.115 Bobot 1.116Bobot 1.117 1.118 Sub Faktor

2.1-Kemampuan menyusun program kerja pengawasan

1.119 0,020

1.120 0,004

1.121 1.122 Sub Faktor 2.2-Kemampuan memeriksa jadwal pelaksanaan yang diajukan oleh kontraktor

1.123 0,025 1.1240,004 1.125 1.126 Sub Faktor

2.3-Kemampuan pengawasan kegiatan di lapangan secara teknis maupun administrasi

1.127 0,078

1.128 0,014

1.129 1.130 Sub Faktor 2.4-Kemampuan pengawasan secara rinci kebenaran ukuran kualitas dan kualitas dari bahan dan peralatan

1.131 0,130 1.1320,023

1.133 1.134 Sub Faktor 2.5-Kemampuan Monitoring pekerjaan dan mengambil tindakan yang tepat dan cepat

1.135 0,056 1.1360,010 1.137 1.138 Sub Faktor

2.6-Kemampuan meyakinkan secara teknis tentang penambahan atau pengurangan biaya dan waktu pekerjaan untuk mendapatkan persetujuan dari PA/KPA

1.139 0,097 1.1400,017

1.141 1.142 Sub Faktor 2.7-Kemampuan memerintah secara langsung kepada kontraktor sejauh tidak melanggar kontrak

1.143 0,017 1.1440,003 1.145 1.146 Sub Faktor

2.8-Kemampuan membantu memberi petunjuk kepada kontraktor dalam perijinan

1.147 0,012 1.1480,002 1.149 1.150 Sub Faktor

2.9-Kemampuan mengkonsultasikan segala masalah dan alternatif solusinya kepada PA/KPA

1.151 0,103 1.1520,018 1.153 1.154 Sub Faktor

2.10-Kemampuan membuat risalah rapat yang diadakan tiap 1 bulan , 2 bulan

1.155 0,017 1.1560,003 1.21 1.22 Sub-Faktor PPK 1.23Bobot 1.24Bobot 1.25 1.26 Sub Faktor

1.1-Kemampuan membuat (HPS) 1.270,053 1.280,038 1.29 1.30 Sub Faktor

1.2-Kemampuan memilih Penyedia Jasa

1.31 0,058 1.320,041 1.33 1.34 Sub Faktor

1.3-Kemampuan merancang kontrak

1.35 0,098 1.360,069 1.37 1.38 Sub Faktor

1.4-Kemampuan dalam memahami hukum kontrak

1.39 0,093 1.400,066 1.41 1.42 Sub Faktor

1.5-Kemampuan melaksanakan kontrak

1.43 0,078 1.440,055 1.45 1.46 Sub Faktor

1.6-Kemampuan Mengendalikan Pelaksanaan

1.47 0,100 1.480,071 1.49

1.50 Sub Faktor 1.7-Kemampuan membuat laporan Program fisik kepadaPA/KPA tiap periode(harian, Mingguan dan bulanan)

1.51 0,098 1.520,069

1.53 1.54Ketelitian memeriksa sertifikat Sub Faktor 1.8-Bulanan (MC) untuk tagihan kontraktor

1.55 0,086 1.560,061 1.57 1.58Ketelitian dalam Sub Faktor

1.9-menandatangani persetujuan pembayaran(SPP)

1.59 0,077 1.600,055 1.61 1.62Kemampuan memeriksa, Sub Faktor

1.10-bahwa pekerjaan sudah 100% Kepada PA/KPA

1.63 0,074 1.640,052 1.65 1.66Kemampuan membuat berita Sub Faktor

1.11-acara penyerahan pertama (PHO) kepada PA/ KPA

1.67 0,104 1.680,074 1.69 1.70 Sub Faktor

1.12-Kemampuan dan menjaga keutuhan dokumen

1.71 0,081 1.720,057

1.73 1.74 1.75

Total 1.760,709

1.77 1.78Kemampuan mengidentifikasi Sub Faktor 2.11-masalah yang mendesak yang harus di rapatkan segera

1.79 0,037 1.800,007 1.81 1.82Kemampuan melaporkan dan Sub Faktor

2.12-teknis, administrasi kepada PA/KPA mengenai prosentase dan bobot semua item yang akan dikerjakan

1.83 0,045 1.840,008 1.85 1.86 Sub Faktor

2.13-Kemampuan melaporkan pekerjaa riil sesuai jadwal pelaksanaan

1.87 0,028 1.880,005 1.89 1.90Kemampuan membuat laporan Sub Faktor

2.14-bahan-bahan bangunan yang dipakai, jumlah tenaga kerja, dan alat yang dipakai

1.91 0,019 1.920,003 1.93 1.94 Sub Faktor 2.15-Ketelitian

dalam meneliti shop drawing yang diajukan oleh kontraktor

1.95 0,091 1.960,016 1.97 1.98Kemampuan membuat berita Sub Faktor

2.16-Acara sehubungan dengan selesainya pekerjaan

1.99 0,022 1.1000,004 1.101 1.102Kemampuan dalam menyiapkan Sub Faktor

2.17-daftar volume dan nilai pekerjaan untuk dibayarkan

1.103 0,170 1.1040,030

1.105

1.106 Sub Faktor 2.18-Kemampuan dalam membuat formulir Laporan dan berita acara kemajuan pekerjaan, penyerahan pertama (PHO) dan formlir lainnya yang diperlukan dalam dokumen

1.107 0,031 1.1080,006

1.109 1.110 1.111

(13)

3.229.

1. Berdasarkan hasil perhitungan

Analytic Hierarchy Process (AHP) menggunakan inputan kuisioner data koresponden, Kinerja sub faktor 1,2dan Sub Faktor 3 dalam hal ini PPK, Konsultan dan Kontraktor untuk mencapai keberhasilan dalam mengantisipasi agar tidak terjadinya kegagalan pada proyek Jembatan Ketapang di Banyuwangi, PPK harus harus melakukan hal-hal sebagai berikut:

3.230

3.231 Gambar 5.2. Faktor kunci

keberhasilan PPK

3.232

3.233 Gambar 5.3. Faktor kunci keberhasilan Konsultan.

3.234

3.235 Gambar 5.4. Faktor kunci keberhasilan Kontraktor. 2. Penentuan bobot dan target pada

setiap indikator mempengaruhi hasil pengukuran kinerja karena setiap bobot dan target menghasilkan tingkat kepentingan dan skor dari perhitungan kuisioner AHP. sesuai dengan perhitungan bobot tertinggi sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor keberhasilan dalam penelitian ini diambil bobot yang tertinggi.

(14)

wewenang PPK (0.709), disebabkan karena tanggung jawab PPK dimulahi dari Perencanaan, proses Pengadaan Barang/Jasa, Pelaksanaan samapi dengan Penyerahan Pertama Proyek (PHO) bahkan sampai dengan Penyerahan Akhir Proyek (FHO). Sedangkan tugas pokok dan wewenang konsultan (0,179). Tugas pokok dan wewenang kontraktor (),113), karena kerja konsultan dan kontraktor hanya awal pelaksanaan sampai Penyerahan Pertama Proyek (PHO). Sedangkan sub faktor yang sangat dominan terhadap keberhasilan pelaksanaan proyek Jembatan Ketapang adalah kemampuan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam membuat Harga Perkiraan Sendiri (HPS). Kemampuan Konsutan untuk membantu dan memberikan petunjuk kepada kontraktor dalam perijinan. Kemampuan kontraktor dalam membuat Berita Acara Penyerahan Pertama Proyek (PHO).

6. Daftar Pustaka

3.236 Eduardo Shimoda & Sérgio França (2014).

3.237 Critical Succes Factor in Project Managemen sudy of an Energy Company in Brazil, USA: Global Journals Inc.

3.238 Derrick J-Z Tan and F.E. Mohamed Ghazali. (2011).

3.239 Critical Success Factor for Malaysian Contractor Project using AHP.Singapore, :EPPM.

3.240 Muhammad Saqib,

RizwanU. Farooqui (2008),

3.241 Assessment of Critical Success Factors for Construction Projects in Pakistan.. ICCIDC-I : NED University of Engeenering. 3.242 David Scott, Albert P.C & AdaP.L.chan (2004).

3.243 Factors Affecting the Success of A Construction Project.Technical Notes : journal 3.244 Gunawan, Moch. Afifudi, Ibnu abbas majid (2014),

3.245 Critical Success

FactorPelaksanaan Proyek

KontruksiJalan Dan Jembatan Di Kabupaten Pidie Jaya, Banda Aceh : Jurnal Teknik Sipil Pasca Sarjana Universitas Syiah Kuala. 3.246 Perpres RI nomor 4 tahun 2015 tentang:

3.247 perubahan ke empat atas perpres nomor 54Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah.

3.248 Perpres RI nomor 45 tahun 2013 tentang:

3.249 Tata Cara Pelaksanaan Anggaran Pendapatandan Belanja Negara.

3.250 Laporan Pre Construction

Meeting (PCM),

3.251 Paket Pembangunan Jembatan Ketapang Tahun Anggaran 20016.

3.252 Laporan Rencana Mutu Kontrak (RMK),

(15)

Jembatan Ketapang tahun Anggaran 2016.

3.254 Laporan Justifikasi Teknik,

3.255 paket Pembangunan Jembatan Ketapang Tahun Anggaran 2016.

3.256 Laporan Rencana Mutu Pelaksanaan (RMP)

3.257 Konsultan pengawasan PT. AdhiyasaDesicon.

Gambar

Tabel   1.  Skala Penilaian Perbandingan
Tabel  2.2.  Daftar  Random
Gambar 4.1 Struktur
Gambar 4.5Analisa Proses
+3

Referensi

Dokumen terkait

• Sebagai badan internasional yang mendapatkan mandate khusus dari PBB untuk menangani masalah pengungsi suriah, seharusnya UNHCR dapat menggalang lebih banyak bantuan

While other visual poets from the 1960s onward would reinvest in iconic and figural work (John Furnival, for example), in collage practices (Nanni Balestrini, Eugenio Maccini), or

Beberapa penelitian mengenai hubungan paparan prenatal valproat terhadap perkembangan neuron anak menunjukkan hasil bahwa valproat dapat meningkatkan risiko munculnya

Berangkat dari paparan di atas, tujuan penelitian ini adalah (1) mengkaji perbedaan pemahaman kon- septual pebelajar SMP kelas VII terhadap konsep dasar partikel materi,

Dalam produksi stick fungsional, terjadi peningkatan efisiensi dan kapasitas produksi dengan adanya diseminasi alih teknologi berupa Food Mixer, Sealer Kemasan Kontinyu dan

Produk Domestik Regional Bruto dalam penelitian ini berpengaruh terhadap investasi di Provinsi Sulawesi selatan, PDRB dapat dijadikan sebagai salah satu cerminan

1) Prof. Bambang Setiaji, selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta. 2) Arif Widodo, A.Kep., M.Kes., selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan yang

Jenis tumbuhan ini menyukai daerah terbuka dan daerah yang lembab dan basah, dengan kelembaban yang diukur pada kawasan ini adalah 94 %, Menurut Ellyzarti (2009) tumbuhan