• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berkenalan Dengan Teori Epistemologi Alv

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Berkenalan Dengan Teori Epistemologi Alv"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

BERKENALAN DENGAN TEORI EPISTEMOLOGI ALVIN

PLANTINGA: JAMINAN (

WARRANT

) DAN FUNGSI YANG

SEMESTINYA (

PROPER FUNCTION

)

1

CHRISTIAN SULISTIO

PENDAHULUAN

Tidak bisa disangkal lagi bahwa Alvin Plantinga adalah salah seorang filsuf agama yang sangat dihormati pada masa ini. Pada tahun 1980 majalah TIME menyebut Plantinga sebagai “America’s leading orthodox

Protestant philosopher of God.”2 Di dalam komunitas Kristen sendiri,

seorang teolog bernama John Stackhouse mengatakan bahwa Plantinga adalah “the greatest philosopher of the last century. [Plantinga] is not just the best Christian philosopher of his time. No, Plantinga is the most

important philosopher of any stripe.”3 Sebagai seorang filsuf Kristen yang

bergerak di bidang filsafat agama, Plantinga mendedikasikan karirnya untuk menjelaskan dan membela rasionalitas iman Kristen. Ia berupaya memperlihatkan bahwa kepercayaan teistik (kepercayaan bahwa Allah ada) dapat memiliki jaminan (warrant) di dalam konteks struktur epistemologis yang absah. Dalam dua dekade terakhir, ia telah mengembangkan teori tentang jaminan sebagai struktur epistemologis yang sah untuk menopang

1Meskipun ada filsuf yang menjadikan istilah “jaminan”(warrant)sinonim dengan “justifikasi/pembenaran” (justification) namun Alvin Plantinga menggunakan kata “jaminan” untuk menggantikan istilah “justifikasi/pembenaran” di dalam epistemologi. Penulis sendiri menerjemahkan kata warrant menjadi “jaminan” mengingat bahwa kata tersebut sudah dipakai secara umum di dalam dunia epistemologi di Indonesia (lih. J. Sudarminta, Epistemologi Dasar: Pengantar Filsafat Pengetahuan [Yogyakarta: Kanusius, 2002] 155-156). Frase “fungsi yang semestinya” (proper function) menunjuk pada bekerjanya daya kognitif kita sebagai mana mestinya. Penulis akan menjelaskan lebih lanjut istilah-istilah tersebut di bagian ketiga makalah ini.

2“Modernizing the Case for God,” TIME 14 (7 April 1980) 66. Bisa juga diakses di http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,921990-3,00.html; diakses 13 Novem-ber 2007.

(2)

kepercayaan teistik.4 Di dalam struktur ini, iman teistik Kristen memiliki

jaminan.

Makalah ini akan membahas konsep Alvin Plantinga mengenai jaminan

(warrant) yang berkaitan erat dengan konsepnya tentang daya kognitif yang

bekerja sebagaimana mestinya (proper function). Untuk memahami teori Plantinga tentang jaminan, pertama-tama, penulis akan membahas konteks epistemologis di mana Plantinga mengembangkan teorinya tentang jaminan. Kedua, penulis akan membahas kritik Plantinga terhadap epistemologi kontemporer yang meratakan jalan untuk teorinya sendiri. Terakhir, penulis akan membahas teorinya tentang jaminan dan daya kognitif yang bekerja sebagaimana mestinya. Teori Plantinga sangat menekankan perlunya daya kognitif manusia untuk bekerja sebagaimana mestinya. Makalah ini hanya bersifat deskriptif dan tujuan saya adalah untuk memperkenalkan konsep epistemologi Plantinga kepada pembaca Indonesia.

KONTEKS EPISTEMOLOGI KONTEMPORER: SEBUAH SURVEI SINGKAT

Di dalam upaya kita untuk memahami teori Plantinga tentang jaminan sangat penting bagi kita untuk menempatkan teorinya di dalam peta epistemologi kontemporer khususnya di dalam perdebatan akhir-akhir ini tentang hakikat pengetahuan: debat antara internalisme dan eksternalisme dan debat antara koherentisme dan fondasionalisme.5

Perdebatan Antara Internalisme dan Eksternalisme

Debat antara teori pembenaran/justifikasi (justification) dan

pengetahuan kalangan internalis dan ekternalis telah terjadi selama tiga dekade belakangan ini.6 Perdebatan internalisme dan eksternalisme pada

4Lih. James K. Beilby, Epistemology as Theology: An Evaluation of Alvin

Plantinga’s Religious Epistemology (Aldershot: Ashgate, 2005) 69-70. Untuk biografi Plantinga yang lebih detail dapat dilihat di Kelly James Clark, Philosopher Who Believe

(Downers Grove: InterVarsity, 1993) 45-82.

5James Anderson, Paradox in Christian Theology (Paternoster Theological Monograph; Milton Keynes: Paternoster, 2007) 159.

(3)

dasarnya adalah “debate over what conditions are necessary for warrant, and more specifically, whether the conditions that are necessary for warrant

are ‘internal’ to the epistemic agent.”7 Apakah kondisi yang dibutuhkan

untuk jaminan dapat dijangkau oleh subyek yang mengetahui (knowing

subject) hanya dengan refleksi internal semata-mata atau tidak? Di sini

terlihat bahwa masalah mendasar di dalam debat ini berkaitan dengan jaminan atau pembenaran sebagai unsur ketiga di dalam pengetahuan.8

Kalangan internalis, di antaranya adalah orang-orang yang menganut paham evidensialisme dan koherentisme, berpendapat bahwa semua unsur yang diperlukan bagi sebuah kepercayaan (belief) untuk memenuhi kondisi jaminan atau justifikasi haruslah dapat disadari dan dicapai secara kognitif oleh subyek yang mengetahui. Jika demikian maka seorang internalis adalah seorang yang bepandangan bahwa faktor-faktor yang menjustifikasi atau menjamin suatu keyakinan/kepercayaan bersifat internal di dalam diri seseorang atau dapat dicapai oleh subyek pengetahuan. Faktor-faktor tersebut adalah berbagai keadaan mental seseorang seperti pengalaman, sensasi, pikiran, dan keyakinan; dan subyek memiliki akses kepada mereka hanya dengan memikirkan atau menyadari keadaan/kondisi mentalnya sendiri.

Internalisme didukung oleh suatu pandangan deontologis mengenai justifikasi. Pandangan in berpusat pada konsep memenuhi kewajiban epistemik seseorang.9 Pandangan justifikasi deontologis melihat justifikasi

sebagai melakukan yang terbaik untuk membentuk kepercayaan seseorang menurut aturan-aturan epistemologis tertentu seperti: “‘Form your beliefs objectively and carefully,’ ‘Proportion the strength of your beliefs to the

strength of the evidence for them,’ atau ‘it is wrong, always, everywhere,

and for anyone to believe anything upon insufficient evidence.’”10 Bagi

Foundations vs. Virtue (Oxford: Blackwell, 2003); Alvin Goldman, “Internalism Exposed,” The Journal of Philosophy 96 (1999) 271-293; Hilary Kornblith, ed.,

Epistemology: Internalism and Externalism (Oxford: Blackwell, 2001); Matthias Steup dan Ernest Sosa, Contemporary Debates in Epistemology (Oxford: Blackwell, 2005) bab 9; Sudarminta, Epistemologi Dasar 150-159.

7Beilby, Epistemology 76.

8Kalangan epistemologis biasanya mendefinisikan pengetahuan sebagai kepercayaan yang benar serta memiliki justifikasi (justified true belief) sehingga pengetahuan memiliki tiga unsur: 1. harus ada kepercayaan (belief), 2. adanya kebenaran dari kepercayaan tersebut (true belief) dan 3. justifikasi atau pengabsahan dari kepercayaan tersebut (justification).

9J. P. Moreland dan William Lane Craig, Philosophical Foundations for a Christian

(4)

kalangan internalis, memiliki justifikasi terhadap suatu kepercayaan adalah masalah melakukan suatu kewajiban intelektual, yaitu berusaha sebaik mungkin untuk mengikuti aturan epistemologis yang benar.

Kalangan internalis juga cenderung menerima konsep pengetahuan sebagai kepercayaan benar yang memiliki justifikasi. Konsep ini berasal dari tulisan Plato Theaetetus. Menurut konsep ini, fakta bahwa suatu

kepercayaan (belief) adalah benar tidak cukup menjadikannya

pengetahuan karena mungkin sekali kepercayaan tersebut benar hanya karena kebetulan. Pengetahuan yang benar perlu justifikasi; subyek yang mengetahui harus dapat menjustifikasi kepercayaannya dengan mendukung kepercayaannya dengan dasar-dasar bukti yang memadai atau sekumpulan dasar bukti untuk menjelaskan mengapa kepercayaan tersebut harus dipandang sebagai kepercayaan yang benar. Dengan kata lain, bagi kebanyakan kalangan internalis, seseorang S mengetahui bahwa P hanya dan hanya jika:

1. S percaya bahwa P 2. P adalah benar

3. Kepercayaan bahwa P dijustifikasi bagi S ketika S percaya P.11

Sebaliknya seorang eksternalis mengizinkan paling tidak ada beberapa unsur untuk memenuhi syarat pembenaran tidak harus dapat dicapai oleh subyek yang mengetahui. Tetapi unsur-unsur tersebut dapat bersifat eksternal terhadap subyek yang mengetahui atau di luar dari kesadaran subyek.12 Unsur-unsur tersebut tidak dapat dicapai oleh subyek hanya

berdasarkan refleksi/perenungan terhadap keadaan mentalnya. Para eksternalis menyangkal bahwa seseorang dapat memperoleh justifikasi dengan memberikan dasar yang tepat terhadap suatu kepercayaan. Sebaliknya justifikasi atau jaminan adalah sesuatu yang terjadi kepada subyek yang mengetahui. Seorang eksternalis dapat saja berpandangan bahwa di antara unsur-unsur yang membenarkan suatu kepercayaan adalah suatu proses kausal yang menyebabkan kepercayaan tersebut dibentuk meskipun proses sebab akibat ini sepenuhnya berada di luar kesadaran sang subyek. Sebagai contoh:

Sally’s belief that a red object is in the room is justified for her by

factors like these: the lighting was good, the object itself is what caused

11Ibid. 74.

12Laurence BonJour, “Internalism and Externalism” dalam The Oxford Handbook

(5)

her to believe it is there, her belief was formed by reliable methods (say by her sensory organs and not by consulting a palm reader to tell her what was in the room), etc.13

Menurut eksternalis, subyek yang mengetahui, Sally, tidak perlu memiliki akses kepada atau kesadaran terhadap faktor-faktor yang menjustifikasi kepercayaan tersebut. Dia tidak perlu sadar akan atau bahkan dapat menyadari akan adanya pencahayaan, apa yang menyebabkan kepercayaannya, atau metode apa yang ia gunakan untuk membentuk kepercayaan tersebut.

Karena perbedaan konsep ini maka beberapa filsuf yang berada di dalam kelompok eksternalis14 tidak lagi menggunakan istilah justifikasi

(justification) karena merasa bahwa istilah tersebut terlalu berkonotasi

internalis dan mencari istilah baru untuk menggantikannya.15 Alvin

Plantinga, misalnya, menggunakan istilah jaminan (warrant) untuk

menunjuk kepada unsur yang menjadikan kepercayaan yang benar sebagai pengetahuan.

Perdebatan Antara Koherentisme dan Fondasionalisme

Jika debat antara internalisme dan koherentisme adalah perdebatan mengenai hakikat pengetahuan maka perdebatan antara koherentisme dan fondasionalisme adalah perdebatan mengenai hakikat justifikasi. Koherentisme dan fondasionalisme merupakan teori yang bersifat normatif mengenai bagaimana struktur noetik kita harus ditata sehingga kepercayaan-kepercayaan di dalam susunan tersebut dijustifikasi bagi

orang yang memiliki susunan tersebut.16 Koherentisme dan

13Contoh ini diambil dari Moreland dan Craig, Philosophical Foundations 78 [penegasan oleh penulis buku].

14Filsuf dalam kelompok eksternalis antara lain: Alvin Goldman, David. M. Armstrong, Fred Dretske, Ernest Sosa, William Alston, dan Alvin Plantinga, (Sudarminta, Epistemologi Dasar 154).

15Plantinga berkata, “Justification is at bottom and originally a deontological

(6)

fondasionalisme berbeda pendapat mengenai bagaimana kepercayaan-kepercayaan seseorang dijustifikasi yaitu mengenai hakikat justifikasi. Fondasionalisme adalah suatu pandangan bahwa beberapa kepercayaan kita dianut secara mendasar yaitu tidak berdasarkan topangan atau dukungan dari kepercayaan lain. Kepercayaan mendasar ini (basic belief) dapat (paling tidak secara prinsip) dianut secara rasional atau dengan jaminan.17 Kalangan fondasionalis membagi semua kepercayaan ke dalam

dua kategori: kepercayaan mendasar (basic belief) dan kepercayaan tidak mendasar (nonbasic belief). Kepercayaan mendasar adalah kepercayaan yang tidak dijustifikasi oleh atau berdasarkan kepercayaan-kepercayaan lain tetapi dijustifikasi secara langsung. Suatu kepercayaan-kepercayaan disebut kepercayaan mendasar jika dan hanya jika ia dijustifikasi tanpa menerima segala macam justifikasinya dari dari kepercayaan-kepercayaan lain. Kepercayaan mendasar berasal secara langsung dari pengalaman atau hasil nalar rasio yang terbukti dengan sendirinya seperti kebenaran-kebenaran matematis, logika, kepercayaan dari indra, dan metafisika. Mereka berfungsi sebagai fondasi bagi kepercayaan-kepercayaan lain yang tidak mendasar dan juga menyediakan justifikasi atau jaminan kepada semua kepercayaan yang tidak mendasar. Menggunakan metafora bangunan, kepercayaan mendasar adalah fondasi yang menopang struktur bangunan di atasnya.

Kepercayaan tidak mendasar adalah kepercayaan yang dijustifikasi oleh kepercayaan lain. Semua kepercayaan yang tidak mendasar dijustifikasi secara tidak langsung melalui relasi yang mereka miliki dengan kepercayaan mendasar. Ada semacam relasi antara kepercayaan mendasar, sebagai titik awal epistemologis, dan semua kepercayaan yang berdasar pada mereka. Relasi ini disebut sebagai relasi yang mendasarkan

(basing relation). Relasi ini “specifies how the epistemic merit of our basic

beliefs is to be transferred to our nonbasic beliefs.”18 Relasi ini bersifat

asimetris dan irefleksif.19 Asimetris berarti kepercayaan mendasar harus

menjadi dasar bagi kepercayaan yang tidak mendasar sementara kepercayaan tidak mendasar tidak dapat menjadi dasar bagi kepercayaan yang mendasar. Irefleksif berarti tidak ada kepercayaan yang berdasarkan dirinya sendiri. Bahkan suatu kepercayaan yang terbukti dengan sendirinya

(contohnya, S menerima beberapa keyakinan dengan berlandaskan pada keyakinan-keyakinan yang lain; ibid. 110).

17Anderson, Paradox 164.

18W. Jay Wood, Epistemology: Becoming Intellectually Virtuous (Downers Grove: InterVarsity, 1998) 84.

(7)

“is not based on itself, even though it is justified immediately; rather it is grounded in its experienced luster or obviousness, in the felt, unavoidable

inclination to believe it, or in some other way.”20 Lagipula relasi yang

mendasarkan juga melibatkan kepastian yang bersifat deduktif dan induktif yang berarti kepercayaan yang tidak mendasar dapat disimpulkan dari kepercayaan mendasar melalui penalaran deduksi dan induksi.21 Dalam

hal ini, kepercayaan yang tidak mendasar mendapatkan justifikasinya dari kepercayaan lain seperti kepercayaan mendasar. Justifikasinya ditransfer dari kepercayaan mendasar kepada kepercayaan yang tidak mendasar melalui proses penalaran deduksi atau induksi.22 Fondasionalisme juga

memiliki satu ciri yang penting yakni penolakannya terhadap penalaran sirkular (circular reasoning). Bagi fondasionalisme suatu kepercayaan tidak dapat dijustifikasi atau dijamin hanya berdasarkan transfer justifikasi

atau jaminan dari suatu kepercayaan kepada kepercayaan lain.23

Kepercayaan tersebut harus mendapatkan jaminan yang ditransfer dari kepercayaan lain yang sudah memiliki jaminan.

Pada sisi lain, koherentisme menolak ide bahwa terdapat kepercayaan-kepercayaan yang rasional secara epistemologis namun justifikasi mereka tidak berdasar kepada kepercayaan-kepercayaan lain. Mereka berpendapat bahwa hanya satu hal yang dapat membenarkan suatu kepercayaan yakni kepercayaan yang lain. Suatu kepercayaan bisa mendapatkan justifikasi atau jaminan hanya karena relasinya dengan kepercayaan-kepercayaan lain dan pada akhirnya kepada keseluruhan koherensi dari struktur noetik seseorang. Esensi dari koherentisme “lies in the fact that there are no asymmetries between basic and nonbasic

beliefs.”24 Koherentisme percaya bahwa semua kepercayaan adalah sejajar

satu dengan yang lain dan tidak ada kepercayaan mendasar dan kepercayaan bukan mendasar. Sumber justifikasi yang mendasar dan

satu-20Ibid.

21Penalaran deduksi berarti proses penarikan kesimpulan dari premis-premis dimana tercapai suatu kesimpulan yang pasti betul dengan aturan-aturan logika. Sedangkan penalaran induksi adalah penalaran yang berangkat dari suatu bagian ke suatu keseluruhan, dari contoh-contoh khusus sesuatu menuju suatu pernyataan umum tentangnya (Lorens Bagus, Kamus Filsafat [Jakarta: Gramedia, 2002] 149 dan 341).

22Para fondasionalis moderat berpendapat bahwa relasi yang mendasarkan bukanlah hanya relasi deduktif dan induktif semata. Karena sebenarnya terdapat banyak relasi antara keyakinan-keyakinan yang mendasar dan yang tidak mendasar seperti konsep pengambilan hipotesis berdasar fakta-fakta yang ada (concurrence) dari Roderick Chisholm (Wood, Epistemology 93, 106).

23Anderson, Paradox in 165.

(8)

satunya adalah koherensi itu sendiri sehingga suatu kandidat kepercayaan yang baru (new belief candidate) dijustifikasi jika ia koheren dengan kepercayaan lain di dalam struktur noetik seseorang. Sebab itu semua kepercayaan membentuk sebuah jaringan atau jaringan kerja yang luas di mana semua kepercayaan tersebut saling terkait satu dengan yang lain.

Namun apakah koherensi itu sendiri? Di sini para koherentis memberikan jawaban yang berbeda-beda. Kebanyakan koherentis percaya bahwa koherensi itu berarti konsistensi logis atau bebas dari kontradiksi sehingga suatu kumpulan kepercayaan disebut koheren jika ia bebas dari kontradiksi. Akan tetapi para koherentis yang lain menganggap bahwa konsistensi logis itu saja tidaklah cukup. Beberapa koherentis menambahkan kondisi-kondisi lain yang harus dimiliki sekumpulan kepercayaan untuk dapat disebut koheren. Sementara beberapa koherentis yang lain menambahkan ikatan implikasi logis selain konsistensi sehingga setiap anggota dari sekumpulan kepercayaan dapat disimpulkan secara deduktif dari anggota-anggota lain dari kumpulan tersebut. Beberapa koherentis menganggap kemampuan sebuah kesimpulan untuk menjelaskan semua data yang terjangkau (explanatory power) sebagai kandungan dari koherensi.25 Koherensi sebuah kepercayaan bergantung

kepada bagaimana baiknya ia menjelaskan suatu kumpulan kepercayaan atau bagaimana ia sendiri dijelaskan oleh sekumpulan kepercayaan tersebut.

KRITIK ALVIN PLANTINGA TERHADAP EPISTEMOLOGI KONTEMPORER

Buku Plantinga yang pertama di dalam seri jaminan, Warrant: The

Current Debate, pada dasarnya adalah sebuah kritik terhadap teori

pengetahuan kontemporer yaitu internalisme, koherentisme, dan reliabilisme.26 Di dalam buku ini, Plantinga menunjukkan bahwa teori

pengetahuan kontemporer tidak berhasil memberikan penjelasan yang

25Wood, Epistemology 117.

(9)

memadai tentang jaminan dan, dengan demikian, membuka jalan bagi penjelasannya yang bersifat eksternalis tentang fungsi yang semestinya dari daya kognitif manusia sebagai penjelasan tentang jaminan.

Plantinga, pertama-tama, mengeritik konsep epistemologi dari “dekan” para epistemologis kontemporer yaitu Roderick Chisholm. Konsep Chisholm tentang epistemologi bersifat internalis dan disebut, oleh Plantinga, sebagai internalisme Chisholmian. Internalisme Chisholmian merupakan bagian dari tradisi internalisme yang diturunkan dari Rene Descartes dan John Locke. Bagi mereka pertanyaan mengenai kewajiban dan tugas epistemik merupakan perhatian utama epistemologi. Di dalam tradisi ini jaminan (atau di dalam pemahaman tradisi ini: justifikasi) dikaitkan dengan pemenuhan tanggung jawab epistemik atau kewajiban noetik.27 Internalisme Chishomian sendiri dapat didefinisikan sebagai

suatu pandangan bahwa “justification is the keeping of an epistemic duty to believe only those things that are reasonable, only those things for which

one has sufficient reason to believe that they are true.”28 Menurut

Plantinga, Chisholm berpandangan bahwa jaminan atau status epistemik yang positif (epistemic positive status; istilah yang digunakan oleh Chisholm untuk jaminan) berkaitan erat dengan justifikasi epistemik deontologis, suatu kondisi di mana seseorang telah memenuhi kewajiban-kewajiban atau tugas-tugas epistemiknya.29 Inti dari sistem pemikiran ini

adalah suatu gagasan bahwa apakah seseorang memiliki pengetahuan atau tidak bergantung sepenuhnya kepada dia dan berada di dalam kontrol dia. Demikian juga dengan jaminan dari kepercayaan seseorang sepenuhnya bergantung dan berada dalam kontrol orang tersebut. Ia hanya perlu melaksanakan tugasnya untuk memperoleh pengetahuan atau jaminan. Sedangkan apakah ia melaksanakan tugas epistemiknya bergantung kepada orang tersebut.

Keberatan Plantinga yang terutama kepada internalisme Chisholmian adalah: di dalam kasus-kasus di mana seseorang tidak sadar terhadap malafungsi epistemik yang ia punyai, ia dapat melakukan kewajiban epistemiknya berkaitan dengan suatu kepercayaan tetapi kepercayaan tersebut gagal untuk mendapat jaminan dan oleh sebab itu tidak dapat

27Plantinga, Warrant 31. Bagi Plantinga, Descartes dan Locke adalah “the

fountainheads of Western theory of knowledge,” “the twin towers of Western epistemology,” dan juga “the fountainheads of the deontological tradition with respect to warrant and hence also the fountainheads of the internalist tradition with respect to it” (ibid. 11, 67 [penegasan dari Plantinga]).

(10)

dianggap sebagai pengetahuan. Kepercayaan tersebut tidak mendapat jaminan karena disfungsi kognitif. Plantinga memberikan contoh fiktif untuk menunjukkan mengapa kepercayaan tersebut kurang jaminan. Ia menceritakan kisah Paul, seseorang yang, entah karena cacat otak atau karena setan Cartesian yang usil,30 ketika melihat sesuatu ia membentuk

suatu kepercayaan yang berbeda dengan apa yang ia lihat dan alami. Plantinga menjelaskan:

When Paul is aurally appeared to in the church-bell fashion, therefore, he finds himself with a powerful, nearly ineluctable tendency or impulse to believe that there is something that is appearing to him in that fashion, and that thing is orange.31

Di dalam kasus ini, Paul melaksanakan kewajiban epistemiknya dengan baik berkaitan dengan kepercayaannya. Ia selalu berupaya untuk memenuhi tanggung jawab epistemiknya dan hal tersebut merupakan tekad di dalam hidupnya. Namun demikian pemenuhan tanggung jawab epistemiknya ternyata tidak memberikan kepada kepercayaan dia jaminan. Pada dasarnya penyebabnya adalah daya-daya kognitifnya mengalami

malafungsi dan cacat. Oleh karena itu, “Chisholm’s powerful and

powerfully developed versions of deontological internalism—classical

Chisholmian internalism—must be rejected.”32 Lebih lanjut Plantinga

menjelaskan: “My doing my duty in accepting a proposition (or the proposition’s being apt, even maximally apt, for epistemic duty fulfillment, for me) isn’t anywhere nearly sufficient for that proposition to have warrant or positive epistemic status for me.”33

Kedua, Plantinga juga melontarkan kritikannya kepada koherentisme. Menurutnya, koherentisme sedang bangkit kembali setelah mengalami kemerosotan selama kurang lebih lima puluh tahun dari kuartal kedua sampai kuartal ketiga abad ke-20. Pandangan ini memiliki pendukung-pendukung antara lain: Keith Lehrer, Laurence BonJour, dan Nicholas

30Rene Descartes, di dalam pencariannya terhadap fondasi pengetahuan, sempat menggunakan metode keraguan terhadap realitas dunia luar kita. Ia meragukan apakah dunia luar bukan berasal dari ilusi setan yang usil sehingga kita merasa bahwa dunia luar itu adalah real padahal sebenarnya adalah tipuan virtual dari setan (lih. F. Budi Hardiman, Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche [Jakarta: Gramedia, 2004) 38).

31Plantinga, Warrant 42. Plantinga memberikan beberapa contoh lain juga dalam bukunya, lih. ibid. 44.

(11)

Rescher. Motivasi orang-orang yang mendukung koherentisme ini sebagian serupa dengan motivasi John Locke kepada internalisme deontologis yaitu “the thought that even if there is no guarantee that we will or can reach the truth, it is at least within our power to bring it about that our beliefs are coherent.”34

Koherentisme timbul dari keyakinan bahwa tidak ada suatu kepercayaan yang merupakan pulau yang terpencil dan tidak terkait dengan kepercayaan lain. Kepercayaan-kepercayaan hanya dapat menikmati jaminan karena keterkaitan mereka dengan kepercayaan-kepercayaan lain dan pada akhirnya sampai kepada bagaimana kepercayaan tersebut selaras atau koheren dengan seluruh kepercayaan di dalam struktur noetik seseorang.35 Menurut pandangan ini, sebuah

kepercayaan B adalah mendasar (properly basic; suatu kondisi di mana suatu kepercayaan diterima dan mendapat jaminan tanpa dasar bukti dari kepercayaan lain) bagi seorang S jika dan hanya jika B koheren dengan kepercayaan-kepercayaan lain di dalam struktur noetik S. Jika sebuah proposisi B koheren dengan noetik struktur seseorang maka B terjamin bagi orang tersebut.36 Jaminan atau status epistemik yang positif dari suatu

kepercayaan ditentukan semata-mata oleh relasi yang dimiliki oleh kepercayaan tersebut dengan kepercayaan-kepercayaan yang lain. Sebab itu, koherentisme berpandangan bahwa sumber utama jaminan adalah koherensi itu sendiri dan koherensi merupakan satu-satunya sumber jaminan di dalam struktur noetik seseorang. Akibatnya sebuah kepercayaan tidak mendapatkan jaminan karena relasi dengan pengalaman terhadap dunia eksternal. Fakta bahwa saya melihat sebuah benda merah tidak menghasilkan jaminan bagi kepercayaan saya bahwa saya melihat sesuatu yang merah atau bahkan kepercayaan saya bahwa nampak kepada saya sesuatu yang merah. Koherensi itu sendiri sebagai faktor penjustifikasi harus dapat diakses oleh subyek yang mengetahui. Seseorang dapat memeriksa apakah sistem kepercayaannya koheren atau tidak atau apakah suatu kepercayaan koheren dengan kepercayaan-kepercayaannya yang lain. Seseorang dapat mengontrol koherensi dari kepercayaan-kepercayaannya. Dari pemaparan ini jelas terlihat bahwa koherentisme masih berada di dalam kubu internalisme dan ia merupakan varian yang lain dari internalisme pascaklasikal Chisholmian di mana semua

(12)

kepercayaan berada pada jajaran yang setara dan semua kepercayaan adalah kepercayaan mendasar.37

Bagi Plantinga koherentisme jelas salah. Alasan yang terutama adalah ia mengalami cacat yang sama juga dialami oleh teori-teori justifikasi yang berdasar internalisme yakni ia tidak mampu mengatasi contoh-contoh kasus di mana terjadi malafungsi kognitif. Koherentisme juga memutus koneksi antara sistem kepercayaan (belief system) dengan pengalaman terhadap dunia ekternal. Hal-hal tersebut menjadikan koherentisme tidak perlu dan tidak cukup untuk jaminan.38 Untuk memperlihatkan ini ia

memberikan contoh-contoh seperti kasus Pendaki yang secara Epistemik Kaku. Ric adalah pendaki gunung yang berada di atas sebuah gunung Grand Tetons dan ia memiliki sekumpulan kepercayaan yang koheren mengenai kondisi sekeliling dia. Sayangnya, dia terkena pancaran radiasi kosmik berenergi kuat dan hal ini:

induces a cognitive malfunction; his beliefs become fixed, no longer responsive to changes in experience. No matter what his experience, his beliefs remain the same. At the cost of considerable effort his partner gets him down and, in a desperate last-ditch attempt at therapy, takes him to the opera in nearby Jackson, where the New York Metropolitan Opera on tour is performing La Triviata. Ric is appeared to in the same way as everyone else; he inundated by wave after wave of golden sound. Sadly enough, the effort at therapy fails; Ric beliefs remain fixed and wholly unresponsive to his experience; . . . . Furthermore, since he believes the very same things he believed when seated on the ledge, his beliefs are coherent. But surely they have little or no warrant for him. The reason is cognitive malfunction; his beliefs are not appropriately responsive to his experience.39

Dalam kasus ini, noetik struktur Ric sepenuhnya koheren dan tidak kurang koheren dari waktu ketika dia di gunung Grand Tetons. Namun sekarang kepercayaan-kepercayaan dia tidak memiliki jaminan sama sekali. Jelaslah bahwa koherensi tidak cukup untuk jaminan.

37Internalisme pascaklasikal Chisholmian merupakan suatu pandangan bahwa yang memberikan jaminan kepada suatu kepercayaan adalah suatu relasi yang tepat antara kepercayaan dan bukti-dasar (evidence-base). Relasi yang tepat ini bagi kalangan koherentisme adalah relasi koherensi (Plantinga, Warrant 51, 55, 66-67).

(13)

Plantinga juga berupaya untuk menunjukkan bahwa koherensi tidak perlu untuk jaminan. Untuk itu, ia membuat beberapa skenario di mana seseorang dengan noetik struktur yang koheren tetapi tiba-tiba mempercayai sesuatu yang bertentangan dengan sistem kepercayaannya. Sebagai contoh, seorang epistemologis Oxford yang terkenal berhasil meyakinkan salah seorang mahasiswanya bahwa tidak ada seorangpun yang dapat melihat hal-hal yang berwarna merah. Mahasiswa tersebut kemudian berjalan di pinggir jalan dan dikejutkan oleh sebuah bus dua tingkat berwarna merah yang bergerak ke sisi jalan di belakang dia. Ia berpaling dan melihat benda berwarna merah tetapi karena pengaruh epistemologis Oxford tersebut, penglihatan terhadap benda merah tidak koheren dengan struktur noetiknya dia. Akan tetapi pengalaman melihat benda merah jelas memiliki jaminan (jika tidak ia bisa tertabrak oleh bus merah tersebut). Dari skenario ini dapat disimpulkan bahwa kepercayaan mahasiswa tersebut akan bus merah tidak koheren dengan struktur noetiknya namun kepercayaan tersebut memiliki jaminan. Sebab itu koherensi tidak perlu untuk jaminan.

Masalah dengan internalisme Chisholm dan koherentisme adalah penerimaan mereka terhadap pendekatan epistemologis yang bersifat deontologis. Dengan cara demikian, kedua teori epistemologi tersebut menghadapi problem yang dihadapi oleh semua epistemologi deontologis yaitu ketidakmampuannya untuk menangani masalah malafungsi epistemik yaitu disfungsi daya kognitif subyek.40

Terakhir, Plantinga mengarahkan kritiknya kepada epistemologi externalisme khususnya reliabilisme. Ia mengevaluasi teori-teori dari William Alston, Fred Dretske, dan Alvin Godlman yang masing-masing mengajukan sebuah versi realiabilisme. Ia menjelaskan bahwa reliabilisme merupakan pendatang baru di dunia epistemologi kontemporer tetapi akar-akarnya dapat ditelusuri di dalam tulisan-tulisan Aristoteles, Thomas Aquinas, dan Thomas Reid. Reliabilisme sendiri adalah sebuah pandangan yang menyatakan bahwa sebuah kepercayaan memiliki jaminan jika ia dihasilkan oleh mekanisme/daya/alat-alat penghasil kepercayaan yang

dapat diandalkan.41 Para reliabilis berbeda pendapat mengenai

keterandalan (reliability) macam apa yang dibutuhkan. Plantinga percaya

40Ibid. 182, 212; Beilby, Epistemology 79; Anderson, Paradox 167.

41Ibid. 208. Richard Foley mengatakan bahwa ide dasar para reliabilis adalah “in

(14)

bahwa reliabilisme sudah mengarah ke arah yang tepat dengan cara menghindari pendekatan terhadap epistemologi yang bersifat deontologis dan internalis. Reliabilisme menerima pandangan akal sehat kita bahwa kepercayaan-kepercayaan hasil memori kita serta kepercayaan hasil persepsi indrawi adalah mendasar dan dapat dijamin.

Namun reliabilisme mengabaikan suatu elemen yang sangat krusial di dalam merumuskan suatu konsep yang tepat tentang jaminan. Plantinga menjelaskannya: “it suffers from deeply debilitating problems . . . which

center, again, on the notion of proper function.”42 Problem bagi

reliabilisme adalah problem generalitas. Problem ini muncul dari fakta bahwa jaminan memiliki tingkatan atau derajat. Beberapa kepercayaan lebih terjamin dibandingkan dengan kepercayaan-kepercayaan yang lain bahkan di antara kepercayaan-kepercayaan yang berasal dari sumber yang sama (seperti kepercayaan-kepercayaan yang berasal dari memori; kepercayaan mengenai sarapan pagi saya hari ini lebih terjamin dibandingkan dengan kepercayaan saya mengenai masa kecil saya). Apa yang menentukan derajat jaminan adalah derajat keterandalan dari proses kognitif yang menghasilkan kepercayaan tersebut. Problem muncul ketika kita mencoba untuk menjelaskan proses penghasil kepercayaan ini dari segi proses atau daya kognitif yang mana yang bertanggung jawab untuk menghasilkan atau menopang kepercayaan tersebut. Plantinga menjelaskan:

But then the relevant process type, the one that determines the degree of warrant of the belief in question, must be a very narrow type: it must be such that all the beliefs in its output have the same degree of

warrant. (It couldn’t be a broad type like vision, say, because the

outputs of processes exemplifying this type will have many different degrees of warrant: . . . .) So suppose we take relevant types narrowly

enough so that all beliefs in the output of a relevant type have the same

degree of justification or warrant: then first, it will be extremely

difficult to specify any relevant type. Indeed, if . . . the relevant type

must be specified in psychological or physiological terms, we won’t able to specify any such type at all; our knowledge is much too limited for that.43

Namun problem reliabilisme yang lebih serius adalah problem keterandalan yang kebetulan. Plantinga memberikan serangkaian contoh

42Ibid. 212.

(15)

untuk menjelaskan problem ini namun inti dari rangkaian contoh tersebut adalah:

Suppose that S is suffering (unbeknown to him or anyone else) from a rare type of brain lesion. The pathology of this lesion is such that it induces a number of belief-forming processes in the cognitive apparatus of S. While most of the beliefs thus formed are absurdly false, one of these processes results (by ironic coincidence) in the belief that S suffers form the brain lesion. Now, this process (we may stipulate) is a reliable one: the resulting beliefs are predominantly true. Moreover, a causal connection (often included in reliabilist accounts of warrant) is also present: the belief that S suffer from a brain lesion is caused by S’s suffering from a brain lesion. Nonetheless, S’s true belief hardly amounts to knowledge.44

Alasannya adalah keterandalan proses pembentukan kepercayaan ini terjadi secara kebetulan atau proses tersebut secara kebetulan andal. Mekanisme pembentukan kepercayaan orang tersebut andal karena kebetulan dan hal ini terjadi karena malafungsi kognitif orang tersebut. Dalam kasus ini tidak ada jaminan meskipun ada keterandalan. Kesimpulannya jelas: keterandalan mungkin perlu untuk jaminan namun ia jauh dari cukup untuk jaminan.45 Kesimpulan yang lain dari semua kritik

Plantinga terhadap internalisme, koherentisme, dan reliabilisme adalah semua teori tersebut tidak melihat dan mengabaikan perlunya fungsi yang semestinya (proper function) dari daya kognitif kita. Kritik-kritik Plantinga memperlihatkan bahwa fungsi yang semestinya dari mekanisme atau daya penghasil kepercayaan kita adalah suatu unsur yang perlu di dalam penjelasan yang memadai tentang jaminan dan penjelasan tentang hal tersebut terdapat pada bagian berikut ini.

44Anderson, Paradox 168. Plantinga menyebut tipe contoh-contoh kontra ini sebagai “the Case of Epistemically Serendipitous Lesion” dan contoh-contoh tersebut muncul dalam kritiknya terhadap reliabilisme Alston, Dretske, dan Goldman (Plantinga, Warrant 192, 195, 199, 207).

(16)

TEORI PENGETAHUAN PLANTINGA: JAMINAN DAN FUNGSI YANG SEMESTINYA

Sebagaimana yang telah kita lihat di atas, Plantinga menolak konsep justifikasi dan menganggapnya tidak memadai dan tidak perlu bagi jaminan (sebuah entitas yang menjadikan kepercayaan yang benar sebagai pengetahuan). Lebih lanjut, ia melihat pada dasarnya dan asalinya konsep justifikasi ini merupakan konsep deontologis dan memiliki relasi yang sangat dekat dengan internalisme. Sebab itu, ia memandang perlu unsur yang lain untuk mengubah kepercayaan yang benar menjadi pengetahuan dan itu adalah jaminan bukan justifikasi.46 Tapi apa itu jaminan (warrant)?

Jaminan adalah “that, whatever precisely it is, which together with truth

makes the difference between knowledge and mere true belief.”47 Jaminan

merupakan ciri/sifat yang normatif: menyebut sebuah kepercayaan sebagai terjamin berarti menilai kepercayaan tersebut secara positif. Mengatakan bahwa suatu kepercayaan terjamin bagi seseorang adalah menilai kepercayaan tersebut atau orang yang menganutnya (atau keduanya) secara positif; orang yang menganut kepercayaan tersebut di dalam situasi sekitarnya adalah benar, atau dapat diterima, atau sesuai dengan standar.48

Jaminan juga memiliki derajat; jaminan dengan derajat yang cukup akan mengubah kepercayaan yang benar menjadi pengetahuan. Di dalam hal ini jaminan berdekatan erat dengan pengetahuan dan bukan dengan subyek yang mengetahui. Jaminan adalah ciri dari pengetahuan bukan ciri dari subyek di mana istilah justifikasi lebih tepat untuknya. Sebab itu untuk seseorang S dan suatu kepercayaan B, mengatakan suatu kepercayaan B terjamin adalah sama dengan mengatakan “kepercayaan B terjamin bagi seseorang S” sementara mengatakan suatu kepercayaan terjustifikasi sama dengan mengatakan bahwa “seseorang S dijustifikasi di dalam menganut kepercayaan B.”49

Plantinga kemudian memberikan penjelasannya sendiri mengenai jaminan. Menurutnya, suatu kepercayaan B terjamin hanya dan hanya jika:

46Dalam artikel-artikel awalnya, ia menggunakan istilah “status epistemik yang positif,” sebuah istilah yang dipinjam dari Roderick Chisholm namun kemudian ia lebih memilih menggunakan istilah “jaminan” untuk elemen itu (Plantinga, Warrant 3).

47Ibid. Menurut Trenton Merrick (berdasarkan percakapannya dengan Plantinga), definisi ini memuat kesalahan cetak. Dan definisi yang seharusnya adalah “that, whatever precisely it is, which makes difference between knowledge and true belief”

(lih. Trenton Merrick, “Warrant Entail Truth” Philosophy and Phenomenological Research 55/4 [December 1995] 841, catatan no. 1). Saya lebih memilih versi revisi ini.

48Ibid.

(17)

(1) the cognitive faculties involved in the production of B are functioning properly (and this is to include the relevant defeaters system as well as those system, if any, that provide propositional inputs to the system in question); (2) your cognitive environment is sufficiently similar to the one for which your cognitive faculties are designed; (3) the triple of the design plan governing the production of the belief in question involves, as purpose or function, the production of true beliefs (and the same goes for elements of the design plan governing the production of input beliefs to the system in question); and (4) the design plan is good one: that is, there is a high statistical or objective probability that a belief produced in accordance with the relevant segment of the design plan in that sort of environment is true. Under these conditions, furthermore, the degree of warrant is given by some monotonically increasing function of the strength of S’s belief that B. This account of warrant, therefore, depends essentially upon the notion of proper function.50

Kita akan melihat kondisi tersebut satu persatu.

Fungsi Yang Semestinya dan Rancang Desain (Design Plan)

Teori pengetahuan Plantinga mengharuskan daya-daya kognitif atau mekanisme penghasil kepercayaan berfungsi dengan semestinya. Konsep fungsi yang semestinya ini sendiri berkaitan erat dengan konsep rancang desain. Menurutnya, “[a] thing’s design plan is the way the thing in question is ‘supposed’ to work, the way in which it works when it is functioning as it ought to, when there is nothing wrong with it, when it is

not damaged or broken or nonfunctional.”51 Bagi Plantinga manusia dan

organ-organnya dikonstruksi sedemikian rupa sehingga ada cara di mana mereka harusnya bekerja dan cara kerja yang benar ketika mereka bekerja dengan benar. Ini adalah cara kerja di mana mereka berfungsi sebagaimana mestinya dan tidak ada malafungsi. Cara kerja seperti ini diberikan oleh rancang desainnya.

Fungsi yang semestinya dan rancang desain juga terkait dengan konsep tujuan. Berbagai macam oragan dan sistem di dalam tubuh manusia (termasuk daya/kemampuan kognitif kita) memiliki fungsi dan tujuan.

50Alvin Plantinga, Warrant and Proper Function (Oxford: Oxford University Press, 1993) 194.

(18)

Kemampuan kognitif kita dapat bekerja dengan baik atau buruk yakni mereka dapat berfungsi sebagaimana mestinya atau mengalami malafungsi.52 Mereka juga berfungsi dengan cara tertentu ketika mereka

berfungsi dengan semestinya dan bekerja dengan cara tertentu untuk memenuhi tujuan mereka. Tujuan dari “our cognitive faculties (overall) is to supply us with reliable information: about our environment, about the

past, about the thoughts and feeling of others, and so on.”53 Jika demikian

halnya maka kemampuan kognitif kita akan berfungsi sebagaimana mestinya jika mereka bekerja sesuai dengan rancang desainnya yaitu untuk menghasilkan kepercayaan yang benar. Apa yang dianggap sebagai fungsi yang semestinya ditentukan secara obyektif oleh rancang desainnya. Kita dapat menyimpulkan bahwa kemampuan-kemampuan kognitif berfungsi sebagaimana mestinya jika mereka bekerja sesuai dengan rancangan mereka.

Konsep Plantinga tentang rancangan desain tidak harus memprasuposisikan perancang yang bersifat personal, sebagai contoh, Allah. Adalah mungkin bahwa evolusi (tanpa diarahkan oleh Allah atau siapapun) entah bagaimana telah memperlengkapi kita dengan rancang

desain kita.54 Konsep rancang bangun dapat diterapkan ke dalam

metafisika teism dan juga metafisika naturalistik (metafisika tanpa Allah). Akan tetapi belakangan di bab 11 bukunya Warrant and Proper Function, ia berpendapat bahwa konsep fungsi yang semestinya paling baik berkembangnya di dalam konteks teistik sementara penjelasan yang bersifat naturalistik tentang jaminan cacat dan tidak dapat menjelaskan konsep jaminan dengan memuaskan.55

52Menurut Plantinga, daya/kemampuan kognitif adalah apa saja yang menghasilkan kepercayaan-kepercayaan di dalam diri kita, seperti ingatan, rasio, persepsi, introspeksi, induksi, simpati, kesaksian, dan kemampuan kognitif yang lebih kontroversial lagi:

sensus divinitatis (daya kognitif untuk mengetahui yang ilahi). Masing-masing dari kemampuan kognitif itu memampukan kita untuk membentuk berbagai macam keyakinan-keyakinan (lih. Alvin Plantinga, Warranted Christian Belief [(Oxford: Oxford University Press, 2000] 146-148). Kemampuan-kemampuan kognitif kita akan berfungsi tepat jika mereka terbebas baik dari disfungsi fisik (yang disebabkan oleh cacat pada otak atau tumor, ketidakseimbangan neuro-kimiawi, atau zat yang mempengaruhi perubahan pemikiran) dan disfungsi psikologis (seperti iri hati, nafsu birahi, sifat suka menentang, keinginan untuk populer, atau khayalan); “Positive Epistemic Status dan Proper Function,” Philosophical Perspective 2 (1988) 32; Beilby, Epistemology 83; Plantinga, Warranted Christian Belief 151.

53Plantinga, Warrant and Proper Function 14. 54Ibid. 13, 21.

(19)

Fungsi Yang Semestinya dan Lingkungan

Menurut Plantinga komponen lain dari jaminan adalah kemampuan-kemampuan kognitif perlu bekerja di dalam suatu lingkungan

(environment) yang cocok untuk mereka dapat berfungsi sebagaimana

mestinya. Kemampuan-kemampuan kognitif akan mencapai tujuan mereka untuk menghasilkan kepercayaan-kepercayaan yang benar hanya jika mereka berfungsi di dalam sebuah lingkungan di mana mereka telah didesain (oleh Allah atau evolusi) untuk dapat berfungsi.56 Jika

kemampuan kognitif tidak berada dalam kondisi lingkungan yang tepat maka kepercayaan yang dihasilkan tidak memiliki jaminan. Sebab itu baginya suatu kepercayaan memiliki jaminan hanya jika ia dihasilkan di dalam lingkungan kognitif yang secara epistemologis tepat dan benar.

Plantinga membedakan antara lingkungan-luas (maxi-environment) dan lingkungan-kecil (mini-environment). Lingkungan-luas adalah kondisi lingkungan global atau luas yaitu lingkungan bumi yang kita tempati sekarang ini yang dirancang oleh Allah atau evolusi untuk kemampuan kognitif bekerja dengan baik. Lingkungan ini termasuk “the presence and properties of light and air, the presence of visible objects, of other objects detectable by our kind of cognitive system, of some objects not so detectable, of the regularities of nature, the existence of other people, and

so on.”57 Kemampuan kognitif kita dirancang oleh Allah atau evolusi

untuk berfungsi di dalam lingkungan seperti ini atau lingkungan yang serupa dengan lingkungan di bumi. Kemampuan kognitif kita tidak dirancang untuk suatu lingkungan-luas di mana, sebagai contoh, ada kegelapan yang terus konstan, atau tidak ada obyek-obyek yang dapat dibedakan, atau di mana segala sesuatu berada dalam perubahan yang terus menerus, atau tidak adanya keteraturan yang dapat kita amati. Di dalam lingkungan seperti itu kemampuan kognitif kita tidak akan berfungsi untuk menghasilkan kepercayaan yang benar kepada kita.

Lingkungan-kecil adalah lingkungan kognitif yang kurang global. Untuk segala penggunaan daya/kemampuan kognitif manusia, akan ada fakta-fakta tertentu (atau proposisi-proposisi) yang melibatkan semua situasi yang relevan secara epistemik di mana kepercayaan tersebut dibentuk. Menurut Plantinga suatu kepercayaan B dihasilkan oleh suatu penggunaan daya kognitif E mendapat jaminan yang cukup untuk menjadi pengetahuan hanya jika lingkungan-kecil yang berkaitan dengan B dan E

56Plantinga, Warranted Christian Belief 155.

(20)

tepat dan cocok untuk E.58 Suatu lingkungan-kecil adalah tepat bagi suatu

pemakaian daya kognitif jika pemakaian tersebut dapat diandalkan untuk menghasilkan suatu kepercayaan yang benar di dalam lingkungan-kecil tersebut. Perbedaan antara lingkungan-luas dan lingkungan-kecil sangat penting bagi teori pengetahuan Plantinga karena meskpin lingkungan luas tepat dan cocok tetapi lingkungan-kecil bisa tidak tepat dan cocok. Di dalam luas yang tepat, mungkin sekali terdapat lingkungan-kecil untuk suatu penggunaan kemampuan kognitif tertentu yang menghasilkan suatu kepercayaan benar hanya karena kebetulan saja atau bahkan tidak menghasilkan kepercayaan sama sekali. Suatu kepercayaan yang benar di dalam lingkungan-kecil tersebut tidak memiliki cukup jaminan untuk menjadikannya sebagai pengetahuan. Contohnya adalah seseorang yang tidak tahu bahwa jam dinding di kantornya tidak berfungsi dan jarum jam tersebut menunjukkan angka 12. Kemudian orang tersebut membentuk kepercayaan bahwa sekarang jam 12 siang dan secara kebetulan pada saat itu memang tepat tengah hari. Dalam kasus ini, meskipun lingkungan luas mendukung seperti sinar matahari yang memberikan pencahayaan yang cukup, tidak ada gempa bumi pada saat itu, tetapi karena lingkungan-kecilnya tidak tepat dan menyesatkan (jam dinding tersebut rusak), maka kepercayaan tersebut meski benar tetapi tidak memiliki jaminan. Apa yang menjadikan lingkungan-kecil tersebut tidak tepat adalah keberadaan keabnormalan spesifik yang menyesatkan.59

Jaminan membutuhkan lingkungan-luas maupun lingkungan-kecil yang tepat dan pas agar penggunaan kemampuan/daya kognitif kita dapat bekerja sesusai dengan fungsinya.

Fungsi Yang Semestinya dan Produksi Kepercayaan-Kepercayaan Yang Benar

Jaminan memerlukan rancang bangun yang bertujuan menghasilkan kepercayaan-kepercayaan yang benar bukan tujuan-tujuan yang lain. Bagi Plantinga, tidak semua rancang desain daya-daya kognitif kita bertujuan untuk menghasilkan kepercayaan-kepercayaan yang benar. Ada rancang desain dari kemampuan kognitif yang ditujukan untuk menolong kita bertahan hidup, meredakan penderitaan kita, menolong kita setia, menolong kita memperoleh penerus, dan seterusnya.60 Bagian-bagian yang

berbeda dari rancang bangun kemampuan kognitif kita ditujukan untuk

58Plantinga, Warranted Christian Belief 159.

(21)

menghasilkan hasil akhir atau sasaran yang berbeda. Kepercayaan-kepercayaan dapat dihasilkan oleh kemampuan kognitif kita di mana segmen rancang bangunnya tidak dimaksudkan untuk menghasilkan kepercayaan-kepercayaan yang benar tetapi untuk menghasilkan hal-hal lain seperti untuk bertahan hidup, kemungkinan persahabatan, atau optimisme. Sebagai contoh seseorang yang terkena penyakit yang mematikan akan tetapi ia optimis bisa disembuhkan meskipun data-data medis tidak menjamin hal tersebut. Di sini mekanisme optimismenya bekerja melawan rancang bangun kemampuan kognitif untuk menghasilkan kebenaran. Di dalam kasus tersebut kepercayaan yang dihasilkan tidak memiliki jaminan dan bukan calon yang baik sebagai pengetahuan. Bagi Plantinga, suatu kepercayaan memiliki jaminan hanya jika bagian dari rancang bangun yang mengontrol produksi kepercayaan

tersebut bertujuan pada kebenaran. Ia mengatakan: “What confers

warrant is one’s cognitive faculties working properly, or working to the

design plan insofar as that segment of the design plan is aimed at producing

true beliefs.”61 Jaminan adalah konsep epistemik yang dikaitkan dengan

proses yang menghasilkan kebenaran.

Reliabilitas Kemampuan Kognitif dan Kondisi Tanpa Kepercayaan Yang

Mengalahkan Kepercayaan Subyek (No Defeater Condition)

Suatu kondisi yang penting ditambahkan oleh Plantinga ke dalam konsepnya tentang jaminan adalah jaminan harus menyertakan reliabilitas kemampuan kognitif dan kepercayaan harus dihasilkan secara reliabel. Ini merupakan batasan para reliabilis pada jaminan dan kebenaran penting yang terdapat di dalam konsep reliabilisme tentang jaminan. Unsur reliabilis ini tertanam di dalam ide Plantinga bahwa rancang desain haruslah rancang desain yang baik atau lebih tepatnya: “the objective probability of a belief’s being true, given that it is produced by cognitive faculties functioning in accord with the relevant module of the design plan,

is high.”62 Kemampuan-kemampuan kognitif yang telah dirancang untuk

memperlengkapi kita dengan kepercayaan-kepercayaan yang benar haruslah hanya menghasilkan hal-hal tersebut pada prakteknya. Jika rancang bangun adalah sebuah rancang bangun yang baik maka kemampuan kognitif yang bertujuan untuk menghasilkan kepercayaan yang benar di dalam lingkungan yang tepat akan menghasilkan secara reliabel kepercayaan yang benar di dalam lingkungan tersebut. Kemampuan

(22)

kognitif yang bertujuan menghasilkan kebenaran tetapi menghasilkan kepercayaan yang benar secara tidak reliable tidak akan dipandang telah cukup berfungsi sebagaimana semestinya, sebuah unsur yang yang diperlukan untuk jaminan. Sebab itu menurut syarat ini, suatu kepercayaan B—yang dihasilkan kemampuan kognitif yang bertujuan kepada kebenaran, berfungsi sebagaimana mestinya di dalam lingkungan yang tepat—hanya memiliki jaminan hanya jika probabilitas obyektif bahwa B benar di bawah kondisi-kondisi tersebut cukup tinggi.63

Bagi Plantinga, rancang desain juga melibatkan satu atau lebih sistem

defeater64 yang mengontrol bagaimana kepercayaan-kepercayaan akan

diterima atau direvisi di bawah terang kebenaran kepercayaan-kepercayaan lain.65 Sedangkan sistem defeater itu sendiri adalah: “a cognitive subsystem

that is designed to regulate modifications in person’s noetic structure given new experience and the acquisition of new beliefs which come with social

exposure, mental maturation, and education.”66 Secara umum sistem

defeater akan bekerja seperti ini: jika seseorang mendapat suatu

kepercayaan lain yang mengalahkan kepercayaan B dia maka harus ada semacam revisi di dalam struktur noetik orang tersebut. Di dalam beberapa kasus responsnya adalah tetap menganut kepercayaan B tetapi dengan derajat keteguhan dan keyakinan yang menurun (disebut dikalahkan sebagian). Di dalam kasus yang lain responsnya adalah menyangkal kepercayaan B dan menganut pandangan yang berlawanan dengan B tersebut atau tidak menganut baik B maupun lawannya (disebut dikalahkan secara komplit).67 Dan sebuah defeater untuk sebuah

kepercayaan B adalah kepercayaan lain D yang dianut seseorang hanya jika, berkaitan dengan struktur noetik orang tersebut, ia tidak dapat secara rasional menganut B terkait orang tersebut juga percaya D.68 Plantinga,

mengikuti John Pollock, membagi dua macam defeater yaitu rebutting

63Mark Capustin, “A Critical Appraisal of Alvin Plantinga on Justification and Warrant” (M.A Thesis; Manitoba: University of Manitoba, 2001) 29. Bisa juga diakses di: http://mspace.lib.umanitoba.ca/bitstream/1993/2739/1/MQ62703.pdf; diakses 10 Januari 2008.

64Penulis tidak akan menerjemahkan kata defeater di sini mengingat sulitnya mencari padanan katanya. Defeater berarti kepercayaan yang mengalahkan kepercayaan yang dianut oleh subyek yang mengetahui.

65Anderson, Paradox 170.

66Michael Czapkay Sudduth, “The Internalist Character and Evidentialist Implications of Plantingian Defeaters,” International Journal for Philosophy of Religion

45/3 (June 1999) 169. 67Ibid.

(23)

defeater dan undercutting defeater.69 Suatu rebutting defeater adalah

suatu kepercayaan yang inkonsisten dengan kepercayaan lain dan sebab itu memberikan alasan untuk berpendapat bahwa kepercayaan lain tersebut salah. Suatu undercutting defeater adalah suatu kepercayaan yang mengungkapkan bahwa dasar atau alasan-alasan yang menopang suatu kepercayaan adalah tidak cukup.

Sistem defeater itu sendiri bertujuan untuk menghasilkan kepercayaan-kepercayaan yang benar dan untuk menghindari kepercayaan-kepercayaan-kepercayaan-kepercayaan yang salah. Ia merupakan bagian dari subsistem kognitif manusia. Sebab itu kondisi fungsi yang semestinya bagi jaminan juga meluas kepada sistem

defeater seseorang yang berfungsi sebagaimana mestinya. Kepercayaan

seorang S terjamin jika dan hanya jika S rasional menganut B (sampai kepada derajat yang S kerjakan), dan S rasional menganut B (sampai kepada derajat yang S kerjakan) hanya jika bagian yang relevan dari sistem

defeater S berfungsi sebagaimana mestinya. Di dalam kasus di mana suatu

kepercayaan B harus direvisi berkaitan dengan kehadiran defeater

terhadap B di dalam struktur noetik seseorang namun tidak terjadi revisi terhadap B maka kondisi kognitif orang tersebut menjadi irasional dan B kurang mendapat jaminan. Suatu kepercayaan B terjamin bagi seseorang S hanya jika S tidak mempunyai defeater yang tidak dapat dikalahkan

(undefeated defeater). Ini yang disebut sebagai kondisi di mana tidak ada

kepercayaan lain yang mengalahkan kepercayaan orang tersebut (no

defeater condition) di dalam teori Plantinga tentang jaminan.70 Kondisi ini

terpenuhi bagi seseorang S yang memiliki kepercayaan B jika dan hanya jika S tidak percaya bahwa ada defeater yang tidak terkalahkan bagi B. Dengan kata lain, teori jaminan Plantinga membutuhkan kepercayaan baru bersifat koheren dengan kepercayaan-kepercayaan lain di dalam struktur noetik seseorang. Ini adalah pemahaman yang Plantinga dapatkan dari koherentisme.

Dari hal-hal di atas kita dapat mengatakan bahwa seseorang S yang memiliki kepercayaan B terjamin jika dan hanya jika kondisi-kondisi berikut ini terpenuhi:

69Lih. John Pollock, Contemporary Theories of Knowledge (Savage: Rowman & Littlefield, 1986) 37-39; Plantinga, Warranted Christian Belief 359; Plantinga, Warrant and Proper Function 41.

(24)

(1) kemampuan kognitif yang menghasilkan B berfungsi sebagaimana mestinya (kondisi berfungsi sebagaimana mestinya);

(2) lingkungan kognitif (lingkungan-luas dan lingkungan-kecil) di mana B dihasilkan cukup mirip dengan lingkungan di mana kemampuan kognitif S dirancang untuk bekerja (kondisi lingkungan);

(3) modul-modul rancang desain yang mengontrol pembuatan B adalah secara langsung bertujuan untuk menghasilkan kepercayaan-kepercayaan yang benar daripada tujuan-tujuan kognitif yang lain; (4) ada probabilitas obyektif yang tinggi bahwa suatu kepercayaan yang

dihasilkan sesuai dengan modul-modul tersebut di dalam lingkungan kognitif semacam itu adalah benar (nomor 3 dan 4 merupakan kondisi yang berkaitan dengan kebenaran);

(5) S tidak mempunyai defeater yang tak terkalahkan terhadap B (kondisi no-defeater).71

KESIMPULAN

Teori Plantinga tentang jaminan termasuk ke dalam kelompok eksternalisme. Kondisi-kondisi yang diperlukan bagi jaminan adalah kondisi yang bersifat eksternal terhadap subyek yang mengetahui; subyek tidak memiliki akses kognitif kepada kondisi-kondisi tersebut atau harus menyadari kondisi-kondisi tersebut. Kondisi-kondisi tersebut adalah kemampuan kognitif yang berfungsi sebagaimana mestinya, lingkungan-luas dan kecil harus tepat dengan proses kemampuan kognitif manusia, dan kemampuan kognitif tersebut harus reliabel. Akan tetapi teori ini bukan eksternalisme murni di mana semua kondisi tersebut harus bersifat eksternal. Teori Plantinga tentang jaminan memiliki satu kondisi internal yang perlu bagi jaminan yaitu kondisi no defeater. Jika demikian halnya maka kita dapat menyimpulkan bahwa Plantinga adalah eksternalisme moderat.

Plantinga juga adalah seorang fondasionalis tetapi bukan fondasionalisme klasikal.72 Ia menolak fondasionalisme klasikal modern

yang berasal dari Rene Descartes dan John Locke. Menurut pandangan ini

71Michael Bergmann, Justification Without Awareness: A Defense of Epistemic

Externalism (Oxford: Oxford University Press, 2006) 132-133; lih. juga Beilby,

Epistemology as 86.

(25)

sebuah proposisi adalah mendasar jika dan hanya jika ia terbukti dengan sendirinya atau terbukti dengan pengalaman langsung seseorang. Namun pandangan ini, menurutnya, adalah keliru karena kriteria bagi kepercayaan mendasar terlalu sempit. Sangat sedikit dari pengetahuan kita dapat dianggap sebagai pengetahuan berdasarkan kriteria ini. Lebih lanjut, pandangan ini tidak konsisten dengan dirinya sendiri. Ia tidak memenuhi syarat yang ia tetapkan sendiri untuk suatu kepercayaan mendapat justifikasi.

Meskipun Plantinga menolak fondasionalisme klasikal modern namun ia mendukung fondasionalisme Reidian. Fondasionalisme Reidian menilai banyak kepercayaan sebagai kepercayaan mendasar seperti kepercayaan hasil ingatan, kepercayaan indrawi, kepercayaan dari kesaksian, dan juga kepercayaan kepada Allah. Ia juga berpendapat bahwa suatu kepercayaan dapat memiliki jaminan meskipun kepercayaan tersebut tidak memiliki proposisi-proposisi hasil pengalaman seseorang sebagai bukti namun hanya karena dihasilkan oleh kemampuan kognitif manusia yang berfungsi sebagaimana mestinya. Kita dapat melihat bahwa epistemologi Plantinga berada dalam kubu fondasionalisme; tetapi ia bukan fondasionalisme jenis klasikal modern, melainkan fondasionalisme Reidian.73

73

Referensi

Dokumen terkait

Teknik pembiusan dengan penyuntikkan obat yang dapat menyebabkan pasien mengantuk, tetapi masih memiliki respon normal terhadap rangsangan verbal dan tetap dapat mempertahankan

Unit PT PLN (PERSERO) yang akan membangun SCADA harus mengacu pada SPLN S3.001: 2008 Peralatan SCADA Sistem Tenaga Listrik. Jumlah yang dijelaskan pada tabel 6 dan tabel 7

tidak terpisah antara rawat jalan dan rawat inap digabungkan, jadikan memang sementara bentuk rekam medik kita dirumah sakit haji inikan belum instalasi kalau kita

Untuk jenis pertukaran ion sintesis antara polimer ataupun resin yang tak larut yang mengandung gugus karbonat, sulfonat atau gugus fenol yang mempunyai sejumlah

indikator pengadaan dengan tender terbuka tidak dapat dinilai karena daerah menerima sudah dalam bentuk obat, sedangkan pengadaan dari APBD I sangat kecil tidak

Hasil analisis Hipotesis 1 diketahui bahwa nilai t hitung sebesar -5,871 dengan tingkat signifikansi 0,000 jauh dibawah 0,05 sehingga hasil analisis tersebut dinyatakan

Mitos adalah kisah suci yang biasanya menjelaskan bagaimana manusia dan alam terbentuk seperti sekarang ini, dalam pengertian yang sangat luas istilah tersebut

Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan Setiawan (2006) yang menyatakan bahwa hubungan likuiditas dengan struktur modal yaitu semakin