• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian dan Ruang Lingkup Penahanan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengertian dan Ruang Lingkup Penahanan"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I Pendahuluan Latar Belakang Masalah

Berlakunya UU No. 8 Tahun 1981 tentang Undang – Undang Hukum Acara Pidana atau lebih dikenal dengan KUHAP membawa perubahan yang fundamental baik secara konsepsional maupun secara Implementatif terhadap proses peradilan pidana di Indonesia. Di dalam KUHAP yang disusun untuk menggantikan Het Herziene Inland Reglements (HIR) secara lengkap meliputi pengertian keseluruhan acara pidana dari tingkat penyidikan sampai pelaksanaan putusan hakim

Namun Seiring berjalannya zaman Hak Asasi Manusia merupakan elemen penting di dalam kehidupan manusia dari segala aspek tidak terkecuali Proses peradilan Pidana di Indonesia juga memasukan elemen HAM tersebut sebagai aspek penting agar tahanan dapat dilindungi dari kesewenangan aparat penegak hukum ketika dilakukan pemeriksaan. Namun seperti Kitab Undang –Undang lainnya yang merupakan ciptaan manusia KUHAP juga tidak semuanya mampu mengcover hak – hak tahanan di Indonesia apalagi para Aparat penegak hukumnya masih banyak yang kurang kesadaran hukumnya. Oleh sebab itu kali ini penulis akan menelaah lebih lanjut mengenai hubungan antara Konsepsi HAM dengan Proses Peradilan pidana dalam hal ini Penahanan khususnya apakah ada ketidaksinkronan di lapangan atau tidak maka dari itu penulis mencari pokok masalah yang akan dibahas pada makalah ini. Adapun Pokok Masalahnya adalah :

 Apa Itu Hukum Acara Pidana?

 Bagaimana Sejarah Lahirnya KUHAP?

 Apa Saja Asas Hukum Acara Pidana?

 Apa saja Ruang Lingkup Penahanan?

 Apa ruang lingkup Konsepsi HAM ?

(2)

BAB II ISI Pengertian Hukum Acara Pidana

Menurut Van Bemmelen Hukum Acara Pidana mempelajari peraturan – peraturan yang diciptakan oleh Negara, karena adanya dugaan terjadi pelanggaran undang – undang pidana:

a. Negara melalui alat alatnya menyidik kebenaran b. Sedapat mungkin menyidik pelaku perbuatan itu

c. Mengambil tindakan yang perlu guna menangkap dan menahan pelaku

d. Mengumpulkan bahan – bahan bukti yang telah diperoleh pada penyidikan kebenaran guna dilimpahkan kepada hakim dan kemudian membawa terdakwa ke hadapan hakim tersebut

e. Hakim memberi keputusan tentang terbukti tidaknya perbuatan yang dituduhkan kepada terdakwa dan untuk itu menjatuhkan pidana atau tindakan tata tertib f. Upaya hukum untuk melawan keputusan tersebut

g. Melaksanakan putusan tentang pidana dan tindakan tata tertib itu

Menurut Simons Hukum pidana formil adalah hukum yang mengatur tentang cara negara dan perantaraan para pejabatnya menggunakan haknya untuk memidana1

Moeljiatno mengatakan hukum acara pidana adalah menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat dilaksanakan apabila ada orang yang disangka telah melanggar larangan tersebut.

Sejarah lahirnya KUHAP

Pangkal tolak bersumber dari naskah garis Besar Haluan Negara menurut Ketetapan MPR – RI No. IV/MPR/1978 Bab IV bidang hukum yang berbunyi di antaranya:

Pembangunan di bidang hukum dalam Negara hukum Indonesia didasarkan atas landasan sumber tertib hukum seperti terkandung dalam Pancasila dan UUD 1945.

(3)

Dalam rangka ini perlu dilanjutkan usaha usaha untuk peningkatan dan penyempurnaan pembinaan hukum nasional dengan antara lain mengadakan pembaharuan kodifikasi serta unifikasi hukum di bidang – bidang tertentu dengan jalan memperhatikan kesadaran hukum dalam masyarakat.

Dengan diawali Pidato Presiden Soeharto dengan surat No. R.06/PU/XX/79 pada tanggal 12 September 1979 pemerintah menyerahkan konsep Rencana Undang – Undang Hukum Acara Pidana kepada DPR. Kemudian diikuti oleh keterangan Pemerintah di depan siding Paripurna DPR pada tanggal 9 Oktober 1979 yang disampaikan oleh menteri Kehakiman Moedjono SH.

DPR R.I pada bulan November 1979 membentuk Komisi Gabungan ( SIGAB) yang kemudian bekerjasama dengan pemerintah membahas RUU – HAP pekerjaan mana dengan hasil baik dapat diakhiri pada bulan Desember 1980.

Kemudian diselesaikan di tingkat fraksi – fraksi DPR R.I dan oleh siding Paripurna DPR RI pada tanggal 23 September 1981 Rencana Undang – Undang Hukum Acara Pidana disahkan menjadi Kitab Undang – Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

KUHAP sama sekali tidak mengenal perbedaan bangsa dan suku bangsa semua diperlakukan sama di depan sidang mulai dari Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, dan Mahkamah Agung. KUHAP diciptakan oleh bangsa Indonesia sendiri dalam alam tangkap, salah tahan,salah tuntut dan salah hukum.3

2 M.Karjadi dan R. Soesilo, Kitab Undang – Undang Hukum Acara Pidana dengan Penjelasan Resmi dan Komentar, Politeia, Bogor, 2012, hlm. X.

(4)

Asas Dalam Hukum Acara Pidana

Hukum acara pidana mengenal beberapa asas. Asas tersebut ada yang bersifat umum dan khusus. Asas yang bersifat umum berlaku dalam seluruh kegiatan peradilan. Sementara yang bersifat khusus berlaku di dalam persidangan.4

Adapun Asas – Asas Dalam Hukum Acara Pidana adalah sebagai berikut ;

 Asas Umum

Asas Kebenaran Materil

Asas Peradilan cepat,sederhana, dan biaya murah Asas Praduga tak bersalah dan Praduga Bersalah Asas Inquisitoir dan Accusatoir

 Asas Khusus

Asas Legalitas dan Opportunitas Asas Sidang Terbuka untuk Umum

Asas Peradilan dilakukan oleh Hakim karena jabatannyaAsas Pemeriksaan Langsung Asas Komunikasi dengan Tanya Jawab Langsung.

Pengertian dan Ruang Lingkup Penahanan

Menurut Pasal 1 butir 21 KUHAP,Penahanan adalah penempatan tersangka atau terdakwa di tempat tertentu oleh penyidik, atau penuntut umum atau hakim dengan penetapannya, dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang –undang ini. Dari rumusan pasal tersebut maka

(5)

jelas kiranya,bahwa penahanan dapat dilakukan oleh penyidik, penuntut umum maupun hakim dengan penetapannya kepada tersangka atau terdakwa.5

Tidak ada perdebatan terkait penggunaan istilah, karena di dalam pasal 21ayat (1) ditegaskan, bahwa penahanan dapat dilakukan berdasarkan bukti yang cukup. Selain bukti yang cukup terdapat syarat – syarat lain untuk dapat dilakukannya penahanan, syarat – syarat tersebut antara lain dengan syarat subjektif dan syarat objektif.

1. Syarat Subjektif Penahanan

Menurut terminologi bahasa,subjektif artinya adalah menurut pendapat sendiri, atau menurut masing – masing pribadi. Salah satu syarat penahanan adalah adanya syarat subjektif, yaitu syarat yang hanya pihak yang melakukan penahanan yang bias memahami.

Syarat ini tercantum dalam Pasal 21 ayat (1) KUHAP, “Perintah penahanan atau penahanan lanjutan dilakukan terhadap seorang tersangka atau terdakwa yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti yang cukup,dalam hal adanya keadaan yang menimbulkan kekhawatiran bahwa tersangka atau terdakwa akan melarikan diri, merusak atau menghilangkan barang bukti dan atau mengulangi tindak pidana”

Di dalam rumusan tersebut tercantum “ adanya kekhawatiran”, yakni mengenai kekhawatiran hanya pihak yang khawatir saja yang bisa memahami, tidak dapat terukur dan tidak dapat dibuktikan, oleh karena itu disebut dengan alasan subjektif.

Ketika penyidik penuntut umum dan atau hakim tidak memiliki rasa khawatir bahwa tersangka atau terdakwa akan melarikan diri, merusak atau menghilangkan barang bukti serta mengulangi tindak pidana, maka syarat subjektif tidak terpenuhi. Akan tetapi walaupun syarat subjektif terpenuhi, masih dibutuhkan satu syarat lagi agar penahanan dapat dilakukan, yaitu syarat objektif.6

2. Syarat Objektif Penahanan

5 Tolib Effendi, Dasar-Dasar Hukum Acara Pidana Perkembangan dan Pembaharuannya di Indonesia, Setara Press, Malang, 2014, hlm. 90.

(6)

Objektif memiliki makna berkenaan dengan keadaan sebenarnya tanpa dipengaruhi pendapat atau pandangan pribadi. Syarat ini menjadi syarat berikutnya dalam menentukan penahanan. Pasal 21ayat (4) mensyaratkan,

Penahanan tersebut hanya dapat dikenakan terhadap tersangka atau terdakwa yang melakukan tindak pidana dan atau percobaan maupun pemberian bantuan dalam tindak pidana tersebut dalam hal :

a) Tindak pidana itu diancam dengan pidana penjara lima tahun atau lebih;

b) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 282 ayat (3), Pasal 296, Pasal 335 ayat (1), Pasal 351 ayat (1), Pasal 353 ayat (1), Pasal 372, Pasal 378, Pasal 379a, Pasal 453, Pasal 454, Pasal 455, Pasal 459, Pasal 480 dan Pasal 505 Kitab Undang – Undang Hukum Pidana, Pasal 25 dan Pasal 26 Rechtordonantie (Pelanggaran terhadap ordonansi Bea dan Cukai, terakhir diubah dengan staatblad Tahun 1931 Nomor 471), Pasal 1, Pasal 2 dan Pasal 4 Undang Undang Tindak Pidana Imigrasi ( Undang – Undang Nomor.8 drt. Tahun 1955 Lembaran Negara Tahun 1955 Nomor 8), Pasal 36 ayat (7), Pasal 41, Pasal 42, Pasal 43, Pasal 47 dan Pasal 48 Undang – Undang nomor 9 Tahun 1976 tentang Narkotika (Lembaran Negara Tahun 1976 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3086).

Ketentuan tersebut dinamakan syarat objektif karena terukur dan dapat dibuktikan tidak atas penilaian pribadi masing – masing pihak. Ukurannya jelas yaitu untuk tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 tahun atau lebih dan untuk tindak pidana walaupun tidak diancam pidana penjara 5 tahun atau lebih akan tetapi mengganggu dan membahayakan ketertiban umum dapat dikenai upaya paksa penahanan.

Dua syarat ini merupakan syarat kumulatif yang artinya keduanya harus terpenuhi, apabila salah satu tidak terpenuhi, maka penahanan tidak dapat dilakukan.

Penahanan sebagaimana dimaksud di atas tidak selamanya harus dilaksanakan di Rumah Tahanan Negara. Terdapat tiga macam jenis penahanan sebagaimana dimaksud di dalam Pasal 22 ayat (1) KUHAP, yaitu;

(7)

Penahanan dilakukan di RUTAN yang berada di masing – masing kabupaten /kota. Masa penahanan di RUTAN dikurangkan sepenuhnya dari pidana yang dijatuhkan .

b) Penahanan Rumah

Penahanan rumah dilaksanakan di rumah tempat tinggal atau rumah kediaman tersangka atau terdakwa dengan mengadakan pengawasan terhadapnya untuk menghindarkan segala sesuatu yang dapat menimbulkan kesulitan dalam penyidikan, penuntutan atau pemeriksaan di siding pengadilan.

Masa penahanan di rumah dikurangkan sepertiga dari pidana yang dijatuhkan.

c) Penahana Kota

Penahanan kota dilaksanakan di kota tempat tinggal atau kediaman tersangka atau terdakwa, dengan kewajiban bagi tersangka atau terdakwa melapor diri pada waktu yang ditentukan. Masa penahanan kota dikurangkan seperlima dari pidana yang dijatuhkan.7

Tujuan Penahanan ditentukan dalam pasal 20 KUHAP yang meliputi tiga hal, yaitu untuk kepentingan penyidikan, kepentingan penuntutan, dan untuk pemeriksaan di sidang pengadilan.

Konsepsi Hak Asasi Manusia

Hak Asasi Manusia adalah hak yang melekat di dalam diri pribadi individu, dan hak ini merupakan yang paling mendasar bagi setiap individu untuk berdiri dan hidup secara merdeka dalam komunitas masyarakat. Bangunan dasar HAM yang melekat di dalam episentrum otoritas

(8)

individu yang merdeka, merupakan bawaan sejak lahir, sehingga tidak bisa digugat dengan banalitas pragmatisme kepentingan kekuasaan, ambisi dan hasrat. Dengan dan atas nama apa pun, bahwa dasar – dasar kemanusiaan yang intim harus dilindungi, dipelihara dan tidak dibiarkan berada sama sekali dalam ruang – ruang sosial yang mengaelienasinya.8

Sifat Hakiki dan kodrati HAM yang melekat pada diri setiap orang tidak dapat dicabut atau dihapuskan oleh siapa pun termasuk penguasa Negara. Menghapus dan mencabut HAM sama artinya menghilangkan eksistensi manusia sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

Munculnya berbagai tindakan yang mengekang dan menghancurkan nilai – nilai kemanusiaan, mendorong lahirnya kesadaran global yang memberikan apresiasi positif terhadap pengakuan dan perlindungan HAM. Kesadaran ini dilandasi oleh suatu keyakinan bahwa pengakuan dan perlindungan HAM hanya dapat diwujudkan secara maksimal dan optimal melalui kerja sama internasional. Usaha nyata dalam menggalang kesadaran global untuk mewujudkan pengakuan dan perlindungan HAM, terwujud setelah Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) mengesahkan Universal Declaration of Human Rights (Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia) pada 10 Desember 1948 di kota Paris.

Agar dapat mengikat secara yuridis DUHAM perlu dilengkapi dengan perjanjian internasional. Untuk itu, Majelis Umum PBB menugaskan komisi Hak Asasi Manusia salah satu badan di bawah Dewan Ekonomi dan Sosial untunk menyusun perjanjian internasional yang mengikat. Keputusan itu ditetapkan melalui resolusi Majelis Umum 217 (III) yang dikeluarkan saat DUHAM diumumkan 10 Desember 1948.

Bukan hanya karena desakan internasional saja Indonesia turut meratifikasi perjanjian/konvenan mengenai HAM tersebut. Namun juga karena memang amanah pendiri negara yang dituangkan dalam sila II Pancasila yakni Kemanusiaan yang adil dan beradab. Makna yang terkandung dalam sila II Pancasila tersebut adanya pengakuan terhadap martabat manusia dan perlakuan yang adil terhadap sesame manusia.

Hubungan Antara Konsep HAM dengan Realita Proses Penahanan

(9)

Sebelum membahas lebih lanjut Hubungan antara Konsep HAM dengan Proses Penahanan kita harus mengetahui terlebih dahulu apa saja Hak – Hak seorang Tahanan tersebut. Adapun Hak – Hak seorang tahanan adalah sebagai berikut 9:

 Hak untuk tidak disiksa

 Hak untuk memperoleh pemeriksaaan yang cepat

 Hak untuk memperoleh bantuan hukum

 Hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan

 Hak untuk menerima kunjungan keluarga

 Hak atas ganti kerugian dan rehibilitasi

Dalam makalah ini hanya menitiberatkan kepada fenomena penahanan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum. Banyak terjadi saat ini adalah penyiksaan fisik baik berat maupun ringan oleh aparat penegak hukum kepada tahanan yang disiksa demi kepentingan baik itu demi kepentingan dalam proses pemeriksaan. Ini merupakan bentuk kesewenang –wenangan aparat penegak hukum dalam menjalankan tugasnya padahal sebenarnya KUHAP telah mengatur secara tegas bahwa kedudukan antara aparat penegak hukum dengan para tahanan kedudukannya adalah seimbang. Namun tetap saja dalam praktiknya akibat arogansi beberapa aparat penegak hukum melakukan Abuse of Power terhadap tahanan karena memang masih banyak aparat penegak hukum tidak memahami secara utuh KUHAP tersebut. Salah satu faktornya mugkin adalah lemahnya bekal ilmu aparat penegak hukum itu sendiri selama pelatihan dan memang realitanya saat ini banyak polisi masuk dengan cara – cara yang tidak etis seperti nepotisme dan sogok menyogok/ rasuah untuk memuluskan jalan mereka masuk di Akademi Kepolisian. Jadi wajar saja dengan cara yang tidak halal seperti itu kemudian menjadi penegak hukum tentu saja apabila hal ini terjadi berakibat pada banyaknya aparat penegak hukum menggunakan cara-cara kekerasan daripada mematuhi aturan – aturan dan norma – norma yang berlaku untuk mengintimidasi, menyiksa, menakut – nakuti tahanan baik itu disertai pula dengan kekerasan demi memperoleh informasi demi kepentingan pemeriksaan. Padahal sebenarnya dan seharusnya Penahanan yang merupakan salah satu proses di dalam peradilan pidana Indonesia yang sudah diatur di dalam KUHAP haaruslah dipatuhi.

(10)

Selain itu PBB sendiri telah membuat Konvensi Menentang Penyiksaan selain mengikat secara hukum kepada Negara – Negara yang meratifikasi konvensi tersebut termasuklah Indonesia. Adapun Ketentuan Konvensi menentang Penyiksaan tersebut adalah Hak untuk tidak disiksa dan diperlakukan kejam merupakan hak yang tidak dapat dikesampingkan atau dikurangi. Kedua, berlaku sistem (yurisdiksi) hukum Universal. Hal ini berarti pelaku penyiksaan dapat dituntut dimanapun berada. Negara yang meratifikasi konvensi ini wajib menghukum setiap pelaku penyiksaan atau mengekstradisinya kepada Negara yang meminta dan berhak mengadilinya . Di dalam Konvensi tersebut juga menyebutkan bahwa barang bukti yang didapat melalui cara – cara kekerasan tidak dapat dianggap sebagai alat bukti yang sah di depan pengadilan.

Hal tentang penyiksaan oleh aparat penegak hukum kepada tahanan ini juga sebenarnya sudah diatur baik di dalam KUHP dan KUHAP. Di dalam KUHP sendiri mengatur secara utuh dan jelas namun tidak berbicara mengenai secara khusus tentang penyiksaaan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum saat menjalankan tugasnya juga dalam pengertian penganiayaan hanya sebatas penyiksaan fisik dan belum menjangkau penyiksaan secara mental.10

Padahal sudah seharusnya penyiksaan secara mental juga harus dipidana. Kriminalisasi penyiksaan mental sangat beralasan karena penyiksaan mental dapat berakibat serius terhadap perkembangan kejiwaan korban dalam hal ini tahanan.

Dirumuskan pula dalam pasal 351 KUHP bahwa percobaan melakukan penganiayaan tidak dapat dipidana. Hal ini berbeda dengan Pasal 4 Konvensi Menentang Penyiksaan yang justru menginginkan agar pelaku percobaan melakukan penganiayaan harus dipidana.

Selaras dengan larangan melakukan penyiksaan termasuk pada proses peradilan pidana sebagaimana dimaksud dalam Konvensi Menentang Penyiksaan, KUHAP sebagai sumber utama hukum acara pidana telah merumuskan berbagai ketentuan yang dapat dan mencegah terjadinya penyiksaan. Rumusan pasal – pasal yang dimaksud telah merumuskan perisai hak bagi pihak – pihak yang terlibat dalam proses peradilan pidana, baik yang berstatus tersangka maupun terdakwa.

(11)

Model pendekatan KUHAP secara normative telah merefleksikan pendekatan due process model yang menempatkan para tersangka atau terdakwa pada posisi yang seimbang dengan aparat hukum. Posisi yang seimbang ini menjadikan tersangka dan terdakwa sebagai subjek pemeriksaan sehingga tidak dapat diperlakukan sewenang – wenang (asas akusatoir). Walaupun demikian, system yang dianut di dalam KUHAP tidak meninggalkan secara mutlak model crime control, model yang mengutamakan proses peradilan pidana yang cepat dan tuntas.

Ada beberapa faktor perilaku Arogan itu muncul yaitu karena kekeliruan dan pemahaman yang salah dari sebagian aparat penegak hukum terhadap fungsi dan wewenang yang diberikan oleh UU. Fungsi dan wewenang itu dipahami sebagai sesuatu yang melekat secara pribadi pada diri penegak hukum. Akibatnya, tahanan secara yuridis memiliki kedudukan yang seimbang dengan aparat penegak hukum dan memiliki hak untuk tidak disiksa.tidak lagi dipandang sebagai subjek pemeriksaan, melainkan menjadi objek pemeriksaan dalam peradilan pidana.11

Faktor arogansi inilah yang memicu aparat penegak hukum memunculkan tindakan menyiksa tahanan. Juga hal ini tidak lepas karena faktor pengawasan. Pengawasan yang lemah, baik yang datang dari internal instansi aparat pemegak hukum maupun dari masayarakat terutama dari media massa akan membuka ruang yang memungkinkan terjadinya penyiksaan terhadap tahanan. Faktor yang lain yang tak kalah penting adalah Faktor fasilitas ruang tahanan polisi dan RUTAN di Indonesia tidak memadai dan banyak kekurangan sehingga tidak memenuhi standarisasi PBB juaga tempat untk menampung tahanan tidak mencukupi sehingga terjadilah dalam realisasinya RUTAN yang seharusnya digunakan untuk menampung tahanan juga berfungsi menampung narapidana. Sebaliknya, LAPAS yang berfungsi menampung narapidana juga digunakan untuk menampung tahanan .12

BAB III Penutup Kesimpulan

(12)

Moeljiatno mengatakan hukum acara pidana adalah menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat dilaksanakan apabila ada orang yang disangka telah melanggar larangan tersebut.

Pangkal tolak bersumber dari naskah garis Besar Haluan Negara menurut Ketetapan MPR – RI No. IV/MPR/1978 Bab IV bidang hukum yang berbunyi di antaranya:

Pembangunan di bidang hukum dalam Negara hukum Indonesia didasarkan atas landasan sumber tertib hukum seperti terkandung dalam Pancasila dan UUD 1945.

Dalam rangka ini perlu dilanjutkan usaha usaha untuk peningkatan dan penyempurnaan pembinaan hukum nasional dengan antara lain mengadakan pembaharuan kodifikasi serta unifikasi hukum di bidang – bidang tertentu dengan jalan memperhatikan kesadaran hukum dalam masyarakat.

Dengan diawali Pidato Presiden Soeharto dengan surat No. R.06/PU/XX/79 pada tanggal 12 September 1979 pemerintah menyerahkan konsep Rencana Undang – Undang Hukum Acara Pidana kepada DPR. Kemudian diikuti oleh keterangan Pemerintah di depan siding Paripurna DPR pada tanggal 9 Oktober 1979 yang disampaikan oleh menteri Kehakiman Moedjono SH.

DPR R.I pada bulan November 1979 membentuk Komisi Gabungan ( SIGAB) yang kemudian bekerjasama dengan pemerintah membahas RUU – HAP pekerjaan mana dengan hasil baik dapat diakhiri pada bulan Desember 1980.Kemudian diselesaikan di tingkat fraksi – fraksi DPR R.I dan oleh siding Paripurna DPR RI pada tanggal 23 September 1981 Rencana Undang – Undang Hukum Acara Pidana disahkan menjadi Kitab Undang – Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Menurut Pasal 1 butir 21 KUHAP,Penahanan adalah penempatan tersangka atau terdakwa di tempat tertentu oleh penyidik, atau penuntut umum atau hakim dengan penetapannya, dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang –undang ini. Dari rumusan pasal tersebut maka jelas kiranya,bahwa penahanan dapat dilakukan oleh penyidik, penuntut umum maupun hakim dengan penetapannya kepada tersangka atau terdakwa

(13)

peradilan pidana Indonesia hal ini anyak sekali terjadi. Hal ini bertentangan sekali dengan Konvensi larangan menyiksa tahanan yang diatur oleh PBB juga bertentangan dengan Pancasila Sila ke dua yaitu Kemanusiaan yang adil dan beradab bertentangan juga dengan KUHP karena memenuhi unsur penganiayaan disana begitu pula bertentangan dengan KUHAP. Ini menunjukan sebagian aparat masih salah kaprah menjalankan tugas dan wewenangnya sebagai aparat penegak hukum. Memang bukan hanya kekerasan fisik baik ringan maupun berat saja yang diterima tahanan ketika dihadapi dengan situasi pemeriksaan namun juga kekerasan mental yang dampaknya sangat berbahaya bagi kondisi mental atau jiwa tahanan itu sendiri. Apakah karena KUHP tidak mengatur kekerasan mental tidak dapat dipidana sehingga hal tersebut terjadi? Tentu saja tidak, inilah beberapa faktor penting pemicu penahanan dan penyiksaan itu menjadi issue yang patut kita cermati seksama agar HAM dari tahanan dan hak – haknya yang lain sebagai manusia terlindungi sekalipun dalam proses peradilan pidana haruslah dan teap bagaimanapun mutlak dilindungi. Faktor Arogan penegak hukum itu sendiri faktor perilaku Arogan itu muncul yaitu karena kekeliruan dan pemahaman yang salah dari sebagian aparat penegak hukum terhadap fungsi dan wewenang yang diberikan oleh UU. Fungsi dan wewenang itu dipahami sebagai sesuatu yang melekat secara pribadi pada diri penegak hukum. Akibatnya, tahanan secara yuridis memiliki kedudukan yang seimbang dengan aparat penegak hukum dan memiliki hak untuk tidak disiksa.tidak lagi dipandang sebagai subjek pemeriksaan, melainkan menjadi objek pemeriksaan dalam peradilan pidana. Faktor Pengawasan dan Faktor Fasilitas yang tidak meamadai.

Saran

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Rusli Hamzah, Hukum Acara Pidana Kontemporer, Bandung: Penerbit Citra Aditya Bakti Ruslan Renggong, Hukum Acara Pidana Memahami Perlindungan HAM Dalam Proses Penahanan di Indonesia, Jakarta: Penerbit Kencana Prenadamedia Group

(15)

M.Karjadi dan R. Soesilo, Kitab Undang – Undang Hukum Acara Pidana dengan Penjelasan Resmi dan Komentar, Bogor: Penerbit Politeia

Referensi

Dokumen terkait

Rumusan masalah dari penelitian ini adalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan maka rumusan masalah yang akan diselesaikan adalah : “Bagaimana

Tujuan yang ingin dicapai dari karangan ilmiah ini adalah untuk berperan serta dalam pelestarian budaya lokal guna meningkatkan pendidikan karakter generasi muda

Lapisan pasivasi pada permukaan logam adalah suatu lapisan oksida tipis yang terbentuk pada bermacam-macam tingkat derajat (tergantung pada besar kecilnya tenaga

Pengujian tersebut menunjukkan bahwa besaran penalty akibat konsekuensi error negatif dan positif, yang kemudian ditunjukkan dalam profil risiko dari sebuah

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara empiris pengaruh rasio fundamental perusahaan diproksikan dengan return on equity (ROE), current ratio (CR), dan debt to equity

Dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak atau terdapat hubungan yang bermakna diantara kedua variabel “prematur merupakan faktor risiko gangguan fungsi pendengaran pada

RUU tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.. DPR RUU dan NA disiapkan oleh

Yang dimaksud dengan sosialisasi adalah proses di mana seseorang mempelajari pola- pola hidup dalam masyarakat sesuai dengan nilai, norma dan kebiasaan yang berlaku untuk