KONSTRUKSI PEMIKIRAN AMINA WADUD TERHADAP KESETARAAN GENDER
(Analisis Kedudukan dan Hak Seorang Perempuan)
Makalah
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kajian Gender
Dosen Pengampu:
Fathonah K. Daud, Lc., M. Phil
Oleh:
1. Nur Amalia Sholichah NIM: 2014.01.01.288 2. Rofi’ul Mahmudah NIM: 2014.01.01.313 3. Salamah NIM: 2014.01.01.243 4. Siti Muawanah NIM: 2014.01.01.237
PROGRAM STUDI ILMU AL QUR’AN DAN TAFSIR SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) AL ANWAR
KONSTRUKSI PEMIKIRAN AMINA WADUD TERHADAP KESETARAAN GENDER
(Analisis Kedudukan dan Hak Seorang Perempuan)
Oleh:
Nur Amalia Sholichah, Rofi’ul Mahmudah, Salamah, Siti Muawanah
I. Pendahuluan
Persamaan antarmanusia, baik antara laki-laki dengan perempuan maupun
antarbangsa, suku, dan keturunan adalah salah satu tema utama dalam ajaran
Islam. Terlebih, mengenai perdebatan tentang status dan posisi perempuan dalam
Islam yang selalu hangat untuk dibahas. Persepsi para sarjana Muslim sendiri
terhadap posisi perempuan sangat beragam dan sulit untuk diidentifikasikan satu
persatu.
Pernyataan mengenai perempuan adalah makhluk lemah dan dipandang
lebih rendah daripada laki-laki. Hal itu terjadi karena perempuan tidak percaya
diri dan kurang meyakini bahwa sebenarnya perempuan itu diciptakan tidak jauh
berbeda dengan kaum laki-laki. Perempuan juga telah termakan oleh pola pikir
bahwa perempuan terbatas pada dapur dan rumah. Oleh karena itu, perdebatan
tentang status dan posisi perempuan banyak dikaji oleh para feminis, salah
satunya adalah Amina Wadud. Suatu hal yang mendorong Amina Wadud untuk
menjadi feminis adalah pengalaman personal yang melingkupinya, dimana
Wadud yang notabene memiliki ras Afro-Amerika sering mendapatkan
diskriminasi sepihak oleh masyarakat setempat dan diskriminasi tersebut sering
ditimpakan kepada kaum perempuan, Muslimah, dan janda. Oleh karena itu,
Amina Wadud gelisah terkait dengan ketidak-adilan di masyarakatnya.
Dalam bukunya, Amina Wadud mencoba untuk melakukan dekonstruksi
dan rekonstruksi model penafsiran klasik dengan bias patriarki. Salah satu asumsi
dasar yang dijadikan pemikiran Amina Wadud adalah bahwa al-Qur’an
merupakan sumber nilai tertinggi yang secara adil mendudukkan laki-laki dan
perempuan setara. Amina Wadud juga menafsirkan dengan model hermeneutika
Mengetahui latar belakang kehidupan Amina Wadud serta
pemikiran-pemikirannya sebagai feminis sangatlah penting untuk memperluas pengetahuan
tentang persamaan dan perbedaan antara laki-laki dan perempuan menurut para
feminis. Maka dari itu, dalam makalah ini akan dijelaskan potret kehidupan
Amina Wadud, konstruksi pemikiran Amina Wadud terhadap kesetaraan gender
serta kedudukan dan hak seorang perempuan.
II. Potret Kehidupan Amina Wadud
Amina Wadud lahir pada tanggal 25 September 1952 dengan nama Maria
Teasley di kota Bethesda, Maryland. Ayahnya adalah seorang Methodist menteri
dan ibunya keturunan dari budak Muslim Arab, Berber dan Afrika1. Sejak kecil,
dia dibesarkan dalam lingkungan Kristen yang taat. Dia mengenyam pendidikan
kuliah selama lima tahun, dari 1970 hingga 1975 di Universitas Pennsyvania dan
meraih gelar sarjana sains. Pada tahun 1972, dia memeluk Islam dengan
mengucapkan dua kalimat syahadat. Dua tahun kemudian, dia mengganti nama
menjadi Amina Wadud untuk memperlihatkan dia telah menjadi muslimah.2 Pada
tahun 1988 dia melanjutkan pendidikan program masternya bidang Studi Timur
Dekat dan meraih gelar Ph.D. Studi Arab dan Islam di Universitas Michigan.
Walau sudah mengantongi ijazah strata tiga, hasrat Amina menimba ilmu
masih belum tercukupi. Dia lalu pergi ke Mesir untuk mendalami bahasa Arab di
Universitas Amerika di ibu kota Kairo. Tidak sampai di situ, penjelajahan
intelektualnya berlanjut sampai menuntun dia mempelajari tafsir al-Qur’an di
Universitas Kairo dan filsafat di Universitas Al-Azhar. Dia sempat bekerja
sebagai asisten profesor di Universitas Islam Internasional Malaysia pada 1989
hingga 1992 dan menerbitkan disertasinya berjudul Qur’an dan Perempuan:
Membaca Ulang Ayat Suci dari Pandangan Perempuan. Penerbitan buku itu dibiayai oleh lembaga Nirlaba Sisters in Islam dan menjadi panduan buat
beberapa pegiat hak-hak perempuan serta akademisi. Buku itu dilarang beredar di
Uni Emirat Arab karena isinya dianggap provokatif dan membangkitkan
1
Nurul Zainab, “Pemikiran Feminisme Aminah Wadud”, dalam http://blog.nurulzainab.com/2013/05/pemikiran-feminisme-aminah-wadud, diakses pada 1 Mei 2017.
2
Amaliatulwalidain, “Diskursus Gender: Tela’ah Terhadap Pemikiran Amina Wadud”,
sentimen.3 Pada tahun 1992 Amina Wadud menerima posisi sebagai profesor
agama dan filsafat di Virginia Commonwealth University, dan ia pensiun pada
2008. Selanjutnya, dia menjadi dosen tamu di Pusat Studi Religi dan Lintas
Budaya Universitas Gajah Mada, Indonesia sampai sekarang.4 Selama berkarir di
dunia pendidikan, Amina Wadud dipandang sebagai Muslimat feminis dan
menganggap dirinya reformis Islam. Dia sering menjadi narasumber dialog
seputar kesetaraan gender dalam Islam, pemahaman antar budaya,dan hak asasi.
Pada bulan Februari 2009, ia menjadi pembicara di Musawah Kesetaraan dan
Keadilan dalam konferensi keluarga, di mana ia mempresentasikan makalah yang
berjudul Islam Beyond Patria rchy Through Gender Inclusive Qur’anic Analysis. Amina Wadud juga menjadi pembicara pada konferensi regional tentang
memajukan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dalam masyarakat
Islam, yang diselenggarakan oleh United Nations Development Fund for Women
(UNIFEM) dan Pusat Internasioanl untuk Islam dan Pluralisme (ICIP) di Jakarta,
Indonesia, Maret 2009. Dalam tipologi Arab kontemporer Amina Wadud
tergolong dalam kelompok reformistik dengan metode dekontruksi dan
rekontruksi. Dia sangat menentang terhadap golongan fundamentalis.5
Ia menjadi terkenal secara Internasional, ketika ia menjadi Imam dalam salat
Jum’at pada bulan Maret 2005 lalu. Hal inilah yang membuatnya menjadi sosok
kontroversial di kalangan umat Islam. Kecaman datang dari berbagai ulama, di
antaranya Syekh Yusūf Qardhawī. Dia berpendapat walau perempuan bisa
menjadi imam salat dari jamaah perempuan, bahkan keluarganya, tapi tidak boleh
memimpin salat dari jamaah gabungan. Dalam wawancara di stasiun televisi
Aljazeera, Qardhawī menegaskan tindakan Amina itu melanggar ajaran Islam dan
sesat. Alasan Amina melakukan hal itu lantaran dia ingin mengetuk hati kaum
muslim sejagat, yakni tidak ada pemisah di antara mereka.6
III. Konstruksi Pemikiran Amina Wadud terhadap Kesetaraan Gender
3
Amaliatulwalidain, “Diskursus Gender: Tela’ah Terhadap Pemikiran Amina Wadud”, 85.
4
Nurul Zainab, “Pemikiran Feminisme Aminah Wadud”.
5
Nurul, “Pemikiran Feminisme Amina Wadud (Tafsir Feminis atas al-Qur’an)”, dalam http://nurulzainab.blogspot.com/2012/02/pemikiran-feminisme-amina-wadud, diakses pada 1 Mei 2017.
6
A. Metode Pemikiran Amina Wadud
Amina Wadud dalam pendahuluan karyanya yang berjudul al-Qur’an and Woman: Rereading the Sacred Text from a Woman’s Perspective menerangkan bahwa tidak ada penafsiran al-Qur’an yang sepenuhnya objektif.7 Sebab,
terkadang berbagai rincian penafsiran yang dipilih oleh para penafsir al-Qur’an
justru mencerminkan kesubjektifannya. Mereka menafsirkan al-Qur’an tanpa
mementingkan maksud ayat yang hendak ditafsirkan.
Menurut Fazlur Rahman, persoalan metode dan pemahaman terhadap
al-Qur’an belum cukup dibincangkan dalam tradisi keilmuan Islam, dan ini
merupakan perkara yang amat mendesak untuk dikaji pada zaman ini. Corak
penafsiran yang diwarisikan oleh khazanah keilmuan Islam klasik dianggap telah
gagal memaparkan pesan-pesan al-Qur’an secara padu dan koheren. Hal ini
diakibatkan oleh kaidah penafsiran ayat per ayat, serta kecenderungan terhadap
penggunaan ayat-ayat al-Qur’an secara atomistis8. Kalangan mufassir dan umat Islam pada umumnya tidak dapat menangkap keterpaduan pesan al-Qur’an yang
dilandaskan atas suatu weltanschauung atau worldview (pandangan dunia) yang pasti.9
Berdasar pada argumen tersebut, Amina Wadud yakin bahwa dalam usaha
memelihara relevansinya dengan kehidupan manusia, al-Qur’an harus terus
menerus ditafsirkan ulang. Sebab semua ayat-ayat al-Qur’an yang diturunkan
dalam kurun waktu tertentu mempunyai keadaan umum dan khusus yang
melingkupinya, selain ia juga menggunakan ungkapan yang relatif mengenai
situasi tertentu. Pesan al-Qur’an tidak bisa direduksi oleh situasi historis pada saat
ia diwahyukan saja.10 Penafsir atau pembaca harus paham implikasi (yang tersirat)
dari pernyataan al-Qur’an, sewaktu pernyataan itu diwahyukan, agar dapat
menentukan makna utamanya. Dalam konteks ini ia mencoba mengkonstruksi
pemikirannya dengan didasarkan pada sebuah metode hermeneutik al-Qur’an
7
Amina Wadud, “Qur’an Menurut Perempuan: Membaca Kembali Kitab Suci dengan Semangat
Keadilan”, Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2006, 1. 8
Atomistis adalah berkaitan dengan analisis sampai ke bagian yang sekecil-kecilnya sehingga melupakan bahwa bagian-bagian itu ada hubungannya.
9
Mutrofin, “Kesetaraan Gender dalam Pandangan Amina Wadud dan Riffat Hassan”, Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam, 3, (2013), 244.
10
yang ditawarkan oleh Fazlur Rahman, yaitu seorang perintis tafsir kontekstual.
Metode hermeneutika sendiri, di sini diartikan sebagai salah satu bentuk metode
penafsiran kitab suci untuk memperoleh kesimpulan makna suatu teks (ayat),
yang mana dalam pengambilan makna tersebut selalu dihubungkan dengan tiga
aspek dari teks itu, di antaranya:
1. Konteks yang melatarbelakangi terbentuknya teks
2. Komposisi tata bahasa teks
3. Weltanschauung-nya (pandagan hidupnya)
Selain beberapa aspek dan kategori di atas. Salah satu unsur unik, yaitu
prior texts (latar belakang, persepsi, dan keadaan) menjadi hal yang teramat penting dalam kerangka metodologi tafsir Wadud untuk menafsirkan dan
memahami berbagai teks. Prior texts memberi cakupan luas berupa mempertunjukkan berbagai keragaman yang secara alamiah ditemukan di
kalangan penafsir.
B. Asal Kejadian Perempuan
Bagaimana al-Qur’an menggambaran penciptaan seorang perempuan?
Apakah al-Qur’an beranggapan bahwa proses penciptaan manusia membedakan
perempuan dan laki-laki dengan cara tertentu untuk membatasi potensi perempuan
menjadi peran tunggal yang ditentukan secara bilologis? Meskipun terdapat
perbedaan antara perlakuan terhadap laki-laki dan terhadap perempuan ketika al-Qur’an membahas penciptaan manusia, Amina wadud berpendapat bahwa tidak ada perbedaan nilai esensial yang disandang oleh laki-laki atau perempuan. Oleh
karena itu, tidak ada indikasi bahwa wanita memiliki lebih sedikit atau lebih
banyak keterbatasan dibanding laki-laki.11
Akar permasalahan ketidaksetaraan laki-laki dan perempuan, menurut
Amina Wadud berasal dari penciptaan manusia sebagaimana tercantum dalam al-Qur’an. Kaitannya dengan hal ini Amina Wadud mengatakan dalam bukunya pada bab pertama bahwa dia akan mengulas kembali sejumlah persoalan analisis
sembrono yang sudah turun temurun mengenai penciptaan manusia. Dia
mengajukan benang merah penciptaan yang terpusat pada pentingnya
11
Amina Wadud, “Qur’an Menurut Perempuan: Membaca Kembali Kitab Suci dengan Semangat
“berpasangan” dalam penciptaan segala sesuatu. Oleh sebab itu, baik laki-laki maupun perempuan sangat mempunyai arti dalam penciptaan manusia dan
sama-sama memilih keunggulan.12 Wadud menepis mitos bahwa Hawa adalah
penyebab terlemparnya manusia dari surga. Dia berpendapat bahwa peringatan
Allah Subḥānahu wa Ta’ālā agar menjauhi bujukan setan itu ditujukan kepada mereka berdua, yakni Adam dan Hawa.13
Sebelumnya, perlu dipertegas bahwa al-Qur’an tidak menganggap
perempuan sebagai makhluk yang mempunyai karakteristik yang sama dengan
laki-laki dalam mengungkapkan berbagai tema pokoknya. Laki-laki atau
perempuan adalah dua kategori spesies manusia yang dianggap sama atau
sederajat dan dianugerahi potensi yang sama atau setara.14 Salah satu bukti
al-Qur’an mengakui bahwa tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan
adalah al-Qur’an menghimbau kepada semua orang Islam, laki-laki dan
perempuan untuk membarengi keimanan mereka dengan tindakan, yang dengan
begitu mereka akan diganjar dengan pahala yang besar.
Menurut Abul A’la Maududi keseluruhan proses penciptaan manusia melalui tiga tahapan, yaitu awal penciptaan, tahap pembentukan serta
penyempurnaan, dan pemberian kehidupan.15 Hal ini ia sandarkan pada
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepada-Nya.16
Dari ayat di atas al-Qur’an sering menggunakan sejumlah bentuk dari kata
khalaqa untuk menunjukkan langkah awal dalam proes penciptaan.
ٍ ِوْقَ ِنَ ْحَأ ِ َناَ ْنِْاا اَ ْقَلَخ ْدَقَل
12
Amina Wadud, “Qur’an Menurut Perempuan: Membaca Kembali Kitab Suci dengan Semangat Keadilan”, 17.
13
Mutrofin, “Kesetaraan Gender dalam Pandangan Amina Wadud dan Riffat Hassan”, 245. 14
Amina Wadud, “Qur’an Menurut Perempuan: Membaca Kembali Kitab Suci dengan Semangat
Keadilan”, 19.
15
Ibid., 21. 16
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.17
ْمُكَرَوُص َنَ ْحَأَف ْمُكَروَصَو ًءاَ ِب َءاَم لاَو اًراَرَ ق َضْرَْْا ُمُكَل َلَعَج يِذلا ُهللا
َنِمَلاَعْلا َر ُهللا َ َراَ َتَ ف ْمُكبَر ُهللا ُمُكِلَذ ِااَ ييللا َنِم ْمُكَقَزَرَو
Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rezki dengan sebahagian yang baik-baik. yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam.18
ٍنِط ْنِم ِناَ ْنِْاا َقْلَخ َأَدَبَو ُهَقَلَخ ٍءْيَ لُك َنَ ْحَأ يِذلا
Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.19
Penggunaan kata ṣa wwa ra pada ayat di atas, yang diartikan membentuk, membangun, menyempurnakan, dalam pembahasan ini menggambarkan langkah
kedua penciptaann manusia, yaitu penyempurnaan, maksudnya Allah Subḥānahu wa Ta’ālā membentuk manusia tepat seperti yang Ia kehendai. Allah Subḥānahu wa Ta’ālā menyatakan dalam al-Qur’an bahwa bentuk yang dianugerahkan kepada manusia merupakan bentuk terbaik untuk memenuhi tugasnya sebagai
wakil di muka bumi. Di samping itu, salah satu karakteristik penciptaan manusia
adalah adanya dua jenis kelamin yang berbeda namun harmonis. Keduanya
merupakan bagian dari kesempurnaan bentuk manusia yang diciptakan. Tahap
ketiga dalam penciptaan manusia merupakan langkah yang mengangkat derajat
manusia dibanding dengan makhluk lainnya, yaitu ditiupkan ruh kepada setiap
manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Penciptaan semacam ini merupakan
keputusan Allah Subḥānahu wa Ta’ālā.20
Kemudian, secara berkelanjutan dalam pembahasan ini Amina Wadud
mencoba menelisik dan menginterpretasikan teks-teks al-Qur’an. Dia berusaha
membongkar maksud al-Qur’an mengenai penciptaan manusia (antara laki-laki
dan perempuan serta derajat manusia). Mengenai kesetaraan laki-laki dan
17
Al-Qur’an, 95:4. 18
Ibid., 40:64. 19
Ibid., 32:7. 20
Amina Wadud, “Qur’an Menurut Perempuan: Membaca Kembali Kitab Suci dengan Semangat
perempuan, Wadud menariknya ke akar teologis permasalahan, yaitu asal-usul diri. Meskipun demikian, al-Qur’an tidak pernah menggunakannya untuk
menunjuk pada sesuatu diri yang diciptakan selain manusia. Di dalam
penggunaanya secara teknis al-Qur’an kata nafs merujuk asal usul yang sama. Meskipun manusia tersebar diseluruh muka bumi dan membentuk berbagai
bangsa, suku, dan kelompok yang memiliki beragam bangsa, warna, dan kulit.23
Dalam hal ini Amina Wadud menyimpulkan bahwa dalam catatan mengenai
penciptaan manusia, al-Qur’an tidak pernah menyatakan bahwa Allah Subḥānahu wa Ta’ālā memulai penciptaan manusia dengan nafs Adam, seorang pria.
Demikian dengan kata za wj yang sesungguhnya bersifat netral. Sebab kata
za wj secara konseptual tidak menunjukkan bentuk feminin atau maskulin. Selain itu, kata za wj ini dalam al-Qur’an di samping digunakan untuk merujuk ke manusia, 24 juga digunakan untuk menyebut nama tanaman25 dan hewan26. Jadi
secara umum memang istilah za wj dalam al-Qur’an itu untuk menunjukkan jodoh atau pasangan, bukan jenis kelamin.
Amina Wadud, “Qur’an Menurut Perempuan: Membaca Kembali Kitab Suci dengan Semangat Keadilan”, 25.
24
Amina Wadud, “Qur’an Menurut Perempuan: Membaca Kembali Kitab Suci dengan Semangat
Keadilan”, 26.
25
Al-Qur’an, 55:52. 26
Atas dasar pemikiran inilah, Wadud secara implisit menegaskan bahwa
penciptaan manusia antara laki-laki dan perempuan hendaknya dilihat sebagai
aksentuasi dari paham tauhid (bersatu), saling melengkapi dan saling mengisi
satu dengan yang lainnya. Laki-laki dan perempuan sesungguhnya ibarat dua
sayap burung merpati yang keduanya harus berfungsi menggerakkan tubuh
burung tersebut agar dapat terbang dengan lancar dan aman. Jika salah satu
sayapnya patah atau sengaja dipatahkan, maka burung tersebut akan kehilangan
keseimbangan. Itulah makna dari balancing power dari eksistensi perempuan bagi laki-laki.27
Jadi, dari keterangan diatas jangan disalah artikan dengan pernyataan
penciptaan laki-laki dan perempuan berasal dari jenis yang berbeda dengan
didasarkan pada argumen bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk seorang
laki-laki.28 Sebab dalam al-Qur’an jelas-jelas telah menolak
pandangan-pandangan yang membedakan laki-laki dan perempuan dengan menegaskan
bahwa keduanya berasal dari satu jenis yang sama dan bahwa dari keduanya
secara bersama-sama Tuhan mengembangbiakkan keturunannya baik yang
laki-laki maupun yang perempuan.29
C. Kedudukan dan Hak Seorang Perempuan
Dewasa ini, kiprah perempuan di dunia publik tidak lagi menjadi
pemandangan yang langka. Di berbagai sektor, termasuk sektor yang pada
umumnya didominasi laki-lakipun kita menenmukan keterlibatan para perempuan.
Menariknya, kesuksesan perempuan dalam menjalankan tugasnya tidak kalah
dengan laki-laki. Tentu saja, ini menjadi bukti bahwa kesuksesan di ranah publik
tidak terkait dengan kriteria gender.
Dalam perspektif Islam, citra dan jati diri memang harus dipertahankan.
Apalagi jika citra dan jati diri yang dimaksudkan adalah agama. Pesan nabi untuk
selalu berpegang teguh pada al-Qur’an dan sunahnya harus dipertahankan, dijaga,
dan dibumikan. Namun sekali lagi, dalam kurun waktu yang relatif panjang,
27
Mutrofin, “Kesetaraan Gender dalam Pandangan Amina Wadud dan RiffatHassan”, 248.
28
Baca lebih lanjut M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2013), 421-422.
29
ternyata ada kegagalan membedakan dua hal yang sangat berbeda, dalil agama
dan interpretasinya. Seperti yang dikatakan Mahmud Muhammad Thoha, ternyata
sejumlah aturan yang diskriminatif terhadap perempuan, seperti aturan perceraian,
poligami, dan warisan bukan ajaran murni Islam.30 Tetapi merupakan sisa tradisi
jahiliyah yang dilanggengkan melalui interpretasi ayat-ayat al-Qur’an. Dengan demikian, kita dapat menetapkan sebuah hipotesis bahwa kemungkinan
tersisihnya perempuan dari arena persaingan terbuka juga karena sebab yang
sama.
Landasan normatif tentang kewajiban perempuan untuk tinggal di dalam
rumah atau hanya berkiprah di ranah domestik merujuk pada surat al-Aḥzab: 33,
َةاَكزلا َنِ آَو َة ََصلا َنْمِقَأَو ََوُْْا ِةيِلِهاَْْا َجرَ َ َنْجرَ َ ًََو نُكِ وُيُ ب ِ َنْرَ قَو
ْمُكَريهَلُيَو ِتْيَ ْلا َلْهَأ َسْجيرلا ُمُكْ َع َبِهْذُيِل ُهللا ُديِرُي اََِإ ُهَلوُسَرَو َهللا َنْعِطَأَو
اًرِهْلَ
ُ
٣٣
َ
Perempuan adalah hamba Allah Subḥānahu wa Ta’ālā dan kewajiban untuk mengabdi kepada-Nya kadang-kadang menuntut mereka untuk
meninggalkan rumah. Karenanya, ayat diatas menurut salah satu golongan
menunjukan perintah bahwa perempuan mutlak tinggal di dalam rumah, namun
boleh saja keluar dengan alasan-alasan tertentu.31
Sebagaimana yang terlihat, penjelasan menegenai contoh-contoh
pembenaran perempuan berdiam di rumah lebih dikaitkan dengan
kebutuhan-kebutuhan syari’at. Pertanyaannya adalah apakah benar norma-norma Islam hanya
memberikan kelonggaran pada perempuan sebatas kebutuhan-kebutuhan syari’at?
Apakah tidak mungkin karena alasan yang lain, bekerja untuk mencari nafkah
(kebutuhan ekonomis) misalnya?
Seolah memberikan jawaban atas pertanyaan ini, Muhmmad Quthub
sebagaimana yang dikemukakan M. Quraish Shihab menegaskan bahwa ayat ini
bukan larangan terhadap perempuan untuk bekerja. Islam tidak melarang
30
Mahmud Muhammad Thoha, Syariah Demokratik, terj. Nur Rachman, (Surabaya: Elsad), 1996, 204.
31Sa’id Hawa,
perempuan bekerja. Hanya saja, Islam memang tidak mendorong hal tersebut.
Islam membenarkan mereka bekerja karena darurat dan tidak menjadikannya
sebagai dasar pertimbangan.32 Makna darurat disini ialah pekerjaan yang sangat
perlu, yang dibutuhkan masyarakat atau atas dasar kebutuhan pribadi karena tidak
ada yang membiayai hidupnya atau penanggung biaya hidupnya (suami/ayah)
tidak mampu untuk mencukupi.
Aminah Wadud Muhsin mengemukakan interpretasi yang berbeda. Dalam
hal ini, ia menggabungkan antara perintah berdiam di rumah dan larangan untuk
berpenampilan seperti orang jahiliyah. Karenanya, ia tidak menyetujui pendapat para ulama yang menganggap bahwa ayat ini berisi larangan perempuan keluar
rumah dalam segala bentuknya. Menurutnya, yang terlarang dalam ayat ini hanya
keluar rumah dengan tujuan memamerkan diri. Larangan tersebut tidak diarahkan
kepada gender tertentu. Baik laki-laki dan perempuan dilarang keluar rumah untuk
memamerkan diri, demi mencapai kualitas moral al-Qur’an.33
Amina Wadud berpendapat bahwa al-Qur’an tidak menyandarkan satu
peranan yang spesifik dan stereotip pada tokoh-tokohnya, baik laki-laki maupun
perempuan. Peranan perempuan yang disebutkan dalam al-Qur’an bisa
digolongkan dalam 3 kategori, yaitu34:
1. Peran yang menggambarkan konteks sosial, budaya, dan historis dimana
sang individu perempuan itu hidup tanpa disertai pujian atau kecaman
dalam isi ayatnya.
2. Peran yang bisa diterima secara universal sebagai suatu fungsi wanita
(misalnya, menyusui dan merawat bayi), dimana perkecualian bisa dibuat
dan bahkan telah dibuat dalam al-Qur’an sendiri.
3. Peran yang tidak berkaitan secara spesifik dengan jenis kelamin, misalnya
peran yang menggambarkan peran manusia di bumi dan disebut di dalam
al-Qur’an untuk memperlihatkan fungsi spesifik ini dan bukannya jenis
32
M. Quraish Shihab, Wawa san al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1996), 305.
33
Aminah Wadud Muhsin, Qur’an Menurut Perempuan; Meluruskan Bias Jender dalam Tradisi Tafsir, terj Abdullah Ali (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2001)
34
Amina Wadud, “Qur’an Menurut Perempuan: Membaca Kembali Kitab Suci dengan Semangat
kelamin sang pelaku, yang kebetulan pelakunya adalah seorang
perempuan.
IV. Kesimpulan
1. Amina Wadud merupakan salah seorang feminis yang turut serta
memperjuangkan kedudukan dan hak seorang perempuan.
2. Konstruksi pemikiran Amina Wadud mengenai kesetaraan gender
menggunaka metode atau pendekatan hermenutik.
3. Amina Wadud menegaskan bahwa penciptaan seorang laki-laki dan
perempuan berasal dari satu jenis yang sama.
4. Amina Wadud dalam pemikirannya menyatakan bahwa seorang perempuan kedudukan dan haknya dapat dilakukan di public spear atau
Daftar Pustaka
Al-Qur’an.
Amaliatulwalidain. “Diskursus Gender: Tela’ah Terhadap Pemikiran Amina Wadud”. Tamaddun, 15, 2015.
Muhsin, Aminah Wadud. Qur’an Menurut Perempuan: Meluruskan Bias Jender dalam Tradisi Tafsir, terj Abdullah Ali. Jakarta: Pustaka al-Kauthar, 2001.
Mutrofin. “Kesetaraan Gender dalam Pandangan Amina Wadud dan Riffat
Hassan”. Teosofi: Jurnal Tasa wuf dan Pemikiran Islam, 3, 2013.
Nurul. “Pemikiran Feminisme Amina Wadud (Tafsir Feminis atas al-Qur’an)”, dalam http://nurulzainab.blogspot.com/2012/02/pemikiran-feminisme-amina-wadud, diakses pada 1 Mei 2017.
Shihab, M. Quraish. Membumikan al-Qur’an. Bandung: Mizan, 2013.
Shihab, M. Quraish. Wa wasan al-Qur’an. Bandung: Mizan, 1996.
Wadud, Amina. “Qur’an Menurut Perempuan: Membaca Kembali Kitab Suci dengan Semangat Keadilan”. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2006.
Zainab, Nurul. “Pemikiran Feminisme Aminah Wadud”, dalam