• Tidak ada hasil yang ditemukan

Isu Isu Kontemporer dalam Logistik Perik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Isu Isu Kontemporer dalam Logistik Perik"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

Isu-Isu Kontemporer dalam Logistik Perikanan di

Indonesia:

Strategi Pengembangan dan Implementasi Kebijakan

Hafida Fahmiasari, S.T., M.Sc.

Pendahuluan

Pemerintah Indonesia telah membuat kebijakan yang jelas untuk mempromosikan penggunaan sumber daya maritim di negara ini. Salah satu masalahnya adalah memastikan produk ikan Indonesia dapat dipasarkan di dalam negeri dan internasional di lingkungan bisnis yang kompetitif. Studi ini menyoroti situasi global di pasar ikan dan rantai pasok terkait dengan pengiriman ikan di pasaran. Tinjauan terhadap sistem informasi logistik ikan nasional Indonesia dilakukan untuk mengidentifikasi hambatan dalam menerapkan kebijakan, strategi teknologi, dan cara untuk mengurangi hambatan tersebut.

Makalah ini membahas metodologi yang berbeda untuk menetapkan prioritas strategi implementasi. Hasil studi menunjukkan bahwa daftar lokasi untuk pusat logistik laut dapat ditentukan untuk memastikan bahwa pasokan dan permintaan produk ikan segar dan olahan terpenuhi. Keberhasilan menarik sektor swasta untuk mengembangkan sentra logistik laut akan bergantung pada (1) pelabuhan dan infrastruktur pengolahan ikan, (2) dukungan pemerintah dan industri di wilayah ini, (3) akses ke jalan dan jalan raya, dan (4) kedekatan dari pasar, dan (5) ketersediaan tenaga kerja.

Latar Belakang

(2)

hewan-hewan dan produk turunannya[ CITATION Que06 \l 1033 ]. Potensi ini memastikan kehidupan 10-12 persen dari populasi manusia di seluruh dunia dengan lebih dari 90 persen dari populasi ini bekerja sebagai nelayan skala kecil di negara berkembang [ CITATION The16 \l 1033 ].

Pada sektor perikanan, produksi di 2012 mencapai jumlah lebih dari 160 juta ton[ CITATION The16 \l 1033 ]. Jumlah ini senilai dengan 129 milyar US$. Produksi perikanan global mengambil jatah 16% dari total protein hewani di seluruh dunia[ CITATION FAO141 \l 1033 ]. FAO di 2006 mengestimasi bahwa 87% orang yang bekerja di produksi perikanan berasal dari Asia (41,4 juta). Dimana 13 juta nya adalah dari Cina dan 6,2 juta orang berasal dari Indonesia.

Distribusi produk-produk perikanan harus optimal sehingga dapat mereduksi biaya total dari produk ini. Produk perikanan melibatkan kompleksitas tinggi dalam rantai pengadaan dan distribusinya, termasuk dari poin produksinya ke pelanggan akhir[ CITATION Nic15 \l 1033 ]. Mempertahankan nilai nutrisi sehingga terjaga komposisi dan keuntungannya, juga menghindari kerusakan ikan atau adanya penyakit merupakan hal yang penting [ CITATION Met03 \l 1033 ]. Hal-hal di atas mengarah pada kualitas akhir ikan di tangan pelanggan yang merujuk pula pada harga produk.

Untuk dapat memahami rantai pasok produk kelautan dengan baik, terutama produk-produk perikanan, riset dengan tingkat makro dilakukan dalam penentuan titik-titik logistik produk kelautan: pusat produksi, pusat distribusi, dan buffer stock. Indonesia merupakan negara yang tepat dalam studi ini. Hal ini dikarenakan oleh peran dari Indonesia yang sangat besar dalam mengekspor produk perikanan secara global[ CITATION The153 \l 1033 ].

(3)

akan menjadi simpul logistik produksi perikanan di Indonesia, termasuk penjelasan lengkapnya.

Kajian Produksi Kelautan Secara Global

Secara global, produksi perikanan dan akuakultur memperlihatkan tumbuhnya produksi dari perikanan tangkap dan produk akuakultur dalam 65 tahun terakhir[ CITATION FAO16 \l 1033 ]. Data yang sama juga memperlihatkan bahwa persentase konsumsi ikan meningkat drastis dari 7% di 1975 hingga 39% di 2004, bertentangan dengan perkembangan populasi manusia yang relatif stabil. Namun demikian, peningkatan efek perubahan iklim yang terus-menerus dan perkembangan populasi menyebabkan terjadinya kelangkaan pada produksi perikanan tangkap, contohnya: penurunan produksi ikan teri di Peru akibat efek El Nino, sehingga produksi akuakultur meningkat secara cepat di negara-negara produsen besar komoditas kelautan. Tingkat pertumbuhan produksi akuakultur (lihat di Gambar 1) bahkan melampau pertumbuhan produksi perikanan tangkap di dunia terutama dengan adanya kenaikan tajam di tahun 1990 ketika industri-industri perikanan tumbuh[ CITATION FAO16 \l 1033 ]. Pada sisi suplai, pertumbuhan suplai perikanan global, di angka 3,2%, meningkat per tahunnya dari tahun 1969 ke 2013, dan mengalahkan tingkat pertumbuhan populasi[ CITATION FAO141 \l 1033 ].

Secara spesifik di bidang produksi kelautan, produksi sudah mencapai 108 juta ton di tahun 2014, yang didominasi 80% oleh perikanan tangkap laut dan 20% dari produksi akuakultur[ CITATION The16 \l 1033 ]. Berkaca dari data di atas, negara-negara terbesar dalam memproduksi perikanan tangkap adalah Tiongkok, Indonesia, Amerika Serikat, Rusia, dan Jepang. Tiongkok dan Indonesia juga dikategorikan sebagai negara-Gambar 1: Pertumbuhan produksi kelautan

(4)

negara dengan produksi terbesar di komoditas akuakultur bersama dengan India, Vietnam, dan Filipina. Namun, Tiongkok memiliki perbedaan signifikan pada produksi di kedua komoditas ini, yang cukup jauh untuk dikejar negara-negara lainnya. Produksi besar-besaran di Tiongkok disebabkan oleh tumbuhnya populasi di sana, sehingga membawa ke tingkat konsumsi yang tinggi. Faktor-faktor utama yang meningkatkan konsumsi produk perikanan di Tiongkok adalah berkurangnya limbah, penggunaan yang efisien dari suplai perikanan, bertambah baiknya kualitas saluran distribusi, tumbuhnya permintaan dari pertumbuhan populasi, meningkatnya pendapatan dan urbanisasi, dan perdagangan internasional yang lebih efisien.

Kajian Produksi Kelautan Secara Nasional

Fokus dari studi ini adalah mengekspos potensi produksi perikanan di Indonesia. Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki sepertiga areanya dalam bentuk perairan. Potensi dari produksi kelautan diperlihatkan dengan posisinya sebagai negara lima besar yang memproduksi komoditas perikanan tangkap dan akuakultur. Begitupun jika menilik pada rerata konsumsi ikan per tahun di Indonesia (44,1 kg perkapita) yang lebih tinggi dari rerata konsumsi per kapita global (20 kg perkapita)[ CITATION FAO16 \l 1033 ]. Maka dari itu, Indonesia memiliki pasar yang signifikan untuk pertumbuhan industri produk-produk perikanan, belum lagi populasinya yang masif.

(5)

CEA16 \l 1033 ]. Produksi ini berkontribusi sebanyak 16% dari suplai global tuna. Dari fakta tersebut, pemerintah Indonesia terbukti telah menunjukkan kinerja yang serius dalam meningkatkan sektor perikanan. Pada 2015, Indonesia memperlihatkan pertumbuhan di sektor perikanan sebesar 8,5%, yang mengalahkan angka pertumbuhan ekonomi sebesar 5%[ CITATION BPS151 \l 1033 ]. Kinerja serius juga diperlihatkan dengan terbitnya SLIN.

Data umum dari suplai dan permintaan pada perikanan tangkap diperlihatkan pada Tabel 1. Pertumbuhan per tahun dari suplai perikanan adalah 9,5% di antara tahun 2010-2013. Di lain hal, konsumsi ikan tumbuh 7,6% per tahun di rentang waktu yang sama. Untuk dapat melihat permintaan dasar dari konsumsi perikanan di Indonesia, pemetaan konsumsi per kapita rerata di Indonesia diperlihatkan di Gambar 2. Semakin tua warna biru pada suatu daerah di gambar tersebut menunjukkan makin tingginya konsumsi ikan perkapita di daerah tersebut.

Tabel 1: Produksi dan

konsumsi perikanan

tangkap di Indonesia

(Sumber: Kementerian

Kelautan dan Perikanan,

2015)

Lima provinsi dengan konsumsi ikan terbesar adalah Maluku (55,4 kg), Sulawesi Tenggara (52,6 kg), Kepulauan Riau (52,6 kg), Maluku Utara (50,8 kg), dan Sulawesi Utara (49 kg). Di lain pihak, lima provinsi dengan konsumsi terkecil adalah Jawa Tengah (22,4 kg), Daerah Istimewa

Average Fish Consumption per Capita, 2015 (kg/year)

Map based on Longitude and Latitude. Color shows sum of 2015. Details are shown for Province.

Gambar 2: Konsumsi ikan per kapita di Indonesia pada tahun 2015

(Sumber: data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2015)

Aitem 201 Tahun

0 2011 2012 2013 2014

Suplai Ikan

Total

(1,000 ton) 9,1 10,3 11,6 11,9 13,1 Perkapita

(kg /tahun) 38,4 42,5 47,2 47,8 51,8 Konsum

(6)

Yogyakarta (23,2 kg), Jawa Barat (26,3 kg), Lampung (28,7 kg), dan Jawa Timur (28 kg).

Produksi perikanan tangkap di Indonesia berasar dari klasifikasi sepuluh area, yang dinamakan dengan Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI). Klasifikasi ini berasal dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Klasifikasi ini diperlihatkan dengan Gambar 3. Produksi terbesar dihasilkan oleh WPNNRI 712 (Laut Jawa) dengan 1,1 juta ton. Angka ini mewakili 18% dari produksi perikanan tangkap. Daerah yang paling tidak produktif adalah Selat Cendrawasih dan Samudera Pasifik, yang hanya memproduksi 161 ribu ton (2,7%).

Meskipun memiliki potensi produksi dan konsumsi ikan yang tinggi dalam negeri, Indonesia masih memiliki masalah besar di sektor perikanan dan maritim, contohnya: (i) persebaran area produksi dan konsumsi yang sangat luas, (ii) aktivitas nelayan ilegal, tidak terlaporkan, dan tidak teratur, (iii) armada nelayan yang didominasi oleh kapal skala kecil, (iv) fasilitas dan infrastruktur yang terbatas, dan (v) sistem produksi yang tidak terintegrasi secara baik dari hulu dan hilir[ CITATION Sup15 \l 1033 ]. Ancaman lain yang disebutkan pada Rencana Strategis Kementerian

Gambar 3: Klasifikasi area produksi perikanan tangkap berdasarkan WPPNRI

(7)

Kelautan dan Perikanan di 2010-2015 adalah: pencemaran laut dan pembuangan limbah ilegal dari negala-negara tetangga, degradasi habitat pesisir, konflik terhadap penggunaan ruang dan SDA, modal yang terbatas untuk berinvestasi, dan kemiskinan yang masih menyelimuti mayoritas populasi pesisir, khususnya nelayan-nelayan skala kecil. Masalah-masalah ini disebabkan pula oleh lemahnya sistem pengawasan kelautan. Sehingga, bagian berikutnya akan menjelaskan pentingnya SLIN.

Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN)

SLIN ditetapkan oleh Peraturan Kementerian Kelautan dan Perikanan No. 5 (Permen KP/2014). Definisi dari SLIN adalah system manajemen rantai pasok dari perikanan dan produk turunannya, material, dan peralatan produksi, juga pengadaan sistem informasi penyimpaan, dan distribusi, sebagai bagian integral dari kebijakan untuk meningkatkan kapasitas dan sistem stabilisasi produksi perikanan hulu-hilir, mengontrol ketimpangan harga, juga untuk memenuhi permintaan konsumsi domestik. Tujuan dari SLIN adalah untuk mengembangkan kapasitas dan stabilisasi produksi dan pemasaran dari perikanan nasional; memperkuat dan memperluas koneksi antara pusat produksi hulu, produksi hilir, dan pemasaran secara efisien; dan mengembangkan efisiesi dari manajemen rantai pasok ikan, material, alat-alat produksi juga system informasi dari hulu ke hilir.

(8)

gudang beku (cold storage), gudang penyimpan dan mesin pembeku; penyimpanan ikan hidup berupa antara lain kolam ikan/tambak; dan/atau penyimpanan bahan dan alat produksi, berupa antara lain gudang penyimpanan. Transportasi meliputi: transportasi ikan dan produk perikanan, berupa kapal pengangkut ikan, pesawat udara, kendaraan angkut ikan yang berpendingin maupun tidak berpendingin; transportasi ikan hidup berupa kapal pengangkut ikan, pesawat udara, kendaraan angkut ikan hidup; dan/atau transportasi bahan dan alat produksi berupa kendaraan angkut. Distribusi mencakup: distribusi ikan dan produk perikanan, berupa antara lain depo pemasaran ikan, pasar ikan, dan outlet pemasaran hasil perikanan; dan/atau distribusi bahan dan alat produksi, berupa antara lain toko dan kios.

SLIN diterapkan dengan enam strategi, yaitu: pengelolaan produksi dan pemasaran di bidang perikanan, penyediaan dan pengembangan sarana

(9)

Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN)

Untuk melengkapi komponen SLIN, analisis dari penentuan lokasi pusat produksi, pusat distribusi, dan buffer stock, akan dibahas lebih lanjut di bagian ini. Berbagai penilaian dibahas untuk mendapatkan lokasi yang paling tepat. Di akhir, kedua penilaian dibandingkan sesuai dengan analisa setelahnya.

Metode Analisis Multi Kriteria digunakan pada keseluruhan analisis di studi ini daripada menggunakan metode lainnya seperti Analisis

Efektivitas Biaya, Analisis Biaya Manfaat, Analisis Finansial, dan Analisis Hirarki Proses. Metode-metode yang disebutkan terakhir ini mendukung pembuatan kebijakan penentuan lokasi simpul logistik di level stratejik. Namun demikian, beberapa isu menjadikan Analisis Multi Kriteria menjadi metode terbaik pada studi ini. Metode-metode lainnya membutuhkan data-data yang perlu dimonetisasi dengan tepat di tiap kriteria. Pada kenyataannya, kandidat-kandidat lokasi kurang memiliki perhitungan nilai secara kuantitatif dalam rupiah. Analisis Hirarki Proses juga tidak dapat dilakukan akibat terbatasnya waktu untuk mengadakan wawancara dengan para pemangku kebijakan. Kami pun yakin, di level stratejik, Analisis Multi Kriteria dapat menilai pembuatan kebijakan dalam penentuan lokasi dengan baik. Secara garis besar, Analisis Multi Kriteria menyajikan konsistensi internal, logika metode yang baik, transparansi, kemudahan dalam penggunaan, dan dapat dikauntifikasi[ CITATION Com09 \l 1033 ].

Pada penilaian pertama [ CITATION Set16 \l 1033 ] mengemukakan kriteria-kriteria yang secara signifikan memengaruhi produksi, konsumsi, kapasitas fasilitas pemrosesan ikan, dan kedalaman pelabuhan. Penilaian ini menggunakan kriteria yang memberikan efek pada operasional aktivitas logistik secara langsung. Untuk mendapat

(10)

skor agregat, bobot berbeda diaplikasikan pada tiap kriteria untuk menentukan lokasi simpul logistik akhir.

Penilaian kedua tidak hanya melibatkan kriteria-kriteria yang berhubungan langsung dengan operasional logistik tetapi juga terhadap informasi terkait dengan kesiapan infrastruktur dan sosial. Hal ini bertujuan untuk memberikan pandangan holistik dengan mengombinasikan faktor-faktor tersebut[ CITATION Mur01 \l 1033 ]. Penilaian kedua merujuk pada beberapa kriteria berikut ini: infrastruktur, kedekatan dengan pasar, dukungan pemerintah dan industri, volum komoditas, dan kemacetan[ CITATION Lon12 \l 1033 ].

Tabel 2 memperlihatkan kriteria-kriteria, kandidat-kandidat, dan sumber data di kedua penilaian. Daftar dari para kandidat diambil dari lokasi-lokasi terpilih oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan di 2015. Tiap penilaian dianalisis dengan menggunakan kriteria dan bobot yang berbeda. Pusat produksi dan distribusi memiliki kandidat-kandidat yang sama, yang diambil dari ide awal dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kandidat-kandidat yang berada di area yang sama dijadikan di dalam satu kluster.

(11)

perikanan). Jarak antara asal dan tujuan transportasi memperlihatkan suplai dan permintaan ikan per lokasi yang berbeda. Jadi, hal tersebut dapat memperlihatkan konsumsi dan produksi (per kota/kabupaten dan provinsi). Kemacetan memperlihatkan kecepatan rerata pada akses jalan ke/dari lokasi. Rasio V/C (kecepatan/kapasitas) diperlihatkan untuk menunjukkan kriteria kemacetan. Rasio V/C memperlihatkan mobilitas dan kualitas perjalanan pada tiap fasilitas jalan. Nilai tersebut didapat dari perhitungan volum kendaraan dengan kapasitas jalan raya.

Penilaian 1 Penilaian 2

% dari anggaran infrastruktur pada APBD, % dari suplai buruh di tiap

wilayah, kemacetan

Kandidat dari Pusat Produksi dan Distribusi Kluster 1: Kota Sabang, Kabupaten Aceh Utara, dan Kota Medan; Kluster 2: Kabupaten Pemangkat, Kabupaten Natuna, dan Kabupaten Anambas; Kluster 3: Kabupaten Indramayu dan Kota Bandung; Kluster 4: Kota Semarang, Kabupaten Demak, dan Kabupaten Pati; Kluster 5: Kota Surabaya dan

Kabupaten Pacitan; Kluster 6: Kota Mataram dan Kabupaten Flores Timur; Kluster 7: Pahuwato dan Kabupaten Banggai; Kluster 8: Kota Makassar dan Kota Kendari; Kluster 9: Kota Bitung; Kluster 10: Kabupaten Halmahera Selatan dan Kota Ambon;

Kluster 11: Kota Sorong

Kandidat Buffer Stock: Medan, Sibolga, Pontianak, Bandung, Surabaya, Serang, Semarang, Bali, Makassar, Bitung, Kupang, Ambon, Sorong

Sumber data: Pelindo 1, 2, 3, 4 (2016), Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (2016), Statistik Nasional Indonesia (2015), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan (2015), Provinsi dalam Angka (2015),

World Bank (2016)

Tabel 2: Deskripsi dari Penilaian 1 dan 2

Analisis Lokasi Pusat Produksi, Distribusi, dan Buffer Stock

Penilaian Pertama

Skor dari tiap kriteria di penilaian pertama berdasarkan pada penggunaan interval. Tabel 3 hingga 5 memperlihatkan penetapan yang berbeda dari parameter interval di tiap kriteria. Interval ditetapkan berdasarkan perbedaan dari nilai terbesar hingga terendah di tiap kriteria.

(12)

Tabel 3: Interval parameter dari kriteria kedalaman pelabuhan

Kriteria Interval (ton) Skor Deskripsi dariInterval per Parameter

Tabel 4: Interval parameter dari kriteria produksi perikanan

Kriteria (kg/kapita/taInterval Tabel 5: Interval parameter dari kriteria konsumsi di kota/kabupaten

Kriteria Interval (ton) Skor Deskripsi dariInterval per Parameter Tabel 6: Interval parameter dari kriteria fasilitas pemrosesan ikan

(13)

konsumsi kota/kabupaten tiga kali lebih besar daripada saat penentuan Tabel 7: Bobot per kriteria

Penilaian Kedua

Penilaian pertama dan kedua memiliki interval parameter yang sama dengan kriteria kedalaman pelabuhan, produksi, konsumsi, dan fasilitas pengolahan ikan. Kriteria lain ditambahkan untuk memberikan pandangan holistik mengenai faktor sosial-demografis dan pemerintahan. Tabel 8-11 menampilkan interval parameter untuk kriteria ini.

Parameter interval yang berbeda ditetapkan untuk beberapa kriteria dalam menentukan lokasi stok buffer. Hal ini berkaitan dengan kandidat-kandidat yang berbeda pada analisis lokasi pusat produksi dan distribusi. Namun demikian, kriteria populasi memiliki interval parameter yang sama karena nilai antar masing-masing provinsi tidak berbeda jauh dengan analisis sebelumnya (pusat produksi dan distribusi).

Fasilitas Interval Skor Interval ParameterDeskripsi dari

Pusat Produksi

(14)

Fasilitas Interval (ribu) Skor Deskripsi dariInterval Tabel 9: Interval parameter dari kriteria populasi

Fasilitas Interval(%) Skor Deskripsi dariInterval Parameter

Tabel 10: Interval parameter dari kriteria APBD

Fasilitas Interval Skor Deskripsi dariInterval Parameter

Tabel 11: Interval parameter untuk kriteria dukungan ketersediaan tenaga kerja

(15)

Keputusan Kriteria Bobot Tabel 12: Bobot per kriteria total

Hasil Analisis

Analisis lokasi stok penyangga hanya menggunakan 13 kabupaten yang disebutkan pada Tabel 2. Kabupaten ini telah mewakili setiap kluster yang terdaftar di pusat produksi dan distribusi. Berdasarkan hasil penilaian, lokasi lima besar adalah Bitung, Surabaya, Ambon, Bali, dan Makassar. Hasil ini mengikuti fakta bahwa konsumsi dan produksi produk perikanan di daerah ini lebih tinggi daripada daerah lainnya (lihat Gambar 2).

(16)

keseluruhan. Untuk memperjelas penyebaran pusat produksi, Gambar 5 dibuat.

Gambar 5: Peta Persebaran Pusat Produksi

Kandidat Kluster Skor di penilaian 1 Skor di penilaiankedua

Kota Medan 1 6,4 5.6

Kabupaten

Pemangkat 2 3,4 4.2

Kabupaten

Indramayu 3 4,6 5.3

Kabupaten Pati 4 3,5 4.2

Kota Surabaya 5 6,5 6.8

Kota Mataram 6 4,3 4.8

Kabupaten Banggai 7 3,5 4.2

Kota Makassar 8 4,0 4.4

Kota Bitung 9 7,4 6.6

Kota Ambon 10 8,2 6.2

Kota Sorong 11 3,7 4.2

Kota Tual 12 6,1 5.4

Tabel 13: Hasil dari Penilaian Pusat Distribusi

(17)

Kandidat Kluster penilaianSkor di 1

Skor di penilaian 2

Kota Medan 1 4,8 Kota Sabang:4,3

Kabupaten Anambas 2 3,3 4,1

Kota Indramayu 3 4,6 4,3

District Pati 4 3,4 4,1

Kota Surabaya 5 5,3 5,8

Kota Mataram 6 4,2 4,2

District Banggai 7 3,4 3,9

Kota Makassar 8 4,0 4,1

Kota Bitung 9 7,5 6,3

Kota Ambon 10 6,2 4,7

Kota Sorong 11 3,8 3,9

Kota Tual 12 5,0 4,4

Tabel 14: Hasil analisis pusat distribusi

Gambar 6: Peta persebaran pusat distribusi

Tabel 15 mempresentasikan hasil analisis stok buffer pada kedua penilaian tersebut. Bitung, Surabaya, Ambon, Denpasar, Makassar adalah lima kota teratas yang menjadi stok buffer pada penilaian pertama. Sementara itu, penilaian kedua lebih memilih peringkat yang berbeda: Surabaya, Bitung, Ambon, Denpasar, dan Makassar. Kriteria tambahan populasi dan ketersediaan tenaga kerja menempatkan Surabaya sebagai peringkat pertama dari Bitung. Kriteria yang paling signifikan adalah kapasitas fasilitas pengolahan ikan di Surabaya yang memiliki bobot terbesar, hingga menjadikannya sebagai pemenang pada penilaian kedua. Peta hasil stok buffer ditunjukkan oleh Gambar 7.

(18)

yang memiliki bobot yang signifikan, yang tidak dipertimbangkan dalam metode pertama.

Melihat hasil dari kedua pusat produksi dan distribusi, kluster 2-12 memiliki pemenang yang dominan meskipun bobot dan kriteria lainnya dimodifikasi dalam penilaian kedua. Untuk memeriksa ketahanan dari kluster 1, analisis sensitivitas akan dilakukan pada bagian selanjutnya.

Peringk

at Penilaianpertama Penilaiankedua

1 Bitung Surabaya

2 Surabaya Bitung

3 Ambon Ambon

4 Denpasar Denpasar

5 Makassar Makassar

6 Medan Sibolga

7 Sibolga Sorong

8 Sorong Semarang

9 Semarang Medan

10 Pontianak Pontianak

11 Kupang Kupang

12 Serang Serang

13 Bandung Bandung

Tabel 15: Hasil Perhitungan Lokasi Stok Buffer

Gambar 7: Peta Persebaran Lokasi Stok Buffer

Analisis Sensitivitas

(19)

Bobot yang berbeda diterapkan untuk mengecek sensitivitas dari hasil-hasil tersebut. Untuk pusat distribusi, bobot fasilitas pengolahan ikan di tingkat provinsi dan kota/kabupaten mempertahankan tingkat dari kepentingan, sebagai yang tertinggi, karena ini adalah kriteria yang paling penting. Perubahan diterapkan ke dalam kriteria lain: kedalaman pelabuhan, konsumsi, dan produksi di tingkat provinsi dan kota/kabupaten. Perubahan tersebut ditunjukkan oleh kriteria infrastruktur (kedalaman pelabuhan, kemacetan, dan % anggaran infrastruktur) dan kriteria sosial (populasi dan ketersediaan tenaga kerja). AS untuk stok buffer menerapkan perubahan bobot tetapi mempertahankan tingkat signifikansi dari fasilitas pengolahan ikan dan kriteria konsumsi. Penerapan perubahan berat dijelaskan pada Tabel 16.

Perubahan

Kriteria Aksi

Infrastruktur ++ Sosial

--Menambahkan bobot pada kedalaman pelabuhan, kemacetan, % dari APBD di infrastruktur Mengurangi bobot pada populasi dan ketersediaan

tenaga kerja

Infrastruktur – Sosial ++

Menambahkan bobot pada populasi dan ketersediaan tenaga kerja

Mengurangi bobot pada kedalaman pelabuhan, kemacetan, % dari APBD di infrastruktur Tabel 16: Perubahan Bobot pada Analisis Sensitivitas

Hasil AS menunjukkan bahwa Kota Sabang selalu tampil sebagai lokasi pilihan daripada Kota Medan dalam kedua SA: infrastruktur ++ dan infrastruktur --. Meski demikian, perbedaan skor Kota Medan dan Kota Sabang sangat kecil pada setiap uji coba, kebanyakan hanya 0,1. Kota Sabang, dengan demikian, memiliki peran yang tetap sebagai pusat distribusi terbaik di kluster 1.

Uji coba AS dalam stok buffer juga lebih memilih peringkat yang sama di lima kota teratas: Surabaya, Bitung, Ambon, Denpasar, dan Makassar. Dengan demikian, kota-kota ini memiliki nilai yang kuat sebagai stok buffer. Kota-kota ini harus diprioritaskan untuk pertimbangan bagi pemerintah.

Kesimpulan

(20)

berkompromi dengan kriteria infrastruktur dan sosio-ekonomi. Penilaian pertama hanya mempertimbangkan karakteristik langsung operasi perikanan, seperti kedalaman pelabuhan, produksi (tingkat provinsi dan kabupaten/kota), kapasitas fasilitas pengolahan ikan, dan tingkat konsumsi. Penilaian kedua memberikan kriteria sosial ekonomi tambahan: populasi, % anggaran infrastruktur dalam APBD, dan pasokan tenaga kerja.

Kedua penilaian tersebut menghasilkan lokasi yang sama untuk dipilih di setiap kluster dalam hal pusat produksi. Dalam menentukan pusat distribusi, hasilnya hampir sama antara kedua penilaian tersebut, kecuali di kluster 1. Penilaian kedua lebih mengutamakan Kota Sabang daripada Kota Medan. Lokasi stok buffer pada penilaian kedua menetapkan Surabaya sebagai yang tertinggi. Ini mengalahkan Bitung, tidak seperti pada penilaian pertama, karena populasi di bagian timur berkontribusi pada skor agregat yang lebih rendah.

Kriteria sosio-ekonomi tambahan mengurangi kesenjangan antara peringkat tertinggi dan paling terendah di setiap kluster. Kriteria ini juga menambah skor di setiap lokasi, kecuali di lokasi Indonesia Timur. Hal ini disebabkan oleh rendahnya jumlah penduduk di wilayah tersebut. Penilaian kedua memberikan analisis yang lebih kuat karena pemerintah dapat mengandalkan tidak hanya dengan kegiatan infrastruktur dan perikanan yang ada, tetapi juga bagaimana masing-masing daerah memperhatikan tenaga kerja, anggaran infrastruktur, dan kedekatan dengan pasar.

Rekomendasi

(21)

dapat dipenuhi, dan sektor swasta tertarik untuk mengembangkan simpul logistik tersebut.

Hasil prioritas logistik diuji terhadap dua penilaian dan menyediakan daftar lokasi yang sesuai dengan kriteria investasi. Ditemukan pula, ada 5 (lima) faktor yang akan menentukan keberhasilan investasi tersebut, yaitu: (1) peningkatan sarana dan prasarana pelabuhan sesuai dengan kebutuhan fasilitas produksi dan pusat distribusi, terutama meliputi: kedalaman kolam dan panjang dermaga (sesuai ukuran kapal, frekuensi, dll.) dan infrastruktur pelabuhan untuk penanganan ikan, terutama penyimpanan dingin; peningkatan dukungan untuk layanan logistik; (2) meningkatkan kerjasama dengan pemerintah dan perusahaan yang menyediakan jasa logistik; (3) memperbaiki akses ke jalan raya, meliputi: peningkatan akses jalan antar pelabuhan, lokasi pusat produksi dan distribusi, dan lokasi industri pengolahan ikan; (4) kedekatan pasar: berpopulasi di sekitar pusat logistik sebagai pelanggan akhir, dan (5) ketersediaan tenaga kerja: memastikan sumber daya manusia untuk mengelola infrastruktur yang direncanakan.

Studi lebih lanjut harus mencakup kriteria ketersediaan lahan dan infrastruktur pendukung. Pasokan lahan harus memadai di pelabuhan dan lokasi pusat produksi dan distribusi. Sementara itu, infrastruktur pendukung perlu mencakup ketersediaan listrik di pelabuhan dan lokasi pusat produksi dan distribusi, serta ketersediaan air bersih di pelabuhan dan lokasi pusat sentra produksi dan distribusi.

Referensi

CEA. (2016, December 31). Indonesia Fisheries: 2015 Review. Retrieved February 1, 2017, from https://www.packard.org/wp-content/uploads/2016/09/Indonesia-Fisheries-2015-Review.pdf

Communities and Local Government. (2009). Multi-criteria analysis: a manual. London: Communities and Local Government Publications.

(22)

Long, S., & Grasman, S. E. (2012, November 8). A strategic decision model for

evaluating inland freight hub locations. Research in Transportation Business and Management, 5, 92-98.

Metaxa, I. (2003). Asigurarea i controlul calit ii în acvacultur. Bucharest.

Ministry of Maritime Affairs and Fisheries. (2015). Book of Statistics Capture Fisheries.

Jakarta.

Murthy, A. S. (2001). Transportation engineering basics (2nd ed.). New York: American Society of Civil Engineers.

Nicolae, C. G., Moga, L. M., Nenciu, M. I., Bahaciu, G. V., & Marin, M. P. (2015). PARTICULARITIES AND MANAGEMENT OF THE DISTRIBUTION CHAIN FOR FISH AND FISHERY PRODUCTS. AgroLife Scientific Journal, 4(1), 111-116. Quebec. (2006, April 1). The Marine Product Processing Act. Retrieved February 20, 2017, from http://legisquebec.gouv.qc.ca/en/showdoc/cs/T-11.01/20060401

Bloomberg. (2015, August 18). Fish Farming Becomes Bigger Business Than the Open Sea. Retrieved February 1, 2017, from

https://www.bloomberg.com/news/articles/2015-08-17/hungry-fish-farms-lure-cargill-as-seafood-demand-grows

Setijadi. (2016, May 10). Ringkasan Eksekutif Kajian Pusat Produksi dan Pusat Distribusi. Bandung: Supply Chain Indonesia.

Supply Chain Indonesia. (2015, January 26). Cold Chain System untuk Peningkatan Efesiensi dan Produktivitas Sektor Perikanan. Retrieved February 20, 2017, from http://supplychainindonesia.com/new/cold-chain-system-untuk-peningkatan-efesiensi-dan-produktivitas-sektor-perikanan/

The World Bank. (2015, December 31). Fisheries capture production. (The World Bank) Retrieved February 1, 2016, from

http://data.worldbank.org/indicator/ER.FSH.CAPT.MT

The World Bank. (2016, October 3). Oceans, Fisheries and Coastal Economies. (The World Bank) Retrieved February 20, 2017, from

http://www.worldbank.org/en/topic/environment/brief/oceans

Gambar

Gambar 1: Pertumbuhan produksi kelautan
Tabel 1:201201TahunAitem201201201Produksi dan
Gambar 3: Klasifikasi area produksi perikanan tangkap berdasarkanWPPNRI(Sumber: Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2014)
Tabel 2: Deskripsi dari Penilaian 1 dan 2
+7

Referensi

Dokumen terkait

Untuk itu penelitian atau studi lanjutan yang direkomendasikan adalah kajian tentang kebutuhan sarana dan prasarana pendukung pada setiap lokasi kegiatan pedagang kaki lima dengan

(2) Kinerja guru, sarana prasarana, fasilitas dan lingkungan memberi pengaruh pada keberhasilan pembelajaran BBL, (3) Terdapat perbedaan peningkatan kemampuan

Demikian pula kebijakan/aturan; undang-undang/peraturan menteri/peraturan daerah; pembangunan sarana dan prasarana fasilitas infrastruktur yang mendukung aktivitas

2. Kurangnya sarana dan prasarana yang dimiliki dalam penyuluhan. Fasilitas ini juga menentukan kenyamanan dalam penyampaian penyuluhan baik dari pemberi materi maupun

Anonim, 2007, Penentuan Kebutuhan Investasi Sarana dan Prasarana Air Minum Program Penyehatan PDAM Kabupaten Cirebon.. Cirebon: PDAM Kabupaten

Perencanaan: Kepala sekolah menentukan kebutuhan sarana dan prasarana untuk sekolah inklusif setelah itu kepala sekolah mengajukan ke Dinas Pendidikan, Pemuda Dan

Analisis kebutuhan sarana dan prasarana yang ditemukan dalam penelitian ini pada intinya sesuai dengan yang diungkapkan oleh Bafadal (2003:30) mengatakan dalam

Sehubungan dengan penjelasan di atas, keberhasilan anak dalam belajar sangat dipengaruhi oleh faktor guru, alat/fasilitas, sarana dan prasarana pendidikan, juga