GENDER DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Nurmawati
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Jurai Siwo Metro
Abstrak
Dikursus tentang gender dalam pendidikan Islam tidak pernah sepi dari perbincangan baik dikalangan masyarakat pada kehidupan sehari-hari. Pada perkembangan modern ini banyak perbincangan gender yang telah melibatkan pemikiran Islam untuk menggali kembali pemikiran Islam dalam suatu gender pendidikan. Kondisi ini tidak terlepas dengan adanya kelompok yang menyebutkan bahwa ajaran Islam tidak sensitif gender, bahkan cenderung mendeskriminasikan perempuan, terutama saat segelincir orang berbicara tentang keberadaan perempuan yang terkekang oleh adanya pembatasan gerak perempuan untuk mendapatkan akses dalam pendidikan Islam. Tulisan ini akan menampilkan realitas sesungguhnya tentang pandangan Islam terkait dengan persoalan gender terutama keberadaan perempuan yang sangat dihargai sebagaimana yang terdapat dalam Al-qur’an dan Hadist Nabi Muhammad Saw. Islam tidak memeberikan ruang terhadap tumbuhnya diskriminasi terhadap perempuan karena Islam memandang derajat laki-laki dan perempuan sama dalam setiap aktifitas kehidupan sehari-hari.
Kata kunci : Gender, Pendidikan, dan Islam.
Abstract
Discourses about gender in Islamic education is never devoid of good conversation among the comCmunity in everyday life. In this modern development of many conversations gender has been involved with Islamic thinking to explore the Islamic thought in a gender education. This condition can not be separated with the group that says that Islam is not gender sensitive, and even tend to discriminate against women, especially when segelincir people talk about the presence of women is constrained by the restrictions on movement of women to have access to Islamic education. This paper will show the true reality of the Islamic stance related to gender issues, especially where women are greatly appreciated, as contained in the Qur'an and the Hadith of the Prophet Muhammad. Islam is not giving out space to the growing discrimination against women because Islam regards the degree of men and women are equal in every activity of daily life.
Keywords: Gender, Education and Islam.
A. Pendahuluan
hanya persoalan beda jenis kelamin. Kedatangan Islam di tengah krisis akhlak dan peradapan, menjadikan Islam sebagai agama yang memberikan begitu banyak keadilan dan jalan keluar bagi permasalahan yang dihadapi masyarakat jahiliyah pada waktu itu, khususnya perlakuan yang semena-mena terhadap seorang perempuan, kaum laki-laki selalu menjadikan perempuan budak dan apabila seorang ibu melahirkan seorang bayi perempuan maka bayi tersebut akan dibunuh. Oleh sebab itu, diperlukan adanya pendidikan Islam karena pendidikan Islam merupakan suatu kegiatan atau proses yang berhubungan dengan pembinaan yang dilakukan seseorang kepada orang lain agar meningkatkan kualitas kehidupan pribadi dan masyarakat, bisa menghargai satu sama lain dan tidak mendeskriminasikan antara masyarakat satu dengan lainnya.(Dewi)
Islam datang untuk mengangkat derajat kaum perempuan dari kenistaan menuju kemuliaan, dari makhluk hina dina menjadi makhluk mulia yang memiliki derajat sama denganaki-laki. Sebelum kedatangan Islam ke jazirah Arab, perlakuan buruk terhadap kaum peremuan menjadi tradisi yang telah tertanam sejak nenek moyang mereka yang di praktekkan secara turun temurun.Penindasan dan penghinaan kepada perempuan sebagi makhluk yang rendah dan hina mendapat persetujuan dari berbagai kalangan baik bangsawan maupun masyarakat jelata. Ironisnya bukan hanya dikalangan masyarakat jahiliyah saja tetapi pada peradapan lain pun menganggap perempuan lebih rendah dari pada laki-laki seperti peradapanYunani, Romawi, dan India. Masyarakat Yunani kelas atas menganggap perempuan itu hanya sebagai pemuas nafsu birahi laki-laki, sedangkan perempuan dikelas bawah hanya diperjual belikan seperti budak dan perempuan itu dianggap tidak ada nilainnya sama sekali. Dalam peradapan Romawi, perempuan dianggap tidak sempurna dan tidak memiliki hak apapun, bahkan jika telah berumah tangga suaminya berhak untuk menjualnya, menyiksa, mengusir serta membunuh istrinya.(Dewi)
Dengan demikian diperlukan adanya pendidikan Islam yang sesuai dengan kesetaraan gender agar praktek kependidikan Islam tidak lepas dari paradigma, kosep, filosofi, hingga metodologi yang digunakan dalam mengkonstruksi pendidikan Islam. Oleh karennya, pengembangan pemikiran pendidikan Islam yang sangat diperlukan untuk merancang sistem pendidikan Islam yang tidak menyimpang dari gender yang digunakan untuk mendukung konsep pendidikan Islam berbasis kesetaraan gender. Dengan adanya pendidikan Islam manusia bisa saling menghargai dan tidak semena-mena terutama kepada kaum perempuan dan menjunjung tinggi harkat martabat kaum perempuan.
B. Pengertian Gender dan Pendidikan Islam
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata gender berarti jenis kelamin atau hal-hal yang berhubngan dengan jenis kelamin(Dewi). Secara etimologi kata gender berasal dari bahasa Inggris yang artinya jenis kelamin. Sedangkan secara Istilah gender adalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan baik dari segi fisik, sosial budaya, nilai, tingkah laku ataupun yang lainnya. Menurut Unger & Crawford (1992) gender merupakan perbedaan antara laki-laki yang dikontruksi secara sosial bukan berdasarkan berbedaan biologis semata. Sedangkan menurut Mores (1993) gender adalah peran sosial yang terbentuk dalam masyarakat. Perbedaan gender ini terbentuk oleh faktor-faktor idiologis, sejarah, etnis, ekonomis dan kebudayaan. Gender adalah perilaku antara laki-laki dan perempuan bukan secara biologis melainkan terbentuk melalui proses sosial dan kultural. Gender dapat berubah sementara jeniskelamin biologis akan tetap tidak berubah(Fitrianti). Kusmaningtias mendefinisikan gender adalah pengertian tentang laki-laki dan perempuan yang dikonstruksikan oleh manusia, melalui berbagai proses sosial budaya. Bahwa laki-laki itu kuat tidak boleh cengeng, bertugas mencari nafkah, harus melindungi, gagah dan sebagainya. Demikian pula bila melihat perempuan itu lemah, lembut cengeng, bertugas mengasuh anak dan sebagainnya. Kedua penghayatan tersebut adalah kontruksi kebudayaan (Mardliyah).
Secara umum gender merupakan perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang dibedakan berdasarkan jenis, fisik ,pola pikir, tingkah laku maupun sosial budaya.Seperti halnya seorang laki-laki adalah kepala rumah tangga yang harus mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya.Begitu sebaliknya seorang perempuan yang menjadi istri harus melayani seorang suami, mengurus anak, memasak didapur dan yang lainnya.
bentuk-bentuk kekerasan. Kaum perempuan adalahpihakyang paling sering dirugikan dalam praktek-praktek dalam perbedaan gender ini, maka konsep bias gender dapat diartikan pembentukan sifat atau karakter laki-laki dan perempuan secara sosial dan kultural yang menguntungkan kaum laki-laki dan merugikan kaum perempuan. Bias genderini terjadi pada semua bidang kehidupan, termasuk pendidikan(Hidayat).
Dalam memeahami konsep gender, Monsour Faqih membedakannya antara gender dan seks atau jenis kelamin. Pengertian seks lebih condong pada penafsiran atau pembagian dua jenis kelamin manusia berdasarkan ciri biologis yang melekat, tidak berubah dan tidak dapat dipertukarkan. Dalam hal ini sering dikatakan sebagai ketentuan Tuhan atau kodratsedangkan konsep gender adalah sifat yang melekat pada laki-laki atau perempuan yang dikontruksi secara sosial maupun kultural dan dapat dipertukarkan. Sehingga semua hal yang dapat dipertukarkan antara laki-lakian perempuan, yang bisa berubah dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat yang lainnya, maupun berbeda dari suatukelas ke kelas yang lain, itulah yang disebut dengan gender. Jadi, gender diartikan sebagai jenis kelamin sosial, sedangkan seks adalah jenis kelamin biologis. Maksudnya adalah dalam gender ada bebrapa peran, fungsi dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan sebagai hasil kontruksi sosial.(Mursidah)
Meskipun kesetaraan gender datang dari masyarakat diluar Islam yang memiliki permasalahan tentang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, akan tetapi sebelumnya Islam telah mengajarkan kesetaraan gender meskipun yang digunakan bukan menggunakan istilah gender. Kata gender memang tidak ditemukan oleh masyarakat Islam, tetapi kalau yang di maksud jenis kelamin dan pemberlakuan yang sama untuk laki-laki dan perempuan tanpa diskriminasi, maka ajaran Islam telah menjelaskan secara rinci tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan. Al-Qur’an dan Hadist senantiasa menyebutkan kata-kata laki-laki dan perempuan bersamaan. Istilah gender sebenarnya datang dari barat dan kemudian diadopsi oleh umat Islam, karena ada anggapan dari segelintir orang yang mengatakan bahwa masih ada deskriminasi terhadap kaum perempuan meskipun Islam telah melarangnya. (Dewi)
tanggung jawab utama perempuan yang sudah berkeluarga. Suami, istri dan anak-anak sama sepenuhnya untuk mendapatkan tempat tinggal yang tenag dan indah. Didalamnya semua pihak dapat menikmati ketenangan, ketentraman dan rasa akrab, serta menyatu dalam keluarga, disamping itu uga harus perhatian dan kasih sayang. Bagi seorang istri, walaupun turut ambil dalam menjalankan kegiatan bersifat profesional, rumah tetap menjadi tempat terindah bagi dirinya beserta keluarga.(Dewi)
C. Pengertian Pendidikan Islam
Pendidikan berasal dari kata didik, artinya memelihara, merawat dan memberi latihan agar seseorang memiliki ilmu pengetahuan seperti yang diharapkan baik dari perilaku, sopan santun, akal budi, akhlak, dan sebagainya. Selanjutnya dengan menambahkan awala-pe hingga menjadi pendidik, artinya orang yang mendidk. Dalam kamus Bahasa Indonesia kata pendidik, artinya orang yang mendidik. Secara etimologi dalam bahasa Inggris kata pendidik berasal dari kata teacher yang artinya pengajar. Demikian pula dalam bahasa arab berasal dari kata Al-mualim(guru), murbbi (mendidik), mudarris (pengajar) dan ustadz.(Ramli)
Menurut Ahmad Tafsir pendidik adalah orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik dengan upaya mengembangkan potensi peserta didik, baik potensi rasa, cipta, maupun karsa. Sedangkan Abdul Mujib mengemukakan bahwa pendidik adalah bapak rohani bagi peserta didik,yang memeberikan santapan jiwa dengan ilmu, pembinaan akhlak mulia, dan meluruskan perilakunya yang buruk. Secara umum dijelaskan pula oleh Maragustam Siregar,yakni orang yang memberikan ilmu pengetahuan, pengalaman, keterampilan dan lain-lain baik di lingkungan keluarga, masyarakat maupun di sekolah (Ramli).
Ketika isu gender diangkat, yang timbul dalam benak masyarakat adalah deskriminasi perempuan dan menghilangkan hak-haknya. Gender telah diperjuangan oleh beberapa kalangan baik dari kalangan akademisi maupun dari kalangan yang menganggap bahwa Islam adalah adalah agama yang memicu kehadiran gender tersebut didunia ini. Tentunya para orientalis yang berbasis misionarisme ini ingin mendeskreditkan umat Islam dengan mengangkat isu ini dalam berbagai tulisan dan buku atau artikel-artikel yang menyudutkan dan memberikan opini secara sepihak tentang pendidikan Islam dan gender. Dalam pendidikan Islam tidak diajarkan untuk membeda-bedakan antara hak dan kewajiban yang ada pada anatomi manusia. Pada pendidikan Islam kedua anatoni yang berbeda tersebut selalu dianggap sama. Islam mengedepankan konsep keadilan bagi siapapun tanpa melihat jenis kelamin mereka, baik dari laki-laki maupun dari perempuan. Islam adalah agama yang telah memebebaskan belenggu dari pemerintah yang selalu memperbudak kaum perempuan.(Miskahuddin)
secara utuh dalam semua dalam segi kemanusiaannya, maka semua segi kehidupan manusia harus harus bersinggungan dengan dimensi spiritual, moralitas, sosialitas, emosionalitas, rasionalitas,estetis dan fisik. Pentingnya pendidikan pada manusia adalah dituntut bisa berkontribusi mengembangkan kemampuan umum pada peserta pendidik.
Pendidikan merupakan kunci terwujudnya keadilan gender dalam masyarakat, karena pendidikan merupakan alat untuk mentransfer norma-norma masyarakat, pengetahuan dan kemampuan mereka. Dengan kata lain lembaga pendidikan merupakan sarana formal untuk sosialisasi sekaligus transfer nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, termasuk nilai dan norma gender. Untuk itu sejak awal perlu diupayakan terwujudnya keadilan gender dalam lembaga pendidikan Islam.
Di bidang pendidikan Islam, kaum perempuan masih tertinggal dibandingkan laki-laki,. Kondisi ini antara lain disebabkan adanya pandangan pada masyarakat yang mengutamakan dan mendahulukan laki-laki untuk mandapatkan pendidikan dari pada perempuan. Orang tua anak-anak perempuan usia sekolah dari keluarga miskin, menganggap anak-anak perempuan mereka tidakusah melanjutkan sekola,lebih baik langsung dinikahkan atau didorong bekerja disektor publik sebagai pembantu rumah tangga atau buruh informal. Kondisi demikian yang menjadikan anak-anak perempuan usia sekolah dari kalangan keluarga miskin menjadi kelompok yang dilanggar hak sosial-ekonomi-budayannya. Meraka tidak bisa mendapatkan hak memperoleh pendidikan yang berkualitas dan mendapatkan biaya yang cukup murah agar mereka bisa belajar seperti anak-anak dari keluaga yang kaya.(Mursidah)
Membaca realitas diatas, dunia pendidikan dinegeri ini telah mendeskriminasikan hak-hak anak-anak bangsa terutama pada anak-anak perempuan. Untuk itulah saat in sangat diperlukan bagi kalangan penggiat Pendidikan Islam agar mengembangkan progam pendidikan berbasis keagamaan, yakni : pertama perlu dirumuskannya kurikulum pendidikan Islam yang sensitif gender. Kedua, perlu kalangan penggiat pendidikan Islam adanya plafon subsidi anggaran pendidikaan yang khusus untuk untuk anak-anak usia sekolah dari komunitas perempuan atau dari kalangan keluarga miskin. Ketiga, kesetaraan dalam mengaktualisasikan diri dalam proses dan kegiatan belajar-mengajar. (Mursidah)
Sedangkan pendidikan Islam sendiri merupakan suatu pendidikan yang dilakukan masyarakat Islam yang berkaitan dengan pelajaran agama Islam dari tingkat dasar sampai keperguruan tinggi (Kritis). Dalam pendidikan Islam banyak kajian-kajian yang perlu dipelajari seperti Ilmu Fiqih, akhlak, tasawuf, kalam, tauhid dan masih banyak lagi. Ilmu-ilmu tersebut merupakan ilmu dasar yang harus dipelajari dan sebagai acuan agar manusia dapat hidup dengan nyaman, aman, damai, saling menghargai satu sama lain. Dengan begitu, kaum perempuan bisa terselamatkan dari ancaman-ancaman kaum laki-laki yang selalu meremehkan dan menindasnya.
Dengan menyimak betapa telah terjadi tafsir yang melenceng terhadap ajaran Islam tentang kesetaraan gender yang telah disalurkan secara baik malalui praktek pendidikan agama Islam yang telah berlangsung berabad-abad, maka perlu diadakan reorientasi, bahkan dekontruksi terhadap struktur bangunan tafsir materi pendidikan agama Islam tersebut, dengan mengacu pada ajaran Al-Qur’an dan praktek teladan Nabi Muhammad Saw. Untuk itu diperlukan strtegi pengarustamaan kesetaraan gender melaluibahan ajar pendidikan agama Islam mengingat kehidupan mayoritas muslim menunjukkan realitas aktual faktual sebagai berkut pertama, pola relasi laki-laki dan perempuan dalam masyarakat muslim di Jawa misalnya, merupakan cerminan dari sistem pengetahuan tentang relasi laki-laki dan perempuan yang terserap dari budaya Jawa dan tafsir ajaran agama yang disosialisasikan melalui sentral pendidikan yaitu Pesantren, Madrasah, dan Sekolah. Kedua, beberapa penelitian menunjukkan bahwa lembaga pendidikan pesantren masih banyak diwarnai oleh gaya kepemimpinan paternalistik. Banyak pesantren yang menggunakan kitab-kitab kuning yang menerangkan tentang hak dan kewajiban suami terhadap istrinya dan sebaliknya hak dan kewajiban seorang istri kepada suaminya dengan porsi yang tidak imbang antara satu dengan yang lain. Atas dasar fakta-fakta tersebut, jelas sangat dibutuhkan suatu usaha pengarustamaan gender dalampengatahuan masyarakat Islam, dan hal ini tidak bisa dilakukan kecuali denganikhtiar pengarustamaangender melalui pendidikan.
Pendidikan merupakan kunci utama agar terwujudnya suatu keadilan gender dalam masyarakat, karena pendidikan disamping merupakan alat mentransformasi norma-norma masyarakat, pengetahuan dan kemampuan mereka, juga sebagai alat untuk mengkaji dan menyampaikan ide-ide dan nilai-nilai baru. Karena itu dalam lembaga pendidikan, sebagai tempat untuk mentrasfer ilmu pengetahuan kepada masyarakat, sejakawalperluperlu adanya usaha untuk mewujudkan keadilan dalam gender. Untuk mengarah pada terwujudnya hal tersebut,maka diperlukan adanya keadilan gender dalam pendidikan dan menghilangkan perbedaan antara peserta didik, mengupayakan keadilan-keadilan dikalangan pemimpin, meredam sebab-sebab terjadinya kekerasan dan diskriminasi melalui materi pengetahuan yang diajarkan, proses pembelajaran yang dilakukan dan menentang segala ide dan pemikiran yang individual.(Muchlis Solichin) Bukan saja pendidikan mensyaratkan otak, tetapi juga karena pendidikan memiliki tujuan mengoptimalkan otak. Tidak saja untuk aspek rasional kognitif, tetapi juga emosi, fisik, dan spiritual (Given, Terj. Lala Herawati Darma, 2007: 29).(Wahyudi)
menjunjung tinggi nilai-nilai kesetaraan anti diskriminasi terhadap perempuan atau laki-laki harus di tumbuhkan. Nilai-nilai gender patriarki yang menciptakan dikotomi dan menempatkan laki-laki dan perempuan dalam posisi yang tidak setara yang harus dikritisi dan didekontruksi, karena dalam kontruksi gender yang tradisional posisi perempuan dan laki-laki ditempatkan secara tidak seimbang dan tidak adil. Kultur laki-lakian yang mendominasi hampir segala aspek kehidupan telah meyebabkan masyarakat begitu saja menerima, melegitiminasi, dan menerapkan kultur tersebut dalam kehidupannya. Nilai-nilai gender tradisional telah menghegemoni pikiran dan perilaku setiap orang, sehingga daya kritis individu dan masyarakat untuk melihat fenomena ketidak adilan dalam nilai-nilai tersebut cenderung akan mati. Untuk memutus mata rantai perkembangan perlakuan ynag tidak adil, perlu upaya bersungguh-sungguh dan terus-menerus untuk membangun kesadaran tentang kesetaraan dan keadilan relasi antara laki-laki dan perempuan. Dalam rangka itu, pendidikan, khususnya pendidikan Islam memiliki peran yang sangat strategis untuk menumbhkan dan mengembangkan wawasan dan kesadaran nilai gender yang egatarian.(Wahyudi)
Kontruksi Ilmu Agama Islam yang diajarjkan disekolah-sekolah, madrasah-madrasah, dan pesantren-pesantren tidaklepas dari logika deduktif dari para perancangnya. Misalnya, fiqih dan tafsir yang disitu disinyalir adanya praktek-pratek yang dinilai yang bersifat subordinatif. Logika deduktif menjadi pedoman dalam merancang bangunan batang tubh pengetahuan fiqih dan tafsir. Sehingga ,karena hanya mendasarkan diri pada teks yang sifatnya umum dalamAL-Qur’an dan As-sunnah, pemikiran deduktif ini cenderung terbatas dan terfokus pada hal-hal yang bersifat aksidental bukan subtansial, sehingga kurang bisa dinamis mengkuti perkembangan sejarah dan sosial masyarakat yang begitu cepat. Akibatnya,ilmu-ilmu agama seperti fiqih dan tafsir yang ada di kurikulum pendidikan Islam kemudian disampaikan kepada peserta didik tanpa pendekatan kritis, dapat mengakibatkan masuknya budaya-budaya patriarki dalam sistem berpkir peserta didik. Apalagi ditambah dengan adanya latar belakang dari pendidikan yang berbudaya patriarki. Ini seolah-olah pendidikan Islam memang kontruk untuk mewarisi budaya subordinatif melelui pelajaraan agama yang diberikan, sekaligus ditambah lagi dengan corak pemikiran dari pendidik yang juga mencerminkan kontruksi bias gender. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa mata pelajaran keagamaan atau pendidika Agama Islam berfifat historis, karena kurangnya memperhatikan realitas reasi dankedudukan antara laki-laki dan perempuan di zaman kontemporer ini(Islam).
Kesimpulan
didapur dan yang lainnya. Pendidikan merupakan kunci terwujudnya keadilan gender dalam masyarakat, karena pendidikan merupakan alat untuk mentransfer norma-norma masyarakat, pengetahuan dan kemampuan mereka. Dengan kata lain lembaga pendidikan merupakan sarana formal untuk sosialisasi sekaligus transfer nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, termasuk nilai dan norma gender. Untuk itu sejak awal perlu diupayakan terwujudnya keadilan gender dalam lembaga pendidikan Islam.
REFERENSI
Dewi, Ernita. “Kesetaraan Gender dalam Islam: Sudut Pandang Al- Qur'an dan HadistErnita Dewi.” 16 (2014): 269–280. Print.
Fitrianti, Rahmi. “Ketidaksetaraan gender dalam pendidikan ;” Sosiokonsepsia 17.1 (2012): 85–100. Print.
Hidayat, Rakhmat. “Bias Gender Dalam Prestasi Akademik Siswa : Studi tentang Perbandingan Prestasi Akademik Siswa Laki-laki dan Perempuan di SMA 12 Bekasi.” 17.2002 (2011): 472– 479. Print.
Islam, Jurnal Pendidikan. “Gender dan Pengembangan Pemikiran Pendidikan Islam.” III (2014): 289–306. Web.
Kritis, Tinjauan Analisis. “DAN MUHAMMAD â€TM ATHIYAH AL-ABRASYI.” XV.26 73–88.
Print.
Mardliyah. “Isu gender dalam pendidikan islam.” Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial 25.2 (2015): 98– 110. Print.
Miskahuddin. “Pengaruh Sosialisasi Gender terhadap Pembentukan Pola Pikir Perempuan Aceh ( Studi Kasus di Banda Aceh dan Aceh Besar ) Miskahuddin Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri ( UIN ) Ar-Raniry Email : [email protected] A .
Pendahuluan.” 1.2 (2014): 297–316. Print.
Muchlis Solichin, Mohammad. “Berbasisi Kesetaraan Gender.” 1.1 n. pag. Print.
Mursidah. “Pendidikan berbasis kesataraan dan keadilan gender.” 5.2 (2013): 167–175. Print. Ramli, M. “Hakikat Pendidikan dan Peserta Didik M. Ramli.” 5.20 (2015): 61–85. Print.