Permasalahan Pembuktian
Jika yurisdiksi adalah permasalahan
umum dalam membicarakan tindak
pidana mayantara, maka terdapat
permasalahan khusus yang bagi
sebagaian negara bukan menjadi
permasalahan utama dalam tindak
Pembuktian
Pembuktian adalah proses utama dalam
persidangan, dimana dalam proses ini merupakan usaha untuk mempertahankan kebenaran. Melalui proses pembuktian akan ditentukan nasib terdakwa apakah akan ditentukan bersalah, diputus bebas
atau diputus lepas dari segala tuntutan hukum. Oleh karena itu, dibutuhkan kecermatan dalam menilai setiap bukti yang diajukan untuk
Sistem Pembuktian
Sistem pembuktian merupakan cara untuk menilai alat bukti terhadap perkara yang sedang diperiksa di persidangan.
1. Conviction in time (berdasarkan keyakinan belaka);
2. Conviction rasionee (berdasarkan keyakinan yang didukung dengan alasan yang jelas);
3. Pembuktian menurut undang-undang secara
positif;
4. Pembuktian menurut undang-undang secara
Macam-macam alat bukti
1. Oral evidence (alat bukti yang disampaikan
secara lisan berbentuk keterangan, keterangan saksi, keterangan ahli, keterangan terdakwa);
2. Documentary evidence (alat bukti yang bersifat
dokumen, surat);
3. Material evidence (alat bukti material yang
berkaitan dengan tindak pidana, barang bukti);
4. Electronic evidence (alat bukti elektronik yang
Sistem Pembuktian dalam UU ITE
Menurut Ketentuan Pasal 44 UU ITE, alat bukti dalam tingkat penyidikan, penuntutan dan
pemeriksaan persidangan adalah:
1. Alat bukti sebagaimana dimaksud dalam
ketentuan perundang-undangan;
2. Alat bukti lain berupa informasi elektronik
Alat Bukti dalam UU ITE
1.
Alat bukti sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan (Pasal 184 KUHAP,
alat bukti keterangan saksi, keterangan
ahli, surat, petunjuk, keterangan
terdakwa)
2.
Informasi dan/ atau Dokumen elektronik
Alat bukti elektronik sebagai alat
bukti di Indonesia
Jauh sebelum berlakunya UU ITE, Mahkamah Agung melalui Surat Menteri Kehakiman RI tanggal 14
Januari 1988 Nomor 39/ TU/ 88/ 102/ Pid
berpendapat, bahwa microfilm atau microchip
dapat dipergunakan sebagai alat bukti yang sah
dalam perkara pidana di pengadilan menggantikan alat bukti surat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 184 ayat (1) huruf c KUHAP dengan catatan kedua hal tersebut sebelumnya dijamin otentifikasinya yang dapat ditelusuri kembali dari registrasi
Alat bukti elektronik sebagai alat
bukti di Indonesia
1. UU 8/ 1997 tentang Dokumen Perusahaan
dalam Pasal 12;
2. UU 7/ 1971 tentang Sistem Kearsipan;
3. UU 25/ 2003 tentang Pencucian Uang dalam
Pasal 38;
4. UU 20/ 2001 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi dalam Pasal 26A;
5. UU 30/ 2002 tentang KPK dalam Pasal 12
huruf a dan Pasal 44 ayat (2)
6. UU 15/ 2003 tentang Pemberantasan Tindak
Alat bukti elektronik sebagai perluasan
dari alat bukti yang sah menurut KUHAP
Pasal 5 ayat (2) UU ITE menyebutkan, bahwa alat bukti informasi dan/ atau dokumen
elektronik tersebut merupakan perluasan dari alat bukti yang ada di dalam KUHAP.
Hal ini dapat ditafsirkan, bahwa jenis-jenis alat bukti tetap mengacu pada Pasal 184 KUHAP,
hanya saja diperluas dalam hal bentuknya, yaitu dalam hal ini berupa informasi dan/ atau
Alat bukti elektronik sebagai perluasan
dari alat bukti yang sah menurut KUHAP
Contoh perluasan dalam alat bukti yang sah menurut KUHAP dalam tindak pidana
mayantara:
1. Keterangan saksi, keterangan saksi tidak
perlu hadir di ruang persidangan, dapat dilakukan secara online;
2. Keterangan ahli, keterangan ahli digunakan
Alat bukti elektronik sebagai perluasan
dari alat bukti yang sah menurut KUHAP
3. Surat, alat bukti surat tidak semata-mata
bersifat tertulis, tetapi dapat juga berupa dokumen;
4. Petunjuk, jika di dalam KUHAP diatur secara
khusus, bahwa petunjuk hanya dapat
diperoleh dari keterangan saksi, surat dan keterangan terdakwa, maka di dalam
perkara tindak pidana elektronik petunjuk disimpulkan dari alat bukti dokumen
Omnium Rerum Principia Parva Sunt