• Tidak ada hasil yang ditemukan

Yolanda Mutiara Christiani FKIK converted

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Yolanda Mutiara Christiani FKIK converted"

Copied!
207
0
0

Teks penuh

(1)

Terhadap Keluhan Subjektif Gangguan Pernapasan Akut Pada Petugas di area Basement Parkir Mal Blok M dan Poins Square Tahun 2016

SKRIPSI

Disusun untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM)

Hubungan Konsentrasi PM10 dan Karakteristik Pekerja

Disusun Oleh:

YOLANDA MUTIARA CHRISTINA NIM. 1112101000064

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

TAHUN 2017 M / 1438 H

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

vi FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT PEMINATAN KESEHATAN LINGKUNGAN

Skripsi, Maret 2017

YOLANDA MUTIARA CHRISTINA, NIM : 1112101000064

Hubungan Konsentrasi PM10 dan Karakteristik Pekerja Terhadap Keluhan Subjektif Gangguan Pernapasan Akut pada Petugas di area Basement Parkir Mal Blok M dan Poins Square Tahun 2016

(xxvii+ 150 halaman, 12 tabel, 8 grafik, 2 diagram , 6 gambar, 4 bagan, 5 lampiran)

ABSTRAK

Partikulat berukuran 10 mikron (PM10) merupakan salah satu faktor determinan penting terhadap timbulnya keluhan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Selain itu, karakteristik pekerja (usia, jenis kelamin, lama paparan, masa kerja, status merokok, penggunaan masker) juga merupakan faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya ISPA. Salah satu pekerja yang berisiko terkena ISPA adalah petugas parkir dan keamanan di gedung perkantoran dan perdagangan. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui hubungan antara konsentrasi PM10 dan karakteristik pekerja terhadap keluhan subjektif gangguan pernapasan akut pada petugas di area parkir basement Mal Blok M dan Poins Square tahun 2016.

(7)
(8)

udara yang baik, melakukan pemeriksaan dan pembersihan blower atau komponen lainnya secara berkala, memberlakukan job rotation pada seluruh lapisan petugas tanpa terkecuali untuk meminimalisir paparan PM10, serta menerapkan batas maksimum jam kerja sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Kata Kunci : ISPA, PM10, karakteristik pekerja (usia, jenis kelamin, lama paparan, masa kerja, status merokok, penggunaan masker), area parkir basement.

(9)

vii i FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES

DEPARTMENT OF PUBLIC HEALTH MAJOR OF ENVIRONMENTAL HEALTH Undergraduated Thesis, March 2017

YOLANDA MUTIARA CHRISTINA, NIM: 1112101000064

Relations Between The PM10 Concentration and Workers Characteristics to The

Subjective Complaints of Acute Respiratory Distress On Officers In The Mal Blok M And Poins Square Basement Area In 2016

(xxvii + 150 pages, 12 tables, 8 graphs, 2 diagrams , 6 figures, 4 bagan, 5 attachments)

ABSTRACT

Particulate matter (PM10) is one of the important determinants of the onset of the Acute Respiratory Infection (ARI) complaints. In addition, worker characteristics (age, gender, length of exposure, length of employment, smoking status, use of masks) is also a factor that can affect the incidence of ARI. The purpose of this study was to determine the relationship between the concentration of PM10 and the characteristics of workers to the subjective complaints of acute respiratory distress to the workers at the Poins Square and Blok M Mall basement parking area in 2016.

This study is a quantitative research with cross-sectional study design. The samples in this research is all the parking attendants and security personnel who duty in the basement area of Blok M Mall and Poins Square parking area in 2016, with a number of 60 people were taken using proportionate random sampling technique. Beside univariate, bivariate were analyzed using non parametric Mann Whitney test and Chi-square test with α = 0.05. The results showed that 70% of the parking attendants and security for both mall had subjective complaints of acute respiratory distress. There is a significant relation between the concentration of PM10 (p = 0.026), age (p = 0.034), use of masks (p = 0.021), length of exposure (p = 0,052) and working period (p value = 0.011) with subjective complaints of acute respiratory distress.

(10)

ix get the good air circulation, conduct inspection and cleaning of the blower or other components on a regular basis, imposed job rotation at all levels of workers without exception to minimize exposure to PM10, apply a maximum limit of working hour according local regulations.

Keyword : ARI, PM10, Workers Characteristic (age, gender, length of

exposure, length of employment, smoking status, use of masks), basement parking area.

(11)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP Identitas Pribadi

Nama Lengkap : Yolanda Mutiara Christina

Jenis Kelamin : Perempuan

Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 10 Januari 1995

Agama : Islam

: Jln. Moch Kahfi 1, Gg. H. Tohir II rt 003 rw 04,

Kelurahan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Kode Pos

12620

Alamat Rumah

Email : [email protected]

Telepon : 0896-8230-1152

Pendidikan Formal

1999 – 2000 : TK Islam Al-Hidayah Cilandak, Jakarta

2000 – 2006 : SD N 01 Cilandak Timur, Jakarta

2006 – 2009 : SMP N 56 Jakarta

2009 – 2012 : SMA N 49 Jakarta

(12)

Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Pengalaman Organisasi

: Staff 2 Bidang Pengembangan Pendidikan OSIS SMP N 56 Jakarta

2007 – 2009

: Anggota Library Lovers Club (LLC) SMA N 49 Jakarta

2010 – 2011

: Anggota Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2012 – 2014

: Divisi Badan Pengawas Harian (BPH) Subdiv. Bendahara Seminar Profesi Kesehatan Lingkungan UIN Jakarta tahun 2015; “Combat The Neglected Tropical Disease Towards

(13)

2015 – 2016 AssociationUINSyarifHidayatullahJakarta Divisi Komunikasi dan Media.

Pengalaman Kerja

2014

: Pengalaman Belajar Lapangan 1 dan 2 di RW 04 Wilayah Kerja Puskesmas Paku Alam Kota Tangerang Selatan; Konsentrasi Penyakit Tuberkulosis Paru

2016 :Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Bagian Instalasi Sanitasi dan Pertamanan Rumah Sakit Umum : Anggota Pengurus Environmental Health Student

Pusat (RSUP) Fatmawati; Konsentrasi Manajemen Pengolahan Limbah Cair RS

(14)

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah s.w.t. yang atas rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Hubungan Konsentrasi PM10 dan Karakteristik Pekerja Terhadap Keluhan Subjektif Gangguan Pernapasan Akut Pada Petugas di Area Basement Parkir Mal Blok M dan Poins Square Tahun 2016”. Pada penulisan skripsi ini, penulis merasa masih banyak kekurangan baik teknis maupun materi mengingat akan kemampuan penulis yang belum mencapai kesempurnaan. Untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat diharapkan bagi penulis demi kesempurnaan proposal skripsi ini. Dalam penulisan proposal skripsi ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan proposal penelitian ini, khususnya kepada :

1. Orang tua saya Bapak Gokhing Tua Marisi Napitupulu dan Ibu R. Utami yang selalu mendoakan dan mendukung baik segi mori; maupun materil

KATA PENGANTAR

dalam penyelesaian skripsi ini.

2. Kakek tercinta Almarhum R. Sapari Kartaatmadja yang selalu mendidik saya dari waktu kecil hingga dewasa dengan penuh kasih sayang dan support yang luar biasa.

3. Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Prof. Dr. H. Arif Sumantri, SKM, M.Kes

4. Ketua Prodi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Ibu Fajar Ariyanti, SKM, M.Kes., Ph.D

5. Ibu Dewi Utami Iriani, SKM, M.Kes., Ph.D selaku dosen Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam proses penyusunan skripsi ini.

(15)

Prapancha Satar, MARS, Ph.D, dan Ibu Khadijah Azhar, M.KM yang telah memberikan arahan dan masukan agar skripsi ini berjalan dengan baik. Muhammad Luqman yang telah banyak membantu, memotivasi dan mensupport seluruh tahapan dalam penyusunan skripsi ini.

Kak Nur Najmi Laila selaku laboran laboratorium HOC FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah bersedia mengawasi dan memberi arahan selama proses turun lapangan berlangsung.

Bapak Agus Priyanto (HRD dan GA Manager) Mal Blok M dan Ibu Yayah Nurmala (HRD) Poins Square yang telah memberikan izin untuk dilakukannya penelitian ini serta selalu membantu dalam proses perizinan pengambilan data. Bapak Cecep Supriyatna, bapak Sorba Simbolon, bapak Tony, bapak Makmun yang telah membantu dalam proses perizinan pengambilan data pada petugas keamanan dan petugas parkir di Mal Blok M dan Poins Square.

7.

Dosen penguji yaitu Ibu Yuli Amran, S.KM, M.KM, Bapak dr. Yuli

12. Rekan-rekan petugas keamanan dan security parking Mal Blok M dan Poins Square yang telah membantu dan bersedia untuk dijadikan sampel pada penelitian ini.

13. Ika Nursyafitriany, Rr. Putri Annisya, Ofin Andina Putri, Yufa Zuriya, rekan bimbingan Ibu Dewi dan Ibu Ela yang selalu mensupport, membantu proses turlap dan bersedia berdiskusi terkait skripsi ini.

14. Sahabat se-perkuliahan “itik-itik” (Andini Septiani, Ika Nursyafitriany, Nurazizah, Vira Rahmayanti, Tyas Widya Utami) yang selalu mendukung agar skripsi ini cepat rampung.

15. Sahabat SMA “Nine” (Afifah, Annisol, Ayunda, Fadiah, Norin, Ratna, Reffi, Tyas) yang selalu memberikan support dan motivasi agar bisa lulus segera di tahun 2017 ini.

16. Sahabat masa kecil Icha dan Reni yang biarpun jarang bertemu namun selalu mensupport dan memotivasi agar skripsi ini cepat selesai.

(16)

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran serta

pencerahan khususnya bagi penulis, sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, aamiin.

Jakarta, Maret 2017

(17)

DAFTAR ISI

BAB I...1

PENDAHULUAN...1

Latar Belakang...1

Rumusan Masalah...7

Pertanyaan Penelitian...8

Tujuan...9

Tujuan Umum...9

Tujuan Khusus...9

Manfaat Penelitian...10

Bagi Instansi Terkait...10

Bagi Pekerja...10

Bagi Peneliti...10

(18)

Ruang Lingkup Penelitian...11

Epidemiologi ISPA di Indonesia...28

Faktor risiko ISPA...29

Pencemaran Udara...42

Kerangka Teori...47

BAB III...50

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL...50

3.1 Kerangka Konsep...50

Definisi Operasional...51

Hipotesis Penelitian...54

BAB IV...55

METODOLOGI PENELITIAN...55

Jenis dan Rancangan Penelitian...55

(19)

Populasi dan Sampel...61

Analisis Univariat...82 Gambaran Keluhan subjektif gangguan pernapasan akut Pada Petugas di Area

(20)

xix dengan Keluhan subjektif gangguan pernapasan akut pada Petugas di

Hubungan Status Merokok dengan Keluhan subjektif gangguan pernapasan akut

pada Petugas di area basement parkir Mal Blok M dan Poins Square...124

Hubungan Lama Paparan dengan Keluhan subjektif gangguan pernapasan akut pada Petugas di area basement parkir Mal Blok M dan Poins Square...126

Hubungan Masa Kerja dengan Keluhan subjektif gangguan pernapasan akut pada Petugas di area basment parkir Mal Blok M dan Poins Square...128

BAB VII...130

PENUTUP...130

Simpulan...130

Saran 131 Saran Bagi Perusahaan...131

Saran Bagi Petugas Parkir Maupun Petugas Kemanan...133

(21)
(22)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Struktur dan Fungsi Sistem Pernapasan... 21

Tabel 3.1 Definisi Operasional... 50

Tabel 4.1 Distribusi Jumlah Populasi Pada Masing-Masing Lokasi

Penelitian... 62

Tabel 4.2 Jumlah Sampel Pada Masing-Masing Area Kerja... 64

Tabel 5.1 Distribusi Konsentrasi PM10 di seluruh Area Parkir basement Mal Blok M dan Poins Square... 86

Tabel 5.2 Distribusi Konsentrasi PM10 di masing-masing Area Basement Parkir Mal Blok M dan Poins Square... 87

Tabel 5.3 Distribusi Usia Petugas Parkir dan Keamanan di area

Basement Parkir Mal Blok M dan Poins Square... 88

Tabel 5.4 Distribusi Lama Merokok dan Rata-rata Jumlah Rokok Yang Dihisap Per hari oleh Petugas... 92

Tabel 5.5 Hubungan antara Konsentrasi PM10 dengan Keluhan subjektif gangguan pernapasan akut pada Petugas di area basement parkir Mal Blok M dan Poins Square Tahun 2016... 97

Tabel 5.6 Hubungan antara Usia Petugas dengan Keluhan subjektif gangguan pernapasan akut pada Petugas di area basement parkir Mal Blok M dan Poins Square Tahun 2016... 98

(23)

basement parkir Mal Blok M dan Poins Square...

Tabel 6.1 Distribusi Konsentrasi PM10, Suhu Dan Kelembaban Udara

(24)

DAFTAR GRAFIK

Grafik 5.1 Distribusi Petugas dengan Keluhan Subjektif Gangguan Pernapasan Akut berdasarkan Lokasi Kerja di area Basement

Parkir Mal Blok M dan Poins Square Tahun 2016... 81 Grafik 5.2 Distribusi Petugas dengan Keluhan Subjektif Gangguan

Pernapasan Akut Berdasarkan Profesi Kerja di Area Basement Parkir Mal Blok M dan Poins Square Tahun 2016... 82 Grafik 5.3 Distribusi Petugas dengan Keluhan Subjektif Gangguan

Pernapasan Akut Berdasarkan Gejala Penyerta di area Basement Parkir Mal Blok M dan Poins Square Tahun 2016... 84 Grafik 5.4 Distribusi Frekuensi Petugas berdasarkan Jenis Kelamin di

area Basement Parkir Mal Blok M dan Poins Square Tahun 2016... 89 Grafik 5.5 Distribusi Frekuensi Petugas Berdasarkan Kebiasaan

Penggunaan Masker di area Basement Parkir Mal Blok M dan Poins Square Tahun 2016... 90 Grafik 5.6 Distribusi Frekuensi Petugas berdasarkan Status Merokok di

area Basement Parkir Mal Blok M dan Poins Square Tahun 2016... 92 Grafik 5.7 Distribusi Frekuensi Petugas berdasarkan Lama Paparan di

area Basement Parkir Mal Blok M dan Poins Square Tahun 2016... 94 Grafik 5.8 Distribusi Frekuensi Petugas berdasarkan Masa Kerja di area

(25)

xxiv DAFTAR DIAGRAM

Diagram 5.1 Distribusi Petugas berdasarkan Jenis Masker yang digunakan di area Basement Parkir Mal Blok M dan Poins Square Tahun 2016... 91

(26)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Layout denah lokasi A1 (area pengukuran P1) & A2 (area

pengukuran P2) (Mal Blok M)... 56

Gambar 4.2 Layout denah lokasi B1 (area pengukuran P3) & B2 (area

pengukuran P4) (Mal Blok M)... 57

Gambar 4.3 Layout lokasi area kerja basement B1 Poins Square... 58

Gambar 4.4 Layout area kerja basement B2 poins square... 59

Gambar 5.1 Peta Lokasi Mal Blok M... 78

(27)

Bagan 2.1 Jalur Migrasi ISPA.37

Bagan 2.2 Kerangka Teori Penelitian.38 Bagan 3.1 Kerangka Konsep.49

(28)

Lampiran 1 Kuesioner Penelitian.147

Lampiran 2 Informasi Tambahan.150

Lampiran 3 Hasil Uji Validitas.152

Lampiran 4 Dokumentasi Turun Lapangan.153

Lampiran 5 Hasil Uji Laboratorium Pengukuran PM10 dengan Haz-Dust EPAM 5000...155

(29)

DAFTAR ISTILAH

ISPA : Infeksi Saluran Pernapasan Akut

PM10 : Particulate Matter ukuran ≤ 10µm

WHO : World Health Organization

ILO : International Labour Organization

PAK : Penyakit Akibat Kerja

NAAQS : National Ambient Air Quality Standards

OSHA : Occupational Safety And Health Administration

PEL : Permissible Exposure Limit

BMUA : Baku Mutu Udara Ambien

NAB : Nilai Ambang Batas

APD : Alat Pelindung Diri

NIOSH : National for Occupational Safety and Health

NMAM : NIOSH Manual of Analytical Methods

SNI : Standa Nasional Indonesia

MRT : Mass Rapid Transit

(30)
(31)

1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di dunia, Infeksi Saluran Pernapasan Akut / ISPA merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit menular dimana tercatat sebanyak 156 juta kasus baru per tahunnya dan 96,7% kasus tersebut terjadi di negara berkembang (Kemenkes, 2012). Di Indonesia sendiri, prevalensi kejadian ISPA sebesar 25% dimana DKI Jakarta termasuk dalam sepuluh besar provinsi dengan prevalensi ISPA tertinggi (Kemenkes, 2013). Lebih lanjut Depkes RI (2013) menyebutkan bahwa ISPA masih menjadi salah satu penyebab utama kunjungan pasien di Puskesmas (40%-60%) dan rumah sakit (15%-30%). Pada tahun 2015 persentase

BAB I

penduduk yang memiliki keluhan kesehatan di Indonesia mencapai 30,35% dimana DKI Jakarta memiliki persentase di atas rata-rata persentase nasional yakni sebesar 33,39% yang mana keluhan seperti batuk (49,92%) dan pilek (48,93%) masih menjadi keluhan utama (BPS, 2015).

(32)

di seluruh dunia (Abidin, Suwondo, & Suroto, 2015).

Salah satu faktor risiko terjadinya ISPA ialah pencemaran udara (Kemenkes, Pedoman Pengendalian Infeksi Saluran Pernapasan Akut, 2011). Penelitian yang dilakukan oleh Hermawan, Hananto & Lasut (2016), menemukan korelasi yang sangat kuat (0,779) antara kenaikan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) dengan kasus ISPA. Berdasarkan lokasi terjadinya, pencemaran udara terbagi menjadi pencemaran udara di luar ruangan (outdoor air pollution) dan pencemaran udara di dalam ruang (indoor air pollution). Pencemaran udara dalam ruang memiliki potensi menjadi masalah kesehatan yang sesungguhnya, mengingat adanya paparan yang lebih besar dibandingkan dengan pencemaran

baru pneumokoniosis yang disebabkan oleh paparan debu di tempat kerja terjadi

udara di luar ruang (Effendi & Makhfudli, 2009). WHO dalam Huboyo, Istirokhatun, & Sutrisno (2016) menyatakan bahwa pencemaran udara dalam ruang seribu kali lebih mampu mencapai paru-paru dibandingkan dengan pencemaran udara luar ruang. Terdapat ± 3 juta kematian akibat polusi udara setiap tahunnya, dimana 2,8 juta diantaranya akibat pencemaran udara dalam ruang (Hidayat, 2012).

Pusat niaga/ perbelanjaan / mal merupakan salah satu tempat yang berisiko terhadap terjadinya indoor air pollution. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Nukman. Dkk (2005), ditemukan bahwa di Jakarta, parameter pencemar udara

(33)

Advisory Cushman and Wakefield dalam Syailendra (2013), pertumbuhan mal di Jakarta mencapai 3,9% tiap tahunnya. Hingga tahun 2013 kawasan Jakarta Selatan merupakan penyumbang terbesar pertumbuhan mal yaitu sebesar 21,8% atau

sekitar 854.700 m2. Selain itu, wilayah Jakarta Selatan terbukti memiliki jumlah pusat perbelanjaan atau mal yang paling banyak dibandingkan wilayah lainnya di Provinsi DKI Jakarta yakni sebanyak 28 buah (28,6%). Dari jumlah tersebut, terdapat ± 19 mal yang memiliki parkir basement. Poins Square dan Mal Blok M merupakan kedua mal di wilayah Jakarta Selatan yang memiliki parkir basement

dan termasuk dalam 5 (lima) besar mal dengan jumlah kendaraan masuk tertinggi di wilayah Jakarta Selatan. Kedua mal tersebut memiliki karakteristik yang sama yakni sama-sama berlokasi di dekat terminal dan berlokasi didekat proyek MRT yang sedang berlangsung pada tahun 2016 sehingga lalu lintas di kedua lokasi tersebut cenderung padat dan konsentrasi pencemar akan semakin tinggi. Dilihat dari kondisi tersebut maka diasumsikan bahwa kedua mal tersebut dapat memiliki potensi cemaran debu lebih besar dibandingkan mal lainnya di wilayah Jakarta Selatan.

(34)

Sayangnya, penggunaan basement (lantai bawah tanah) sebagai area parkir

indoor seringkali tidak memperhatikan kecukupan ventilasinya, sehingga mengakibatkan terakumulasinya gas-gas pencemar pada area parkir basement. Seperti penelitian yang telah dilakukan oleh Astuti (2010) yang menemukan bahwa beban cemaran di parkir basement salah satu mal di Jakarta telah melampaui baku mutu. Penelitian serupa dilakukan oleh Huboyo, Istirokhatun, & Sutrisno (2016) di salah satu mal di kota Semarang yang menyatakan bahwa konsentrasi polutan di area basement secara umum lebih besar dibandingkan di

upperground (lantai atas) dan parameter yang melebihi baku mutu ialah debu. Dalam SNI 03-6572-2001 disebutkan bahwa ruang parkir bawah tanah (basement) yang terdiri dari lebih dari satu lantai, gas buang mobil pada setiap lantai tidak boleh mengganggu udara bersih pada lantai lainnya.

(35)

Debu partikulat dengan ukuran aerodinamik ≤ 10 mikron (PM10) merupakan salah satu faktor pencetus terjadinya ISPA (Yusnabeti, Wulandari, & Luciana, 2010). PM10 merupakan jenis partikulat yang dapat membahayakan dan paling sering ditemukan akibat penggunaan kendaraan bermotor (WHO, 1996; Depkes RI dalam Pudjiastuti, 2003). Pemakaian BBM dan BBG oleh kendaraan bermotor dapat mengemisikan Suspended Particulate Matter (SPM) yang memiliki ukuran beragam salah satunya PM10 (Nukman., dkk, 2005). Environmental Protection

Agency (EPA) menyebutkan bahwa paparan PM10 dapat menimbulkan efek pada

sistem pernafasan, kerusakan jaringan paru, iritasi mata, kanker, hingga kematian dini. Smith (1996) memperkirakan kenaikan mortalitas sebesar 1,2-4,4% akibat kenaikan per 10µg/m3 PM10 atau sekitar 2,3-3 juta per tahun. Di dunia, polusi udara terkait partikulat menyebabkan kematian penyakit kardiopulmonal (3%), kanker bronkus, kanker trakea serta kanker paru (5%) dan kematian anak akibat infeksi pernapasan akut (1%). Secara keseluruhan diperkirakan 800.000 orang mengalami kematian dini dan sekitar 6,4 juta orang kehilangan harapan hidup akibat paparan debu partikulat (Nurjazuli, 2010). Beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa PM10 dapat meningkatkan risiko pekerja untuk terkena ISPA (Yusnabeti, Wulandari, & Luciana, 2010; Yamani, 2013; Basti, 2014). Orangtua, anak-anak, orang dengan penyakit paru kronis / PPOK seperti asma, emfisema dan bronkhitis kronis sangat sensitif terhadap efek PM10 (EPA, 1995).

(36)

pencemaran PM10 yang masuk kedalam kategori tidak sehat (149). Tingginya tingkat pencemaran debu PM10 sejalan dengan tingginya tingkat kepemilikan kendaraan bermotor di DKI Jakarta yang berjumlah hingga 81,24%, diatas rata-rata kepemilikan nasional (BPS, 2015).

Di samping cemaran debu partikulat PM10, beberapa faktor risiko lain seperti karakteristik individu turut menyumbang terjadinya ISPA. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Noer dan Martiana (2013) menyebutkan bahwa usia merupakan salah satu faktor risiko terjadinya ISPA (p=0,017). Selain itu, jenis kelamin juga termasuk dalam faktor risiko terjadinya ISPA seperti penelitian yang dilakukan oleh Nelson dan William (2007) yang menyebutkan bahwa anak

Diantara lima kotamadya di Jakarta, Jakarta Selatan merupakan wilayah dengan

dengan jenis kelamin laki-laki lebih rentan terkena ISPA mengingat kebutuhan oksigen yang lebih besar dibandingkan perempuan. Karakteristik individu lainnya yang dapat mempengaruhi terjadinya ISPA ialah masa kerja (Noer & Martiana, 2013; Yusnabeti, Wulandari, & Luciana, 2010), lama paparan terhadap polutan (Kusnoputranto, 1995; Suma'mur, 1995; Febrianto, 2015; Nurgahaeni, 2004), kebiasaan merokok (Suryo, 2010) dan penggunaan APD seperti masker (Fitriyani, 2011; Yusnabeti, Wulandari, & Luciana, 2010).

Oleh karena beberapa pertimbangan di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terkait hubungan konsentrasi PM10 dan karakteristik pekerja terhadap keluhan subjektif gangguan pernapasan akut pada petugas di area

(37)

1.2 Rumusan Masalah

Prevalensi kejadian ISPA di Indonesia cenderung tidak kunjung menurun dari tahun ke tahun. Sementara itu, DKI Jakarta termasuk dalam 10 besar provinsi dengan prevalensi ISPA tertinggi dalam skala nasional. Petugas basement parkir mal merupakan kelompok orang yang berisiko terhadap terjadinya ISPA pada pekerja yang diakibatkan oleh paparan debu partikulat, mengingat kondisi

basement parkir mal yang sangat tertutup sehingga polutan akan terakumulasi pada lokasi tersebut. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada 20 sampel petugas basement parkir mal di wilayah Jakarta Selatan terdapat 18 (90%) orang petugas parkir memiliki keluhan subjektif gangguan pernapasan akut.

Cemaran debu partikulat PM10 merupakan salah satu faktor risiko terjadinya ISPA. Berdasarkan data ISPU harian yang diambil pada bulan September dan Oktober didapatkan bahwa cemaran PM10 tertinggi ialah berada pada wilayah

DKI Jakarta khususnya Jakarta Selatan. Di DKI Jakarta sendiri terdapat ± 19 buah mal yang memiliki basement parkir. Bila dilihat dari jumlah kendaraan masuk per hari, mal Blok M dan Poins Square merupakan kedua mal yang termasuk dalam 5 besar mal dengan jumlah kendaraan masuk tertinggi di wilayah Jakarta Selatan.

Disamping cemaran debu partikulat, karaktertistik pekerja juga dicurigai memiliki pengaruh terhadap timbulnya keluhan ISPA pada pekerja. Karakteristik tersebut diantaranya usia, lama paparan, masa kerja, kebiasaan merokok dan penggunaan APD (masker). Berdasarkan beberapa pertimbangan diatas, peneliti

(38)

petugas di area basement parkir Mal Blok M dan Poins Square tahun 2016.

Pertanyaan Penelitian

Bagaimana gambaran keluhan subjektif gangguan pernapasan akut pada petugas di area basement parkir Mal Blok M dan Poins Square tahun 2016? Bagaimana gambaran konsentrasi PM10 di area basement parkir Mal Blok M dan Poins Square tahun 2016?

Bagaimana gambaran karakteristik individu (usia, jenis kelamin, lama paparan, masa kerja, penggunaan APD masker dan kebiasaan merokok) petugas di area basement parkir Mal Blok M dan Poins Square tahun

karakteristik pekerja terhadap keluhan subjektif gangguan pernapasan akut pada

2016?

d. Bagaimana hubungan antara konsentrasi PM10 terhadap keluhan subjektif gangguan pernapasan akut pada petugas di area basement parkir Mal Blok M dan Poins Square tahun 2016?

(39)

1.4.1 Tujuan Umum

Diketahuinya hubungan konsentrasi PM10 dan karakteristik individu terhadap keluhan subjektif gangguan pernapasan akut pada petugas di area basement parkir Mal Blok M dan Poins Square tahun 2016.

Tujuan Khusus

Diketahuinya gambaran keluhan subjektif gangguan pernapasan akut pada petugas di area basement parkir Mal Blok M dan Poins Square tahun 2016.

b. Diketahuinya gambaran konsentrasi PM10 di area basement parkir Mal 1.4 Tujuan

Blok M dan Poins Square tahun 2016.

c. Diketahuinya gambaran karakteristik individu (usia, jenis kelamin, lama paparan, masa kerja, penggunaan APD masker dan kebiasaan merokok) petugas di area basement parkir Mal Blok M dan Poins Square tahun 2016.

d. Diketahuinya hubungan antara konsentrasi PM10 terhadap keluhan subjektif gangguan pernapasan akut pada petugas di area basement parkir Mal Blok M dan Poins Square tahun 2016.

(40)

2016.

1.5 Manfaat Penelitian

Bagi Instansi Terkait

Dapat berkontribusi dalam memberikan bahan pertimbangan bagi pengambilan keputusan terkait upaya minimisasi cemaran debu PM10 pada area basement parkir.

Dapat memberikan data terbaru terkait sebaran keluhan subjektif gangguan pernapasan akut pada petugas basement sehingga jika diperlukan dapat menjadi bahan pertimbangan untuk dilakukannya upaya pencegahan yang tepat.

petugas di area basement parkir Mal Blok M dan Poins Square tahun

Bagi Pekerja

Dapat menambah wawasan dan kesadaran petugas terkait dampak cemaran debu PM10 bagi kesehatan dan faktor risiko yang mempengaruhi ISPA ringan di lingkungan kerja mereka.

Bagi Peneliti

(41)

DapatmenjadireferensitambahankepadamahasiswaFakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan ataupun bagi peneliti selanjutnya mengenai ISPA pada pekerja dan faktor risiko yang mempengaruhinya.

1.6 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konsentrasi PM10 dan karakteristik pekerja terhadap keluhan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) ringan pada petugas di area basement parkir Mal Blok M dan Poins Square tahun 2016. Penelitian ini dilakukan oleh mahasiswi peminatan Kesehatan Lingkungan Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di area

Bagi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

parkir basement mal Blok M dan Poins Square pada bulan Desember tahun 2016.

Populasi pada penelitian ini ialah seluruh petugas parkir dan petugas keamanan yang bekerja di area parkir basement mal di dua mal di wilayah Jakarta Selatan yaitu Poins Square dan mal Blok M yang berjumlah 89 orang. Besar sampel pada penelitian ini ialah sebanyak 60 responden dengan 8 titik sampel pengukuran berdasarkan area kerja petugas. Teknik pengambilan sampel menggunakan proportionate random sampling. Responden akan diwawancarai apakah mengalami keluhan subjektif gangguan pernapasan akut, dan bagaimana karakteristik individu pada responden. Kemudian dilakukan pengukuran konsentrasi debu PM10 pada 8 titik di area kerja

(42)

pengukuran konsentrasi PM10 dengan instrumen Hazard-Dust EPAM 5000 (Environmental Particulate Air Monitor) dan pengukuran suhu dan kelembaban dengan instrumen thermohygrometer. Selain itu data primer juga didapatkan melalui wawancara terkait keluhan subjektif gangguan pernapasan akut dan variabel karakteristik individu seperti lama paparan, masa kerja, usia, jenis kelamin, status merokok, dan penggunaan APD seperti masker.

(43)

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Keluhan Subyektif Saluran Pernapasan

2.1.1 Pengertian Keluhan Subyektif Saluran Pernapasan

Data subyektif merupakan data yang didapatkan dari klien sebagai suatu pendapat terhadap suatu situasi dan kejadian. Informasi tersebut tidak dapat ditentukan oleh tenaga medis seperti perawat ataupun lainnya secara independen melainkan melalui suatu interaksi atau komunikasi (Muttaqin, 2008). Maka dari itu, data subyektif merupakan data yang diperoleh bukan berdasarkan hasil pengukuran, melainkan data yang diperoleh berdasarkan interaksi tentang pendapat atau persepsi klien

BAB II

(dalam hal ini penderita/pasien). Maka dari itu, keluhan subyektif dapat diartikan sebagai sebuah keluhan yang dirasakan oleh penderita atau pasien yang dirasakan berdasarkan persepsi orang tersebut.

(44)

pemeriksaan fisik atau observasi atau bentuk pengukuran lainnya yang dilakukan oleh tenaga medis.

Menurut Muttaqin (2008) keluhan utama pada sistem pernapasan ialah batuk, batuk berdarah, produksi sputum berlebih, sesak napas, dan nyeri dada.

a. Batuk

Batuk merupakan suatu respon imunologi dari sistem pernapasan bagian bawah terhadap benda asing yang masuk kedalam saluran pernapasan. Refleks protektif ini timbul akibat adanya iritasi percabangantrakeabronkialataupunpadalaring.Batukjuga

pernapasan yang meliputi hidung hingga ke alveoli tanpa adanya

merupakan gejala yang paling umum dari gangguan saluran pernapasan lainnya.

Beberapa allergen yang menimbulkan rangsangan batuk diantaranya ialah akibat inhalasi debu, asap, serta benda-benda asing kecil lainnya. Batuk juga dapat mengindikasikan adanya suatu proses peradangan hingga tumor dalam sistem pernapasan.

(45)

kemudian berkontraksi dengan kuat sambil menekan sekat rongga tubuh. Epiglotis dan pita suara akan terbuka dan udara yang terperangkap tadi kemudian keluar sambil membantu mengeluarkan benda asing tersebut (Junaidi, Penyakit Paru dan Saluran Napas, 2010).

Batuk dapat dibedakan menjadi dua yaitu batuk berdahak dan batuk kering. Batuk berdahak disebabkan karena adanya sekret pada tenggorokan. Batuk ini terjadi karena adanya allergen seperti paparan debu ataupun karena kelembaban berlebih. Sedangkan batuk kering terjadi karena adanya iritasi pada tenggorokan sehingga timbul rasa sakit namun tidak menghasilkan sekresi dahak.

sehingga udara terperangkap dalam paru-paru. Otot perut dan dada

b. Sesak napas

(46)

yang abnormal (penyakit otot, berkurangnya fungsi mekanis otot). Nyeri dada

Nyeri dada merupakan gejala yang timbul akibat adanya infeksi pada pleura. Nyeri yang dirasakan seperti teriris benda tajam yang kemudia diperberat oleh batuk, bersin, napas yang dalam/sesak napas. Nyeri Tenggorokan

Sakit tenggorokan disebabkan karena adanya peradangan pada tenggorokan karena adanya infeksi bakteri, virus atau alergen lainnya. Tanda-tanda adanya sakit tenggorokan ialah adanya kemerahan pada lapisan permukaan bagian tenggorokan dan pembesaran pada kelenjar sekitar leher. (biasa disebabkan karena adanya penyakit paru), otot pernapasan

e. Pilek

Pilek merupakan reaksi yang timbul dari sistem immunologis tubuh akibat adanya zat asing yang masuk pada saluran pernapasan pertama (hidung). Respon imunologis tersebut keluar dari rongga hidung berupa lendir berwarna bening untuk mengeluarkan zat asing tersebut. Setelah 2-3 hari, lendir yang keluar berubah warna menjadi putih atau kekuningan karena sel-sel kekebalan tubuh mulai melawan. Kemudian lendir akan berubah kembali menjadi kehijauan ketika bakteri /flora normal pada hidung kembali tumbuh. Terdapat 200 virus penyebab pilek dimana yang tersering ialah Rhinovirus

(47)

2.1.2.1 Definisi, Fungsi dan Komponen

Definisi sistem menurut Davis ialah kumpulan dari elemen-elemen yang beroperasi bersama-sama untuk menyelesaikan suatu sasaran (Hutahaean, 2015). Pernapasan / respirasi merupakan serangkaian proses yang menyebabkan pergerakan pasif oksigen (O2) dari atmosfer ke jaringan untuk menunjang metabolisme sel, serta pergerakan pasif karbon dioksida (CO2) yang merupakan produk sisa metabolisme dari jaringan ke atmosfer. Sedangkan saluran pernapasan adalah saluran yang mengangkut udara antara atmosfer dan alveolus. Maka dari itu, sistem pernapasan ialah sekumpulan elemen yang bekerja bersama dalam mengangkut udara dari atmosfer ke alveolus dengan tujuan memenuhi kebutuhan sel-sel tubuh akan oksigen dan

Sistem Pernapasan

mengeluarkan karbon dioksida dari dalam tubuh ke atmosfer.

Fungsi pertama sistem pernapasan ialah untuk memperoleh O2 agar dapat

(48)

Hidung ialah saluran pernapasan pertama yang dilalui oleh udara ketika dihirup. Rongga hidung merupakan jalan masuk oksigen untuk pernapasan, dan jalan keluar karbon dioksida serta uap air sisa pernapasan. Di dalam rongga ini, udara yang masuk akan mengalami tiga proses, yaitu proses filter / penyaringan, penghangatan, dan pengaturan kelembapan (Mikrajuddin, Saktiyono, & Lutfi, 2007).

Ketika udara masuk melalui rongga hidung, udara akan disaring terlebih dulu oleh rambut hidung dengan tujuan agar debu dan partikel kotoran tidak masuk kedalam paru-paru. Proses penyaringan ini yang umumnya menyebabkan rongga hidup menjadi kotor. Selanjutnya

a. Hidung

udara akan dihangatkan oleh kapiler darah yang terdapat dalam rongga hidung agar suhunya sesuai dengan suhu tubuh. Proses terakhir ialah udara selanjutnya akan dilembapkan oleh lapisan lendir yang terdapat dalam rongga hidung dengan tujuan agar kelembapannya sesuai dengan kelembapan tubuh kita (Wasis & Irianto, 2008).

b. Silia / Cilia

(49)

ke mulut kemudian selanjutnya ditelan (Pujiarto, 2014).

c.Faring

Faring merupakan saluran yang berupa tabung corong dengan panjang 12,5-13 cm dan terletak dibelakang rongga hidung dan mulut. Faring berfungsi sebagai jalan bagi udara dan makanan, serta terdapat tonsil/amandel didalamnya (Mikrajuddin, Saktiyono, & Lutfi, 2007). Di daerah faring dan sekitar hidung terdapat kelenjar limfoid yang berfungsi memproduksi sel-sel imunitas (Pujiarto, 2014).

d. Laring

menit. Paertikel yang terperangkap dalam lapisan mukus dikeluarkan

Laring atau pangkal tenggorokan terdapat diantara faring dan trakea. Didalamnya terdapat epigotis dan pita suara yang dapat membuka dan menutup. Pada saat menelan makanan, epiglotis menutup sehingga makanan tidak masuk ke tenggorokan melainkan menuju kerongkongan.

e. Batang tenggorokan / trakea

(50)

menuju paru-paru kanan (Mikrajuddin, Saktiyono, & Lutfi, 2007).

f.Cabang batang tenggorok (bronkus)

Bronkus merupakan percabangan antara trakea dengan paru-paru kiri ataupun paru-paru kanan. Cabang bronkus dinamakan bronkiolus. Rongga bronkiolus masih memiliki silia.Pada bronkiolus yang paling ujjung dinamakan bronkiolus respirasi. Dimana pada bronkiolus respirasi tersebut terdapat gelembung paru yang disebut alveoli. Jumlah alveoli berkisar ± 300juta. Dinding alveoli sangatlah tipis dan elastis serta terdiri dari satu lapis sel yang diliputi pembuluh darah kapiler. Di dalam alveolilah tempat terjadinya pertukaran gas. Oksigen

dimana cabang pertama menuju paru-paru kiri, dan cabang lainnya

diudara akan berdifusi kedalam darah, kemudian karbon dioksida dan uap air dari darah berdifusi ke udara (Wasis & Irianto, 2008). Karena alveoli merupakan tempat pertukaran gas, maka alveoli tidak dilindungi oleh mukus dan silia. Sistem pertahanan pada alveoli ialah menggunakan sel fagosit / makrofag alveoli. (Pujiarto, 2014).

g. Paru-paru / pulmo

(51)

Tabel 2.1. Struktur dan Fungsi Sistem Pernapasan

Struktur Komponen Fungsi Umum

Rongga hidung - Filtrasi / penyaring Saluran

Laring - Saluran pernapasan yang

membawa dan mengonduksikan

Ventrikel kanan - Membawa darah yang belum teroksigenasi menuju paru teroksigenasi untuk menuju sirkulasi

Paru Paru kanan 3 lobus - Merupakansaluran pernapasan bagian bawahgabungan antara

Rongga pleura Otot inspirasi - Menyediakan mekanisme secara

fisik untuk proses respirasi, yaitu

(52)

Sumber: (Muttaqin, 2008)

2.1.2.2 Mekanisme pernapasan

Saat bernapas, terdapat dua mekanisme yang bekerja yakni mekanisme Pektoralis minor

inspirasi / penghirupan udara dan fase ekspirasi / penghembusan udara. pada saat inspirasi otot-otot dada dan diafragma saling berkontraksi dan rongga dada membesar, kemudian paru-paru menggembung, disitulah udara masuk ke paru-paru. Setelah udara berada dalam paru-paru selama beberapa detik selanjutnya diafragma dan otot-otot pernapasan berelaksasi dan rongga dada kembali normal. Disitulah udara keluar dari paru-paru dan dinamakan fase ekspirasi (Wijaya, 2008).

(53)

terlebih dulu dengan ke dalam cairan interstisial (cairan penghubungan antar sel). Kemudian sel akan masuk ke jaringan dengan adanya perbedaan tekanan. Karbon dioksida yang dikeluarkan berasal dari kapiler yang ada di alveolus, dimana gas CO2 akan menembus mebran alveolus dan akhirnya dikeluarkan melalui hidung dan mulut. Kurang lebih sebanyak 250 mL oksigen masuk ke dalam tubuh per menit dan karbon dioksida dieksresikan sebanyak 250 mL dalam satu kali pernapasan (Karmana & Fitriana, 2007).

2.2 Infeksi Saluran Pernapasan Akut

2.2.1 Pengertian ISPA

Infeksi saluran pernapasan akut / ISPA merupakan infeksi yang menyerang dioksida (CO2). Sebelum oksigen menuju jaringan, oksigen akan didifusikan

(54)

Saluran Pernapasan Akut, 2011).

2.2.2 Klasifikasi dan Gejala ISPA

Klasifikasi ISPA berdasarkan gejala yang timbul menurut Ditjen P2MPL (2009) ialah dikelompokan kedalam tiga kategori yakni ISPA ringan , ISPA sedang dan ISPA berat.

ISPA ringan: meliputi satu atau beberapa gejala seperti batuk (tanpa pernapasan cepat < 40 kali / menit), pilek / keluarnya lendir dari rongga hidung, serak (suara parau) yang disertai atau tanpa disertai demam (suhu tubuh > 37oC), keluarnya cairan dari telinga tanpa rasa sakit. ISPA sedang: gejala yang timbul meliputi satu atau beberapa gejala ringan

kebakaran hutan damn lain-lain (Kemenkes, Pedoman Pengendalian Infeksi

disertai gejala tambahan seperti suhu tubuh ≥ 39oc, pernapasan > 50 kali / menit pada bayi usia ≤ 1 tahun, dan 40 kali / menit pada balita (usia 1-5 tahun), telinga mengeluarkan cairan disertai rasa sakit, kemerahan pada tenggorokan, serta timbulnya suara mendengkur saat bernafas.

c. ISPA berat: gejala yang timbul meliputi gejala-gejala pada ISPA ringan dan sedang ditambah dengan gejala tambahan seperti ada penarikan dada ke dalam saat napas, kesadaran mulai menurun, nadi cepat ( ≥ 160 / menit) serta sulit teraba, nafsu makan menurun, bibir dan ujung nadi membiru (sianosis), dehidrasi dan gelisah.

(55)

hidung hingga ke bagian faring. Seperti pilek, otitis media, dan faringitis, rhinitis.

b. Infeksi Saluran Pernapasan bawah Akut (ISPbA): infeksi yang menyerang mulai dari bagian epiglotis atau laring sampai ke alveoli. Infeksi tersebut dinamakan sesuai dengan organ saluran napas yang terinfeksi seperti epiglotitis, laringotrakeitis, bronkhitis, bronkhiolitis, pneumonia.

2.2.3 Diagnosis ISPA

Gejala ISPA biasanya muncul kurang lebih 3 (tiga) hari setelah seseorang terkena infeksi dan kemudian mereda setelah 7 – 12 hari atau hingga 14 hari. Diagnosis ISPA ditegakkan oleh dokter dengan tahapan sebagai berikut (Krishna, a. Infeksi Saluran Pernapasan atas Akut (ISPaA): infeksi yang menyerang

2013):

1. Mendengarkan keluhan yang dirasakan oleh penderita dan memeriksa badan terutama daerah hidung dan tenggorokan.

2. Pemeriksaan swab hidung atau tenggorokan. 3. Pemeriksaan sputum atau dahak dapat dilakukan.

4. Pemeriksaan rontgent biasanya dilakukan apabila ada kecurigaan infeksi di daerah sinus atau bila dicurigai ISPA tersebut tidak sembuh dan berlanjut menginfeksi paru.

2.2.4 Etiologi ISPA

(56)

Streptococcus aureus, Hemophilus influenza, Bacillus Friedlander. Sedangkan untuk virus, terdiri dari: Respiratory syncytial virus, virus influenza, adenovirus, cytomegalovirus. Untuk jamur, seperti: Mycoplasma pneumoces dermatitides, Coccidiodes immitis, Aspergillus, Candida albicans.

Sementara itu, penyebab ISPA lainnya adalah asap pembakaran bahan bakar. Asap bahan bakar tentunya mengandung gas-gas beracun dan partikulat-partikulat yang sangat halus yang mudah masuk dan terhirup oleh manusia dan akhirnya masuk hingga ke paru-paru.

ISPA yang disebabkan oleh alergi dan virus biasanya menimbulkan gejala rhinitis dengan gejala pada hidung seperti hidung berair, hidung tersumbat,

Diplococcus pneumonia, Pneumococcus, Streptococcus hemolyticus,

demam, bersin, kelelahan, sakit tenggorokan dan suara menjadi parau/serak. Sedangkan ISPA yang disebabkan oleh bakteri biasanya menimbulkan faringitis dengan gejala sakit tenggorokan tanpa gejala pilek dan bersin. Dan ISPA yang disebabkan oleh jamur biasanya menimbulkan gejala sinusitis (Krishna, 2013). Sinusitis ialah peradangan pada sinus paralis dengan gejala hidung tersumbat, ingus berbau, dan sakit di daerah sinus yang terserang (Surdijani, Sumala, & Sugiarti, 2008).

Mekanisme Terjadinya ISPA

Beberapa jenis bakteri, virus dan ricketsia penyebab ISPA dapat masuk ke tubuh manusia melalui inhalasi baik melalui droplet ataupun melalui partikulat

(57)

ataupun pakaian sehingga media yang telah terinfeksi tersebut dapat menghantarkan infeksi (Mandal, Wilkins, Dunbar, & White, 2008). Ketika debu

seperti PM10 terhirup dan masuk ke saluran pernapasan, ia akan menimbulkan reaksi alergi pada salauran napas. Pada saluran napas bagian atas seperti rongga hidung dan trakhea, debu ataupun partikulat lainnya akan dihadang oleh sistem pertahanan mukosiliar. Apabila polutan tersebut terhirup dalam jumlah yang banyak ataupun memapar secara terus-menerus, maka sistem pertahanan ini akan terganggu. Penumpukan partikulat tersebut akan merusak dan mengiritasi sel-sel epitel mukosa sehingga fungsi sel dan gerak silia akan terganggu (Sari, 2013). Iritasi yang terjadi pada saluran napas bagian atas seperti rongga hidung, laring, faring dapat menyebabkan bersin, batuk, faringitis, laringitis. Bila sel-sel epitel mukosa terganggu maka akan menimbulkan sekresi lendir yang berlebih. Sekresi lendir berlebih yang menumpuk tersebut selanjutnya menjadi media pembiakan bakteri yang terbawa pada pertikulat tersebut sehingga selain menimbulkan infeksi primer yang diakibatkan oleh virus namun juga menimbulkan infeksi sekunder dari bakteri (Rahajoe et al dalam Fitriyani, 2011). Respon tubuh akibat terganggunya fungsi mukosiliar ini ialah bersin, batuk, pilek, hingga demam.

(58)

imulogi dan membangun jaringan parut sehingga saluran napas menjadi lebih sempit dan timbul sesak.

Pada alveoli, sistem pertahanan yang dimiliki ialah makrofag. Bila terjadi infeksi makrofag akan dimobilisasi melalui alveoli ke tempat lain. Apabila partikulat yang sangat halus berhasil lolos hingga ke alveoli maka reaksi yang serupa juga akan terjadi. Sekret yang menumpuk pada kantung pertukaran udara tersebut akan sangat mengganggu proses bernapas sehingga timbul rasa sesak. Namun partikel tersebut juga dapat dicerna kembali ke bronkiolus akibat respon sel imun protektif yang selanjutnya didorong ke saluran napas bagian atas (Khairunnisa, 2014).

menyebabkan sesak napas bagi penderita. Iritasi tersebut juga menimbulkan reaksi

Epidemiologi ISPA di Indonesia

(59)

(15%-30%).

2.2.6Faktor risiko ISPA

Selain virus, bakteri, ricketsia dan jamur, faktori yang dapat memicu timbulnya ISPA ialah pencemaran udara. Kemenkes RI (2012) menyebutkan bahwa beberapa faktor risiko ISPA yang dapat menyebabkan ISPA diantaranya ialah asap rokok, asap pembakaran di rumah tangga, gas buang sarana transportasi dan industri, kebakaran hutan, dan lain sebgainya. Menurut Hafsari, Ramadhian, & Saftarina (2015), faktor risiko utama terjadinya ISPA ialah karena adanya polusi, kondisi lingkungan yang buruk misalnya polutan udara, kelembaban, kebersihan, musim, dan suhu. Faktor lainnyayang dapat

penyebab kunjungan utama pasien di Puskesmas (40%-60%) dan rumah sakit

mempengaruhi timbulnya gangguan saluran pernapasan pada pekerja ialah kebiasaan merokok (Veronika, Santi, & Ashar, 2014). Sedangkan faktor karakteristik individu yang menjadi faktor risiko ISPA diantaranya ialah usia, jenis kelamin, perilaku merokok, masa kerja, lama pajanan dan penggunaan masker yang berfungsi sebagai alat pelindung diri dari debu (Hafsari, Ramadhian, & Saftarina, 2015).

A. Polusi Udara

(60)

signifikan antara konsentrasi ataupun keberadaan zat pencemar di udara dengankejadianISPA(Yusnabeti,Wulandari,&Luciana,2010; Lindawaty, 2010).

a. Particulate Matter 10 / PM10

Berdasarkan Peraturan Gubernur DKI Jakarta No. 54 tahun 2008 yang diadopsi melalui US EPA (Environmental Protection Agency), partikulat matter 10 / PM10 merupakan padatan atau cairan di udara dalam bentuk asap ataupun debu dan uap yang dapat tinggal di udara dalam waktu yang lama dan berukuran kurang dari 10 mikron (2,5-10 mikron). Kedalaman yang dapat ditempuh pertikulat yang ada dalam udara sangat tergantung pada ukuran aerodinamika

Beberapa penelitian terdahulu terlah membuktikan adanya hubungan yang

partikulat tersebut. Partikulat yang berukuran > 10 mikron akan tersaring oleh silia pada hidung, trakhea dan bronkus. Sementara, partikulat dengan ukuran lebih kecil (< 0,1 mikron) akan mudah masuk ke alveoli namun mudah keluar kembali. Jadi, partikulat yang dapat tinggal di dalam paru-paru memiliki diameter antara 2-5 mikron (Soemirat, 2011). Semakin kecil diameter aerodinamis, maka semakin besar probabilitas suatu partikulat akan menembus saluran pernapasan. Partikulat dengan diameter < 10µm memiliki proporsi lebih besar untuk mencapai alveoli hingga sekitar 2 mm (Shofwati & Satar, 2009). Menurut Gertrudis (2010) PM10 merupakan iritan dan partikulat dengan risiko kesehatan terbesar diantara ukuran partikulat lainnya. PM10 merupakan indikator yang paling cocok untuk

(61)

mempengaruhi reaksi radang paru, ISPA ataupun gangguan pernapasan lainnya, gangguan pada sistem kardiovaskular, iritasi mata, kanker hingga kematian (Lindawaty, 2010; EPA, 1995).

Menurut EPA (1995), orang dengan penyakit paru kronis / PPOK seperti asma, emfisema dan bronkhitis kronis sangat sensitif terhadap efek PM10. Penyakit paru obstruktif kronik / PPOK merupakan sekelompok penyakit paru menahun yang ditandai oleh peningkatan resistensi saluran pernapasan akibat penyempitan lumen saluran pernapasan bagian bawah. Pada asma, obstruksi saluran pernapasan dapat disebabkan karena alergi yang dapat menimbulkan spasme / kejang otot polos sehingga saluran pernapasan mengalami penyempitan / konstriksi. Selain

2013). Efek pajanan singkat / akut terhadap partikel ini diantaranya ialah dapat

itu, asma jugap dapat disebabkan karena adanya penyumbatan pada saluran pernapasan karena adanya mukus berlebih dan sangat kental. Peradangan atau edema pada saluran pernapasan juga dapat menyebabkan asma karena peradangan ataupun penebalan dinding saluran pernapasan tersebut dapat menyebabkan konstriksi pada jalan napas.

(62)

dikarenakanpenumpukanmukustersebuttelahmenjadimedium perkembangbiakan bakteri yang optimal.

Emfisema merupakan suatu kondisi gangguan yang tak dapat diubah pada saluran napas akibat rusaknya dinding alveolus. Secara normal, saluran penghubung antara bronkiolus dengan alveolus membentuk struktur yang kuat dan menjaga saluran pernapasan agar tetap terbuka sehingga jalan udara masuk tidak terhambat. Namun pada emfisema, dinding alveoli mengalami kerusakan sehingga bronkioli kehilangan struktur penyangganya. Akibatnya pada saat udara akan dikeluarkan maka bronkioli akan mengerut. Emfisema dapat timbul akibat pajanan berlebih akibat asap rokok atau iritan kimia lainnya (Anies, 2006).

dapat dikeluarkan dari bronkus. Akibat selanjutnya ialah infeksi bakteri yang

b. Sumber PM10

Sumber PM10 dari aktifitas manusia / antropogenik ialah dari kendaraan

bermotor, hasil pembakaraan bahan bakar, dan proses industri (Lindawaty, 2010). Serupa dengan yang disebutkan dalam US.EPA (2016) bahwa sumber langsung yang berasal dari emisi diantaranya ialah lokasi konstruksi, jalanan beraspal, lapangan, cerobong asap ataupun asap dari kebakaran. Sedangkan sumber alamiah PM10 ialah dari aktivitas gunung berapi dan kebakaran hutan.

(63)

PM10 di udara.

Secara lebih rinci US EPA (2004) menyebutkan sumber partikulat berdasarkan ukuran diameternya, diantaranya sebagai berikut:

a.

Partikel sangat halus /ultrafine (d ≤ 0,1µm) bersumber dari hasil

pembakaran, hasil reaksi SO2 dengan zat-zat organik di atmosfer serta hasil proses kimia pada suhu tinggi.

b. Partikulat mode akumulasi (d= 0,1µm - 3 µm) bersumber dari hasil pembakaran batu bara, minyak, bensin, solar dan kayu bakar, dan hasil proses industri pada suhi tinggi (misal: peleburan logam atau proses industri pabrik baja).

PM10 yang paling umum dan berkontribusi paling banyak terhadap timbulnya

c. Partikulat Kasar / coarse particulate (d > 3 µm) bersumber dari resuspensi partikulat industri, kegiatan konstruksi dan penghancuran, pembakaran minyak dan batu bara yang tidak terkendali.

Sedangkan menurut Lange (2008), bila dikelompokkan berdasarkan jumlah debu yang terpajan, dosis pajanan debu dikelompokkan menjadi beberapa bagian yaitu debu total (total dust), debu terhirup (respirable dust), serta debu dosis kumulatif (cumulative dust). Respirable dust merupakan jenis debu yang sangat sering menimbulkan efek terhadap gangguan pernapasan karena ukuran aerodinamiknya berkisar ≤ 10 mikron dengan ukuran aerodinamik rata-rata 4µm.

(64)

Ketika manusia bernapas, PM10 di udara akan terbawa sampai masuk ke saluran pernapasan manusia. Di dalam saluran tersebut partikel-partikel tersebut akan berkumpul. Dengan ukuran yang sangat kecil maka partkel tersebut dapat dengan mudah sampai ke alveoli. Partikel berukuran 5-30 µm akan mengendap pada saluran pernapasan bagian atas seperti hidung dan tenggorokan. Sedangkan partikel berdiameter 3-5 µm akan terkumpul di saluran pernapasan bagian bawah seperti trakhea, bronkus dan bronkhiolus. Partikel dengan ukuran 1-3 mikron mampu mencapai di permukaan alveoli. Sementara itu partikel dengan ukuran 0,5-1 mikron hingga di permukaan alveoli dan dapat menyebabkan firbrosis paru. Dan partikel dengan ukuran lebih kecil yaitu 0,1-0,5 mikron dapat melayang di permukaan alveoli. Pada saluran-saluran tersebutlah partikel akan mengendap dan menimbulkan iritasi. Jika tidak, sistem pertahanan oleh mukosiliar akan membawanya masuk terserap disaluran pencernaan. Partikel yang lebih halus lagi dengan ukuran dibawah 1 µm dapat mencapai alveolus dengan mudah dan tertimbun disana. Sementara dalam alveolus endapannya dapat diabsorpsi menuju sistem sirkulasi maka dari itu paparan partikulat matter ini juga dapat menimbulkan gangguan pada sistem kardiovaskular. Pada alveolus ini, sistem pertahanan tubuh yang ada ialah sel-sel fagosit / makrofag yang dapat memakan atau menghancurkan partikel tersebut (Widyastuti dalam Lindawaty, 2010). Sementara itu partikel yang jauh lebih halus lagi akan keluar dari saluran pernapasan saat nafas dihembuskan.

(65)

Quality Standards (2012) ialah 150µg / m3 (0,15 mg / m3). Sedangkan standar occupational berdasarkan OSHA menyebutkan bahwa batas paparan yang diizinkan pada tempat kerja / Permissible Exposure Limit (PEL) ialah sebesar 5000 µg / m3, ekivalen dengan 5 mg / m3.

Di Indonesia sendiri, standar yang telah ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup / Permenlh No. 12 tahun 2010 untuk Baku Mutu Udara Ambien / BMUA Nasional ialah sebesar 150 µg / Nm3 (0,15 mg / m3). Serupa dengan standar yang ditetapkan berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta No. 54 tahun 2008 dan Permenkes No.48 tahun 2016 untuk parameter debu respirable PM10 pada lingkungan kerja perkantoran ialah sebesar 150µg/m3

Standar PM10 dalam udara ambien berdasarkan NAAQS / National Ambient Air

(0,15mg/m3).

e. Jalur Migrasi PM10 terhadap ISPA

Selain bakteri, virus, jamur, ricketsia, beberapa faktor pencetus timbulnya penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) ialah faktor pencemaran udara. Teori H. L. Blum menyatakan bahwa lingkungan merupakan salah satu faktor penentu derajat kesehatan masyarakat, salah satunya kualitas udara. Kualitas udara yang kotor akibat adanya pencemaran sangat erat hubungannya dengan kejadian penyakit ISPA (Fitria dkk , 2008; Mundilarto & Istiyono, 2007). Salah satu polutan yang paling sering ditemukan dan dapat menimbulkan penyakit ISPA ialah PM10. Berdasarkan

(66)

Wulandari, & Luciana, 2010; Yamani, 2013; Basti, 2014; Lindawaty, 2010).

PM10 memiliki sumber antropogenik berasal dari proses industri dan penggunaan kendaraan bermotor (Lindawaty, 2010; US.EPA, 2016). PM10 berada di udara atmosfer yang kemudian dengan mudah dapat dihirup oleh manusia. PM10 dengan ukuran 5-30 µm dapat terhirup dan tersaring di hidung oleh mukosiliar ataupun dapat masuk hingga ke tenggorokan. Untuk partikel berukuran 3-5 µm dapat masuk hingga trakhea, bronkhus, hingga bronkhiolus. Pada saluran ini masih terdapat mukosiliar namun sudah semakin berkurang jumlahnya. Sedangkan untuk partikel 1-3 µm dapat masuk hingga alveolus. Di alveolus, sistem pertahanan mukosiliar sudah

antara konsentrasi PM10 terhadap timbulnya penyakit ISPA (Yusnabeti,

tidak ada, maka dari itu zat-zat asing termasuk polutan PM10 dengan mudah mengiritasi alveolus. Sistem pertahanan yang ada pada alveolus ialah sel-sel makrofag.

Berdasarkan EPA (1995), orang dengan penyakit PPOK seperti asma, emfisema, dan bronkhitis kronik sangat rentan terhadap PM10. Beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi kualitas pencemaran udara diantaranya ialah suhu udara, kelembaban, dan kecepatan angin. Setelah

(67)
(68)

Bagan 2.1 Jalur Migrasi ISPA

Lingkungan Simpul 3: ManusiaHost /

Kebakaran Hutan

(69)

39 a. Usia

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar / Riskesdas pada tahun 2013, karakteristik penduduk dengan ISPA tertinggi terjadi pada kelompok umur 1- 4 tahun (balita). Pada kelompok pekerja, penelitian yang dilakukan oleh Noer & Martiana (2013) telah menyebutkan usia merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kejadian ISPA (p=0,017). Berdasarkan penelitiannya, pekerja dengan usia ≥ 40 tahun memiliki risiko lebih besar untuk terkena ISPA. Hal tersebut terjadi dikarenakan semakin bertambahnya usia seseorang maka kerentanan terhadap efek paparan semakin meningkat. Semakin meningkat usia seseorang, fungsi organ tubuh akan semakin menurun. Sejalan dengan

B. Karakteristik Pekerja

penelitian Daroham & Mutiatikum (2009), kelompok pekerja berusia diatas 15 tahun lebih banyak menderita sakit ISPA dibandingkan dengan umur dibawah 15 tahun. Meskipun dalam range yang berbeda namun dibuktikan bahwa semakin meningkatnya usia seseorang maka semakin meningkat pula risiko seseorang terhadap ISPA. Diasumsikan bahwa seorang pekerja yang semakin tua maka kapasitas vital parunya akan semakin menurun karena adanya kemunduran fungsi organ sehingga lebih rentan terhadap paparan polutan yang berakibat pada timbulnya gangguan pernapasan (Fitriyani, 2011).

b. Jenis Kelamin

(70)

disebutkan oleh Nelson & William (2007) dimana disebutkan bahwa risiko laki-laki menderita ISPA lebih besar dibandingkan perempuan karena kebutuhan oksigen laki-laki lebih banyak dibanding perempuan. hal Supraptini, Hananto, & Hapsari (2010) menyebutkan bahwa laki-laki lebih berisiko terkena ISPA sebesar 1.038 kali dibandingkan perempuan. Laki- laki juga memiliki lebih banyak aktivitas diluar rumah lebih banyak dibandingkan perempuan sehingga cenderung mendapatkan pajanan yang lebih besar terhadap agen penyakit (WHO, 2007). c. Masa Kerja

Semakin lama seseorang bekerja maka semakin banyak dia terpapar oleh berjenis kelamin laki-laki (Khairunnisa, 2014). Hal yang serupa

behaya yang ditimbulkan oleh lingkungan kerja tersebut. Hal tersebut dibuktikan oleh Noer & Martiana (2013) (p=0,017) dan Yusnabeti, Wulandari, & Luciana (2010) (p=0,010). Menurut Yusnabeti, Wulandari, dan Luciana (2010), pekerja yang bekerja ≥ 10 tahun lebih berisiko terkena ISPA dibandingkan dengan pekerja yang bekerja < 10 tahun. Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Noer dan Martiana (2013).

d. Lama Paparan

(71)

Nurgahaeni (2004); Yulaekah (2007).

Mengacu pada Undang-Undang Republik Indonesia No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, bekerja selama 7 jam / hari dan 40 jam / minggu untuk 6 hari dalam seminggu. Sedangkan kerja selama 8 jam/hari dan 40 jam / minggu untuk 5 hari dalam seminggu. e. Kebiasaan Merokok

Berdasarkan penelitian, didapatkan hubungan yang bermakna antara pajanan asap rokok dengan kejadian ISPA. Menurut (Suryo, 2010) kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko terjadinya ISPA hingga 2,2 kali. Yusnabeti, Wulandari, & Luciana (2010) menyebutkan bahwa rokok dapat meningkatkan kelainan paru dimana iritasi yang persisten pada tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Febrianto (2015);

saluran pernapasan akibat rokok dapat menyebabkan adanya perubahan pada struktur jaringan paru-paru. Perubahan tersebut jika dibiarkan akan menyebabkan perubahan fungsi paru dan menjadi dasar terjadinya obstruksi paru menahun (PPOK). Menurut WHO, seseorang dapat dikatakan sebagai perokok (aktif) apabila mereka merokok setiap hari dalam waktu minimal 6 bulan hingga saat survei dilakukan (Depkes, 2004).

f. Penggunaan APD (masker)

(72)

Turnip dalam Fitriyani, 2011). Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kebiasaan penggunaan APD seperti masker merupakan faktor risiko terjadinya ISPA akibat paparan debu. Yusnabeti, Wulandari, & Luciana (2010) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa terdapat 43 pekerja yang mengalami ISPA dan hampir semua pekerja tersebut tidak menggunakan APD seperti masker. Dalam penelitiannya, Fitriyani (2011) menyebutkan bahwa pekerja yang tidak menggunakan APD seperti masker akan mempunyai peluang berisiko 3 kali lebih besar mengalami gejala ISPA dibandingkan pekerja yang menggunakan APD. N95 merupakan jenis masker yang direkomendasikan oleh NIOSH

untuk paparan partikulat PM10 (CDC, 2016). Kelas filter ini memiliki

dapat mengurangi atau memperlambat tingkat pajanan yang terjadi (Odjak

spesifikasi yaitu untuk perlindungan terhadap paparan partikulat non-oil

dan 95% dapat menyaring partikulat hingga ukuran 0,3 mikron (NIOSH, 1996).

Pencemaran Udara

(73)

organ penglihatan (Sumantri, Kesehatan lingkungan dan perspektif Islam, 2010).

Pencemaran Udara Dalam Ruang (PUDR) merupakan pencemaran udara yang terjadi akibat masuknya / dimasukannya makhluk hidup, zat, energi dan/atau komponen lain ke udara ruang oleh kegiatan manusia atau proses alam, sehingga kualitas udara ruangan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai peruntukannya. Mengacu pada Pergub DKI Jakarta No. 54 tahun 2008 yang dimaksud dengan ruangan yan menjadi kawasan umum ialah ruangan tertutup yang dimanfaatkan oleh masyarakat umum secara sendiri ataupun bersama-sama seperti ruangan parkir kendaraan bermotor. Melalui peraturan tersebut dapat disimpulkan bahwa ruangan

udara dapat mengakibatkan gangguan bagi kesehatan sistem pernapasan, dan

parkir basement termasuk dalam kategori ruangan kawasan umum yang dikatakan sebagai ruangan tertutup (indoor).

(74)

partikel (Wardhana, Dampak Pencemaran Lingkungan Ed. 3, 2004).

Manurut Sumantri (2015), pencemara udara terbagi atas dua jenis, pencemaran primer, dan pencemaran sekunder.

Pencemaran Primer merupakan substansi pencemar yang ditimbulkan langsung dari sumbernya. Beberapa contoh pencemar primer ialah hidrokarbon, karbon monoksida (CO), Karbon dioksida (CO2), sulfur oksida (SOx), Amoniak (NH3), Nitrogen Oksida (NOx) dan Particulate Matter / PM. Pencemar sekunder merupakan substansi pencemar yang terbentuk dari

reaksi zat-zat pencemar primer di atmosfer. Contoh pencemar sekunder

(CO), Nitrogen oksida (NOx), Sulfur oksida (SOx), hidrokarbon, serta debu atau

ialah pembentukan ozon dan Proxy Acyl Nitrate (PAN).

Pencemaran udara khususnya yang bersumber dari kendaraan bermotor dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor iklim kerja. Beberapa diantaranya yaitu suhu udara, kelembaban, arah dan kecepatan angin, topografi dan geografi (Wardhana, 1999).

1. Suhu udara

(75)

sehingga konsentrasi pencemar menjadi makin rendah. Sebaliknya pada suhu rendah / dingin maka kondisi udara akan semakin padat dan konsentrasi pencemar akan semakin tinggi (Depkes, Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 416/Menkes/Per/IX/1990, 1990). Namun demikian, pada suhu udara yang tinggi juga dapat menyebabkan bahan pencemar terutama partikel diudara menjadi kering dan ringan sehingga cenderung untuk bertahan lebih lama di udara. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 829 tahun 1999, suhu udara nyaman berkisar antara 18- 30oc. Sedangkan berdasarkan Pergub DKI Jakarta No. 54 tahun 2008 dikatakan bahwa batas aman suhu pada ruang perkantoran ialah berkisar antara 23-28oC. Sementara itu, berdasarkan SNI 03-6572-2001 disebutkan

(p= 0,191). Semakin tinggi suhu udara maka udara akan semakin renggang

bahwa suhu pada lingkungan tropis untuk mendapatkan kondisi yang

nyaman ialah berkisar antara 22,8oC-25,8oC. 2. Kelembaban Udara

(76)

kelembaban yang dikatakan aman ialah berkisar antara 40-70%. Sedangkan berdasarkan Permenkes No.48 Tahun 2016 disebutkan bahwa kelembaban yang nyaman untuk ruang kerja seperti lobi ataupun koridor ialah sebesar 30-70%. Sementara itu dalam SNI 03-6572-2001 disebutkan bahwa untuk daerah tropis, kelembaban udara relatif yang dianjurkan ialah berkisar antara 40%-50%. 3. Kecepatan Angin

Kecepatan angin berbanding terbalik dengan konsentrasi polutan di udara. Apabila kecepatan angin lemah, maka polutan semakin menumpuk pada suatu tempat dan mengakibatkan konsentrasi polutan lebih padat. Selain itu, kecepatan angin yang rendah dalam arti udara tidak bergerak tahun 2011 tentang pedoman penyehatan udara dalam ruang rumah dimana

(77)

kecil dari 0,15 - 0,20 m/s (Reverente, Weetman, & Wongphanick, 1993).

2.4 Kerangka Teori

Beberapa faktor risiko terjadinya ISPA diantaranya ialah usia, jenis kelamin, lama paparan, masa kerja, penggunaan APD seperti masker serta kebiasaan merokok. Usia merupakan umur seseorang terhitung mulai ia dilahirkan hingga orang tersebut ikut serta dalam penelitian ini. Usia merupakan salah satu faktor risiko ISPA karena semakin bertambah usia seseorang maka fungsi organ- organ tubuh semakin menurun, imunitas juga akan semakin melemah. Maka dari itu orang dengan usia lanjut semakin rentan terhadap pencemaran dan penyakit infeksius seperti ISPA (Noer & Martiana, 2013; Daroham &

aliran udara pada bangunan dibawah tanah disarankan agar tidak lebih

Mutiatikum, 2009; Fitriyani, 2011). Sama halnya dengan orang dengan kelompok usia muda seperti balita juga sangat rentan terhadap ISPA. hal tersebut dikarenakan sistem pembentukan imun dan organ tubuh masih belum sempurna sehingga lebih rentan terkena penyakit infeksi seperti ISPA.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan Departemen Kesehatan RI diperoleh bahwa anak berjenis kelamin laki-laki merupakan salah satu faktor risiko ISPA (Khairunnisa, 2014). Hal yang serupa juga disampaikan oleh Nelson dan William (2007) dan Supraptini dkk (2010).

(78)

Undang-jam/hari dan 40 jam / minggu untuk 6 hari dalam seminggu sedangkan bekerja selama 8 jam / hari dan 40 jam / minggu untuk 5 hari dalam seminggu.

Masa kerja merupakan lama kerja seseorang dalam satuan tahun. Semakin lama seseorang bekerja maka semakin banyak pula paparan polutan yang ia dapat pada tempat kerjanya. Bekerja selama ≥ 10 tahun lebih berisiko terkena ISPA dibandingkan pekerja yang bekerja dibawah 10 tahun (Yusnabeti, Wulandari, & Luciana, 2010; Noer & Martiana, 2013).

Masker merupakan suatu alat pelindung diri yang berfungsi untuk melindungi pekerja dari paparan debu partikulat dan bau. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kebiasaan penggunaan masker merupakan faktor risiko

Undang RI No. 132 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, bekerja selama 7

terjadinya ISPA pada pekerja (Yusnabeti, Wulandari, & Luciana, 2010; Fitriyani, 2011). Kebiasaan merokok juga memiliki hubungan yang bermakna terhadap terjadinya ISPA. Rokok dapat menyebabkan kelainan paru akibat iritasi yang persisten pada saluran napas akibat asap rokok sehingga lebih rentan terserang penyakit ISPA (Yusnabeti, Wulandari, & Luciana, 2010).

ISPA dapat disebabkan oleh lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan ricketsia. Sementara itu penyebab ISPA lainnya ialah akibat asap kendaraan bermotor, pabrik dan sebagainya yang biasanya ditemukan dalam bentuk partikulat.

(79)

arah dan kecepatan angin.

Bagan 2.2 Kerangka Teori

Iklim Kerja:

Suhu Kelembaban Kecapatan Angin

PM10

Polutan

Ricketsia Virus

Bakteri

Agen Infeksius

Karakteristik Individu Pekerja: Usia

Jenis Kelamin Lama Paparan Masa Kerja Penggunaan APD

SO2

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

(80)

Konsentrasi PM10

Karakteristik Pekerja:

- Usia

- Jenis Kelamin - Lama Paparan - Masa Kerja - Penggunaan

APD (Masker) - Status Merokok

50 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep

Berdasarkan kerangka teori yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, selanjutnya didapatkan kerangka konsep untuk menjelaskan hubungan antar variabel-variabel yang akan diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konsentrasi PM10 dan karakteristik pekerja sebagai variabel independen terhadap keluhan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) ringan pada petugas di area basement parkir Mal Blok M dan Poins Square sebagai variabel dependen.

Bagan 3.1 Kerangka Konsep

BAB III

Variabel Independen Variabel Dependen

Gambar

Tabel 6.1Distribusi Konsentrasi PM10, Suhu Dan Kelembaban Udara Berdasarkan Area Kerja Petugas................................................111
Grafik 5.1Distribusi  Petugas  dengan  Keluhan  Subjektif  Gangguan
Gambar 4.1Layout denah lokasi A1 (area pengukuran P1) & A2 (area
Tabel 2.1. Struktur dan Fungsi Sistem Pernapasan
+7

Referensi

Dokumen terkait