• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Pekerja

Dalam dokumen Yolanda Mutiara Christiani FKIK converted (Halaman 69-79)

Bagan 2.1 Jalur Migrasi ISPA Simpul 1: Sumber

B. Karakteristik Pekerja

penelitian Daroham & Mutiatikum (2009), kelompok pekerja berusia diatas 15 tahun lebih banyak menderita sakit ISPA dibandingkan dengan umur dibawah 15 tahun. Meskipun dalam range yang berbeda namun dibuktikan bahwa semakin meningkatnya usia seseorang maka semakin meningkat pula risiko seseorang terhadap ISPA. Diasumsikan bahwa seorang pekerja yang semakin tua maka kapasitas vital parunya akan semakin menurun karena adanya kemunduran fungsi organ sehingga lebih rentan terhadap paparan polutan yang berakibat pada timbulnya gangguan pernapasan (Fitriyani, 2011).

b. Jenis Kelamin

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI, disebutkan bahwa faktor risiko ISPA terjadi pada anak yang

disebutkan oleh Nelson & William (2007) dimana disebutkan bahwa risiko laki-laki menderita ISPA lebih besar dibandingkan perempuan karena kebutuhan oksigen laki-laki lebih banyak dibanding perempuan. hal Supraptini, Hananto, & Hapsari (2010) menyebutkan bahwa laki-laki lebih berisiko terkena ISPA sebesar 1.038 kali dibandingkan perempuan. Laki- laki juga memiliki lebih banyak aktivitas diluar rumah lebih banyak dibandingkan perempuan sehingga cenderung mendapatkan pajanan yang lebih besar terhadap agen penyakit (WHO, 2007). c. Masa Kerja

Semakin lama seseorang bekerja maka semakin banyak dia terpapar oleh berjenis kelamin laki-laki (Khairunnisa, 2014). Hal yang serupa

behaya yang ditimbulkan oleh lingkungan kerja tersebut. Hal tersebut dibuktikan oleh Noer & Martiana (2013) (p=0,017) dan Yusnabeti, Wulandari, & Luciana (2010) (p=0,010). Menurut Yusnabeti, Wulandari, dan Luciana (2010), pekerja yang bekerja ≥ 10 tahun lebih berisiko terkena ISPA dibandingkan dengan pekerja yang bekerja < 10 tahun. Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Noer dan Martiana (2013).

d. Lama Paparan

Menurut Kusnoputranto (1995) salah satu faktor yang mempengaruhi gangguan pernapasan ialah intensitas dan lama paparan. Serupa dengan yang disampaikan oleh Suma'mur (1995) bahwa lama pajanan debu merupakan faktor seseorang mengalami gangguan pernapasan. Hal

Nurgahaeni (2004); Yulaekah (2007).

Mengacu pada Undang-Undang Republik Indonesia No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, bekerja selama 7 jam / hari dan 40 jam / minggu untuk 6 hari dalam seminggu. Sedangkan kerja selama 8 jam/hari dan 40 jam / minggu untuk 5 hari dalam seminggu. e. Kebiasaan Merokok

Berdasarkan penelitian, didapatkan hubungan yang bermakna antara pajanan asap rokok dengan kejadian ISPA. Menurut (Suryo, 2010) kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko terjadinya ISPA hingga 2,2 kali. Yusnabeti, Wulandari, & Luciana (2010) menyebutkan bahwa rokok dapat meningkatkan kelainan paru dimana iritasi yang persisten pada tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Febrianto (2015);

saluran pernapasan akibat rokok dapat menyebabkan adanya perubahan pada struktur jaringan paru-paru. Perubahan tersebut jika dibiarkan akan menyebabkan perubahan fungsi paru dan menjadi dasar terjadinya obstruksi paru menahun (PPOK). Menurut WHO, seseorang dapat dikatakan sebagai perokok (aktif) apabila mereka merokok setiap hari dalam waktu minimal 6 bulan hingga saat survei dilakukan (Depkes, 2004).

f. Penggunaan APD (masker)

Masker merupakan suatu alat pelindung diri yang fungsinya untuk melindungi dari paparan polutan inhalable (yang mudah terhirup) seperti debu / PM10. APD tidaklah sempurna dapat melindungi tubuh, tetapi akan

Turnip dalam Fitriyani, 2011). Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kebiasaan penggunaan APD seperti masker merupakan faktor risiko terjadinya ISPA akibat paparan debu. Yusnabeti, Wulandari, & Luciana (2010) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa terdapat 43 pekerja yang mengalami ISPA dan hampir semua pekerja tersebut tidak menggunakan APD seperti masker. Dalam penelitiannya, Fitriyani (2011) menyebutkan bahwa pekerja yang tidak menggunakan APD seperti masker akan mempunyai peluang berisiko 3 kali lebih besar mengalami gejala ISPA dibandingkan pekerja yang menggunakan APD. N95 merupakan jenis masker yang direkomendasikan oleh NIOSH

untuk paparan partikulat PM10 (CDC, 2016). Kelas filter ini memiliki

dapat mengurangi atau memperlambat tingkat pajanan yang terjadi (Odjak

spesifikasi yaitu untuk perlindungan terhadap paparan partikulat non-oil

dan 95% dapat menyaring partikulat hingga ukuran 0,3 mikron (NIOSH, 1996).

Pencemaran Udara

Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup RI. No. KEP-03/MENKLH/II/1991, pencemaran udara didefinisikan sebagai masuk atau dimasukannya makhluk hidup, zat, energi dan/atau komponen lain ke udara oleh kegiatan manusia atau proses alam, sehingga kualitas udara turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai peruntukannya. Pada umumnya pencemaran

organ penglihatan (Sumantri, Kesehatan lingkungan dan perspektif Islam, 2010).

Pencemaran Udara Dalam Ruang (PUDR) merupakan pencemaran udara yang terjadi akibat masuknya / dimasukannya makhluk hidup, zat, energi dan/atau komponen lain ke udara ruang oleh kegiatan manusia atau proses alam, sehingga kualitas udara ruangan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai peruntukannya. Mengacu pada Pergub DKI Jakarta No. 54 tahun 2008 yang dimaksud dengan ruangan yan menjadi kawasan umum ialah ruangan tertutup yang dimanfaatkan oleh masyarakat umum secara sendiri ataupun bersama-sama seperti ruangan parkir kendaraan bermotor. Melalui peraturan tersebut dapat disimpulkan bahwa ruangan

udara dapat mengakibatkan gangguan bagi kesehatan sistem pernapasan, dan

parkir basement termasuk dalam kategori ruangan kawasan umum yang dikatakan sebagai ruangan tertutup (indoor).

Pencemaran udara biasanya diawali dengan adanya emisi. Emisi merupakan jumlah polutan yang dikeluarkan ke udara dalam satuan waktu (Sumantri, Kesehatan lingkungan dan perspektif Islam, 2010). Emisi dapat bersumber dari hasil proses alam maupun hasil kegiatan manusia (emisi antropogenik). Contoh emisi yang bersumber dari kegiatan manusia ialah emisi hasil pembakaran bahan bakar fosil seperti bensin. Umumnya jenis emisi ini seringkali ditemukan pada penggunaan kendaraan bermotor. Suatu wilayah dimana memiliki jumlah kepemilikan kendaraan bermotor yang sangat banyak, maka wilayah tersebut dapat dikatakan berisiko terhadap pencemaran udara. Beberapa polutan yang dikeluarkan dari emisi kendaraan bermotor diantaranya ialah karbon monoksida

partikel (Wardhana, Dampak Pencemaran Lingkungan Ed. 3, 2004).

Manurut Sumantri (2015), pencemara udara terbagi atas dua jenis, pencemaran primer, dan pencemaran sekunder.

Pencemaran Primer merupakan substansi pencemar yang ditimbulkan langsung dari sumbernya. Beberapa contoh pencemar primer ialah hidrokarbon, karbon monoksida (CO), Karbon dioksida (CO2), sulfur oksida (SOx), Amoniak (NH3), Nitrogen Oksida (NOx) dan Particulate Matter / PM. Pencemar sekunder merupakan substansi pencemar yang terbentuk dari

reaksi zat-zat pencemar primer di atmosfer. Contoh pencemar sekunder

(CO), Nitrogen oksida (NOx), Sulfur oksida (SOx), hidrokarbon, serta debu atau

ialah pembentukan ozon dan Proxy Acyl Nitrate (PAN).

Pencemaran udara khususnya yang bersumber dari kendaraan bermotor dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor iklim kerja. Beberapa diantaranya yaitu suhu udara, kelembaban, arah dan kecepatan angin, topografi dan geografi (Wardhana, 1999).

1. Suhu udara

Suhu udara merupakan tingkat atau derajat kepanasan dari suatu benda ataupun lingkungan. Suhu udara dinyatakan dalam satuan derajat celcius Prawirawardoyo dalam Prasetyanto (2011). Penelitian yang dilakukan oleh Yusnabeti, Wulandari, & Luciana (2010) menyebutkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian ISPA dengan suhu ruang kerja

sehingga konsentrasi pencemar menjadi makin rendah. Sebaliknya pada suhu rendah / dingin maka kondisi udara akan semakin padat dan konsentrasi pencemar akan semakin tinggi (Depkes, Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 416/Menkes/Per/IX/1990, 1990). Namun demikian, pada suhu udara yang tinggi juga dapat menyebabkan bahan pencemar terutama partikel diudara menjadi kering dan ringan sehingga cenderung untuk bertahan lebih lama di udara. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 829 tahun 1999, suhu udara nyaman berkisar antara 18- 30oc. Sedangkan berdasarkan Pergub DKI Jakarta No. 54 tahun 2008 dikatakan bahwa batas aman suhu pada ruang perkantoran ialah berkisar antara 23-28oC. Sementara itu, berdasarkan SNI 03-6572-2001 disebutkan

(p= 0,191). Semakin tinggi suhu udara maka udara akan semakin renggang

bahwa suhu pada lingkungan tropis untuk mendapatkan kondisi yang nyaman ialah berkisar antara 22,8oC-25,8oC.

2. Kelembaban Udara

Kelembaban udara ialah jumlah kandungan uap air yang ada di dalam udara yang dinyatakan dalam persentase. Pada kelembaban udara yang tinggi kadar uap air di udara akan bereaksi dengan polutan di udara. Uap air pada udara akan mengikat polutan di udara seperti debu dan kemudian akan menangkap kembali partikel polutan lainnya sehingga beberapa bahan pencemar tersebut akan membentuk partikel yang berukuran lebih besar sehingga lebih mudah mengendap ke permukaan bumi oleh gaya tarik bumi (Depkes RI, 1990). Disebutkan dalam Kepmenkes no. 1077

kelembaban yang dikatakan aman ialah berkisar antara 40-70%. Sedangkan berdasarkan Permenkes No.48 Tahun 2016 disebutkan bahwa kelembaban yang nyaman untuk ruang kerja seperti lobi ataupun koridor ialah sebesar 30-70%. Sementara itu dalam SNI 03-6572-2001 disebutkan bahwa untuk daerah tropis, kelembaban udara relatif yang dianjurkan ialah berkisar antara 40%-50%. 3. Kecepatan Angin

Kecepatan angin berbanding terbalik dengan konsentrasi polutan di udara. Apabila kecepatan angin lemah, maka polutan semakin menumpuk pada suatu tempat dan mengakibatkan konsentrasi polutan lebih padat. Selain itu, kecepatan angin yang rendah dalam arti udara tidak bergerak tahun 2011 tentang pedoman penyehatan udara dalam ruang rumah dimana

memungkinkan terjadinya inversi. Inversi merupakan suatu keaaan dimana udara dingin terperangkap oleh lapisan udara panas diatasnya sehingga udara dingin tidak dapat bergerak keatas dan bercampur dengan udara diatasnya. Hal tersebut menyebabkan polutan tidak dapat menyebar dan terakumulasi pada satu tempat tersebut (Budianto, 2008). Sebaliknya apabila kecepatan angin tinggi maka polutan tidak mempunyai waktu cukup untuk untuk mengumpul karena akan semakin terbawa dan menyebar ke beberapa tempat lainnya dan mengakibatkan konsentrasi polutan pada suatu tempat menurun. Kecepatan angin diukur dengan menggunakan anemometer dalam satuan meter/menit. Untuk kecapatan

kecil dari 0,15 - 0,20 m/s (Reverente, Weetman, & Wongphanick, 1993). 2.4 Kerangka Teori

Beberapa faktor risiko terjadinya ISPA diantaranya ialah usia, jenis kelamin, lama paparan, masa kerja, penggunaan APD seperti masker serta kebiasaan merokok. Usia merupakan umur seseorang terhitung mulai ia dilahirkan hingga orang tersebut ikut serta dalam penelitian ini. Usia merupakan salah satu faktor risiko ISPA karena semakin bertambah usia seseorang maka fungsi organ- organ tubuh semakin menurun, imunitas juga akan semakin melemah. Maka dari itu orang dengan usia lanjut semakin rentan terhadap pencemaran dan penyakit infeksius seperti ISPA (Noer & Martiana, 2013; Daroham &

aliran udara pada bangunan dibawah tanah disarankan agar tidak lebih

Mutiatikum, 2009; Fitriyani, 2011). Sama halnya dengan orang dengan kelompok usia muda seperti balita juga sangat rentan terhadap ISPA. hal tersebut dikarenakan sistem pembentukan imun dan organ tubuh masih belum sempurna sehingga lebih rentan terkena penyakit infeksi seperti ISPA.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan Departemen Kesehatan RI diperoleh bahwa anak berjenis kelamin laki-laki merupakan salah satu faktor risiko ISPA (Khairunnisa, 2014). Hal yang serupa juga disampaikan oleh Nelson dan William (2007) dan Supraptini dkk (2010).

Lama paparan merupakan salah satu faktor yang juga dapat mempengaruhi terjadinya gangguan pernapasan (Kusnoputranto, 1995; Febrianto, 2015; Suma'mur, 1995; Nurgahaeni, 2004; Yulaekah, 2007). Berdasarkan Undang-

jam/hari dan 40 jam / minggu untuk 6 hari dalam seminggu sedangkan bekerja selama 8 jam / hari dan 40 jam / minggu untuk 5 hari dalam seminggu.

Masa kerja merupakan lama kerja seseorang dalam satuan tahun. Semakin lama seseorang bekerja maka semakin banyak pula paparan polutan yang ia dapat pada tempat kerjanya. Bekerja selama ≥ 10 tahun lebih berisiko terkena ISPA dibandingkan pekerja yang bekerja dibawah 10 tahun (Yusnabeti, Wulandari, & Luciana, 2010; Noer & Martiana, 2013).

Masker merupakan suatu alat pelindung diri yang berfungsi untuk melindungi pekerja dari paparan debu partikulat dan bau. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kebiasaan penggunaan masker merupakan faktor risiko

Undang RI No. 132 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, bekerja selama 7

terjadinya ISPA pada pekerja (Yusnabeti, Wulandari, & Luciana, 2010; Fitriyani, 2011). Kebiasaan merokok juga memiliki hubungan yang bermakna terhadap terjadinya ISPA. Rokok dapat menyebabkan kelainan paru akibat iritasi yang persisten pada saluran napas akibat asap rokok sehingga lebih rentan terserang penyakit ISPA (Yusnabeti, Wulandari, & Luciana, 2010).

ISPA dapat disebabkan oleh lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan ricketsia. Sementara itu penyebab ISPA lainnya ialah akibat asap kendaraan bermotor, pabrik dan sebagainya yang biasanya ditemukan dalam bentuk partikulat. Berdasarkan beberapa penelitian menyebutkan bahwa konsentrasi PM10 dalam udara merupakan faktor risiko terjadinya ISPA (Basti, 2014; Yusnabeti, Wulandari, & Luciana, 2010; Yamani, 2013). Seluruh agen penyebab ISPA

arah dan kecepatan angin.

Dalam dokumen Yolanda Mutiara Christiani FKIK converted (Halaman 69-79)