• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang

Dalam dokumen Yolanda Mutiara Christiani FKIK converted (Halaman 31-37)

DAFTAR ISTILAH

1.1 Latar Belakang

Di dunia, Infeksi Saluran Pernapasan Akut / ISPA merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit menular dimana tercatat sebanyak 156 juta kasus baru per tahunnya dan 96,7% kasus tersebut terjadi di negara berkembang (Kemenkes, 2012). Di Indonesia sendiri, prevalensi kejadian ISPA sebesar 25% dimana DKI Jakarta termasuk dalam sepuluh besar provinsi dengan prevalensi ISPA tertinggi (Kemenkes, 2013). Lebih lanjut Depkes RI (2013) menyebutkan bahwa ISPA masih menjadi salah satu penyebab utama kunjungan pasien di Puskesmas (40%-60%) dan rumah sakit (15%-30%). Pada tahun 2015 persentase

BAB I

penduduk yang memiliki keluhan kesehatan di Indonesia mencapai 30,35% dimana DKI Jakarta memiliki persentase di atas rata-rata persentase nasional yakni sebesar 33,39% yang mana keluhan seperti batuk (49,92%) dan pilek (48,93%) masih menjadi keluhan utama (BPS, 2015).

Perjalanan penyakit ISPA dapat berlangsung hingga 14 hari. Meskipun berlangsung dalam waktu yang singkat, bila tidak segera ditangani penyakit ini akan mengarah kepada Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) (Blackler, Jones, & Mooney, 2007). Pada lingkup pekerja, World Health Organization (WHO) mencatat diantara Penyakit Akibat Kerja (PAK), PPOK seperti silikosis dan pneumokoniosis memiliki proporsi antara 30%-50%. International Labour Organization (ILO) juga mendeteksi bahwa setiap tahunnya terdapat 40.000 kasus

di seluruh dunia (Abidin, Suwondo, & Suroto, 2015).

Salah satu faktor risiko terjadinya ISPA ialah pencemaran udara (Kemenkes, Pedoman Pengendalian Infeksi Saluran Pernapasan Akut, 2011). Penelitian yang dilakukan oleh Hermawan, Hananto & Lasut (2016), menemukan korelasi yang sangat kuat (0,779) antara kenaikan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) dengan kasus ISPA. Berdasarkan lokasi terjadinya, pencemaran udara terbagi menjadi pencemaran udara di luar ruangan (outdoor air pollution) dan pencemaran udara di dalam ruang (indoor air pollution). Pencemaran udara dalam ruang memiliki potensi menjadi masalah kesehatan yang sesungguhnya, mengingat adanya paparan yang lebih besar dibandingkan dengan pencemaran

baru pneumokoniosis yang disebabkan oleh paparan debu di tempat kerja terjadi

udara di luar ruang (Effendi & Makhfudli, 2009). WHO dalam Huboyo, Istirokhatun, & Sutrisno (2016) menyatakan bahwa pencemaran udara dalam ruang seribu kali lebih mampu mencapai paru-paru dibandingkan dengan pencemaran udara luar ruang. Terdapat ± 3 juta kematian akibat polusi udara setiap tahunnya, dimana 2,8 juta diantaranya akibat pencemaran udara dalam ruang (Hidayat, 2012).

Pusat niaga/ perbelanjaan / mal merupakan salah satu tempat yang berisiko terhadap terjadinya indoor air pollution. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Nukman. Dkk (2005), ditemukan bahwa di Jakarta, parameter pencemar udara seperti partikulat matter ukuran ≤ 10 mikron (PM10) paling tinggi konsentrasinya ditemukan pada tempat-tempat pusat perniagaan dibandingkan dengan kawasan umum lainnya seperti terminal. Menurut Arief Rahardjo, Head of Research and

Advisory Cushman and Wakefield dalam Syailendra (2013), pertumbuhan mal di Jakarta mencapai 3,9% tiap tahunnya. Hingga tahun 2013 kawasan Jakarta Selatan merupakan penyumbang terbesar pertumbuhan mal yaitu sebesar 21,8% atau sekitar 854.700 m2. Selain itu, wilayah Jakarta Selatan terbukti memiliki jumlah pusat perbelanjaan atau mal yang paling banyak dibandingkan wilayah lainnya di Provinsi DKI Jakarta yakni sebanyak 28 buah (28,6%). Dari jumlah tersebut, terdapat ± 19 mal yang memiliki parkir basement. Poins Square dan Mal Blok M merupakan kedua mal di wilayah Jakarta Selatan yang memiliki parkir basement

dan termasuk dalam 5 (lima) besar mal dengan jumlah kendaraan masuk tertinggi di wilayah Jakarta Selatan. Kedua mal tersebut memiliki karakteristik yang sama yakni sama-sama berlokasi di dekat terminal dan berlokasi didekat proyek MRT yang sedang berlangsung pada tahun 2016 sehingga lalu lintas di kedua lokasi tersebut cenderung padat dan konsentrasi pencemar akan semakin tinggi. Dilihat dari kondisi tersebut maka diasumsikan bahwa kedua mal tersebut dapat memiliki potensi cemaran debu lebih besar dibandingkan mal lainnya di wilayah Jakarta Selatan.

Pesatnya pertumbuhan mal tentunya dapat meningkatkan daya konsumtif masyarakat yang berdampak pada peningkatan jumlah pengunjung di setiap mal. Dengan meningkatnya jumlah pengunjung tidak dipungkiri bahwa jumlah kendaraan yang masuk dan keluar dari mal tersebut juga turut dapat mengalami peningkatan. Lonjakan jumlah kendaraan tersebut berdampak pada meningkatnya risiko terjadinya indoor air pollution pada area basement parkir mal.

Sayangnya, penggunaan basement (lantai bawah tanah) sebagai area parkir

indoor seringkali tidak memperhatikan kecukupan ventilasinya, sehingga mengakibatkan terakumulasinya gas-gas pencemar pada area parkir basement. Seperti penelitian yang telah dilakukan oleh Astuti (2010) yang menemukan bahwa beban cemaran di parkir basement salah satu mal di Jakarta telah melampaui baku mutu. Penelitian serupa dilakukan oleh Huboyo, Istirokhatun, & Sutrisno (2016) di salah satu mal di kota Semarang yang menyatakan bahwa konsentrasi polutan di area basement secara umum lebih besar dibandingkan di

upperground (lantai atas) dan parameter yang melebihi baku mutu ialah debu. Dalam SNI 03-6572-2001 disebutkan bahwa ruang parkir bawah tanah (basement) yang terdiri dari lebih dari satu lantai, gas buang mobil pada setiap lantai tidak boleh mengganggu udara bersih pada lantai lainnya.

Petugas parkir merupakan kelompok pekerja yang berisiko terhadap indoor air pollution yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit ISPA pada pekerja. Terlebih apabila petugas tersebut bertugas pada parkir basement dimana ventilasi udara sangat minim ditemukan sehingga zat polutan akan terakumulasi pada area tersebut dan dapat dengan mudah terhirup yang kemudian mengiritasi saluran napas. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada 20 sampel petugas parkir basement mal di wilayah Jakarta Selatan pada bulan Juni-Juli 2016, didapatkan bahwa terdapat 18 (90%) orang petugas parkir yang memiliki keluhan subjektif gangguan pernapasan akut. Beberapa keluhan tersebut diantaranya ialah suara serak yang disertai atau tanpa disertai demam (20%), batuk (39%), pilek (17%), dan keluarnya cairan dari telinga tanpa disertai rasa sakit (24%).

Debu partikulat dengan ukuran aerodinamik ≤ 10 mikron (PM10) merupakan salah satu faktor pencetus terjadinya ISPA (Yusnabeti, Wulandari, & Luciana, 2010). PM10 merupakan jenis partikulat yang dapat membahayakan dan paling sering ditemukan akibat penggunaan kendaraan bermotor (WHO, 1996; Depkes RI dalam Pudjiastuti, 2003). Pemakaian BBM dan BBG oleh kendaraan bermotor dapat mengemisikan Suspended Particulate Matter (SPM) yang memiliki ukuran beragam salah satunya PM10 (Nukman., dkk, 2005). Environmental Protection

Agency (EPA) menyebutkan bahwa paparan PM10 dapat menimbulkan efek pada

sistem pernafasan, kerusakan jaringan paru, iritasi mata, kanker, hingga kematian dini. Smith (1996) memperkirakan kenaikan mortalitas sebesar 1,2-4,4% akibat kenaikan per 10µg/m3 PM10 atau sekitar 2,3-3 juta per tahun. Di dunia, polusi udara terkait partikulat menyebabkan kematian penyakit kardiopulmonal (3%), kanker bronkus, kanker trakea serta kanker paru (5%) dan kematian anak akibat infeksi pernapasan akut (1%). Secara keseluruhan diperkirakan 800.000 orang mengalami kematian dini dan sekitar 6,4 juta orang kehilangan harapan hidup akibat paparan debu partikulat (Nurjazuli, 2010). Beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa PM10 dapat meningkatkan risiko pekerja untuk terkena ISPA (Yusnabeti, Wulandari, & Luciana, 2010; Yamani, 2013; Basti, 2014). Orangtua, anak-anak, orang dengan penyakit paru kronis / PPOK seperti asma, emfisema dan bronkhitis kronis sangat sensitif terhadap efek PM10 (EPA, 1995).

Berdasarkan data ISPU Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KEMENLH), didapatkan bahwa hingga bulan Oktober 2016 Provinsi DKI Jakarta memiliki tingkat pencemaran udara dengan parameter PM10 paling tinggi.

pencemaran PM10 yang masuk kedalam kategori tidak sehat (149). Tingginya tingkat pencemaran debu PM10 sejalan dengan tingginya tingkat kepemilikan kendaraan bermotor di DKI Jakarta yang berjumlah hingga 81,24%, diatas rata- rata kepemilikan nasional (BPS, 2015).

Di samping cemaran debu partikulat PM10, beberapa faktor risiko lain seperti karakteristik individu turut menyumbang terjadinya ISPA. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Noer dan Martiana (2013) menyebutkan bahwa usia merupakan salah satu faktor risiko terjadinya ISPA (p=0,017). Selain itu, jenis kelamin juga termasuk dalam faktor risiko terjadinya ISPA seperti penelitian yang dilakukan oleh Nelson dan William (2007) yang menyebutkan bahwa anak

Diantara lima kotamadya di Jakarta, Jakarta Selatan merupakan wilayah dengan

dengan jenis kelamin laki-laki lebih rentan terkena ISPA mengingat kebutuhan oksigen yang lebih besar dibandingkan perempuan. Karakteristik individu lainnya yang dapat mempengaruhi terjadinya ISPA ialah masa kerja (Noer & Martiana, 2013; Yusnabeti, Wulandari, & Luciana, 2010), lama paparan terhadap polutan (Kusnoputranto, 1995; Suma'mur, 1995; Febrianto, 2015; Nurgahaeni, 2004), kebiasaan merokok (Suryo, 2010) dan penggunaan APD seperti masker (Fitriyani, 2011; Yusnabeti, Wulandari, & Luciana, 2010).

Oleh karena beberapa pertimbangan di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terkait hubungan konsentrasi PM10 dan karakteristik pekerja terhadap keluhan subjektif gangguan pernapasan akut pada petugas di area

Dalam dokumen Yolanda Mutiara Christiani FKIK converted (Halaman 31-37)