• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kontribusi Sumber Self-Efficacy Terhadap Self-Efficacy Belief Pada Mahasiswa Semester VII Institut "X" Kota Bandung.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kontribusi Sumber Self-Efficacy Terhadap Self-Efficacy Belief Pada Mahasiswa Semester VII Institut "X" Kota Bandung."

Copied!
45
0
0

Teks penuh

(1)

Universitas Kristen Maranatha

students of Bandung Institute of X. The subjects studied are all students of class VII semester of 2006 which amounted to 190 persons. The method used in this study is the method of contribution.

Researchers use the concept of self-efficacy theory of sources and theories regarding self-efficacy indicators of Bandura belief. The measurement used both sources measure self-efficacy and self-efficacy belief, prepared by the researchers themselves by doing a try-out questionnaire to the students of VII semester Bandung Institute of X as much as 40 college students, each of which comprises 46 items for self -efficacy belief and 24 items to the sources of self-efficacy. The data obtained were processed using multiple regression with SPSS 17.0.

Based on statistical data processing, the importance of the significance of self-efficacy sources amounted to 0.000 Mastery experience, vicarious experience of 0,000; verbal persuation amounted to 0.196; and physiological and affective states amounted to 0.803.

(2)

Universitas Kristen Maranatha

Institut X Kota Bandung. Subjek yang diteliti adalah seluruh mahasiswa semester VII angkatan 2006 yang berjumlah 190 orang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kontribusi.

Peneliti menggunakan konsep teori sumber self-efficacy dan teori mengenai indikator self-efficacy belief dari Bandura. Alat ukur yang digunakan baik alat ukur sumber-sumber self-efficacy maupun self-efficacy belief, disusun oleh peneliti sendiri dengan melakukan try-out kuesioner kepada mahasiswa semester VII Institut X Kota Bandung sebanyak 40 orang mahasiswa, masing-masing terdiri 46 item untuk self-efficacy belief dan 24 item untuk sumber-sumber self-efficacy. Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan multiple regression dengan program SPSS 17.0.

Berdasarkan pengolahan data secara statistik, maka didapat kontribusi dari sumber self-efficacy mastery experience sebesar 0,000; vicarious experience sebesar 0,000; verbal persuation sebesar 0,196; dan physiological and affective states sebesar 0,803.

Kesimpulan yang diperoleh adalah sumber self-efficacy yang memiliki kontribusi signifikan terhadap self-efficacy belief mahasiswa semester VII adalah mastery experience dan vicarious experience. Sedangkan 2 sumber self-efficacy lainnya tidak memiliki kontribusi yang signifikan terhadap self-efficacy belief. Peneliti mengajukan saran untuk melakukan penelitian lanjutan, dengan

(3)

Universitas Kristen Maranatha LEMBAR JUDUL

LEMBAR PENGESAHAN

ABSTRAK ………i

ABSTRACT ………..ii

KATA PENGANTAR ………..iii

DAFTAR ISI ……….vi

DAFTAR TABEL ………xi

DAFTAR BAGAN ………. xii

DAFTAR LAMPIRAN ………...xii

BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang Masalah ………1

1.2Identifikasi Masalah ………... 15

1.3Maksud dan Tujuan Penelitian ………15

1.3.1 Maksud Penelitian ……….15

(4)

Universitas Kristen Maranatha

1.5Kerangka Pemikiran ………17

1.6Asumsi ……….29

1.7Hipotesis Penelitian ……….29

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Self-efficacy ……….31

2.1.1 Definisi Self-efficacy ………..31

2.1.2 Struktur Self-efficacy ………..33

2.1.2.1 Level ………..33

2.1.2.1 Generality ………34

2.1.2.3 Strenght ………34

2.1.3 Sumber-sumber Self-efficacy ………35

2.1.3.1 Mastery Experience ………35

2.1.3.2 Vicarious Experience ……….36

2.1.3.3 Social Persuation ………38

(5)

Universitas Kristen Maranatha

2.3 Teori Kognitif Sosial (Social Cognitive Theory) ………41

2.4 Pertumbuhan Self-efficacy dalam Masa Transisi Remaja ………...42

2.5 Perkembangan Late Adolescence ………43

2.5.1 Pengertian Late Adolescence ………...43

2.5.1.1 Karakteristik Perkembangan Remaja ………45

2.5.1.2 Perkembangan Kognitif ………45

2.5.1.3 Perkembangan Sosial, Emosional, dan Kepribadian ……….48

2.6 Tentang Institut “X” ………48

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Rancangan dan Prosedur Penelitian ………53

3.2 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ……….54

3.2.1 Variabel Penelitian ………...54

3.2.2 Definisi Operasional ……….54

(6)

Universitas Kristen Maranatha

3.3.1.3 Sistem Penilaian ………58

3.3.2 Alat Ukur Self-efficacy Belief ………...59

3.3.2.2 Prosedur Pengisian Kuesioner ………...62

3.3.2.3 Sistem Penilaian ………63

3.3 Kuesioner Data Penunjang ………..63

3.3.4 Pengujian Alat Ukur ………...64

3.3.4.1 Uji Validitas Alat Ukur ……….64

3.3.4.2 Uji Reliabilitas Alat Ukur ……….66

3.4 Populasi Sasaran dan Teknik Sampling ………..67

3.4.1 Populasi Sasaran ………...67

3.4.2 Karakteristik Populasi ………..68

3.4.3 Teknik Pengambilan Sampel ………68

3.5 Teknik Analisis Data ………...68

3.6 Hipotesis Statistik ………69

(7)

Universitas Kristen Maranatha

4.1.2 Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) ………..72

4.1.3 Usia ………..72

4.2 Hasil Penelitian ………...73

4.3 Pembahasan ……….76

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ……….86

5.2 Saran ………87

5.2.1 Saran Bagi Penelitian Lanjutan ………87

5.2.2 Saran Guna Laksana ……….87

DAFTAR PUSTAKA ………...…89

DAFTAR RUJUKAN ………..91

(8)

Universitas Kristen Maranatha

3.3.1.1 Gambaran Alat Ukur Sumber-Sumber Self-efficacy………..57

3.3.2.1 Sistem Penilaian Alat Ukur Sumber-Sumber Self Efficacy ………...57

3.3 3.2 Gambaran Alat Ukur Self-efficacy Belief ………..59

3.4 Sistem Penilaian Alat Ukur Self Efficacy Belief ……….63

4.1 Gambaran Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ……….71

4.2 Gambaran Responden Berdasarkan IPK ……….72

4.3 Gambaran Responden Berdasarkan Usia ………72

4.4 Gambaran Hasil Uji Hipotesis ………74

4.5 Self-Efficacy Belief Mahasiswa dan Mahasiswi Semester VII ………74

(9)

Universitas Kristen Maranatha Bagan 1.1 Bagan Kerangka Pemikiran ……….28

(10)

Universitas Kristen Maranatha Kuesioner Sumber-Sumber Self-efficacy dan Self-efficacy Belief ………...L1

Reliabilitas Alat Ukur ………...L2

Multiple Regression ………..L3

Validitas Reliabilitas Kuesioner Try-Out Sumber-Sumber efficacy dan

Self-efficacy Belief ………...L4

Kategori Rentang Skala ………L5

(11)

Universitas Kristen Maranatha BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Untuk mendapatkan sebuah kehidupan yang baik dan layak, setiap orang tentu saja akan berusaha sebaik mungkin, mereka berkeinginan untuk mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Dengan adanya kebutuhan-kebutuhan tersebut, maka setiap orang akan berusaha dengan berbagai cara untuk bersaing mencapai taraf kehidupan yang lebih baik lagi atau bahkan melebihi taraf kehidupan rata-rata orang-orang kebanyakan.

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk meraih kehidupan yang baik dan layak tersebut. Salah satu diantaranya adalah dengan mengenyam pendidikan setinggi-tingginya dan sebaik mungkin. Individu saat ini berlomba-lomba untuk dapat duduk di bangku perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Di perguruan tinggi ditawarkan banyak sekali jurusan-jurusan yang dapat dipilih oleh setiap calon mahasiswanya sesuai dengan minat mereka. Setiap jurusan tentu saja memiliki prospek kerjanya masing-masing sesuai dengan bidangnya. Dengan mencapai gelar setinggi mungkin, diharapkan individu lebih memiliki kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan dapat meningkatkan kualitas hidupnya.

(12)

Universitas Kristen Maranatha

(Kompas, 07 September 2009). Institut ”X” dapat dikatakan merupakan salah satu

Institut yang sedang berkembang dan memiliki kualitas pendidikan yang baik dan mampu bersaing dengan Institut favorit lainnya. Institut ”X” telah dikenal sebagai lembaga pendidikan tinggi yang memiliki komitmen kuat untuk memberikan pendidikan berkualitas bagi mahasiswanya. Hal ini dibuktikan dengan sudah

banyak lulusan Institut ”X”, baik lulusan program S1 maupun lulusan program

MM, yang saat ini sudah menduduki posisi penting di berbagai perusahaan terkemuka dan telah memiliki akreditasi A (www.Institut Manajemen ”X”.com).

Lahir dan berada di lingkungan komunitas industri dan bisnis telekomunikasi, Institut ”X” faham dengan kompetensi sumber daya manusia yang dibutuhkan oleh dunia industri & bisnis saat ini, yaitu sumber daya manusia yang memiliki keahlian dalam bidang Information and Communication

Technology (ICT). Kondisi inilah yang mendasari penyusunan kurikulum seluruh

program studi yang ada di Institut ”X” menjadi berbasis ICT (www. Institut

”X”.com). Sistem kurikulum berbasis ICT ini memiliki perbedaan dibandingkan

dengan sistem pembelajaran pada Institut atau Universitas-universitas yang lain. Dengan adanya kurikulum ICT ini maka terdapat penambahan-penambahan mata

kuliah yang diberikan kepada mahasiswa dan mahasiswi Institut ”X” yang

bertujuan untuk memberikan nilai plus bagi para lulusannya nanti. Penambahan tersebut adalah di bagian Bisnis Telekomunikasi seperti Pengantar Sistem Telekomunikasi, Pemasaran Jasa Telekomunikasi (high-tech), Costing, Tariffing

& Pricing Bisnis Telekomunikasi, Interkoneksi, Manajemen Logistik dan

(13)

Universitas Kristen Maranatha Teknologi dan Jasa Telekomunikasi, Manajemen Penyelenggaraan Jaringan. Sedangkan penambahan mata kuliah di bagian Bisnis Informatika adalah Pengantar Informatika dan Internet, Pengantar Pemprograman Bisnis Data, dan Sistem Informasi Manajamen. Mata kuliah-mata kuliah tersebutlah yang dianggap

menjadi keunggulan dari Institut ”X”.

Sejak awal, selain menerapkan kurikulum berbasis ICT, Institut ”X” juga menerapkan pola link & match, yang diwujudkan dalam sistem belajar intensif yaitu tatap muka, responsi, praktikum dan program kemitraan. Pola Link & match

yang dimaksudkan ialah adanya kerjasama antara kampus Institut ”X” dengan

perusahaan-perusahaan yang membutuhkan lulusan manajemen Bisnis Telekomunikasi dan Informatika. Sedangkan program kemitraan itu sendiri merupakan suatu program dimana tujuannya ialah mengenalkan para mahasiswa

dan mahasiswi Institut ”X” kepada dunia kerja yang sebenarnya. Program

kemitraan ini diberikan hanya kepada mahasiswa dan mahasiswi yang minimal

telah menempuh 90% mata kuliah wajib yang diberikan oleh Institut ”X”. Selain

itu, terdapat program mutu institusi. Program tersebut merupakan program yang dibuat untuk menjaga dan meningkatkan kualitas mata kuliah-mata kuliah yang

menjadi nilai plus bagi para lulusan Institut ”X”, yaitu mata kuliah Bisnis

Telekomunikasi dan Bisnis Informatika. Metoda pembelajaran dengan sistem berbasis ICT, dibekali entrepreneurial skill dan ditambah transculture

communication skill (kemampuan berbahasa asing), menjadikan lulusan Institut

”X” ini memiliki nilai lebih apabila dibandingkan dengan lulusan lainnya dengan

(14)

Universitas Kristen Maranatha dilakukan sejak awal pendirian serta transformasi dari sekolah tinggi menjadi

institut, merupakan wujud nyata dari upaya Institut ”X” untuk menuju Institut

yang berkualitas. Selain itu, mahasiswa Institut ”X” juga dibekali dengan sertifikat dari lembaga-lembaga sertifikasi terkemuka untuk menunjang profesi yang bersangkutan apabila mereka sudah masuk di dunia kerja, antara lain :

Microsoft, Oracle, CISCO Network, SAP, dan Lembaga sertifikasi profesi

telematika.

Sebagai salah satu Institut Manajemen yang berbasis ICT, mahasiswa dan mahasiswi dihadapkan pada berbagai macam tuntutan dan hambatan yang tidak mudah untuk dilalui. Berbagai macam tuntutan dan hambatan yang dihadapkan kepada mahasiswa dan mahasiswi Institut “X“ tersebut antara lain adalah mahasiswa dan mahasiswi dituntut untuk dapat mengikuti dan berhasil melewati mata kuliah entreupreneurship (kewirausahaan) dengan baik, harus mendapatkan nilai TOEFL minimal 400 sebelum mereka mengikuti sidang skripsi di akhir perkuliahan, setiap mahasiswa dan mahasiswi yang ingin terseleksi dalam program Co-op yang merupakan program kemitraan yang dapat mempermudah

link pekerjaan setelah mereka lulus maka mereka diwajibkan mendapatkan IPK

(15)

Universitas Kristen Maranatha Selain tuntutan dalam segi akademik seperti yang telah diuraikan, tuntutan

dalam segi finansial pun dirasakan mahasiswa dan mahasiswi Institut ”X” sebagai

hal lain yang kadang-kadang menjadi beban bagi mereka. Biaya perkuliahan yang cukup mahal diikuti dengan sistem paket pembayaran studi yang tidak dapat diulang secara per mata kuliah, juga tidak adanya penawaran program semester pendek (SP) seperti yang dilakukan di perguruan-perguruan tinggi lainnya. Kendala tersebut merupakan beban yang cukup berpengaruh karena berdampak kepada keyakinan diri mereka dalam menyelesaikan seluruh tuntutan yang ada baik tuntutan berupa tuntutan akademik maupun finansial dan menyelesaikan kegiatan perkuliahan setiap semesternya terutama semester VII dengan tepat waktu.

Dari keseluruhan tuntutan dan hambatan yang ada di setiap semester

sistem pembelajaran Institut “X” ini, semester VII menjadi semester yang paling

dianggap sulit (berdasarkan hasil wawancara terhadap mahasiswa dan mahasiswi

Institut ”X” kota Bandung) bagi para mahasiswa dan mahasiswi Institut “X”. Hal

(16)

Universitas Kristen Maranatha

Banyak diantara mahasiswa dan mahasiswi semester VII Institut ”X”

mengeluhkan banyaknya tuntutan dan hambatan yang dihadapkan pada mereka ketika proses perkuliahan sedang berlangsung seringkali membuat semangat dan keyakinan yang ada pada diri untuk dapat lulus tepat waktu sesuai dengan target mereka menjadi menurun. Tuntutan-tuntutan yang seringkali dihadapi dan membuat mereka merasa tidak yakin untuk dapat berhasil melewatinya antara lain : keharusan untuk dapat membagi waktu pikiran dan tenaga antara tugas perkuliahan dengan kegiatan entrepreneurship yang juga cukup banyak menyita waktu di luar waktu kuliah wajib, biaya perkuliahan dengan sistem paket yang terbilang cukup memberatkan menurut mereka, terdapat lebih banyak praktikum atau kegiatan lapangan daripada di semester-semester sebelumnya yang membuat mereka harus mulai beradaptasi dengan kegiatan-kegiatan tersebut, adanya target-target yang harus mereka capai untuk dapat mengikuti program Co-op dimana mereka harus memiliki IPK minimal 3,00. Mereka mengeluhkan kondisi semangat mereka yang jauh relatif menurun di semester VII ini diikuti keyakinan dalam diri mereka yang juga menurun.

Selain tuntutan yang begitu banyak yang dihadapkan pada para mahasiswa dan mahasiswi semester VII ini, mereka pun mengeluhkan adanya hambatan dari dalam diri mereka (berdasarkan hasil wawancara terhadap mahasiswa dan

mahasiswi Institut ”X”). Hambatan-hambatan itu antara lain sulitnya mencari

(17)

Universitas Kristen Maranatha perhatian peneliti untuk mengetahui bagaimana keyakinan para mahasiswa akan kemampuan dalam menjalani dan menghadapi keadaan tersebut; yang disebut sebagai self-efficacy. Mahasiswa yang memiliki kemauan untuk memenuhi tuntutan akademik mereka, tentu akan selalu berusaha seoptimal mungkin serta harus memiliki keyakinan akan kemampuannya guna mencapai tujuannya hingga berhasil (dalam Jurnal, Hubungan antara Self-efficacy dengan penyesuaian

akademik dan prestasi akademik, Volume 14 Nomer 2, September 2004). Hal ini

didukung oleh Pajares (2002). Dalam penjelasannya bahwa, ”Self-efficacy also help to determine how much effort people will expend on an activity, how long

they will perserve when confronting obstacles, and how resilient they will be in

the face of adversive situations”.

Self-efficacy tidak terbentuk dengan sendirinya, melainkan berdasarkan

pemaknaan dan penghayatan mahasiswa akan sumber-sumber informasi pembentuk self-efficacy.

Self-efficacy adalah penilaian diri seseorang akan kemampuan dirinya

(18)

Universitas Kristen Maranatha dan juga daya tahan atau keuletan mahasiswa. Kurangnya usaha dan kegigihan yang dimiliki dapat menyebabkan kegagalan mahasiswa untuk melakukan tuntutan akademik.

Hasil penelitian akhir-akhir ini menunjukkan self-efficacy memegang peranan penting yang signifikan dalam memprediksi dan menjelaskan academic

performance dalam berbagai area (Lent, Brown, Larkin; Marsh, Walker, Debus;

Schunk; Schunk; Zimmerman, Bandura, Martinez-Pons dalam www.positivepractices.com/Efficacy/selfEfficacy.html).

Mahasiswa yang yakin bahwa dirinya mampu menguasai materi akademik dan bisa mengatur cara belajar sendiri akan lebih banyak mencoba atau meraih tujuannya dan akan lebih sukses daripada mahasiswa yang tidak memiliki keyakinan tersebut. Self-efficacy membantu mahasiswa untuk memenuhi tuntutan dan persyaratan akademis dengan keyakinan akan kapabilitas yang dimiliki untuk mencapai penyesuaian akademik serta prestasi akademik dengan baik (Pajares, 2002).

Mahasiswa yang berusaha untuk mencapai kriteria akademiknya akan berusaha mencari cara-cara efektif dan efisien agar dapat memenuhinya. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Pintrich & Gracia (1991) yang menyatakan bahwa mahasiswa yang memiliki self-efficacy yang tinggi akan menggunakan strategi kognitif dan metakognitif yang lebih baik. Cara-cara efektif dan efisien menunjukkan adanya kemampuan untuk mengatur kemampuan dan waktu yang dimiliki (dalam Jurnal, Hubungan antara Self-efficacy dengan penyesuaian

(19)

Universitas Kristen Maranatha Menurut Bandura (2002), individu yang memiliki self-efficacy belief yang rendah mempunyai keraguan akan kemampuan dirinya dalam hal menyelesaikan tuntutan akademik yang sedang dihadapinya. Mereka menghindari tugas-tugas sulit yang dipandang sebagai ancaman terhadap diri mereka, memiliki aspirasi yang rendah dan komitmen yang lemah terhadap tujuan-tujuan yang telah mereka tetapkan. Ketika berhadapan dengan tugas-tugas yang sulit mereka terpaku pada kelemahan-kelemahan dan hambatan yang akan dihadapi dan kemungkinan hasil yang tidak menyenangkan daripada berkonsentrasi bagaimana berusaha untuk mencapai sukses. Mereka menurunkan usahanya dan cepat menyerah dalam menghadapi kesulitan. Mereka lama bangkit dari kegagalan karena melihat performa yang kurang sebagai kemampuan yang tidak mencukupi, hanya dengan sedikit kegagalan saja mereka bisa kehilangan keyakinan mengenai kemampuan dirinya serta mudah terkena stress dan depresi.

(20)

Universitas Kristen Maranatha kegagalan sebagai usaha yang tidak memadai atau kurangnya pengetahuan dan keterampilan yang sebetulnya dapat diperoleh. Mereka mendekati situasi-situasi mengancam dengan penuh keyakinan itu menghasilkan prestasi pribadi, mengurangi stress dan menurunkan kerentanan terhadap depresi.

Self-efficacy belief dapat tumbuh dan berkembang dalam diri seorang

individu dikarenakan oleh sumber-sumber yang membentuknya. Sumber-sumber pembentuk self-efficacy belief itu sendiri terdapat empat macam, yaitu : mastery

experience, vicarious experience, social/verbal persuation, dan juga physiological

and affective states. Menurut Bandura, peran dari self-efficacy belief dan

kaitannya dengan bagaimana manusia berfungsi dikatakan bahwa tingkat motivasi, keadaan afektif, dan tindakan seseorang lebih berdasarkan pada apa yang dia percaya daripada apa yang secara objektif benar (Bandura, 1997).

Telah banyak penelitian yang dilakukan untuk mengetahui hubungan antara self-efficacy belief dengan prestasi siswa, namun masih sedikit yang mendalami bagaimana peranan sumber-sumber self-efficacy belief yang dirumuskan oleh Bandura terhadap self-efficacy belief itu sendiri. Penelitian yang telah dilakukan oleh Schunk secara khusus menyoroti bagaimana sumber

self-efficacy dan pengaruhnya pada mahasiswa. Dari penelitiannya didapat hasil

bahwa student self-efficacy belief seringkali berasal atau datang dari vicarious

experience (Schunk, 1991), yang merupakan salah satu dari sumber self-efficacy

belief. Dengan itu peneliti ingin mengetahui kontribusi sumber-sumber informasi

(21)

Universitas Kristen Maranatha menghadapi tantangan dan tuntutan di dunia pendidikan, karena self-efficacy menentukan bagaimana cara mahasiswa dalam menghadapi tantangan akademis.

Berdasarkan hasil wawancara awal peneliti kepada 30 orang mahasiswa di Institut “X” Kota Bandung yang berada di semester VII, didapatkan hasil sebagai berikut :

Dari 30 orang mahasiswa yang diwawancarai mengenai kontribusi sumber

self-efficacy belief yang pertama, yaitu mastery experience, pada pengalaman

(22)

Universitas Kristen Maranatha Pada sumber self-efficacy belief yang kedua, vicarious experience, kontribusi pengalaman kegagalan dan keberhasilan teman dekat dan senior, bagi 2 orang (7%) mahasiswa membuat mereka menjadi lebih yakin diri ketika mengetahui senior atau teman dekat yang mereka kagumi dan memiliki kemiripan karakteristik dengan diri mereka dalam hal Indeks Prestasi Kumulatif yang tidak jauh berbeda dan juga pola belajar yang hampir serupa berhasil menyelesaikan dan melewati semester VII mereka dengan baik dan tepat waktu. Bagi 3 orang (10%) mahasiswa membuat kurang yakin diri untuk dapat menyelesaikan dan melewati semester VII dengan baik dan tepat waktu walaupun senior dan teman dekat yang mereka anggap memiliki banyak kesamaan karakteristik dengan mereka telah lebih dahulu berhasil menyelesaikan dan melewati semester VII dengan baik karena mereka menghayati kesamaan karakteristik pada senior dan teman dekat mereka itu sebagai faktor luar saja. Bagi 25 orang (83%) mahasiswa mereka merasa keberhasilan dan kegagalan senior dan teman dekat tersebut tidak berkontribusi kepada keyakinan diri mereka untuk dapat menyelesaikan dan melewati semester VII ini dengan baik dan tepat waktu.

Sedangkan sumber self-efficacy belief yang ketiga, social/verbal

persuation, kontribusi umpan balik positif, meningkatkan keyakinan diri dari 25

(23)

Universitas Kristen Maranatha umpan balik negatif, bagi 20 orang (67%) mahasiswa membuat menjadi lebih yakin diri karena umpan balik tersebut membuat mereka merasa lebih terdorong untuk menampilkan hasil yang lebih baik. Bagi 5 orang (17%) mahasiswa mengatakan bahwa mereka merasa kurang yakin dapat menyelesaikan dan melewati semester VII dengan baik karena umpan balik negatif tersebut seringkali teringat oleh mereka pada saat menghadapi kegiatan perkuliahan, 5 orang (17%) mahasiswa lainnya mengatakan bahwa umpan balik negatif mereka rasakan tidak berkontribusi pada keyakinan diri yang mereka miliki untuk dapat menyelesaikan dan melewati semester VII dengan baik dan tepat waktu.

Pada sumber self-efficacy belief yang keempat, physiological and affective

states, berkontribusi pada 28 dari 30 orang (93%) mahasiswa akan kemampuan

dalam menjalani seluruh tahap-tahap kegiatan perkuliahan di semester VII ini dengan baik dan tepat waktu setelah mereka menghayatinya. Sedangkan 2 orang (7%) mahasiswa lainnya mengatakan bahwa keadaan fisik dan psikis mereka tidak terlalu berpengaruh terhadap kegiatan perkuliahan yang sedang mereka jalani.

Berdasarkan hasil survei terhadap sumber-sumber self-efficacy belief diatas dapat terlihat bahwa setiap mahasiswa dan mahasiswi memiliki penghayatan yang berbeda-beda mengenai sumber-sumber self-efficacy belief terhadap diri mereka. Keempat sumber self-efficacy belief ini tentu saja menjadi faktor penting yang sangat mempengaruhi bagaimana para mahasiswa dan

mahasiswi Institut “X” Kota Bandung ini dapat mengembangkan self-efficacy

belief yang ada pada diri mereka masing-masing dan bagaimana pada akhirnya

(24)

Universitas Kristen Maranatha dan hambatan yang mereka hadapi selama proses untuk melewati dan menyelesaikan kegiatan perkuliahan di semester VII dengan tepat waktu. Kesulitan yang tinggi dan tekanan yang besar membuat seorang mahasiswa atau mahasiswi harus memiliki beberapa sumber self-efficacy belief yang kuat di dalam dirinya. Hal ini membuat self-efficacy belief menjadi penting untuk

dimiliki oleh mahasiswa dan mahasiswi semester VII Institut “X” Kota Bandung

agar dapat bertahan hingga dapat melewati seluruh rangkaian kegiatan perkuliahan di semester VII dengan tepat waktu.

Berdasarkan gejala dan fakta pada uraian di atas yang didapatkan dari survei awal, maka peneliti ingin melakukan penelitian yang lebih memfokuskan pada seberapa besar kontribusi dari masing-masing sumber-sumber self-efficacy

belief terhadap self-efficacy belief mahasiswa dan mahasiswi semester VII Institut

“X” kota Bandung dalam upaya mereka melewati tuntutan dan hambatan yang ada

(25)

Universitas Kristen Maranatha 1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan pada latar belakang masalah, maka identifikasi masalah yang dapat dirumuskan pada penelitian ini adalah mengenai seberapa besar kontribusi masing-masing sumber self-efficacy belief terhadap self-efficacy belief pada mahasiswa dan mahasiswi semester VII di Institut “X” Kota Bandung.

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian

1.3.1 Maksud

Maksud penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran yang bersifat empirik mengenai sumber self-efficacy belief terhadap self-efficacy belief pada mahasiswa dan mahasiswi semester VII di Institut “X” Kota Bandung.

1.3.2 Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar kontribusi masing-masing sumber self-efficacy belief terhadap self-efficacy belief mahasiswa dan mahasiswi semester VII di Institut “X” Kota Bandung.

1.4 Kegunaan Penelitian

1.4.1 Kegunaan Ilmiah

 Sebagai masukan bagi ilmu Psikologi, khususnya Psikologi Pendidikan

mengenai kontribusi masing-masing sumber self-efficacy belief terhadap

(26)

Universitas Kristen Maranatha  Memberikan masukan bagi peneliti lain yang berminat melakukan

penelitian lanjutan mengenai sumber-sumber self-efficacy belief.

1.4.2 Kegunaan Praktis

 Sebagai masukan bagi mahasiswa dan mahasiswi yang sedang menempuh

semester VII di Institut “X” Kota Bandung untuk lebih dapat mengetahui

sumber self-efficacy belief manakah yang berperan dominan pada diri mereka dan dapat mereka tingkatkan.

 Memberikan informasi kepada mahasiswa dan mahasiswi semester VII

bersangkutan mengenai sumber-sumber self-efficacy dan self-efficacy; sehingga mereka dapat mempertahankan atau meningkatkan self-efficacy

belief mereka dalam kehidupan akademis.

 Sebagai masukan bagi dekan dan staff pengajar Institut “X” Kota Bandung

(27)

Universitas Kristen Maranatha 1.5 Kerangka Pemikiran

Seorang individu terlebih dahulu menempuh pendidikan formal di sekolah, mulai dari jenjang TK, SD, SMP, SMU, dan pada akhirnya mencapai Perguruan Tinggi. Menurut tahap perkembangan yang diuraikan oleh Santrock 2007, mahasiswa dan mahasiswi semester VII dengan kategori usia 21-22 tahun termasuk ke dalam kategori tahap perkembangan late adolescence (remaja akhir). Masa remaja adalah masa pencarian identitas diri, masa yang penuh harapan dan tuntutan sosial untuk segera mencapai kemandirian dalam berbagai aspek kehidupan. Tugas perkembangan dan harapan sosial terhadap orang di masa remaja banyak sekali berkaitan dengan masalah kemandirian (Hurlock, 1990). Remaja dituntut untuk mandiri dalam segala aspek kehidupan. Tentu saja ini bukan sesuatu yang mudah, mengingat sebelumnya mereka banyak tergantung pada orang tua atau orang dewasa lain di sekitarnya.

Pada kenyataannya, pemenuhan harapan sosial tersebut seringkali tidak berjalan mulus sesuai dengan rencana. Rintangan dan kesulitan dalam berbagai bentuk akan muncul tanpa diketahui dengan pasti kapan datangnya. Tuntutan ini mendorong remaja untuk terus berupaya keras memenuhinya supaya penerimaan sosial diperoleh, kendati banyak kesulitan yang muncul pada masa yang ini.

(28)

Universitas Kristen Maranatha mahasiswa kalau dia tidak ingin dikatakan sebagai orang yang menyimpang dan ingin mendapatkan penerimaan dari masyarakat.

Transisi yang dialami siswa pada setiap jenjang pendidikan dapat menimbulkan stress bagi siswa, karena pada masa transisi ini berlangsung banyak perubahan pada remaja, yaitu perubahan fisik, kognitif, dan sosial; serta terjadi perubahan di dalam keluarga dan sekolah secara serentak (Eccles & Midgley dalam Santrock, 2002).

Dalam pandangan Piaget, mahasiswa dan mahasiswi membangun dunia kognitifnya sendiri; informasi tidak hanya tercurah ke dalam benak mereka dari lingkungan. Untuk memahami dunianya, mahasiswa dan mahasiswi mengorganisasikan pengalaman mereka. Data yang ada menunjukkan bahwa mahasiswa membangun pandangan mengenai dunianya berdasarkan pada pengamatan dan pengalaman dan para pendidik seharusnya mempertimbangkan hal ini saat mengembangkan kurikulum untuk mereka (Burbules & Linn, 1998; Danner, 1989; Lin, 1987, 1991). Pemikiran mereka menjadi semakin abstrak, logis, dan idealistis; lebih mampu menguji pemikiran diri sendiri, pemikiran orang lain, dan apa yang orang lain pikirkan tentang diri mereka; serta cenderung menginterpretasikan dan memantau dunia sosial. Fungsi kognitif diatas disebut oleh Piaget sebagai tahap formal operational yang merupakan tahap keempat dalam perkembangan kognitif. Hypothetical-deductive reasoning merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan pemikiran remaja yang lebih logis.

(29)

Universitas Kristen Maranatha prestasi bagi mahasiswa merupakan suatu bagian dari tuntutan dan harapan sosial yang berkembang di lingkungan sosial mereka. Prestasi yang perlu dicapai oleh

mahasiswa dan mahasiswi semester VII Institut “X” adalah menjalani kegiatan

mata kuliah enterpreneurship dengan baik agar dapat lulus mata kuliah tersebut dengan sekali mengontrak, memperoleh IPK ≥ 3,00 agar dapat mengikuti kegiatan Co-op yang mana kegiatan Co-op ini merupakan salah satu dari tujuan utama

mayoritas mahasiswa dan mahasiswa Institut “X” , mendapatkan hasil tes TOEFL

≥ 400, dan lain sebagainya.

Selain itu, proses menjalani seluruh tugas dan kegiatan-kegiatana kuliah di semester VII adalah suatu tuntutan yang harus dihadapi oleh mahasiswa dan mahasiswi, antara lain: perasaan malas, ketidakpercayaan diri, kesulitan dalam memahami materi, situasi kampus yang dirasakan tidak kondusif, rekan mahasiswa yang kadangkala kurang mendukung, kurangnya fasilitas dan sarana yang tersedia, dosen yang dirasakan oleh mahasiswa kurang kompeten, perubahan kurikulum, tuntutan belajar yang tinggi, serta persaingan yang sangat ketat. Kesemua hal-hal tersebut diatas menjadi suatu tantangan bagi mahasiswa dan

mahasiswi semester VII Institut “X”. Agar dapat menghadapi tantangan dan

tuntutan tersebut dengan mantap, yang dibutuhkan bukanlah sekedar kemampuan intelektual dan kesiapan teknis melainkan juga keyakinan dalam dirinya.

(30)

Universitas Kristen Maranatha salah satunya adalah keyakinan diri. Keyakinan diri dalam diri siswa, oleh Bandura (2002) disebut dengan istilah self-efficacy belief. .

Self-efficacy belief adalah keyakinan tentang kemampuan individu dalam

mengatur dan menggunakan sumber-sumber dari tindakan yang dibutuhkan untuk mengatur situasi-situasi yang berorientasi ke masa depan. Self-efficacy belief merupakan salah satu bentuk dari belief karenanya pengembangan terhadap self

efficacy mahasiswa dan mahasiswi juga dipengaruhi oleh belief-nya yang

merupakan suatu keyakinan dari mahasiswa dan mahasiswi yang ditampilkan pada apa yang dilakukannya. Self-efficacy belief menentukan saat seseorang merasa, berpikir, memotivasi diri dan bertingkah laku (Bandura, 2002). Keyakinan diri merupakan hal yang luas atau beragam dan bersifat lebih kondisional dan kontekstual (Bandura, 1997), artinya tergantung pada konteks yang dihadapi. Umumnya self-efficacy akan memprediksi dengan baik suatu tampilan yang berkaitan erat dengan keyakinan tersebut (dalam Jurnal,

“Hubungan antara Self-efficacy dengan penyesuaian akademik dan Prestasi

akademik. Volume 14, Nomer 2, September 2004).

Keyakinan mahasiswa dan mahasiswi semester VII Institut “X” secara

kognitif dapat dikembangkan melalui empat pengaruh sumber utama, yaitu

mastery experience, vicarious experience, social/verbal persuasion, dan

physiological and affective states (Bandura, 2002). Mahasiswa menerima

(31)

Universitas Kristen Maranatha Sumber self-efficacy belief yang pertama adalah mastery experience, berasal dari pengalaman keberhasilan dan kegagalan mahasiswa dan mahasiswi semester VII dalam menjalani perkuliahan di semester-semester sebelumnya. Pengalaman keberhasilan ataupun kegagalan yang dialami mahasiswa dimaknai sebagai tolak ukur akan kemampuannya yang kelak akan membentuk keyakinan diri mahasiswa. Sumber self-efficacy belief mastery experience (pengalaman keberhasilan) ini merupakan sumber yang sangat berpengaruh dalam self-efficacy karena memberikan bukti apakah seorang mahasiswa dapat mengerahkan segala kemampuannya untuk mencapai keberhasilan akademis. Keberhasilan dalam melewati semester sebelumnya akan semakin memperkuat penghayatan terhadap

self-efficacy belief yang mereka miliki. Sedangkan kegagalan dapat menurunkan

self-efficacy belief mereka. Mahasiswa dan mahasiswi semester VII Institut “X”

(32)

Universitas Kristen Maranatha Sumber self-efficacy belief yang kedua adalah vicarious experience, yang berkembang dengan cara mengamati dan melakukan perbandingan dengan keberhasilan dan kegagalan orang lain (yang memiliki karakteristik yang serupa dengan dirinya). Pemaknaan terhadap hasil pengamatan dan perbandingan terhadap orangtua, teman, keluarga atau orang lain yang dianggap signifikan hasilnya akan berbeda-beda. Jika diantara model dan mahasiswa atau mahasiswi

semester VII Institut “X” sebagai peniru terdapat banyak kesamaan atau beberapa

kesamaan, maka mahasiswi dan mahasiswi semester VII Institut “X” tersebut akan meniru apa yang akan dilakukan oleh model. Jika model melakukan suatu kegiatan dan ternyata berhasil, maka mahasiswa dan mahasiswi yang bersangkutan akan memiliki self-efficacy belief yang tinggi terhadap kegiatan yang sama. Demikian sebaliknya, jika model melakukan suatu kegiatan dan ternyata gagal, maka mahasiswa dan mahasiswi yang bersangkutan akan memiliki

self-efficacy belief yang rendah terhadap kegiatan tersebut. Seorang mahasiswa

atau mahasiswi semester VII Institut “X” yang melihat senior atau teman dekat yang memiliki kesamaan cara belajar dengan diri mereka ternyata memiliki Indeks

Prestasi Kumulatif (IPK) yang tidak jauh berbeda mereka berhasil dengan nilai

memuaskan melalui rangkaian kegiatan perkuliahan di semester VII dan dapat selesai tepat waktu, maka akan menimbulkan keyakinan pada diri mahasiswa dan

mahasiswi semester VII Institut ”X” dapat melakukan hal yang sama dengan

senior atau teman dekat yang dianggap sebagai model tersebut. Oleh karena itu,

(33)

Universitas Kristen Maranatha sedikitnya kesamaan karakteristik mahasiswa atau mahasiswi dengan model yang diamati.

Sumber self-efficacy belief yang ketiga adalah social/verbal persuasion, berasal dari perkataan atau tindakan yang diberikan oleh lingkungan antara lain orangtua, dosen, teman, senior, atau orang yang signifikan lainnya kepada mahasiswa dan mahasiswi semester VII Institut ”X” yang menyatakan mampu atau tidaknya individu melakukan kegiatan-kegiatan perkuliahan yang sedang dijalani. Ungkapan verbal dari orangtua, dosen, teman, senior, atau orang yang dianggap signifikan mengenai kemampuan mahasiswa atau mahasiswi menghadapi tantangan tertentu diolah secara kognitif untuk pembentukan

self-efficacy belief. Pemaknaan terhadap ungkapan-ungkapan yang diterima oleh

mahasiswa atau mahasiswi tentu saja akan berbeda-beda, tergantung dari bentuk ungkapan yang diberikan positif atau negatif.

(34)

Universitas Kristen Maranatha mahasiswa dan mahasiswi menghindari kegiatan-kegiatan yang menantang dan akan mudah menyerah bila menghadapi hambatan atau kesulitan.

Seorang mahasiswa atau mahasiswi semester VII Institut “X” yang dipersuasi melalui cara pemberian pujian bahwa dirinya memiliki kemampuan yang memadai untuk melewati kegiatan perkuliahan di semester VII dengan baik, maka ia akan memiliki keyakinan yang lebih kuat terhadap kemampuannya dan akan mengoptimalkan usahanya. Sebaliknya, jika mereka dipersuasi tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk melewati kegiatan perkuliahan dengan baik, maka ia akan cenderung mudah menyerah dan meragukan kemampuannya.

Sumber self-efficacy belief yang keempat adalah physiological and

affective states, berasal dari pandangan mahasiswa dan mahasiswi semester VII

Institut ”X” mengenai keadaan fisik dan psikisnya. Physiological and affective

states merupakan bentuk reaksi fisiologis dan emosional seperti kecemasan,

stress, kelelahan, ketenangan, kekecewaan, kemarahan dan kesedihan yang dirasakan mahasiswa atau mahasiswi semester VII sewaktu menghadapi tugas akademis. Mahasiswa seringkali menginterpretasikan ketergugahan fisiknya sebagai indikator dari kompetensi diri. Seringkali mahasiswa dan mahasiswi memandang keadaan secara fisik atau psikis yang mereka alami dapat menghambat kegiatan yang mereka lakukan. Hal ini mengakibatkan mahasiswa dan mahasiswi seringkali menghindari kegiatan-kegiatan yang membutuhkan ketahanan secara fisik atau psikis. Ini akan menyebabkan menurunnya

self-efficacy belief mahasiswa dan mahasiswi tersebut. Dengan mengubah pandangan

(35)

Universitas Kristen Maranatha memahami keadaan fisik dan psikis sehingga mereka dapat menyesuaikannya dengan kegiatan yang akan mereka lakukan. Hal ini akan membuat mahasiswa dan mahasiswi memiliki kemungkinan untuk berhasil dalam suatu kegiatan dan akan memperkuat self-efficacy belief mereka. Selain itu, reaksi emosional yang kuat terhadap tugas-tugas pembelajaran seringkali menjadi petunjuk bagi kesuksesan atau kegagalan mahasiswa atau mahasiswi. Secara umum, meningkatkan kesejahteraan fisik dan emosional seseorang dan mengurangi keadaan emosional yang negatif dapat menguatkan self-efficacy belief (Usher & Pajares, 2005).

Ketika kondisi fisik mahasiswa dan mahasiswi sedang dalam keadaan tidak fit misalnya, akan tetapi mereka mengubah pandangan negatif terhadap kondisi fisik yang sedang mereka alami tersebut, maka mereka akan memiliki keyakinan dan mampu untuk menyelesaikan setiap kegiatan perkuliahan yang sedang mereka hadapi dengan baik dan kemungkinan akan mengalami keberhasilan.

(36)

Universitas Kristen Maranatha sumber-sumber self-efficacy belief tersebut kemudian mempengaruhi penghayatan mahasiswa dan mahasiswi terhadap self-efficacy belief yang ada di dalam diri mereka. Jadi, self-efficacy belief tidak terbentuk dengan sendirinya berdasarkan keempat sumber yang tersedia, namun harus diolah secara kognitif terlebih dahulu oleh mahasiswa dan mahasiswi hingga pengolahan diri dari empat sumber

self-efficacy belief disimpan dan dapat diterapkan pada situasi serupa di masa yang

akan datang.

Kontribusi keempat sumber self-efficacy belief tersebut akan mempengaruhi tinggi rendahnya self-efficacy belief pada mahasiswa dan mahasiswi semester VII Institut “X” kota Bandung yang ingin menyelesaikan perkuliahan semester VII mereka dengan tepat waktu, terlihat pada keyakinan mereka dalam rangkaian tindakan yang dipilih, keyakinan akan besar usaha yang dikerahkan, keyakinan untuk bertahan selama berhadapan dengan hambatan dan kegagalan, keyakinan akan kemampuan mengatasi tekanan dalam tuntutan lingkungan, serta keyakinan akan taraf pencapaian yang telah diraih. Secara singkat, mahasiswa dan mahasiswi semester VII Institut “X” dengan self-efficacy belief rendah diprediksi menghindari banyak tugas khususnya yang dianggap

sulit, sedangkan mahasiswa dan mahasiswi semester VII Institut “X” dengan

self-efficacy belief yang tinggi bersedia mengerjakan tugas yang dianggap sulit sebagai

(37)

Universitas Kristen Maranatha Untuk lebih jelasnya mengenai bagaimana kontribusi dari sumber-sumber

self-efficacy belief terhadap self-efficacy belief pada mahasiswa dan mahasiswi

(38)

Universitas Kristen Maranatha

1.1 Skema Kerangka Pemikiran

Mahasiswa dan mahasiswi

semester VII Institut “X”

Kota Bandung

Self-efficacy belief

tinggi

Self-efficacy belief

rendah Indikator Self Efficacy :

1. Pilihan yang dibuat 2. Usaha yang dikeluarkan 3. Berapa lama mahasiswa

semester VII dapat bertahan saat dihadapkan pada rintangan dan kegagalan 4. Penghayatan perasaan 5. Taraf pencapaian yang telah

diraih

Efficacy:

1. Mastery Experience 2. Vicarious Experience 3. Social / Verbal

Persuation

4. Physiological dan affective states

Self-efficacy belief

(39)

Universitas Kristen Maranatha 1.6 Asumsi

Terdapat empat sumber self-efficacy belief yaitu : mastery experience,

vicorious experience, social/verbal persuasion, pshysiological and

affective states. Keempat sumber self-efficacy ini merupakan sumber

pembentuk self-efficacy belief individu.

Dalam pembentukan self-efficacy belief, empat sumber tersebut akan

diolah melalui proses kognitif.

Self-efficacy belief pada mahasiswa atau mahasiswi dapat mempengaruhi

pilihan yang dibuat oleh mahasiswa atau mahasiswi, besar usaha yang dikeluarkannya, berapa lama mahasiswa atau mahasiswi bertahan saat dihadapkan pada rintangan (dan saat dihadapkan dengan kegagalan) dan bagaimana penghayatan perasaannya.

Kekuatan self-efficacy belief mahasiswa atau mahasiswi semester VII

Institut ”X” kota Bandung, akan menentukan tujuan yang ditetapkan untuk

diraih, dan semakin kuat pula komitmen mahasiswa atau mahasiswi terhadap tujuan tersebut.

1.7 Hipotesis Penelitian

Terdapat kontribusi Mastery experience terhadap self-efficacy belief

(40)

Universitas Kristen MaranathaTerdapat kontribusi Vicarious experience terhadap self-efficacy belief

mahasiswa dan mahasiswi semester VII angkatan 2006 di Institut “X”

Kota Bandung.

Terdapat kontribusi Social/Verbal persuasion terhadap self-efficacy belief

mahasiswa dan mahasiswi semester VII angkatan 2006 di Institut “X”

Kota Bandung.

Terdapat kontribusi Physiological and Affective states terhadap

self-efficacy belief mahasiswa dan mahasiswi semester VII angkatan 2006 di

(41)

Universitas Kristen Maranatha BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bagian ini akan dipaparkan kesimpulan dan saran yang berkaitan dengan penelitian yang telah dilakukan, serta keterbatasan penelitian. Pertama, akan dimulai dengan kesimpulan, lalu dilanjutkan dengan saran dan keterbatasan penelitian.

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai kontribusi sumber-sumber

self-efficacy terhadap self-self-efficacy belief pada mahasiswa dan mahasiswi semester VII

Institut ”X” Kota Bandung dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :

1. Sumber-sumber self-efficacy memiliki kontribusi yang signifikan dalam pembentukan self-efficacy belief. Kontribusi yang paling signifikan diantara keempat sumber-sumber self-efficacy tersebut ialah mastery

experience dan vicarious experience.

2. Sebagian besar (93%) mahasiswa dan mahasiswi semester VII memiliki

self-efficacy belief yang tergolong tinggi. Hal tersebut menunjukkan

(42)

Universitas Kristen Maranatha 3. Dengan self-efficacy belief yang telah dimiliki, mahasiswa dan mahasiswi

semester VII melihat kesulitan dan hambatan di semester VII sebagai tantangan bukan sebagai ancaman yang harus dihindari. Mereka menambah atau mempertahankan usaha mereka saat menghadapi kegagalan, serta menghubungkannya dengan usaha atau pengetahuan yang tidak cukup.

5.2 Saran

5.2.1 Saran Bagi Penelitian Lanjutan

Melakukan penelitian mengenai hubungan self-efficacy belief dengan

academic performance.

 Melakukan penelitian yang serupa mengenai kontribusi

sumber-sumber self-efficacy belief terhadap self-efficacy belief mahasiswa dan mahasiswi yang sedang mengontrak skripsi.

5.2.2 Saran Guna Laksana

Berdasarkan penelitian ini dapat diajukan beberapa saran yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan.

 Bagi mahasiswa dan mahasiswi semester VII diharapkan dapat lebih

(43)

Universitas Kristen Maranatha konsultasi dengan dosen wali masing-masing yang diharapkan dapat memberikan pengarahan mengenai self-efficacy belief.

 Institusi perlu menciptakan lingkungan belajar yang menantang dan

mendukung perkembangan individu sehingga diharapkan dapat memotivasi diri dari para mahasiswanya. Dengan demikian mahasiswa akan berusaha keras dan dapat menumbuhkan keyakinan akan kemampuan dirinya untuk dapat mengatasi situasi tertentu dengan baik.

 Institusi dan pihak pengajar dapat mengemas penyajian setiap mata kuliah

dalam bentuk yang lebih menarik bagi mahasiswa sekaligus menantang. Dosen yang bersikap dan berperilaku dengan perhatian dan suportif terhadap mahasiswa akan membantu dalam upaya pembentukan

self-efficacy belief.

 Bagi orangtua diharapkan dapat mendukung proses akademik putra

putrinya secara emosional, memfasilitasi (secara finansial), serta memberikan kesempatan terhadap putra putrinya untuk tetap dapat memperoleh pengalaman yang dapat mendukung peningkatan self-efficacy

(44)

89 Universitas Kristen Maranatha DAFTAR PUSTAKA

Anima. April 2005. Indonesian Psychological Journal. Volume 20, Nomer 3. Bandura, Albert. 2002. Self-Efficacy : The Exercise of Control. New York: W.H.

Freeman and Company.

Bandura, Albert. 1997. Self Efficacy : Self efficacy in Changing Societies. Cambridge University Press.

Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha. 2007. Panduan Penelitian

Skripsi Sarjana : Bandung.

Hadi, S. 1997. Metodologi Research 1. Yogyakarta: Andi. Hadi, S. 2001. Analisis Regresi. Yogyakarta: Andi.

Jackson, Winston. 1995. Methods Doing Social Research. Prentice Hall.

Pajares, F. 1996. Self-efficacy Beliefs in Academic Setting. Review of Educational

Research. 66, 543-578.

Pajares, Frank & Urdan, Tim. Self-Efficacy Beliefs of Adolescence. Greenwich, Connecticut: Information Age Publishing.

Santrock, John W. 2007. Adolescence. New York, NY: McGraw – Hill International Edition.

Santrock, John W. 2007. Life Span Development 5th Edition. New York, NY: McGraw – Hill.

Siegel, Sidney. 1997. Statistik Nonparametrik untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

(45)

Universitas Kristen Maranatha Sugiyono, Prof.DR., Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Warsito, Hadi. 2004. Hubungan antara Self-efficacy dengan Penyesuaian

akademik dan Prestasi akademik. Jurnal Psikologi Volume 14, Nomor 2,

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisis menggunakan Statistical product and Service Solutions (SPSS) menyimpulkan bahwa unsur bauran promosi dan atribut produk di Transmart Crrefor Bandung memiliki

Hasil analisis data menunjukkan bahwa mahasiswa yang mengalami readmisi menggunakan beberapa cara defense mechanism untuk berusaha keluar dari kecemasannya.. Tekanan dari

Manfaat yang dapat diperoleh dalam penerapan metode usulan dibandingkan dengan metode pengendalian persediaan aktual yaitu, perusahaan akan mengetahui nilai produksi

Difinisi ini menjadi lebih membingungkan lagi kalau dikatakan kabupaten itu adalah bagian dari struktur pemerintahan masa kolonial, karena masa kolonial tidak

[r]

ALIFA MAULIDA PENDIDIKAN MATEMATIKA... NESIA NESIA NESIA NESIA NESIA NESIA NESIA NESIA NESIA NESIA NESIA NESIA NESIA NESIA NESIA NESIA NESIA NESIA NESIA NESIA NESIA NESIA NESIA

Penjelasan (Aanwejzing), Panitia memberikan Penjelasan secara rinci kepada peserta lelang tentang pekerjaan yang akan dilaksanakan sesuai Dokumen

Teks Menu pakai Calibri, Bold 14 point 3.