.-' -
- -::--~
(bi',;"",,,~(i
)(G:.~)'\
RAD
A
R B
A 1\.T
DUNG
\
( "oIOIll)i )(...i/.j
1'-\..
~
~
~~--
"-. -_'::-~/
.
.
(
. ._ I '~~t:.!.'III I~ ~Jt:~.~" '. JU.'/III " I\;IIIII~ 'I ./IIlIIill.
.',"/'/11 'J M/II!}!}11~
....
1 2 3 4 5 6 - 7 8 9 10 11 12 -;3 -"'4' 15 'W.~
17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31
\ ,; ~J
\ ,,--::!.~'.I_..~<~~~ '.~,!!!:.r /,) Apr
.
MfJi (j JUf! () Jul () Ags () SepU
Okl0
Nov0
Des'
"
.
-Lima !antanganPokok
=- . - . .---
~Pem~~n~nanEk~no~
. BANDUNG-RADARBANDUNG
INDONESIA menjadi salah satu negara yang terkena dam-pak krisis ekonomi dunia, aki-bat yang paling nyata adalah pemutusan hubungan kerj a berkurangnya ekspor barang, dan mundurnya beberapa in-vestor asing. Investasi dalam negeri menjadi salah satu andalan Indonesia selamat dari 'krisis berkepanjangan tersebut.
"Kalau kit a bisa menjaga
confidence, investasi dalam negeri akan bergerak terus sesuai dengan kebutuhan pasar. Tapi bila ada gejolak atau ketidakstabilan term as uk politik, maka akan mempe-ngaruhi investasi dan pem-beHan," jelas Direktur Peren-canaan Makro Kementrian Pe-rencanaan Pembangunan Na-sional (Bappenas) Ir. Bambang Prijambodo, pada acara Natio-nal Economics Seminar yang diadakan di Ruang Serba Guna 'Gedung Rektorat Baru Unpad Jalan Dipatiukur, Selasa (12/5). Seminar yang bertama Tan-tangan dan Solusi Ekonomi Sektor Riil Indonesia Pasca-Pemilu 2009 ini, Bambang me-ngatakan ada dua langkah .po-kok menghadapi krisis keua-ngan dan resesi global, yaitu, memperkuat confidence
terha-dap perekonomian terutama kepercayaan terhadap rupiah, kecukupan devisa, ketahanan sistem keuangan, serta menjaga dan mendorong permintaan dalam negeri, termasuk dian-taranya dengan stimulus fiskal. Menurutnya, ada lima tan-tang an pokok pembangunan
.
ekonomi untuk tahun--
2010-20 I 4. Pertama, mendorong ekonomi Indonesia lebih maju dan menjadi salah satu negara besar di dunia pada tahun 2014
secara geo-ekonomi dan geo-politik. Kedua, meningkatkan stabilitas ekonomi, terutama stabilitas harga yang didukung oleh ketahanan sistem ke-uangan yang kuat dan ca-dangan devisa yang memadai. Ketiga, meningkatkan kese-jahteraan rakyat, tercermin dari menurunnya tingkat pengang-guran terbuka dan setengah pengangguran, serta berku-rangnya jumlah penduduk mis-~~n.~e.:.mpat, !?r::..mp::kuatketa-_ hanan energi dan memantapkan ketahanan pangan. Kelima, mendorong pemerataan pemba-ngunan ke luar Jawa.
Sementara itu, pengamat politik Eep Saefullah Fatah, Ph.D me-ngatakan pada acara yang diga-gas Himpunan Mahasiswa Eko-nomi Studi Pembangunan FE Unpad ini, bahwa Pemilu Le-gislatif 2009 ini ad:ilah pemilu yang mahal. Oleh karena itu, menurut Eep, diperlukan "efi-siensi demokrasi" untuk me-ngatasinya. "Efisiensi demo-'krasi ini meliputi reorganisasi pemilu dan pengaturan secara tuntas dan komprehensif me-ngenai keuangan politik (po-litical financing)," jelas Eep.
Pemerintah mengeluarkan banyak uang untuk membiayai pelaksanaan pemilu ini. Selain itu setiap partai dan calon legislatif (caleg) pun menge-luarkan uang yang tidak
sedi-::11;:II
~__
_
kit. "Bayangkan saja, menurut data KPU jumlah caleg yang terdaftar sebanyak 1.624.977 orang. Setiap orang menge-luarkan dana untuk kampanye untuk memperebutkan kursi di DPR, DPRD dan DPD. Be-tapa besar jumlah rupiah yang dikeluarkan," ujar Eep.
Menurut Eep, di Indonesia diadakan beberapa pemilu, seperti pilgub, pilkada dan pilkades. Apabila pelaksanaannya dilaku-kan dalam satu waktu atau satu rentang waktu, pasti akan lebih efisien, tidak hanya dari segi w~ktu, tapi juga biaya. Selain itu, Eep juga menambahkan dari sisi transparansi keuangan, perlu adanya peraturan yang lebih ketat untuk mengoptimalisasi ke-uangan dan mengurangi kebo-coran di beberapa tempat.
Berkaitan dengan janji-janji para caleg atau calon presiden ~rutama ~!!!ang ekonomi, Eep berpendapat bahwa kita tidak bisa sepenuhnya yakin mereka akan menepati janji-janji me-reka. "Menurut riset Susan Stokes di 44 kampanye pemi-lihan presiden di 15 negina, umumnya presiden terpilih mengubah kebijakan (ingkar janji kampanye)
danmence-derai mandat. Umumnya, me-reka yang mengaj ukan ke-bij akan populis cenderung menjadi policy switcher men-jadi neoliberal," jelas Eep.
Walaupun demikian,Eep me-ngatakan bahwa kita tidak boleh berhenti optimis. "Obat dari demokrasi yang sakit itu adalah membuat demokrasi yang lebih demokratis. Jadi lanjutkan proses demokrasi ini dan ikuti dengan b'ilik, te-rutama lakukan efisiensi de-mokrasi. Sebab bila tidak, demokrasi kita akan stagnan," p~~kasnya (tie)
--
Kliping
Humas
Unpad
2009--'
---I
-*%
r
,
~,
I
..
.
f
.
_
..
..
-.
...
..
$:
. ',.--...
,.,..~',
-...
,
.;;-;~::.-
",-. -...'.
!
~
.
HUMASUNPAD