• Tidak ada hasil yang ditemukan

Materi PTK PLPG Fisika

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan " Materi PTK PLPG Fisika"

Copied!
62
0
0

Teks penuh

(1)

MODUL

PENDIDIKAN DAN LATIHAN PROFESI GURU

(PLPG)

Workshop

Penelitian Tindakan Kelas

(PTK)

FISIKA

Oleh :

Dwi Teguh Rahardjo, S.Si, M.Si

Drs. Supurwoko, M.Si

PANITIA SERTIFIKASI GURU RAYON 113

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(2)

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur dipanjatkan ke hadirat Allah SWT., atas rahmat dan karunia yang

telah dilimpahkan kepada penulis, sehingga penyusunan modul ini dapat terlaksana dengan

baik. Penulisan modul ini dapat terlaksana dengan baik berkat kerja keras penulis dan

partisipasi dari berbagai pihak. Berkenaan dengan itu, penulis ingin mengucapkan terimakasih

kepada:

1.

Rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta yang sekaligus selaku Ketua Rayon

Panitia Sertifikasi Guru Rayon 113 yang telah mempercayakan penulisan materi ini.

2.

Dekan FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta yang sekaligus selaku Wakil Ketua

Panitia Sertifikasi Guru Rayon 113 yang telah mempercayakan penulisan materi ini.

3.

Rekan-rekan Panitia Sertifikasi Guru atas kebersamaannya sehingga dalam waktu

singkat mampu menyiapkan berbagai hal berkenaan dengan penyiapan PLPG,

khususnya penulisan modul.

4.

Semua pihak yang telah memberikan berbagai jenis bantuan

(3)

iii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

BAB I VALIDITAS PENELITIAN TINDAKAN KELAS ... 1

BAB II SISTEMATIKA PROPOSAL PTK ... 11

BAB III CONTOH PENELITIAN TINDAKAN KELAS ... 24

BAB IV BERLATIH MENYUSUN PROPOSAL PTK ... 43

BAB V RAMBU-RAMBU PENYUSUNAN LAPORAN PTK ... 46

LAMPIRAN - LAMPIRAN ... 50

(4)

1

BAB I

VALIDITAS PENELITIAN TINDAKAN KELAS

A. Pendahuluan

Saudara adalah guru yang punya banyak pengalaman, baik manis maupun pahit dalam

mengajar. Saudara pasti menginginkan siswayang selalu berhasil meraih prestasi terbaik. Namun,

mungkin keinginan Saudara yang mulia tersebut lebih sering tidak tercapai karena berbagai alasan.

Misalnya, mungkin Saudara sering menemukan siswa-siswa tidak bersemangat, kurang termotivasi,

kurang percaya diri, kurang disiplin, Saudara sudah melakukan upaya untuk mengatasinya, tetapi

mungkin hasilnya masih jauh dari yang Saudara inginkan.

Mengapa tidak mencoba mengatasinya lewat suatu kegiatan penelitian tindakan? mungkin

Saudara ingat pengalaman pahit ketika dulu meneliti untuk skripsi, karena harus mengembangkan

instrumen yang berkali-kali direvisi atas saran dosen pembimbing, harus minta ijin ke sana ke sini,

harus terjun ke lapangan menemui responden, kecewa karena angket tidak semua dikembalikan, harus

menganalisis data dan tersandung masalah statistik, Singkatnya, kegiatan penelitian tidak mudah

karena pertanggung jawaban teoretisnya cukup berat.

Mengapa penelitian tindakan tidak sulit ? Karena jenis penelitian tindakan memang berbeda

dengan jenis penelitian lain. Kalau jenis penelitian lain layaknya dilakukan oleh para ilmuwan di

kampus atau lembaga penelitian, penelitian tindakan layaknya dilakukan oleh para praktisi, termasuk

saudara sebagai guru. Kalau jenis penelitian lainnya untuk mengembangkan teori, penelitian tindakan

ditujukan untuk meningkatkan praktik lapangan. Jadi penelitian tindakan adalah jenis penelitian yang

cocok untuk para praktisi, termasuk guru.

Persyaratan penelitian tindaan kelas (PTK) merupakan kegiatan tindakan perbaikan digarap

secara sistemik untuk meningkatkan yang sudah ada bukan teoritik tetapi berpijak pada kondisi yang

ada. PTK yang dilakukanan guru saat PLPG, harus memperlihatkan sebagai upaya untuk peningkatan

mutu professional guru, sehingga bermakna sebagai bentuk untuk meningkatkan mutu pelayanan

kegiatan belajar mengajar (KBM) pada siswa, jadi subjeknya harus siswa. Serta harus dilakukan

sendiri oleh guru, bukan minta bantuan orang atau pihak lain.

Ciri-Ciri Penelitian Tindakan Kelas (PTK) :

a) Merupakan kegiatan yang dirancang guru untuk meningkatkan mutu Kegiatan Belajar Mengajar.

b) Terjadi minimum dua siklus sebagai eksperimen berkesinambungan.

c) Siswa diberi pedoman yang jelas agar dapat mengikuti tahapan tiap siklus sehingga ada unjuk kerja

siswa sesuai pedoman tertulis yang diberikan oleh guru.

d) Ada penelusuran terhadap proses, dengan pedoman pengamatan.

e) Ada evaluasi terhadap hasil dengan instrumen yang relevan.

(5)

2

g) Hasil refleksi harus terlihat dalam perencanaan siklus berikutnya

h) Bukan tindakan untuk materi tetapi mencobakan cara, pendekatan atau metode

i) Jika menyebut topik, harus yang sifatnya luas, berulang

Prinsip perencanaan harus SMART, sebagai akronim dari :

Specific-Managable-Acceptable-Realistic-Time-bound, khusus, dapat di-laksanakan, dapat diterima, terdukung sumber daya, ada

batasan waktu.

B. Definisi PTK

Penelitian tindakan merupakan intervensi praktik dunia nyata yang ditujukan untuk

meningkatkan situasi praktis. Penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru ditujukan untuk

meningkatkan situasi pem-belajaran yang menjadi tanggung jawabnya, maka disebut penelitian

tindakan kelas atau PTK.

Apakah kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) tidak akan mengganggu proses

pembelajaran? Ttidak, karena justru PTK dilakukan dalam proses pembelajaran yang alami di kelas

sesuai dengan jadwal.

Apakah penelitian tindakan kelas (PTK) bersifat situasional, kontekstual, berskala kecil,

terlokalisasi, dan secara langsung gayut atau relevan dengan situasi nyata dalam dunia kerja? Benar.

Apakah subyek dalam PTK termasuk murid-murid Saudara? Benar.

Apakah boleh bekerja sama dengan guru lain untuk menjaga kualitas PTK ? Benar. Saudara

dapat melibatkan guru lain yang mengajar bidang pelajaran yang sama, yang akan berfungsi sebagai

kolaborator Saudara.

Karena situasi kelas sangat dinamis maka peneliti dituntut untuk adaptif dan fleksibel agar

kegiatan PTK selaras dengan situasi yang ada, tetapi tetap mampu menjaga agar proses mengarah pada

tercapainya perbaikan. Sehingga dituntut komitmen untuk berpartisipasi dan kerdijasama dari semua

orang yang terlibat, yang mampu melakukan evaluasi diri secara berkesinambungan sehingga

betapapun kecilnya perbaikan demi perbaikan dapat diraih. Tindakan dilaksanakan secara terencana,

hasilnya direkam dan dianalisis dari waktu ke waktu sebagai dasar kebijakan dalam melakukan

modifikasi.

C. Syarat Keberhasilan PTK

Agar hasil penelitian tindakan kelas berhasil maka , tim peneliti ialah saudara dan kolaborator

serta murid-murid harus

1. Komitmen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan komitmen yang terwujud dalam

keterlibatan mereka dalam seluruh kegiatan PTK secara proporsional. Keterlibatan akan mungkin

terwujud jika ada peran dan maksud yang jelas dalam melakukan intervensi tindakan.

(6)

3

3. Bertindak berdasarkan pada pengetahun, baik pengetahu an secara konseptual dari tinjauan

pustaka teoretis, maupun pengetahuan secara teknis prosedural, yang diperoleh lewat refleksi kritis

dan di-padukan dengan pengalaman orang lain dari tinjauan pustaka hasil penelitian tindakan,

berdasarkan nilai yang diyakini kebenarannya. Refleksi kritis dapat dilakukan dengan baik jika

didukung oleh keterbukaan dan kejujuran terhadap diri sendiri, khususnya kejujuran mengakui

kelemahan dan atau kekurangan diri.

4. Tindakan perbaikan dilakukan atas dasar komitmen kuat dan keyakinan bahwa situasi dapat

diubah ke arah perbaikan.

5. Penelitian tindakan melibatkan pengajuan pertanyaan agar dapat melakukan perubahan melalui

tindakan yang disadari dalam konteks yang ada dengan seluruh kerumitannya.

6. Secara sistematik agar mengetahui dengan mudah arah dan jenis perbaikan, yang semuanya

berkenaan dengan pemahaman yang lebih baik terkadap praktik dan pemahaman tentang kriteria

sebagai ukuran perbaikan..

7. Perlu dibuat deskripsi otentik objektif bukan penjelasan tentang tindakan yang dilaksanakan dalam

riwayat faktual, perekaman video and audio, riwayat subjektif yang diambil dari buku harian dan

refleksi dan observasi pribadi, dan riwayat fiksional.

8. Perlu memberi penjelasan tentang tindakan berdasarkan deskripsi autentik yang mencakup

a) Identifikasi makna yang mungkin diperoleh melalui wawasan teoretik yang relevan, pengaitan

dengan penelitian lain misal didukung atau ditolak lewat tinjauan pustaka.

b) Masalah deskripsi terkait yang secara kritis mempertanyakan motif tindakan dan evaluasi

terhadap hasilnya

c) Dukungan teorisasi yang memberikan penjelasan tentang apa yang dilakukan dengan cara

tertentu.

9. Perlu menyajikan laporan hasil PTK dalam berbagai bentuk termasuk:

a) Tulisan tentang hasil refleksi diri, dalam bentuk catatan harian dan dialog, yaitu percakapan

dengan dirinya sendiri;

b) Percakapan tertulis yang dialogis, dengan gambaran jelas tentang proses percakapan tersebut

berupa narasi dan atau bentuk visual seperti diagram, gambar, dan grafik.

10. Perlu melakukan validasi atas pernyataan tentang keberhasilan tindakan yang dilakukan

lewat pemeriksaan kritis dengan mencocokkan pernyataan dengan bukti yang berasal dari

data mentah, baik diperoleh sendiri maupun bersama teman sebagai bentuk dari validasi

diri, meminta teman sejawat meneliti dengan masukan yang digunakan sebagai perbaikan

dari validasi sejawat, dan terakhir menyajikan hasil seminar dalam suatu seminar sebagai

bentuk validasi public. Perlu dipastikan bahwa temuan validasi selaras satu sama lain

karena semuanya berdasarkan pemeriksaan terhadap penyataan dan data mentah. Jika ada

(7)

4

D. Tujuan PTK

Tujuan utama PTK adalah untuk mengubah perilaku pengajaran murid di kelas, dan atau

mengubah kerangka kerja dalam melaksanakan pembelajaran kelas Saudara. Jadi, PTK lazimnya

dimaksudkan untuk mengembangkan keterampilan atau pendekatan baru pembelajaran dan untuk

memecahkan masalah dengan penerapan langsung di ruang kelas.

PTK berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan pembelajaran kelas. Di

ruangan kelas, PTK dapat berfungsi sebagai Alat untuk (Cohen & Manion, 1980: 211):

1. Mengatasi masalah situasi pembelajaran di kelas;

2. Dalam-jabatan, membekali keterampilan guru dan metode baru dan mendorong timbulnya

kesadaran guru, khususnya melalui pengajaran sejawat.

3. Memasukkan sistem yang ada dengan pendekatan tambahan.

4. Meningkatkan mutu komunikasi antara guru dan peneliti.

5. Menyediakan pilihan pendekatan yang subjektif, impresionistik terhadap pemecahan masalah kelas,

diperlukan tiga butir penting :

a) Hasil penelitian tindakan dipakai sendiri oleh peneliti dan orang yang menginginkannya.

b) Penelitian terjadi dalam situasi nyata untuk mecahkan masalah segera diperlukan, dan hasilnya

langsung diterapkan dan atau dipraktikkan dalam situasi terkait.

c) Peneliti tindakan melakukan sendiri pengelolaan, penelitian, dan sekaligus pengembangan.

E. Kriteria Penelitian Tindakan

PTK harus memenuhi kriteria validitas. Akan tetapi, makna dasar validitas untuk penelitian

tindakan condong ke makna dasar validitas dalam penelitian kualitatif, yaitu makna langsung dan lokal

dari tindakan sebatas sudut pandang peserta penelitiannya (Erickson, 1986, disitir oleh Burns, 1999).

Jadi kredibilitas penafsiran peneliti dipandang lebih penting daripada validitas internal (Davis, 1995,

disitir oleh Burns, 1999). Karena PTK bersifat transformatif, maka kriteria yang cocok adalah validitas

demokratik, validitas hasil, validitas proses, validitas katalitik, dan validitas dialogis, yang harus

dipenuhi dari awal sampai akhir penelitian, yaitu dari refleksi awal saat kesadaran akan kekurangan

muncul sampai pelaporan hasil penelitiannya (Burns, 1999: 161-162, menyitir Anderson dkk,1994).

1. Validitas Demokratik berkenaan dengan kadar kekolaboratifan penelitian dan pencakupan

berbagai pendapat. Dalam PTk, idealnya Peneliti, guru lain dan atau pakar sebagai kolaborator,

serta murid masing-masing mendapat kesempatan untuk berpendapat apa yang dipikirkan,

dirasakan serta dialami selama penelitian berlangsung. Pertanyaan kunci mencakup :

a) Apakah semua pemangku kepentingan (stakeholders) PTK dapat menawarkan pandangannya?

b) Apakah solusi masalah di kelas memberi manfaat kepada mereka?

(8)

5

Semua pemangku kepentingan PTK diberi kesempatan dan atau didorong lewat berbagai

cara yang cocok dalam situasi budaya setempat untuk mengungkapkan pendapatnya, gagasan dan

sikapnya terhadap persoalan pembelajaran kelas peneliti. Misal kasus PTK untuk meningkatkan

kualitas proses pembelajaran fisika pada tahap refleksi awal guru-guru yang berkolaborasi untuk

melakukan penelitian tindakan kelas, siswa, Kepala Sekolah, dan juga orang tua siswa, diberi

kesempatan dan atau didorong untuk mengungkapkan pendapatnya tentang situasi dan kondisi

pembelajaran fisika di sekolah terkait. Akhirnya diperoleh kesepatakan bahwa memang ada

kekurangan yang perlu diperbaiki atau disebut kesepakatan tentang latar belakang penelitian.

Selanjutnya, diciptakan proses yang sama untuk mencapai kesepakatan tentang masalah,

identifikasi masalah, dan pembatasan masalah penelitian. Kemudian, proses yang sama berlanjut

untuk merumuskan pertanyaan penelitian atau merumuskan hipotesis tindakan yang akan menjadi

dasar bagi perencanaan tindakan, yang juga dilaksanakan melalui proses yang melibatkan semua

peserta penelitian untuk mengungkapkan psaudarangan dan pendapat serta gagasan-gagasannya.

Proses yang mendorong setiap peserta PTK untuk mengungkapkan pendapat, gagasan diciptakan

sepanjang penelitian berlangsung.

11. Validitas hasil mengandung konsep bahwa tindakan kelas membawa hasil yang sukses di dalam

konteks PTK. Hasil yang paling efektif tidak hanya melibatkan solusi masalah tetapi juga

meletakkan kembali masalah ke dalam suatu kerangka sedemikian rupa sehingga melahirkan

pertanyaan baru.

Apa yang mesti dilakukan, bila setelah dilakukan tindakan ditemukan masalahbaru bahwa hanya

sebagian kecil siswa menjadi aktif dan sebagian besar siswa merasa takut salah, cemas, dan malu

berbicara.

Pertanyaan baru timbul pada akhir suatu tindakan yang dirancang untuk menjawab suatu

pertanyaan, begitu seterusnya sehingga upaya perbaikan berjalan secara bertahap,

berkesinambungan tidak pernah berhenti, mengikuti kedinamisan situasi dan kondisi. Validitas

hasil juga tergantung pada validitas proses pelaksanaan penelitian, yang merupakan kriteria

berikutnya.

12. Validitas Proses berkenaan dengan keterpercayaan dan kompetensi, yang dapat dipenuhi dengan menjawab sederet pertanyaan berikut:

a) Mungkinkah menentukan seberapa memadai proses pelaksana an PTK Saudara? Misalnya,

apakah Saudara dan kolaborator mampu terus belajar dari proses tindakan tersebut? Artinya,

Saudara dan kolaborator secara terus menerus dapat mengkritisi diri sendiri dalam situasi yang

ada sehingga dapat melihat kekurangannya dan segera berupaya memperbaikinya.

b) Apakah peristiwa atau perilaku dapat dipandang dari perspektif yang berbeda dan melalui

(9)

6

Dalam kasus penelitian tindakan kelas fisika peneliti dapat menentukan indikator kelas, siapa yang

aktif, dengan menghitung siswa yang aktif terlibat belajar menggunakan alat praktikum untuk

memperoleh data lewat tugas praktikum. Jika keaktifan siswa terlalu rendah, guru secara kritis

merefleksi bersama kolaborator untuk mencari penyebabnya dan menentukan cara mengatasinya.

Kalau diperlukan, siswa yang tidak aktif didorong untuk menyuara-kan apa yang dirasakan

sehingga mereka tidak mau aktif dan siswa yang aktif diminta mengungkapkan mengapa mereka

aktif. Perlu juga ditemukan apakah ada perubahan pada diri siswa sesuai dengan indikator bahwa

para siswa berubah lewat tindakan pertama berupa pemberian tugas ‘information gap’ dan tindakan kedua berupa pembelakuan kriteria penilaian, dan perubahan pada diri guru dari peran

pemberi pengetahuan ke peran fasilitator dan penolong. Begitu seterusnya sehingga pemantauan

terhadap perubahan hendaknya dilakukan secara cermat dan disimpulkan lewat dialog reflektif

yang demokratik.

Perlu dicatat bahwa kompetensi peneliti dalam bidang terkait sangat menentukan kualitas proses

yang diinginkan dan tingkat kemampu -an untuk melakukan pengamatan dan membuat catatan

lapangan. Misal, kualitas proses belajar mengjar (PBM) fisika akan sangat ditentukan oleh

wawasan, pengetahuan dan pemahaman sejati peneliti tentang (1) materi fisika (2) ubahan dan alat

percobaan (3) karakteristik siswanya (intelegensi, gaya belajar, variasi kognitif, kepribadian,

motivasi, tingkat perkembangan siswa terhadap pem-belajaran fisika. Jika wawasan, pengetahuan

dan pemahaman tersebut kuat, maka peneliti akan dapat dengan lebih mudah menentukan perilaku

yang menunjang tercapainya perubahan yang diinginkan dengan indikator yang tepat.

Peneliti didukung dengan kemampuan untuk mengumpulkan data, misalnya melakukan

pengamatan dan membuat catatan lapangan dan harian. Dalam mengamati, tim peneliti dituntut

untuk dapat bertindak objektif, selama mengamati perhatiannya terfokus pada gejala yang dapat

ditangkap lewat pancainderanya saja;

Pengamatan peneliti harus dijaga agar jangan sampai peneliti melakukan penilaian terhadap apa

yang terjadi, dijaga agar tidak terjadi penyampuradukan antara deskripsi dan penafsiran.

Akan lebih baik jika para peneliti merekam pada kaset audio atau audio-visual sehingga catatan

lapangan dapat lengkap. Singkatnya, kompetensi peneliti dalam bidang yang diteliti dan dalam

pengumpulan data lewat pengamatan partisipan sangat menentukan kualitas proses tindakan dan

pengumpulan data tentang proses PTK.

13. Validitas Katalitik terkait dengan kadar pemahaman yang Saudara capai realitas kehidupan kelas Saudara dan cara mengelola perubahan di dalamnya, termasuk perubahan pemahaman Saudara

dan murid-murid terhadap peran masing-masing dan tindakan yang diambil sebagai akibat dari

perubahan ini.

(10)

7

2000) seperti rasa takut salah dan malu melahirkan inhibition dan kecemasan. Upaya guru untuk

menghormati siswa dengan mempertimbangkan pikiran dan perasaan serta mengapresiasi usaha

belajar siswa merupakan faktor positif yang medukung proses pembelajaran.

Validitas katalitik dapat juga ditunjukkan dalam peningkatan pemahaman terhadap peran baru

yang mesti dijalani guru dalam proses pembelajaran komunikatif sebagai fasilitator dan penolong

serta pemantau kinerja.

Validitas katalitik juga tercermin pada peningkatan pemahaman tentang perlunya menjaga agar

hasil tindakan yang dilaksanakan tetap memberi motivasi semua yang terlibat untuk meningkatkan

diri secara stabil alami dan berkelanjutan. Upaya memenuhi tuntutan validitas katalitik dilakukan

melalui siklus perencanaan tindakan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.

14. Validitas Dialogik sejajar dengan proses review sejawat yang umum dipakai dalam penelitian akademik. Secara khas, nilai atau kebaikan penelitian dipantau melalui tinjauan sejawat untuk

publikasi dalam jurnal akademik. Sama halnya, review sejawat dalam PTK berarti dialog dengan

guru-guru lain, bisa lewat sarasehan atau dialog reflektif dengan ‘teman yang kritis’ atau pelaku

PTK lainnya, yang semuanya dapat bertindak sebagai ‘jaksa tanpa kompromi’.

Kriteria validitas dialogis dipenuhi saat penelitian masih ber-langsung, yaitu secara beriringan

dengan pemenuhan kriteria demokratik. Yaitu, setelah seorang peserta mengungkapkan

pandangan, pendapat, dan atau gagasannya, dia akan meminta peserta lain untuk menanggapinya

secara kritis sehingga terjadi dialog kritis atau reflektif. Dengan demikian, kecenderungan untuk

terlalu subjektif dan simplistik akan dapat dikurangi sampai sekecil mungkin. Untuk memperkuat

validitas dialogik, proses yang sama dilakukan dengan sejawat peneliti tindakan lainnya, yang jika

memerlukan, diijinkan untuk memeriksa semua data mentah yang terkait dengan yang sedang

dikritisi.

F. Trianggulasi Mengurangi Subjektivitas

Trianggulasi adalah proses validasi yang melibatkan pendapat peneliti, stakeholders dan

pakar. Untuk meningkatkan validitas PTK dengan meminimalkan subjektivitas melalui trianggulasi.

Saudara sebagai pelaku PTK dapat menggunakan metode saudara dan perspektif kolaborator untuk

memperoleh gambaran yang lebih objektif.

Bentuk lain dari trianggulasi adalah: trianggulasi waktu, trianggulasi ruang, trianggulasi

peneliti, dan trianggulasi teoretis (Burns, 1999: 164).

1. Trianggulasi waktu dapat dilakukan dengan mengumpulkan data dalam waktu yang berbeda,

meliputi rentangan waktu tindakan dilaksanakan dengan frekuensi yang memadai untuk menjamin

bahwa efek perilaku tertentu bukan hanya suatu kebetulan. Misalnya, data tentang proses

pembelajaran dengan seperangkat teknik tertentu dapat dikumpulkan pada jam awal, tengah dan

(11)

8

2. Trianggulasi peneliti dapat dilakukan dengan pengumpulan data yang sama oleh beberapa

peneliti sampai diperoleh data yang relatif konstan. Misalnya, dua atau tiga peserta penelitian

dapat mengamati proses pembelajaran yang sama dalam waktu yang sama pula.

3. Trianggulasi ruang dapat dilakukan dengan mengumpulkan data yang sama di tempat yang

berbeda. Dalam contoh proses pembelajaran fisika, ada dua atau tiga kelas yang dijadikan ajang

penelitian yang sama dan data yang sama dikumpulkan dari kelas-kelas tersebut.

4. Trianggulasi teoretis dapat dilakukan dengan memaknai gejala perilaku tertentu dengan dituntun

oleh beberapa teori yang berbeda tetapi terkait. Misalnya, perilaku tertentu yang menyiratkan

motivasi dapat ditinjau dari teori motivasi aliran yang berbeda: aliran behavioristik, kognitif, dan

konstruktivis.

G. Reliabilitas

Reliabilitas data PTK Saudara secara hakiki memang rendah. Mengapa? Karena situasi PTk

terus berubah dan proses PTK bersifat transformatif tanpa kendali apapun secara alami sehingga sulit

untuk mencapai tingkat reliabilitas yang tinggi, padahal tingkat reliabilitias tinggi hanya dapat dicapai

dengan mengendalikan hampir seluruh aspek situasi yang dapat berubah (variabel) dan hal ini tidak

mungkin atau tidak baik dilakukan dalam PTK. Mengapa tidak mungkin? Karena akan bertentangan

dengan ciri khas penelitian tindakan itu sendiri, yang salah satunya adalah kontekstual/situasional dan

terlokalisasi, dengan perubahan yang menjadi tujuannya. Penilaian peneliti menjadi salah satu

tumpuan reliabilitas PTK. Cara-cara meyakinkan orang atas reliabilitas PTK termasuk: menyajikan

(dalam lampiran) data asli seperti transkrip wawancara dan catatan lapangan (bila hasil penelitian

dipublikasikan), menggunakan lebih dari satu sumber data untuk mendapatkan data yang sama dan

kolaborasi dengan sejawat atau orang lain yang relevan.

H. Kelebihan dan Kekurangan PTK

PTK memiliki kelebihan untuk menumbuhkan :

1. Rasa memiliki melalui kerja sama dalam PTK;

2. Kreativitias dan pemikiran kritis lewat interaksi terbuka yang bersifat reflektif evaluatif dalam

PTK;

3. Kerja sama ada saling merangsang untuk berubah;

4. Kesepakatan lewat kerja sama demokratis dan dialogis dalam PTK.

PTK Saudara juga memiliki kelemahan:

1. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam teknik dasar penelitian karena terlalu banyak

berurusan dengan hal-hal praktis,

2. Rendahnya efisiensi waktu karena peneliti harus terlibat dalam proses sementara dan harus

(12)

9

3. Menuntut pemimpin kelompok yang demokratis dengan kepekaan tinggi terhadap kebutuhan dan

keinginan anggota.

I. Persyaratan Keberhasilan PTK

Agar PTK berhasil, persyaratan berikut harus dipenuhi

1. Kesediaan untuk mengakui kekurangan diri;

2. Kesempatan yang memadai untuk menemukan sesuatu yang baru;

3. Dorongan untuk mengemukakan gagasan baru;

4. Waktu yang tersedia untuk melakukan percobaan;

5. Kepercayaan timbal balik antar orang-orang yang terlibat;

6. Pengetahuan tentang dasar-dasar proses kelompok oleh peserta penelitian.

J. Penelitian Tindakan Kolaboratif

Kolaborasi atau kerja sama perlu dan penting dilakukan dalam PTK karena PTK yang

dilakukan secara perorangan bertentangan dengan hakikat PTK itu sendiri :

1. PTK sejati adalah penelitian tindakan kolaboratif, yaitu yang dilaku kan oleh sekelompok peneliti

melalui kerja sama dan kerja bersama,

2. PTK kolaorasi dilaksanakan melalui tindakan anggota kelompok perorangan yang diperiksa secara

kritis melalui refleksi demokratik dan dialogis

3. Optimalisasi fungsi PTK kolaboratif dengan mencakup gagasan-gagasan dan harapan-harapan

semua orang yang terlibat dalam situasi terkait

4. Pengaruh langsung hasil PTK pada Saudara sebagai guru dan murid-murid Saudara serta sekaligus

pada situasi dan kondisi yang ada.

Kolaborasi atau kerja sama dalam melakukan penelitian tindakan dapat dilakukan dengan: mahasiswa;

sejawat dalam jurusan/sekolah/lembaga yang sama; sejawat dari lembaga/sekolah lain; sejawat

dengan wilayah keahlian yang berbeda (misalnya antara guru dan pendidik guru, antara guru dan

peneliti; antara guru dan manajer); sejawat dalam disiplin ilmu yang berbeda (misalnya antara guru

bahasa asing dan guru bahasa ibu); dan sejawat di negara lain (Wallace, 1998).

Tiga tahap PTK kolaboratif adalah: prakarsa, pelaksanaan, dan diseminasi (Burns, 1999:

207-208).

1. Prakarsa yang perlu dipertimbangkan dalam PTK kolaborasi :

a) PTK hendaknya ditarik dari kebutuhan, kepedulian dan persyaratan yang diungkapkan oleh

semua pihak yang terlibat dalam konteks pembelajaran di kelas atau sekolah Saudara;

b) PTK hendaknya benar-benar memanfaatkan keterampilan, minat dan keterlibatan guru dan

(13)

10

c) PTK hendaknya terpusat pada masalah pembelajaran kelas, yang ditemukan dalam kenyataan

sehari-hari. Namun demikian hasil PTK dapat untuk memberikan masukan pengembangan

teori pembelajar an bidang studi saudara;

d) PTK hendaknya menggunakan metodologi yang ditentukan dengan mempertimbangkan

persoalan pembelajaran kelas yang sedang diteliti, sumber daya yang ada dan siswa sebagai

sasaran penelitian.

2. Pelaksanaan yang perlu dipertimbangkan dalam PTK kolaborasi :

a) PTK hendaknya direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi secara kolaboratif. Tujuan,

metode, pelaksanaan dan strategi evaluasi hendaknya Saudara negosiasikan dengan pemangku

kepentingan (stakeholders) terutama peneliti, sejawat, siswa, dan kepala sekolah sebagai

dukungan kebijakan.

b) PTK hendaknya bersifat antardisipliner, yaitu sedapat mungkin didukung oleh wawasan dan

pengalaman orang-orang dari bidang-bidang lain yang relevan, seperti ilmu jiwa, antropologi,

dan sosiologi serta budaya. Jadi Saudara dapat mencari masukan dari teman-teman guru atau

dosen LPTK yang relevan.

3. Diseminasi yang perlu dipertimbangkan dalam PTK kolaborasi

a) Bentuk pelaporan hasil penelitian tindakan ditentukan oleh audiens sasaran. Jika audiens

sasaran adalah guru di SD, misalnya, berbeda dengan jika audiens sasarannya adalah pendidik

guru di universitas.

b) Gunakan jaringan kerja dan mekanisme yang tersedia di dalam lembaga pendidikan saudara

untuk menyebarkan hasil penelitian terkait. Misalnya, penyebaran hasil penelitian dilakukan

lewat simposium guru, sarasehan MGMP, atau seminar daerah.

Kelebihan dan kelemahan PTK kolaborasi :

Proses penelitian kolaboratif memperkuat kesempatan bagi hasil penelitian tentang praktik

pendidikan sebagai umpan balik ke sistem pendidikan dengan cara yang lebih substansial dan kritis.

Proses tersebut mendorong guru untuk berbagi masalah-masalah umum dan bekerja sama sebagai

masyarakat penelitian untuk memeriksa asumsi, nilai dan keyakinan yang sedang mereka pegang

dalam kultur sosio-politik lembaga tempat mereka bekerja. Proses kelompok dan tekanan kolektif

kemungkinan besar akan mendorong keterbukaan terhadap perubahan kebijakan dan praktik.

Penelitian tindakan kolaboratif secara potensial lebih memberdayakan daripada penelitian tindakan

yang dilakukan secara individu karena menawarkan kerangka kerja yang mantab untuk perubahan

keseluruhan. Kelemahan terbesar PTK kolaboratif terkait dengan sulitnya mencapai keharmonisan

(14)

11

BAB II

SISTEMATIKA PROPOSAL PTK

PTK dilakukan untuk mengubah perilaku peneliti, sejawat dan murid saudara, atau mengubah kerangka kerja, proses pembelajaran, Singkatnya, PTK dilakukan untuk meningkatkan praktik

pembelajaran di kelas. Contoh-contoh bidang garapan PTK:

a) Metode mengajar, mengganti metode tradisional dengan penemuan;

b) Prosedur evaluasi, untuk meningkatkan metode dalam penilaian yang kontinyu.

c) Penanaman sikap dan nilai menjadi lebih positif terhadap aspek kehidupan yang berlaku dalam

masyarakat.

d) Pengembangan profesional guru untuk meningkatkan keterampilan mengajar, mengembangkan

metode mengajar yang baru, menambah kemampuan analisis, atau meningkatkan kesadaran diri

bahwa mengajar memerlukan profesionalisme.

e) Pengelolaan dan kontrol,bertahap pada teknik modifikasi perilaku.

f) Administrasi, menambah efisiensi aspek tertentu dari administrasi sekolah.

A. Judul

Judul penelitian tindakan kelas (PTK) hendaknya dinyatakan dengan akurat dan padat sebagai

system perlakuan sebagai bentuk tindakan yang dilakukan peneliti untuk memecahkan masalah.

Formulasi judul hendaknya singkat, jelas dan sederhana namun secara tersirat telah menampilkan

sosok PTK.

Latihan : Tulislah judul PTK yang saudara usulkan

………...……… ………...……… ………

Teliti apakah usulan judul PTK telah mencantumkan

a) Tujuan atau tindakan yang akan dilakukan

b) Cara menyelesaikan masalah (solusi)

c) Tempat penelitian dilaksanankan (seting)

d) Susunan kalimat jelas dan benar

B. Bidang Ilmu

Nyatakan bidang ilmu yang saudara ingin teliti, misalnya fisika jika penelitian berkaitan erat

(15)

12

C. Bidang Kajian

Nyatakan bidang kajian yang berkaitan dengan tindakan yang akan saudara lakukan sebagai

bentuk penyelesaian masalah diajukan. Misal pendidikan fisika, jika membahas tindakan yang

berkaitan dengan proses belajar mengajar fisika.

D. Latar Belakang Masalah

Seperti dalam jenis penelitian lain, langkah pertama dalam penelitian tindakan adalah

mengidentifikasi masalah merupakan langkah yang menentukan. Masalah yang akan diteliti harus

dirasakan dan diidentifikasi oleh peneliti sendiri bersama kolaborator meskipun dapat dengan bantuan

seorang fasilitator supaya mereka betul terlibat dalam proses penelitiannya. Masalahnya dapat berupa

kekurangan yang dirasakan dalam pengetahuan, keterampilan, sikap, etos kerja, kelancaran

komunikasi, kreativitas, dsb. Pada dasarnya, masalahnya berupa kesenjangan antara kenyataan dan

keadaan yang diinginkan.

Masalah yang diangkat hendaknya bersifat tematik dan dapat diidentifikasi dengan

pertolongan tabel dua arah, model Aristoteles. Misalnya dalam bidang pendidikan, ada empat sel lajur

dan kolom, sehubungan dengan anggapan bahwa ada empat komponen pokok yang ada (Schab, 1969)

yaitu: guru, siswa, bidang studi, dan lingkungan. Semua komponen tersebut berinteraksi dalam proses

belajar-mengajar, dan oleh karena itu dalam usaha memahami komponen tertentu peneliti perlu

memikirkan bubungan di antara komponen-komponen tersebut.

Kriteria dalam penentuan masalah:

1. Masalah harus penting bagi orang yang mengusulkannya dan sekaligus signifikan dilihat dari segi

pengembangan lembaga atau program;

2. Masalahnya hendaknya dalam jangkauan penanganan. Jangan sampai memilih masalah yang

memerlukan komitmen terlalu besar dari pihak para penelitinya dan waktunya terlalu lama.

3. Pernyataan masalahnya harus mengungkapkan beberapa dimensi fundamental mengenai penyebab

dan faktor, sehingga pemecahannya dapat dilakukan berdasarkan hal-hal fundamental ini daripada

berdasarkan fenomena dangkal.

Tabel 3.1. Pola Pelatihan SEQIP

Penataran SEQIP pada guru SD Jam 7 pagi, 15 Juni 2004,

guru SD duduk di meja yang telah disiapkan. Dosen memberi salam,

uru menjawab,

Dosen mengisi air pada bak transparan dengan air, guru SD

diminta mengamati tenggelam terapungnya berbagai jenis benda

dalam air : batu, gabus, karet, besi, kayu, plastic dan plastisin.

Dosen bertanya pada guru SD, simpulkan hasil pengamatan

(16)

13

terapungnya benda dalam air tergantung pada

1)

Berat benda

2)

Masa jenis

3)

Berat jenis

4)

Batu, gabus, karet, besi, kayu, plastic dan plastisin

Diskusi dipimpin dosen untuk konfirmasi jawaban 1 s/d 4 :

1)

Apakah yang dimaksud massa jenis ? jawab massa/volume

2)

Apakah yang dimaksud berat jenis ? jawab berat/volume

3)

Apakah kita menimbang benda ? jawab tidak

4)

Apakah kita membaca atau menyimpulkan ? jawab membaca Pikirkan kembali jawaban bapak/ibu, setelah beberapa waktu

sekitar 15 menit bapak/ibu guru dapat menyimpulkan : “tenggelam terapungnya suatu benda dalam air tegantung pada jenis benda”.

Dosen bertanya pada guru SD, ketika tadi saudara menjawab

pertanyan memerlukan waktu 15 menit, kira-kira berapa lama murid

saudara mejawab pertanyaan tadi ?.... guru terdiam ..ya lebih lama.

Tetapi ada jawaban guru yang dramatis ….”tidak ada 1 menit” karena hanya diberi ceramah metode “dektesion”…. Ha.haha…..

Akhirnya dosen berhasil menyadarkan guru SD “ diperlukan

perbaikan dalam proses belajar mengajar IPA di SD”

Masalah hendaknya diidentifikasi melalui proses refleksi dan evaluasi, yang dalam model

Kemmis dan Taggart disebut reconnaissance, terhadap data pengamatan awal. Masalah rendahnya

kualitas pembelajaran IPA di SD ditinjau dari tujuan mengembangkan keterampilan proses

pembelajaran IPA, diidentifikasi berdasarkan hasil pengamatan awal terhadap proses pembelajaran

IPA di kelas. Sebagai contoh, cuplikan proses pembelajaran bermasalah tersebut disajikan dalam

Tabel 3.1 :

Seperti dapat dilihat dalam Tabel 3.1, Dosen sebagai penatar telah melibatkan guru SD dalam

kegiatan penataran PBM IPA di SD. Meng-gunakan keterampilan proses. suasana terbuka setiap

peserta pe-nataran mendapatkan hak berbicara sehingga terjadi dialog profesional yang enak. Tentu

saja masalah yang ditemukan tidak mungkin hanya satu; biasanya ada sederet masalah. Maka, peneliti

bersama kolaborator-nya perlu membatasi masalah, atau menentukan fokus penelitian. Dalam kasus

pengajaran IPA pola SEQIP melibatkan DINAS, Kepalasekolah, guru SD induk dan SD imbas sebagai

kolaborator. Setelah ditentukan, masalah perlu dirumuskan.

Latar belakang masalah hendaknya menguraikan urgensi atau perlunya penanganan rmasalah

(17)

14

guru selama proses belajar mengajar (PBM) berlangsung maupun dari kajian pustaka dan atau hasil

penelitian sebelumnya sebagai dukungan yang akan lebih menguatkan argumentasi mengenai penting

serta signifikansi permasalahan yang akan ditangani melalui PTK yang diusulkan.

Karakteristik khas PTK yang diusulkan jadikan sesuatu yang sangat penting dan perlu

dilakukan, yakinkan bahwa proposal saudara berbeda dari penelitian yang telah dilakukan, hendaknya

peneliti mampu menguraikan keistimewaan PTK pada latar belakang masalah.

Beri uraian makna atau penjelasan kalimat yang digunakan dalam judul penelitian tindakan

kelas, sebagai sarana untuk menyatakan identifikasi masalah yang secara spesifik akan diselesaikan.

Latihan : Mencermati masalah

a) Kemukakanlah masalah atau kendala yang Anda hadapi ketika melaksanakan KBM fisika

berkaitan dengan penggunaan media, strategi, model, lingkungan belajar, sistem penilaian

.………...…

……… ……….

b) Pilihlah salah satu masalah yang menuntut Anda mendesak

………...… ……… …………..

c) Berikan alasan mengapa masalah tersebut penting untuk segera di carikan

pemecahannya!……… …………...……… ………

d) Analisislah penyebab munculnya masalah yang Anda rumuskan tersebut

………...… ……… …………..

e) Pilihlah salah satu pemecahan masalah yang paling urgent, bertolak dari hasil analisis dan

didasarkan pada TEORI tertentu.

………...… ……… …………..

E. Perumusan Masalah

Masalah penelitian tindakan yang merupakan kesenjangan antara keadaan nyata dan keadaan

yang diinginkan hendaknya dideskripsikan untuk dapat dirumuskan. Pada intinya, rumusan masalah

(18)

15

Latar belakang masalah biasanya mempunyai cakupan yang sangat luas, sehinga harus

diidentifikasi dan dibatasi agar mampu di angkat atau memperjelas masalah yang diusulkan untuk

ditangani me-lalui PTK, kemudian dijabarkan secara lebih rinci dalam kalimat tanya pada rumusan

masalah.

Masalah hendaknya benar–benar di angkat dari uraian latar belakang masalah yang ditemukan dari keseharian masalah di sekolah yang memang layak dan perlu diselesaikan melalui

PTK. Sebaliknya permasalahan yang dimaksud seyogyanya bukan permasalahan yang secara teknis

metodologik di luar jangkauan PTK.

Uraian permasalahan yang ada hendaknya didahului oleh identifikasi masalah, yang

dilanjutkan dengan analisis masalah serta diikuti dengan refleksi awal sehingga gambaran

permasalahan yang perlu di tangani itu nampak menjadi perumusan masalah nyata.

Tabel 3.2. Masalah dan Rumusan Masalah

No. Masalah Rumusan Masalah

1 Rendahnya kemampu an mahasiswa meng-ajukan pertanyaan kritis

Bagaimana melakukan tindakan pada mahasiswa semester V agar mampu bertanya secara kritis, bukan sekedar bersifat klarifikasi

2 Rendahnya keterlibat an siswa dlm proses pembelajaran Fisika

Apakah pola pembelajaran fisika ber-struktur ilmiah mampu mengubah ke-terlibatan siswa yg pasif menjadi aktif 3 Rendahnya kualitas

pengelolaan interaksi guru-siswa-siswa

Apakah metode diskusi berstruktur ilmiah mampu mengaktifkan interaksi guru-siswa-siswa

4 Rendahnya kemandiri an siswa belajar fisika di suatu SMA ?

Apakah pendekatan proses pada pem-belajaran fisika mampu meningkatkan kemandirian belajar fisika ?

Daftar pertanyaan dapat membantu peneliti dalam memahami situasi yang ada bersama

gejala-gejala yang perlu diteliti. Kemampuan untuk melihat kekurangan diri merupakan salah satu

persyaratan bagi keberhasilan penelitian tindakan kelas. Beri komentar tntang pernyataan dari Isaac

Newton seperti dikutip di bawah ini :

I don’t know what I may appear to the world, but to myself I seem to have been only a boy playing on the sea-shore, and diverting myself in now and again finding a smother pebble or

the prettier shell than ordinary, whilst the great ocean of truth lay all undiscovered before me. (

dalam Kemmis dan McTagart, 1988: 99)

(Saya tidak tahu bagaimana saya ini tampak di dunia, tetapi saya sendiri merasa hanyalah

seorang bocah laki-laki yang bermain di pantai, dan lari mondar-mandir ke segala arah dari

waktu ke waktu untuk menemukan batu kecil yang lebih halus atau kerang yang lebih cantik dari

(19)

16

Rumusan masalah harus dikunci secara jelas, hingga akan dapat memudahkan cara dan ukuran

keberhasilan tindakan yang dilakukan dalam penelitian.

Latihan merumuskan masalah :

a) Deskripsi rumusan masalah yang Anda hadapi

………...… ……… …………..

b) Apakah deskripsi masalah saudara telah :

o Disesuaikan dengan kondisi nyata tentang kendala yang di-hadapai sewaktu melaksanakan

KBM ?

o Memuat identifikasi satu masalah yang mendesak untuk segera dilaksanakan?

o Memuat hasil analisis masalah?

o Memuat tentang refleksi awal?

o Mengikuti aturan kalimat Tanya?

o Mencerminkan judul penelitian yang saudara ajukan

F. Cara Pemecahan Masalah

Cara Pemecahan Masalah (hipotesis tindakan) menjelaskan cara yang diajukan untuk

memecahkan masalah yang dihadapi, pilihan pemecahan yang diajukan hendaknya mempunyai

landasan konseptual yang mantap yang bertolak dari hasil analisis masalah. Harus menjelas-kan

tentang kemungkinan kemanfaatan hasil pemecahan masalah dalam rangka pembenahan dan atau

peningkatan implementasi program pem-belajaran dan atau berbagai program sekolah lainnya. Juga

harus di-cermati artikulasi kemanfaatan PTK yang lebih menekankan tindakan perbaikan

pembelajaran dalam kelas.

Hipotesis penelitian tindakan bukan hipotesis perbedaan atau hubungan, Rumusan hipotesis

tindakan memuat tindakan yang diusulkan untuk menghasilkan perbaikan yang diinginkan. Maka

untuk sampai pada pemilihan tindakan yang dianggap tepat, peneliti dapat mulai dengan menimbang

prosedur yang mungkin dapat dilaksanakan agar perbaikan yang diinginkan dapat dicapai sampai

menemukan prosedur tindakan yang dianggap paling tepat.

Tabel 3.3: Masalah, Rumusan Masalah dan Hipotesis Tindakan

N Masalah Rumusan Hipotesis Tindakan 1 Rendahnya

kemampuan mhs meng-ajukan per-tanyaan kritis

Bagaimana melakukan tindakan pada mhs agar mampu bertanya secara kritis, bukan sekedar bersifat klarifikasi

Bertanya secara kritis akan muncul dari mhs jika diberi tenggat waktu yg cukup untuk mengajukan

(20)

17

keterlibatan

siswa dlm proses pembe lajaran fisika

an fisika berstruktur ilmiah mampu meng-ubah keterlibatan siswa yg pasif menjadi aktif

berstruktur ilmiah mampu mengubah keterlibatan siswa yg pasif menjadi aktif

3 Rendahnya kualitas pengelolaan interaksi guru -siswa-siswa

Apakah metode diskusi berstruktur ilmiah mampu mengaktifkan interaksi guru-siswa-siswa

Metode diskusi berstruktur ilmiah mampu mengaktif-kan interaksi guru-siswa-siswa

4 Rendahnya kemandiri an siswa belajar fisika di suatu SMA ?

Apakah pendekatan proses pada pem-belajaran fisika mampu meningkatkan kemandiri an belajar fisika ?

Pendekatan proses pada pembelajaran fisika mampu meningkatkan kemandirian belajar fisika ?

Dalam menimbang berbagai prosedur sebaiknya peneliti mencari masukan dari sejawat atau

orang yang peduli lainnya dan mencari ilham dari teori atau hasil penelitian yang telah ditinjau

sebelumnya sehingga rumusan hipotesis akan lebih tepat. Lihat tabel 3.3

Contoh lain dari hipotesis tindakan :

Situasi kelas yang mempunyai siswa sangat lamban dalam memahami bacaan. Berdasarkan

analisis masalah peneliti menyimpulkan bahwa siswa memiliki kebiasaan membaca yang salah dalam

memahami makna bahan bacaannya, dan bahwa ‘kesiapan pengalaman’ untuk memahami konteks

perlu ditingkatkan.

Maka hipotesis tindakannya sebagai berikut : “Bila kebiasaan membaca yang salah dibetulkan

lewat teknik perbaikan yang tepat dan ‘kesiapan pengalaman’ untuk memahami konteks bacaan

ditingkatkan, maka para siswa akan meningkat pula kecepatan membacanya.

Apabila setelah dilaksanakan tindakan yang direncanakan dan telah diamati, hipotesis

tindakan ini ternyata meleset dalam arti pengaruh tindakan belum seperti yang diinginkan, peneliti

harus merumuskan hipotesis tindakan yang baru untuk putaran penelitian tindakan berikutnya.

Dengan demikian, dalam suatu putaran spiral penelitian tindakan, peneliti merumuskan

hipotesis, dan pada putaran berikutnya merumuskan hipotesis yang lain, dan putaran berikutnya lagi

merumuskan hipotesis yang lain lagi ... begitu seterusnya, sehingga pelaksanaan tugas terus meningkat

kualitasnya.

Latihan Cara Memecahkan Masalah :

a) Deskripsikan tentang cara pemecahan masalah yang Anda ajukan

………...… ……….. .…………

b) Apakah pemecahan masalah yang diajukan memenuhi rambu :

(21)

18

o Apakah pilihan pemecahan masalah berdasarkan teori tertentu?

o Apakah pilihan pemecahan masalah bertolak dari hasil analisis?

G. Tujuan Penelitian Dan Manfaat Penelitian

Tujuan PTK hendaknya dirumuskan secara jelas.paparkan sasaran antara dan akhir tindakan

perbaikan.perumusan tujuan harus konsisten dengan hakekat permasalahan yang dikemukakan dalam

bagian – bagian sebelumnya. Dengan sendirinya,artikulasi tujuan PTK berbeda dari tujuan formal.

Sebagai contoh dapat dikemukakan PTK di bidang IPA yang bertujuan meningkatkan prestasi siswa

dalam mata pelajaran IPA melalaui penerapan strategi PBM yang baru, pemanfaatan lingkungan

sebagai sumber belajar mengajar dan sebagainya. Pengujian dan/atau pengembangan strategi PBM

baru bukan merupakan rumusan tujuan PTK. Selanjutnya ketercapaian tujuan hendaknya dapat

diverfikasi secara obyektif.Syukur apabila juga dapat dikuantifikasikan.

Disamping tujuan PTK, juga perlu diuraikan kemungkinan kemanfaatan penelitian. Dalam

hubungan ini, perlu dipaparkan secara spesifik keuntungan – keuntungan yang dijanjikan, khususnya

bagi siswa sebagai pewaris langsung (direct beneficiaries) hasil PTK, di samping bagi guru pelaksana

PTK, bagi rekan – rekan guru lainnya serta bagi para dosen LPTK sebagai pendidik guru. Berbeda dari

konteks penelitian formal, kemanfaatan bagi pengembangan ilmu. Teknologi dan seni tidak

merupakan prioritas dalam konteks PTK, meskipun kemungkinan kehadirannya tidak ditolak.

H. Kerangka Teoretik Dan Hipotesis Tindakan

Karena penelitian tindakan merupakan kegiatan akademik dan profesional, seorang peneliti

perlu mencari wawasan teoretis dari pustaka yang relevan untuk dapat menentukan cara-cara yang

akan digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitiannya. Pustaka yang ditinjau hendaknya

mencakup teori-teori dan hasil penelitian yang relevan. Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa teori

dalam penelitian tindakan bukan untuk diuji, melainkan untuk menuntun peneliti dalam membuat

keputusan-keputusan selama proses penelitian berlangsung. Wawasan teoretis sangat mendukung

proses analisis masalah. Pada akhir tinjauan pustaka, peneliti tindakan dapat mengajukan hipotesis

tindakan atau pertanyaan penelitian.

Pada bagian ini diuraikan landasan substantive dalam arti teoritik dan/atau metodologik yang

dipergunakan peneliti dalam menentukan alternative, yang akan diimplementasikan. Untuk keperluan

itu, dalam bagian ini diuraikan kajian baik pengalaman peneliti pelakju PTK sendiri nyang relevan

maupun pelaku – pelaku PTK lain disamping terhadap teori – teori yang lazim termuat dalam berbagai

kepustakaan. Argumentasi logic dan teoretik diperlukan guna menyusun kerangka konseptual. Aras

kerangka konseptual yang disusun itu, hipotesis tindakan dirumuskan.

Latihan Menyebutkan kajian Pustaka :

(22)

19

……… ……… ………

b) Apakah kajian pustaka :

o

Disusun menurut urutan abjad pengarang,

o

Relevan dan dipergunakan dalam penelitian.

o

Hasil unduhan dari dunia maya

I. Rencana Penelitian 1. Setting Penelitian

Sebutkan tempat penelitian, kelas berapa, karakteristik dari kelas seperti komposisi siswa pria dan

wanita. Latar belakang sosial ekonomi yang mungkin relevan dengan permasalahan,tingkat

ke-mampuan dan lain sebagainya. Aspek substantive permasalahan seperti fisika kelas X SMA atau

IPA kelas IX SMP juga dikemukakan pada bagian ini.

2. Variabel yang diselidiki

Tentukan variabel penelitian yang dijadikan titik incar untuk men-jawab permasalahan yang

dihadapi. Variabel tersebut dapat berupa

a) Variabel input terkait dengan siswa, guru, bahan ajar, sumber belajar, prosedur evaluasi,

lingkungan belajar, dan lain sebagainya;

b) Variabel proses pelanggaran KBM seperti interaksi belajar mengajar, keterampilan bertanya,

guru, gaya mengajar guru, cara belajar siswa, implementasi berbagai metode mengajar di

kelas, dan sebagainya,

c) Varaibel output seperti rasa keingintahuan siswa, kemampuan siswa mengaplikasikan

pengetahuan, motivasi siswa, hasil belajar siswa, sikap terhadap pengalaman belajar yang

telah digelar melalui tindakan perbaikan dan sebagainya.

3. Rencana Tindakan

Gambarkan rencana tindakan untuk meningkatkan pembelajaran :

a) Perencanaan, yaitu persiapan yang dilakukan sehubungan dengan PTK yang diprakarsai

seperti penetapan entry behavior. Pelancaran tes diagnostic untuk menspesifikasi masalah.

Pembuatan scenario pembelajaran, pengadaan alat dalam rangka implementasi PTK, dan lain

lain yang terkait dengan pelaksana-an tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Uraikan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya, diuraikan alternative solusi yang akan

dicobakan dalam rangka perbaikan masalah. Format kemitraan antara guru dengan dosen

LPTK juga dikemukakan pada bagian ini.

b) Implementasi Tindakan yaitu deskripsi tindakan yang akan di gelar. Scenario kerja tindakan

(23)

20

c) Observasi dan Interpretasi yaitu uraian tentang prosedur perekaman dan penafsiran data

mengenai proses dan produk dari implementasi tindakan perbaikan yang dirancang.

d) Analisis dan Refleksi yaitu uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil pemantauan dan

refleksi berkenaan dengan proses dan dampak tindakan perbaikan yang akan digelar, personel

yang akan dilibatkan serta kriteria dan rencana bagi tindakan daur berikutnya.

4. Data dan cara pengumpalannya

Tunjukkan dengan jelas jenis data yang akan dikumpulkan yang berkenaan dengan baik proses

maupun dampak tindakan per-baikan yang di gelar, yang akan digunakan sebagai dasar untuk

menilai keberhasilan atau kekurang berhasilan tindakan perbaik -an pembelajaran yang

dicobakan. Format data dapat bersifat kualitatif, kuantitatif, atau kombinasi keduanya.

Teknik pengumpulan data yang diperlukan juga harus diuraikan dengan jelas seperti melalui

pengamatan partisipatif, pembuatan juranal harian, observasi aktivitas di kelas termasuk

berbagai kemungkinan format dan alat bantu rekam yang akan digunakan, penggambaran

interaksi dalam kelas atau analisis sosiometrik, pengukuran hasil belajar dengan berbagai

prosedur asesmen dan sebagainya.selanjutnya dalam prosedur pengumpulan data PTK ini

tidak boleh dilupakan bahwa sebagai pelaku PTK, Para guru juga harus aktif sebagai

pengumoul data, bukan semata – mata sebagai sumber data.

Akhirnya semua teknologi pengumpulan data yang digunakan harus mendapat penilaian

kelaikan yang cermat dalam konteks PTK yang khas itu. Sebab meskipun mungkin saja

memang menjanjikan mutu rekaman yang jauh lebih baik. Penggunaan teknologi perekaman

data yang canggih dapat saja terganjal keras pada tahap tayang ulang dalam rangka analisis

dan interpretasi data.

5. Indikator Kinerja

Keberhasilan tindakan perbaikan ditetapkan secara eksplisit sehingga memudahkan

verifikasinya untuk tindak perbaikan melalui PTK yang bertujuan mengurangi salah konsep

siswa.

Misal perlu ditetapkan kriteria keberhasilan dalam bentuk pe-ngurangan jumlah jenis dan atau

tingkat kegawatan dari mis-konsepsi yang tertampilkan yang patut diduga sebagai dampak

dari implementasi tindakan perbaikan yang dimaksud.

Latihan Membuat Rencana Penelitian :

a)

Seting penelitian

………

………

………

b)

Apakah seting penelitian telah berisi tentang

o

Lokasi sekolah,

(24)

21

o

Jumlah siswa,

o

Komposisi siswa,

o

Situasi lingkungan siswa,

o

Lama penelitian dilakukan (sebutkan antara waktu)

c)

Indikator keberhasilan;

………

………

d)

Apakah indikator keberhasilan

o

yang menjadi acuan keberhasilan dalam setiap tindakan,

o

berupa gradasi seperti : 80-100 : A, 60-79 : B, 40-59 : C, 20- 39 : D, 0-19 : E

o

Kalau kemampuan kognitif yang diukur angka Kriteria Ketuntasan Minimal bisa

dijadikan sebagai acuan,

e)

Gambaran umum penelitian (siklus tindakan);

………

………

f)

Apakah tindakan tiap siklusnya berupa kegiatan :

o

Perencanaan,

o

Pelaksanaan,

o

Pengamatan

o

Refleksi, refleksi pada siklus pertama bisa dijadikan acuan untuk perencanaan

tindakan pada siklus kedua dan seterusnya.

g)

Instrumen yang digunakan,

………

………

h)

Apakah instrument yang digunakan menunjukkan adanya

o

Pedoman observasi,

o

Format observasi,

o

Alat perekam,

o

Pelaksana observasi

J. Jadwal Penelitian

Jadwal kegiatan penelitian disusun dalam matriks yang menggambarkan urutan kegiatan dari

awal sampai akhir.

K. Tim Peneliti Dan Tugasnya

Cantumkan nama ketua dan anggota tim peneliti dan uraian tugas peran setiap anggota tim

peneliti serta jam kerja yang dialokasikan setiap minggu untuk kegiatan penelitian.

L. Rencana Anggaran 1. Komponen Pembiayaan

Rencana anggaran meliputi kebutuhan dukungan financial untuk tahap persiapan pelaksanan

(25)

22

Secara lebih rinci, pembiayaan yang termasuk dalam setiap bidang adalah sebagai berikut :

a) Persiapan

Kegiatan persiapan antara lain meliputi pertemuan anggota tim peneliti untuk menetapkan

jadwal penelitian dan pembagian kerja, menyusun instrument penelitian, menetapkan format

pengumpulan data, menetapkan teknik analisis data, dan sebagainya.

b) Kegiatan operasional di lapangan

Dalam kegiatan operasional dapat tercakup antara lain pelancaran tes diagnostic dan analisis

hasilnya, gladi resik implementasi tindakan, perbaikan, pelaksanaan tindakan perbaikan,

observasi dan interpretasi pelaksanaan tindakan perbaikan, pertemuan refleksi, perencanaan

tindakan ulang, dan sebagainya.

c) Penyusunan Laporan Hasil PTK

Pembiayaan yang termasuk dalam bagian ini adalah penyusunan konsep laporan, review

konsep laporan, penyusunan konsep laporan akhir. Seminar local hasil penelitian, seminar

nasional hasil penelitian, dan sebagainya. Juga termasuk dalam pembiayaan adalah

penggandaan dan pengiriman laporan hasil PTK, serta pembuatan artikel hasil PTK dalm

bahasa Indonesia dan bahasa Inggris

d) Cara Merinci Kegiatan dan Pembiayaan

Biaya penelitian harus dirinci berdasarkan kegiatan operasional yang dijabarkan dari

metodologi yang dikemukakan. Agar dapat dihitung biayanya, kegiatan operasional itu harus

jelas namanya, tempatnya, lamanya, jumlah pesertanya. Sarana yang diperlukan dan output

yang diharapkan. Patokan pembiayaan satuan kegiatan PTK

o Honorarium

1) Ketua Peneliti

2) Anggota tim peneliti

3) Tenaga Administrasi

4) Besarnya honorarium tergantung sumber pandanaan

o Bahan dan Peralatan penelitian

1) Bahan habis pakai

2) Alat habis

3) Sewa alat

o Perjalanan

1) Biaya perjalanan sesuai dengan ketentuan

2) Transportasi local sesuai harga setempat

3) Lumpsum termasuk konsumsi sesuai dengan ketentuan

4) Monitoring dari PGSM minimal untuk satu orang, satu kali, selama dua hari

(26)

23

o Laporan Penelitian

1) Penggandaan

2) Penyusuinan artikel berbahasa Indonesia dan inggris

3) Pengiriman

o Seminar

1) Seminar lokal, konsumsi sesuai harga setempat, biaya penyelenggaraan sesuai dengan

harga setempat

2) Seminar nasionala minimal untuk dua orang (satu dosen LPTK dan satu guru pelaku

PTK)

M. Daftar Pustaka

Daftar pustaka disusun menurut urutan abjad pengarang . hendaknya pustaka benar – benar

relevan dan sungguh – sungguh dipergunakan dalam penelitian.

N. Lampiran

Bagian lampiran dapat berisi curriculum vitae ketua dan para anggota tim inti yang memuat

identitas ketua anggota tim peneliti, riwayat pendidikan, pelatihan di bidang penelitian yang telah

pernah diikuti, baik sebagai penatar/pelatih maupun sebagai peserta, dan pengalaman dalam penelitian

termasuk di PTK.

Lampirkan pula sesuatu yang dapat memperjelas karakteristik pelaksanaan PTK yang

diusulkan, missal dapat berupa struktur atau format pembelajaran, cara pengamatan, model penilaian

(27)

24

BAB III

CONTOH PENELITIAN TINDAKAN KELAS

A. Judul Penelitian :

Peningkatan Kualitas Kuliah Micro Teaching Di Program Fisika Yang Memenuhi Struktur

Pembelajaran Ilmiah

B. Bidang Ilmu : Pendidikan Fisika

C. Bidang Kajian

Masalah pembelajaran “Micro Teaching”, yang berkaitan dengan pendekatan dan metode mengajar Fisika yang memenuhi kaidah pembelajaran ilmiah.

D. Latar Belakang Penelitian

Sejalan dengan visi, misi dan tujuan Universitas, maka visi, misi dan tujuan, serta strategi dan

priorinitas yang dipilih oleh Program P.Fisika mengembangkan visi dan misi fakultas (FKIP) sebagai

berikut:

Visi P.Fisika ialah : Menyiapkan tenaga kependidikan khususnya adalah guru P. Fisika plus

(tidak hanya mampu menjadi guru) yang mampu bersaing baik di tingkat regional maupun nasional

serta senantiasa berusaha meningkatkan kualitas lulusannya sehingga mampu mengantisipasi

perkembangan tuntutan masyarakat dalam era globalisasi ini. Sedang salah satu misinya ialah :

Menghasilkan tenaga kependidikan (guru) P.Fisika yang profesional, sebagai tenaga kependidikan

(guru) Sekolah Menengah yang profesional khusus nya dalam bidang P.Fisika sehingga mampu

mengantisipasi perkembangan IPTEK di era global.

Kekuatan yang dimiliki jurusan PMIPA saat ini ialah dengan berhasil meraih program Hibah

A1 yang diikuti oleh Prodi Fisika, Matematika dan Kimia sehingga dapat digunakan untuk

memperbaiki ruang “micro teaching” dan perlengkapannya.

Meskipun rerata nilai PPL tinggi ialah 3,0 belum mencerminkan kemampuan yang

sesungguhnya, masih terbatas pada retorika batas kelulusan. Pencerminan kemampuan tersebut dapat

dilihat secara jelas saat mahasiswa praktek mengajar di kelas ditunggu oleh dosen pembimbing, Tidak

nampak struktur dan proses pembelajaran secara ilmiah; Prof Walter Klinger Phd (Erzeihungswiss

Fakultat der Universitat Erlangen Nurnberg 1997) Pengajaran harus distrukturkan sedemikian rupa

hingga para siswa mampu memahami, mengingat dan mengaplikasikan materi yang diajarkan. Untuk

memenuhi persyaratan tersebut jam pelajaran harus diberi struktur dengan 8 struktur utama ialah

motivasi (1), penjabaran masalah (2) ,penyusunan opini (3),perencanaan dan konstruksi (4), percobaan

(28)

25

Karena program P.Fisika akan mendidik colon guru fisika di Sekolah Lanjutan yang menuntut

model pembelajaran secara ilmiah maka perlu mengkaji ulang Standar Operasi Pelaksanaan (SOP)

“micro teaching” yang sesuai kaidah pembelajaran ilmiah.

Sikap jujur, obyektif, tak kenal lelah dan proses urutan kerja secara sistematis, rasional dapat

dipertanggung jawabkan, diuji ulang kebenarannya dengan hasil yang tetap valid dan reliabel

merupakan ciri Fisika sebagai produk pengetahuan yang benar dan dapat diandalkan karena

merupakan pengetahuan yang diperoleh dengan metode ilmiah. Tetapi dalam kegiatan belajar

mengajar fisika proses ilmiah belum dilaksanakan secara benar, salah satu kelemahan karena dosen

bukan merupakan model pelaksana metode pembelajaran yang baik.

Jamzuri (2006), pembuatan Standar Operasi Pelaksanaan (SOP) “Micro Teaching”

menemukan beberapa contoh kesulitan mahasiswa dalam memenuhi sturuktur pembelajaran ilmiah

dan kesulitan dosen sebagai model pembelajaran pada kuliah “micro teaching” .

Contoh 1, Tarik kesimpulan data pada tabel 1 :

Tabel 1. Data Pengamatan Tenggelam Terapungnya suatu Benda

No

Jenis Benda

Keadaan benda Di Air Kesalahan Dalam Menarik Kesimpulan Tenggelam Terapung

(1) (2) (3) (4) (5)

1 Besi V Tenggelam terapungnya suatu benda dlm air tergantung pada

o

Beratbenda...20 %

o

Berat jenis benda...0 %

o

Volume benda...10 % 2 Kaca V

3 Kayu V

4 Gabus V

5 Batu V

Kesalahan mahasiswa dalam menarik kesimpulan tabel 1, dapat dibenar -kan dalam waktu sekitar 10

menit setelah mahahasiswa ditanya tentang :

Apakah saudara menimbang berat dan mengukur volume benda ? Sehingga mahasiswa sadar bahwa ia

tidak menyimpulkan berdasarkan data yang ada. Akhirnya disimpulkan secara benar bahwa

Tenggelam terapungnya suatu benda dalam air tergantung pada jenis benda.

Contoh 2, ketika dosen menjelaskan metode “bermain peran” dosen tidak melaksanakan

secara benar, tetapi umumnya dosen bercerita tentang metode bermain peran, bukan melaksanakan

metode “bermain peran” saat kuliahnya. Dalam melaksanakan metode demonstrasi dosen lebih

berperan dalam ceramahnya.

Berdasarkan contoh menarik kesimpulan dan penerapan metode mengajar tersebut dapat

dinyatakan bahwa diperlukan Peningkatan Kualitas Kuliah Micro Teaching Di Program Fisika Yang

Memenuhi Kaidah Nilai Pembelajaran Ilmiah menjadi bagian yang perlu dilakukan.

Tindakan yang diperlukan meliputi Penjelasan 8 Struktur pem-belajaran dan aplikasi

Pembelajaran Ilmiah dalam “Micro Teaching” Salah satu indikator yang terkait kuat dengan

keberhasilan mencetak guru fisika yang profesional adalah kegiatan“micro teaching“ sebagai kesiapan

(29)

26

Penelitian untuk Peningkatan Kualitas Pembelajaran (PPKP) yang berjudul Peningkatan Kualitas

Kuliah Micro Teaching Di Program Fisika Yang Memenuhi Struktur Pembelajaran Ilmiah menjadi

bagian yang sangat perlu dilakukan.

E. Rumusan Masalah

1. Apakah tindakan yang dilakukan agar kuliah “micro teaching” di P.Fisika dapat memenuhi

struktur pembelajaran ilmiah ?

2. Bagaimana model pembimbingan agar kuliah “micro teaching” di P.Fisika dapat memenuhi struktur pembelajaran ilmiah ?

3. Bagaimana bentuk evaluasi agar kuliah “micro teaching” di P.Fisika dapat memenuhi Struktur

pembelajaran ilmiah ?

F. Cara Memecahkan Masalah

1. Apakah tindakan yang dilakukan agar kuliah “micro teaching” di P.Fisika dapat memenuhi struktur pembelajaran ilmiah ?

Untuk menjawab masalah pertama dilakukan tindakan :

a) Diadakan pelatihan dosen model sebagai pembimbing praktek oleh konsultan.

b) Dibentuk kelompok yang terdiri dari 3 s/d 12 mahasiswa dipimpin oleh 1 pembimbing

2. Bagaimana model pembimbingan agar kuliah “micro teaching” di P.Fisika dapat memenuhi

struktur pembelajaran ilmiah ?

Untuk menjawab masalah kedua dilakukan tindakan berupa :

a) Dosen model memberi contoh model pembelajaran dengan struktur pembelajaran ilmiah.

b) Dilakukan model refleksi 1 mahasiswa praktek mengajar, 3 mahasiswa sebagai pengamat

c) Pembimbing mengevaluasi refleksi mahasiswa.

3. Bagaimana bentuk evaluasi agar kuliah “micro teaching” di P.Fisika dapat memenuhi

Struktur pembelajaran ilmiah ?

Untuk menjawab masalah ketiga dilakukan tindakan berupa :

a) Menyusun Format pengamatan pembelajaran ilmiah

b) Menyusun petunjuk pengisian format pembelajaran ilmiah

Langkah penyelesaian masalah dirinci pada metodologi penelitian

G. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah Apakah tindakan yang dilakukan, bagaimana model

pembimbingan dan bagaimana bentuk evaluasi agar kuliah “micro teaching” di P.Fisika dapat

(30)

27

1. Melakukan tindakan kuliah “micro teaching” di P.Fisika untuk memenuhi struktur pembelajaran

ilmiah ?

2. Membuat model pembimbingan agar kuliah “micro teaching” di P.Fisika yang memenuhi struktur

pembelajaran ilmiah ?

3. Membuat bentuk evaluasi kuliah “micro teaching” di P.Fisika yang memenuhi Struktur pembelajaran ilmiah ?

H. Manfaat Penelitian

1. Menumbuhkembangkan sikap ilmiah dan menerapkan prosedur ilmiah dalam pembelajaran fisika.

2. Meningkatkan mutu pembelajaran “micro teaching”.

3. Meningkatkan kerjasama antar dosen dan dosen dengan mahasiswa dalam memecahkan masalah

pembelajaran “micro teaching”

4. Mempersiapkan mahasiswa mengikuti PPL di Sekolah Lanjutan.

I. Kerangka Teoretik Dan Hipotesis Tindakan 1. Reflective Teaching

Prof Dr Joko Nurkamto ( FKIP UNS ) dalam pengukuhan guru besar mengemukakan

pendapatnya, Pengembangan Profesionalisme Guru Melalui Reflective Teaching Guru merupakan

ujung tombak pelaksanaan pendidikan karena gurulah yang secara langsung memimpin kegiatan

belajar-mengajar di dalam kelas, yang menjadi inti kegiatan pendidikan. Guru menjadi orang pertama

yang bertanggung jawab atas kualitas pendidikan di sekolah.

Karena perannya yang sangat penting, guru dituntut memiliki profesionalisme yang tinggi

dalam melaksanakan tugasnya. Guru yang profesional adalah guru yang mampu: (1) merencanakan

program belajar-mengajar, (2) melaksanakan dan memimpin kegiatan belajar-mengajar, (3) menilai

kemajuan kegiatan belajar-mengajar, dan (4) menafsirkan serta memanfaatkan hasil penilaian

kemajuan belajar-mengajar dan informasi lainnya untuk melakukan kegiatan tindak lanjut (Soedijarto,

1993). Keempat gugus kemampuan tersebut dianggap sebagai kemampuan profesional karena

memerlukan cara kerja yang tidak mekanistik dan memerlukan penguasaan dasar-dasar pengetahuan

yang kuat terhadap pelaksanaan pekerjaan dan cara kerja dengan dukungan cara berpikir yang

kreatifdan imajinatif.

Karakteristik profesionalisme guru dituntut guru untuk secara terus menerus memikirkan

secara reflektif apa yang telah, sedang, dan akan dikerjakannya di dalam kelas (Raka Joni, 1992).

Inilah yang kemudian lazim dikenal sebagai pengajaran reflektif Makna pengajaran reflektif dapat

disimpulkan dari pendapat John Dewey (dalam Henke, 2001: 1) yang mendefinisikan refleksi sebagai

"that which involves active, persistent, and careful consideration of any belief or practice in light of

the reasons that support it and the further consequences to which it leads". Apabila diterapkan dalam

pengajaran, maka diperoleh pengertian bahwa pengajaran reflektif adalah penggunaan kesempatan

(31)

28

membingkai kembali praktek pengajarannya secara holistik untuk dapat membuat interpretasi secara

benar berdasarkan keadaan di lapangan dan kemudian dapat menentukan pilihan yang tepat untuk

memperbaiki kinerjanya.

Untuk dapat melakukan pengajaran reflektif tersebut guru perlu memiliki kesadaran akan

praktek pengajarannya dan kesediaannya untuk berubah ke arah yang lebih baik. Sehingga melahirkan

keterbukaan (open-mindedness), keterlibatan secara penuh (hole-heartedness), dan tanggung jawab

(responsibility) (Dewey, 1996).

Pengajaran reflektif memiliki empat langkah yang terkait satu sama lain, yaitu deskripsi,

analisis, eksplanasi, dan refleksi. Deskripsi berarti menggambarkan peristiwa kegiatan

belajar-mengajar di dalam kelas sebagaimana adanya; dapat dilakukan melalui teknik rekaman videotapes,

rekaman audiotapes, dan deskripsi tertulis. Analisis adalah suatu pemecahan masalah yang melibatkan

guru melakukan pengujian terhadap apa yang efektif

Gambar

Tabel 3.2. Masalah dan Rumusan Masalah
Tabel 1. Data Pengamatan Tenggelam Terapungnya suatu Benda
Gambar 1. Keterkaian Struktur Pembelajaran Ilmiah dan Micro Teaching
tabel 2 3. Menjadi model yang tampil sebagai contoh guru di depan
+3

Referensi

Dokumen terkait

4.5 Menggunakan media pembelajaran dan sumber belajar yang relevan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran yang diampu untuk mencapai tujuan pembelajaran secara

Pengumpulan data menggunakan format observasi penilaian yang sudah disusun, serta pengamatan secara cermat pelaksanaan skenario dari waktu ke waktu serta dampaknya terhadap proses

4) rumusan indikator pencapaian kompetensi sesuai dengan kompetensi dasar; 5) rumusan tujuan pembelajaran sesuai dengan indikator; 6) kasus yang diberikan relevan

Berdasarkan hasil analisis kualitatif terhadap jawaban siswa saat tes tertulis maupun tes wawancara disimpulkan (1) ada konsepsi paralel yang terjadi pada mahasiswa dengan

Terampil jika menunjukkan sudah ada usaha untuk menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan pengukuran

“ Instrumen penelitian adalah pedoman tertulis tentang wawancara atau pengamatan, daftar pernyataan yang telah dipersiapkan untuk mendapatkan informasi dari

Berdasarkan tugas-tugas yang diberikan selanjutnya guru melakukan evaluasi dengan cara pengamatan observasi berdasarkan pedoman observasi untuk mengamati aktivitas belajar

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar validasi perangkat pembelajaran, kuesioner evaluasi ahli media, evaluasi ahli materi, instrumen aktivitas