• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Kadar Tsh Dengan Maturitas Dan Umur Pascanatal Pada Masa Neonatal Dini.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Hubungan Kadar Tsh Dengan Maturitas Dan Umur Pascanatal Pada Masa Neonatal Dini."

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh:

Nia Kania*, Dedi Subardja, Sjarif Hidajat Effendi, Diet S. Rustama**

*Bagian Biologi Medik Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

**Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Perjan RS Dr. Hasan Sadikin, Bandung

Jl., Pasteur No.38, Bandung. 40161. Telepon: (022) 2034426

(2)

ABSTRAK

Profil fungsi tiroid pada masa neonatal dini dipengaruhi oleh maturitas dan umur pascanatal saat pengambilan spesimen. Keadaan ini akan mempengaruhi interpretasi hasil uji tapis hipotiroid kongenital yang telah dilakukan di beberapa daerah di Jawa Barat sebagai bagian program pendahuluan uji tapis nasional. Di Indonesia data mengenai fungsi tiroid pada masa neonatal dini yang sudah dipublikasikan masih kurang, peneliti bermaksud untuk meneliti fungsi tiroid pada masa neonatal dini dengan menganalisis kadar thyroid stimulating hormone (TSH) hasil program uji tapis hipotiroid kongenital selama tahun 2003 dan mencoba mencari hubungannya dengan maturitas dan umur pascanatal. Data kadar TSH diambil secara retrospektif dari rekam medis Bagian Ilmu Kesehatan Anak Perjan RS. Dr. Hasan Sadikin Bandung. Subjek yang diteliti adalah bayi sehat, dibagi menurut maturitas yaitu bayi kurang bulan (BKB) dan bayi cukup bulan (BCB) dan menurut umur pascanatal yaitu  2 hari dan > 2 hari. Kadar TSH dikelompokkan dengan menggunakan nilai cut off dari WHO menjadi kadar TSH normal ( 20 mU/L) dan abnormal (> 20 mU/L); nilai kadar TSH abnormal diidentifikasi pada tiap kelompok. Perbedaan kadar TSH tiap kelompok dianalisis dengan uji t dan two way anova. Dari 829 bayi yang diteliti diperoleh 72 (8,7%) BKB dan 757 (91,3%) BCB. Umur pascanatal saat pengambilan spesimen pada BKB 52,8% diambil umur > 2 hari; sedangkan pada BCB 67,2% diambil umur  2 hari. Ditemukan 9 (1,1%) bayi dengan kadar TSH abnormal pada kelompok BCB, tetapi 8 bayi diantaranya dilakukan uji tapis pada umur pascanatal  2 hari. Pada pemantauan selanjutnya hasil pemeriksaan kadar TSH ulang 9 bayi menjadi normal, yang menunjukkan hasil positif palsu pada pemeriksaan pertama. Kadar TSH rata-rata pada BKB adalah 4,87 (SB 4,10) mU/L dan pada BCB 6,92 (SB 5,47) mU/L (t = -3,92; p = 0,001). Kadar TSH rata-rata umur pascanatal  2 hari adalah 8,01  6,00 mU/L dan pada umur > 2 hari 4,62  4,60 mU/L (t = 9,10; p = 0,001). Analisis two way anova menunjukkan tidak ada interaksi antara maturitas dan umur pascanatal terhadap kadar TSH (F=1,19; p =0,276). Kadar TSH berhubungan dengan maturitas dan umur pascanatal. Lebih matur bayi, kadar TSH lebih rendah dan lebih awal uji tapis dilakukan, kadar TSH lebih tinggi. Peluang nilai kadar TSH abnormal lebih banyak ditemukan pada kelompok umur pascanatal  2 hari.

(3)

ABSTRACT

Thyroid function profile during early neonatal period is affected by maturity and postnatal age when the blood specimen was taken. This condition will affect the interpretation the results of the screening test for congenital hypothyroidism which has been conducted in some areas of West Java as part of a national pilot study. We lack of published data on early neonatal thyroid function. We intend to study the thyroid function based on serum TSH level in early neonates by analyzing the data of TSH level obtained through “congenital hypothyroidism screening program” in the year 2003 with its association with maturity and postnatal age. The data of TSH level were obtained retrospectively from Department of Child Health Hasan Sadikin Hospital Bandung medical records. Subjects were healthy infants grouped according to their maturity into preterm and term infants, and according to their postnatal age when the blood specimen was taken at 2 days or less and after 2 days. Using cut off point from WHO, results of TSH level were classified into normal (≤ 20 mU/L) and abnormal (> 20 mU/L); abnormal TSH level were identified in each group. Differerence of TSH level between groups were analyzed by t-test and two-way anova methods. Of the 829 infants studied, 72 (8.7%) were preterm and 757 (91.3%) were term infants. In the 52.8% preterm infants, blood sample were drawn at after 2 days, whereas 67.2% term infants were 2 days or less. All nine infants (1.1%) with abnormal TSH level were term, but eight of them were screened at the age before or days. Further evaluation showed that their TSH level were eventually found to be normal, confirming false positive result at first. The mean TSH level of preterm infants was 4.87 (SD 4.10) mU/L, while in the term infants was 6.92 (SD 5.47) mU/L (t = -3.92; p = 0.001). The mean TSH level in 2 days or less was 8.01 (SD 6.00) mU/L and for after 2 days 4.62 ± 4.60 (t = 9.10; p = 0.001). Two way anova analysis showed no interaction between maturity and postnatal age on the level of TSH (F = 1.19; p = 0.276). Level of serum TSH is associated with maturity and postnatal age. The more mature the neonates the lower the TSH level was and the earlier the blood screening was done the higher the TSH level was.There are more abnormal value of serum TSH level found when screening performed at before or days 2.

(4)

PENDAHULUAN

Profil fungsi tiroid pada masa neonatal dini dipengaruhi oleh umur gestasi

terutama maturitas dan umur pascanatal saat pengambilan spesimen. Pada janin

sistem umpan balik negatif hipotalamus-hipofise ini mulai berfungsi pada

pertengahan masa kehamilan dan menjadi matang pada bayi cukup bulan disaat

lahir.1-3 Perubahan fisiologi tiroid yang bermakna terjadi pada saat bayi lahir cukup

bulan. Satu perubahan yang paling dramatis terjadi kenaikan kadar TSH serum dalam

30 menit setelah lahir.3-5 Kadar TSH serum menurun dengan cepat dalam 24 jam

pertama, dan kembali mencapai nilai seperti semula dalam 48-72 jam.3,4,6

Pengambilan sampel lebih awal saat umur  2 hari dapat menyebabkan hasil positif

palsu7,8 atau negatif palsu9 program uji tapis fungsi tiroid. Kelainan fungsi tiroid yang

berhubungan dengan imaturitas poros hipotalamus-hipofisis-tiroid sering didapatkan

pada BKB.10,11 Keadaan ini akan mempengaruhi interpretasi hasil uji tapis

hipotiroidisme kongenital dan harus dipertimbangkan untuk menentukan umur

pengambilan spesimen yang tepat.

Sejak tahun 2000 Jakarta, Bandung dan beberapa daerah di Jawa Barat telah

mulai melakukan uji tapis hipotiroidisme kongenital pada bayi baru lahir yang

merupakan suatu program pendahuluan nasional dalam upaya deteksi dini

hipotiroidisme kongenital. Sampai tahun 2003, di kedua senter telah dilakukan uji

tapis sebanyak 43.312 bayi, 441 (1,0%) bayi menunjukkan kadar TSH abnormal.

Tetapi hanya 10 bayi yang didiagnosis hipotiroidisme kongenital primer. Prevalens

hipotiroidisme kongenital yang didapatkan adalah 1:4.331 (0,02%).12 Sampai

sekarang negara kita kekurangan data mengenai fungsi tiroid pada masa neonatal dini,

(5)

(T4) pada tali pusat bayi sehat cukup bulan. Penelitian ini mendapatkan kadar TSH

rata-rata adalah 9,37 (SB 4,69) mU/L dan kadar Tiroksin (T4) adalah 7,83 (SB 1,87)

mU/L.10 Peneliti bermaksud untuk meneliti fungsi tiroid pada bayi masa neonatal dini

dengan menganalisis data kadar TSH hasil program uji tapis hipotiroidisme

kongenital dan hubungannya dengan maturitas dan umur pascanatal.

SUBJEK DAN METODE

Penelitian retrospektif dilakukan dengan menilai data sekunder kadar TSH

yang diukur dengan immunoradiometric assay diambil dari catatan medik bagian Ilmu

Kesehatan Anak Perjan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung selama tahun 2003,

sebagai bagian dari program pendahuluan uji tapis hipotiroidisme kongenital di Jawa

Barat. Kriteria inklusi adalah bayi sehat dengan umur pengambilan sampel 0-7 hari

dan kriteria eksklusi adalah bayi mendapat transfusi darah sebelum dan saat

pengambilan darah, mempunyai kelainan kongenital mayor, berat badan kecil/besar

untuk masa kehamilan, bayi lebih bulan, terdapat asfiksia lahir, gawat nafas, sepsis,

ibu dengan kelainan kelenjar tiroid. Subjek dibagi menurut maturitas yaitu BKB dan

BCB, serta menurut umur pascanatal yaitu ≤ 2 hari dan > 2 hari. Dengan

menggunakan nilai cut off dari WHO,14 kadar TSH dikelompokkan ke dalam TSH

normal (≤ 20 mU/L) dan abnormal (> 20 mU/L). Nilai kadar TSH abnormal

diidentifikasi pada setiap kelompok.

Analisis Statistik

Seluruh data dicatat, ditabulasi, dan dianalisis menggunakan SPSS versi 6.0

(6)

cukup bulan, data yang dianalisis adalah nilai kadar TSH dalam rentang umur

pascanatal yang sama dan nilai yang normal. Untuk membandingkan kadar TSH

rata-rata antar kelompok digunakan uji t. Untuk menentukan interaksi maturitas dan umur

pascanatal terhadap kadar TSH digunakan analisis two-way anova. Kerbermaknaan

ditentukan dengan p < 0,05.

HASIL PENELITIAN

Dari tanggal 1 Januari – 31 Desember 2003 didapatkan jumlah bayi yang

dilakukan pemeriksaan TSH untuk uji tapis hipotiroidisme kongenital sebanyak 1.577

bayi. Terdapat 829 bayi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Tabel 1

memperlihatkan karakteristik subjek penelitian.

Tabel 1 Karakteristik Subjek Penelitian

(7)

Pada kedua kelompok didapatkan 72 (8,7%) BKB dan 757 (91,3%) BCB, dan

perempuan lebih banyak. Terdapat 11 BKB dengan berat badan lahir  2.500 gram

dan 16 BCB < 2.500 gram, tetapi semua bayi sesuai masa kehamilan menurut kurva

Lubchenko. Tidak didapatkan bayi dengan maturitas < 32 minggu. Umur pascanatal

saat pengambilan spesimen pada BKB lebih banyak diambil umur > 2 hari, sedangkan

pada BCB lebih banyak diambil saat umur  2 hari.

Pada penelitian ini, umur pascanatal saat pengambilan spesimen pada BKB

adalah umur 1-7 hari dan pada BCB umur 0-7 hari. Kadar rata-rata TSH pada BKB

yang tertinggi terdapat pada kelompok umur 1 hari yaitu 7,19 (SB 4,42) mU/L

sedangkan yang terendah terdapat pada kelompok umur 7 hari 1,35 (SB 0,21) mU/L.

Kadar rata-rata TSH pada BCB yang tertinggi terdapat pada kelompok umur 0 hari

28,10 (SB 24,33) mU/L dan yang terendah didapatkan pada kelompok umur 6 hari

2,9 (SB 3,33) mU/L.

Kadar TSH abnormal ditemukan pada 9 BCB. Nilai abnormal pada bayi-bayi

ini, 8 diambil sampel pada saat umur pascanatal ≤ 2 hari. Setelah dilakukan

pemeriksaan TSH ulang pada 9 bayi dengan kadar TSH abnormal, didapatkan kadar

TSH semua bayi normal (< 20 mU/L), yang menunjukkan hasil positif palsu pada

(8)

Tabel 2 Kadar TSHpada Bayi Kurang Bulan dan Cukup Bulan

dibandingkan kelompok BCB (Tabel 2).

Tabel 3 Kadar TSH Menurut Umur Pascanatal Umur

bermakna dibandingkan umur > 2 hari (Tabel 3).

Kadar TSH rata-rata pada BKB dan BCB menurut umur pascanatal

(9)

Table 4 Kadar TSH pada Bayi Kurang Bulan dan Cukup Bulan Menurut Umur Pascanatal

Note: Interaksi maturitas dan umur pascanatal dengan kadar TSH: F = 1,19; p = 0,28 p < 0.05.

Analisis two-way anova menunjukkan tidak terdapat interaksi antara maturitas

dan umur pascanatal terhadap kadar TSH (Tabel 4).

DISKUSI

Dari hasil penelitian ini, selama minggu pertama kehidupan, kadar TSH BKB

lebih rendah secara bermakna dibandingkan BCB. Fungsi tiroid pada BKB

memperlihatkan imaturitas poros hipotalamus-hipofisis-tiroid yang sebanding dengan

umur gestasi bayi dalam kandungan. Fungsi tiroid pascanatal pada BKB secara

kualitatif serupa tetapi secara kuantitatif tidak setinggi BCB.5,15,16 Hasil penelitian ini

sesuai dengan penelitian Adam dkk. yang menemukan perbedaan yang bermakna

antara bayi kurang bulan dan bayi cukup bulan.17 Selain itu didapatkan kadar TSH

pada kelompok umur pascanatal ≤ 2 hari lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok

umur > 2 hari dengan perbedaan yang sangat bermakna. Terdapat hubungan kadar

TSH dengan maturitas dan umur pascanatal. Hasil penelitian ini sesuai dengan

(10)

pascanatal terhadap kadar TSH. Hal ini berarti bahwa kadar TSH setiap bayi baik

pada BKB maupun BCB berubah menurut umur pascanatal. Hubungan ini belum

pernah dilaporkan pada penelitian-penelitian sebelumnya.

Ditemukan nilai kadar TSH abnormal (> 20 mU/L) sebanyak 9 bayi (1,1%)

dan ini memerlukan pemeriksaan ulangan kadar TSH. Menurut penelitian

sebelumnya, pemeriksaan ulang fungsi tiroid harus dilakukan pada bayi dengan kadar

TSH > 20 mU/L untuk konfirmasi lebih lanjut.7,14,18,19 Delapan bayi dengan nilai

kadar TSH abnormal, terdapat pada kelompok umur pascanatal ≤ 2 hari. Hal ini sesuai

dengan hasil penelitian Allen dkk. yang mendapatkan pengaruh umur pascanatal

terhadap terjadinya nilai kadar TSH abnormal bila diambil lebih awal,18 meskipun

demikian setelah dilakukan pemeriksaan ulang ternyata kadar TSH semua bayi

dengan kadar TSH abnormal menjadi normal (< 20 mU/L). Hal tersebut menunjukkan

bahwa pengambilan sampel lebih awal dapat menyebabkan terjadinya hasil positif

palsu pada program uji tapis. Pada penelitian ini didapatkan hasil positif palsu

sebanyak 1,1%, masih merupakan angka di bawah batas nilai toleransi hasil positif

palsu program uji tapis hipotiroidisme kongenital. World Health Organization

memberikan batas nilai positif palsu sebanyak 2-5% untuk mengurangi risiko hasil

negatif palsu.14 Keterbatasan penelitian ini adalah tidak ada hasil evaluasi

pemeriksaan kadar TSH pada BKB, sehingga kita tidak dapat mengetahui apakah ada

hasil yang negatif palsu. Pada penelitian ini, tidak didapatkan bayi dengan nilai kadar

TSH abnormal pada kelompok BKB. Hal ini berbeda dengan penelitian sebelumnya

yang menyatakan bahwa pada bayi kurang bulan sering terdapat peningkatan kadar

(11)

hasil penelitian ini dapat disebabkan karena jumlah sampel bayi kurang bulan kurang

banyak dan tidak didapatkan bayi dengan umur gestasi < 32 minggu.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kadar TSH berhubungan dengan

maturitas dan umur pascanatal. Lebih matur bayi, kadar TSH lebih rendah dan lebih

awal uji tapis dilakukan, kadar TSH lebih tinggi. Peluang nilai kadar TSH abnormal

lebih banyak ditemukan pada kelompok umur pascanatal  2 hari.

Berdasarkan hasil penelitian ini, kami menyarankan bahwa uji tapis

hipotiroidism kongenital sebaiknya dilakukan setelah 2 hari dan perlu penelitian

selanjutnya untuk menentukan nilai normal kadar TSH baik pada BKB maupun BCB.

UCAPAN TERIMA KASIH

Peneliti mengucapkan terima kasih kepada kepala dan staf Laboratorium Uji

Tapis Hipotiroidisme Kongenital yang telah memberikan data dan semua informasi

(12)

KEPUSTAKAAN

1. Larsen PR, Ingbar SH. The thyroid gland. Dalam: Wilson JD, Foster DW,

penyunting. Textbook of endocrinology. Philadelphia: WB Saunders Co;

1992. p. 358-480.

2. Fisher DA. The thyroid. Dalam: Kaplan SA, penyunting. Clinical pediatric

endocrinology. Philadelphia: WB Saunders Co; 1990. p. 87-126.

3. Fisher DA. Thyroid physiology in the perinatal period and during childhood.

Dalam: Braverman LE, Utiger RD, penyunting. The thyroid: a fundamental

and clinical text, edisi ke-6. Philadelphia: JB Lippincott Co; 1991. p. 1207-18.

4. Fisher DA, Klein AH. Thyroid development and disorders of thyroid function

in the newborn. NEJM. 1981;304:702-12.

5. Brown R, Larsen PR. Thyroid gland development and disease in infancy and

childhood. Dalam: The thyroid and its disease. Diakses 20 Nov 2003.

Tersedia dari: http://www.thyroidmanager.org/Chapter15/ 15txt. htm.

6. Foley T, Malvaux P, Blizzard R. Thyroid disease. Dalam: Kappy MS, Blizzard

RM, Migeon CJ, penyunting. The diagnosis and treatment of endocrine

disorders in childhood and adolescence. Illinois: Charles C Thomas Publisher;

1994. p. 469-515.

7. American Academy of Pediatric. Newborn screening for congenital

(13)

8. Fisher DA. Congenital hypothyroidism. Dalam: Hennemann G, Krenning EP,

penynting. Thyroid international.Darmstadt: Merck KGaA, 2002. h. 1-12.

9. Franchi SL, Hanna CE, Krainz PL, Skeels MR, Miyahira RS, Sesser DE.

Screening for congenital hypothyroidism with specimen collection at two time

periods: results of the northwest regional screening program. Pediatr.

1985;76:734-40.

10.Fisher DA. Perinatal thyroid development and abnormalities. In: Burrow GN,

editor. New York: Raven Press; 1980. p. 9-20.

11.Fisher DA. Second international conference on neonatal thyroid screening:

progress report. J Pediatr. 1983 May: 653-4.

12.Rustama DS. Country report on neonatal screening for congenital

hypothyroidism Bandung, Indonesia. Final project meeting of the project

RAS/6/032: regional screening network for neonatal hypothyroidism. East

Asia Regional Meeting-IAEA. Hanoi, 1-9 Desember; 2003.

13.Nugraha AN. Gambaran fungsi tiroid (TSH dan T4) neonatus normal di

Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung. Tesis; 2000.

14.World Health Organization (WHO). Guidelines on the prevention and control

of congenital hypothyroidism. Division of Noncommunicable Diseases and

Health Technology; 1991.

15.Franchi SL. Disorders of the thyroid gland. Dalam: Behrman RE, Kliegman

RM, Jenson HB, penyunting. Textbook of pediatrics, edisi ke-16.

(14)

16.Franchi SL. Thyroid function in the preterm infant. Diakses 3 Des 2003.

Tersedia dari: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi= Retrieve&

Dd=PubMed&dopt =A.

17.Adam LM, Emery JR, Clark SJ, Carlton EI, Nelson JC. Reference ranges for

newer thyroid function test in preterm infants. J Pediatr. 1995;126: 122-7.

18.Allen DB, Sieger JE, Litsheim T, Duck SC. Age-ajusted thyrotropin criteria

for neonatal hypothyroidism. J Pediatr. 1990;117:309-12.

19.Foley T, Malvaux P, Blizzard R. Thyroid disease. Dalam: Kappy MS, Blizzard

RM, Migeon CJ, penyunting. The diagnosis and treatment of endocrine

disorders in childhood and adolescence. Illinois: Charles C Thomas Publisher;

1994. p. 469-515.

20.Frank JE, Faix JE, Hermos RJ, Mullaney DM, Rojan DA, Mitchell ML, et al.

Thyroid function in very low birth weight infants: effect on neonatal

Gambar

Tabel 1  Karakteristik Subjek Penelitian
Tabel 3   Kadar TSH Menurut Umur Pascanatal

Referensi

Dokumen terkait

Peneliti berkesimpulan hormon tiroid menurun pada anak-anak sepsis dengan mayoritas memiliki T3 yang rendah, sedangkan kadar TSH tidak berhubungan dengan skor

Kesimpulan: Penelitian membuktikan bahwa ada hubungan antara pengetahuan tentang masalah pada masa neonatal dengan kepatuhan melakukan kunjungan neonatal sehingga sangat penting

Jadi meskipun persepsi orang tua tentang pernikahan dini adalah positif namun jika kesiapan mereka khususnya kesiapan dari segi mental dalam rnenghadapi masa depan itu sendiri

sectio caesarea dan faktor ibu yaitu ketuban pecah dini. Oleh sebab itu peneliti tertarik untuk meneliti hubungan antara ketuban pecah dini dan persalinan sectio

Kesimpulan: Penelitian membuktikan bahwa ada hubungan antara pengetahuan tentang masalah pada masa neonatal dengan kepatuhan melakukan kunjungan neonatal sehingga sangat penting

Kesimpulan: Penelitian membuktikan bahwa ada hubungan antara pengetahuan tentang masalah pada masa neonatal dengan kepatuhan melakukan kunjungan neonatal sehingga sangat penting

Berdasarkan dari masalah yang diuraikan diatas peneliti tertarik untuk mengetahui dengan meneliti tentang “ Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Perilaku Mobilisasi Dini Post

Penelitian ini menunjukkan bahwa pada WUS yang berisiko hipotiroid memiliki gambaran fungsi tiroid normal, status iodium dilihat dari kadar iodium serum normal namun