• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. bagi kehidupan umat-nya. Hal ini telah ditegaskan oleh Allah SWT dalam. firman-nya, surah Al-Baqarah ayat 208 :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. bagi kehidupan umat-nya. Hal ini telah ditegaskan oleh Allah SWT dalam. firman-nya, surah Al-Baqarah ayat 208 :"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Islam merupakan agama yang rahmatan lil’alamiin, dan juga merupakan agama yang lengkap yang memberikan tuntuan dan panduan bagi kehidupan umat-Nya. Hal ini telah ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya, surah Al-Baqarah ayat 208 :





Artinya:Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.(QS. Al-Baqarah:208)

Ajaran Islam juga menyangkut berbagai aspek kehidupan umat manusia, baik dalam hal ibadah maupun sosial, politik, dan ekonomi.

Ibadahpun sangat diperlukan dalam rangka menjaga hubungan yang baik dan terus menerus antara umat manusia dan Sang Khalik Allah SWT.

Selain itu, ibadah juga berfungsi sebagai sarana untuk memperingati umat manusia agar selalu menjalankan tugasnya di muka bumi secara baik dan juga bertanggungjawab. Secara umum, tugas manusia di muka bumi adalah sebagai khalifah untuk mengabdi kepada Allah demi mewujudkan

(2)

2

kesejahteraan hidup dunia akhirat.1 Yang mana sesuai dengan firman-Nya dalam Surah Az-Zariyat ayat 56:



Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada- Ku.(QS. Az-Zariyat:56)

Usaha manusia dalam rangka mewujudkan kesejahteraan hidup umat di muka bumi ini sangat berkaitan dengan kegiatan ekonomi.

Kegiatan ekonomi di dalam Islam meliputi: kegiatan bisnis atau perdagangan, pinjam meminjam, sewa menyewa dan lain-lain.

Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW yang menjadi pegangan hidup umat manusia dapat dilihat bahwa sistem ekonomi yang dikembangkan oleh Islam memiliki tujuan untuk meningkatkan perekonomian umat manusia.

Pada masa Rasulullah diangkat menjadi kepala negara, beliau mengubah secara drastis dalam menata kehidupan masyarakat Madinah.

Hal utama yang dilakukan oleh Rasulullah adalah membangun sebuah kehidupan sosial, dalam hal ini strategi yang dilakukan Rasulullah adalah dengan melakukan beberapa langkah, di antaranya yaitu; membangun masjid, memperbaiki tingkat sosial kaum Muhajirin, membuat konstitusi negara serta meletakkan dasar-dasar sistem keuangan negara yang sesuai dengan ketentuan dari prinsip-prinsip al-Qur’an. Sistem keuangan Islam

1Nurul Huda dan Mohamad heykal, Lembaga Keuangan Islam,(Jakarta:Kencana Prenada Media Group,2013)hal.3

(3)

3

merupakan bagian dari sistem ekonomi Islam yang harus sesuai dengan konsep sistem ekonomi Islam.

Sistem pembayaran dalam Islam pada awalnya berupa emas (dinar) dan perak (dirham), yang telah berfungsi menjadi uang selama lebih kurang 25 abad lamanya, akan tetapi semenjak bergulirnya waktu peran emas dan perak semakin menurun hingga kedua jenis logam ini tidak lagi digunakan sebagai uang. Kemajuan ekonomi menyebabkan perdagangan berkembang dengan pesat, sehingga perkembangan ini juga memerlukan lebih banyak emas dan perak untuk membiayai jenis transaksi, sementara itu emas dan perak tidak dapat bertambah secepat pertambahan nilai perdagangan, berarti emas dan perak tidak mencukupi untuk digunakan sebagai uang. Kelemahan tersebutlah yang mendorong perkembangan uang kertas.

Pada mula uang kertas dikeluarkan untuk menggantikan emas yang disimpan di bank umum. Misalkan apabila seseorang mempunyai uang emas yang di depositokan ke dalam bank umum, sebagai gantinya orang akan menerima uang kertas yang sama nilainya dengan uang emas yang disimpannya. Akan tetapi lama kelamaan bank umum mulai mengeluarkan uang kertas tanpa menggantikan dengan emas. Perkembangan perdagangan yang pesat memerlukan lebih banyak uang. Sedangkan tambahan emas yang di depositokan ke bank umum tidak dapat mencapai kepesatan perkembangan perdagangan.

(4)

4

Perkembangan uang berawal dari kebutuhan yang beragam sehingga menjadikan manusia saling ketergantungan antara satu dengan yang lainnya. Hal ini mendorong manusia untuk saling bertukar hasil produksi masing-masing.

Pada awalnya manusia tidak mengenal uang, manusia hanya melakukan pertukaran antara barang dan jasa secara barter. Barter merupakan pertukaran barang dengan barang, jasa dengan barang, atau barang dengan jasa secara langsung tanpa menggunakan uang sebagai perantara dalam proses pertukaran. Walaupun awalnya sistem barter ini sangat mudah dan sederhana, kemudian dengan semakin berkembangnya masyarakat membuat sistem ini menjadi sulit, dan muncul kekurangan- kekurangannya. Diantara kekurangan tersebut berupa perbedaan ukuran barang dan jasa, dan sebagian barang yang tidak bisa dibagi-bagi serta kesulitan untuk mengukur standar harga seluruh barang dan jasa. Sehingga dengan adanya uang yang menjadi salah satu pilar bagi ekonomi, maka uang dapat memudahkan proses pertukaran komoditas dengan jasa.

Karena itu, sistem ekonomi modern yang menyangkut banyak pihak tidak dapat berjalan dengan sempurna tanpa menggunakan uang.

Hingga disaat sekarang, perkembangan zaman dan teknologi yang cukup pesat terciptalah uang dalam bentuk uang elektronik. Secara umum pengertian uang elektronik adalah alat pembayaran non tunai yang dibuat oleh Bank Indonesia sebagai alat pembayaran yang berbasis

(5)

5

elektronik.2Sementara uang elekronik dalam pandangan Islam berupa uang elektronik yang sesuai dengan kaidah dan prinsip-prinsip syariah.3 Agar uang eletronik tersebut tetap berorientasi berdasarkan aturan Islam.

Uang elekronik ini telah ada diIndonesia sejak bulan November tahun 2017 lalu. Semakin menyebarluasnya transaksi elektronik membuat uang elektronik semakin banyak diminati dan digunakan oleh masyarakat.

Terutama sejak menjamurnya transportasi online diIndonesia pemakaian uang elektronik juga meningkat. Untuk masyarakat awam yang masih belum ataupun kurang memahami tentang pembayaran dengan menggunakan uang elektronik apakah dibolehkan atau tidak saat melakukan pembayaran transportasi online. Maka dari itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Konsep Uang Elektronik dalam Prespektif Ekonomi Islam

B. Identifikasi Masalah

Adapun identifikasi masalah menurut latar belakang diatas yaitu;

Masih belum paham atau ragunya masyarakat dalam pembayaran menggunakan uang elektonik pada saat menggunakan trasnportasi online.

2Linda Nur Hasanah, Kedudukan Hukum Uang Elektronik (E-money) dalam Melakukan Transaksi Pembayaran Non Tunai, e-jurnal diakses pada hari Kamis, 15 November 2018

3Http://www.gomuslim.co.id, diakses pada hari Jum’at, 16 November 2018

(6)

6 C. Rumusan dan Batasan Masalah

1. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah;

“Bagaimana Konsep Uang Elektronik dalam Prespektif Ekonomi Islam”.

2. Batasan Masalah

Berdasarkan dari identifikasi masalah diatas, maka penulis membatasi masalah hanya pada:

1) Konsep uang elektronik yang dikelola oleh penerbit 2) Konsep uang elektronik yang dikelola oleh pedagang D. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian yang penulis lakukan adalah untuk mengetahui konsep uang elektronik dalam prespektif Ekonomi Islam.

2. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan berbagai macam manfaat diantaranya:

a. Bagi ilmiah, penelitian ini diajukan untuk memperoleh gelar sarjana Ekonomi Islam, pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi.

b. Bagi mahasiswa Jurusan Ekonomi Islam IAIN Bukittinggi untuk menjadi referensi tentang konsep uang elektronik dalam prespektif ekonomi Islam bagi institusi, penelitian ini

(7)

7

diharapkan dapat manambah wawasan ilmu pengetahuan serta informasi yang berguna bagi institusi terkait.

c. Bagi masyarakat umum, agar karya tulis ini bisa menjadi bahan acuan.

E. Penjelasan Judul

Konsep :Ide ataupun suatu pengertian yang menjelaskan suatu peristiwa.4

Uang elektronik :Alat pembayaran non tunai yang dibuat oleh Bank Indonesia sebagai alat pembayaran yang berbasis elektronik.5

Prespektif :Suatu cara dalam menggambarkan suatu keadaan yang terlihat oleh mata.6

Ekonomi Islam :Sistem ekonomi yang berdasarkan kepada al-Qur’an dan hadis yang bertujuan utuk memenuhi kebutuhan hidup manusia di dunia dan akhirat.7 Penjelasan judul diatas adalah penguraian sesuatu atas berbagai bagian untuk memperoleh pemahaman tentang hal ataupun keadaan yang terjadi sekarang, sehingga menimbulkan motivasi atau perhatian orang terhadap maraknya penggunaan uang elektronik pada saat sekarang ini.

4http://www.kbbi.web.iddiakses pada hari Senin, tanggal 10 September 2018.

5 Linda Nur Hasanah, Kedudukan Hukum Uang Elektronik (E-money) dalam Melakukan Transaksi Pembayaran Non Tunai, e-jurnal diakses pada hari Kamis, 15 November 2018

6http://www.kbbi.web.iddiakses pada hari Senin, tanggal 10 September 2018.

7Nurul Huda dkk, Ekonomi Makro Islam Pendekatan Teoritis,(Jakarta: Pernada Media Group,2014), hal 3.

(8)

8 F. Kajian Terdahulu

Untuk mendukung peninjauan yang lebih mendetail seperti yang telah dikemukakan pada latar belakang masalah, maka penulis berusaha untuk melakukan kajian awal terhadap pustaka ataupun karya-karya yang mempunyai relevasi terhadap topik yang ingin diteliti.

Belum terlalu banyak karya yang membahas masalah konsep uang elektronik dalam prespektif ekonomi Islam, secara keseluruhan yang menjadi objek penelitian, untuk menghindari kesamaan penulis akan uraikan beberapa penlitian terdahulu yang membahas tentang uang elektronik diantaranya skripsiSuharni, mahasiswa UNTAG Semarang dengan judul uang elektronik di tinjau dari prepektif hukum dan perubahan sosial. Menurut penelitiannya uang elektronik menawarkan kemudahan dan kepraktisan kepada masyarakat sehingga membeikan dampak perubahan kepada masyarakat dalam melakukan transaksi. Sedangkan hukum sebagai sarana pengendalian sosial untuk memberikan kepastian dan perlindungan sehingga konflik-konflik yang mungkin timbul akibat perubahan masyarakat tidak mengganggu ketertiban masyarakat.

Kemudian skripsi Linda Nurhasanah mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dengan judul kedudukan hukum uang elektronik dalam melakukan transaksi pembayaran non tunai (analisis hukum melalui pendekatan perundnag-undangan dan hukum Islam), jenis penelitian yang digunakan bersifat normatif dengan menggunakan pendekatan perundang- undangan konseptual. Menurutnya uang elektronik hukumnya sah sebagai

(9)

9

transaksi pembayaran untuk menggantikan transaksi tunai, karena uang elektronik mempunyai dasar hukum yang sudah dikeluarkan oleh bank Indonesia. Dan juga skripsi Nadia Suci Anugrah mahasiswa Universitas Diponegoro Semarang, dengan judul analisis permintaan uang elektronik di Indonesia, penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh melalui Badan Pusat Statistik dan bank Indonesia, dan hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah uang beredar tidak berpengaruh signifikan, kecepatan perputaran uang berpengaruh signifikan dan pendapatan perkapita berpengaruh signifikan terhadap permintaan uang elektronik di Indonesia.

Setelah melihat kajian terdahulu, maka trdapat perbedaan yang sangat mendasar pada penelitian ini, karena penelitian ini lebih terfokus kepada konsep uang elektronik dalam prespektif ekonomi Islam dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan kajiankepustakan melalui teori,literasi, buku, jurnal ilmiyah lainnya.

G. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan skripsi ini di bagi lima bab, diantaranya sebagai berikut:

BAB I :Pendahuluan

Berisikan Latar Belakang, Identifikasi Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Penjelasan Judul dan Sistematika Penulisan.

(10)

10 BAB II :Landasan Teori

Terdiri dari teori Uang, Uang Elektronik, Konsep Uang Elektronik dalam Syariah, dan Ekonomi Islam

BAB III :Metodelogi Penelitian

Terdiri dari Jenis Penelitian, Sifat Penelitian, Sumber Data, teknik Pengumpulan Data, Teknik Analisis Data.

BAB IV :Hasil Penelitian BAB V :Kesimpulan dan Saran

(11)

11 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Uang

1. Pengertian Uang

Uang secara umum adalah sesuatu yang dapat diterima sebagai alat pembayaran disuatu wilayah tertentu, bisa juga sebagai alat pembayaran utang, ataupun alat untuk melakukan pembelian barang dan jasa.8Uang dalam ilmu ekonomi modern juga diartikan oleh beberapa ahli diantaranya sebagai berikut:

Dan dikutip dalam buku Nurul Huda, Menurut AC Pigou uang adalah alat tukar. Sementara menurut Robertson uang adalah sesuatu yang bisa diterima dalam pembayaran untuk mendapatkan barang- barang. Adapun menurut RG Thomas uang adalah sesuatu yang tersedia diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang dan jasa.9

Sedangkan menurut Dr. Muhammad Zaki Syafi’i mendefenisikan uang sebagai segala sesuatu yang dapat diterima oleh khalayak untuk menunaikan kewajiban-kewajiban. Adapun menurut J.P Coraward mendefinisikan uang sebagai segala sesuatu yang diterima secara luas sebagai media pertukaran, sekaligus berfungsi sebagai standar ukuran nilai harga dan media penyimpanan kekayaan.

8Akhmad Mujahidin, Ekonomi Islam, (Depok: Raja Grafindo Persada, 2013),hal 59.

9Nurul Huda dkk, Ekonomi Makro Islam Pendekatan Teoritis,(Jakarta: Pernada Media Group,2014), hal49.

(12)

12

Sementara itu menurut Dr. Sahir Hasan, uang adalah pengganti materi terhadap segala aktivitas ekonomi, yaitu media atau alat yang memberikan kepada pemilik untuk memenuhi segala kewajibannya.

Dan menurut Dr. Ismail hasyim, uang adalah sesuatu yang diterima secara luas dalam peredaran dan digunakan sebagai media pertukaran, sebagai standar ukuran nilai harga, dan media penyimpanan nilai, juga digunakan sebagai alat pembayaran untuk kewajiban bayar yang ditunda.10

Dari definisi yang telah dijelaskan pada paragraf diatas dapat disimpulkan bahwa definisi uang dari segi fungsi ekonomi sebagai standar ukuran nilai, media pertukaran, dan alat pembayaran yang tertunda.

Uang menurut ilmu ekonomi konvesional adalah alat tukar yang dapat diterima oleh setiap masyarakat dalam proses pertukaran barang dan jasa. Sedangkan menurut para ahli fiqih, penegrtian uang berupa menurut Imam al-Ghazali dan Ibnu Khaldun, uang adalah sesuatu yang digunakan oleh manusia sebagai standar ukuran nilai harga, media transaksi pertukaran dan media simpanan.

10Ahmad Hasan, Mata Uang Islami, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hal 10- 11.

(13)

13

Sedangkan menurut Ibnu Thaimiyyah uang sebagai alat tukar dan alat ukur nilai.11

Adapun menurut Abu ‘Ubaid dinar dan dirham merupakan nilai harga sesuatu sedangkan segala sesuatu tidak bisa menjadi nilai harga keduannya. Maksudnya yaitu, dinar dan dirham merupakan standar ukuran yang dibayarkan sebagai pertukaran komoditas barang dan jasa.12

Jadi, dapat disimpulkan bahwa pengertian uang adalah suatu alat yang digunakan sebagai alat tukar yang sah dalam suatu negara, dan juga dapat digunakan sebagai alat ukur nilai harga.

2. Sejarah Uang

Perkembangan sejarah uang dimulai dari beberapa tahapan, diantara tahapan tersebut adalah;13

a. Tahap Perkembangan Uang 1) Tahapan sebelum barter

Pada tahap ini masyarakat belum mengenal pertukaran karena setiap orang berusaha memenuhi kebutuhannya dengan usaha sendiri.

2) Tahapan barter,

Dalam tahapan ini manusia tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, untuk itu mereka

11Akhmad Mujahidin, Ekonomi Islam, (Depok: Raja Grafindo Persada, 2013), hal 60.

12Ahmad Hasan, Mata Uang Islami, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hal 5.

13Naf’an, Ekonomi Makro Tinjauan Ekonomi Syariah, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2014), hal 50.

(14)

14

memperoleh barang-barang yang tidak dapat dihasilkan sendiri sehingga mencari orang yang mau menukarkan barang yang dimilikinya dengan barang lain yang dibutuhkannya. Namun, pada akhirnya terasa ada kesulitan dengan sistem ini, sehingga muncullah terobosan baru untuk menggunakan benda-benda tertentu sebagai alat tukar.

3) Tahapan uang barang,

Manusia telah mencoba menciptakan kemudahan dalam hal pertukaran, dengan menetapkan benda-benda sebagai alat tukar. Benda-benda yang ditetapkan sebgai alat tukar adalah benda-benda yang dapat diterima oleh umum.

Benda yang dipilih bernilai tinggi atau benda yang merupakan kebutuhan primer shari-hari. Misalnya garam digunakan sebagai alat tukar, maupun alat pembayaran upah.

4) Tahapan uang logam,

Uang yang terbuat dari emas dan perak disebut uang logam. Uang emas dan uang perak juga disebut sebagai uang penuh sebab nilai intrinsiknya (nilai bahan uang) sama dengan nilai nominalnya (nilai yan tercantum dalam mata uang tersebut).

(15)

15

Sejalan dengan perkembangan perekonomian, maka perkembangan alat tukar-menukar juga dengan uang logam juga berkembang. Sedangkan jumlah logam mulia terbatas.

Penggunaan uang logam juga sulit dilakukan untuk transaksi dalam jumlah besar (sulit dalam penyimpanan dan pengangkutan), sehingga terciptalah uang kertas

5) Tahapan uang kertas,

Masyarakat tidak menggunakan emas lagi sebagai alat tukar dan menggantinya menjadi uang kertas.

3. Urgensi Uang

Uang merupakan pilar dari ekonomi, uang dapat memudahkan proses pertukaran komoditas dan jasa. Setiap proses produksi dan distribusi memerlukan uang.

4. Uang di Berbagai Bangsa

Pada masa lalu uang bermunculan dari beberapa negara, diantara negara tersebut adalah;14

a. Uang pada Bangsa Lydia

Bangsa Lydia merupakan orang yang pertama kali mengenal uang. Uang pertamakali mucul di tangan para pedagang ketika mereka merasa kesulitan dalam jual beli sitem barter. Masa ini terkenal dengan mata uang emas dan perak yang halus dan akurat.

14Akhmad Mujahidin, Ekonomi Islam, (Depok: Raja Grafindo Persada, 2013), hal 62.

(16)

16 b. Uang pada Bangsa Yunani

Pada masa ini mereka membuat emas dan perak yang dalam bentuk batangan, sampai masa dibuatnya percetakan uang pada tahun 406 SM.

c. Uang pada Bangsa Romawi

Awalnya mereka membuat mata uang yang terbuat dari perunggu, yang kemudian mereka membuat mata uang yang terbuat dari tembaga, setelah itu mereka mencetak uang dari emas sehingga menjadi mata uang utama Imperium Romawi.

d. Uang pada Masa Persia

Mata uang yang mereka gunakan adalah perak yang murni dalam bertansaksi.

e. Uang dalam Pemerintahan Islam

Adapun uang pada masa pemeritan Islam terdiri dari beberapa fase, diantaranya yaitu:

1) Uang pada masa Kenabian

Pada masa Rasulullah SAW mata uang menggunakan sistem emas dn perak. Dalam pandangan Islam mata uang yang dibuat dengan emas (dinar) dan perak (dirham) merupakan mata uang yang paling stabil dan tidak mungkin terjadi krisis moneter karena nilai intrinsik sama dengan nilai riil. Mata uang ini juga digunakan bangsa Arab sebelum datangnya Islam.

(17)

17

2) Uang pada masa Khulafaurrasyidin

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar beliau tidak melakukan perubahan terhadap mata uang yang beredar, bahkan menetapkan apa yang sudah berjalan pada masa Nabi.

3) Uang pada masa Disnati Umawiyyah

Pada masa ini percetakan mata uang ditambah dengan beberapa kalimat tauhid. Pada masa Abdul Malik bin Marwan, beliau membuat mata uang Islam yang bernafaskan model Islam. Dengan adanya mata uang Islam ini, sehingga dapat merealisasikan stabilitas politik dan ekonomi, sehingga mengurangi pemalsuan dan manipulasi terhadap mata uang.

4) Uang pada masa Dinasti Abassiyah dan sesudahnya Pada masa pemerintah Mamalik, percetakan uang tembaga menjadi mata uang utama dan percetakan dirham dihentikan karena beberapa sebab, diantaranya sebabnya berupa; penjualan perak kenegara Eropa, impor tembaga dari negara Eropa semakin bertambah serta semakin banyaknya yang membuat pelana dan bejana menggunakan perak.

Dalam kegiatan ekonomi uang menggunakan peran yang cukup penting dan sangat berharga. Karena uang tidak hanya memenuhi

(18)

18

kebutuhan dan keinginan kita, akan tetapi uang juga dapat membuat seseorang sangat berkuasa, uang juga mempengaruhi pandangan hidup, sikap sosial kemasyarakatan.

5. Fungsi Uang

Fungsi uang dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, berupa:

a. Fungsi Asli

Dalam ilmu ekonomi fungsi uang dalam kegiatan perdagangan dibedakan menjadi empat jenis, yaitu sebagai berikut;15

1) Sebagai alat tukar-menukar (alat ukur).

Dengan adanya uang, kegiatan tukar- menukar akan lebih mudah dijalankan jika dibandingkan dengan kegiatan perdagangan secara barter.

2) Sebagai alat satuan hitung.

Dengan adanya uang, nilai suatu barang dapat dengan mudah dinyatakan, yaitu dengan menunjukkan jumlah uang yang diperlukan untuk memperoleh barang tersebut.

3) Sebagai ukuran pembayaran yang ditunda.

Agar fungsi dari uang ini dapat dijalankan dengan baik, maka nilai uang yang digunakan harus tetap stabil.

15Naf’an, Ekonomi Makro Tinjauan Ekonomi Syariah, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2014), hal 54.

(19)

19

Nilai uang dikatakan stabil apabila jumlah uang yang dibelanjakan akan tetap memperoleh barang yang sama banyak dan sama mutunya dari waktu ke waktu.

4) Sebagai alat penyimpan nilai.

Uang dapat dengan mudah disimpan dan tanpa perlu biaya menyimpannya, dan ia dapat dengan mudah diambil apabila mengingankan uang tersebut.

b. Fungsi Turunan

Adapun fungsi turunan dari uang itu sendiri berupa;

1) Sebagai alat pembayaran 2) Untuk menentukan harga

3) Sebagai alat pembayaran hutang 4) Sebagai alat penimbun kekayaan 5) Sebagai alat pemindah kekayaan 6) Sebagai alat meningkatkan status sosial 6. Klafisikasi Uang

Uang dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian, diantaranya berupa;

a. Full bodied money, adalah nilai yang tertera diatas uang tersebut sama nilainya dengan bahan yang digunakan. Misalkan jika uang tersebut terbuat dari emas, maka nilai itu sama dnegan nilai emas yang dikandungnya.

(20)

20

b. Representative full bodied money, maksudnya uang tersebut terbuat dari kertas, dengan demikian nilainya sebagai barang tidak ada. Uang jenis ini mewakili (repesent) dari sejumlah barang/ logam di mana nilai logam sebagai barang sama nilainya sebagai uang.

c. Credit money, maksudnya ialah nilainya sebagai uang lebih besar daripada nilai barang. Misalkan seperti uang kertas.

7. Jenis Uang

Adapun jenis uang yang beredar di masyarakat dikelompokkan menjadi beberapa bagian, diantaranya yaitu:

a. Uang Kartal

Uang kartal adalah alat bayar yang sah dan wajib diteria oleh masyarakat dalam melakukan transaksi jual beli sehari-hari. Uang kartal ini juga memiliki jenis, jenis uang tersebut diantaranya berupa;

1) Jenis uang kartal menurut lembaga yang mengeluarkannya.

Menurut Undang-Undang Pokok Bank Indonesia No. 11/1953, terdapat dua jenis uang kartal, yaitu; Uang Negara; adalah uang yang dikeluarkan oleh pemerintah yang terbuat dari kertas. Memiliki ciri- ciri seperti, dikeluarkan oleh pemerintah, dijamin oleh undang-undang, bertulis nama negara yang

(21)

21

mengeluarkannya, ditanda tangani oleh menteri keuangan.

Namun sejak berlakunya Undang-undang No.

13/1968, uang negara dihentikan peredarannya dan diganti dengan Uang Bank. Uang Bank; adalah uang yang dikeluarkan oleh Bank Sentral berupa uang logam dan uang kertas, yang memiliki ciri-ciri, dikeluarkan oleh Bank Sentral, dijamin dengan emas dan valuta asing yang di simpan diBank sentral , serta bertulis nama bank sentral yang bersangkutan (di Indonesia:

Bank Indonesia), dan ditandatangani oleh gubernur Bank sentral.

2) Jenis uang kartal menurut bahan pembuatnya:

a) Uang logam

uang ini biasanya dibuat dari emas dan perak, namun sekarang uang logam tidak dinilai dari emasnya, namun dari nilai nominalnya. Uang logam memiliki dua macam nilai diantaranya:

 Nilai intrinsik

Yaitu nilai bahan untuk membuat mata uang seperti emas dan perak . sebab bahan uang tersebut tahan lama dan tidak mudah rusak.

(22)

22

 Nilai tukar

Yaitu kemampuan uang untuk dapat ditukarkan dengan suatu barang.

b) Uang kertas

Uang ini terbuat dari kertas dengan gambar dan cap tertentu yang merupakan alat pembayaran yang sah. Menurut UU No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, yang dimaksud dengan uang kertas adalah uang dalam bentuk lembaran yang terbuat dari bahan kertas. Uang kertas juga terdiri dari dua macam, berupa;

 Uang kertas negara.

Uang kertas negara yaitu uang kertas yang dikeluarkan oleh pemerintah dengan alat pembayaran yang sah dalam jumlah yang terbatas serta ditandatangani menteri keuangan (uang ini sudah tidak diedarkan lagi).

 Uang kertas bank

Uang kertas bank yaitu uang yang dikeluarkan oleh Bank sentral.

Adapun keuntungan penggunaan alat tukar (uang) dari kertas diantaranya yaitu;

(23)

23

 Penghematan terhadap pemakaian logam mulia,

 Ongkos pembuatan relatif murah dibandingkan dengan ongkos pembuatan uang logam,

 uang kertas bersifat elastis (mudah dicetak

dan diperbanyak), mempermudah pengiriman dalam jumlah besar.

b. Uang Giral

Menurut UU No. 7 tentang Perbankan tahun 1992, mendefinisikan uang giral yaitu tagihan yang ada di bank umum, yang dapat digunakan sewaktu-waktu sebagai alat pembayaran.

Menurut Sadono Sukirno dalam bukunya yang dimaksud uang giral adalah tabungan seseorang atau suatu perusahaan dalam bank umum yang dapat di ambil pemiliknya dengan menggunakan cek.16 Adapun bentuk uang giral berupa cek dan giro. Uang giral dapat terjadi dengan cara seperti;

penyetoran uang tunai kepada bank dan dicatat dalam rekening koran atas nama penyetor, penyetorpun menerima buku cek dan buku giro bilyet. Selanjutnya pada saat transaksi surat berharga, kemudian disaat mendapatkan kredit dari bank yang

16Sadono Sukirno dkk, Pengantar Bisnis, (Jakarta: Prenada Media Group, 2005), hal 301.

(24)

24

dicatat dalam rekening bank dan dapat diambil sewaktu-waktu.

keuntungan menggunakan uang giral yaitu; memudahkan pembayaran karena tidak perlu menghitung uang, alat pembayaran yang dapat diterima untuk jumlah yang tidak terbatas, nilainya sesuai dengan yang dibutuhkan, aman karena resiko uang hilang lebih kecil dan bila hilang bisa dilaporkan ke bank yang mngeluarkan cek/ bilyet giro dengan cara pemblokiran.

c. Uang Kuasi

Uang kuasi adalah surat-surat berharga yang dapat dijadikan sebagai alat pembayaran. Uang kuasi ini terdiri dari deposito berjangka dan tabungan serta rekening valuta asing milik swasta.

8. Uang dalam Pandangan Islam a. Pengertian Uang dalam Islam

Pengertian uangsecara bahasa atau etimologi berasal dari kata al-naqdu yang berarti yang baik dari dirham, dan al-naqdu juga berarti tunai.

Sedangkan kata fulus (uang tembaga) alat tukar tambahan yang digunakan untuk membeli barang-barang murah. Sedangkan menurut para ulama diantara, Menurut Abu Ubaid dia mengatakan bahwa uang (dinar dan dirham) adalah standar ukuran nilai yang dibayarkan dalam transaksi barang dan jasa.

(25)

25

Menurut al-Ghazali Allah telah menciptakn uang(dinar dan dirham) sebagai hakim penengah diantara seluruh harta , sehingga seluruh harta bisa diukur dengan keduanya. Menurut Ibn al – Qayyim beliau berpendapat uang (dinar dan dirham) adalah nilai harga barang komoditas. Pendapat lain yang diutarakan oleh Taqyudin al-Nabhani mengatakat uang adalah standar nilai yang dipergunakan untuk menilai barang dan jasa.17

Jadi, dapat di simpulkan uang merupakan sarana yang digunakan oleh masyarakat dalam proses transaksi barang maupun jasa sebagai alat tukar yang bahannya berasal dari emas, perak, tembaga, besi ataupun kertas.

b. Konsep Uang dalam Islam

Konsep uang dalam ekonomi Islam berbeda dengan konsep uang dalam ekonomi konvensional. Adapun perbedaan tersebut dapat dilihat dari tabel dibawah:18

17Naf’an, Ekonomi Makro Tinjauan Ekonomi Syariah, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2014), hal 62.

18Muhammad Nafik HR, Bursa Efek dan Investasi Syariah, (Jakarta:Serambi Ilmu Semesta, 2009), hal 92.

(26)

26

Konsep Uang dalam Islam dan Konvensional

Konsep Islam Konsep Konvensional

Uang tidak identik dengan modal

Uang sering diidentik dengan modal

Uang adalah public goods Uang adalah private goods

Modal adalah private goods Modal adalah private goods

Uang adalah flow concept Uang adalah flow concept bagi Finisher

Modal adalah stock concept Uang (modal) adalah stock concept bagi Cambridge School

Dalam tabel diatas dapat dijelaskan bahwa menurut Cambridge uang merupakan salah satu cara untuk menyimpan kekayaan. Dalam Islam, uang adalah uang yang hanya berfungsi sebagai alat tukar.19Jadi, uang adalah sesuatu yang terus mengalir dalam perekonomian masyarakat, lebih dikenal dengan istilah flow concept.

c. Fungsi Uang dalam Islam

Dalam Islam fungsi uang adalah sebagai Medium of Exchange(alat tukar). Maksudnya yaitu uang menjadi media untuk merubah barang dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain, sehingga uang tidak bisa dijadikan sebagai komoditi.

19Naf’an, Ekonomi Makro Tinjauan Ekonomi Syariah, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2014), hal 66.

(27)

27 B. Uang Elektronik (E-money)

1. Konsep Dasar Uang Elektronik

Menurut peraturan Bank Indonesia Nomor: 11/12/PBI/2009 Tentang Uang Elektronik, uang elektronik adalah alat pembayaran yang diterbitkan atas dasar nilai uang yang disetor dahulu oleh pemegang kepada penerbit, yang tersimpan secara elektronik dalam suatu media seperti server atau chip, dan nilai uang tersebut bukan merupakan simpanan serta digunakan sebagai alat pembayaran kepada pedagang yang bukan merupakan penerbit uang elektronik tersebut.20

Transaksi elektronik menurut pasal 1 ayat 2 Undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik adalah sebuah perbuatan yang dilakukan dengan menggunakan komputer, jaringan komputer, dan media elektronik lainnya. Dalam transaksi elektronik, masyarakat membutuhkan transaksi yang cepat, aman, nyaman, dan memberikan kepastian bertransaksi, maupun kepastian hukum, khususnya dengan menggunakan transaksi elektronik.21Dan uang elektronik juga diartikan sebagai uang yang digunakan dalam transaksi internet dengan cara elektronik.22

Maka dapat dikatakan bahwa uang elektronik adalah pembayaran yang dilakukan melalui sistem elektronik atau yang

20Aris Rusdianto, Tinjauan Prinsip Syariah Terhadap Produk E-Money Bank Syariah Mandiri, (Jakarta: UIN syarif Hidayatullah), hal 24

21Undang-undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

22Firmansyah dan M Ihsan Dacholfany, Uang Elektronik dalam Prespektif Islam, (Lampung: CV Iqra’, 2018), hal 21.

(28)

28

dikenal dengan sistem pembayaran elektronik yang dengan uang elektronik ini dapat membawa uang dengan mudah.

2. Kriteria Uang Elektronik

Adapun sarana instrumenn uang elektronik memiliki kriteria sebagai berikut:23

a. Diterbitkan atas dasar nilai uang yang disetor terlebih dahulu oleh pemegang kepada penerbit

b. Nilai uang dismpan dalam suatu media seperti server atau chip c. Digunakan sebagai alat pemabayaran kepada pedagang yang bukan

merupakan penerbit uang elektronik tersebut

d. Nilai uang elektronik yang disetor oleh pemegang dan dikelola oleh penerbit

3. Manfaat Uang Elektronik dan Kelebihannya

Penggunaan uang elektronik sebagai alat pembayaran dapat memberikan manfaat sebagai berikut:24

a. Memberikan kemudahan dan kecepatan dalam melakukan transaksi pembayaran tanpa perlu membawa uang tunai.

b. Tidak lagi menerima uang kembalian dalam bentuk barang (seperti permen) akibat pedagang tidak mempunyai uang kembalian

c. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu transaksi dengan uang elektronik (e-money) dapat dilakukan lebih cepat.

23Firmansyah dan M Ihsan Dacholfany, Uang Elektronik dalam Prespektif Islam, (Lampung: CV Iqra’, 2018), hal 22.

24http://www.bi.go.iddiakses pada hari Senin, 24-September-2018, pukul 11:44 WIB

(29)

29

d. Apabila nilai uang pada kartu elektronik telah habis maka pengguna dapat melakukan pengisian uang kembali.25

4. Kelemahan Uang Elektronik

Adapun kelemahan dari uang elektronik berupa:26

a. Masyarakat masih banyak yang tidak memahami tentang uang elektronik.

b. Apabila uang elektronik hilang maka siapapun yang menemukannya dapat menggunakannya untuk bertransaksi dimana saja.

c. Apabila kartu error yang menyebabkan kgagalan pada sistem berarti harus diganti dengan kartu yang baru.

5. Bentuk Uang Elektronik

Adapun bentuk-bentuk uang elektronik terdiri dari:27

a. Berdasarkan media penyimpanannya, saat ini uang elektronik dibedakan atas dua jenis yaitu:

1) Uang elektronik yang nilai uang elektroniknya selain dicatat pada media elektronik yang dikelola oleh penerbit juga di catat pada media yang dikelola oleh pemegang.

Media elektronik yang dikelola oleh pedagang dapat berupa chip yang tersimpan pada kartu, stiker, atau harddisk

25Firmansyah dan M Ihsan Dacholfany, Uang Elektronik dalam Prespektif Islam, (Lampung: CV Iqra’, 2018), hal 82.

26 Firmansyah dan M Ihsan Dacholfany, Uang Elektronik dalam Prespektif Islam, (Lampung: CV Iqra’, 2018), hal 83

27Penjelasan Atas Peraturan Bank Indonesia nomor 11/12/PBI/2009,Tentang Uang Elektronik hal 1-2

(30)

30

yang terdapat pada personal komputer milik pemegang.

Dengan sistem pencatatan seperti ini, maka transaksi pembayaran dengan menggunakan uang elektronik dapat dilakukan secara offline dengan mengurangi secara langsung nilai uang. Contohnya seperti kartu ATM

2) Uang elektronik yang nilai uang elektroniknya hanya dicatat pada media elektronik yang dikelola oleh penerbit. Dalam hal ini pemegang diberi hak akses oleh penerbit terhadap penggunaan nilai uang elektronik tersebut.

Dengan sistem pencatatan seperti ini, maka transaksi pembayaran dengan menggunakan uang elektronik ini hanya dapat dilakukan secara online dimana nilai uang elektronik yang tercatat pada media elektronik yang dikelola penerbit akan berkurang secra langsung. Contohnya seperti Go-pay.

b. Berdasarkan jangkuan penggunaannya 1) Single Purpose

Merupkan uang elektronik yang digunakan untuk melakukan pembayaran atas kewajiban yang timbul dari satu jenis transaksi ekonomi, misalnya uang elektronik yang hanya dapat digunakan untuk pembayaran tol atau uang elektronik yang hanya dapat digunakan untuk pembayaran transportasi umum. Contoh lain berupa Card Ramayana, Card Transmart, Card Terrazone dan lain-lain.

(31)

31 2) Multi Purpose

Merupakan uang elektronik yang digunakan untuk melaukan berbagai pembayaran atas kewajiban pemegang kartu terhadap berbagai hal yang dilakukannya. Contohnya yaitu suatu uang elektronik yang dapat digunakan dalam beberapa jenis transaksi seperti penggunaan uang elektronik untuk pembayaran tol, dapat juga digunakan untuk pembayaran telepon, jasa transportasi, pembayaran pada minimarket dan lain-lain cukup menggunakan satu kartu.

Contohnya Paytren.

6. Bentuk Layanan Uang Elektronik yang ada di Indonesia

Adapun bentuk layanan uang elektronik yang ada di Indonesia diantaranya berupa:28

a. Bank Mandiri

Bank mandiri memiliki tiga jenis e-money brupa kartu, yaitu Indomaret Card untuk belanja di Indomaret, Gaz Card untuk membeli bahan bakar minyak di Pertamina, dan E-Toll untuk membayar akses tol.

b. Bank BNI

Kartunya berupa Tap Cash, kartu ini bisa digunakan untuk melakukan pembayaran di minimarket seperti Alfamart, dan juga bisa digunakan untuk membayar e-parking.

28Firmansyah dan M Ihsan Dacholfany, Uang Elektronik dalam Prespektif Islam, (Lampung: CV Iqra’, 2018), hal 88-93

(32)

32 c. Bank Permata

Kartunya berupa BBM Money, penggunaannya bisa digunakan untuk membayar tagihan listrik dan mengirim uang dari bank lain

d. Bank BRI

Kartunya berupa Brizzi, dapat digunakan sebagai pembayaran non tunai. Adapun pengisian saldo maksimumnya 1 juta.

e. Dompetku

Merupakan layanan e-money bagi pengguna Indosat Ooredoo yang bisa didapat dengan mengakses *789#. Melalui layanan ini, pengguna bisa melakukan setoran dan tarik tunai, pembelian, pembayaran, bahkan melakukan transfer. Dompetku juga bisa digunakan di mitra yang bekerja sama dengan perusahaan ini seperti, Alfamart, Indomaret, dan Asuransi Adira.

f. Go-pay

Fitur go-pay membawa Go-jek berevolusi menjadi financial technology. Go-pay juga bisa digunakan untuk belanja online, seperti beli pulsa, hingga bayaran tagihan listrik sampai BPJS.29

Dengan adanya uang non tunai ini diharapkan akan memberikan keuntungan bagi masyarakat karena lebih aman dan praktis.

29www.moneysmart.iddiases pada hari Kamis, 10 Januari 2019, pukul 07.43 WIB

(33)

33

7. Pihak –pihak dalam Transaksi Uang Elektronik

Sesuai dengan peraturan Bank Indonesia Nomor 16/8/PBI/2014 tentang uang elektronik (electronik money) maka dapat dilihat pihak- pihak dalam transaksi uang elektronik antara lain:

a. Prinsipal

Prinsipal merupakan bank atau lembaga selain bank yang bertanggungjawab atas pengelolaan sistem jaringan antar anggotanya yang berperan sebagai penerbit acquirer, dalam transaksi uang elektronik yang kerja sama dengan anggotanya didasarkan atas suatu perjanjian tertulis.

b. Penerbit

Penerbit merupakan bank atau lembaga selain bank yang menerbitkan uang elektronik. Bank atau lembaga selain bank yang akan melakukan kegiatan sebagai penerbit uang elektronik wajib memperoleh izin dari Bank Indonesia. Bank atau lembaga selain bank (pemohon) yang akan menyelenggarakan kegiatan sebagai penerbit harus terlebih dahulu memperoleh persetujuan dari otoritas pengawas bukan bagi pemohon berupa bank atau rekomendasi dari otoritas pnegawas lembaga selain bank bagi pemohon berupa lembaga selain bank (jika ada). 30

30Ivan Ferdinandus Halawa, Tanggungjawab Penerbit Uang Elektronik Terhadap Penyalahgunaan Uang Elektronik yang Merugikan Pengguna uang Elektronik (Medan, Sumatera Utara, 2015)

(34)

34 c. Acquirer

Acquirer adalah bank atau lembaga selain bank yang :Melakukan kerjasama dengan pedagang sehingga pedagang mampu memproses transaksi dari uang elektronik yang diterbitkan oleh pihak selain acquirer yang bersangkutan dan bertanggungjawab atas penyelesaian pembayaran kepada pedagang.

d. Pemegang

Pemegang adalah pihak yang menggunakan uang elektronik. Pemegang adalah konsumen, dimana pasal 1 ayat 2 Undang-undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen menjelaskan konsumen merupakan setiap orang pemakai barang/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup dan tidak untuk diperdagangkan. Barang yang dipakai dalam hal ini adalah uang elektronik. Dapat disimpulkan pemegang merupakan pihak yang menggunakan uang elektronik.

e. Pedagang

Pedagang (merchant) adalah penjual barang atau jasa yang menerima transaksi pembayaran dari pemegang.31 Pemindahan nilai uang elektronik terjadi apabila ada transaksi pembayaran yang dilakukan pada pedagang melalui mesin khusus.

31Peraturan Bank Indonesia Nomor 16/8/PBI/ 2014 tentang Uang Elektronik

(35)

35 f. Penyelenggara Kliring

Penyelenggara kliring merupakan bank atau lembaga selain bank yang melakukan perhitungan hak dan kewajiban keuangan masing-masing penerbit atau acquirer dalam rangka transaksi uang elektronik.

g. Penyelenggara Penyelesaian Akhir

Penyelenggara penyelesaian akhir adalah Bank lembaga selain Bank yang melakukan dan bertanggungjawab terhadap penyelesaian akhir atas hak dan kewajiban keuangan masing- masing penerbit dalam rangka transaksi uang elektronik berdasrkan hasil perhitungan dari penyelenggara kliring.32

C. Konsep Uang Elektronik(E-money) dalam Syariah 1. Dasar Hukum Uang Elekonik

Berdasarkan ketentuan hukum menganai pedoman penyelenggaraan uang elektronik dalam fatwa DSN-MUI No 116/DSN-MUI/IX/2007 tentang uang elektronik syariah merujuk pada dasar hukum sebagaimana berikut, pada firman Allah surat An-nisa’

ayat 29:





32Peraturan Bank Indonesia Nomor 16/8/PBI/ 2014 tentang Uang Elektronik

(36)

36

Artinya; Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.(QS. An Nisa:29)

2. Akad- akad pada Uang Elektronik

Lafal akad berasal dari bahasa Arab yaitu al-aqd yang secara etimilogi berarti perikatan, perjanjian dan permufakatan.33 Secara terminologi, akad syariah adalah perjanjian atau kontrak tertulis antara para pihak yang memuat hak dan kewajiban masing-masing pihak yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Terdapat beberapa akad yang berhubungan dengan mekanisme uang elektronik.

Diantaranya yaitu sebagai berikut:

a. Akad Jual Beli (al-ba’i)

Akad jual beli adalah akad tukar menukar harta dengan harta lain melalui tatacara yang telah ditentukan oleh syariat.

Dalam Fatwa DSN MUI No: 82/DSN-MUI/VIII/2011, akad jual beli juga didefinisikan sebagai pertukaran harta dengan harta yang menjadi sebab berpindahnya kepemilikan objek jual beli.

Akad jual beli dalam kegiatan uang elektronik terjadi ketika nilai uang elektronik yang tersimpan dalm media penyimpanan, baik berupa server atau chip yang dimiliki oleh penerbit dijual

33Azharuddin Latif, Kontrak Bisnis Syariah, (Jakarta: Fakultas syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, 2011), hal 26.

(37)

37

kepada calon pemegang dengan sejumlah uang senilai uang yang tersimpan dalam media uang elektronik.

b. Akad Wadiah

Akad wadiah merupakan akad penitipan barang atau harta kepada orang lain yang dapat dipercaya untuk memelihara dan menjaganya. Wadiah dalam uang elektronik terjadi ketika calon pemegang uang elektronik menyerahkan sejumlah uang kepada penerbit dengan maksud menitipkan dan selanjutnya sejumlah uang tersebut dikonversikan menjadi sebuah nilai uang elektronik senilai uang yang diserahkan. Apabila menggunakan akad wadiah maka harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:

1) Bersifat titipan 2) Titipan bisa diambil

3) Penerbit dapat menginvestasikan uang titipan dengan terlebih dahulu meminta izin kepada pemegang

4) Dalam hal uang titipan digunakan penerbit dan mengalami kerugian, maka penerbit bertanggungjawab secara penuh

5) Otoritas dapat menjamin atau tidak menjamin pemegang uang elektronik yang dititipkan di penerbit.

c. Akad Sharf

(38)

38

Secara bahasa sharf berarti tambahan, penukaran, pengindaran atau transaksi jual beli.34 Secara istilah, sharf adalah bentuk jual beli naqdain baik sejenis maupun tidak yaitu jual beli emas dengan emas, perak dengan perak, atau emas dengan perak dan baik telah berbentuk perhiasan maupun mata uang. Jadi, sharf dalam istilah fiqh muamalah kontemporer adalah transaksi jual beli mata uang baik antar mata uang sejenis maupun antar mata uang berlain jenis.35

d. Akad Ijarah

Akad ijarah adalah transaksi sewa menyewa atas suatu barang atau upah mengupah atas suatu jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa atau imbalan jasa. Menurut fatwa DSN MUI No: 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang pembiayaan ijarah, akad ijarah yaitu akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang dalam waktu tertentu dengan pembayaran sewa (ujrah), tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri.

Akad Ijarah itu sendiri harus memenuhi beberapa kriteria diantaranya:

1) Obyek ijarah adalah manfaat dari penggunaan barang atau jasa 2) Manfaat barang atau jasa harus bisa dinilai dan dapat

dilaksanakan dalam kontrak

34Sutan remy Sjahdiyni, Perbankan Islam dan Kedudukannya dalam Tata Hukum Perbankan Indonesia (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1999), hal. 87

35Fatwa DSN-MUI No 28/ DSN-MUI/III/ 2002 Tentang Jual Beli Mata Uang (AL-Sharf), hal. 1

(39)

39

3) Manfaat barang atau jasa harus yang bersifat dibolehkan (tidak diharamkan)

4) Manfaat harus dikenali secara spesifik untuk menghilangkan jahalah (ketidaktahuan) yang akan mengakibatkan sengketa 5) Spesifikasi manfaat haruis dinyatakan dengan jelas, termasuk

jangka waktunya. Bisa juga dikenal dengan spesifikasi atau identifikasi fisik

6) Sewa atau upah adalah sesuatu yang dijanjiakan dan harus dibayar.

e. Akad Wakalah

Akad wakalah menurut bahasa artinya melindungi.

Menurut ulama Mazhab Syafi’i mengatakan bahwa wakalah adalah penyerahan kewenangan terhadap sesuatu yang boleh dilakukan sendiri dan bisa diwakilkan kepada orang lain selama pemilik kewenangan masih hidup. Menurut fatwa DSN MUI No. 10 tahun 2000, akad wakalah yaitu pelimpahan kekuasaan oleh suatu pihak lain dan boleh diwakili.

f. Akad Qardh

Menurut fatwa DSN MUI No:19/DSN-MUI/IV/2001, akad qardh yakni suatu akad pinjaman kepada nasabah dengan ketentuan bahwa nasabah wajib mengembalikan dana yang diterima kepada LKS pada waktu yang telah disepakati oleh LKS dan nasabah.

(40)

40

3. Prinsip Syariah Umum dalam Bermuamalah

Prinsip syariah pada dasarnya terbagi menjadi 2, yaitu kaidah prinsip syariah dalam bidang ibadah maupun prinsip syariah dalam bidang muamalah. Prinsip syariah muamlah merupakan suatu prinsip hukum Islam dalam kegiatan muamalah (interaksi sesama manusia) yang didasari pada Al-Quran dan Sunnah. Menurut UU No 21 Tahun 2008 tentang perbankang syariah, prinsip syariah adalah prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah. Secara umum, prinsip syariah dalam bidang muamalah mengikuti kaidah fiqh berikut ini:

اَهِمْي ِرْحَت ىَلَع ٌلُدَي ْنَأ َلأِإ ُةَحاَبِلإْا ِتَلاَم اَعُمْلا يِف ُلْصَلأَا

Kaidah fiqh ini memiliki arti “Pada dasarnya segala kegiatan muamalah (interaksi sesama manusia) adalah diperbolehkan kecuali terdapat dalil yang mengharamkannya”.

Dalam kegiatan muamalah dalam sistem ekonomi, terdapat larangan-larangan yang terdapat dalam al-Quran dan hadits semata- mata untuk melindungi manusia dari hal-hal yang merugikan. Suatu perilaku muslim dalam setiap aktivitas ekonomi syariah harus sesuai dengan tuntunan syariat Islam dalam rangka mewujudkan dan menjaga maqashid syariah (agama, jiwa, akal, nasab dan harta).36

36Nur Rianto Al Arif dan Euis Amalia, Teori Mikroekonomi: Suatu perbandingan Ekonomi Islam dan Ekonomi Konvensional, (Jakarta: Kencana pernadamedia, 2014), hal.43

(41)

41

Padahal ini penulis melakukan pembatasan bahasan agar tidak terlalu umum dan lebih fokus. Transaksi pada kegiatan muamalah dikatakan halal setidaknya jika tidak memiliki unsur-unsur sebagai berikut;

a. Maysir (Judi)

Maysir atau qimar secara harfiah bermakna judi. Secara teknis adalah setiap permainan yang didalamnya disyaratkan adanya sesuatu yang diambil dari pihak yang kalah untuk pihak yang menang.37 Dalam peraturan bank Indonesia No 7/6/PBI/2005, maysir adalah transaksi yang mengandung perjudian, untung- untung atau spekulatif yang tinggi. Yang dapat dikategorikan judi terdiri dari:

1) Adanya taruhan harta atau material yang berasal dari kedua belah pihak yang berjudi

2) Ada suatu permainan yang digunakan untuk menentukan pemenang dan yang kalah

3) Pihak yang menang mengambil harta (sebagian atau seluruhnya) yang menjadi taruhan, sedangkan pihak yang kalah kehilangan hartanya.

37Nur Rianto Arif, Dasar-dasar ekonomi Islam, (Solo: Era Adicitra Intermedia, 2004), hal.

108

(42)

42

Dalam al-qur’an larangan maysir (judi) terdapat pada surah Al-Maidah ayat 90:





Artinya:Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.(Al- Maidah:90)

b. Riba

Riba secara bahasa berarti tambahan (ziyadah). Dalam istilah syara riba didefinisikan sebagai tambahan pada barang- barang tertentu.38 Riba diharamkan dalam al-qur’an, hadits maupun ijma’. Di zaman Rasulullah SAW, pengharaman riba dilakukan secara berangsur-angsur meliputi empat (4) tahapan. Diantaranya adalah surat Ar-ruum ayat 39, lalu tahap berikutnya surat An-nisa ayat 160-161, ditahapan selanjutnya surat Ali-Imran ayat 130, dan tahapan akhir yaitu surat Al-Baqarah ayat 275-279. Menurut jumhur ulama, riba ada dua macam yaitu:

1) Riba fadhl,

Para fuqaha Hanafiyah mengartikan riba fadhl sebagai tambahan pada harta dalam akad jual beli sesuai ukuran syariat

38Wahbah Az-zuhaili, Fiqih Islam wa adillatuhu, Penerjemah Abdul Hayyie Al-Kaffani dkk (Jakarta: Gema Insani, 2011), cet.X, jilid 5, hal. 307

(43)

43

(yaitu takaran dan timbangan) jika barang yang ditukar sama.39 Riba fadh juga didefinisikan sebagai jual beli barang ribawi dengan barang ribawi serupa dengan barang tambahan pada salah satunya.

2) Riba nasiah

Ribanasiah adalah riba yang muncul karena adanya penangguhan penyerahan barang ribawi yang ditukarkan dengan barang ribawi sejenis sehingga karena penangguhan tersebut menimbulkan tambahan.

c. Gharar

Gharar menurut bahasa berarti al-khathru (bahaya atau risiko).40 Menurut terminologi, bay’ al-gharar adalah setiap akad jual beli yang mengandung resiko atau bahaya kepada slah satu pihak sehingga berpotensi mendatangkan kerugian finansial. Hal ini dikarenakan adanya keraguan dalam obyek akad karena ketidak jelasannya.

Para ulama mendefinisikan gharar tersebut dalam tiga makna, diantaranya yaitu:

1) Gharar berhubungan dengan ketidakjelasan barang yang diperjualbelikan

2) Gharar berhubungan dengan adanya keragu-raguan

39Wahbah Az-zuhaili, Fiqih Islam wa adillatuhu, Penerjemah Abdul Hayyie Al-Kaffani dkk (Jakarta: Gema Insani, 2011), cet.X, jilid 5, hal. 308

40Enang Hidayat, Fiqih Jual Beli, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2005), hal.

101

(44)

44

3) Gharar berhubungan dengan sesuatu yang tersembunyi akhirnya.

Pada dasarnya gharar ini merupakan hal yang harus dihindari dalam jual beli maupun bermuamalah yang pada umumnya menimbulkan ketidakjelasan antara satu pihak yang tidak mengetahui apa yang tersembunyi.41 Misalnya menjual ikan didalam kolam, ataupun sayuran dalam karung, karena pada hakikatnya ia tidak mengetahui dan masih samar. Perdagangan ini dilarang karena mengandung unsur ketidakpastian dan dikhawatirkan dapat menimbulkan pertengkaran dan permusuhan anatara penjual dan pembeli.42

d. Haram

Diantara syarat sahnya jual beli menurut para ulama adalah harta yang diperjualbelikan berupa harta yang bisa dimanfatkan menurut syara.43 Selain itu, harta yang diperjualbelikan tidak boleh barang yang haram yang dilarang secara syara untuk diperjualbelikan.

Transaksi atau obyek barang yang haram dibedakan menjadi 2 yaitu:

41 Enang Hidayat, Fiqih Jual Beli, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2005), hal.

102

42Hulwati, Ekonomi Islam, (Padang: Ciputat Press Group, 2009), hal 44

43Enang Hidayat, Fiqih Jual Beli, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2005), hal.146

(45)

45 1) Haram lizatihi

Haram lizatihi adalah obyek akad yang haram karena zatnya berdiri sendiri tanpa sebab lain. Hal ini karena obyek barang tersebut dilarang secara tegas dalam al-qur’an . contohnya adalah jual beli bangkai (kecuali ikan dan makhluk hidup dilautan), jual beli arak/minuman keras, jual beli darah, jual beli babi dan lain-lain.

2) Haram lighairihi

Haram lighairihi adalah jual beli yang dilarang yang kerusakannya tidak berdiri sendiri, melainkan karena sebab yang lainnya.44 Contohnya jual beli di dalam masjid. Haram yang dimaksudkan disini adalah dalam metode pembayaran yang digunakan jangan sampai memfasilitasi pembelian barang-barang yang terlarang secara syariat.

e. Tadlis

Tadlis adalah penipuan yang terjadi karena ketimpangan informasi tentang barang yang diperjual belikan.45 Hal ini terlarang dalam syariat karena dapat merugikan suatu pihak. Tadlis dibedakan menjadi beberapa macam, diantaranya yaitu:

44Enang Hidayat, Fiqih Jual Beli, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2005), hal.

195

45Nur rianto Al Arif dan Euis Amalia, Teori Mikroekonomi: Suatu perbandingan Ekonomi Islam dan Ekonomi Konvensional, (Jakarta: Kencana pernadamedia, 2014), hal. 286

(46)

46 1) Tadlis kuantitas

Yaitu penipuan karena menjual barang dengan kuantitas sedikit dengan harga barang kuantitas banyak.

2) Tadlis kualitas

Yaitu menyembunyikan cacat atau kualitas barang yang buruk yang tidak sesuai dengan apa yang disepakati oleh penjual dan pembeli.

3) Tadlis harga

Yaitu menjual barang lebih tinggi atau lebih rendah dari harga pasar karena ketidaktahuan pembeli atau penjual.

4) Tadlis waktu penyerahan

Yaitu penipuan yang dilakukan dengan menawarkan waktu penyerahan yang cepat namun penjual tidak dapat melaksankannya pada waktunya.

D. Ekonomi Islam

1. Pengertian Ekonomi Islam

Ekonomi Islam menurut bahasa Arab diistilahkan dengan al- iqtishad al-islami. Al- iqtishad secara bahasa berarti al-qashdu yaitu pertengahan dan berkeadilan.46 Pengertian pertengahan dan berkeadilan banyak ditemukan dalam Al-qur’an diantaranya pada QS al-Maidah ayat: 66

46Rozalinda, Ekonomi Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2014), hal 2.

(47)

47





Artinya:Dan Sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka diantara mereka ada golongan yang pertengahan dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka (QS Al-Maidah: 66).

Maksud ayat diatas berupa orang berlaku jujur, lurus dan tidak menyimpang dari kebenaran.Sedangkan menurut istilah pengertian ekonomi Islam dikemukakan oleh beberapa ahli ekonomi Islam, diantaranya yaitu:47

Muhammad Abdul Manan berpendapat bahwa ekonomi Islam adalah ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah –masalah ekonomi masyarakat yang diilhami oleh nilai-nilai Islam. Menurut M.

Umer Chapra ekonomi Islam adalah sebuah pengetahuan yang membantu upaya realisasi kebahagiaan manusia melalui alokasi dan distribusi sumber daya yang terbatas yang mengacu pada pengajaran Islam tanpa memberikan kebebasan individu.

47Nurul Huda dkk, Ekonomi Makro Islam Pendekatan Teoritis,(Jakarta: Pernada Media Group,2014), hal 2.

(48)

48

Sedangkan menurut Muhammad Nejatullah Ash-Sidiqy ekonomi Islam adalah respons pemikiran muslim terhadap tantangan ekonomi pada masa tertentu dengan berpedoman kepada Al-Qur’an dan Sunnah serta akal (Ijtihad), dan pengalaman. Adapun, menurut Kursyid Ahmad, ilmu ekonomi Islam adalah sebuah usaha sistematis untuk memahami masalah-masalah ekonomi dan tingkah laku manusia dalam prespektif ekonomi Islam. Dan menurut Hassanuzzama, ekonomi Islam adalah ilmu dan aturan syariah yang mencegah ketidakadilan dalam menggunakan sumber daya agar dapat memenuhi kebutuhan manusia sehingganya dapat menjalankan kewajiban kepada Allah dan masyarakat.48 Sementara itu, menurut Munawar Iqbal ekonomi Islam adalah sebuah disiplin ilmu yang mempunyai akar dalam syariat Islam.49

Jadi, dalam hal ini penulis menyimpulkan bahwasannya pengertian ekonomi Islam adalah suatu sistem ekonomi yang di dasari oleh prinsip-prinsip yang sesuai dengan syariat Islam yang berlandaskan kepada Al-qur’an dan hadits Rasulullah.

2. Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam

48Veithzal Rivai dan Andi Buchari, Islamic Economic, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hal 11.

49Asyari, Ekonomi Islam, (Bukittinggi:STAIN Syaech M Djamil Djambek, 2003), hal 3

(49)

49

Berdasarkan dari definisi di atas terdapat berbagai prinsip yang harus di pegang teguh dalam menjalankan ekonomi Islam yang terdiri dari:50

a. Tauhid

Tauhid merupakan fondasi ajaran Islam, dengan tauhid manusia menyaksikan bahwa “Tiada sesuatupun yang layak disembah melainkan Allah”, dan “tidak ada pemilik langit, bumi dan isinya, selain dari pada Allah” karena Allah adalah pencipta alam semesta isinya dan sekaligus pemilik, termasuk pemilik manusia dan seluruh sumberdaya yang ada.

Dalam Islam segala sesuatu tidak ada diciptakan dengan sia-sia, semua memiliki tujuan. Manusia diciptakan untuk beribadah kepadaNya, karena itu segala aktivitas manusia yang berhubungan dengan alam semesta maupun bermu’amalah haruslah dibingkai dengan hubungan kepada Allah. Sebab, manusia akan mempertanggungjawabkan segala perbuatannya, termasuk dalam aktivitas ekonomi dan bisnis.

Karena hal itu lah segala aktivitas yang ada hubungannya dengan alam (sumber daya) dan manusia dibingkai dalam kerangka hubungan dengan Allah. Karena kepada-Nya lah kita akan mempertanggungkan semua perbuatan kita, termasuk dalam aktivitas ekonomi dan bisnis.

50Akhmad Mujahidin, Ekonomi Islam, (Depok: Raja Grafindo Persada, 2013), hal 25.

(50)

50 b. ‘Adl

Allah adalah pencipta segala sesuatu, dan salah satu sifat-Nya adalah adil. Dan tidak membedakan perlakuan terhadap makhluk-Nya. Allah juga memerintahkan manusia untuk berbuat adil. Islam mendefinisikan adil sebagai “tidak menzhalimi dan tidak dizhalimi”. Dalam hal ini seperti pelaku ekonomi tidak diperbolehkan untuk mengejar keuntungan pribadi bila hal itu merugikan orang lain atau merusak alam.

Keadilan juga harus diwujudkan dalam mengalokasikan sejumlah hasil kegiatan ekonomi bagi orang yang tidak mampu memasuki pasar, sehingga hasil ekonomi dapat didistribusikan melalui zakat, infak dan hibah.51

Tanpa keadilanpun manusia akan terklasifikasi dalam berbagai golongan, sebab golongan yang satu akan menzalimi golongan yang lain, sehingga tejadi perkelahian antara manusia atas manusia.

c. Nubuwwah

Allah mengutus Rasulullah sebagai panduan bagi umat manusia serta untuk menyampaikan petunjuk dari Allah kepada manusia tentang bagaimana hidup yang baik dan benar.

Sehingga Rasulullah menjadi suritauladan bagi umat manusia sehingga mendapatkan keselamatan di dunia maupun akhirat.

51Nurul Huda dkk, Ekonomi Makro Islam Pendekatan Teoritis,(Jakarta: Pernada Media Group,2014), hal 5.

(51)

51

Adapun sifat-sifat Rasulullah SAW yang patut dicontoh bagi para pelaku ekonomi dan bisnis Islam adalah sebagai berikut:52

1) Shiddiq

Sifat shiddiq (benar, jujur) harus menjadi visi setiap Muslim, karenakita berasal dari Yang Maha Benar, maka kehidupan duniapun harus dijalani dengan benar.

Dalam ekonomi dan bisnis munculah konsep turunan yang efektifitas yaitu mencapai tujuan yang tepat dan benar serta efisiensi yaitu melakukan kegiatan dengan benar sehingga tidak terjadi kemubaziran. Sebab mubazir merupakan salah satu sifat yang tidak baik.

2) Amanah

Amanah (tanggung jawab, dapat dipercaya) merupakan misi setiap Muslim. Tanggung jawab ini di dasarkan atas kebebasan untuk memilih keyakinan dan berakhir dengan keputusan yang paling tegas yang perlu diambil.

3) Fathonah

52Nurul Huda dkk, Ekonomi Makro Islam Pendekatan Teoritis,(Jakarta: Pernada Media Group,2014), hal 5.

Referensi

Dokumen terkait

manusia yang berketuhanan di dalam masyarakat yang heterogen. Misalnya dapat diambil ontoh yaitu keinginan seseorang untuk mengabdi kepada )uhan =ang Maha >sa. Moti0asi

Seluruh berita tersebut memuat pemberitaan mengenai kasus-kasus Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia, baik yang terjadi di Malaysia sendiri maupun di negara lain, tetapi

Salah satu metode pengendalian kinerja proyek yang lebih progresif untuk digunakan adalah metode Earned Value, yang dapat memberikan informasi mengenai posisi

Itulah sebab- nya perjalanan efektifi tas organisasi kami selama lima tahun terakhir dirancang untuk memberi kebebasan dalam batasan kerangka kerja agar tiap karyawan dapat

Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Illahi Rabbi yang telah memberikan rahmat, taufik dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi

[r]

Apabila Pertandingan terhenti sebelum berakhirnya durasi normal Pertandingan karena alasan force majeure atau alasan lain termasuk tetapi tidak terbatas pada