• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemegang IUPHHK PT Katingan Timber Celebes

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pemegang IUPHHK PT Katingan Timber Celebes"

Copied!
82
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN HASIL AUDIT PENILIKAN II

VERIFIKASI LEGALITAS KAYU

Pemegang IUPHHK

PT Katingan Timber Celebes

Kabupaten Buru, Propinsi Maluku

Alamat :

Head Office: Gama Tower Lt. 20 Blok E, F, G

Jl. H.R. Rasuna Said Kav. C 22, Jakarta 12940, Indonesia

Factory : Dusun Waetabi, Desa Wamlana, Kecamatan Fena Leisela, Kabupaten Buru, Propinsi Maluku, Indonesia

Lembaga Sertifikasi

PT TUV Rheinland Indonesia

Mei 2019

(2)

2

KATA PENGANTAR

Sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.30/Menlhk/Setjen/PHPL.3.3/2016 tanggal 1 Maret 2016 tentang Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu pada Pemegang Izin, Hak Pengelolaan atau pada Hutan Hak menyatakan setiap pemegang IUI wajib memiliki SLK.

Standar pelaksanaan sertifikasi VLK yang ditetapkan oleh Kementerian Kehutanan adalah berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Nomor P.14/PHPL/SET/4/2016tanggal 29 April 2016 tentang Standar dan Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) dan Verifikasi Legalitas Kayu (VLK)Lampiran 2.5.

tentang Standar Verifikasi Legalitas Kayu Pada Pemegang IUIPHHK Kapasitas > 6.000 M3/Tahun dan IUI Dengan Nilai Investasi > 500 Juta (di luar tanah dan bangunan).

PT Katingan Timber Celebes telah mengajukan permohonan untuk dilaksanakan penilaian kepada LVLK PT TUV Rheinland Indonesia. Proses sertifikasi VLK yang telah dilaksanakan di PT Katingan Timber Celebes adalah sebagai berikut :

- Audit Sertifikasi VLK pada tahun 2014 yang dilaksanakan oleh tim audit PT TUV Rheinland Indonesia yang beranggotakan 2 orang dengan mengacu kepada standar Peraturan Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan Nomor P.8/VI-BPPHH/2012 tanggal 17 Desember 2012.

- Audit Penilikan I VLK PT. KTC dilaksanakan pada tahun 2015 yang dilaksanakan oleh tim audit PT TUV Rheinland Indonesia yang beranggotakan 2 auditor dengan mengacu kepada standar Peraturan Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan Nomor P.8/VI-BPPHH/2012 tanggal 17 Desember 2012.

- Audit Penilikan II VLK PT. KTC dilaksanakan pada tanggal 23 – 24 Maret 2016 yang dilaksanakan oleh tim audit PT TUV Rheinland Indonesia yang beranggotakan 2 orang (dengan mengacu kepada standar Permenhut NoP.43/Menhut-II/2014 tanggal 19 Juni 2014 Jo P.95/Menhut-II/2014 tanggal 22 Desember 2014 dan Perdirjen BUK No.P.14/VI-BPPHH/2014 tanggal 29 Desember 2014 Jo Perdirjen BUK No. P.1/VI-BPPHH/2015 tanggal 16 Januari 2015 Lampiran 2.5.

- Audit Resertifikasi VLK PT Katingan Timber Celebesdilaksanakan pada tanggal 1 – 2 Agustus 2017 yang dilaksanakan oleh tim audit PT TUV Rheinland Indonesia yang beranggotakan 2 orang auditor dengan mengacu kepada Standar dan Pedoman Verifikasi Legalitas Kayu menurut Peraturan Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Nomor P.14/PHPL/SET/4/2016 tanggal 29 April 2016 tentang Standar dan Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) dan Verifikasi Legalitas Kayu (VLK) Lampiran 2.5.

- Audit Penilikan I VLK PT Katingan Timber Celebesdilaksanakan pada tanggal 27 – 28 Maret 2018 yang dilaksanakan oleh tim audit PT TUV Rheinland Indonesia yang beranggotakan 2 orang auditor dengan mengacu kepada Standar dan Pedoman Verifikasi Legalitas Kayu menurut Peraturan Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Nomor P.14/PHPL/SET/4/2016 tanggal 29 April 2016 tentang Standar dan Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Pengelolaan

(3)

3

Hutan Produksi Lestari (PHPL) dan Verifikasi Legalitas Kayu (VLK) Lampiran 2.5.

- Audit penilikan II dilaksanakan pada tanggal 2 – 4 Mei 2019. Oleh tim audit PT TUV Rheinland Indonesia yang beranggotakan 2 orang auditor dengan mengacu kepada Standar dan Pedoman Verifikasi Legalitas Kayu menurut Peraturan Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Nomor P.14/PHPL/SET/4/2016 tanggal 29 April 2016 tentang Standar dan Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) dan Verifikasi Legalitas Kayu (VLK) Lampiran 2.5.

Dalam melakukan verifikasi, Tim Auditor bersifat independen dan tidak mempunyai konflik kepentingan dengan perusahaan (auditee) yang diverifikasi serta tidak dipengaruhi oleh pihak manapun,sehingga penilaian akan objektif dan dapat dipercaya dengan mengikuti sistem verifikasi yang digunakan.

Laporan Audit Penilikan II VLK ini menjabarkan hasil verifikasi dan rekomendasi yang harus dilakukan oleh pemegang izin untuk memenuhi standar legalitas kayu sesuai yang dipersyaratkan oleh Pemerintah. Keputusan hasil verifikasi Tim Auditor yang tertuang dalam laporan verifikasi ini telah mempertimbangkan/mempergunakan dokumen-dokumen tambahan yang disampaikan oleh pemegang izin berkaitan dengan verifier-verifier yang berkategorikan ”Tidak Memenuhi” pada periode waktu yang telah ditentukan seperti yang tercantum dalam Lampiran 3.4Perdirjen PHPL P.14/PHPL/SET/4/2016 tanggal 29 April 2016 Pedoman Pelaksanaan VLK Pada Pemegang IUIPHHK dan IUI.

Jakarta, Mei 2019

PT TUVRheinland Indonesia,

Team Auditor

(4)

4

DAFTAR ISI

Bab Daftar Isi Hal

Kata Pengantar 2

Daftar Isi 4

Daftar Tabel 5

Daftar Gambar 6

1. PENDAHULUAN 7

1.1 Latar Belakang 7

1.2 Maksud, Tujuan, Standar dan Sasaran Verifikasi 8

2. IDENTITAS PEMEGANG IZIN/HAK PENGELOLAAN DAN LEMBAGA VERIFIKASI LEGALITAS KAYU

10

2.1 Identitas Pemegang Izin/Hak Pengelolaan 10

2.2 Identitas Lembaga Verifikasi Legalitas Kayu 11

3. METODOLOGI VERIFIKASI 13

3.1 Metode Verifikasi 13

3.2 Kriteria dan Indikator 16

3.3 Tahapan Kegiatan Verifikasi Legalitas Kayu 16

4. HASIL VERIFIKASI DAN ANALISIS 23

4.1 Verifier Yang Tidak Diverifikasi 23

4.2 Verifier Yang Diverifikasi 28

5. KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan 71

5.2 Rekomendasi 73

(5)

5

DAFTAR TABEL

Tabel Daftar Tabel Hal

3.1 Metode Pengambilan Sampel Lokasi Multi-site 20

4.1. Kronologi Perubahan Akte Perseroan PT Katingan Timber Celebes, Kabupaten Pulau Buru, Maluku.

28

4.2. Modal Perseroan (Rupiah). 30

4.3. Modal Perseroan (US$). 30

4.4. Susunan Pemegang Saham (Nilai Saham dalam Rupiah) 31 4.5. Susunan Pemegang Saham (Nilai Saham dalam US$) 31

4.6. Penerimaan Kayu Bulat PT KTC Pulau Buru Periode 44

4.7. Daftar Petugas GANIS PT Katingan Timber Celebes Pulau Buru 46 4.8. Laporan Produksi Kayu Gergajian Periode Maret 2018 – Februari 2019. 53 4.9. Perbandingan Realisasi Produksi Dengan Kapasitas Ijin Selama Periode

Maret 2017 – Februari 2018

54

4.10. Laporan Mutasi Kayu Bulat Jenis Meranti Periode Maret 2018 – Februari 2019

55

4.11. Laporan Mutasi Kayu Olahan Periode Maret 2018 – Februari 2019 56 4.12. Laporan Penjualan dan Pemindahtanganan Hasil Produksi Dengan Tujuan

Domestik

57

4.13. Lokasi APAR 62

4.14. Daftar Jenis APD 63

4.15. Rekapitulasi Kejadian Kecelakaan Kerja PT KTC Pulau Buru 65

4.16. Data Karyawan PT KTC Pulau Buru 70

5.1 Perincian Pemenuhan Terhadap Verifier 71

(6)

6

DAFTAR GAMBAR

Gambar Daftar Gambar Hal

4.1 Label ID Barcode Kayu Bulat print ulang 45

4.2 Gudang Sawntimber 53

4.3 Logo/Tanda V - Legal pada Dokumen SKSHHK 58

4.4 APAR dan Informasi pengecekannya 62

4.5 Layout Jalur Evakuasi 63

4.6 Jalur Evakuasi dan Titik Kumpul 63

4.7 Kotak P3K dan Klinik 64

(7)

7

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perdagangan produk kayu di pasar International telah mengalami perubahan paradigma menjadi perdagangan produk kayu yang ramah lingkungan dan perdagangan produk kayu yang bertanggung jawab (Responsible Wood Product Purchasing). Sejak meningkatnya issue illegal logging dan issue sertifikasi hutan di pasar international, maka mau tidak mau negara-negara yang menjadi produser produk kayu termasuk Indonesia disibukan dengan issue ini. Beberapa negara seperti Negara Eropa dan US memberlakukan bahwa produk kayu yang masuk ke negara mereka haruslah dari hutan yang dikelola secara baik (sustainable) atau paling tidak telah diverifikasi legalitasnya.

Dengan kondisi kehutanan di Indonesia saat ini masih dirasakan oleh beberapa pengusaha di bidang pengelolaan hutan cukup sulit untuk menerapkan praktek pengelolaan hutan yang lestari seperti ditetapkan dalam standard yang ada, karena beberapa alasan seperti kondisi di lapangan yang tidak mendukung dan kebijakan pemerintah yang belum kondusif serta belum adanya intensif yang memadai baik dari pasar maupun dari pemerintah, sementara tuntutan dan tekanan pasar international cukup tinggi.

Dari hambatan di atas, pilihan yang ada saat ini adalah dengan membuktikan kepada pembeli produk kayu (importir) bahwa produk kayu yang dijual (ekspor) setidaknya telah diverifikasi legalitasnya oleh lembaga independen yang kredibel. Membuktikan atau memverifikasi legalitas produk kayu itu sendiri harus dibuktikan dengan suatu verifikasi yang kredible dengan mengacu kepada suatu kriteria atau standar yang ada atau standar yang disepakati bersama dan diakui oleh pasar international.

Dalam rangka hal tersebut, untuk melaksanakan tata kelola kehutanan, penegakan hukum dan promosi perdagangan kayu legal maka dikembangkan sistem penjaminan legalitas kayu (Timber legality Assurance System) yang disebut Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) dengan melibatkan para pihak, baik dalam penyusunan standar verifikasi legalitas kayu maupun kelembagaannya dengan prinsip governance, credibility, dan representativeness. Berdasarkan proses para pihak tersebut, pemerintah Indonesia telah membangun Sistem Verifikasi legalitas Kayu dengan keluarnya Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.43/Menhut-II/2014 tanggal 19 Juni 2014 Jo No. P.95/Menhut- II/2014 tanggal 22 Desember 2014 Jo Permenlhk No. P.30/Menlhk/Setjen/PHPL.3/3/2016 tanggal 1 Maret 2016 tentang Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu pada Pemegang Izin, Hak Pengelolaan atau Pada Hutan Hak dan Peraturan Direktur Jenderal PHPL Nomor P.14/PHPL/SET/4/2016 tanggal 29 April 2016 tentang Standar dan Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) dan Verifikasi Legalitas Kayu (VLK) beserta dengan lampirannya.

Dengan Peraturan ini Verifikasi Legalitas Kayu pada pemegang izin dilakukan oleh Lembaga Verifikasi Legalitas Kayu (LV-LK) yang telah diakreditasi oleh KAN (Komite Akreditasi Nasional) sesuai ISO/IEC Guide 17065:2012.

(8)

8

PT TUV Rheinland Indonesia telah diakreditasi oleh KAN sebagai Lembaga Verifikasi Legalitas Kayu (LV-LK), dan telah mempunyai kualifikasi untuk melakukan audit sertifikasi verifikasi legalitas kayu dengan standar tersebut di atas.

Proses audit Verifikasi Legalitas Kayu ini mengacu kepada peraturan dan ketentuan berikut :

1. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.30/Menlhk/Setjen/PHPL.3/3/2016 tentang Penilaian Kinerja PHPL dan VLK Pada Pemegang Izin, atau Pada Hutan Hak (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 368).

2. SNI 19-1911-2005 Panduan Audit Sistem Manajemen Mutu dan/atau Lingkungan.

3. SNI ISO/IEC 17065:2012 Penilaian Kesesuai – Persyaratan untuk Lembaga Sertifikasi Produk, Proses dan Jasa.

4. Daftar Penunjang Lembaga Sertifikasi (DPLS) 14 Rev.0 adalah Syarat dan Aturan Tambahan Akreditasi Lembaga Verifikasi Legalitas Kayu.

Dasar dilakukannya kegiatan audit Resertifkasi Verifikasi Legalitas Kayu terhadap pemegang izin PT Katingan Timber Celebesdi Kabupaten Buru Provinsi Maluku oleh Lembaga Verifikasi Legalitas Kayu PT TUV Rheinland Indonesia adalah berdasarkan :

1. Surat permohonan atau pengajuan Penilikan II VLK melalui pengisian form aplikasi yang ditandatangani PT Katingan Timber Celebes

2. Surat Perjanjian Kerja (Kontrak) antara PT Katingan Timber Celebes dengan LVLK PT TUV Rheinland Indonesia.

1.1.

Maksud, Tujuan, Standar dan Sasaran Verifikasi 1.2.1. Maksud Verifikasi

Maksud dari kegiatan audit Penilikan II VLK ini secara umum adalah untuk melaksanakan kegiatan penilaian terhadap konsistensi penerapan dan pemenuhan verifier yang tercantum dalam Standar Verifikasi Legalitas Kayu pada pemegang IUI lanjutan PT Katingan Timber Celebes Kabupaten Buru Provinsi Maluku sesuai dengan standar dan pedoman yang berlaku di Indonesia.

1.2.2. Tujuan Verifikasi

Sedangkan tujuan dari kegiatan audit Penilikan II Verifikasi Legalitas Kayu di PT Katingan Timber Celebes adalah untuk :

1. Melakukan kegiatan pengumpulan data dan penilaian eksternal terhadap kelengkapan dokumen- dokumen perusahaan sebelum dilakukan penilaian dan verifikasi di lapangan.

2. Melakukan audit kepada organisasi / perusahaan dengan skema standar yang telah ditetapkan 1.2.3. Standar Verifikasi

Standar yang digunakan dalam kegiatan audit Penilikan II terhadap pemegang IUI PT Katingan Timber Celebes adalah Peraturan Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Nomor

(9)

9

P.14/PHPL/SET/4/2016tanggal 29 April 2016 tentang Standar dan Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) dan Verifikasi Legalitas Kayu (VLK)Lampiran 2.5.

tentang Standar Verifikasi Legalitas Kayu Pada Pemegang IUIPHHK Kapasitas > 6.000 M3/Tahun dan IUI Dengan Nilai Investasi > 500 Juta (di luar tanah dan bangunan).

1.2.4 Sasaran dan Waktu Verifikasi

Sasaran kegiatan audit Penilikan II Verifikasi Legalitas Kayu ini dilakukan pada PT Katingan Timber Celebesyang berlokasi di Kabupaten Buru yang berlokasi di Propinsi Maluku berdasarkan Surat Gubernur Maluku No. 538.3/1508 tanggal 07 Juli 2010 tentang persetujuan perubahan/penggantian nama dan penanggung jawab perusahaan dalam IUI.Waktu pelaksanaan audit Penilikan II Verifikasi Legalitas Kayu di PT Katingan Timber Celebes dilaksanakan sesuai dengan audit plan, yaitu tanggal 2 – 4 Mei 2019.

(10)

10

II. IDENTITAS PEMEGANG IZIN DAN LEMBAGA VLK

2.1. Identitas Pemegang Ijin

1 Organisasi / Auditee: PT. Katingan Timber Celebes Kabupaten Buru (d/h PT.

Sentosa Pratama) 2 Lokasi : Kantor Pusat:

Gama Tower Lt 20 Blok E,F,G, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. C22, Jakarta 12940, Indonesia Telp. 021-29183330

Pabrik:

Dusun Waetabi, Desa Wamlana, Kecamatan Fena Leisela, Kabupaten Buru, Propinsi Maluku

3 Kategori Industri : Industri Primer Pengolahan kayu dengan produk kayu gergajian atau pemegang IUIPHHK (Izin Usaha Industri primer hasil hutan kayu) dengan kapasitas 6,000 m3/tahun

4 Izin Industri IPHHK : Ijin IUIPHHK :

Keputusan Gubernur Maluku Nomor : SK. 492/Menhut-II/2006 tanggal 07 November 2006 Jo. SK Gubernur Maluku No.

538.3/1508 tanggal 07 Juli 2010.

5 Akte pendirian perusahaan :

Akte Pendirian Perusahaan:

Akte No. 11 tanggal 04 September 1973 yang dibuat dihadapan Notaris Kartini Muljadi, S.H, yang berkedudukan di Jakarta. Pengesahan dari Menteri Kehakiman No.

Y.A.5/382/20 tanggal 25 Oktober 1973 Akte perubahan terakhir:

Akte Perubahan Terakhir:

Nomor 10 tanggal 10 April 2018, yang dibuat dihadapan Notaris Anesta Chrisanti, S.H.,M.Kn. yang berkedududkan di Depok, Jawa Barat. Pengesahan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia nomor AHU-AH.01.03-0156256 teratnggal 20 April 2018

6 Jenis produk : Kayu Gergajian 7 Jenis kayu yang

digunakan :

Meranti (Shorea spp)

8 Kapasitas izin produksi /Terpasang :

Kayu Gergajian : 6.000 m3/tahun

(11)

11

9 Pemegang saham : PT. Makassar Intisejahtera : 30.380 lembar saham (98 %) PT. Sinar Mamuju Ceria : 620 lembar saham (2%) 10 Komisaris : Komisaris Utama : Tn. Hendri Saksti

11 Pengurus perusahaan : Direktur : Tn. Tan Keng Liam

12 Wakil managemen untuk SVLK :

Amin Suar

13 Jumlah Karyawan : 5 orang

14 Kapasitas produksi : Saat ini 6.000 m3 kayu gergajian

2.2. Identitas Lembaga Verifikasi Legalitas Kayu

1 Nama LV-LK : PT. TÜV Rheinland Indonesia 2 Alamat : Menara Karya 10th Floor, Block X-5

Jl. HR. Rasuna Said Kav. 1-2, Jakarta Telp. 021-579 44 579

Fax. 021-579 44 575 E-mail: [email protected] 3 Akte Pendirian dan

Perubahan Terakhir

: Akta Pendirian : No. 3 tanggal 11 September 1996 oleh Notaris Siti Mariam Muchtar Widodo SH, yang disahkan oleh Menteri Kehakiman RI tanggal 30 Oktober 1998 nomor 02-23576 HT.01.01.Th.98.

Akta No. 04 tanggal 10 Agustus 2016 Notaris Anesta Chrisanti, S.H.,M.Kn.pdf. Pengesahan Menteri Menkum- ham RI Nomor AHU-AH.01.03-0071862 Tanggal 15 Agustus 2016.

4 Pengurus LV-LK : Komisaris Utama:

Ralf Scheller Komisaris:

Andreas Hoefer

DR. Indaryati Swarna Dewi Motik, MBA Muhammad Bascharul Asana

Direktur Utama:

I Nyoman Susila Direktur:

(12)

12

Edmundus Wiharyono Abdul Qohar

General Manager Sustainability Assurance:

Dian S. Soeminta, S.Hut

5 Tim Auditor VLK : 1. Syam Himawan (Lead Auditor) 2. Sapto Haroiyono (Auditor) 6 Tenaga Pendukung : -

7 Pengambil Keputusan : Heni Handayani, S.Hut

Profil Tim Auditor VLK dan Tim Pendukung

No Nama Auditor Jabatan Kualifikasi

1 Syam Himawan Lead Auditor

VLK

a. Sarjana Kehutanan.

b. Auditor PHPL 9 tahun c. Auditor VLK 5 tahun

d. Pelatihan PHPL, SVLK, IFCC, ISO, HCV 2 Sapto Haryono Lead Auditor a. Sarjana Kehutanan.

b. Pengalaman 8 tahun di Industri Woodworking dan Furniture c. Pengalaman kerja 6 tahun di PT

Sucofindo, Specialist Kehutanan, Kelautan dan Lingkungan;

d. Lead Auditor ISO 9001;

e. Lead Auditor SVLK dan PHPL;

f. Pelatihan PHPL, SVLK, COC FSC, IRCA;

g. Pelatihan AMDAL A, B dan C

h. Profesional Lingkungan Hidup (Ikatan Ahli Lingkungan Hidup Indonesia)

3 Heni Handayani, S.Hut Pengambil Keputusan

a. Sarjana Kehutanan

b. Pengalaman kerja 3 tahun sebagai Kepala Bagian Perencanaan IUPHHK- HA PT Dalek Hutani Esa Provinsi Jambi.

c. Lead Auditor : PHPL & SVLK, VLO, PHTL – LEI, ISPO.

d. Training/Pelatihan : PHPL & SVLK, ISO IRCA 9001, SFM PEFC/IFCC, CoC PEFC/IFCC.

(13)

13

III. METODOLOGI VERIFIKASI

3.1. Metode Verifikasi

Metode verifikasi yang digunakan dalam kegiatan audit Penilikan II Verifikasi Legalitas Kayu ini mengacu pada Lampiran 3.4 Perdirjen PHPL No. P.14/PHPL/SET/4/2016 tanggal 29 April 2016 tentang Pedoman Pelaksanaan Verifikasi Legalitas Kayu Pada Pemegang IUIPHHK dan IUI.

3.1.1. Metoda Penilaian Dokumen

Penilaian dokumen merupakan kegiatan untuk menghimpun, mempelajari, dan menganalisis data dan dokumen agar dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Penilaian dokumen yang akan dilakukan meliputi dokumen dan data perusahaan, terdiri dari dokumen primer dan data sekunder yang diperoleh dengan cara penelaahan berbagai dokumen-dokumen seperti dokumen Legalitas Perusahaan, dokumen yang menyangkut perijinan perusahaan, dokumen realisasi produksi dan laporan penggunaannya, laporan-laporan penelitian yang relevan dengan kriteria dan indikator yang disyaratkan. Dokumen-dokumen yang ditelaah untuk aspek lingkungan antara lain; AMDAL, laporan UKL dan UPL dan dokumen-dokumen lain yang relevan. perencanaan, laporan pelaksanaan, laporan keuangan, form-form yang digunakan dalam proses produksi, bukti transaksi, hasil-hasil studi dan lain-lain. Dokumen-dokumen dan laporan yang akan dinilai dalam kegiatan ini meliputi dokumen yang ada di unit manajemen dalam rentang waktu 12 (dua belas) bulan terakhir.

Analisis data yang meliputi data primer dan data sekunder, Analisis data primer dan data sekunder dari proses penilaian lapangan dilakukan berdasarkan metode ilmiah yang telah baku (matematis) dan umum digunakan. Pada prinsipnya, analisis data yang dilakukan tergantung pada keoptimalan data untuk bisa menjawab suatu kriteria,indikator dan verifier, ketersediaan data, kondisi serta kendala-kendala lapangan yang dijumpai. Pada beberapa indikator, analisis data dilakukan secara diskriptif (recognaisance), distribusi frekuensi dan prosentase sehingga dapat mendukung data primer atau sekunder yang dianalisis secara matematis.

Kegiatan yang ada dalam penilaian dokumen ini juga menyangkut kegiatan seperti:

- Mempelajari dan menganalisa dokumen legalitas yang dimiliki oleh perusahaan mulai dari dokumen Akta Pendirian perusahaan sampai perubahan yang terakhir, izin usaha industri, izin gangguan, tanda daftar perusahaan, nomor pokok wajib pajak, dokumen pemantauan dan pengelolaan lingkungan, dsb.

- Mempelajari dan menganalisis dokumen ketenagakerjaan IUIPHHK dan dokumen tambahan yang diperlukan.

- Mempelajari dan menganalisa semua rekaman atau catatan terkait (laporan-laporan, dsb.) yang terkait dan diperlukan pada verifikasi ini.

3.1.2. Metoda Verifikasi Di Lapangan

(14)

14

Dalam kegiatan Penilikan II VLK dilakukan kegiatan pengamatan, pencatatan, uji petik dan penelusuran untuk menguji kebenaran data. Hasil pengamatan akan dianalisa dengan menggunakan kriteria, indikator dan verifier verifikasi legalitas kayu, sehingga diperoleh jawabannya. Cara/metoda yang ditempuh meliputi :

1. Wawancara (wawancara responden dan wawancara informan), dengan mengajukan sejumlah pertanyaan yang dimodifikasi untuk menjawab kriteria, indikator dan verifier yang disyaratkan.

Sasaran wawancara informan adalah unit manajemen serta informan lain yang masih relevan dalam konteks penilaian kinerja unit manajemen.

2. Verifikasi dokumen adalah kegiatan yang dilakukan oleh Tim Audit untuk menghimpun, mempelajari data dan dokumen pemegang izin dan menganalisis menggunakan kriteria dan indikator yang ditetapkan sesuai ketentuan.

3. Observasi lapangan adalah kegiatan yang dilakukan oleh Tim Audit untuk menguji kebenaran data melalui pengamatan, pencatatan, uji petik dan penelusuran, dan menganalisis menggunakan kriteria dan indikator yang telah ditetapkan untuk dapat melihat pemenuhannya.

4. Uji petik dilapangan dengan mengambil sampling sesuai dengan yang diatur dalam Permenhut No. 09/Menhut-II/2005 dan akan disesuaikan dengan jumlah persediaan kayu yang ada saat penilaian dilakukan,memeriksa keabsahan dan kelengkapan dari dokumen yang dinilai, kemudian memeriksa dan membanding realisasi produksi dengan kapasitas produksi yang sah.

Penentuan jumlah batang kayu bulat yang akan di uji petik adalah sebagai berikut :

- Apabila jumlah batang dari satu partai kurang atau sama dengan 100 batang maka jumlah sampelnya adalah 100%

- Apabila jumlah batang dari satu partai antara 101 sampai dengan 1000 batang maka jumlah sampelnya minimal 100 batang

- Apabila jumlah batang dari satu partai lebih dari 1000 batang, maka jumlah sampelnya adalah 10%

Penentuan jumlah keping sampel sortimen yang akan di uji petik adalah sebagai berikut : - Apabila jumlah dalam partai 1 – 35 keping, maka jumlah sampelnya adalah 100%

- Apabila jumlah dalam partai 36 – 500 keping, maka jumlah sampelnya adalah 35 keping - Apabila jumlah dalam partai 501 - 1000 keping, maka jumlah sampelnya adalah 60 keping - Apabila jumlah dalam partai 1001 - 2000 keping, maka jumlah sampelnya adalah 100 keping - Apabila jumlah dalam partai 2001 - 3000 keping, maka jumlah sampelnya adalah 125 keping - Apabila jumlah dalam partai lebih dari 3000 keping, maka jumlah sampelnya adalah 5%

5. Pengamatan terhadap proses kerja dan Penilaian dokumen, yang meliputi dokumen perusahaan, dokumen Data sekunder diperoleh dengan cara penelaahan berbagai dokumen-dokumen termasuk laporan penelitian yang relevan dengan kriteria dan indikator aspek produksi, SEL atau AMDAL, RKL-RPL, SOP, FAKB, LHP, berbagai laporan kegiatan, laporan penelitian, dan dokumen-dokumen lain yang relevan.

(15)

15

Untuk menjawab kebutuhan indikator dan verifier, proses penilaian lapangan tidak dilakukan secara terpisah pada satuan waktu dan tempat untuk setiap indikator dan verifier pada waktu dan tempat yang sama, kadang-kadang dapat dilakukan penilaian untuk lebih dari satu indikator atau verifier.

3.1.3. Lokasi Pengambilan Data, Pengamatan dan Pengukuran

Lokasi pengambilan data dilakukan di kantor dan pabrik pemegang izin PT Katingan Timber Celebes Lokasi pengambilan data primer, pengamatan dan pengukuran, dilakukan di tempat-tempat tertentu yang disesuaikan dengan kriteria,indikator dan verifier yang akan diamati dan dianalis.

3.1.4. Metode Pengambilan Keputusan

Hasil analisis data dan informasi pada setiap verifier, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan data dan informasi yang dipersyaratkan pada masing-masing verifier, sehingga dapat ditentukan norma penilaian verifier pada audit VLK.

Penentuan pengambilan keputusan atasverifier, kriteria dan indikator mengacu kepada standar verifikasi legalitas kayu yang sudah ditetapkan dalam Lampiran 2.5. Peraturan Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan .14/PHPL/SET/4/2016 tanggal 29 April 2016.

Dokumen yang dipakai sebagai acuan ini tidak mutlak digunakan dalam menilai pada masing- masing indikator atau verifier, hal ini disebabkan antara lain :

1) tidak semua indikator atau verifier mungkin ada dalam suatu UM, 2) tidak semua indikator atau verifier terjawab sesuai dengan dokumen,

3) pertimbangan-pertimbangan teknis dan non-teknis lain yang membuat suatu penilaian menjadi menyimpang dari Dokumen, sehingga Penilai harus berani menyimpulkan sendiri tanpa mengacu dokumen tersebut.

Tahap Pelaksanaan pengambilan keputusan hasil audit Penilikan II VLK akan dilaksanakan oleh tim Pengambil Keputusan. dengan tahapan seperti berikut ini :

a. Keputusan persetujuan/penolakan penerbitan sertifikat PT Katimgan Timber Celebes akan dilakukan oleh Pengambil Keputusan LV-LK berdasarkan laporan sertifikasi yang dilaksanakan oleh tim auditor. Dalam kegiatan audit sertifikasi VLK ini pengambilan keputusan akan dilakukan oleh personal yang berwenang untuk melakukan pengambilan keputusan yang berasal dari internal PT TUV Rheinland Indonesia.

b. Laporan hasil audit lengkap yang sudah dibuat oleh Tim audit VLK akan diterima oleh pengambil keputusan paling lambat 21 (dua puluh satu) hari kalender sejak pertemuan penutupan audit sertifikasi dilaksanakan.

c. Pengambil Keputusan dipastikan akan mendapatkan laporan akhir yang juga sudah memasukan keberatan atau perbaikan dari pihak auditee atas laporan audit yang dibuat oleh tim penilai lapangan dan telah diselesaikan oleh Tim adhoc.

(16)

16

d. Sebelum proses pengambilan keputusan, pengambil keputusan memeriksa kelengkapan dokumen laporan yang diperlukan yang mencakup :

- Laporan Penilaian VLK (Buku I) - Lampiran Laporan (Buku II) - Resume Hasil Penilaian - Rencana Audit/Audit Plan - Kontrak Penilaian

- Laporan Tinjauan Kontrak

- Dokumen-Dokumen Berita Acara yang diperlukan - Dokumen lainnya yang dianggap perlu

e. Proses pengambilan keputusan juga bila diperlukan dihadiri oleh tim audit lapangan untuk keperluan klarifikasi oleh pengambil keputusan atau Tim pengambil keputusan.

f. Keputusan hasil sertifikasi VLK dapat berupa Lulus / Tidak Lulus untuk mendapatkan Sertifikat Legalitas Kayu.

g. Penyampaian dan pembuatan laporan, pengambilan keputusan dan penyampaian hasil keputusan verifikasi selambat-lambatnya 21 (dua puluh satu) hari kalender terhitung sejak Pertemuan Penutupan.

h. Laporan hasil verifikasi LK disajikan dalam bentuk soft copy dalam format pdf dan buku, disampaikan kepada auditee, dan Kementerian melalui Direktur Jenderal sebagai bahan pembinaan lebih lanjut

i. Pengumuman hasil keputusan verifikasi disertai dengan resume hasil verifikasi dilakukan melalui website LVLK dan website Kementrian Kehutanan atau media massa.

3.2. Kriteria dan Indikator

Kriteria dan indikator yang digunakan oleh Tim Auditor dalam melakukan Verifikasi Legalitas Kayu berdasarkan pada Perdirjen PHPL Nomor P.14/PHPL/SET/4/2016 tanggal 29 April 2016tentang Standar dan Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) dan Verifikasi Legalitas Kayu (VLK) yaitu Lampiran 2.5 tentang Standar Verifikasi Legalitas Kayu Pada Pemegang IUIPHHK Kapasitas > 6.000 M3/Tahun dan IUI Dengan Nilai Investasi > 500 Juta (diluar tanah dan bangunan).

3.3. Tahapan Kegiatan Verifikasi Legalitas Kayu 3.3.1. Tahap Persiapan

Pada tahap ini, Lembaga Verifikasi Legalitas Kayu (LV-LK) melakukan persiapan-persiapan yang diperlukan sebelum pelaksanaan kegiatan verifikasi lapangan dengan mengacu kepada Prosedur

(17)

17

Pelaksanaan Verifikasi LK Pada Pemegang IUIPHHK dan IUI (TRID-PROC-LVLK-003) yang mencakup :

a. Perekrutan tim auditor verifikasi legalitas kayu dengan mengacu kepada daftar auditor VLK PT TUV Rheinland Indonesia.

b. Persiapan logistik, perjalanan dan akomodasi dengan mempertimbangkan lokasi kegiatan verifikasi dan jumlah HOK (hari orang kerja) yang diperlukan.

c. Pengumpulan data dan informasi berkaitan dengan obyek yang akan di sertifikasi.

d. Pemberitahuan kepada IUIPHHK yang akan diverifkasi terkait dengan rencana verifikasi legalitas kayu dengan mengirimkan surat pemberitahun rencana audit VLK.

e. Pembuatan rencana audit verifikasi legalitas kayu.

3.3.2. Pelaksanaan Audit Lapangan

Tahap audit verifikasi lapangan legalitas kayu mengacu kepada Prosedur Pelaksanaan Verifikasi LK Pada Pemegang IUIPHHK dan IUI (TRID-PROC-LVLK-003) yang mencakup kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

a. Sebelum audit di lapangan dilakukan, harus dipastikan tim audit telah menetapkan program auditnya termasuk rencana dan jadwal audit dan susunan tim audit dan ketua tim audit.

b. Rencana audit selanjutnya disampaikan kepada klien/auditee dan dipresentasikan pada pertemuan pembukaan kepada klien.

c. Penugasan dan pengaturan kerja tim audit ditetapkan dalam rencana audit.

d. Setiap anggota tim audit harus mempersiapkan daftar periksa atau chek list audit dan rencana pengambilan sampling audit untuk masing-masing aspek yang akan diauditnya.

e. Pada saat audit di lapangan harus dipastikan bahwa semua verifier dari masing-masing indikator dapat diverifikasi. Daftar periksa atau check list dapat menjadi acuan untuk pemenuhan ketercukupan masing-masing verifier.

f. Verifikasi LK pada dokumen Pemegang IUIPHHK (Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu) dan IUI sesuai Lampiran 3.4 Peraturan Direktur Jenderal PHPL No. P.14/PHPL/SET/4/2016 tanggal 29 April 2016.

g. Verifikasi dokumen, merupakan kegiatan untuk menghimpun, mempelajari, serta menganalisis data dan dokumen agar dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Verifikasi dokumen dilakukan dengan menggunakan kriteria dan indikator yang telah ditetapkan pada Pemegang IUPHHK dan IUI sesuai Lampiran 2.5. Peraturan Direktur Jenderal PHPL No.

P.14/PHPL/SET/4/2016 tanggal 29 April 2016.

h. Observasi lapangan, merupakan kegiatan pengamatan, pencatatan, uji petik dan penelusuran untuk menguji kebenaran data. Hasil pengamatan lapangan akan dianalisa dengan menggunakan kriteria dan indikator yang telah ditetapkan untuk dapat melihat pemenuhannya.

Metode verifikasi lapangan dan dokumen mengacu kepada Peraturan Direktur Jenderal PHPL

(18)

18

No. P.14/PHPL/SET/4/2016 tanggal 29 April 2016 tentang Standar dan Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu (Lampiran 3.4 dan Lampiran 2.5).

i. Pada saat verifikasi di lapangan hal-hal lain yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut :

- Pertemuan Pembukaan dan dibuatkan Notulensi Pertemuan Pembukaan yang dilampiri dengan Daftar Hadir Pertemuan Pembukaan.

- Dalam Pertemuan pembukaan tersebut, Lead Auditor menginformasikan rencana audit, ringkasan singkat bagaimana audit akan dilaksanakan, mengkonfimasikan saluran komunikasi, memberikan kepada auditee untuk mengajukan pertanyaan atau klarifikasi.

Selain itu dalam rapat pembukaan audit juga perlu diperhatikan hal-hal berikut : 1. Perkenalan peserta, termasuk ringkasan tugasnya/peranannya;

2. Konfirmasi tujuan, ruang lingkup dan kriteria audit;

3. Konfirmasi jadwal audit dan pengaturan lain dengan auditi, seperti tanggal dan waktu untuk rapat penutupan, rapat interim antara tim audit dan manajemen auditi, serta perubahan yang menyusul;

4. Metode dan prosedur yang digunakan untuk melaksanakan audit, termasuk menjelaskan kepada auditi bahwa bukti audit hanya akan didasarkan pada sampel informasi yang tersedia dan oleh karena itu terdapat unsur ketidakpastian dalam audit;

5. Konfirmasi saluran komunikasi formal antara tim audit dan auditi;

6. Konfirmasi bahasa yang digunakan selama audit;

7. Konfirmasi bahwa selama audit, auditi akan selalu diberi informasi perkembangan audit;

8. Konfirmasi bahwa sumberdaya dan fasilitas yang diperlukan oleh tim audit tersedia;

9. Konfirmasi hal-hal yang terkait dengan kerahasiaan;

10. Konfirmasi prosedur keselamatan kerja, tindakan darurat, dan keamanan yang sesuai untuk tim audit;

11. Konfirmasi ketersediaan, peran dan identitas setiap pemandu;

12. Metode pelaporan, termasuk pengkategorian ketidaksesuaian;

13. Informasi tentang kondisi yang dapat menyebabkan audit diakhiri;

14. Informasi tentang sistem banding terhadap pelaksanaan dan kesimpulan audit.

j. Pengumpulan dan verifikasi informasi

- Selama audit, informasi yang sesuai dengan tujuan, ruang lingkup, dan kriteria audit, termasuk informasi yang terkait dengan hubungan antar fungsi, kegiatan dan proses, sebaiknya dikumpulkan dengan sampling yang sesuai dan sebaiknya diverifikasi. Hanya informasi yang dapat diverifikasi yang dapat menjadi bukti audit. Bukti audit sebaiknya direkam.

(19)

19

- Bukti audit didasarkan pada sampel informasi yang tersedia. Oleh karena itu terdapat unsur ketidakpastian dalam audit, yang sebaiknya menjadi perhatian dalam membuat kesimpulan audit.

- Metode untuk mengumpulkan informasi mencakup : 1. Wawancara/diskusi

2. Verifikasi dokumen 3. Observasi lapangan 4. Uji petik/sensus 5. Tinjauan dokumen

k. Pengambilan contoh untuk organisasi multi lokasi

Metode pengambilan contoh lokasi mengacu kepada ketentuan berikut : Tabel 3.1. Metode Pengambilan Sampel Lokasi Multi-site.

Type audit Pengambilan contoh Keterangan

Audit awal ( Y = √ x ) Y = ukuran sample X = jumlah lokasi terjauh Dibulatkan ke atas Audit surveillance ( Y = 0.6 √ x ) Y = ukuran sample

X = jumlah lokasi terjauh Dibulatkan ke atas

Pengambilan contoh tidak dilakukan pada lokasi yang sama dengan audit awal Audit resertifikasi ( Y = 0.8 √ x ) Y = ukuran sample

X = jumlah lokasi terjauh Dibulatkan ke atas

Pengambilan contoh tidak dilakukan pada lokasi yang sama dengan audit awal

Apabila sertifikasi multi lokasi VLK dilakukan, maka LVLK harus memeriksa daftar keseluruhan lokasi yang dicakup oleh organisasi multi lokasi.

l. Perumusan temuan audit

- Bukti audit dievaluasi terhadap kriteria audit untuk menghasilkan temuan audit. Temuan audit dapat menunjukkan baik kesesuaian maupun ketidaksesuaian dengan kriteria audit. Bila tercakup dalam tujuan audit, temuan audit dapat mengidentifikasi peluang untuk peningkatan.

- Tim audit melakukan pertemuan untuk meninjau temuan audit pada tahap yang sesuai selama audit.

(20)

20

- Kesesuaian dengan kriteria audit sebaiknya dirangkum untuk menunjukkan lokasi, fungsi atau proses yang diaudit. Bila tercakup dalam rencana audit, setiap temuan kesesuaian dan bukti pendukungnya sebaiknya juga direkam.

- Ketidaksesuaian dan bukti audit pendukungnya sebaiknya direkam. ketidaksesuaian dapat dikelompokkan. Ketidaksesuaian tersebut sebaiknya ditinjau dengan auditi untuk memperoleh kepastian bahwa bukti audit adalah akurat, dan bahwa ketidaksesuaian dipahami. Setiap upaya sebaiknya dilakukan untuk menyelesaikan setiap perbedaan pendapat perihal bukti dan / atau temuan audit, dan hal-hal yang tidak dapat disepakati sebaiknya direkam.

m. Penyiapan kesimpulan audit sebelum dilakukan pertemuan penutupan n. Pelaksanaan pertemuan penutupan

- Merupakan pertemuan antara Tim Auditor dengan Pemegang Izin untuk memaparkan hasil kegiatan verifikasi dan mengkonfirmasi temuan-temuan di lapangan.

- Pertemuan penutupan dipimpin oleh ketua tim audit dan diselenggarakan untuk mempresentasikan temuan dan kesimpulan audit sehingga temuan dan kesimpulan tersebut dimengerti dan disetujui oleh auditi dan bila sesuai untuk menyepakati jangka waktu yang diberikan kepada auditi untuk menyampaikan rencana tindakan korektif dan pencegahan.

Peserta rapat penutupan sebaiknya termasuk auditi, dan dapat juga mencakup klien audit dan pihak lain. Bila perlu, ketua tim audit sebaiknya memberitahu auditi tentang situasi yang ditemui selama audit yang dapat mengurangi tingkat kepercayaan terhadap kesimpulan audit.

- Dalam hal masih terdapat dokumen yang belum dapat diperlihatkan Pemegang Izin diberikan kesempatan untuk menyampaikan kekurangan dokumen selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kalender sejak pertemuan penutupan, dan bila sampai dengan batas waktu tersebut tidak dapat memperlihatkan dokumen maka dinyatakan tidak memenuhi.

- Setiap perbedaan pendapat yang terkait dengan temuan dan/atau kesimpulan audit antara Tim audit dan pemegang izin sebaiknya dibahas dan bila mungkin diselesaikan. Bila tidak dapat diselesaikan, seluruh pendapat sebaiknya direkam.

- Hasil pertemuan penutupan dituangkan dalam bentuk Notulensi Pertemuan Penutupan yang ditandatangani oleh kedua belah pihak dan dilampiri dengan Daftar Hadir Pertemuan Pertemuan.

3.3.3. Pelaporan Hasil Verifikasi Lapangan

a. Tim audit Penilikan II VLK membuat laporan berdasarkan format acuan yang diatur dalam Lampiran 3.14 Peraturan Direktur Jenderal PHPL No. P.14/PHPL/SET/4/2016 tanggal 29 April 2016tentang Pedoman Penyusunan Laporan Pelaksanaan Verifikasi Legalitas Kayu.

b. Laporan audit Penilikan II VLK mencakup Buku I Laporan Audit VLK, Buku II Lampiran Laporan VLK dan Resume Hasil Verifikasi.

(21)

21

c. Disajikan dalam bentuk buku dan soft copy untuk disampaikan kepada Pemegang Izin dalam waktu 21 hari kalender setelah selesainya Pertemuan Penutupan.

3.3.4. Pengambilan Keputusan Verifikasi Legalitas Kayu

a. Keputusan (Pemberian, Kelanjutan, Pembekuan atau Pencabutan) Sertifikat Legalitas Kayu (S- LK) dilakukan oleh Pengambil Keputusan LV-LK berdasarkan laporan auditor. Dalam hal tenaga tetap sebagai Pengambil Keputusan tidak kompeten, maka Pengambil Keputusan harus didampingi personil yang kompeten yang bukan dari auditor yang melakukan verifikasi.

b. Keputusan Penerbitanatau Perpanjangan Masa Berlaku Sertifikat Legalitas Kayu (S-LK) diberikan jika semua norma penilaian untuk setiap verifier pada Standar Verifikasi Legalitas Kayu pada Pemegang Izin “Memenuhi”.

c. Dalam hal hasil verifikasi “Tidak Memenuhi”, LV-LK menyampaikan laporan hasil verifikasi kepada Pemegang Izin dan LV-LK memberi kesempatan Pemegang Izin untuk memperbaiki verifier yang “Tidak Memenuhi” dengan batas waktu selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kalender sejak Pemegang Izin menerima laporan hasil verifikasi.

d. Keputusan Pembekuan Sertifikat Legalitas Kayu (S-LK) diberikan jika terdapat verifier pada Standar Verifikasi Legalitas Kayu pada Pemegang IUIPHHK dan IUI yang “Tidak Memenuhi” dan tidak diperbaiki sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan yaitu selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kalender sejak Pemegang Izin menerima laporan hasil verifikasi.

e. Keputusan Pencabutan Sertifikat Legalitas Kayu (S-LK) diberikan jika keputusan pembekuan yang dilakukan tidak ditindaklanjuti oleh Pemegang Izinsesuai dengan batas waktu yang telah ditetapkan dalam Lampiran 3.4 Peraturan Direktur Jenderal PHPL No. P.14/PHPL/SET/4/2016 tanggal 29 April 2016 tentang Pedoman Pelaporan Pelaksanaan Verifikasi Legalitas Kayu.

f. LV-LK tidak boleh mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan kepada orang lain atau institusi lain untuk memberikan, memelihara, memperluas, menunda atau mencabut Sertifikat LK.

g. LV-LK memberikan keputusan Sertifikat Legalitas Kayu yang ditandatangani oleh Pengambil Keputusan kepada setiap Pemegang Izin yang telah memenuhi semua norma penilaian SVLK.

h. Pada saat kontrak Verifikasi LK sudah dilakukan, maka LV-LK memilih dan mengangkat Tim pengambil keputusan yang terdiri dari 1 orang atau bila diperlukan membuat tim pengambil keputusan yang terdiri dari maksimal 3 orang.

i. Laporan hasil audit lengkap yang sudah dibuat oleh Tim audit VLK diterima oleh pengambil keputusan atau tim pengambil keputusan paling lambat 5 hari kalender sebelum proses pengambilan keputusan dilakukan.

j. Harus dipastikan bahwa laporan audit akhir adalah laporan audit yang diserahkan kepada pengambil keputusan atau Tim pengambil keputusan sudah memasukan keberatan atau perbaikan dari pihak auditee atas laporan audit yang dibuat oleh Tim penilai lapangan dan telah diselesaikan oleh Tim adhoc.

(22)

22

k. Pengambil keputusan atau Ketua tim pengambil keputusan menetapkan jadwal dan rencana proses pengambilan keputusan, sedangkan tempat pengambilan keputusan bisa ditetapkan di kantor lembaga sertifikasi maupun di luar kantor.

l. Bila proses pengambilan keputusan oleh satu tim, namun tidak dapat dihadiri semua anggota tim dalam suatu pertemuan pengambilan keputusan karena suatu hal, maka Lembaga Verifikasi dapat melaksanakan prosesnya dengan teleconference atau media lain yang memungkinkan adanya pembahasan laporan hasil audit pada media tersebut seperti email, web jejaring sosial, internet chat conference, dll. sejauh rekamannya proses pengambilan keputusan dapat didokumentasikan dan dipertanggungjawabkan.

m. Sebelum proses pengambilan keputusan, pemgambil keputusan atau ketua tim pengambil keputusan memeriksa kelengkapan dokumen laporan yang diperlukan yang mencakup :

- Laporan Penilaian VLK - Lampiran Laporan - Resume hasil verifikasi - Rencana audit/audit plan - Kontrak penilaian

- Laporan Tinjauan kontrak

- Dokumen-dokumen Notulensi yang diperlukan - Dokumen lainnya yang dianggap perlu

n. Proses Pengambilan keputusan juga bila diperlukan dihadiri oleh tim penilai Lapangan untuk keperluan klarifikasi oleh pengambil keputusan atau tim pengambil keputusan.

o. Keputusan untuk merekomendasikan Penerbitan Sertifikat LK kepada perusahaan atau organisasi didasarkan pada hasil pengambilan keputusan oleh pengambil keputusan atau tim pengambil keputusan dengan hasil pada seluruh verifier ” Memenuhi ”.

(23)

23

IV. HASIL VERIFIKASI DAN ANALISIS

4.1. Verifier yang Tidak Diverifikasi

Berdasarkan hasil verifikasi, diketahui terdapat verifier yang tidak diterapkan karena tidak sesuai dengan kondisi auditee. Verifier yang tidak diterapkan ditunjukkan berikut :

No Prinsip / Kriteria / Indikator /

Verifier Hasil Verifikasi

1.

P1, K1.2, I1.2.1.

Dokumen pengakuan/pengenal sebagai importir.

Berdasarkan hasil verifikasi, PT Katingan Timber Celebes tidak melakukan kegiatan impor bahan baku ataupun bahan pendukung.

Sehingga tidak berkewajiban memiliki dokumen pengakuan sebagai importir.

2. P1, K1.2, I1.2.2.

Panduan/pedoman/prosedur

pelaksanaan dan bukti pelaksanaan sistem uji tuntas (due diligence) importir

Berdasarkan hasil verifikasi, PT Katingan Timber Celebes tidak melakukan kegiatan impor bahan baku ataupun bahan pendukung.

3. P1, K1.3, I 1,3,1

 Akte notaris pembentukan kelompok atau dokumen pembentukan kelompok

Berdasarkan hasil verifikasi, PT. Katingan Timber Celebes merupakan perusahaan berbentuk perseroan dan bukan merupakan kelompok usaha sehingga tidak terdapat akte pembentukan kelompok

4. P1, K1.3, I 1,3,1

 Internal audit anggota kelompok

Berdasarkan hasil verifikasi, PT. Katingan Timber Celebes merupakan perusahaan berbentuk perseroan dan bukan merupakan kelompok usaha sehinga tidak berkewajiban memiliki internal audit anggota kelompok.

5. P2, P2.1, I2.1.1c

Bukti serah terima kayu selain kayu bulat dari hutan negara, dilengkapi dengan dokumen angkutan hasil hutan yang sah..

Berdasarkan hasil verifikasi, PT. Katingan Timber Celebes dalam periode audit Maret 2018 – Februari 2019 tidak melakukan kegiatan pembelian bahan baku. Sehingga tidak tersedia bukti pembelian bahan baku kayu bulat yang melengkapi kontrak suplai bahan baku.

6. P2, K2.1, 2.1.1.e

Nota dan Dokumen Keterangan (Berita Acara dari petugas kehutanan atau dari Aparat Desa/Kelurahan) yang menjelaskan asal usul untuk kayu bekas/hasil bongkaran/sampah kayu bukan dari kayu lelang, serta DKP.

Berdasarkan hasil verifikasi, PT. Katingan Timber Celebes dalam periode audit Maret 2018 – Februari 2019 tidak melakukan kegiatan pembelian bahan baku berupa kayu bekas/hasil bongkaran/sampah kayu bukan dari kayu lelang.

(24)

24 No Prinsip / Kriteria / Indikator /

Verifier Hasil Verifikasi

7. P2, K2.1, 2.1.1.f

Dokumen angkutan berupa Nota untuk kayu limbah industri.

Berdasarkan hasil verifikasi, PT. Katingan Timber Celebes dalam periode audit Maret 2018 – Februari 2019 tidak melakukan kegiatan pembelian bahan baku berupa kayu limbah.

8. P2, K2.1, 2.1.1.h

Informasi terkait VLBB untuk pemasok yang belum memiliki S- LK/S-PHPL/DKP

Berdasarkan hasil verifikasi, PT. Katingan Timber Celebes mempunyai 1 pemasok yaitu PT GHL yang sudah bersertifikat PHPL.

9. P2, K2.1, I2.1.2.a.

Pemberitahuan Impor Barang (PIB).

Selama periode bulan Maret 2018 - Februari 2019 PT Katingan Timber Celebes tidak melakukan pembelian bahan kayu impor.

10. P2, K2.1, I2.1.2.b.

Bill of Lading (B/L).

11. P2, K2.1, I2.1.2.c.

Packing List (P/L).

12. P2, K2.1, I2.1.2.d.

Invoice.

13. P2, K2.1, I2.1.2.e.

Deklarasi

14. P2, K2.1, I2.1.2.f.

Bukti pembayaran bea masuk (bila terkena bea masuk).

15. P2, K2.1, I2.1.2.g.

Dokumen lain yang relevan untuk jenis kayu yang dibatasi perdagangannya.

16. P2, K2.1, I2.1.2.h.

Bukti penggunaan kayu dan produk turunannya..

17. P2, K2.1, I2.1.3.d

Hasil produksi yang berasal dari kayu lelang dipisahkan

Berdasarkan hasil verifikasi, PT. Katingan Timber Celebes tidak melakukan kegiatan pembelian bahan baku yang berasal dari kayu lelang.

18. P2, K2.1, I2.1.4.a.

Dokumen S-LK atau DKP produk yang dijasakan.

Berdasarkan hasil verifikasi, PT. Katingan Timber Celebes tidak melakukan penjasaan kegiatan produksinya

(25)

25 No Prinsip / Kriteria / Indikator /

Verifier Hasil Verifikasi

19. P2, K2.1, I2.1.4.b.

Kontrak jasa pengolahan produk antara auditee dengan penyedia jasa (pihak lain).

Berdasarkan hasil verifikasi, PT. Katingan Timber Celebes tidak melakukan penjasaan kegiatan produksinya

20. P2, K2.1, I2.1.4.c.

BAP serah terima kayu yang dijasakan.

Berdasarkan hasil verifikasi, PT. Katingan Timber Celebes tidak melakukan penjasaan kegiatan produksinya

21. P2, K2.1, I2.1.4.d.

Pemisahan produk yang dijasakan.

Berdasarkan hasil verifikasi, PT. Katingan Timber Celebes tidak melakukan penjasaan kegiatan produksinya

22. P2, K2.1, I2.1.4.e.

Dokumen bhn baku, proses produksi & ekspor (jika ekspor dilakukan oleh penyedia jasa).

Berdasarkan hasil verifikasi, PT. Katingan Timber Celebes tidak melakukan penjasaan kegiatan produksinya

23. P.3.K3.2.1.a.

Produk hasil olahan kayu yang diekspor.

Berdasarkan hasil verifikasi, PT. Katingan Timber Celebes tidak melakukan kegiatan perdagangan ekspor. Kegiatan perdagangan yang dilakukan adalah perdagangan lokal dengan produk kayu gergajian, dari hasil industri penggergajian kayu yang dimilikinya. Dengan demikian verifier 3.2.1.a.

tidak diterapkan.

24. P.3.K3.2.1.b.

Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB).

Berdasarkan hasil verifikasi, PT. Katingan Timber Celebes tidak melakukan kegiatan perdagangan ekspor. Kegiatan perdagangan yang dilakukan adalah perdagangan lokal dengan produk kayu gergajian, dari hasil industri sawmill yang dimilikinya. Dokumen yang diterbitkan berupa Surat Keterangan Sah Hasil Hutan Kayu (SKSHH).

Untuk perdagangan lokal PT Katingan Timber Celebes tidak wajib memiliki dokumen PEB.

Dengan demikian verifier 3.2.1.b. tidak diterapkan.

25. P.3.K3.2.1.c.

Packing list (P/L). Berdasarkan hasil verifikasi, PT. Katingan Timber Celebes tidak melakukan kegiatan perdagangan ekspor. Kegiatan perdagangan yang dilakukan adalah perdagangan lokal dengan produk kayu gergajian, dari hasil industri sawmill yang dimilikinya. Dokumen yang diterbitkan berupa Surat Keterangan Sah Hasil Hutan Kayu (SKSHH)dan untuk penjualan lokal kayu gergajian tidak diwajibkan memiliki dokumen Packing List (P/L). dengan demikian verifier 3.2.1.c. tidak diterapkan.

26. P.3.K3.2.1.d.

Invoice.

Berdasarkan hasil verifikasi, PT. Katingan Timber Celebes tidak melakukan kegiatan perdagangan ekspor. Kegiatan perdagangan yang dilakukan

(26)

26 No Prinsip / Kriteria / Indikator /

Verifier Hasil Verifikasi

adalah perdagangan lokal dengan produk kayu gergajian, dari hasil industri sawmill yang dimilikinya. Dokumen yang diterbitkan berupa Surat Keterangan Sah Hasil Hutan Kayu (SKSHH)dan untuk penjualan lokal kayu gergajian tidak diwajibkan memiliki dokumen invoice, yang sesuai dengan dokumen PEB. Dengan demikian verifier 3.2.1.d. tidak diterapkan.

27. P.3.K3.2.1.e.

Bill of Lading (B/L)

Berdasarkan hasil verifikasi, PT. Katingan Timber Celebes tidak melakukan kegiatan perdagangan ekspor. Kegiatan perdagangan yang dilakukan adalah perdagangan lokal dengan produk kayu gergajian, dari hasil industri sawmill yang dimilikinya. Dokumen yang diterbitkan berupa Surat Keterangan Sah Hasil Hutan Kayu (SKSHH), dan untuk penjualan lokal kayu gergajian tidak diwajibkan memiliki dokumen Bill of Lading (B/L).

dengan demikian verifier 3.2.1.e. tidak diterapkan.

28. P.3.K3.2.1.f.

Dokumen V-Legal untuk produk yang wajib dilengkapi dengan Dokumen V- Legal.

Berdasarkan hasil vertifikasi, PT. Katingan Timber Celebes tidak melakukan kegiatan perdagangan ekspor. Kegiatan perdagangan yang dilakukan adalah perdagangan lokal dengan produk kayu gergajian, dari hasil industri sawmill yang dimilikinya. Dokumen yang diterbitkan berupa Surat Keterangan Sah Hasil Hutan Kayu (SKSHH), dan untuk penjualan lokal kayu gergajian tidak diwajibkan memiliki dokumen V-Legal yang sesuai dengan dokumen PEB. Dengan demikian verifier 3.2.1.f. tidak diterapkan

29. P.3.K3.2.1.g.

Hasil verifikasi teknis (Laporan Surveyor) untuk produk yang wajib verifikasi teknis.

Berdasarkan hasil verifikasi, PT. Katingan Timber Celebes tidak melakukan kegiatan perdagangan ekspor. Kegiatan perdagangan yang dilakukan adalah perdagangan lokal dengan produk kayu gergajian, dari hasil industri sawmill yang dimilikinya. Dokumen yang diterbitkan berupa Surat Keterangan Sah Hasil Hutan Kayu (SKSHH).

Produk yang diperdagangkan tidak wajib dilakukan verifikasi teknis karena tidak untuk diekspor.

Dengan demikian verifier 3.2.1.g. tidak diterapkan.

30. P.3.K3.2.1.h.

Bukti pembayaran bea keluar bila terkena bea keluar.

PT. Katingan Timber Celebes tidak berkewajiban memiliki bukti pembayaran bea keluar, karena kegiatan perdagangan yang dilakukan adalah perdagangan lokal. Dengan demikian verifier 3.2.1.h. tidak diterapkan.

31. P.3.K3.2.1.i.

Dokumen lain yang relevan untuk jenis kayu yang dibatasi

Berdasarkan hasil verifikasi, PT. Katingan Timber Celebes tidak melakukan kegiatan perdagangan ekspor. Kegiatan perdagangan yang dilakukan adalah perdagangan lokal dengan produk kayu

(27)

27 No Prinsip / Kriteria / Indikator /

Verifier Hasil Verifikasi

perdagangannya. gergajian, dari hasil industri sawmill yang dimilikinya. Dokumen yang diterbitkan berupa Surat Keterangan Sah Hasil Hutan Kayu (SKSHH).

Dan tidak berkewajiban memiliki dokumen lain yang relevan berupa CITES, klarena kegiatan perdagangan yang dilakukan adalah perdagangan lokal. Dengan demikian verifier 3.2.1.i. tidak diterapkan.

4.2. Verifier yang Diverifikasi

P1. Pemegang Izin Usaha mendukung terselenggaranya perdagangan kayu yang sah.

(28)

28 K1.1. Unit usaha dalam bentuk :

(a) Industri pengolahan, dan

(b) Eksportir produk olahan memiliki izin yang sah

1.1.1 Unit usaha pengolahan adalah produsen yang memiliki izin yang sah

a. Akte pendirian perusahaan dan/atau perubahan terakhir Hasil Verifikasi

Akta Pendirian Perusahaan

PT Katingan Timber Celebes yang berlokasi di Kabupaten Pulau Buru bergerak dibidang pengolahan kayu. Sebelumnya perusahaan ini bernama PT Sentosa Pratama, dengan akte perseroan No. 6 tanggal 07 Januari 2004. Pada tanggal 23 Februari 2010, sejak diterbitkan akte perusahaan nomor 8 tanggal 23 Februari 2010yang dibuat di hadapan Notaris Yulkhaizar Panuh SH., yang berkedudukan di Jakrta, tentang “Perjanjian Jual Beli Asset”, maka perusahaan tersebut telah berada dalam penguasaan PT Katingan Timber Celebes. Adapun kronologi perubahan akte perusahaan adalah sebagai berikut:

Tabel 4.1. Kronologi Perubahan Akte Perseroan PT Katingan Timber Celebes, Kabupaten Pulau Buru, Maluku.

No Nomor Akta

dan Tanggal Kantor Notaris Uraian Catatan Pengesahan *)

1 6 tanggal 07 Januari 2004

Notaris Yulkhaizar Panuh SH Notaris di Jakarta

Akte Pendirian PT Sentosa Pratama

C-03011 HT.01.01.TH.2004

2 No. 42 tanggal 18 Januari 2010

Notaris Yulkhaizar Panuh SH Notaris di Jakarta

Akte Perubahan PT Sentosa Pratama

AHU-AH.01.10-13411

3 8 tanggal 23 Februari 2010

Yulkhaisar Panuh SH, Jakarta

Perjanjian Jual Beli Asset dari PT Sentosa Pratama ke PT Katingan Timber Celebes 4 No. 11 tanggal

04 September 1973

Notaris Kartini Muljadi, S.H, di Jakarta

Akte Pendirian PT Katingan Timber Celebes

Betrita Negara Nomor 927 tahun 1973

SK Menteri Kehakiman Nomor Y.A.5/382/20 tanggal 25 Oktober 1973.

5 No. 15 tanggal 09 Nopember 2016

Notaris Anesta Chrisanti, S.H.,M.Kn. di Depok, Jawa Barat

RUPS LB AHU-AH.01.03-0097558

(29)

29 6 No. 04

Tanggal 5 Mei 2017

Notaris Anesta Chrisanti, S.H.,M.Kn. di Depok, Jawa Barat

RUPS LB -

7 No 24 tanggal 11 Agustus 2017

Notaris Anesta Chrisanti, S.H.,M.Kn. di Depok, Jawa Barat

Akta Pernyataan Keputusan Sirkilar Para Pemegang Saham Perseroan Terbatas PT Katingan Timber Celebes

AHU-AH.01.03-016804

8 No. 10 tanggal 10 April 2018

Notaris Anesta Chrisanti, S.H.,M.Kn.di Depok, Jawa Barat

Akta Berita Acara RUPS Luar Biasa Perseroan Terbatas PT Katingan Timber Celebes

AHU-AH.01.03-0156256

Status PT Sentosa Pratama:

Akte No. 6 tanggal 07 Januari 2004

Ketika masih atas nama PT. Sentosa Pratama, Akte pendirian perusahaan adalah mengacu kepada Akte No. 6 tanggal 07 Januari 2004 tentang Pendirian Perusahaan Perseroan Terbatas PT. Sentosa Pratama yang dibuat dihadapan Notaris Yulkhaizar Panuh SH Notaris di Jakarta.

Dokumen Akte nomor 6 tanggal 07 Januari 2004 terlampir pada Buku II Lampiran II-1a.

Akte No. 42 tanggal 18 Januari 2010.

Akte perubahan perusahaan terakhir adalah berdasarkan Akte Notaris Yulkhaizar Panuh, SH. No. 42 tanggal 18 Januari 2010.

Adapun susunan pemegang saham berdasarkan akte notaris Nomor 42 Tanggal 18 Januari 2010 adalah sebagai berikut:

- PT. Makassar Intisejahtera : 30,380 lembar saham - Tn Chandra Adiwijaya Hong : 310 lembar saham

- Tn Cokro Suroso : 310 lembar saham

Adapun susunan pengurus berdasarkan akte notaris Nomor 22 Tanggal 18 Januari 2010 adalah sebagai berikut:

- Direktur Utama : Tn Chandra Adiwijaya Hong - Wakil Direktur Utama : Tn Franklin William Kayhatu

- Direktur : Tn Bhimo Wiweko

- Direktur : Tn Felix Ane

- Komisaris Utama : Tn Cokro Suroso

- Komisaris : Tn Koerniawan Oetjoep

Dokumen Akte nomor No. 42 tanggal 18 Januari 2010. terlampir pada Buku II Lampiran II-1a.

(30)

30 Peralihan ke PT Katingan Timber Celebes:

Akte Jual Beli Nomor 8 Tanggal 23 Februari 2010

Perusahaan PT Katingan Timber Celebes Kabupaten Buru dahulu bernama PT Sentosa Pratama.

Sejak diterbitkan akte perusahaan nomor 8 tanggal 23 Februari 2010yang dibuat di hadapan Notaris Yulkhaizar Panuh SH., yang berkedudukan di Jakrta, tentang “Perjanjian Jual Beli Asset”, maka perusahaan tersebut telah berada dalam penguasaan PT Katingan Timber Celebes.

Dokumen Akte nomor 8 tanggal 23 Februari 2010 terlampir pada Buku II Lampiran II-1c.

Perusahaan juga telah mendapat persetujuan perubahan atau penggantian nama dan penanggung jawab perusahaan dalam IUI dari Gubernur Maluku berdasarkan Surat Gubernur Maluku No.

538.3/1508 tanggal 07 Juli 2010 perusahaan telah berubah nama menjadi PT Katingan Timber Celebes.

Akte No. 11 tanggal 04 September 1973 (Akte Pendirian PT Katingan Timber Celebes).

Sedangkan sesudah berganti nama menjadi PT. Katingan Timber Celebes maka pendirian perusahaan mengacu berdasarkan Akte No. 11 tanggal 04 September 1973 yang dibuat dihadapan Notaris Kartini Muljadi, S.H, yang berkedudukan di Jakarta.

Maksud dan Tujuan Perseroan:

a. Mendirikan dan menjalankan usaha-usaha logging, penggergajian, woodprocessing dari kayu- kayu balok dan lain-lain hasil hutan;

b. Menjalankan perdagangan dalam negeri dan internasional dari hasil-hasil yang tersebut di atas;

c. Menjalankan segala sesuatu yang selaras dengan maksud dan tujuan tersebut dalam ayat-ayat dimuka dan akan menjalankan usaha-usahanya dalam arti akata yang seluas-luasnya, baik atas tanggungan sendiri amaupun atas tanggungan orang atau badan lain, ataupun bersama-sama dengan orang atau badan lain dengan cara dan bentuk yang sesuai dengan keperluan, asdal yang demikian itu tidak melanggar hukum.

Modal Perseroan:

Tabel 4.2. Modal Perseroan (Rupiah).

MODAL Jumlah (Rp) Jumlah

Saham

Nilai Tiap Saham (Rp)

Modal Dasar 415,000,000.00 1,000 415,000

Modal disetor 83,000,000.00 200 415,000

Tabel 4.3. Modal Perseroan (US$).

MODAL Jumlah (US$) Jumlah

Saham

Nilai Tiap Saham (US$)

Modal Dasar 1,000,000.00 1,000 1,000.00

(31)

31

Modal disetor 200,000.00 200 1,000.00

Tabel 4.4. Susunan Pemegang Saham (Nilai Saham dalam Rupiah)

No Nama Pemegang Saham

Jumlah Saham (Rp)

Nilai Saham (Rp)

Total Nilai Saham (Rp)

1 PT Sarvha –Ana 400 415,000 166,000,000.00

2 Mitsui Overseas Forestry Development Co. Ltd. 600 415,000 249,000,000.00

TOTAL 1,000 415,000,000.00

Tabel 4.5. Susunan Pemegang Saham (Nilai Saham dalam US$)

No Nama Pemegang Saham Jumlah

Saham

Nilai Saham (US$)

Total Nilai Saham (US$)

1 PT Sarvha –Ana 400 1,000 400,000.00

2 Mitsui Overseas Forestry Development Co. Ltd. 600 1,000 600,000.00

TOTAL 1,000 1,000,000.00

Pengurus Perusahaan:

- Presiden Direktur : Tn. Kizo Mineo - Wakil Direktur : Tn. Supandi - Presiden Komisaris : Tn. Karsono - Wakil Presiden Komisaris : Tn. katsuno kaya - Komisaris : Tn. Sudibyo

- Komisaris : Tn. Shoichi Miyazaki

Dokumen akte pendirian terlampir pada Buku II Lampiran II-1d.

Selanjutnya mengalami perubahan dengan akte Notaris Achmad Abid, S.H, No. 1 tanggal 01 April 2004 dan Notaris Achmad Abid, S.H, No. 15 tanggal 30 April 2004. Pengesahan dari Menteri Kehakiman No. Y.A.5/382/20 tanggal 25 Oktober 1973 dan persetujuan Menteri Kehakiman dan HA No. C-10093 HT.01.04.TH. 2004 tanggal 23 April 2004.

HASIL AUDIT PENILIKAN II 2019:

Akte Perubahan Terakhir:

Berdasarkan hasil verifikasi terdapat akte perubahan terakhir nomor 10 tanggal 10 April 2018, yang dibuat dihadapan Notaris Anesta Chrisanti, S.H.,M.Kn. yang berkedududkan di Depok, Jawa Barat.

Akte ini memuat Berita Acara RUPS Luar Biasa Perseroan Terbatas PT Katingan Timber Celebes:

1. Menyetujui pengunduran diri dengan hormat Tuan Edy Lukas selaku Direktur dari Perseroan.

2. Persetujuan masuknya Tuan Hendri Saksti dalam perseroan.

(32)

32 3. Pengunduran diri

Akte perubahan terakhir telah mendapat pengesahan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia nomor AHU-AH.01.03-0156256 teratnggal 20 April 2018.

Pengurus Perusahaan:

- Direktur : Tn. Tan Keng Liam - Komisaris : Tn. Hendri Saksti.

Pengesahan Akte Perubahan Terakhir No. 10 tanggal 10 April 2018 terlampir pada Buku II Lapiran II-1e.

Justifikasi

Verifier ini memiliki nilai Memenuhi apabila Tersedia akta pendirian perusahaan dan/atau perubahan terakhir yang telah disahkan (khusus PT) atau didaftarkan ke instansi yang berwenang sesuai dengan bentuk badan hukumnya.

PT Katingan Timber Celebes yang berlokasi Kabupaten Buru memiliki akta pendirian perusahaan dan/atau perubahan terakhir yang telah disahkan (khusus PT) atau didaftarkan ke instansi yang berwenang sesuai dengan bentuk badan hukumnya. Dengan demikian verifier 1.1.1.a. memiliki norma penilaian memenuhi.

Norma Penilaian : Memenuhi

b. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) atau Izin Perdagangan yang tercantum dalam izin industri

Hasil Verifikasi :

Hasil Verifikasi Penilikan II 2019:

PT. Katingan Timber Celebes Kabupaten Buru telah memperbarui SIUP (Surat Ijin Usaha Perdagangan) Besar dari Kantor Pelayanan Perizinan dan Penanaman Modal Daerah Kabupaten Buru dengan nomor SIUP : 002/25-06/PM/I/2019.P.1 tertanggal 31 Januari 2019. Adapun detail informasi yang tercantum dalam dokumen SIUP Besar adalah sebagai berikut.

- SIUP Besar Nomor : 002/25-06/PM/I/2019.P.1

- Tanggal : 07 Maret 2014

- Nama Perusahaan : PT. Katingan Timber Celebes - Nama Penanggungjawab : Dodi Kurnaedi

- Jabatan : Manager

- Alamat Perusahaan : Dusun Waetabi Desa Wamlana Kec. Fena Leisela

- Nomor Telp. : -

- Nomor Fax. : -

(33)

33

- Modal dan kekayaan perusahaan: Rp. 8.795.000.000,-

- Kelembagaan : Distributor

- Kegiatan Usaha (KBLI) : Perdagangan Besar Bahan Bangunan dari Kayu (46636) - Barang/Jasa Dagang Utama : Perdagangan Besar Khusus Bahan bangunan dari kayu

seperti papan, papan reng, papan lis dan balok.

Dokumen SIUP dapat dilihat di Buku II Lampiran II-2a.

Nama penanggung jawab dokumen perijinan adalah Dodi Kurnaedi (Manajer Sawmill PT Katingan Timber Celebes), yang telah mendapat kuasa dari Direktur Utama Bhimo Wiweko.

Salinan dokumen Surat Kuasa Direksi untuk Dodi Kurnaedi terlampir pada Buku II Lampiran II-2b.

Izin Komersial/Operasional:

Perusahaan juga telah memiliki dokumen Izin Komersial/Operasional yang diterbitkan oleh Lembaga Pengelola dan Penyelenggara OSS RI dengan nomor NIB: 8120200860318, ditetapkan tanggal 01 Agustus 2018.

Dokumen Komersial/Operasional terlampir pada Buku II Lampiran II-2c.

Justifikasi

Verifier ini memiliki nilai Memenuhi apabila:

Untuk verifikasi awal :

Tersedia Izin Usaha Perdagangan yang masih berlaku sesuai dengan kegiatan usahanya atau

Tersedia bukti pengurusan perpanjangan dari instansi yang berwenang berupa:

a. surat keterangan; atau b. tanda terima.

Untuk penilikan :

Tersedia Izin Usaha Perdagangan yang masih berlaku sesuai dengan ruang lingkup usahanya.

PT. Katingan Timber telah memiliki dokumen SIUP dengan kegiatan bidang usaha yang sesuai yaitu perdagangan besar khusus bahan bangunan dari kayu, maka dapat disimpulkan bahwa verifier 1.1.1.b mempunyai nilai memenuhi.

Norma Penilaian : Memenuhi

c. Izin HO (izin gangguan lingkungan sekitar industri) Hasil Verifikasi

Penilikan II 2019:

Gambar

Tabel  Daftar Tabel  Hal
Gambar  Daftar Gambar  Hal
Tabel  4.1.  Kronologi  Perubahan  Akte  Perseroan  PT  Katingan  Timber  Celebes,  Kabupaten  Pulau  Buru, Maluku
Tabel 4.2. Modal Perseroan (Rupiah).
+7

Referensi

Dokumen terkait

Mas Rangga : Menurut saya, disini terlihat ada yang tidak menarik sih, seperti halnya konten terkait guru besar, atau informasi terkait webinar disini, seharusnya dibuat

Wawancara (wawancara responden dan wawancara informan), dengan mengajukan sejumlah pertanyaan yang dimodifikasi untuk menjawab kriteria, indikator dan verifier yang

Mitos apa saja yang dipercaya masyarakat terhadap kolam yang berada di Sendang Made. Setiap kolam yang berada di

Nilai elastisitas jangka panjang yang paling elastis terdapat pada variabel harga domestik CPO, dimana peningkatan atau penurunan satu persen harga CPO domestik akan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahwa fiber nanosisal dapat digunakan sebagai filler (bahan pengisi) resin komposit dengan melihat perbedaan kekerasan antara

Kecaman yang dilakukan AS bahkan termasuk dalam doktrinasi media dengan menyatakan pada dunia kalau Iran berbahaya dengan segala fasilitas nuklir yang mereka miliki.. Namun hal

Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya dan tulus kepada semua pihak yang telah banyak membantu penulis baik dalam penyusunan

Namun analisa Nessler ini tidak terlepas dari gangguan warna dan kekeruhan yang hanya dapat dihilangkan dengan pengolahan pendahuluan yaitu destilasi; destilasi perlu dilakukan