LEMBARAN DAERAH
PROPINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA
T A H U N : 2 0 0 2 N O M O R : 2
K E P U T U S A N G U B E R N U R P R O P I N S I D A E R A H K H U S U S I B U K O T A J A K A R T A
N O M O R 1 T A H U N 2002 T E N T A N G
P E N Y E L E N G G A R A A N U S A H A D A N J A S A P E R T A M B A N G A N U M U M D I P R O P I N S I D A E R A H K H U S U S I B U K O T A J A K A R T A
G U B E R N U R P R O P I N S I D A E R A H K H U S U S I B U K O T A J A K A R T A ,
Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Pemerintah Propinsi sebagai Daerah Otonom dengan keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral N o m o r 1453.K/29/MEM/2000 tentang P e d o m a n Teknis Penyelenggaraan T u g a s Pemerintah dihidang P e r t a m b a n g a n U m u m t e l a h d i s e r a h k a n k e w e n a n g a n p e n g a t u r a n b i d a n g u s a h a p e r t a m b a n g a n u m u m k e p a d a P e m e r i n t a h Daerah s e b a g a i D a e r a h Otonom;
b. bahwa sehubungan dengan hal tersebut pada huruf a, perlu menetapkan ketentuan p e n y e l e n g g a r a a n usaha pertambangan u m u m di Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta dengan keputusan Gubernur.
Mengingat : 1. Undang-undang N o m o r 11 Tahun 1967 tentans Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan;
2. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;
3. Undang-undang N o m o r 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah;
4. Undang-undang N o m o r 34 Tahun 2000 tentang Pemerintahan Propinsi Daerah Khusus Ibukota Negara Republik Indonesia Jakarta;
5. P e r a t u r a n P e m e r i n t a h N o m o r 32 Tahun 1969 tentang P e l a k s a n a a n U n d a n g - u n d a n g N o m o r 11 Tahun 1967 t e n t a n g K e t e n t u a n P o k o k Pertambangan;
6. P e r a t u r a n P e m e r i n t a h N o m o r 27 Tahun 1980 t e n t a n g P e n g e l o l a a n Bahan-bahan Galian;
7. Peraturan Pemerintah N o m o r 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai D a m p a k Lingkungan;
8. Peraturan P e m e r i n t a h N o m o r 25 Tahun 2000 tentang K e w e n a n g a n Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom;
9. Keputusan Menteri Pertambahan dan Energi N o m o r 555.K/26/M.PE/
1995 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pertambahan U m u m ; 10. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1211.K/008/M.PE/
1995 t e n t a n g P e n c e g a h a n dan P e n a n g g u l a n g a n P e r u s a h a a n d a n Pencemaran Lingkungan pada kegiatan Usaha Pertambangan U m u m ; 11. Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral N o m o r 1453 K/
2 5 / M E M / 2 0 0 t e n t a n g P e d o m a n T e k n i s P e n y e l e n g g a r a a n T u g a s Pemerintah di B i d a n g Pertambangan U m u m ;
12. Peraturan Daerah Propinsi Daerah Khusus ibukota Jakarta N o m o r 3 Tahun 2001 tentang Bentuk dan Susunan Organisasi Perangkat Daerah dan Sekretariat D e w a n Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
M E M U T U S K A N :
Menetapkan : K E P U T U S A N G U B E R N U R P R O P I N S I D A E R A H K H U S U S I B U K O T A J A K A R T A T E N T A N G P E N Y E L E N G G A R A A N U S A H A D A N J A S A P E R T A M B A N G A N U M U M D I P R O P I N S I D A E R A H K H U S U S I B U K O T A J A K A R T A
B A B I K E T E N T U A N
Pasal D a l a m keputusan ini yang dimaksud dengan :
1. Gubernur adalah Gubernur Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta;
2. Dinas Pertambangan adalah Dinas Pertambangan Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta;
3. Pelaksana Inspeksi Tambang Daerah yang selanjutnya disebut PITD A adalah pegawai Dnas Pertambangan yang ditunjuk/diangkat sebagai Pelaksana Inspeksi Tambang Daerah dan bertugas melaksanakan keselamatan kerja dan lingkungan hidup atas usaha pertambangan u m u m ;
4. Badan adalah suatu bentuk usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah dengan macam
dan dalam bentuk apapun, persekutuan, kekumpulan, firma, kongsi, koperasi, yayasan atau organisasi yang sejenis, lembaga dana pensiun, bentuk usaha tetap serta bentuk badan usaha lainnya;
5. Usaha Pertambangan Bahan Galian adalah usaha pertambangan yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi, pengolahan/pemurnian, pengangkutan dan penjualan bahan galian;
6. Penggalian adalah kegiatan pengambilan endapan bahan galian dan dibawa ke permukaan tanah untuk dimanfaatkan atau diproses yang dilakukan dengan cara penggalian terbuka maupun tertutup dengan menggunakan peralatan mekanis maupun manual, yang dapat mengubah bentang alam dan struktur tanah sehingga mengubah keseimbangan alamiah dan perubahan lingkungan;
7. Bahan Galian adalah aneka ragam unsur-unsur kimia, mineral, kumpulan mineral, batuan, bijih, termasuk batu bara, gambut, bitumen padat, air bawah tanah, panas bumi dan min
eral radio aktif yang terjadi secara alamiah;
8. Penyelidikan U m u m adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk mengetahui kondisi geologi regional dan indikasi adanya mineralisasi atau endapan y a n g dilakukan dengan penyelidikan geologi, geofisika, geokimia serta regional dan pengambilan contoh secara acak;
9. Eksplorasi adalah tahapan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi secara rinci dan teliti tentang lokasi, bentuk, dimensi, sebaran, kualitas dan sumberdaya terukur dari bahan galian hasil penyelidkan eolog, geofisika, geokimia, dan pengambilan contoh, parit atau sumur uji atau pemboran dan pembuatan terowongan eksplorasi secara detail;
10. E k s p l o i t a s i / p r o d u k s i a d a l a h t a h a p a n u s a h a p e r t a m b a n g a n u n t u k m e n g h a s i l k a n dan memanfaatkan bahan galian;
11. Pengolahan/Pemurnian adalah tahapan usaha pertambangan untuk mempertinggi mutu bahan galian dan m e m p e r o l e h u n s u r - u n s u r y a n g terdapat pada bahan galian untuk dimanfaatkan;
12. Pengangkutan adalah tahapan usaha pertambangan untuk memindahkan bahan galian dan hasil pengolahan/pemurnian bahan galian dari daerah eksplorasi, eksploitasi dan tempat pengolahan/pemurnian;
13. Penjualan/Perdagangan adalah tahapan usaha pertambangan untuk menjual bahan galian dan hasil pengolahan/pemurnian bahan galian;
14. Studi Kelayakan adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi secara rinci seluruh aspek yang berkaitan untuk menentukan kelayakan usaha pertambangan termasuk p e n y e l i d i k a n / s t u d i j u m l a h c a d a n g a n y a n g d a p a t ditambah d e n g a n m e t o d e penambangan dan pengolahan/pemurnian, perencanaan infrastruktur, investasi dan analisa mengenai dampak lingkungan atau upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan yang j u g a dapat dilakukan pemboran sisipan;
15. W i l a y a h U s a h a P e r t a m b a n g a n a d a l a h w i l a y a h y a n g d i t e t a p k a n d a l a m izin u s a h a pertambangan bahan galian;
16. Uang j a m i n a n kesungguhan adalah uang yang dibayarkan kepada Pemerintah Daerah sebagai j a m i n a n atas kegiatan penyelidikan u m u m ;
17. Iuran Tetap adalah Iuran yang dibayarkan kepada Pemerintah Daerah sebagai imbalan kegiatan eksplorasi, eksploitasi dan pengolahan/pemurnian;
18. Iuran Produksi adalah iuran yang dibayarkan kepada Pemerintah Daerah sebagai imbalan atas hasil yang diperoleh dari eksploitasi;
19. Jasa p e r t a m b a n g a n a d a l a h kegiatan y a n g berkatian d e n g a n p e l a k s a n a a n izin u s a h a pertambangan atau perjanjian usaha pertambangan serta kegiatan penunjang.
B A B II
U S A H A P E R T A M B A N G A N B A H A N G A L I A N
Bagian P e r t a m a Perizinan
Pasal 2
(1) Setiap orang pribadi atau badan yang melakukan usaha pertambangan bahan galian di Propinsi D K I Jakarta harus mendapat izin tertulis dari Kepala Dinas Pertambangan.
(2) Izin usaha pertambangan bahan galian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan untuk tiap kegiatan usaha:
a. Penyelidikan u m u m ; b. Eksplorasi;
c. Eksploitasi/produksi;
d. Pengolahan/pemurnian;
e. Pengangkutan;
f. Penjualan.
Pasal 3
(1) P e r m o h o n a n untuk m e n d a p a t k a n izin usaha pertambangan bahan galian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) harus diajukan secara tertulis kepada Gubernur dalam hal ini Kepala Dinas dengan mengisi formulir permohonan sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan ini serta melampirkan persyaratan sebagai b e r i k u t :
a. Untuk penyelidikan u m u m melampirkan :
1) Fotokopi K T P pimpinan/penanggung j a w a b kegiatan;
2) Peta lokasi penyelidikan umum dengan skala sekecil-kecilnya 1 : 25.000;
3) Tenaga ahli yang akan diikutsertakan;
4) Rencana kerja dan biaya;
5) Fotokopi akte pendirian perusahaan dalam bidang pertambangan dan telah disahkan oleh Departemen Kehakiman dan Hak Azasi Manusia;
6) Anggaran dasar yang salah satu maksud dan tujuannya menyebutkan berusaha di bidang pertambangan dan telah diserahkan oleh instansi yang b e r w e n a n g khusus untuk k o p e r a s i / K U D ;
7) Tanda bukti penyetoran uang j a m i n a n kesungguhan;
8) Laporan keuangan bagi perusahaan baru dan laporan keuangan tahun terakhir yang telah di audit oleh akuntan publik bagi perusahaan lama.
b. Untuk eksplorasi melampirkan :
1) Fotokopi K T P dari pimpinan/penanggung j a w a b perusahaan untuk badan usaha;
2) Peta lokasi rencana eksplorasi pertambangan dengan skala sekecil-kecilnya 1 : 25.000;
3) Fotokopi izin penyelidikan umum dan laporan pelaksanaan izin penyelidkan u m u m apabila melakukan penyelidikan u m u m ;
4) Buku rencana eksplorasi bahan galian;
5 ) F o t o k o p i a k t e p e n d i r i a n p e r u s a h a a n y a n g salah satu m a k s u d dan t u j u a n n y a menyebutkan berusaha di bidang pertambangan dan telah disahkan oleh Departemen K e h a k i m a n dan H a k Asasi Manusia;
6) Fotokopi Anggaran dasar yang salah satu maksud dan tujuannya berusaha di bidang pertambangan dan telah disahkan oleh instansi yang b e r w e n a n g k h u s u s untuk k o p e r a s i / K U D ;
7) Tanda bukti pelunasan iuran tetap.
c. Untuk ekploitasi melampirkan :
1) Fotokopi K T P dari pimpinan/penanggung j a w a b perusahaan;
2) Peta wilayah;
3) Laporan lengkap ekplorasi;
4) Laporan studi kelayakan;
5) D o k u m e n A m d a l , atau U K L - U P L ;
6) Tanda bukti pembayaran tetap dan iuran produksi;
7) Akte pendirian perusahaan yang salah satu dari maksud dan tujuannya menyebutkan berusaha di bidang pertambangan dan telah disahkan instansi yang berwenang.
d. U n t u k p e n g o l a h a n / p e m u r n i a n y a n g tidak m e m p u n y a i izin U s a h a P e r t a m b a n g a n ekploitasi m e l a m p i r k a n :
1) Fotokopi K T P dari penanggung j a w a b ; 2) Rencana teknis pengolahan dan pemurnian;
3) D o k u m e n A m d a l , atau U K L - U P L ;
4) Perjanjian jual beli dengan pemegang Izn Usaha Pertambangan ekploitasi;
5) Tanda bukti pembayaran iuran tetap.
e. Untuk pengolahan/pemurnian yang mempunyai Izin Usaha Pertambangan ekploitasi melampirkan :
1) Fotokopi K T P dari penanggung j a w a b ; 2) R e n c a n a teknis pengolahan dan pemurnian;
3) D o k u m e n A m d a l , atau U K L - U P L .
f. Untuk pengangkutan melampirkan : 1) Fotokopi K T P dari penanggung j a w a b ;
2 ) F o t o k o p i Izin U s a h a P e r t a m b a n g a n e k s p l o i t a s i , a p a b i l a d i l a k u k a n k e g i a t a n eksploitasi;
3) U p a y a pengelolaan lingkungan ( U K L ) dan upaya pemantauan lingkungan ( U P L ) sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku;
4) Fotokopi akte pendirian perusahaan/yayasan bagi badan usaha atau fotokopi SK Menteri Koperasi bagi koperasi yang salah satu maksud dan tujuan pendirian koperasi menyebutkan berusaha di bidang pertambangan;
5) Surat izin usaha pengangkutan dari Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
6) Melampirkan jadwal pelaksanaan pengangkutan dan mencantumkan n a m a - n a m a jalan yang dilalui.
g. Untuk penjualan melampirkan :
1) Fotokopi K T P dari penanggung j a w a b ;
2 ) F o t o k p i Izin U s a h a P e r t a m b a n g a n e k s p l o i t a s i , a p a b i l a m e l a k u k a n k e g i a t a n eksploitasi;
3) Upaya pengelolaan lingkungan (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan ( U P L ) sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku;
4) Fotokopi akte pendirian perusahaan/yayasan bagi badan usaha atau fotokopi SK Menteri Koperasi bagi koperasi yang salah satu m a k s u d dan tujuan pendirian koperasi menyebutkan berusaha di bidang pertambangan.
(2) Izin usaha pertambangan bahan galian dapat diberikan apabila permohonan telah memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Bentuk dan isi formulir izin usaha pertambangan bahan galian sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan izin.
Pasal 4
M a s a berlaku izin usaha pertambangan bahan galian sebagai b e r i k u t :
a. Izin usaha pertambangan bahan galian untuk kegiatan penyelidikan u m u m berlaku 1 tahun dan dapat diperpanjang 1 kali selama 1 tahun;
b. Izin usaha pertambangan bahan galian untuk kegiatan eksplorasi berlaku 1 tahun dan dapat diperpanjang 1 kali selama 1 tahun;
c. Izin usaha pertambangan bahan galian untuk kegiatan eksploitasi berlaku maksimal 10 tahun dan dapat diperpanjang 1 kali maksimal 10 tahun;
d. Izin usaha pertambangan bahan galian untuk kegiatan pengolahan/pemurnian berlaku maksimal 10 tahun dan dapat diperpanjang 1 kali maksimal 10 tahun;
e. Izin usaha pertambangan bahan galian untuk kegiatan pengangkutan berlaku maksimal 10 tahun dan dapat diperpanjang 1 kali maksimal 10 tahun;
f. Izin usaha pertambangan bahan galian untuk kegiatan penjualan berlaku maksimal 10 tahun dan dapat diperpanjang 1 kali maksimal 10 tahun.
Pasal 5
(1) Permohonan untuk mendapatkan perpanjangan izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 harus diajukan secara tertulis kepada Gubernur dalam hal ini Kepala Dinas P e r t a m b a n g a n selambat-lambatnya 3 bulan sebelum j a n g k a waktu izin berakhir.
(2) Pengajuan p e r m o h o n a n perpanjangan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan d e n g a n cara m e n g i r i formulir p e r m o h o n a n s e b a g a i m a n a t e r c a n t u m d a l a m l a m p i r a n keputusan ini dan melampirkan persyaratan sebagai b e r i k u t :
a. Untuk kegiatan penyelidikan u m u m melampirkan :
1) Izin usaha pertambangan bahan galian untuk kegiatan penyelidikan u m u m y a n g akan diperpanjang;
2) Fotokopi K T P pimpinan/penanggung j a w a b kegiatan;
3) Peta lokasi penyelidikan u m u m dengan skala sekecil-kecilnya 1 : 25.000;
4) Tenaga ahli yang akan diikutsertakan;
5) Rencana kerja dan biaya;
6) Fotokopi akte pendirian perusahaan dalam bidang pertambangan dan telah disahkan oleh Departemen Kehakiman dan Hak Azasi Manusia;
7) A n g g a r a n dasar yang salah satu maksud dan tujuannya m e n y e b u t k a n b e r u s a h a dihidang pertambangan dan telah disahkan oleh instansi yang b e r w e n a n g k h u s u s untuk k o p e r a s i / K U D ;
8) Tanda bukti penyetoran uang j a m i n a n kesungguhan;
9) Laporan keuangan bagi perusahaan baru dan laporan keuangan tahun terakhir y a n g telah di audit oleh akuntan publik bagi perusahaan lama.
b. Untuk eksplorasi melampirkan :
1) Izin usaha pertambangan untuk kegiatan eksplorasi yang akan diperpanjang;
2) Fotokopi K T P dari pimpinan/penanggung j a w a b perusahaan untuk badan usaha;
3) Peta lokasi rencana eksplorasi pertambangan dengan skala sekecil-kecilnya 1 : 25.000;
4) Fotokopi izin penyelidikan u m u m dan laporan pelaksanaan izin penyelidikan u m u m apabila m e l a k u k a n penyelidikan u m u m ;
5) Buku rencana eksplorasi bahan tambang;
6 ) F o t o k p i A k t e P e n d i r i a n P e r u s a h a a n y a n g salah satu m a k s u d d a n t u j u a n n y a menyebutkan berusaha di bidang pertambangan dan telah disahkan oleh Departemen K e h a k i m a n dan H a k Asasi Manusia;
7) Fotokopi anggaran dasar yang salah satu maksud dan tujuannya berusaha d bidang pertambangan dan telah disahkan oleh instansi yang b e r w e n a n g k h u s u s u n t u k koperasi/KUD;
8) Tanda bukti pelunasan iuran tetap.
c. Untuk ekploitasi melampirkan :
1 ) F o t o k o p i izin u s a h a p e r t a m b a n g a n u n t u k k e g i a t a n e k s p l o i t a s i y a n g a k a n diperpanjang;
2) Fotokopi K T P dari pimpinan/penanggung j a w a b perusahaan;
3) Peta wilayah;
4) Laporan lengkap ekplorasi;
5) Laporan studi kelayakan;
6) D o k u m e n A m d a l , atau U K L - U P L ; 7) Tanda bukti pembayaran iuran tetap;
8) Akte pendirian perusahaan yang salah satu dari maksud dan tujuannya menyebutkan berusaha di bidang pertambangan dan telah disahkan instansi yang berwenang.
d. Untuk pengolahan/pemurnian yang tidak mempunyai izin Usaha Pertambangan bahan galian ekploitasi melampirkan ;
1) Izin usaha pertambangan untuk kegiatan pengolahan dan pemurnian yang akan diperpanjang;
2) Fotokopi K T P dari penanggung j a w a b ; 3) Rencana teknis pengolahan dan pemurnian;
4 ) D o k u m e n A M D A L atau U K L - U P L ;
5) Perjanjian j u a l beli dengan p e m e g a n g izin U s a h a P e r t a m b a n g a n bahan galian ekploitasi;
6) Tanda bukti pembayaran iuran tetap.
e. Untuk pengolahan/pemurnian yang mempunyai izin Usaha Pertambangan bahan galian ekploitasi melampirkan :
1) Izin usaha pertambangan untuk kegiatan pengolahan dan pemurnian yang akan diperpanjang;
2) Fotokopi K T P dari penanggung j a w a b ; 3) R e n c a n a teknis pengolahan dan pemurnian;
4 ) D o k u m e n A M D A L atau U K L - U P L ; 5) Tanda bukti pembayaran iuran tetap.
f. U n t u k pengangkutan melampirkan :
1) Izin usaha pertambangan untuk kegiatan pengangkutan yang akan diperpanjang;
2) Fotokopi K T P dari penanggung j a w a b ;
3) Fotokopi KP eksploitasi apabila melakukan kegiatan eksploitasi;
4) Upaya pengelolaan lingkungan ( U K L ) dan upaya pemantauan lingkungan (UPL) sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku;
5) Fotokopi Akte Pendirian Perusahaan/yayasan bagi badan usaha atau fotokopi SK M e n t e r i Koperasi bagi koperasi yang salah satu m a k s u d dan tujuan pendirian koperasi menyebutkan berusaha di bidang pertambangan;
6) Surat izin u s a h a pengangkutan dari Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
7) M e l a m p i r k a n j a d w a l pelaksanaan pengangkutan dan mencantumkan n a m a - n a m a jalan yang dilalui.
g. U n t u k penjualan melampirkan:
1) Izin usaha pertambangan untuk kegiatan penjualan yang akan diperpanjang;
2) Fotokopi K T P dari penanggung j a w a b ;
3) Fotokopi KP eksploitasi terakhir, apabila melakukan kegiatan eksploitasi;
4) U p a y a pengelolaan lingkungan ( U K L ) dan upaya pemantauan lingkungan ( U P L ) sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku;
5) Fotokpi Akte Pendirian Perusahaan/yayasan bagi badan usaha atau fotokopi SK Menteri Koperasi bagi koperasi yang salah satu m a k s u d dan tujuan pendirian koperasi menyebutkan berusaha di bidang pertambangan.
(3) P e r m o h o n a n perpanjangan izin usaha pertambangan bahan galian dapat disetujui apabila permohonan telah memenuhi persyaratan.
(4) Bentuk dan isi formulir perpanjangan izin usaha pertambangan bahan galian sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan ini.
B a g i a n Ketiga
U a n g J a m i n a n K e s u n g g u h a n , Iuran Tetap d a n I u r a n Produksi Pasal 6
(1) Setiap p e m o h o n izin usaha pertambangan bahan galian untuk kegiatan penyelidikan u m u m dikenakan uang j a m i n a n kesungguhan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(2) Setiap pemohon izin usaha pertambangan bahan galian untuk eksplorasi dan pengolahan/
p e m u r n i a n d i k e n a k a n iuran tetap sesuai dengan peraturan p e r u n d a n g - u n d a n g a n yang berlaku.
(3) Setiap pemohon izin usaha pertambangan bahan galian untuk eksploitasi dikenakan iuran tetap dan iuran produksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Bagian K e e m p a t Kontrak Karya
Pasal 7
(1) Setiap p e m e g a n g izin u s a h a pertambangan bahan galian dapat m e l a k u k a n kontrak karya u s a h a p e r t a m b a n g a n bahan galian melalui p e n a n a m a n m o d a l asing atau m o d a l dalam negeri.
(2) Kontrak karya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dilakukan oleh b a d a n usaha yang bergerak di bidang usaha pertambangan bahan galian.
B a g i a n Kelima
L u a s Wilayah Usaha P e r t a m b a n g a n B a h a n Galian Pasal 8
P e r m o h o n a n izin usaha pertambangan bahan galian untuk penyelidikan u m u m , eksplorasi, eksploitasi/produksi diizinkan dengan luas wilayah usaha maksimal 25 hektar.
Pasal 9
(1) Setiap rencana pengurangan atau penambahan luas wilayah usaha pertambangan bahan galian h a r u s d i a j u k a n secara tertulis k e p a d a G u b e r n u r d a l a m hal ini K e p a l a D i n a s Pertambangan dengan menggunakan formulir permohonan sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan ini.
(2) Pengajuan rencana pengurangan atau penambahan luas wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus melampirkan persyaratan sebagai b e r i k u t :
a. Peta wilayah;
b. Laporan rencana pengurangan/penambahan luas wilayah; * c. Bukti pembayaran kewajiban keuangan;
d. Laporan kegiatan akhir.
Bagian K e e n a m Teknik P e n a m b a n g a n
Pasal 10
(1) Setiap kegiatan eksploitasi yang telah mendapatkan izin usaha pertambangan bahan galian harus mengikuti teknik penambangan, studi kelayakan, arahan pengelolaan dan pemantauan dampak sebagaimana dimaksud dalam Analisa Mengenai D a m p a k Lingkungan (Amdal) atau Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)/Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).
(2) Kegiatan teknik penambangan sebagaimana dimaksud ayat (1) terdiri dari : a. Penambangan dengan cara penyedotan;
b. Penambangan dengan cara penggalian/pengerukan.
B a g i a n Ketujuah
P e n j u a l a n dan P e n a m p u n g a n B a h a n Galian Pasal 11
(1) Setiap bahan galian yang diperjualbelikan di Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang berasal dari lokasi usaha pertambangan bahan galian atau tempat pengolahan dan pemurnian
baik di atau dari luar Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, harus dilengkapi persyaratan 4 sebagai b e r i k u t :
a. Memiliki izin usaha pertambangan bahan galian untuk kegiatan usaha penjualan;
b. Surat keterangan/sertifikat mutu bahan galian dari Dinas Pertambangan khusus yang berasal dari wilayah usaha p e r t a m b a n g a n bahan galian atau tempat p e n g o l a h a n / pemurnian di luar Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
(2) Permohonan untuk mendapatkan surat keterangan/sertifikat mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diajukan secara tertulis kepada Gubernur dalam hal ini Kepala Dinas Pertambangan dengan melampirkan persyaratan sebagai berikut:
a. Fotokopi K T P dari pimpinan/penanggungjawab perusahaan untuk badan usaha;
b. Fotokopi akte pendirian perusahaan/yayasan bagi badan usaha atau fotokopi surat keputusan Menteri koperasi yang salah satu maksud dan tujuan pendirian koperasi menyebutkan berusaha di bidang pertambangan bahan galian dan perdagangan u m u m ; c. Contoh/sampel bahan galian dari wilayah usaha pertambangan.
B a g i a n K e d e l a p a n P e m e r i k s a a n
Pasal 12
(1) Kepala Dinas Pertambangan atau petugas pemeriksa yang ditunjuk berwenang melakukan pemeriksaan terhadap usaha pertambangan bahan galian.
(2) Untuk keperluan pemeriksaan, petugas pemeriksa harus dilengkapi dengan tanda pengenal p e m e r i k s a dan surat perintah p e m e r i k s a a n serta harus m e m p e r l i h a t k a n k e p a d a y a n g diperiksa.
B A B III
J A S A P E R T A M B A N G A N B A H A N G A L I A N Pasal 13
(1) Setiap kegiatan usaha jasa pertambangan bahan galian harus mendapat izin tertulis dari Kepala Dinas Pertambangan.
(2) Permohonan untuk mendapatkan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus diajukan secara tertulis kepada Gubernur dalam hal ini Kepala Dinas Pertambangan, dengan mengisi f o r m u l i r p e r m o h o n a n s e b a g a i m a n a t e r c a n t u m d a l a m l a m p i r a n k e p u t u s a n ini serta melampirkan persyaratan sebagai berikut:
a. Fotokopi K T P pimpinan/penanggungjawab usaha;
b . N P W P ;
c . F o t o k o p i a k t e p e n d i r i a n p e r u s a h a a n y a n g s a l a h satu m a k s u d dan t u j u a n n y a menyebutkan berusaha di bidang pertambangan dan telah disahkan oleh Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia;
d. Fotokopi anggaran dasar yang salah satu maksud dan tujuannya berusaha di bidang pertambangan dan telah disahkan oleh instansi yang berwenang khusus untuk koperasi/
K U D ;
e. Daftar tenanga ahli;
f. Daftar peralatan.
(3) Izin usaha j a s a pertambangan bahan galian dapat diberikan apabila permohonan izin telah memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
(4) Bentuk dan isi formulir izin usaha jasa pertambangan bahan galian sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan ini.
Pasal 14
(1) Izin u s a h a j a s a pertambangan bahan galian sebagaimana dimaksud Pasal 13 berlaku untuk j a n g k a waktu 5 tahun dan dapat diperpanjang atas permohonan pemegang izin.
(2) P e r m o h o n a n untuk mendapatkan perpanjangan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diajukan secara tertulis kepada Gubernur dalam hal ini Kepala Dinas Pertambangan dengan melampirkan persyaratan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam Pasal
13 Ayat (2).
(3) B e n t u k dan isi formulir p e r p a n j a n g a n izin u s a h a j a s a p e r t a m b a n g a n b a h a n galian sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan ini.
B A B IV K E W A J I B A N
Pasal 15
Setiap pemegang izin usaha pertambangan bahan galian berkewajiban:
a. Melaksanakan usaha pertambangan bahan galian berdasarkan izin yang diberikan;
b . M e n y a m p a i k a n l a p o r a n e k s p l o i t a s i / p r o d u k s i d a n p e n j u a l a n k e p a d a K e p a l a D i n a s Pertambangan setiap 1 (satu) bulan sekali paling lambat tanggal 5 bulan berikutnya dan laporan kegiatan pertambangan yang dilengkapi dengan peta kemajuan tambang, serta buku catatan produksi yang meliputi;
1. Buku catatan produksi pengangkutan, pengolahan/pemurnian dan penjualan harian;
2. Buku catatan produksi, pengangkutan, pengolahan/pemurnian dan penjualan bulanan;
3. Buku catatan produksi, pengangkutan, pengolahan/pemurnian dan penjualan tahunan;
c. Memelihara keselamatan dan kesehatan kerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
d. M e l a k s a n a k a n p e m e l i h a r a a n l i n g k u n g a n d e n g a n m e m a t u h i petunjuk sesuai d e n g a n ketentuan yang berlaku;
e. Melaporkan pelaksanaan Amdal atau U K L dan U P L sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
f. Mematuhi teknik pertambangan yang ditetapkan;
g. Melakukan tindakan penanggulangan dan merehabilitasi/memulihkan kualitas lingkungan a p a b i l a hasil e v a l u a s i p e l a k s a n a a n A m d a l , U K L dan U P L telah terjadi g a n g g u a n keseimbangan lingkungan, kerusakan dan atau pencemaran lingkungan;
h. Mematuhi setiap ketentuan yang tercantum dalam izin usaha pertambangan u m u m serta ketentuan perundang-undangan yang berlaku;
i. Melaporkan perubahan kedalaman akibat pertambangan u m u m yang disetujui oleh instansi berwenang;
j . M e l a p o r k a n k e p a d a instansi b e r w e n a n g a p a b i l a m e n e m u k a n b a r a n g b e r h a r g a saat melaksanakan kegiatan penambangan;
k. Melaksanakan kewajiban lainnya yang ditetapkan oleh Kepala Dinas Pertambangan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
B A B V L A R A N G A N
Pasal 16 Setiap orang pribadi atau badan dilarang :
a. Mengangkut dan menjual/memperdagangkan bahan galian keluar Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, kecuali ada hal-hal khusus yang ditetapkan oleh Gubernur;
b. Melaksanakan kegiatan usaha pertambangan bahan galian sejauh kurang dari 1/2 (setengah) mil laut dari garis pantai diukur dari surut terendah dan atau kurang 112 (setengah) mil laut di luar Daerah Lingkungan Kepentingan (DLKP) Pelabuhan Tanjung Priok dan Sunda Kelapa;
c. Melaksanakan kegiatan usaha pertambangan bahan galian di daerah yang ditetapkan sebagai cagar alam, agar budaya, taman nasional dan lain sebagainya yang sejenis sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
B A B V I
P E M B I N A A N D A N P E N G A W A S A N B a g i a n P e r t a m a
P e m b i n a a n
Pasal 17
(1) P e m b i n a a n k e g i a t a n u s a h a p e r t a m b a n g a n b a h a n g a l i a n d i l a k s a n a k a n o l e h D i n a s Pertambangan berkoordinasi dengan instansi terkait.
(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud ayat (1) meliputi : a. Kesehatan dan keselamatan kerja (K3);
b. Penanggulangan dampak lingkungan akibat adanya kegiatan usaha pertambangan bahan galian;
c. P e n a m b a n g a n bahan galian lepas pantai dengan segala aspeknya.
Bagian Kedua P e n g a w a s a n
Pasal 18
(1) Pengawasan usaha pertambangan bahan galian dilaksanakan oleh Dinas P e r t a m b a n g a n bersama Pelaksana Inspeksi Tambang Daerah (PITDA) dan instansi terkait berwenang.
(2) Pengawan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), m e l i p u t i : a. Pengawasan pengusahaan pertambangan bahan galian;
b. Pengawasan terhadap kesehatan dan keselamatan kerja;
c. Pengawasan terhadap dampak lingkungan akibat adanya kegiatan usaha pertambangan bahan galian;
d. Pengawasan penambangan bahan galian.
(3) Tata cara p e n g a w a s a n s e b a g a i m a n a dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
B A B VII
K E T E N T U A N L A I N - L A I N Pasal
(1) Setiap kegiatan penggalian tanah untuk berbagai kepentingan di Propinsi D K I Jakarta yang mengakibatkan terganggunya struktur tanah, fungsi hidrologis, dan air bawah tanah harus mendapat izin tertulis dari Kepala Dinas Pertambangan.
(2) Penggalian tanah untuk berbagai kepentingan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) antara lan:
a. Penggalian tanah untuk pembuatan/konstruksi jalan lintas bawah (underpass);
b. Penggalian tanah untuk pembuatan pelataran parkir kendaraan bermotor yang dibangun di bawah taman, jalan atau tempat lain yang diatasnya tidak ada bangunan gedung;
c. Penggalian tanah untuk pembuatan reservoir tanah seperti untuk air bersih, air kotor, bahan bakar minyak/gas dan sebagainya, yang dibangun di tempat-tempat yang di atasnya tidak ada bangunan gedung;
d. Penggalian tanah untuk pembuatan/konstruksi terowongan untuk fasilitas umum seperti saluran bawah tanah untuk air bersih atau air kotor, kabel, pipa gas dan sebagainya;
e. Penggalian tanah dengan menggunakan metode terowongan untuk kereta api b a w a h tanah (subway) dan fasilitas tanah lainnya seperti stasiun bawah tanah, ruang fasilitas listrik dan sebagainya.
Pasal 2 0
(1) Permohonan untuk memperoleh izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) harus diajukan secara tertulis kepada Gubernur dalam hal ini Kepala Dnas Pertambangan dengan melampirkan persyaratan swbagai berikut:
a. Fotokopi K T P pimpinan atau penanggungjawab kegiatan;
b. Peta lokasi penggalian tanah dengan skala sekecil-kecilnya 1 : 10.000;
c. Tenaga ahli yang diikutsertakan;
d. Analisis mengenai d a m p a k lingkungan (Amdal) atau upaya pengelolaan lingkungan (UKL) sesuai dengan peraturan perundang-undangan berlaku dan telah mendapat persetujuan dari instansi yang berwenang;
e. Rencana kerja dan biaya;
f. Fotokopi akte pendirian perusahaan dalam bidang yang relevan dan telah disahkan oleh instansi yang berwenang;
g. Tanda bukti j a m i n a n kesungguhan;
h. Laporan keuangan bagi perusahaan baru dan laporan keuangan tahun terakhir yang telah diaudit oleh akuntan publik bagi perusahaan lama.
(2) Izin p e n g g a l i a n tanah t e r s e b u t disetujui apabila p e r m o h o n a n izin telah m e m e n u h i persyaratan sebagimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Bentuk dan izin penggalian tanah sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan ini.
B A B VIII
S A N K S I A D M I N I S T R A S I D A N G A N T I R U G I Pasal 21
(1) Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1), Pasal 10 ayat (1), Pasal 11 a y a t ( l ) , Pasal 13 ayat (1), Pasal 15, Pasal 16, Pasal 17, dan Pasal 19 ayat (1), dikenakan sanksi administrasi berupa:
a. Tegoran;
b. Peringatan;
c. Penghentian kegiatan;
d. Pencabutan izin.
(2) Selain sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), j u g a dikenakan ganti rugi akibat dampak negatif kegiatan penyelenggaraan usaha pertambangan bahan galian dan ancaman pidana sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku.
B A B IX
K E T E N T U A N P E R A L I H A N Pasal 22
Dengan berlakunya keputusan ini, maka izin/kuasa pertambangan yang dikeluarkan berdasarkan k e t e n t u a n y a n g l a m a m a s i h t e t a p b e r l a k u s a m p a i h a b i s m a s a b e r l a k u n y a i z i n / k u a s a pertambangan.
B A B X
K E T E N T U A N P E N U T U P Pasal 23
(1) Hal-hal yang merupakan pelaksanaan lebih teknis dari keputusan ini ditetapkan oleh Kepala Dinas Pertambangan.
(2) Dengan berlakunya keputusan ini maka Keputusan Gubernur Propinsi D K I Jakarta N o m o r 82. A Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Pertambangan Bahan Galian Golongan C di Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Keputusan Gubernur Propinsi DKI Jakarta N o m o r 143 Tahun 2000 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyelenggaraan Pertambangan Bahan Galian Pasir Laut di Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta dinyatakan tidak berlaku lagi.
(3) Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar supaya setiap orang dapat mengetahui, memerintahkan pengundangan keputusan ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 2 Januari 2002
G U B E R N U R PROPINSI D A E R A H K H U S U S IBUKOTA JAKARTA,
S U T I Y O S O
Diundangkan di Jakarta pada tanggal 10 Januari 2002
SEKRETARIS D A E R A H P R O P I N S I D A E R A H K H U S U S B U K O T A J A K A R T A ,
H . F A U Z I B O W O N I P 4 7 0 0 4 4 3 1 4