• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

Lokasi hutan kota yang akan dibangun terletak di Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa Jakarta Selatan , dengan luas 5400 m2. Penelitian

ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana pengetahuan dan persepsi masyarakat terhadap pembangunan hutan kota, sehingga diperlukan responden. Responden yang terpilih adalah berasal dari dua kelurahan yaitu Kelurahan Srengseng Sawah dan Ciganjur.

4.1 Kondisi Fisik

Kelurahan Srengseng Sawah dan Ciganjur merupakan kelurahan yang ada di Wilayah Kecamatan Jagakarsa Kota Administrasi Jakarta Selatan. Kelurahan Srengseng Sawah dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Gubernur KDKI Jakarta Nomor 1251 Tahun 1986 dengan luas wilayah 674,70 Ha dan Kelurahan Ciganjur berdasarkan Surat Keputusan Gubernur KDKI Jakarta Nomor 1746/1987 dengan luas wilayah 337,60,70 Ha. Batas-batas wilayah kelurahan ini dapat dilihat dalam Tabel 9.

Tabel 9 Batas Wilayah Kelurahan Srengseng Sawah dan Kelurahan Ciganjur

Sumber: Laporan Bulanan Kelurahan Srengseng Sawah dan Kelurahan Ciganjur

Pola pembangunan Kelurahan Srengseng Sawah mengacu kepada Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Tahun 2005 dan Rencana Bagian Wilayah Kota (RBWK) wilayah selatan yang ditetapkan sebagai Daerah Resapan Air. Hal ini didukung dengan keberadaan potensi air tanah yang ada antara lain Setu Babakan, Setu Mangga Bolong, Setu Salam UI dan Setu ISTN. Disamping itu

Batas

Kelurahan Srengseng Sawah Kelurahan Ciganjur Sebelah Utara Kel. Lenteng Agung dan Jl Jagakarsa Kelurahan Jagakarsa

Kelurahan Jagakarsa

Sebelah Timur Kali Ciliwung Jl. Moh.Kahfi II Kelurahan Srengseng Sawah Sebelah Selatan Kotamadya Depok Jl. Brigif dan Warung Silah Kel. Cipedak Sebelah Barat Kelurahan Ciganjur Kali Krukut Kelurahan Gandul,

(2)

hutan kota yang berada di kawasan Wales Barat Universitas Indonesia. Kelurahan Srengseng Sawah juga memiliki cagar Budaya Betawi yang disebut Perkampungan Budaya Betawi di Setu Babakan RW.08 yang terkenal sebagai Kampung Wisata Betawi.

4.2 Topografi, Hirologi dan Jenis Tanah,

Secara umum, keadaan topografi di Kelurahan Srengseng Sawah dan Kelurahan Ciganjur datar-bergelombang. Lereng berkisar antara 0-8% dengan ketinggian lebih dari 25 – 50 mdpl dan suhunya 280C. Wilayah Kelurahan

Srengseng Sawah termasuk dalam DAS sanggrahan berada pada tepian sungai Ciliwung (Dinas Pertamanan dan keindahan kota, 2000). Jenis tanah asosiasi latosol merah, latosol coklat kemerahan, dan laterit air tanah, dengan bahan induk volkan intermedier. Tanah latosol tidak memperlihatkan pembentukan tanah yang baru dan tidak dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian.

4.3 Kondisi Sosial dan Budaya

Perkembangan penduduk di Kelurahan Srengseng Sawah dan Kelurahan Ciganjur cukup pesat, hal ini disebabkan oleh kelestarian alam masih terjaga dengan baik, tersedianya fasilitaas sarana umum yang memadai, baik fasilitas kesehatan, pendidikan, peribadatan dan lain-lain. Umumnya penduduk adalah masyarakat Betawi, sehingga adat-istiadat yang berlaku adalah budaya betawi.

Mayoritas penduduknya adalah beragama Islam. Namun kerukunan antar umat beragama sudah berjalan dengan baik sehingga kehidupan bermasyarakat antar pemeluk agama satu dengan yang lain saling menghormati.

4.4 Jumlah dan Sebaran Penduduk

Berdasarkan perolehan data Laporan Bulan Novemver 2009 (Lampiran 2, Tabel 3), kepadatan penduduk Kelurahan Srengseng Sawah yang terdiri 19 RW dan 156 RT adalah sebesar 51.560 jiwa, dengan kepadatan rata-rata 7.641 jiwa/km2. Berdasarkan Laporan Bulan Januari 2009 (lampiran 2,Tabel 5)

(3)

masing-masing RW cukup bervariasi. Keadaan ini dipengaruhi oleh jumlah penduduk, luas daerah dan fungsi kawasan tiap daerah.

4.5 Strukutur Penduduk

Struktur Penduduk menurut usia dan struktur mata pencaharian maka penduduk di Kelurahan Srengseng Sawah dan Kelurahan Ciganjur menurut BPS DKI Jakarta dapat dilihat pada Tabel 10. Struktur umur berdasarkan usia produktif yang dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu usia non produktif, produktif dan tua.

Tabel 10 Struktur Penduduk berdasarkan usia produktif

Tingkatan Umur Kelurahan

Srengseng Sawah Ciganjur

Non produktif 0-14 22,87% 25,43%

Produktif 15-64 69,23% 72,41%

Tidak Produktif ≥ 65 7,90% 2,16

Sumber: Badan Pusat Statistik (2008)

4.6 Matapencaharian

Jenis pekerjaan yang ada di Kelurahan Srengseng Sawah sudah beragam,yaitu; Karyawan swasata, TNI, pegawai negeri, pedagang, petani, pertukangan, pemulung, buruh, jasa dan pensiunan. namun mayoritas penduduknya memiliki mata pencaharian sebagai karyawan swasta dengan persentase sebesar 36,56%, yang kedua adalah pedagang yaitu sebesar 15,48% dan di urutan ketiga adalah TNI yaitu sebesar 13,38%, dan yang terkecil adalah pemulung sebesar 0,81% (lampiran 2, Tabel 4). Sedangkan Kelurahan Ciganjur mayoritas penduduknya memiliki mata pencaharian sebagai karyawan swasta sebesar 35%, dan yang kedua adalah buruh sebesar 20% dan ketiga adalah pedagang sebesar 15% ( Lampiran 2, Tabel 6).

4.7 Sejarah Kawasan

(4)

Obyek Pajak). Lahan ini disahkan oleh Gubernur Provinsi DKI Jakarta, dengan Nomor instruksi/wk/DTK/: Berkas No Pemeriksaan: 166/8/PPSK/DTK/X/07. Perihal:Rencana Trace Penguasaan perencanaan/ peruntukan lahan untuk RTH seluas ±12770,08m2 yang terletak di Jl. Moh. Kahfi II. Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, wilayah Kotamadya Jakarta Selatan.

Pemerintah DKI Jakarta menyerahkan pengelolaan kawasan ini kepada Dinas Pertanian dan Kehutanan. Dinas Kehutanan akan mengembangkan kawasan ini menjadi hutan kota. Hutan kota ini dibangun untuk memperbaiki kualitas lingkungan dan berdasarkan RTRW DKI Jakarta, Jakarta Selatan terutama wilayah Selatan merupakan wilayah resapan air.

Gambar 5 Papan pengelola Ruang Terbuka Hijau

Sejalan dengan Peraturan Daerah No 6 Tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2010 yang merencanakan RTH seluas 13,94% (9.545 ha) dari luas wilayah DKI Jakarta 66.152 ha. Lahan ini dibangun untuk dijadikan hutan kota dengan maksud untuk menambah luasan RTH yang ada di Jakarta sehingga dapat meningkatkan kualitas lingkungan.

(5)

Lahan yang telah disahkan oleh Gubernur DKI Jakarta adalah seluas ±12770,08 m2 sedangkan yang dijadikan hutan kota hanya 5.742 m2, karena diharapkan lahan yang berada disebelah timur dan selatan dapat dijadikan RTH. Lahan yang disebelah utara adalah kawasan pemukiman/perumahan mewah, sehingga tidak mungkin untuk mengubah fungsi ruangnya sedangkan yang disebelah timur adalah pemakaman umum dan disebelah selatan adalah perumahan kumuh sehingga masih memungkinkan untuk diubah menjadi RTH, itulah sebabnya mengapa lahan yang disahkan lebih luas.

Pembebasan lahan dilaksanakan pada tahun 2007, kemudian pada akhir Desember 2008 pembangunan tembok batas antara RTH dan pemukiman penduduk, dan awal tahun 2009 Suku Dinas Kehutanan melakukan penghijauan dengan penanaman 100 bibit berbagai jenis tanaman kehutanan, seperti: dadap hutan, Sapu tangan,kupu-kupu, Glodokan tiang dan gmelina. Penanaman ini dilakukan agar tidak terjadi perubahan fungsi sebelum dijadikan hutan kota. 4.8 Rencana Umum Tata Ruang Wilayah Jakarta Selatan Khususnya

Kecamatan Jagakarsa

Bagian dari wilayah Jakarta Selatan ini pada masa awal kemerdekaan direncanakan sebagai Kota Satelit (Kebayoran Baru). Selain itu, bagian wilayah ini juga menjadi penyangga air tanah ibukota yang nasibnya kini mengenaskan karena banyaknya bangunan dan mulai menyurutnya ruang-ruang terbuka hijau. Selain itu, kawasan selatan ini juga mulai tumbuh sebagai pusat perbelanjaan, di samping perumahan yang banyak diminati warga kota.

(6)

(a) memprioritaskan arah pengembangan kota ke arah koridor timur, barat, utara dan membatasi pengembangan ke arah selatan agar tercapai keseimbangan ekosistem

(b) melestarikan fungsi dan keserasian lingkungan hidup di dalam penataan ruang dengan mengoptimalkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup

(c) mengembangkan sistem prasarana dan sarana kota yang berintegrasi dengan sistem regional, nasional dan internasional.

Gambar

Tabel 9 Batas Wilayah Kelurahan Srengseng Sawah dan Kelurahan Ciganjur
Tabel 10 Struktur Penduduk berdasarkan usia produktif
Gambar 5  Papan pengelola Ruang Terbuka Hijau

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian sebelumnya, dimana telah ada beberapa peneliti yang telah melakukan penelitian yang sejenis atau dengan judul dan masalah

Zona ketersediaan airtanah rendah dapat diidentifikasi melalui beberapa karakteristik, antara lain: tipe litologi berumur tua, tidak ditemui pola kelurusan,

Sistem informasi akuntansi Sistem informasi akuntansi atas siklus pendapatan atas siklus pendapatan  Administrasi  Administrasi Jasa pelayaran Jasa pelayaran Direktur Direktur

dibungkus dalam kemasan yang mewah namun harganya cukup terjangkau, sehingga penulis ingin mengetahui bahwa apakah label halal, harga dan celebrity endorser juga menjadi

Variabel logworker dan age berpengaruh positif terhadap probabilita perusahaan bertahan pada industri pengolahan kakao, hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Evans

Faktor langit (fl) suatu titik pada suatu bidang di dalam suatu ruangan adalah angka perbandingan tingkat pencahayaan langsung dad langit di titik tersebut dengan tingkat

[r]

Secsra keseluruhannya, keputusan kajian ini menunjukkan keberkesanan teori kepemimpinan transformasional dalam bidang sukan apabila terdapatnya hubungan yang