Ibu Utha berjualan gorengan di tepi jalan. Di sana ada pisang, bakwan, tahu, dan cireng tersedia. Rasanya? Kata para
“Bu, gorengan lima puluh ribu.
Campur-campur,” katanya.
“Oh, baik Pak,” kata Ibu Utha senang.
Belum pernah ada orang yang membeli gorengan sebanyak itu.
Setelah gorengan dibungkus, lelaki itu menyerahkan uang Rp100.000 yang
masih terlihat baru. Bu Utha pun memasukkan uang Rp100.000 ke dompetnya dan memberikan Rp50.000
sebagai kembaliannya. Sore itu cukup menyenangkan buat Bu Utha.
Gorengannya laris manis.
“Hore! Akhirnya bisa ikut study tour. Terima kasih, Bu!” seru Utha.
Utha sempat takut, ibunya tak punya cukup
Esoknya di sekolah, Utha memanggil Gilang yang berpapasan dengannya di kantin.
“Gilang, temani aku ke Bu Diah, ya. Aku agak terlambat membayar uang study tour,” kata Utha.
“Ya kuantar,” sahut Gilang. Ia maklum, Bu Diah yang bekerja di tata usaha sekolah memang
agak galak pada anak-anak.
Setelah menerima uang Rp100.000 dari Utha, Bu Diah menatap tajam pada Utha.
“Dari mana kamu mendapatkan uang ini?”
“Wah, gawat, gawat...,” gumam Bu Diah sambil geleng-geleng kepala.
“Apanya yang gawat, Bu?” tanya Gilang.
Tetapi Bu Diah tidak memedulikan Gilang.
“Utha, Ibu akan melaporkan kejadian ini ke Ibu kepala sekolah.
Kamu tunggu panggilan dari beliau, ya,” katanya.
“Memang ada apa, Bu?” tanya Utha.
Bu Diah tidak menjawab, namun ia meninggalkan Utha dan Gilang, sehingga kedua anak itu bingung.
“Jangan-jangan, uangmu palsu, Utha,” kata Gilang. Muka Utha
langsung pucat. Jantungnya berdebar-debar.
Utha hanya berdiam diri di bawah pohon tanjung yang rimbun. Gilang menepuk
bahunya, berusaha menghiburnya.
“Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja,” hibur Gilang.
“Tapi kata Bu Diah gawat, Gilang,” kata Utha pelan.
Gilang pun duduk di samping Utha. Panji dan Genta datang ikut bergabung. Tak lama kemudian Bintang
dan Jelita datang membawa kue dari kantin dan membagikannya pada Gilang dan teman-temannya.
Hanya Utha yang tidak berselera makan.
Di kelas, Utha lebih banyak diam. Saat Pak Guru menerangkan pelajaran, pikirannya melayang dan
membayangkan hal-hal yang menakutkan.
Sesaat sebelum lonceng bubar sekolah berbunyi, Pak Guru mendekati Utha.
“Sebelum pulang, mampir dulu ke ruang
Ibu kepala sekolah, ya?” katanya. Utha mengangguk lemah.
Dengan lunglai Utha berjalan ke ruang Ibu Dina, kepala sekolah.
“Utha, Ibu ingin memberi tahu, kalau uang seratus ribu rupiah yang kamu berikan adalah uang palsu,” kata Ibu Dina lembut.
Lalu ia menanyakan banyak hal pada Utha.
Anak itu menjawab dengan jujur.
“Nah Utha, kami akan menyerahkan uang palsu ini pada polisi dan menceritakan
peristiwa ini,” kata Bu Dina.
“Aduh, ke polisi, Bu?” tanya Utha ketakutan.
“Ya, pembuat uang palsu sudah melakukan kejahatan, jadi harus dilaporkan ke polisi. Mereka
sudah melakukan kegiatan yang merugikan masyarakat, jadi harus ditangkap. Tapi jangan khawatir, kamu dan ibumu kan tidak bersalah,”
kata Ibu kepala sekolah menenangkan.
“Ya Bu,” sahut Utha lemah.
“Utha, kalau ibumu berjualan, beliau harus memeriksa dengan teliti setiap uang yang diterimanya dengan cara Dilihat, Diraba, dan Diterawang. Kalau warna uangnya buram, pudar
“Coba perhatikan benang pengaman pada uang ini,”
Bu Dina mengeluarkan uang Rp100.000 yang diserahkan oleh Utha. Dengan serius Utha memeriksa, dia sangat terkejut ternyata benang pengaman pada uang tersebut tidak ada
perubahan warna dan tidak terdapat tulisan BI 100.000 yang tercetak berulang-ulang. Dengan terbata-bata
Utha mengatakan, “Ja.... jaaa ....jadi uang ini palsu?”
Bu Dina dengan rasa iba dan penuh sayang mengusap kepala Utha “Ya sayang uang ini palsu. Jadi kamu masih
harus membayar kekurangan uang Rp100.000 untuk study tour, ya,” kata Ibu Dina.
“Baik, Bu,” sahut Utha. Ia meninggalkan kantor Kepala Sekolah dengan kepala tertunduk. Ia tak tahu,
apa yang harus dikatakannya pada ibunya.
“Utha!” panggil Gilang. Utha melihat Gilang dan Bintang menunggunya.
“Ayo, ikut aku,” ajak Gilang sambil menarik tangan Utha.
Utha ikut saja. Di kantin Gilang mentraktir Utha dan Bintang.
Mereka bertiga minum jus buah.
“Utha, tidak ada masalah yang tak terselesaikan,”
kata Gilang.
“Masalahku gawat, Gilang. Aku takut ibuku marah dan sedih,” sahut Utha.
“Aku antar ke rumahmu, ya,” Gilang menawarkan diri.
“Aku juga ikut,” kata Bintang.
“Ya, terima kasih,” sahut Gilang.
“Aduh, Naaak. Uang Ibu kan pas-pasan, kalau ternyata uang itu palsu, apa boleh buat kamu tidak bisa ikut study tour,” kata ibu Utha sedih. Utha pun makin sedih.
Gilang yang melihatnya pun ikut sedih.
Dengan sopan Gilang bertanya tentang asal uang palsu itu.
Lalu, ibu Utha mengingat-ingat. Katanya, sore itu ada seorang laki-laki berkacamata hitam dan mengendarai sepeda motor berhenti
di depan gerobaknya. Laki-laki itu membeli gorengan banyak sekali.
“Bu, beli gorengan campur-campur lima puluh ribu,” ibu Utha menirukan ucapan laki-laki itu. Ibu Utha begitu senang ada yang
membeli gorengan sekaligus banyak. Biasanya yang membeli paling 3 buah, atau paling banyak 5 buah.
Kata ibu Utha, laki-laki itu membayar dengan uang Rp100.000 yang masih terlihat baru. Setelah
membayar dan memperoleh uang kembalian, ia langsung ngebut dengan sepeda motornya.
“Oalah... tak disangka uangnya palsu. Kok bisa ya aku ditipu,” keluhnya. Utha pun menceritakan cara
mengenali keaslian uang kepada ibunya.
Ibu Utha mengangguk-angguk.
Gilang dan Bintang pamit pulang.
Mereka kasihan melihat Utha dan ibunya yang sedih. Mereka berharap,
ibu Utha akan lebih berhati-hati kalau menerima pembayaran.
“Kamu tahu tidak cara mengenali uang asli?” tanya Gilang pada Bintang.
“Katanya sih 3 D, Dilihat, Diraba, Diterawang,” sahut Bintang.
“Ha ha.. mungkin benar apa katamu.
Nanti aku tanyakan ayahku.
Ayahku ahli membedakan uang palsu dan asli,” sahut Gilang.
Di rumah, Gilang menceritakan kejadian yang menimpa Utha dan ibunya pada ayahnya.
“Wah, sungguh memprihatinkan. Itu tak perlu terjadi kalau ibu Utha memeriksa keaslian setiap uang yang diterimanya,” kata Ayah.
“Bagaimana caranya membedakan uang asli dan palsu, Yah?” tanya Gilang.
“Caranya adalah dengan Dilihat, Diraba, Diterawang,”
kata Ayah sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.
“Coba perhatikan uang ini, warnanya terlihat terang dan jelas, lalu lihat benang pengamannya. Pada pecahan Rp100.000 dan
Rp50.000 benang pengamannya dapat berubah warna.
Pada pecahan Rp20.000 ke bawah, perubahan warna benang pengamannya hanya bisa dilihat dengan sinar ultra violet.
Pada pecahan Rp20.000 ke atas terdapat logo BI pada kanan bawah muka uang yang bisa berubah warna.
Kalau diraba terasa kasar pada angka nominal, huruf terbilang, dan lambang negara. Coba sekarang kita terawang ke arah cahaya. Kalau uang itu asli akan terlihat
Ayah juga menjelaskan, banyak kasir di toko-toko besar menggunakan alat yang memendarkan sinar ultra
violet, untuk menentukan uang itu asli atau palsu.
“Tapi untuk Ayah, 3 D sudah cukup,”
kata Ayah sambil tersenyum.
“Wah, Ayah hebat. Terima kasih, Ayah!” kata Gilang.
Gilang tidak heran kalau ayahnya mengetahui hal itu. Bagaimana tidak,
setiap hari Ayah berurusan dengan uang. Ia harus membeli barang-barang
dalam jumlah banyak, lalu ia menjual kembali secara eceran. Tentu Ayah tidak mau rugi dengan tanpa sengaja
menerima uang palsu sebagai pembayaran.
Gilang lalu berjanji dalam hati, ia akan memberi tahu Utha cara-
cara mengenali uang asli.
Ia juga akan mengusulkan pada bu guru untuk memberi pengetahuan kepada semua murid tentang uang asli.
Cukuplah sekali saja peristiwa yang menimpa ibu Utha.
“Tentu saja aku akan membantu Gilang untuk bisa ikut study tour,”
gumamnya. Gilang yakin, Bintang, Genta, Panji, dan Jelita mau iuran
untuk membantu kekurangan