1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pasca serangan kelompok teroris Al Qaeda di pusat perdagangan dunia yaitu gedung WTC (World Trade Centre) pada 11 September 2001 lalu, George Walker Bush sebagai Presiden Amerika Serikat saat itu bertekad untuk memerangi terorisme. Sebagai suatu respon, maka George Walker Bush menyusun kebijakan luar negeri terkait pemberantasan terorisme yang dikenal sebagai War on terror. Perubahan agenda kebijakan keamanan Amerika Serikat ini otomatis merubah persepsi ancaman keamanan bagi negara Amerika itu sendiri dimana sejak saat itu terorisme menjadi fokus utama dalam kebijakan keamanan Amerika Serikat. Dalam pelaksanaan kebijakan War on terror ini, ditunjukan penekanan pada kekuatan militer dengan memerangi negara atau siapapun yang diindikasikan melindungi dan berhubungan baik dengan pelaku terorisme (Prilian, 2010). Mengutip pidato Bush yang menyatakan bahwa “You are either with us or you are against us in fight against terror”, pada kenyataannya berdampak luas bagi orientasi kebijakan luar negeri negara lain dalam konfigurasi politik internasional khususnya dalam kebijakan keamanan terkait memerangi aksi terorisme (Daulay, 2009).
Setelah kebijakan perang melawan terorisme direalisasikan, Amerika Serikat melalui tindakan penyerangannya ke Afghanistan berupaya membebaskan Afghanistan dari kekuasaan Taliban yang diketahui telah memfasilitasi kelompok terorisme Al-Qaeda, dimana Al-Qaeda merupakan jaringan terorisme global yang dipimpin oleh Osama Bin Laden Namun sayangnya, dampak penyerangan ke Afghanistan lebih terlihat memberi kerusakan bagi Afghanistan itu sendiri, dan penyerangan tersebut tidak membuat Amerika Serikat menemukan Osama Bin Laden. Sampai pada peristiwa penyerangan Afghainstan, kebijakan George Walker Bush masih sejalan dengan tujuan kebijakan War on terror itu sendiri (Rahmat, 2015). Namun, mulai ada perubahan fokusnya ketika George Walker memutuskan untuk melakukan invasi ke Irak.
Banyak pihak tidak mendukung rencana invasi Amerika Serikat ke Irak, sebab invasi terhadap Irak jika tanpa adanya bukti dan alasan yang jelas akan berdampak buruk bagi Amerika Serikat itu sendiri serta dapat memicu masalah baru seperti bencana atau krisis kemanusiaan di kedua negara yang terlibat. Meski
demikian, ternyata Bush tetap bersikeras untuk melakukan invasi ke Irak, bahkan ketika memasuki periode kedua masa pemerintahannya, Bush masih terfokus untuk tetap melakukan invasi ke Irak (Sihbudi, 2007).
Berdasarkan pembahasan tersebut, adapun alasan ketertarikan penulis tentang penelitian pengaruh Pengaruh idiosinkratik George Walker Bush dalam kebijakan invasi Irak tahun 2003 sebagai fokus penelitian. Pertama, Bush merupakan aktor utama yang berperan dalam pembentukan kebijakan melawan terorisme dan termasuk keputusan invasi ke Irak karena posisinya yang menjabat sebagai presiden Amerika Serikat, dimana seorang presiden merupakan peran inti dari pengambilan suatu keputusan atau kebijakan. Kedua, faktor Idiosinkratik merupakan sebuah analisa yang menekankan faktor-faktor individu atau seorang pemimpin dapat mempengaruhi sikap politik individu dalam mengambil suatu keputusan. Dalam konteks penelitian ini, akan menganalisa pengaruh aspek tersebut dalam kebijakan invasi terhadap Irak tahun 2003. Penelitian ini akan mempunyai batasan waktu dimana dari tahun 2003 terjadinya Invasi Amerika ke Irak dan sampai dengan 2009, dimana merupakan masa berdirinya pemerintahan presiden George Walker Bush yang bersamaan juga dengan berakhirnya invasi Amerika Serikat di Irak atas keputusan presiden Amerika Serikat saat itu.
1.2 Permasalahan Penelitian
Berdasarkan latar belakang tersebut adapun rumusan penelitian yang penulis ajukan sebagai berikut:
1. Mengapa George Walker Bush melakukan invasi terhadap Irak tahun 2003?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini, yaitu:
1. Mengetahui faktor penyebab terjadinya invasi Irak tahun 2003.
2. Menganalisa pengaruh idiosinkratik George Walker Bush dalam invasi ke Irak tahun 2003.
1.4 Signifikasi Penelitian
1. Signifikasi teoritis, penelitian ini dapat menjadi dasar untuk mempengaruhi lebih mendalam tentang bagaimana pengaruh
Idiosinkratik seorang pemimpin dalam mengambil suatu kebijakan atau keputusan politik.
2. Signifikasi praktis, penelitian ini dapat menambah suatu sumber ide dalam penelitian ilmu hubungan internasional terkait kebijakan luar negeri atau keputusan seorang pemimpin yang berfokus pada individu yang membuat kebijakan atau keputusan politik.
1.5 Tinjauan Pustaka
Adapun dalam penelitian ini penulis mengambil tinjauan pustaka yang relevan dengan topik penelitian yang berjudul Pengaruh Idiosinkratik George Walker Bush dalam Kebijakan Invasi Irak tahun 2003 di antaranya, Pertama tulisan Daniel Lieberfeld yang berjudul Theory of Conflict and the Iraq War 2003 pada tahun 2005, memfokuskan pada invasi Amerika Serikat terhadap Irak dengan analisa keputusan Amerika Serikat untuk menyerang Irak yang menampilkan perspektif liberal dan juga realisme. Tulisan tersebut melihat kepentingan elit, pengaruh ideologis, psikologi pribadi dan sosial - agar lebih mudah untuk memahami penyebab keputusan Amerika Serikat menginvasi Irak pada tahun 2003 yang dikenal juga sebagai perang teluk III . Teori perang merupakan alat dalam menjelaskan berbagai penyebab atas penyerangan Amerika Serikat ke Irak.
Lieberfeld juga membandingan perspektif seperti Realisme yang lebih menekankan motif yang berkaitan dengan keamanan nasional, kekuasaan, dan sumber daya. Sedangkan, liberalisme cenderung melihat perbedaan antara demokrasi dan negara-negara non-demokrasi. Selain itu, ia menjelaskan bagaimana perspektif realisme menganalisa serangan Amerika Serikat ke Irak yang diasumsikan bahwa jika suatu invasi merupakan cara rasional bagi Amerika Serikat untuk mencapai kepentingannya yaitu menunjukkan kekuatannya kepada sekutu dan pesaingnya, serta menghindari serangan terorisme seperti 9/11 yang telah terjadi. Seperti juga pencegahan kerjasama Irak dengan jaringan teroris anti Amerika Serikat.
Dalam tulisan ini, Lieberfeld juga menganalisa bahwa pemerintahan Bush telah mengumumkan bahwa perubahan rezim di Irak merupakan suatu prioritasnya karena menurut Amerika Serikat membiarkan rezim Saddam Hussein tetap utuh adalah suatu kelemahan Amerika Serikat sehingga Bush membuat perang yang percuma dan juga untuk kepentingan keamanan nasionalnya. Dalam menjelaskan mengapa Irak menjadi target invasi Amerika Serikat, realisme juga menjelaskan
jawabannya, yaitu dengan adanya geostrategic Irak dan sumber daya minyak yang tidak tertandingi sehingga hal-hal tersebut menjadi alasan Amerika Serikat untuk perang ke Irak. Realisme dalam tulisan ini juga menjelaskan bahwa pemimpin memilih berperang pada saat mereka percaya bahwa perang demi keamanan nasionalnya. Namun, pada pemerintahan Bush hal itu menjadi rumit karena sikap pemerintahan Bush yang menyudutkan Irak cenderung berlebihan. Sedangkan menurut padangan liberalisme, keputusan berperang berasal dari karakteristik internal suatu pemerintahan. Lieberfeld juga menuliskan pada tulisannya bahwa banyak demokrasi menyebabkan perdamaian dan tidak bermusuhan sehingga menuai suatu konflik. Dalam kasus invasi Amerika Serikat ke Irak, mengubah pemerintahan Irak yang otoritarian menjadi negara demokrasi dan menyebarkan hak asasi manusia akan meningkatkan keamanan nasional Amerika Serikat. (Lieberfeld, 2005).
Kedua, tulisan dari Zana Tofiq Kaka yang berjudul Why did United State lead an Invasion of Iraq in 2003 pada tahun 2014. Dalam tulisan ini lebih memfokuskan pada mengapa Amerika Serikat melakukan invasi terhadap Irak dimana sebagian besar alasan yang dibahas dalam tulisan ini terkait dengan kepentingan Amerika Serikat atas minyak Irak. Hal ini banyak dikemukakan karena sudah banyak bukti jika Irak bukanlah negara yang mendukung terorisme dibalik serangan 9/11 dan juga tidak terbukti mengembangkan nuklir yang berbahaya. Sebagian besar inti dalam tulisan ini juga membahas alasan Amerika Serikat melakukan invasi ke Irak atas alasan yang sama yang menjadi penyebab invasi Amerika Serikat ke Irak dapat terjadi. Faktor yang dijelaskan dalam tulisan ini juga berputar pada faktor karena Amerika Serikat ingin melindungi Israel yang menjadi aliansi Amerika Serikat di kawasan Timur tengah yang berputar dengan segala hal yang menyebabkan Invasi Amerika Serikat ke Irak sampai terjadi.
Jelasnya, dalam tulisan ini terdapat lima alasan Amerika Serikat menginvasi Irak. Alasan pertama terkait tuduhan Amerika Serikat terhadapt Irak yang menurutnya menyimpan senjata pemusnah massal secara rahasia dan berpotensi menimbulkan ancaman bagi Amerika Serikat. Pasca peristiwa 9/11, Amerika Serikat bersikap selalu waspada dengan sumber kejahatan yang mengancam keamanan nasionalnya. Namun Irak terbukti tidak menyimpan senjata yang dipikirkan Amerika Serikat. sebelum atau sesudah invasi Amerika Serikat terhadap Irak senjata yang dimaksud Amerika Serikat tidak pernah diketemukan. Alasan yang kedua, dugaan Amerika Serikat terhadap Irak terkait adanya hubungan Saddam Hussein dengan
jaringan terorisme, Zana menjelaskan bahwa perang ke Irak merupakan perpanjangan perang melawan terorisme yang dibentuk Bush.
Serangan terorisme pada peristiwa 9/11 menyebabkan perubahan fokus dan menjadi langkah baru untuk membentuk suatu kebijakan luar negeri Amerika Serikat dan strategi keamanan nasional. Alasan untuk membenarkan perang ke Irak selanjutnya penyebaran demokrasi di Irak. Bahwa pada dasarnya alasan tersebut tidak menghasilkan perdamaian di Irak seperti yang dikatakan Bush. Lalu dilanjutkan dengan adanya keinginan Amerika Serikat melindungi Israel dan kepentingan minyak di Irak oleh Amerika Serikat. Tidak jauh beda dengan tulisan-tulisan yang sudah ada mengenai invasi Amerika Serikat ke Irak, tulisan ini juga beranggapan pemerintah Amerika Serikat dalam kasus invasi terhadap Irak hanya berusaha membuat kasus persuasif dan memanipulasi opini publik bahwa perang di Irak merupakan suatu bentuk tindakan Amerika Serikat menanggapi suatu ancaman. (Kaka, 2014).
Dalam tinjauan pustaka pada penelitian ini ada salah satu jurnal yang menggunakan analisa idiosinkratik dimana hal tersebut memang masih sangat jarang digunakan untuk suatu pembahasan penelitian. Salah satu contoh penerapan idiosinkratik ada dalam tulisan yang berjudul Pengaruh Idiosinkretik Ahmadinejad Terhadap Kebijakan Pengembangan Nuklir Iran Tahun 2005-2013 pada tahun 2016, oleh Muzainiyeh. Berfokus pada pembahasan tentang hal-hal apa saja yang menjadi pengaruh dalam keputusan Ahmadinejad terkait pengembangan nuklir di Iran, serta bagaimana sikap politik Ahmadinejad dalam membawa negaranya dalam memandang suatu kondisi internasional atau negara lain. Dalam kebijakannya mengenai pengembangan nuklir di negaranya, Ahmadinejad menegaskan bahwa pengembangan nuklir tersebut bertujuan damai dan tidak adanya unsur-unsur keinginannya untuk menjadi senjata pemusnah massal. Hingga akhirnya pada tanggal 10 Januari 2006, Iran membuka program pengembangan nuklirnya dimulai dengan pembukaan segel penutup yang diletakkan oleh IAEA di fasilitas pengayaan uranium Natanz. Meskipun dalam pengembangan kembali program nuklirnya Ahmadinejad mendapat kecaman dari negara lain terutama Amerika Serikat, Ahmadinejad tetap bersikeras untuk tetap membangun kembali nuklir negaranya.
Amerika Serikat yang dalam proses tersebut, sangat menentang keputusan Ahmadinejad tersebut menegaskan bahwa Iran harus menunda program
pengembangan nuklirnya sampai IAEA melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Ahmadinejad berpendapat bahwa Iran sebagai negara berdaulat merasa keberatan terhadap sikap negara-negara yang menentang program nuklirnya, ia berpendapat bahwa sudah pasti tujuan pokoknya bernegosiasi untuk penundaan program nuklir Iran. Resolusi demi resolusi telah dibentuk oleh dewan keamanan PBB yang berisikan peringatan terhadap Iran agar mengentikan program nuklirnya jika tidak penekanan terhadap Iran akan meningkatkan sanksinya terhadap Iran. Negara-negara penentang seperti Amerika Serikat memutuskan hubungannya terhadap Iran dengan memberikan sanksi perdagangan.
Muzainiyeh menjelaskan aspek idiosinkratik Ahmadinejad dengan persepsi, dimana individu akan membentuk persepsi dengan cara fisik yang melakukan suatu hubungan dengan dengan apa yang mereka lihat atau yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Tetapi sayangnya, informasi yang didapat oleh penglihatan individu tidak selalu dicerna oleh pemikiran individu dengan baik sehingga akan berpengaruh pada pembentukan suatu persepsi. Dalam kasus Ahmadinejad tersebut yang memiliki pembentukan suatu persepsi yang dapat dipengaruhi dipengaruhi oleh situasi yang sedang terjadi, dimana persepsi juga terdiri dari sistem keyakinan yang meliputi citra mengenai negaranya, citra mengenai musuhnya, citra apa yang seharusnya terjadi seperti prinsip akan kemajuan ilmu pengetahuan dan keadilan ilmu universal yang akhirnya hal-hal tersebut mempengaruhi persepsi Ahmadinejad sehingga mendorongnya dalam melakukan penolakan terhadap pertentangan pengembangan nuklir negaranya. Jika dilihat dari citra negaranya, yang terbentuk dalam persepsi Ahmadinejad bahwa jika ia mengembangkan nuklir Iran, ia akan membawa Iran ke dalam negara islam yang modern dan mengejar ketertinggalan negaranya. Ahmadinejad juga berfikir bahwa ketika ia memerintah Iran, Iran menjadi negara yang sangat membanggakan karena walaupun Iran mendapat isolasi ekonomi terkait pembangunan nuklirnya, Iran tetap dapat mampu megembangan nuklirnya. Muzainiyeh juga menjelaskan persepsi Ahmadinejad membentuk persepsi yang negatif terhadap lawan politiknya yang menentang pengembangan nuklir negaranya terutama Amerika Serikat yang menurut Ahmadinejad terlalu menekan PBB dalam melakukan sanksi terhadap Iran. Ahmadinejad melihat bahwa sikap Amerika Serikat yang terlihat sangat antusias dalam pertentangan nuklir Iran lebih cenderung menunjukkan jika (Amerika Serikat) tidak menyukai kemajuan yang dibentuk oleh Iran demi kebaikan bangsanya (Muzainiyeh, 2016).
Berdasarkan ketiga studi literatur yang penulis gunakan sebagai acuan dalam penelitian ini, tulisan pertama yang ditulis oleh Daniel Lieberfeld lebih cenderung menjelaskan alasan Amerika Serikat menginvasi Irak dengan analisanya melalui perspektif realisme dan liberalisme setelah itu, Lieberfeld berusaha untuk membandingkan kedua perspektif tersebut tetapi tetap didalam kasus invasi Amerika Serikat terhadap Irak. Metode penelitian yang disusun oleh Lieberfeld ini menggunakan penelitian kualitatif yang didukung oleh sumber dari buku, jurnal atau website resmi yang akan dianalisa oleh penulis. Lalu tulisan yang kedua dalam studi literatur ini ditulis oleh Zana Tofiq Kaka berfokus kepada hal-hal yang menjadi alasan Amerika Serikat mengapa menyerang Irak. Dalam tulisan ini, metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dan didukung oleh wawancara serta data-data sekunder yang didapat dari buku,jurnal dan juga website resmi.
Studi literatur ketiga dalam penelitian ini jurnal dari Muzainiyeh cenderung menjelaskan tentang pengaruh aspek idiosinkratik Ahmadinejad yang membentuk kebijakannya terhadap pengembangan nuklir Iran. Fokus dalam tulisan ini cenderung pada persepsi Ahmadinejad dalam mengambil suatu keputusan untuk mengembangkan nuklirnya dan melakukan penolakan terhadap siapapun yang menentang program nuklir negaranya tersebut. Dapat dikatakan bahwa pada ketiga literature review tersebut memiliki relevansi dengan topik penelitian ini. Namun yang menjadi fokus pembeda penelitia ini ialah penelitian ini lebih menonjolkan pada pengaruh aspek idiosinkratik George Walker Bush dalam kebijakan Invasi Irak tahun 2003.
1.6 Kerangka Pemikiran
Dalam penelitian ini kerangka pemikiran yang digunakan adalah aspek idiosinkratik yang merupakan bagian dari level analisis individu. Menurut Rourke, aspek idiosinkratik menunjukkan bahwa manusia sebagai individu dalam mengambil keputusan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor pendorong dalam diri individu tersebut. Sebelum melihat aspek idiosinkratik, level analisis individu Human as species yang menjelaskan bagaimana sifat manusia dapat mempengaruhi suatu pengambilan keputusan. Contohnya seperti mengambil keputusan untuk masuk ke universitas dimana pertimbangan tidak sepenuhnya dari pikiran rasional dengan biaya, lokasi, suasana sosial, ukuran kelas, kualifikasi fakultas dan, persyaratan program. Namun ada juga yang dipengaruhi oleh emosi misalnya, seberapa jauh
jarak dari rumah ke sekolah. Pada kenyataannya suatu keputusan tidak hanya terbentuk secara rasional namun ada hal-hal dalam diri individu seperti aspek kognitif, emosional, psikologis, dan terkadang bahkan faktor biologis yang akan dijelaskan lebih lanjut oleh penulis.
1.6.1 Aspek Idiosinkratik
Di dalam proses pembuatan kebijakan luar negeri, terdapat suatu pendekatan yang cenderung dipengaruhi oleh aspek-aspek yang ada dalam level individu, inilah yang dipahami sebagai bentuk aspek idiosinkratik. Aspek idiosinkratik merupakan studi yang melihat bahwa manusia sebagai individu yang mempunyai karakteristik atau sifat yang dapat mempengaruhi keputusannya, selain itu bahwa suatu karakteristik personal seorang individu dapat menjadi aspek pendorong dalam mengambil keputusan serta analisa aspek idiosinkratik ini yang akan difokuskan dalam penelitian ini. Beberapa faktor yang dapat digunakan dalam melihat karakteristik personal atau analisa idiosinkratik, antara lain pertama, personality and political leadership style dimana setiap pemimpin akan menghandapi berbagai tantangan dalam mencapai kepentingan negaranya, oleh karena itu seorang pemimpin dituntut untuk membentuk suatu strategi kepemimpinan yang efektif (Rourke, 2007).
Tindakan para aktor pemimpin merupakan tindakan yang krusial jika ditambahkan dengan karakteristik pemimpin, dimana perilaku pemimpin juga dapat mempengaruhi tipe kepemimpinannya dan cara pengambilan keputusannya. Menurut Alex Mintz mengklasifikasikan kepribadian seorang pemimpin tersebut yang dikaitkan dengan tipe-tipe kepemimpinan dalam klasifikasi sebagai berikut :
- Crusader, dimana dalam tipe kepemimpinan ini lebih mengabaikan informasi yang berlawanan dengan pemikirannya dan cenderung memberikan respon pada peristiwa yang menjadi kepentingannya.
- Strategic, dalam tipe ini cenderung terbuka dalam suatu informasi dan menganggap permasalahan politik sebagai suatu tantangan dalam pemerintahannya. Tipe kepemimpinan ini juga cenderung sangat memahami yang menjadi tujuannya sekaligus mempunyai ambisi yang kuat dalam mencapai tujuannya.
- Pragmatic, tipe ini membatasi informasi yang muncul dari pihak lain dan juga lebih respect pada political constrains.
- Opportunistic, dalam tipe ini menjelaskan adanya penekanan political bargaining sebagai fokus dalam tipe kepemimpinan ini. Pemimpin akan mengambil langkah mengabaikan lawan politik mereka dalam tipe kepemimpinan ini (Hermann M. , 2001).
Rourke juga menambahkan bahwa idiosinkratik yang Kedua, ada ego and ambition adanya keinginan yang ingin diwujudkan disertai kepentingan individu yang besar ketika membuat keputusan. Ketiga, political history and personal experience dimana pengalaman politik individu secara historik mempengaruhi pembuatan keputusan, disertai dengan pengalaman pribadinya. Misalnya Bush menginvasi Irak ingin menjatuhkan kekuasaan Saddam Hussein karena pengalaman Ayahnya yang berusaha demikian pada saat invasi Irak di Kuwait yang belum berhasil. Keempat, perception dan operational reality dimana persepsi mempengaruhi individu dalam mengambil keputusan. Persepsi sendiri terbentuk dengan adanya pandangan individu sendiri dan juga emosi. Persepsi memainkan peran kunci dalam kebijakan karena mereka membentuk realitas operasional. Realitas operasional dibentuk oleh kepercayaan individu atas persepsi atau pandangannya. Seperti contoh, persepsi Bush tentang Irak yang melihat bahwa Irak mengembangkan senjata nuklir yang membahayakan dan operasional realitasnya akan berkembang dengan adanya invasi Amerika Serikat terhadap Irak untuk menghentikan pembangunan nuklirnya.
1.6.2 Kerangka Operasionalitas
Gambar 1.1 Kerangka Operasionalitas
1.7 Hipotesis
Keputusan George Walker Bush menginvasi Irak tahun 2003 disebabkan oleh aspek personal didalam dirinya yaitu dari segi personality and political leadership style, ego and ambition, political history and personal experience dan perception.
Faktor Idiosinkratik Bush Personality and
political Leadership
Ego and ambition
Invasi Irak
Politic History and personal experience Perception and realitas operasional1.8 Metode Penelitian
Adapun hal-hal yang terdapat didalam metode penelitian ini, yaitu : A. Tipe penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif akan lebih mengembangkan sifat deskriptif dengan detail penuh tanpa adanya perhitungan statistik serta bertujuan untuk menerangkan suatu peristiwa yang menghasilkan hal yang informatif (Santana, 2007) dimana akan dihubungkan dengan topik penelitian ini tentang Invasi Amerika Serikat ke Irak yang akan penulis paparkan apa saja faktor penyebab terjadinya Invasi Amerika Serikat ke Irak oleh George Walker Bush dilihat dari analisa Idiosinkratik.
B. Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data dibagi menjadi dua berdasarkan jenis data, yaitu data sekunder dan primer. Dimana data sekunder merupakan pengumpulan data yang diperoleh dari pemikiran orang lain melalui buku, ejournal, website resmi, dan artikel. Sedangkan data primer merupakan pengumpulan data yang diperoleh secara langsung yang berkaitan dengan topik penelitian perolehan data primer menggunakan cara seperti langsung ke lapangan dan melakukan wawancara (Sugiyono, 2016).
Penelitian ini akan menggunakan data sekunder yang berbentuk data pasti. Pengumpulan data sekunder lebih dilakukan dengan cara mencari data ke perpustakaan, toko buku atau internet dimana penulis akan memilah data yang baik untuk dijadikan sumber penelitian. Seperti buku, ejournal, website resmi, dan artikel yang berkaitan dengan topik penulis seperti invasi Irak dan tentang pemikiran-pemikiran George Walker Bush. Serta, data dari hasil pengamatan orang lain yang berkaitan dengan invasi Irak yang dilakukan oleh Amerika Serikat.
C. Teknik analisis data
Penelitian ini menggunakan teknik analisis data secara eskplanatif, dimana teknik analisis eksplanatif bertujuan untuk memberi suatu penjelasan tentang mengapa sesuatu hal dapat terjadi. Langkah awal, penulis akan mengumpulkan data-data yang penulis butuhkan yang relevan dengan topik
penelitian ini lalu penulis akan mengolah data-data tersebut sehingga dapat menarik suatu kesimpulan. Seperti pada penelitian ini yang akan menjelaskan penyebab-penyebab George Walker Bush melakukan invasi terhadap Irak tahun 2003 yang ternyata dipengaruhi oleh aspek idiosinkratik.
1.9 Pembabakan
BAB 1, berupa pendahuluan yang berisi latar belakang dalam secara garis besar menjelaskan alasan topik penelitian, lalu pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, signifikansi penelitian, batasan penelitian, literature review, kerangka pemikiran, hipotesis, metode penelitian, serta pembabakan.
BAB 2, bab ini akan memberikan gambaran pengaruh sejarah terjadinya invasi Irak tahun 2003 oleh Amerika Serikat beserta faktor dan dampak dari invasi Irak tersebut.
BAB 3, bab ini berisi tentang pembahasan atau analisa tentang aspek idiosinkratik George Walker Bush yang mempengaruhi keputusannya dalam kebijakan invasi terhadap Irak tahun 2003.