BINJAI, PROVINSI SUMATERA UTARA
SKRIPSI
NANDA ISKANDAR PUTRATAMA S.
141201044
DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
BINJAI, PROVINSI SUMATERA UTARA
SKRIPSI
Oleh :
NANDA ISKANDAR PUTRATAMA S.
141201044/KEHUTANAN
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Kehutanan
Universitas Sumatera Utara
DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
ABSTRACT
NANDA ISKANDAR PUTRATAMA S. The status of healty trees in Merdeka Park, and Balita Park Binjai city, North Sumatera Province. supervised by Mr.
ALFAN GUNAWAN AHMAD.
Trees in city parks have an important role to play in silencing, carbon sinks, producing oxygen and habitat for animals. The important role will be optimal if the tree is healthy. The purpose of this study was to obtain data and information about the health status of trees in Merdeka city parks and Balita parks in the city of Binjai, North Sumatra Province. Assessment of tree health status uses the Forest Health Monitoring (FHM) method with three indicators, namely, productivity, damage, and tree canopy. Data collection was carried out in census in the two city parks that were examined. Determination of tree health status is done by scoring method of the three measured tree health indicators. The results showed that the health level of trees in Merdeka park was healthier compared to the Todai town of Binjai park. Based on the results of the tree health score in the Merdeka park in the city of Binjai, only 13.9% of the trees were found to be healthy and very healthy. Whereas in the Toddler's garden there is no tree found that is healthy and very healthy.
Keywords: Balita park, Binjai city, forest health monitoring method, tree health,
Merdeka park
ABSTRAK
NANDA ISKANDAR PUTRATAMA S. Status Kesehatan Pohon di Taman Merdeka dan Taman Balita di Kota Binjai, Provinsi Sumatera Utara. Dibimbing oleh ALFAN GUNAWAN AHMAD
Pohon di taman kota memiliki peran penting untuk peredam kebisingan,
penyerap karbon, penghasil oksigen dan habitat bagi satwa. Peran penting tersebut akan optimal bila pohon dalam keadaan sehat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan data dan informasi tentang status kesehatan pohon di taman kota Merdeka dan taman Balita di kota Binjai, Provinsi Sumatera Utara. Penilaian status kesehatan pohon menggunakan metode Forest Health Monitoring (FHM) dengan tiga indikator yaitu, produktivitas, kerusakan, dan tajuk pohon.
Pengambilan data dilakukan secara sensus di kedua taman kota yang di teliti.
Penentuan status kesehatan pohon dilakukan dengan metode skoring dari ketiga indikator kesehatan pohon yang diukur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesehatan pohon di taman Merdeka lebih sehat dibandingkan dengan taman Balita kota Binjai. Berdasarkan hasil nilai skoring kesehatan pohon di taman Merdeka kota Binjai hanya ditemukan 13,9 % pohon yang berstatus sehat dan sangat sehat. Adapun di taman Balita sama sekali tidak ditemukan pohon yang sehat dan sangat sehat.
Kata kunci : kesehatan pohon, metode monitoring kesehatan hutan, taman Merdeka, taman Balita, kota Binjai
RIWAYAT HIDUP
Nanda Iskandar Putratama S. dilahirkan di Medan pada tanggal 13 November 1996, merupakan putra pertama dari empat bersaudara dari Ayah Drs.
Parlindungan Sormin dan Ibu Dra.Sarahjuni Simanjuntak. Pada tahun 2008 penulis menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di SD Negeri Halat 060813, pada tahun 2010 lulus dari MTs Negeri 2 Medan, pada tahun 2014 lulus dari MAN 2 Model Medan dan pada tahun yang sama penulis diterima di Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara melalui undangan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Selama mengikuti perkuliahan, penulis juga aktif dalam beberapa organisasi di kampus. Organisasi yang pernah diikuti oleh penulis adalah HIMAS (Himpunan Mahasiswa Sylva) sebagai anggota.
Pada tahun 2016 penulis mengikuti Praktek Pengenalan Ekosistem Hutan (P2EH) di Desa Sei Nagalawan, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Penulis juga melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) pada bulan Januari sampai dengan Februari 2018 di Taman Nasional Bromo Tengger Simeru, Malang.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat dan kasih-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini berjudul “Status Kesehatan Pohon Di Taman Merdeka dan Taman Balita Kota Binjai, Provinsi Sumatera Utara”.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ayahanda Drs. Parlidungan Sormin, Ibunda Dra.Sarahjuni Simanjuntak, Adik Ilham Habibi Sormin, Ikbal Fauzi Sormin, Miftah Elisa Anggriani serta keluarga yang mendukung penulis melalui materi, semangat juga doa.
2. Bapak Dr. Alfan Gunawan Ahmad, S.Hut., M.Si selaku dosen pembimbing yang telah banyak mengarahkan dan memberikan saran serta dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan penelitian ini.
3. Kepada kedua dosen penguji yang saya hormati bapak Dr. Rudi Hartono, S.Hut., M.Si dan bapak Dr. Nurdin Sulistiyono, S.Hut., M.Si yang telah bersedia menguji skripsi saya dan membantu dalam mengarahkan skripsi ini lebih baik lagi.
4. Seluruh staff Dosen Pengajar di Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara atas ilmu, Pendidikan, dan penegetahuan yang telah diberikan kepada penulis selama duduk di bangku perkuliahan.
5. Sahabat-sahabat saya “Anak Kontrakan”, Ira, kasih dan Rahmat yang membantu dan mendukung saya menyelesaikan penulisan ini.
6. Teman-teman PKL saya “Tim Bromo”yang telah memberikan dukungan serta masukan dalan menyelesaikan skripsi ini.
7. Untuk seluruh keluarga besar penulis tanpa terkecuali yang tidak dapat bisa disebutkan satu persatu yang telah banyak dalam membantu menyusun dan menyelesaikan tugas akhir skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, Oleh karena itu penulis mengharapkan segala bentuk saran serta masukan bahkan kritik yang membangun dari berbagai pihak. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.
Medan, Februari 2019
Penulis
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ... i
PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii
ABSTRACT ... iii
ABSTRAK ... iv
RIWAYAT HIDUP ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Tujuan Penelitian ... 2
Manfaat Penelitian ... 3
TINJAUAN PUSTAKA Hutan Kota ... 4
Karakteristik Pohon ... 6
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kerusakan Pohon ... 7
Tipe Kerusakan Pohon ... 9
METODOLOGI PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian ... 12
Alat dan Bahan ... 12
Prosedur Penelitian ... 13
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Taman Merdeka Kota Binjai ... 21
Komposisi dan Sebaran Jenis Pohon ... 21
Indikator Produktivitas ... 22
Indikator Kerusakan Pohon ... 27
Indikator Tajuk ... 39
Status Kesehatan Pohon ... 44
Rekomendasi Perawatan ... 48
B. Taman Balita Kota Binjai ... 49
Komposisi dan Sebaran Jenis Pohon ... 49
Indikator Produktivitas ... 50
Indikator Kerusakan Pohon ... 53
Indikator Tajuk ... 59
Status Kesehatan Pohon ... 62
Rekomendasi Perawatan ... 64
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 65
Saran ... 65
DAFTAR PUSTAKA ... 66 LAMPIRAN ... 68
DAFTAR TABEL
No. Teks Halaman
1. Tally sheet penilaian kerusakan pohon menurut metode FHM ... 14
2. Kode dan lokasi kerusakan... 15
3. Kode dan tipe kerusakan. ... 15
4. Kode dan kelas keparahan. ... 16
5. Bobot indeks kerusakan pohon. ... 16
6. Keriteria kondisi tajuk. ... 20
7. Nilai peringkat Visual Crown Rating (VCR). ... 20
8. Hasl inventarisasi pohon di Taman Kota Binjai. ... 23
9. Pembobotan skoring produktivitas di Taman Merdeka Binjai ... 25
10.Status skoring produktivitas pohon di Taman Merdeka Binjai. ... 25
11. Skoring pembobotan nilai NIK di Taman Merdeka Binjai. ... 36
12. Status kesehatan nilai NIK di Taman Merdeka Binjai. ... 37
13. Skoring VCR di Taman Merdeka Binjai. ... 41
14. Status dan nilai pembobotan VCR di Taman Merdeka Binjai. ... 41
15. Skoring kesehatan pohon di Taman Merdeka Binjai.. ... 43
16. Skoring indikator dan nilai akhir kesehatan pohon ... 44
17. Hasil inventarisasi pohon di Taman Balita Binjai. ... 50
18. Pembobotan skoring produktivitas di Taman Balita Binjai. ... 51
19. Status skoring produktivitas pohon di Taman Balita Binjai. ... 52
20. Skoring pembobotan nilai NIK di Taman Balita Binjai. ... 56
21. Status kesehatan nilai NIK di Taman Balita Binjai. ... 57
22 . Skoring VCR di Taman Balita Binjai ... 60
23. Status dan nilai pembobotan VCR di Taman Balita Binjai... 61
24. Skoring kesehatan pohon di Taman Balita Binjai. ... 62
25. Status dan nilai skoring keusakan pohon di Taman Balita Binjai…………..62
DAFTAR GAMBAR
No. Teks Halaman
1. Peta sebaran taman lokasi penelitian di Binjai ... 13
2. Pengukuran rasio tajuk hidup ... 18
3. Kartu skala kerapatan tajuk ... 18
4. Kartu skala Tranparansi tajuk ... 18
5. Penentuan diameter tajuk ... 19
6. Peta sebaran pohon Taman Merdeka Binjai... 21
7. Luas bidang dasar pohon di Taman Merdeka Binjai ... 22
8. Tipe kerusakan pohon Taman Merdeka Binjai ... 28
9. Penyakit kanker pohon ... 29
10. Penyakit busuk hati ... 29
11. Penyakit luka terbuka ... 30
12. Penyakit brum pada akar atau batang... 31
13. Cabang patah atau mati ... 32
14. Kerusakan daun ... 33
15. Daun berubah warna ... 33
16. Lokasi kerusakan pohon di Taman Merdeka Binjai ... 34
17. Nilai indeks kerusakan pohon di Taman Kota Merdeka Binjai ... 36
18. Nilai kondisi tajuk pada Taman Kota Merdeka Binjai... 39
19. Nilai VCR pada Taman Merdeka Binjai ... 40
20. Penilaian kesehatan Taman Merdeka Binjai ... 47
21. Peta sebaran pohon Taman Balita Binjai ... 48
22. Luas bidang dasar pohon pada Taman Balita Binjai ... 49
23. Tipe kerusakan pohon di Taman Balita Binjai ... 53
24. Penyakit kanker pada pohon ... 54
25. Penyakit busuk hati ... 54
26. Batang patah kurang Dari 0,91 cm ... 55
27. Lokasi kerusakan pohon di Taman Balita Binjai ... 56
28. Nilai indeks kerusakan pohon di Taman Balita ... 56
29. Nilai kondisi tajuk pada Taman Kota Balita Binjai ... 58
30. Nilai VCR pada Taman Balita Binjai... 60 31. Penilaian kesehatan Taman Balita Binjai ... 62
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Hutan kota adalah sebagai identitas kota, pelestarian plasma nutfah, peredam kebisingan, mengurangi bahaya hujan asam, penyerap karbon monoksida, penyerap karbon dioksida dan penghasil oksigen, penahan angin, penyerap dan penapis bau, mengatasi intrusi air laut, produksi terbatas, ameliorasi iklim, pengelolaan sampah, pelestarian air tanah, penapis cahaya silau, meningkatkan keindahan dan sebagai habitat burung (Dahlan, 2004).
Binjai adalah salah satu kota dalam wilayah provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Binjai terletak 22 km di sebelah barat ibukota provinsi Sumatera Utara, Medan. Tidak hanya itu kota Binjai juga memiliki ruang terbuka hijau juga memiliki taman hutan kota yaitu Taman Merdeka Binjai, Taman Balita Binjai, dan juga Taman Remaja Binjai.
Kesehatan pohon di daerah Binjai khususnya di taman kotanya pohon yang tumbuh disekitaran taman kota Binjai tersebut banyak yang terkena penyakit dan kesehatan pohonya kurang terjaga, dikarenakan kurangnya kepedulian masyarakat akan fungsi pohon itu sendri dan kurangnya sosialisasi kepada masyarakat betapa pentingnya akan makna hutan kota tersebut.
Pembangunan yang lebih mengarah pada pembangunan fisik telah menyampingkan keberadaan ruang terbuka hijau, khususnya jalur hijau jalan. Hal ini mempengaruhi kondisi fisik yang ada pada pohon dengan terlihatnya berbagai gejala kerusakan secara fisik dan visual.
Kesehatan pohon perlu dijaga karena jika terjadi kerusakan pada pohon baik penyakit maupun mekanik dapat menyebabkan penurunan kemampuan pohon dalam menyerap karbon dan jenis polusi lainnya yang akan berdampak pada kualitas lingkungan. Oleh sebab itu pengembangan, penggelolaan, dan pemeliharaan jalur hijau harus di tangani dengan serius terutama pada lingkungan perkotaan. Jenis pohon yang ditanami di jalur hijau juga menentukan kualitas lingkungan. Jika pohon yang ditanam sesuai dengan kriteria untuk kawasan jalur hijau maka kualitas lingkungan di perkotaan tersebut akan baik.
Kesadaran akan pentingnya lingkungan yang asri dan taman sebagai paru- paru kota serta sarana rekreasi, diwujudkan melalui kebijakan operasional dalam bentuk taman-taman kota (Adi, 2008).
Tumbuhan dikatakan sehat apabila tumbuhan tersebut dapat melaksanakan fungsi-fungsi fisiologisnya. Tumbuhan yang sehat mempunyai ketahanan ekologi yang tinggi terhadap gangguan hama serta faktor luar lainnya (Yunasfi, 2002).
Adanya polusi udara, aktivitas manusia, faktor biologi serta usia pohon-pohon yang makin meningkat dapat mengakibatkan penurunan kesehatan pohon.
Penurunan kesehatan pohon dapat dilihat dari tingkat kerusakannya. Kerusakan yang terjadi dapat disebabkan oleh adanya penyakit, serangan hama, gulma, api, cuaca, satwa ataupun akibat kegiatan manusia. Menurut (Soeratmo, 1974) unsur lain yang berpengaruh terhadap kerusakan pohon yaitu kerusakan mekanis.
Kerusakan mekanis biasanya berbentuk suatu luka terbuka pada kulit kayu hingga kerusakan mekanis yang menyebabkan kematian pohon.
Penghijauan merupakan salah satu upaya yang saat ini perlu dilakukan untuk mengimbangi pembangunan yang berlebihan di wilayah perkotaan.
Penghijauan di jalur hijau dengan pepohonan harus memberi dampak yang positif dan tidak mengganggu pengguna jalan. Kondisi pepohonan harus dalam keadaan baik dan sehat agar memberi kenyamanan bagi pengguna jalan (Hutagalung dan Annie N, 2015).
Salah satu bentuk hutan kota yang cukup efektif dalam mengurangi emisi karbon adalah adanya jalur hijau disekitar jalan lalu lintas dalam kota. Tanaman yang ditanam di jalur hijau cukup baik dalam menyerap emisi karbon yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor dan industri yang letaknya didekat jalan.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mendapatkan data dan informasi tentang struktur dan komposisi jenis pohon yang tumbuh di Taman Merdeka dan Taman Balita Kota Binjai.
2. Mendapatkan data dan informasi tentang kesehatan pohon yang tumbuh di Taman Merdeka dan Taman Balita Kota Binjai.
Kegunaan Penelitian
Penelitian ini berguna untuk :
1. Bahan rujukan bagi pemerintah kota Binjai untuk pengelolaan taman kota yang sehat dan menarik.
2. Bahan refrensi bagi mahasiswa dan peneliti yang akan melakukan penelitian lebih lanjut tentang kesehatan pohon.
TINJAUAN PUSTAKA
Hutan kota
Hutan kota merupakan hutan yang dikembangkan di suatu kota yang bertujuan untuk memberi kenyamanan bagi penghuninya. Dalam zonasi hutan kota di bedakan kedalam 3 (tiga) zona hutan kota, yaitu: (a) Zonasi pantai, kawasan yang diperuntukan bagi terlindungnya ekosistem bakau dan hutan pantai yang diharapkan sebagai pendukung ruang terbuka hijau sebagai kawasan lindung yang terintegrasi dengan kegiatan wisata dan pendidikan (b) Zonasi pedalaman kawasan yang diperuntukan sebagai perlindungan ekosistem dataran rendah, dan (c) Zonasi pegunungan adalah kawasan yang diperuntukan untuk menyediakan ruang yang memiliki karakteristik alamiah yang perlu dilestarikan untuk tujuan perlindungan ekosistem dataran. Untuk mengetahui perbedaan dari masing- masing zona tersebut dapat dilihat dari topografi daerah (kemiringan, jenis tanah dan lain sebagainya), jenis tanaman yang tumbuh (vegetasi tumbuhan), dan curah hujan. (Subarudi dan Samsoedin, 2010).
Menurut Arief (2001) klasifikasi pohon berdasarkan ukuran yaitu : 1. Tingkat semai, apabila pohon- pohonnya mempunyai tinggi sampai 1,5 m.
2. Tingkat pancang, apabila pohon-pohonnya mempunyai tinggi sampai 1, 5 m dengan diameter < 10 cm.
3. Tingkat tiang, apabila pohon-pohonnya mempunyai diameter 10 cm - 19 cm.
4. Tingkat pohon inti, apabila pohon-pohonnya mempunyai diameter 20 cm- 49 cm.
5. Tingkat pohon besar, apabila pohon-pohonnya mempunyai diameter > 50 cm.
Menurut Dahlan (2004), hutan kota memiliki 6 fungsi yaitu: a. Fungsi penyehatan lingkungan (penyerap dan penjerap partikel logam industri dan transportasi, penyerap dan penjerap debu, mengurangi bahaya hujan asam, penyerap gas beracun, dan penyerap gas karbondioksida). b. Fungsi pengawetan (pelestarian plasma nutfah dan habitat satwa liar). c. Fungsi estetika (meningkatkan citra dan menutupi bagian kota yang kurang baik). d. Fungsi
penahan angin, penyerap dan penapis bau, mengatasi penggenangan, mengatasi intruisi air laut, mengamankan pantai dan membentuk daratan, mengatasi penggurunan ). e. Fungsi produksi (air tanah, kayu, kulit, getah, bunga, buah, madu). f. Fungsi lainnya ( identitas wilayah, pengelolaan sampah, pendidikan dan penelitian, mengurangi stress, penunjang rekreasi dan pariwisata, hobi dan 5 pengisi waktu luang, pertahanan dan keamanan, kekuatan magis, tempat berjualan, tempat pesta ).
Hutan kota merupakan komunitas pohon sebagai penyimpan karbon.
Hutan kota mempunyai peranan aktif sebagai carbon sink yang paling efektif sehingga dapat mengurangi peningkatan emisi karbon di atmosfer. Hutan dapat menstabilkan kadar karbon di atmosfir selama beberapa dekade sesuai dengan daurnya. Menurut Sedjo dalam (Tampubolon, 2000), satu hektar hutan dapat menjerap 6,24 ton karbon setiap tahun. Kapasitas penimbunan karbon suatu hutan sangat dipengaruhi oleh daur (umur), tipe, fungsi hutan, jenis dan tingkat pertumbuhan tanaman serta kualitas tapak. Hutan muda mempunyai tingkat penyerapan karbon yang lebih tinggi dibanding dengan hutan tua yang hanya mampu mengikat carbonstock saja. Jenis pohon yang cepat tumbuh (growing species) yang ditanam pada tapak yang berkualitas akan menghasilkan riap tinggi sehingga dapat mengikat karbon dalam jumlah tinggi dalam biomassanya.
Menurut Peraturan Menteri Kehutanan No.P.03/Menhut-V/2004 bagian ke-enam. 1) Hutan Kota itu sendiri dapat diartikan sebagai suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan yang bertumbuhan pohon-pohon yang kompak dan rapat di dalam wilayah perkotaan, baik pada tanah negara maupun tanah hak, yang ditetapkan sebagai hutan kota oleh pejabat yang berwenang. 2. Hutan kota merupakan bagian dari RTH (Ruang Terbuka Hijau) sesuai peruntukan dalam RTRW kabupaten/kota 3. Luas minimal adalah 0,25 hektar dalam satu hamparan yang kompak dan menyatu (hamparan yang menyatu) agar tercipta iklim mikro. 4.
Berada pada tanah negara atau tanah hak, sesuai persyaratan dalam PP No. 63 tahun 2002.
Karakteristik dan kesehatan pohon
Tanaman akan tumbuh dengan baik bila tanaman yang dipilih toleran dengan lingkungan tempat penanaman. Metode penanaman yang benar akan menyiapkan tempat yang menjamin dengan baik pertumbuhan akar dan tajuk.
Pemeliharaan yang tepat akan menjamin pertumbuhan dengan kecepatan yang normal, terhindar dari gangguan hama penyakit dan vandalisme. Sebaliknya jika faktor-faktor yang menentukan pertumbuhan tersebut tidak tepat, maka tanaman akan tumbuh lamban, tidak menampilkan sifat fisik yang diinginkan, dan bahkan tanaman akan sewaktu waktu tumbang (Nasrullah, 2005).
Pohon dikatakan sehat atau normal ketika pohon tersebut masih dapat menjalankan fungsi fisiologisnya. Sebaliknya, dikatakan tidak sehat apabila pohon yang secara struktural mengalami kerusakan baik secara keseluruhan ataupun sebagian pohon. Penyebab utama penyakit tumbuhan dapat berupa organisme hidup patogenik ataupun faktor lingkungan fisik (Karlinasari, 2010). Hasil evaluasi dan uji kehandalan indikator terdapat empat indikator yang sesuai untuk hutan tropis indonesia, meliputi produksi, biodiversitas, vitalitas dan kesehatan, dan kualitas tapak. Parameter yang digunakan untuk mengetahui indikator tersebut antara lain: pertumbuhan pohon, permudaan dan kematian, kondisi tajuk dan struktur, struktur vegetasi, biodiversitas, kerusakan tegakan karena pembalakan, kerusakan abiotik, hama dan penyakit, dan sosial ekonomi (Supriyanto, 2001).
Pertumbuhan dan hasil tumbuhan bergantung pada ketersediaan hara dan air didalam tanah tempat tumbuhan tersebut tumbuh, dan pada pemeliharaan dalam kisaran faktor-faktor lingkungan tertentu, seperti suhu, kelembaban dan cahaya. Sesuatu yang mempengaruhi kesehatan tumbuhan berkemungkinan besar juga akan mempengaruhi pertumbuhan dan produksinya, dan akan dapat menurunkan kegunaannya bagi manusia. Apabila tumbuhan diganggu oleh patogen atau oleh keadaan lingkungan tertentu dan salah satu atau lebih dari fungsi tersebut terganggu sehingga terjadi penyimpangan dari keadaan normal, maka tumbuhan menjadi sakit. Penyebab utama penyakit baik berupa organisme hidup patogenik (parasit) maupun faktor lingkungan fisik (fisiopath). (Yunasfi,
Forest Health Monitoring (FHM) merupakan kegiatan pemantauan hutan utnuk menganalisis kondisi tegakan (hutan) saat sekarang dan dimasa yang akan datang dan memberikan rekomendasi untuk perbaikan pengelolaannya. Kegiatan ini mengacu pada sistem USDA Forest health Monitoring Field Guide Methods yang telah mulai diadopsi oleh beberapa negara di Amerika maupun Asia (Tim Peneliti Pusbang Cepu, 2002).
Berdasarkan Forest Health Monitoring Field Methods Guide (monitoring metode pemantauan kesehatan pohon, ada 7 (tujuh) indikator utama yang digunakan dalam menilai kesehatan hutan, yaitu Nilai Hutan, Klasifikasi Kondisi Tajuk, Penentuan Kerusakan dan Kematian, Radiasi Aktif Fotosintesis, Struktur Vegetasi, Jenis-jenis Tanaman Bioindikator Ozon, dan Komunitas Lumut Kerak,.
Konsep penilaian kesehatan hutan menurut kerusakannya (Mangold, 1997) menilai kesehatan hutan berdasarkan kesehatan pohon penyusunnya, sedangkan kesehatan pohon dipengaruhi oleh kerusakan yang terjadi pada pohon tersebut.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kerusakan Pohon
Menurut Djafarudin (1996), secara alamiah yang termasuk pengganggu tanaman dapat dikelompokkan menjadi:
1. Pengganggu yang termasuk jasad hidup (organisme hidup-non biotis/ abiotis).
Hama ialah jasad pengganggu yang merupakan sejenis makhluk hidup yang termasuk kepada kelompok hewan atau binatang. Serangga dapat merusak tanaman dengan cara: a) memakan bagian tanaman dengan cara menggerek batang, ranting, buah atau biji; b) menghisap cairan sel-sel tanaman terutama daun; c) menyebabkan bengkak/ puru pada bagian tertentu;
d) menyebabkan kanker pada batang/ bagian berkayu; e) meletakkan telur pada bagian tanaman; mengambil bagian tanaman untuk dijadikan sarang dan f) menularkan jasad pengganggu.
Gulma yaitu jasad pengganggu yang merupakan sebangsa jenis tumbuhan tingkat tinggi yang bukan termasuk ke dalam penyebab penyakit biotis. Gulma bersifat mengganggu, merugikan merusak kalau ditinjau dari segi sifat dan keberadaannya.
2. Pengganggu yang bukan jasad hidup
Bencana alam lingkungan seperti banjir, erosi, kekeringan, longsor yang
disebabkan oleh faktor dan unsur iklim serta cuaca. Kekeliruan (yang bukan secara alamiah) yang secara tak langsung sebagai akibat tindakan kurang hati-hati atau kurang lengkapnya prasyarat tumbuh dan kesalahan budidaya. Penyakit khususnya penyakit biotis adalah penyakit yang disebabkan oleh sejenis makhluk hidup selain daripada hewan dan tumbuhan tingkat tinggi.
Penyakit terjadi jika pada satu waktu di satu tempat terdapat: 1) tumbuhan yang rentan; 2) patogen yang virulen dan 3) lingkungan yang sesuai. Penyakit tidak akan terjadi jika patogen yang virulen bertemu dengan bagian tumbuhan yang rentan, tetapi lingkungan tidak membantu perkembangan patogen dan tidak meningkatkan kerentanan tumbuhan. Patogen melakukan interaksi dengan tumbuhan inang. Patogen melakukan aksi, sedang tumbuhan inang mengadakan reaksi. Lingkungan, seperti kelembaban, suhu, sinar matahari dan hara tanah mempengaruhi tumbuhan inang maupun patogen. Interaksi ini sering digambarkan sebagai segitiga penyakit ” disease triangle” (Semangun, 1996).
Selain faktor patogen sebagai salah satu penyebab kerusakan pohon, serangan serangga, polusi udara, aktivitas manusia dan faktor biologi serta usia pohon yang makin meningkat diduga berperan pula menurunkan kualitas pohon.
Penurunan kualitas pohon ini dapat diketahui melalui tingkat kerusakan yang diderita pohon tersebut.
Menurut Widya (2005) faktor abiotik penyebab kerusakan pohon adalah faktor fisik dan kimia penyusun lingkungan tempat tumbuh yang tingkat keberadaannya tidak mendukung pertumbuhan atau perkembangan normal pohon penyusun hutan yang diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Suhu
Tiap jenis tumbuhan mempunyai kisaran persyaratan suhu yang dapat ditoleransi dalam pertumbuhannya. Perubahan suhu yang melampaui batas toleransi akan menyebabkan tumbuhan mengalami penyimpangan fisiologis dan dapat menyebabkan kematian.
2. Kelembaban
Saat kelembaban nisbi tinggi, penguapan dari tumbuhan menjadi rendah, sehingga dapat terjadi penghambatan penyerapan hara. Kekurangan hara ini dapat
3. Iklim
Pada hutan yang jenis tumbuhan penyusunnya merupakan jenis eksotik atau dibangun pada lahan-lahan marginal maka faktor iklim atau faktor tempat tumbuh dapat merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan tanaman. Bila faktor tersebut berada di atas atau di bawah batas kemampuan adaptasi tumbuhan maka dapat terjadi kerusakan fisiologis atau mekanis.
4. Unsur hara
Kerusakan tanaman dapat terjadi jika ketersediaan unsur hara dalam tanah tidak mencukupi jumlah yang diperlukan tumbuhan yang hidup di tempat tersebut. Selain itu kelebihan unsur hara juga mampu menyebabkan kerusakan pada tumbuhan akibat kerusakan sel secara langsung oleh unsur hara tertentu.
5. Polusi udara
Kerusakan tumbuhan oleh polutan pada umumnya meningkat seiring dengan peningkatan intensitas cahaya, kelembaban tanah dan kelembaban nisbi udara,suhu dan keberadaan polutan yang lain.
6. Kekurangan oksigen
Kondisi kekurangan oksigen di alam secara umum berasosiasi dengan kelembaban tanah atau suhu udara yang tinggi. Kombinasi antara kelembaban dan suhu tinggi dalam tanah atau udara menyebabkan kerusakan perakaran tumbuhan.
7. Cahaya
Kekurangan cahaya menghambat pembentukan klorofil dan merangsang pemanjangan ruas sehingga daun berwarna pucat, jaringan menjadi lemah dan daun serta bunga gugur lebih awal.
Tipe Kerusakan pohon
Miardini (2006), definisi kerusakan yang terdapat pada pohon dapat dideskripsikan sebagai berikut:
1. Kanker
Kanker mungkin dapat disebabkan oleh berbagai agen tetapi lebih sering disebabkan oleh jamur. Kulit kambium dimatikan dan diikuti dengan kematian kayu dibawah kulit. Matinya kayu di bawah kulit tersebut bisa disebabkan oleh agen penyebab kerusakan yang memang melakukan penetrasi hingga ke kayu. Hal
ini menimbulkan daerah jaringan yang mati akan semakin dalam dan luas atau membentuk gall yang disebabkan oleh jamur karat pada akar, batang atau cabang.
2. Busuk Hati
Tubuh buah pada batang utama, batang tajuk dan pada titik percabangan adalah indikator lapuk kayu ”Punky Wood” atau kayu gembol timbul bila ada lubang yang besarnya lebih dari lebar suatu pensil terjadi pada batang utama.
Kayu gembol merupakan petunujuk adanya jaringan kayu yang lunak, sering mengandung air dan mengalami degradasi. Suatu luka terbakar pada pangkal suatu pohon adalah juga merupakan indikator lapuk. Lubang (rongga) di dalam batang utama dari cabang tua adalah juga lapuk. Tunggak-tunggak lapuk yang terkait dengan regenerasi melalui trubus. Busuk ada dua macam penyebabnya, yaitu busuk kering dan busuk basah. Penyakit busuk ini meyerang akar, batang, kuncup dan buah. (Pracaya, 2003).
3. Luka Terbuka
Suatu luka atau serangkaian luka yang ditunjukkan dengan mengelupasnya kulit atau kayu bagian dalam telah terbuka dan tidak ada tanda lapuk lanjut.
Luka pangkasan yang memotong ke dalam kayu batang utama dikodekan sebagai luka terbuka, jika memenuhi nilai ambang tetapi luka-luka yang tidak mengganggu keutuhan kayu batang utama dikeluarkan (tidak termasuk).
4. Resinosis atau gumosis
Daerah resin atau gum (cairan) eksudasi pada cabang atau batang.
5. Batang patah kurang dari 0,91 m
Akar-akar putus di dalam karak/pada 0,91 m dari batang baik karena galian atau terluka sebagai contoh, akar-akar yang terluka pada suatu jalan, terpotong atau luka oleh binatang. Batang patah/ rusak pada daerah batang (di bawah dasar dari tajuk hidup dan pada pohon masih hidup).
6. Brum pada akar atau batang
Penyakit brum pada akar atau batang di tandai dengan munculnya tunas- tunas baru pada akar atau batang secara abnormal. Hal ini dapat menghambat proses penyaluran hasil metabolisme pohon sehingga pohon menjadi tidak sehat.
7. Akar patah atau mati
Akar yang dimasukkan kedalam kategori ini adalah akar-akar di luar 0,91 m dari batang yang terluka atau mati. Gejala penyakit ini dapat dilihat dari akar yang terlihat di permukaan tanah sesuai panjang akar yang rusak yang telah ditetapkan
8. Mati ujung
Gejala mati ujung adalah kematian dari ujung batang tajuk utama. Hal ini bisa disebabkan oleh salju, serangga, penyakit atau sebab-sebab lainnya.
9. Cabang patah atau mati
Gejala yang dapat dilihat langsung adalah cabang yang patah atau mati.
Cabang mati terdapat pada batang atau batang tajuk di luar daerah tajuk hidup tidak dikodekan.
10. Percabangan berlebihan atau brum di dalam darah tajuk hidup.
Brum adalah suatu gerombolan ranting yang padat, tumbuh di suatu tempat yang sama terjadi di dalam darah tajuk hidup. Termasuk struktur vegetatif dan organ yang bergerombol tidak normal.
11. Kerusakan kuncup daun atau tunas
Termakan serangga, terkerat atau daun terkeliat, kuncup atau tunas terserang > 50%, pada sekurang-kurangnya 30% dari daun, kuncup atau tunas.
12. Perubahan warna daun
Sekurang-kurangnya 30% dari daun yang terganggunya 50%. Daun terganggu harus lebih dari beberapa warna yang lain dari warna hijau. Jika pengamat tidak yakin bahwa warna daun itu hijau, maka anggaplah warna itu hijau dan bukan warna lain.
13. Lain-lain
Digunakan bila tidak ada penjelasan lain yang lebih sesuai. Misalkan ada kerusakan tanaman yang belum diketahui dan dapat dilakukan pengkajian lebih lanjut untuk mengetahui jenis kerusakan tesebut.
METODOLOGI PENELITIAN
Tempat dan Waktu
Penelitan ini dilakukan didua taman kota Binjai yaitu Taman Merdeka dan Taman Balita Kota Binjai. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan juni sampai Juli 2018.
Alat dan Bahan
Alat yang diperlukan pada penelitian ini adalah kamera, tallysheet, phiband, haga, alat tulis, MS Word dan MS Excel dan juga buku pengenalan identifikasi kerusakan pohon. Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah pohon-pohon yang ada di Taman Merdeka dan TamanBalita Kota Binjai.
Lokasi Penelitian
Letak geografis Binjai 03°03'40" - 03°40'02" LU dan 98°27'03" - 98°39'32" BT. Ketinggian rata-rata adalah 28 meter di atas permukaan laut.
Sebenarnya, Binjai hanya berjarak 8 km dari Medan bila dihitung dari perbatasan di antara kedua wilayah yang dipisahkan oleh Kabupaten Deli Serdang. Jalan Raya Medan Binjai yang panjangnya 22 km, 9 km pertama berada di dalam wilayah Kota Medan, Km 10 sampai Km 17 berada dalam wilayah Kabupaten Deli Serdang dan mulai Km 17 adalah berada dalam wilayah Kota Binjai.
Gambar 1. Peta lokasi penelitian di kota binjai Metode Penelitian
Metode untuk penilaian kesehatan pohon adalah Metode Forest Health Monitoring (FHM) (Mangold, 1997 ). Dalam menilai kesehatan pohon di gunakan tiga indikator yaitu, produktivitas pohon, kerusakan pohon, dan kondisi tajuk pohon. Metode pengambilan data di lakukan secara sensus. Metode analisis data yaitu deskriptif dan skoring berdasarkan pembobotan.
Prosedur Penelitian
Parameter yang diamati untuk setiap Indikator Kesehatan Pohon Identifikasi keragaman pohon dilakukan dengan mengumpulkan data jenis-jenis pohon yang terdapat pada taman kota dan pembuatan peta penyebaran pohon dilakukan dengan mengambil titik koordinat tiap pohon dengan menggunakan GPS.
Kerusakan yang dicatat pada masing-masing pohon yaitu maksimal tiga kerusakan. Ketika ada kerusakan yang berganda terjadi di tempat yang sama maka hanya kerusakan paling parah yang ditulis. Data kerusakan pohon yang digunakan
untuk mengetahui indikator kerusakan pohon adalah lokasi, tipe kerusakan dan nilai ambang batas keparahan. Data kerusakan pohon kemudian dimasukkan ke dalam tabel seperti pada Tabel 1.
Tabel 1. Tally Sheet Penilaian Kerusakan Pohon menurut metode FHM
Keterangan :
Xi : Lokasi Kerusakan.
Yi : Tipe kerusakan.
Zi : Kelas Keparahan Kerusakan.
a. Indikator Kerusakan Pohon
Penilaian kerusakan digunakan kriteria-kriteria berdasarkan metode FHM.
Data yang diperoleh dari penilaian kerusakan dihitung nilai indeks kerusakannya dengan kode dan bobot nilai indeks kerusakan (NIK). Hasil perhitungan akhir dapat diketahui NIK (Kelas sehat, kelas ringan, kelas sedang dan kelas berat).
∑
Keterangan:
NIK : Nilai Indeks Kerusakan pada level pohon Xi : Nilai bobot pada tipe kerusakan
Yi : Nilai bobot pada bagian/lokasi pohon yang mengalami kerusakan Zi : Nilai bobot pada keparahan kerusakan
No Jenis
Pohon Tinggi (m) Diameter (cm)
Kerusakan 1 Kerusakan 2 Kerusakan 3
Xi Y
i Zi X i
Y
i Zi X i
Y i Zi
Selanjutnya dapat diketahui kelas kerusakan pohon berdasarkan bobot nilai indeks dengan kriteria sebagai berikut:
Kelas sehat : 0 – < 5 Kelas kerusakan ringan : 6 – 10 Kelas kerusakan sedang : 11 – 15 Kelas kerusakan berat : 16 – > 21
Kode tipe kerusakan, bagian/lokasi kerusakan dan bobot pada keparahan kerusakan dapat dilihat pada Tabel 1, Tabel 2, dan Tabel 3. Bobot indeks
kerusakan dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 2. Kode dan lokasi kerusakan
Kode Keterangan
0 Sehat (Tidak ada kerusakan)
1 Akar (terbuka) dan tunggak (dengan tinggi 30 cm di atas permukaan tanah) 2 Akar dan batang bagian bawah
3 Bagian atas batang (setengah bagian bawah dari batang antara tunggak dan dasar tajuk hidup)
4 Bagian bawah dan bagian atas batang
5 Bagian atas batang (setengah bagian atas dari batang antara tunggak dan dasar tajuk hidup)
6 Batang tajuk (batang utama di dalam daerah tajuk hidup di atas dasar tajuk hidup)
7 Cabang (lebih besar 2.54 cm pada titik percabangan terhadap batang utama atau batang tajuk didalam daerah tajuk hidup)
8 Kuncup dan tunas (pertumbuhan tahun terakhir) 9 Daun
Sumber: USDA Forest Service (2001)
Setelah kode dan lokasi kerusakan di dapat sesuai dengan ketentuannya, maka ditentukan kode dan kelas keparahan kerusakan pohon. Kelas keparahan kerusakan pohon bergantung pada banyaknya area yang terserang tipe penyakit tersebut.
Tabel 3. Kode dan tipe kerusakan
No Tipe Kerusakan Kelas keparahan
(10% - 99%)
Kode tipe kerusakan
1 Kanker, gol (puru) 20% 1
2 Busuk Hati, Tubuh buah (badan buah), dan indikator lapuk lanjut
Nihil* 2
3 Luka Terbuka 20% 3
4 Eksudasi (Resinosis dan gumosis 20% 4
5 Batang patah kurang dari 0.91 cm Nihil* 11
6 Brum pada akar atau batang Nihil* 12
7 Akar patah atau mati kurang dari 0.91 cm 20% 13
8 Hilangnya ujung dominan (mati ujung) 1% 21
9 Cabang patah atau mati 20% 22
10 Brum pada cabang atau daerah dalam tajuk
20% 23
11 Kerusakan daun 20% 24
12 Daun berubah warna (tidak hijau) 30% 25
Sumber: USDA Forest Service (2001)
Berdasarkan kode pada tipe kerusakan yang telah didata dapat ditentukan kode dan lokasi kerusakan pada pohon tersebut. Lokasi kerusakan yang ditemukan pasti akan sejalan dengan jenis atau tipe kerusakannya.
Tabel 4. Kode dan kelas keparahan kerusakan
Kode Kelas (%)
0 01-09
1 10-19
2 20-29
3 30-39
4 40-49
5 50-59
6 60-69
7 70-79
8 80-89
9 90-99
Sumber: USDA Forest Service (2001)
Dari ketiga tabel diatas yakni tipe kerusakan, lokasi kerusakan dan kelas keparahan kerusakan dapat dihitung bobot indeks kerusakannya. Nilai yang didapat kemudian dapat digabungkan dengan nilai paramater penilaian kesehatan pohon lainnya.
Tabel 5. Bobot indeks kerusakan pohon
No Tipe Kerusakan Lokasi Kerusakan Kelas Keparahan
Kode Bobot Kode Bobot Kode Bobot
1 1 1,9 0 1,5 0 1,5
2 2 1,7 1 2 1 1,1
3 3 1,5 2 2 2 1,2
4 4 1,5 3 1,8 3 1,3
5 11 1,6 4 1,8 4 1,4
6 12 1,3 5 1,6 5 1,5
7 13 1 6 1,2 6 1,6
8 21 1 7 1 7 1,7
9 22 1 8 1 8 1,8
10 23 1 9 1 9 1,9
11 24 1
12 25 1
Sumber : USDA Forest Service (2001)
Pencatatan kerusakan pohon dilakukan sebanyak jumlah kerusakan pohon yang terjadi dan dimulai dari lokasi dengan kode terendah.Kerusakan yang tidak memenuhi nilai ambang akan diberi nilai “0” pada tingkat keparahannya. Apabila terdapat kerusakan ganda pada lokasi yang sama, maka semua kerusakan tetap dicatat supaya tingkat keparahannya dapat diperkirakan secara tepat. Kerusakan yang tidak memenuhi nilai ambang akan diberi nilai “0” pada tingkat keparahanya. Apabila terdapat kerusakan ganda pada lokasi yang sama, maka semua kerusakan tetap dicatat supaya tingkat keparahannya dapat diperkirakan secara tepat. Indeks kerusakan kemudian diperhitungkan pada tingkat pohon (TDLI) = [lokasi 1 * tipe 1 * keparahan 1] + [lokasi 2 * tipe 2 * keparahan 2] +
…. + [lokasi x * tipe x * keparahan x]. Jika nilai TDLI yang terjadi semakin tinggi menunjukkan bahwa kondisi tingkat kerusakan pohon yang semakin parah.
b. Indikator Kondisi Tajuk
Pertumbuhan pohon dapat diketahui dengan mengukur diameter pohon yakni penambahan diameter pohon dari waktu ke waktu. Diameter pohon diukur pada ketinggian 1.3 m di atas permukaan tanah (dbh). Pohon yang memiliki diameter 20 cm atau lebih dikategorikan sebagai pohon. Dari data diameter dapat digunakan untuk menentukan nilai LBDS (Luas Bidang Dasar). LBDS dapat menggambarkan tingkat pertumbuhan atau produktivitas pohon dari waktu ke waktu.
LBDS dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
LBDS = x π x D2 Keterangan:
LBDS: Luas bidang dasar per pohon Π : konstanta (3,14)
D : Diameter setinggi dada (dbh)
Parameter-parameter kondisi tajuk pohon yang diukur berdasarkan metode FHM yaitu sebagai berikut :
- Rasio tajuk hidup (Live Crown Ratio-LCR), yaitu tinggi tajuk yang tertutup terhadap tinggi total pohon. Mengukur tinggi pohon pada batas pucuk ranting yang berdaun sebagai „TT‟ menggunakan hagameter.
Mengukur TTBC sebagai „Ttj‟ menggunakan hagameter dan menghitung rasio tajuk hidup dengan rumus LCR = × 100%.
- - Gambar 2. Pengukuran rasio tajuk hidup -
- Kerapatan tajuk (Crown density-Cden), yaitu persentasi cahaya matahari yang tertahan oleh tajuk untuk tidak mencapai permukaan tanah. Cden dihitung dengan menggunakan kartu skala kerapatan tajuk.
- - Gambar 3. Kartu skala kerapatan tajuk
- Tranparansi tajuk (Foliage Transparancy-FT), yaitu persentasi cahaya matahari yang dapat melewati tajuk dan mencapai permukaan tanah. FT dihitung dengan menggunakan kartu skala transparansi tajuk.
- - Gambar 4. Kartu skala transparansi tajuk
- Diameter tajuk (Crown Diameter Width dan Crown Diameterat 90o), yaitu nilai rata-rata dari pengukuran panjang dan lebar tajuk pohon yang bersangkutan. CDW dihitung berdasarkan pengukuran panjang dan lebar tajuk terluar menggunakan meteran. Estimasi posisi tajuk terluar dengan dengan cara memproyeksikan tajuk terluar secara vertikal pada titik diameter terlebar.
Gambar 5. Penentuan diameter tajuk
- Crown Dieback (CDB), yaitu cabang dan ranting yang baru saja mati dimana bagian yang mati dimulai dari bagian ujung kemudian merambat ke bagian pangkal.
Pengukuran tinggi tajuk harus dilakukan dengan hati-hati, terutama pada tegakan dengan kerapatan tinggi, karena sulit membedakan antara tajuk pohon yang diamati dengan pohon yang tidak. Penilaian parameter kondisi tajuk didasarkan pada tiga kategori kondisi tajuk, yaitu nilai 3 untuk kondisi tajuk yang bagus; 2 untuk kondisi parameter tajuk sedang; dan 1 untuk kondisi parameter tajuk yang jelek.
Tabel 6. Kriteria kondisi tajuk ( Putra ,2004)
Parameter Klasifikasi
Baik (Nilai=3) Sedang (Nilai=2) Jelek (Nilai=1)
Nisbah tajuk hidup ≥ 40% 20 – 35% 5 – 15%
Kerapatan tajuk ≥ 55% 25 – 50% 25 – 50%
Tranparansi tajuk 0 - 45% 50 – 70% ≥ 75 %
Dieback 0 - 5% 10 – 25% ≥ 30 %
Diameter tajuk ≥ 10,1 m 2,5 – 10 m ≥ 2,4 m
Semua parameter pengukuran kondisi tajuk pohon digabungkan kedalam peringkat penilaian penampakan tajuk (Visual Crown Rating-VCR) untuk masing- masing pohon. VCR memiliki nilai 1, 2, 3 dan 4 tergantung kepada besaran nilai pengamatan setiap parameter kondisi tajuk.
Tabel 7. Nilai peringkat Visual Crown Rating (VCR) individu pohon (Putra 2004) Nilai VCR Kriteria
4 Seluruh parameter bernilai 3, atau hanya 1 parameter memiliki nilai 2; tidak ada parameter bernilai 1.
3 Lebih banyak kombinasi antara nilai 3 dan 2 pada parameter tajuk, atau semua bernilai 2; tetapi tidak ada parameter bernilai 1.
2 Setidaknya 1 parameter bernilai 1, tetapi tidak semua parameter.
1 Semua parameter kondisi tajuk bernilai 1.
c. `Tingkat Kesehatan Pohon
Penentuan tingkat kesehatan hutan kota didapatkan berdasarkan nilai skor yang diperoleh dari penentuan nilai selang (interval) terhadap nilai setiap parameter pengamatan yakni produktivitas, kerusakan pohon dan kondisi tajuk yang mewakili indikator kesehatan pohon. Semakin tinggi nilai skor menunjukkan tingkat kesehatan yang semakin tinggi. Adapun pembagian nilai skoring adalah sangat sakit (0-5), sakit (6-11), kurang sehat (12-17), sehat (18-23) dan sangat sehat (24-30).
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Taman Merdeka Kota Binjai
A.1. Sebaran dan Struktur Jenis Pohon pada Taman Merdeka Kota Binjai (Peta sebaran)
Gambar 6. Peta sebaran pohon Taman Merdeka Kota Binjai
1. Sebaran Jenis Pohon di Taman Merdeka Kota Binjai
Terdapat 15 jenis pohon yang tumbuh di taman Merdeka kota Binjai yaitu, Mahoni (swietenia macrophylla), Saga (Adenanthera pavonina), Akasia (Acacia mangium), Dadap merah (Erythrina cristagali), Ketapang kencana (Terminalia mantali), Kersen (Muntingia calabura), Krei payung (Filicium deficiens), Mangga (Mangifera indica), Ketapang (Terminalia catapa), Matoa (Pometia pinatta), Tanjung (Mimisop elengi), Beringin putih (Verigata benzamina), Angsana (Pterocarpus indicus), Pulai (Alstonia scholaris) dan Karet hutan (Havea brasliensis) yang mana terdapat jumlah pohon secara keseluruhan 86 individu pohon, dimana terdapat 51% individu jenis pohon Mahoni dan 49%
jenis individu pohon Saga. Diameter terbesar pada taman Merdeka didapat kan dengan nilai 115 cm yaitu pada pohon jenis Akasia (Accacia mangium) dan yang terkecil didapati dengan nilai 21 cm pada pohon Mangga (Mangifera indica) dengan rata-rata diameter pohon sebesar 45,44 cm. Adapun nilai Produktivitas tertinggi terdapat pada pohon Akasia ( Accacia Mangium ) dengan nilai sebesar 1038,62 cm2 dan yang terendah pada pohon Mangga ( Mangifera Indica ) yaitu dengan nilai 346,85 cm2.
2. Indikator Produktivitas Pohon di Taman Merdeka Kota Binjai
Gambar 7. Luas bidang dasar pohon pada Taman Merdeka Kota Binjai
Produktivitas pohon merupakan salah satu indikator untuk melihat pertumbuhan suatu jenis pohon. Pertumbuhan ini diukur dengan cara mencari diameter pohon tersebut. Diameter dicari berfungsi untuk mencari salah satu parameter dalam penilaian dari laju pertumbuhan suatu pohon. Diameter pohon diukur secara sensus untuk mengetahui perubahan dan mengetahui kecenderungan dari suatau tegakan pohon tersebut. Tinggi rendahnya tingkat produkivitas pohon mempengarhi tingkat kesehetan dan keberhasilan dalam pengelolaan hutan tersebut.Jika dilihat dari pengukuran individu pohonnya, produktivitas pohon
0 41
15
7 7 5 3 2 1 4
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45
jumlah pohon
Luas Bidang Dasar
luas bidang dasar Taman Merdeka Binjai
Tabel 8. Hasil inventarisasi pohon pada Taman Merdeka Kota Binjai
No Jenis Pohon Nama Latin Tinggi Pohon Diameter Batang
1 Mahoni Swietenia macrophylla 14 73
2 Saga Adenanthera pavonina 13 81
3 Saga Adenanthera pavonina 6 25
4 Saga Adenanthera pavonina 10 38
5 Saga Adenanthera pavonina 12 47.5
6 Saga Adenanthera pavonina 9 31.5
7 Saga Adenanthera pavonina 13 72.5
8 Mahoni Swietenia macrophylla 16 106
9 Akasia Acacia mangium 14 79
10 Saga Adenanthera pavonina 12 47.5
11 Mahoni Swietenia macrophylla 11 50
12 Mahoni Swietenia macrophylla 14 49.5
13 Mahoni Swietenia macrophylla 14 64.5
14 Mahoni Swietenia macrophylla 14 84.5
15 Mahoni Swietenia macrophylla 12 47
16 Dadap Merah Erythrina christagali 6 25
17 Saga Adenanthera pavonina 7 25
18 Dadap Merah Erythrina christagali 8 28
19 Dadap Merah Erythrina christagali 6 25
20 Ketapang Kencana Terminalia mantali 10 30.5
21 Pohon Kersen Muntingia calabura 8 22
22 Akasia Adenanthera pavonina 11 28
23 Ketapang Kencana Terminalia mantali 12 33
24 Mahoni Swietenia macrophylla 15 88
25 Krei Payung Filicium defeciens 13 40
26 Akasia Acacia mangium 10 115
27 Ketapang Kencana Terminalia mantali 8 25
28 Mangga Mangifera indica 7 30
29 Mahoni Swietenia macrophylla 6 32.5
30 Mangga Mangifera indica 6 21.5
31 Mangga Mangifera indica 8 28
32 Mangga Mangifera indica 9 21
33 Mangga Mangifera indica 7 26
34 Mangga Mangifera indica 11 41
35 Saga Adenanthera pavonina 12 44.5
36 Dadap Merah Erythrina christagali 7 24.5
37 Dadap Merah Erythrina christagali 7 24
38 Mahoni Swietenia mcrophylla 8 24
39 Saga Adenanthera pavonina 10 25.5
40 Saga Adenanthera pavonina 8 40
41 Mahoni Swietenia macrophylla 10 30
42 Saga Adenanthera pavonina 12 23.5
Lanjutan
43 Mahoni Swietenia macrophylla 11 53
44 Mahoni Swietenia macrophylla 16 25
45 Mahoni Swietenia macrophylla 12 93
46 Saga Adenanthera pavonina 10 30.5
47 Mahoni Swietenia macrophylla 12 35.4
48 Saga Adenanthera pavonina 14 68
49 Saga Adenanthera pavonina 8 62.5
50 Saga Adenanthera pavonina 8 23.5
51 Saga Adenanthera pavonina 11 66
53 Saga Swietenia macrophylla 13 93
53 Saga Adenanthera pavonina 10 35
54 Mahoni Swietenia macrophylla 12 71
55 Saga Adenanthera pavonina 12 53
56 Ketapang Terminalia catappa 8 21
57 Saga Adenanthera pavonina 10 36.5
58 Mahoni Swietenia mahagoni 10 28
59 Saga Adenanthera pavonina 12 50
60 Mahoni Swietenia macrophylla 10 62
61 Saga Adenanthera pavonina 9 32
62 Saga Adenanthera pavonina 8 34
63 Matoa Pometia pinnata 9 21
64 Tanjung Mimisop elengi 9 24
65 Tanjung Mimisop elengi 8 26
66 Beringin Putih Verigata benzamine 6 25
67 Mahoni Swietenia macrophylla 13 72
68 Ketapang Kencana Terminalia mantaly 6 28
69 Saga Adenanthera pavonina 12 28
70 Saga Adenanthera pavonina 13 48
71 Angsana Pterocarpus indicus 15 85
72 Mahoni Swietenia macrophylla 12 72
73 Ketapang Kencana Terminalia mantaly 10 27
74 Ketapang Kencana Terminalia mantaly 10 26
75 Pulai Alstonia scholaris 8 28
76 Pulai Alstonia scholaris 8 29
77 Saga Adenanthera pavonina 13 61
78 Mahoni Swietenia macrophylla 12 48
79 Saga Adenanthera pavonina 9 23
80 Mahoni Swietenia macrophylla 14 93
81 Mahoni Swietenia macrophylla 16 96
82 Mahoni Swietenia macrophylla 13 65
83 Mahoni Swietenia macrophylla 10 53
84 Karet Hutan Hevea brasliensis 9 48
Berdasarkan Gambar 3 dan Tabel 8 diatas diketahui bahwa diameter paling besar adalah produktivitas paling tinggi adalah 9478,087-10381,63 sebanyak 41 pohon dan produktivitas yang paling rendah adalah 346,19-1349,734.
Nilai LBDS dipengaruhi oleh luasan dan tingkat kerapatan tegakan. Semakin tinggi nilai LBDS nya maka umur pohon tersebut semakin tua pula.
Tabel 9. Pembobotan skoring produktivitas pohon Taman Merdeka Kota Binjai
Diantara ketiga taman tersebut taman Merdeka Binjai inilah yang paling banyak terdapat pohonya dan cukup rindang dibandingkan dengan kedua taman yang lainya,sehingga taman kota ini lebih digemari oleh pengunjung dibandingkan dengan dua taman syg lainya dikarenakan pohonya yang cukup banyak dan cukup rindang yang membuat para pengunjung lebih nyaman dan lebih betah dan kesehatan pohonya lebih terjaga .
Tabel 10.Status skoring produktivitas pohon di Taman Merdeka Kota Binjai
No Jenis Pohon Nama Latin LBDS skoring Keterangan 1 Mahoni Swietenia macrophylla 4183.27.00 4 sakit
2 Saga Adenanthera pavonina 5150.39.00 5 kurang sehat
3 Saga Adenanthera pavonina 490.63 1 sangat sakit
4 Saga Adenanthera pavonina 1133.54.00 1 sangat sakit 5 Saga Adenanthera pavonina 1771.16.00 1 sangat sakit
6 Saga Adenanthera pavonina 778.92 1 sangat sakit
7 Saga Adenanthera pavonina 4126.16.00 4 sakit 8 Mahoni Swietenia macrophylla 8820.26.00 9 sangat sehat
9 Akasia Acacia mangium 4899.19.00 5 kurang sehat
10 Saga Adenanthera pavonina 1771.16.00 1 sangat sakit 11 Mahoni Swietenia macrophylla 1962.50.00 2 sangat sakit 12 Mahoni Swietenia macrophylla 1923.45.00 2 sangat sakit 13 Mahoni Swietenia macrophylla 3265.80 3 sakit
Kelas LBDS Skore Keterangan
9478,087-10381,63 10 Sangat Sehat
8374.087-9378,086 9
7370,999-8374,086 8 Sehat
6367,454-7370,998 7
5363,92-6367,454 6 Kurang sehat
4360,467-5363,91 5
3356,823-4360,366 4 Sakit
2353,279-3356,822 3
1349,735-2353,278 2 Sangat Sakit
346,19-1349,734 1