1. PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang
Mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh perusahaan, sehingga perusahaan dituntut untuk terus-menerus meningkatkan produksi secara efektif dan efisien. Hal ini tentu saja tidak dapat dipisahkan dari aktivitas pendanaan. Aktivitas pendanaan tercermin dalam struktur modal suatu perusahaan yang merupakan komposisi perubahan utang, perubahan ekuitas, maupun perubahan laba ditahan.
Leverage adalah aktivitas pendanaan yang menggunakan biaya tetap (Huyghebaert, 2006). Leverage merupakan pilihan, tidak ada perusahaan yang dituntut untuk melakukan utang. Perusahaan dapat membiayai operasi dan pengeluaran modal dari sumber internal dan penerbitan saham. Leverage digunakan dengan harapan dapat meningkatkan pengembalian kepada pemegang saham.
Dittmar (2004) menunjukkan bahwa utang adalah salah satu alat yang digunakan oleh perusahaan untuk meningkatkan modal dan keuntungan. Tongurai (2015), mengatakan leverage positif terjadi ketika perusahaan memperoleh dan memanfaatkan dana yang lebih besar dari pengorbanan biaya tetap yang dibayarkan. Leverage dapat meningkatkan harga saham perusahaan selama periode peningkatan pendapatan operasional tetapi juga menambah risiko bagi pemegang saham dan kreditur karena adanya tambahan kewajiban bunga.
Keputusan struktur modal terutama dalam kebijakan utang suatu perusahaan harus dilakukan secara tepat sesuai dengan keadaan keuangan perusahaan.
Financial distress, likuidasi, dan kebangkrutan merupakan hasil akhir yang terjadi akibat dari kelalaian pertimbangan keputusan struktur modal (Suhaila dan Wan Mahmood, 2008). Untuk itu diperlukan ketepatan dalam pengambilan keputusan struktur modal, baik utang jangka pendek, utang jangka panjang maupun utang secara keseluruhan oleh manajer keuangan. Besarnya jumlah utang pada struktur modal akan menentukan tingkat leverage perusahaan.
Penelitian ini menggunakan rasio total debt leverage, short-term leverage dan long-term leverage sebagai indikator leverage perusahaan. Indikator ini juga digunakan pada penelitian Ezeoha (2008) untuk melihat pengaruh firm size
terhadap leverage pada perusahaan yang tercatat di Nigeria Stock Markets pada periode 1990-2006.
Firm size menjadi salah satu variabel penting yang digunakan dalam menjelaskan tingkat leverage perusahaan. Perusahaan besar lebih terdiversifikasi dan lebih mudah mengakses pendanaan melalui pasar modal (Pandey, 2004).
Sedangkan, biaya penerbitan saham dan obligasi membatasi perusahaan kecil dalam mengakses pendanaan dalam pasar modal karena keterbatasan dana (Ezeoha, 2008). Oleh sebab itu, besar kecil perusahaan berpengaruh terhadap keputusan penggunaan utang atau leverage. Banyak penelitian telah memperjelas bahwa firm size memiliki pengaruh signifikan dengan terhadap leverage (Berges Lobera dan Maravall Herrero, 1985; Crutchley Hansen, 1989; Gaver dan Gaver, 1993;
Mene´ndez Requejo, 1999)
Menurut Antoniou et al. (2002), mengatakan firm size adalah ukuran dari suatu perusahaan yang dilihat dari penjualan perusahaan. Dalam hal ini penjualan harus lebih besar dari pada biaya variabel dan biaya tetap, maka akan diperoleh jumlah pendapatan sebelum pajak. Jika penjualan perusahaan lebih kecil daripada biaya variabel dan biaya tetap, maka perusahaan akan menderita kerugian.
Perusahaan dengan penjualan yang relatif stabil dapat memperoleh lebih banyak utang dan dapat menanggung beban tetap yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang penjualannya tidak stabil. (Brigham & Houston, 2001)
Ukuran sebuah perusahaan sering kali menentukan reputasi dan citranya di mata masyarakat, Perusahaan dengan ukuran besar seperti Indofood sudah dikenal oleh masyarakat dan memiliki citra yang baik dalam pasar mie instan dalam 20 tahun terakhir Indofood telah bertransformasi menjadi sebuah perusahaan ‘Total Food Solutions. dengan kegiatan operasional yang mencakup seluruh tahapan proses produksi makanan, mulai dari produksi dan pengolahan bahan baku hingga menjadi produk akhir yang tersedia di pasar. Kini Indofood dikenal sebagai perusahaan terkemuka di setiap kategori bisnisnya. Pada tahun 2013 Indomie mendominasi sekitar 70% dalam pasar mie instan “Mi Instan Kontribusi Terbesar Laba Indofood”, (November 28, 2013). dengan laba netto penjualan sebesar Rp.
55,62 triliun, Rp. 63,59 triliun pada tahun 2014, Rp. 64,06 triliun pada tahun 2015, Rp. 66,66 triliun pada tahun 2016 dan Rp. 70,19 triliun pada tahun 2017. Dengan
besarnya penggunaan utang yang dilakukan Indofood pada tahun 2013 yaitu 4,62 triliun, sebesar 5,06 triliun pada tahun 2014, sebesar 5,97 trilin 5,99 triliun pada tahun 2017 dan sebesar 9,95 triliun pada tahun 2017. Hal ini menunjukan bahwa besar dan kestabilan penjualan perusahaan sebagai citra dari perusahaan dalam memperoleh utang.
Baik atau buruknya citra sebuah perusahaan akan memberikan pengaruh kepada kreditur dalam memberi pinjaman kepada perusahaan. Perusahaan dengan penjualan yang stabil dapat memperoleh lebih banyak, karena dianggap lebih kredibel dibandingkan perusahaan dengan penjualan tidak stabil.
Perusahaan dengan citra yang baik pada umumnya merupakan perusahaan dengan ukuran besar dan perusahaan yang terdiversifikasi, perusahaan ini memiliki penjualan yang relatif stabil dengan jangkauan konsumen yang luas. Sesuai dengan signaling theory, semakin besar perusahaan, semakin banyak informasi yang diharapkan tersedia tentang perusahaan, yang mengurangi asimetri informasi di pasar. Informasi ini akan memberikan sinyal kepada masyarakat maupun kreditur mengenai dan citra perusahaan, yang berdampak kepada kemudahan dan kesulitan sebuah perusahaan dalam mendapatkan pinjaman, sehingga akan mempengaruhi keputusan pendanaan perusahaan dalam menggunakan utang
Graham dan Harvey (2002) melakukan survei terhadap praktik pembiayaan 4.440 perusahaan dan hasilnya menunjukkan bahwa firm size berpengaruh signifikan terhadap leverage. Perusahaan besar memiliki peluang investasi yang lebih tinggi dan memiliki kebutuhan uang tunai yang lebih tinggi daripada perusahaan yang kecil (Dittmar, 2004). Ketika sebuah perusahaan bertumbuh dalam penjualan yang menjadi proksi firm size, kemampuannya untuk meminjam meningkat, sehingga rasio leverage juga meningkat.
Dalam penelitian ini, untuk melihat pengaruh lebih jelas antara firm size terhadap leverage maka digunakan tiga variabel kontrol. Ketiga variabel kontrol ini, antara lain Asset tangibility, Profitabilitas dan Firm Age.
Asset tangibility menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kemudahan dalam melakukan leverage. Asset tangibility dianggap mewakili jaminan riil atau tangible yang dapat ditawarkan kepada kreditor untuk memperoleh utang. Karena itu, pentingnya aset tersebut di antara total aset mempengaruhi tingkat utangnya,
yang meningkat seiring dengan peningkatan jaminan yang ditawarkan oleh perusahaan untuk memenuhi kewajibannya yang timbul dari utang (Mato, 1990;
Chung, 1993; Rajan dan Zingales, 1995). Hal ini juga sejalan dengan penelitian Padron et al. (2005), Asset Tangibility adalah aset berwujud dari suatu perusahaan yang dianggap dapat mewakili jaminan yang dapat ditawarkan kepada kreditur.
Oleh karena itu, aset berwujud akan mempengaruhi tingkat utang. Semakin besar utang yang dimiliki, semakin besar pula jaminan yang harus ditawarkan oleh perusahaan untuk memenuhi kewajiban perusahaan yang berasal dari utang tersebut.
Variabel kontrol kedua yang dipakai dalam penelitian ini adalah profitabilitas. Profitabilitas menjadi salah satu faktor internal yang turut mempengaruhi leverage. Profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Profitabilitas yang tinggi memungkinkan perusahaan untuk menahan labanya lebih besar. Sesuai dengan pecking order theory dengan laba ditahan yang besar, perusahaan akan lebih memilih menggunakan laba ditahan terlebih dahulu daripada menggunakan utang.
Variabel ketiga dalam penelitian ini adalah firm age atau umur perusahaan.
Umur perusahaan salah satu faktor yang juga mempengaruhi leverage, Umur perusahaan adalah lamanya sebuah perusahaan berdiri, berkembang dan bertahan dihitung dari akta pendiriannya. Menurut Beatty (1989), menyatakan bahwa perusahaan yang sudah lama berdiri, kemungkinan sudah banyak pengalaman yang diperoleh. Semakin lama umur perusahaan, semakin banyak informasi yang telah diperoleh masyarakat tentang perusahaan tersebut. Oleh sebab itu perusahaan yang berumur akan lebih memilih menggunakan utang karena para kreditor sudah percaya terhadap perusahaan tersebut.
Di Indonesia, berikut ini beberapa contoh perusahaan manufaktur
Gambar 1.1 Gambar Size dan Leverage Perusahaan manufaktur
Dapat dilihat pada gambar, bahwa size PT. Eterindo Wahanatama Tbk (ETWA) , PT. Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS), PT Mustrika Ratu Tbk MRAT, PT Prima Alloy Steel Universal (PRAS), dan PT. Holcim Indonesia Tbk (SMCB) mengalami penurunan pada saat leverage perusahaan tersebut mengalami peningkatan dan mengalami peningkatan size pada saat leverage perusahaan mengalami penurunan yang ditunjukan oleh PT SLJ Global Tbk (SULI). Hal ini menunjukan bahwa firm size mempengaruhi leverage suatu perusahaan. Semakin besar firm size maka perusahaan akan cenderung mengurangi leverage-nya, begitu juga sebaliknya semakin kecil firm size maka perusahaan akan cenderung menambah leverage-nya. Perusahaan yang digunakan pada fenomena ini hanya digunakan sebagai contoh, namun tidak menjadi sampel dalam penelitian ini dikarenakan beberapa perusahaan tidak memiliki informasi yang lengkap terkait variabel penelitian yang digunakan.
Penelitian ini dilakukan pada perusahaan terbuka yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada sektor manufaktur periode 2013 hingga 2017. Pemilihan sektor manufaktur dikarenakan sektor manufaktur merupakan salah satu sektor yang paling dominan dalam menggerakkan roda perkonomian Indonesia dengan kontribusi sebesar 21% terhadap PDB Indonesia. Sebagai sektor yang paling dominan dalam bursa efek Indonesia, penting untuk memperhatikan sektor ini agar tetap berkontribusi pada perekonomian Indonesia. Perusahaan dalam sektor
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1
Size dan Leverage perusahaan manufaktur
leverage size
manufaktur memiliki karakteristrik tersendiri, antara lain unit bisnis dari sektor manufaktur adalah memproduksi dan menjual barang jadi. sehingga penjualan berperan penting dalam sektor manufaktur. Produktivitas dan peningkatan kapasitas produksi menjadi tujuan yang utama menyebabkan perusahaan sektor manufaktur berpotensi memiliki aset berwujud yang lebih banyak dibandingkan sektor lainnya. Oleh sebab itu, penelitian ini menggunakan sektor manufaktur, sedangkan pemilihan periode penelitian dikarenakan, adanya program akselerasi industrialisasi. Yakni, mendorong pertumbuhan sektor industri sebagai katalis utama dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Program ini dimulai tahun 2012, namun baru efektif pada tahun 2013. Sehingga pemilihan periode penelitian ini dimulai 2013 dan berakhir pada tahun 2017 dikarenakan keterbatasan data.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka permasalahan dalam penelitian ini adalah:
1. Apakah firm size berpengaruh signifikan terhadap leverage pada perusahaan manufaktur ?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengaruh firm size terhadap leverage pada perusahaan manufaktur
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat untuk berbagai kalangan di bawah ini:
1. Bagi ilmu pengetahuan
Sebagai referensi dan menanmbah pemahamanan mengenai pengaruh firm size terhadap leverage
2. Bagi manajemen
Memberikan informasi dan dapat digunakan sebagai acuan atau pertimbangan bagi perusahaan atau manajemen dalam menentukan kebijakan utang atau leverage secara optimal