• Tidak ada hasil yang ditemukan

TRI MANDALA: LANDSCAPE PEMBANGUNAN PARIWISATA BUDAYA DI BALI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TRI MANDALA: LANDSCAPE PEMBANGUNAN PARIWISATA BUDAYA DI BALI"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1

TRI MANDALA:

LANDSCAPE PEMBANGUNAN PARIWISATA BUDAYA DI BALI Dr. Ir. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, M.Si

A. Pendahuluan

Ketergantungan Bali terhadap industri pariwisata begitu kuat dan tidak diragukan lagi menjadi penggerak utama perekonomian daerah. Sektor pariwisata memang cukup menjanjikan untuk meningkatkan pendapatan daerah, dan juga secara pragmatis dapat menggerakkan perekonomian masyarakat. Data yang dihimpun dari Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Bali Tahun 2016 menunjukkan bahwa sektor pariwisata memberikan kontribusi sekitar 68 % terhadap perekonomian Bali secara makro. Artinya, industri pariwisata berimplikasi luas terhadap ketahanan ekonomi masyarakat Bali dan karenanya perlu mendapatkan perhatian secara serius dan sungguh-sungguh dari berbagai pihak.

Berbeda dengan industri barang dan jasa yang lain, justru industri pariwisata memiliki karakter yang unik dan multi-interaksional. Menurut Sunaryo (2001), setidak-tidaknya dalam industri pariwisata terlibat tiga interaksi secara holistik, yaitu interaksi bisnis, interaksi politik, dan interaksi kultural. Interaksi bisnis berkaitan erat dengan kegiatan ekonomi sebagai basis material industri pariwisata yang dapat diukur dan dikuantifikasi dengan indikator-indikator tertentu. Interaksi politik bertalian dengan kinerja pemerintahan, situasi politik dan keamanan, serta hubungan antar- bangsa dalam lingkup regional dan internasional. Sementara itu, interaksi kultural berhubungan dengan kehidupan sosio-kultural masyarakat tempat berlangsungnya industri pariwisata tersebut. Pembangunan dan pengembangan industri pariwisata harus mempertimbangkan ketiga interaksi tersebut agar keberadaannya benar-benar fungsional bagi masyarakat.

Pembangunan dan pengembangan industri pariwisata di Bali tentunya juga harus mempertimbangkan ketiga interaksi tersebut, terutama pada faktor kultural yang begitu dominan dalam kehidupan masyarakat Bali. Kebudayaan Bali tumbuh dari jiwa agama Hindu yang tidak dapat dipisahkan dari keseniannya dalam masyarakat yang bercirikan sosial religius (Mantra, 1996:2). Ini menegaskan bahwa seni, budaya, dan agama Hindu adalah satu kesatuan yang membangun kebudayaan Bali secara utuh dan menyeluruh. Berkenaan dengan hal tersebut, dominannya faktor kultural ini telah

(2)

2

melahirkan gagasan besar ”pariwisata budaya” (culture tourism) sebagai pola dasar pembangunan pariwisata Bali. Dalam gagasan ini, kebudayaan Bali menjadi modal dasar pembangunan pariwisata yang berfungsi secara normatif dan operasional.

Secara normatif, kebudayaan adalah identitas, pegangan dasar, dan pola pengendali dalam pembangunan dan pengembangan pariwisata Bali. Sementara itu, secara operasional bahwa kebudayaan Bali diharapkan dapat menjadi daya tarik utama bagi para wisatawan (Mantra, 1994:35). Dengan demikian, konsep pariwisata budaya telah memenuhi semua syarat bagi pengembangan kepariwisataan di Bali dengan dukungan keindahan alam dan budaya masyarakatnya.

Fakta historis menunjukkan bahwa alam dan budaya Bali merupakan daya tarik utama pariwisata dunia. Pada sekitar tahun 1920-an, sebuah perusahan kapal Belanda bernama KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschapij) mulai mempromosikan pulau Bali untuk menarik penumpang-penumpang dari Eropa agar berkunjung ke Bali. Secara berangsur-angsur, KPM dapat memanfaatkan Bali demi kepentingan perusahannya sehingga merekapun mulai mendirikan hotel atau penginapan untuk memberikan fasilitas kepada orang-orang asing yang menjadi tamu-tamu KPM itu sendiri (Pendit, 1965:1—2; Pitana, 2000:6—7). Walter Spies, seorang seniman dan antropolog dunia yang mendatangi Bali pada bulan April 1925 serta menetap secara permanen di Puri Saren Ubud pada tahun 1927, mengatakan ”We went from valley to valley together cathching butterflies and put them in gold leaf boxes and sent them to museums in Europe and elsewhere” (‘Kami pergi dari bukit ke bukit, bersama menangkap kupu-kupu dan menaruhnya ke dalam helaian kotak emas dan mengirim mereka ke museum di Eropa dan tempat lainnya) (Couteau, 1999:19).

Terlepas dari idealisme konsep ’pariwisata budaya’ tersebut, tetapi secara praksis antara pariwisata dan budaya sesungguhnya mengandung paradoks dalam dirinya sendiri terutama pada basis materialnya. Pariwisata adalah sebuah industri yang lebih berorientasi pada profit (profit oriented), sebaliknya budaya menyangkut persoalan-persoalan mendasar kehidupan manusia dalam interaksinya dengan Tuhan, alam, dan sesamanya. Situasi paradoks ini tentu berimplikasi pada arah pembangunan pariwisata budaya karena harus mampu mengharmoniskan dimensi materialisme dan idealisme sekaligus. Kebertahanan budaya Bali pada satu sisi harus diperjuangkan, sebaliknya tuntutan industri pariwisata pada sisi yang lain meniscayakan terjadinya perubahan sosiokultural secara cepat dan massif.

(3)

3

Patut dicatat bahwa kebudayaan Bali telah mengakar begitu kuat dalam kehidupan masyarakat Bali atau akrab disebut living culture. Artinya, dengan atau tidak adanya pariwisata, kebudayaan Bali niscaya terus berlanjut di sepanjang garis edarnya sendiri. Atas dasar inilah, pariwisata dapat dianggap hanyalah efek ikutan atau imbas dari kebudayaan Bali yang menjadi titik pusatnya. Akan tetapi, pariwisata secara gradual terus tumbuh dan berkembang di Bali sehingga menjadi kekuatan baru yang menghegemoni aspek-aspek kehidupan yang lain. Paradoks yang sulit dihindari bahwa industri pariwisata telah memosisikan kebudayaan semata-mata sebagai objek, sehingga komersialisasi dan komodifikasi budaya sulit dihindari dalam perjalanannya.

Dalam konteks yang lebih luas, juga pariwisata membawa serta pengaruh touristic culture (budaya pariwisata) yang mengubah jati diri masyarakat dan berpotensi mendistorsi eksistensi budaya lokal (Picard, 2006).

Hal ini terbukti dalam perkembangan industri pariwisata di Bali yang semakin menunjukkan kemapanannya sebagai destinasi utama pariwisata Indonesia, bahkan dunia. Arus investasi di bidang kepariwisataan semakin sulit dibendung, dan bersama dengan itu juga ‘stigmaisasi tourisme’ semakin melekat pada Bali. Stigma yang dimaksud bahwa setiap aktivitas yang dihubungkan dengan pariwisata selalu direspons baik dan positif oleh masyarakat Bali. Dengan kata lain, “Asalkan untuk pariwisata, apapun OK!”. Implikasinya bahwa entitas lokal – dalam arti luas – kerap diabaikan karena industri pariwisata dibangun dengan sistem terbuka sebagaimana industri-industri kapitalis pada umumnya. Masuknya investor-investor multinasional dan internasional ke Bali menandai massivitas kapitalisasi industri pariwisata Bali yang kian meminggirkan penduduk asli dalam kancah kepariwisataan.

Kapitalisasi industri pariwisata di Bali dalam interaksi kulturalnya bertalian erat dengan semakin menguatnya pengaruh ‘budaya pariwisata’ (touristic culture).

Budaya pariwisata yang lebih berorientasi pada pemuasan hasrat wisatawan dapat dilihat dampaknya pada dua hal, yaitu komodifikasi budaya dan homogenisasi objek wisata (Ardhana, dkk., 2012). Pada prinsipnya, kedua hal tersebut merupakan bentuk disorientasi budaya karena semua objek dipandang ‘layak jual’ demi kepuasan wisatawan. Homogenisasi objek wisata menjadi implikasi tidak terhindarkan karena memudarnya karakteristik lokal yang menjadi objek unggulan untuk menarik wisatawan. Sebut saja misalnya, barang kerajinan (craft) dan lukisan (painting) yang dipajang pada beberapa objek wisata, nyaris sama jenis dan ragamnya sehingga sulit

(4)

4

menemukan kekhasan masing-masing daerah. Hal ini diperparah dengan hadirnya swalayan pusat oleh-oleh tradisional Bali yang menyediakan layanan one stop shoping bagi wisatawan (Sukada, 2014:6). Padahal, konsep pariwisata budaya justru menghendaki terangkatnya budaya lokal (local culture), selain wisata alam, sehingga setiap daerah memiliki objek wisata unggulan dan berdaya saing tinggi.

Disorientasi kultural yang berhubungan erat dengan kapitalisasi industri pariwisata, tidak dapat dipungkiri telah menciptakan kesenjangan antara satu daerah dengan daerah lainnya di Bali. Pertumbuhan investasi bidang kepariwisataan yang demikian pesat di wilayah Badung Selatan, tidak diimbangi pertumbuhan yang sama di daerah-daerah lain. Distribusi ekonomi yang tidak merata antara daerah ‘pusat’

penyedia layanan jasa pariwisata dan daerah ‘perifer’ penyedia objek wisata menjadi persoalan yang akrab dalam perbincangan publik. Padahal secara ideal, pariwisata budaya diharapkan mampu menyejahterakan seluruh masyarakat Bali tanpa kecuali.

Kondisi ini tentu tidak dapat didiamkan terus-menerus dan harus ada upaya-upaya strategis untuk menata kembali dunia kepariwisataan Bali ke depan.

Pada prinsipnya, makalah ini disusun sebagai buah gagasan sekaligus upaya strategis untuk menata kembali landscape pembangunan pariwisata budaya di Bali melalui sistem zonasi Tri Mandala. Eksplorasi Tri Mandala sebagai konsepsi tata ruang Hinduistik dapat dipahami sebagai gerakan kultural untuk mengembangkan kearifan lokal Bali dalam ranah praksis pariwisata budaya. Secara strategis, juga konsep ini diharapkan dapat menjadi pengendali karut-marutnya industri pariwisata di Bali yang mengakibatkan kesenjangan dan ketidak-merataan distribusi ekonomi antara wilayah pusat dan perifer. Melalui sistem zonasi ini, potensi-potensi lokal yang dimiliki setiap daerah kabupaten/kota se-Bali dapat diberdayakan secara maksimal dalam percaturan industri pariwisata Bali yang puncaknya adalah terwujudnya kesejahteraan masyarakat Bali.

B. Pembahasan

(1) Wajah Pariwisata Budaya di Bali

Bali adalah pulau kecil yang terletak di antara pulau Jawa dan Lombok.

Dengan luas 5.632,86 km², pulau Bali berbatasan dengan Laut Bali di sebelah utara;

Selat Lombok di sebelah timur; Samudera Hindia di sebelah selatan; dan Selat Bali di sebelah barat. Pulau Bali memiliki enam wilayah daratan, yaitu Pulau Bali sebagai

(5)

5

yang terbesar ditambah lima pulau kecil, yaitu Nusa Penida, Nusa Ceningan, Nusa Lembongan, Serangan (pra-reklamasi), dan Menjangan. Secara administratif, Bali berada di bawah Pemerintah Provinsi Bali yang terbagi menjadi 8 (delapan) kabupaten, dan 1 (satu) kota; 57 kecamatan; 716 desa/kelurahan; 1.488 desa adat (pakraman); 3.625 banjar adat; 1.604 subak sawah; dan 1.107 subak abian.

Walaupun pulau Bali kecil wilayahnya, tetapi lukisan alam Bali begitu mempesona para penikmat keindahan. Laut, gunung, sungai, danau, hutan, sawah, dan ladang menghiasi wajah alam Bali. Lukisan alam ini dipercantik oleh warna-warni kehidupan sosial budaya masyarakatnya dengan ritual-ritual keagamaan dalam rangka harmonisasi kehidupan dengan Tuhan, sesama, dan alam-lingkungannya. Oleh karena itu, berbagai julukan disematkan oleh orang-orang yang pernah berkunjung ke Bali, seperti pulau surga (the paradise island), pulau seribu pura (the island of thousand temple), pulau dewata (the island of Gods), atau paginya dunia (the morning of the world). Hal ini menegaskan bahwa alam dan kebudayaan Bali memiliki kekuatan intrinsik (inner power) atau taksu yang mungkin tidak ditemukan pada daerah-daerah lainnya di dunia.

Kebudayaan Bali yang dijiwai agama Hindu mencakup seluruh sistem nilai, aktivitas, dan hasil karya orang Bali dalam rangka membangun kesatuan harmonis dengan Tuhan (parhyangan), sesama manusia (pawongan), dan alam-lingkungan (palemahan). Hal ini sejalan dengan pendapat Koentjaraningrat (2002:5—9) bahwa kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia yang dibiasakan dengan proses belajar, beserta seluruh hasil budi dan karyanya itu. Kemudian dijelaskan bahwa kebudayaan paling sedikit memiliki tiga wujud, yaitu (a) wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya (ideofact); (b) wujud kebudayaan sebagai kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat (sociofact); dan (c) wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia (technofact).

Esensi kebudayaan Bali yang bercorak sosio-religius ini terbukti mampu menarik minat para wisatawan untuk mengunjungi Bali. Sejarah perkembangan pariwisata di Bali membuktikan bahwa kebudayaan Bali merupakan daya tarik utama pariwisata. Hasil survei yang pernah dirilis Harian Kompas (26 September 1988) menunjukkan bahwa 61,78% wisatawan tertarik kepada unsur-unsur kebudayaan Bali, disusul keindahan alam, flora, dan fauna 32,8%, serta objek wisata lainnya 5,37%.

(6)

6

Dengan semakin terbukanya objek-objek wisata di Bali yang didukung pola komunikasi dan sikap terbuka masyarakat Bali terhadap pariwisata, juga jumlah kunjungan wisatawan terus mengalami peningkatan dan berimplikasi pada semakin banyaknya tenaga kerja yang terserap di sektor pariwisata. Pada akhirnya, pariwisata bertransformasi menjadi tulang-punggung perkonomian Bali.

Aspek historis tersebut menegaskan bahwa pariwisata merupakan buah dari kebudayaan Bali yang ternaturalisasi dalam sistem kehidupan sehari-hari orang Bali.

Kehadiran pariwisata telah memberikan nilai tambah secara ekonomi bagi masyarakat Bali dan juga menjadi daya dukung bagi pelestarian dan pengembangan kebudayaan Bali. Oleh karena itu, pariwisata budaya menjadi konsepsi yang ideal dan niscaya bagi pengembangan dunia kepariwisataan di Bali sehingga pariwisata dan kebudayaan berada pada garis interaksi yang saling mendukung satu sama lain. Pada satu sisi, kebudayaan Bali harus tetap bertahan dan ajeg, juga pada sisi yang lain pariwisata Bali dapat memberikan kontribusi yang lebih positif bagi masyarakat Bali.

Walaupun demikian, integrasi antara kebudayaan dan pariwisata tidak selamanya dapat berjalan mulus. Mengingat keduanya memiliki basis material yang berbeda, bahkan acapkali bertolak-belakang. Hal ini dapat dilihat dari definisi pariwisata menurut Undang-undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, bahwa pariwisata adalah berbagai macam kegiatan usaha dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah. Adapun wujud pariwisata dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu wisata budaya, wisata alam, dan wisata buatan. Dari definisi tersebut dapat dipahami bahwa pariwisata merupakan sebuah industri yang bertujuan untuk mendatangkan keuntungan (profit) secara ekonomis. Terbukti bahwa undang-undang tersebut membuka ruang bagi pihak swasta (pengusaha) untuk menjadi salah satu elemen penyedia fasilitas dan layanan wisata.

Implikasinya bahwa kebudayaan dalam konstruksi pariwisata tidak hanya dipandang semata-mata sebagai sistem kehidupan masyarakat, tetapi sebgaai objek wisata yang meniscayakan para penyedia layanan wisata untuk mempromosikan dan menjualnya kepada wisatawan. Artinya, industri pariwisata berpretensi mendistorisi prinsip pariwisata budaya karena kebudayaan tidak lagi diposisikan sebagai inti nilai (core values), melainkan komoditas yang memiliki nilai tukar (exchange value) secara ekonomis. Oleh karena itu, wajah pariwisata budaya di Bali saat ini hanya mungkin

(7)

7

diungkap dengan melihat relasi-relasi industri, di mana ekonomi menjadi basis struktur dalam relasi tersebut. Terlebih lagi bahwa industri pariwisata di Bali menjadi salah satu indikator keberhasilan pembangunan pariwisata secara nasional.

Data terakhir menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2015, pariwisata Bali berhasil menyumbangkan sekitar 4 (empat) juta kunjungan wisatawan asing, atau setara dengan 40 % dari kunjungan wisatawan asing di tingkat nasional. Apabila pariwisata Bali dapat mempertahankan konsistensinya dengan menyumbangkan rata- rata wisatawan asing sebanyak 40 % setiap tahunnya, maka target jangka pendek tahun 2016 wisatawan yang berkunjung ke Bali sebanyak 4,8 juta sehingga pada tahun 2019 dapat menembus angka 8 (delapan) juta. Target ini sesungguhnya cukup realistis melihat pertumbuhan pariwisata Bali dalam lima tahun terakhir ini. Apalagi pariwisata Bali memiliki fondasi yang cukup kokoh, baik pada tataran superstruktur maupun infrastrukturnya.

Bali memiliki basis superstruktur seperti, ideologi, politik, hukum, budaya, agama yang cukup kuat untuk mendukung pariwisata. Secara ideologis, masyarakat Bali memiliki karakter ideologis terbuka dan adaptif terhadap masuknya berbagai ideologi luar, tanpa harus kehilangan identitas dan jati diri budayanya. Pariwisata Bali juga memiliki basis politik yang kuat karena pemerintah pusat dan daerah memberikan perhatian yang serius terhadap dunia kepariwisataan di Bali. Hal ini terbukti dengan terbitnya berbagai peraturan perundang-undangan, baik di tingkat pusat maupun daerah, sebagai payung hukum pembangunan dan pengembangan industri pariwisata di Bali. Basis budaya dan agama, tidak diragukan lagi eksistensinya sebagai daya dukung utama kepariwisataan Bali yang bertumpu pada idealisme pariwisata budaya.

Superstruktur tersebut didukung dengan infrastruktur kepariwisataan yang dari tahun ke tahun menunjukkan perkembangan yang cukup berarti. Infrastruktur pada lingkup ‘alat-alat produksi’ mencakup sarana, prasarana dan fasilitas yang dibutuhkan dalam industri pariwisata, misalnya hotel, restoran, dan objek wisata.

Sebaliknya, pada lingkup ‘hubungan produksi’ tercakup di dalamnya adalah para investor dan pekerja yang bergerak dalam industri pariwisata. Untuk memastikan bahwa seluruh infrastruktur industri pariwisata ini dapat berfungsi dengan baik, maka pemerintah pusat dan daerah terus melakukan berbagai upaya perbaikan dengan menggandeng pihak-pihak terkait, khususnya pelaku pariwisata yang tergabung dalam

(8)

8

berbagai asosiasi atau perkumpulan, seperti misalnya PHRI (hotel dan restoran), Asita (travel agent), HPI (pramuwisata), dan sebagainya. Dengan terpenuhinya infrastruktur yang memadai maka besar peluang bahwa industri pariwisata di Bali akan semakin berkembang ke depannya.

Walaupun demikian, industri pariwisata cukup dinamis karena bertalian erat dengan ‘kultur rekreasional’ sebagai ciri masyarakat konsumsi (consumer society).

Wisata menjadi aktivitas perayaan hasrat yang melampaui sekadar kebutuhan – bukan hanya selera keharusan (taste of necessity), melainkan juga selera kebebasan (taste of liberty) dan kemewahan (luxury) (Piliang, 2006:396—398). Artinya, kepuasan hasrat wisatawan menjadi penentu berhasil-tidaknya sebuah wilayah dalam mengembangkan industri kepariwisataannya. Untuk itu, jaminan psikis berupa keamanan, kenyamanan, dan kepuasan wisatawan menjadi faktor dominan yang menentukan fluktuasi jumlah kunjungan wisata. Implikasinya bahwa industri pariwisata senantiasa dibayangi oleh munculnya situasi dan kondisi tak terprediksikan (unpredictable condition), misalnya isu-isu politik, kesehatan, dan keamanan. Selain itu, juga kondisi objek dan layanan wisata yang kurang memenuhi ekspektasi wisatawan dapat mempengaruhi fluktuasi kunjungan wisata ke Bali.

Mencermati kondisi aktual pariwisata Bali dalam berbagai relasinya tampak bahwa dukungan superstruktur dan infrastruktur yang begitu kuat ternyata tidak sepenuhnya menjami industri pariwisata Bali bebas dari masalah. Massifnya pendirian hotel-hotel dengan struktur bangunan minimalis dan harga murah (low cost) tidak saja mengubah wajah pariwisata budaya, tetapi juga menciptakan persaingan harga yang tidak sehat di kalangan pengusaha hotel. Pertumbuhan hotel dan penginapan yang demikian pesat, bahkan terkesan nyaris tidak terkontrol menjadi persoalan tersendiri di saat tingkat hunian hotel yang tidak kunjung membaik. Data yang dimiliki PHRI Bali tahun 2016 menunjukkan bahwa rata-rata hunian hotel hanya mencapai 30 %, dan ini tentu tidak sehat bagi industri pariwisata di Bali.

Sebaliknya, investasi pariwisata di luar wilayah sentral (Badung Selatan, Sanur, Tanah Lot, Ubud, dan Candidasa) tidak menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, bahkan terkesan ‘mati suri’. Di wilayah Bedugul dan Kintamani misalnya, walaupun kedua wilayah ini memiliki objek-objek wisata yang banyak dikunjungi wisatawan, tetapi fakta menunjukkan ada beberapa hotel dan restoran yang tidak terurus atau mengalami kebangkrutan. Dapat diduga, kondisi ini merupakan

(9)

9

akibat dari investasi pariwisata yang hanya terkonsentrasi pada beberapa wilayah.

Asumsinya bahwa penyedia fasilitas dan layanan wisata akan berusaha keras untuk menarik para wisatawan agar menggunakan jasa mereka. Selanjutnya, merekalah yang menentukan jadwal kunjungan para wisatawan dengan segala kemudahan layanan yang diberikan. Jadi, apabila investasi hanya terpusat pada satu wilayah, maka pemerataan kue pariwisata ke semua daerah mustahil terwujud.

Pada kenyataannya, objek-objek wisata yang sesungguhnya banyak diminati wisatawan ternyata tidak mampu membuat para wisatawan tinggal lebih lama di sana.

Padahal secara teoretis, ukuran kualitas pariwisata tidak dihitung berdasarkan jumlah kunjungan, tetapi berdasarkan seberapa lama wisatawan dapat bertahan di daerah wisata tersebut. Artinya, banyaknya objek wisata yang hanya sekadar ‘disinggahi’, tetapi ‘tidak didiami’ tentu tidak memberikan nilai tambah yang signifikan bagi masyarakat di sekitar objek wisata tersebut. Berkenaan dengan hal tersebut, pengembangan wisata di kawasan Ubud pada masa lalu dapat dijadikan medan refleksivitas, bahwa “Para wisatawan mau tinggal berlama-lama dengan penduduk lokal untuk menikmati cara mereka hidup sehari-hari, bahkan ikut terlibat di dalamnya” (Couteau, 1999). Makna di balik itu bahwa keunggulan lokal merupakan penentu keberhasilan dalam pengembangan destinasi wisata.

Uraian di atas menunjukkan bahwa pariwisata budaya sebagai kondisi ideal kepariwisataan Bali belum sepenuhnya mampu diwujudkan dalam tataran praksis.

Kunjungan wisatawan yang terus meningkat dari tahun ke tahun, ternyata tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas wisatawan. Kebudayaan Bali akhirnya hanya mampu memenuhi kepuasan indera, tetapi tidak menyentuh hati para wisatawan.

Kebudayaan Bali hanya menjadi objek yang dikunjungi, dilihat, dan dinikmati, tanpa berhasil memberikan kesan mendalam bagi para wisatawan yang menggugah minat mereka untuk mendalami lebih jauh. Padahal menurut Resinger (dalam Ardika, 2007:85), industri pariwisata harus mampu membangun interaksi antara wisatawan dan penduduk lokal dengan spirit pendidikan, pemahaman, dan apresiasi satu sama lain. Lebih jauh lagi, kondisi ini acapkali juga menimbulkan konflik kepentingan (conflict of interest) antara pelaku kebudayaan (termasuk agama) dan pelaku industri pariwisata, sebagaimana lumrah terdengar dalam wacana publik. Ditambah lagi dengan berbagai bentuk pelanggaran, seperti tata ruang dan arsitektur fasilitas wisata, yang kian menjauhkan pariwisata di Bali dari spirit pariwisata budaya.

(10)

10

(2) Tri Mandala: Menata Ulang Landscape Pariwisata Budaya

Salah satu tantangan, bahkan ancaman terbesar bagi pariwisata Bali saat ini, justru terletak pada industrialisasi pariwisata yang sepenuhnya diposisikan pada lingkup ekonomi-kapital. Hal ini mengisyaratkan bahwa modal ekonomi akan menentukan wajah dan arah keberlangsungan pariwisata budaya di Bali ke depan.

Ditambah lagi dengan kondisi ketergantungan perekonomian Bali yang begitu kuat terhadap pariwisata, sehingga sektor ini akan terus diuji oleh waktu. Seberapa kuat ia mampu bertahan sebagai pariwisata budaya di tengah dominannya arus kapitalisasi industri pariwisata. Bagaimanapun, Bali telah masuk dalam lingkaran grand design pembangunan pariwisata nasional, sehingga pemertahanan budaya dan tuntutan industri pariwisata harus berjalan beriringan.

Keindahan alam dan kebudayaan adalah potensi unggulan Bali untuk menata dan mengembangkan pariwisata Bali. Undang-undang No. 10/2010 menyebutkan bahwa objek wisata dapat dikatagorikan menjadi tiga, yaitu (1) wisata budaya; (2) wisata alam; dan (3) wisata buatan. Merujuk pada undang-undang tersebut, maka objek wisata di Bali perlu dikatagorikan ulang berdasarkan klasifikasi tersebut, sehingga memberikan kejelasan kepada wisatawan tentang katagori objek wisata yang akan dikunjungi, sebagai berikut:

(1) Wisata alam terdiri atas: gunung, bukit, laut, pantai, danau, sawah, ladang, air terjun, serta seluruh keanekaragaman hayati dan non-hayati.

(2) Wisata budaya terdiri atas: budaya keagamaan, kesenian, kesusasteraan, adat-istiadat, teknologi , museum, dan unsur-unsur kebudayaan lainnya.

(3) Wisata buatan terdiri atas: wisata air, wisata danau, arena pertunjukan, hiburan malam, taman flora-fauna, dan sebagainya.

Secara umum, Bali memenuhi semua syarat untuk mengembangkan objek- objek wisata tersebut. Malahan khusus mengenai objek wisata alam dan budaya, Bali memiliki keunggulan dengan adanya ketertautan yang erat antara budaya dan alam.

Gunung bukan saja alam, melainkan juga pusat orientasi religius, dan masyarakat pengunungan memiliki karakteristik budaya yang unik. Begitu juga dengan danau, pantai, hutan, sawah, dan sungai berkaitan erat dengan budaya masyarakat sehingga dikenal budaya pegunungan, budaya pesisir, budaya persawahan, dan sebagainya yang mengindikasikan kuatnya kultur agraris di Bali. Dalam konteks budaya agraris inilah, landscape pariwisata budaya menemukan relevansinya.

(11)

11

Dalam dunia arsitektur, istilah landscape pertama kali digunakan oleh Gilbert T Lang Meason (1928), dan dipopulerkan Federick Law Olmstead (1858).

Arsitektur landscape adalah seni perencanaan, perancangan, manajemen, pelestarian, dan rehabilitasi lahan dan desain konstruksi buatan manusia (Arif, 2014). Selain itu, Appadurai (dalam Steger, 2002) menggunakan istilah landscape sebagai identifikasi lima dimensi konseptual yang dibentuk oleh arus kultural-global, yaitu etnoscape (perpindahan penduduk), tecnhnoscape (perkembangan teknologi), finanscape (aliran kapital global), mediascape (produksi media), dan ideascape (ideologi-ideologi negara dan gerakan sosial. Pada prinsipnya, landscape berhubungan dengan wilayah, baik itu konkret (misalnya, lahan) maupun abstrak (misalnya, globalisasi). Artinya, pariwisata budaya Bali berada pada ‘wilayah’ gagasan yang dapat diwujud-nyatakan melalui perencanaan, perancangan, dan manajemen pariwisata yang benar-benar sesuai dengan kondisi idealnya dalam derasnya arus globalisasi.

Pulau Bali adalah landscape yang terpapar dalam batas-batas ruang berupa pesisir yang mengelilingi pulau Bali dan pulau-pulau kecil lainnya. Pada landscape inilah, alam dan budaya Bali dilukis dengan tinta pariwisata sehingga seluruhnya dapat dijadikan objek wisata. Sebagaimana Appadurai (2006:589) menyatakan bahwa akhiran –scape berarti ‘tidak ada yang tetap’, maka landscape pariwisata budaya dapat dirancang secara dinamis sesuai dengan kebutuhan pelestarian budaya Bali, dan sebaliknya kepentingan industri pariwisata. Pada satu sisi, pengembangan objek wisata alam dan budaya (termasuk buatan) tidak mendistorsi kealamiahan serta nilai religiusitas yang terintegrasi secara holistik dalam kebudayaan Bali. sebaliknya, juga penataan objek wisata tersebut harus memberikan kontribusi bagi para pelaku industri pariwisata. Dalam dialetika inilah penataan ulang landscape pariwisata budaya menemukan relevansi dan urgensinya.

Berbicara landscape pastilah berbicara ruang yang dalam hal ini adalah pulau Bali sendiri. Orang Bali memiliki konsepsi ruang dari yang paling abstrak hingga yang paling konkret, yakni Tri Mandala. Tri berarti tiga, dan Mandala berarti ruang atau wilayah. Pada tataran paling abstrak, Tri Mandala merupakan cerminan dari Tri Loka (‘tiga dunia atau alam’), yaitu alam para dewa (swah loka), alam manusia (bhwah loka), dan alam bawah/bhuta (bhur loka) (Sudharta & Punyatmadja, 2001:23). Dalam wujud alam semesta, Tri Mandala berwujud langit (swah), bumi (bhwah), dan laut (bhur); di bumi berwujud gunung (swah), daratan (bhwah), dan

(12)

12

lautan (bhur); di tubuh manusia adalah kepala (swah), badan (bhwah), dan kaki (bhur); dalam struktur bangunan tempat suci menjadi uttama (jeroan), madya (jaba tengah), dan nista (jaba sisi); sedangkan dalam antropologi disebut ruang sakral, sakral-profan, dan profan.

Dalam rangka menata ulang landscape pariwisata budaya di Bali, kiranya Bali dengan karakter sosioreligius masyarakatnya memiliki pandangan tentang ruang yang berhubungan dengan kepercayaan religius. Konsep luan-teben, suci-cemer, dan seterusnya dalam pola tata ruang kehidupan mengindikasikan bahwa pembagian wilayah Bali melalui sistem zonasi (cluster) Tri Mandala, tidak saja berterima secara logis melainkan juga secara psikis-religius. Mengingat dalam konsep Tri Mandala ini setiap ruang dipahami dalam dimensi sakral-profan sehingga secara etis mensyaratkan adanya perlakuan yang berbeda pada setiap mandala.

Bagi masyarakat Hindu di Bali, gunung diyakini sebagai tempat kedudukan (sthana) para dewa sehingga disucikan keberadaannya. Hampir semua gunung yang ada di Bali memiliki tempat suci yang umumnya berstatus sad kahyangan atau kahyangan jagat. Oleh karena itu, seluruh wilayah pegunungan dapat dikatagorikan sebagai zonasi uttama mandala (sakral). Dalam konsep segara-giri, gunung (Purusa) berpasangan dengan laut (prakerti) sehingga laut berfungsi melebur segala kekotoran.

Artinya, wilayah laut dapat dikatagorikan ke dalam zonasi nista mandala (profan), karena segala kekotoran akan lebur oleh fungsi laut itu sendiri. Di antara gunung dan laut adalah wilayah daratan yang menerima pengaruh dari gunung dan laut sekaligus sehingga bersifat sakral-profan. Oleh karena itu, wilayah daratan dapat dimasukkan dalam zonasi madya mandala (sakral-profan).

Pembagian zonasi semacam ini tidak bermaksud menyatakan bahwa pada wilayah yang sakral tidak ada yang profan, dan sebaliknya. Mengingat fakta bahwa nyaris tidak ada satupun ruang kehidupan masyarakat Bali yang bebas dari sentuhan religiusitas yang dicerminkan dengan keberadaan tempat suci (pura). Akan tetapi, zonasi ini hanya untuk memudahkan dalam menggali dan mengembangkan objek wisata yang layak dikembangkan di wilayah tersebut dengan segala keunikan dan keunggulannya masing-masing. Misalnya wilayah Batur yang memiliki dua katagori objek sekaligus, yaitu alam (Gunung dan Danau Batur) dan budaya (Trunyan, Ulun Danu, dan sebagainya) tentu akan sulit memastikan ketertarikan utama (main interest) wisatawan terhadap kedua karakteristik objek tersebut.

(13)

13

Berpijak pada pembangian zonasi tersebut, maka objek wisata yang paling niscaya dikembangkan di wilayah pegunungan adalah wisata budaya (rohani dan spiritual) yang dipadukan dengan wisata alam. Wisata rohani dan alam harus mampu menunjukkan karakter unik dan unggulnya bahwa wisatawan tidak hanya disuguhi keindahan alam dan aktivitas keagamaan penduduk, melainkan juga dapat terlibat aktif dalam aktivitas rohani demi kesempurnaan jiwa. Apabila karakter ini berhasil memikat wisatawan, keuntungan yang diperoleh bahwa wisatawan akan tinggal lebih lama di wilayah tersebut, bahkan mungkin menghabiskan seluruh waktu liburannya hanya untuk menikmati wisata tersebut. Pengembangan wisata rohani tentunya memerlukan daya dukung berupa fasilitas dan layanan pariwisata yang sesuai dengan karakter rohaninya, misalnya hunian yang tenang, bernuansa religius, serta didukung oleh guru-guru kerohanian (misal, yoga) untuk memandu para wisatawan.

Wilayah daratan sebagai zona madya mandala (jaba tengah) dalam konsepsi tata ruang Hindu berkaitan dengan aktivitas manusia (pawongan). Pada zonasi ini dapat dikembangkan aneka objek wisata, baik budaya, alam, maupun buatan. Akan tetapi, sejalan dengan konsep pariwisata budaya tentu aktivitas seni (dalam berbagai bentuknya), adat-istiadat, kehidupan sehari-hari (daily life) masyarakat yang unik dan khas, serta unsur-unsur budaya lokal lainnya perlu digali dan diangkat sebagai objek wisata unggulan di satu wilayah. Akan sangat baik, jika pola pengembangan wisata pada objek-objek tersebut mampu menarik wisatawan untuk tinggal bersama (life in) penduduk lokal. Selain itu, investasi fasilitas dan layanan wisata dapat dikembangkan dengan model mempererat interaksi wisatawan dengan penduduk lokal.

Zonasi terakhir adalah wilayah pesisir (nista mandala) sebagai wilayah terbuka bagi percaturan investasi kepariwisataan. Artinya, pada zonasi ini dapat dikembangkan berbagai objek wisata untuk memanjakan wisatawan kebanyakan yang tidak memiliki ketertarikan khusus terhadap Bali, atau sekadar menikmati liburannya.

Tanpa menutup mata terhadap ekses yang ditimbulkan, tampaknya memang lebih baik jika objek wisata yang bertujuan memuaskan hasrat wisatawan untuk bersenang- senang dapat dilokalisir di wilayah pesisir. Hanya saja diperlukan regulasi yang lebih berani dari pemerintah untuk mengembalikan spirit pariwisata Bali sebagai pariwisata budaya, di mana kultur-kultur asing yang tidak sejalan dengan kultur lokal dapat dikendalikan pengaruhnya. Selain itu, regulasi tentang bisnis pariwisata juga harus lebih tegas dan mampu memproteksi penduduk atau pengusaha lokal.

(14)

14

Sistem zonasi Tri Mandala diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif solusi atas berbagai masalah yang dihadapi pariwisata Bali. Pembangunan pariwisata budaya berbasis Tri Mandala diharapkan dapat menggali keunikan, kekhususan, dan keunggulan yang potensial pada setiap daerah sehingga dapat memperkaya objek wisata yang berkualitas di Bali. Melalui pengembangan industri pariwisata pada zonasi-zonasi potensial yang sebelumnya belum banyak disentuh investor di Bali, juga diharapkan dapat menurunkan tingkan kesenjangan dan ketidak-merataan kue pariwisata di antara kabupaten/kota se-Bali.

C. Penutup

Berdasarkan seluruh uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pariwisata merupakan sektor andalan dalam pembangunan Bali secara berkelanjutan menuju masyarakat yang sejahtera. Dalam pembangunan dan pengembangannya diperlukan kerja keras dan sinergitas antara pemerintah (pusat dan daerah), pihak swasta, masyarakat, dan media. Pembangunan pariwisata Bali melalui sistem zonasi (cluster) berbasis Tri Mandala diharapkan dapat mengharmonisasi kearifan lokal dengan kebijakan pemerintah sehingga mampu mengantarkan Bali pada pemerataan pembangunan antar-kabupaten/kota di Bali. Diperlukan sebuah komitmen bersama bahwa pariwisata budaya adalah spirit pembangunan dan pengembangan pariwisata di Bali yang harus diperjuangkan oleh segenap komponen masyarakat Bali, terutama para pelaku industri wisata di Bali.

D. Daftar Pustaka

Appadurai, Arjun. 2006. “Disjuncture and Difference in the Global Cultural Economy”, dalam G. Durham & Douglas M. Kellner, Media and Culture Studies: Keyworks. USA: Blackwell.

Ardana. 2013. “Pengaruh Perkembangan Pariwisata Terhadap Struktur Perekonomian dan Kesejahteraan Masyarakat Bali” dalam http://ardana45.wordpress.com.

Diakses tanggal 12 Januari 2016.

Ardhana, I Ketut. dkk. 2012. Komodifikasi Identitas Bali. Denpasar: Pustaka Larasan.

Ardika, I Wayan. 2007. Pusaka Budaya Pariwisata. Denpasar: Pustaka Larasan.

Arif, Muhammad Noor. 2014. Pengertian Ruang Lingkup Landscape, dalam http://muhammadnoorarif.blogspot.co.id.

(15)

15

Cooper, C. et.al. 1995. Tourism Principle and Practice. Essex: Longman Group Limited.

Couteau, Jean. 1999. Museum Puri Lukisan. Ubud: Yayasan Ratna Wartha.

Mantra, Ida Bagus. 1999. Landasan Kebudayaan Bali, hal.26-28. Denpasar: Yayasan Dharma Sastra.

Picard, Michel. 2006. Bali: Pariwisata Budaya dan Budaya Pariwisata. Jakarta:

Kepustakaan Populer Gramedia.

Piliang, Yasraf Amir. 2006. “Konsumsi, Selera, dan Perubahan Sosial”, dalam Menggeledah Hasrat Sebuah Pendekatan Multiperspektif. (Alfathri Adlin (ed.). Yogyakarta: Jalasutra.

Pitana, I Gde. 2000. Cultural Tourism in Bali: A Critical Appreciation. Denpasar:

Research Centre for Culture and Tourism, Universitas Udayana.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Bali Tahun 2016.

Steger, Manfred. B., 2002. Globalisme, Bangkitnya Ideologi Pasar. (Terj.) Heru Prasetya, Globalism, The New Market Ideology. Yogyakarta: Lafadl Pustaka.

Storey, John. 2007. Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop. Yogyakarta: Jalasutra.

Sudharta, Tjok. Rai & I.B. Oka Punyatmadja. 2001. Upadesa. Surabaya: Paramita.

Sukada, I Made. 2014. “Eksistensi Lukisan Khas Ubud dalam Industri Pariwisata di Kawasan Wisata Ubud”. Tesis. Denpasar: Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan, Program Pascasarjana, Universitas Hindu Indonesia.

Sunaryo, B. 2013. Kebijakan Pengembangan Destinasi Wisata. Yogyakarta: Evek Media.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mengetahui pengaruh Pelayanan, Lokasi dan Harga yang paling dominan terhadap Keputusan Pembelian Konsumen pada Usaha Kuliner Rica Xtra Pedas Fadhil di

1) Audit dititikberatkan pada obyek audit yang mempunyai peluang untuk diperbaiki. Sesuai dengan tujuan audit manajemen, yaitu menciptakan perbaikan terhadap

Pengenaan pajak atau pemberian subsidi atas suatu barang yang diproduksi/dijual akan mempengaruhi keseimbangan pasar barang tersebut, mempengaruhi harga keseimbangan

nirlaba terdiri dari laporan posisi keuangan, laporan aktivitas, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan (Pontoh, 2013:3). Sistem pengelolaan keuangan yang baik

Lagi pula, kalau kita tidak tahu apa yang disukai pasangan kita pada diri kita, akan sulit bagi kita untuk membuat dia senang.. Sorang gadis remaja berkata kepada saya, “Aku

Dengan adanya website yang dapat memproses pengolahan data transaksi penjualan, maka dalam proses yang dilakukan akan semakin mudah dan cepat, tetapi tidak menutup

Pembagian dividen tunai dengan rasio dividen tunai adalah setiap 1 (satu) saham akan memperoleh

menulis skripsi dengan judul AKIBAT HUKUM PENGGUNAAN MEREK DAGANG YANG MEMILIKI PERSAMAAN NAMA DENGAN MEREK DAGANG YANG SUDAH TERDAFTAR DITINJAU DARI UU NO 15 TAHUN 2001