BAB V
SPESIFIKASITEKNIK TIANG PANCANG
V.l. UMUM
Spesifikasi seluruh material dan pengeijaan tiang disusun berdasarkan syarat -syarat yang terdapat CidXzm British Standards, codes o f practice dan standar lain yang sesuai ( Institution of Civil Engineers, 1988 ).
V.1.1. Toleransi Dimensi Tiang Pancang
Ukuran panjang tiang pancang tidak boleh kurang dari panjang yang telah ditetapkan. Penampang melintang dari tiang tidak boleh kurang jdari yang telah dispesifikasikan, dan jika ada kelebihan tidak boleh lebih dari 6 mm. Seluruh permukaan sisi tiang tidak boleh menyimpang ( cekung atau cembung ) lebih dari 6 mm untuk setiap jarak 3 m. Dalam segala hal sumbu memanjang tiang pancang tidak boleh menyimpang lebih dari 12 mm terhadap sumbu garis lurus yang ditarik dari pusat kedua ujung tiang. Ujung lancip tiang pancang hams terietak pada puncak kerucut yang sempuma. Kepala tiang yang berhubungan dengan hammer harus sebentuk dengan sumbu tiang dengan toleransi 1 ; 50.
V.1.2. Kualitas Tiang Pancang
Pihak kontraktor harus bertanggungjawab terhadap kualitas tiang yang ada di lokasi. Segala kerusakan atau keretakan yang teijadi pada tiang harus segera dilaporkan secara tertulis kepada direksi. Selain itu juga perlu diperhatikan kualitas dari alat-alat yang dipakai harus dalam keadaan balk serta pekeija yang mengoperasikarmya juga berpengalaman.
®afi V. Spes^i^fisi T e^i^^Iia tig ^ancang 6 3
V.2. MATERIAL DAN KOMPONEN
V.2.1. Pile Joint
Sambungan ( joint) harus mempunyai bentuk yang sama dengan bagian yang disambung , dan hams pas sebentuk dengan sumbu tiang dengan toleransi 1 : 150. Pusat dari sambungan ( joint) tiang hams berada dalam jarak maksimum 5 mm dari sumbu tiang. Metode penyambungan hams mampu untuk menahan bagian yang disambung seerat mungkin. Desain dan pembuatan sistem penyambungan ( joint ) hams disetujui oleh direksi. Sambungan tiang hams memiliki kemampuan pancang yang sama dengan tiang pancang tunggal tanpa sambungan dengan dimensi dan material yang sama.
V.2.2. Pile Shoes
Pile Shoes hams dipasang untuk memastikan tidak teqadinya kemsakan pada tiang sewaktu dipancang.
V.2.3. Penulangan Pada Kepaia Tiang
Dimana kepaia tiang tidak dilengkapi dengan jo in t, hams diberi penulangan untuk mencegah teijadinya kemsakan akibat pukulan hammer.
<8a5 V. Spfsifi^ffsi ^elini^liang (Pancang 6 4
V.2.4. Penulangan Tiang Pancang
Tulangan utama memanjang sebaiknya dipasang secara kontinu sepanjang tiang. Tulangan terputus diijinkan dengan menggunakan sambungan lewatan.
Panjang sambungan lewatan hams ditentukan sedemikian rupa sehingga memenuhi syarat-syarat panjang penyaluran sesuai dengan SK SNI T-15-1991-03.
Sambungan pada tulangan memanjang hams diatur sedemikian mpa sehingga tidak terkonsentrasi pada satu penampang. Sambungan tulangan yang berdampingan paling sedikit hams beijarak sejauh 1 m satu sama lain. Tulangan hams ditempatkan dengan baik, lums, tidak melengkung dan jalinan \ ikatannya hams kokoh dan tidak mudah bergeser. Tebal selimut beton disyaratkan tidak boleh kurang dari 2,5 cm.
V.2.5. Pratekanan
Penarikan kabel pratekan hanya boleh dilakukan dengan kehadiran pengawas / direksi, kecuali telah ada ketentuan sebelumnya. Apabila tiang pancang dibuat diluar site, rencana penarikan kabel pratekan hams diberitahukan kepada direksi sedini mungkin. Direksi hams diberikan kebebasan untuk meninjau produksi. Penarikan kabel pratekan hams dilakukan dibawah pengawasan tenaga ahli yang berpengalaman. Semua operator jack pratekan hams telah terlatih menggunakan alat tersebut.
Transfer pratekanan tidak boleh dilakukan sebelum kekuatan beton yang ditentukan tercapai, kecuali telah ditentukan sebelumnya. Perpanjangan baja
<Ba6 Spes^^fsi ‘Te^i^^ng ^ancaug 65
prategang dan gaya prategang yang dibutuhkan dengan memperhitungkan kehilangan prategangan hams telah dihitung dan dimintakan persetujuan pengawas / direksi sebelum prategangan dilakukan.
Penarikan kabel pratekan dan transfer prategangan harus dilakukan secara perlahan-lahan dengan peningkatan yang tetap. Besar gaya prategang diperoleh dari pembacaan load cell atau pressure gauge yang ada pada jack pratekan.
Perpanjangan yang teijadi karena gaya prategang tidak boleh berbeda lebih dari
± 5% dari perpanjangan yang ditunjukkan dalam perhitungan.
V.2.6. Cetakan Tiang Pancang
Jika tiang direncanakan dengan ujung runcing atau dilengkapi dengan sepatu ( shoe ) maka ujung tiang atau sepatu harus simetri dengan sumbu memanjang tiang. Bila digunakan lubang untuk pengangkatan , harus dipasang tegak lurus terhadap sisi tiang dan harus dibuat dari baja. Cetakan harus bersih, cukup kuat menahan beban-beban yang teijadi dan terpasang dengan baik untuk mencegah hilangnya beton basah selama proses pengecoran dan pemadatan beton, serta untuk memastikan produksi tiang yang uniform. Untuk mengeluarkan tiang dari cetakan hams dilakukan dengan hati-hati supaya tidak teijadi kemsakan.
V.2.7. Pemberian Tanda Pada Tiang Pancang
Setiap tiang hams ditandai sehingga dapat diidentifikasikan dengan baik.
Penandaan ini meliputi tanggal pembuatan, nomor umt, panjang serta data relevan yang lain. Informasi ini hams ditulis secara jelas dan permanen pada permukaan
<8of 'H Spes^t^fui ^e^mjRang (Pancmg 66
tiang bagian atas serta pada kepala tiang. Sebagai pelengkap , setiap tiang hams diberi tanda dengan interval jarak 500 mm sepanjang tiang sebelum dipancang.
V.2.8. Penanganan Dan Penyimpanan Tiang Pancang
Metode dan urutan pengangkatan, penanganan, pengangkutan dan penyimpanan tiang hams sedemikian mpa untuk menghindari teijadinya beban kejut dan untuk memastikan bahwa tiang tidak mengalami kemsakan. Hanya titik angkat dan titik dukung yang boleh digunakan. Seiama pengangkutan dan penyimpanan, tiang hams cukup didukung pada titik angkatnya. Beton tidak boleh menerima beban, termasuk beban berat sendirinya, yang akan menimbulkan tegangan tekan lebih besar dari 0.33 kali kokoh tekannya pada saat pembebanan atau 0.33 kali kokoh tekan rencana. Semua tiang yang ditumpuk hams dikelompokkan sesuai dengan panjangnya. Bantalan dengan tebal yang sama hams diletakkan pada tiap antara tiang pada titik angkatnya.
V.3. PEMANCANGAN TTANG
V.3.1. Kekuatan Tiang Pancang
Tiang tidak boleh dipancang sebelum kokoh tekan betonnya mencapai kokoh tekan karakteristik yang disyaratkan.
Spes^Hfisi ^ancang 67
V.3.2. Leaders Dan Trestles
Pada setiap langkah selama pemancangan dan sampai tahap penyatuan dengan bangunan atasnya, tiang hams cukup ditahan dengan bantuan leaders, trestles, penyokong sementara atau pengatur lainnya untuk menjaga posisi tiang
serta untuk mencegah teijadinya tekuk ( buckling ). Pengaturan ini hams sedemikian mpa sehingga tidak teijadi kemsakan pada tiang.
V.3.3. Keberadaan Alat Pancang
Pihak kontraktor hams mengusulkan, dengan menunjukkan kecocokan, efisiensi dan besar energi dari alat pancang yang digunakan untuk mendapatkan persetujuan tertulis dari direksi.
V.3.4. Panjang Tiang Pancang
Panjang tiang yang akan dipancang pada setiap titik dan panjang tiang tambahan yang disambung selama pemancangan hams ditetapkan dan disetujui oleh direksi. Selama pemancangan, apabila teijadi pembahan panjang hams segera ditetapkan.
(Bflfi V. Spaiftlifisi ‘Telija^^ng (Pancang 68
V.3.5. Toleransi
a. Tata Letak
Tata letak harus berpedoman dari sumbu utama stniktur yang telah ditetapkan. Posisi titik pancang pada tanah hams diberi tanda dengan sesuatu yang mudah dilihat. Sebelum dilakukan pemancangan, posisi dari titik pancang harus diperiksa terlebih dahulu.
b. Posisi Tiang Pancang
Penyimpangan maksimum titik pemancangan yang diijinkan teijadi, diukur pada pusat tiang yang dibandingkan dengan pusat tiang pada gambar tata letak adalah 75 mm untuk segala arah.
c. Kemiringan Tiang Pancang
Penyimpangan posisi tiang yang telah dipancang dari keadaan vertikal adalah 1 : 100. Deviasi maksimum yang diijinkan pada tiang yang telah dipancang terhadap sumbu vertikal adalah 1 : 75,
d. Tiang Pancang Miring
Untuk pemancangan tiang pancang miring, driving rig harus diatur dan berusaha untuk mencapai posisi kemiringan yang direncanakan.
Penyimpangan maksimum dari kemiringan yang telah ditetapkan adalah 1 : 25.
(Sflfi Spesift^fMi ^ancang 69
e. Koreksi dengan Paksa ( Forcible C onectiom )
Tiang pancang yang salah pancang ( misalnya, miring ) tidak boleh dikoreksi dengan paksa.
V.3.6. Tata Cara Pemancangan
Setiap tiang harus dipancang tems menerus tanpa terputus ( contitmously) sampai mencapai kedalaman dan atau ketahanan atau set sudah dicapai , tanpa mengalami kerusakan. Penghentian proses pemancangan dapat dilakukan dengan seijin pengawas. Hal ini bisa teqadi apabila pengawas merasa yakin bahwa tingkat penetrasi akibat penghentian pemancangan akan ditentukan pemancangan yang selanjutnya atau jika pengawas yakin bahwa penghentian pemancangan di luar kontrol dari pihak kontraktor. Sebuah follower tidak boleh dipakai kecuali dengan persetujuan direksi, yang mungkin membutuhkan peninjauan kembali set dengan memperhitungkan pengurangan efektifitas pukulan hammer.
Pihak kontraktor wajib segera memberitahu direksi jika teijadi kelainan karakteristik pemancangan yang tidak terduga. Suatu catatan yang terperinci mengenai hambatan pemancangan ( driving log ) pada seluruh panjang tiang terdekat harus dibuat, jika diperlukan. Kontraktor harus mencatat penurunan tiap-tiap tiang pancang pada 10 pukulan ( kalendering ) bila memimgkinkan pada 3 m terakhir pemancangan. Pihak kontraktor harus memberi penjelasan yang cukup dan mempersiapkan semua fasilitas yang memungkinkan pengawas untuk
(SaB V Spesi^^asi 'T e^H ‘Iiang <Pancang 70
memeriksa driving resistance. Pengambilan set hanya boleh dilakukan dengan hadimya pengawas kecuali ada peijanjian.
Pemancangan pada daerah yang bam membutuhkan driving record untuk seluruh panjang tiang pertama dan selama pemancangan tiang berikutnya untuk panjang 3 m terakhir, sampai perilaku yang konsisten dapat diperkirakan.
V.3.7. Final Set
Setiap tiang hams dicatat baik untuk penetrasi yang teijadi tiap 10 pukulan maupun untuk jumlah pukulan yang dibutuhkan agar teijadi penetrasi sebesar 25 mm. Pada saat pengukuran penumnan terakhir ( final set ), hams memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
- bagian tiang yang tersisa/terlihat hams dalam keadaan baik tanpa adanya kemsakan maupun distorsi
- helmet, dolly serta bantalan hams dalam keadaan baik
- pukulan hammer hams satu sumbu ( sentris) dengan as tiang pancang dan permukaan tumbukan hams rata dan tegak lums dengan as tiang pancang dan as hammer.
- hammer hams dalam keadaan baik, mempunyai energi pukulan yang
memadai, dan dioperasikan dengan benar.
- tekanan sementara ( perpendekan ) dari tiang hams dicatat , jika diperlukan.
<Ba6 V. ‘telip^ ‘tuuig cPancan^ 11
V.3.8. Penyokong Sementara
Pihak kontraktor hams memberikan penyokong / penyangga dan ikatan-ikatan sementara pada tiang pancang yang berdiri bebas, untuk menghindari kemsakan akibat getaran maupun gerakan-gerakan lain yang mungkin teqadi.
V.3.9. Urutan Pemancangan Dan Naik / Mumbulnya Tiang ( Heave)
Tiang hams dipancang sesuai dengan umtan yang telah ditetapkan untuk memperkecil kemsakan akibat heave dan perpindahan lateral tanah, Jika dibutuhkan maka level dan pengukuran hams dicatat untuk menggambarkan perpindahan dari tanah atau dari tiang sebagai akibat dari proses pemancangan.
Pada saat tiang naik /.mumbul akibat pemancangan tiang disebelahnya, pihak pengawas dapat melakukan redriviiig atau metode lain supaya tiang kembali dalam keadaan yang sebenamya. Jika perlu pihak kontraktor dapat mengajukan usulan kepada pengawas mengenai perbaikan dan pencegahaimya untuk pekeijaan selanjutnya.
V.3.10. Pengeboran Sebelum Pemancangan ( Preboring)
Jika preboring dibutuhkan, tiang hams diletakkan ke dalam lubang yang telah dibor sampai kedalaman yang telah ditetapkan sebelumnya.
(Safi Spes^i^fisi ‘f e ^ i ^ ‘Iiang $ancang 11
<B«6 f'. Spesifilifisi <Pancang 73 V.3.11. Pemancangan Dengan Menggunakan Tekanan Air ( Jetting)
Jetting hanya boleh dilakukan jika usulan pihj^ kontraktor telah disetujui dan tidak diperbolehkan pada 3 m terakhir dari penetrasi yang disyaratkan.
V.3.12. Kebisingan Dan Gangguan
Pihak kontrdctor hams melaksanakan pekerjaan pemancangan dengan cara sedemikian rupa sehingga getaran, kebisingan dan gangguan yang timbul adalah sekecil mungkin.
V.3.13. Kerusakan Bangunan Di Sekitarnya
Jika pihak kontraktor merasa bahwa akibat proses pemancangan akan menimbulkan kerusakan pada bangunan di sekitarnya, maka pihak kontraktor wajib mengajukan usulan kepada pengawas mengenai pencegahan kerusakan dengan melakukan survey dan mengamati pergerakan atau getaran yang timbul.
V.4. PERBAIKAN DAN PENYAMBUNGAN TIANG
V.4.1. Perbaikan Pada Kepala Tiang Pancang Yang Rusak
Bila teijadi kerusakan pada kepala tiang maka kepala tiang tersebut hams dipotong rata permukaan dengan meninggalkan tulangannya, sampai beton yang baik. Semua partikel yang terlepas dibersihkan dengan wire brush dan kemudian dibilas dengan air. Jika diperlukan pemancangan lebih lanjut maka bagian yang
(BaS Spesift^ 'te^pti/Bang Vancang 74 terpotong hams digantikan dengan beton dengan mutu yang minimal sama. Jika pemancangan tiang telah diterima tetapi ada kerusakan beton yang teijadi di bawah level pemotongan ( cut-off level), maka tiang hams diperbaiki sampai batas cut-off level dengan menggunakan beton yang memiliki mutu minimal sama dengan mutu beton semula.
V.4.2. Penyambungan Tiang Pancang
Segala ketentuan penyambungan tiang pada saat pembuatan hams segera direncanakan dan ditetapkan. Jika tidak ada ketentuan mengenai penyambungan tiang yang ditetapkan pada saat pembuatan tiang, maka segala cara penyambungan tiang hams sedemikian mpa sehingga sambungan mampu memikul tegangan yang teijadi dengan aman.
V.4.3. Pemancangan Pada Tiang Pancang Yang Diperbaiki Atau Disambung Tiang yang sedang diperbaiki atau disambung tidak boleh dipancang sampai beton yang ditambahkan mencapai kekuatan karakteristiknya.
V.4.4. Tiang Pancang yang Terdiri dari Beberapa Bagian
Bila panjang total dari tiang pancang sedemikian mpa sehingga menghamskan pembuatan tiang pancang dalam beberapa bagian, keadaan tanah hams diperhatikan dalam menentukan panjang setiap bagian dan cara
penyambungannya. Panjang bagian-bagian dan cara penyambungannya hams diusulkan kepada pihak direksi untuk mendapatkan persetujuan tertulis.
V.4.S. Pemotongan Kepala Tiang Pancang
Ketika pemancangan telah disetujui dan tidak ada ketentuan lain, maka kepala tiang hams dikupas sampai pada level yang telah ditetapkan ( cut-off level) pada gambar rencana. Panjang tulangan yang dikupas pada level tersebut hams sesuai dengan panjang penyaluran yang tergambar pada gambar rencana.
Perawatan hams dilakukan untuk menghindari kehancuran pada sisa tiang. Retak atau cacat yang teijadi pada beton hams dihilangkan dan diperbaiki seperti keadaan semula.
(3a61^. Spesifilifui ‘te^julijliaag ^ancang 7 5