PENGEMBANGAN PROTOKOL MANAJEMEN PERAWATAN LUKA MODERN DI RUMAH UMUM CUT NYAK DHIEN LANGSA
Edy Mulyadi, Setiawan, Dedi Ardinata email: [email protected]
Abstract
The concept of modern wound care management on the basis of moisture (moisture balance) has been duceand has been adopted by many countries. The advantage of this concept is to create a moist environment that accelerates the re- epitalisasi, retain moisture, will reduce the infection, the wound bed moist spending can stimulate growth factors that accelerate the wound healing process.
The aim of this research resulted in the develompment of Standard Operating Procedures protocol (POS) Modern Wound Care Management (MPLM) as a guide in care at the General Hospital Cut Nyak Dhien (RSUCND). This study was action research, which is is done through focus stages reconnaissance, planning, acting, observing and reflecting. Methods of data collection is done through focus group discussions, questionnaires, and participant observation. Participants who contributed in this study were 12 nurses RSUCND Langsa. Data analysis using quantitative and qualitative methods. This research has produced POS MPLM is the reference in wound care in RSUCND, and a positive impact on increasing the knowledge, skills and attitudes of nurses in providing nursing care, especially in the case of wound care. Researchers expect to management in order to make a decree RSUCND POS determination MPLM, and continues to perform sopervision to evaluate the implementation of POS MPLM in RSUCND.
Keywords: modern wound care management, action research, POS MPLM
Abstrak
Konsep manajemen perawatan luka modern dengan basis lembab (moisture balance) telah diperkenalkan dan tehh diadopsi oleh banyak negara. Keuntungan konsep lembab ini adalah membuat lingkungan yang mempercepat re-epitalisasi, menjaga kelembaban, akan menurunkan infeksi, dasar luka yang lembab dapat
merangsang pengeluaran growth factor yang mempercepat proses penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan menghasilkan pengembangan protokol Prosedur Operasional Standar (POS) Manajemen Perawatan Luka Modern (MPLM) sebagai pedoman dalam melakukan perawatan luka di Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien (RSUCND). Desain penelitian ini adalah action research, yang terdiri-dari tahapan reconnaissance, planning, acting, observing dan reflecting.
Metode pengumpulan data dilakukan malalui FGD, penyebaran kuesioner, dan observasi partisipan. Partisipan yang berkontribusi dalam penelitian ini adalah 12 orang perawat RSUCND Langsa. Analisis data menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif. Penelitian ini telah menghasilkan POS MPLM yang menjadi acuan dalam melakukan perawatan luka di RSUCND, dan berdampak positif terhadap bertambahnya pengetahuan, keterampilan dan sikap perawat dalam memberikan asuhan keperawatan, terutama dalam hal perawatan luka. Peneliti mengharapkan kepada pihak manajemen RSUCND agar membuat surat keputusan penetapan POS MPLM, dan terus melakukan supervisi untuk mengevaluasi petaksanaan POS MPLM di RSUCND.
Kata Kunci: Manajemen perawatan luka modern, action research, POS MPLM
PENDAHULUAN
Perubahan adalah dinamika yang terjadi sebagi sebuah tuntutan sesuai perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan dan kebutuhan. Perubahan diharapkan dapat berdampak positif untuk meningkatkan kualitas dan kepuasan bagi masyarakat, salah satunya pelayanan di rumah sakit.
Rumah sakit adalah organisasi yang bertujuan menyediakan jasa pelayanan kepada masyarakat dengan mengharapkan imbalan melalui transaksi pelayanan kesehatan, salah satunya adalah pelayanan asuhan keperawatan.
Dalam bidang keperawatan perubahan dalam hal yang mutlak haus terjadi bila kita menginginkan perkembangan, kemajuan profesionalisme pembarian pelayanan asuhan keperawatan menjadi lebih baik (Suyanto, 2009)
Sebagai salah satu contoh, manajemen perawatan luka saat ini telah berkembang dan berbeda dengan manajemen perawatan luka sebelumnya.
Empat dekade yang lalu trend manajemen perawatan luka telah berubah, dari metode konvensional/tradisional menjadi modern.
Konsep manajemen perawatan luka modern dengan basis lembab (moisture balance) pertama sekali diperkenalkan oleh Winter (1962) dalam Gitarja (2008), dan telah diadopsi oleh banyak negara. Keuntungan konsep lembab ini adalah membuat lingkungan yang mempercepat re-epitalisasi, menjaga kclembaban akan menurunkan infeksi, dasar luka yang lembab dapat merangsang pengeluaran growth factor yang mempercepat proses penyembuhan luka falim, Khoo & Saad, 2012).
Perawatan luka lembah telah popular dilakukan karena telah terbukti dapat meningkatkan penyemhuhan, mengurangi rasa sakit dan ketidaknyamanan dan mengurangi tingkat infeksi (Dowset, 2011).
Keunggulan lain dari perawatan lido modern adalah mengurangi infeksi dan infeksi silang, mengurangi jaringan partit, mengurangi waktu perawatan dan mengganti balutan, serta mengurangi biaya, (Slater,2008).
Beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan adanya perbedaan yang besar antara perawatan luka konvensional dengan perawatan luka modern.
Penelitian yang dilakukan Nurachmah, Kristianto, dan Gayatri (2011) menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara perawatan luka teknik modern dan konvensional, Proses pelepasan growt faktor lebih cepat terjadi pada kondisi perawatan luka lembab dibandingkan perawatan luka secara konvensional. Kondisi ini akan sangat mempengaruhi proses penyembuhrin luka terutama pada tahapan proliferasi atau granulasi.
Muharania (2012) telah melakukan penelitian dengan judul tingkat kepuasan pasien Diabetic Ulcer tentang perawatan luka modern di Klinik Edweare Langsa terhadap 30 responden. Hasil yang didapatkan adalah seragian bear respenden yaitu 73,3 % menyatakan pima terhadap perawatan luka yang dilakukan.
Peneliti lain yaitu Yunir (008) dalam (Maria (2008) menjelaskan setiap 30 detik terjadi amputasi pada luka diabetic diseluruh dunia. 60 – 80 % amputasi kaki non traumatik disebabkan oleh diabetes, dan 80% amputasi kaki diabetes didahului oleh ulkus. Melalui perawatan luka dengan konsep moist resiko
amputasi akan dapat diturunkan.
Manajemen perawatan luka modern di Indonesia masih sangat sedikit diaplikasikan di rurnah sakit maupun di klinik. Berdasarkan hasil survey yang peneliti lakukan melalui wawancara, dan kunjungan pada baberapa rumah sakit, umumnya masih menggunakan metode konvensional dalam melakukan perawatan luka.
Salah satunya adalah Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien (RSUCND) Langsa yang masih menggunakan campuran Iodine dengan NaCl 0.9% untuk merawat luka.
Dari hasil survey awal yang peneliti dapatkan dari medical record RSUCND dari Bulan lanuari sampai dengan Desember 2012 jumlah pasien yang telah dilakukan perawatan luka adalah 392 orang.
Jenis luka yang dialami pasien sangat bervariasi, diantaranya luka akut seperti luka operasi dan luka trauma. Selain itu juga luka diabetes, luka bakar, luka kronik dan kanker merupakan luka yang juga ditemukan di RSUCND.
Sampai saat ini RSUCND masih menggunakan perawatan luka dengan cara konvensional dan tidak rnemiliki prosedur operasional standar (POS) untuk perawatan luka. Padahal Angka Bed Occipancy Rate (BOR) mencapai 60-70%
setiap bulan. Sedangkan Loss Day RSUCND adalah 7,4. Sedangkan angka infeksi dan amputasi yang dilakukan tidak tercatat di bagian medical record RSUCND sebagai akibat dari perawatan luka.
Pengembangan protokol PUS manajemen perawatan luka modern (MPLM) sangatlah penting direncanakan untuk digunakan pada rumah sakit.
Keuntungan yang didapat bagi pasien dari segi biaya yang lebih murah karena proses penyembuhan luka yang cepat, sedangkan dampak bagi perawat adalah meningkatnya profesionalisme dalam memberikan asuhan keperawatan, terutama dalam hal perawatan luka, sehingga berdampak juga pada peningkatan mutu pelayanan di rumah sakit.
Perawat akan menjadi tenaga kesehatan yang professional dengan pemahaman yang baik tentang fisioloi penyembuhan luka dan mengetahur tentang prosedur pergantian balutan dengan keuntungan konsep lembab yang telah didemonstrasikan lebih dari 30 tahun yang lalu oleh Winter (Gitarja. 2008).
METODE
Penelitian action research yang dilakukan sebanyak saw siklus, berlangsung selama delapan minggu efektif di RSUCND.Kegiatan action research dilaksanakan dalam empat tahapan yaitu : Tahap planning (perencanaan), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi).
Terkait perawatan luka yang dilakukan masih berdasarkan metode konvensional tanpa mengikuti panduan yang terstandar. Hal ini berdampak tidak baik terhadap kinerja perawat khususnya dalam hal perawatan luka.
Mengenai perawatan luka yang dilakukan masih berdasarkan metode konvensional tanpa mengikuti panduan yang terstandar. Hal ini berdampak tidak baik terhadap kinerja perawat khususnya dalam hal perawatan luka.
Dampak tidak baik dapat terlihat seperti ragu-ragu dalam melakukan perawatan, pernilihan balutan, dan jadwal pergantian balutan yang bervariasi.
Berdasarkan hal inilah yang mendasari pihak Yayasan Cut Nyak Dhien Langsa dan Manajemen RSUCN sepakat untuk memperbaiki sistem dan manajemen khususnya dalam hal perawatan luka.
Partisipan yang dilibatkan dalam penelitian Manajemen Perawatan Luka Modern di Rumah Sakit Umum Nyak Dhien Langsa adalah tenaga perawat yang bertugas di RSUCND.
Perawat yang bekerja di RSUCND yang menjadi partisipan adalah 12 orang, dengan tingkat pendidikan bervariasi yang terdiri dari perawat berpendidikan Ners 1 orang, Ahli Madya Keperawatan 11 orang.
HASIL
Proses Proses Manajcmen Perawatan Luka Modern di Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Langsa
Pengernbangan Manajemen Perawatan Luka Modern di RSUCND, akan diuraikan dalam dua tahapan penelitian.
Pada tahap pertama adalah tahap reconnaissance merupakan tahap awal dalam mencari permasalahan yang ada. Tahap ini dapat di sebut juga tahap preliminary study.
Tahap yang ke dua akan menjelaskan tentang satu siklus penelitian action reasearch yang meliputi tahap planning, action, observation, dan reflecting.
Ruangan rawat Map RSUCND memiliki 36 kapasitas tempat tidur tiga ruangan rawat yaitu Tulip 10 tempat tidur, Alamanda 9 tcmpat tidur, dan Bugenville 17 tempat tidur.
RSUCND tidak membagi ruang rawat berdasarkan pengclompokan penyakit, tetapi hanva berdasarkan tingkatan kelas seperti VIP, kelas I, kelas II dan kelas III. Selain ruang rawat Map RSUCND, memiliki 1 nurse station, 1 gudang peralatan, 1 apotik, 1 laboratorium, 3 poli klinik, dan Unit Gawat Darurat.
Karakteristik pasien luka yan selama ini dirawat di RSUCND adalah diabetic foot ulcer, combustion, acute wound seperti luka trauma luka operasi, dan luka kronis yang paling sering dilakukan di RSUCND khususnya operasi Secsio Cesaria dan Debridement.
Pasien yang datatang ke RSUCND adalah pasien umum, jaminan, dan rujukan. Beberapa asuransi kesehatan yang telah bekerjasama dengan RSUCND PT. Askes, Jaminan Kesehatan Aceh (JKA), Jamsostek, PLN, Telkom, Prudential.
Cara Perawatan Luka di RSUCND
Selama ini perawatan luka di RSUCND masih menggunakan perawatan luka konvensional pada semua jenis luka. Perawatan konvensional tidak berbasis lembab, dan hanya menggunakan obat-obatan atau dressing yang sederhana, seperti larutan Iodine dengan NaCl 0,9%.
Pelaksanaan perawatan luka yang dilakukan di RSUCND tidak berdasarkan POS. Hasil observasi dan wawancara ditemukan perbedaan tatalaksana perawatan luka yang dilakukan oleh setiap petugas perawat rumah sakit. Hal ini dikarenakan POS tentang perawatan luka tidak dimiliki oleh rumah sakit dan dan belum pernah disosialisasikan kepada seluruh perawat di RSUCND.
Akibat tidak adanya POS tentang perawatan luka di RSUCND menimbulkan dampak tidak baik terhadap kinerja perawat khususnya dalam hal perawatan luka.
Dampak tidak baik dapat terlihat seperti ragu-ragu dalam melakukan perawatan, pemilihan balutan, dan jadwal pergantian balutan yang bervariasi.
Selama ini perawatan luka yang dilakukan oleh perawat hanya berdasarkan instruksi dan dokter yang merawat.
Pengetahuan perawat tentang perawatan luka modern
Seluruh partisipan sebenarnya telah mengetahui tentang perawatan luka modern dangan basis lembab melalui seminar dan mendapatkan materi tentang perawatan luka saat kuliah.
Sudah banyak peneliti yang melakttkan penelitian tentang perbedaan perawatan luka modern dan koalasional. Banyak keunggulan yang didapatkan dengan menggunakan konsep lembab, seperti mempercepat proses penyembuhan luka, menurunkan angka infeksi, menurunkan waktu pergantian balutan, dan menurunkan biaya perawatan.
Partisipan lain juga menyampaikan bila perawatan luka modern dapat menjadi salah satu keunggulan pelayanan kesehatan di RSUCND, karena sampai saat ini belum ada rumah sakit lain yang menjalankan perawatan luka modern di Kota Langsa.
Untuk data Pengetahuan perawat tentang perawatan luka modern di RSUCND berdasarkan analisis kuantitatif dengan menggunakan uji statistik deskriptif didapatkan data dengan kategori baik 66,7%, dan cukup 33,4%, pengetahuan baik sebanyak 75% dan cukup 25%.
PEMBAHASAN
Pengalaman yang dirasakan oleh partisipan saat menggunakan POS MPLM adalah adanya perbedaan dalam melakukan perawatan luka di RSUCND, bila dibandingkan dengan tata cara sebelum POS MPLM dilaksanakan.
Perubahan yang dirasakan tidak hanya ketika merawat luka tetapi hubungan yang terbina dengan pasien pun menjadi lebih baik. Partisipan lain juga merasakan hal yang tidak berbeda, selain melakukan perawatan luka dengan mengaplikasikan POS MPLM, peran perawat lebih dirasakan.
Hasil wawancara dcngan partisipan juga merasakan adanya kendala- kendala selama melaksanakan POS MPLM. Partisipan merasakan kendala saat menjalankan PUS MPLM adalah komunikasi dan adaptasi dengan pasien, karena
belum terbiasa.
Untuk mengatasi kendala yang ditemukan terutama dalam hal komunikasi dan beradaptasi dengan pasien seperti yang dirasakan partisipan adalah melakukan dan membiasakannya melakukan perawatan luka seperti yang dijalankan menurut POS MPLM. Hal ini disampaikan oleh partisipan saat FG.
Outcome action research
Proses action research yang dilaksanakan di RSUCND telah menghasilkan beberapa outcome, seperti teliti tersusunnya PUS MPLM. POS MPLM yang dihasilkan memiliki unsur atau tahapan dalam perawatan luka modern dengan mengkombinasikan nilai-nilai caring Swanson didalamnya. Aplikasi POS MPLM dapat digunakan saat melakukan perawatan luka, baik luka akut maupun luka kronik.
POS MPLM akan mempermuclah perawat dalam melakukan perawatan luka, karena selain menjelaskan langkah-langkah perawatan luka juga dapat menjadi gaetline untuk pemilihan balutan yang tepat berdasarkan warna dasar luka dan jumlah exudate.
Komponen yang terdapat dalam POS MPLM ndalah kombinasi dari lima domain caring Swanson yang meliputi maintaining belief, knowing, being with, doing for, dan Enabling.
Kelima komponen tersebut telah dielaborasikan dengan langkah-langkah kerja dalam perawatan luka, sehingga diharapkan RSUCND dapat menggunakan POS MPLM ini scbagai standar baku dalam perawatan luka diruang rawat inap.
Penelitian action research yang telah dilakukan di RSUCND selama 5 bulan, telah menghasilkan sebuah PUS khususnya tentang pelayanan perawatan luka dengan konsep modern dan berlandaskan caring.
Berdasarkan hasil FGD yang dilakukan pada tahap reflection yang dilakukan diakhir siklus penelitian menunjukkan adanya penambahan pengetahuan saat melakukan perawatan luka dengan menggunakan konsep lembab.
Selain itu juga muatan nilai-nilai caring menjadi nilai tambah dalam meningkatkan kenyaman perawat dan pasien saat perawatan luka dilakukan.
Hasil analisa kualitatif diatas juga sejalan dengan hasil analisis kuantitatif, dimana hasil uji statistic deskriptif menunjukkan adanya perubahan yang signifikan mengenai pengetahuan perawat tentang perawatan luka modern, caring, dan keterampilan dalam melakukan perawatan luka antara pengukuran hasil observasi sebelum dan sesudah aplikasi PUS MPLM atau role play manajemen perawatan luka modern dilaksanakan.
Penelitian ijni telah banyak memberikan ilmu bagi peneliti dan partisipan (perawat) yang bertugas di RSU CND Langsa.
Penelitian action research memberikan informasi yang sangat penting dalam melakukan pengembangan sebuah standar yang berkualitas. Penggabungan dua teori yang berbeda antara tehnik perawatan luka modern berbasis lembab dengan teori caring Swanson menghasilkan pengembangan PUS MPLM.
Peneliti telah mampu menggunakan desain penelitian action research, dalam mengernbangkan POS MPLM yang dapat digunakan untuk membcrikan asuhan keperawatan yang berkualitas di RSUCND, terutama saat melakukan perawatan luka.
S1MPULAN
Penelitian ini menegunakan desain action research bertujuan mengembangkan protokol POS MPLM yang dapat diaplikasikan pada perawatan luka akut dan kronik karena menggunakan konsep moisture balance yang memiliki nilai-nilai caring.
POS MPLM dapat dijadikan pedoman bagi perawat saat melakukan perawatan luka di rumah sakit.
Implernertiasi penelitian action research saat penyusunan PUS MPLM, telah meningkatkan pengetahuan perawat tentang perawatan luka modern, prilaku caring, dan keterampilan saat melakukan perawatan luka.
DAFTAR PUSTA KA
Badger. (2000). Action Research, Change and Methodological of Nursing Management. 8.201-207.
Banwell, H. (2006). What is the Evidence for Tissue Regeneration Impairment
when using a Formalationof PVP-1 Antiseptic on Open Wound.
Dermatology . Vol 212 (1) 66-76.
Bernardo, L.M.(2001). Evidance-Based Practice for Pin Site Care in Injured Children. Orthopaedic Nursing.Vol 20(5).29-34.
Ilegie, K.M. (2011). Evidance-Based Practicein Wound Care: Toward Addressing Our Knowledge Gaps. JRRD Vol. 48(3).7-10.
Dowsett, C. (2011). Moisture in Wound Healing: Etudates Management, Journal of Wound Care.. 8 – 12
Given, L. M. (2008). The Sage Encyclopedia of Qualitative Research Methods.
Thousand Oaks: Sage. Given, L. M. (2008). The Sage Encyclopedia of Qualitative Research Methods. Thousand Oaks:
Sage.
Kemmis, S. & Mc. Taggart, R. (1988). The Action Research Planner. Victoria:
Deakin University Press.
Lincoln, Y.S. & Guba E.G. (1985). Naturalistic Inquiry. California: Sage.
Nazarko, L. (2009). Wound Healing and Moisture Balance: Selecting Dressing, Nursing & Residentia. Vol. 11 (6).286-291.
Nather. A. (2013). The diabetic foo. Singapore: World Scientific.
Nurrahmah.E., Kristianto.H., & Gayatri. D. (2011). Aspek Kenyamanan Pasien Luka Kronik Ditinjau dari Transforming Growth Factor β1 dan Kadar Kortisol. Makara, Kesehatan Vol 15 (2).73-80.
Polit. D. F., & Beck. C. T. (2008). Nursing Research : Generating and Assessing Evidence for nursing practice.Philadelphia : Lippincott Company.
Poerwantoro, P. D. (2013). Dasar-dasar Perawatan Luka Modern dan Pemilihan Dressing untuk Berbagai Jenis Luka. Jakarta Timur: Pancar Gradia.
Robertson. J. (2006). Action Research and Coaching. BC Educational Leadership Research.1-11.
Setiawan (2012). Seminar dan Workshop Penelitian Kualitative: Action Research (tidak dipublikasikan).
Setiawan., Hattakhit.U., Boonyoung, N., & Engebretson, J.C. (2010). Creating
a caring Atmosphere in an intensive Stroke Care Unit: an action Research Approach. The Malaysian Journal of Nursing. 2(2).
Slater, M.(2008). Does Moist Wound Healing Influence the Rate of Infection.
British Journal of Nursing.Vol 17(20).4-15.
Suyanto. (2009). Mengenal kepemimpinan dan manajemen keperawatan di rumah sakit. (3th ed). Jogjakarta : Mitra Cendika Press
Tauro. (2007). A Comparative Study of the Efficacy of Topical Negative Pressure Moist Dressings and Conventional Moist Dressings in Chronic Wounds. Indian Jurnal of Plastic Surgery,Vol 40 (2).133-140.
The Australian Wound Management Association. (2010). Standards for wound management. (2nd ed). Australia : The Australian Wound Management Association Inc.
Templeton. S.,& Rice., J. (2005). Wound Care Nursing: A Guide to practice. (1st ed). Melbourne Seattle : Ausmed Publications.
Topaz, M. (2012). Improved wound management by regulated negative pressureassisted wound therapy and regulated, oxygen-enriched negative pressure-assisted wound therapy through basic science research and clinical assessment. Indian Jurnal of Plastic Surgery,Vol 45.291-301.
Townson, J.K.,et al. (2011). delivering early care in diabetes evaluation (DECIDE): a protocol for a randomized controlled trial to assess hospital versus home management at diagnosis in childhood diabetes. Biomed Central.Vol 11.1-7
Waterman. (2001). action research: a systematic review and guidance for assessment. Health technology Assasment, 5 (23).
Webb. C. (1989). action research: philosophy, methods and personal experiences.
Journal of Advance Nursing, Vol 14. 403-410.
Zaragoza. S.A., (2004). Implementing the Nursing Process in A Teaching Hospital Ward: an action Research Study. PhD Thesis.