• Tidak ada hasil yang ditemukan

PT BPR BIMA HAYU PRATAMA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PT BPR BIMA HAYU PRATAMA"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

DAN

LAPORAN PENILAIAN SENDIRI PENERAPAN TATA KELOLA BPR TAHUN 2020

PT BPR BIMA HAYU PRATAMA

JEMBER

27 APRIL 2021

(5)

Pengantar

Laporan Pelaksanaan Tata Kelola (GCG) di PT BPR BIMA HAYU PRATAMA pada tahun 2020 ini dibuat dan disampaikan dalam rangka untuk memenuhi kewajiban BPR sebagaimana telah diamanatkan di dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor: 4/POJK.03/2015 tentang Penerapan Tata Kelola Bagi Bank Perkreditan Rakyat.

Secara garis besar dapat kami jelaskan, bahwa laporan tentang Pelaksanaan Tata Kelola (GCG) di PT BPR BIMA HAYU PRATAMA menggambarkan proses implementasi Tata Kelola sepanjang tahun 2020 yang mencakup:

 Governance Structure atau struktur Tata Kelola;

 Governance Process atau proses dari pelaksanaan Tata Kelola; dan

 Governance Outcome atau hasil dari pelaksanaan Tata Kelola.

dimana untuk itu penilaian pelaksanaan Tata Kelola dilakukan dengan metoda self assessment yang dilengkapi dengan laporan-laporan dan bukti-bukti dokumen pendukung lainnya, sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari penilaian kinerja BPR.

Laporan ini selain dibuat untuk memenuhi kewajiban kepada Otoritas Jasa Keuangan, dapat pula digunakan untuk kepentingan stakeholders lain untuk mengetahui secara lebih jelas tentang Kinerja BPR, sebagai bentuk kepatuhan Manajemen PT BPR BIMA HAYU PRATAMA terhadap Ketentuan Perundang-undangan yang berlaku, dan nilai-nilai etika sebagai pondasi dari prinsip dasar Tata Kelola (GCG), yaitu transparansi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, independensi, dan kewajaran.

(6)

Latar Belakang

Implementasi Tata Kelola (GCG) yang baik dan benar selalu akan menjadi fokus dan prioritas bagi Manajemen PT BPR BIMA HAYU PRATAMA dalam menjalankan seluruh aktivitas usaha dan operasional BPR. Proses implementasi Tata Kelola (GCG) di BPR sepanjang tahun 2020 telah dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan, dengan fokus dan kepatuhan kepada 5 (lima) Prinsip Dasar Tata Kelola (GCG), yaitu tranparancy (transparansi), accountability (akuntabilitas), responsibility (pertanggungjawaban), independency (independensi), fairness (kewajaran).

Dalam proses implementasi tersebut diatas, berbagai perbaikan dan penyempurnaan telah dilakukan khususnya yang berhubungan dengan penyempurnaan Governance Structure atau Struktur Tata Kelola, optimalisasi tugas, wewenang, dan tanggungjawab Pengurus BPR dan Komite-komite, serta penyempurnaan Governance Process atau Proses Tata Kelola, dengan cakupan sebagai berikut:

1. STRUKTUR TATA KELOLA BPR (GOVERNANCE STRUCTURE)

Sebagaimana masalah yang dihadapi oleh mayoritas BPR, masih ada banyak kendala khususnya yang berkaitan dengan ketersediaan (jumlah) dan kualitas SDM BPR untuk dapat membangun Struktur Tata Kelola BPR yang "memadai" dalam rangka Penerapan Tata Kelola BPR yang sehat sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor: 4/POJK.03/2015 tanggal 31 Maret 2015, mengenai Penerapan Tata Kelola Bagi Bank Perkreditan Rakyat.

Secara umum, jumlah, komposisi, dan tingkat kompetensi Dewan Komisaris dan Direksi PT BPR BIMA HAYU PRATAMA belum memenuhi "persyaratan minimum" sesuai dengan ketentuan/regulasi tentang Tata Kelola BPR. Namun demikian, dengan memperhitungkan kompleksitas usaha BPR yang masih relatif sederhana, maka penguatan pada Struktur Tata Kelola BPR hanya terbatas dilaksanakan dengan pembentukan fungsi-fungsi tanpa membentuk komite-komite dibawah Dewan Komisaris, yaitu: Komite Audit, Komite Pemantau Risiko, Komite Remunerasi dan Nominasi, yang hanya diwajibkan bagi BPR dengan modal inti diatas Rp 80 milyar dan satuan-satuan kerja dibawah direksi yang hanya diwajibkan untuk BPR dengan modal inti sekurang-kurangnya Rp50 milyar.

Dengan demikian, maka Struktur Tata Kelola PT BPR BIMA HAYU PRATAMA pada posisi laporan 31 Desember 2020 adalah sebagai berikut:

 Rapat Umum Pemegang Saham

 Dewan Komisaris

 Direksi

 Fungsi Audit Internal

 Fungsi Kepatuhan

 Fungsi Kerja Manajemen Risiko

(7)

2. RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM (RUPS)

Dalam tahun 2020, PT BPR BIMA HAYU PRATAMA telah menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham dengan beberapa keputusan penting/strategis yang dihasilkan, sebagai berikut:

a) Menyetujui dan menerima dengan baik Hasil Laporan Keuangan Bank Tahun 2019 , Karena semua data keuangan yang dilaporkan oleh direksi sesuai dengan aturan dan ketentuan akutansi perbankan dan SAK-ETAP yang berlaku dan tidak terjadi adanya penyimpangan dalam pembuatan laporan keuangan.

b) Mengesahkan Rencana Kerja tahun 2020 dan Rencana kerja operasional yang dibuat oleh direksi untuk pedoman operasional tahun 2020;

c) RUPS 22 Juni 2020 penambahan modal disetor bank sebesar Rp. 1.500.000.000,- (Satu milyar lima ratus juta rupiah) dengan adanya tambahan modal disetor, modal disetor bank akan menjadi sebagai berikut : yaitu sebelumnya sebesar Rp.

1.375.000.000,- (Satu milyar tiga ratus tujuh puluh lima juta rupiah) saat ini menjadi sebesar Rp. 2.875.000.000 (Dua milyar delapan ratus tujuh puluh lima juta rupiah), Perubahan Susunan Pengurus, Perubahan Modal Dasar Perseroan.

d) Penunjukan KAP (Kantor Akuntan Publik) Drs. Suprihadi dan rekan untuk melakukan Audit Umum atas Laporan Keuangan PT. BPR Bima Hayu Pratama yang berakhir 31 Desember 2020

3. DEWAN KOMISARIS

Jumlah, Komposisi, dan Independensi

Jumlah, komposisi, dan independensi Dewan Komisaris PT BPR Bima Hayu Pratama pada posisi 31 Desember 2020, adalah sebagai berikut:

N a m a J a b a t a n

I’I Teguh K Komisaris Utama

Endang Purtini Komisaris

... ...

Dengan komposisi anggota Dewan Komisaris tersebut diatas, maka hingga posisi tanggal 31 Desember 2020, salah satu anggota Dewan Komisaris PT BPR BIMA HAYU PRATAMA merupakan Komisaris.

Tugas, Wewenang, dan Tanggungjawab Dewan Komisaris

Dalam menjalankan setiap tugas, wewenang, dan tanggungjawabnya, Dewan Komisaris PT BPR BIMA HAYU PRATAMA berkewajiban untuk melaksanakannya secara Transparan, Akuntabel, dan Independen. Secara lebih rinci, tugas, wewenang, dan tanggungjawab Dewan Komisaris yang telah dilaksanakan sepanjang tahun 2020 adalah sebagai berikut:

(8)

a) Menjalankan pengawasan atas pelaksanaan tugas dan tanggungjawab Direksi, yaitu dengan cara mengarahkan, memantau, dan mengevaluasi kinerja Direksi, khususnya untuk memastikan bahwa pengelolaan BPR telah dilaksanakan sesuai dengan Prinsip Kehati-hatian (Prudential Banking Principles), Anggaran Dasar BPR, serta Ketentuan dan Perundang-undangan yang berlaku;

b) Memastikan telah diselenggarakannya secara baik dan benar Penerapan Tata Kelola dalam seluruh kegiatan usaha dan operasional BPR pada seluruh jenjang organisasi;

c) Memberikan saran-saran kepada Direksi BPR berkaitan dengan isu-isu dan kebijakan strategis, dan proses pengambilan keputusan bisnis yang memiliki dampak signifikan terhadap kegiatan usaha BPR sepanjang hal itu tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar BPR dan Ketentuan Perundang-undangan yang berlaku;

d) Dalam menjalankan fungsi pengawasan, Dewan Komisaris dilarang ikut serta dalam pengambilan keputusan mengenai kegiatan operasional BPR, kecuali dalam hal-hal yang berkaitan dengan "penyediaan dana kepada pihak terkait" sebagaimana dalam ketentuan yang mengatur tentang Batas Maksimum Pemberian Kredit, dan hal-hal lain yang ditetapkan dalam Peraturan Perundang-undangan;

e) Pengambilan keputusan oleh Dewan Komisaris sebagaimana dimaksud pada huruf (d) merupakan bagian dari tugas pengawasan, sehingga tetap menjadi tanggungjawab dari Direksi atas tugas pengurusan BPR;

f) Memastikan bahwa Direksi telah menindaklanjuti seluruh hasil (temuan) audit dan rekomendasi dari Satuan Kerja Audit Internal, Audit Eksternal, dan hasil pemeriksaan Pengawas Otoritas Jasa Keuangan dan/atau Otoritas lainnya;

g) Dalam situasi dan kondisi tertentu, Dewan Komisaris dapat menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) maupun Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) sesuai dengan Anggaran Dasar BPR dan Ketentuan Perundang-undangan yang berlaku;

h) Memberitahukan kepada pihak Otoritas Jasa Keuangan paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja sejak ditemukannya:

1. Pelanggaran Katentuan/Peraturan Perundang-undangan di bidang Keuangan dan Perbankan; dan/atau

2. Keadaan atau perkiraan keadaan (berhubungan dengan kegiatan operasional BPR) yang dapat membahayakan kelangsungan usaha BPR.

(9)

4. RAPAT DEWAN KOMISARIS

Pada tahun 2020 Dewan Komisaris PT BPR BIMA HAYU PRATAMA telah menyelenggarakan Rapat Dewan Komisaris sebanyak 4 (empat) kali dan Rapat Dewan Komisaris bersama dengan Direksi sebanyak 4 (empat) kali, dengan tingkat kehadiran anggota Dewan Komisaris sebagai berikut:

Nama Peserta Rapat Kehadiran Pada Rapat Kehadiran Pada Rapat Dewan Komisaris DeKom & Direksi

I’I Teguh Kartawijaya 4 Kali 4 Kali

Endang Purtini 4 Kali 4 Kali

5. D I R E K S I

Jumlah, Komposisi, dan Independensi Direksi

Jumlah, komposisi, dan independensi Direksi PT BPR Bima Hayu Pratama pada posisi 31 Desember 2020, adalah sebagai berikut:

N a m a J a b a t a n

Sugiharto Direktur Utama

Wahyu Eko B Direktur

Seluruh anggota Direksi PT BPR BIMA HAYU PRATAMA merupakan tenaga profesional yang memiliki pengalaman pada industri BPR dan telah lulus dalam Penilaian Kemampuan dan Kepatutan (Fit and Proper Test). Susunan Direksi tersebut telah dicatat dalam administrasi Otoritas Jasa Keuangan / Bank Indonesia melalui Otoritas Jasa Keuangan dan / atau Surat Bank Indonesia No. 4/243/DPBPR/IDBPR/Jr. tanggal 23 Mei 2002.

Seluruh anggota Direksi tidak melakukan rangkap jabatan sebagai Komisaris, Direksi atau Pejabat Eksekutif pada Bank dan/atau perusahaan lainnya. Meskipun dimungkinkan untuk aktif menjadi pengurus Asosiasi BPR (Perbarindo) sesuai Pasal 8 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 4/POJK.03/2015, pada saat ini, dengan pertimbangan untuk lebih fokus pada pelaksanaan tugas sebagai Direksi BPR, satu Anggota Direksi PT BPR BIMA HAYU PRATAMA yang aktif sebagai pengurus Asosiasi BPR.

Seluruh anggota Direksi PT BPR BIMA HAYU PRATAMA tidak memiliki hubungan keluarga atau semenda sampai dengan derajat kedua dengan sesama anggota Direksi, dan/atau anggota Dewan Komisaris. Seluruh anggota Direksi baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, tidak memiliki saham sebesar 25% (dua puluh lima persen) atau lebih dari modal disetor pada Bank dan/atau menjadi pemegang saham mayoritas di lembaga jasa keuangan non Bank.

(10)

Seluruh anggota Direksi PT BPR BIMA HAYU PRATAMA telah membuat Surat Pernyataan bahwa yang bersangkutan tidak memiliki hubungan keuangan, hubungan kepengurusan, dan kepemilikan saham di BPR, dan/atau tidak memiliki hubungan keluarga atau semenda sampai dengan derajat kedua dengan sesama anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris, dan/atau Pemegang Saham Pengendali BPR.

Jumlah, komposisi, Indepedensi, kompetensi, dan integritas dari seluruh anggota Direksi PT BPR BIMA HAYU PRATAMA telah memenuhi persyaratan "kebutuhan minimal"

kegiatan operasional BPR, dan sesuai dengan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan, antara lain:

1. Jumlah anggota Direksi lebih atau sama dengan 2 (dua) orang, lebih banyak atau sama dengan jumlah anggota Dewan Komisaris;

2. Anggota Direksi bertempat tinggal di kota/kabupaten yang sama atau kota/kabupaten yang berbeda, tetapi pada propinsi yang sama dengan lokasi Kantor Pusat BPR;

3. Seluruh anggota Direksi telah memiliki pengalaman kerja lebih dari 5 (lima) tahun di bidang operasional perbankan, termasuk sebagai Pejabat Eksekutif BPR;

4. Tidak ada seorangpun anggota Direksi yang memberikan kuasa umum kepada pihak lain yang mengakibatkan pengalihan fungsi dan tugas Direksi;

5. Telah memiliki Pedoman dan Tata Tertib Kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor: 4/POJK.03/2015;

6. Telah lulus dari proses Fit and Proper Test dan telah memperoleh Surat Persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan.

Tugas, Wewenang, dan Tanggung Jawab Direksi

Direksi PT BPR BIMA HAYU PRATAMA bertanggungjawab atas pelaksanaan kepengurusan BPR. Untuk itu, Direksi wajib mengelola BPR sesuai dengan kewenangan dan tanggung jawabnya sebagaimana telah diatur dalam Anggaran Dasar BPR dan Ketentuan/Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

Dalam melaksanakan tugas, wewenang, dan tanggungjawabnya, dalam tahun 2020 Direksi PT BPR BIMA HAYU PRATAMA telah mengerjakan hal-hal sebagai berikut :

a) Menjalankan pengelolaan BPR secara profesional, konservatif dan independen, dengan memperhatikan Prinsip Kehati-hatian (Prudential Banking Principles), Anggaran Dasar BPR, serta Ketentuan dan Perundang-undangan yang berlaku;

b) Merealisasikan pencapaian target/sasaran Kinerja Keuangan BPR sebagaimana telah ditetapkan dalam Rencana Bisnis dan Rencana Strategis BPR melalui proses kegiatan operasional yang berlandaskan Prinsip-prinsip Tata Kelola (GCG) yang "baik dan sehat"

pada seluruh jenjang organisasi BPR;

c) Menunjuk dan mengangkat Pejabat Eksekutif yang membawahi Fungsi Audit Interen , fungsi Manajemen Risiko dan Fungsi Kepatuhan;

(11)

d) Melaksanakan Tata Kelola BPR dengan memperhatikan aspek kecukupan jumlah SDM BPR dan kompetensinya. Hal ini tercermin dari pemisahan tugas dan tanggungjawab antara satuan/unit kerja yang menangani pembukuan, operasional, dan kegiatan penunjang operasional, serta penunjukan pejabat yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan audit interen, dan independen terhadap unit kerja lain;

e) Menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (apabila diperlukan) sebagaimana telah diatur di dalam Ketentuan Perundang-undangan dan Anggaran Dasar BPR;

f) Menindaklanjuti seluruh hasil temuan dan rekomendasi yang diterima dari audit internal, audit eksternal, hasil pengawasan Dewan Komisaris, hasil pengawasan Otoritas Jasa Keuangan dan/atau Otoritas lain. Tindak lanjut tersebut dalam bentuk action plan dengan tenggat waktu (deadline) yang wajar, monitoring yang ketat, dan hasilnya pada kesempatan pertama dilaporkan kepada seluruh stakeholders terkait;

g) Menyampaikan data dan informasi yang akurat, relevan, dan tepat waktu, kepada Dewan Komisaris dalam rangka efektivitas "Pengawasan Aktif Pengurus" sesuai dengan ketentuan dalam Manajemen Risiko BPR;

h) Menyampaikan kebijakan BPR yang "bersifat strategis" dalam bidang Kepegawaian kepada seluruh Pegawai BPR;

i) Mempertanggungjawabkan seluruh pelaksanaan tugasnya dalam pengelolaan BPR kepada Dewan Komisaris dan Pemegang Saham melalui forum Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan.

Pendidikan & Pengembangan Kualitas SDM Direksi

Anggota Direksi PT BPR BIMA HAYU PRATAMA telah menjalankan proses pembelajaran secara berkelanjutan untuk meningkatkan kompetensi dan pengetahuannya dalam upaya mendukung pelaksanaan tugas dan tanggungjawabnya di BPR.

Sepanjang tahun 2020, kegiatan training, seminar, dan workshop yang telah diikuti oleh anggota Direksi PT BPR BIMA HAYU PRATAMA adalah sebagai berikut:

1. Sosialisasi & Pelatihan Pemasangan Hak Tanggungan Secara Online, pada tanggal 16 Januari 2020, diikuti oleh Sdr Sugiharto dan Sdr Suciono Raharjo;

2. Membangun daya saing BPR, mendorong pertumbuhan dengan meningkatkan kualitas SDM dan teknologi informasi, pada tanggal 15-16 Februari 2020, diikuti oleh Sdr Sugiharto;

3. Sosialisasi Kredit & Diskusi Kredit, pada tanggal 20-22 Februari 2020, diikuti oleh Sdri.Dyana Anggraini;

4. Restrukturisasi Kredit, pada tanggal 23 Juni 2020, diikuti oleh Sdri. Yuyun Wulanitfah;

5. Manajemen Risiko, pada tanggal 22-23 Juli 2020 diikuti oleh Sdri Reni Lulita;

6. Sosialisasi Perlindungan Konsumen di Sektor Jasa Keuangan, pada tanggal 22 Juli 2020 diikuti oleh Sdr.Andi Harianto dan Sdr Sugiharto;

(12)

7. Peran Hukum dalam kredit : REM atau GAS pada tanggal 18 Agustus 2020, diikuti Sdr Sugiharto;

8. Sosialisasi Kegiatan dalam rangka bulan inklusi keuangan tahun 2020, pada tanggal 10 September 2020 , diikuti oleh Sdr.Andi Harianto dan Sdr Sugiharto ;

9. Koordinasi dan percepatan Pemberian Subsidi Non KUR pada BPR dan BPRS, pada tanggal 16 September 2020, diikuti oleh Sdri. Yuyun Wulanitfah;

10. Pendidikan bagi BPR/BPRS tahun 2020, pada tanggal 15 Oktober 2020, diikuti oleh

Sdr.Andi Harianto dan Sdr Sugiharto;

11. Permintaan Tanggapan Penyusunan SEOJK SLIK, pada tanggal 2 November 2020, diikuti oleh Sdri.Yuyun Wulanitfah;

12. Workshop Aplikasi RBB 2021, pada tanggal 11-12 November 2020, diikuti oleh Sdri.Dyana Anggraini dan Sdr Maya Ria Ningsih;

13. Sosialisasi Pelaporan SLIK, pada tanggal 23 November 2020, diikuti oleh Sdri Yuyun Wulanitfah

14. Peran Komisaris & Direktur Kepatuhan Membangun BPR/BPRS yang tangguh, pada tanggal 17 Desember 2020, diikuti oleh Sdr Sugiharto dan Sdri Reni Lulita

15. Pelaporan PPATK melalui Aplikasi goAML bagi industri BPR-BPRS Anggota Perbarindo, pada tanggal 25 November 2020 ,diikuti oleh Sdri Indah Lutfiana dan Sdr Andy Harianto

6. RAPAT DIREKSI

Sepanjang tahun 2020, Direksi PT BPR BIMA HAYU PRATAMA telah menyelenggarakan Rapat Direksi sebanyak 12 (dua belas) kali. Selain itu, sebagian dan seluruh anggota Direksi juga menghadiri "Rapat Bersama" yang diselenggarakan oleh Dewan Komisaris.

Secara keseluruhan, jumlah tingkat kehadiran anggota Direksi dalam Rapat Direksi pada tahun 2020 adalah sebagai berikut:

Nama Peserta Rapat Jumlah Kehadiran Pada Persentase Rapat Direksi Kehadiran

Sugiharto 12 Kali 96%

Wahyu Eko B 12 Kali 94%

7. PELAKSANAAN FUNGSI KEPATUHAN BPR

Sesuai dengan ketentuan pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor:

4/POJK.03/2015 Pasal 51 dan 52, maka PT BPR BIMA HAYU PRATAMA telah menunjuk seorang anggota Direksi untuk membawahkan Fungsi Kepatuhan. Sehubungan dengan jumlah modal inti BPR yang kurang dari Rp 50 milyar hingga 31 Desember 2018 Direksi telah menunjuk dan mengangkat Pejabat Eksekutif yang menjalankan Fungsi Kepatuhan.

Sedangkan Pejabat Eksekutif Fungsi Kepatuhan mempunyai tugas dan tanggung jawab

(13)

untuk melaksanakan langkah-langkah dalam upaya membangun Budaya Kepatuhan, antara lain dengan :

a) Memastikan bahwa seluruh Unit Kerja di BPR memiliki pedoman kerja yang terkini sesuai dengan job description dan struktur organisasi BPR;

b) Melakukan sosialisasi ketentuan internal dan eksternal baik secara tidak langsung yaitu melalui Surat Edaran Direksi BPR, atau secara langsung dengan melakukan tatap muka dan/atau mengadakan sosialisasi di Kantor dengan Kabag dan para Staf;

c) Melakukan pemantauan secara konsisten terhadap pelaksanaan prinsip kehati- hatian khususnya yang berkaitan dengan proses pemberian kredit untuk nasabah besar yang akan berdampak signifikan terhadap usaha BPR;

d) Melakukan review (kaji ulang) terhadap rancangan kebijakan internal BPR yang akan diterbitkan untuk memastikan telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku;

e) Melakukan pembinaan dan/atau penindakan pada Unit Kerja BPR, sesuai dengan Laporan Hasil Temuan Audit Internal terkait dengan bidang operasional, dana, dan kredit;

f) Memberikan tanggapan maupun jawaban atas surat dari pihak PPATK yang berkaitan dengan Penerapan Program APU dan PPT;

g) Memantau dan menjaga kepatuhan BPR terhadap seluruh perjanjian dan komitmen yang telah dibuat BPR kepada Otoritas Jasa Keuangan, misalnya yang berkaitan dengan komitmen Penguatan Modal Inti BPR sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor: 5/POJK.03/2015, tanggal 31 Maret 2015 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum dan Kewajiban Pemenuhan Modal Inti Minimum Bank Perkreditan Rakyat;

h) Memantau kewajiban penyampaian laporan BPR sesuai ketentuan, misalnya kewajiban Pengawasan Dewan Komisaris, dan lain-lain.

8. PELAKSANAAN MANAJEMEN RISIKO BPR

Laporan tentang Penerapan Manajemen Risiko BPR ini merupakan bagian dari kewajiban sebagaimana pada Pasal 63 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor: 4/POJK.03/2015 tentang Penerapan Tata Kelola Bagi Bank Perkreditan Rakyat. Sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor: 13/POJK.03/2015, tentang Penerapan Manajemen Risiko BPR, PT BPR BIMA HAYU PRATAMA sesuai dengan jumlah modal intinya, hanya diwajibkan untuk menerapkan 3 (tiga) jenis risiko yaitu: Risiko Operasional, Risiko Kredit, dan Risiko Kepatuhan.

(14)

Adapun Rencana Tindak Penerapan Manajemen Risiko, antara lain:

Catatan:

Metoda Pengukuran Risiko mengacu kepada SE BI Nomor: 13/24/DPNP/2011

Pernyataan Risk Appetite (Risk Appetite Statement)

Perkembangan Pasar Keuangan Global yang sangat dinamis membutuhkan kemampuan SDM BPR dalam memahami, mengevaluasi, dan menetapkan strategi dan kebijakan untuk melakukan mitigasi risiko secara lebih baik. Penerapan Manajemen Risiko sudah menjadi kewajiban bagi BPR sebagaimana diatur dalam Pasal 63 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan

No. Topik Rencana Pemenuhan Periode Pemenuhan

1 Kelengkapan Organisasi dan Fungsi Manajemen Risiko

a. Pembentukan satuan kerja Manajemen Risiko

Tidak diwajibkan -

b. Penunjukan Pejabat Eksekutif yang bertanggungjawab thd penerapan fungsi manajemen risiko

Semester I/2017 Sudah dipenuhi tanggal 24 Maret 2017

Surat

No.46/UM/BHP/III/2017 c. Pembentukan Komite Manajemen Risiko Tidak diwajibkan

2 Penyusunan Ketentuan Interen yg memuat kewenangan dan tanggungjawab Direksi &

Dewan Komisaris terkait dengan penerapan Manajemen Risiko

Semester I/2018 Sudah dipenuhi tanggal 14 Maret 2018

3 Penyusunan Kebijakan dan Prosedur yang memuat:

a. Kebijakan Manajemen Resiko Prosedur Manajemen Risiko dan Penetapan Limit Risiko

Sudah Terpenuhi Semester II/ 2017 Telah disampaikan kepada OJK Tanggal 17 Oktober 2017 b. Proses Identifikasi Pengukuran

Pemantauan dan Pengendalian Risiko

Sudah Terpenuhi Semester II/ 2018 Telah disampaikan kepada OJK Tanggal 24 Juli 2018

c. Sistem Informasi Manajemen Risiko

Sudah Terpenuhi Semester II/ 2018 Telah disampaikan kepada OJK Tanggal 24 Juli 2018

d. Sistem Pengendalian Intern Sudah Terpenuhi Semester I/2019 Telah disampaikan kepada OJK Tanggal 30 Januari 2019

e. Produk dan Aktivitas Baru - Semester II/2020 belum

ada rencana

Tidak ada produk baru

(15)

Nomor: 4/POJK.03/2015 tentang Penerapan Tata Kelola Bagi Bank Perkreditan Rakyat dan RPOJK tentang Manajemen Risiko BPR. Namun demikian, secara teknis, hingga saat ini industri perbankan masih mengacu kepada Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/23/DPNP tanggal 25 Oktober 2011 dan Peraturan Bank Indonesia Nomor: 14/8/PBI/2012, tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum.

 Risk Appetite

Risk Appetite adalah tingkat risiko yang "wajar" yang bersedia diambil oleh Manajemen PT BPR BIMA HAYU PRATAMA dalam menjalankan aktivitas operasionalnya, yaitu pada Tingkat 1 dengan mengacu kepada Surat Edaran bank Indonesia No.13/24/DPNP/2011 sebagai kombinasi dari aspek Inherent Risk dan Kualitas Penerapan Manajemen Risiko;

 Risk Tolerance

Risk Tolerance adalah tingkat risiko maksimum yang ditetapkan oleh Manajemen BPR dalam menjalankan aktivitas operasionalnya. Dengan mengacu kepada Surat Edaran Bank Indonesia No.13/24/DPNP/2011, PT BPR BIMA HAYU PRATAMA mengambil Risk Tolerance pada Tingkat 2 sebagai hasil kombinasi dari aspek Inherent Risk dan Kualitas Penerapan Manajemen Risiko;

 Risk Limit

Dalam rangka Implementasi Manajemen Risiko, PT BPR BIMA HAYU PRATAMA akan merumuskan kebijakan ini yang merupakan bagian dari implementasi Risk Tolerance pada level unit-unit kerja BPR dengan parameter Risk Limit yang telah disetujui dan wajib dipatuhi oleh seluruh jajaran Manajemen BPR. Parameter tersebut merupakan batasan atau threshold sebagai ukuran pengendalian risiko.

PARAMETER Risk Risk Tgl. Laporan

K e t e r a n g a n Appetite Tolerance 31 Des 2020

RISIKO OPERASIONAL:

- Kasus Internal Fraud 0 ≤ 2 1 Tolerance in-line

- Komplain Deposan/Penabung 0 ≤ 3 0 Limit Break

- Komplain Nasabah Kredit 0 ≤ 5 0 Limit Break

RISIKO KREDIT:

- NPL Gross (total) ≤ 2,00%

≤ 5,00% 30,84% Limit Break

- NPL Gross 25 Debitur Terbesar ≤ 3,00% ≤ 5,00% 15,72% Limit Break

- NPL Gross Sektor Pertanian ≤ 5,00% ≤ 6,50% 9,56% Limit Break

- NPL Gross Sektor Perdagangan ≤ 2,00% ≤ 3,00% 6,52% Limit Break

- NPL Gross Sektor Konsumtif ≤ 2,50% ≤ 3,50% 6,69% Limit Break

RISIKO LIKUIDITAS:

- Loan to Deposit Ratio (LDR) ≤ 65,00% ≤ 91,00% 48,22% Limit Break

- Cash Ratio (CR) ≥ 12,50% ≤ 25,00% 8,26% Tolerance in-line

- Kewajiban Likuid / Total DPK ≤ 35,00% ≤ 50,00% 38,31% Tolerance in-line

(16)

Pengukuran, Monitoring, dan Pengendalian Risiko

Dalam tahun 2020, Satuan Kerja Manajemen Risiko PT BPR BIMA HAYU PRATAMA telah menjalankan langkah-langkah yang dibutuhkan terkait dengan pemantauan, evaluasi, dan mitigasi risiko, antara lain dengan cara:

a) Melakukan pengukuran risiko likuiditas dengan membuat proyeksi arus kas bulanan, membuat maturity profile report mingguan, menghitung rasio likuiditas harian, dan melakukan stress test bulanan;

b) Melakukan pengukuran risiko kredit dengan proses monitoring yang ketat terhadap kualitas kredit 25 debitur terbesar, portfolio kredit sektor pertanian, dan portfolio kredit sektor perdagangan, khususnya jasa konsumtif yang NPLnya cenderung meningkat;

c) Melakukan pengukuran risiko operasional dengan mengembangkan teknik analisis data historis dan analisis perilaku, sehubungan dengan meningkatnya hasil temuan audit internal terkait kasus fraud yang dilakukan pegawai BPR, baik di Kantor Pusat, Kantor Cabang, maupun Kantor Kas;

d) Memperbaiki fungsi dan mekanisme penagihan kredit, khususnya untuk kredit pada kondisi terlambat bayar (late payment) ≤ 90 hari yang pada Bank Umum kualitasnya telah tergolong dalam "special mention" sementara pada BPR masih dikelompokkan sebagai kredit lancar;

e) Melakukan peninjauan Kebijakan Risk Limit secara berkala, karena pentingnya Risk Limit sebagai Parameter Manajemen Risiko dan Early Warning Signals.

9. PELAKSANAAN AUDIT INTERNAL

Secara umum mekanisme audit internal pada PT BPR BIMA HAYU PRATAMA dirancang dan dilaksanakan berdasarkan internal control framework yang mencakup aspek-aspek seperti pengendalian risiko, aktivitas, informasi, dan pemantauan. Secara reguler, Fungsi Kerja Audit Internal melakukan pemeriksaan yang bersifat ex-post (memeriksa tahun sebelumnya) terhadap seluruh unit kerja.

Sepanjang tahun 2020, Pejabat Eksekutif/ Audit Interen telah melakukan pengawasan di PT BPR BIMA HAYU PRATAMA telah ditunjuk dan diangkat pada tanggal 22 Maret 2017.

10.

11. PELAKSANAAN AUDIT EKSTERNAL

Dalam rangka memenuhi seluruh aspek Tata Kelola terkait dengan proses penunjukkan Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik, sesuai Pasal 62 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor: 4/POJK.03/2015 tentang Penerapan Tata Kelola (GCG) Bagi Bank Perkreditan Rakyat, antara lain:

 Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan;

 Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik yang ditunjuk tidak melebihi masing-masing 3 (tiga) tahun dan 5 (lima) tahun secara berturut-turut;

(17)

 Penunjukan Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik disetujui melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sesuai dengan rekomendasi dari Satuan Kerja Audit Interen (SKAI) melalui Dewan Komisaris.

Berhubung hingga 31 Desember 2020 dengan total asset lebih dari Rp. 10 Milyar PT.BPR BIMA HAYU PRATAMA sudah wajib oleh Akuntan Publik.

BATAS MAKSIMUM PEMBERIAN KREDIT

PT BPR BIMA HAYU PRATAMA telah memiliki kebijakan, sistem dan prosedur yang tertulis tentang penyediaan dana, baik kepada pihak terkait atau related party maupun kepada debitur besar atau debitur inti (large exposure), dengan berpedoman kepada Ketentuan dan Regulasi tentang Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK).

Sesuai dengan kriteria dan kebijakan yang ada, baki debet total penyediaan dana kepada pihak-pihak tersebut diatas pada posisi 31 Desember 2020 adalah sebagai berikut:

Penyediaan Dana J u m l a h

Debitur Nominal (Ribuan Rp)

Kepada Pihak Terkait 1 4.375

Kepada Debitur Inti:

- Individu 25 2.823.448

- Kelompok

Penyediaan Dana kepada Pengurus BPR

Penyediaan dana kepada pihak terkait sebagaimana tersebut diatas juga diberikan kepada Pengurus PT BPR BIMA HAYU PRATAMA yang baki debet pinjamannya berdasarkan posisi pada tanggal 31 Desember 2020 adalah sebagai berikut:

Nama Pengurus Jabatan Jumlah Pinjaman

I’I Teguh K Komisaris Utama

Endang Purtini Komisaris

Sugiharto Direktur Utama

Wahyu Eko B Direktur

... Direktur ...

12. PENANGANAN BENTURAN KEPENTINGAN

Dalam rangka memenuhi ketentuan sebagaimana diatur pada Pasal 69 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 4/POJK.03/2015 tentang Penanganan Benturan Kepentingan, maka Manajemen PT BPR BIMA HAYU PRATAMA belum menyusun dan mengesahkan kebijakan interen yang mengatur mengenai prosedur pemberian persetujuan serta pengungkapan benturan kepentingan berkaitan dengan segala aktivitas dan transaksi keuangan yang

(18)

melibatkan kepentingan pihak terkait, dalam hal ini Pengurus BPR dan/atau Pemegang Saham BPR.

Secara keseluruhan, data seluruh aktivitas dan/atau transaksi keuangan yang mempunyai benturan kepentingan di PT BPR BIMA HAYU PRATAMA pada posisi 31 Desember 2020 adalah sebagai berikut

Pihak yang memiliki Benturan Kepentingan

Nama dan Jabatan Pengambil Keputusan

Jenis Transaksi

Nilai

Transaksi Jangka Waktu PT BPR BIMA HAYU

PRATAMA

Sdr. Eddy Christian K.

PT BPR BIMA HAYU PRATAMA

Sdr. Sugiharto (Dirut)

Sewa Mobil Mitsubhisi Kuda

th 2000

Rp. 18 Juta 1 Tahun

PT BPR BIMA HAYU PRATAMA

5 (Lima) peg. Bag. Kredit

PT BPR BIMA HAYU PRATAMA

Sdr. Sugiharto (Dirut)

Sewa Sepeda

Motor 5 unit @ 1.500.000 pa

Rp.7.5 juta 1 tahun

13. PERMASALAHAN HUKUM DAN STATUS PENYELESAIAN

Permasalahan hukum yang sedang dihadapi oleh PT BPR BIMA HAYU PRATAMA beserta status penyelesaiannya hingga posisi tanggal 31 Desember 2020 adalah sebagai berikut:

Permasalahan Hukum Jumlah Perkara

Perdata Pidana

Perkara Selesai (Inkracht) Nihil Nihil-

Perkara Gugur dan/atau Damai Nihil Nihil

Dalam Proses Penyelasaian Nihil Nihil

Total Nihil Nihil

Berdasarkan permasalahan hukum tersebut diatas, berikut ini secara ringkas dijelaskan dalam uraian sebagai berikut:

a) Perkara Perdata:

 Jumlah Perkara yang dapat diselesaikan secara Litigasi mulai dari tingkat pengadilan pertama hingga Mahkamah Agung adalah sebanyak Nihil Perkara.

 Jumlah Perkara yang masih dalam proses penyelesaian adalah sebanyak Nihil Perkara, dengan rincian:

 Perselisihan terkait jumlah pelunasan hutang = Nihil Perkara

 Perselisihan terkait barang jaminan (kepailitan) = Nihil Perkara

 Perselisihan terkait pihak ketiga (derden verzet) = Nihil Perkara

 Perselisihan Hubungan Industrial = Nihil Perkara

 Perselisihan Tata Usaha Negara = Nihil Perkara

(19)

b) Perkara Pidana:

Jumlah Perkara Pidana yang ditangani oleh PT BPR BIMA HAYU PRATAMA pada tahun 2020 adalah sebanyak Nihil perkara .

14. PENYIMPANGAN INTERNAL, UPAYA PENCEGAHAN & PENYELESAIANNYA

PT BPR BIMA HAYU PRATAMA telah mengembangkan Sistem Pengendalian Internal . sebagai bagian inheren dari internal control framework, Sistem Pengendalian Intern memiliki fungsi yang penting dalam rangka :

a) Pencegahan

Sebagai salah satu pilar terpenting dalam strategi anti fraud, langkah-langkah dalam upaya pencegahan atau prevention dilakukan dengan:

 Memberikan sosialisasi dan pelatihan kepada seluruh unit kerja tentang berbagai modus kejahatan perbankan dan tindak pencegahannya;

Memperbanyak frekuensi "surprise audit" untuk "membunuh niat" dari pihak-pihak tertentu di internal BPR yang karena tugas, wewenang, dan jabatannya, mempunyai kesempatan untuk melakukan penyimpangan dan/atau fraud;

b) Deteksi Dini

Sebagai pilar penting lainnya dalam strategi anti fraud, upaya deteksi atau detection sangat efektif dalam pencegahan fraud. Untuk itu, PT BPR BIMA HAYU PRATAMA

“akan” mengembangkan whistle blowing system, yaitu dengan memberikan kesempatan dan akses yang seluas-luasnya kepada seluruh pegawai pada seluruh jenjang jabatan untuk berperan aktif sebagai whistleblower agents, dengan menyampaikan informasi tentang indikasi penyimpangan/fraud melalui telpon, email, sms, dan sarana/media komunikasi lainnya.

c) Identifikasi dan Investigasi

Menindaklanjuti setiap informasi yang dianggap relevan dan signifikan terkait dengan potensi penyimpangan/fraud di bidang operasional dan perkreditan dengan cara:

 Mengikuti aliran dana dari nasabah kepada pegawai BPR yang diindikasikan terlibat dalam penggelapan dana nasabah, atau diindikasikan meminta fee untuk pencairan kredit kepada debitur yang bersangkutan;

 Melakukan analisis dan identifikasi terhadap lonjakan NPL di sebuah Kantor Cabang yang sebelumnya memiliki kinerja baik. Langkah ini untuk memastikan apakah telah terjadi penyimpangan/fraud, atau kurangnya kehati-hatian dalam proses pemberian kredit yang berpotensi menimbulkan Kredit Macet (NPL).

Melakukan kunjungan lapangan atau on-site visit dalam rangka verifikasi informasi yang secara psikologis dapat "membangun efek jera" kepada seluruh pegawai BPR agar tidak melakukan penyimpangan/fraud.

(20)

d) Tindak Lanjut dan Pelaporan

Manajemen BPR “akan” melakukan tindak lanjut atas seluruh kasus internal fraud, baik yang proses penyelesaiannya dilakukan secara internal maupun yang dilakukan melalui proses litigasi (secara hukum) karena kasusnya dianggap telah memenuhi unsur-unsur Tindak Pidana Perbankan yang menimbulkan kerugian bagi Bank secara finansiil dan reputasi.

Kasus-kasus internal fraud yang tindak lanjut penyelesaiannya ditempuh melalui secara yudiris melalui proses litigasi, telah dilaporkan tersendiri pada bagian lain dari Laporan Penerapan Tata Kelola BPR ini.

Secara keseluruhan, jumlah kasus internal fraud di PT BPR BIMA HAYU PRATAMA pada tahun 2020 adalah sebagai berikut:

Proses Penyelasaian

Jumlah & Pelaku Kasus Internal Fraud

Pengurus BPR Pegawai Tetap Pegawai tidak Tetap

2019 2020 2019 2020 2019 2020

Telah diselesaikan secara

internal - - - - 1 1

Dalam proses penyelesaian

secara internal - - - - - -

Telah ditindaklanjuti melalui

Proses Hukum - - - - - -

Total - - - - 1 1

15. KEBIJAKAN REMUNERASI DAN RASIO GAJI PEGAWAI

Sesuai dengan ketentuan pada Pasal 75 ayat (2) huruf (d) dan huruf (e) Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor: 4/POJK.03/2015 tentang Paket Kebijakan Remunerasi bagi Direksi dan Dewan Komisaris, serta tentang Rasio Gaji Tertinggi dan Gaji Terendah, sesuai data pada biaya tenaga kerja/honorarium di PT BPR BIMA HAYU PRATAMA, total remunerasi yang telah dibayarkan kepada Direksi dan Dewan Komisaris dalam tahun 2020 adalah sebagai berikut:

Jenis Remunerasi & Fasilitas Lainnya

Jumlah Diterima dalam 1 Tahun Dewan Komisaris D i r e k s i Orang Ribuan Rp Orang Ribuan Rp Remunerasi (gaji, honor, bonus, tunjangan rutin,

tantiem, dan berbagai fasilitas lain dalam bentuk non natura)

2 111.000.000 2 181.153.000 Fasilitas lain dalam bentuk natura, seperti: premi

asuransi kesehatan, iuran dana pensiun/ hari tua, tunjangan transportasi, perumahan, dan lain-lain

1 4.176.000 1 7.308.000

(21)

Paket remunerasi untuk Dewan Komisaris dan Direksi PT BPR BIMA HAYU PRATAMA pada tahun 2020 dapat dikelompokan berdasarkan tingkat penghasilan, sebagai berikut:

Jumlah Remunerasi per orang dalam 1 tahun

( untuk yang diterima secara tunai ) D i r e k s i Dewan Komisaris

Diatas Rp 1.000,00 Juta - -

Diatas Rp 500,00 Juta sd. Rp 999,00 Juta - -

Diatas Rp 300,00 Juta sd. Rp 500,00 Juta - -

Diatas Rp 200,00 Juta sd. Rp 299,00 Juta - -

Diatas Rp 100,00 Juta sd. Rp 199,00 Juta - -

Rasio Gaji Tertinggi dan Terendah

Berdasarkan data pada posisi 31 Desember 2020, Rasio Gaji tertinggi dan terendah pada PT BPR BIMA HAYU PRATAMA adalah sebagai berikut:

a) Rasio Gaji Pegawai yang tertinggi dan terendah : 1,15 : 1,00 b) Rasio Gaji Direksi yang tertinggi dan terendah : 1,14 : 1,00 c) Rasio Gaji Komisaris yang tertinggi dan terendah : 1,47 : 1,00 d) Rasio Gaji Direksi yang tertinggi dan Pegawai yang tertinggi : 2,96 : 1,00

16. PEMBERIAN DANA UNTUK KEGIATAN SOSIAL

Sehubungan dengan itu, PT BPR BIMA HAYU PRATAMA pada tahun 2020 telah dilaksanakan beberapa kegiatan sebagai berikut:

Program CSR Penerima Sumbangan Nilai Sumbangan

Sumbangan Harla MWC NU Kantor Kecamatan Balung 150.000,00

Sumbangan Santunan Anak Yatim Anak Yatim 200.000,00

Ucapan grand Opening Vegas Meubel Vegas 400.000,00

Pemberian Bingkisan Lebaran Nasabah inti dan mitra kerja 7.255.000,00

Pemberian sembako Masyarakat sekitar yg kurang

mampu

4.484.000,00 Total Sumbangan 12.489.000,00

17. RENCANA STRATEGIS BPR

PT BPR BIMA HAYU PRATAMA belum menyusun Rencana Strategis BPR periode 2017- 2022 mengingat bahwa SE OJK sebagai petunjuk pelaksanaan tentang penyusunan rencana BPR terbit pada tanggal 23 Desember 2016. Namun demikian sesuai amanat dalam pasal 65 peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor: 4/POJK.03/2015 tentang penerapan tata kelola BPR, PT BPR BIMA HAYU PRATAMA akan melaksanakan penyusunan rencana strategis BPR untuk periode tahun 2018-2023 melalui proses diskusi internal dengan menyerap berbagai feedback dari seluruh unit yang dilanjutkan dengan diskusi-diskusi yang melibatkan Direksi, Komisaris dan seluruh unit kerja BPR. yang disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang sekaligus mengesahkan Rencana Bisnis BPR untuk tahun 2020. Proses penyusunan Rencana Strategis BPR telah

(22)

melalui serangkaian diskusi internal dengan menyerap berbagai feedback dari seluruh unit kerja yang dilanjutkan dengan diskusi-diskusi yang melibatkan Direksi, Dewan Komisaris, dan seluruh unit kerja di BPR.(disesuaikan th depan)

Beberapa isu dalam Rencana Strategis BPR tahun 2019-2024 yang akan menjadi perhatian dalam fokus dalam proses internalisasi nilai-nilai atau core values, antara lain:

 Memperkuat aspek pemodalan dalam rangka mempersiapkan Ketentuan Pemenuhan Modal Minimum pada tahun 2024;

 Mempersiapkan SDM BPR (dalam hal kecukupan dan kompetensi), melalui Rencana Progam Diklat yang lebih baik dan terintegrasi;

Membuka layanan jaringan kantor melalui kantor kas di daerah lain dengan tetap melakukan penyempurnaan praktek prinsip kehati-hatian atau prudential banking principles dalam seluruh aspek operasional BPR, khususnya dalam strategi dan kebijakan penyaluran kredit, dengan mempertimbangkan semakin ketatnya kondisi persaingan usaha, dan semakin kompleksnya regulasi pada sektor jasa keuangan.

Secara garis besar, rencana jangka panjang (Corporate Plan) PT BPR BIMA HAYU PRATAMA sebagaimana diuraikan dalam Rencana Strategis BPR adalah sebagai berikut:

BIDANG PERKREDITAN:

 Strategi & Kebijakan Pertumbuhan Kredit:

 Perluasan basis nasabah atau customer base khususnya segmen kredit mikro;

 Pengembangan pembiayaan sektor pertanian organik;

 Peningkatan secara selektif portfolio pembiayaan dengan skema eksekuting;

 Menambah Direksi Kredit untuk lebih fokus dalam meningkatkan pertumbuhan dan kualitas kredit.

 Mengurangi jumlah AO kondisi Covid 19 dari 9 orang menjadi 5 orang dan menurunkan target pencairan kredit tiap bulan dari Rp.125 juta menjadi Rp.75 juta karena kondisi usaha cukup berat terdampak covid 19.

 Strategi & Kebijakan Pengelolaan Kualitas Kredit:

 Penguatan fungsi control mulai dari proses loan appraisal (analisa kredit) sampai loan approval;

 Antisipasi dini dan pencegahan NPL mulai dari kondisi special mention(Kol 2);

 Percepatan proses penyelesaian Kredit Macet melalui penagihan, restrukturisasi, dan penjualan agunan kredit.

(23)

BIDANG PENDANAAN:

 Strategi Komposisi Sumber Dana:

 Pengembangan produk tabungan sebagai sumber dana murah;

 Penyempurnaan kualitas layanan nasabah melalui service excellence;

 Pengembangan layanan produk berbasis e-banking;

BIDANG OPERASIONAL:

Penurunan Rasio BOPO melalui:

 Peningkatan pengawasan dalam rangka efisiensi biaya operasional BPR;

 Penurunan biaya dana atau cost of fund melalui perbaikan struktur (komposisi) sumber dana;

 Perampingan SDM BPR melalui peningkatan produktivitas dan kompetensi.

LIKUIDITAS, PERMODALAN, DAN TINGKAT KESEHATAN BPR:

Pemenuhan Komitmen Kinerja Keuangan BPR:

 Penguatan Modal Inti BPR sesuai dengan amanat Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor:

5/POJK.03/2015, tanggal 31 Maret 2015 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum dan Kewajiban Pemenuhan Modal Inti Minimum Bank Perkreditan Rakyat;

 Menjaga risiko likuiditas dengan memperbesar portfolio pinjaman bertenor panjang (4 tahun), karena sebagian besar deposito BPR berjangka bertenor 1-3 bulan;

 Berusaha memperbaiki Tingkat Kesehatan BPR pada level yang " TIDAK SEHAT"

menjadi level yang “ SEHAT” sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan.

18. RENCANA BISNIS BPR TAHUN 2020

PT BPR BIMA HAYU PRATAMA telah menyusun Rencana Bisnis BPR tahun 2020 yang telah disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang sekaligus juga mengesahkan Rencana Strategis BPR tahun 2020-2024. Proses penyusunan Rencana Bisnis BPR tahun 2020 dilakukan melalui serangkaian diskusi internal dengan menyerap berbagai feedback dari seluruh unit kerja yang dilanjutkan dengan diskusi-diskusi yang melibatkan Direksi, Dewan Komisaris, dan seluruh unit kerja di BPR, dimana proses finalisasi dilakukan setelah melalui 2 (dua) kali proses revisi draft.

Beberapa isu dalam Rencana Bisnis BPR tahun 2020 yang akan menjadi perhatian dalam fokus dalam proses internalisasi nilai-nilai atau core values, antara lain:

 Implementasi Visi dan Misi PT BPR BIMA HAYU PRATAMA yang telah disempurnakan dan disusun secara lebih sederhana, mudah dipahami, realistis, dan lebih mudah untuk dilaksanakan oleh seluruh Pegawai BPR;

(24)

 Implementasi Kode Etik Pegawai sebagai bagian yang melekat dan tak terpisahkan dari proses implementasi Tata Kelola BPR, yang harus tercermin dari perubahan perilaku dan budaya kerja yang lebih baik;

Implementasi praktek prinsip kehati-hatian atau prudential banking principles dalam seluruh aspek operasional BPR, khususnya dalam hal strategi dan kebijakan penyaluran kredit, dengan mempertimbangkan semakin ketatnya kondisi persaingan usaha terutama dari Bank Umum yang menyalurkan KUR yang saat ini plafon maksimal meningkat dari Rp. 25 juta menjadi Rp. 50 juta dengan suku bunga 6% per tahun , risiko kredit UMKM yang semakin tinggi, dan semakin kompleksnya regulasi pada sektor jasa keuangan.

Secara garis besar, Rencana Bisnis Tahun 2020 dari PT BPR BIMA HAYU PRATAMA dapat diuraikan sebagai berikut:

BIDANG PERKREDITAN:

 Kebijakan Pertumbuhan Kredit:

 Memperluas basis nasabah (customer base) khususnya segmen kredit mikro, karena selama ini peningkatan jumlah penyaluran kredit BPR sebagian besar berasal dari peningkatan plafon kredit debitur lama (existing customer), sehingga berdampak pada meningkatnya average loan size atau rata-rata kredit per akun, dimana hal ini secara otomatis akan meningkatkan credit risk;

 Mengembangkan pembiayaan pada sektor pertanian organik, hal ini sejalan dengan global trend terkait dengan green banking sebagai bagian dari green economy, yaitu pembiayaan sektor ekonomi produktif yang berwawasan lingkungan, dimana sektor pertanian organik menjadi salah satu potensi yang perlu digali dan dikembangkan di Indonesia;

 Meningkatkan secara selektif portfolio kredit dengan skema channeling, karena saat ini banyak tawaran dari Bank Umum BUMN kepada BPR berkinerja "Sehat" untuk ikut menyalurkan dana KUR Mikro.

 Kebijakan Pengelolaan Kualitas Kredit:

 Meningkatkan fungsi control mulai dari proses loan appraisal sampai loan approval sebagian mekanisme yang terintegrasi. Hasil temuan audit internal atas beberapa kasus NPL menunjukkan bahwa ada loan appraisal yang merekomendasikan agar kredit ditolak, tetapi putusan akhirnya justru kredit dicairkan;

 Mengantisipasi secara dini untuk mencegah terjadinya NPL, yang mulai dari kondisi special mention (terlambat bayar < 30 hari), karena hingga saat ini kredit dengan kondisi tersebut termasuk "Kolektibilitas Lancar" sesuai PKPB terbaru dengan standart POJK No.33/POJK.03/2018, sehingga langkah-langkah penagihan sudah harus dilakukan secara intensif ketika mulai terjadi tunggakan;

(25)

 Mempercepat proses penyelesaian Kredit Macet melalui penagihan, restrukturisasi, dan penjualan agunan kredit.

BIDANG PENDANAAN:

 Kebijakan Komposisi Sumber Dana:

 Mengembangkan produk tabungan seperti: Tabungan Pelajar, Tabungan Hari Raya dan Tabungan Masa Depan, sebagai sumber dana murah yang dapat berkontribusi untuk menurunkan cost of fund atau biaya dana BPR;

 Menyempurnakan kualitas layanan nasabah melalui service excellence, agar dapat meningkatkan kepuasan nasabah dan loyalitas nasabah (customer satisfaction and customer loyalty) kepada BPR;

 Pengembangan layanan produk berbasis e-banking khususnya untuk produk-produk layanan yang bekerjasama dengan Bank Umum, Money Transfer Operator (Western Union, MoneyGram, Travelex, TransFast, dan lain-lain) yang saat ini sudah banyak dilakukan dalam rangka jasa remittance atau kiriman uang. Manfaat dari produk ini selain sebagai fee based income juga "pengendapan dana" (walaupun cuma sehari) yang dapat membantu likuiditas BPR.

BIDANG OPERASIONAL:

Menurunkan Rasio BOPO melalui langkah-langkah:

 Memperketat mekanisme pengawasan internal untuk meningkatkan efisiensi biaya dalam kegiatan operasional BPR. Hal ini antara lain dilakukan dengan memperketat pengeluaran dana-dana non operasional di Kantor.

 Menurunkan biaya dana atau cost of fund melalui restrukturisasi sumber dana, yaitu dengan upaya meningkatkan proporsi sumber dana murah (tabungan), bernegosiasi dengan deposan besar untuk menurunkan suku bunga deposito, dan mengajukan permohonan penurunan suku bunga linkage program dari Bank Umum, khususnya Bank Umum BUMN;

 Merampingkan SDM BPR melalui kebijakan peningkatan produktivitas, kompetensi dan ketrampilan (khusus front liner), namun dengan mematuhi sepenuhnya koridor dalam Penerapan Tata Kelola BPR. Tentu saja langkah-langkah dalam peningkatan produktivitas, kompetensi dan ketrampilan SDM ini perlu disertai dengan komitmen untuk memperbaiki merit system di BPR.

LIKUIDITAS, PERMODALAN, DAN TINGKAT KESEHATAN BPR:

Memenuhi Komitmen Kinerja Keuangan BPR dengan:

 Kebijakan Penguatan Modal Inti BPR sesuai dengan amanat Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor: 5/POJK.03/2015, tanggal 31 Maret 2015 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum dan Kewajiban Pemenuhan Modal Inti Minimum Bank Perkreditan Rakyat, PT BPR BIMA HAYU PRATAMA sudah memenuhi ketentuan

(26)

dengan Modal Inti Minimum sebesar Rp 3.000.000.000,- (tiga milyar rupiah) pada tanggal 22 Juni 2020 dan sudah dilakukan RUPS, BPR harus mempersiapkan Modal Inti Minimum untuk tenggat waktu 31 Desember 2024 sebesar Rp 6.000.000.000,- (enam milyar rupiah); namun masih harus memenuhi ketentuan modal inti minimum sebesar 6 milyar dengan tenggat waktu 2024

 Menjaga risiko likuiditas dengan memperbesar portfolio pinjaman bertenor panjang (sampai dengan 3 tahun) khususnya dari Bank Umum BUMN, karena sebagian besar deposito berjangka BPR bertenor 1-3 bulan. Hal ini sejalan dengan Risk Assessment yang mengambil posisi 31 Desember 2020, dimana rasio Kewajiban Likuid terhadap total Dana Pihak Ketiga adalah 38,31%, sementara itu Risk Tolerance hanya 50,00%

artinya resiko likuiditas batas Risk Tolerance;

 Berusaha memperbaiki Tingkat Kesehatan BPR pada level yang " TIDAK SEHAT"

menjadi level yang “ SEHAT” sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan.

PENGEMBANGAN SDM DAN INFRASTRUKTUR:

Meningkatkan Kualitas SDM BPR dan Infrastruktur Pendukung Operasional melalui:

 Proses rekrutmen dan pelatihan melalui program in-house training yang berkualitas secara berkesinambungan. Proses ini ditindaklanjuti dengan kebijakan penempatan pegawai yang profesional, bersih dari unsur kolusi dan nepotisme;

 Mengoptimalkan jumlah dan komposisi pegawai di seluruh unit kerja BPR dengan berbasis komitmen kerja yang tinggi, pengalaman operasional yang memadai, serta memiliki mindset dan risk awareness yang sejalan dengan Visi dan Misi BPR;

 Menyempurnakan Core Banking System BPR agar dapat lebih mendukung kegiatan operasional BPR, mulai dari data processing, information system, decision support system dan IT security, sehingga BPR dapat beroperasi secara lebih aman, produktif, dan efisien.

19. PERLINDUNGAN NASABAH

Sebagaimana yang telah diamanatkan dalam Pasal 67 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor: 4/POJK.03/2015 tentang kewajiban BPR melaksanakan transparansi informasi mengenai produk dan/atau jasa layanan penggunaan data nasabah BPR, hal ini tidak lain adalah dalam rangka pengaturan mengenai perlindungan konsumen sektor jasa keuangan yang menjadi salah satu tugas pokok dari Otoritas Jasa Keuangan.

Untuk itu, PT BPR BIMA HAYU PRATAMA telah memiliki Pedoman dan Kebijakan mengenai Pengaduan Nasabah yang berpedoman kepada:

 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia Nomor 18 /POJK.07/2018 Tentang Layanan Pengaduan Konsumen Di Sektor Jasa Keuangan

(27)

Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia Nomor 17 /SEOJK.07/2018 Tentang Pedoman Pelaksanaan Layanan Pengaduan Konsumen Di Sektor Jasa Keuangan

Pada kesempatan yang sama, telah ditunjuk dan diangkat seorang pegawai yang bertugas sebagai unit khusus yang bertanggungjawab dalam menangani dan menyelesaikan setiap pengaduan nasabah.

(28)

N E R A C A

PT. BANK PERKREDITAN RAKYAT BIMA HAYU PRATAMA

31 DESEMBER 2020 DENGAN ANGKA PERBANDINGAN TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL 31 DESEMBER 2019

2020 2019

Rp Rp

A S E T

ASET LANCAR:

Kas 1,888,000 4,595,700

Pendapatan Bunga Yang Akan Diterima 91,165,530 84,067,601

Penempatan Pada Bank Lain 7,350,725,928 5,937,404,156

Penyisihan Penghapusan Aset Produktif ABA (303,236,928) (300,000,000)

Kredit Yang Diberikan 5,934,065,667 6,434,836,543

Penyisihan Penghapusan Aset Produktif Kredit (238,268,443) (437,664,301)

Agunan Yang Diambil Alih 0 0

Jumlah Aset Lancar 12,836,339,754 11,723,239,699

ASET TIDAK LANCAR:

Aset Tetap :

Harga Perolehan 241,951,100 232,356,100

Akumulasi Penyusutan (218,680,326) (208,008,152)

Nilai Buku 23,270,774 24,347,948

Aset Tidak Berwujud

- Aset Tidak berwujud – program 72,000,000 72,000,000

- Amortisasi Aset Tidak Berwujud (44,399,980) (32,399,992)

Jumlah Aset Tidak Berwujud 27,600,020 39,600,008

Aset Lain – lain 134,333,333 184,700,000

Jumlah Aset Tidak Lancar 185,204,127 248,647,956

TOTAL ASET 13,021,543,881 11,971,887,654

(29)

NERACA - Lanjutan

PT. BANK PERKREDITAN RAKYAT BIMA HAYU PRATAMA

31 DESEMBER 2020 DENGAN ANGKA PERBANDINGAN TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL 31 DESEMBER 2019

2020 2019

Rp Rp

KEWAJIBAN DAN EKUITAS

KEWAJIBAN:

Kewajiban Segera 22,281,434 13,720,867

Utang Bunga 12,915,499 12,037,534

Utang Pajak 0 135,860

Simpanan 9,824,233,358 10,305,357,270

Pinjaman Yang Diterima 0 0

Kewajiban Lain-Lain 149,706,358 97,941,159

Jumlah Kewajiban 10,009,136,649 10,429,192,690

E K U I T A S:

Modal Dasar 10,000,000,000 1,500,000,000

Modal Yang Belum Disetor (7,125,000,000) (125,000,000)

Modal Disetor 2,875,000,000 1,375,000,000

Dana Setoran Modal 0 0

Cadangan Umum 200,000,000 200,000,000

Saldo Laba (Rugi) Belum Ditentukan Penggunaannya (62,592,768) (32,305,035)

Jumlah Ekuitas 3,012,407,232 1,542,694,965

TOTAL KEWAJIBAN DAN EKUITAS 13,021,543,881 11,971,887,654

(0) (0)

(30)

LAPORAN LABA RUGI

PT. BANK PERKREDITAN RAKYAT BIMA HAYU PRATAMA

31 DESEMBER 2020 DENGAN ANGKA PERBANDINGAN TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL 31 DESEMBER 2019

2020 2019

Rp Rp

PENDAPATAN DAN BEBAN OPERASIONAL

Pendapatan Bunga:

- Kontraktual 1,494,376,036 1,485,343,954

- Provisi 140,395,481 126,500,514

Jumlah Pendapatan Bunga 1,634,771,517 1,611,844,468

Beban Bunga:

- Kontraktual (397,765,470) (417,206,493)

- Provisi 0 0

Jumlah Beban Bunga (397,765,470) (417,206,493)

PENDAPATAN BUNGA NETTO 1,237,006,047 1,194,637,975

- Pendapatan Operasional Lainnya 198,872,857 188,425,148

Jumlah Pendapatan Operasional 1,435,878,905 1,383,063,123

Beban Operasional:

- Beban Penyisihan Kerugian dan Penyusutan (83,366,326) (225,391,282)

- Beban Pemasaran (13,216,100) (13,193,000)

- Beban Administrasi dan Umum (1,345,254,793) (1,267,433,052)

Jumlah Beban Operasional (1,441,837,219) (1,506,017,335)

LABA (RUGI) OPERASIONAL (5,958,314) (122,954,211)

PENDAPATAN (BEBAN) NON OPERASIONAL

- Pendapatan Non Operasional 402,586 303,588

- Beban Non Operasional (15,562,789) (14,961,800)

Jumlah Pendapatan (Beban) Non Operasional (15,160,203) (14,658,212)

RUGI SEBELUM PAJAK PENGHASILAN (21,118,517) (137,612,423)

BEBAN PAJAK PENGHASILAN

- Beban Pajak Penghasilan (9,169,216) (8,997,791)

RUGI BERSIH (30,287,733) (146,610,214)

Referensi

Dokumen terkait

4/POJK.03/2015 tanggal 31 Maret 2015, mengenai Penerapan Tata Kelola Bagi Bank Perkreditan Rakyat. Secara umum, jumlah, komposisi, dan tingkat kompetensi Dewan

Dalam rangka memenuhi seluruh aspek Tata Kelola terkait dengan proses penunjukkan Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik, PT BPR BUMI MASYARAKAT SEJAHTERA telah

Sesuai POJK Nomor 4/POJK.03/2015 tentang Penerapan Tata Kelola bagi Bank Perkreditan Rakyat, setiap anggota Direksi dilarang untuk rangkap jabatan pada Bank dan/atau perusahaan

Bank Pembangunan Daerah Papua sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor : 55/POJK.03/2016 tentang Penerapan Tata Kelola bagi Bank Umum, lebih ditekankan

Sebagai pedoman pelaksanaan Tata Kelola atau Good Corporate Governance (GCG) bagi PT BPR Bank Daerah Gunungkidul (Perseroda), sehingga dapat meningkatkan kinerja BPR,

Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan NO.4/POJK.03/2015 tentang penerapan Tata Kelola bagi Bank Perkreditan Rakyat pada pasal 24 ayat 1 menyebutkan bahwa

Ketentuan tersebut sudah sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 4/POJK.03/2015 Tentang Penerapan Tata Kelola Bagi Bank Perkreditan Rakyat Masa jabatan

Rencana penyelesaian seluruh hak dan kewajiban BPR terhadap nasabah Dengan mempedomani Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 64/POJK.03/2016 tentang Perubahan Kegiatan Usaha Bank