• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL KEPENDIDIKAN. : Rintisan Sekolah Menengah Terpadu (Integrating Academic and Vocational Education)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL KEPENDIDIKAN. : Rintisan Sekolah Menengah Terpadu (Integrating Academic and Vocational Education)"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)

ISSN No. : 1412 – 2952 Tahun 2 Nomor 2 Juni 2006

JURNAL KEPENDIDIKAN

Joko Saryono : Rintisan Sekolah Menengah Terpadu (Integrating Academic and Vocational Education)

Mohammad Harijanto : Konstruksi Tes sebagai Alat Ukur Hasil Belajar di Sekolah Dasar

Sri Indriati Hasanah : Pembelajaran Matematika Realistik untuk Materi Pokok Aritmetika Sosial di Kelas VII MTSN Pademawu Pamekasan

Sulistiyono : Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi dalam Pembelajaran Keterampilan Menulis di Kelas Rendah Sekolah Dasar/MI

Rahmad : Tes Kemampuan Berbahasa sebagai Alat Penilaian dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

Muh. Tauhed Supratman : Perkembangan Sastra Madura Modern

Memprihatinkan

(2)

SUSUNAN PENYUNTING JURNAL INTERAKSI

Penanggung Jawab Dra. Sri harini (Dekan FKIP)

Ketua Penyunting Drs. Moh. Harijanto, M.Pd.

Wakil Ketua Penyunting Rahmad, S.Pd.

Penyunting Pelaksana Dra. Yanti Linarsih Moh. Romly, M.Pd.

Dra. Sri Widjajanti Halifaturrahman, S.Pd.

Drs. Zainal Arifin

Penyunting Ahli Drs. H. kutwa, M.Pd.

Drs. Abd. Roziq

Alamat Penyunting dan Tata Usaha:

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Madura

(UNIRA) Pamekasan, Jl. Raya Panglegur Pamekasan, Telp. (0324) 322231, 325786. Fax. (0324) 32418, E-mail:[email protected]

JURNAL KEPENDIDIKAN INTERAKSI menerima sumbangan artikel yang belum pernah diterbitkan dalam media cetak lain. Artikel diketik dengan spasi rangkap pada kertas kuarto, panjang antara 10-20 halaman.

Jurnal ini diterbitkan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Madura (UNIRA) Pamekasan

(3)

JURNAL KEPENDIDIKAN INTERAKSI

Tahun 2 Nomor 2 Juni 2006

Rintisan Sekolah Menengah Terpadu

(Integrating Academic and Vocational Education)

Oleh: Dr. Joko Saryono, M.Pd. 4

Konstruksi Tes sebagai Alat Ukur Hasil Belajar di Sekolah Dasar

Oleh: Drs. Mohammad Harijanto, M.Pd. 17 Pembelajaran Matematika Realistik untuk Materi Pokok

Aritmetika Sosial di Kelas VII MTSN Pademawu Pamekasan

Oleh: Sri Indriati Hasanah 23

Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi dalam Pembelajaran Keterampilan Menulis di Kelas Rendah Sekolah Dasar/MI

Oleh:Drs. H. Sulistiyono, M.Pd 35

Tes Kemampuan Berbahasa sebagai Alat Penilaian dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

Oleh : Rahmad, S.Pd. 45

Perkembangan Sastra Madura Modern Memprihatinkan

Oleh: Muhammad Tauhed Supratman 52

JURNAL KEPENDIDIKAN INTERAKSI menerima sumbangan artikel

yang belum pernah diterbitkan dalam media cetak lain. Artikel diketik

dengan spasi rangkap pada kertas kuarto, panjang antara 10-20

halaman.

(4)

RINTISAN

SEKOLAH MENENGAH TERPADU (Integrating Academic and Vocational Education)

Oleh: Dr. Joko Saryono, M.Pd. *)

Abstrak

Ide Sekolah Menengah Terpadu muncul dilatarbelakangi adanya (1) kesenjangan layanan pendidikan, (2) tuntutan abad baru, (3) tuntutan adanya perubahan, dan (4) kecenderungan evolusi pengetahuan. Secara teoritis ide tersebut dilandasi oleh paradigma konstruktivisme, experience learning, generative learning, dan activity learning.

Paradigma dan perspektif SM Terpadu jelas memperluas konsepsi, fungsi, dan peranan pendidikan sekolah dari reproduksi ilmu menjadi lembaga pendidikan kecakapan hidup. Inti konsep terpadu adalah memadukan kurikulum dan praktik pembelajaran dari pendidikan akademik dan vokasional ke dalam satu program dengan tujuan (1) teratasinya kesenjangan layanan pendidikan, (2) terbetuknya sistem dan model SM Terpadu yang potensial meningkatkan keterwacaan (“literacy”) akademik dan teknologi bagi lulusan sekolah menengah, dan (3) teraktualisasikan dan tertransformasikannya potensi dan keterampilan yang dimiliki oleh sumberdaya manusia di daerah yang berusia produktif menjadi kecakapan hidup (life skills) yang relevan dan cocok dengan dinamika pekerjaan, perubahan struktur ketenagakerjaan, dan perubahan sosial ekonomis serta kebutuhan tenaga kerja di sektor-sektor sosial ekonomis yang sedang berkembang.

Kata Kunci: Sekolah Menengah Terpadu, pendidikan, dan kecakapan hidup

I. LATAR BELAKANG

1. Kesenjangan Layanan Pendidikan Program sekolah menengah umum dan vokasional selama ini tumbuh dengan jalur yang terpisah. UU RI No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional juga masih mengatur keterpisahan program layanan pendidikan menengah ini ke dalam format kelembagaan pendidikan umum, kejuruan, vokasi, dan profesi. Dalam hal ini, pendidikan kejuruan dan vokasi serta profesi seringkali disebut juga dengan satu istilah: pendidikan vokasional, sedangkan pendidikan umum seringkali disebut dengan pendidikan akademik. Pendidikan guru

untuk pendidikan kejuruan dan pendidikan

umum juga dilakukan dalam jalur yang

terpisah pula. Dengan dua jalur pendidikan

persekolahan ini kebutuhan masyarakat

akan pendidikan dipenuhi. Masyarakat

yang menginginkan segera memasuki

dunia kerja selepas lulus sekolah

disediakan jalur pendidikan kejuruan (atau

vokasional), sedangkan masyarakat yang

menginginkan masuk ke universitas

disediakan jalur pendidikan umum

(akademik). Oleh karena itu, idealnya di

setiap daerah terdapat dua jenis layanan

pendidikan tersebut. Akan tetapi, karena

kondisi geografis Indonesia yang luas dan

berpulau-pulau, di beberapa daerah terjadi

kesenjangan layanan pendidikan.

(5)

Sekolah menengah kejuruan (SMK) tidak selalu terdapat di setiap kabupaten/kota, demikian juga sekolah menengah umum tingkat atas yang kemudian disebut sekolah menengah atas (SMA) tidak selalu ada di setiap kabupaten/kota atau satuan wilayah tertentu. Di banyak kabupaten hanya terdapat SMA, dan di banyak kabupaten yang lain hanya terdapat SMK. Masyarakat harus pergi jauh dari tempat tinggalnya untuk mendapatkan sekolah yang diinginkan. Untuk mengatasi kesenjangan layanan pendidikan di daerah-daerah seperti ini diperlukan pengembangan model layanan pendidikan alternatif dengan bertumpu pada kemampuan daya dukung sumber dan lingkungan yang ada.

Pengembangan sekolah menengah terpadu pada SMK atau SMA, untuk memberikan layanan pendidikan kejuruan maupun akademik secara terpadu adalah alternatif yang potensial untuk mengatasi kesenjangan ini.

Selain faktor geografis, pendidikan di Indonesia juga memendam masalah arus lulusan sekolah. Data Balitbang Diknas tahun 2001/2002 menunjukkan bahwa 22%

dari 2,3 juta lulusan SLTP (SMP) tidak melanjutkan, dan sebanyak 51% dari 1,5 juta lulusan SLTA tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Mereka ini harus menjejakkan kaki ke dunia kerja. Tamatan SMA, selain disiapkan untuk melajutkan ke perguruan tinggi, diharapkan juga memiliki kecakapan vokasional sebagai bekal memasuki dunia kerja/berwirausaha.

Tamatan SMK, selain disiapkan untuk memasuki dunia kerja, diharapkan juga memiliki peluang memasuki jenjang pendidikan tinggi. SM Terpadu merupakan alternatif layanan pendidikan yang fleksibel untuk dua peluang itu sekaligus.

2. Tuntutan Abad Baru

Lebih penting dari sekedar karena kesenjangan layanan pendidikan,

belakangan di beberapa negara, pemisahan jalur pendidikan yang terlalu strict ini menuai kritik dengan beberapa alasan.

Salah satu alasan yang mengemuka adalah tumbuhnya kesadaran bahwa jenis-jenis pekerjaan yang tumbuh di masa akan datang memerlukan keterampilan baru dan berbeda karakteristiknya. Lapangan kerja tidak hanya menuntut keterampilan khusus job tertentu, tetapi juga keterampilan transfer, dan keterampilan generik yang akan membantu tenaga kerja mendapatkan pendidikan lanjutan dan pelatihan di sepanjang karier mereka. Kita sedang memasuki abad baru. Selain berbagai masalah kekinian, sekolah-sekolah kita sedang dihadapkan pada tuntutan hidup dan kehidupan masa depan yang makin kompleks.

Dalam abad pengetahuan segala sesuatu lebih bertumpu atau berbasis pengetahuan, tanpa tumpuan atau basis pengetahuan sesuatu akan tergeser, terpinggirkan, bahkan tergusur. Dengan jelas dapat disaksikan beberapa gejalanya:

perekonomian bertumpu pengetahuan

(knowledge-based economy), teknologi

bertumpu pengetahuan, pekerjaan

bertumpu pengetahuan (termasuk pekerja

berpengetahuan), dan kegiatan-kegiatan

lain juga bertumpu pengetahuan (baca juga

Dellors, dkk, 1999). Sekecil apapun satuan

tugas atau pekerjaan, sekarang

membutuhkan pengetahuan dan

kemampuan berpikir. Di abad pengetahuan

kita tak dapat hanya bertumpu pada

kecakapan spesifik semata, akan tetapi

juga keterampilan generik (generic/soft

skills). Integrasi pendidikan umum dan

kejuruan atau akademik dan vokasional

dalam satu institusi yang disebut SM

Terpadu dapat dipandang sebagai bentuk

responsi terhadap tuntutan abad baru,

yakni Abad Pengetahuan. Model SM

Terpadu seperti ini tidak hanya perlu

dikembangkan di daerah-daerah yang

mengalami kesenjangan layana

(6)

n pendidikan, akan tetapi juga perlu dikembangkan di daerah-daerah lain sebagai alternatif layanan pendidikan baru selain jalur-jalur pendidikan yang sudah ada.

3. Perspektif Perubahan Sosial

Dalam perspektif ilmu sosial, eksistensi sebuah kelembagaan dibentuk dan dikukuhkan oleh tiga hal utama, yaitu formasi, struktur, dan konstruksi kelembagaan itu. Ketika kelembagaan itu berada dalam gejolak dan terpaan derasnya arus perubahan, dan mulai goyah kedudukannya, maka yang muncul kemudian adalah proses deformasi, destrukturisasi, dan dekonstruksi—suatu proses menuju ketidakberdayaan. Dalam situasi seperti ini, yang dibutuhkan adalah upaya-upaya reformasi, restrukturisasi, dan rekonstruksi kelembagaan sosial itu.

Sebagai institusi sosial, sekolah kita sedang mengalami deformasi, destrukturisasi, dan dekonstruksi. Di tengah derasnya arus perubahan, sekolah kita dikenal sebagai lembaga yang paling konservatif dan resisten terhadap perubahan itu sendiri, sehingga lembaga pendidikan tak lagi memimpin perubahan tetapi justru diperdaya oleh perubahan. SMK mengalami problem relevansi, demikian juga SMA tak optimal memenuhi hajatnya sebagai sekolah yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan high-based education. Oleh karena itu, sekarang saatnya dibutuhkan upaya-upaya reformasi, restrukturisasi dan rekonstruksi kelembagaan sekolah [baru].

Sekolah Menengah Terpadu (SM Terpadu) adalah merupakan salah satu bentuk responsi terhadap tuntutan reformasi, restruktrisasi, dan rekonstruksi institusional persekolahan kita. Berkaitan dengan gejolak perubahan di berbagai sektor kehidupan sekarang dan masa akan datang, maka pengembangan SM Terpadu selayaknya tidak hanya bertujuan

“memadamkan kebakaran” (berbagai masalah bangsa yang bersifat sementara, sporadik dan lokal), seperti kesenjangan layanan pendidikan atau banyaknya siswa yang tidak melanjutkan ke pendidikan tinggi, akan tetapi SM Terpadu merupakan bentuk respon dunia persekolahan terhadap kecenderungan perubahan global yang makin menuntut anak didik memiliki kecakapan hidup, tidak saja kecakapan spesifik tetapi juga generik seperti keterampilan transfer, keterampilan berpikir, kemampuan pemecahan masalah, dan keterampilan emploiabiliti.

4. Kecenderungan Evolusi Pengetahuan Karena adanya perubahan tuntutan kecakapan berbagai jenis pekerjaan baru, kini ada kecenderungan baru dalam evolusi pengetahuan yang makin konvergen.

Berbagai jenis pekerjaan baru menuntut kecakapan multidisipliner, dan nyaris tidak ada lagi pekerjaan yang membutuhkan kecakapan spesifik semata-mata.

Kecenderungan ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang makin konvergen, berbagai cabang dan bidang ilmu berinteraksi dan berintegrasi dan melahirkan konvergensi-konvergensi pengetahuan dan teknologi baru. Ini artinya, rekonstruksi kurikulum dan pembelajaran yang terintegrasi menjadi tuntutan yang amat mendesak dan tak dapat ditolak lagi.

Perspektif terintegrasi ini juga

relevan atau sejalan dengan konsepsi

tentang pendidikan kecakapan hidup. Jika

kecakapan hidup dikonsepsikan sebagai

kesatuan, kepaduan, kesenyawaan dari

kecakapan akademik, kecakapan

vokasional dan kecakapan generik, maka

kurikulum dan pembelajarannya harus

terintegrasi. Oleh karena itu, SM Terpadu

merupakan wujud sekolah sebagai lembaga

pendidikan kecakapan hidup yang paling

aktual dan ideal. Dalam bentuk ungkapan

singkat, sosok SM Terpadu bisa

(7)

diungkapkan demikian: “Tujuan akhir pendidikannya adalah mencetak pekerja cerdas dan cakap hidup, kurikulumnya berbasis kecakapan hidup, model pembelajarannya terpadu dan kontekstual, dan institusi pendidikannya SM Terpadu.”

SM Terpadu merupakan institusi yang ideal dan realistis dalam merespon kecenderungan evolusi pengetahuan itu.

5. Landasan Teori

Jika SM Terpadu dikonsepsikan sebagai integrasi pendidikan akademik dan voksional untuk mengembangkan segala aspek potensi diri siswa, maka teori-teori belajar moderen, seperti konstruktivisme, experience learning, generative learning, dan activity learning memberikan landasan yang kokoh SM Terpadu.

Menurut banyak literatur, konstruktivisme adalah teori belajar yang bersandar pada ide bahwa siswa mengkonstruk pengetahuan mereka sendiri di dalam konteks pengalaman mereka sendiri (Murphy, 1997; Brook & Brook, 1993, 1999). Pembelajaran konstruktivistik berfokus pada kegiatan aktif siswa dalam memperoleh pengalaman langsung (“doing”), ketimbang pasif “menerima”

pengetahuan. Dari perspektif konstruktivis, belajar bukanlah murni fenomena stimulus- respon sebagaimana dikonsepsikan para behavioris, akan tetapi belajar adalah proses yang memerlukan pengaturan diri sendiri (self-regulation) dan pembangunan struktur konseptual melalui refleksi dan abstraksi (von Glaserfeld, dalam Murphy, 1997).

Kegiatan nyata yang dilakukan dalam kerja proyek vokasional memberikan pengalaman belajar yang dapat membantu refleksi dan mendekatkan hubungan aktivitas dunia nyata dengan pengetahuan konseptual yang melatarinya yang diharapkan akan dapat berkembang lebih luas dan lebih mendalam (Barron, Schwartz, Vye, Moore, Petrosino, Zech, Bransford, & The Cognition and Technology Group at Vanderbilt, 1998).

Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran akademik dan vokasional secara terpadu yang mendasarkan pada aktivitas dunia nyata, berpotensi memperluas dan memperdalam pengetahuan konseptual dan prosedural (Gagne, 1985), yang pada khasanah lain disebut juga knowing that dan knowing how (Wilson, 1995).

“Knowing ‘that’ and ‘how’ is not sufficient without the disposition to ‘do’ “ demikian kata Kerka (1997). Perluasan dan pendalaman pemahaman pengetahuan tersebut dapat diamati dengan mengukur peningkatan kecakapan akademiknya.

Pembelajaran terpadu juga merupakan pendekatan menciptakan lingkungan belajar yang realistik, dan berfokus pada belajar memecahkan masalah-masalah yang terjadi di dunia nyata. Seperti dikatakan William James bahwa belajar yang paling baik adalah melalui aktivitas diri sendiri, pengalaman sensoris adalah dasar untuk belajar, dan belajar yang efektif adalah holistik, dan interdisipliner (dalam Moore, 1999).

Ditegaskan oleh John Dewey bahwa pengalaman adalah elemen kunci dalam proses pembelajaran (Moore, 1999; Knoll, 2002). Dewey memandang belajar sebagai

“process of making determinate the

indeterminate experience”. Makna dari

berbagai pengalaman adalah sebuah

hubungan yang saling tergantung antara

apa yang dibawa oleh pebelajar dalam

situasi belajar dan apa yang terjadi di

dalam situasi itu. Berdasarkan pengetahuan

yang diturunkan dari pengalaman

sebelumnya, pada pengalaman baru orang

membangun pengetahuan baru (Billet,

1996). Bentuk-bentuk tugas kurikuler

terpadu berupa kerja proyek yang

mengintegrasikan aspek-aspek

ketarampilan akademik dan vokasional

dapat dipandang sebagai proses belajar

memantapkan pengalaman yang belum

mantap, memperluas pengetahuan yang

belum luas, dan memperhalus pengetahuan

(8)

yang belum halus, sebagaimana juga dikatakan oleh Marzano (1992) bahwa belajar melalui pengalaman nyata (misalnya, investigasi dan pemecahan masalah-masalah nyata) dapat memperluas dan memperhalus pengetahuan. Oleh karena itu, sebagai upaya reformasi, restrukturisasi, dan rekonstruksi kelembagaan sekolah alternatif atau baru, posisinya jelas di antara sekolah-sekolah menengah yang sudah ada. Kehadirannya bisa menambah variasi layanan pendidikan kepada masyarakat.

SM Terpadu jelas posisinya sebagai institusi baru. Paradigma dan perspektif SM Terpadu jelas memperluas konsepsi, fungsi, dan peranan pendidikan sekolah dari reproduksi ilmu menjadi lembaga pendidikan kecakapan hidup guna meningkatkan kebermaknaan dan kegunaan pendidikan bagi masyarakat, dunia kerja, dan kehidupan sehari-hari, selain guna menjawab dan mengantisipasi tuntutan, tantangan, dan kebutuhan masyarakat,

dunia kerja, dan kehidupan masa depan.

Oleh karena itu, pengembangan SM Terpadu tak bisa hanya dilakukan dengan setengah hati. Pengembangan SM Terpadu menuntut komitmen dan kesetiaan para insan pendidikan, pakar pendidikan, tenaga kependidikan, birokrat pendidikan, dan semua stakeholder pendidikan untuk berpikir dan bekerja sama secermat dan setepat mungkin.

II. KONSEP TERPADU DAN SM TERPADU

Inti konsep terpadu adalah memadukan kurikulum dan praktik pembelajaran dari pendidikan akademik dan vokasional ke dalam satu program.

Konsep keterpaduan ini dapat direntang dari yang paling sederhana hingga yang benar-benar terpadu, dari yang hanya menempel (plug-in) hingga yang melebur.

Konsep ini diilustrasikan pada gambar 1 berikut ini.

Gambar 1. Konsep Terpadu dalam SM Terpadu

Gambar 2a. Plug-In Gambar 2b. Komplementasi Gambar 2c. Integrasi Plug-In

SMK + Paket Akademik SMA + Paket Vokasional

Integrasi

SM Terpadu

Kontinum

Komplementasi

SMK + Paket Akademik SMA + Paket Vokasional

Kurikulum SMK atau

SMA Paket

Kurikulum SMK/SMA

Kurikulum

terintegrasi

(9)

Plug-In. Paket kurikulum dan pembelajaran akademik ditambahkan ke dalam kurikulum kejuruan pada SMK, atau paket kurikulum dan pembelajaran kejuruan ditambahkan ke dalam kurikulum akademik pada SMA.

Paket-paket ini dikelola sebagai pelajaran tambahan. Konsep Plug-In ini diilustrasikan dalam Gambar 2a.

Komplementasi. Kurikulum dan pembelajaran akademik terapan diintegrasikan ke dalam matapelajaran kejuruan pada kurikulum SMK, atau kurikulum dan pembelajaran kejuruan diintegrasikan ke dalam matapelajaran akademik pada kurikulum SMA. Misalnya, penggunaan bahan-bahan bacaan yang memuat pesan-pesan tentang individu-individu di tempat kerja, atau bacaan (literatur) tentang dunia kerja pada pelajaran akademik;

penggunaan contoh-contoh yang berhubungan dengan pekerjaan perkayuan, permesinan, elektronika, dan bidang-bidang pekerjaan yang lain ke dalam matematika atau fisika; telaah implikasi biologi untuk para pekerja bidang kesehatan, implikasi elektrisitas pada bidang pekerjaan elektronika dan komputer, implikasi fisika untuk desain permesinan; dll. Ilustrasi konsep komplementasi ini ditunjukkan dalam Gambar 2b.

Integrasi. Kurikulum akademik dan kejuruan dilebur menjadi satu kurikulum. Misalnya, satu tim guru yang terdiri atas guru

matematika, sains, bahasa, dan jenis vokasional tertentu (misalnya otomotif, komputer, agrikultur) membuat perpaduan kurikulum dan pembelajarannya.

SM Terpadu adalah bentuk layanan pendidikan yang memadukan pendidikan umum dan kejuruan dalam satu manajemen institusional dan manajemen instruksional (pembelajaran).

Terdapat empat tema yang menjadi ciri utama SM Terpadu, yakni:

(1) kurikulum yang lebih kaya dan tersusun lebih baik yang memperluas keterampilan akademik, kejuruan, keterampilan generik yang dibutuhkan oleh semua siswa baik yang sebagai calon pekerja maupun calon siswa di jenjang pendidikan berikutnya;

(2) pembelajaran yang lebih bersifat fasilitatif (daripada didaktik) yang memotivasi siswa untuk belajar dan memberi mereka dengan kegiatan praktik dan pemahaman dunia aplikatif (terapan);

(3) kolaborasi dan koordinasi antara guru kejuruan dan akademik dalam menciptakan pengalaman pembelajaran (persekolahan) yang lebih menyatu; dan

(4) perhatian yang lebih pada pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan siswa untuk melakukan transisi dari sekolah ke dunia kerja atau pendidikan lanjutan.

III. TUJUAN DAN FOKUS SM

TERPADU

(10)

1. Tujuan

(1) Dalam jangka pendek, teratasinya kesenjangan layanan pendidikan akibat dari ketidakmerataan sebaran sekolah menengah umum (SMA) dan sekolah menengah kejuruan (SMK) di berbagai daerah.

(2) Dalam jangka panjang, terbetuknya sistem dan model SM Terpadu yang potensial meningkatkan keterwacaan (“literacy”) akademik dan teknologi bagi lulusan sekolah menengah. Di abad XXI, siswa yang memilih jalur pendidikan vokasional maupun akademik dituntut giat mengikuti program yang mengintegrasikan studi vokasional dan akademik. Dalam kerangka memenuhi kebutuhan tersebut, SM Terpadu diharapkan akan menjadi model pendidikan alternatif di samping jalur-jalur pendidikan yang ada sekarang.

(3) Teraktualisasikan dan tertransformasikannya (atau dapat diaktualisasikan dan dapat ditransformasikannya) potensi dan keterampilan yang selama ini dimiliki oleh sumberdaya manusia di daerah yang berusia produktif menjadi kecakapan hidup (life skills) yang relevan dan cocok dengan dinamika pekerjaan,

perubahan struktur

ketenagakerjaan, dan perubahan sosial ekonomis serta kebutuhan tenaga kerja di sektor-sektor sosial ekonomis yang sedang berkembang.

2. Fokus

Fokus SM Terpadu adalah pengembangan kualitas dan kompetensi

lulusan SMA atau SMK di daerah-daerah yang mengalami kesenjangan layanan pendidikan, sehingga lulusan mereka memiliki akses dan peluang untuk memasuki dunia kerja maupun mengikuti pendidikan tinggi atau pendidikan karier lanjutan. Orientasi utamanya adalah kegiatan pendidikan kecakapan hidup [life skills] yang dirancang dengan pendekatan terpadu, baik kurikulum, pembelajaran, maupun struktur organisasinya, agar para lulusan SM Terpadu mampu memasuki, berkiprah, dan berperanan dalam kehidupan nyata sehari-hari – kehidupan sosial, budaya, keagamaan, dan terutama kehidupan ekonomis atau dunia kerja. Dengan pendidikan dan pelatihan kecakapan hidup yang baik, meraka diharapkan memiliki kecakapan hidup yang berkualitas, relevan, dan fungsional bagi kelangsungan, kelayakan, dan kebermartabatan hidup mereka di tengah dinamika dan perubahan sosial-- ekonomis—politis--kultural yang terjadi dan akan terjadi dalam konteks nasional, regional, dan lokal.

IV. MODEL INTEGRASI (PADUAN) Sesuai dengan tiga konsep integrasi yang diajukan dalam program pengembangan ini, model-model integrasi yang diajukan di sini juga dikategorikan menjadi tiga jenis, yakni model plug-in, komplementasi, dan integrasi sempurna. Model-model ini diadaptasi dari berragam model yang ditawarkan oleh Grubb, Davis, Lum, Phihal, dan Morgaine (1991).

1. Model Plug-In

Plug-In 1: Menambahkan paket-

paket pelajaran akademik pada

kurikulum vokasional (di SMK),

atau sebaliknya menambahkan

paket-paket pelajaran vokasional

pada kurikulum akademik (di

(11)

SMA). Bagi siswa SMK, guru akademik mungkin mengajar secara individual dalam kelas vokasional atau melayani in- house tutor (secara informal) bagi siswa-siswa yang memerlukan tambahan pelajaran akademik. Sedangkan, bagi siswa SMA guru vokasional mungkin mengajar secara individual dalam kelas akademik atau melayani in- house tutor (secara informal) bagi siswa-siswa yang memerlukan tambahan pelajaran vokasional. Paket-paket yang dikembangkan bersifat penambahan, penguatan, atau pengayaan.

Plug-In 2: Guru-guru vokasional dan akademik bekerja dalam tim mengembangkan kelas akademik

di SMK, dan atau

mengembangkan kelas

vokasional di SMA. Kelas-kelas baru yang “dicangkokkan” di SMK atau SMA ini menyerupai apa yang disebut dengan model

“sekolah dalam sekolah”.

2. Model Komplementasi Komplementasi1:

Mengembangkan kurikulum akademik (atau sebagian kurikulum akademik) menjadi lebih relevan secara vokasional, dengan cara menggabungkan aplikasi vokasional dalam matapelajaran akademik (di

SMA); dan medesain

pembelajaran akademik terapan yang lebih relevan pada pembelajaran siswa vokasional (di SMK). Misalnya, memasukkan latihan-latihan menulis yang berhubungan dengan pekerjaan tertentu, seperti menulis resume atau membuat

surat bisnis, dalam kelas bahasa Inggris; atau memasukkan kegiatan pembelajaran melakukan investigasi jenis dan komposisi pekerjaan di berbagai jenis usaha atau industri, dalam pembelajaran ilmu sosial.

Komplementasi2:

Mengkombinasikan kurikulum vokasional dan kurikulum akademik menjadi saling kompatibel satu dengan yang lainnya. Modifikasi kurikulum ini dapat dilakukan dengan cara pensejajaran horizontal maupun vertikal antara kurikulum akademik dan vokasional tersebut. Penjajaran horizontal dilakukan dengan menjajarkan matapelajaran akademik dan vokasional sedemikian sehingga siswa dapat belajar subjek yang mirip di kedua matapelajaran tersebut pada waktu yang sama.

Misalnya, guru kejuruan dan guru matematika menjajarkan pembelajaran mereka, sehingga topik-topik matematika yang diperlukan di dalam berbagai bentuk penghitungan—luas, volume, aljabar yang berkaitan dengan perpindahan panas, dan trigonometri sederhana—

diajarkan pada waktu yang sama.

Sedangkan penjajaran vertikal

dilakukan dengan membuat

sikuensi pembelajaran akademik

dan vokasional yang saling

memberi penguatan satu sama

lain. Koordinasi ini berlangsung

sepajang waktu. Misalnya,

selama dua tahun terakhir siswa

menyisihkan separo harinya

untuk belajar di pusat vokasional,

dan pada separo hari yang lain

mereka belajar tentang

matapelajaran akademik terapan.

(12)

3. Model Integrasi

Integrasi 1: Integrasi pembelajaran akademik dan vokasional dilakukan dalam kerja proyek yang memperlihatkan

penguasaan beberapa

kompetensi. Proyek didesain dengan melibatkan kegiatan- kegiatan representasi fisik yang memerlukan kecakapan vokasional, menulis laporan, dan presentasi. Proyek biasanya diselesaikan dalam tahun terakhir, dan dipertimbangkan sebagai puncak prestasi. Dalam kerja proyek, siswa belajar berbagai keterampilan akademik, mengalami kerja nyata dalam berbagai kegiatan vokasional, melakukan riset, pemecahan masalah, dan presentasi temuan atau produk kerja proyek.

Integrasi 2: Integrasi dilakukan dalam bentuk “sekolah di dalam sekolah”. Sekolah didorong untuk memiliki fokus vokasional tertentu, seperti otomotif, komputer, agrikultur, kesehatan, elektronik, bisnis, boga, busana, dll. Secara khusus, tim guru dari matematika, bahasa Inggris, sains, dan vokasional tertentu mengkombinasikan pembelajaran

mereka, dan mereka

mendampingi kelompok siswa ini selama beberapa tahun.

Ukuran kelas biasanya kecil.

Integrasi 3: Mengembangakn kurikulum dan pembelajaran akademik dan vokasional secara paralelel di sepanjang waktu belajar. Kurikulum dan pembelajaran dimodifikasi dan dikoordinasi secara lintas isi satu matapelajaran dengan matapelajaran yang lain. Guru

akademik dan vokasional bekerjasama, mulai dari jumlah 2 orang hingga semuanya.

V. DESAIN STRATEGIS TRANS-

FORMASI MENUJU SM

TERPADU

Tiga tahap pengembangan secara berkesinambungan. Untuk menuju SM Terpadu yang sempurna diperlukan tahap rintisan sekurang-kurangnya ditempuh dalam rentang waktu selama 5 tahun untuk mentransformasi sekolah menengah konvensional menuju SM Terpadu.

1. Tahap Rintisan Awal (Implementasi Model Plug-In)

Tahap ini dilakukan selama tahun pertama (tahun 2003/2004—

2004/2005) dengan konsep integrasi menempelkan program pembelajaran vokasional ke SMA atau program pembelajaran akademik di SMK berupa program paket dan kelas pembelajaran vokasional di SMA dan kelas pembelajaran akademik di SMK.

2. Tahap Rintisan Lanjutan (Imple- mentasi Model Komplementasi)

Tahap ini dilakukan selama tiga tahun (tahun 2005/2006 s.d.

2007/2008) dengan menggeser

konsep integrasi dari plug-in ke

komplementasi. Guru akademik

didorong bekerjasama dengan

guru vokasional untuk mendesain

dan mengembangkan kurikulum

dan pembelajaran dengan cara

mengkombinasikan isi

pembelajaran sehingga terjadi

saling isi, atau mendesain

kurikulum dan pembelajaran

akademik dan vokasional dengan

(13)

cara menjajarkan pembelajaran akademik dan vokasional sehingga kedua matapelajaran hadir dan dipelajari dalam waktu yang sama. Penjajaran ini berlangsung baik secara horizontal maupun vertikal.

Namun demikian, pada tahap ini masih dimungkinkan adanya program perluasan model Plug-In pada sekolah-sekolah tertentu untuk memberikan keragaman pilihan jenis vokasional.

3. Tahap Integrasi Penuh

Tahap ini dilakukan pada tahun- tahun berikutnya (tahun 2008/2009 dan seterusnya).

Kurikulum akademik dan vokasional dimodifikasi dan ditata lintas isi matapelajaran untuk sepanjang waktu belajar.

Urutan matapelajaran dibuat koheren antara keduanya. Guru lebih diperankan berada di balik kelompok-kelompok okupasi dan bekerja secara kolaboratif daripada bagian akademik dan vokasional yang terpisah secara departemental. Secara institusional, integrasi pembelajaran akademik dan vokasional juga didukung dengan perluasan bimbingan dan konseling karier, dan kegiatan- kegiatan kelompok yang lain.

Tahap-tahap transformasi ini divisualisasikan dalam Gambar 3 berikut ini.

I II

III

RINTISAN LANJUTAN SM TERPADU Komplementasi

RINTISAN AWAL SM TERPADU

“Plug-In”

Plug-In

Origin

2003/2004 2004/2005 2005/2006 2006/2007 2007/2008 2008

Plug/komplemen

PERENCANAAN &

PENGEMBANGAN SM TERPADU PENUH

Integrasi (terpadu penuh)

Ga

G

am mb ba ar r 3 3. . P Pr ro os se es s T Tr ra an ns sf fo or rm ma as si i S Se ek ko ol la ah h

(14)

VI. KEUNTUNGAN-KEUNTUNGAN SM TERPADU

1. Meningkatkan motivasi.

Pendidikan terpadu adalah cara yang ideal untuk membantu sekolah mempertahankan siswa yang rendah motivasi belajarnya karena mereka tidak interes terhadap keuntungan dari pendidikan akademik per se, tetapi mengetahui keuntungan memasuki pasar kerja dengan kecakapan vokasional.

2. Menghubungkan dengan dunia kerja. Komponen-komponen program yang memberi kesempatan siswa bekerja nyata, mendapatkan pengalaman kerja di bidang yang dipilih, dan kontak dengan orang-orang di dunia usaha atau masyarakat, membantu mereka dalam mengambil jalur karier setelah lulus.

3. Memberikan layanan yang sama.

Pendidikan terpadu juga menetralisir kesan stratifikasi dan diskriminasi layanan dan perlakuan di persekolahan dan di tempat kerja. Cara ini memberi

kesempatan siswa

mengidentifikasi diri akan kemampuan akademiknya, kemampuan berpikirnya, sehingga dapat mengambil jalur program yang tepat untuk peluang masadepan mereka.

4. Memberikan lingkungan belajar yang kaya. Integrasi pembelajaran akademik dan vokasional memberi peluang siswa belajar berbasis pada masalah riil.

Mengikuti prinsip-prinsip model

magang kognitif (cognitive apprenticeship model), integrasi adalah suatu strategi pembelajaran dan strategi kegiatan kurikuler yang efektif yang dapat

mendorong siswa

mengembangkan kecakapan kognitifnya melalui kegiatan menerapkan belajar akademik dalam situasi praktis.

5. Meningkatkan kualitas tenaga kerja. Dunia kerja membutuhkan orang-orang yang tidak hanya menguasai tugas-tugas diskret, sebagaimana banyak dididikkan oleh sekolah-sekolah vokasional tradisional, tetapi membutuhkan orang-orang yang memiliki kecakapan memecahkan masalah sehingga mereka lebih fleksibel ketika melakukan aspek-aspek pekerjaan mereka. Siswa yang lulus dari SM Terpadu akan lebih siap memenuhi tuntutan dunia kerja kini maupun masa depan.

VII. ELEMEN KEBERHASILAN Model yang layak untuk suatu sekolah, wilayah atau daerah, harus ditetapkan setelah mempertimbangkan keberadaan program, pasar tenaga lokal, potensi aset lokal, dan kebutuhan siswa. Akan tetapi ada beberapa

elemen yang harus

dipersyaratkan untuk mendukung keberhasilan suatu program, yaitu:

 Visi dan komitmen dari semua

level yang terlibat dalam

pengembangan program.

(15)

 Dukungan yang konsisten dari instansi-instansi terkait dan jajaran pemerintah daerah.

 Sumber-sumber baru untuk pendanaan

 Pelatihan guru

 Evaluasi berkesinambungan

 Waktu yang memadai untuk implementasi

BAHAN RUJUKAN

Barron, B.J., Schwartz, D.L., Vey, N.J., Moore, A., Petrosino, A., Zech, L., Bransford, J. D., & The Cognition and Technology Group at Vanderbilt. 1998. Doing with Understanding: Lessons from Research on Problem- and Project-Based Learning. The Journal of the Learning Science, 7, 271—311.

Berryman, S.E., Flaxman E, & Inger, M.

1992. Integrating Academic and Vocational Education: An

Equitable Way to Prepare Middle Level Students for the Future. ERIC Digest, No. 83, EDO-92-6.

Billett, S. 1996. Towards a Model of Workplace Learning: The Learning Curriculum. Studies in Continuing Education, 18(1), 43—58.

Bodilly, S., Ramsey, K., Staz, C. , &

Eden, R. 1993. Integrating Academic and Vocational Education: Lesson from Eight Early Innovators. R-4265- NCRVE/UCB.

Brook, J.G., & Brook, M.G. 1993. The Case for Constructivist Classrooms. Verginia: ASCD.

Brook, J.G., & Brook, M.G. 1999. The Contructivist Classroom. The Courage to Be Constructivist.

Readyroom, 57(3) November 1999.

http://www.ascd.org/readyroom/e dlead/9911/brooks.html

Delors, J., et.al. 1999. Belajar: Harta karun di dalamnya. UNESCO.

Terjemahan.

Gagne, E.D. 1985. The Cognitve Psychology of School Learning.

Boston: Little, Brown, and Company.

Grubb, W.N., Davis, G., Lum, J., Plihal, J., & Morgaine, C. 1991. The Cunning Hand, The Cultured Mind: Model for Integrating Vocational and Academic Education. Berkeley, CA:

National Center for Research in Vocational Education.

Kerka S. 1997. Constructivism, Workplace Learning, and Vocational Education. ERIC Digest No. 181. ERIC Clearinghouse on Adult Career and Vocational Education Columbus Ohio.

Lankard, B.A 1992. Integrating Academic and Vocational Education: Strategies for Implementation. ERIC Digest No.

120, ED346317.

Marzano, R.J. 1992. A Different Kind of Classroom: Teaching with Dimensions of Learning.

Verginia: ASCD.

Murphy, E. 1997. Constructivism: From

Theory to Practice.

http://www.stemnet.nf.ca/~elmurp

hi/cle.html.

(16)

Wilson, B.G. 1995. Metaphors for Instruction: Why We Talk About Learning Environments.

Educational Technology,

September-Oktober, 25—30.

(17)

17 KONSTRUKSI TES SEBAGAI ALAT UKUR HASIL BELAJAR

DI SEKOLAH DASAR Oleh:

Mohammad Harijanto Abstrak :

Tes merupakan salah satu jenis alat ukur hasil belajar yang paling banyak digunakan di Sekolah Dasar. Penyusunan tes sebagai alat ukur perlu mengindahkan aturan-aturan dan langkah-langkah yang telah ditentukan.

Kelalaian dalam hal ini menyebabkan hasil tes sebagai alat ukur tidak tepat, bias, dan tak bisa dipertanggungjawabkan.

Kata Kunci: Alat Ukur, Tes Obyektif, Tes Lisan, Tes perbuatan, Tes Uraian, Hasil belajar.

Pendahuluan

Kegiatan belajar mengajar merupakan tindak pembelajaran pendidik terhadap peserta didik. Prosedur umum pembelajaran dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: tahap awal, kegiatan inti, dan kegiatan awal (Winataputra, 2003) Menurut Fattah (2003) kualitas belajar mengajar dapat dicapai karena proses pengambilan keputusan dapat dilakukan secara cepat. Secara mikro Wahyudin (2002) mengemukakan bahwa garapan pembelajaran dapat dilihat pada komponen tujuan, bahan, pendidik, peserta di dik, proses, hasil, dan balikan. Sasaran utama dalam kegiatan evaluasi adalah evaluasi terhadap produk, dan evaluasi terhadap proses. Menurut Suciati (2002) evaluasi produk menilai sampai sejauh mana keberhasilan pebelajar dalam mencapai tujuan., dan evaluasi proses menilai apakah proses itu berjalan secara optimal sehingga memungkinkan tercapainya tujuan.

Tes, pengukuran, dan penilaian merupakan tiga aspek yang saling berhubungan dalam pembelajaran. Tes merupakan alat ukur, pengukuran merupakan proses pemberian angka yang bersifat kuantitatif, dan penilaian merupakan proses pengambilan keputusan yang bersifat kualitatif berdasarkan hasil pengukuran.

Misalnya, Si A mengukur tinggi badan dengan menggunakan alat ukur meteran. Diketahui tinggi badan = 167 cm. Hasil pengukuran tersebut, baru mempunyai arti apabila dibandingkan dengan suatu patokan atau kriteria tertentu. Untuk mencari berat badan ideal perlu dihitung dengan menggunakan rumus Berat Badan Ideal

= (Tinggi – 100) – 10%. Dengan menggunakan patoikan atau kriteria tersebut maka berat badan ideal sebagaimana dimaksud di atas adalah 60,03 Kg. Jika si A memiliki berat badan di atasnya atau di bawahnya maka si A perlu menambah atau mengurangi berat badan yang dimaksud.

Demikian juga dalam

pembelajaran, antara pengukuran dan penilaian terdapat perbedaan. Wand dan Brown memberikan pengertian tentang pengukuran dan penilaian sebagai berikut:

Pengukuran adalah tindakan atau proses untuk menentukan kuantitas sesuatu.

Sedangkan penilaian adalah tindakan atau proses untuk menentukan nilai sesuatu.

Dari kedua pengertian tersebut maka pengukuran berbeda dengan penilaian.

Alat yang digunakan untuk mengukur atau

menilai dinamakan alat ukur, yang dalam

hal ini lebih difokuskan pada alat ukur tes.

(18)

Sementara ini menunjukkan bahwa secara umum cara pelaksanaannya tes dalam pembelajaran ada yang menggunakan: (1) Tes verbal yakni tes yang meminta jawaban eksamini dengan menggunakan kata-kata.

Jika eksamini diminta untuk memberikan jawaban secara tertulis maka tes semacam itu dinamakan tes tertulis. Demikian pula tes yang meminta jawaban eksamini secara lisan dinamakan tes lisan. Tes yang meminta jawaban secara tertulis dan meminta jawaban secara lisan, pada intinya menuntut eksamini memberikan penjelasan dengan kata-kata, semuanya itu disebut tes kata-kata atau tes verbal, dan (2) ada pula yang menggunakan tes Perbuatan yakni apabila jawaban menuntut tindakan orang yang diuji (eksamini) sebagai jawabannya.

Jadi dalam tes perbuatan menuntut tindakan eksamini sebagai jawabannya.

Menurut Wardani (2001) bahwa guru yang baik perlu punya otonomi dalam melakukan penilaian. Jika diperhatikan memang terlihat bahwa pada setiap akhir kegiatan pembelajaran, tes akhir telah terlaksana, namun instrumen tes yang digunakan kadangkala kurang relevan dengan ketentuan penyusunan tes uraian, tes objektif, tes lisan yang dan tes perbuatan.

Misalnya, dalam pelaksanaan tes lisan, pembelajar langsung menyampaikan pertanyaan secara lisan dan meminta jawaban secara lisan, tanpa dirancang terlebih dahulu instrumen tes yang akan digunakan, dan kualitas hasil tergantung pada pembelajar dan bukan didasari kualitas jawaban eksamini. Menurut Suprayekti (2003) prosedur penilaian meliputi tes awal, dan tes akhir, tetapi dalam pembelajaran adakalanya tes awal disampaikan secara lisan, dan tes akhir disampaikan secara tertulis.

Di sisi lain, kadangkala nampak bahwa tes perbuatan, tidak memperlihatkan aspek-aspek yang dinilai sehingga nilai yang diberikan terhadap eksamini kadangkala tidak relevan dengan mutu dan tindakan sebagai jawabannya. Jika hal ini dibiarkan

begitu saja maka kualitas pembelajaran cenderung menurun.

Dari harapan dan kenyataan sebagaimana disebutkan di atas, maka dirasa perlu untuk membahas beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan dalam penyusunan alat ukur tes baik tes uraian, tes objektif, tes lisan dan tes perbuatan.

Kajian Pustaka dan Pembahasan

Tes Uraian (Essay)

Tes uraian adalah butir tes yang mengandung pertanyaan atau tugas yang jawaban atau pengerjaan tes harus dilakukan dengan cara mengekspresikan pikiran eksamini secara naratif (Nurkancana, 1988).

Menurut Zainol (2003) ciri khas tes uraian adalah jawaban terhadap soal tersebut tidak disediakan oleh orang yang mengkonstruksi butir soal, tetapi dipasok oleh peserta tes.

Ada beberapa petunjuk dalam menyusun tes uraian, yaitu:

a. Buatlah petunjuk umum pengerjaan tes b. Buatlah petunjuk khusus pengerjaan

butir tes pada setiap akhir kalimat c. Setiap butir tes hendaknya dirumuskan

secara jelas dan tegas batas-batasnya d. Jawaban untuk butir tes uraian tidak ada

yang mutlak. Karena itu perlu dilengkapi dengan pola-pola kunci jawaban, terutama tes yang memakan waktu lama dan memadukan semua pengetahuan, serta dibuat serempak pada saat menyusun butir tes

e. Dalam menyusun butir tes uraian sama sekali tidak sama dengan menyalin kalimat-kalimat dalam buku pelajaran tertentu menjadi butir tes. Karena itu perlu diolah dan dipadukan yang siap dituangkan menjadi butir tes.

f. Tes uraian menuntut derajat

kemampuan berpikir tingkat tinggi. Oleh

sebab itu, butir tes uraian jangan menuntut

pebelajar hanya sekedar mengisi, memilih,

atau memberikan jawaban singkat, tetapi

harus menuntut pebelajar untuk

(19)

19 merumuskan jawaban dengan kata-kata dan

pemikiran sendiri.

Selanjutnya Zainol (2003:1.13) mengemukakan bahwa mengapa tes uraian digunakan: (1) jika jumlah peserta tes terbatas, (2) waktu yang dipunyai guru untuk mempersiapkan soal sangat terbatas, (3) tujuan instruksional yang ingin dicapai adalah kemampuan mengekspresikan pikiran dalam bentuk tertulis, menguji kemampuan menulis dengan baik, atau kemampuan penggunaan bahasa secara tertib, (4) Guru ingin memperoleh informasi yang tidak tertulis secaralangsung di dalam soal ujian tetapi dapat disimpulkan sari tulisan peserta tes, dan (5) Guru ingin memperoleh hasil pengalaman belajar siswanya.

Beberapa keuntungan dari bentuk tes uraian adalah:

1. Jawaban tidak mudah ditebak

2. Menuntut pebelajar untuk memadukan semua pengetahuan (berpikir komprehensif)

3. Dapat disusun dengan cepat dan mudah 4. Sulit untuk saling mencontoh

5. Menuntut pebelajar menyusun buah pikirannya secara baik dengan tulisan serta kalimat yang baik pula.

Sedangkan kelemahan- kelemahan bentuk tes uraian adalah:

1. Memeriksanya sukar dan sering sangat subjektif

2. Untuk memeriksa memerlukan waktu lama

3. Kalau terjadi perbedaan pendapat, biasanya pendapat pebelajar yang dikalahkan

4. Tidak dapat mencakup bahan yang luas 5. Ada kecenderungan pebelajar untuk

menjawab berkepanjangan, karena itu baik buruknya bahasa dan tulisan sangat mempengaruhi pemberian angka

Tes Objektif (Objective Test)

Benar-Salah (True-False)

Bentuk tes benar salah adalah butir tes yang terdiri dari pernyataan yang alternatif jawabannya merupakan pernyataan benar atau salah.

Ketentuan yang perlu diperhatikan dalam menyusun tes benar-salah, adalah:

1. Buatlah petunjuk cara menjawab butir tes yang jelas, dan jelaskan pula di mana peserta tes harus menuliskan jawaban, apakah pada tes itu, atau pada lembar jawaban tersendiri/ terpisah.

2. Setiap tes hendaknya jangan mengandung kata-kata yang meragukan, misalnya: kadangkala, selalu, pasti, barangkali, dan sebagainya.

3. Hindari kalimat menyangkal apalagi menyangkal ganda

4. Gunakan kalimat tunggal dang singkat, tapi jelas

5. Jangan membuat tes yang masih dapat dipersoalkan. Jadi butir tes harus mutlak benar atau mutlak salah

Pilihan Ganda (Multiple Choice) Pilihan ganda adalah suatu butir tes yang alternatif jawabannya lebih dari dua option. Ketentuan- ketentuan yang perlu diperhatikan dalam menysusun tes multiple choice, adalah:

1. Inti permasalahan harus dicantumkan pada pokok soal (stem).

2. Hindari pengulangan kata-kata yang sama dalam stem dengan yang terdapat dalam option terutama kata-kata yang menjadi konsep pokok pada soal tersebut.

Menurut Zainol (2003:1.20) penggunaan kata yang sama itu akan menjadi petunjuk jawaban, atau yang paling sederhana adalah terjadi penggunaan kalimat yang tidak efektif.

3. Hindari penggunaan kata yang

berlebihan.

(20)

4. Kalau pokok soal merupakan pertanyaan yang belum lengkap maka kata atau kata- kata yang melengkapi harus diletakkan pada ujun pernyataan, bukan ditengah- tengah kalimat.

5. Susunan alternatif jawaban dibuat teratur dan sederhana.

6. Semua pilihan jawaban harus homogen dan dimungkinkan sebagai jawaban yang benar.

7. Pada setiap butir tes hendaknya ada satu pilihan jawaban yang benar. Pilihan jawaban yang salah disebut distraktor atau pengecoh

8. Perumusan masalah hendaknya merupakan kalimat yang tidak lengkap, yang dapat dilengkapi oleh satu pilihan jawaban.

9. Option pada setiap butir tes hendaknya seragam, baik isi maupun panjang pendeknya kalimat sehingga seolah- olah, setiap option itu cocok digunakan untuk dijadikan jawaban

10. Hindari keadaan di mana jawaban yang benar selalu ditulis lebih panjang dari jawaban yang salah.

11. Hindari adanya petunjuk/indikator pada jawaban yang benar

12. Pokok soal sedapat mungkin dalam pernyataan atau pertanyaan yang positif.

Jika terpaksa menggunakan pernyataan negatif maka kata negatif tersebut digaris bawahi dan ditulis tebal atau huruf italic (cetak miring)

13. Jumlah option dari seperangkat butir tes hendaknya sama, misalnya empat option, atau lima option

14. Option hendaknya disusun meninggi (vertikal), dan disusun di bawah stem 15. Hendaknya disusun sesuai dengan

variasi (model) tertentu yakni model pernyataan biasa, model pertanyaan, dan model perkecualiaan

16. Buatlah petunjuk pengerjaan tes dengan jelas

Menjodohkan (Matching)

Menjodohkan adalah bentuk tes yang mensyaratkan adanya premis dan respon secara terpisah. Ketentuan yang perlu diperhatikan dalam menyusun tes menjodohkan, adalah:

1. Jumlah tes maksimal 10% dari seluruh butir tes

2. Posisinya antara premis dan respon hendaknya jelas

3. Jumlah jodoh hendaknya lebih besar dari terjodoh, maksudnya agar pebelajar tidak hanya sekedar menjodohkan saja, tetapi juga berpikir

4. Hendaknya dapat mengasosiasasikan antara tanggal dengan peristiwa, nama- nama ilmuwan dengan karyanya, dan asosiasi lain yang sejenis

Isian Singkat (Fill in)

Bentuk tes isian singkat adalah tes yang menghendaki peserta tes mengisi titik-titik kosong. Ketentuan yang perlu diperhatikan dalam menyusun tes isian singkat adalah sebagai berikut:

1. Bagian kalimat yang dihilangkan diganti dengan titik-titik kosong yang harus diisi oleh peserta tes hendaknya merupakan bagian yang penting

2. Gunakan kalimat sederhana, jelas, dan mudah dipahami

3. Kalimat yang harus diisikan sebagai jawaban hendaknya jangan terlalu panjang, cukup dua atau tiga kata 4. Panjang pendeknya titik kosong

hendaknya sebanding dengan panjang pendeknya sisian singkat yang dikehendaki

5. Bagian kalimat yang dihilangkan hendaknya di bagaian tengah atau di bagian akhir kalimat

Jawaban Singkat (Short Answer)

Bentuk tes jawaban singkat adalah tes yang mengehendaki jawaban singkat.

Ketentuan yang perlu diikuti adalah:

(21)

21 1. Jawaban yang dikehendaki oleh setiap

butir tes hendaknya tidak memerlukan uraian panjang lebar, cukup singkat- singkat saja

2. Setiap tes hendaknya dapat dijawab secara mutlak, artinya tidak dapat diperdebat lagi

3. Susunlah kalimat tes itu secara sederhana dan jelas

Keuntungan bentuk tes objektif adalah:

1. Dapat dikoreksi secara tepat

2. Dapat dijawab secara cepat sehingga dapat disajikan jumlah tes yang relatif banyak

Sedangkan kelemahannya adalah sebagai berikut:

1. Menyusunnya sukar dan lama

2. Sukar digunakan untuk mengukur kecakapan pebelajar berpikir tinggi 3. Saling mencontoh dan spekulatif

Tes Lisan (Oral Test)

Ketentuan yang perlu diikuti, adalah sebagai berikut:

1. Derajat kesukaran, muatan ilmu, jumlah waktu yang disediakan dan angka maksimum yang mungkin dapat dicapai oleh setiap peserta tes hendaknya diperkirakan sama

2. Jika peserta tes tetap tidak dapat memberikan jawaban hingga waktu yang disediakan habis hendaknya pindah ke nomor tes berikutnya

3. Dalam membacakan tes penguji boleh menggunakan kata-kata penguji sendiri asal intinya sama

4. Penguji dilarang memberondong ataupun memerosokkan dengan pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang ternyata tidak tertulis dalam lembaran tes

5. Berilah angka semata-mata hanya berdasarkan mutu jawaban peserta tes

Dalam pelaksanaan tes lisan perlu disusun kisi-kisi dan lembar penilaian tes lisan seperti berikut ini (Haryanto, 2002).

KISI-KISI TES LISAN

No Btir Tes

Pokok- pokok Jwban

Angka Maks.

Wkt

1 2 3 4 5

LEMBAR PENILAIAN TES LISAN

Nama Peserta :

………..

No. : ………..

No Pokok- pokok Jwaban

Waktu Angka yang dicapai 1

2 3

JUMLAH Catatan khusus

…..…………20..

Penilai,

………

Tes Perbuatan (Performance Test)

Ketentuan yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan tes perbuatan adalah sebagai berikut (Natawidjaja, 1989):

1. Pengamatan hendaknya dilakukan sedemikian rupa sehingga sifatnya tidak seperti mengawasi

2. Pencatatan hendaknya dilakukan dengan segera setelah suatu tindakan selesai dilakukan peserta tes

3. Penguji hendaknya jangan melarang

ataupun memberi saran kepada peserta

tes yang membuat kesalahan

(22)

4. Berilah angka semata-mata hanya berdasarkan mutu dan proses tindakan peserta tes

LEMBAR PENILAIAN TES PERBUATAN No. Peserta:………..

Mata Ujian:………..

No Tindk. Rentang Angka yg

dinilai

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Catatan khusus:

Jlh. angka:

………, 20..

Penguji,

…………..

Simpulan dan Saran

Dari uraian sebelumnya disimpulkan:

1. Untuk mengetahui kemajuan siswa pada setiap kegiatan akhir pembelajaran perlu dilakukan tes 2. Tes merupakan alat ukur yang

digunakan dapat berupa tes lisan, tes tertulis, dan tes perbuatan, tergantung pada kompetensi siswa atau karakteristik materi yang disajikan.

Berdasarkan kesimpulan di atas, disarankan:

1. Penyusunan tes sebagai alat ukur perlu memperhatikan ketentuan-ketentuan penyusunan tes, baik tes bentuk uraian, ketentuan penyususnan tes bentuk objektif.

2. Guru perlu memperhatikan efektivitas dari masing-masing bentuk tes yang digunakan.

3. Sebelum melaksanakan tes lisan dan tes perbuatan, hendaknya terlebih dahulu dirancang instrumennya, sehingga hasil yang diperoleh objektif.

Daftar Rujukan

Fattah, N, 2003. Managemen Berbasis Sekolah: Strategi Pemberdayaan sekolah dalam Rangka Peningkatan Mutu dan Kemandirian Sekolah.

Bandung:Andira.

Haryanto, N. 2002. Statistik Dasar.

Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.

Jakarta: Universitas Terbuka.

Natawidjaja, R. 1989. Teknik Penilaian Pendidikan. Jakarta:Depdikbud.

Nurkancana, W. 1988. Evaluasi Pendidikan.

Surabaya :Usaha Nasional

Wardani. I.G.A.K. 2001. Perencanaan Pembelajaran Penjaskes. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.

Jakarta:Universitas Terbuka.

Suciati, dkk. 2002. Belajar dan Pembelajaran 2. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Jakarta: Universitas Terbuka.

Suprayekti. 2003. Managemen Berbasis Sekolah. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Jakarta: Universitas Terbuka.

Winataputra, U.S. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Direktorat Jendral

Pendidikan Tinggi. Jakarta:Universitas Terbuka.

Wahyudin, D. 2002. Pengantar Pendidikan.

Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Jakarta: Universitas Terbuka.

Zainol, A. 2003. Tes dan Asesmen di

Sekolah Dasar. Direktorat Jendral

Pendidikan Tinggi. Jakarta: Universitas

Terbuka.

(23)

Sri Indriati Hasanah; Pembelajaran Matematika Realistik

23 PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK UNTUK

MATERI POKOK ARITMETIKA SOSIAL DI KELAS VII MTsN PADEMAWU PAMEKASAN

Oleh: Sri Indriati Hasanah Abstrak

Pembelajaran matematika yang dilakukan selama ini umumnya berpusat pada guru, sementara tuntutan Kurikulum 2004 yang berjiwa konstruktivis adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa. Salah satu pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2004 adalah pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR). Perangkat pembelajaran yang digunakan adalah model 4-D Thiagarajan, Semmel, dan Semmel yang telah dimodifikasi. Hasilnya berupa: (1) rencana pembelajaran, (2) buku petunjuk guru, (3) lembar kegiatan siswa, dan (4) tes hasil belajar. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa pembelajaran materi pokok aritmetika sosial di kelas VII MTsN Pademawu Pamekasan dengan menggunakan Pendekatan PMR ternyata efektif, dalam arti (1) ketuntasan belajar secara klasikal tercapai yakni 82,5%, (2) kemampuan guru mengelola pembelajaran baik, (3) aktivitas siswa dalam pembelajaran efektif, dan (4) respon siswa terhadap pembelajaran positif.

Selain itu berdasarkan analisis statistik inferensial ANAKOVA, diperoleh kesimpulan bahwa hasil belajar siswa dengan menggunakan pendekatan PMR lebih baik daripada hasil belajar siswa dengan pendekatan konvensional.

Kata kunci: Pembelajaran matematika realistik, efektif.

PENDAHULUAN

Matematika sebagai ilmu dasar memegang peranan yang sangat penting dalam pengembangan sains dan teknologi, karena matematika merupakan sarana berpikir untuk menumbuh kembangkan daya nalar, cara berpikir logis, sistematis dan kritis.

Peranan matematika ini tidak hanya terasa dalam bidang matematika tetapi aplikasinya juga pada bidang lain.

Pendidikan dalam arti luas meliputi penyelenggaraan sistem pendidikan yang melembaga melalui sistem persekolahan. Dalam sistem pendidikan nasional, ada penjenjangan

pendidikan jalur sekolah, yaitu pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.

Kenyataan menunjukkan bahwa pelajaran matematika diberikan di semua sekolah. Matematika yang diberikan di sekolah disebut matematika sekolah (school mathematics). Menurut Soedjadi (1999:12),matematika sekolah adalah unsur-unsur atau bagian-bagian dari matematika yang dipilih berdasar dan diorientasikan kepada:

(1) Makna kependidikan, yaitu

untuk mengembangkan

(24)

kemampuan dan kepribadian peserta didik.

(2) Tuntutan perkembangan yang nyata dari lingkungan hidup yang senantiasa berkembang seiring dengan kemajuan ilmu dan teknologi.

Dengan demikian, matematika sekolah merupakan salah satu unsur masukan

instrumental yang diharapkan dapat membentuk pribadi siswa dan berorientasi kepada perkembangan IPTEK.

Sementara itu berbagai indikator menunjukkan bahwa mutu pendidikan masih belum meningkat

secara signifikan.

Rata-rata Nilai Ujian Murni UAN Matematika SMP di Jawa Timur

Tahun 1998/1999 1999/2000 2000/2001 2001/2002 2002/2003

Rata-rata UAN 5,72 5,74 5,88 5,31 5,76

Penelitian Blazely tahun pada 1997 (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, 2002) melaporkan bahwa pembelajaran di sekolah cenderung sangat teoritik dan tidak terkait dengan lingkungan anak berada. Akibatnya peserta didik tidak mampu menerapkan apa yang dipelajari di sekolah guna memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Keabstrakan objek matematika dan pendekatan pembelajaran yang kurang tepat, menjadi faktor penyebab sulitnya matematika bagi para siswa terutama bagi siswa Madrasah.. Mata pelajaran matematika dianggap hal yang tidak esensial di lembaga madrasah. Padahal kalau dipandang lebih mendalam, di dalam Al-qur’an, banyak sekali peranan matematika dalam syariat Islam diantaranya masalah sholat, zakat, haji, puasa, warisan dsb. Seandainya hal ini disosialisasikan sejak dini oleh guru sebagai fasilitator niscaya siswa akan tertanam rasa senang, tidak takut, berani menghadapi kesulitan hidup dengan ilmu matematika yang didasari pada nilai-nilai keislaman.

Pembelajaran yang selama ini mendominasi kelas-kelas matematika di Indonesia umumnya berbasis pada behaviorisme dengan penekanan pada transfer pengetahuan dan latihan (Ratumanan, 2003: 2). Guru mendominasi kelas dan berfungsi sebagai sumber belajar utama. Guru menyajikan pengetahuan matematika kepada siswa, siswa memperhatikan penjelasan dan contoh yang diberikan oleh guru, kemudian siswa menyelesaikan soal-soal sejenis yang diberikan guru. Pembelajaran semacam ini kurang memperhatikan aktivitas aktif siswa, interaksi siswa, dan pengkonstruksian pengetahuan oleh siswa, sehingga timbul kesan siswa terhadap matematika antara lain : matematika dianggap sulit, abstrak dan tak bermakna, pembejaran matematika membuat stress, bahan yang dipelajari terlau banyak, guru matematika pada umumnya galak-galak, serius dan kurang manusiawi.

Aktivitas aktif siswa yang

dimaksudkan di sini tidak hanya

sekedar menyelesaikan soal-soal

sesuai contoh yang diberikan guru,

tetapi perlu pula melibatkan berbagai

(25)

Sri Indriati Hasanah; Pembelajaran Matematika Realistik

25 aktivitas aktif yang dapat

merangsang kemampuan berpikir dan kemampuan memecahkan masalah yang merupakan tujuan pembelajaran matematika.

Konteks pembelajaran matematika yang jauh dari realita seringkali membuat siswa tidak dapat menarik korelasinya dengan kehidupan sehari-hari terlalu abstrak membuat siswa sulit membuat visualisasinya. Integrasi matematika dengan ilmu lain yang lebih realistik menurut pandangan siswa sangatlah di perlukan untuk membangun image bahwa matematika itu di butuhkan, matematika itu mengasyikkan, terkait dengan agama, social, budaya dan termasuk materi keislaman yang secara realistik sangatlah di butuhkan dalam kehidupan beragama.

Pendekatan dan strategi pembelajaran matematika hendaklah diawali dari konkrit ke abstrak, dari sederhana ke kompleks dan dari mudah ke sulit, dengan menggunakan berbagai sumber belajar. Hendaknya para siswa aktif dengan berbagai cara untuk mengkontruksi atau membangun sendiri pengetahuannya. Suatu rumus, konsep atau prinsip dalam matematika, seyogyanya ditemukan sendiri oleh siswa di bawah bimbingan guru (guided re- invention), sehingga membuat mereka terbiasa melakukan penyelidikan dan menemukan sesuatu (Depdiknas, 2003: 4).

Salah satu pendekatan pembelajaran matematika yang berorientasi pada pematematisasian pengalaman sehari-hari dan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah Realistic Mathematics Education

(RME). Pendekatan ini pertama kali dikembangkan di Belanda sekitar 30 tahun yang lalu. Pendekatan ini didasarkan pada konsep Freudenthal yang mengatakan bahwa matematika merupakan aktivitas manusia (human activities). Ide utama RME selanjutnya pada makalah ini RME diistilahkan dengan Pembelajara Matematika Reaistik adalah siswa harus diberi kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika dengan atau tanpa bimbingan orang dewasa (Gravemeijer dalam Suradi 2001:8).

Upaya ini dilakukan melalui penjelajahan berbagai situasi dan persoalan-persoalan "realistik", yakni yang berkaitan dengan realitas atau situasi yang dapat dibayangkan siswa.

Pembelajaran matematika realistik adalah suatu pendekatan pembelajaran matematika yang menggunakan masalah-masalah kontekstual (contextual problems) sebagai langkah awal dalam proses pembelajaran. Siswa diminta

mengorganisasikan dan

mengidentifikasikan aspek-aspek matematika yang terdapat pada masalah tersebut. Kepada para siswa juga diberikan kebebasan penuh untuk mendeskripsikan, menyederhanakan,

menginterpretasikan dan

menyelesaikan masalah kontekstual

tersebut menurut cara mereka sendiri

baik secara individu maupun

kelompok, berdasarkan pengalaman

atau pengetahuan awal yang telah

mereka miliki. Kemudian dengan

atau tanpa bantuan guru, para siswa

diharapkan dapat menggunakan

masalah kontekstual tersebut sebagai

sumber munculnya konsep atau

Gambar

Gambar 1. Konsep Terpadu dalam SM Terpadu
Tabel 1  Anava untuk Uji Independensi Model Regresi   Kelas  Eksperimen
Tabel 2  Anava untuk Uji Independensi Model Regresi Kelas Kontrol  Source of Varians  SS  Df  MS  F * Regression  237,18  1  237,18  Residual  212,899  30  7,0966  29,77  Total  653,875  31

Referensi

Dokumen terkait

Perpustakaan yang berhasil tidak lepas dari kinerja yang dihasilkan atau yang diberikan oleh pustakawan. Salah satu bentuk kinerja yang dilakukan pustakawan adalah bentuk

galur murni maupun hasil okulasi atau penggabungan dari dua jenis dengan galur ciri yang membedakan setiap jenis rambutan dilihat dari sifat air, bentuk,

Context of situation or register refers to a variety of language.. that varies according to the using of language in different

sejauh mana konsentrasi sublethal fenol terhadap perubahan histologi insang dan hepatopankreas kepiting bakau ( Scylla serata ), sehingga diharapkan informasi ini

Tanggapan dari responden meyakini bahwa, perubahan karakter peserta didik siswa SMK Islam Tsamratul Huda, Tahunan, Jepara dari sikap, perilaku, dan pola pikir yang

Pengumpulan data diperoleh melalui: (1) Observasi yang dilakukan peneliti selama media audio visual digunakan sebagai cara pembelajaran praktek vokal di Jurusan

Sehingga dalam hal ini dapat dikatakan bahwa semakin baik atau semakin tinggi tanggapan positif akan pengalaman kerja, maka produktivitas kerja di industri Jenang

b) k ekologi laut dan pantai ( trawl , bom, potas, pukat harimau, dll) akibatnya menyempitnya wilayah dan sumber daya tangkapan, sehingga sering menimbulkan