• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. ini, hal ini dapat kita temui di berbagai negara. Dari negara maju seperti Amerika

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. ini, hal ini dapat kita temui di berbagai negara. Dari negara maju seperti Amerika"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Fenomena single mother terus meningkat dan semakin banyak terjadi saat ini, hal ini dapat kita temui di berbagai negara. Dari negara maju seperti Amerika Serikat hingga negara berkembang seperti Indonesia dengan jumlah yang cukup tinggi. Data dari Census Bureau tahun 2007 di Amerika Serikat, mencatat terdapat 14 juta keluarga single parent dan 83% diantaranya adalah wanita. Di Inggris pada tahun 2005 terdapat 1,9 juta single parent dan 91% dari angka tersebut adalah wanita. Ditemui pula di Jepang, jumlah keluarga single mother sejak tahun 1997 terus meningkat sebanyak 17 persen (Single mothers in an International Context; The World‟s Women 2000: Trends and Statistics).

Di Indonesia sendiri, jumlah wanita single mother yang tercatat oleh Badan Pusat Statistik sebanyak 8.926.387 yang diantaranya diakibatkan karena bercerai sebanyak 778.156 orang yang tercatat dari Badan Pengadilan Agama dan karena kematian suami berjumlah 3.681.586 orang dan yang lainnya tidak diketahui statusnya. Single mother adalah wanita yang ditinggalkan oleh suami atau pasangan hidupnya baik karena terpisah, bercerai atau meninggal dunia untuk kemudian memutuskan untuk tidak menikah melainkan membesarkan anak- anaknya seorang diri (Papalia dkk, 2002).

Single mother tentu mengalami kesulitan-kesulitan, ia harus bisa memenuhi kebutuhan hidup bersama anak-anaknya dan ia harus bisa melewati itu

1

(2)

semua tanpa ada suami di sisinya lagi (Rika, M.D. dan Risdayati, 2013).

Single mother harus mampu berperan ganda dalam membesarkan anak-anaknya.

Ia harus tetap menjalankan perannya sebagai ibu dalam memenuhi kebutuhan psikologis anak-anaknya (pemberian kasih sayang, perhatian, rasa aman) dan juga mengganti peran suami dalam memenuhi semua kebutuhan fisik anak-anaknya (kebutuhan sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan dan kebutuhan lain yang berkaitan dengan materi) dan kebutuhan lainnya (Alvita, 2008).

Bagi beberapa wanita, mempunyai situasi keuangan yang baik ketika menjadi single mother tidak perlu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama anak-anaknya. Namun seperti yang didapati dari field study, saat baru menjadi single mother adalah masa yang sulit beradaptasi untuk melanjutkan hidup seperti kutipan berikut ini:

“Waktu itu Ibu pusing kali harus gimana, gak tau lah Ibu. Uang peninggalan dari suami udah habis, waktu itu mikirnya mau pulang ke kampung aja karena di sini kan kebutuhan hidup mahal..”

(Komunikasi Personal, 16 Mei 2013) Situasi keuangan yang mereka miliki kurang memadai untuk memenuhi kebutuhan mereka dibandingkan saat mereka memiliki suami (Hurlock, 2004).

Mau tak mau karena mereka dituntut untuk bisa melanjutkan kehidupan bersama

anak-anaknya harus dapat mengatur segalanya seorang diri baik dalam mengatur

keuangan, bekerja, dan menyediakan waktu untuk anak. (Febriyani, 2012)

Terbayanglah segala kesulitan yang akan dihadapi oleh seorang istri yang telah

ditinggal oleh suaminya yang selama ini bersama-sama memenuhi kebutuhan

hidup keluarga.

(3)

Single mother yang harus melanjutkan kehidupan keluarga bersama anak-

anaknya pasti menghadapi berbagai permasalahan. Berdasarkan hasil studinya terhadap peran single mother, Rika, M.D. dan Risdayati (2013) menemukan masalah yang dihadapi single mother antara lain: masalah psikologis, interaksi sosial, dan ekonomi. Dari segi psikologis, masalah yang dirasakan single mother adalah tanggung jawab terhadap keluarga yang harus ditanganinya seorang diri, ia harus dapat membuat keputusan-keputusan penting dan membimbing serta membina anak seorang diri juga mempengaruhi keadaan psikologis single mother.

Dari segi interaksi sosial, kurangnya komunikasi single mother dengan masyarakat di sekitarnya mengakibatkan hubungan diantaranya menjadi kurang begitu akrab dan kurang mengenali satu sama lainnya. Kesibukan dari masing- masing individu membuat kedekatan emosional antar sesama sangat minim sehingga perasaan solidaritas di antara mereka melemah. Dari segi ekonomi, single mother harus bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk keberlangsungan

keluarga beserta anak-anaknya. Single mother yang harus memenuhi kebutuhan hidup seorang diri tanpa pasangannya berpendapat bahwa kebutuhan panganlah yang harus dipenuhi, sehingga kebutuhan anak yang lain pun seperti pendidikan sering terabaikan (Rika, M.D. dan Risdayati (2013).

Dari beberapa aspek permasalahan yang dialami wanita single mother di atas, faktor ekonomi merupakan faktor utama yang menjadi permasalahan di dalam keluarga single mother. Yang menjadi permasalahan ekonomi bagi

single mother adalah pekerjaan dan pendapatan yang dimiliki (Rika, M.D. dan

Risdayati, 2013) sehingga single mother harus dapat bekerja dan memiliki

(4)

penghasilan agar dapat memenuhi berbagai kebutuhan hidup keluarga beserta anak-anaknya. Sayangnya, saat ini tidaklah gampang bagi single mother untu mendapatkan pekerjaan di di perusahaan. Karena sedikitnya lapangan kerja, usia single mother yang belum tentu dapat memenuhi syarat bekerja di suatu perusahaan, waktu yang harus banyak diluangkan dan persyaratan kerja lain seperti pendidikan tinggi dan tenaga fisik yang besar (Tulus, 2012).

Pilihan lain bagi single mother untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga adalah berwirausaha. Peluang yang ada pun cukup besar jika ada keinginan dan motivasi yang kuat. Terlebih lagi jika single mother dapat menggunakan kesempatan yang ia miliki dengan baik dan dan banyaknya relasi dengan laki-laki dalam bidang wirausaha agar tidak mengalami diskriminasi gender dalam berwirausaha, (Longenecker et al, 2001).

Jumlah wirausahawan di Indonesia meningkat pesat sejak 2010 hingga sekarang. Jumlah wanita yang berwirausaha yang teracatat di Badan Pusat Statistik (BPS) saat ini sebanyak 18 ribu orang dan 25% nya adalah wanita single mother. Single mother dapat berwirausaha karena karakteristik yang pada

umumnya dimiliki wanita seperti motivasi atau keinginan yang tinggi, karena

berani memanfaatkan kesempatan yang ada, mau mengembangkan keterampilan

yang dimiliki terutama dalam produksi makanan, memiliki banyak relasi sesama

teman wanita seperti yang ditemukan dari hasil penelitian Tulus (2011) terhadap

wirausaha wanita. Dalam berwirausaha, ketika wirausaha mampu menjalani usaha

yang diinginkannya dan berhasil mencapai harapan yang dimilikinya, ia akan

merasakan kepuasan berwirausaha (Suyatini, 2004).

(5)

Kepuasan berwirausaha dapat dirasakan ketika wirausaha memiliki jumlah

pendapatan yang lebih besar dan memiliki waktu luang yang lebih banyak serta merasakan kesejahteraan dalam dirinya (Longenecker et al, 2001).

Carree dan Verheul (2011) menarik kesimpulan dari hasil penelitiannya berdasarkan teori kepuasan Longenecker bahwa kepuasan berwirausaha dapat dilihat dari pendapatan/ penghasilan, psychological well-being, dan waktu luang.

Pendapatan bagi pengusaha merujuk kepada imbalan berupa laba. Psychological well-being yang didapatkan oleh wirausaha berasal dari kebebasan mereka,

beberapa wirausahawan menyatakan bahwa pekerjaan yang mereka lakukan merupakan suatu kesenangan tersendiri. Dan waktu luang dapat dilihat dari waktu yang dapat diatur oleh wirausaha, mereka seperti orang bebas tanpa adanya ikatan waktu tertentu yang mempunyai tanggung jawab (Longenecker et al, 2001).

Usaha single mother memenuhi kehidupan keluarganya dengan berwirausaha hingga mendapatkan kepuasan dari usahanya tersebut tercermin oleh Grace Hellyanda Tenda (TRIBUNJOGJA, 21 Oktober 2012) yang memilih berwirausaha untuk menghidupi keluarganya. Ia dapat membesarkan anaknya walaupun hanya memulai usaha kecil dari kuliner. Hobi memasaknya dimanfaatkan untuk berbisnis di bidang kuliner. Ia memulai usaha klapertart dari jumlah sedikit hingga banyak dikenal teman-temannya dan melalui media online shop serta promosi di pameran, di bazaar-bazaar, hingga ke komunitas arisan.

Bahkan ia dapat mengembangkan kemampuannya dengan memberikan kursus

membuat klapertart kepada ibu-ibu di lingkungan rumahnya. Dan kepada

anaknya, ia tidak hanya memenuhi kebutuhan pangannya saja tetapi juga

(6)

pendidikan bahkan bakat berwirausahanya agar sifat mandiri dan berwirausaha telah tertanam sejak kecil. Seperti anaknya yang pertama sudah bisa mencari uang sendiri dari hasil menjadi pembalap dan bisnis otomotif. "Sejak kecil memang sudah ditanamkan untuk bisa jadi pengusaha, saya juga bangga ternyata dia bisa,"

ucap Grace.

Jika ditinjau dari keberhasilan Grace dalam mengembangkan usahanya, dapat dikatakan bahwa ia mendapatkan kepuasan tidak hanya karena dapat memenuhi kebutuhan pangan anak-anaknya saja. Tetapi juga pendidikan yang didapat anaknya hingga kepuasannya yang dapat memberikan kursus membuat kue seperti yang pernah dirintisnya kepada orang lain. Namun, Jati (2009) mendapatkan kesimpulan dari hasil penelitiannya bahwa single mother berwirausaha tidak seperti wanita lain pada umumnya yang berwirausaha karena didorong oleh keinginan berprestasi dan untuk menunjukkan diri bisa mandiri, tetapi tujuan utama single mother memutuskan untuk berwirausaha karena untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti hasil dari field study yang telah dilakukan beberapa waktu sebelumnya, responden hanya tampak merasakan kepuasan dari keberhasilannya dapat memenuhi kebutuhan keluarganya saja, tetapi tidak tampak kepuasan untuk mendapatkan psychological well-being dan waktu luang untuk dirinya sendiri.

Dari beberapa kutipan berikut ini, terlihat gambaran kepuasan berwirausaha single mother dari aspek-aspek yang telah disebutkan sebelumnya:

“..usaha ibu lumayan la sekarang, karena dulu meja ibu satu untuk jualan,

sekarang udah punya dua, kayaknya nambah usaha jilbab lebih lumayan,

karena semakin pandai cari yang model terbaru semakin lumayan juga

(7)

pendapatan..”

(Komunikasi Personal, 16 Mei 2013) Dari kutipan wawancara diatas, tidak dapat diambil kesimpulan secara langsung bahwa kepuasan berwirausaha yang dirasakan single mother tersebut karena pendapatan/ penghasilan yang didapatnya. Maka perlu diperhatikan aspek lain dari kepuasan berwirausaha yang lain seperti waktu luang yang tergambar dari kutipan berikut ini:

“Sebenarnya waktu luang ibu malam aja la kadang nonton tv sama anak- anak.. Kalau siang ibu pulang jualan jam setengah dua sampe rumah, bisa la ibu tidur satu jam habis shalat.. nanti habis ashar ibu nyuci, tapi kadang kalau ibu pergi belanja baju gaada la waktu tidur ibu gitu, kalo malam tidur nanti jam empat uda bangun ibu, ya gitu..”

(Komunikasi Personal, 16 Mei 2013) Jika dilihat dari kutipan wawancara diatas, tidak tergambar kepuasan berwirausaha pada single mother tersebut. Seperti juga halnya pada kutipan wawancara berikut ini yang menggambarkan aspek psychological well-being:

“..mungkin orang-orang melihat usaha ibu maju karena anak-anak ibu bersekolah semua dari hasil usaha ibu ini.. terus yang makan banyak, semua bisa Ibu tanggung.. kan tujuh orang di rumah itu yang ibu

tanggung makannya..”

(Komunikasi Personal, 16 Mei 2013)

Dari beberapa aspek kepuasan berwirausaha seperti yang telah ditemukan

dari hasil penelitian sebelumnya oleh Carree dan Verheul (2011), perlu dianalisa

lebih lanjut bentuk kepuasan wirausaha single mother terlihat pada aspek

pendapatan/ penghasilan, psychological well-being, atau waktu luang. Dari

fenomena yang ditemukan dalam literatur dan field study terdapat perbedaan

kepuasan. Maka ingin diteliti apakah kepuasan wanita single mother berwirausaha

didapat dari keuntungannya saja atau justru total dalam berwirausaha agar juga

(8)

dapat merasakan kepuasan bagi dirinya sendiri baik waktu luangnya ataupun psychological well-being. Peneliti ingin lebih mendalami lagi bagaimana

gambaran kepuasan berwirausaha dari aspek kepuasan berwirausaha single

mother sehingga menggunakan pendekatan kualitatif. Oleh karena itu,

diharapkan dari eksplorasi yang akan dilakukan dapat mendeskripsikan kepuasan wanita yang menjadi single mother dalam berwirausaha. Dengan demikian, peneliti tertarik untuk meneliti gambaran kepuasan berwirausaha pada wanita yang menjadi single mother.

1.2. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut : “Bagaimana gambaran kepuasan berwirausaha pada wanita yang menjadi single mother?”

1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini memiliki tujuan untuk memberikan gambaran atau deskripsi mengenai kepuasan berwirausaha pada wanita yang menjadi single mother.

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan dua manfaaat secara teoritis ataupun praktis.

a. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat

muntuk pengembangan ilmu psikologi, khususnya dibidang psikologi industri

(9)

dan organisasi, gambaran kepuasan berwirausaha pada wanita yang menjadi single mother.

b. Manfaat Praktis

Sebagai masukan bagi wanita single mother yang berwirausaha agar dapat mengembangkan usahanya dan dapat merasakan kepuasan dalam berwirausaha setelah mengetahui aspek-aspek kepuasan dalam berwirausaha.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi atau acuan bagi penelitian selanjutnya khususnya pada penelitian yang berkaitan dengan gambaran kepuasan berwirausaha pada wanita yang menjadi single mother.

Diharapkan juga, hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan informasi bagi keluarga dan orang – orang disekitar wanita yang menjadi single mother agar dapat mendukung wanita yang menjadi single mother agar dapat mencapai kepuasan berwirausaha.

1.5. Sistematika Penulisan

Penelitian ini dibagi atas lima bab, dan masing-masing bab dibagi atas beberapa sub bab. Sistematika penulisan penelitian ini adalah :

Bab I : Pendahuluan

Dalam bab ini akan disajikan uraian singkat mengenai latar belakang masalah,

pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian serta sistematika

penulisan.

(10)

Bab II : Landasan Teori

Bagian ini berisikan tinjauan teoritis yang menjadi acuan dalam penelitian ini.

Adapun teori-teori yang dimuat adalah adalah tentang kepuasan, kepuasan kerja, apa itu kewirausahaan, wirausaha wanita, kepuasan beriwurahsa, dan faktor yang mempengaruhi kepuasan berwirausaha. Kemudian mengenai single mother, masalah yang dihadapi single mother dan kepuasan berwirausaha single mother.

Bab III: Metode Penelitian

Dalam Bab ini akan dijelaskan metode penelitian yang digunakan oleh peneliti dan dalam hal ini adalah metode kualitatif, metode pengumpulan data, subjek penelitian, dan teknik pengambilan sampel yang digunakan.

Bab IV: Hasil Penelitian dan Analisis

Dalam Bab ini akan diuraikan tentang hasil dari beberapa metode pengumpulan data, paparan data berupa verbatim beserta koding yang merupakan analisa data dan pembahasan jika diperlukan.

Bab V: Penutup

Dalam Bab ini akan dimuat beberapa hal penting yang berkaitan dengan

kesimpulan dan saran-saran penting baik untuk institusi tertakait maupun pihak

lain yang dianggap layak.

(11)

KERANGKA BERPIKIR

Masalah psikologis Masalah ekonomi Masalah sosial Single mother

Bekerja Mengharapkan

orang tua/keluarga

Bekerja Berwirausaha

Kurangnya lapangan kerja

Syarat kerja jadi penghambat

Waktu kerja telah ditentukan

Memanfaatkan keterampilan diri

Tidak banyak persyaratan Fleksibel dalam mengatur waktu

Field Study Literatur

puas secara total terhadap usahanya tidak menunjukkan kepuasan

secara maksimal

Kepuasan dalam

berwirausaha

Referensi

Dokumen terkait

Untuk menyelesaikan permasalahan yang ada, peneliti menawarkan sebuah solusi yakni dengan menggunkan model pembelajaran PRP (practice rehearsal pairs) sebagai upaya untuk

Kursus Bahasa dan budaya Melayu mula diperkenalkan di Pusat Pengajian Bahasa, Literasi dan Terjemahan (PPBLT), USM pada tahun 2002. Peserta sulung yang diterima

Dalam gerakan tertentu yang yang tidak bisa diamati secara visual dan tidak dapat terjangkau oleh mata telanjang manusia, aplikasi pemrosesan video sering harus melakukan

Berdasarkan kondisi permasalahan diatas dan betapa pentingnya peran auditor internal di sebuah organisasi guna menjaga keberlanjutan organisasi itu sendiri dalam

Skenario yang dapat digambarkan adalah ketika sebuah sistem hanya memberikan beberapa layanan pada port tertentu, sedangkan akses yang masuk dari jaringan eksternal melalui port

Dari ketiga kategori penilaian simulasi (korelasi, RMSE dan kesalahan relatif), maka simulasi 1 adalah simulasi terbaik dibandingkan simulasi 2 dan simulasi 3 dengan

Selain itu keberadaan dan keberhasilan sebuah lembaga PT sangat tergantung pada input (Jumlah mahasiswa), proses (tata pamong, tata kelola dan kerjasama yang dilakukan

Menurut (Smith 1992) bahan baku merupakan salah satu unsur yang paling aktif dalam perusahaan yang secara terus menerus diperoleh, sehingga pemilik industri rumah