10
Universitas Kristen Petra 2. IDENTIFIKASI DAN ANALISA DATA
2.1 Landasan Teori 2.1.1 Tinjauan Perancangan
Menurut Dr. Agus Sachari (3), desain adalah sebuah kosakata baru yang berupa peng-Indonesiaan dari kata design (bahasa Inggris), istilah ini digunakan untuk melengkapi kata “rancang/rancangan/merancang” (Dr. Agus Sachari 3) yang dinilai kurang mengekspresikan keilmuan, keluasan dan kewibawaan profesi. Sejalan dengan itu, kalangan insinyur menggunakan istilah rancang bangun, sebagai pengganti istilah desain. Namun di kalangan keilmuan seni rupa istilah “desain” tetap dipergunakan.
Menyebutkan bahwa akar-akar istilah desain pada hakikatnya telah ada sejak zaman purba dengan pengertian yang amat beragam ( Dr. Agus Sachari 3 ).
Istilah “Arch, “Techne”, “Kunst”, “Kagunan”, “Kabinangkitan”, “Anggitan”, dan sebagainya merupakan bukti-bukti bahwa terdapat istilah-istilah yang berkaitan dengan kegiatan desain, hanya penggunaannya belum menyeluruh dan dinilai belum bermuatan aspek-aspek modernitas seperti yang dikenal sekarang.
Di awal perkembangannya, istilah “desain” desain tersebut masih berbaur dengan
“seni” dan “kriya”. Namun ketika seni modern mulai memantapkan diri dalam wacana ekspresi murni, justru “desain” memantapkan diri pada aspek fungsi dan industri. Di Indonesia, hingga tahun 1970, masih terdapat “kebauran” antara istilah “desain”, “seni terapan” dan “kerajinan”.
Secara etimologis kata “desain“ diduga berasal dari kata designo (bahasa Italia) yang artinya gambar. Kata ini diberi makna baru dalam bahasa Inggris di abad ke-17, yang dipergunakan untuk membentuk School of Design tahun 1836.
Makna baru tersebut dalam praktik kerap semakna dengan kata craft (keterampilan adiluhung), kemudian atas jasa Ruskin dan Morris, dua tokoh gerakan antiindustri di Inggris pada abad ke-19, kata “desain” diberi bobot sebagai seni berketerampilan tinggi (art and craft).
11
Universitas Kristen Petra Desain pada hakikatnya merupakan upaya manusia memberdayakan diri melalui benda ciptaannya untuk menjalani kehidupan yang lebih aman dan sejahtera.
2.1.1.1. Prinsip Dasar Desain
Prinsip dasar desain adalah sebuah pengorganisasian unsur-unsur dasar desain. ( Frank Jefkins 245) mengelompokkan prinsip-prinsip desain menjadi kesatuan, keberagaman, keseimbangan, ritme, keserasian, proporsi, skala, dan penekanan.
- Kesatuan (unity)
Kesatuan merupakan sebuah upaya untuk menggabungkan unsur-unsur desain menjadi suatu bentuk yang proporsional dan menyatu satu sama lain ke dalam sebuah media. Kesatuan desain merupakan hal yang penting dalam sebuah desain, tanpa ada kesatuan unsur-unsur desain akan terpecah berdiri sendiri-sendiri tidak memiliki keseimbangan dan keharmonisan yang utuh.
- Keberagaman (variety)
Keberagaman dalam desain bertujuan untuk menghindari suatu desain yang monoton. Untuk itu diperlukan sebuah perubahan dan pengkontrasan yang sesuai. Adanya perbedaan besar kecil, tebal tipis pada huruf, pemanfaatan pada gambar, perbedaan warna yang serasi, dan keragaman unsur-unsur lain yang serasi akan menimbulkan variasi yang harmonis.
- Keseimbangan (balance)
Keseimbangan adalah bagaimana cara mengatur unsur-unsur yang ada menjadi sebuah komposisi yang tidak berat sebelah. Keseimbangan dapat tercapai dari dua bagian, yaitu secara simetris yang terkesan resmi/formal yang tercipta dari sebuah paduan bentuk dan ukuran tata letak yang sama, sedangkan keseimbangan asimetris memberi kesan informal, tapi dapat terlihat lebih dinamis yang terbentuk dari paduan garis, bentuk, ukuran, maupun tata letak yang tidak sama namun tetap seimbang.
- Ritme/irama (rhythm)
12
Universitas Kristen Petra Aliran secara keseluruhan terhadap desain selalu menyiratkan irama yang nyaman. Suatu gerak yang dijadikan sebagai dasar suatu irama dan ciri khasnya terletak pada pengulangan-pengulangan yang dilakukan secara teratur yang diberi tekanan atau aksen. Ritme membuat adanya kesan gerak yang menyiratkan mata pada tampilan yang nyaman dan berirama.
- Keserasian (harmony)
Mengartikan keserasian sebagai usaha dari berbagai macam bentuk, bangun, warna, tekstur, dan elemen lain yang disusun secara seimbang dalam suatu komposisi utuh agar nikmat untuk dipandang. Keserasian adalah keteraturan di antara bagian-bagian suatu karya (Suptandar 19).
- Proporsi (proportion)
Proporsi merupakan perbandingan antara suatu bilangan dari suatu objek atau komposisi (Kusmiati 19). Bisa dikatakan bahwa proporsi merupakan kesesuaian ukuran dan bentuk hingga tercipta keselarasan dalam sebuah bidang. Terdapat tiga hal yang berkaitan dengan masalah proporsi, yaitu penempatan susunan yang menarik, penentuan ukuran dan bentuk yang tepat, dan penentuan ukuran sehingga dapat diukur atau disusun sebaik mungkin.
- Skala (scale)
Skala adalah ukuran relatif dari suatu objek, jika dibandingkan terhadap objek atau elemen lain yang telah diketahui ukurannya (Kusmiati 14).
Skala berhubungan dengan jarak pandang atau penglihatan dengan unsur- unsur yang telah dimunculkan (faktor keterbacaan). Skala juga sangat berguna bagi terciptanya kesesuaian bentuk atau objek dalam suatu desain.
- Penekanan (emphasis)
Frank Jeffkin (246) menyebutkan bahwa, “Dalam penekanan, all emphasis is no emphasis, bila semua ditonjolkan, maka yang terjadi adalah tidak ada hal yang ditonjolkan. Adanya penekanan dalam desain merupakan hal yang penting untuk menghindari kesan monoton.
Penekanan dapat dilakukan pada jenis huruf, ruang kosong, warna, maupun yang lainnya akan menjadikan desain menjadi menarik bila
13
Universitas Kristen Petra dilakukan dalam proporsi yang cukup dan tidak berlebihan.”
2.1.2. Tinjauan Fotografi 2.1.2.1. Fotografi
Istilah fotografi berasal dari dua kata “foto” dan “grafi” yang dalam bahasa Yunani foto berarti cahaya dan grafi berarti menulis atau melukis, sehingga fotografi dapat diartikan sebagai melukis dengan cahaya. Dalam fotografi, kehadiran cahaya adalah mutlak perlu, karena mulai dari pemotretan hingga pencetakan film menjadi foto kedua-duanya membutuhkan cahaya (Lutfan par. 1).
Dalam buku The History of Photography karya Alma Davenport, terbitan University of New Mexico Press tahun 1991, disebutkan bahwa pada abad ke-5 sebelum Masehi, seorang pria bernama Mo Ti sudah mengamati sebuah gejala.
Apabila pada dinding ruangan yang gelap terdapat lubang, maka di bagian dalam ruang itu akan terefleksikan pemandangan di luar ruang secara terbalik lewat lubang tadi. Kemudian pada tahun 1000 Al Hazen, seorang pelajar berkebangsaan Arab, menulis bahwa citra dapat dibentuk dari cahaya yang melewati sebuah lubang kecil. Fotografi terus berkembang (Rambey par. 2).
Tahun 1839 adalah tahun awal fotografi. William Henry Fox Talbot, seorang ilmuwan Inggris, memaparkan hasil penemuannya (tepatnya tahun 1834) berupa proses fotografi modern kepada Institut Kerajaan Inggris. Ia menemukan sistem negatif-positif (bahan dasar: perak nitrat, di atas kertas). Walau telah menggunakan kamera, sistem itu masih sederhana seperti apa yang sekarang kita istilahkan contactprint (print yang dibuat tanpa pembesaran/pengecilan) dan dapat diperbanyak.
Fotografi kemudian berkembang dengan sangat cepat. Tidak semata heliografi lagi karena cahaya apa pun kemudian bisa dipakai, tidak semata cahaya matahari. Penemuan cahaya buatan dalam bentuk lampu kilat pun telah menjadi sebuah aliran tersendiri dalam fotografi. Cahaya yang dinamai sinar-X kemudian membuat fotografi menjadi berguna dalam bidang kedokteran.
Pada tahun 1901, seorang peneliti bernama Conrad Rontgen menemukan pemanfaatan sinar-X untuk pemotretan tembus pandang. Temuannya ini lalu
14
Universitas Kristen Petra mendapat Hadiah Nobel dan peralatan yang dipakai kemudian dinamai peralatan rontgen. Cahaya buatan manusia dalam bentuk lampu sorot dan juga lampu kilat (blitz) kemudian juga menggiring fotografi ke beberapa ranah lain. Pada tahun 1940, Dr Harold Edgerton yang dibantu Gjon Mili menemukan lampu yang bisa menyala-mati berkali-kali dalam hitungan sepersekian detik. Lampu yang lalu disebut strobo ini berguna untuk mengamati gerakan yang cepat. Foto atlet loncat indah yang sedang bersalto, misalnya, bisa difoto dengan strobo sehingga menghasilkan rangkaian gambar pada sebuah bingkai gambar saja. Demikian pula penemuan film inframerah yang membantu berbagai penelitian. Kabut yang tidak tembus oleh cahaya biasa bisa tembus dengan sinar inframerah. Tidaklah heran, fotografi inframerah banyak dipakai untuk pemotretan udara ke daerah-daerah yang banyak tertutup kabut.
Kemajuan teknologi memang memacu fotografi secara sangat cepat.
Kalau dulu kamera sebesar mesin jahit hanya bisa menghasilkan gambar yang tidak terlalu tajam, kini kamera digital yang cuma sebesar dompet mampu membuat foto yang sangat tajam dalam ukuran sebesar koran.
Temuan teknologi makin maju sejalan dengan masuknya fotografi ke dunia jurnalistik. Karena belum bisa membawa foto ke dalam proses cetak, surat kabar mula-mula menyalin foto ke dalam gambar tangan. Dan surat kabar pertama yang memuat gambar sebagai berita adalah The Daily Graphic pada 16 April 1877. Gambar berita pertama dalam surat kabar itu adalah sebuah peristiwa kebakaran. Kemudian, ditemukanlah proses cetak half tone pada tahun 1880 yang memungkinkan foto dibawa ke dalam surat kabar.
Banyak cabang kemajuan fotografi yang terjadi, tetapi banyak yang mati di tengah jalan. Foto Polaroid yang ditemukan Edwin Land, umpamanya, pasti sudah tidak dilirik orang lagi karena kini foto digital juga sudah nyaris langsung jadi. Juga temuan seperti format film APSS (tahun 1996) yang langsung mati suri karena teknologi digital langsung masuk menggeser semuanya (Rambey par. 8).
Hingga kini perkembangan fotografi terus mengalami perkembangan dan berevolusi menjadi film-film digital yang mutakhir tanpa menggunakan roll film.
Itulah perkembangan dunia fotografi hingga masuk era digital.
15
Universitas Kristen Petra Fotografi masuk ke Indonesia sejak 150 tahun yang lalu dan mulai berkembang pesat sejak tahun 1930. Pada masa Perang Dunia II, fotografi di Indonesia berhenti berkembang, tetapi tahun 1960 fotografi mulai berkembang kembali terutama pada akhir dasawarsa ini di mana peralatan fotografi yang ada di pasaran sudah mulai canggih dan modern. Fotografi di Indonesia tidak hanya sebatas dokumentasi saja, tetapi sudah meningkat pada dunia komunikasi, fashion, bidang seni foto, jurnalistik, interior, foto produk dan periklanan.
2.1.3. Peralatan Fotografi 2.1.3.1. Kamera
Kamera adalah perangkat atau media untuk menghasilkan karya fotografi. Di era digital ini kamera film sudah mulai ditinggalkan dan beralih ke kamera digital. Kamera digital sendiri umumnya terbagi menjadi dua golongan yaitu kamera pocket (kamera saku) dua lensa (refleks lensa kembar) dan kamera DSLR (digital single-lens reflex atau refleks lensa tunggal).
- Kamera saku (pocket)
Sesuai namanya, kamera saku berukuran kecil dan mudah dimasukkan ke saku. Kedua lensanya punya fungsi berbeda. Salah satunya berfungsi sebagai lensa pengintai sementara yang lain sebagai pengekspos objek. Kamera ini harganya lebih murah jika dibandingkan dengan kamera SLR. Selain harganya terjangkau, kamera saku sekarang juga memiliki keunggulan lain, yaitu dapat menjamin siapa pun memotret objek dengan mudah tanpa khawatir melakukan kesalahan yang dapat mengurangi nilai foto. Kini, kamera saku tersedia dalam berbagai ukuran, kelas, dan fasilitas yang berbeda. Harganya pun cukup variatif.
Pemotret bisa leluasa memlilih jenis yang dikehendaki sesuai kebutuhan dan selera (Sugiarto 3).
- Kamera DSLR (digital single-lens reflex)
Kamera SLR (single-lens reflex) atau kamera refleks lensa tunggal adalah kamera yang memungkinkan fotografer untuk dapat melihat objek melalui kamera dengan sama persis seperti apa yang ia lihat. Hal ini berbeda dengan kamera non- SLR, dimana pandangan yang terlihat di viewfinder bisa jadi berbeda dengan apa yang ditangkap di film. Kamera SLR menggunakan pentaprisma yang
16
Universitas Kristen Petra ditempatkan di atas jalur optikal melalui lensa ke lempengan film. Cahaya yang masuk kemudian dipantulkan ke atas oleh kaca cermin pantul dan mengenai pentaprisma. Pentaprisma kemudian memantulkan cahaya beberapa kali hingga mengenai jendela bidik. Saat tombol dilepaskan, kaca membuka jalan bagi cahaya sehingga cahaya dapat langsung mengenai film.
Kamera SLR, sesuai dengan namanya (Single Lens Reflex), menggunakan sistem bidikan lewat lensa (reflex type). Mata fotografer melihat subjek melalui lensa, sehingga tidak terjadi parallax, yaitu keadaan dimana fotografer tidak melihat secara akurat indikasi keberadaan subjek melalui lensa sehingga ada bagian yang hilang ketika foto dicetak.
Perkembangan dari kamera SLR adalah kamera DSLR. Pada prinsipnya, kamera SLR dan DSLR memiliki cara kerja dan komponen yang sama. Yang membedakan adalah penggunaan film. Kamera SLR menggunakan film sebagai medium penangkap, sedangkan kamera DSLR tidak lagi menggunakan film.
Sebagi gantinya, kamera DSLR menggunakan CCD atau CMOS (sensor).
Adanya layar LCD (liquid crystal display) sangat membantu fotografer untuk melihat saat itu juga. Hal ini membuat fotografer semakin fleksibel, karena jika hasil bidikan yang terpampang di layar dirasa tidak sesuai dengan keinginan, maka dengan mudah dapat dihapus dan diganti sesuai dengan perspektif yang diinginkan. Selain itu LCD seperti pada Nikon D700 membantu fotografer untuk melakukan pemotretan tanpa harus memicingkan matanya. Selain itu untuk melihat hasil foto yang lebih jelas, kita tidak harus ribet lagi karena hasil pemotretan bisa langsung dilihat dan dipilih pada layar komputer. Selain itu file- file foto juga lebih mudah disimpan tanpa harus menggunakan tempat, yaitu cukup di dalam harddisk dengan menggunakan format TIFF atau JPEG. Sekarang teknologi kamera digital juga sangat memungkinkan untuk menghasilkan foto dengan resolusi tinggi untuk mendukung hasil foto yang lebih baik (“Sejarah” 48).
2.1.3.2. Lensa
Lensa adalah alat berbentuk silinder dan ditempatkan di bagian depan badan kamera. Berfungsi untuk memfokuskan cahaya yang masuk ke dalam kamera sehingga menghasilkan gambar yang sesuai dengan ukuran film atau
17
Universitas Kristen Petra sensor. Lensa dikelompokkan sesuai panjang (focal length), yaitu lensa normal, lensa sudut lebar, dan lensa tele.
Focal length mempengaruhi besar komposisi gambar yang mampu dihasilkan oleh film atau sensor. Dalam masyarakat umum lebih dikenal dengan istilah zoom atau pembesaran. Untuk kamera SLR, lensa dilengkapi dengan diafragma yang dapat mengatur banyaknya cahaya yang masuk sesuai dengan keinginan sang fotografer.
- Lensa Normal
Lensa jenis ini dinamakan lensa ”normal” karena melalui lensa ini kita dapat melihat objek dengan perspektif dan sudut pandang natural, hampir sama dengan pandangan mata. Jarak panjang fokal lensa ini 40-58mm. Umumnya, panjang fokal 50mm mempunyai perspektif paling dekat dengan apa yang dilihat mata manusia.
Meskipun lensa merupakan mata kamera tetapi lensa normal agak jarang digunakan untuk keperluan pemotretan. Hal ini lebih disebabkan karena munculnya anggapan bahwa lensa normal tidak mampu memberikan efek fotografis seperti bila pemotret menggunakan lensa tele panjang atau lensa sudut lebar yang menghasilkan foto-foto yang ekstrem. Namun, pada beberapa kasus, lensa normal juga dapat dimaksimalkan penggunaannya khususnya oleh pemotret yang karena suatu keinginan harus menggunakan kekuatan diafragma besar.
Lensa normal memang umumnya memiliki bukaan hingga f:1,4, juga bagi pemotretan objek-objek yang cukup lebar (Sugiarto par. 9).
- Lensa Sudut Lebar
Lensa sudut lebar (wide angle) adalah lensa yang memiliki sudut pandang lebih dari 46 derajat. Karena itu umumnya digunakan untuk memotret interior, panorama atau sekelompok manusia yang membutuhkan cakupan gambar besar. Dengan karakteristik tersebut maka lensa sudut lebar memiliki ruang tajam yang lebih besar, distorsi, dan penguatan kesan kedalaman perspektif.
Berdasarkan pada standar fotografi 35mm, maka panjang fokal lensa yang dapat digolongkan sebagai lensa sudut lebar adalah lensa di bawah 50mm.
Dengan demikian lensa 35mm, 24mm, 20mm atau 16mm merupakan lensa-lensa
18
Universitas Kristen Petra sudut lebar. Lensa sudut lebar yang sudut pandangnya terlebar adalah lensa 12mm yaitu sekitar 122 derajat.
Namun demikian, umumnya hanya lensa sudut lebar kisaran 20mm hingga 35mm yang digunakan oleh pemotret karena lensa tersebut cukup luas cakupannya. Bagi yang senang dengan tampilan gambar yang lebih ekstrem dan menginginkan cakupan yang lebih luas lagi, dapat dilakukan dengan lensa sudut lebar 16mm atau 12mm.
Cakupan yang teramat lebar hampir menyerupai sudut pandang ikan atau fish eye tersebut, tidak akan didapat jika pemotret hanya mengandalkan lensa biasa yang melekat pada kamera digital (Sugiarto par. 5)
- Lensa Tele
Lensa tele memiliki sudut pandang yang lebih sempit dari lensa normal dan memiliki panjang fokal yang lebih dari 50mm. Lensa tele memiliki konsekuensi ruang tajam yang sempit serta perspektif yang dangkal. Karena itu dengan karakteristik seperti itu umumnya lensa tele digunakan untuk pemotretan manusia, olahraga, satwa dan juga pemotretan jarak dekat (untuk memperbesar gambar.
Ruang tajamnya yang sangat sempit sering dimanfaatkan oleh pemotret untuk mengisolasi subjek pemotretan dengan latar belakangnya. Dalam hal ini untuk menciptakan foto-foto yang menonjolkan subjek utama dan mengaburkan latar belakangnya.
Lensa tele terpanjang yang pernah ada adalah lensa 2000mm dengan f:11. Karena panjangnya, tentu saja juga berat, maka dalam penggunaannya sangat dianjurkan untuk memakai bantuan penyangga kamera atau tripod untuk menghidarkannya dari hasil gambar yang goyang (Sugiarto par. 13).
- Lensa Majemuk
Lensa majemuk (zoom lens) memiliki lebih dari satu panjang fokal.
Lensa majemuk mempunyai cincin untuk mengatur panjang fokal. Jika cincin ini diputar, imaji dari subjek akan menjadi lebih besar atau lebih kecil. Lensa jenis ini tersedia dalam berbagai macam jenis jarak panjang fokal. Umumnya, lensa majemuk telefoto mempunyai jarak panjang fokal 80-200mm atau lebih. Selain itu, terdapat pula lensa majemuk bersudut lebar sampai tele dengan panjang fokal
19
Universitas Kristen Petra sekitar 35-85mm. Keuntungan menggunakan lensa ini adalah kebebasan memotret dengan berbagai panjang fokal tanpa harus mengganti lensa.
2.1.3.3. Filter
Dilihat dari fungsinya, ada dua jenis filter yang beredar di pasaran, yaitu filter lensa dan filter lampu. Kalangan fotografer sering kali memanfaatkan filter lensa dalam pemotretan.
Dilihat dari bentuknya, filter terbagi menjadi dua, yaitu filter cincin dan filter bujur sangkar. Filter cincin adalah filter yang berbentuk seperti cincin dan memiliki ulir yang sesuai dengan lensa. Cara penggunaannya sederhana, cukup dengan memasangkannya di depan lensa. Filter bujur sangkar yang berbentuk lempengan kaca segi empat harus dipasangkan ke lensa dengan bantuan penghubung (adaptor).
Berikut beberapa filter yang dianggap penting dan sering kali dipakai pemotret.
- Filter UV
Merupakan filter pelindung lensa yang digunakan agar lensa tidak mudah kotor atau tergores. Filter UV (ultraviolet) berukuran tipis dan berwarna hijau kebiru-biruan bisa menahan cahaya ultraviolet yang berlebihan.
Filter ini amat tepat untuk menetralisasi cahaya di daerah pantai dan pegunungan. Karena memiliki faktor 0, filter ini tidak akan mempengaruhi ketajaman hasil foto.
- Filter Polarisasi (PL)
Filter ini dapat membirukan langit, mengoreksi refleksi yang tidak diinginkan, serta memekatkan warna. Filter ini juga dapat menaikkan kekontrasan cahaya hingga 50%. Karena punya faktor 4, pemotret harus memperbesar bukaan diafragma sekitar 2 stop atau menurunkan kecepatan rana sebanyak 2 stop ketika menggunakannya.
- Filter Neutral Density (ND)
Merupakan filter koreksi yang berfungsi menghambat atau mengedapkan cahaya yang masuk ke lensa. Filter ini menahan intensitas cahaya sebesar kekedapan yang dipilih.
20
Universitas Kristen Petra - Filter Balance
Filter ini berfungsi menyeimbangkan atau menormalkan warna cahaya dalam suasana terttentu. Misalnya, filter FL (fluorosens) digunakan untuk menormalkan cahaya lampu neon atau TL yang berwarna hijau kebiru- biruan.
- Filter Kreatif
Merupakan filter yang paling beragam. Hampir semua efek yang sulit dihasilkan dengan pemotretan biasa bisa dicapai dengan bantuan filter ini. Filter kreatif yang paling banyak digemari adalah filter pelembut (soft) yang biasa disebut diffuser (Sugiarto 64).
2.1.3.4. Tripod
Kaki tiga (tripod) merupakan salah satu perlengkapan yang perlu dibawa.
Penyangga kamera ini sangat diperlukan ketika memotret suasana matahari terbit atau terbenam serta berbagai keadaan alam sekitarnya. Kondisi cahaya redup saat itu menuntut kita untuk menggunakan kecepatan rana rendah, terutama mereka yang menggunakan lensa tele dengan bukaan diafragma terbatas.
2.1.3.5. Flash
Flash (blitz/lampu kilat) adalah alat bantu pencahayaan di dalam fotografi. Sangat membantu pada waktu pemotretan di tempat minim cahaya.
Flash dapat menghasilkan cahaya dengan suhu setara matahari (daylight).
Teknologi flash terbaru memungkinkan cahaya ditangkap dengan kecepatan lebih tinggi. Selain itu, exposure yang dihasilkan bisa diatur sesuai keinginan fotografer.
2.1.4. Teknik Fotografi
Untuk menghasilkan karya fotografi yang baik, tentunya diperlukan pengalaman dan keahlian di dalam bidang fotografi. Berikut akan dijabarkan beberapa teknik yang harus dikuasai untuk menghasilkan karya fotografi yang baik.
21
Universitas Kristen Petra 2.1.4.1. Komposisi
Komposisi (composition) berarti sebuah proses penggabungan beberapa elemen menjadi satu kesatuan yang utuh. Dalam fotografi komposisi merupakan sebuah proses yang sangat vital karena dari komposisi itulah sebuah foto bisa becerita, dari komposisi pula sebuah foto terlihat indah dan enak dipandang untuk dinikmati. Berbeda dengan seni lukis yang memulai komposisi dari bidang kosong, kemudian menambahkan elemen-elemen yang dirasa perlu agar pesan lukisannya bisa sampai ketika dilihat orang lain. Komposisi dalam fotografi dimulai dari bidang yang penuh, kemudian satu-persatu elemen yang tidak perlu disingkirkan untuk mencapai tujuan yang sama.
Komposisi sangat berkaitan dengan estetika, untuk itu tidak ada peraturan yang mengikatnya, kalaupun ada hanyalah sebatas panduan yang boleh diikuti dan boleh juga tidak dikuti. Untuk itu ada istilah following the rule dan breaking the rule. Tetapi bagaimanapun panduan-panduan dalam menentukan komposisi ini sudah melalui proses studi yang cukup panjang sehingga sangat sesuai dengan indera penglihatan manusia dalam menikmati karya visual ini.
- Simplicity
Tujuan komposisi ini adalah memberikan penonjolan pada objek utama foto (point of interest) agar langsung terlihat secara utuh tanpa gangguan elemen-elemen lain yang tidak diperlukan. Karena itu saat melihat sebuah objek yang hendak difoto, pastikan bahwa elemen-elemen yang masuk kedalam frame kamera adalah elemen-elemen yang benar-benar diperlukan. Hindari penumpukan object (merger). Penumpukan objek akan sangat mengganggu objek utama (POI) karena bisa merusak keindahannya dan mengurangi rasa nikmat dalam melihatnya.
- Balance
Dalam fotografi balance berarti mengisi frame dengan porsi yang kurang lebih seimbang, bisa oleh elemen objek, warna ataupun contrast. Sebuah foto dengan komposisi yang balance akan terasa saat kali pertama dilihat begitu juga sebaliknya.
- Framing
22
Universitas Kristen Petra Dalam komposisi, framing adalah memberikan elemen-elemen tertentu diantara object utama sehinga membuat kesan objek utama tersebut berada dalam sebuah bingkai/frame. Frame tersebut bisa berbentuk apa saja, bisa dedaunan, bisa bidang gelap, bisa jendela rumah, kaca pecah, dan lain-lain yang tidak terbatas jumlahnya. Diperlukan pemikiran kreatif memang untuk mendapatkan komposisi framing yang menawan.
- Rule of Third
Panduan komposisi rule of third mungkin yang paling populer dan paling sering diterapkan. Pada prinsipnya panduan ini adalah menempatkan objek utama tidak pada tengah frame tetapi pada salah satu dari 1/3 bagian sisi pojok foto.
- Golden Mean
Golden mean juga dikenal dengan golden section adalah sebuah panduan komposisi yang didasarkan pada perhitungan matematika yang unik.
Panduan komposisi ini pertama kali didokumentasikan oleh seniman Yunani Kuno dan sampai saat ini masih digunakan meskipun popularitasnya agak tertutupi oleh panduan komposisi rule of third.
Prinsipnya panduan komposisi ini hampir sama dengan rule of third namun titik interesnya lebih sempit sekitar 5% ke arah tengah (Jakarta Photo Club).
Gambar 1.2. Rule of Third vs Golden Mean
Komposisi juga disusun berdasarkan jarak pemotretan yang dilakukan dengan variasi pengambilan gambar, antara lain:
- Long Shot (LS)
Rule of Third Golden Mean
23
Universitas Kristen Petra Komposisi yang dihasilkan adalah objek kecil, digunakan saat menggambarkan seluruh area dari sebuah aksi.
- Medium Shot (MS)
Komposisi yang dihasilkan adalah obyek terlihat lebih besar dibandingkan pada long shot, digunakan untuk menggambarkan seluruh figur maupun sosok seseorang dari bawah lutut sampai kepala, tetapi tidak keseluruhan tempat.
- Close Up (CU)
Komposisi yang terlihat hanya obyek yang dijadikan point of interest, digunakan untuk menggambarkan sebagian figur, elemen subyek ditampakkan dari bahu sampai kepala.
- Extreme Close Up (ECU)
Digunakan untuk menggambarkan detail sebuah subyek yang hanya ditonjolkan elemen obyeknya, misal mata saja, hidung, dll.
- High Angle
Pemotretan dengan menempatkan obyek foto lebih rendah daripada kamera, sehingga yang terlihat pada kaca pembidik obyek foto terkesan mengecil. Disebut juga dengan "sudut pandang mata burung"
- Low Angle
Pemotretan dengan kamera yang ditempatkan lebih rendah daripada obyek foto, sehingga obyek foto terkesan membesar. Disebut juga dengan "sudut pandang mata kodok"
- Foreground
Pemotretan dengan menempatkan obyek lain didepan obyek utama.
Dengan tujuan sebagai pembanding dan memperindah obyek utama.
Obyek yang berada di depan obyek utama ini dapat dibuat tajam (fokus) maupun tidak tajam (blurring).
- Background
Kebalikan dari foreground, dengan tujuan yang sama dan dapat pula dibuat tajam atau tidak.
24
Universitas Kristen Petra - Horizontal dan Vertical
Pemotretan dengan posisi kamera mendatar (horizontal) maupun vertical, sehingga didapatkan hasil pemotretan yang berbeda.
2.1.4.2. Fokus
Fokus adalah kegiatan mengatur ketajaman objek foto yang dikehendaki.
Dalam proses focusing, dibagi menjadi dua cara yaitu fokus manual (manual focus) dan fokus otomatis (autofocus). Pada manual focus, dilakukan dengan memutar lingkar fokus pada badan lensa. Pada autofocus, kita tinggal menekan sedikit tombol shutter. Kamera yang memiliki kemampuan autofocus dapat memfokuskan sendiri objek yang dibidik.
2.1.4.3. Exposure
Exposure diukur oleh alat yang disebut lightmeter. Jika lightmeter menunjukkan kekurangan cahaya, maka kita bisa memperbesar bukaan diafragma atau memperlambat shutter speed. Sebaliknya, jika lightmeter menunjukkan kelebihan cahaya maka kita bisa memperkecil bukaan diafragma atau mempercepat shutter speed. Overexpose adalah keadaan dimana jumlah cahaya yang masuk terlalu banyak sehingga gambar yang dihasilkan akan terlalu terang.
Underexpose adalah keadaan dimana jumlah cahaya yang masuk terlalu sedikit sehingga dihasilkan gambar yang gelap.
2.1.4.4. Pencahayaan
Fotografi digital adalah mengenai menangkap cahaya di sensor gambar.
Semakin baik cahayanya, semakin potensial mendapatkan foto yang luar biasa.
Kualitas cahaya bisa berbeda-beda baik arah, ketajaman, dan warnanya sejak matahari terbit sampai terbenam sore hari.
Berdasarkan arah penyinarannya, pencahayaan dapat dikelompokkan menjadi empat macam, yaitu:
- Front lighting, di mana arah datangnya cahaya searah dengan posisi kamera - Top lighting, sumber cahaya terletak tepat di atas objek
- Side lighting, sumber cahaya dari arah samping
25
Universitas Kristen Petra - Back lighting, sumber cahaya letaknya berlawanan dengan posisi kamera
Sedangkan berdasarkan fungsinya, penyinaran dibagi menjadi tiga, yaitu:
- Main light, yaitu cahaya utama yang diprioritaskan untuk membentuk kesan objek
- Fill-in light, cahaya bantuan atau pengisi bidang objek pemotretan - Effect light, untuk menimbulkan efek tertentu pada foto
Berdasarkan sifat cahaya, penyinaran dibagi menjadi:
- Hard light, menghasilkan bayangan yang pekat pada objek
- Semi soft light, bayangan yang dihasilkan tidak terlalu pekat namun juga tidak terlalu soft
- Soft light, menghasilkan bayangan yang soft
Teknik penyinaran ada dua yaitu low key dan high key. Foto low key cenderung serba gelap dan menggunakan warna-warna yang pekat. Foto high key cenderung akan overexposure, dan menghilangkan detil foto.
Berdasarkan sumbernya, pencahayaan dibagi menjadi dua bagian yaitu pencahayaan alami dan pencahayaan buatan. Pencahayaan buatan biasa digunakan apabila kondisi pencahayaan kurang sesuai dengan yang diharapkan atau dibutuhkan. Kondisi pencahayaan yang kurang sesuai menjadikan hasil foto yang kita inginkan menjadi tidak maksimal. Pencahayaan buatan banyak digunakan untuk fotografi dalam ruangan atau indoor photography dan tidak menutup kemungkinan untuk fotografi luar ruang sekalipun. Alat-alat yang digunakan biasa disebut dengan studio flash.
2.1.5. Pengertian Dokumenter
Dalam cerita pemberitaan, pembaca berita akan menceritakan mengenai apa yang terjadi di suatu tempat dalam sebuah masyarakat. Dalam dokumenter, kita mempertunjukkan apa yang terjadi dalam masyarakat. Kita berbicara pada mereka yang terlibat dan menyaksikannya. Merekalah yang mempertunjukkan kisah tentang apa yang terjadi, bukan kita yang menceritakan kisahnya. Namun demikian, kitalah yang membuat tentang bagaimana kisah mereka itu akan diketengahkan.
26
Universitas Kristen Petra Dokumenter radio bekerja seperti halnya dokumenter tertulis dan dokumenter televisi. Dokumenter radio mencari bagaimana untuk menunjukan kisah sebenanya tentang sebuah topik, tentang sebuah insiden, hubungan antara orang-orang, atau sebuah lingkungan. Pada sebuah dokumenter, penyajinya memainkan peran kedua. Yang terpenting adalah mereka yang terlibat menceritakan sendiri mengenai apa yang terjadi. Dengan menggunakan teknik bertanya yang hampir mirip seperti seorang pengacara di sebuah kasus di pengadilan atau seperti seorang psikiatris yang menggali-gali masa lalu sang pasien. Dalam dokumenter, kita menggunakan suara-suara dari realita yang terjadi sebagai sebuah alat yang sangat kuat untuk berkomunikasi. Dokumenter mungkin sebuah format radio yang paling kuat yang kita miliki, mengingat ia membawa sang pendengar sedekat mungkin pada realitas. Dokumenter memiliki sentuhan manusiawi yang memberikan kesempatan pada pendengar untuk menginterpretasikan realitas menurut mereka sendiri, bukan diceritakan mengenai realita tersebut oleh orang lain.
Dokumenter yang baik masuk ke balik lapisan luar sebuah cerita yang sudah kita ketahui - atau kita pikir seolah-olah kita mengetahuinya - atau mengangkat sebuah cerita yang kita pikir sama sekali tidak pernah ada. Mampu mencekat kita, mengagetkan kita, atau mengajarkan kita cara baru dalam melihat realitas yang kita pikir kita telah mengetahuinya. Sebuah dokumenter yang baik akan mengubah persepsi kita tentang realita.
Fotografi dokumenter bersifat mengumpulkan bukti suatu kejadian atau peristiwa menggunakan kamera. Keunggulan menggunakan foto adalah dilihat dari nilainya di masa yang akan datang. Kejadian-kejadian unik, lucu, tegang, sedih, dan manusiawi masuk kedalam kategori foto dukumenter. Mengabadikan suatu momen yang tak akan terulang lagi dan belum tentu semua orang bisa mendapatkannya. Foto dokumenter tidak boleh dibuat dengan sembarangan, tanpa mempedulikan segi kualitas. Tidak cukup dengan mengabadikan sekumpulan rombongan orang yang sedang melakukan suatu kigiatan dalam satu peristiwa.
Dari fakta – fakta di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa fotografi dokumenter hampir sama dengan sinopsi film, menceritakan satu kejadian atau peristiwa yang diliput atau yang akan kita dokumentasikan dengan menggunakan
27
Universitas Kristen Petra media foto. Dan dengan tujuan agar para pembaca atau para penikmat dapat memahami apa yang kita angkat atau kita dokumentasikan.
2.1.6. Pengertian Landscape fotografi
Foto yang menggamabrkan suatu keadaan alam pada suatu daerah, gamber yang di ambil adalah gambar pemandangan alam contonhya Laut,Pantai , Gunung dan lain-lain.
Bila Anda membuat foto portrait (orang /model /produk), Anda dapat mengontrol cahaya dalam beberapa cara, termasuk bagaimana posisi subjek dalam kaitannya dengan cahaya yang tersedia, atau apakah Anda menyiapkan strobes mengisi atau menggunakan lampu kilat. Tetapi bila Anda mengambil foto landscape atau seascape Anda tidak dapat mengubah penting situasi cahaya di tempat itu.
Itulah salah satu alasan outdoor photographers lebih suka bekerja lebih pagi atau lebih larut sore. Mereka menginginkan adanya efek golden light yang ada di jam-jam menjelang sunrise atau sunset.
Metode klasik yang masih banyak digunakan untuk mengira-ngira apakah good quality light udah dapet atau belum yaitu dengan mengamati sebuah pohon yang agak tinggi. Jika bayangannya lebih panjang daripada tinggi pohon itu sendiri, berarti cahaya udah mulai bagus untuk memotret. Dengan kata lain, makin panjang bayangannya, makin bagus bagus pencahaan saat itu. Memotret dibawah terik matahari jam 12 atau jam 1 siang, bayangannya sangat kuat, bahkan cenderung gelap sekali.
2.1.6.1. Faktor Filter yang bisa dipertimbangkan
Filter dapat menjadi faktor utama dalam mendapatkan foto landscape yang bagus. Salah satunya adalah CPL (circular polarizer lens) – pilihlah yang mutunya paling bagus. Filter ini dapat membatu menciptakan warna langit yang lebih biru dan awan-awan tampak lebih kontras lagi dengan detail-detailnya.
Berlaku juga dengan efek warna di air. air tampak lebih terang dan warna yang lebih hijau atau biru.
28
Universitas Kristen Petra 2.1.7. Tinjauan Amed Karang Asem Bali
2.1.7.1. Bali
Bali dengan masyarakat dan budaya yang unik dipastikan bukanlah satu wilayah migrasi yang baru tumbuh. Keseharian masyarakat Bali dengan budaya yang senantiasa menampilkan warna budaya lokal menunjukkan bahwa perjalanan Bali telah melewati alur sejarah yang panjang. Berbagai temuan arkeologi di berbagai wilayah Bali membuktikan perjalanan panjang Pulau Bali berbarengan dengan wilayah dan negara lain.
Sebagaimana dengan wilayah lain di Nusantara, masa-masa awal kehidupan bermasyarakat di Bali dikelompokkan sebagai jaman pra sejarah. Pada masa pra sejarah ini tidak ditemukan catatan-catatan yang menggambarkan tatanan kehidupan bermasyarakat. Yang menjadi acuan adalah temuan berbagai peralatan yang dipergunakan sebagai sarana menopang kelangsungan hidup manusia Bali ketika itu.
Dari berbagai temuan masa pra sejarah itu, jaman pra sejarah Bali - sebagaimana dengan kebanyakan wilayah lain - meliputi tiga babak tingkatan budaya. Lapis pertama adalah masa kehidupan yang bertumpu pada budaya berburu. Secara alamiah, berburu adalah cara mempertahankan kelangsungan hidup yang amat jelas dan mudah dilakukan. Dengan alat-alat sederhana dari bahan batu, yang peninggalannya ditemukan di daerah Sembiran di Bali utara dan wilayah Batur, manusia Bali diperkirakan mampu bertahan hidup. Peninggalan peralatan sejenis yang lebih baik, dengan menggunakan bahan tulang, ditemukan pula di gua Selonding di daerah Bulit, Badung Selatan. Ini menunjukkan bahwa masa berburu melewati masa cukup panjang disertai dengan peningkatan pola pikir yang makin baik.
Masih berdasar pada temuan benda-benda purbakala, tergambar bahwa Bali mulai meninggalkan masa berburu dan masuk pada masa bercocok tanam.
Kendati sudah memasuki tatanan hidup yang lebih terpola pada masa bertanam, kelompok manusia Bali pada masa itu dipastikan hidup secara berpindah.
Berbagai peninggalan sejenis ditemukan sebagai temuan lepas di berbagai wilayah Bali barat, Bali utara, dan Bali selatan. Tatatan hidup dengan permukiman diyakini sebagai peralihan tatanan hidup manusia Bali dari jaman pra sejarah ke
29
Universitas Kristen Petra jaman sejarah. Peninggalan purbakala berupa nekara perunggu dan berbagai barang dari bahan logam di daerah Pejeng Gianyar, membuktikan bahwa kala itu telah terbentuk tatanan masyarakat yang lebih terstruktur.
Berbarengan dengan peralihan jaman pra sejarah ke jaman sejarah, pengaruh Hindu dari India yang masuk ke Indonesia diperkirakan memberi dorongan kuat pada lompatan budaya di Bali. Masa peralihan ini, yang lazim disebut sebagai masa Bali Kuno antara abad 8 hingga abad 13, dengan amat jelas mengalami perubahan lagi akibat pengaruh Majapahit yang berniat menyatukan Nusantara lewat Sumpah Palapa Gajah Mada di awal abad 13. Tatanan pemerintahan dan struktur masyarakat mengalami penyesuaian mengikuti pola pemerintahan Majapahit. Benturan budaya lokal Bali Kuno dan budaya Hindu Jawa dari Majapahit dalam bentuk penolakan penduduk Bali menimbulkan berbagai perlawanan di berbagai daerah di Bali. Secara perlahan dan pasti, dengan upaya penyesuaian dan percampuran kedua belah pihak, Bali berhasil menemukan pola budaya yang sesuai dengan pola pikir masyarakat dan keadaan alam Bali.
Model penyesuaian ini kiranya yang kemudian membentuk masyarakat dan budaya Bali yang diwarisi kini menjadi unik dan khas, menyerap unsur Hindu dan Jawa Majapahit namun kental dengan warna lokal.
Pola perkembangan budaya Bali di masa-masa berikutnya, jaman penjajahan dan jaman kemerdekaan, secara alamiah mengikuti alur yang sama yaitu menerima pengaruh luar yang lebur ke dalam warna budaya lokal.
- Agama, Adat dan Budaya
Di Bali dikenal satu bait sastra yang intinya digunakan sebagai slogan lambang negara Indonesia, yaitu: Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Manggrua, yang bermakna 'Kendati berbeda namun tetap satu jua, tiada duanya (Tuhan - Kebenaran) itu'. Bisa dipahami jika masyarakat Bali dapat hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain seperti Islam, Kristen, Budha, dan lainnya. Pandangan ini merupakan bantahan terhadap penilaian sementara orang bahwa Agama Hindu memuja banyak Tuhan. Kendati masyarakat Hindu di Bali menyebut Tuhan dengan berbagai nama namun yang dituju tetaplah satu, Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
30
Universitas Kristen Petra Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa, yang disebut Tri Murti, kendati terpilah tiga, namun terkait satu jua sebagai proses lahir-hidup-mati atau utpeti-stiti- pralina. Dewata Nawa Sanga sebagai sembilan Dewata yang menempati delapan arah mata angin dan satu di tengah kendati terpilah sembilan lalu menjadi sebelas tatkala terpadu dengan lapis ruang ke arah vertikal bawah-atas-tengah atau bhur- bwah-swah, adalah satu jua sebagai kekuatan Tuhan dalam menjaga keseimbangan alam semesta. Demikian pula halnya dengan nama dan sebutan lain yang dimaksudkan secara khusus memberikan gelar atas ke-Mahakuasa-an Tuhan.
Keyakinan umat Hindu terhadap keberadaan Tuhan/Hyang Widhi yang Wyapi Wyapaka atau ada di mana-mana juga di dalam diri sendiri - merupakan tuntunan yang selalu mengingatkan keterkaitan antara karma atau perbuatan dan pahala atau akibat, yang menuntun prilaku manusia ke arah Tri Kaya Parisudha sebagai terpadunya manacika, wacika, dan kayika atau penyatuan pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik.
Umat Hindu percaya bahwa alam semesta beserta segala isinya adalah ciptaan Tuhan sekaligus menjadi karunia Tuhan kepada umat manusia untuk dimanfaatkan guna kelangsungan hidup mereka. Karena itu tuntunan sastra Agama Hindu mengajarkan agar alam semesta senantiasa dijaga kelestarian dan keharmonisannya yang dalam pemahamannya diterjemahkan dalam filosofi Tri Hita Karana sebagai tiga jalan menuju kesempurnaan hidup, yaitu:
Hubungan manusia dengan Tuhan; sebagai atma atau jiwa dituangkan dalam bentuk ajaran agama yang menata pola komunikasi spiritual lewat berbagai upacara persembahan kepada Tuhan. Karena itu dalam satu komunitas masyarakat Bali yang disebut Desa Adat dapat dipastikan terdapat sarana Parhyangan atau Pura, disebut sebagai Kahyangan Tiga, sebagai media dalam mewujudkan hubungan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi. Hubungan manusia dengan alam lingkungannya; sebagai angga atau badan tergambar jelas pada tatanan wilayah hunian dan wilayah pendukungnya (pertanian) yang dalam satu wilayah Desa Adat disebut sebagai Desa Pakraman. Hubungan manusia dengan sesama manusia; sebagai khaya atau tenaga yang dalam satu wilayah Desa Adat disebut sebagai Krama Desa atau warga masyarakat, adalah tenaga penggerak untuk memadukan atma dan angga.
31
Universitas Kristen Petra Pelaksanaan berbagai bentuk upcara persembahan dan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa oleh umat Hindu disebut Yadnya atau pengorbanan/korban suci dalam berbagai bentuk atas dasar nurani yang tulus.
Pelaksanaan Yadnya ini pada hakekatnya tidak terlepas dari Tri Hita Karana dengan unsur-unsur Tuhan, alam semesta, dan manusia.
Didukung dengan berbagai filosofi agama sebagai titik tolak ajaran tentang ke-Mahakuasa-an Tuhan, ajaran Agama Hindu menggariskan pelaksanaan Yadnya dalam lima bagian yang disebut Panca Yadnya, yang diurai menjadi:
DewaYadnya.
Persembahan dan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Upacara Dewa Yadnya ini umumnya dilaksanakan di berbagai Pura, Sanggah, dan Pamerajan (tempat suci keluarga) sesuai dengan tingkatannya. Upacara Dewa Yadnya ini lazim disebut sebagai piodalan, aci, atau pujawali.
Pitra Yadnya.Penghormatan kepada leluhur, orang tua dan keluarga yang telah meninggal, yang melahirkan, memelihara, dan memberi warna dalam satu lingkungan kehidupan berkeluarga. Masyarakat Hindu di Bali meyakini bahwa roh leluhur, orang tua dan keluarga yang telah meninggal, sesuai dengan karma yang dibangun semasa hidup, akan menuju penyatuan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Keluarga yang masih hiduplah sepatutnya melaksanakan berbagai upacara agar proses dan tahap penyatuan tersebut berlangsung dengan baik.
Rsi Yadnya Persembahan dan penghormatan kepada para bijak, pendeta, dan cerdik pandai, yang telah menetapkan berbagai dasar ajaran Agama Hindu dan tatanan budi pekerti dalam bertingkah laku.
ManusiaYadnya
Suatu proses untuk memelihara, menghormati, dan menghargai diri sendiri beserta keluarga inti (suami, istri, anak). Dalam perjalanan seorang manusia Bali, terhadapnya dilakukan berbagai prosesi sejak berada dalam kandungan, lahir, tumbuh dewasa, menikah, beranak cucu, hingga kematian menjelang. Upacara magedong-gedongan, otonan, menek kelih, pawiwahan, hingga ngaben, adalah wujud upacara Hindu di Bali yang termasuk dalam tingkatan Manusa Yadnya.
32
Universitas Kristen Petra Bhuta yadnya.Prosesi persembahan dan pemeliharaan spiritual terhadap kekuatan dan sumber daya alam semesta. Agama Hindu menggariskan bahwa manusia dan alam semesta dibentuk dari unsur-unsur yang sama, yaitu disebut Panca Maha Bhuta, terdiri dari Akasa (ruang hampa), Bayu (udara), Teja (panas), Apah (zat cair), dan Pertiwi (zat padat). Karena manusia memiliki kemampuan berpikir (idep) maka manusialah yang wajib memelihara alam semesta termasuk mahluk hidup lainnya (binatang dan tumbuhan).
Panca Maha Bhuta, yang memiliki kekuatan amat besar, jika tidak dikendalikan dan tidak dipelihara akan menimbulkan bencana terhadap kelangsungan hidup alam semesta. Perhatian terhadap kelestarian alam inilah yang membuat upacara Bhuta Yadnya sering dilakukan oleh umat Hindu baik secara insidentil maupun secara berkala. Bhuta Yadnya memiliki tingkatan mulai dari upacara masegeh berupa upacara kecil dilakukan setiap hari hingga upacara caru dan tawur agung yang dilakukan secara berkala pada hitungan wuku (satu minggu), sasih (satu bulan), sampai pada hitungan ratusan tahun.
- Pariwisata
Mengakhiri jaman prasejarah, Bali sudah dituju untuk melakukan pencarian dan perjalanan oleh para penekun spiritual. Rsi Markandeya tercatat sebagai tokoh spiritual dari Jawa yang pertama menjejakkan perjalanan di Bali.
Perjalanan melakukan pencarian kesucian batin dan keseimbangan alam lalu menempatkan tonggak tatanan agama Hindu di lereng selatan Gunung Agung yang kini dikenal sebagai Pura Agung Besakih. Pura Basukian dipercaya sebagai tonggak pertama Rsi Markandeya bersama pengikutnya memastikan Bali sebagai tanah tujuan membangun nilai spiritual.
Bagai berkelanjutan, tatanan hidup spiritual secara simultan beriring dengan tata pemerintahan di Bali. Pemerintahan Dinasti Warmadewa disebutkan dalam berbagai naskah kuno amat mendukung kelangsungan hidup beragama dengan budaya dan adat setempat sehingga mengundang kedatangan tokoh-tokoh spiritual dan tanah Jawa. Kedatangan Empu Kuturan pada sektar abad 11 secara pasti mampu merekat tatanan hidup masyarakat lokal dengan tatanan Agama Hindu yang dibawa dari Jawa. Tatanan desa adat dengan konsep parhyangan
33
Universitas Kristen Petra sebagai personifikasi Tuhan dalam fungsi Tri Murti adalah upaya menampung penyatuan konsep lokal dengan konsep Hindu.
Perjalanan spiritual berlanjut dilakukan oleh tokoh Agama Hindu dari tanah Jawa.
Penyatuan Nusantara oleh Majapahit adalah puncak dari perjalanan dan transformasi agama dan budaya lokal dengan budaya Hindu. Dalam perjalan waktu, Bali dan masyarakatnya kemudian menjalani keseharian mereka dengan tata kehidupan, agama, seni, dan budaya yang unik. Keunikan inilah kemudian, pada sekitar tahun 1579, menjadi perhatian seorang Belanda bernama Cornelis de Houtman yang melakukan perjalanan ke Indonesia untuk mencari rempah- rempah. Tanah yang subur, kegiatan pertanian dan keunikan budaya penduduknya dalam menjalani keseharian sungguh menjadi perhatian besar bagi ekspedisi de Houtman.
Berbarengan dengan Indonesia yang dikenal sebagai penghasil rempah- rempah, Bali mulai dikenal dunia dari sisi budaya. Penguasaan Belanda terhadap Indonesia pun pada sekitar abad 17 dan 18 tidak banyak memberi pengaruh pada kehidupan agama dan budaya di Bali. Hindu di Bali pada masa-masa itu bahkan memasuki masa kejayaan ketika kerajaan di Bali berpusat di Gelgel dan kemudian dipindah ke Smarapura (Klungkung). Awal abad 20, barulah Bali dikuasai oleh Belanda ditandai dengan jatuhnya Kerajaan Klungkung lewat Perang Puputan Klungkung tahun 1908.
Sejak penguasaan oleh Belanda, Bali seolah dibuka lebar untuk kunjungan orang asing. Bali tidak saja kedatangan orang asing sebagai pelancong namun tak sedikit para pemerhati dan penekun budaya yang datang untuk mencatat keunikan seni budaya Bali. Dari para penekun budaya yang terdiri dari sastrawan, penulis, dan pelukis inilah keunikan Bali kian menyebar di dunia internasional. Penyampaian informasi melalui berbagai media oleh orang asing ternyata mampu menarik minat pelancong untuk mengunjungi Bali. Kekaguman akan tanah Bali lalu menggugah minat orang asing memberi gelar kepada Bali.
The Island of Gods, The Island of Paradise, The Island of Thousand Temples, The Morning of the World, dan berbagai nama pujian lainnya.
Tahun 1930, di jantung kota Denpasar dibangun sebuah hotel untuk menampung kedatangan wisatawan ketika itu. Bali Hotel, sebuah bangunan
34
Universitas Kristen Petra bergaya arsitektur kolonial, menjadi tonggak sejarah kepariwisataan Bali yang hingga kini bangunan tersebut masih kokoh dalam langgam aslinya. Tidak hanya menerima kunjungan wisatawan, duta kesenian Bali dari Desa Peliatan melakukan kunjungan budaya ke beberapa negara di kawasan Eropa dan Amerika secara tidak langsung, kunjungan tersebut sekaligus memperkenalkan keberadaan Bali sebagai daerah tujuan wisata yang layak dikunjungi.
Kegiatan pariwisata, yang mulai mekar ketika itu, sempat terhenti akibat terjadinya Perang Dunia II antara tahun 1942-1945 yang kemudian disusul dengan perjuangan yang makin sengit merebut kemerdekaan Indonesia termasuk perjuangan yang terjadi di Bali hingga tahun 1949. Pertengahan dasawarsa 50-an pariwisata Bali mulai ditata kembali dan pada tahun 1963 dibangun Hotel Bali Beach (The Grand Bali Beach Hotel) di Pantai Sanur dengan bangunan berlantai sepuluh. Hotel ini adalah satu-satunya hunian wisata yang berbentuk bangunan tinggi sedangkan sarana hunian wisata (hotel, home stay, pension) yang berkembang kemudian hanyalah bangunan berlantai satu. Pada pertengahan dasa warsa 70-an pemerintah daerah Bali mengeluarkan Peraturan Daerah yang mengatur ketinggian bangunan maksimal 15 meter. Penetapan ini ditentukan dengan mempertimbangkan faktor budaya dan tata ruang tradisional Bali sehingga Bali tetap memiliki nilai-nilai budaya yang mampu menjadi tumupuan sektor pariwisata.
Secara pasti, sejak dioperasikannya Hotel Bali Beach pada November 1966, pembangunan sarana hunian wisata berkembang dengan pesat. Dari sisi kualitas, Sanur berkembang relatif lebih terencana karena berdampingan dengan Bali Beach Hotel sedangkan kawanan Pantai Kuta berkemabang secara alamiah bergerak dari model hunian setempat. Model homestay dan pension berkembang lebih dominan dibanding model standar hotel. Sama halnya dengan Kuta, kawasan Ubud di daerah Gianyar berkembang secara alamiah, tumbuh di rumah-rumah penduduk yang tetap bertahan dengan nuansa pedesaan.
Pembangunan sarana hunian wisata yang berkelas internasional akhirnya dimulai dengan pengembangan kawasan Nusa Dua menjadi resort wisata internasional. Dikelola oleh Bali Tourism Developmnet Corporation, suatu badan bentukan pemerintah, kawasan Nusa Dua dikembangkan memenuhi kebutuhan
35
Universitas Kristen Petra pariwisata bertaraf internasional. Beberapa operator hotel masuk kawasan Nusa Dua sebagai investor yang pada akhirnya kawsan ini mampu mendongkrak perkembangan pariwisata Bali.
Masa-masa berikutnya, sarana hunian wisata lalu tumbuh dengan sangat pesat di pusat hunian wisata terutama di daerah Badung, Denpasar, dan Gianyar.
Kawasan Pantai Kuta, Jimbaran, dan Ungasan menjadi kawasan hunian wisata di Kabupaten Badung, Sanur, dan pusat kota untuk kawasan Denpasar. Ubud, Kedewatan, Payangan, dan Tegalalang menjadi pengembangan hunian wisata di daerah Gianyar.
Mengendalikan perkembangan yang amat pesat tersebut, Pemerintah Daerah Bali kemudian menetapkan 15 kawasan di Bali sebagai daerah hunian wisata berikut sarana penunjangnya seperti restoran dan pusat perbelanjaan.
Hingga kini, Bali telah memilki lebih dari 35.000 kamar hotel terdiri dari klas Pondok Wisata, Melati, hingga Bintang 5. Sarana hotel-hotel tersebut tampil dalam berbagai variasi bentuk mulai dari model rumah, standar hotel, villa, bungalow, dan boutique hotel dengan variasi harga jual. Keberagaman ini memberi nilai lebih bagi Bali karena menawarkan banyak pilihan kepada para pelancong.
Sebagai akibat dari perkembangan kunjungan wisatawan, berbagai sarana penunjang seperti misalnya restoran, art shop, pasar seni, sarana hiburan, dan rekreasi tumbuh dengan pesat di pusat hunian wisata ataupun di kawasan obyek wisata. Para pelancong yang berkunjung ke Bali, akhirnya memiliki banyak pilihan dalam menikmati liburan mereka di Bali, akhirnya organisasi kepariwisataan seperti PHRI (IHRA), ASITA, dan lembaga kepariwisataan lain di Bali, yang secara profesional mengelola dan memberi layanan jasa pariwisata, seakan memberi jaminan untuk kenyamanan berwisata di Bali.
2.1.7.2. Karang Asem
Kabupaten Karangasem merupakan kabupaten di Bali yang paling banyak memiliki obyek dan daya tarik wisata baik wisata alam maupun budaya.
36
Universitas Kristen Petra Seiring dengan berkembangnya kepariwisataan, kabupaten karang asem memiliki banyak obyek wisata dan daya tarik wisata yang telah ditetapkan berdasarkan SK Bupati Karangasem Nomor 395 Tahun 1999.
2.1.7.3. Desa Iseh
Adalah salah satu desa yang merupakan bagian dari Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem. Iseh berkembang sebagai obyek dan daya tarikwisata karena memiliki keindahan alam yang mempesona. Berjarak sekitar 42 km dari Kota Denpasar, akses menuju Iseh dapat dicapai dengan kendaraan umum melalui jurusan Desa Satria, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung.
Keindahan alam yang menjadi daya tarik dengan latar belakang kehidupan alam pedesaan yang penuh ketenangan dan kedamaian banyak menarik minat wisatawan untuk tinggal lebih lama. Hamparan petak-petak sawah yang bertingkat dengan aktifitas para petani tradisional, sungai yang berkelok, serta panorama Gunung Agung yang nampak di kejauhan merupakan satu kesatuan dari keindahan alam yang mempesona.
Selain panorama alam, Iseh juga menarik untuk dimanfaatkan sebagai wisata trekking. Di tempat ini pula bisa didapatkan kain tenun endek dan songket khas Karangasem yang diproses dengan alat tenun tradisional ( ATBM).
Iseh terkenal sejak zaman penjajahan. Pelukis terkenal dunia, Walter Spies ( 1895–1942 ) pernah tinggal dan membangun gubuk kecil sebagai studio tempatnya melukis. Di tempat ini banyak dihasilkan lukisan-lukisan terbaiknya.
Di samping melukis, Walter Spies juga tertarik empelajari gamelan, bahkan dia menjadi penyokong 2 sekeha ( kelompok ) gamelan sebagai bentuk eratnya interaksi dengan masyarakat setempat. Namun sayang, Walter Spies akhirnya menjadi korban ketika pesawat pembom Jepang menenggelamkan kapal yang ditumpanginya dalam pengungsian ke India pada tahun 1942. Bali telah kehilangan salah seorang sahabat terbaiknya. Pelukis terkenal lainnya yang kemudian muncul adalah Theo Meier, seorang warga negara Swiss pada tanggal 31 Maret 1908. Desa Iseh dengan latar belakang Gunung Agung, kehidupan masyarakat dan adat istiadat setempat menjadi inspirasi obyek lukisannya. Kedua
37
Universitas Kristen Petra pelukis terkenal itu sangat besar jasanya dalam memperkenalkan keindahan alam Desa Iseh.
2.1.7.4 Desa Tenganan
Desa Tenganan atau dikenal dengan Tenganan Pegeringsingan, merupakan salah satu dari sejumlah desa kuno di Pulau Bali. Pola kehidupan masyarakatnya mencerminkan kebudayaan dan adat istiadat desa Bali Aga ( pra Hindu ) yang berbeda dari desa-desa lain di Bali. Karenanya Desa Tenganan dikembangkan sebagai salah satu obyek dan daya tarik wisata budaya.
Lokasi Desa Tenganan Pegeringsingan terletak di Kecamatan Manggis, sekitar 17 km jaraknya dari Kota Amlapura – ibukota kabupaten –, 5 km dari kawasan pariwisata Candidasa, dan sekitar 65 km dari Kota Denpasar.
Sebagai obyek wisata budaya, Desa Tenganan memiliki banyak keunikan dan kekhasan yang menarik untuk dilihat dan dipahami. Dari sistem kemasyarakatan yang dikembangkan, bahwa masyarakat Desa Tenganan terdiri dari penduduk asli desa setempat. Hal ini disebabkan karena sistem perkawinan yang dianut adalah sistem parental dimana perempuan dan laki-laki dalam keluarga memiliki derajat yang sama dan berhak menjadi ahli waris.
Hal ini berbeda dengan sistem kekeluargaan yang dianut oleh masyarakat di Bali pada umumnya.Di samping itu, mereka juga menganut sistem endogamy dimana masyarakat setempat terikat dalam awig-awig ( hukum adat ) yang mengharuskan pernikahan dilakukan dengan sesama warga Desa Tenganan, karena apabila dilanggar maka warga tersebut tidak diperbolehkan menjadi krama ( warga ) desa, artinya bahwa ia harus keluar dari Desa Tenganan.
Daya tarik lain yang dimiliki Desa Tenganan adalah tradisi ritual Mekaré- karé atau yang lebih dikenal dengan “perang pandan”. Mekaré-karé merupakan bagian puncak dari prosesi rangkaian upacara Ngusaba Sambah yang digelar pada setiap Bulan Juni yang berlangsung selama 30 hari.
Selama 1 bulan itu, Mekaré-karé berlangsung sebanyak 2-4 kali dan setiap kali digelar akan dihaturkan sesajen kepada para leluhur. Mekaré-karé atau “perang pandan” diikuti para lelaki dari usia anak-anak sampai orang-orang tua. Sesuai namanya, maka sarana yang dipergunakan adalah daun pandan yang dipotong-
38
Universitas Kristen Petra potong sepanjang ±30 cm sebagai senjata dan tameng yang berfungsi untuk menangkis serangan lawan dari geretan duri pandan. Luka yang diakibatkan oleh geretan duri pandan akan dibalur dengan penawar yang dibuat dari ramuan umbi-
umbian, seperti laos, kunyit, dan lain-lain.
Mekaré-karé pada hakekatnya sama maknanya dengan upacara tabuh rah yang lazim dilakukan oleh umat Hindu di Bali ketika melangsungkan upacara keagamaan. Dalam upacara Mekaré-karé selalu diiringi dengan tetabuhan khas Desa Tenganan, yaitu gamelan selonding. Keunikan lain yang dimiliki oleh Desa Tenganan yang tidak dimiliki oleh daerah lainya di Bali bahkan di Indonesia adalah kerajinan tenun double ikat kain Gringsing. Kata Gringsing itu sendiri berasal dari kata gering yang berarti sakit atau musibah, dan sing yang artinya tidak, maka secara keseluruhan gringsing diartikan sebagai penolak bala. Proses pembuatan kain gringsing sangatlah unik dan memerlukan waktu yang lama ( sampai 3 tahun ), sehingga keberadaannya menjadi langka dan harganya cukup mahal. Kain gringsing wajib dimiliki oleh warga Desa Tenganan karena merupakan bagian dari perlengkapn upacara, seperti dalam upacara ngaben ( pembakaran jenazah ) dimana kain gringsing ditempatkan pada pucuk badé ( tempat mengusung mayat ). Selain itu pada upacara potong gigi, gringsing dipergunakan pula sebagai alas bantal. Banyak cerita di masyarakat yang menyebutkan bahwa darah manusia digunakan dalam pemberian warna pada benang unuk memperoleh warna yang diinginkan. Hal ini disebabkan karena kain gringsing memang didominasi oleh warna merah. Namun yang sebenarnya adalah bahwa bahan-bahan pewarna dalam pembuatan kain gringsing berasal dari getah- getah kayu tertentu dan biji kemiri yang diramu sedemikian rupa sehingga dapat
berfungsi sebagai pewarna.
Tidak banyak yang mengetahui bahwa keindahan alam Desa Tenganan berpotensi sebagai wisata alternatif jalur trekking dengan melewati jalan desa, perbukitan, dan juga hamparan sawah penduduk. Rute pendek jalur trekking ini dapat ditempuh dalam waktu ±3-4 jam.
39
Universitas Kristen Petra 2.1.7.5. Pura Agung Besakih
Pura Agung Besakih terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, berada di lereng sebelah barat daya Gunung Agung yang merupakan gunung tertinggi di Bali. Akses dari Kota Denpasar untuk mencapai tempat ini berjarak sekitar 25 km ke arah utara dari Kota Semarapura – Kabupaten Klungkung.
Perjalanan menuju Pura Besakih melewati panorama Bukit Jambul yang juga merupakan salah satu obyek dan daya tarik wisata Kabupaten Karangasem.
Letak Pura Besakih sengaja dipilih di desa yang dianggap suci karena letaknya yang tinggi, yang disebut Hulundang Basukih yang kemudian menjadi Desa Besakih. Nama Besakih diambildari Bahasa Sansekerta, wasuki atau dalam bahasa Jawa Kuno basuki yang berarti selamat. Selain itu, nama Pura Besakih didasari pula oleh mithologi Naga Basuki sebagai penyeimbang GunungMandara.
Banyaknya peninggalan zaman megalitik, seperti menhir, tahta batu, struktur teras pyramid yang ditemukan di kompleks Pura Besakih menunjukkan bahwa sebagai tempat yang disucikan nampaknya Besakih berasal dari zaman yang sangat tua, jauh sebelum adanya pengaruh Agama Hindu.
Kompleks Pura Besakih dibangun berdasarkan keseimbangan alam dalam konsep Tri Hita Karana, dimana penataannya disesuaikan berdasarkan arah mata angin agar struktur bangunannya dapat mewakili alam sebagai simbolisme adanya keseimbangan tersebut. Masing-masing-masing-masing arah mata angin disebut mandala dengan dewa penguasa yang disebut “Dewa Catur Lokapala” dimana mandala tengah sebagai porosnya, sehingga kelima mandala dimanifestasikan menjadi “Panca Dewata”. Penjabaran struktur bangunan Pura Besakih berdasarkan konsep arah mata angin tersebut, adalah :
1. Pura Penataran Agung Besakih sebagai pusat mandala di arah Tengah dan merupakan pura terbesar dari kelompok pura yang ada, yang ditujukan untuk memuja Dewa Çiwa;
2. Pura Gelap pada arah Timur untuk memuja Dewa Içwara;
3. Pura Kiduling Kereteg pada arah Selatan untuk memuja Dewa Brahma;
4. Pura Ulun Kulkul pada arah Barat untuk memuja Dewa Mahadewa;
5. Pura Batumadeg pada arah Utara untuk memuja Dewa Wisnu.
40
Universitas Kristen Petra 2.1.7.6 Taman Tirtagangga
Taman Tirtagangga merupakan salah satu obyek wisata yang terletak di Desa Ababi, Kecamatan Abang. Jaraknya sekitar 5 km ke arah utara dari Kota Amlapura– ibukota kabupaten – dibangun pada tahun 1948 oleh Raja Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem.
Sebelum dibangun, taman ini merupakan areal mata air besar dan masyarakat menyebutnya dengan embukan, artinya mata air. Mata air ini difungsikan oleh pnduduk dari desa-desa sekitarnya sebagai tempat mencari air minum dan tempat pesiraman atau penyucian Ida Betara ( para dewa ), oleh karena itu mata air itu disakralkan oleh penduduk setempat. Dari mata air inilah kemudian Raja Karangasem mendapat ide untuk membangun sebuah taman terlebih karena alamnya didukung oleh udara yang sejuk, yang kemudian diberi nama Taman Tirtagangga. Sama halnya dengan Tama Soekasada Ujung, maka Tama Tirtagangga memiliki keterikatan kuat dengan Puri Agung Karangasem.
Dalam areal Tama Tirtagangga terdapat beberapa kolam besar yang difungsikan sebagai kolam ikan dan tempat permandian. Air yang mengalir melalui pancuran-pancuran besar dan kecil yang keluar dari mulut patung- patung di kolam ini berasal dari sumber mata air sehingga terasa sejuk dan menyegarkan. Di tempat ini terdapat menara air mancur dan patung teratai bertingkat yang membagi dua buah kolam besar.
Pada masa kini Taman Tirtagangga berfungsi secara religius, sosial, dan juga sebagai hiburan. Secara religius, mata air di tempat tersebut dimanfaatkan sebagai air suci bagi masyarakat sekitarnya di samping sebagai tempat untuk upacara Dewa Yadnya dan Metirtayatra.
Secara sosial, sumber mata air Tirtagangga dimanfaatkan oleh pemerintah daerah sebagai sumber air bersih bagi masyarakat Karangasem.
Dan sebagai hiburan, Taman Tirtagangga dikelola dan dikembangkan sebagai salah satu obyek dan daya tarik wisata yang banyak diminati serta dikunjungi sebagai tempat rekreasi.
41
Universitas Kristen Petra 2.1.7.7 TamanUjung
Taman Soekasada Ujung merupakan situs kerajaan, terletak dekat pantai di Desa Tumubu, Kecamatan Karangasem yang dikembangkan sebagai salah satu kawasan pariwisata Kabupaten Karangasem. Jaraknya ±5 km dari Kota Amlapura – ibu kota kabupaten – ke arah selatan, ±15 km dari kawasan pariwisata Candidasa, dan kira-kira 60 km jaraknya dari Kota Denpasar.
Taman Soekasada Ujung dibangun pada tahun 1919 pada masa pemerintahan Raja I Gusti Bagus Jelantik ( 1909 – 1945 ) yang bergelar Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem dan diresmikan penggunaannya pada tahun 1921.
Taman ini dipergunakan sebagai tempat peristirahatan raja selain Taman Tirtagangga, dan juga diperuntukkan sebagai tempat menjamu tamu-tamu penting seperti raja-raja atau kepala pemerintahan asing yang berkunjung ke kerajaan Karangasem.
Dalam areal Taman Soekasada Ujungterdapat beberapa bangunan jugakolam besar dan luas. Ada3 ( tiga ) buah pintu masuk atau gerbang menuju areal taman. Gerbang utamaberada pada ketinggian di sisi barat sebagai entrance yang disebut “BaleKapal” karena dulunya bangunan ini dibuat menyerupai sebuah kapal.Selanjutnya dari entrance baleini pengunjung menuju areal taman dengan menuruni ratusan buah anak tangga.Dari tempat inilah keseluruhan areal taman dapat dinikmati.
Taman Soekasada Ujung dikembangkan seagai obyek wisata budaya karena kemegahan dan kekhasan bangunan yang merupakan perpaduan antara arsitektur Bali dan Eropa. Kondisinya yang rusak berat akibat letusan Gunung Agung – gunung terbesar di Bali – pada tahun 1963 semakin diperparah lagi dengan terjadinya gempa hebat di tahun 1976 yang meninggalkan puing-puing bangunan, namun tidak meninggalkan kesan megahnya. Untuk mengembalikan kemegahan Taman Soekasada Ujung, maka pada tahun 2001-2003 Pemerintah Kabupaten Karangasem memanfaatkan dana bantuan Bank Dunia membangun kembali Taman Soekasada Ujung dengan tujuan untuk mengembalikan keberadaannya kepada bentuk semula demi melestarikan warisan budaya yang menjadi kebanggaan Karangasem.
42
Universitas Kristen Petra Dalam areal Taman Soekasada Ujung terdapat beberapa bangunan juga kolam besar dan luas. Ada 3 ( tiga ) buah pintu masuk atau gerbang menuju areal taman. Gerbang utama berada pada ketinggian di sisi barat sebagai entrance yang disebut “Bale Kapal” karena dulunya bangunan ini dibuat menyerupai sebuah kapal. Selanjutnya dari entrance bale ini pengunjung menuju areal taman dengan menuruni ratusan buah anak tangga. Dari tempat inilah keseluruhan areal taman dapat dinikmati.
Sesuai predikatnya sebagai Taman Air Kerajaan atau The Water Palace, maka Taman Soekasada Ujung memiliki 3 ( tiga ) buah kolam besar dan luas. Di tengah kolam I di sisi paling utara terdapat bangunan utama yang disebut “Bale Gili” yang dihubungkan oleh jembatan menuju arah selatan.
Di tengah-tengah kolam ini terdapat patung-patung dan pot-pot bunga. Di sebelah barat kolam I, di tempat yang agak tinggi terdapat bangunan berbentuk bundar, yang disebut “Bale Bunder” yang difungsikan sebagai tempat untuk menikmati keindahan taman dan panorama alam di sekitarnya. Di sebelah barat laut Bale Bunder, pada areal terasering yang tinggi terdapat bangunan persegi empat panjang yang disebut “Bale Lunjuk”. Ada sekitar 107 anak tangga menuju bangunan ini dari arah timur. Di tengah kolam II di sisi selatan kolam I terdapat bangunan yang disebut “Bale Kambang”. Bangunan ini dahulu berfungsi sebagai tempat jamuan makan untuk para tamu kerajaan. Di sebelah timur kolam II terdapat kolam III yang disebut Kolam Dirah dan merupakan kolam pertama yang dibuat oleh Raja Karangasem. Di areal sebelah utara taman, di tempat yang tinggi terdapat patung “warak” ( badak ) dan juga patung “banteng” yang dari mulut kedua patung tersebut air memancur keluar menuju kolam. Dan sekitar 250m di sebelah utara taman ini tedapat sebuah pura bernama “Pura Manikan” yang juga dibangun oleh Raja Karangasem.
2.1.7.8. Jemeluk- Amed
Jemeluk Amed berkembang sebagai salah satu obyek wisata bahari dan merupakan primadona bagi wiswan mancanegara. Terletak di Desa Purwakerti, Kecamatan Abang, berjarak sekitar 78 km dari Denpasar, 33 Km dari Candi Dasa, 19 km dari Kota Amlapura,dan 12 km dari Tulamben. Daya tarik utama obyek
43
Universitas Kristen Petra wisata ini adalah selain tempat yang tenang dan indah biasanya sering sekali digunakan untuk memancing, menyelam dan juga sangat cocok digunakan untuk hunting foto untuk para fotografer karena didaerah sana banyak sekali terdapat kegiatan penduduk seperti nelayan, petani garam, dan lain-lain
2.2 Data Primer 2.2.1 Survei
Survei awal yang dilakukan dengan cara datang ke pualu Bali, ke Dinas Pariwisara di Karangasem, kemudian langsung menuju tempat-tempat daerah wisata yang bisa digunakan untuk mengambil gambar baik landscape maupun human interest. Wawancara dengan orang-orang sekitar daerah tersebut.
2.2.2. Wawancara
Wawancara yang dilakukan adalah wawancara terhadap Dinas Pariwisata Karang Asem Bali, penduduk sekitar, dan fotografer yang dianggap dapat mewakili masing-masing bidangnya secara menyeluruh. Batasan yang diambil adalah masalah perkembangan masing-masing bidang saat ini di Indonesia khususnya Karangasem Bali. Hal ini menjadi hal yang cukup penting dimana seharusnya masing-masing bidang memiliki statistik perkembangannya masing- masing.
2.2.2.1. Fotografer
Djaja Tjandra Kirana seorang fotografer kawakan yang telah lama berkecimpung dalam dunia fotografi sejak tahun 1976 di wilayah kota Bali.
Setelah sekian lama berkecimpung didunia fotografi, Tjandra mengatakan bahwa saat ini perkembangan fotografi sedang berada pada puncaknya terutama pada era fotografi digital seperti sekarang.
Chalie Suyata fotografer profesional mengatakan bahwa Bali merupakan tempat hunting paling menarik, begitu pula terdapat kebudayaan dan kegiatan dan perlu dikembangkan lagi, karena Bali menyimpan begitu banyak kebudayaan yang dapat di abadikan dengan foto.
44
Universitas Kristen Petra 2.3 Data Sekunder
2.3.1 Referensi Visual
Gambar 2.1 Foto terasiring Bali 1
Gambar 2.2 Foto Bedugul Bali
45
Universitas Kristen Petra Gambar 2.3 Foto terasiring Bali 2
Gambar 2.4 Foto human interest
46
Universitas Kristen Petra Gambar 2.5 Foto Uluwatu Bali
Gambar 2.6 Foto upacara di Bali
47
Universitas Kristen Petra Gambar 2..7 Foto Tukan Unda Bali
Gambar 2.8 Foto Pura Besakih 1
48
Universitas Kristen Petra Gambar 2.9 Foto Pura Besakih 2
2.4 Analisa Data
Dari data-data yang diperoleh baik melalui survei, wawancara, dan literatur, dapat disimpulkan bahwa sebuah perancangan karya fotografi yang baik seharusnya dapat menyampaikan sesuatu pesan, kegiatan yang mau disampaikan oleh sang fotografer dari sebuah image foto tanpa memberikan penjelasan lagi.
Selain itu keorisinilan gambar diambil sendiri tidak menggunakan atau mengambil karya fotografer lain. Fotografi sebagai media komunikasi visual yang dapat menyampaikan pesan dari foto tersebut.
2.5. Kesimpulan Analisa Data
Perancangan karya fotografi ini diharapkan dapat menjadi sebuah nilai baru menambah wawasan masyarakat bahwa di Negara Indonesia ini masih memiliki objek dan tempat menarik yang dapat terus dieksplorasi lebih lanjut.
Dengan adanya analisa data kita jadi mengetahui semua yang ada didaerah tersebut dan kita dapat mendapatkan sesuai dengan yang kita inginkan.