• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Wanprestasi Sebagai Bagian dari Perbuatan Melawan Hukum

Kepastian hukum dalam hubungan manusia dapat dicapai dengan berbagai cara, termasuk melalui hubungan perikatan. Perikatan sebagai bentuk dari kepastian hukum merupakan hal yang tepat, sebab tercapainya kesepakatan berarti akan ada akibat hukum jika adanya kelalaian dalam mencapai hal yang disepakati. Perikatan diatur dalam buku III KUH Perdata yang diawali dengan Pasal 1233 KUH Perdata, yang menyatakan bahwa

“Tiap – tiap perikatan dilahirkan baik karena persetujuan, baik karena undang – undang.”

Hal tersebut menunjukkan bahwa perikatan merupakan hubungan hukum antara dua atau lebih orang, yang melahirkan kewajiban pada salah satu pihak dalam perjanjian tersebut (Kartini Muljadi, Gunawan Widjaja, 2003:

17).

Syarat sepakat dan cakap merupakan syarat subjektif sebab mengenai subyek yang mengadakan perjanjian. Kesepakatan dalam perjanjian merupakan hal yang dibutuhkan sebab subyek yang mengadakan perjanjian harus setuju mengenai klausa yang pokok dari perjanjian yang diadakan. Selain itu, orang yang membuat perjanjian harus cakap menurut hukum, sebab dibutuhkan kemampuan untuk bertanggung jawab dengan perbuatan hukumnya. Sedangkan, syarat mengenai hal tertentu dan sebab yang halal, merupakan syarat objektif sebab mengenai perjanjian sebagai obyek dari perbuatan hukum yang dilakukan (R. Subekti, 2004: 17).

Konsekuensi jika salah satu syarat atau semua syarat tidak terpenuhi maka perlu ditelaah antara syarat subjektif dan syarat objektif. Jika syarat obyektif tidak terpenuhi maka perjanjian itu batal demi hukum, yang berarti tidak pernah dianggap adanya suatu perjanjian sehingga tidak ada dasar untuk saling menuntut (null and void). Sedangkan jika syarat subyektif tidak terpenuhi, salah satu pihak berhak untuk meminta agar suatu perjanjian

(2)

dibatalkan. Pihak yang dapat meminta pembatalan adalah pihak yang tidak cakap.

Hal di atas berarti menunjukkan bahwa untuk terjadinya hubungan perikatan harus memenuhi syarat – syarat perjanjian. Selain syarat-syarat perjanjian, asas – asas perjanjian juga merupakan komponen penting yang perlu untuk dipenuhi, yaitu:

1) Asas Kebebasan Berkontrak

Asas kebebasan berkontrak dikemukakan dalam ketentuan dari Pasal 1338 Ayat (1) KUHPerdata, yaitu

“Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.”.

Asas ini memberikan kebebasan kepada para pihak untuk membuat atau tidak membuat perjanjian, mengadakan perjanjian dengan siapapun, menentukan isi perjanjian, dan menentukan bentuk perjanjiannya.

2) Asas Konsensualisme

Asas konsensualisme dikemukakan dalam Pasal 1320 ayat (1) KUHPerdata, yaitu:

“Untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan empat syarat, yaitu:

(1) sepakat mereka yang mengikatkan dirinya; (2) kecakapan untuk membuat suatu perikatan; (3) suatu hal tertentu; (4) suatu sebab yang halal”

Pada pasal tersebut dikemukakan bahwa salah satu syarat sahnya perjanjian adalah adanya kata kesepakatan antara kedua belah pihak. Asas ini merupakan asas yang menyatakan bahwa perjanjian dapat mengikat cukup dengan adanya kesepakatan

(3)

kedua belah pihak. Menurut R. Subekti, kata sepakat merupakan persesuaian kehendak antara dua pihak, yaitu apa yang dikehendaki oleh pihak lain dan kedua kehendak tersebut menghendaki sesuatu yang sama secara timbal balik. Kata sepakat meskipun dilontarkan secara informal, tetap sah perjanjian tersebut sebagai Undang – Undang bagi siapapun yang mengikatkan diri (R. Subekti, 2019: 4)

3) Asas Kepastian Hukum (pacta sunt servada)

Asas ini lahir dari praetor Romawi, yakni pacta conventa sevabo, yang memiliki arti saya menghargai perjanjian. Dalam teori hukum kontrak klasik, asas ini merupakan asas wajib, dimana perjanjian harus dilakukan dengan sungguh – sungguh.

Dalam hukum positif, asas ini dikemukakan dalam Pasal 1338 Ayat (1) dan (2) KUHPerdata, yaitu:

(1) “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang – undang bagi mereka yang membuatnya”

(2) “Suatu perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak, atau karena alasan – alasan yang oleh undang – undang dinyatakan cukup untuk itu

Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa setiap pihak harus mematuhi perjanjin yang telah disepakati. Oleh karena itu, apabila salah satu pihak mengingkari perjanjian tersebut, dapat digugat ke pengadilan dengan tujuan memaksa pihak yang ingkar janji untuk memenuhi prestasi

4) Asas Itikad baik (good faith)

Asas itikad baik dituang dalam Pasal 1338 Ayat (3) KUHPerdata, sebagai berikut:

“Suatu perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik”.

(4)

Black’s Law Dictionary mendefinisikan itikad baik, sebagai berikut: In or with good faith, honestly, openly, and sincerely, without deceit or fraud truly, actually, without simulation or pretense. Asas ini bersifat universal dan telah digunakan oleh negara dengan sistem common law dan civil law.

Asas itikad baik memiliki memiliki dua pengertian, yaitu:

(a) Itikad baik dalam arti objektif, yaitu suatu perjanjian yang dibuat haruslah mengindahkan norma – norma kepatutan dan kesusilaan sehingga perjanjian tersebut harus dilaksanakan sehingga tidak merugikan salah satu pihak

(b) Itikad baik dalam arti subjektif, yaitu pengertian ini menitikberatkan itikad baik dalam sikap batin seseorang yaitu kejujuran.

Asas itikad baik menuntut adanya kepatutan dan keadilan, yang artinya tuntutan dalam kepastian hukum tidak boleh melanggar norma – norma tersebut. Menurut R. Subekti, asas itikad baik merupakan salah satu asas terpenting dalam hukum kontrak dan asas ini memberi kuasa pada hakim untuk mengawasi suatu kontrak agar tidak melanggar norma kepatutan dan keadilan. Hakim memiliki kewenangan untuk menyimpang dari kontrak, apabila kontrak tersebut melanggar norma keadilan 5) Asas Kepribadian (personalia)

Asas personalia merupakan asas yang menentukan bahwa seseorang membuat perjanjian hanya untuk kepentingan perseorangan saja (B.N Marbun, 2009: 6). Hal tersebut dapat diartikan bahwa suatu perjanjian hanya mengikat bagi pihak – pihak yang terlibat dalam perjanjian tersebut dan tidak mengikat bagi pihak – pihak yang ada di luar perjanjian. Asas ini dikemukakan dalam Pasal 1315 KUHPerdata, yaitu:

(5)

“Pada umumnya tak seorang dapat mengikatkan diri atas nama sendiri atau meminta ditetapkannya suatu janji dari pada untuk dirinya sendiri.”

Ketentuan mengenai pihak yang terikat dalam asas personalia ada pada Pasal 1340 Ayat (1), yaitu:

“Suatu perjanjian hanya berlaku antara pihak – pihak yang membuatnya”

Ketentuan diatas berarti perjanjian hanya diperuntukkan bagi para pihak yang mengikatkan diri. Di lain sisi, Asas ini memiliki pengecualian bagi pihak ketiga yang diatur dalam Pasal 1317 KUHPerdata, yaitu

“Lagipun diperbolehkan juga untuk meminta ditetapkannya suatu janji guna kepentingan seorang pihak ketiga, apabila suatu penetapan janji yang dibuat oleh seseorang untuk dirinya sendiri, atau suatu pemberian yang dilakukannya kepada seorang lain, memuat suatu janji yang seperti itu”

Berlakunya asas – asas di atas, merupakan indikator untuk sah-nya perjanjian yang mengikat, sehingga menyebabkan adanya akibat hukum yang dihasilkan dari perjanjian tersebut, yaitu prestasi. Prestasi merupakan tujuan dalam perjanjian, yaitu melaksanakan hasil – hasil yang telah disepakati. Prestasi diatur dalam buku III KUHPerdata dan diperjelas dalam Pasal 1234 KUHPerdata dengan mengemukakan,

“Tiap – tiap perikatan adalah untuk memberikan sesuatu, untuk berbuat sesuatu, atau untuk tidak berbuat sesuatu.”

Hal mengenai memberikan sesuatu, berbuat sesuatu, dan tidak berbuat sesuatu di atas berarti dapat disimpulkan bahwa prestasi memiliki eksplanasi mengenai tiga perbuatan tersebut, yaitu:

(6)

a) Menyerahkan sesuatu

Perbuatan tersebut dikemukakan dalam Pasal 1237 KUHPerdata yaitu, 1) “Dalam hal adanya perikatan untuk memberikan suatu kebendaan tertentu, kebendaan itu semenjak perikatan dilahirkan, adalah atas tanggungan si berpiutang.”

2) “ Jika si berpiutang lalai akan menyerahkannya, maka semenjak saat kelalaian, kebendaan adalah atas tanggungannya.”

b) Berbuat sesuatu

Hal tersebut dikemukakan dalam Pasal 1239 KUHPerdata yaitu,

“Tiap perikatan untuk berbuat sesuatu, atau untuk tidak berbuat sesuatu, wajib diselesaikan dengan memberikan penggantian biaya, kerugian, dan bunga, bila debitur tidak memenuhi kewajibannya

c) Tidak berbuat sesuatu

Hal tersebut dikemukakan pula dalam Pasal 1239 KUHPerdata seperti perbuatan berbuat sesuatu dengan harapan menghasilkan prestasi. Tidak berbuat sesuatu berarti dengan sengaja tidak melakukan apa yang telah tertuang dalam perjanjian yang merupakan tanggung jawabnya.

Hubungan kontraktual yang menimbulkan kerugian atau tidak mendapatkan prestasi seperti yang tertuang dalam akta perjanjian dapat digugat wanprestasi. Wanprestasi berasal dari bahasa Belanda ,yang artinya prestasi buruk (wanprestatie). Gugatan wanprestasi memiliki tujuan untuk menempatkan penggugat pada posisi seandainya perjanjian tersebut terpenuhi (put the plaintiff to the position if he would have been in had the contract been performed), sehingga ganti rugi dalam wanprestasi sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 1247 KUHPerdata, yaitu biaya, rugi, dan bunga (konsten, schaden en interesten). Wanprestasi merupakan bukti bahwa debitur melakukan kelalaian atau kealpaan yang dapat

(7)

dibedakan dalam empat macam perbuatan wanprestasi, yaitu (R. Subekti, 2004: 45):

(1) Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya

(2) Melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana dijanjikan

(3) Melakukan apa yang dijanjikannya tetapi terlambat

(4) Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya

Perbuatan yang terindikasi sebagai wanprestasi, maka berlakunya sanksi – sanksi wanprestasi ketika seorang debitur sudah diperingatkan mengenai janjinya, jika ia tidak memenuhi prestasi tersebut berarti ia dalam keadaan alpa sehingga sanksi – sanksi tersebut berlaku, yaitu:

(1) Ganti – rugi

Hal tersebut dibedakan dalam tiga unsur, yaitu biaya, rugi, dan bunga (kosten, schaden, en interesten). Dalam unsur ini, biaya merupakan segala pengeluaran atau perongkosan yang nyata- nyata sudah dikeluarkan oleh satu pihak. Di sisi lain, rugi merupakan kerugian karena kerusakan barang – barang kepunyaan debitur yang diakibatkan oleh kelalaian si debitur.

Selain itu, bunga merupakan kerugian ynag berupa kehilangan keuntungan (winstderving) yang sudah menjadi ekspektasi kreditur.

Ketentuan mengenai pembatasan ganti rugi dikemukakan pada Pasal 1247 dan Pasal 1248 KUHPerdata, yaitu

Pasal 1247 KUHPerdata:

“Si berutang hanya diwajibkan mengganti biaya rugi dan bunga yang nyata telah atau sedianya harus dapat diduga sewaktu perjanjian dilahirkan, kecuali jika hal tidak dipenuhinya perjanjian itu disebabkan karena sesuatu tipu daya yang dilakukan olehnya”

(8)

Pasal 1248 KUHPerdata:

“Bahkan jika hal tidak dipenuhinya perjanjian itu disebabkan karena tipu daya si berutang, penggantian biaya, rugi dan bunga, sekedar mengenai kerugian yang diderita oleh si berpiutang dan keuntungan yang terhilang baginya, hanyalah terdiri atas apa yang merupakan akibat langsung dari tak dipenuhinya perjanjian.”

(2) Pembatalan Perjanjian

Pembatalan perjanjian bertujuan untuk memulihkan keadaan seperti keadaan dimana perjanjian diadakan. Pembatalan perjanjian diatur pada Bab I, Buku III khususnya pada Pasal 1266 yang mengatur tentang perikatan bersyarat, yaitu

“Syarat batal dianggap selamanya dicantumkan dalam perjanjian-perjanjian yang timbal balik, manakala salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya. Dalam hal demikian perjanjian tidak batal demi hukum, tetapi pembatalan harus dimintakan kepada pengadilan.

Permintaan ini juga harus dilakukan, meskipun syarat batal mengenai tidak dipenuhinya kewajiban itu dinyatakan dalam perjanjian. Jika syarat batal tidak dinyatakan dalam perjanjian, maka hakim dengan melihat keadaan, atas permintan tergugat, leluasa memberikan suatu jangka waktu itu tidak boleh lebih

dari satu bulan.”

(https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt4d534a20 9bbf4/pengesampingan-pasal-1266-dan-pasal-1267-kuhper- dalam-perjanjian/, Kamis 11 November 2021, 23.20 WIB)

Pembatalan perjanjian merupakan bagian dari perikatan bersyarat sebab pembatalan perjanjian tersebut harus dimintakan kepada hakim sehingga perjanjian tersebut tidak bisa disebut batal demi hukum. Putusan hakim yang bersifat constitutif yang secara aktif membatalkan perjanjian itu sehingga hakim dapat memberikan jangka waktu kepada debitur untuk memenuhi kewajibannya (terme de grace)

(9)

(3) Peralihan risiko

Peralihan risiko dikemukakan dalam Pasal 1237 Ayat (2) KUHPerdata, yaitu

“Dalam hal adanya perikatan untuk memberikan suatu kebendaan teretentu, kebendaan itu semenjak perikatan dilahirkan, adalah atas tanggungan si berpiutang.

Jika si berutang lalai akan menyerahkannya, maka semenjak saat kelalaian, kebendaan adalah atas tanggungannya.”

Peralihan risiko memiliki korelasi dengan keadaan yang memaksa (force majeure) sebab kewajiban untuk memikul kerugian pada objek perjanjian di luar kesalahan salah satu pihak.

Kreditur dalam menuntut ganti rugi harus sesuai dengan isi dari perjanjian. Misalnya, perjanjian jual beli merupakan perjanjian dengan unsur, barang dan harga. Kedua unsur tersebut bersifat konsensus, dimana kedua hal tersebut telah disepakati oleh penjual dan pembeli. Sifat konsensual tersebut dikemukakan dalam Pasal 1458 KUHPerdata, yaitu:

“Jual beli dianggap telah terjadi antara kedua belah pihak, segera setelah orang – orang itu mencapai kesepakatan tentang barang tersebut beserta harganya, meskipun barang itu belum diserahkan dan harganya belum dibayar.”

(https://hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt4f7448c8394d1/langkah- hukum-jika-pembeli-i-online-shop-i-tak-mau-bayar, Selasa, 28 Desember 2021, Pukul 15.04 WIB)

Hal tersebut menjelaskan bahwa apa yang dikehendaki adalah sama, sehingga masing – masing pihak menaruh kepercayannya sebagai kepastian

(10)

hukum (R. Subekti, 2019: 5). Kewajiban pembeli adalah membayar harga pembelian dengan bentuk uang. Pernyataan tersebut membuktikan bahwa tanggung jawab pembeli memiliki korelasi dengan salah satu bentuk ganti rugi wanprestasi, yang pada akhirnya jikalau terjadi wanprestasi maka penjual dapat menuntut ganti rugi pada pembeli berbentuk sejumlah uang.

Adanya perkembangan hukum perdata, maka wanprestasi seringkali dibandingkan dengan perbuatan melawan hukum sebab masyarakat masih awam mengenai pemaknaan dalam perbuatan melawan hukum. Sebuah idiom hukum yang terkenal “ubi societas ibi ius”, merupakan pernyataan yang memiliki pengertian bahwa hukum bersifat dinamis sebab hukum melekat pada masyarakat yang selalu memiliki perubahan di dalamnya maka hukum harus selalu berkembang mengikuti perubahan pada masyarakat. Hal tersebut memiliki korelasi dengan perluasan makna perbuatan melawan hukum yang dibuktikan dengan adanya hasil setelah pemeriksaan tingkat kasasi mengenai kasus Lindenbaum melawan cohen Tahun 1919 yang menyebabkan perluasan makna perbuatan melawan hukum, yaitu (Rosa Agustina, 2003: 39)

(1) Melanggar hak subjektif orang lain

(2) Bertentangan dengan kewajiban hukum si pelaku (3) Bertentangan dengan tata susila

(4) Kepatutan, ketelitian, dan kehati – hatian yang seharusnya dimiliki seseorang dalam pergaulan hidup bermasyarakat atau terhadap harta benda warga masyarakat.

Hal mengenai perluasan makna dalam perbuatan melawan hukum tersebut dikemukakan pula dalam Rancangan UU (RUU) Perikatan, sebagai berikut:

(11)

(1) Suatu perbuatan melawan hukum yang mengakibatkan kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang karena kesalahan atau kelalaiannya menebritkan kerugian itu mengganti kerugian tersebut.

(2) Melanggar hukum adalah tiap perbuatan yang melanggar hak orang lain atau bertentangan dengan kepatutan yang harus diindahkan dalam pergaulan kemasyarakatan terhadap pribadi atau harta benda orang lain

(3) Seorang dengan sengaja tidak melakukan suatu perbuatan yang merupakan kewajibannya, merupakan seseorang yang melakukan suatu perbuatan melanggar hukum sebagaimana yang dikutip dalam Pasal 1366 KUHPerdata (Sutan Remy Sjahdeiny, 2007: 18).

Perluasan makna dalam perbuatan melawan hukum menjadi bukti bahwa hukum berkembang mengikuti zaman dan tidak serta merta hanya menjelaskan mengenai sifat aktif dari perbuatan melawan hukum saja. Hal mengenai tidak berbuat sesuatu dalam perumusan RUU Perikatan diperkuat dengan pendapat M.A. Moegni Djojodirjo yang mengemukakan bahwa Pasal 1365 KUHPerdata mengabaikan sifat pasif dari perbuatan melawan hukum yang dijelaskan pada Pasal 1366 KUHPerdata yaitu, jika seseorang dengan sengaja tidak berbuat sesuatu padahal mengetahui bahwa perbuatan yang dilakukannya merugikan pihak lain. Adanya perluasan makna perbuatan melawan hukum tersebut menjadi landasan Mahkamah Agung untuk memperluas pemisahan antara gugatan perbuatan melawan hukum dan gugatan wanprestasi dalam yurisprudensi MA, yaitu:

(1) Yurisprudensi MA RI No. 1875 K/Pdt/1984 mengemukakan bahwa gugatan perbuatan melawan hukum tidak dapat digabungkan dengan wanprestasi sebab dapat mengakibatkan kekaburan pemahaman pada hakim

(12)

(2) Yurisprudensi MA RI No. 2686 K/Pdt/1987 mengemukakan bahwa diperkenankan untuk menggabungkan antara gugatan perbuatan melawan hukum dan wanprestasi sebab majelis hakim dapat mempertimbangkan dalil gugatan. Hal ini dapat dijelaskan dengan contoh berikut, jikalau peristiwa hukumnya adalah wanprestasi, gugatan tidak obscuur libel sebab hakim dapat mempertimbangkan bahwa dalil gugatan tersebut adalah wanprestasi.

(3) Yurisprudensi MA RI No. 879/K/Pdt/1997 mengemukakan bahwa perbuatan melawan hukum tidak dapat digabungkan dengan wanprestasi sebab: (1) Perbedaan dasar hukum; (2) Perbedaan hak menuntut rugi; (3) Pengaturan ganti rugi tidak terperinci dalam KUHPerdata mengenai gugatan perbuatan melawan hukum

(4) Yurisprudensi MA RI No. 886 K/Pdt/2007 mengemukakan bahwa uraian posita wanprestasi dan perbuatan melawan hukum dapat dipisah agar dapat dikualifikasikan sebagai kumulasi objektif.

Dalam pertimbangan hakim, wanprestasi dan perbuatan melawan hukum memiliki sumber yang sama berdasarkan Pasal 1233 KUHPerdata, yaitu perjanjian dan undang – undang. Tetapi, posita dan petitum harus memiliki pemisahan yang tegas sehingga tidak menimbulkan gugatan kabur dengan contoh, peristiwa hukum yang sebenarnya adalah wanpretasi tetapi, Penggugat memilih untuk menggunakan gugatan perbuatan melawan hukum. Hal tersebut bertentangan dengan Yurisprudensi MA RI No. 2686 K/Pdt/1986 yang mengemukakan, penggabungan antara wanprestasi dan perbuatan melawan hukum sebab hakim dapat mempertimbangkan dalil gugatan yang tepat.

Adanya perluasan makna pada perbuatan melawan hukum serta Yurisprudensi Mahkamah Agung mengenai kumulasi gugatan wanprestasi dan gugatan perbuatan melawan hukum menyebabkan perlunya penjelasan mengenai kriteria wanprestasi yang dapat digugat perbuatan melawan

(13)

hukum. Pasal 1365 menjelaskan bahwa untuk mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum, tidak perlu adanya hubungan kontraktual antar pihak kreditur dan pihak debitur. Menurut Munir Fuady, dalam ilmu hukum dikenal 3 (tiga) kategori dari perbuatan melawan hukum, yaitu:

1) Perbuatan melawan hukum karena kesengajaan 2) Perbuatan melawan hukum tanpa kesalahan (tanpa

unsur kesengajaan maupun kealpaan) 3) Perbuatan melawan hukum karena kelalaian

Hal tersebut juga membuktikan bahwa hukum mengikuti perubahan pada masyarakat sehingga teori tradisional tidak cocok untuk diaplikasikan di era sekarang. Berdasarkan kategori dari perbuatan melawan hukum tersebut, maka model tanggung jawab hukum yang dilahirkan adalah sebagai berikut:

1) Tanggung jawab dengan unsur kesalahan (kesengajaan dan kelalaian) sebagaimana terdapat dalam Pasal 1365 KUHPerdata.

2) Tanggung jawab dengan unsur kesalahan khususnya kelalaian sebagaimana terdapat dalam Pasal 1366 KUHPerdata.

3) Tanggung jawab mutlak (tanpa kesalahan) sebagaimana terdapat dalam Pasal 1367 KUHPerdata (Munir Fuady, 2002: 3)

Hal tersebut berarti perbuatan melawan hukum memiliki tanggung jawab yang harus dipikul oleh debitur. Di lain sisi, wanprestasi (contractual liabillity) juga memiliki tanggung jawab hukum. Wanprestasi terjadi sebab dua hal yaitu kesalahan debitur, baik sengaja ataupun lalai dan karena keadaan memaksa. Adapun akibat hukum wanprestasi, antara lain:

(14)

1) Debitur harus membayar ganti rugi (Pasal 1243 KUHPerdata)

2) Kreditur dapat meminta pembatalan perjanjian melalui pengadilan (Pasal 1266 KUHPerdata)

3) Kreditur dapat meminta pemenuhan perjanjian, atau pemenuhan perjanjian yang disertai ganti rugi dan pembatalan perjanjian dengan ganti rugi (Pasal 1267 KUHPerdata)

Hal tersebut membuktikan bahwa tanggung jawab dapat berdasarkan perbuatan melawan hukum dan wanprestasi. Dalam perbedaannya, tanggung jawab pada perbuatan melawan hukum menyebutkan sifat pasif pada perbuatan melawan hukum, yaitu tidak berbuat apa-apa sedangkan dalam tanggung jawab wanprestasi menjelaskan mengenai hak kreditur dalam menuntut debitur pada kasus wanprestasi.

Batasan – batasan antara wanprestasi dan perbuatan melawan hukum menurut para ahli memiliki deskripsi yang berbeda. Menurut R.

Subekti, pihak kreditur dalam mengajukan gugatan wanprestasi harus membuktikan bahwa dia tidak bersalah atas terjadinya kerugian. Hal tersebut selaras dengan Pasal 1341 KUHPerdata yang menyatakan bahwa ada atau tiadanya unsur itikad baik menjadi landasan untuk menentukan perbuatan tersebut gugatan tersebut diajukan berdasarkan perbuatan melawan hukum, maka pihak pihak yang mengajukan gugatan harus membuktikan bahwa kerugian timbul karena kesalahan debitur. Hal tersebut diperjelas dalam Pasal 1865 KUHPerdata yang sejalan dengan Pasal 1365 KUHPerdata, yang memiliki prinsip “ liability based on fault” dengan beban pembuktian pada penderita. Hal ini disebabkan bahwa dalam Pasal 1865 KUHPerdata mengemukakan mengenai pembuktian,

“Setiap orang yang mendalilkan bahwa ia mempunyai suatu hak, atau guna meneguhkan haknya sendiri maupun membantah suatu hak orang lain, menunjuk pada suatu peristiwa, diwajibkan membuktikan adanya

(15)

Pendapat R. Subekti bertentangan dengan pendapat Hans Niewenhuis yang mengemukakan, jika tidak terpenuhinya prestasi dalam perjanjian merupakan juga suatu perbuatan melawan hukum, maka penggugat dapat memilih untuk mengajukan gugatan wanprestasi atau perbuatan melawan hukum. Menurutnya, gugatan harus diajukan salah satu dari kedua hal tersebut sehingga tidak ada peleburan antara wanprestasi dan perbuatan melawan hukum (R. Subekti, 2011: 24).

Sistem Common law dapat dijadikan bahan perbandingan sebab terjadinya pergeseran makna mengenai perbuatan melawan hukum dalam teori tradisional, yaitu antara kewajiban yang lahir dari kontrak dan kewajiban berdasarkan tort (perbuatan melawan hukum).

Perbedaan tersebut tidak sesuai dengan perjanjian baku sebab tidak semua kewajiban dalam perjanjian lahir dari kesepakatan para pihak dan isi perjanjian tidak selalu disetujui oleh para pihak. Hal tersebut selaras dengan pendapat R. Subekti yang menentang Pasal 1313 KUHPerdata mengenai perjanjian baku. Menurutnya, perjanjian pada umumnya bersifat timbal balik, seperti perjanjian jual-beli, perjanjian sewa- menyewa, dan perjanjian tukar menukar (R. Subekti, 2004: 1).

Sehingga, perjanjian atau pemutusan perjanjian yang dilakukan oleh kreditur dapat juga berupa suatu pelanggaran terhadap ketentuan undang – undang atau suatu perbuatan yang melangar kepatutan yang harus diperhatikan dalam hubungan antar masyarakat dan benda orang lain (Suharnoko, 2004: 125). Hal tersebut berarti pelanggaran perjanjian yang dapat merupakan pelanggaran terhadap ketentuan undang-undang, dapat mencakup kelalaian pada debitur. Hal ini dipertegas dalam Pasal 1238 KUHPerdata yaitu,

““si berutang adalah lalai, bila ia dengan surat perintah atau dengan sebuah akta sejenis itu telah dinyatakan lalai, atau demi perikatannya sendiri jika ini menetapkan bahwa si berutang akan harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang ditentukan”.

(16)

Adanya korelasi mengenai pelanggaran ketentuan undang - undang dan kelalaian debitur, maka dapat disimpulkan bahwa perbuatan melawan hukum sejalan dengan teori hukum perjanjian yang mana perjanjian harus dibuat dengan itikad baik, yaitu tidak bertentangan dengan norma kepatutan dan kesusilaan, sehingga dapat menimbulkan keadilan dan tidak merugikan salah satu pihak.

Hal yang dimaksud itikad baik adalah, antara para pihak harus berlaku jujur tanpa tipu daya dan tidak hanya mementingkan kepentingannya sendiri saja dalam berhubungan dengan orang lain atau bersepakat dengan orang lain (P.L. Werry dalam Lucky, Jurnal Era Hukum, 2 (16), November 2016: 275). Hal tersebut merupakan hal yang ada pada wanprestasi, tetapi seiring berkembangnya zaman maka hal tersebut dapat diaplikasikan dalam gugatan perbuatan melawan hukum.

Hal lain yang dapat menjadi bukti antara korelasi perbuatan melawan hukum dan wanprestasi adalah alasan untuk mengakhiri perjanjian yang dikemukakan dalam Pasal 1381 KUHPerdata , yaitu:

1) Pembayaran;

2) Penawaran pembayaran tunai, diikuti dengan penyimpanan atau penitipan

3) Pembaruan utang

4) Perjumpaan utang atau kompensasi 5) Percampuran utang

6) Pembebasan utang

7) Musnahnya barang yang terutang 8) Kebatalan atau pembatalan

9) Berlakunya suatu syarat pembatalan yang diatur dalam Bab I KUHPerdata

10) Lewatnya tenggat waktu yang telah ditentukan (https://hukumonline.com/klinik/detail/lt5ca861fd59a4a /dapatkah-perjanjian-investasi-dibatalkan/, Kamis, 25 November 2021 Pukul 23.58 WIB).

Kesamaan antara wanprestasi dan perbuatan melawan hukum

(17)

Undang-undang memberikan penetapan mengenai pesan kreditur pada debitur mengenai waktu selambat-lambatnya untuk memenuhi prestasi (Pasal 1266 KUHPerdata). Oleh karena itu, kreditur dapat menentukan kapankah debitur dapat dianggap melakukan wanprestasi, jika seandainya tidak memenuhi prestasi. Hal mengenai ganti-rugi diatur dalam Pasal 1243 KUHPerdata yang mana berkenaan dengan ganti rugi pada wanprestasi. Undang – undang mengemukakan mengenai materi sebagai pertanggungjawaban debitur dalam ganti rugi dalam Pasal 1247 KUHPerdata yang menyebutkan,

“Si berutang hanya diwajibkan mengganti biaya, rugi, dan bunga yang nyata telah atau sedianya harus dapat diduga sewaktu perjanjian dilahirkan, kecuali jika hal tidak dipenuhinya perjanjian itu disebabkan karena suatu tipu daya yang dilakukan olehnya.”

Ketentuan tersebut berarti ganti rugi berkaitan erat dengan wanprestasi, sedangkan perbuatan melawan hukum juga dapat berasal dari kealpaan atau kelalaian debitur yang berkaitan dengan kewajiban hukum serta kesusilaan, kepatutan, dan sikap kehati – hatian. Hal tersebut dikemukakan dalam Pasal 1366 KUHPerdata, yaitu

“Setiap orang bertanggung jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan kelalaian atau kurang hati – hatinya”

Perbuatan melawan hukum jika ditinjau dari pasal tersebut memiliki kesamaan dengan wanprestasi, yaitu berasal dari kealpaan debitur sehingga menyebabkan tidak terpenuhinya prestasi. Kesamaan lain adalah mengenai syarat – syarat untuk menuntut ganti rugi, yaitu:

(1) Adanya kesalahan

(2) Adanya kerugian yang timbul

(18)

(3) Adanya hubungan kausal antara perbuatan dan kerugian (R.

Setiawan, 1999: 75-76).

Syarat untuk menuntut ganti rugi dalam perbuatan melawan hukum juga memiliki kesamaan. Pembuktian mengenai adanya perbuatan melawan hukum untuk menuntut hak dalam ganti rugi, sebagai berikut (M.A. Moegni Djojodirdjo, 2010: 68) :

1) Adanya perbuatan melawan hukum 2) Adanya kesalahan (schuld)

3) Adanya kerugian

4) Adanya hubungan kausal (oorzakelijkverband)

Hal tersebut diperkuat dengan pembuatan undang – undang yang menerapkan istilah kesalahan (schuld), yang dapat menjadi bukti bahwa dalam perbuatan melawan hukum perlu pembuktian. Istilah tersebut dalam pembuatan undang – undang dikenal, sebagai berikut:

1) Pertanggungjawaban debitur atas kerugian yang telah disebabkan oleh nya.

2) Kealpaan

3) Sifat melawan hukum

Istilah tersebut jika ditelaah persamaannya antara syarat materiil penuntutan ganti rugi antara wanprestasi dan perbuatan melawan hukum, maka ditemukan dalam poin nomor 1 dan 2. Hal tersebut berarti perbuatan melawan hukum dapat meliputi wanprestasi, jika ditelaah dalam pembuatan undang – undang.

Perihal ganti rugi dalam perbuatan melawan hukum dikemukakan pada aturan dasar mengenai perbuatan melawan hukum, yaitu Pasal 1365 KUHPerdata. Salah satu contoh ketentuan yang merupakan hak hakim

(19)

610K/Sip/1968 tanggal 23 Mei 1978, hakim memiliki hak untuk menetapkan jumlah yang harus dibayar untuk ganti rugi, sebab kerugian yang disebabkan perbuatan melawan hukum dapat merupakan kerugian kekayaan yang mencakup keuntungan yang seharusnya diterima kreditur.

Perbuatan melawan hukum dan tuntutan ganti rugi memiliki hubungan kausalitas, dimana menurut Von Buri, suatu hal harus dianggap sebagai syarat sebagai suatu akibat apabila perbuatan tersebut tidak dapat ditiadakan (W.P.J Pompe, 1959: 80). Hal tersebut berarti, adanya perbuatan melawan hukum dapat mengakibatkan tuntutan ganti rugi sebagai akibat hukum. Hal yang bersangkutan pada ganti kerugian pada wanprestasi juga ada pada perbuatan melawan hukum. Undang – undang mengatur mengenai ganti rugi pada wanprestasi yang memiliki syarat yang sama pada perbuatan melawan hukum, yaitu:

1) Adanya perbuatan wanprestasi yang dapat dibuktikan dengan masa tenggang waktu tidak tercapainya prestasi

2) Kerugian yang dapat diduga pada waktu adanya perikatan yang diatur dalam Pasal 1247 KUHPerdata yang menyatakan debitur wajib mengganti kerugian yang diduga, kecuali adanya kesengajaan. Istilah kesengajaan tersebut berarti, debitur dengan sengaja dan sadar melanggar kewajibannya.

3) Kerugian yang merupakan akibat dari wanprestasi, yang dimaksud antara wanprestasi dan kerugian harus memiliki hubungan kausalitas.

Hal diatas menjadi bukti bahwa perbuatan melawan hukum dalam Pasal 1365 KUHPerdata tidak applicable jika digunakan untuk masa kini.

Nyatanya, pergeseran teori tersebut disebabkan oleh adanya kompleksitas perkara keperdataan, yang memiliki korelasi dengan teori hukum pada umumnya bahwa hukum mengikuti masyarakat di dalamnya dan bersifat dinamis. Hal mengenai wanprestasi merupakan bagian perbuatan melawan

(20)

hukum, menimbulkan perdebatan oleh para ahli hukum. Menurut Asser Ruten, tidak ada perbedaan yang bersifat major antara wanprestasi dan perbuatan melawan hukum, yaitu wanprestasi selain merupakan pelanggaran atas hak kebendaan juga dapat melanggar hak subjektif orang lain. Hal ini didukung oleh pendapat M. Yahya Harahap yang mengemukakan, pelaksanaan kewajiban yang tidak tepat waktu merupakan pelanggaran hak orang lain (kreditur), dimana wanprestasi merupakan

“anak” dari perbuatan melawan hukum (M. Yahya Harahap, 2006: 61).

Pendapat milik Asser Ruten dan M. Yahya Harahap kontradiktif dengan pandangan M.A. Moegni Djojodirdjo, yang menyatakan bahwa untuk tuntutan ganti rugi wanprestasi dan tuntutan ganti rugi perbuatan melawan hukum perlu dipertimbangkan matang – matang. Menurutnya, ada perbedaan pembebanan pembuktian, penghitungan kerugian serta bentuk ganti ruginya. Pendapat tersebut diperkuat oleh pendapat milik Munir Fuady, dimana jika ditinjau dari ganti kerugian antara wanprestasi dan perbuatan melawan hukum. Wanprestasi mengenai ganti rugi, biaya, dan bunga yang merupakan merosotnya nilai kekayaan kreditur yang seharusnya kreditu mendapatkan bunga sebagai keuntungan yang harus didapatkan setelah kesepakatan (prestasi) (Munir Fuady, 2002: 136 – 137)

Perbedaan pendapat antara para ahli adalah hal yang wajar, sebab perluasan makna perbuatan melawan hukum dapat memengaruhi perkembangan hukum di dunia, termasuk hukum di Indonesia. Hal tersebut memengaruhi alasan Mahkamah Agung mengeluarkan Yurisprudensi mengenai kumulasi gugatan wanprestasi dan gugatan perbuatan melawan hukum. Hal ini menjadi bukti bahwa hukum bersifat dinamis, sehingga sebuah peraturan atau bahkan definisi dari sebuah istilah dapat berubah.

Adaptasi adalah langkah yang baik, sehingga jika disinkronkan dalam bidang keperdataan, yaitu wanprestasi dan perbuatan melawan hukum.

(21)

Perihal wanprestasi dan perbuatan melawan hukum akan ditemukan sinkronisasi, terutama dalam hal pembuktian perbuatan melawan hukum dan wanprestasi, dimana kedua perbuatan tersebut harus dibuktikan ada atau tidaknya perbuatan tersebut. Meskipun dasar hukum antara kedua hal tersebut memiliki perbedaan , yaitu pembuktian pada wanprestasi berada pada Pasal 1341 KUHPerdata mengenai adanya itikad baik yang harus dibuktikan untuk membuktikan apakah perbuatan tersebut wanprestasi atau tidak, sedangkan dalam Pasal 1865 KUHPerdata adanya perbuatan melawan hukum haruslah dibuktikan dalam meneguhkan hak nya atau membantah hak orang lain. Kesamaan yang lain, yaitu mengenai sifat perbuatan aktif dan pasif yang dimiliki wanprestasi dan perbuatan melawan hukum, meskipun dasar hukumnya berbeda. Sifat aktif dan pasif wanprestasi tercantum pada Pasal 1239 KUHPerdata, sedangkan sifat aktif dan pasif perbuatan melawan hukum tercantum pada Pasal 1365 dan 1366 KUHPerdata.

Wanprestasi dan perbuatan melawan hukum memiliki perbedaan, yaitu bentuk ganti rugi dan penghitungan kerugiannya berbeda, yang dapat dibuktikan dengan Pasal 1243 dan 1247 KUHPerdata , dimana kerugian pada wanprestasi wajib untuk diserahkan dalam bentuk biaya, rugi dan bunga serta kerugian pada wanprestasi merupakan merosotnya kekayaan kreditur dalam bentuk barang ataupun harta. Sedangkan, perbuatan melawan hukum kerugiannya terdapat pada Pasal 1365 KUHPerdata dan hanya berupa rugi (schade), meskipun yurisprudensi pada akhirnya mengemukakan bahwa kerugian dalam perbuatan melawan hukum bisa dalam bentuk kerugian materiil dan kerugian immateril serta membutuhkan pertimbangan kemampuan kedua belah pihak dan menimbang – nimbang berat – ringannya perbuatan tersebut seperti yang dikemukakan pada Pasal 1372 ayat (2) KUHPerdata, yaitu

“Dalam menilai satu dan lain, Hakim harus memperhatikan berat – ringannya penghinaan, begitu pula pangkat, kedudukan, dan

(22)

kemampuan kedua belah pihak”.

B. Kriteria Wanprestasi Yang Dapat Digugat Sebagai Perbuatan Melawan Hukum Dalam Putusan Pengadilan Nomor:

74/Pdt.G/2020/PN.KDI

Kegiatan investasi membutuhkan kepastian hukum, sebab investor dapat menanamkan modalnya sepanjang adanya kepastian hukum yang dapat menjamin keamanan dan kesejahteraan investor. Dalam hal investasi, seorang investor menurut ketertiban hukumnya, berarti mempertaruhkan kekayaannya sehingga subyek perjanjian tersebut atau investor harus berhak bebas berbuat dengan harta kekayaannya. Kepastian hukum tersebut terdapat dalam Pasal 3 Undang – Undang No. 25 Tahun 2007 mengenai asas penanaman modal, yaitu:

1) Kepastian hukum 2) Keterbukaan 3) Akuntabilitas

4) Perlakuan yang sama dan tidak membedakan asal negara 5) Kebersamaan

6) Efisiensi berkeadilan 7) Berkelanjutan

8) Berwawasan lingkungan 9) Kemandirian

10) Keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional Bentuk kepastian hukum yang dapat diberikan kepada investor, yaitu perjanjian. Perjanjian dapat menimbulkan hubungan perikatan sehingga dapat meminimalkan risiko kerugian yang mendatang. Perjanjian memiliki empat syarat sah yang harus terpenuhi agar perjanjian dapat bersifat mengikat. Hal tersebut dikemukakan dalam Pasal 1320 KUH Perdata, yaitu: (1) Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya; (2) Cakap untuk membuat suatu perjanjian; (3) Mengenai suatu hal tertentu; (4) Sebab yang halal.

(23)

Putusan No.74/Pdt. G/2020/PN.KDI merupakan salah satu contoh tidak terlaksananya kepastian hukum dalam investasi dengan kronologi kasus, sebagai berikut:

Kasus ini bermula pada Tahun 2009, Penggugat (Chen Linze) bertemu Tergugat (H. Nur Alam) di Singapura untuk mendiskusikan mengenai keinginan Penggugat berinvestasi di Sulawesi Tenggara. Setelah adanya pertemuan pertama, Penggugat dan Tergugat sepakat untuk bertemu kembali di Hotel Shangri-la Jakarta dengan tujuan membicarakan mengenai keinginan Penggugat untuk berinvestasi dan Tergugat juga berkeinginan untuk meminjam sejumlah dana untuk pembayaran uang muka rumah di Jakarta apabila permohonan kredit (KPR) tidak dipenuhi. Adanya kedua pertemuan tersebut, maka Penggugat dan Tergugat sepakat untuk membuat dan menandatangani perjanjian Pada Tanggal 19 Agustus 2010, yaitu:

1) Perjanjian Investasi No. RCI/NA/IA/2010/001 Tanggal 19 Agustus 2010

Perjanjian tersebut dibuat oleh Chen Linze dan H. Nur Alam atas dasar kepercayaan. Chen Linze sepakat untuk meminjam nama H.

Nur Alam untuk tujuan investasi di produk milik PT. AXA Mandiri Financial Services sehingga modal masih menjadi hak milik Chen Linze, tetapi investasi terdaftar atas nama H. Nur Alam

2) Perjanjian Penyediaan Dana Sementara No.

PPDS/RC/NA/2010/002 Tanggal 19 Agustus 2010

Dana sementara akan dianggap sebagai hutang dari pihak pertama jika tidak dapat dilunasi sampai dengan 30 Juni 2011 dan bunga atas hutang tersebut sebesar 12% pertahun dan 1% di atas suku bunga rata – rata pinjaman di Indonesia.

(24)

Adanya kedua perjanjian tersebut, Penggugat mulai mentransfer dana ke rekening penampungan AXA Mandiri sebesar US $ 4,499,900 secara bertahap, yaitu:

1) Pada tanggal 15 September 2010 sebesar US $ 499,965 2) Pada tanggal 27 September 2010 sebesar US $ 999,970 3) Pada tanggal 18 Oktober 2010 sebesar US $ 999,965 4) Pada tanggal 29 November 2010 sebesar US $ 2,000,000

Seiring berjalannya waktu, Penggugat memiliki kesibukan di Hongkong sehingga tidak dapat menindaklanjuti rencana investasi tersebut, sehingga pada tanggal 26 Maret 2012, Penggugat mengirim surat kepada Tergugat untuk membatalkan rencana investasi dan meminta pengembalian dana investasi dan dana penyediaan sementara agar segera dikembalikan.

Hal ini tercantum dalam Pembatalan Perjanjian Investasi No.

RCI/NA/TIA/2003/001 tanggal 12 Mei 2013 dan Pembatalan Perjanjian Dana Sementara No. PPDS/RC/NA/2013/002 tanggal 13 Mei 2013.

Pengembalian dana – dana tersebut awalnya berjalan lancar dengan bukti, Tergugat mengirim sejumlah dana Penggugat pada Chinatrust sebesar US $ 4,132,119. Tetapi, pengembalian sejumlah dana tersebut masih memiliki kekurangan sejumlah US $ 367,781 yang berakibat menimbulkan kerugian pada Penggugat secara materiil dan kerugian immateriil sebab Penggugat kehilangan peluang keuntungan, sehingga Penggugat menetapkan nilai kerugian Immaterial sebesar Rp. 5.000.000.000 (Lima Milyar Rupiah).

Putusan hakim dalam perkara tersebut cukup menarik, sebab Hakim menyatakan Tergugat melakukan Perbuatan Melawan Hukum dan menyatakan sah perjanjian – perjanjian yang menjadi unsur dalam perkara tersebut, yaitu:

(25)

1) Perjanjian Investasi No. RCI/NA/IA/2010/001 tanggal 19 Agustus 2010

2) Perjanjian Penyediaan Dana Sementara No. PPDS/RC/NA/2010/02 tanggal 19 Agustus 2010

3) Pembatalan Perjanjian Investasi No. RCI/NA/TIA/2013/001 tanggal 12 Mei 2013

4) Pembatalan Perjanjian Penyediaan Dana Sementara No.

PPDS/RC/NA/2013/002 tanggal 13 Mei 2013

Perjanjian Putusan Nomor: 74/Pdt.G/2020/PN.KDI memenuhi syarat sah nya perjanjian yang mengikat dan asas – asas perjanjian, yaitu asas kebebasan berkontrak dengan bukti perjanjian tersebut harus dilaksanakan dalam rangka pemenuhan prestasi sehingga para pihak wajib mengikatkan dirinya. Asas konsensualisme juga terdapat dalam perjanjian tersebut sebab para pihak sepakat untuk mengikatkan diri, serta para pihak dirasa cakap dalam melaksanakan perjanjian tersebut. Selanjutnya, asas pacta sunt servada terdapat pada perjanjian tersebut dimana para pihak diharapkan dapat melaksanakan perjanjian tersebut dengan sungguh- sungguh dan dapat digugat jika salah satu pihak tidak dapat memenuhi prestasi. Asas itikad baik juga terdapat dalam perjanjian tersebut, dimana para pihak diharapkan memiliki itikad baik atau kejujuran dalam pelaksanaan perjanjian dan harus mematuhi norma keadilan dan kepatutan.

Asas personalia terdapat pada perjanjian tersebut, dimana tidak ada pihak ketiga yang terlibat selain Penggugat dan Tergugat.

Dalam duduk perkara tersebut, Tergugat tidak berbuat sesuatu seperti apa yang seharusnya ia lakukan, yaitu tidak membayar keseluruhan dana investasi dan dana penyediaan sementara. Hal tersebut dapat menjadi contoh dalam tidak terpenuhinya prestasi dengan jenis tidak berbuat sesuatu yang tertuang pada Pasal 1239 KUHPerdata. Oleh karena itu, Penggugat meminta untuk melakukan pembatalan perjanjian yang disebabkan oleh kesibukannya sehingga tidak dapat mengontrol berjalannya investasi yang

(26)

ia tanamkan di PT. AXA Mandiri Financial Services. Awalnya, pengembalian dana tersebut lancar, tetapi suatu saat mengalami keterlambatan yang disebabkan ketidak mampuan Tergugat mengembalikan dana pada pembatalan Perjanjian Investasi dan pembatalan Perjanjian Dana Sementara. Hal tersebut memperkuat alasan Penggugat untuk menuntut ganti rugi dan melakukan pembatalan perjanjian sebab wanprestasi disebabkan oleh kelalaian Tergugat sehingga tidak tercapainya prestasi. Pernyataan lalai dibutuhkan jika debitur bersedia memenuhi prestasi tetapi waktu untuk memenuhi prestasi tersebut terlambat. Selain itu, dalam putusan Nomor: 74/Pdt.G/2020/PN.KDI jika pernyataan lalai oleh debitur tidak disampaikan kepada kreditur, sehingga kreditur memiliki hak- hak sebagai berikut (Mariam Darus Badrulzaman, 2011: 18) :

(1) Hak menuntut perikatan (nakomen)

(2) Hak menuntut pemutusan perikatan atau dapat menuntut pembatalan perikatan (ontbinding) jika perikatan tersebut bersifat timbal balik

(3) Hak menuntut ganti rugi (schadevergoeding)

(4) Hak menuntut pemenuhan perikatan dengan ganti rugi (5) Hak menuntut pemutusan atau pembatalan dengan ganti rugi Putusan hakim memiliki kontradiksi dengan adanya kategorisasi tindakan Tergugat, yaitu hakim memutus bahwa tindakan Tergugat adalah perbuatan melawan hukum. Pada awalnya, perbuatan melawan hukum secara umum didefinisikan sebagai perbuatan yang melanggar undang – undang dan pihak yang dirugikan berhak untuk meminta ganti-rugi. Definisi tersebut kurang spesifik sebab apakah ada syarat lain selain hanya melanggar undang - undang saja, oleh karena itu jika dihubungkan dengan duduk perkara putusan pengadilan tersebut maka tidak tepat sebab memiliki hubungan yang mengikat antar pihak melalui perjanjian. Tergugat (H. Nur Alam) terbukti melakukan perbuatan wanprestasi, yaitu melaksanakan apa

(27)

dibuktikan ketika Tergugat tidak dapat mengembalikan dana setelah adanya Pembatalan Perjanjian Investasi No. RCI/NA/TIA/2013/001 Tanggal 12 Mei 2013 dan Pembatalan Perjanjian Dana Sementara No.

PPDS/RC/NA/2013/002 Tanggal 13 Mei 2013 sejumlah US $ 367,781 yang menimbulkan kerugian materiil dan imateriil pada Penggugat.

Putusan hakim dalam Putusan Pengadilan Nomor:

74/Pdt.G/2020/PN.KDI kontradiktif dengan klasifikasi tidak tercapainya prestasi. Hal ini diperkuat dengan pernyataan mengenai kelalaian debitur perihal wanprestasi dengan jenis melakukan suatu perbuatan dalam Pasal 1238 KUHPerdata, yaitu

“Si berutang adalah lalai, bila ia dengan surat perintah atau dengan sebuah akta sejenis itu telah dinyatakan lalai, atau demi perikatannya sendiri jika ini menetapkan bahwa si berutang akan harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang ditentukan.”

Hal diatas memiliki korelasi dengan kealpaan yang dilakukan oleh Tergugat sehingga dapat dikategorikan sebagai perbuatan wanprestasi yaitu, melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana dijanjikan. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan Tergugat mencicil pengembalian dana investasi dan dana sementara, tetapi mengalami kendala ketidakmampuan membayar keseluruhan dana tersebut. Pasal 1365 KUHPerdata menjelaskan bahwa untuk mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum, tidak perlu adanya hubungan kontraktual antar pihak kreditur dan pihak debitur. Di lain sisi, Kasus pada putusan pengadilan No.74/Pdt.G/2020/PN.KDI membuktikan bahwa hubungan kotraktual dapat digugat sebagai perbuatan melawan hukum. Batasan – batasan mengenai kedua hal tersebut dapat ditinjau terlebih dahulu dari sumber perikatan, yaitu perjanjian dan undang-undang. Hal tersebut berarti Putusan Pengadilan No. 74/Pdt.G/2020/PN.KDI dapat dikategorikan sebagai

(28)

perbuatan melawan hukum yang disebabkan dengan adanya pergeseran teori mengenai perbuatan melawan hukum.

Hal tersebut menunjukkan bahwa Perbuatan melawan hukum memiliki tanggung jawab yang harus dipikul oleh Tergugat. Dalam putusan pengadilan Nomor:74/Pdt.G/2020/PN.KDI hakim memutus bahwa perbuatan yang dilakukan Tergugat adalah perbuatan melawan hukum sehingga Tergugat memiliki tanggung jawab hukum atas kelalaiannya.

Perkara tersebut membuktikan bahwa hubungan kotraktual dapat digugat sebagai perbuatan melawan hukum, sehingga pelanggaran perjanjian yang dilakukan oleh tergugat dapat juga berupa suatu pelanggaran terhadap ketentuan undang – undang atau suatu perbuatan yang melangar kepatutan yang harus diperhatikan dalam hubungan antar masyarakat dan benda orang lain (Suharnoko, 2004: 125) . Hal tersebut juga didukung dengan empat unsur untuk sebuah tindakan tidak terpenuhinya prestasi dapat dikatakan sebagai perbuatan melawan hukum, yaitu:

a) Ada yang melakukan perbuatan tersebut b) Perbuatan tersebut harus melawan hukum

c) Perbuatan tersebut harus menimbulkan kerugian

….pada orang lain

d) Perbuatan tersebut karena kesalahan yang dicelakakan kepadanya

Hal tersebut berarti wanprestasi dapat merupakan pelanggaran terhadap ketentuan undang-undang, sehingga mencakup kelalaian pada debitur yang dipertegas dalam Pasal 1238 KUHPerdata yaitu,

“Si berutang adalah lalai, bila ia dengan surat perintah atau dengan sebuah akta sejenis itu telah dinyatakan lalai, atau demi perikatannya sendiri jika ini menetapkan bahwa si berutang akan harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang ditentukan”.

(29)

Adanya korelasi mengenai pelanggaran ketentuan undang -undang dan kelalaian debitur, maka dapat disimpulkan bahwa perbuatan melawan hukum sejalan dengan teori hukum perjanjian yang mana perjanjian harus dibuat dengan itikad baik , yaitu tidak bertentangan dengan norma kepatutan dan kesusilaan, sehingga dapat menimbulkan keadilan dan tidak merugikan salah satu pihak. Hal yang dimaksud itikad baik adalah, antara para pihak harus berlaku jujur tanpa tipu daya dan tidak hanya mementingkan kepentingannya sendiri saja dalam berhubungan dengan orang lain atau bersepakat dengan orang lain. Hal tersebut merupakan hal yang ada pada wanprestasi, tetapi seiring berkembangnya zaman maka hal tersebut dapat diaplikasikan dalam gugatan perbuatan melawan hukum. Hal yang dapat menjadi bukti antara korelasi perbuatan melawan hukum dan perjanjian dalam Putusan Pengadilan No.74/Pdt.G/2020/PN.KDI yaitu adanya Pembatalan Perjanjian Investasi No. RCI/NA/TIA/2013/001 tanggal 12 Mei 2013 dan Pembatalan Perjanjian Dana Sementara No.

PPDS/RC/NA/2013/002 tanggal 13 Mei 2013 sebagai alasan untuk mengakhiri perjanjian yang sesuai dalam Pasal 1381 KUHPerdata,

Penggugat dalam Putusan Pengadilan Nomor:

74/Pdt.G/2020/PN.KDI memenuhi syarat untuk menuntut rugi, berarti hal tersebut memiliki kausalitas dengan wanprestasi. Di sisi lain, perbuatan melawan hukum dapat dituntut ganti rugi, jika memenuhi syarat materiil, sebagai berikut:

1) Adanya perbuatan melawan hukum 2) Adanya kesalahan (schuld)

3) Adanya kerugian

4) Adanya hubungan kausal (oorzakelijkverband)

Putusan Pengadilan Nomor: 74/Pdt.G/2020/PN.KDI jika ditinjau dari syarat materiil mengenai hak penggugat untuk ganti rugi dalam perbuatan melawan hukum, memenuhi semua syarat tersebut. Hal tersebut

(30)

dibuktikan dengan Penggugat dapat bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkannya dapat dibuktikan, jika ia benar melakukan hal tersebut.

Perihal ganti rugi dalam perbuatan melawan hukum dikemukakan pada aturan dasar mengenai perbuatan melawan hukum, yaitu Pasal 1365 KUHPerdata. Salah satu contoh ketentuan yang merupakan hak hakim dalam tuntutan ganti rugi, yaitu Yurisprudensi Mahkamah Agung RI No.

610K/Sip/1968 tanggal 23 Mei 1978, hakim memiliki hak untuk menetapkan jumlah yang harus dibayar untuk ganti rugi, sebab kerugian yang disebabkan perbuatan melawan hukum dapat merupakan kerugian kekayaan yang mencakup keuntungan yang seharusnya diterima kreditur.

Hak Penggugat untuk menuntut ganti rugi pada gugatan perbuatan melawan hukum dapat ditelaah dari syarat ganti kerugian, sebagai berikut:

(1) adanya masa tenggat waktu; (2) kerugian yang diduga setelah adanya hubungan yang mengikat; (3) kerugian yang merupakan akibat dari wanprestasi. Tergugat terbukti melakukan perbuatan ingkar janji sebab tidak terpenuhinya prestasi, meskipun telah diberi masa tenggang waktu.

Perikatan tersebut dibuktikan dengan adanya Pembatalan Perjanjian Investasi No. RCI/NA/TIA/2013/001 tanggal 12 Mei 2013 dan Pembatalan Perjanjian Dana Sementara No. PPDS/RC/NA/2013/002 tanggal 13 Mei 2013, sehingga Tergugat mengakibatkan kerugian yang telah dikemukakan pada Pasal 1247 KUHPerdata, yakni secara sengaja tidak melunasi keseluruhan dana investasi dan dana penyediaan sementara dengan alasan tidak mampu. Hak Penggugat dalam menuntut ganti rugi dapat dikategorikan sah sebagai gugatan perbuatan melawan hukum, sebab meskipun ada hubungan perikatan di dalamnya tetapi Tergugat melanggar undang – undang.

Poin terakhir dari syarat untuk menuntut ganti rugi, yaitu Kerugian yang merupakan akibat dari wanprestasi, yang dimaksud antara wanprestasi dan kerugian harus memiliki hubungan kausalitas. Duduk perkara dalam

(31)

memiliki kerugian materiil sebab adanya kekurangan $ 367,781 serta kerugian immateril dengan telatnya masa pengembalian dana tersebut. Oleh karena itu, Penggugat memohon kepada Majelis Hakim yang memeriksa perkara tersebut untuk memerintahkan kepada Tergugat untuk dikenakan kewajiban membayar uang paksa (dwangsom) sebesar Rp1.000.000 per hari apabila lalai dalam melaksanakan isi putusan tersebut. Hal tersebut berdasarkan dengan kerugian yang dialami oleh Penggugat, sebagai berikut:

a) Kerugian Materiil

Kerugian materiil yang dialami penggugat berjumlah US $ 367,781

b) Kerugian Immateril

Berlarutnya waktu dalam pembayaran kekurangan dana berjumlah $ 367,781 menyebabkan Penggugat telah hilang peluang keuntungan, sehingga memiliki kerugian berjumlah Rp5.000.000.000,00 (Lima Milyar Rupiah).

Putusan tersebut merupakan salah satu contoh kompleksitas putusan – putusan pengadilan seiring dengan berjalannya waktu. Hal tersebut menyebabkan pemisahan antara gugatan wanprestasi dan gugatan perbuatan melawan hukum, sehingga perbuatan melawan hukum dalam teori klasik kurang dapat diaplikasikan di era sekarang. Hal tersebut berarti pelanggaran perjanjian yang dilakukan oleh Tergugat dapat berupa pelanggaran pada ketentuan undang – undang serta melanggar kepatutan, kesusilaan, serta kehati – hatian dalam hubungannya dengan Penggugat.

Referensi

Dokumen terkait

Bila terjadi penurunan nilai yang bersifat permanen, maka biaya perolehan efek individual harus diturunkan hingga sebesar nilai wajarnya, dan jumlah penurunan nilai tersebut

Makan merupakan kebutuhan pokok, aktivitas warga dalam perihal makan di lakukan pada ruang keluarga dan ruang tamu, disebabkan karena keterbatasan ruang, seperti pada acara

SMS gateway adalah sebuah sistem yang dipergunakan oleh penyedia jasa untuk mengirim maupun menerima SMS. Keberadaan SMS gateway ini semakin hari semakin diminati dan

Hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa ada perbedaan hasil belajar (Indeks prestasi) responden mahasiswa D–II PGTK antara mahasiswa beasiswa dengan mahasiswa swadana

Analisis datajuga digunakan untuk melihat apakah terdapat interaksi dari setiap variabel (waktu fermentasi, kadar L.. Hasil pengukuran protein terlarut dari seluruh

Besar arus thermal waktu singkat ditentukan lebih besar atau sama dengan arus hubung singkat tertinggi yang diperkirakan akan mengalir pada sisi primer current

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka permasalahan dalam penelitian ini adalah: 1) Apakah kejelasan sasaran anggaran berpengaruh terhadap

Keberadaan sediaan memiliki nilai strategis bagi perusahaan. Di samping beberapa keuntungan seperti yang telah dikemukakan di atas, sediaan memiliki nilai yang sangat